Anda di halaman 1dari 25

AUDIT INTERNAL

AUDIT INTERNAL :
SEJARAH, PERKEMBANGAN, DAN GAMBARAN UMUM

AKUNTANSI E

TIMOTIUS HERIYANTO (1413155)

DODY ISHAK SAMPEAKO (1413157)

YEHEZKIEL TANGARDY (1413052)

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ATMAJAYA MAKASSAR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Audit Internal : Sejarah,
Perkembangan, dan Gambaran Umum . Makalah ini dibuat untuk memenuhi
tugas kelompok yang diberikan oleh dosen dengan mata Audit Internal.
Walaupun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, kami berharap
makalah ini dapat bermanfaat khusus untuk mahasiswa akuntansi yang ingin
mengetahui sejarah, perkembangan, dan gambaran umum terkait dengan audit
internal.
Pada kesempatan ini kami juga berterimakasih kepada teman-teman yang
telah membantu kami untuk menyelesaikan makalah ini. Untuk itu kritik dan
saran sangat kami perlukan untuk dapat kami jadikan masuk agar kedepanya kami
bisa lebih baik lagi.

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................ i


Daftar Isi...................................................................................................... ii
Bab 1 : Pendahuluan.................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Tujuan ....................................................................................... 1
Bab 2 : Pembahasan .................................................................................... 2
Bab 3 : Penutup ........................................................................................... 21
3.1 Kesimpulan ............................................................................... 21
Daftar Pustaka ............................................................................................. 22
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Audit merupakan kata yang sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa jurusan
akuntasi. Seperti yang kita ketahui bahwa audit dibagi menjadi dua yaitu audit
eksternal dan audit internal. Perbedaan yang mendasar audit eksternal dan
audit internal yaitu audit eksternal berasal dari luar perusahaan dan tidak
memiliki kaitan terhadap kegiatan perusahaan sedangkan audit internal berasal
dari dalam perusahaan itu sendiri. Selama ini mahasiswa hanya sering
mendengan kata Audit Internal tetapi tidak mengetahui bagaimana sejarah,
perkembangan, dan gambaran umum mengenai audit internal.
Dengan mengacu pada hal diatas, kami mencoba untuk memaparkan
mengenai sejarah, perkembangan, dan gambaran umum mengenai audit
internal. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa jurusan
akuntansi.

1.2 Tujuan
Tujuan dari makalaah ini yaitu :
Mengetahui sejarah audit internal
Mengetahui perkembangan audit internal
Mengetahu gambaran umum mengenai audit internal
BAB 2
PEMBAHASAN

SEJARAH AUDIT INTERNAL


Audit internal modern menyediakan jasa-jasa yang mencakup pemeriksaan
dan penilaian atas kontrol, kinerja, risiko, dan tata kelola (governance) perusahaan
public maupun privat. Aspek keuangan hanyalah satu aspek saja dalam lingkup
pekerjaan audit internal. Dulunya auditor pernah dianggap lawan pihak
manajemen, sekarang auditor internal mencoba menjalin kerja sama yang
produktif dengan klien melalui aktivitas-aktivitas yang memberikan nilai tambah
bagi perusahaan. Karena pergeseran pandangan atas fungsi audit internal ini baru
terjadi akhir-akhir ini saja, maka audit internal yang memiliki aspek kerja yang
lebih luas ini sering disebut sebagai audit internal modern.

Audit Intenal Di Abad-Abad Permulaan

Setidaknya ilmu dan profesi audit internal telah dimulai pada 3.500
Sebelum Masehi. Catatan sejarah mengenai peradaban Mesopotamia
menunjukkan adanya tanda-tanda kecil yang dibuat di samping angka-angka
transaksi-transaksi keuangan. Tanda-tanda seperti titik, tanda silang, dan tanda
centang yang ada pada saat itu merupakan potret dari sistem verifikasi yang telah
dijalankan. Seseorang menyiapkan laporan transaksi; orang lain akan
memverifikasi (memeriksa) laporan tersebut. Kontrol internal, sistem verifikasi,
dan konsep pembagian tugas keungkinan telah dilakukan pada masa-masa itu.

Sejarah mencatat bahwa masyarakat Mesir, Cina, Persia, dan Yahudi pada
abad-abad permulaan juga menerapkan sistem yang sama. Orang-orang Mesir,
misalnya, mensyaratkan adanya saksi dalam transkasi penyerahan padi ke
lumbung desa dan mensyaratkan adanya dokumen yang sah untuk transaksi
tersebut.

Orang-orang Yunani memiliki sistem yang bisa dikatakan cukup aneh.


Mereka lebih suka memperkejakan budak sebagai petugas pencatat karena bila
sesuatu terjadi maka penyiksaan terhadap budak guna mengorek informasi
dianggap sebagai cara yang lebih efektif daripada harus menanyai karyawan yang
buka budak dibawah sumpah.

Kerajaan Romawi kuno menerapkan sistem dengar laporan. Seorang


karyawan akan membandingkan catatannya dengan catatan karyawan lain.
Verifikasi lisan dirancang untuk menghalangi para karyawan yang bertanggung
jawab terhadap dana untuk melakukan kecurangan. Dalam perkembangannya,
tugas mendengarkan istilah audit, yang bersalah dari bahasa Latin auditus
(mendengarkan). Salah satu contoh penerapannya di Kerajaan Romawi adalah
quaestors (pihak penanya) akan memeriksa laporan gubernur untuk mendeteksi
kecurangan dan penyalahgunaan dana.

Audit Internal di Abad-Abad Pertengahan

Perdagangan italia yang ekspansif pada abad ke-13 membutuhkan


pencatatan yang lebih rumit sehingga lahirlah pembukuan berpasangan (double-
entry), yakni setiap transaksi dicatat baik pada sisi debit maupun kredit. Sistem ini
membantu para pengusaha mengontrol transaksi para pelanggan dan pemasok
serta juga membantu mereka mengawasi pekerjaan karyawannya.

Audit Internal di Masa Revolusi Industri

Dimulai ketika terjadi revolusi industri di Inggris. Perusahaan-perusahaan


memperkejakan akuntan untuk memeriksa catatan keuangannya. Lebih dari
sekadar mendengarkan, verifikasi audit kemudian berkembang menjadi
verifikasi catatan tertulis dan perbandingan angka-angka yang tertera pada jurnal
dengan bahan bukti dokumennya.

Audit Internal di Tahun-Tahun Belakangan Ini

Orang-orang Inggris yang kaya raya menginvestasikan dana yang cukup


besar di perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, dan mereka menginginkan
adanya verifikasi independen atas invertasi mereka. Auditor-auditor Inggris
membawa metode dan prosedur audit yang kemudian diadaptasi Kolonial Inggris
demi kepentingan mereka sendiri.

Munculnya Undang-Undang Perushaan Inggris menyebabkan pentingnya


pertanggungjawaban kepada investor. Amerika Serikat tidak memiliki undang-
undang seperti ini; sehingga, audit merupakan pengganti yang memenuhi
kebutuhan para pengusaha. Kebutuhan ini memberikan tekanan pada audit neraca,
dengan lebih menitikberatkan pada pendekatan analitis terhadap akun-akun
dilaporan keuangan

Audit di Amerika Serikat

Setelah Perang Duna I, perekonomian Amerika Serikat mengalami


pengingkatan. Banyak perusahaan memublikasikan laporan keuangan yang
diaudit meskipun tidak disyaratkan.

Perusahaan kereta api merupakan salah satu jenis perusahaan yang


mengadopsi program audit internal yang berjangkauan luas. Para eksekutif
perusahaan kereta api membutuhkan keyakinan bahwa para kepala stasiun
mengelola penerimaan dana penjualan karcis dengan semestinya. Audit eksternal
terbukti tidak memadai untuk memeriksa aspek-aspek operasional.

Perkembangan audit internal selanjutnya bisa dikatakan bersumber dari


meningkatnya kompleksitas operasi perusahaan dan pemerintahan. Pertumbuhan
perusahaan membatasi kemampuan manajer untuk mengawasi masalah
operasional sehingga menjadikan audit internal sebuah fungsi yang semakin
penting.

PERKEMBANGAN AUDIT INTERNAL

Selama beberapa tahun, auditor terus memberikan pengaruh terhadap


perkembangan aduit internal. Audit internal modern mulai muncul pada tahun
1941 ketika Ikatan Auditor Internal-Institute of Internal Auditors (IIA) dibentuk.
Sejak saat itu para auditor internal memperluas ruang lingkup audit untuk menilai
aspek yang berkaitan dengan operasional perusahaan. Sejak saat itu profesi
auditor internal menjadi setara dengan auditor eksternal.

Istilah auditor internal dan audit internal menimulkan perdebatan. Mereka


mencari istilah atau frase yang bisa lebih baik menjelaskan peranan auditor
internal, namun tak satu pun istilah yang muncul. Para pendiri berharap bahwa
tindakan nyata akan lebih bermanfaat bagi profesi auditor internal dalam
mencapai jati dirinya ketimbang mencari istilah yang mendeskripsikan profesi
tersebut.

Misi Auditor Eksternal dan Auditor Internal

Tanggung jawab utama auditor eksternal adalah memberikan opini atas


laporan keuangan perusahaan. Tujuan auditor eksternal adalah menentukan
kewajaran penyajian posisi keuangan perusahaan dan hasil-hasil usaha untuk
periode tersebut. Mereka juga harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa laporan
keuangan disusun sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum
dan diterapkan secara konsisten dengan tahun sebelumnya; dan bahwa aktiva telah
diamankan dengan semestinya.

Auditor internal memberikan informasi yang diperlukan manajer dalam


menjalankan tanggung jawab mereka secara efektif. Audit internal bertindak
sebagai penilai independen untuk menelaah opersional perusahaan dengan
mengukur dan mengevaluasi kecukupan kontrol serta efisiensi dan efektivitas
kinerja perusahaan. Auditor internal memiliki peranan yang penting dalam semua
hal yang berkaitan dengan pengelolaan perusahaan dan risiko-risiko terkait dalam
menjalankan usaha.
Perbedaan Auditor Eksternal dan Auditor Internal

Auditor Internal Auditor Ekstenal


Merupakan karyawan perusahaan atau Merupakan orang yang independen di
bisa saja merupakan entitas luar perusahaan.
independen.
Melayani kebutuhan organisasi, Melayani pihak ketiga yang
meskipun fungsinya harus dikelola oleh memerlukan informasi keuangan yang
perusahaan. dapat diandalkan.
Fokus pada kejadian-kejadian di masa Fokus kepada ketepatan dan
depan dengan mengevaluasi kontrol kemudahan pemahaman dari kejadian-
yang dirancang untuk meyakinkan kejadian masa lalu yang dinyatakan
pencapaian tujuan organisasi. dalam laporan keuangan.
Langsung berkaitan dengan pencegahan Sekali-sekali memerhatikan pencegahan
kecurangan dalam segala bentuknya dari pendektesian kecurangan secara
atau perluasan dalam setiap aktivitas umum, namun akan memberikan
yang ditelaah. perhatian lebih bila kecurangan tersebut
mempengaruhi laporan keuangan secara
material.
Independen terhadap aktivitas yang Independen terhadap manajemen dan
diaudit, tetapi siap sedia untuk dewan direksi baik dalam kenyataan
menanggapi kebutuhan dan keinginan maupun secara mental.
dari semua tingkatan manajemen.
Menelaah aktivitas secara terus- Menelaah catatan-cataan yang
menerus. mendukung laporan keuangan seacar
periodik-biasnya sekali setahun.

Kemajuan Audit Internal

Eksternal Internal
Pusat pelatihan pertama didirikan 1881
Menjadi mata kuliah pertama kali 1881
Organisasi profesi pertama :
AICPA 1886
Institute of Internal Auditors (IIA) 1941
Lisensi negara pertama dan ujian pertama 1896
Ujian CIA pertama 1974
Jurnal Profesi yang diterbitkan pertama kali
Journal of accountancy 1905
Internal Auditor 1943
Publikasi edukasi pertama
Audit Dicksee (Inggris) 1892
Audit Montgomery (AS) 1914
Audit Internal Brink (AS) 1941
Audit Internal Modern Sawyer (AS) 1973
Kode etik formal 1917 1968
Pernyataan tanggung jawab 1947
Standar praktik profesional 1954 1978

GAMBARAN UMUM AUDIT INTERNAL

Katalog yang sering digunakan untuk menilai kualitas profesional suatu jabatan :

1. Pelayanan kepada publik


Auditor internal memberikan jasa untuk meningkatkan penggunaan
sumber daya secara efisien dan efektif. Kode etik profesi mensyaratkan
untuk menghindari terlibat dalam kegiatan illegal. Auditor internal juga
melayani public melalui hubungan kerja mereka dengan komite aduit,
dewan direksim dan badan pengelola lainnya.
2. Pelatihan khusus berjangka panjang
Dalam beberapa kasus dan beberapa negara di duniam departemen aduit
internal menerima orang yang memiliki pendidikan atau pelatihan yang
bervariasi. Hanya orang-orang yang menunjukkan keahlian, lulus tes, dan
mendapatkan sertifikat yang dapat menyebut dirinya profesional.
3. Menaati kode etik
Anggota IIA harus menaati Kode Etik IIA. Mereka juga harus menaati
standar kode etik.
4. Menjadi anggota asosiasi dan menghadiri pertemuan-pertemuan
IIA menerima anggota-anggota yang bekerja sebagai auditor internal tetapi
belum memiliki sertifikat. Di negara-negara lainnya, seperti Irlandia dan
Inggris, lulus ujian tertentu merupakan syarat untuk menjadi anggota
penuh.
5. Publikasi jurnal yang bertujuan untuk meningkatkan keahliah
praktik
IIA memublikasikan jurnal teknis, yang bernama Internal Auditor, serta
buku teknis, jurnal penelitian, monografi, penyajian secara audiovisiual
dan bahan-bahan intruksional lainnya.
6. Menguji pengetahuan para kandidat auditor bersetifikat
Kandidat harus lolos ujian yang diselenggarakan. Kandidat yang lolos
berhak mendapatkan gelar CIA (Certified Internal Auditor).
7. Lisensi oleh negara atau sertifikasi oleh dewan
Profesi auditor internal tidak dibatasi oleh izin. Siapapun yang bekerja
sebagai auditor internal dapat menandatangani laporan audit internal dan
menyerahkan opini audit internal.

Akan tetapi akhir-akhir ini terdapat sedikit perubahan. Beberapa organisasi


audit mengharuskan semua anggota memiliki sertifikat atau bekerja untuk
memperoleh sertifikat. Undang-undang audit yang seragam disusun oleh negara
oleh U.S. General Accounting Office (GAO) mensyaratkan auditor pemerintah
memiliki gelar CPA atau CIA.

Kode Etik

Kode etik profesional disusun sebagai hasil dari hubungan yang khusus
anatar anggota profesi dan klien mereka. Praktisi profesional tidak menjauhi
orang-orang yang mereka layani.

Komite Etik Internasional mengeluarkan seperangkat rencana pernyataan


baru tentang etika pada 1 Oktober 1999. Versi akhir ini disetujui oleh Dewan
Direksi pada tanggal 17 Juni 2000. Terdapat dua perubahan besar pada kode etik
yang baru.

1. Kode etik berlaku bagi semua auditor internal, tidak hanya anggota IIA
dan CIA. Hal ini dilakukan untuk menerapkan kode etik ke semua individu
dan organisasi yang melakukan aduit internal, tanpa memerhatikan lokasi
atau kedekatan hubungannya dengan organisasi.
2. Kode etik tersebut dibagi dalam tiga bagian utama :
Pendahuluan
Prinsip-prinsip dasar
Aturan etika
Pada dua bagian terakhir, kode etik dibagi dalam lima bagian :
Intergritas
Objektivitas
Kerahasiaan
Profesionalisme
Kompetensi

Semua auditor internal dibatasi oleh kode etik, dan pelanggaran atasnya
akan dikenakan sanksi pencabutan keanggotaan dan gelar CIA. Berdasarkan kode
etik auditor internal tidak bertanggung jawab untuk melaporkan kepada pihak di
luar perusahaan kecuali secara khusus diperbolehkan oleh aturan hukum.

Common Body Of Knowledge

Common Body of Knowledge (CBOK) IIA diadopsi tahun 1972 dan


direvisi serta diterbitkan kembali tahun 1992. Revisi tersebut mencakup 334 jenis
kompetensi yang dialokasikan ke 20 disiplin ilmu yang berbeda.

CFIA awalnya dimaksudkan sebagai perubahan ketiga dari CBOK. Tetapi


kemudian justru berkembang menjadi studi komprehensif yang
mendokumentasikan dan mendefinisikan audit dan kompetensi yang dibutuhkan
secara global

Standards For The Profesional Practice Of Internal Auditing Yang Pertama


Kali Disusun

IIA awalnya secara resmi memperkenalkan seperangkat standar untuk


auditor internal ke seluruh dunia pada bulan Juni 1978. Lima standar umum
sebagai kerangka dasar adalah: Independensi, Keahlian Profesional, Lingkup
Pekerjaan, Pelaksanaan Pekerjaan Audit, dan Pengelolaan Departemen Audit
Internal. Kelima standar umum ini memiliki 25 standar khusus.

Standar-Standar Dan Pedoman Khusus

Komite telah mengantisipasi perubahan di bidang ini. Ketika perubahan


terjadi, maka standar hanya memunculkan hal-hal yang signifikan saja dan diberi
judul Pernyataan atas Standar Audit Internal (SIAS). Setelah beberapa
pernyataan dikeluarkan, Standar awal diperbarui pada dokumen kodifikasi. Setiap
perubahan terhadap standar-standar mencerminkan posisi resmi IIA, dan disetujui
oleh Dewan Direksi IIA. SIAS berisi:

1. Control: Konsep dan Tanggung Jawab


2. Mengkomunikasikan Hasil
3. Pencegahan, Pendeteksian, Investigasi, dan Pelaporan Kecurangan
4. Keyakinan Kualitas
5. Hubungan Auditor Internal dengan Auditor Luar yang Independen
6. Kertas Kerja Audit
7. Komunikasi dengan Dewan Direksi
8. Prosedur Audit Analitis
9. Penentuan Resiko
10. Evaluasi Pencapaian Tujuan dan Sasaran Operasi atau Program
11. Pernyataan Omnibus1992
12. Merencanakan Penugasan Audit
13. Menindaklanjuti Temuan-Temuan Audit yang Dilaporkan
14. Daftar Kata
15. Pengawasan
16. Ketaatan Audit terhadap Kebijakan, Rencana, Prosedur, Hukum, Regulasi,
dan Kontrak
17. Penilaian Kinerja Auditor Eksternal
18. Penggunaan Penyedia Jasa dari Luar
Program Sertifikasi

Begitu Common Body of Knowledge diterapkan, maka program sertifikasi


mulai bermunculan, dimana peserta yang mendapat gelar menunjukkan bahwa
mereka telah melakukan audit internal dalam kapasitas pengambilan keputusan
dan setuju untuk patuh pada Kode Etik IIA.

Ujian CIA menguji pengetahuan dan kemapuan peserta mengenai praktik


audit internal saat ini. Ujian tersebut menguji keahlian manajemen, prinsip-prinsip
control manajemen, manajemen risiko, control internal, teknologi informasi,
strategi untuk mengembangkan usaha dan tata kelolah, serta topic-topik lainnya
yang berkaitan.

Dalam perkembangan selanjutnya, direncanakan ujian CIA


terkomputerisasi. Ujian secara elektronik memudahkan penerjemahan dan
peningkatan yang berkelanjutan atas keabsahan statistik dari ujian.

Syarat-Syarat Memperoleh Gelar CIA :

Memiliki 2 tahun pengalaman kerja

Gelar Akdemis di atas Sarjana Muda dianggap sama dengan satu tahun
pengalaman kerja

Pengalaman kerja sebagai akuntan public dianggap setara dengan


pengalaman kerja di audit internal

Pengajar penuh waktu di universitas pada materi yang diujikan dianggap


sama dengan pengalaman kerja, yakni dua tahun pengalaman mengajar
sama dengan satu tahun pengalaman kerja di bidang audit internal.

Kompetensi yang diujikan

Bentuk pertanyaan

Tidak disebarkan
Internasionalisasi

Transisi bagi peserta dalam proses

Perubahan evolusioner

Format ujian

Materi Ujian dibagi dalam empat bagian umum:

Bagian I, Proses Audit Internal. Teori dan praktik audit internal. Topik-
topik utama mencakup audit, profesinalisme, dan kecurangan.

Bagian II, Keahlian di Bidang Audit Internal. Penyelesaian masalah


dan pengevaluasian bahan bukti audit, pengumpulan data, dokumentasi,
dan pelaporan; dan pengambilan sampel dan perhitungan matematika.

Bagian III, Kontrol Manajemen dan Teknologi Informasi. Dasar-dasar


ilmu bisnis yang diperlukan untuk audit internal. Pengujian mencakup
control manajemen; manajemen operasi; dan teknologi informasi.

Bagian IV, Lingkungan Audit. Akuntansi keuangan; keuangan;


akuntansi manajemen; dan lingkungan regulasi.

Sertifikasi Khusus

Sertifikasi dalam Penilaian Sendiri atas Kontrol (Certification in


Control Self-assessment-CCSA) akan menguji pengetahuan peserta
tentang dasar-dasar penilaian sendiri atas control, proses, dan integrasi,
serta pemahaman topic-topik penting yang berkaitan seperti risiko,
control, dan tujuan usaha.

Auditor Pemerintah Bersertifikat (Certified Government Auditing


Profesional-GGAP) dirancang untuk menguji pengetahuan dan
kompetensi auditor pemerintah.
Auditor Jasa Keuangan Bersertifikat (Certified Financial Services
Auditor-CFSA), sertifikasi khusus terbaru dari IIA yang diperuntukkan
bagi auditor yang memiliki kompetensi dalam praktik audit jasa keuangan
dan metodologinya.

Aktivitas Audit

Ada tiga kategori dasar bentuk praktik audit:

Keuangan. Analisis aktivitas ekonomi sebuah entitas yang diukur dan


dilaporkan menggunakan metode akuntansi.

Ketaatan. Penelaahan atas control keuangan dan operasi serta transaksi


untuk melihat kesesuaiannya dengan aturan, standar, regulasi, dan
prosedur yang berlaku.

Operasional. Telaah komprehensif atas fungsi yang bervariasi dalam


perusahaan untuk menilai efisiensi dan ekonomi operasi dan efektivitas
fungsi-fungsi tersebut dalam mencapai tujuannya.

Penekanan audit eksternal adalah pada kewajaran penyajian keuangan,


sedangkan penekanan audit internal adalah membantu manajer dan dewan
komisaris atau badan pengatur lainnya yang sejenis dalam mencapai pengelolaan
yang optimal dan dalam pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawab mereka.

Pendekatan-Pendekatan Yang Dilakukan

Untuk mencapai tujuannya masing-masing, auditor internal dapat


melakukan beberapa pendekatan:

Audit Komprehensif. Menggambarkan audit atas semua aktivitas yang


terdapat pada entitas pemerintah.

Audit Berorientasi Manajemen. Penelaahan atas semua aktivitas sesuai


dengan perspektif manajer atau konsultan manajemen. Audit berorientasi
manajemen memfokuskan diri pada membantu organisasi mencapai
tujuannya. Hasil yang signifikan adalah membantu manajer mengelolah
perusahaan dengan lebih baik dan membuat manajer, bukan auditor,
kelihatan baik.

Audit Partisipatif. Proses yang melibatkan bantuan klien dalam


mengumpulkan data, mengevaluasi operasi, dan mengoreksi masalah. Jadi
audit ini merupakan kemitraan untuk menyelesaikan masalah, sehingga
terkadang disebut audit kemitraan.

Audit Program. Penelaahan atas seluruh program, baik perusahaan public


maupun privat, untuk menentukan apakah manfaat yang diinginkan telah
tercapai

Audit Untuk Memberikan Keyakinan dan Konsultatif

Ada 2 pendekatan baru yang disarankan- pemberian keyakinan dan


konsultatif. Yang pertama berhubungan dengan jasa yang diberikan auditor
internal dengan memberikan informasi sehubungan dengan kondisi organisasi
klien menggunakan audit keuangan, ketaatan, operasional, perekonomian, dan
efisiensi serta jenis audit yang lebih baru, yaitu audit control dan audit
manajemen.

Audit konsultatif terdiri atas metodologi penyelesaian masalah untuk


meningkatkan secara langsung kondisi klien. Meskipun arah kedua pendekatan
secara mendasar berbeda, audit dapat terdiri atas keduanya, yaitu mendefinisikan
kondisi saat ini dan memberikan rekomendasi perubahan dan perbaikan.

Pemberian Jasa Audit Internal Dari Luar Perusahaan

Semua bentuk audit bisa saja dilakukan oleh penyedia jasa dari luar
perusahaan. Juga banyak organisasi luar yang menyediakan kemitraan sumber
daya, kemitraan sumber daya, kemitraan strategis, dan peminjaman staf. Pegawai
kontrak yang melakukan berbagai jenis audit tersebut tidaklah terbatas pada
auditor internal saja. Ruang lingkup dan sifat pekerjaan mereka umumnya
dijelaskan dalam kontrak kerja.

Akibat dari beberapa faktor, termasuk perampingan organisasi dan


pemasaran yang agresif oleh kantor akuntan publik, maka audit internal yang
dilakukan pihak di luar perusahaan menjadi semakin penting. Dalam beberapa hal
fungsi audit internal yang utama melengkapi jasanya dengan kehadiran auditor
kontrak yang memilii keahlian khusus yang penugasan jangka pendek.

Cara Auditor Internal Melayani Kebutuhan Manajemen

Auditor internal terlibat dalam memenuhi kebutuhan manajemen, dan staf


audit yang paling efektif meletakkan tujuan manajemen dan organisasi diatas
rencana dan aktivitas mereka. Kontribusi auditor internal menjadi semakin
penting seiring dengan makin berkembang dan makin kompleksnya sistem usaha
dan pemerintahan. Tidak mungkin bagi eksekutif mengawasi semua kegiatan yang
menjadi tanggung jawabnya. Tetap saja ada hal-hal yang luput dari perhatiannya.
Kegiatan yang tidak diawasi akan kehilangan efisiensi dan efektivitasnya.

Dalam banyak kasus mitra tersebut adalah auditor internal yang


berorientasi manajemen. Sayangnya beberapa manajer tidak menyadari manfaat
yang menanti mereka. Kadang kala auditor sendiri tidak memberi pengetahuan ke
manajemen tentang manfaat tersebut. Saat ini kebanyakan organisasi audit
internal dilengkapi keahlian untuk melaksanakan verifikasi melebihi verifikasi
keuangan.

Jadi lingkup keahlian mereka dapat mencakup masalah-masalah yang


dihadapi manajemen. Pada situasi seperti ini departemen audit internal mampu
membantu manajemen dalam:

Mengawasi kegiatan-kegiatan yang tidak dapat diawasi sendiri oleh


manajemen puncak
Setiap tahun kepala eksekutif audit menyiapkan rencana jadwal
audit khusus untuk aktivitas yang diawasi. Kepala eksekutif audit juga
memastikan bahwa waktu dan sumber daya tersedia untuk audit yang
sewaktu-waktu diperlukan dan tidak bisa diperkirakan pada saat rencana
awal dibuat. Pada lingkungan bisnis yang tidak stabil, audit semacam ini
sudah menjadi hal biasa sebagai tanggapan auditor internal terhadap
kebutuhan manajemen yang muncul ke permukaan dengan cepat.
Mengidentifikasi dan meminimalkan risiko
Dunia usaha pernah mengandalkan asuransi untuk mengatasi risiko
yang dihadapi, tertapi banyak organisasi terbesar di sunia saat ini
membentuk fungsi manajemen risiko yang proaktif. Auditor internal
memperluas persepsi mereka tentang manajemen risiko dan meningkatkan
upaya mereka untuk meyakinkan manajemen bahwa semua jenis risiko
organisasi telah dievaluasi dan diperhatikan dengan layak.
Memvalidasi laporan ke manajemen senior
Manajer senior biasanya membuat keputusan berdasarkan laporan
yang mereka terima, bukan berdasarkan pengetahuan mereka sendiri.
Ketika audit dilakukan, auditor menelaah laporan tersebut untuk menilai
akurasi, ketepatan waktu, dan maknanya. Kebijakan manajemen yang
diputuskan kemudian bisa menjadi lebih valid.
Membantu manajemen pada bidang-bidang teknis
Auditor internal modern harus mengetahui bagaimana data
berawal, bagaimana proses pengolahannya, dan dimana letak risiko
keamanannya. Dengan semakin banyaknya prosedur audit tradisional yang
diganti dengan pemrosesan data elektronik, semua auditor internal
membutuhkan paling tidak beberapa tingkat keahlian. Pengamanan data
telah menjadi risiko terbesar yang dihadapi oleh organisasi modern.
Semakin kompleks masalah usaha dan pemerintahan menyebabkan
bnayknya masalah di luar batas kemampuan manajer yang harus membuat
keputusan.
Membantu proses pengambilan keputusan
Manajerlah, bukan auditor internal, yang membuat keputusan
operasional. Namun, auditor internal dapat menyediakan atau memvalidasi
data sebagai dasar pengambilan keputusan. Juga, mereka dapat
mengevaluasi dampak dari keputusan yang diambil dan risiko yang tidak
diantisipasi.
Menganalisis masa depan-bukan hanya untuk masa lalu
General Accounting Office (GAO) Amerika Serikat merupakan
pionir untuk program audit semacam ini. Dengan menggunakan
pendekatan ini mereka telah menilai kebijakan atau program yang masih
dalam tahap perancangan, implementasi kebijakan atau program, dan hasil
aktual yang diperoleh kebijakan atau program. Juga, auditor internal saat
ini menilai kontrol atas sistem informasi yang diusulkan sebelum
implementasinya, sehingga membantu menghindari terjadinya biaya untuk
memperbaiki kerusakan.
Membantu manajer untuk mengelola perusahaan
Manajer menghadapi masalah pada aktivitas yang tidak bisa
dikendalikannya. Auditor internal umumnya menemukan masalah tersebut
dan menyarankan perbaikan. Namun, perbaikan-perbaikan tersebut bisa
mrupakan perbaikan jangka pendek atau bisa merupakan perbaikan ke akar
masalah sehingga meningkatkan kinerja manajemen.

DILEMA YANG DIHADAPI AUDITOR INTERNAL

Profesionalisme membawa konsekuensi tanggung jawab. Dalam beberapa


hal, pilihan antara benar dan salah bisa jadi sangat sulit bagi auditor internal
dibandingkan profesi-profesi lainnya. Akuntan publik yang bersikap etis bisa
menolak memberikan opini atas laporan keuangan yang mengandung salah saji,
dan meminta klien mencari akuntan lain. Inilah yang disebut profesionalisme;
tetapi ini tidak menyebabkan mereka kehilangan pekerjaan atau kehilangan
keanggotaan dari organisasinya.

Lain halnya yang dihadapi auditor internal yang profesional. Klien mereka
adalah manajemen senior, dewan komisaris, atau badan-badan sejenis. Jika
auditor internal diminta untuk melanggar kode etik mereka atau standar praktik
profesional, pilihan yang tersedia bisa tidak menyenangkan. Menolak permintaan
klien bisa menyebabkan auditor internal kehilangan pekerjaan mereka, apalagi
bila mereka tidak memiliki independensi.

Auditor internal yang profesional harus memiliki independensi untuk


memenuhi kewajiban profesionalnya; memberikan opini yang objektif , tidak bias,
dan tidak dibatasi; dan melaporkan masalah apa adanya, bukan melaporkan sesuai
keinginan eksekuitf atau lembaga. Auditor internal harus bebas dari hambatan
dalam melaksanakan auditnya.

Mautz dan Sharaf, dalam karya terkenal mereka, The Philosophy of


Auditing (Filosofi Audit), memberikan beberapa indikator independensi
profesional. Indikator-indikatornya adalah:

Independensi dalam Program Audit


1. Bebas dari intervensi manajerial atas program audit.
2. Bebas dari segala intervensi atas prosedur audit.
3. Bebas dari segala persyaratan untuk penugasan audit selain yang
memang disyaratkan untuk sebuah proses audit.
Independensi dalam Verifikasi
1. Bebas dalam mengakses semua catatn, memeriksa aktiva, dan
karyawan yang relevan dengan audit yang dilakukan.
2. Mengdapatkan kerja sama yang aktif dair karyawan manajemen
selama verifikasi audit.
3. Bebas dari segala usaha manajerial yang berusaha membatasi
aktivitas yang diperiksa atau membatasi pemerolehan bahan bukti.
4. Bebas dari kepentingan pribadi yang menghambat verifikasi audit.
Independensi dalam Pelaporan
1. Bebas dari perasaan wajib memodifikasi dampak atau signifikansi
dari fakta-fakta-fakta yang dilaporkan.
2. Bebas dari tekanan untuk tidak melaporkan hal-hal yang signifikan
dalam laporan audit.
3. Menghindari penggunaan kata-kata yang menyesatkan baik secara
sengaja maupun tidak sengaja dalam melaporkan fakta,opini dan
rekomendasi dalam interpretasi auditor.
4. Bebas dari segala usaha untuk meniadakan pertimbangan auditor
mengenai fakta atau opini dalam laporan audit internal.

Auditor Internal Sebagai Seorang Konsultan

Ketika Guidance Task Force (GTF) dan kelompok perencana sebelumnya


bertemu pada tahun 1997 dan tahun-tahun berikutnya sedang merumuskan definisi
dan standar berkaitan yang akan dikeluarkan Institute of Internal Auditors, konsep
konsultasi semakin diperhatikan dan dirasa perlu untuk menjelaskan secara
khusus. Meskipun ada keyakinan bahwa jasa konsultasi akan mengurangi
independensi, disebutkan bahwa memberikan konsultasi bukan berarti
mengarahkan, dan diterimanya saran konsultasi merupakan keputusan
manajemen.

Meskipun Institute of Internal Auditors merencanakan untuk memasukkan


standar konsultasi sebagai jasa lain selain jasa pemberian keyakinan, namun jasa
pemberian keyakinan lebih dulu di masukkan karena lebih dulu tercakup dalam
standar sebelumnya. Standar konsultasi tersebut berisi:

Standar Atribut
Baca halaman 38-39
Standar Kerja
Baca halaman 39

Prinsip-Prinsip Pedoman Konsultasi

Prinsip-prinsip yang menjadi pedoman pelakasanaan jasa konsultasi oleh


auditor internal, sedikit berbeda dari kebanyakan saran lainnya karena lebih
bersifat definitif, bukan mengarahkan. Saran tersebut menjelaskan aktivitas yang
diberikan selain jasa pemberian keyakinan dan audit konsultasi seperti investigasi
dan penelaahan terkait dengan merger dan akuisisi.
Juga disebutkan bahwa organisasi secara keseluruhan harus memerhatikan
sumbangan yang dapat diberikan oleh staf audit internal dan hasilnya harus
memperoleh perhatian manajemen sehingga jasa audit dapat dipandang perlu oleh
semua tingkatan manajemen. Jadi, bila auditor internal terlibat dalam penugasan
konsultasi formal, hasil penugasan tersebut harus dipertimbangkan manajemen
pada semua tingkatan, begitu pula dengan saran dan temuan yang dihasilkan.

Kepala eksekutif audit harus memiliki pengalaman dan keahlian


manajerial untuk merangcang dan mengarahkan jasa konsultasi dan untuk
mengevaluasi hasil dan saran-sarannya. Juga, ia harus mampu berkomunikasi dan
membahas hasil konsultasi dengan tingkatan manajemen yang sesuai.

Jasa konsultasi, baik yang dilaksanakan secara terpisah ataupun sebagai


bagian dari pemberian keyakinan, harus menghasilkan nilai tambah bagi
manajemen dan organisasi. Auditor internal, karena pendekatan, pengalaman,
keahlian investigasi, dan kemampuan analitisnya merupakan pihak yang pantas
untuk melaksanakan jasa ini dan memberikan kontribusi bagi tujuan dan
kemakmuran organisasi.

Pertimbangan-Pertimbangan Tambahan

Pertimbangan-pertimbangan tambahan untuk penugasan konsultasi formal,


merupakn ringkasan praktis dari aspek operasional fungsi konsultasi. Pelaksanaan
tugas dengan berhati-hati ditekankan dengan memastikan bahwa auditor internal
mematuhi persyaratan dan pemahaman akan hal ini juga ditekankan pada auditor
yang melaksanakan audit untuk memberi keyakinan.

Harus ada perjanjian mengenai tujuan dan lingkup jasa konsultasi. Ruang
lingkup memastikan bahwa profesionalisme, integritas, kredibilitas, dan reputasi
jasa audit internal akan tetap dijaga. Rencana penugasan konsultasi haruslah
memenuhi kebutuhan manajemen yang menerima jasa.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Audit internal merupakan profesi yang sangat dibutuhkan diperusahaan.


Profesi audit internal setidaknya telah ada sejak 3.500 tahun sebelum masehi dan
terus mengalami perkembangan. Seiring dengan berjalannya waktu auditor terus
memberikan pengaruh terhadap perkembangan audit internal sehingga profesi
auditor internal menjadi setara dengan auditor eksternal
. Untuk menjadi menjadi seorang auditor internal maka harus melalui
beberapa tahapan dan semua tindakan yang dilakukan seorang audit internal
dibatasi oelah kode etik yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA
Sawyer, Lawrence B. A. Dittenhofer, Mortimer.H. Scheiner, James. 2005. Audit
Internal Sawyer. Jakarta: Salemba Empat