Anda di halaman 1dari 71

PT.

ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA


MURUNG RAYA, KALTENG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.1.1 Justifikasi Dilaksanakannya Rencana Usaha dan/atau Kegiatan


Bidang Energi dan Sumberdaya Mineral memegang peranan penting
dalam perekonomian nasional. Hal ini terbukti dengan besarnya peranan
sektor energi dan sumber daya mineral sebagai penyedia sumber energi,
sumber devisa, penerimaan negara, sumber bahan baku industri, wahana alih
teknologi, pendukung pengembangan wilayah, menciptakan lapangan
pekerjaan dan pendorong pertumbuhan sektor lain. Komoditi yang dihasilkan
dari sektor ini masih memegang peranan penting dalam perekonomian
nasional, menyumbang hampir mencapai 30% dari total pendapatan negara.
Perbaikan iklim investasi mutlak diperlukan guna terus mendukung fungsi
sektor energi dan sumberdaya mineral sebagai tulang punggung penggerak
roda ekonomi nasional dalam tahun-tahun mendatang, mengingat sumberdaya
alam ini sangat potensial dan bernilai ekonomi cukup tinggi. Salah satu jenis
kekayaan alam tersebut adalah bahan galian yang ingin dikembangkan oleh
Pemerintah Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah yaitu
sektor pertambangan zirkon.
Untuk mewujudkan tujuan pembangunan tersebut dan dalam kerangka
semangat otonomi daerah yang sedang berjalan, maka Pemerintah Kabupaten
Murung Raya membuka diri sebesar-besarnya kepada investor yang berminat
untuk memberdayakan sumberdaya alam tersebut bagi kemaslahatan umum.
Partisipasi pihak swasta yang dalam hal ini berupa kegiatan penambangan
batubara serta pengirimannya ke daerah yang membutuhkan akan sangat
menunjang program pemerintah dalam pemanfaatan sumber daya alam untuk
kepentingan pembangunan.
Sejalan dengan tujuan tersebut PT. Zirkon Zaman Now Indonesia
adalah salah satu perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di

1
1
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Provinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati


Murung Raya No. 188.45/78/2010 tanggal 20 April 2010, yang berlokasi di
Desa Nanokliwon, Cangkang, Muwun, Tabulang, Olung Oru, Dirung Bakung,
dan Saripoi, Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang, Kabupaten Murung
Raya Provinsi Kalimantan Tengah seluas 15.000 Hektar.
PT. Zirkon Zaman Now Indonesia sebagai salah satu perusahaan
pertambangan batubara di Kabupaten Murung Raya, berencana untuk
mengembangkan usaha di pertambangan zirkon, dimana melalui usaha ini
diharapkan dapat memperluas lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidup
bagi masyarakat sekitar lokasi tambang melalui multiplier effect yang
mengiringi berjalannya roda perekonomian masyarakat, peningkatan sumber
penerimaan bagi pemerintah daerah setempat melalui pajak dan retribusi
resmi yang telah diatur dan ditetapkan di dalam peraturan perundang
undangan. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara dijelaskan bahwa di bidang pertambangan mineral
dan batubara disebutkan bahwa Pemerintah termasuk Pemerintah Kabupaten
dapat mengelola dan mengusahakan potensi mineral dan batubara secara
mandiri, andal, transparan, berdaya saing, effisien, dan berwawasan
lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara berkelanjutan.

1.1.2 Alasan Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Dilengkapi AMDAL


Kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan yang tertuang
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang
Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012 Tentang Jenis Rencana
Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup, serta Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
2012 Tentang Izin Lingkungan menjadi acuan keharusan bagi setiap kegiatan
penambangan yang tingkat produksinya produksinya > 1.000.000 ton/tahun

2
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

dan/atau luas wilayah IUP-nya > 200 hektar diwajibkan untuk membuat
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagai salah satu
kewajiban bagi pemegang izin penambangan. Melalui AMDAL yang benar,
diharapkan kerusakan lingkungan dapat diminimalisir, dan dampak positif
yang dihasilkannya dapat dimaksimalkan serta pemanfaatan batubara juga
dapat dilakukan secara optimal. Dalam rangka memenuhi kewajiban tersebut,
maka PT. Zirkon Zaman Now Indonesia selaku pemrakarsa proyek
melakukan studi AMDAL atas kegiatan penambangan batubara di wilayah
yang telah ditetapkan.
Dalam rangka studi AMDAL ini, PT. Zirkon Zaman Now Indonesia
akan melakukan beberapa rangkaian kegiatan, yaitu proses penapisan,
pelingkupan, survei lapangan dan pengujian/analisis laboratorium dan
pelaporan. Hasil semua proses kegiatan tersebut akan terdokumentasi dalam
bentuk dokumen KA-ANDAL, ANDAL serta RKL & RPL secara berturut-
turut. Pedoman yang digunakan dalam menyusun dokumen-dokumen
dimaksud adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 16 Tahun 2012
tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

1.1.3 Alasan Dokumen AMDAL Dinilai Oleh Komisi Penilai AMDAL


Provinsi Kalimantan Tengah
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2013
Tentang Tata Laksana Penilaian dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan
Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan telah mengamanatkan pada Pasal 19
Ayat (1) yang menyebutkan bahwa Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/kota
yang tidak memiliki lisensi, penilaian dokumen AMDAL yang menjadi
kewenangannya dilakukan oleh Komisi Penilai AMDAL Provinsi. Oleh
sebab itu, dokumen AMDAL PT. Zirkon Zaman Now Indonesia yang berada
di wilayah Kabupaten Murung Raya akan dinilai oleh Komisi Penilai
AMDAL Provinsi Kalimantan Tengah.

3
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

1.2. Tujuan Rencana Kegiatan

1.2.1. Identifikasi Kebutuhan-Kebutuhan Saat Ini


Kebutuhan-kebutuhan saat ini dikaitkan dengan aspek yang
berhubungan dengan kegiatan pertambangan zirkon, antara lain :
a. Prospek peluang usaha pertambangan zirkon dalam menentukan
strategi peningkatan ekspor non-migas.
b. Banyaknya diversifikasi penggunaan dari zirkon yang berdampak pada
tingginya permintaan dunia akan zirkon.
c. Penciptaan lapangan kerja baru dengan penyerapan tenaga kerja dalam
jumlah besar dalam lingkup pertambangan zirkon.
Prospek pemasaran zircon untuk dalam maupun luar negeri cukup baik
karena kebutuhannya yang selalu meningkat dan salah satunya didukung oleh
potensi kandungan zirkon yang ada dan kebijakan tentang perdagangan
komoditas zirkon yang kondusif sehingga mendorong zirkon menjadi salah
satu komoditas andalan dalam memberikan sumbangan devisa bagi negara.

1.2.2. Kebutuhan-Kebutuhan Khusus Yang Akan Dipenuhi


Kebutuhan-kebutuhan khusus yang akan dipenuhi menyangkut aspek
kebutuhan akan berkembangnya wilayah dan perekonomian dalam lingkup
Provinsi Kalimantan Selatan khususnya Kabupaten Murung Raya. Aspek
yang dikaji dalam menentukan kebutuhan khusus yang akan dipenuhi
menyangkut beberapa hal, antara lain :
a. Memberikan alternatif usaha yang jelas bagi masyarakat, baik melalui
bekerja secara langsung di perusahaan pertambangan batubara, maupun
bekerja dengan peluang kerja dan berusaha yang bermitra dengan perusahaan
batubara tersebut.
b. Terbatasnya aksesibilitas saat ini, sangat membatasi mobilitas
masyarakat menuju daerah-daerah lain. Pembuatan jalan utama dan jalan
angkut dalam aktivitas pertambangan, dan kawasan sekitarnya akan

4
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

meningkatkan aksesibilitas masyarakat yang berakibat baik pada


pengembangan wilayah pedesaan di wilayah ini.
c. Penyerapan tenaga kerja lokal Provinsi Kalimantan Murung Raya
dalam pertambangan batubara akan mengurangi beban pemerintah daerah
dalam bidang ketenagakerjaan.
PT. Zirkon Zaman Now Indonesia selama melaksanakan kegiatan
pertambangan bahan galian zirkon berkomitmen melaksanakan pertambangan
yang berwawasan lingkungan.

1.2.3. Tujuan dilaksanakannya rencana Usaha dan/atau Kegiatan


Adapun tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan pertambangan
batubara oleh PT. Zirkon Zaman Now Indonesia, antara lain :
a. Menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara industri berbahan baku
zirkon terbesar dan berkualitas di pasar perdagangan dunia.
b. Memberikan peluang bagi tumbuh dan berkembangnya industri-
industri hilir yang menggunakan zirkon.
c. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan
pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kesempatan berusaha
bagi masyarakat setempat.
d. Memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah dan nasional
dengan pembayaran pajak dari pajak bumi dan bangunan, penjualan produk
tambang batubara, dan pajak alat berat dan kendaraan bermotor yang
digunakan dalam kegiatan pertambangan batubara yang berwawasan
lingkungan.

1.2.4. Justifikasi Manfaat Dari Rencana Kegiatan Kepada Masyarakat


Sekitar Dan Peranannya Terhadap Pembangunan Nasional Dan Daerah
Manfaat akan diambil dari kegiatan pertambangan zirkon oleh PT. Zirkon
Zaman Now Indonesia adalah :

5
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

a. Peningkatan cadangan devisa Negara melalui keuntungan dari


penjualan zirkon.
b. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dapat digunakan
untuk membangun infrastruktur, sarana dan prasarana umum yang masih
diperlukan bagi kesejahteraan masyarakat.
c. Terbukanya kesempatan kerja dan peluang berusaha yang dapat
meningkatan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian setempat
d. Mempercepat proses pengembangan wilayah dengan meningkatkan
aksesibilitas dan infrastruktur serta meningkatkan perekonomian lokal.
e. Meningkatkan taraf hidup dan sumberdaya manusia berupa
meningkatnya pengetahuan dan keahlian masyarakat melalui keterlibatan
langsung dalam kegiatan pertambangan batubara dan melalui program
pemberdayaan masyarakat yang akan diimplementasikan oleh pemrakarsa
kegiatan.

1.3. Pelaksanaan Studi

1.3.1. Pemrakarsa dan Penanggung jawab Rencana Usaha dan/atau Kegiatan


Pemrakarsa Kegiatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
yang selanjutnya disebut Studi AMDAL ini adalah salah satu Perusahaan
Swasta Nasional dengan kegiatan utamanya adalah Pertambangan Zirkon.
Adapun identitas pemrakarsa dan sekaligus penanggung jawab kegiatan
adalah :

a. Nama Perusahaan : PT. Zirkon Zaman Now Indonesia


b. Luas Areal : 15.000 Hektar
c. Lokasi Area : Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang,
Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah
d. Alamat Kantor : Jln.Sangaji No. 06 RT/RW. 02/III Puruk Cahu,
Kalteng
c. Direktur : I Made Bhismahayana

6
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

1.3.2. Pelaksana Studi AMDAL


Dalam rangka pelaksanaan Studi AMDAL yang komperehensip dan
mendalam, maka diperlukan komposisi pelaksana (Tim Penyusun) dari
berbagai bidang/keahlian yang ditunjuk oleh pemrakarsa.

Tabel 1.1 Susunan Tim Studi AMDAL Pertambangan Zirkon


PT. Zirkon Zaman Now Indonesia
Jabatan
No. Dalam Nama Bidang Keahlian Alamat
Tim
A. Tim Penyusun
AMDAL
KTPA Jl. B. Koetin
Ayu (000581/SKPA/LSKINTAKINDO/IV/2012), No.
1. Ketua Lusi (AMDAL A, B dan C) 63 Palangka
Natallia Bidang Kualitas air, Bidang Ilmu Raya
Lingkungan
ATPA Jl. Siam No.
Elis (000587/SKPA/LSKINTAKINDO/IV/2012), 14
2. Anggota
Malinda (AMDAL A, B dan C) Palangkaraya,
Bidang Biologi
ATPA (000363/SKPA/LSK- Jl. Kerinci
INTAKINDO/VIII/2012), No.
Efa
3. Anggota Bidang Hidrologi, Kualitas Air dan Biota 426c
Octavia
Perairan Palangka
Raya

Jabatan
No. Dalam Nama Bidang Keahlian Alamat
Tim
B. Tenaga Ahli

Jl. Virgo No.


29
4. Tim Studi Maratus Sholihah Bidang Flora dan Fauna
Amaco
Palangka Raya
Jl. Galaxi Raya
5. Tim Studi Elistia Tri Falupi Tanah dan Agronomi No. 35 Amaco
Palangka Raya

7
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Bidang Pertambangan Jl. Kecipir No.


6. Tim Studi Tiara Nasution dan Geologi 48
Banjarbaru
Jl. Bukit Raya
Bidang Kesmas dan XII
7. Tim Studi Xandro Ariesdewa
Kesling dan Sosekbud No. 10
Palangka Raya
C. ASISSTEN PENYUSUN

Jl. Siam No. 14


1. Anju Meifan Sipayung Sertifikat AMDAL B
Palangkaraya

8
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

BAB II
RUANG LINGKUP STUDI

2.1. Lingkup Rencana Usaha atau Kegiatan


Proses rencana kegiatan biasanya merupakan proses bertahap dimana pada
setiap tahap, pemrakarsa harus mengkaji sejumlah alternative konsep kegiatan.
Pada tahap awal perencanaan, alternative yang dikaji sifatnya makro (berhubungan
dengan desain dasar kegiatan) dan ditahap perencanaan seterusnya, alternatif yang
dipertimbangkan sifatnya lebih mikro atau rinci.
Peraturan menganjurkan agar proses pelingkupan menyertakan alternatif yang
sedang dipertimbangkan pemrakarsa. Alternatif rencana kegiatan yang dimaksud
dapat terdiri dari alternatif:
Proses atau teknologi yang digunakan
Input atau bahan yang digunakan
Tata letak bangunan atau sarana pendukung
Pendekatan pengendalian atau pengelolaan dampak
Penjadwalan atau pentahapan kegiatan
Proses pertambangan yang terjadi di pertambangan pasir ini meliputi:
Tahap pra-konstruksi, yaitu tahap yang berkaitan dengan perencanaan awal
dalam membangun suatu usaha pertambangan.
Tahap konstruksi, yaitu tahap pembangunan awal yang meliputi
pembangunan konstruksi dan segala fasilitas penunjang kegiatan
pertambangan pada lokasi pertambangan.
Tahap operasi, yaitu tahap dimana telah berlangsungnya kegiatan kegiatan
pertambangan.
Tahap pasca operasi, yaitu tahap segala kegiatan yang dilakukan setelah
kegiatan pertambangan telah selesai dilakukan.

9
9
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Dalam mengevaluasi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan


pertambangan diperlukan suatu metode yang tepat dan runut. Metode yang
digunakan dalam mengevaluasi dampak yang besar dan penting dalam
perencanaan kegiatan pertambangan Zirkon di Murungraya adalah sebagai
berikut:
1. Penelurusan hubungan kausatif antara komponen kegiatan dengan komponen
lingkungan yang diduga akan terkena dampak.
2. Menggambarkan dengan jelas karakteristik dampak lingkungan yang akan
terkena dampak.
3. Kesenjangan perubahan lingkungan yang diinginkan dan perubahan
lingkungan yang mungkin akan terjadi.
4. Luas persebaran masing masing dampak baik di dalam wilayah kajian
maupun di luar wilayah kajian.
5. Memilih alternatif pendekatan dalam rangka pengendalian dampak
lingkungan baik yang positif maupun negatif, terutama dari aspek pendekatan
teknologi, ekonomi, dan institusi.
6. Perumusan arahan yang dituangkan dalam Rencana Pengelolaan Lingkungan
(RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

Luas wilayah pertambangan yang direncanakan adalah sebesar 12.000 Hektar


dengan keseluruhan luas wilayah sebesar 15.000 Hektar. Dengan luas tersebut,
diharapkan produksi zirkon yang dihasilkan sebesar 9000 ton/tahun.
Rancangan Kegiatan
1. Tahap Pra Konstruksi
a. Survey Lokasi
Lokasi yang di survey adalah wilayah Provinsi Kalimantan Tengah tepatnya
di Murung Raya. Tujuan dari dilakukannya kegiatan survey ini adalah untuk
mengetahui kondisi lokasi yang akan dijadikan wilayah pertambangan,
mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan oleh masyarakat setempat, dan
mengetahui kondisi ekonomi dan social dari masyarakat.

10
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

b. Administrasi
Kegiatan ini dilakukan untuk memenuhi persyaratan awal yang dibutuhkan
untuk mendapatkan izin melakukan proyek. Persyaratan awal yang dibutuhkan
seperti rencana tata ruang wilayah dan izin ke pada pihak PemDa berupa:
Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD)
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
Surat Izin Tempat Usaha (SITU)
c. Pembebasan Lahan
Kegiatan pembebasan lahan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk
membebaskan lahan yang akan dijadikan lokasi pertambangan bebas dari segala
aktivitas apapun. Berdasarkan peta lokasi pertambangan, tempat yang akan
dibangun pertambangan berada dekat dengan perumahan penduduk. Untuk itu
dilakukan relokasi penduduk ke tempat yang lebih aman.

2. Tahap Konstruksi
Secara umum, tahap persiapan konstruksi dari usaha pertambangan akan dibagi
menjadi:
1. Pengadaan Alat dan Bahan
Pada tahap ini ditentukan alat dan bahan apa saja yang diperlukan dalam
pembangunan konstruksi dari pertambangan. Bahan yang akan digunakan adalah
pipa-pipa untuk sistem perpipaan, aspal untuk perkerasan jalan, dan sebagainya.
Alat yang digunakan adalah Alat Pengaman Diri untuk para pekerja, Alat-alat
berat untuk membangun fasilitas dan infrastruktur, dan lain-lain.
2. Pembukaan Lahan (Land Clearing)
Pembukaan lahan ini merupakan aktivitas pembebasan/pembersihan lahan
melalui kegiatan pembabatan hutan, pepohonan, dan segala jenis tumbuhan pada
suatu lahan yang selanjutnya akan digunakan untuk kegiatan konstruksi sebagai
awal tahap persiapan penambangan.

11
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

3. Manajemen Tanah
Manajemen tanah terdiri dari dua hal yaitu metode pengupasan dan
pemindahan top soil.
a. Pengupasan tanah pucuk
Tanah pucuk atau yang biasa disebut top soil merupakan lapisan tanah penutup
yang paling atas. Lapisan tanah ini memiliki kandungan unsur hara (seperti humus)
yang cukup tinggi yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya vegetasi.
Oleh karena itu pada tahap penimbunan (dumping), jenis tanah ini dipisahkan dari
yang lain (OB/IB) karena pada akhir / penutupan tambang, tanah ini dipergunakan
pada tahap reklamasi.
b. Pengangkutan tanah pucuk
Setelah tanah pucuk dikupas, tanah ini kemudian dimasukkan ke dalam dump
truck untuk dipindahkan sementara ke suatu tempat. Tanah pucuk ini akan
digunakan untuk revegetasi lahan pertambangan setelah proses penambangan
selesai.
4. Pembangunan Fasilitas dan Infrastruktur
Pembangunan fasilitas dan infrastrukur adalah tahap pembangunan segala
infrastruktur dan fasilitas yang menunjang aktivitas penambangan, seperti kantor,
perumahan bagi para pekerja, stasiun bahan bakar, bengkel/workshop, jalan
sebagai akses ke pertambangan yang dilakukan setelah aktivitas pembukaan lahan.

3. Tahap Operasi
Tahap operasi yang berlangsung pada pertambangan zirkon adalah mining.
Untuk proses penambangan zirkon digunakan excavator untuk menggali pasir
karena zirkon relatif lunak sehingga dapat diatasi oleh gigi gigi gali excavator.
Zirkon dimuat dengan menggunakan excavator yang lebih kecil dibandingkan
overburden. Zirkon kemudian akan dimuat ke dalam dump truck dan diangkut
menuju stock pile. Dari stock pile, Zirkon akan dibawa menuju gudang supplier
dengan menggunakan truk gandeng.

12
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Peledakan
Urutan pengerjaan peledakan dimulai dari membuat lubang tembak dengan
cara melakukan pemboran jenjang secara vertikal dengan mesin bor. Setelah
lubang tembak tersedia, peledak primer yang sudah dirangkai dengan detonator
dimasukkan ke dalam lubang tembak sebelum truk pengangkut bahan peledak
datang ke lokasi dan mengisi lubang tembak tersebut dengan bahan peledak.
Operator di lapangan terus memantau pengisian lubang tembak dengan bantuan
tali yang dimasukkan ke dalam untuk indikator ketinggian bahan peledak yang
sudah masuk ke dalam lubang tembak. Setelah itu material sisa hasil pengeboran
dimasukkan ke dalam lubang tembak sebagai steming.

Pemuatan
Pada overburden, proses pemuatan material menggunakan excavator
yang lebih besar dibandingkan dengan zirkon. Proses pemberaian overburden
sebagian besar menggunakan peledakan. Material hasil peledakan dimuat ke
dalam dump truck dengan menggunakan excavator, akan tetapi pada jenjang
tertentu digunakan excavator yang disebutkan di atas. Excavator dengan kapasitas
besar hanya dapat bekerja optimum pada lapisan yang relatif datar. Penanganan
overburden berbeda dengan zirkon. Pada overburden, alat angkut yang digunakan
memiliki kapasitas yang lebih besar.

Penimbunan
Penimbunan overburden tidak bisa menggunakan metode yang sembarangan.
Kestabilan lereng penimbunan harus diperhatikan. Tambang yang direncanakan
menggunakan metode backfilling pada sistem penambangannya. Maka dari itu,
overburden yang ditimbun akan diambil kembali untuk selanjutnya ditimbun pada
area lain saat akan menambang blok berikutnya. Hal ini bertujuan agar tidak terlalu
besar bukaan dari hasil kegiatan penambangan.

13
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Ekskavasi Zirkon
Setelah lapisan zirkon terekspose, maka proses pengupasan overburden oleh
excavator berkapasitas besar selesai. Kemudian pengambilan zircon dilakukan
oleh alat berkapasitas kecil. Hal ini dilakukan karena lapisan pasir relatif tipis
sehingga tidak efisien jika digunakan loader berkapasitas besar.

Pemuatan
Alat yang digunakan dalam penanganan zirkon relatif lebih kecil
dibandingkan dengan overburden hal ini dikarenakan penerapan selective mining
dan clean mining. Diterapkannya selective dan clean mining tidak lepas dari
lapisan zircon yang terdapat di area tambang. Dalam proses pemuatan zircon ke
dalam alat angkut, digunakan excavator yang lebih kecil.

Pengangkutan
Untuk pengangkutan Zirkon digunakan dump truck. Sedangkan untuk
mengangkut Zirkon dari stock pile ke gudang supplier, digunakan dump truk.

4. Tahap Pasca Operasi


Setelah dilakukan proses operasi maka kita perlu melakukan tindakan-
tindakan pasca operasi untuk mencegah atau mereduksi dampak lingkungan yang
mungkin akan timbul. Rencana penutupan tambang salah satunya dilakukan
dengan cara penanaman kembali tumbuh-tumbuhan atau biasa disebut dengan
revegetasi. Kebijakan atau peraturan yang mengatur tentang pasca operasi
petambangan antara lain:
UU No. 11/1967, psl. 30 : kewajiban mengembalikan tanah apabila telah selesai
melakukan penambangan sehingga tidak menimbulkan bahaya penyakit atau
bahaya lainnya bagi masyarakat
PP No. 75/2001 tentang perubahan kedua PP 32/1969:

14
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Wajib melakukan usaha-usaha pengamanan terhadap benda-benda maupun


bangungan-bangunan dan keadaan tanah di sekitarnya yang dapat
membahayakan keamanan umum (pasal 46(4))
Menteri, Gubernur , Bupati .... dapat menetapkan pengaturan keamanan
bangunan dan pengendalian keadaan tanah yang harus dipenuhi dan ditaati
oleh pemegang KP sebelum meninggalkan bekas wilayah KP (pasal 46(5))
Pengawasan meliputi seluruh tahapan kegiatan, keselamatan pertambangan,
perlindungan lingkungan pertambangan termasuk reklamasi lahan pasca
tambang, konservasi dan nilai tambang (pasal 64(3))
Kepmen Pertambangan&Energi No. 103.K/008/MPE/1004 tentang
Pengawasan dan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana
Pemantauan Lingkungan dalam Bidang Pertambangan & Energi
Kepmen P&E No. 1211.K/008/MPE/1995 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan pada kegiatan
Pertambangan Umum selambat-lambatnya 1 tahun sebelum berakhir
Sedangkan perencanaan penutupan tambang:
Dokumen Rencana Penutupan Tambang meliputi:
Gambaran rona akhir tambang
Hasil konsultasi dengan pemangku kepentingan
Program penutupan tambang
Pemantauan
Organisasi dan finansial
Tahap- tahap Rencana penutupan tambang:
a. Profil wilayah
b. Deskripsi kegiatan pertambangan
c. Gambaran rona akhir tambang
d. Hasil konsultasi dengan pemangku kepentingan (stakeholders)
e. Program penutupan tambang dan Pemantauan
f. Organisasi
g. Rencana biaya penutupan

15
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

2.2. Rona Lingkungan Hidup


Kegiatan penambangan Zirkon ini merupakan kegiatan yang diperkirakan
mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Berarti akan
menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan terhadap komponen lingkungan.
Komponen lingkungan yang akan ditelaah yaitu komponen yang diperkirakan
akan terkena dampak besar dan penting oleh rencana kegiatan. Adapun komponen
lingkungan yang akan ditelaah ini dibagi menjadi tiga komponen utama, yaitu
komponen fisik-kimia, komponen biologi, komponen sosekbud, dan kesehatan
masyarakat.
2.2.1. Komponen Lingkungan Fisik Kimia
Komponen fisik kimia yang diperkirakan terkena dampak dari rencana
kegiatan adalah sebagai berikut.
2.2.1.1. Iklim
Komponen Iklim
Data iklim didapat dari stasiun BMG kota Murung Raya 2017 yang meliputi
suhu udara kelembaban udara, curah hujan, hari hujan, dan keadaan angin.
a. Tipe Iklim
Berdasarkan klasifikasi Junghuhn (Koppen) tipe iklim di wilayah sekitar
lokasi kegiatan adalah tipe A (hujan tropis).
b. Suhu Udara
Berdasarkan data dari Stasiun BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika Kota
Murung Raya, 2017) suhu udara rata-rata berkisar antara 29,5C 30,5C.
Suhu minimum terendah tercatat 29C pada bulan Oktober. Suhu maksimum
tertinggi tercatat 31C terjadi pada bulan Maret.
c. Kelembaban Udara
Kelembaban udara erat kaitannya dengan suhu udara, apabila suhu udara
tinggi, maka kelembaban udara akan turun atau sebaliknya. Untuk wilayah
sekitar lokasi kegiatan, kelembaban rata-rata terendah 69,4% yang terjadi
pada bulan Mei, sedangkan kelembaban rata-rata tertinggi 88,8% terjadi pada
bulan Desember.

16
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

d. Curah Hujan
Curah hujan yang terjadi berkisar antara 41,54 mm sampai dengan 302,86
mm. Curah hujan terendah terjadi pada bulan September, sedangkan curah
hujan tertinggi terjadi pada bulan November.
e. Keadaan Angin
Kecepatan angin rata-rata bulanan 4 knot, sedangkan angin terbesar 13,2 knot
yang terjadi bulan Oktober 2017, secara umum berarah ke Barat.
Kualitas Udara
Untuk mengetahui rona lingkungan kualitas udara di lokasi kegiatan akan
dilakukan pengukuran kualitas udara yang kemudian dianalisis di
laboratorium rujukan. Sedangkan baku mutu digunakan Peraturan Pemerintah
RI No.41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
Kebisingan
Pengukuran intensitas kebisingan dilakukan sesuai dengan 4 arah mata angin
akan dilakukan dengan menggunakan alat pengukur Sound Level Meter.
2.2.1.2. Stratigrafi
Stratigrafi daerah penelitian menunjukkan urutan batuan yang terdapat
di daerah tersebut. Menurut Koesoemadinata & Hartono (1981) pada Dam
(1994), stratigrafi umum Cekungan Murung raya.
2.2.1.3. Struktur Geologi
Berdasarkan pengamatan geologi-geologi terdahulu sejumlah sesar dan
lineasi memotong Cekungan Murung Raya dan perbukitan sekitarnya. Sesar
paling jelas dan paling mudah dikenal adalah Sesar Lembang yang berarah
Barat-Timur yang memisahkan dataran Murung Raya dengan daerah dataran
tinggi (sub cekungan) Lembang dan Gunung Api Tangkuban Perahu (DAM,
1994). Pada peta geologi, daerah penelitian terletak pada daerah sebaran
batuan Formasi Cibeureum (Gambar Peta Geologi Alzwar, 1989).

17
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Umur Formasi Batuan


Endapan Sungai Material tak terkonsolidasikan dengan
ukuran butir lempung sampai bongkah.
Ketebalan 5 m.
Holosen Batas Erosional
Formasi Lava Basaltik dengan kekar kolom,
Cikidang konglomerat volkanik, tuf kasar, breksi
volkanik. Ketebalan 0 - 65 m
Formasi Batulempung, batulanau, dan batupasir
Kosambi dari produk volkanik. Ketebalan 0 - 80 m.
Atas
Formasi Perlapisan breksi tufaan dengan fragmen
Cibeureum scoria, basalt, andesit, dan pumice.
Pleistosen Batas Erosional
Formasi Konglomerat dan breksi volkanik, tuf dan
Bawah Cikapundung lava andesitic. Secara umum berwarna
lebih terang daripada formasi lainnya.
Ketebalan 0 -350 m.

2.2.1.4. Hidrologi
Rona lingkungan hidup yang distudi meliputi: kualitas dan kuantitas air
permukaan, kualitas dan kuantitas air tanah, air larian (run off).
Hidrogeologi
Berdasarkan telaahan data sumur bor dan interpretasi geolistrik yang
dilakukan Direktorat Geologi Tata Lingkungan (2000), maka pada daerah
penelitian terdapat 2 sistem akuifer, yaitu: (1) Akuifer dangkal (tak tertekan),
dengan kedalaman akuifer 1,2-22,5 m dan kedalaman sumur bor mencapai 30
m di bawah muka tanah (bmt) yang berasal dari Formasi Kosambi dan
Formasi Cibeureum; (2) Akuifer dalam (semi tertekan-tertekan), dengan
kedalaman akuifer 35-150 m bmt. Penyebaran sumurbor paling banyak adalah
pada batuan Formasi Cibeureum.

18
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Berdasarkan Juanda (1995), daerah penelitian merupakan daerah


dengan kerucut penurunan muka air tanah yang sangat mencolok hingga 30 m
dan termasuk ke dalam zona I konservasi airtanah. Secara geohidrologi,
sebagian besar daerahnya merupakan daerah resapan air dengan akuifer
produktif sedang penyebaran luas dan kecil penyebaran setempat serta akuifer
produktif setempat. Namun, akibat pemanfaatan ruang, terutama untuk
pertambangan yang berlebihan yang kurang memerhatikan asas konservasi
dan kelestarian lingkungan hidup, kawasan tersebut rusak dengan cepat.
Kondisi Fisik Daerah Resapan Air Permukaan dan Air tanah
Kondisi fisik daerah resapan air permukaan merupakan daerah dengan
koefisien permeabilitas rendah karena merupakan daerah dengan tanah
lempung (lanau) berpasir.
Kualitas Air Permukaan
Ada beberapa alternatif sumber air yang dapat digunakan sebagai sumber air
bersih untuk daerah perencanaan pertambangan Zirkon antara lain :
Tabel 2.1 Hasil Analisa Kualitas Air Sungai Cengkang
Parameter Satuan Hasil Analisa Baku Mutu
Zat padat tersuspensi Mg/ L 213 50
Ph - 6.7 69
Detergent sebagai Mg/ L 2.35 200
MBAS
Minyak dan lemak Mg/ L 1.91 1000
BOD Mg/ L 1580 3
COD Mg/ L 2788.41 25
Sumber: Data primer, Hasil Analisa Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan,
1 Maret 2017
Baku Mutu: Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001, kelas II

19
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Berdasarkan hasil analisa di atas parameter yang melebihi Baku Mutu adalah
zat padat tersuspensi, BOD dan COD, hal ini disebabkan oleh kegiatan
domestik dari hulu saluran tersebut.
Kualitas Air tanah
Untuk keperluan sehari-hari penduduk yang bermukim di sekitar lokasi ini
memanfaatkan sumber air yang berasal dari sumur dangkal/sumur gali.
Sedangkan untuk kegiatan penambangan pasir menggunakan sumber air dari
sumur dangkal.
Tabel 2.2 Hasil Analisa Kualitas Air Tanah
No Parameter Satuan Hasil Pemeriksaan Baku Mutu
. Sumur di Lokasi Sumur Air Bersih
Kegiatan Penduduk
Fisika
1 Bau - Tidak berbau Tidak Tidak
berbau berbau
2 Zat padat terlarut (TDS) Mg/ L 536 626 1500
3 Kekeruhan NTU 65 2 25
Kimia Anorganik
4 Besi Mg/ L 10.38 1.22 1
5 Fluorida Mg/ L 0.64 0.4 1.5
6 Kesadahan CaCO3 Mg/ L 229.11 192.05 500
7 Klorida Mg/ L 102.73 119.99 600
8 Mangan Mg/ L 0.68 0.94 0.5
9 Nitrat, sebagai N Mg/ L 0 0 10
10 Nitrit, sebagai N Mg/ L 0.001 0 1
11 pH - 7.12 6.8 6.5 - 9
12 Sulfat Mg/ L 35.5 43.26 400
Kimia Organik
13 Detergent Mg/ L 0 0 0.5

20
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

14 Zat Organik (KMnO4) Mg/ L 3.39 11.85 10


15 Sisa klor Mg/ L 0 0 0.2 0.5
Sumber: Data primer Hasil Analisa Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan,
5 Maret 2017
Baku Mutu: Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 416/ MENKES/ PER/ IX/ 1990,
tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air

Dari tabel tersebut dapat dilihat, bahwa analisa kualitas air sumur
penduduk parameter yang melebihi baku mutu adalah Besi (Fe), Mangan
(Mn), dan zat organic (KMnO4), hal ini dipengaruhi oleh sifat tanah setempat
dan kemungkinan dari limbah domestik di sekitar lokasi kegiatan. Sedangkan
sumur di lokasi kegiatan parameter yang melebihi baku mutu adalah
Kekeruhan, Besi (Fe), dan Mangan (Mn). Hal ini dipengaruhi oleh sifat tanah
di sekitar lokasi kegiatan.
Kuantitas Air Tanah
Air tanah dangkal diketahui berdasarkan pengamatan sumur gali
penduduk muka air tanah berkisar antara 1,1-30 m bmt namun pada daerah
dengan pengambilan intensif, muka air tanah memiliki kedalaman 34,5 m bmt
dan 69,5 m bmt. Air tanah dalam diketahui berdasarkan pengamatan pada
sumur produksi, sumur pantau dan survey geolistrik. Kedalaman sumur bor
berkisar antara 60-200 m dengan muka air tanah berkisar antara 1,1-70 m bmt.
Air Larian
Adanya penambangan pasir mengakibatkan adanya air larian (run off),
walaupun kuantitas air larian sebelum dan sesudah ada kegiatan relatif sama.
Adapun penghitungan air larian adalah sebagai berikut:
- Areal penambangan : 15 Ha
- Curah hujan rata-rata : 172,20 mm (R24)
- Duration hujan : 2 jam (t)
- Run off coeffisien : 0,80 (C)

21
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Rumus yang dipakai untuk menghitung intensitas curah hujan adalah DR.
Monorabe:
i = 29,85 m3/ dt/ ha
Debit limpahan air hujan yang jatuh pada areal Pasar Andir dipakai rumus
metode rasional:
Qp = K.C.I.A
Qp = Debit puncak banjir
K = Faktor konveksi = 0,00278
C = Koefisien pengaliran = 0,8
I = Intensitas curah hujan = 29,85
A = Luas areal penambangan = 15 Ha
Maka, debit puncak banjir (Qp) sebesar 0,995 m3/ dt.
Dari pengukuran air larian ini didapat debit yang dihasilkan dari suatu
kegiatan untuk menentukan jumlah debit air aliran yang mempengaruhi aliran
sungai terdekat.
2.2.1.5. Ruang, Lahan dan Tanah
Tata Guna Lahan
Tata guna lahan merupakan lahan Pertambangan Pasir daerah Bentang (Galian
Kondisi Lahan Eksisting
Lahan merupakan lahan Pertambangan Zirkon yang dikuasai oleh Pemerintah
Kota Murung Raa. Topografi lahan relatif datar dengan sebagian berbukit-
bukit. Ketinggian tapak dengan sekitarnya relatif sama.
Rencana Tata Ruang
Penataan ruang mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota
Murung Raya Tahun 2013-2017 yang menyatakan bahwa di lokasi kegiatan
dan sekitarnya diperuntukkan untuk kegiatan militer dan perdagangan.
Sistem Transportasi
Pembangunan pertambangan dipertimbangkan tidak akan mengganggu arus
lalu lintas di Lokasi penambangan. Hal ini dikarenakan lokasi penambangan
yang jauh dari jalan utama sehingga tidak akan menyebabkan kemacetan di

22
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

akses jalan. Gangguan yang ada di transportasi kemungkinan dikarenakan


adanya truk besar yang lalu lalang untuk mengangkut pasir.

Gambar 2.1 Contoh Truk di Sekitar Lokasi Pertambangan

2.2.2. Komponen Lingkungan Biologi


2.2.2.1. Flora
Lokasi penambangan berada di kawasan Nanokliwon yang sebagian besar
floranya adalah merupakan flora liar. Lokasi ini juga bukan merupakan hutan
lindung atau suaka margasatwa. Di sekitar lokasi sebagian besar berupa
persawahan dan tanaman liar atau alang-alang, serta banyak pohon pisang.

Gambar 2.2 Contoh Flora yang Ada di Lokasi

23
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

2.2.2.2. Fauna Darat


Jenis fauna yang tercatat dari hasil pengamatan langsung di lapangan adalah
berupa jenis aves dan insekta.
Tabel 2.3 Jenis Fauna di Lokasi Kegiatan
No. Nama Fauna

1 Burung Gereja

2 Semut

3 Capung

4 Tikus

5 Kucing

6 Lalat

7 Anjing

8 Cacing

Sumber: Data primer hasil pengamatan di lapangan, Februari 2017

2.2.3. Komponen Sosial


2.2.3.1. Demografi
Berdasarkan monografi Nanokliwon, jumlah seluruh penduduknya
adalah 15373 jiwa. Penduduk tersebut tersebar di 10 kelurahan, dengan
mendiami wilayah seluas 4544 hektar. Apabila dilihat dari kepadatannya,
Nanokliwon termasuk wilayah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk
relatif rendah, yaitu kurang lebih 39.4 jiwa per hektar.
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Apabila dilihat dari komposisi jenis kelamin penduduk Nanokliwon adalah
sebagai berikut:

24
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin


Jenis Kelamin Persen Jumlah Penduduk
(jiwa)
Laki-laki 33.5
5842
Perempuan 66.5 9531
Jumlah 100 15373
Sumber: Data sekunder Kecamatan Padalarang tahun 2017

Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin cukup signifikan untuk


diangkat dalam prakiraan dampak, mengingat sering kali perempuan menjadi
sasaran yang paling banyak terkena dampak, dan dampak tersebut sering kali
terabaikan untuk dianalisis. Padahal baik laki-laki maupun perempuan
memiliki kesempatan yang sama untuuk memperoleh manfaat dari kegiatan
tersebut, baik dalam mobilisasi kerja, kesempatan berusaha atau dalam
pengambilan keputusan dalam prakiraan dampak proses penentuan kegiatan
tersebut.
Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Jenis pekerjaan yang digeluti oleh penduduk desa nanokliwon adalah sebagai
berikut:
Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Mata Jumlah
Pencaharian (Jiwa) Persentase
Buruh 3618 23,53
Karyawan
Swasta 2954 19,2
Petani 2395 15,57
Pedagang 2033 13,21
Buruh Tani 1893 12,35
PNS 730 4,81
Jasa 316 2,04

25
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Tukang Batu 234 1,51


Pengrajin 226 1,47
Industri RT 213 1,37
TNI/Polri 161 1,05
Peternak 131 0,85
Lainnya 469 3,05
Total 15373
Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhupdan Tanah Siang
tahun 2017

2.2.4. Komponen Budaya


Sebagian besar penduduk desa Jayamekar beragama Islam. Di dalam
desa Jayamekar terdapat majelis talim dan sekelompok orang yang
berpengaruh di desa tersebut. Kelompok ini merupakan suatu potensi untuk
dijadikan wahana dalam mengadakan pertemuan dengan warga. Biasanya
mereka memiliki jadwal pertemuan rutin dan memiliki pembimbing yang
ditokohkan, sehingga pertemuan tersebut merupakan kesempatan yang baik
untuk saran sosialisasi kegiatan, dan sarana dalam proses pengambilan
keputusan yang bisa mewakili warganya.
Tabel 2.6 Komposisi Pemeluk Agama di Desa Nanokliwon
Agama Jumlah %
Islam 14.930 97,02
Protestan 262 1,75
Katholik 174 1,16
Hindu 4 0,03
Budha 6 0,04
Kepercayaan 3 0,01
Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang
tahun 2017

26
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Fasilitas Perdagangan dan Jasa di Desa Nanokliwon


Fasilitas perdagangan dan jasa yang ada di desa perencanaan dapat
dilihat pada Tabel 2.7
Tabel 2.7 Jumlah Fasilitas Perdagangan dan Jasa di Desa Nanokliwon
Fasilitas Perdagangan dan Jumlah
Jasa
Koperasi 1
Pasar 1
Toko/Kios/Warung 155
Bank 2
Stasiun -
Telepon Umum 1
Rumah Makan 1
Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhupdan Tanah Siang
tahun 2017

Fasilitas Umum Rekreasi dan Keluarga


Fasilitas umum, rekreasi dan olahraga yang terdapat di wilayah Kecamatan
Laung Tuhup yang melayani warga-warga yang berada di sepuluh desa yang
ada di dalamnya diantaranya ditunjukkan pada Tabel 2.8

Tabel 2.8 Jumlah Fasilitas Perdagangan dan Jasa di Kecamatan Laung Tuhup
Fasilitas Umum, Rekreasi dan Jumlah
Keluarga
Fasilitas Pemerintahan
Kantor Desa 10
Kantor Kecamatan 1
Instansi Otonom 8

27
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Instandi BUMN/BUMD 7
Fasilitas Rekreasi dan Olahraga
Hotel 1
Situ Ciburuy 1
Sanggar Kebudayaan 1
Bioskop 1
Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang
tahun 2017

2.2.5. Gambaran Kondisi Sosial Ekonomi, Keamanan, Kesehatan,


Tanggapan dan Harapan Warga Masyarakat terhadap Kegiatan
Penambangan Zirkon
Untuk memperoleh gambaran tentang dampak dari kegiatan
penambangan, terlebih dahulu dilakukan survey. Survey tersebut bertujuan
untuk memperoleh gambaran secara umum tentang kondisi sosial, ekonomi,
keamanan dan kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar daerah yang
direncanakan. Di samping untuk mengetahui kondisi tersebut juga studi ini
bertujuan untuk menggali tanggapan dan harapan warga masyarakat terhadap
kegiatan penambangan Zirkon yang akan dilaksanakan. Melalui survey
diharapkan bisa memperoleh informasi langsung dari warga masyarakat.
Mayarakat sangat penting untuk dimintai tanggapan, mengingat mereka
secara langsung akan terkena dampak kegiatan tersebut.
2.2.5.1. Karakteristik Responden
Pendidikan Responden
Tingkat pendidikan seseorang memiliki hubungan yang erat dengan
aksesibilitas mereka terhadap sumber informasi yang selanjutnya berpengaruh
terhadap pendapatnya tentang sesuatu hal. Berikut disajikan tingkat
pendidikan responden.

28
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Tabel 2.9 Pendidikan Responden


Tingkat Persen
Pendidikan
SLTP 4
SLTA 84
PT 12
Total 100
Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang
tahun 2017

Tabel di atas menunjukkan bahwa 84% responden berpendidikan


SLTA. Ini berarti bahwa tingkat pendidikan tersebut cukup tinggi. Dengan
tingkat pendidikan tingkat SLTA, warga masyarakat cenderung kritis artinya
tidak mudah menerima sesuatu yang baru, melainkan melalui pengkajian
terlebih dahulu.
Pekerjaan Responden
Seperti halnya pendidikan, pekerjaan juga mempunyai hubungan dengan
pendapat seseorang terhadap sesuatu hal. Untuk melihat pekerjaan responden,
datanya disajikan dalam Tabel 2.10
Tabel 2.10 Pekerjaan Responden
Pekerjaan Persen
Karyawan swasta 24
Pedagang 52
Wiraswasta 12
Pensiunan 4
Lainnya dan ibu rumah tangga 8
Total 100
Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang
tahun 2017

29
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Tabel di atas menunjukkan bahwa 52% responden memiliki pekerjaan


pedagang. Hal ini tentu saja sesuai dengan lokasi di mana mereka tinggal.
Mereka tinggal di lingkungan Nanokliwon, pusat keramaian dan pusat
perdagangan. Oleh karena itu tidak heran apabila sebagian besar pekerjaan
responden berdagang.
2.2.5.2 Kondisi Sosial Ekonomi Responden
Kondisi ekonomi responden digambarkan dengan aspek penghasilan
setiap bulan, pengeluaran tiap bulan, jumlah anggota dalam keluarga, minat
untuk terlibat dan peluang usaha menurut kaca mata responden apabila Pasar
Andir sudah direnovasi. Berikut ini gambaran kondisi ekonomi responden.
Penghasilan Responden Setiap Bulan
Penghasilan responden memiliki hubungan yang erat dengan jenis pekerjaan
pada tabel sebelumnya. Berikut disajikan gambaran tentang penghasilan
responden:
Tabel 2.11 Penghasilan Responden Per Bulan
Penghasilan Persen
< 500.000 4
500.0 750.000 32
750.000 1.000.000 36
>1.000.000 28
Total 100
Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang
tahun 2017

Tabel di atas menunjukkan bahwa 36% responden berpenghasilan


kurang dari 750.000 1.000.000. Apabila dilihat dari indicator kemiskinan
dari Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah, penghasilan tersebut tidak
termasuk dalam kategori miskin. Berdasarkan BPS tahun 2000 batas garis

30
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

kemiskinan untuk Kalimantan tengah adalah 83.790 per kapita per bulan.
Sedangkan untuk Kota Murung Raya sendiri adalah 88.931 per kapita per
bulan. Apabila jumlah anggota keluarga rata-rata 5 orang dalam satu keluarga
berarti keluarga yang berpenghasilan 444.655. Berarti penghasilan responden
yang berkisar 750.000 1.000.000 termasuk dalam kategori relatif cukup.
Jumlah Tanggungan Keluarga Responden
Jumlah anggota keluarga bisa menggambarkan jumlah tanggungan dalam
keluarga. Berikut data tentang jumlah anggota keluarga responden.
Tabel 2.12 Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah anggota keluarga Persen
<2 16
35 84
Total 100
Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Luhup dan Tanah Siang
tahun 2017

Tabel di atas menunjukkan bahwa 84% responden memiliki jumlah


anggota kelurga 3 5 orang. Hal ini bisa menunjukkan bahwa KB di lokasi
proyek cukup berhasil dan berarti pula bahwa beban keluarga mereka relatif
ringan. Namun demikian, dengan penghasilan responden yang relatif rendah,
maka mereka akan sulit untuk mencapai kesejahteraan keluarga yang lebih
baik.
Pengeluaran Rata-rata Keluarga dalam Sebulan
Pengeluaran responden dalam sebulan juga perlu diketahui untuk melihat pola
hidup responden. Besar kecilnya pengeluaran apabila dibandingkan dengan
penghasilan dalam satu bulan bisa mencerminkan pola hidup responden itu
sendiri. Berikut disajikan tabel tentang pengeluaran responden dalam satu
bulan.

31
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Tabel 2.13 Pengeluaran Keluarga Tiap Bulan


Pengeluaran Persen

< 500.000 4

500.000 750.000 32

750.000 1.000.000 44

>1.000.000 20

Total 100

Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang


tahun 2017

Data di atas menunjukkan bahwa lebih dari 44% reponden


mengeluarkan biaya hidup berkisar antara 750.000 1.000.000 sebulan.
Jumlah tersebut sama dengan jumlah penghasilan responden pada setiap
bulannya. Hal ini berarti bahwa warga masyarakat yang ada di lokasi proyek
mampu mengatur penghasilan dengan baik, sehingga apa yang dikeluarkan
untuk kepentingan rumah tangga sesuai dengan apa yang diperolehnya. Hal
ini merupakan nilai positif yang perlu diperkuat, sehingga merka tidak hidup
dalam budaya konsumtif yang akan menjebak mereka pada pola hidup besar
pasak dari pada tiang yang pada umumnya dimiliki oleh orang-orang kota.
2.2.5.3. Kesehatan Lingkungan

Sumber Air untuk Dikonsumsi

Tabel di bawah akan menunjukkan sebagian besar sumber utama air


responden yang dikonsumsi berasal dari sumur bor dan membeli. Hal ini
berarti di lokasi proyek tersebut belum ada saluran air dari PAM. 36 %
responden menyatakan bahwa sumber air minumnya diperoleh dengan cara

32
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

membeli, baik air mineral dalam kemasan atau dari penjual air dorong dari
PAM.

Tabel 2.14 Sumber Air Bersih Responden

Sumber Air Bersih


Frekuensi Persentase (%)
Responden

Sumur gali 1 4

Valid Sumur bor 15 60

Membeli 9 36

Total 25 100

Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang

tahun 2017

Hal ini disebabkan oleh kondisi air di lokasi proyek yang tidak layak
untuk diminum. Berikut gambaran kondisi air di lokasi proyek yang disajikan
di dalam Tabel 2.15

Tabel 2.15 Kondisi Air

Kondisi Air Frekuensi Persentase (%)

Baik 1 4

Valid Berbau 20 80

Berwarna 4 16

Total 25 100

Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang

tahun 2017

33
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Terlihat bahwa kondisi air di lokasi sekitar pertambangan berbau


sehingga tidak enak jika diminum dan dapat berpengaruh terhadap kesehatan.
Hal ini dapat dilihat dari kualitas air yang mangan dan besinya relatif tinggi.

Sumber Air di Luar Konsumsi

Tabel 2.16 Sumber Air Untuk Keperluan Lain

Sumber Air untuk


Frekuensi Persentase (%)
Keperluan Lain

Sumur gali 2 8
Valid
Sumur bor 23 92

Total 25 100

Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang

tahun 2017

Tabel di atas menunjukkan bahwa 92% responden menggunakan sumur bor.


Namun kebutuhan air bersih responden masih kurang. Hal ini terlihat pada
tabel berikut :

Tabel 2.17 Kebutuhan Air Bersih Responden

Kebutuhan Air
Frekuensi Persentase (%)
Bersih Responden

Cukup 3 12
Valid
Kurang 22 88

Total 25 100

Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang

tahun 2017

34
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Sebanyak 88% responden menyatakan bahwa kebutuhan airnya masih


kurang, apalagi saat musim kemarau. Kondisi ini tentu saja sangat
memprihatinkan, mengingat air merupakan kebutuhan yang vital bagi
kebutuhan manusia.

Sistem Pembuangan Air Kotor

Tabel 2.18 Sistem Pembuangan Air Kotor

Sistem Pembuangan
Frekuensi Persentase (%)
Air Kotor

Drainase kota 1 4
Valid
Disalurkan ke kali 24 96

Total 25 100

Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang

tahun 2017

Tabel di atas menunjukkan 96% responden menyatakan bahwa sistem


pembuangan air kotornya dengan cara disalurkan ke kali. Hal ini
mengkhawatirkan karena kecenderungan air permukaan tercemar sangat
tinggi. Jika sistem drainase di lingkungan warga tidak baik dan tersumbat,
akan menimbulkan banjir.
Jenis Pembuangan Sampah
Tabel di bawah menunjukkan 96% responden menyatakan bahwa tempat
pembuangan sampah yang digunakan adalah tong / bak sampah. Hal ini berarti
warga sangat bergantung pada pengelolaan sampah pada pihak lain. Jika
pengelola setempat tidak memberikan pelayanan dengan baik, lingkungan
akan menjadi kotor dan bau. Tong sampah yang dipilih karena mereka tidak
memiliki lahan untuk menyimpan.

35
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Tabel 2.19 Tempat Pembuangan Sampah

Pembuangan Sampah Frekuensi Persentase (%)

Tong / bak sampah 24 96


Valid
Sungai / selokan 1 4

Total 25 100

Sumber: Data sekunder Laung Tuhup dan Tanah Siang

tahun 2017

Cara Pengolahan Sampah

Tabel 2.20 Cara Pengolahan Sampah

Persentase
Cara Pengolahan Sampah Frekuensi
(%)

Diangkut oleh pengelola


13 52
Valid Langsung dibuang ke
12 48
TPS

Total 25 100

Sumber: Data sekunder Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang

tahun 2017

Tabel di atas menunjukkan 52% responden menyatakan bahwa sistem


pengolahan sampah dilakukan dengan cara diangkut oleh pengelola.

Jenis Bangunan Tempat Tinggal


Tabel 2.21 Jenis Bangunan Rumah
Jenis Bangunan Rumah Frekuensi Persentase (%)
Valid Permanen 24 96

36
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Tidak permanen 1 4
Total 25 100
Sumber: Data sekunder Kecamatan laung Tuhup dan Tanah Siang
tahun 2017

Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar rumah responden


permanen. Rumah sering kali dijadikan sebagai simbol kekayaan dan bahkan
status sosial. Mereka yang rumahnya bagus, permanen (tembok), bisa
dikatakan orang kaya atau orang terhormat. Padahal masih ada faktor lain
yang dinilai dari konsep rumah sehat, antara lain : cukup ventilasi, udara
cukup, sinar matahari masuk, memiliki pekarangan yang bisa berfungsi
sevagai resapan air, dan sebagainya.
Pekarangan Terbuka Hijau
Berdasarkan hasil observasi di lapangan perumahan di lokasi proyek memang
padat dan rapat. Hampir tidak ada rumah yang berhalaman, bahkan keluar
pintu rumah langsung jalan umum (gang). Hal ini berarti bahwa lokasi proyek
dapat dikatakan sebagai pemukiman kumuh. Yaitu suatu pemukiman yang
tidak memiliki standar kesehatan, kurang ventilasi, padat hunian, sistem
pembuangan limbah domestik yang tidak memadai, keterbatasan air, bermain,
dan umum sangat terbatas, jarak satu rumah dengan yang lainnya tidak ada.
Wilayah Banjir
Setengah dari responden menyatakan bahwa di wilayahnya sering terjadi
banjir. Berdasarkan hasil observasi lapangan bahwa saluran air pembuangan
yang ada memang kecil dan tidak ada tanah kosong untuk penyerapan air,
sehingga run off menjadi tinggi dan meluber dari saluran air yang ada lalu
masuk ke rumah penduduk.
Ketinggian Air Saat Banjir
Ketinggian air saat banjir adalah < 0,5 meter. Relatif tidak tinggi tetapi cukup
mengganggu.

37
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Lama Air Banjir Surut


Setengah dari responden menyatakan banjir berlangsung kurang dari satu hari.
Ini berarti banjir hanya lewat di wilayah tersebut, sebagai imbas dari wilayah
yang lebih atas.
2.2.5.4. Tanggapan Responden Terhadap Proyek
Tanggapan merupakan suatu pendapat pribadi yang disampaikan oleh
seseorang. Sebelum mengetahui tanggapan responden terhadap adanya
penambangan pasir, perlu juga diketahui pengetahuan responden tentang
rencana proyek.
Pengetahuan Responden Tentang Proyek
Warga masyarakat maupun pedagang PKL yang ada di lokasi proyek telah
mengetahui akan rencana proyek.
Dampak Negatif yang Dikhawatirkan Responden dengan Adanya
Proyek
Hal utama yang dikhawatirkan responden dengan adanya penambangan pasir
adalah gangguan keamanan dan kenyamanan. Gangguan keamanan terutama
akan banyak terjadi pada saat proses pembongkaran dan pembebasan lasan.
Kondisi ini akan diperparah oleh oknum yang memanfaatkan pungutan liar
sementara dan para preman pemalak.
Kekurangan air bersih juga menjadi kekhawatiran warga. Air bersih yang ada
sudah tidak layak dikonsumsi dan apabila pasar diperbaiki maka kebutuhan
air semakin meningkat sehingga persediaan air bagi warga masyarakat
semakin berkurang.
Dampak Positif dari Proyek
Dampak positif dari adanya penambangan pasir adalah meningkatnya tarif
hidup masyarakat sekitar karena adanya pertambangan ini. Masyarakat yang
tadinya tidak mempunyai pekerjaan sekarang dapat menjadi buruh atau
pekerja pertambangan. Hal ini juga secara tidak langsung menjadikan desa
Nanokliwon menjadi lebih maju karena mempunyai pendapan sendiri.

38
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Alasan Responden Tidak Mendukung


Sebagian besar responden menyatakan keberatannya disebabkan karena jika
adanya proses pertambangan, mereka akan takut apabila terjadi bising yang
berlebih, serta debu atau asap yang dihasilkan selama proses penggalian itu
berlangsung. Masyarakat juga keberatan karena takut lahan mereka diambil
serta lahan-lahan seperti kebun diambil.

2.3. Pelingkupan
2.3.1. Identifikasi Dampak Potensial
Dampak potensial adalah dampak yang berpotensi terjadi akibat adanya
rencana kegiatan di lokasi yang diusulkan. Inti dari langkah ini adalah
mengidentifikasi interaksi antara komponen rencana kegiatan dengan
komponen lingkungan di lokasinya. Langkah ini dilakukan oleh tim pelaksana
kajian dengan membayangkan suatu situasi di mana semua dampak mungkin
saja terjadi atau situasi terburuk. Dengan demikian, segala macam dampak
yang terpikir akan dicatat. Beberapa alat bantu yang dapat digunakan untuk
melakukan identifikasi dampak potensial di antaranya adalah sebagai berikut:
Checklist
Matriks
Bagan alir
Alat bantu yang paling mudah dan sering digunakan adalah matriks.
Matriks digunakan untuk menunjukkan interaksi antara komponen kegiatan
dengan komponen lingkungan hidup di lokasi kegiatan. Hal ini dikembangkan
dari informasi yang diperoleh dari tahap identifikasi rona lingkungan awal dan
deskripsi rencana kegiatan. Matriks disusun dengan menempatkan komponen
kegiatan dan komponen lingkungan, masing-masing, pada satu sisi pada
matriks. Untuk mengisi ruang dalam matriks, isi masing-masing baris
disandingkan dengan isi masing-masing kolom. Jika diperkirakan terjadi
interaksi antara kedua komponen tersebut,maka sel akan diisi dengan suatu
tanda. Sedangkan jika tidak terdapat interaksi, maka sel dibiarkan kosong.

39
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Gambar di belakang ini merupakan matrix yang disusun untuk


mengidentifikasi dampak potensial.

40
Flora
Fauna
Getaran

Geologi
KIMIA

Kualitas

Fisiografi
Hidrologi

Tata ruang
BIOLOGI
Kebisingan

Kualitas air
GEOFISIK

Hidrogeologi
Kualitas udara
KOMPONEN

kesuburan tanah
Kestabilan tanah
LINGKUNGAN

dan

Survey lapangan

Perolehan izin usaha


Pembebasan lahan
PRA KONSTRUKSI

Penerimaan tenaga kerja




Pengadaan alat dan bahan











Pembukaan lahan

Pembangunan akses jalan


KONSTRUKSI

Pembangunan fasilitas dan infrastruktur

Pengupasan tanah pucuk

Pengangkutan tanah pucuk

Pengeboran dan peledakan




Pemuatan overburden




Penimbunan
OPERASI

Ekskavasi pasir




Pemuatan pasir


Pengangkutan









Revegetasi


Pemindahan peralatan

Penanganan tenaga kerja


PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

41












Penutupan tambang
PASCA OPERASI

Pemantauan
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

SOSIAL,
EKONOMI,
BUDAYA
Demografi
Perubahan mata

pencaharian
Kesempatan kerja
Konflik social
Persepsi sikap

masyarakat
Keamanan dan

ketertiban umum
Pola kepemilikan

lahan
Kesehatan
masyarakat

Tabel 2.22 Metode Checklist untuk Mengidentifikasi Dampak

42
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

2.3.1.1. Pra Konstruksi

Penerimaan tenaga kerja

Demografi Perubahan Mata Kesempatan Kerja Konflik Sosial Keamanan dan


Pencaharian ketertiban umum

Bertambahnya Perubahan
Jumlah Penduduk pendapatan Naiknya Terjadinya Terganggunya Terganggunya
bulanan pendapatan Kesenjangan Sosial ketertiban umum keamanan
masyarakat penduduk

Bertambahnya
kepadatan wilayah
Terganggunya Kenyamanan
Naiknya citra masyarakat
daerah

43
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Pembebasan Lahan

Perubaha Perubahan Konflik Sosial Keamanan dan


n tata mata Ketertiban
ruang pencaharian Umum

Terganggunya Perubahan Resahnya Terganggunya Tergangguny


habitat flora dan pendapatan masyarakat ketertiban umum a keamanan
fauna bulanan
masyarakat

Terganggunya Kenyamanan
masyarakat

44
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

2.3.1.2. Konstruksi

KONSTRUKSI

Pembangunan Pembukaan Pembangunan Akses


Pengadaan Alat dan Jalan
Bahan Fasilitas dan lahan

Peningkatan Peningkata Kestabilan Penurunan Peningkatan Konsentrasi


Kadar Emisi n tanah kualitas Run-off CO2, CO,
Gas Buang Kebisingan terganggu tanah NOx
meningkat

Konsentrasi CO2, Kenyamanan Penurunan Peningkatan Penurunan Meningkatny


masyarakat Keanekaragaman Erosi
CO, NOx kualitas Air a polusi
terganggu flora dan fauna
meningkat sungai udara

Penurunan
Meningkatnya polusi kualitas air
udara di daerah
permukiman

Peningkatan Kesehatan
Sedimentasi Masyarakat

Persepsi
Masyarakat

45
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

2.3.1.3. Operasi
OPERASI

Pengupasan Pemuatan Pengeboran Penimbunan Ekskavasi,


Tanah dan pemuatan, dan
Pucuk Pengangkuta pengangkutan
n Tanah Zirkon
Penurunan Peningkatan
kualitas Kadar Emisi
tanah Gas Buang

Peningkatan debu
di kawasan
Penurunan pertambangan
Keanekaragama
Konsentrasi
n flora dan fauna
pencemar
meningkat Penurunan Terganggunya
Peningkatan Peningkatan
kesehatan flora dan fauna
Run-off Kebisingan
masyarakat
terganggu

Meningkatnya
Kenyamanan Terganggunya polusi udara di
masyarakat flora dan fauna daerah
Peningkatan Penurunan terganggu permukiman Timbulny
Erosi kualitas Air a Getaran
sungai

Penurunan Kenyamanan Terganggunya


kualitas air tanah masyarakat flora dan
terganggu fauna

46
Peningkatan Kesehatan
Sedimentasi Masyarakat
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

2.3.1.4. Pasca Operasi

PASCA OPERASI

PENANGANAN TENAGA KERJA


PEMINDAHAN PERALATAN

PENUTUPAN TAMBANG

PEMANTAUAN
REVEGETASI

Flora, Fauna, Konflik sosial,


Peningkatan Kualitas
Tata Ruang kesempatan kerja,
Pasca Operasi
keamanan dan
ketertiban
Kebisingan,
Geologi,
Getaran
kesempatan kerja,
konflik sosial,
demografi

2.3.2. Evaluasi Dampak Potensial


Setelah mengidentifikasi semua dampak yang berpotensial terjadi,
maka langkah berikutnya adalah melakukan seleksi untuk membedakan
mana yang perlu dikaji dalam ANDAL, dan mana yang tidak. Inilah esensi
dari langkah yang disebut sebagai evaluasu dampak potensial.
Dampak yang akan dikaji dalam ANDAL sebaiknya adalah dampak-
dampak yang memang perlu dikaji secara mendalam. Dengan berjalannya

47
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

waktu dan pembangunan di Indonesa, seharusnya pengalaman dan


pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan, dampak lingkungan serta
efektifitas upaya pengelolaannya sudah cukup berkembang. Denga
demikian, seharusnya jumlah dampak yang dikaji perlu dilakukan secara
tajam agar membuang sumber daya kajian yang sering terbatas.
Berikut adalah criteria dampak potensial dapat terdiri dari 4 pertanyaan,
yaitu:
1. Apakah beban terhadap komponen lingkungan tertentu sudah tinggi
2. Apakah komponen lingkungan tersebut memegang peranan penting
dalam kehidupan sehari-hari masyarkat sekitar (nilai sosial dan ekonomi)
dan terhadap komponen lingkungan lainnya (nilai ekologis)
3. Apakah ada kekhawatiran masyarakat yang tinggi tentang
komponen lingkungan tersebut,
4. Apakah ada aturan atau kebijakan yang akan dilanggar dan atau
dilampaui oleh dampak tersebut.

Tabel 2.23 Evaluasi Dampak Potensial untuk Kegiatan Pertambangan Zirkon


KRITERI DIKAJI
KOMPONEN LINGKUNGAN
SUMBER DAMPAK A DALAM
PENERIMA DAMPAK 1 2 3 4 ANDAL?
Penambangan Zirkon Perubahan bentang
Lahan YA
terbuka alam
Peningkatan fungsi
Pembukaan lahan Lahan TIDAK
lahan penambangan
Perubahan nilai fisik
Pengupasan tanah pucuk Lahan TIDAK
alam
Kenyamana Peningkatan
Pengeboran area tambang TIDAK
n kebisingan
Perubahan pola
Perubahan fungsi lahan Lahan YA
penggunaan alam

48
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Terbukanya kesempatan Pola hidup Perubahan pola mata


YA
kerja masyarakat pencaharian
Kenyamana
Peningkatan
Pengoperasian alat berat n TIDAK
kebisingan
masyarakat
Perubahan tutupan Penurunan fungsi
Flora TIDAK
vegetasi biologi lahan

= memenuhi kriteria dampak potensial

2.4. Pelingkupan Wilayah Studi


Batas wilayah studi dibentuk dari empat unsur yang berhubungan dengan
dampak lingkungan suatu rencana kegiatan, yaitu :
2.4.1. Batas proyek
Batas proyek merupakan lokasi di mana seluruh komponen rencana
kegiatan akan dilakukan, terutama komponen yang menjadi sumber
dampak. Batas proyek ditetapkan berdasarkan batas kepemilikan lahan
yang dimiliki oleh pemrakarsa.

2.4.2. Batas ekologis


Batas ekologis ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha
atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air, udara) dimana
proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan
mengalami perubahan mendasar.. Batas ekologis ini mengarah pada
penentuan lokasi pengumpulan data rona lingkungan awal dan analisis
persebaran dampak.
Batas tersebut ditentukan berdasarkan kecepatan dan pola arah aliran
angin terhadap pola vegetasi dan kontur lahan sekitar tambang sehingga
dapat berpengaruh terhadap pemukiman sekitar. Selain itu batas ekologis
ini juga ditentukan berdasarkan pola arah aliran sungai dan penggunaan
air baku sungai yang ada di sekitar lokasi proyek tambang Zirkon.

49
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

2.4.3. Batas sosial


Batas sosial merupakan ruang di mana masyarakat yang terkena
dampak limbah emisi atau kerusakan lingkungan. Batas sosial ini
dipengaruhi identifikasi kelompok masyarakat yang terkena dampak
sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

2.4.4. Batas administratif


Batas administratif merupakan ruang di mana masyarakat dapat
secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di dalam ruang
tersebut.

50
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

BAB III
METODE STUDI

3.1 Metode Pengumpulan dan Analisis Data


Sebagai dasar penyusunan Analisis Dampak Lingkungan, dilakukan
pengumpulan data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data primer
yang diambil di antaranya adalah :
1. Hasil observasi secara langsung dilapangan
2. Hasil wawancara dengan pemrakarsa proyek
3. Hasil wawancara dengan penduduk dan tokoh masyarakat
4. Hasil pengambilan sampel di lapangan dan analisis laboratorium
Sedangkan metode pengambilan data sekunder yang diambil diantaranya
adalah :
1. Studi Pustaka
2. Studi perbandingan dengan proyek sejenis
3. Data-data dari instansi terkait
4. Studi literature

3.1.1 Komponen Lingkungan Fisik Kimia


3.1.1.1 Iklim
Iklim beserta komponennya didapatkan dari Badan Meteorologi dan
Geofisika. Data yang didapatkan dat BMG adalah data tahun 2009, yaitu
data paling baru agar perkiraan dampak dapat akurat. Iklim dan
komponennya dipergunakan untuk memperkirakan dampak yang akan
terjadi kepada kualitas udara. Parameter yang dilihat dan diperhitungkan
adalah arah angin, tipe iklim, curah hujan, hari hujan dan keadaan angin.
3.1.1.2 Kualitas Udara dan kebisingan
Untuk mengetahui kualitas udara yang terdapat di sekitar lokasi
pertambangan zirkon, dilakukan suatu pengukuran berbagai jenis
pencemar udara. Parameter udara yang diukur adalah kecepatan angin,
suhu, kelembaban, cuaca, SO2, NO2, NH3, H2S, Debu, Pb, dan CO. Berikut

51
51
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

akan dijabarkan mengenai metode yang digunakan beserta peralatan yang


digunakan dalam mengukur kualitas udara. Parameter kualitas udara yang
telah diukur, selanjutnya dianalisis di laboratorium dan hasilnya akan
dibandingkan dengan baku mutu udara ambien nasional yang tercantum di
dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Untuk intensitas bising akan
dibandingkan dengan baku mutu tingkat kebisingan menurut Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48/MENLH/11/1996.
Tabel 3.1 Parameter dan metoda pengukuran kualitas udara dapat

No Parameter Metoda Peralatan


1 Kecepatan Pengukuran langsung anemometer
angin
2 Suhu Pengukuran langsung termometer
3 Kelembaban Pengukuran langsung sling psychrometer
4 Cuaca Pengukuran langsung -
5 Gas SO2 Pararosanilin Gas Sampler
6 Gas NOX Saltzman Gas Sampler
7 Gas NO2 Saltzman Gas Sampler
8 Gas CO NDIR NDIR Analizer
9 Gas CO2 NDIR NDIR Analizer
10 Gas H2S Mercury Thiocianate Gas Sampler
11 Gas NH3 Indofenol-spectrofotmetri Gas Sampler
12 Debu < 100 Gravimetrik High Volume Dust
13 Debu < 10 Gravimetrik Sampler
14 Pb Gravimetrik Low Volume
15 Gas O3 AAS Sampler
16 Kebisingan NBKI-spectrofotmetri High Volume
17 Sound Level Meter Sampler
Gas Sampler
Sound Level Meter

52
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Penentuan lokasi titik sampel pengamatan kualitas udara didasarkan pada:


Hubungan kegiatan dengan lokasi sekitarnya.
Kemungkinan penyebaran limbah gas ke lokasi terdekat terutama
permukiman sesuai dengan arah angin dominan.

3.1.2 Aspek Biologi


3.1.2.1 Flora Darat
Tahap-tahap dalam pengkajian aspek flora meliputi :
1. Pengamatan Pendahuluan
Pengamatan pendahuluan terdiri atas pengamatan sepintas secara
menyeluruh terhadap tipe komunitas vegetasi di dalam dan sekitar lokasi
di Desa Nanokliwon, Cangkang, Muwun, Tabulang, Olung Oru, Dikung
Bakung, dan Saripoi, Kecamatan laung Tahup dan Tanah Siang. sehingga
diperoleh gambaran umum mengenai garis besar kelompok, posisi flora
dan bagaimana hubungannya dengan lingkungannya secara timbal balik.
Pengumpulan data dilakukan dengan inventarisasi dan wawancara dengan
penduduk. Wawancara dilakukan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang
mempunyai manfaat khusus dan mempunyai nilai ekonomis. Selain itu
dilakukan inventarisasi jenis tumbuhan yang endemik, langka dan
dilindungi undang-undang. Dalam kasus ini, tidak ada flora darat yang
dilindungi oleh undang-undang.
2. Pengamatan Petak Contoh
Untuk memperoleh gambaran yang mendekati kebenaran mengenai
sifat-sifat dari populasi suatu vegetasi dengan sejumlah petak contoh yang
relatif sedikit yang dapat mewakili dari keadaan seluruh vegetasi yang
diamati. Dengan populasi vegetasi yang beragam dan stratum yang
berbeda-beda fisionominya, maka distribusi petak contoh yang digunakan
adalah sampling bertingkat dengan memakai metoda kuadrat. Parameter
yang didapat dalam analisis vegetasi yaitu persentase penyebaran,
kerapatan, frekuensi dan dominansi, baik mutlak maupun relatif. Hasil

53
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

tersebut digunakan untuk menghitung SDR (perbandingan nilai penting),


Indeks Nilai Penting, Indeks Kesamaan (Similarity Index) dan Indeks
Keanekaan.
Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Kerapatan (batang/Ha)
Jumlah individu suatu jenis
K =
Luas areal seluruh petak contoh
Kerapatan Relatif (%)
Kerapatan suatu jenis
KR = x 100 %
Total kerapatan seluruh jenis
Dominansi (m2/Ha)
Basal area suatu jenis
D=
Luas seluruh petak contoh
Dominansi Relatif (%)
Dominansi suatu jenis
DR = x 100 %
Total dominansi seluruh jenis
Frekuensi
Jumlah petak terisi suatu jenis
F=
Jumlah petak contoh seluruhnya
Frekuensi Relatif (%)
Frekuensi suatu jenis
FR = x 100 %
Total frekuensi seluruh jenis

54
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Rumus diatas digunakan untuk menghitung Nilai Dominansi (SDR) dan


Indeks Nilai Penting (INP). Nilai dominansi dengan menggunakan
persamaan :
FR + DR + KR
SDR (%) =
3
Nilai INP menggambarkan struktur vegetasi pada daerah dengan
menggunakan persamaan :
INP = KR + DR + FR
3.1.1.4 Fauna Darat
Tahap-tahap dan cara memperoleh data fauna meliputi :
1. Pengamatan pendahuluan, yang terdiri atas pengamatan sepintas
secara menyeluruh terhadap tipe komunitas/habitat di dalam dan di sekitar
daerah, daftar jenis satwa, status kelangkaan jenis, pola migrasi dan
struktur habitatnya. Data jenis fauna yang dikumpulkan mencakup satwa
dari kelas mamalia, aves, reptilia, amphibia dan serangga.
2. Pengumpulan data jenis satwa dilakukan dengan inventarisasi jenis
dan wawancara dengan penduduk. Inventarisasi dilakukan dengan
penjelajahan di berbagai tipe habitat yang ada di daerah yang diteliti.
Wawancara dilakukan untuk melengkapi data bagi satwa yang jarang dan
sulit ditemukan, dan mengetahui jenis satwa yang mempunyai nilai
ekonomis. Dicatat pula jenis satwa yang endemik, langka dan dilindungi
undang-undang. Pengumpulan data populasi, metoda yang digunakan
yaitu IPA (Indices Ponctoes dAbondance, Blondel et al., 1970).

55
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Analisis data :
Indeks kelimpahan (Jorgensen, 1974), rumus :

Ni
Di = x 100
N
dimana :
Di = Indeks kelimpahan dari jenis i
Ni = Jumlah individu dari jenis I
N = Jumlah total individu dari seluruh jenis
penilaian :
a. Jenis dominan lebih dari 5%
b. Sub dominan 2% - 5%
c. Tidak dominan 0% - 2%
Indeks Kesamaan (Sorensen Index), rumus :

2C
S=
A+B
dimana :
S = Indeks kesamaan Sorensen
A = Jumlah jenis yang ada pada daerah A
B = Jumlah jenis yang ada pada daerah B
C = Jumlah jenis yang ada pada daerah A dan B

3.1.3 Hidrologi
Komponen hidrologi yang dianalisis meliputi kualitas dan kuantitas
air permukaan serta kondisi fisik dan kualitas air tanah.

56
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

a. Air Tanah
Pengamatan kondisi air tanah dilakukan terhadap sumur gali. Data
diperoleh dari hasil data sekunder. Pengambilan sampel air tanah
dilakukan pada sumur penduduk di daerah proyek dan sekitarnya.
Parameter kualitas air tanah tersebut dibandingkan dengan baku mutu.
b. Air Permukaan
Parameter kualitas air yang diukur meliputi fisik, kimia dan biologi
air berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.82 Tahun 2001 tentang
Pengendalian Pencemaran Air untuk menentukan status mutu air bagi
peruntukan tertentu dan baku mutu yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Daerah Propinsi Kalimantan Tengah. Contoh air diambil dengan
menggunakan "botol sampler". Penentuan lokasi titik sampel air didasarkan
pada lokasi sumber air baik air permukaan maupun air tanah yang akan
digunakan untuk kegiatan dan operasional PLTU dan kebutuhan
masyarakat setempat.
Tabel 3.2 Metoda Analisis Kualitas Air Sumur Penduduk

No Parameter Satuan Metoda/Peralatan

A. FISIKA
1 Bau - Pengamatan
2 Zat padat Terlarut (TDS) mg/L Gravimetrik/Timbangan Analitik
NTU
3 Kekeruhan Turbidimeter
B. KIMIA
1 pH - Pengukuran/pH meter
2 Besi (Fe) mg/L Spektrofotometrik/AAS
3 Chlorida (Cl) mg/L Titrimetrik/Buret
4 Mangan (Mn) mg/L Spektrofotometrik/AAS
5 Nitrat (NO3-N) mg/L Spektrofotometrik/Spektrofotometer
6 Nitrit (NO2-N) mg/L Spektrofotometrik/Spektrofotometer
7 Sulfat (SO4) mg/L Spektrofotometrik/Spektrofotometer

57
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

No Parameter Satuan Metoda/Peralatan

8 Zat organik (KMnO4) mg/L Titrimetrik/buret


9 Flourida (F) mg/L Spektrofotometrik/Spektrofotometer
10 Kesadahan (CaCo3) mg/L Tritrimetri/Buret
11 Detergent mg/L Metode MBAS
12 Zat Organik mg/L Titrasi Permanganometri
13 Sisa Klor mg/L Titrasi Argentometri
14 C. MIKROBIOLOGI
15 Koli Fekal MPN/100 ml Pengenceran/tabung fermentasi
16 Total koli MPN/100 ml Pengenceran/tabung fermentasi

Tabel 3.3 Metoda Kualitas Air Sungai

No. Parameter Satuan Metoda dan Alat Pengukuran

Fisik
1. Suhu Air C Termometer
2. Zat padat tersuspensi mg/l Gravimetrik, dry weight
3. Daya Hantar Listrik umhos/cm SCT-meter
4. pH - pH meter digital

Kimia
6. COD mg/l Permangometrik
7. BOD5(20C) mg/l Winkler, Titrimetrik
8, Minyak & Lemak mg/l Ekstraksi-Soxhlet

Sumber: Baku mutu mengacu pada SK Gubernur Kalimantan Tengah


No. 38 Tahun 1991 Golongan B,C,D

58
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Lokasi pengukuran dan pengambilan contoh air sungai tersebut ditentukan


berdasarkan pertimbangan aspek-aspek sebagai berikut :
a. Hubungan antara kegiatan Pertambangan zirkon dengan kegiatan lain
disekitarnya.
b. Sebagai badan air yang berpotensi terpengaruh oleh limbah dari
Pertambangan zirkon.
Untuk mengevaluasi kualitas air sungai pada setiap titik sampling
akan dibandingkan dengan baku mutu menurut SK. Gubernur Kalimantan
Tengah No. 38 Tahun 1991 tentang Peruntukan Air dan Baku Mutu Air
Pada Sumber Air di Kalimantan Tengah, sedangkan untuk kualitas air tanah
akan dibandingkan dengan daftar persyaratan Kualitas Air Bersih yang
terdapat di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan
Kualitas Air.

Metoda Perhitungan:
Perhitungan Debit
Pengukuran debit sungai sesaat dilakukan di areal proyek dan
sekitarnya. Lokasi pengukuran debit air adalah sama dengan lokasi
pengambilan sampel kualitas air sungai dan lokasi lainnya. Pengukuran
debit dilakukan untuk memberikan gambaran umum kuantitas sungai di
daerah studi. Pendekatan persamaan empirik digunakan untuk
memperkirakan debit sesaat sungai (Sostrodarsono dan Takeda, 1993)
yaitu:
Q = k x A x V
dimana :
Q = Debit aliran (m3/det)
A = Luas penampang sungai (m2)
V = Kecepatan aliran yang melalui penampang tersebut (m/det)
k = Faktor koreksi pengukuran kecepatan aliran sungai

59
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Luas penampang sungai ditentukan dengan cara mengukur lebar


muka air dan kedalaman sungai di beberapa titik pengukuran ke arah lebar
sungai. Kecepatan aliran sungai yang diukur adalah kecepatan aliran
permukaan air sungai dengan menggunakan pelampung permukaan,
selanjutnya dibandingkan dengan data sekunder.

Air Larian
Perkiraan kenaikan air larian disebabkan oleh pendirian suatu bangunan
di lahan tertentu, hal ini dapat dihitung dengan persamaan berikut :

Q = ( CR - CP ) I A
dimana :
Q = Debit aliran (m3/hari-hujan)
I = Intensitas hujan (m/hari-hujan)
A = Luas seluruh daerah bangunan (m2)
CR = Koefisien air larian rata-rata sesudah dibangun
CP = Koefisien air larian sebelum dibangun
Harga CR adalah :
(C1.a + C2.b + C3.c + ...)
CR =
(a + b + c)
dimana :
C1 = Koefisien air larian untuk bangunan
a = Luas bangunan
C2 = Koefisien air larian untuk jalan
b = Luas jalan

Analisis neraca air mempergunakan persamaan sebagai berikut:


P = ET + R + I
dimana:
P = Besarnya curah hujan tahunan (mm)
ET = Besarnya evapotranspirasi (mm)

60
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

R = Besarnya run off (mm)


I = Besarnya infiltrasi (mm)

3.1.4 Aspek Sosial Ekonomi Budaya


3.1.4.1 Metoda Pengumpulan Data
1. Studi Kepustakaan dan Data Sekunder
Studi kepustakaan dimaksudkan untuk mengkaji teori, konsep,
variabel dan parameter-parameter sosekbud yang ditelaah dalam studi ini.
Disamping itu, kajian kepustakaan juga dimaksudkan untuk memperoleh
data/informasi sosekbud dari hasil penelitian para ahli. Kajian
kepustakaan yang digunakan dalam studi ini terdiri atas berbagai publikasi
ilmiah, baik kajian teoritis murni maupun hasil-hasil penelitian/kajian
empiris.
Studi data sekunder dimaksudkan untuk memperoleh data dan
informasi yang mencakup aspek demografi, ekonomi dan kesehatan
masyarakat baik pada tingkat desa, kecamatan. Data demografi didapat
dari data Desa nanokliwon, Cangkang, Muwun, Tabulang, Olung Oru,
Dikung Bakung, dan Saripoi, Kecamatan laung Tahup dan Tanah Siang.
dalam angka dan berbagai studi kependudukan dan sosial ekonomi lainnya
yang dipandang perlu untuk di dapat.
Data komponen budaya yang diperlukan adalah Komposisi pemeluk
agama. Data ekonomi social yang dirasa perlu antara lain adalah fasilitas
perdagangan dan jasa serta fasilitas umum rekreasi keluarga. Sedangkan
data kesehatan masyarakat yang diperlukan diantaranya adalah data
jumlah dan jenis fasilitas kesehatan, cakupan tenaga dokter/paramedis,
insidensi dan prevalensi penyakit.
Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan menggunakan
daftar isian dan check list yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data
sekunder yang diperlukan dikumpulkan dari:
Kantor Kecamatan laung Tahup dan Tanah Siang.
Publikasi lainnya yang terkait dengan studi ini.

61
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

2. Data Primer
Metoda pengumpulan data sosial yang digunakan adalah sebagai
berikut :
A. Wawancara terstruktur
Wawancara terstruktur merupakan metoda pengumpulan data primer pada
sejumlah responden terpilih melalui kegiatan wawancara dengan
menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan sekumpulan pertanyaan
yang disebarkan kepada beberapa sampel masyarakat secara merata di
Kecamatan laung Tahup dan Tanah Siang untuk mendapatkan informasi
yang dibutuhkan terkait proyek pertambangan.
B. Wawancara mendalam (Indepth interview)
Wawancara dilakukan dengan tokoh-tokoh masyarakat, baik formal
maupun non formal dengan menggunakan pedoman wawancara.
C. Observasi/Pengamatan Lapangan
Observasi/pengamatan lapangan merupakan kegiatan pengamatan
terhadap obyek studi secara langsung.

3. Penarikan Sampel
Metoda penarikan sampel yang digunakan adalah metoda Stratified
Random Sampling.
Metoda Stratifield Random Sampling yang digunakan adalah sebagai
berikut :
Ni
ni = x n
N
dimana :
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
i = strata ke i

62
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

3.1.4.2 Metoda Analisis


Metode analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. Analisis
kualitatif digunakan dalam analisis sosial budaya yang meliputi parameter
persepsi dan sikap masyarakat/persepsi dan sikap tokoh-tokoh desa
melalui wawancara mendalam.

3.1.5 Kesehatan Masyarakat


Yang dikaji pada aspek kesehatan masyarakat adalah :
Sanitasi/Kesehatan Lingkungan
a. Sumber air untuk dikonsumsi
b. Sumber air di luar konsumsi
c. Cakupan Sistem Pembuangan Air Kotor
d. Sistem pembuangan sampah domestik beserta pengolahan sampah
e. Gangguan kenyamanan yang banyak muncul

3.2 Metode Prakiraan Dampak Penting


Metode-metode yang dapat digunakan untuk memproyeksikan dampak
besar dan penting dari pelaksanaan proyek terhadap lingkungan sekitar antar
lain :
1. Metode perhitungan matematis
Hasil yang didapat dari metode ini yaitu proyeksi sebaran dampak dari proyek,
seperti proyeksi pertambahan jumlah penduduk, sebaran pencemar di
lingkungan sekitar kawasan, dll.
2. Metode simulasi visual dan peta
Hasil yang didapat dari metode ini yaitu penggambaran dari sebaran dampak
proyek, seperti sebaran penduduk dan pertumbuhannya, sebaran zat-zat
pencemar yang ditimbulkan.
3. Metode analogi
Hasil-hasil dari studi kasus pada proyek-proyek serupa terdahulu dipakai untuk
membantu memperkirakan dampak penting yang mungkin ditimbulkan pada
proyek baru ini.

63
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

4. Penilaian ahli profesional


Dalam memiilih metode yang tepat harus memilih, kelebihan dan
kelemahan dari tiap metode baik dari fungsi maupun cara kerjanya. Metode
yang digunakan perkiraan dampak penting terhadap kegiatan pertambangan
zircon di Desa nanokliwon, Cangkang, Muwun, Tabulang, Olung Oru, Dikung
Bakung, dan Saripoi, Kecamatan laung Tahup dan Tanah Siang menggunakan
metode Checklist Sederhana karena metode ini dianggap paling mudah, dan
dapat menghemat waktu.
Pada dasarnya berbentuk daftar dari komponen lingkungan yang akan
diduga dampaknya baik yang menguntungkan ataupun merugikan terhadap
tahapan pembangunan yaitu :
a. Tahap Pra-Konstruksi
b. Tahap Konstruksi
c. Tahap Operasi
d. Tahap Pasca-Operasi

Berdasarkan tabel checklist tersebut dapat pula disusun suatu daftar


dampak lingkungan proyek yang dikelompokkan ke dalam tingkatan
pembangunan proyek dengan uraiannya agar dapat dilihat urutan dari dampak
sebagai berikut:
a. Tahap Pra-Konstruksi
Dampak pada tahap ini termasuk ke dalam dampak saat pembebasan lahan,
penjelasan terhadap dampak terhadap tiap komponennya telah dijelaskan pada
bab 2.3
b. Tahap Konstruksi
Pengadaan alat dan bahan, pembukaan lahan, pembangunan lahan ,
pembangunan akses jalan dan pembangunan fasilitas infrastruktur adalah
pekerjaan-pekerjaan yang dapat menimbulkan dampak penting dan besar.
c. Tahap Operasi
Pada tahap ini banyak sekali pekerjaan yang dapat menimbulkan dampak besar
dan penting, antara lain adalah Pengupasan lahan pucuk, pengangkutan tanah

64
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

pucuk, pengeboran, pemuatan overburden, penimbunan, ekskavasi zircon dan


pemuatan zircon. Dampak yang ditimbulkan sebagian besar berpengaruh
kepada kesehatan masyarakat, dan kenyamanan.
d. Tahap Pasca Operasi
Proses yang termasuk ke dalam tahap ini sebagian besar menimbulkan dampak
yang positif terhadap komponen lingkungan, seperti revegetasi, namun
terdapat juga dampak negatifnya antara lain adalah pada saat pemindahal alat-
alat.
Proses penentuan dampak yang akan terjadi dilihat dari berbagai macam
perspektif, seperti :
a. Proses kegiatannya
Proses kegiatan sangat menentukan seberapa luas dampak akan tersebar
b. Alat-alat yang digunakan
c. Lama pekerjaan
Komponen Lingkungan yang dikaji adalah :
a. Komponen Geofisik-Kimia
b. Komponen Biologi
c. Komponen Sosial, Ekonomi, dan Budaya

3.3 Metode Evaluasi Dampak Penting


Untuk memperkirakan komponen-komponen lingkungan yang akan
terkena dampak, dilakukan pembuatan simple checklist yang menandai
komponen-komponen kegiatan yang memiliki pengaruh terhaap komponen
lingkungan. Metode prakiraan dampak dilaksanakan dengan menggunakan
pendekatan sebagai berikut:
Pendekatan secara model matematis merupakan perkiraan dampak yang
paling baik bila tersedia cukup data dan model yang sesuai dengan data yang
ada.
Pendekatan secara standar baku mutu lingkungan merupakan perkiraan
dampak dengan menggunakan baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan
oleh pemerintah.

65
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Pendekatan secara analogi merupakan perkiraan dampak dengan mencari


persamaan pola dengan kasus-kasus serupa yang telah ada.
Profesional judgement yang merupakan pendugaan dampak oleh tenaga ahli
berdasarkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki yang dikaitkan dengan
fenomena di lapangan.
Dalam menentukan dampak penting pada laporan ini digunakan
pendekatan secara standar baku mutu lingkungan dengan melihat analogi
terhadap kasus-kasus serupa yang pernah terjadi sebelumnya.
Dalam evaluasi dampak yang terjadi digunakan metode checklist, dengan
mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang akan menghasilkan dampak terhadap
lingkungan.
Secara garis besar pentingnya suatu dampak adalah bila kondisi berikut
tercapai :
1. Jumlah manusia yang terkena dampak
Dampak dapat dikatakan penting jika manusia yang terkena dampak negatif
langsung jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang
menerima manfaat positif langsung proyek.
2. Luas wilayah penyebaran dampak
Dampak dikatakan penting jika sebarannya dua kali atau lebih luas dari luas
wilayah perencanaan atau telah melewati batas-batas administratif kabupaten.
3. Lamanya dampak berlangsung
Dampak dikatakan penting jika dampak berlangsung selama minimal satu
tahapan kegiatan proyek.
4. Intensitas dampak
Dampak dikatakan penting jika intensitas dampak negatif telah menyebabkan
kemerosotan daya toleransi lingkungan secara drastis dalam waktu yang
singkat dan ruang yang luas.
5. Banyaknya komponen lingkungan yang akan terkena dampak
Dampak dikatan penting jika komponen-komponen lingkungan yang terkena
dampak sekunder atau tersier lebih banyak atau sama dengan komponen
lingkungan yang terkena dampak penting.

66
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

6. Sifat kumulatif dampak


Dampak dikatakan penting jika akumulasi dampak terjadi terus menerus
sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan dan menimbulkan ruang yang
relatif luas bahkan terjadi fenomena sinergetik (saling memperkuat di wilayah
sebarannya).
7. Berbalik (reversibel) atau tidak berbaliknya (Irreversibel) dampak tersebut.
Dampak dikatakan penting jika komponen lingkungan yang terkena dampak
tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia.
Untuk beberapa aspek, evaluasi dilakukan melalui perbandingan dengan
standar kualitas lingkungan yang berlaku.

67
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

BAB IV
PELAKSANAAN STUDI

4.1 Pemrakarsa
Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas
suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pemrakarsa
perencanaan penambangan zirkon di Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah
Siang, Kabupaten Murung Raya yaitu:
Nama Proyek : Pembangunan Pertambangan Zirkon Desa
nanokliwon, Cangkang. Muwun, Tabulang, Olung Oru, Dikung Bakung, dan
Saripoi, Kecamatan Laung Tuhup dan Tanah Siang Provinsi Kalimantan
Tengah.
Pemilik Proyek : PT. Zircon Zaman Now Indonesia
Pemrakarsa : PT. Zircon Zaman Now Indonesia
Alamat : Jln. Sangaji No. 06 RT/RW. 02/III Puruk Cahu,
Kalimanran Tengah

4.2 Penyusun Studi Amdal


Sebagai penanggungjawab penyusunan studi ANDAL Pembangunan
Pertambangan Zircon di Padalarang adalah :
Nama Konsultan : PT. Maju Mundur Bersama
Penanggung Jawab : Ayu Lusi Natallia
Alamat : Jl. G Obos V, Gg Sejahtera No. 126 Kal-Teng
Sedangkan tim penyusunan studi AMDAL Pembangunan Pertambangan
Zircon di Gunung Bentang, Padalarang adalah :
Ketua Tim : Ayu Lusi Natallia
Ahli Pertambangan dan Geologfi : Tiara Nasution
Ahli Bid. Tanah dan Agronomi : Elistia Tri Falupi
Ahli Bid. Flora dan Fauna : Maratus Sholihah
Ahli Hidrologi dan Biota Air : Efa Octavia Jawak

68
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

Ahli Kualitas Air dan Ilmu Lingkungan : Ayu Lusi Natallia


Ahli Biologi : Elis Malinda
Ahli Sosial-Ekonomi : Xandro Ariesdewa
Assisten Penyusun (sertifikat Amdal B) : Anju Meifan S

4.3 Biaya Studi


Besarnya biaya Studi yang dibutuhkan didalam penyusunan studi ANDAL
didasarkan atas lingkup studi yang akan ditelaah. Adapun rincian rencana
pengeluaran biaya adalah digunakan untuk sebagai berikut :
1. Biaya survey
2. Biaya wawancara dengan responden/Komunikasi
3. Biaya untuk Tenaga Ahli
4. Biaya pengamatan/observasi lapangan
5. Biaya penelitian
6. Biaya Administrasi
7. dan biaya lainnya

Berikut ini adalah rincian biaya :


- Tenaga Ahli : Rp. 270.000.000,00
- Biaya Akomodasi : Rp. 100.000.000,00
- Transportasi : Rp. 60.000.000,00
- Komunikasi : Rp. 10.000.000,00
- Administrasi : Rp. 10.000.000,00
Total : Rp 450.000.000,00
- Biaya tak Terduga : 10% * total
: Rp. 45.000.000,00
- Total Biaya : Rp. 495.000.000,00

69
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

4.4 Waktu Studi


Jangka waktu pelaksanaan studi AMDAL sejak tahap persiapan hingga
penyerahan laporan ke instansi yang bertanggung jawab adalah 1 tahun. Hal
ini dikarenakan hal-hal sebagai berikut:
a. Asumsi perkembangan dari proyek ini sangat cepat sehingga dampaknya
pun dapat diketahui dengan cepat pula.
b. Waktu satu tahun maksimum merupakan waktu yang cukup lama dalam
melihat reaksi warga terhadap proyek penambangan zirkon ini.

70
PT.ZIRKON ZAMAN NOW INDONESIA
MURUNG RAYA, KALTENG

DAFTAR PUSTAKA

Benbow. J., Steel Industry Minerals, Adding Value Provide the Key, Industrial
Minerals, October 1989.
Berry, L.G. and Mason, B., Mineralogy, W.H. Freeman and Company, London,
1959.
Clarke, G., The Palabora Complex, Triumph Over Low Grade Ores, Industrial
Minerals, October 1981.
Coope, B.M., Zirkon - In Good Shape After Turbulent Decade, Industrial Minerals,
December 1976.
Griffiths. J., Rare-earths, Attracting Increasing Attention, Industrial Minerals,
April 1984.
Grullemans, W., Zirkon Supply and Demand in the 1990s, 9th Industrial Minerals
International Congress, Sydney, 1990.
Industrial Minerals Supplement, Mining Journal, Vol. 308 No.7919, London, May
1990.
Kuzvart, M., Industrial Minerals and Rocks, Developments in Economic Geology,
Elsevier, Amsterdam, 1984.
Logam Nusantara, Warta Logam dan Besi Baja Indonesia, No.0003, Maret 1990.
Mayer, W., A Field Guide to Australian Rocks, Minerals & Gemstones, Rigby Ltd.,
Sydney, 1976.

71