Anda di halaman 1dari 32

TUGAS EKSTRAKSI METALURGI

PENGOLAHAN DAN EKSTRAKSI BIJIH EMAS

Dibuat sebagai syarat untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Ekstraksi
Metalurgi pada Jurusan Teknik Pertambangan

Oleh :

Muhammad Ade Himawan 03021281320007

Fitria Ramadhona 03021281320019

Ade Septyani 03021381320033

Adrian Kevin Prathama 03021381320063

Chairunnisya Eka Putri 03021381320065

Kelas A

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS TEKNIK

2016
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Emas merupakan jenis dari logam mulia yang dimana logam mulia adalah logas
yang memeiliki nilai ekonomis yang tinggi dan dapat di jadikan perhiasan. Di Indonesia
sudah banyak perusahaan mineral yang mengolah bijih emas menjadi emas murni.
Untuk itu makalah ini dibuat agar dapat lebih memahami lagi tentang pengolahan bijih
emas hingga proses ekstraksi metalurgi.

Seperti yang kita ketahui didunia ini terdapat berbagai mineral-mineral yang
berharga yang memiliki nilai ekonomis, salah satunya adalah emas (Au). Emas adalah
unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol au (bahasa latin: 'aurum') dan
nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan univalen) yang lembek, mengkilap,
kuning, berat, "malleable", dan "ductile". Emas tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya
tapi terserang oleh klorin, fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak terdapat di nugget
emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu logam coinage.
Kode isonya adalah xau. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000
derajat celcius. Sumber logam emas; dipakai untuk membuat perhiasan, instrumen-
instrumen saintifik, lempengan elektrode, pelapigigi dan emas lantakan.

Kebanyakan emas terdapat dalam urat-urat kuarsa yang terbentuk melalui proses
hidrotermal; dan sering bersama-sama pirit dan mineral-mineral sulfida yang lain,
telurid perak-emas, skhelit dan turmalin. Bila urat-urat mengandung emas melapuk,
maka emas-emas akan terpisah dan kemudian mengendap sebagai deposit eluvial, atau
terangkut oleh aliran air dan mengendap di suatu tempat sebagai deposit letakan (placer
deposit), bersama pasir, dan atau kerikil-kerakal. Karena hal inilah diperlukan adanya
beberapa cara untuk memisahkan emas dari mineral-mineral lain yang melekat
dengannya agar akhirnya emas memiliki nilai jual yang lebih tinggi.Ada beberapa cara
untuk memisahkan emas dari mineral-mineral yang melekat bersamnya ,yaitu dengan
metode amalgamasi atau metode sianidasi yang akan penulis bahas pada makalah ini.
1.2 TUJUAN MAKALAH

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :

1. Mengetahui proses pengolahan bijih emas


2. Mengetahui proses ekstraksi metalurgi bijih emas

1.3 PERMASALAHAN
Adapun permasalahan dalam makalah ini yaitu :
1. Bagaimana proses pengolahan bijih emas ?
2. Bagaimana proses ekstraksi metalurgi bijih emas ?

1.4 Batasan Masalah


Penulis hanya membahas secara umum mengenai pengolahan dan ekstraksi
metalurgi pada bijih emas.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Emas

Emas merupakan mineral emas yang amat biasa ditemukan di alam. Mineral
emas yang menempati urutan kedua dalam keberadaannya di alam adalah electrum.
Minerl-mineral pembawa emas lainnya sangat jarang dan langka. Mineral-mineral
pembawa emas antara lain: Emas urai (Au), Elektrum (Au,Ag), kuproaurid Au,Cu),
porpesit (Au, Pd), rodit (Au, Rh), emas iridium (Au, Ir), platinum (Au, Pd), emas
bismutan Au, Bi), amlgam (Au2Hg3), maldonit (Au2Bi), aurikuprit (AuCu3), roskovit
(Cu, Pd)3Au2, kalaveit (AuTe2) krenerit (Au, Ag)Te2, monbrayit (Au, Sb)2Te3, petsit
(Ag3AuTe2) mutamanit (Ag, Au)Te, silvanit (Au, Ag)Te4, kostovit (AuCuTe4),
nagyagit (Pb5Au(Te,Sb)4S5-8), uyterbogardtit (Ag3AuSb2), aurostibnit (AuSb2),
fisceserit (Ag3AuSe3).
Emas pada dasarnya adalah logam emas walaupun biasanya mengandung perak
yang bervariasi sampai sebesar 18% dan kadang-kadang mengandung sedikit tembaga
atau besi. Oleh karena itu warna emas urai bervariasi dari kuning emas, kuning muda
sampai keperak-perakan sampai berwarna merah orange. Berat jenis emas urai
bervariasi dari 19,3 (emas murni) sampai 15,6 bergantung pada kandungan peraknya.
Bila berat jenisnya 17,6 maka kandungan peraknya sebesr 9% dan bila beat jenisnya
16,9 kandungan peraknya 13,2%. Sementara itu, elektrum adalah variasi emas yang
mengandung perak diatas 18%. Dengan kandungan perak yang lebih tinggi lagi maka
warna elektrum bevariasi dari kuning pucat sampai warna perak kekuningan.
Selanjutnya berat jenis elektrum bervariasi sekitar 15,5-12,5. Bila kandungan emas dan
perak berbanding 1:1 berarti kandungan peraknya sebesar 36%, dan bila
perbandingannya 21/2:1 berarti kandungan peraknya 18%.
Mineral induk emas berasosiasi dengan kebanyakan mineral yang biasa
membentuk batuan. Bila ada sulfida, yaitu mineral yang mengandung sulfur/belerang
(S), emas biasanya berasosiasi denagn sulfida. Pirit merupakan mineral induk yang
paling biasa untuk em,as. Emas ditemukan dalam pirit sebagai emas urai dan elektrum
dalam berbagai bentuk dan ukuran yang bergantung pada kadar emas dalam bijih dan
karakteristik lainnya. Selain itu emas juga ditemukan dalam arsenopirit dan kalkopirit.
Mineral sulfida berpotensi juga menjadi mineral induk bagi emas.
Bila mineral sulfida tidak terdapat dalm batuan, maka emas berasosiasi dengan oksida
besi (magnetit dan oksida besi sekunder), silikat dan karbonat, material berkarbon serta
pasir dan krikil (endapan plaser). Berikut mineral induk emas berupa sulfida pirit
(FeS2), arsenopirit (FeAsS), kalkopirit (CuFeS2), kalkosit (Cu2S), kovelit (CuS),
pirhoit (FeS2), Glen (PbS), Sfalerit (ZnS), armonit (Sb2S3).
Dari sudut pandang pengolahan/metalurgi ada tiga variasi distribusi emas dalam
bijih. Pertama, emas didiostribusikan dalam retakan-retakan atau diberi batas antara
butiran-butiran mineral yang sama (misalnya retyakan dalam butiran mineral pirit atau
dibatasi antara dua butiran mineral (pirit). Kedua, emas didistribusikan sepanjang batas
diantara butiran-butiran dua mineral yang berbeda ( misalnya dibatas butiran pirit dan
arsenopirit atau dibatas antara butiran mineral kalkopirit dan butiran mineral silikat).
Dan yang ketiga emas terselubung dalam mineral induk (misal, emas terbungkus ketat
dalam mineral pirit). Potensi endapan emas terdapat di hampir setiap daerah di
Indonesia, seperti di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa,
Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

2.2 Sifat Fisik Emas (Au)


Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya
berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan
kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya
berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya
kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral
pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral
pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan
senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum
sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%. Sifat
fisik unsur ini sangat stabil, tidak korosif ataupun lapuk dan jarang bersenyawa dengan
unsur kimia lain.
Karakteristik Emas (Au)

Sistem Kristal : Isometrik

Belahan : Tidak ada

Warna : Kuning Emas

Optic : Opaque Isotrop

Goresan : Kuning

Kilap : Metalik

Belahan dan pecahan : Tak ada ; hakli ( pecahan bergerigi dengan


ujung yang tajam ).

Kekerasan : 2,5 3

Berat jenis : 19,3

Keterdapatan :

Kebanyakan emas terdapat dalam urat-urat kuarsa yang terbentuk


melalui proses hidrotermal; dan sering bersama-sama pirit dan mineral-mineral
sulfida yang lain, telurid perak-emas, skhelit dan turmalin. Bila urat-urat
mengandung emas melapuk, maka emas-emas akan terpisah dan kemudian
mengendap sebagai deposit eluvial, atau terangkut oleh aliran air dan
mengendap di suatu tempat sebagai deposit letakan (placer deposit), bersama
pasir, dan atau kerikil-kerakal.

Manfaat dan Kegunaan :


Sumber logam emas; dipakai untuk membuat perhiasan, instrumen-
instrumen saintifik, lempengan elektrode, pelapis gigi, emas lantakan, Hi-Tech
Electronics, alat telekomunikasi, TV, VCR dan DVD, pesawat angkasa,
menstabilkan suhu, pakaian astronot, dan produksi alat elektronik.

2.3 Keterdapatan Endapan Emas

1. Endapan primer / Cebakan Primer

Cebakan primer merupakan cebakan yang terbentuk bersamaan


dengan proses pembentukan batuan. Salah satu tipe cebakan primer yang
biasa dilakukan pada penambangan skala kecil adalah bijih tipe vein ( urat ).
Pada umumnya emas ditemukan dalam bentuk logam (native) yang terdapat
di dalam retakan-retakan batuan kwarsa dan dalam bentuk mineral yang
terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan.
Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan
aktifitas hidrotermal, yang membentuk tubuh bijih dengan kandungan utama
silika. Cebakan emas primer mempunyai bentuk sebaran berupa urat/vein
dalam batuan beku, kaya besi dan berasosiasi dengan urat kuarsa.
2. Endapan plaser / Cebakan Sekunder

Emas juga ditemukan dalam bentuk emas aluvial yang terbentuk


karena proses pelapukan terhadap batuan-batuan yang mengandung emas
(gold-bearing rocks, Lucas, 1985). Proses oksidasi dan pengaruh sirkulasi
air yang terjadi pada cebakan emas primer pada atau dekat permukaan
menyebabkan terurainya penyusun bijih emas primer. Proses tersebut
menyebabkan juga terlepas dan terdispersinya emas. Terlepas dan
tersebarnya emas dari ikatan bijih primer dapat terendapkan kembali pada
rongga-rongga atau pori batuan, rekahan pada tubuh bijih dan sekitarnya,
membentuk kumpulan butiran emas dengan tekstur permukaan kasar.
Akibat proses tersebut, butiran-butiran emas pada cebakan emas sekunder
cenderung lebih besar dibandingkan dengan butiran pada cebakan
primernya (Boyle, 1979). Dimana pengkonsentrasian secara mekanis
melalui proses erosi, transportasi dan sedimentasi (terendapkan karena
berat jenis yang tinggi) yang terjadi terhadap hasil disintegrasi cebakan
emas pimer menghasilkan endapan emas letakan/aluvial (placer deposit).
BAB 3

PENGOLAHAN BIJIH EMAS

3.1. Proses Pengolahan dan Pemurnian Bijih Emas

Pertambangan emas pertama kali dilakukan di daerah alluvial, dengan metoda


pengolahan cara gravitasi atau cara amalgamasi dengan air raksa. Sejak tahun 1860
kegiatan pertambangan bawah tanah dilakukan untuk endapan primer dengan metoda
pengolahan emas cara sianidasi. Perkembangan selanjutnya teknologi pengolahan emas
dengan cara flotasi dilakukan pada tahun 1930. Dan tahun 1960 metoda pengolahan
heap leaching yang dasarnya seperti pengolahan sianidasi diterapkan untuk pengolahan
bijih emas kadar rendah.

3.1.1 Pengolahan Bijih Emas

1. Comminution

Kominusi adalah proses mereduksi ukuran dari ore agar mineral yang
mengandung emas dipisahkan (liberasi) dari mineral-mineral lain yang terkandung
dalam batuan induk. Tujuan liberasi bijih ini antara lain agar :

a) Meminimalisir kehilangan emas yang masih terperangkap dalam batuan


induk
b) Kegiatan konsentrasi dilakukan tanpa kehilangan emas berlebihan.
c) Meningkatkan kemampuan ekstraksi emas.
Proses kominusi ini terutama diperlukan pada pengolahan bijih emas primer.
Selama proses kominusi terjadi proses liberasi yaitu proses lepasnya emas dari batu
induknya. Derajat liberasi yang diperlukan dari masing-masing bijih untuk
mendapatkan perolehan emas yang tinggi pada proses ekstraksinya berbeda-beda
bergantung pada ukuran mineral emas dan kondisi keterikatannya pada batuan induk.

Proses kominusi ini dilakukan bertahap bergantung pada ukuran bijih dan
kondisi kandungan bebatuannya. Secara umum proses kominusi terbagi atas:
- Crushing merupakan suatu proses peremukan ore (bijih) dari hasil
penambangan melalui perlakuan mekanis. Misalnya dengan menggunakan roll
crusher, jaw crusher, cone crusher.
- Milling merupakan proses penggerusan lanjutan dari crushing, hingga
mencapai ukuran yang sangat halus dari hasil milling yang diharapkan yaitu
berkurang minimal 80% dari ukuran awal. Ada beberapa alat yang digunakan
dalam proses penggerusan seperti ball mill dan rod mill.

Adapun macam-macam dari peremukan yaitu :

a) Peremukan Tahap Primer


Peremukan tahap primer merupakan tahap pertama saat umpan yang digunakan
biasanya berasal dari hasil penambangan berupa batuan induk emas yang
ukurannya masih sangat besar bahkan sekitar 2 m (Ulrich, 1984). Alat peremuk
yang digunakan pada umumnya adalah jaw crusher dan gyratory rusher. Ukuran
terbesar dari produk hasil peremukan tahap primer ini adalah 200 mm. Dalam
peremukan primer, sirkuit unitnya adalah terbuka.

Jaw Crusher Gyratory Crusher

b) Peremukan Sekunder
Tahap ini merupakan tahap setelah peremukan primer, bijih emas direduksi lagi
hingga diameter ekuivalennya menjadi sekitar 15-35 mm. Umpan yang
dimasukkan kedalam unit berukuran dibawah 0,5 m. Tahap peremukan sekunder
menggunakan dua jenis crusher seperti cone crusher atau impact crusher. Pada
peremukan sekunder sirkuit unitnya adalah gabungan tertutup dan terbuka.
Cone Crusher Impact Crusher

c) Peremukan Tersier
Peremukan tersier merupakan peremukan material hingga ukuran 7-15 mm
dengan menggunakan dua atau lebih tipe crusher. Apabila menggunakan cone
crusher untuk peremukan sekunder dan tersier, maka menggunakan spesifikasi
cone head yang berbeda. Pada peremukan tersier sirkuit unitnya adalah
gabungan tertutup dan terbuka. Pada sirkuit tertutup, produk hasil peremukan
ditampung di pengayak. Sehingga, material yang ukurannya belum memasuki
kualifikasi akan dikembalikan ke proses sebelumnya.
Alat yang banyak digunakan dalam peremukan tersier adalah ball mill.
Ball mill alat penggilingan bijih emas yang telah dikecilkan dari batuan yang
sangat besar. Ballmill merupakan suatu penggiling. dengan bola-bola besi
dengan ukuran tertentu. Bijih emas yang diperoleh dimasukan kemudian digiling
sampai halus sehingga emas terlepas dari tanah.

Ball Mill
2. Screening
Screening merupakan proses pemisahan butiran dan serpihan emas yang sudah
mulai terliberasi dari sebagian besar proses kominusi. Bijih emas yang telah
digerus akan diayak. Proses pengayakan didasarkan pada perbedaan massa jenis.
Emas memiliki massa jenis lebih besar dari tanah sehingga pada proses
pengayakan emas berada dibagian bawah maka tanah berada dibagian atas dapat
dengan mudah dibuang.

Gambar Diagram Alir Operasi Kominusi

3.1.2 Mekanisme Peremukan


Prinsip peremukan adalah adanya gaya luar yang bekerja atau diterapkan
pada bijih dan gaya tersebut harus lebih besar dari kekuatan bijih yang akan
diremuk. Mekanisme peremukannya tergantung pada sifat bijihnya dan
bagaimana gaya diterapkan pada bijih tersebut. Setidaknya ada empat gaya yang
dapat digunakan untuk meremuk atau mengecilkan ukuran bijih.
a. Compression
Peremukan dilakukan dengan memberi gaya tekan pada bijih.
Peremukannya dilakukan diantara dua permukaan plat. Pada kompresi,
energi akan bekerja pada titik tertentu. Gaya ini biasanya digunakan untuk
pengecilan padatan ukuran besar menjadi kasar. Beberapa alat yang
menerapkan prinsip compression ini ialah jaw crusher dan gyratory
crusher.
Jaw crusher mereduksi ukuran partikel dengan menghimpit material
diantara dua plat baja. Dua diantaranya yaitu plat statis dan plat yang
dihubungkan dengan belt agar dapat bergerak. Material akan ditekan
dengan salah satu plat yang bergerak maju mundur. Material yang telah
tereduksi akan lolos ke bawah jaw crusher.
Gyratory crusher merupakan mesin penghancur yang terdiri atas
penumbuk berputar yang berbentuk seperti corong. Penumbuk tersebut akan
bergerak ke kiri dan ke kanan untuk menekan material yang masuk.

b. Impact
Proses pereremukan yang terjadi akibat adanya gaya berupa
tumbukan yang bekerja pada bebatuan. Metode impact ini adalah gaya
compression yang bekerja dengan kecepatan sangat tinggi. Dengan metode
hantaman ini, energi yang dihasilkan akan besar dan berkerja pada seluruh
bagian benda yang dihantamnya. Gaya ini menghasilkan ukuran kasar,
sedang, ataupun kecil. Beberapa alat yang menerapkan metode hantaman ini
ialah impactor dan hummer mill.
Hummer mill terdiri atas silinder yang berputar pada porosnya
sehingga dapat menghantam material secara berkala hingga menghasilkan
ukuran partikel yang diinginkan. Jarak antara hummer dengan bejana
(clearance) dapat dimodifikasi untuk menghasilkan ukuran partikel yang
diinginkan.

c. Attrition
Atrisi merupakan metode peremukan atau pengecilan ukuran akibat
adanya gaya abrasi atau kikisan. Pada metode ini gaya hanya bekerja pada
daerah yang sempit (dipermukaan) atau terlokalisasi kemudia tergerus
karena bersentuhan dengan permukaan benda lain. Beberapa alat yang
menerapkan metode abrasi ini ialah ballmill dan rod mill.
d. Shear atau cutting
Pengecilan ukuran dengan cara pemotongan menggunakan rotary
knife cutter yang biasanya digunakan untuk material yang rapuh dan
cenderung lunak. Cara ini jarang dilakukan pada batuan induk emas. Gaya
ini menghasilkan ukuran yang jelas dan tepat.

Gaya Alat Produk Sifat Gaya Metode


Kompresi Jaw Selang Pembebanan Bijih ditekan
crusher, ukuran relatif lambat diantara dua
gyratory, sangat benda (plat
roll sempit baja) keras
Impact Hummar Selang Pembebanan Bijih
mill, ukuran relatif cepat dibentur,
impactor sangat lebar dibanting,
dipukul
pada/oleh
benda keras
Attrition/Abrasi Ball mill, Sangat Pembebanan Bijih terkikis
rod mill halus relatif cepat dan digesek
pada bagian
permukaan
Shear/cutting Rotary Sesuai Pembebanan Bijih
knife cutter keinginan relatif lambat dipotong
sesuai
ukuran yang
diinginkan

Tabel Mesin kominusi, gaya, dan distribusi ukuran yang dihasilkan

3.1.3 Proses Pemisahan Secara Fisika


Metode dengan cara pemisahan secara fisika, berdasarkan alat yang
digunakan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Gravity
2. Magnetic
3. Liquation
4. Flotation
Adapun penjelasan pemisahan secara fisika dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
1. Gravity Separation / Pemisahan Gaya Berat

Konsentrasi / separasi dengan metode gravitasi memanfaatkan


perbedaan massa jenis emas (19.3 ton/m3) dengan massa jenis mineral lain
dalam batuan (yang umumnya berkisar 2.8 ton/m3), bentuk, dan ukuran.
Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue
minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin,
flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga
berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa
emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan
senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Biji emas
mengandungi antara 8% dan 10% perak, tetapi biasanya kandungan tersebut
lebih tinggi. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan
perak di dalamnya >20%. Apabila jumlah perak bertambah, warnanya menjadi
lebih putih (Agristo, 2012).
Peralatan konsentrasi yang menggunakan prinsip gravitasi yang umum
digunakan pada pertambangan emas skala kecil antara lain adalah :
a. Panning, adalah alat konsentrat emas yang menggunakan prinsip gravitasi
paling sederhana. Bentuk alat ini menyerupai piringan / pan yang digunakan
untuk mencuci dan memisahkan emas dari pasir, aluvial, tambang, pasir
sungai. Selain itu, bentuknya yang kecil dan portable sangat cocok untuk
melakukan perorangan, penambang kecil, dan langsung dilapangan untuk
menemukan bijih emas. Berat alat panning sekitar 3kg. Persen hasil yang
didapat pada alat ini, tergantung pada pengguna dan perlakuan pemisahannya.
Biasanya didapatkan 10% hasil dari total bahan yang masuk. Dapat dilihat
dengan gambar sebagai berikut:
Gambar Alat Panning
b. Sluice Box, banyak digunakan pada tambang bijih emas dan timah untuk
lapisan aluvial. Dimana lapisan aluvial ini dialirkan dengan air bertekanan
tinggi menggunakan pompa sederhana untuk melepaskan butiran material
berupa fragmen aluvial. Selanjutnya aliran lumpur aluvial dialirkan kedalam
sluice box tersebut. Alat ini mempunyai effisiensi yang sama dengan
peralatan konsentrasi yang lain dan memiliki persen hasil sebesar 30%.

Gambar Alat Sluice Box

c. Meja Goyang (Shaking Table), merupakan pemisahan material dengan cara


mengalirkan air pada suatu meja bergoyang, dengan menggunakan media
aliran tipis dari air (Flowing Film Concentration). berdasarkan perbedaan
berat dan ukuran partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air. Partikel
dengan diameter yang sama akan memiliki gaya dorong yang sama besar.
Sedangkan apabila specific gravitynya berbeda maka gaya gesek pada
partikel berat akan lebih besar daripada partikel ringan. Karena pengaruh
gaya dari aliran, maka partikel ringan akan terdorong / terbawa lebih cepat
dari partikel berat searah aliran. Hasil yang diperoleh menggunakan alat ini,
sebesar 25%.

Gambar Alat Shaking Table

2. Magnetic Separation / Pemisahan Secara Magnetik


Merupakan pemisahan campuran yang komponennya berupa zat padatan
berdasarkan perbedaan sifat magnetiknya. Zat yang memiliki sifat dengan
kemagnetan tinggi akan tertarik medan magnet. Sedangkan zat yang tidak
memiliki sifat kemagnetan tidak akan tertarik oleh medan magnet (Biz, 2011).
Pemisahan magnetik (magnetic separation), adalah proses pemisahan
dengan dasar apabila mineral memiliki sifat feromagnetik. Teknik
pengejerjaannya adalah dengan mengalirkan serbuk mineral secara vertikal
terhadap medan magnet yang bergeraksecara horizontal. Dengan demikian
materi yang tidak tertarik magnet akan terpisahkan dari materi yang memiliki
sifat feromagnetik.
Metode ini dalam proses pengolahan emas biasanya dilakukan pada primary
concentrate / first concentrate / total concentrate yang banyak mengandung
mineral sulfida utamanya pyrite (FeS2). Setelah dioksidasi dengan metode
roasting, pyrite akan berubah menjadi FeO3 yang bersifat feromagnetik. Dengan
perubahan sifat FeO3 yang bersifat feromagnetik, total concentrate dapat
direduksi kuantitasnya dengan menggunakan magnetic separator sehingga
mempermudah proses selanjutnya.

Magnetic Separation
Kemampuan zat dalam merespon magnetik disebut magnetic susceptibility,
yang terbagi dalam:
a. Paramagnetik
sifat kemagnetannya rendah. Misalnya: hematite, ilmenit, pyrhotite.
b. Feromagnetik,
sifat kemagnetannya tinggi. Misalnya: besi, magnetite.
c. Diamagnetik,
tidak memiliki sifat kemagnetan. Misalnya: kuarsa, feldspar, mika,
corundum, gypsum, zircom, emas.

3. Froth Flotation atau Pemisahan Pengapungan


Pengapungan buih ( froth flotation ) adalah proses pemisahan mineral
menjadi bijih dari pengotor dengan cara mengapungkan bijih ke permukaan melalui
pengikatandengan buih. Froth Flotation atau Pengapungan buih yaitu pemisahan
bijih emas dari pengotor dengan cara mengapungkan bijih ke permukaan melalui
pengikatan dengan buih dengan menggunakan bahan kimia tertentu dan udara.
Selain pemisahan bijih emas, prosess ini banyak dipakai untuk beberapa bijih seperti
Cu, Pb, Zn, Ag, dan Ni.
Teknik pengerjaannya dilakukan dengan cara menghembuskan udara ke
dalam butiran mineral halus ( telah mengalami proses crushing ) yang dicampur
dengan air dan zat pembuih. Butiran mineral halus akan terbawa gelembung udara
ke permukaan, sehingga terpisahkan dengan materi pengotor ( gangue ) yang tinggal
dalam air ( tertinggal pada bagian bawah tank penampung ). Pengikatan butiran bijih
akan semakin efektif apabila ditambahkan suatu zat collector.
Prinsip dasar pengikatan butiran bijih oleh gelembung udara berbuih
melalui molekul collector adalah :
Butiran zat yang mempunyai permukaan hidrofilik akan terikat air sehingga akan
tinggal pada dasar tank penampung.
Butiran zat yang mempunyai permukaan non-polar atau hidrofob akan ditolak air,
jika ukuran butirannya tidak besar, maka akan naik ke permukaan dan terikat
gelembung udara.
Kebanyakan mineral terdiri dari ion yang mempunyai permukaan hidrofil,
sehinga partikel tersebut dapat diikat air. Dengan penambahan zat collector,
permukaan mineral yang terikat molekul air akan terlepas dan akan berubah
menjadi hidrofob. Dengan demikian ujung molekul hidrofob dari collector akan
terikat molekul hidrofob dari gelembung, sehingga mineral ( bijih ) dapat
diapungkan. Molekul collector mempunyai struktur yang mirip dengan detergen.
Metoda ini digunakan di beberapa industri pertambangan dengan
menggunakan reagen utama Xanthate sebagai Collector ( misalnya : potassium
amyl xanthate, C5H11OCS2K ), Pine Oil sebagai Frother dan campuran bahan
kimia organik lainnya sebagai pH Modifiers. Reagents yang digunakan untuk
pengapungan pada umumnya tidak beracun, yang berarti bahwa biaya pembuangan
limbah / tailing menjadi rendah.

Froth Flotation
Keuntungan lain dari proses pengapungan adalah pada umumnya cukup
efektif pada bijih dengan ukuran yang cukup kasar ( 28 mesh ) yang berarti bahwa
biaya penggilingan bijih dapat diminimalkan. Froth Flotation sering digunakan
mengkonsentrasi emas bersama-sama dengan logam lain seperti tembaga, timah,
atau seng. Partikel emas dari batuan oxydis biasanya tidak merespon dengan baik
namun efektif terutama bila dikaitkan dengan emas sulfida seperti pyrite.
BAB 4

EKSTRAKSI METALURGI

4.1 Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses pemisahan emas dari logam atau mineral pengotor lain
untuk mendapatkan konsentrasi emas yang tinggi.
Banyak cara yang bisa dilakukan dalam pengolahan emas. Mulai dari cara
sangat tradisional dengan menggunakan dulang atau alat seperti kuali yang nantinya
akan diisikan tanah atau batuan yang berisikan logam emas lalu digoyang-goyang
sehingga nantinya logam emas akan tertinggal di dasar dulang. Proses ini bergantung
pada massa jenis logam tersebut. Cara ini biasanya mengolah emas yang bersifat
aluvial.

Selain itu ada juga dengan menggunakan sluice box atau dompeng dalam
istilah lokalnya. Alat ini juga memanfaatkan massa jenis dari logam emas yang dicari.
Alat ini menyedot pasir dan bebatuan yang ada di dasar sungai lalu menngalirkannya
pada jalur yang telah di lengkapi dengan serat atau karpet. Sehingga nantinya mineral
emas yang dicari akan mengendap pada serat atau fiber tersebut.

Pada pengolahan yang menggunakan zat kimia, memiliki beberapa tipe


pengolahan, yaitu dengan cara pencairan (liquation separation), amalgamasi, dan
sianidasi. Dalam makalah ini kita akan membahas pengolahan dengan Amalgamasi.

4.2 Proses Pemisahan Emas dengan Liquation


Pemisahan pencairan (liquation separation), adalah proses pemisahan yang
dilakukan dengan cara memanaskan mineral di atas titik leleh logam, sehingga cairan
logam akan terpisahkan dari pengotor. Aplikasi dari proses pemisahan ialah saat
memisahkan emas dan perak.
Yang menjadi dasar untuk proses pemisahan metode ini, yaitu :

Density (berat jenis)


Melting point (titik leleh)
Titik leleh emas adalah pada suhu 1064.18 oC, sedangkan titik cair perak pada
suhu 961.78oC sehingga perak akan mencair lebih dulu dari pada emas. Namun untuk
benar-benar terpisah, maka perak harus menunggu emas mencair seluruhnya. Apabila
dilihat dari berat jenisnya, maka berat jenis emas cair sebesar 17.31 gram per
cm3 sedangkan berat jenis perak sebesar 9.32 gram per cm3. Hal ini berarti berat jenis
emas lebih besar dari pada berat jenis perak.
Berdasarkan hukum dasar fisika, bila ada dua jenis zat cair yang berbeda dan
memiliki berat jenis yang berbeda pula, maka zat cair yang memiliki berat jenis lebih
kecil dari zat satunya, ia akan mengapung. Dengan demikian, cairan perak akan
terapung diatas lapisan cairan emas, seperti halnya cairan minyak mengambang diatas
lapisan air. Dari sana, perak dipisahkan dari emas, sampai tidak ada lagi perak yang
terapung. Dengan metode akan dihasilkan Au bullion dan Ag bullion.

Liquation Separation

4.3 Proses Pengolahan Emas Dengan Amalgamasi


Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan cara mencampur bijih
emas dengan merkuri ( Hg ). Produk yang terbentuk adalah ikatan antara emas-perak
dan merkuri yang dikenal sebagai amalgam ( Au Hg ). Merkuri akan membentuk
amalgam dengan semua logam kecuali besi dan platina.
Penggunaan raksa alloy atau amalgam pertama kali pada 1828, meskipun
penggunaan secara luas teknik baru ini dicegah karena sifat air raksa yang
beracun. Sekitar 1895 eksperimen yang dilakukan oleh GV Black menunjukkan
bahwa amalgam aman digunakan, meskipun 100 tahun kemudian ilmuwan masih
diperdebatkannya.
Amalgam masih merupakan proses ekstraksi emas yang paling sederhana dan
murah, namun demikian amalgamasi akan efektif pada emas yang terliberasi
sepenuhnya maupun sebagian pada ukuran partikel yang lebih besar dari 200 mesh (
0.074 mm ) dan dalam membentuk emas murni yang bebas ( free native gold ). Tiga
bentuk utama dari amalgam adalah AuHg2, Au2Hg and Au3Hg.
Proses amalgamasi merupakan proses kimia fisika, apabila amalgamnya
dipanaskan, maka akan terurai menjadi elemen-elemen yaitu air raksa dan bullion
emas. Amalgam dapat terurai dengan pemanasan di dalam sebuah retort, air raksanya
akan menguap dan dapat diperoleh kembali dari kondensasi uap air raksa tersebut.
Sementara Au-Ag tetap tertinggal di dalam retort sebagai logam.

Amalgamasi

. Dalam proses ini dilakukan beberapa tahap untuk mendapatkan paduan


antara emas dan perak (bullion). Tahapan-tahapan pengolahan tersebut adalah :
1. Sebelum dilakukan amalgamasi hendaknya dilakukan proses kominusi
dan konsentrasi gravitasi, agar mencapai derajat liberasi yang baik
sehingga permukaan emas tersingkap.

2. Pada hasil konsentrat akhir yang diperoleh ditambah merkuri


(amalgamasi) dilakukan selama + 1 jam

3. Hasil dari proses ini berupa amalgam basah ( pasta ) dan tailing. Amalgam
basah kemudian ditampung di dalam suatu tempat yang selanjutnya
didulang untuk pemisahan merkuri dengan amalgam

4. Terhadap amalgam yang diperoleh dari kegiatan pendulangan kemudian


dilakukan kegiatan pemerasan ( squeezing ) dengan menggunakan kain
parasut untuk memisahkan merkuri dari amalgam ( filtrasi ). Merkuri yang
diperoleh dapat dipakai untuk proses amalgamasi selanjutnya. Jumlah
merkuri yang tersisa dalam amalgan tergantung pada seberapa kuat
pemerasan yang dilakukan. Amalgam dengan pemerasan manual akan
mengandung 60 70 % emas, dan amalgam yang disaring dengan alat
sentrifugal dapat mengandung emas sampai lebih dari 80 %.

5. Retorting yaitu pembakaran amalgam untuk menguapkan merkuri,


sehingga yang tertinggal berupa alloy emas.
Namun, proses yang dilakukan di atas memiliki resiko yang sangat besar.
Limbah yang dihasilkan sangat berbahaya baik untuk pekarja, maupun untuk
alam kita. Maka dalam penambangan ini harus di perhatikan beberapa unsur.
Unsur tersebut antara lain :

1. Lokasi ekstraksi bijih harus terpisah dari lokasi kegiatan penambangan.

2. Dilakukan pada lokasi khusus baik untuk amalgamasi untuk


meminimalkan penyebab pencemar bahan berbahaya akibat peresapan
kedalam tanah, terbawa aliran air permukaan maupun gas yang terbawa
oleh angin.

3. Dilengkapi dengan kolam pengendap yang berfungsi baik untuk mengolah


seluruh tailing hasil pengolahan sebelum dialirkan ke perairan bebas.

4. Lokasi pengolahan bijih dan kolam pengendap diusahakan tidak berada


pada daerah banjir.

5. Hindari pengolahan dan pembuangan tailing langsung ke sungai.

Dengan memperhatikan aspek-aspek di atas, bencana atau dampak


negatif dari proses pengolahan emas dengan cara amalgamasi ini dapat
berkurang. Sehingga, alam tetap bisa memulihkan diri kembali karena kerusakan
yang ditimbulkan tidak terlalu parah.

Pengikatan Emas oleh Merkuri


Pengikatan emas oleh merkuri atau amalgamasi dapat dilakukan dengan
menggunakan 4 jenis cara atau alat yaitu pelat, kantong, penggerusan dan
pencampuran. Dari keemapt cara atau alat iniyang akan dibahas adalah hanya
amalagasi dengan tekananan dan penggerusan. Alasannya, selain telah dikenal
masyarakat, cara ini berfaedah untuk emas yang berkrat dan sulit dmalgamasi,
atau amat halus, atau tidak terikat dengan mineral lain, atau dalam bijih uyang
menyebabkan merkuri tidak bekerja baik.
Masyarakat menggunakan bael atau gelundung baik untuk penggerusan
maupun amlgamasi. Nmun kedua kegiatan ini (penggerusan dan amlgamasi)
sebaiknya dipisahkan. Dengan kata lain dua barel atau gelundung seharusnya
dimiliki, yang satu memakai liner (untuk penggerusan) dn satu lagi tanpa iner
(untuk amlgamasi)
Ukuran yang telah disebutkan dalam pembahasan tentang penggerusan
dan perbedaannya adalah bahwa paad tahap amlgamasi (penambahan merkuri ke
dalam pulp) media penggerus berjumlah 1 atau 2 batang yang berdiameter 4 atau
5 inci, atau sengh lusin bola bediameter 4 atau 5 inci. Selanjutnya kecepatan
putarannya rendah dan lamanya amalgamasi berkisar antara 1 jam sampai
beberapa jam. Pulp dan media penggerus mengisi barel atu gelundung dengan
kisaran dari sepertiga sampai setengah volume barel. Jika operasi penggerusan
penting, operasi amlgamasi memakai 60-80% padatan. Jika amlgamasi saja,
operasi dengan 30-50% padatan. Jumlah merkuri yang ditambahkan bergantung
pada kadar emas dalam bijih dan jumlah merkuri ditambah apabila kadar
emasnya tinggi.
Perolehan Emas
Perolehan emas dengan teknologi amlgamasi relative rendah (artinya
apabila dibandingkan dengan teknologi sianida). Untuk memperbaiki teknologi
amalgamasi (perolehan emas dan kehilangan merkuri) dari tambang rakyat dapat
dilakukan dengan penambahan baha kimia dan pengaturan teknik (berat umpan,
persentase padatan, waktu giling, dan waktu amalgamasi) perolehan emas dapat
mencapai 55%. Air raksa yang hilang sangat kecil (> 1%)
Untuk menentukan perolehan emas perlu diketahui kandungan emas
sebenarnya dalam batuan (bijih) di laboratorium. Ada 2 metode yang digunakan
yaitu metode gravimetric dan metode dengan gravimetric dan metode dengan
alat modern yaitu AAS ( Spektrofotometer Serapan Atom).

4.4 Proses Pengolahan Emas Dengan Sianida


Proses sianidasi dilakukan menggunakan larutan NaCN encer. Bahan yang
akan diolah dapat berupa bijih emas yang telah digiling atau Hg dari proses
amalgamasi. Proses ini didasarkan pada sifat emas dan perak yang dapat larut dalam
garam sianida dengan adanya oksigen. Larutan yang terbentuk kemudian ditambahkan
serbuk seng untuk mengendapkan emas dan perak. Proses penambahan seng ini
disebut proses Merill Crowe. Berikut adalah reaksi yang terjadi dari setiap proses:

Au(s) + 8NaCN(aq) + O2(g) + 2H2O(l) 4NaAu(CN)2(aq) + 4NaOH(aq)

4Ag(s) + 8NaCN(ag) + O2(g) + 2H2O(l) 4NaAg(CN)2(aq) + 4NaOH(aq)

NaAg(CN)2(aq) + Zn(s) 2NaCN(aq) + Zn(CN)2(aq) + 2Ag(s)

NaAu(CN)2(aq) + Zn(s) 2NaCN(aq) + Zn(CN)2(aq) + 2Au(s)

Sebenarnya selain seng aluminumpun dapat digunakan untuk mengendapkan


emas dan perak namun harganya relatif lebih mahal, sehingga pengendapan lebih
sering digunakan seng. Selain aluminium logam alkali dan alkali tahan misalnya
natrium dan magnesium dapat pula digunakan untuk mengendapkan emas dan perak,
namun larutan dari proses sianidasi mengandung air dalam jumlah yang cukup
banyak, maka akan terjadi reaksi yang hebat apabila ditambahkan logam alkali
maupun logam alkali tanah.

Pengendapan yang terbentuk berkaitan dengan deret volta atau deret atau
urutan kereaktifan logam, dimana logam-logam yang berada disebelah kiri dapat
mereduksi (mengantikan) logam-logam yang ada disebelah kanannya dalam
senyawaannya. Deret volta atau deret kereaktifan logam adalah sebagai berikut:

Li K Ba Sr Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Ni Co Sn Pb H Cu Hg Ag Pt Au

Emas yang diperoleh melalui proses amalgasi atau sianidasi belum dalam
keadaan murni karena masih bercampur dengan logam lain. Umumnya perak, arsen,
tembaga dan mungkin logam-logam yang lain yang dapat direduksi oleh seng
berdasarkan urutan kereaktifan logam. Untuk memperoleh emas murni umumnya
dilakukan dengan proses elektrolisis.
Pada tahap ini emas yang diperoleh dilarutkan lagi dalam NaCN kemudian
dielektrolisis, reaksi yang terjadi pada tahap pelarutan adalah sebagai berikut:

Au(s) + 8NaCN(aq) + O2(g) + 2H2O(l) 4NaAu(CN)2(aq) + 4NaOH(aq)

4Ag(s) + 8NaCN(ag) + O2(g) + 2H2O(l) 4NaAg(CN)2(aq) + 4NaOH(aq)

Pada proses elektrolisis digunakan emas murni sebagai anoda dan emas kotor
sebagai katoda. Selama proses elektrolisis berlangsung ion-ion emas akan bergerak
menuju anoda kemudian mengendap pada batangan emas murni yang digunakan
sebagia anoda. Reaksi yang terjadi pada tahap elektrolisis adalah sebagai berikut:

Katoda : Au3+ (aq) + 3e Au(s) + 3e

Anoda : 2H2O(l) O2(g) + 4H+(aq) + 4e

Produk yang diperoleh dari proses elektrolisis, emas dan perak masih bersatu
sehingga perlu dilakukan elektrolisis berlanjut untuk memisahkan emas dan perak.
Pemisahan emas dan perak dapat dilakukan melalui dua tahap.

Tahap pertama: campuran emas dan perak dimasukan ke dalam kain kanvas.
Kain kanvas ini bertindak sebagai pembungkus sekaligus sebagai anoda pada proses
elektrolisis. Katoda digunakan perak murni sedangkan elektrolitnya digunakan perak
nitrat encer yang telah diasamkan dengan asam nitrat. Selama proses elektrolisis
berlangsung perak pada anoda akan larut dalam dalam elektrolit dan bergerak menuju
katoda. Pada katoda ion Ag2+ direduksi menjadi padatan Ag yang akan melekat pada
katoda. Padatan perak yang terbentuk dapat diambil secara periodik, dicuci kemudian
dicetak. Perak yang diperoleh dengan cara ini mempunyai kemurnian 99,9%. Berikut
reaksi yang terjadi di ruang katoda dan anoda:

Katoda : Ag2+ + 2e Ag

Anoda : 2H2O(l) O2(l) + 4H+(l) + 4e


Dari proses elektrolisis di atas emas tidak ikut melarut karena emas menempati
urutan paling rendah dalam seri elektrokimia. Emas yang diperoleh dari proses
elektrolisi perak di atas belum dalam keadaan murni karena masih mengandung
sedikit perak. Untuk memperoleh emas murni maka dilakukan elektrolisis pada tahap
kedua.

Tahap kedua: pada tahap ini emas yang diperoleh dari proses elektrolisis perak
di atas dijadikan sebagai anoda, katoda menggunakan emas murni sedangkan yang
bertindak sebagai elektrolit adalah larutan aurik klorida (AuCl3) yang telah
diasamkan dengan asam klorida. Selama proses elektrolisis berlangsung emas dari
anoda, larut dalam elektrolit membentuk ion Au3+ yang bergerak menuju katoda.
Pada katoda ion Au3+ direduksi menjadi padatan emas yang akan melekat pada
katoda. Emas yang terbentuk diambil secara periodik, dicuci kemudian dicetak. Emas
yang diperoleh melalui cara ini mempunyai kemurnian 99,95%. Berikut rekasi yang
terjadi di ruang katoda dan anoda:

Katoda : Au3+ (aq) + 3e Au(s) + 3e

Anoda : 2H2O(l) O2(g) + 4H+(aq) + 4e

Pada proses elektrolisis perak yang masih terkandung dalam emas ikut larut
dalam elektrolit tetapi akan segera bereaksi dengan klorida dari elektrolit membentuk
padatan AgCl yang dapat digunakan untuk proses selanjutnya.

Tabung untuk proses sianidasi


4.5 Refinning / Pemurnian
Refining, yaitu melakukan pengolahan logam kotor melalui proses kimia
agar diperoleh tingkat kemurnian tinggi.
a. Parting
Parting yaitu proses untuk memisahkan emas dengan perak dan logam dasar
dari dore bullion ( Au-Ag alloy ) dengan larutan asam nitrat ( HNO3 ). Dipasaran
kita dapat temukan asam nitrat kadar 68%.
Proses parting adalah perebusan konsentrat, hasil setelah perebusan terakhir,
endapan yang ada sudah halus dan berwarna coklat seperti bubuk kopi. Endapan
ini merupakan bullion emas ( High Au Bullion ) dengan kadar emas mencapai
98%, untuk hasil lebih baik dapat diproses dengan Aqua Regia agar dapat
diperoleh kadar hingga 99.6%.
Sedangkan air hasil bilasan yang ditampung dilanjutkan pada proses
hydrometalurgi untuk diambil peraknya.
b. Melting
Untuk mendapatkan logam emas, endapan bullion emas (High Au Bullion)
selanjutnya dilebur dengan penambahan borax ( Na2B4O710H2O ). Tujuan
pemakaian borax di sini adalah selain untuk mengikat kotoran yang masih ada,
juga untuk menahan bullion agar tidak beterbangan saat terkena hembusan dari
blander nantinya.

Melting
Setelah bullion dilebur akan tampak menggumpal seperti gumpalan di
dasar kowi. Biarkan dingin dahulu beberapa detik hingga membeku sebelum
dicongkel. Bila menginginkan emas berwarna kuning mengkilat, caranya
dimasak dalam alat smelting yang dipanaskan hingga dua kali proses pemasakan
dengan larutan yang terdiri dari :
Salpeter / sendawa, dapat menggunakan kalium nitrat ( KNO3 ) atau kalsium
nitrat ( Ca(NO3)2 ) sebanyak 2 %
Tawas sebanyak 1 %,
NaCl sebanyak 1 %,
Air

4.6 Proses Pemurnian (Dari Bullion)


Dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu :
1. Metode cepat.
Secara Hidrometallurgi yaitu dengan dilarutkan dalam larutan HNO3
kemudian tambahkan garam dapur untuk mengendapkan perak sedangkan
emasnya tidak larut dalam larutan HNO3 selanjutnya saring aja dan dibakar.
2. Metode lambat.
Secara Hidrometallurgi dan Electrometallurgi yaitu dengan menggunakan
larutan H2SO4 dan masukkan plat Tembaga dalam larutan kemudian
masukkan Bullion ke dalam larutan tersebut, maka akan terjadi proses
Hidrolisis dimana Perak akan larut dan menempel pada plat Tembaga
(menempel tidak begitu keras/mudah lepas) sedangkan emasnya tidak larut
(tertinggal di dasar
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Emas (Au) merupakan salah satu mineral yang memiliki nilai ekonomis
tinggi, dan biasanya emas ditemukan di urat-urat pyrit sehinggi harus
dilakukan proses pemisahan emas dari mineral lainnya.
2. Proses pengolahan bijih emas meliputi :
a. Crushing
b. Milling
c. Screening
d. Gravity concentration
e. Magnetic Separation
f. Flotation
g. Extraction
h. Refining/Pemurnian
3. Ada 3 proses pengolahan emas, yaitu :
Liquation : Pemisahan pencairan (liquation separation), adalah proses
pemisahan yang dilakukan dengan cara memanaskan mineral di atas
titik leleh logam, sehingga cairan logam akan terpisahkan dari
pengotor.
Amalgamasi : Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan
cara mencampurkan bijih emas dengan merkuri (Hg).
Sianidasi : sianidasi dilakukan menggunakan larutan NaCN encer.

5.2 Saran
Dengan dibuatnya makalah ini, semoga Mahasiswa lebih mendalami
lagi mengenai pengolahan dan ekstraksi bijih emas (Au) dan semakin
memahami apa itu emas . Terlebih lagi menambah wawasan mahasiswa,
terutama penulis mengenai bagaimana cara mengolah emas agar menjadi
mineral yang memiliki nilai ekonomis tinggi.