Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH AUDIT FORENSIK

MENDETEKSI FRAUD DAN PROFILING

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK V

RAHMI (A311157..)

PRAYOGA WIBOWO (A31115749)

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Mendeteksi
Fraud dan Profiling dengan baik untuk memenuhi tugas mata kuliah Audit Forensik, meskipun
banyak kekurangan didalamnya.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai etika profesional dan regulasi sendiri. Penulis juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah
penulis buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah
yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis maupun orang yang membacanya. Sebelumnya
penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya
memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Makassar, 25 September 2016

Penulis
[Date]

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
BAB II TEORI ETIKA 2
A. Pengertian Etika 2
B. Mengapa Mempelajari Etika 2
C. Pertanyaan Untuk Menilai Suatu Tindakan: Dasar Teori Etika 3
D. Teori Etika Kontemporer 5
BAB III ETIKA PROFESIONAL 10
A. Pekerjaan dan Profesi 10
B. Ciri yang Melekat Pada Profesi 10
C. Kode Etik Profesi 11
D. Profesi Akuntan Publik 12
E. Etika Profesi Akuntansi 13
BAB IV PENUTUP 17
Daftar Pustaka 18

[Date]

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Mencegah fraud adalah bagian dari fraud audit yang bersifat proaktif, sedangkan
mendeteksi fraud adalah bagian dari fraud audit yang bersifat investigatif. Orang awam
mengharapkan suatu audit umum yang dapat mendeteksi segala macam fraud. Di sisi lain,
akuntan publik berupaya memasang pagar-pagar yang membatasi tanggung jawabnya,
khususnya mengenai penemuan atau pengungkapan fraud.
Dalam upaya menemukan dan memberantas kecurangan, kita perlu mengetahui profil
pelaku. Profil berbeda dengan foto yang menggambarkan fisik seseorang. Profil memberi
gambaran mengenai berbagai ciri (traits) dari suatu kelompok orang.
Melihat pentingnya kedua pokok bahasan tersebut maka kami disini menyusun
makalah dengan harapan lebih memahami bagaimana cara pendeteksian fraud dan profil-
profil para pelaku fraud, korban fraud bahkan fraud itu sendiri.

[Date]

4
BAB II
MATERI PEMBELAJARAN I

Pada bagian ini akan membahas secara umum bagaimana pendeteksian terhadap kejadian
fraud.
A. PENGANTAR
Tindakan yang dilakukan untuk mengetahui bahwa suatu kasus kecurangan memang benar
terjadi, siapa pelakunya, siapa korbannya, serta apa yang menyebabkan kecurangan itu terjadi.
Karena ketika seorang pelaku melakukan tindakan kecurangan pastilah ada alasan atau
pendorong yang mengakibatkannya melakukan tindak kecurangan. Kunci utama pada
pendeteksian fraud adalah untuk dapat melihat adanya kesalahan dan ketidakberesan.
Fraud (kecurangan) pada hakekatnya tersembunyi dan pelakunya pada umumnya juga akan
menyembunyikan jejaknya. Oleh karena itu, pendeteksian fraud juga tidak dapat dilakukan
langsung dengan melihat jejak yang ditinggalkannya. Pendeteksian fraud dilakukan dengan
mengidentifikasi tanda- tanda atau gejala terjadinya, kemudian dianalisis apakah tanda-tanda itu
dapat menunjukkan identifikasi awal terjadinya fraud.
Menurut Karyono dalam bukunya berjudul Fornsic Fraud (2013 : 92-94) terdapat beberapa
langkah dalam mendeteksi fraud. Langkah awal dari pendeteksian fraud ialah memahami
aktivitas organisasi dan mengenal serta memahami seluruh sektor usaha. Pada pemahaman itu
diidentifikasi apakah organisasi telah menerapkan pengendalian intern yang andal baik dalam
rancangan struktur pengendalian maupun dalam pelaksanaan. Langkah selanjutnya adalah
dengan memahami tanda-tanda penyebab terjadinya fraud. Tanda-tanda penyebab terjadinya
fraud berupa berbagai keanehan, keganjilan, dan penyimpangan dari keadaan yang seharusnya
serta kelemahan dalam pengendalian intern.
Pendeteksian fraud terhadap gejala dan tanda-tanda fraud dapat pula dilakukan terhadap
kondisi atau situasi tertentu yang disebut bendera merah (red flags) yaitu suatu kondisi yang
memberi isyarat dini terjadinya fraud (fraud warning signs).
Dalam pendeteksian fraud, auditor independen mempunyai tanggung jawab untuk
melakukan deteksi atas kecurangan yang terjadi. Tidak hanya auditor independen, akan tetapi
auditor intern maupun auditor pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk mendeteksi
[Date]

fraud. Tanggung jawab auditor independen untuk mendeteksi fraud diatur di dalam standar

5
profesinya. Dalam standar Profesional Akuntan Publik diatur tentang tanggung jawab auditor
independen untuk mendeteksi kekeliruan, ketidakberesan, dan pelanggaran hukum.
Pada standar tersebut, tidak ada jaminan penuh bahwa hasil auditor independen akan dapat
mendeteksi kekeliruan, ketidakberesan, dan pelanggaran hukum. Akan tetapi, diatur keharusan
bagi para auditor untuk dapat menemukan risiko bahwa suatu kekeliruan, ketidakberesan, dan
pelanggaran hukum yang mungkin menyebabkan laporan keuangan berisi salah satu material.
Tanggung jawab yang dimiliki auditor untuk mendeteksi kekeliruan dan ketidakberesan
mengharuskan auditor untuk memahami karakteristik dan kerumitan yang terkait dengan
berbagai karakteristik tersebut, kemudian dirancang prosedur audit yang cocok dan hasilnya
dievaluasi.
B. KESENJANGAN ANTARA KENYATAN DAN HARAPAN
Sejak permulaan, profesi audit yang dijalankan oleh akuntan publik menolak mengambil
tanggungjawab dalam menemukan fraud. Dalam bulan November 1974, AICPA menunjuk suatu
komisi independen yang dikenal dengan nama the Cohen Commission yang diberi nama
berdasarkan ketua komisinya. Komisi Cohen pada awal tahun 1978 melaporkan bahwa terdapat
kesenjangan antara harapan atau kebutuhan masyarakat dengan apa yang seharusnya dapat
diharapkan dari auditor untuk memenuhinya.
Gagasan bahwa audit umum tidak dirancang untuk mengungkapkan kecuraan sampai pasca
Sarbanes Oxley tercermin dari praktik audit yang peduli dengan kecurangan yang menyebabkan
laporan keuangan tidak disajikan dengan wajar. Para auditor ini sangat kwatir dengan penyajian
kembali laporan keuangan, terutama apabila dilakukan oleh KAP saingannya di tahun
berikutnya.
Yang kurang diperhatikan oleh auditor independen adalah kategori fraud berupa pencurian
atau kehilangan aset, contohnya adalah apabila persediaan menggunakan metode fisik bukan
perpetual, selama persediaan awal dan akhir sudah benar maka angka persediaan dan harga
pokok penjualan dapat dianggap wajar meskipun mungkin sebenarnya ada yang dicuri.
Akhir-akhir ini the Treadway Commission dan SOX berfokus pada fraudulent financial
reporting (kesengajaan atau keceobohan dalam menyusun laporan keuangan yang menyebabkan
informasi didalamnya menjadi menyesatkan secara material). Penyebab dari fraudulent financial
reporting ini adalah:
[Date]

6
1. Keserakahan
2. Adanya tekanan yang dirasakan oleh manajemen untuk menunjukkan prestasi.
Dalam banyak konstruksi kejahatan korporasi dimana bentuk perseroan terbatas yang
dipilih, direksinya malah menjadi boneka. Tidak jarang direksi terdiri dari mantan pejabat militer
dan sipil yang KTP-nya dipinjam untuk membuat akte, padahal mereka tidak mengerti bisnis
sama sekali. Fraudulent financial reporting ini dimanfaatkan untuk mengelola pinjaman bank.
Contoh dari fraudulent financial report tersaji di tabel dibawah ini:

[Date]

7
No Perusahaan Tanggal Sangkaan Fraud
Terungkap
1 Xerox Juni 2000 Pemalsuan data keuangan
2 Enron Oktober 2001 Mendongkrak laba dan menyembunyikan utang
3 Kmart Januari 2002 Akuntansi Kmart memberikan gambaran
menyesatkan tentang kesehatan keuangan
4 Qwest Comm. Februari 2002 Mendongkrak omzet dan akuntansi tidak wajar
Int. untuk kontrak jangka panjang
5 Worldcom Maret 2002 Arus kas didongkrak dengan mencatat oprating
expenses menjadi capital expenses
6 Adelphia April 2002 Adanya pinjaman pribadi yang dicatat atas nama
Comm. perusahaan, laba didongkrak dengan menaikan
capital expenditures dan menyembunyikan hutang
7 Tyco Mei 2002 Penggelapan pajak dan penggunaan akuntansi
tidak wajar dalam merger
8 Duke Energy Juli 2002 Terdapat 23 perdagangan berulang-ulang untuk
transaksi yang sama untuk meningkatkan volume
perdagangan dan omzet

C. MENGENALKAN STANDAR AUDIT UNTUK MENEMUKAN FRAUD


Kalau auditor independen bekerja tanpa standar audit, ia menempatkan dirinya dalam
posisi yang sangat lemah. Terutama ketika ia memberikan audit yang diharapkan menemukan
fraud. Maka diperlukan fraud-specific examination.
Para praktisi harus tahu apa yang mereka harapkan dari standar untuk pemeriksaan yang
secara spesifik ditujukan untuk menemukan fraud. Sekurang kurangnya para praktisi harus
menyadari hal hal berikut:
1. Mereka tidak bisa memberikan jaminan bahwa mereka bisa menemukan fraud. Klien
dapat membatasi upaya menemukan fraud di atas jumlah tertentu dengan pengertian
bahwa potensi menemukan fraud ini tergantung kepada waktu dan keahlian yang
digunakan.
2. Seluruh pekerjaan didasarkan atas standar audit
3. Jumlah fee bergantung pada luasnya upaya pemeriksaan yang ditetapkan klien
4. Praktisi bersedia untuk memperluas jasanya dari tahap proactive review ke tahap
pendalaman apabila ada indikasi terjadinya fraud. Tentunya dengan tambahan fee
[Date]

8
D. AUDIT UMUM DAN PEMERIKSAAN FRAUD
Masih banyak orang beranggapan bahwa suatu perusahaan atau instansi pemerintah yang
telah diaudit/diperiksa laporan keuangannya maka otomatis akan terbebas dari fraud. Padahal
terdapat perbedaan antara audit secara umum dengan pemeriksaan fraud yang tergambar pada
tabel berikut ini:
Permasalahan Auditing Fraud Examination
Timing Recurring Non-recurring
(Audit dilakukan secara (Pemeriksaan fraud hanya
teratur, berkala dan dilakukan ketika timbul indikasi)
berulang)
Scope General Spesific
(Lingkupnya adalah (Pemeriksaan fraud difokuskan
pemeriksaan umum atas pada dugaan, tuduhan dan
data keuangan) sangkaan yang spesifik)
Objective Opinion Affix blame
(Tujuannya memberikan (Tujuannya untuk memastikan
opini atas kewajaran apakah fraud benar-benar terjadi
laporan keuangan) dan siapa yang bertanggungjawab)
Relationship Non-adversarial Adversarial
(Sifatnya tidak bermusuhan) (Karena harus menentukan siapa
yang bersalah maka sifatnya
bermusuhan)
Methodology Audit techniques Fraud examination techniques
(Dilakukan terutama yang (Dilakukan dengan memeriksan
menyangkut masalah data dokumen, telaah data eksternal
keuangan) dan wawancara)
Presumption Professional skepticism Proof
(Auditor melaksanakan (Pemeriksa fraud berupaya
tugasnya dengan mengumpulkan bukti untuk
berdasarkan skeptis secara mendukung atau membantah
[Date]

profesional) dugaan, tuduhan atau sangkaan)

9
E. TANDA-TANDA TERJADINYA FRAUD
Fraud dapat sedini mungkin terdeteksi jika manajemen atau internal auditor jeli melihat
tanda-tanda fraud tersebut. Tanda-tanda fraud tersebut beberapa diantaranya yaitu :
1. Terdapat perbedaan angka laporan keuangan yang mencolok dengan tahun tahun
sebelumnya.
2. Tidak ada pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.
3. Seseorang menangani hampir semua transaksi yang penting.
4. Transaksi yang tidak didukung oleh bukti yang memadai.
5. Perkembangan perusahaan yang sulit.
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui dengan jelas tanda-tanda fraud dapat dilihat dari
perbedaan angka laporan keuangan yang mencolok dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini
disebabkan karena adanya manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh pelaku untuk
menutupi fraud sehingga timbul perbedaan angka-angka. Pembagian tugas dan tanggung jawab
yang tidak jelas juga dapat memicu seseorang melakukan fraud karena karyawan dapat bertindak
semena-mena.
Sebagian besar bukti-bukti kecurangan merupakan bukti-bukti tidak sifatnya langsung.
Petunjuk adanya kecurangan biasanya ditunjukkan oleh munculnya gejala-gejala (symptoms)
seperti adanya perubahan gaya hidup atau perilaku seseorang, dokumentasi yang mencurigakan,
keluhan dari pelanggan ataupun kecurigaan dari rekan sekerja. Pada awalnya, kecurangan ini
akan tercermin melalui timbulnya karakteristik tertentu, baik yang merupakan kondisi / keadaan
lingkungan, maupun perilaku seseorang. Karakterikstik yang bersifat kondisi / situasi tertentu,
perilaku / kondisi seseorang personal tersebut dinamakan Red flag (Fraud indicators).
Meskipun timbulnya red flag tersebut tidak selalu merupakan indikasi adanya kecurangan,
namun red flag ini biasanya selalu muncul di setiap kasus kecurangan yang terjadi.
Pemahaman dan analisis lebih lanjut terhadap Red flag tersebut dapat membantu langkah
selanjutnya untuk memperoleh bukti awal atau mendeteksi adanya kecurangan.
F. PELAJARAN DARI REPORT TO THE NATIONS
Pada bab 6 telah disajikan ringkasan dari laporan ACFE yang secara singkat dokenal
sebagai Report to the Nation. Laporan ini memberikan banyak petunjuk untuk menegah maupun
mendeteksi fraud. Beberapa pelajaran dari laporan tersebut mengenai deteksi fraud adalah:
[Date]

10
1. Rata rata (median) berlangsungnya fraud sebelum dideteksi adalah lebih dari satu
tahun, yakni antara 17 sampai 30 bulan
2. Hampir separuh fraud (46,2% tahun 2008) diketahui karena ada yang membocorkan.
20% di 2008 terungkap secara kebetulan.
3. 51,7% fraud yang dilakukan oleh pemilik, terungkap karena bocoran. 57,7% bocoran
datang dari karyawan.
Data diatas adalah untuk Amerika Serikat, untuk Indonesia sendiri belum terdapat
penelitian berskala nasional mengenai pengungkapan fraud akan tetapi kalau temuan di Report to
the Nation adalah petunjuk maka dapat disimpulkan terdapat kabar baik dan buruk.
Kabar baiknya ialah bahwa dengan desain sistem yang tepat maka sistem whistleblower
akan berjalan secara efektif untuk memberitahukan mengenai fraud yang akan, sedang atau telah
terjadi.
Berita buruknya adalah dinegara maju seperti Amerika Serikat saja butuh waktu lebih dari
satu tahun sampai tiga tahun dalam mendeteksi fraud dan beberapa terdeteksi secara kebetulan.
Mengapa internal auditor atau eksternal auditor tidak merupakan penemu utama dalam
mendeteksi fraud? Hallinan mengatakan bahwa if you dont find often, you often dont find it.
Hallinan memberi contoh bahwa kajian mengenai dokter di rumah sakit terkemuka di Amerika
Serikat, dokter-dokter memeriksa kembali hasil rontgen para penderita yang menderita kanker
paru-paru. Dalam rontgen berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelumnya, dalam 90% kasus,
kanker tersebut sudah nyata jelas namun lolos dari hasil pengamatan radiologist.
Contoh lain diberikan oleh Hallinan yaitu mengenai gagalnya para pemeriksa di bandara.
Dalam tahun 2002 sebuah tes menunjukkan bahwa mereka tidak menemukan satu diantara empat
senjata yang ditaruh didalam koper atau tas. Tes serupa dua tahun kemudian dibandara Newark
menunjukkan hasil yang sama dimana 25% senjata tidak terdeteksi. Ditahun 2006, 60% bahan
peledak yang disembunyikan oleh agen yang sedang menyamar tidak terdeteksi di bandara
OHare di Chicago dan di bandara Los Angles mencapai 75% tidak terdeteksi.
G. TEKNIK PEMERIKSAAN FRAUD
Ada bermacam-macam teknik audit investigasi dalam mengungkapkan fraud, teknik
tersebut antara lain adalah:
1. Penggunaan teknik-teknik audit yang lebih mendalam dan luas
[Date]

11
2. Pemanfaatan teknik audit infestigatif dalam kejahatan terorganisir dan penyelundupan
pajak penghasilan
3. Penelusuran jejak-jejak arus uang
4. Penerapan teknik analisis dalam bidang hukum
5. Penggunaan teknik audit investigatif untuk mengungkap fraud di PBJ
6. Penggunaan computer forensic
7. Penggunaan teknik interograsi
8. Penggunaan operasi penyamaran
9. Pemanfaatan Whistleblower
H. MENDETEKSI FRAUD BERDASAR PADA FRAUD TREE
1. Financial Statement Fraud
Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi
melalui analisis laporan keuangan sebagai berikut:
a. Analisis vertikal, sebuah teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan
antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau laporan arus kas dengan
menggambarkannya dalam persentase.
Sebagai contoh, adanya kenaikan persentase piutang dagang dengan total piutang
dari rata-rata 28% menjadi 52% dilain pihak adanya penurunan persentase
penjualan kredit dengan total penjualan dari 20% menjadi 17% dapat menjadi
indikasi awal adanya fraud.
b. Analisis horizontal, yaitu teknik untuk menganalisis persentase- persentase
perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan. Sebagai
contoh adanya kenaikan penjualan sebesar 80% dibanding tahun sebelumnya
sedangkan harga pokok mengalami kenaikan 140%. Dengan asumsi tidak ada
perubahan lainnya dalam unsur-unsur penjualan dan pembelian, maka dapat
menjadi indikator awal terjadinya fraud.
c. Analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item dalam
laporan keuangan. Sebagai contoh adalah current ratio, bila nilainya turun tanpa
sebab yang diketahui dapat menjadi indikasi awal adanya fraud.
[Date]

12
2. Asset Missappropriation
Teknik untuk mendeteksi terjadinya fraud dalam pencurian aset sangatlah
banyak tekniknya. Dengan memahami pengendalian internal maka seorang pemeriksa
fraud akan lebih mudah menemukan titik-titik lemah yang memungkinkan terjadinya
fraud. Beberapa teknik yang dapat digunakan adalah:
a. Analytical review
Suatu review atas berbagai akun yang mungkin menunjukkan ketidak biasaan atau
kegiatan-kegiatan yang tidak diharapkan. Sebagai contoh adalah perbandingan
antara pembelian barang persediaan dengan penjualan bersihnya yang dapat
mengindikasikan adanya pembelian yang terlalu tinggi atau terlalu rendah biala
dibandingkan dengan tingkat penjualannya. Metode analitis lainnya adalah
perbandingan pembelian persediaan bahan baku dengan tahun sekarang yang
mungkin mengindikasikan adanya kecurangan overbilling scheme atau
kecurangan pembelian ganda.
b. Statistical sampling
Sebagaimana persediaan, dokumen dasar pembelian dapat diuji secara sampling
untuk menentukan ketidakbiasaan (irregularities), metode deteksi ini akan efektif
jika ada kecurigaan terhadap satu attributnya, misalnya pemasok fiktif. Suatu
daftar alamat PO BOX akan mengungkapkan adanya pemasok fiktif
c. Vendor or outsider complaints
Komplain / keluhan dari konsumen, pemasok, atau pihak lain merupakan alat
deteksi yang baik yang dapat mengarahkan auditor untuk melakukan pemeriksaan
lebih lanjut.
d. Site visit observation
Observasi ke lokasi biasanya dapat mengungkapkan ada tidaknya pengendalian
intern di lokasi-lokasi tersebut. Observasi terhadap bagaimana transaksi akuntansi
dilaksanakan kadangkala akan memberi peringatan pada CFE akan adanya
daerah-daerah yang mempunyai potensi bermasalah
Dalam banyak kasus kecurangan, khususnya kasus pencurian dan penggelapan
aset, biasanya terdapat tiga faktor, yaitu:
[Date]

a. ada satu tekanan pada seseorang, seperti kebutuhan keuangan.

13
b. adanya kesempatan untuk melakukan kecurangan dan menyembunyikan
kecurangan yang dilakukan.
c. adanya cara pembenaran perilaku tersebut yang sesuai dengan tingkatan integritas
pelakunya.
Metode-metode tersebut akan sangat efektif bila digunakan secara kombinasi.
Dengan melakukan gabungan teknis, setiap metode deteksi akan menunjukkan
anomalies/gejala penyimpangan yang dapat diinvestigasi lebih lanjut untuk menentukan
ada tidaknya kecurangan. Selain itu, metode-metode tersebut akan menunjukkan
kelemahan-kelemahan dalam pengendalian intern dan mengingatkan/memberi
peringatan pada auditor akan adanya potensi terjadinya kecurangan di masa mendatang.
3. Korupsi
Sebagian besar kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan kerja
yang jujur, laporan dari rekan, atau pemasok yang tidak puas dan menyampaikan
komplain ke perusahaan. Atas sangkaan terjadinya kecurangan ini kemudian dilakukan
analisis terhadap tersangka atau transaksinya.
Pendeteksian atas kecurangan ini dapat dilihat dari karakteristik (Red flag) si
penerima maupun si pemberi. Orang-orang yang menerima dana korupsi ataupun
penggelapan dana pada umumnya mempunyai karakteristik (red flag) sebagai
berikut:
a. The Big Spender
b. The Gift taker
c. The Odd couple
d. The Rule breaker
e. The Complainer
f. The Genuine need
Sedangkan orang yang melakukan pembayaran mempunyai karakteristik (red flag)
sebagai berikut:
a. The Sleaze factor
b. The too Succesful bidder
c. Poor quality, higher prices
[Date]

d. The one-person operation

14
BAB III
MATERI PEMBELAJARAN II

Pada bagian ini akan membahas secara umum tiga profil, yakni profil pelaku fraud, profil
korban fraud, dan profil dari fraud itu sendiri.
A. DEFINISI PROFILING
Dalam upaya menemukan dan memberantas kecurangan, kita perlu mengetahui profil
pelaku. Profil berbeda dengan foto yang menggambarkan fisik seseorang. Profil memberi
gambaran mengenai berbagai ciri (traits) dari suatu kelompok orang, seperti: rentan umur,
jenjang pendidikan, kelompok sosial (kelas atas, menengah, bawah), bahkan kelompok etnis,
dan seterusnya.
Menurut Mulyani (1983) profil adalah pandangan sisi, garis besar, atau biografi dari
diri seseorang atau kelompok yang memiliki usia yang sama. Sedangkan menurut Alwi
(2005) profil adalah pandangan mengenai seseorang.
Upaya untuk mengertahui profil disebut profiling, dimulai dengan mengidentifikasi
factor keturunan, segi bentuk fisik tubuh sampai dengan ciri psikologi dan psikiatris.
Pengertian profiling dalam praktek hukum dikarakteristikkan seberapa jauh tindak kriminal
berlangsung sehigga penegak hukum dapat dengan mudah menangkap para pelaku kriminal.
Profiling pelaku fraud bertujuan untuk memudahkan penangkapan pelaku.
B. PROFIL PELAKU FRAUD
Profiling adalah upaya untuk mengidentifikasi profil. Profiling dalam memberantas
kejahatan bukanlah upaya baru. Menurut FBI yang dimaksud dengan profiling adalah
menggambaran seorang tersangka yang dicari berdasarkan jenis jenis kejahatan yang biasa
dilakukan oleh segolongan orang dari kultur atau ras tertentu. Misalnya untuk kasus
pembunuhan FBI mengidentifikasi pelaku berdasarkan statistik di semua negara bagian
bahwa:
a. orang kulit hitam biasanya membunuh orang dengan berkelompok (keroyokan) dibanding
orang kulit putih yang perorangan,
b. orang kulit putih lebih banyak membunuh didalam rumah dibanding orang kulit hitam
diluar rumah atau orang kulit putih lebih banyak membunuh menggunakan pisau
[Date]

dibanding kulit hitam.

15
c. Jika digolongkan berdasarkan ras/kultur misalnya orang kulit putih dari ras hispanik,
italia, irlandia sedangkan orang kulit hitam dibedakan dengan jamaican, cuban atau
native African.
Jika Casere Lambroso,mengamati para penjahat dari faktor keturunan sebagai
penentu tingkah laku kriminal, maka ACFE atau Association of Certified Fraud Examiners di
Amerika Serikat melakukan profiling penjahat kerah putih di Amerika Serikat sebagi berikut:
Profil Penjahat Kerah Putih di Amerika Serikat

1. Laki-laki, kulit putih, berpendidikan S1


2. Suka mengambil risiko
3. Egois
4. Rasa ingin tau yang tinggi
5. Keinginan untuk melanggar ketentuan dan sedapat mungkin mencari jalan pintas
6. Bekerja sepanjang hari untuk memberika kesan bahwa ia pekerja keras.
7. Di bawah tekanan dan penyendiri, meskipun pada saat yang sama ia mempunyai
hubungan kerja yang erat dengan pemasok tertentu.
8. Termotivasi oleh ketamakan dan hadiah-hadiah yang bersifat materi,menghamburkan
uang secara teratur.
9. Berada dalam kesulitan keuangan seperti memiliki utang yang banyak
10. Tidak bahagia di tempat kerjanya dan mengeluh karena diperlakukan tidak adil atau
atasannya korup.
11. Menganggap auditor, inspektur atau atasannya sebagai musuh.
Gambaran diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Dalam profilong tersebut secara spesifik disebutkan bahwa profil pelaku kejahatan kerah
putih adalah orang berkulit putih. Untuk dapat melakukan kejahatan kerah putih,
seseorang mesti menduduki jabatan kerah putih. Dan melalui berbagai program
pemerintah disana, kelompok minoritas seperti etnis Afro American dan Latino, mulai
memperoleh peluang menduduki jabatan kerah putih. Sebaliknya, profil pelaku kejahatan
perampokan, pembunuhan dan kejahatan lain dengan kekerasan menunjuk kepada
kelompok etnis minoritas yang tidak berpendidikan dan tidak mempunyai lapangan
[Date]

kerja..

16
b. Pelaku kejahatan kerah putih di Amerika Serikat berasal dari kelompok berpenghasilan
menengah ke atas, mereka sering dihubungkan dengan ketamakan.
c. Sejalan dengan argumen yang menjelaskan profil etnis dan kelompok penghasilan
menengah ke atas, kita dapat memaklumi profil pendidikan mereka.
George A. Manning, seorang akuntan forensik dari kantor pajak Amerika Serikat
menulis tentang profile dari organisasi yang melakukan kejahatan yang terorganisasi.
Dimana pelaku kejahatan ini lazimnya merupakan penyelundup pajak. Dalam masyarakat
dengan beraneka ragam etnis seperti di Amerika Serikat, profiling dilakukan dari segi budaya
atau kebiasaan etnis yang bersangkutan. Berikut beberapa ciri penjahat dari etnis Asia yang
dikemukakan Manning:
a. Para penjahat di Asia menyepelekan dan tidak menganggap penegak hukum sebagai abdi
masyarakat. Menurutnya di Asia penegak hukum berfungsi untuk melindungi para
penguuasa dan pertai meraka bukan untuk melindungi masayarakat
b. Mereka menciptakan mata uang bawah tanah dengan mempertukarkan komoditas.
Mata uang bawah tanah ini memungkinkan mereka menghilangkan jejak dokumen dan
melakukan penyelundupan pajak. Biasanya mereka menanamkan uang mereka dalam
emas, permata, intan dan berlian daripada menggunakan jasa perbankan.
c. Menyelenggarakan perkumpulan simpan pinjam yang sangat informal. Terdiri atas 10-
20 orang, umumnya wanita. Terjadi tawar menawar untuk penggunaan uang dalam
periode tertentu, pemenangnya adalah penawar tertinggi. Di Indonesia dikenal dengan
sebutan arisan.
d. Kebanyakan orang Asia yakin bahwa setiap pejabat dapat dibeli, tindakan penyuapan
sangat biasa di Asia karena mereka menggangapnya sebagai way of life. Suap dimulai
dari jumlah yang kecil seperti free lunches dan terus meningkat sampai jumlah yang
sangat besar.
Terkait dengan poin terakhir, beberapa kebijakan KPK berkaitan dengan hal tersebut
yang wajib diikutu oleh pimpinan KPK :
a. Memberitahukan kepada pimpinan lain mengenai pertemuan dengan pihak lain.
b. Menolak dibayari makan, biaya akomodasi dan bentuk kesenangan lain oleh siapa pun.
c. Membatasi pertemuan di ruang publik.
[Date]

17
d. Memberitahukan kepada pimpinan lain mengenai keluarga, kawan, dan pihak lain yang
secara intensif masih berkomunikasi.
Jika dibandingkan dengan profiling yang dilakukan terhadap profil pelaku korupsi di
Indonesia ditemukan bahwa penerima suap (bribe) adalah pejabat, pegawai negeri sipil dan
militer, di pemerintah pusat atau daerah sedangkan profil pemberi suap adalah pengusaha.
Hal ini dikuatkan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Lembaga Indonesia Corruption
Watch (ICW), menyatakan bahwa profil korupsi terbanyak berasal dari kalangan pejabat atau
pegawai kementerian dan pemerintah daerah. Pada penelitian yang dilakukan tahun 2015
kurun waktu semester 1, ICW telah mengidentifikasi 10 latar belakang pekerjaan yang paling
banyak melakukan tindak pidana korupsi.
a. Urutan teratas sebanyak 212 pelaku berlatar pejabat negara yang paling banyak terjerat
korupsi
b. Pada urutan selanjutnya yang paling banyak melakukan korupsi adalah pegawai swasta,
mulai dari tingkat direktur, komisaris dan pegawai sebanyak 97 orang.
c. Selanjutnya, latar belakang kepala daerah seperti kepala desa, camat, dan lurah
menempati posisi ketiga dengan jumlah pelaku mencapai 28 orang.
d. Sedangkan posisi selanjutnya secara berurutan ialah kepala daerah 27 orang, kepala dinas
26 orang, anggota DPR/DPRD/DPD 24 orang, pejabat atau pegawai lembaga negara lain
12 orang, direktur/pejabat/pegawai BUMN atau BUMD 10 orang.
e. Dua posisi terakhir ialah kelompok masyarakat dengan pelaku sebanyak 10 orang, dan
pejabat atau pegawai bank juga 10 orang.
Profiling sangat penting dan bermanfaat, bagi para pemeriksa menjadi sebuah
kebutuhan agar mampu mendeteksi secara dini sumber-sumber permasalahan. Bagi para
pejabat perbendaharaan, sebagai langkah awal mengetahui profil para pelaksana kegiatan
yang dapat digunakan sebagai alat control atas kewenangan yang diembannya. hanya kita
perlu memahami makna dari profil yang dihasilkan.
Di pasar uang dan pasar modal, profil pelaku fraud sering kali mengagumkan.
Kebanyakan dari mereka cerdas, mempunyai track record yang luar biasa, pekerja keras dan
cenderung menjadi informal leader dengan kharisma yang melampaui wewenang yang
diberikan jabatan, contohnya Nick Lesson dalam kasus Barings Bank merupakan profil
[Date]

pelaku fraud yang bersifat spekulatif di bursa valuta asing.

18
C. PROFIL KORBAN FRAUD
Profiling umumnya dilakukan terhadap pelaku kejahatan tetapi juga dapat dilakukan
untuk korban kejahatan. Berikut berbagai pengertian korban yang dikemukakan oleh para
ahli maupun sumber dari konvensi-konvensi adalah sebagai berikut:
1. Arik Gosita
Korban adalah mereka yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan
orang lain yang mencari pemenuhan, kepentingan diri sendiri atau orang lain yang
bertentangan dengan kepentingan hak asasi pihak yang dirugikan.
2. Muladi
Korban (Victim) adalah orang-orang yang baik secara individu maupunkolektif telah
menderita kerugian termasuk kerugian fisik atau mental, emosional, ekonomi atau
gangguan subtansial terhadap hak-haknya yang fundamental, melalui perbuatan atau
komisi yang melanggar hukum pidana di masing-masing negara, termasuk
penyalahgunaan kekuasaan.
3. Undang-Undang Nomor 27 tahun 2004 tentang komisi kebenaran dan rekonsiliasi.
Korban adalah orang perseorangan atau kelompok orang yang mengalami penderitaan
baik fisik, mental, maupun emosional. Kerugian ekonomi atau mengalmi pengabdian,
pengurangan atau perampasan hak-hak dasarnya, sebagai akibat pelanggaran hak asasi
manusia yang berat, termasuk korban adalah ahli warisnya.
4. Undang-Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban, yang
dimaksud dengan korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental,
dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana
5. kamus Crime Dictionary yang dikutip seorang ahli (Abdussalam, 2010:5) bahwa Victim
adalah orang yang telah mendapat penderitaan fisik atau penderitaan mental, kerugian
harta benda atau mengakibatkan mati atas perbuatan atau usaha pelanggaran ringan
dilakukan oleh pelaku tindak pidana dan lainnya. Disini jelas yang dimaksud orang
yang mendapat penderitaan fisik dan seterusnya itu adalah korban dari pelanggaran atau
tindak pidana.
6. Resolosi Majelis Umum PBB No. 40/34 Tahun 1985 adalah orang-orang, baik secara
individual maupun kolektif, yang menderita kerugian akibat perbuatan atau tidak berbuat
[Date]

19
yang menlanggar hukum pidana yang berlaku disuatu negara, termasuk peraturan yang
melarang penyalahgunaan kekuasaan.
Pada dasarnya korban tidak hanya orang-perorangan atau kelompok yang secara
langsung menderita akibat dari perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kerugian/
penderitaan bagi diri/ kelompoknya, bahkan lebih luas lagi termasuk di dalamnya keluarga
dekat atau tanggungan langsung dari korban. iranya untuk korban institusi, masyarakat,
bangsa, dan Negara dikaitkan maraknya kejahatan baik kualits maupun kuantitas dapat
ditambahkan, antara lain sebagai berikut:
1. Dalam perkara korupsi dapat menjadi korban tindak pidana korupsi berupa kerugian
keuangan Negara dan perekonomian Negara, kualitas kehidupan, ruaknya insfrasturktur
dan sebagainya.
2. Dalam tindak pidana terorisme, dapat mengalami korban jiwa masyarakat, keresahan
masyarakat, kerusakan infrastuktur, terusiknya ketenangan, kerugian materiil, dan
imateriil lainnya.
3. Dalam tindak pidana narkotika, dapat menjadi korban rusaknya generasi muda,
menurunya kualitas hidup masyarakat, dan sebagainya.
4. Dalam tindak pidana perusakan lingkungan hidup, pembabatan hutan dan illegal logging,
dapat menyebabkan rusaknya, lingkungan, tanah tandus, banjir bandang, serta merusak
infrastuktur dan penderitaan rakyat yang berkepanjangan.
Profiling terhadap pelaku kejahatan dimaksudkan untuk memudahkan menangkap
pelaku, maka profiling terhadap korban kejahatan dimaksudkan untuk memudahkan target
penyebaran informasi. Ini adalah bagian dari disiplin ilmu yang disebut viktimologi.
Viktimologi adalah ilmu yang mempelajari tentang korban (victim = korban)
termasuk hubungan antara korban dan pelaku, serta interaksi antara korban dan sistem
peradilan - yaitu, polisi, pengadilan, dan hubungan antara pihak-pihak yang terkait - serta
didalamnya juga menyangkut hubungan korban dengan kelompok -kelompok sosial lainnya
dan institusi lain seperti media, kalangan bisnis, dan gerakan sosial.
Viktimologi juga membahas peranan dan kedudukan korban dalam suatu tindakan
kejahatan di masyarakat, serta bagaimana reaksi masyarakat terhadap korban
kejahatan. Proses dimana seseorang menjadi korban kejahatan disebut dengan "viktimisasi".
[Date]

20
Dilihat dari peranan korban dalam terjadinya tindak pidana, Stephen Schafer
mengatakan pada prinsipnya terdapat empat ciri-ciri korban:
1. Orang yang tidak mempunyai kesalahan apa-apa, tetapi tetap menjadi korban. Untuk tipe
ini, kesalahan ada pada pelaku
2. Korban secara sadar atau tidak sadar telah melakukan sesuatu yang merangsang orang
lain untuk melakukan kejahatan. Untuk tipe ini, korban dinyatakan turut mempunyai
andil dalam terjadinya kejahatan sehingga kesalahan terletak pada pelaku dan korban.
3. Mereka yang secara biologis dan sosial potensial menjadi korban. Anak-anak, orang tua,
orang yang cacat fisik atau mental, orang miskin, golongan minotitas dan sebagainya
merupakan orang-orang yang mudah menjadi korban. korban dalam hal ini tidak dapat
disalahkan tetapi masyarakatlah yang harus bertanggung jawab.
4. Korban karena ia sendiri merupakan pelaku. inilah yang dikatakan sebagai kejahatan
tanpa korban. Pelacuran, perjudian, zina, merupakan beberapa kejahatan yang tergolong
kejahatan tanpa korban. pihak yang bersalah adalah korban karena ia juga sebagai pelaku.
Surat kabar sering memberitakan orang yang mudah menjadi korban kejahatan
tertentu. Di Indonesia sendiri dalam beberapa waktu sempat ramai dengan berbagai macam
aksi penipuan berkedok hadiah yang meminta korban membayar sejumlah uang tertentu,
dan juga berbagai bentuk yang lain yang umumnya cenderung mirip.
D. PROFILING PERBUATAN FRAUD (KEJAHATAN,FRAUD, DAN LAIN-LAIN)
Profiling dapat dilakukan dalam upaya mengenal perbuatannya atau cara
melaksanakan perbuatannya (modus operandi). Modus operandi berasal Dari bahasa Latin
kata modus berarti cara, metode dan operandi adalah "bekerja". Modus operandi adalah
cara operasi orang perorang atau kelompok penjahat dalam menjalankan rencana
kejahatannya.
Upaya untuk mengelompokan perbuatan fraud berdasarkan tipe atau jenis disebut
profil fraud atau tipologi fraud. Berbagai lembaga besar seperti Bank Indonesia, Dirjen
Pajak, PPATK mengumpulkan tipologi fraud yang ada di wilayahnya, untuk mengantisipasi
jenis fraud yang muncul dalam wilayah lembaga tersebut. Direktorat Jenderal Pajak
mengkompilasi tipologi kejahatan perpajakan. Bank Indonesia melakukan hal yang sama
untuk kejahatan perbankan. PPATK melakukannya untuk kasus-kasus pencurian uang, dan
[Date]

pakar-pakar hukum pidana mengompilasi kasus-kasus tindak pidana berdasarkan konsep

21
hukum yang ditetapkan agar memudahkan mereka dalam menyiapkan argument untuk kasus
serupa.
Jenis tipologi yang akan dibahas pada makalah ini adalah tipologi fraud yang
dilakukan oleh PPATK yaitu tipologi pencucian uang. Dikutip dari www.hukumonline.com
menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2006 PPATK mengklaim terdapat 430 kasus yang
termasuk dalam kategori tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud pasal 1 angka
1 Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Perubahan UU No. 15 Tahun 2002, dengan
rincian berikut:
No Kasus Jumlah
1 Korupsi 177
2 Penipuan 157
3 Kejahatan Perbankan 27
4 Pemalsuan Dokumen 19
5 Teroris 5
6 Penggelapan Pajak 4
7 Perjudian 3
8 Penyuapan 7
9 Narkotika 3
10 Pornografi anak 1
11 Pemalsuan Uang Rupiah 4
12 Pencurian 1
13 Pembalakan 4
14 Tidak teridentifikasi/dll 18
Total 430

Pencucian uang dapat dilakukan dengan modus operandi yang sangat beragam, mulai
dari menyimpan uang di bank hingga membeli rumah mewah atau saham. Namun, pada
dasarnya seluruh modus tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis tipologi, yang
tidak selalu terjadi secara bertahap, tetapi dapat dilakukan secara bersamaan. Ketiga tahapan
tipologi tersebut yaitu: penempatan (placement ), pemisahan/pelapisan (layering), dan
[Date]

penggabungan (integration). Sebagaimana diilunstrasikan pada gambar berikut:

22
1. Penempatan (placement ) adalah upaya menempatkan dana yang dihasilkan dari suatu
kegiatan tindak pidana ke dalam sistem keuangan. Penempatan (placement) adalah
tahapan pertama dalam pencucian uang, yaitu ketika harta hasil tindak pidana pertama
kali masuk ke dalam sistem keuangan atau berubah bentuk. Dengan perkembangan
teknologi sistem keuangan, setelah mendapatkan harta hasil tindak pidana, pelaku
kejahatan memiliki banyak sekali pilihan untuk melakukan proses penempatan
(placement) harta kekayaannya. Beberapa modus penempatan tersebut di antaranya:
1) Menempatkan uang dalam sistem perbankan
2) Menyelundupkan uang atau harta hasil tindak pidana ke negara lain
3) Melakukan konversi harta hasil tindak pidana
4) Melakukan penempatan secara elektronik
5) Memecah-mecah transaksi dalam jumlah yang lebih kecil (structuring)
6) Menggunakan beberapa pihak lain dalam melakukan transaksi (smurfing)
Modus-modus diatas dijelaskan sebagai berikut:
1. Penempatan: Menempatkan Uang dalam Sistem Perbankan
Penerima suap misalnya, dapat melakukan penempatan hasil suapnya dengan
menyimpannya di bank. Baik menggunakan namanya sendiri atau orang lain.
Tidak jarang pula hal ini kemudian diikuti dengan pengajuan kredit atau pembiayaan.
[Date]

Kemudian menyetorkan uang pada penyedia jasa keuangan sebagai pembayaran


kredit untuk mengaburkan audit trail.
23
2. Penempatan: Menyelundupkan Uang atau Harta Hasil Tindak Pidana ke Negara Lain
Pelaku kejahatan dapat juga melakukan penempatan dengan melakukan pembawaan
tunai melewati negara. Penerima suap tersebut, misalnya bisa membawa harta hasil
suapnya ke negara lain, kemudian ditukarkan dengan mata uang yang berbeda.
Pembawaan tunai ini dapat dilakukan dengan memperlakukannya sebagai barang-
barang ekspedisi atau dengan terlebih dahulu dikonversi ke dalam bentuk barang
berharga seperti emas atau perhiasan. Sehingga pembawaan hasil kejahatan ke negara
lain tersebut bisa dilakukan banyak cara, baik itu melalui ekspedisi, maupun dibawa
secara sendiri dengan kendaraan pribadi.
Karakteristik lainnya adalah dengan membawa harta hasil tindak pidana tersebut ke
negara-negara yang tidak memiliki pengaturan mata uang yang ketat.
3. Penempatan: Melakukan Transfer Secara Elektronik
Penempatan juga dilakukan dengan cara melakukan transfer secara elektronik.
Dengan dilakukan secara elektronik transfer uang dapat dilakukan hanya dalam
hitungan menit ke manapun, termasuk melintasi berbagai negara. Kecepatan proses
peralihan harta atau aset dan lintas batas negara dan yurisdiksi membuat proses
penelusuran aset menjadi sangat rumit.
Sebagai contoh, pelaku tindak pidana dapat mengirimkan uang melalui jasa
pengiriman uang (alternative remittance) yang secara elektronik langsung terkirim ke
lembaga pengiriman uang di luar negeri. Rekanan pelaku cukup membawa
identitasnya ke lembaga pengiriman uang yang menerima uangnya di luar negeri.
Dalam transaksi atau kegiatan transfer tersebut, uang tidak perlu berpindah secara
fisik.
4. Penempatan: Melakukan Konversi Harta Hasil Tindak Pidana
Salah satu modus penempatan yang lazim dilakukan adalah dengan melakukan
konversi harta hasil tindak pidana. Konversi ini dilakukan umumnya dengan cara
merubah bentuk asal harta hasil tindak pidana, misalnya dengan melakukan
pembelian atau merubah mata uangnya.
Tahapan ini umumnya juga dilakukan dengan melibatkan orang lain. Misalnya,
penerima suap akan menyerahkan uang yang diterimanya kepada orang yang ia
[Date]

percayai. Baik itu rekanan, anak buah, keluarga, atau pihak lain.

24
Rekan yang menerima uang tunai hasil suap tersebut kemudian melakukan pembelian
barang-barang berharga. Baik itu emas, mobil mewah, rumah, atau bahkan barang
berharga lain seperti lukisan atau barang antik. Penerima suap tadi kemudian
menerima uang yang telah berubah menjadi barang tadi seolah-olah sebagai
pemberian. Sehingga asal-usul harta kekayaan menjadi lebih samar.
2. Pemisahan atau pelapisan (layering)
Layering adalah tahapan kedua dari perbuatan pencucian uang. Dalam tahapan ini, uang
hasil tindak pidana dipindahkan, disebarkan, dan disamarkan untuk menyembunyikan
asal usulnya. Dalam kegiatan ini terdapat proses pemindahan dana dari beberapa rekening
atau lokasi tertentu sebagai hasil placement ke tempat lain melalui serangkaian transaksi
yang kompleks dan didesain untuk menyamarkan dan menghilangkan jejak sumber dana
tersebut. Beberapa modus layering tersebut di antaranya:
1) Transfer dana secara elektronik
Setelah ditempatkan dalam sistem perbankan, pelaku tindak pidana dapat mudah
melakukan transfer terhadap asetnya tersebut ke mana pun yang ia kehendaki.
Apabila transfer tersebut dilakukan secara elektronik, ia dapat memindahkan asetnya
dengan segera, lintas batas negara, dan berkali-kali, melewati berbagai rekening yang
ia kendalikan, rekanannya, atau bahkan rekening dengan identitas palsu hingga sulit
ditelusuri lagi asal usulnya.
2) Transfer melalui kegiatan perbankan lepas pantai (offshore banking)
Offshore banking menyediakan layanan pembukaan rekening koran untuk penduduk
luar negeri. Dengan menempatkan dana pada suatu bank, yang selanjutnya ditransfer
ke rekening Offshore Banking, pelaku tindak pidana dapat seolah-olah menjauhkan
harta hasil tindak pidannya dengan dirinya.
Offshore Banking cenderung memiliki jaringan bank yang luas sehingga memberikan
kemudahan bagi pelaku tindak pidana untuk melakukan proses pencucian uang.
3) Transaksi menggunakan perusahaan boneka (shell corporation)
Perusahaan boneka (shell company) adalah perusahaan yang didirikan secara formal
berdasarkan aturan hukum yang berlaku, namun tidak digunakan untuk melakukan
kegiatan usaha. Perusahaan boneka didirikan hanya untuk melakukan transaksi fiktif
[Date]

25
atau menyimpan aset pendirinya atau orang lain untuk menyamarkan kepemilikan
sebenarnya terhadap aset tersebut.
Modus yang digunakan dengan perusahaan boneka misalnya diawali dengan
pendirian perusahaan virtual di luar negeri. Perusahaan virtual ini kemudian membuat
rekening koran di beberapa bank. Pelaku tindak pidana dapat meminta beberapa
orang rekanannya untuk menjadi smurf untuk mentransfer uang hasil tindak pidana ke
dalam rekening bank perusahaan virtual, sehingga seolah-olah merupakan transaksi
pembelian saham.
3. Penggabungan (Integration)
Integration (penggunaan harta hasil tindak pidana) adalah upaya menggunakan harta
kekayaan yang telah tampak sah, baik untuk dinikmati langsung, diinvestasikan ke dalam
berbagai bentuk kejayaan material maupun keuangan, dipergunakan untuk membiayai
kegiatan bisnis yang sah, ataupun untuk membiayai kembali kegiatan tindak pidana.
Modus integration dalam pencucian uang dapat dilakukan dengan beberapa cara, di
antaranya:
1) Melakukan investasi pada suatu kegiatan usaha
Investasi pada suatu kegiatan usaha merupakan salah satu proses integrasi yang lazim
dilakukan. Melalui investasi tersebut, pelaku tindak pidana menggunakan harta hasil
kejahatan yang telah dicuci untuk membiayai suatu kegiatan bisnis. Setelah
diinvestasikan, uang yang ia peroleh dari kegiatan usaha tersebut dianggap sebagai
pendapatan usahanya
2) Penjualan dan pembelian aset
Dalam melakukan integrasi harta hasil tindak pidana dalam sistem keuangan, pelaku
pencucian uang umumnya diawali dengan penempatan yaitu dengan sebelumnya
menempatkan harta hasil tindak pidananya dalam perbankan atau sebagai aset
perusahaan boneka yang didirikan.
Perusahaan boneka tersebut kemudian dibuat seolah-olah melakukan transaksi
pembelian aset properti seperti gedung, dengan harga yang dinaikkan (marked up).
Hasil penjualan aset tersebut kemudian dianggap sebagai pendapatan dari transaksi
yang sah.
[Date]

3) Pembiayaan korporasi

26
Pembiayaan korporasi melibatkan proses pencucian uang yang sangat rumit meliputi
proses penempatan dan pemisahan yang juga luar biasa canggih. Misalnya, pelaku
tindak pidana mendirikan perusahaan boneka di luar negeri. Pelaku kemudian
menyimpan harta hasil tindak pidana di dalam perbankan sebagai harta kekayaan
perusahaan boneka. Menggunakan harta tersebut, kemudian perusahaan boneka
bertindak sebagai perusahaan pembiayaan menyediakan skema investasi atau
pembiayaan kepada perusahaan lain yang memiliki kegiatan usaha yang sah.
Berikut ini adalah topologi kasus tindak pidana pencucian uang terkait tindak pidana
korupsi (penyuapan) dengan terpidana Rudi Rubiandini yang kutip dari laporan hasil riset
topologi semester 1 tahun 2015 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Terdakwa Rudi Rubiandini (RR) selaku pegawai negeri/penyelenggara negara yaitu
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK
Migas) pada waktu antara bulan Februari 2013 hingga 13 Agustus 2013 menerima hadiah:
1. melalui Deviardi berupa uang dari Widodo Ratanachaitong (WR) dan PT KOPL
Indonesia yang diserahkan melalui Simon Gunawan Tanjaya (SGT) sejumlah
SGD200.000 dan USD900.000 dan uang sejumlah USD522.500 melalui Deviardi dari
Artha Meris Simbolon (AMS) selaku Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri (PT
KPI) dengan maksud agar melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan
dengan kewajibannya terkait pelaksanaan lelang terbatas Minyak Mentah dan Kondensat
Bagian Negara di SKK Migas serta memberikan rekomendasi/persetujuan untuk
menurunkan Formula Harga Gas kepada Menteri energi dan Sumber Daya Mineral
2. serta menerima uang melalui Deviardi dari Yohanes Widjonarko (YW) sebagai Wakil
Kepala SKK Migas sejumlah SGD600.000 serta menerima uang melalui Deviardi dari
Gerhard Rumesser (GR) sebagai Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis SKK Migas
sejumlah USD200.000
3. serta menerima uang melalui Deviardi dari Iwan Ratman (IR) sebagai Kepala Divisi
Penunjang Operasi SKK Migas sejumlah USD50.000 terkait karena jabatan terdakwa
selaku Kepala SKK Migas.
Modus operansi terdakwa RR bersama dengan Deviardi secara keseluruhan yaitu
menitipkan USD772.500 dan SGD800.000, membelanjakan dan membayarkan sejumlah
[Date]

Rp3,6 miliar, menempatkan uang USD300.000, mengalihkan Rp300 juta, menukarkan mata

27
uang asing Rp2,9 miliar, bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul
harta kekayaan Terdakwa yang diketahui berasal dari tindak pidana korupsi atau patut diduga
sebagai hasil dari tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan tugas dan jabatan terdakwa
selaku Kepala SKK Migas. Berikut rician modus operandi pencucian uang yang dilakukan
RR:
1. RR menempatkan uang dari WR pada Safe Deposit Box (SDB) milik terdakwa sejumlah
USD200.000 dan uang sejumlah USD100.000 pada brankas di ruangan kerja milik
terdakwa.
2. RR mengalihkan dengan cara meminta Asep Toni (sopir) menyetorkan uang secara tunai
ke rekening atas nama RG (Rp100 juta), ERRS (Rp50 juta), RA (Rp50 juta), RB (Rp50
juta).
3. RR meminta Deviardi (pelatif golf) untuk menyetorkan uang ke RH (Rp100 juta).
4. RR menitipkan uang pada SDB milik Deviardi sejumlah USD522.500 dari AMS,
USD50.000 dari IR, USD200.000 dari GR, SGD600.000 dari YW dan uang sejumlah
SGD200.000 dari GR dimasukkan ke rekening bank atas nama Deviardi di Singapura.
5. RR meminta Deviardi membelanjakan 1 unit mobil Volvo seharga Rp1,6 Miliar dengan
cara menukarkan USD50,000 di money changer lalu ditransfer ke Bank sebagai
pembayaran uang muka dengan kepemilikan atas nama Deviardi.
6. RR meminta Deviardi melakukan pelunasan pembelian 1 unit rumah di Tebet Jakarta
Selatan seharga Rp2 Miliar dengan cara menukarkan SGD di money changer lalu
disetorkan tunai ke bank.
7. Deviardi atas permintaan RR juga membeli 1 jam tangan Rolex dan 1 jam tangan Citizen
ECHO Drive dan 1 unit sedan Camry.
8. RR membayarkan biaya pernikahan anaknya kepada MW Organizer sebesar Rp405 juta
dengan cara menukarkan USD di money changer lalu disetorkan tunai ke Bank.
9. RR meminta Deviardi untuk menukarkan SGD lalu mentransfer uang tersebut kepada
YRA (Rp700 juta).
10. RR meminta Trikusuma Lydia (pegawai SKK Migas) menukarkan SGD70.000 di money
changer lalu ditransfer ke rekening RG sejumlah Rp500 juta dan sisanya Rp47 juta
diserahkan kepada
[Date]

28
11. RR serta menukarkan SGD20.000 lalu ditransfer ke rekening IA dengan sisa Rp106 juta
diserahkan kepada RR.
12. RR meminta Asep Toni menukarkan SGD 9x di money changer setara dengan Rp1,5
miliar dan Rp300 juta hasil dari penukaran tersebut disetorkan ke beberapa bank.
13. Uang yang masih tersisa dalam Safe Deposit Box sejumlah USD60.000 dan SGD252.000
dan pada rekening milik Deviardi sejumlah Rp1 miliar disita oleh KPK.
Atas kasus ini Pengedilan Negeri Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
menetapkan Rudi Rubiandini (RR) telah melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian
uang atau melanggar pasal 12 huruf ajo pasal 11 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana
telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal
3 UU RI nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
pencucian uang j.o pasal 55 ayat 1 ke-1 jo pasal 65 ayat 1 KUHP, dihukum dengan penjara 7
tahun dan denda 200.000.000 subsider 3 bulan.

[Date]

29
BAB IV
PENUTUP

Dalam melaksanakan audit masih terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan
dimana masyarakat umum berharap bahwa dengan dilakukan audit untuk laporan keuangan
maka semua fraud yang ada dapat dilacak dan ditangani sedangkan pada kenyataanya audit
sendiri tidak mengambil tanggungjawab untuk menghulangkan semua fraud.
Dalam mendeteksi fraud, kita dapat berpegangan pada fraud tree yang membagi fraud
menjadi tiga jenis yaitu laporan keuangan yang menyesatkan, pencurian aset dan korupsi. Dalam
fraud laporan keuangan yang menyesatkan kita dapat menggunakan analisis vertical, horizontal
serta rasio. Dalam analisis fraud pencurian aset kita dapat menggunakan teknik Analytical
review, Statistical sampling, Vendor or outsider complaints dan Site visit observation. Dalam
fraud berjenis korupsi kita dapat memperhatikan gejala-gejala yang ada (red flags).

[Date]

30
DAFTAR PUSTAKA

Association of Certified Fraud Examiner. (2015). Report to the nation on occupational fraud and
abuse. Austin: Association of Certified Fraud Examiner.

Karyono. (2013). Forensic Fraud. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
(2008). Fraud Auditing. Bogor: Pelatihan Pengawasan Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan.

Tuanakotta, T. (2010). Akuntansi Forensik & Audit Investigatif. Jakarta: Salemba Empat.

Vona, L. W. (2011). The Fraud Audit. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

[Date]

31