Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

ELECTROSURGERY UNIT (ESU)

DISUSUN OLEH

Wisnu Aji Syahputra (1604071)

DIII TEKNIK ELEKTROMEDIK SEMARANG


TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya sehingga

kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Electrosurgery

Unit (ESU). Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan

dalam mata kuliah Peralatan Bedah dan Anesthesi di STIKES Widya Husada

Semarang.

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki.
Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan
makalah ini, khususnya kepada Dosen yang telah memberikan tugas dan petunjuk
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Semarang, 10 Desember 2017

Penyusun
DAFTAR
ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2


DAFTAR ISI ........................................................................................................... 3
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. 4
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 5
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 5
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................... 5
1.3. Tujuan Penulisan ...................................................................................... 6
BAB II DASAR TEORI ......................................................................................... 7
2.1. Sejarah Singkat ......................................................................................... 7
2.2. Pengertian Electrosurgery Unit ................................................................ 7
2.3. Prinsip Dasar ............................................................................................ 8
2.4. Bagian-bagian Electrosurgery Unit ........................................................ 10
BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................... 13
3.1. Cara penggunaan .................................................................................... 13
3.2. Aspek Pengaman Electrosurgery Unit ................................................... 13
3.3. Cara Kerja ESU Berdasarkan Blok Diagram ......................................... 17
3.4. Cara Kerja ESU Berdasarkan Wiring Diagram ...................................... 18
3.5. Maintenance ESU ................................................................................... 22
3.6. Troubleshooting ESU ............................................................................. 24
BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 27
4.1. Kesimpulan ............................................................................................. 27
4.2. Saran ....................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 28
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Contoh gambar Electrosurgery Unit ..................................................... 8


Gambar 2. Efek aliran arus pada jaringan biologis ................................................. 8
Gambar 3. Bagian depan Elektrosurgery Unit ...................................................... 10
Gambar 4. Bagian belakang Elektrosurgery Unit ................................................. 10
Gambar 5. Elektroda monopolar ........................................................................... 11
Gambar 6. Elektroda bipolar ................................................................................. 11
Gambar 7. Elektroda netral ................................................................................... 11
Gambar 8. Nessy ................................................................................................... 11
Gambar 9. Foot switch .......................................................................................... 12
Gambar 10. Blok Diagram ESU ........................................................................... 17
Gambar 11. Wiring Diagram ESU ........................................................................ 18
Gambar 12. MP1 (Cut) .......................................................................................... 19
Gambar 13. MP2 (Coag) ....................................................................................... 19
Gambar 14. MP2 (Cut) .......................................................................................... 20
Gambar 15. MP2 (Coag) ....................................................................................... 20
Gambar 16. MP3 (Cut) .......................................................................................... 20
Gambar 17. MP3 (Coag) ....................................................................................... 21
Gambar 18. MP4 (Cut) .......................................................................................... 21
Gambar 19. MP4 (Coag) ....................................................................................... 21
Gambar 20. MP6 (Cut) .......................................................................................... 22
Gambar 21. MP6 (Coag) ....................................................................................... 22
Gambar 22. MP7 ................................................................................................... 22
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam proses pembedahan konvensional (menggunakan pisau
bedah), setelah kulit pasien dibedah, maka pada kulit pasien tersebut terjadi
pendarahan dengan proses pembekuan darah yang lambat. Akibatnya akan
fatal jika proses pembekuan darah terlalu lambat maka proses pendarahan
akan berlanjut dan bisa mengakibatkan pasien kehilangan darah dengan
jumlah yang cukuo besar. Proses pembekuan darah yang lambat pada
metode konvensional diakibatkan karena pisau bedah hanya berfungsi
sebagai pemotong lapisan kulit tapi tidak bisa mempercepat proses
pembekuan darah.
Saat ini, ditemukan teknologi seperti Electrosurgery Unit(ESU).
Pada aplikasi teknologi ini, bagian tepi yang tajam pada pisau dialiri oleh
arus listrik frekuensi tinggi. Pemberian arus listrik frekuensi tinggi pada
tepi pisau pembedah membuat proses pembekuan darah pada jaringan yang
terpotong menjadi lebih cepat dibanding dengan menggunakan pisau
bedah. Akibatnya, resiko pasien kehilangan banyak darah semakin kecil.
Pada makalah ini, akan dibahas lebih jauh mengenai aplikasi dari
Electrosurgery Unit(ESU).

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa itu Electrosurgery Unit ?
2. Bagian-bagian dari Electrosurgery Unit ?
3. Prinsip dasar dari Electrosurgery Unit ?
4. Bagaimana cara kerja Electrosurgery Unit berdasarkan blok
diagram ?
5. Bagaimana cara kerja Electrosurgery Unit berdasarkan wiring
diagram ?
6. Bagaimana cara penggunaan dari Electrosurgery Unit ?
7. Cara pemeliharaan dan troubleshooting dari Electrosurgery Unit ?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Memahami alat Electrosurgery Unit
2. Mengetahui bagian-bagian dari Electrosurgery Unit
3. Mempelajari prinsip kerja Electrosurgery Unit
4. Mengetahui cara kerja Electrosurgery Unit berdasarkan blok
diagram
5. Mengetahui cara kerja Elektorsurgery Unit berdasarkan wiring
diagram
6. Mengetahui penggunaan dari Electrosurgery Unit
7. Mengetahui cara perawatan serta troubleshooting dari
Electrosurgery Unit
BAB II
DASAR TEORI

2.1. Sejarah Singkat


Pada zaman dulu, pembedahan dilakukan dengan proses
konvensional, yaitu dengan menggunakan pisau bedah. Pembedahan
konvensional ini terkadang menyebabkan pasien banyak mengeluarkan
darah. Maka terbenyuklah salah satu alat penunjang alat kesehatan yaitu
ESU (electro surgery unit), yang digunakan pada saat tindakan
pembedahan. Dengan menggunakan ESU, pendarahan yang terjadi pada
saat tindakan pembedahan dapat diminimalisir, karena pembuluh darah
yang tebuka disekitar luka dapat langsung menutup.

2.2. Pengertian Electrosurgery Unit


Electrosurgery Unit (ESU) adalah suatu alat bedah dengan
memanfaatkan arus listrik frekuensi tinggi. Pengoperasian ESU dibagi
menjadi 2 (dua) mode, yaitu bipolar dan monopolar. Mode bipolar biasa
digunakan pada bedah minor untuk proses koagulasi (pembekuan). Dalam
proses ini elektroda berbentuk pinset digunakan untuk menjepit jaringan
yang tidak diinginkan, kemudian arus listrik frekuensi tinggi mengalir dari
ujung elektroda melewati jaringan tadi kemudian menuju ujung elektroda
yang lain. Sedangkan pada mode monopolar digunakan pada bedah mayor
dengan metode pemotongan/ cutting. Dalam proses ini digunakan dua
elektroda terpisah, yaitu elektroda aktif dan elektroda netral dengan
permukaan lebih luas yang ditempatkan dekat dengan lokasi yang akan
dibedah. Arus listrik akan terpusat pada elektroda aktif dan elektroda
netral dibuat khusus untuk mendistribusikan arus listrik dengan bertujuan
untuk mencegah kerusakan jaringan. Oleh karena itu, mode bipolar lebih
banyak digunakan untuk melakukan pembedahan minor.
Gambar 1. Contoh gambar Electrosurgery Unit

2.3. Prinsip Dasar


ESU (Electrosurgery Unit) adalah suatu alat bedah dengan
memanfaatkan arus listrik frekwensi tinggi. Prinsip yang paling mendasar
dari suatu ESU adalah mengalirkan arus listrik melalui suatu jaringan.
Apabila arus listrik mengalir melalui jaringan biologis, maka akan terjadi
efek-efek sebagai berikut :

Thermal Faradic Electrolytic

Effect Effect Effect

Gambar 2. Efek aliran arus pada jaringan biologis

a. Efek Panas (Thermal)


Arus listrik yang dialirkan melalui jaringan
biologis akan menimbulkan panas, besarnya panas yang
timbul tergantung pada tahanan spesifik dari jaringan,
besarnya arus dan lamanya arus mengalir.
b. Efek Stimulasi (Faradic)
Sel-sel jaringan yang sensitif, seperti sel syaraf dan
sel otot akan dirangsang (distimulasi) oleh arus listrik,
sehingga akan terjadi kontraksi jaringan.
c. Efek Elektrolitik
Arus listrik mengakibatkan pergerakan ion-ion
didalam jaringan biologis. Dengan arus searah, ion-ion
bermuatan positif akan bergerak ke kutub negatif (katoda),
dan ion-ion bermuatan negatif ke kutub positif (anoda),
kemudian terjadi peningkatan konsentrasi yang berakibat
bahaya elektrolitik pada jaringan.

Pada penggunaan Electrosurgery Unit, dipakai arus listrik dengan


frekuensi tinggi yang berguna untuk memaksimalkan efek panas (thermal)
dan meredam terjadinya efek faradik dan efek ektrolitik, oleh karena itu
dipergunakan frekuensi yang diatas 300 KHz.
Frekuensi tinggi yang dihasilkan oleh rangkaian akan terjadi pada
saat tombol elektroda katif atau foot switch ditekan, sehingga arus listrik
frekwensi tinggi mengalir dari elektroda aktif kejaringan tubuh dan
tersalur menuju elektroda netral.
Tujuan dari penggunaan arus listrik dalam proses pembedahan
adalah untuk menimalisir pendarahan yang terjadi karena darah pada
jaringan yang terpotong dapat segera membeku, dan juga dapat
mengurangi terkontaminasi dari bakteri. Kerugian dari penggunaan arus
frekuensi tinggi dalam proses pembedahan adalah mengakibatkan sel-sel
yang ada sekitarnya menjadi mati, karena terjadinya luka bakar, sehingga
penyembuhan akan lama serta menimbulkan bekas luka yang terbuka dan
juga kemungkinan dapat terjadi ledakan didalam ruangan, jika terdapat
gas yang sifatnya mudah terbakar.
2.4. Bagian-bagian Electrosurgery Unit

a) Tampilan alat

Gambar 3. Bagian depan Elektrosurgery Unit

Gambar 4. Bagian belakang Elektrosurgery Unit


b) Aksessoris alat

Gambar 5. Elektroda monopolar

Gambar 6. Elektroda bipolar

Gambar 7. Elektroda netral

Gambar 8. Nessy
Gambar 9. Foot switch
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Cara penggunaan


a) Sebelum menghidupkan ESU, bersihkan alat serta bagian-bagiannya
dari debu atau kotoran lainnya.
b) Pasang semua aksessoris alat dan cek aksessoris alat bahwa kondisinya
dalam kondisi yang baik dan juga terpasang baik pada alat.
c) Masukkan kabel power ESU ke catu daya.
d) Hidupkan ESU dengan cara menekan tombol ON.
e) Atur dosis/daya yang diinginkan dengan menekan tombol up/down, baik
untuk cutting maupun koagulasi. Dan apabila perlu lakukan pemilihan
efek yang diinginkan. Apakah untuk cutting atau mode koagulasi, bila
memang dibutuhkan.
f) Kemudian, pasangkan elektroda netral ke pasien dan pastikan terpasang
dengan baik. Dan untuk pemasangan elektroda netral sebisa mungkin
dipasang pada bagian tubuh pasien yang paling dekat dengan yang
dibedah, karena hal ini untuk mencegah mengalirnya arus dari elektroda
aktif ke elektroda netral agar tidak melalui jantung.
g) Dan ESU siap digunakan.
h) Setelah selesai penggunaan ESU, matikan ESU dengan menekan tombol
OFF dan lepas kabel power yang terpasang di catu daya serta bersihkan
dan rapikan kembali unit beserta semua aksesoris yang digunakan.

3.2. Aspek Pengaman Electrosurgery Unit


Aspek pengamanan dalam penggunaan ESU yaitu, pengamanan
listrik dan pengamanan luka bakar :

A. Pengaman listrik :
1. Arus lebih
Apabila terjadi beban lebih akibat hubungan
singkat atua kerusakan komponen dalam
rangkaian, maka sekering yang berfungsi sebagai
pengaman akan putus. Sekering harus diganti
dengan yang sesuai.

2. Frekuensi rendah
Pada pembangkitan frekwensi tinggi ada
kemungkinan frekwensi rendah masuk, sehingga
menimbulkan dampak negatif pada pasien. Untuk
menghindari hal antara rangkaian penguat dan
rangkaian out put dipasang filter frekwensi
rendah, hal ini untuk mencegah efek faradik pada
pasien.

3. Elektroda netral
Apabila kabel penghubung netral elektroda putus,
maka aktif elektroda akan berfungsi sebagai
pemancar frekwensi tinggi ke ground, sehingga
bagian tubuh pasien yang terhubung ke ground
akan mengakibatkan terjadinya luka bakar. Untuk
menghindari hal ini, pada salah satu penghubung
elektroda dipasang rangkaian alarm yang dapat
mendeteksi terhubung atau tidaknya netral
elektroda.

4. Arus bocor (Leakage Current)


Apabila terjadi kegagalan isolasi akan
mengakibatkan timbulnya arus bocor, besarnya
arus bocor ditentukan oleh tingkat kebocoran
isolasi. Untuk menghindari dampak negatif yang
diakibatkan oleh arus bocor perlu diperhatikan
hubungan pentanahan (titik pembumian) yang
baik.

5. Kodefikasi warna dan simbol (IEC Standart)


Kodefikasi warna dan simbol dimaksudkan untuk
menghindari terjadinya salah pemilihan tindakan
dalam pengoperasian Elektrosurgery.
Warna kuning untuk cutting
Warna biru untuk coagulating
Simbol pinset untuk bipolar

B. Pengamanan terhadap luka bakar pada bagian yang tidak


diinginkan.

Selama pemakaian pesawat Elektrosurgery dapat


mengakibatkan luka bakar pada bagian yang
tidak diinginkan, tetapi luka bakar ini dapat dicegah
dengan jalan mengetahui penyebabnya.

Ada tiga penyebab luka bakar, yaitu :


1. Luka bakar endogenous
Disebabkan oleh banyaknya densitas arus
didalam jaringan pasien. Pada aktif elektroda
memerlukan densitas arus yang sangat tinggi
untuk cutting atau coagulating, dan hubungan
pasien dengan elektroda netral tidak baik. Luka
bakar endogenous pada permukaan antara
elektroda netral dan jaringan pasien dapat
terjadi karena penggunaan elektroda netral
yang terlalu kecil dibandingkan dengan
pemakaian daya frekuensi tinggi yang
digunakan, atau karena elektroda netral tidak
terpasang secara sempurna atau hanya
sebagian kecil elektroda netral yang
menempel.

2. Luka bakar endigenous


Luka bakar endigenous karena ada sebagian
tubuh pasien yang menyentuh bagian
konduktif area yang lain. Jika ada bagian tubuh
pasien yang terkena bahan konduktif yang lain
selama pembedahan, seperti aksesoris metal
meja operasi, tiang infus, penyangga
tangan/kaki yang tidak terisolasi dsb. Dapat
mengakibatkan luka bakar, terutama sekali saat
elektroda netral tidak terpasang secara
sempurna atau hanya sebagian kecil elektroda
netral yang menempel. Sebagai catatan,
selama pembedahan dengan menggunakan
ESU, pasien harus terisolasi terhadap seluruh
barang konduktif, bahan isolasi yang elektrik
yang kering dan tebal ditempatkan diantara
pasien dan meja operasi.

3. Luka bakar exogenous.


Disebabkan dari panas yang ditimbulkan oleh
bahan yang mudah terbakar, diantaranya cairan
pembersih kulit, desinfectan, juga zat anastetic
yang mudah terbakar dan akan tersulut akibat
adanya percikan bunga api dari elektroda aktif
dengan permukaan tubuh pasien yang dibedah.
3.3. Cara Kerja ESU Berdasarkan Blok Diagram

Gambar 10. Blok Diagram ESU

Cara kerja dari blok diagram di atas adalah adalah mengalirkan arus
bolak-balik dengan frekuensi tinggi melalui tubuh patient dengan besar
arus atau daya tertentu. Power supply sebagai penyuplai dari semua
komponen tersebut, kemudian oscillator akan membangkitkan arus bolak-
balik frekuensi tinggi arus bolak-balik frekuensi tinggi, lalu masuk ke
driver dan frekuensi tersebut di modulasikan di modulator dan
dikembalikan ke driver menuju HF filter utuk disaring frekuensinya,
hanya frekuensi tinggi yg bisa lolos dan dikuatkan pada penguat arus atau
power amplifier, setelah melalui pengontrolan dosis. Arus dari ESU
dialirkan melalui elektroda aktif, ke tubuh patient, menuju elektroda
netral dan kembali, sehingga pada kontak yang kecil yaitu antara ujung
elektroda aktif dengan tubuh patient akan terjadi arus besar dan terjadi
pembakaran.
3.4. Cara Kerja ESU Berdasarkan Wiring Diagram

Gambar 11. Wiring Diagram ESU

Dari wiring diagram di atas dapat kita pahami bahwa ESU bekerja
ketika mendapat catu daya dari jala-jala listrik sehingga blok power suplay
akan menghasilkan variasi tegangan sesuai kebutuhan tiap-tiap komponen
pada alat tersebut. Pada rangkaian osilator terdapat R36 yang berfungsi
mengatur pengisian dan pengosongan C9 sehingga R36 berperan untuk
mengatur frekuensi yang dihasilkan, sedangkan pada rangkaian modulator
terdapat R3 dan R4 yang berfungsi untuk mengatur sinyal modulasi, R3
untuk mengatur modulasi cutting sedangkan R4 untuk mengatur modulasi
koagulasi, setelah itu sinyal hasil osilasi dan modulasi akan dicampur oleh
diver sehingga menjadi sinyal modulasi dengan frekuesi tinggi yang dapat
kita atur, output dari driver akan dikuatkan oleh rangkaian trafo step up
yang nilai penguatan outputnya dapat diatur melalui R1 dan R2, setelah itu
output dari penguatan trafo dikirim ke penguatan utama dan setelah itu
menuju rangkaian switch untuk memilih mode cutting maupun coagulation
switch cut akan menyebabkan K1 bekerja dan switch coagulation akan
menyebabkan K2 bekerja, pada penguatan utama ada sinyal umpan balik
overload yang digunakan ketika terjadi overload sehingga otomatis alat
akan berhenti beroperasi.
Dibawah ini adalah output dari MP ketika ESU berfungsi dengan
baik :

Gambar 12. MP1 (Cut)

Gambar 13. MP2 (Coag)


Gambar 14. MP2 (Cut)

Gambar 15. MP2 (Coag)

Gambar 16. MP3 (Cut)


Gambar 17. MP3 (Coag)

Gambar 18. MP4 (Cut)

Gambar 19. MP4 (Coag)


Gambar 20. MP6 (Cut)

Gambar 21. MP6 (Coag)

Gambar 22. MP7

3.5. Maintenance ESU


Dalam pemeliharaan ESU biasanya di cek selama 3 bulan sekali
dan setiap setahun untuk mengecek kondisi alat serta akssesoris dari alat.
Maka hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
A. Pemeliharaan 3 bulan
1. Cek dan Bersihkan seluruh bagian alat.
2. Cek fungsi Netral elektrode (bila rusak maka ganti jika
dipeerlukan).
3. Cek fungsi Elektroda Aktif (bila rusak maka ganti jika
diperlukan).
4. Cek fungsi tombol pada panel unit.
5. Cek fungsi sistem alarm.
6. Cek kabel power serta kabel grounding
7. Cek fungsi foot switch.
8. Cek fungsi sistem alat.
9. Uji kinerja alat.

B. Pemeliharaan Tahunan
1. Lakukanlah pengkalibrasian pada alat. Yang dikalibrasi
yaitu pada saat memilih cutting atau koagulasi. Caranya
yaitu :
a) Pastikan semua peraaltan yang digunakan dalam
kondisi yang baik.
b) Persiapkan peralatan ESU dan pasang seluruh
kelengkapannya.
c) Lakukan pengukuran keselamatan listrik dengan
menggunakan Electrical Safety Analyzer sesuai
dengan kelas dan tipe alat.
d) Persiapkan ESU Analyzer.
e) Hubungkan 8 kabel dibagian kiri ESU
Analyzer
Kabel hijau dengan grounding ruangan.
Kabel putih dengan body alat yang terbuat
dari logam.
Kabel hitam dengan pasian plate ESU.
Kabel merah dengan elektroda aktif.
f) Hidupkan semua peralatan dan tunggu selama 15
menit.
g) Perhatikan range dan load impedance dengan ESU
yang akan diukur, kemudian pindahkan posisi
selector output power sesuai range range dan load
impedance ESU yang akan diukur.
h) Posisikan switch selector RF leakage pada
pengukuran output power.
i) Pilih menu cutting pada ESU dan tentukan
intensitasnya dari yang paling kecil ke yang paling
tinggi.
j) Tekan foot Switch dan lakukan pembacaan pada
display ESU analyzer.
k) Catat hasil pada lembar kerja masing-masing 6 data
untuk tiap-tiap intensitas menu cutting yang akan
diukur.
l) Kemudian pilih menu coagulating dan ulangi
langkah h sampai k diatas.
m) Pilih menu Bipolar (bila ada) dan ulangi langkah
h sampai k diatas.
n) Setelah selesai, matikan semua peralatan.
o) Catat suhu dan kelembapan akhir ruangan pada
lembar kerja.
p) Lepaskan semua kabel yang digunakan dan
rapikan kembali.
q) Lakukan perhitungan ketidakpasrtian dan
kesimpulan dari kegiatan kalibrasi.
2. Uji keamanan alat.

3.6. Troubleshooting ESU


1. Alat/unit mati total
A. Analisa :
a) Unit tidak mendapatkan catu daya sehingga unit sama
sekali tidak dapat aktif.
b) Catu daya yang didapat tidak sesuai dengan spesifikasi
alat/unit.

B. Langkah :
a) Lakukan pengukuran tegangan dari jala-jala PLN.
b) Lakukan pengukuran pada MP10 karena itu adalah
output power suplay.
c) Cek kondisi Fuse, jika putus maka gantilah dengan
Fuse yang spesifikasinya sama.

C. Keterangan :
a) putus sehingga dilakukan penggantian fuse.

2. Indikator alarm elektroda netral berbunyi tidak semestinya


A. Analisa :
a) Terdapat masalah pada kabel sambungan elektroda
netral.
b) Relay driver buzzer tidak mendapat tegangan.

B. Langkah :
a) Periksa sambungan kabel elektroda netral, jika putus
maka sambunglah/ ganti.
b) Jika relay tidak mendapat tegangan maka ukurlah
output di MP10.

C. Keterangan :
a) Kabel elektroda netra putus, sehingga dilakukan
penyambungan.
3. Alat hidup namun tidak dapat melakukan Cut/Coag
A. Analisa :
a) Arus dan teganagan yang keluar tidak cukup kuat untuk
melakukan cutting atau coagulation.

B. Langkah :
a) Terdapat masalah pada rangkaian penguatan arus dan
tegangan.

C. Keterangan :
a) R7 mengalami kerusakan, sehingga harus diganti.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Electrosurgery Unit (ESU) adalah suatu alat bedah dengan
menggunakan energy RF(Radio Frekuensi) 300kHz sampai dengan 3 MHz
untuk memotong dan membekukan tissue/ jaringan, yang mana tergantung
pada efek panas yang disebabkan oleh arus listrik frekuensi tinggi melalui
tepi yang tajam.
Pada cut current mode, jaringan dipotong menggunakan elektroda
yang mengenai jaringan dan kapiler yang mana goresan tersebut tersegel
kembali (kering) karena jaringan menyusut. Oleh karena itu cara ini sering
disebut Bloodless Surgery/ Bedah tanpa darah.
Pada Coag Current Mode, Jaringan dibekukan dengan
menggunakan discharging RF dari elektroda ke jaringan, sehingga terjadi
loncatan energy yang dapat menghentikan pendarahan. Dengan prosedur
yang tepat, proses kesembuhan pasca operasi akan menjadi lebih cepat.

4.2. Saran
Demikian makalah ini saya buat, apabila ada kekurangan atau ada
salah dalam penulisan dalam makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim.2007. Electrosurgical Unit Diathermy Machine.


2. Ronald L. Bussiere, B.S.E.E.1997. Principles of Electrosurgery. Tektran
Incorporated: Washington
3. Malvino, Albert Paul .2004. Prinsip-prinsip Elektronika jilid II.Jakarta :
Salemba Teknika
4. Soon SL, Washington CV. Electrosurgery, electro-coagulation, electrofulguration,
electrodessication, electrosection, electrocautery. In: Robinson JK, Hanke CW,
Sengelmann RD, Siegel DM, eds. Surgery of the Skin: Procedural Dermatology.
Philadelphia: Mosby, 2005:177190.