Anda di halaman 1dari 21

Tugas kelompok:

“MAKALAH SEMINAR AKUNTANSI”


Standar Akuntansi Keuangan untuk
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
(SAK ETAP)

Disusun oleh:
Kelompok II
Siti Annisa A311 13 002
Risna Rizal A311 13 011
Mardayanti A311 13 020
Abd Akram H A311 13 045
Asnur Srihartuti A311 13 535

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Standar
Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK
ETAB)”. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Seminar Akuntansi.

Meskipun dalam penyusunan makalah ini penulis banyak menemukan


hambatan dan kesulitan, tetapi karena motivasi dan dorongan dari berbagai pihak
makalah ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari bahwa pada penulisan
makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak yang membaca makalah ini yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak yang
membacanya.

Makassar, 12 September 2016

Penulis

Makalah Kelompok II 2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... 2


DAFTAR ISI ................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 4


1.1 Latar Belakang ................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 4
1.3 Tujuan Materi..................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 6


2. 1 Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Umum .................................... 6
2. 2 Standar Akuntansi Keuangan Untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas 7
Publik (SAK ETAP) .......................................................................... 7
2. 3 Manfaat dan Tujuan SAK ETAP ....................................................... 8
2. 4 Perbedaan Antara SAK Umum Dengan SAK ETAP ........................ 9
2. 5 Isu – Isu Krusial Seputar SAK ETAP ................................................ 17

BAB III PENUTUP ........................................................................................ 20


Kesimpulan .................................................................................................. 20

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 21

Makalah Kelompok II 3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah meluncurkan standar akuntansi ETAP
(SAK-ETAP) bertepatan dalam acara Seminar Nasional Akuntansi “Tiga
pilar Standar Akuntansi Indonesia” yang dilaksanakan oleh Universitas
Brawijaya dan Ikatan Akuntan Indonesia. Nama standar ini sedikit unik
karena exposure draftnya diberi nama Standar Akuntansi UKM (Usaha
Kecil dan Menengah), namun mengingat definisi UKM sendiri sering
berubah, maka untuk menghindari kerancuan, standard ini diberi nama SAK
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Apabila SAK-ETAP ini telah berlaku
efektif, maka perusahaan kecil seperti UKM tidak perlu membuat laporan
keuangan dengan menggunakan PSAK umum yang berlaku. Di dalam
beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan
dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih
kompleks. Perbedaan secara kasat mata dapat dilihat dari ketebalan SAK-
ETAP yang hanya sekitar seratus halaman dengan menyajikan 30 Bab.
Sesuai dengan ruang lingkup SAK-ETAP maka standar ini dimaksudkan
untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa standar akuntansi keuangan (SAK) umum itu sendiri?
2. Bagaimana standar akuntansi keuangan untuk entitas tanpa
akuntabilitas publik (SAK ETAP)?
3. Apa manfaat dan tujuan SAK ETAP?
4. Apa perbedaan antara SAK umum dengan SAK ETAP?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui standar akuntansi keuangan (SAK) umum itu
sendiri.
2. Untuk mengetahui standar akuntansi keuangan untuk entitas tanpa
akuntabilitas publik (SAK ETAP).

Makalah Kelompok II 4
3. Untuk mengetahui manfaat dan tujuan SAK ETAP.
4. Untuk mengetahui perbedaan antara SAK umum dengan SAK ETAP.

Makalah Kelompok II 5
BAB II
PEMBAHASAN

2. 1 STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK) UMUM


Standar Akuntansi Keuangan menciptakan metode yang seragam untuk
menyajikan informasi, sehingga laporan keuangan dari berbagai perusahaan yang
berbeda dapat dibandingkan dengan lebih mudah. Kumpulan konsep, standar,
prosedur, metode, konvensi, kebiasaan dan praktik yang dipilih dan dianggap
berterima umum disebut: Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).
Pengaturan akuntansi di Indonesia sebelum konvergensi IFRS merupakan
pengaturan yang kebanyakan diambil dari US GAAP (standar akuntansi
Amerika). US GAAP merupakan standar akuntansi yang rule based dan cukup
powerful di negaranya. Hal ini dikarenakan standar ini memang diciptakan dengan
tujuan untuk mengatur berbagai praktik akuntansi dan instrumen keuangan yang
muncul di Amerika. Kita tahu bahwa amerika adalah negara yang
perekonomiannya menggunakan liberalisme pasar (kapitalisme murni) yang mana
perekonomiannya dikendalikan oleh pasar (entitas penjual dan pembeli). Supaya
perekonomian dan sumber daya di Amerika dapat dikelola secara efektif dan
efisien, maka entitas-entitas yang menguasai pasar ini harus dikendalikan.
Pengendalian ini menggunakan standar akuntansi. Hal inilah yang menyebabkan
Amerika memiliki pengaturan standar akuntansi yang rigid dan powerful untuk
praktik di negaranya, dan enggan untuk melakukan konvergensi dengan IFRS
(namun Amerika akhirnya setuju untuk konvergensi pada tahun 2014).
SAK yang dikonvergensikan dengan IFRS ini diterapkan pada entitas-
entitas yang memiliki fungsi fidusia (memegang kepentingan orang banyak) atau
disebut juga dengan berakuntabilitas publik. Contoh entitas yang memiliki fungsi
fidusia adalah entitas perbankan, BUMN, dan entitas yang menjual saham di pasar
modal. Komponen utama dari SAK adalah Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) yang diadopsi dari International Accounting Standard (IAS)
dan International Financial Reporting Standard (IFRS), dan Intepretasi atas
Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang diadopsi dari SIC (Standard
Intepretation Committee) dan IFRIC (International Financial Reporting
Intepretation Committee). Hal ini berarti bahwa IFRSs terdiri dari IAS, IFRS,

Makalah Kelompok II 6
SIC, dan IFRIC. Perbedaannya, IAS dibuat oleh International Accounting
Standards Committee (IASC) organisasi pendahulu IASB yang berdiri pada tahun
1973. IASC ini kemudian direstrukturisasi menjadi IASB pada tahun 1999.

2. 2 STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN UNTUK ENTITAS TANPA


AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK ETAP)
Pada tanggal 19 Mei 2009, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK)
mengesahkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK ETAP). SAK ETAP ini nampak berbeda dengan International
Financial Reporting Standard for Small and Medium-sized Entities (IFRS for
SMEs). Meskipun memiliki judul yang berbeda, namun baik SAK ETAP maupun
IFRS for SMEs sama-sama diperuntukkan bagi entitas tanpa akuntabilitas publik,
hanya saja istilah yang digunakan sebagai judul pada IFRS adalah small and
medium-sized entities / SMEs (Riska: 2012).
Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
(SAK ETAP) adalah standar yang dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas
tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud
adalah entitas yang: (a) tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan (b)
menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial
statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik
yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga
pemeringkat kredit.
Lebih lanjut ruang lingkup standar ini juga menjelaskan bahwa entitas
dikatakan memiliki akuntabilitas publik signifikan jika:

a. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran atau entitas dalam proses


pengajuan pernyataan pendaftaran pada otoritas pasar modal (BAPEPAM-
LK) atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal.
b. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok
besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan/atau pedagang
efek, dana pensiun, reksa dana, dan bank investasi.

Makalah Kelompok II 7
SAK ETAP menggunakan acuan IFRS for Small Medium Enterprises
(SME) yang lebih sederhana antara lain:
1. Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga perolehan.
2. Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai investasi dengan metode
ekuitas.
3. Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan.
4. Laporan keuangan sesuai SAK ETAP menyajikan informasi mengenai
posisi keuangan, kinerja, dan arus kas entitas yang berguna bagi pengguna
luas.

Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil dan menengah


dapat menyusun laporan keuangannya sendiri dan dapat diaudit untuk
mendapatkan opini audit. Informasi keuangan yang sederhana tetapi memberikan
informasi yang andal. SAK ETAP disusun dengan mengadopsi IFRS for SME
dengan modifikasi sesuai dengan kondisi di Indonesia (Nugrohudi: Makalah
ETAP).

2. 3 MANFAAT DAN TUJUAN SAK ETAP


PSAK – IFRS based sulit diterapkan bagi perusahaan menengah kecil
mengingat penentuan fair value memerlukan biaya yang tidak murah. PSAK –
IFRS rumit dalam implementasinya seperti kasus PSAK 50 dan PSAK 55
meskipun sudah disahkan tahun 2006 namun implementasinya tertunda bahkan
2010 sudah keluar PSAK 50 (revisi). PSAK – IFRS menggunakan principle
based sehingga membutuhkan banyak professional judgement. PSAK – IFRS
perlu dokumentasi dan IT yang kuat. SAK ETAP sebagai solusi untuk SME
(ETAP) (Nugrohudi; Makalah ETAP).

SAK ETAP dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan


keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Setiap perusahaan
memiliki prinsip going concern yakni menginginkan usahanya terus berkembang.
Untuk mengembangkan usaha perlu banyak upaya yang harus dilakukan. Salah
satu upaya itu adalah perlunya meyakinkan publik bahwa usaha yang dilakukan

Makalah Kelompok II 8
dapat dipertanggungjawabkan. Dalam akuntansi wujud pertanggungjawaban
tersebut dilakukan dengan menyusun dan menyajikan laporan keuangan sesuai
dengan standar yang telah ditentukan. Penyajian laporan keuangan yang sesuai
dengan standar, akan membantu manajemen perusahaan untuk memperoleh
berbagai kemudahan, misalnya: untuk menentukan kebijakan perusahaan di masa
yang datang; dapat memperoleh pinjaman dana dari pihak ketiga, dan sebagainya.
Standar ETAP ini disusun cukup sederhana sehingga tidak akan
menyulitkan bagi penggunanya yang merupakan entitas tanpa akuntabilitas publik
(ETAP) yang mayoritas adalah perusahaan yang tergolong usaha kecil dan
menengah. ETAP sebagaimana kepanjangan yang telah diuraikan di atas
merupakan unit kegiatan yang melakukan aktifitas tetapi sahamnya tidak dimiliki
oleh masyarakat atau dengan kata lain unit usaha yang dimiliki oleh orang
perorang atau sekelompok orang, dimana kegiatan dan modalnya masih terbatas.
Jenis kegiatan seperti ini di Indonesia menempati angka sekitar 80%. Oleh sebab
itu perlu adanya perhatian khusus dari semua pihak yang berkepentingan dalam
hal penyajian laporan keuangan (Riska; 2012).

2. 4 PERBEDAAN ANTARA SAK UMUM DENGAN SAK ETAP


Mengingat kebijakan akuntansi SAK ETAP di beberapa aspek lebih ringan
daripada PSAK, maka ketentuan transisi dalam SAK ETAP ini cukup ketat. Pada
BAB 29 misalnya disebutkan bahwa pada tahun awal penerapan SAK ETAP,
yakni 1 Januari 2011, entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK
ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi
berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas
tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk
penyusunan laporan keuangan berikutnya. Oleh sebab itu per 1 Januari 2011,
perusahaan yang memenuhi definisi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik harus
memilih apakah akan tetap menyusun laporan keuangan menggunakan PSAK atau
beralih menggunakan SAK-ETAP.

Selanjutnya ketentuan transisi juga menjelaskan bahwa entitas yang


menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi
persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut

Makalah Kelompok II 9
tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP.
Hal ini misalnya ada perusahaan menengah yang memutuskan menggunakan
SAK-ETAP pada tahun 2011, namun kemudian mendaftar menjadi perusahaan
publik di tahun berikutnya. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan
berdasarkan PSAK non-ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK
ETAP ini kembali. Sebaliknya entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-
ETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi
persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut
dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan. Berikut
ini adalah tabel perbandingan PSAK dengan SAK-ETAP:
No Elemen PSAK SAK ETAP
1 Penyajian  Laporan posisi keuangan Sama dengan PSAK, kecuali
Laporan  Informasi yang disajikan dalam laporan informasi yang disajikan dalam
Keuangan posisi keuangan neraca, yang menghilangkan pos:
 Pembedaan aset lancar dan tidak lancar  Aset keuangan
dan liabilitas jangka pendek dan jangka  Properti investasi yang diukur
panjang pada nilai wajar (ED PSAK 1)
 Aset lancar  Aset biolojik yang diukur pada
 Liabilitas jangka pendek biaya perolehan dan nilai wajar
 Informasi yang disajikan dalam laporan (ED PSAK 1)
posisi keuangan atau catatan atas laporan  Kewajiban berbunga jangka
keuangan panjang
 Aset dan kewajiban pajak
(Perubahan istilah di ED PSAK 1: Neraca tangguhan
menjadi Laporan Posisi Keuangan,  Kepentingan non-pengendalian.
Kewajiban (liability menjadi liabilitas).
2 Laporan Laba Laporan laba rugi komprehensif Tidak sama dengan PSAK yang
Rugi  Informasi yang disajikan dalam laporan menggunakan istilah laporan laba
Laba Rugi Komprehensif rugi komprehensif, SAK ETAP
 Laba rugi selama periode menggunakan istilah laporan laba
 Pendapatan komprehensif lain selama rugi.
periode
 Informasi yang disajikan dalam laporan
laba rugi komprehensif atau catatan atas
laporan keuangan
3 Penyajian Sama dengan PSAK, kecuali
Perubahan untuk beberapa hal yang terkait
Ekuitas pendapatan komprehensif lain.
4 Catatan Atas  Catatan atas laporan keuangan Sama dengan PSAK, kecuali
Laporan Keuan  Struktur pengungkapan modal.

Makalah Kelompok II 10
gan  Pengungkapan kebijakan Akuntansi
 Sumber estimasi ketidakpastian
 Modal (ED PSAK 1)
 Pengungkapan lain
5 Laporan Arus  Arus kas aktivitas operasi: metode Sama dengan PSAK kecuali:
Kas langsung dan tidak langsung  Arus kas aktivitas operasi:
 Arus kas aktivitas investasi metode tidak langsung
 Arus kas aktivitas pendanaan  Arus kas mata uang asing, tidak
 Arus kas mata uang asing diatur.
 Arus kas bunga dan dividen, pajak
penghasilan, transaksi non-kas
6 Laporan  Persyaratan penyajian laporan keuangan Tidak diatur (Lihat Bab 12).
keuangan kons konsolidasi
olidasi dan  Entitas bertujuan khusus
terpisah  Prosedur konsolidasi
 Lap keu. tersendiri
 Lap keu. gabungan
7 Kebijakan PSAK 25 (Laba atau Rugi Bersih untuk SAK ETAP sudah maju satu
akuntansi, esti periode Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan langkah dibandingkan PSAK
masi, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi) (tidak ada “kesalahan mendasar”
kesalahan  Laba atau rugi bersih untuk Periode dan “laba atau rugi luar biasa”).
berjalan
 Kesalahan Mendasar
 Perubahan kebijakan Akuntansi
 Pemilihan dan penerapan kebijakan
akuntansi
 Konsistensi dan perubahan kebijakan
akuntansi
 Perubahan Estimasi akuntansi
 Kesalahan.
 Pos luar biasa
 Laba atau rugi dari aktivitas normal
 Operasi yang tidak dilanjutkan
 Perubahan estimasi Akuntansi
 Penerapan suatu standar Akuntansi
keuangan
 Perubahan kebijakan Akuntansi yang lain
8 Instrumen  Ruang lingkup: aset dan kewajiban PSAK 50 (1998).
Keuangan keuangan
Dasar  Instrumen keuangan dasar:
 Diklasifikasikan pada nilai wajar melalui
laporan laba rugi, dimiliki hingga jatuh

Makalah Kelompok II 11
tempo, tersedia untuk dijual, pinjaman dan
pinjaman yang diberikan
 Impairment menggunakan incurred loss
concept
 Derecognition
 Hedging dan derivatif
 Ruang lingkup: investasi pada efek tertentu
 Klasifikasi trading, held to maturity, dan
available for sale.
9 Persediaan  Pengukuran persediaan Sama dengan PSAK
 Biaya persediaan
 Biaya pembelian
 Biaya konversi
 Biaya lain-lain
 Biaya persediaan pemberian jasa
 Teknik pengukuran biaya
 Rumus biaya
 Nilai realisasi bersih
 Pengakuan sebagai beban
 Pengungkapan
10 Investasi  Ruang lingkup: entitas asosiasi Metode Ekuitas
pada perusahaa  Metode akuntansi
n asosiasi  Metode biaya
dan entitas
 Metode ekuitas
anak
 Model nilai wajar (ED PSAK 15)
 Ruang lingkup: entitas asosiasi dan
entitas anak
 Metode akuntansi
 Entitas asosiasi : metode biaya
 Entitas anak

11 Investasi  Jointly controlled operation, asset, and Sama dengan PSAK kecuali
pada perusahaa entity metode akuntansi hanya
n asosiasi  Metode akuntansi menggunakan metode biaya.
dan entitas  Metode konsolidasi proporsional
anak
 Metode ekuitas
 Model nilai wajar (ED PSAK 12 :
PBA/PBO/PBE)
12 Property Metode akuntansi Metode akuntansi: model biaya
Investasi  Model nilai wajar
 Model biaya
13 Aset Tetap  Menggunakan pendekatan komponenisasi Sama dengan PSAK kecuali:

Makalah Kelompok II 12
 Pengukuran menggunakan model biaya
atau model revaluasi  Tidak menggunakan pendekatan
 Pengukuran biaya perolehan komponenisasi.
 Revaluasi diijinkan jika
 Pengakuan pengeluaran selanjutnya
dilakukan berdasarkan Peraturan
 Penyusutan
Pemerintah. Hal ini mengacu ke
 Tidak perlu review nilai residu, metode PSAK 16 (1994)
penyusutan, dan umur manfaat setiap  Tidak perlu review nilai residu.
akhir periode pelaporan, tetapi jika ada
indikasi perubahan saja.
14 Asset Tidak  Prinsip umum untuk pengakuan Sama dengan PSAK, kecuali aset
Berwujud  Pengakuan awal, pengukuran selanjutnya tidak berwujud yang diperoleh
 Amortisasi selama umur manfaat atau 10 dari penggabungan usaha.
tahun
Tidak diatur
Penurunan nilai
 Menggunakan metode pembelian
 Goodwill dimaortisasi 5 tahun atau 20
tahun dengan justifikasi manajemen.
15 Sewa  Mengatur perjanjian yang mengandung
sewa
 Klasifikasi bersifat principle based
 Laporan keuangan lessee dan
 Tidak mengatur perjanjian yang
mengandung sewa (ISAK)
Lessor  Klasifikasi sewa: kombinasi
IFRS for SMEs dan SFAS 13
 Laporan keuangan lessee dan
lessor menggunakan PSAK 30
(1990): Akuntansi Sewa Guna
Usaha
 Kewajiban diestimasi Sama dengan PSAK
 Kewajiban kontinjensi
 Aset kontinjensi
16 Ekuitas  Penjelasan Sama dengan PSAK, kecuali :
 Akuntasi ekuitas untuk badan usaha  Reorganisasi
bukan PT  Selisih penilaian kembali
 Akuntansi ekuitas untuk badan usaha
berbentuk PT
 Reorganisasi
 Selisih penilaian kembali
17 Pendapatan  Penjualan barang Sama dengan PSAK.
 Penjualan jasa
 Kontrak konstruksi

Makalah Kelompok II 13
 Bunga, dividen dan royalti
 Lampiran kasus pengakuan pendapatan
(ED PSAK 23)
18 Biaya  Komponen biaya pinjaman Biaya pinjaman langsung
Pinjaman  Pengakuan dan kapitalisasi biaya dibebankan
pinjaman
19 Penurunan  Penurunan nilai persediaan Sama dengan PSAK, kecuali:
Nilai Aset  Penurunan nilai non-persediaan  Ruang lingkup yang meliputi
 Penurunan nilai goodwill semua jenis aset.
 Tidak mengatur penurunan nilai
goodwill
 Ada tambahan penurunan nilai
untuk pinjaman yang diberikan
dan piutang yang menggunakan
PSAK 31: AkuntansiPerbankan
paragraf 16 dan 17.
20 Imbalan Kerja  Imbalan kerja jangka pendek Sama dengan PSAK, kecuali
 Imbalan pasca kerja, untuk manfaat pasti untuk manfaat pasti menggunakan
menggunakan PUC PUC dan jika tidak bisa,
 Imbalan jangka panjang lainnya menggunakan metode yang
disederhanakan
Pesangon pemutusan kerja
21 Pajak  Menggunakan deferred tax concept
Penghasilan  Pengakuan dan pengukuran pajakkini
 Pengakuan dan pengukuran pajak
tangguhan
 Menggunakan tax payable concept
 Tidak ada pengakuan danpengukuran
pajak tangguhan.
22 Mata Uang  Mata uang pencatatan dan pelaporan Sama dengan PSAK Mata Uang
Pelaporan  Mata uang fungsional Pelaporan
 Mata uang fungsional
 Penentuan saldo awal
 Pelaporan transaksi mata uang
 Penyajian komparatif
asing dalam mata uang
 Perubahan mata uang pencatatan dan fungsional
pelaporan  Perubahan mata uang fungsional
(Pada prinsipnya sama).
23 Peristiwa  Peristiwa yang memerlukan penyesuaian Sama dengan PSAK
setelah  Peristiwa yang tidak memerlukan
akhir periode penyesuaian
pelaporan
24 Pengungkapan  Pengertian pihak-pihak yang mempunyai Sama dengan PSAK 7
pihak-pihak hubungan istimewa

Makalah Kelompok II 14
yang  Pengungkapan
mempunyai hu
bungan
istimewa
25 Aktivitas  Akuntansi perkoperasian Tidak diatur
Khusus  Akuntansi minyak dan gas bumi
 Akuntansi pertambangan umum
 Akuntansi perusahaan efek
 Akuntansi reksa dana
 Akuntansi perbankan dan asuransi
26 Ketentuan  Retrospektif atau prospektif
Transisi (jika tidak praktis) yang
diterapkan secara prospective
catchup (dampak ke saldo laba)
 Perpindahan dari dan ke SAK
ETAP
27 Tanggal Berlaku efektif untuk laporan
Efektif keuangan yang dimulai pada
tanggal 1 Januari 2011, penerapan
dini 1 Januari 2010.
Sumber : Majalah Akuntan Indonesia; Edisi No.19/Tahun III/Agustus 2009, Roy
Iman Wirahardja (Anggota DSAK) dan Ersa Tri Wahyuni (Direktur Teknis IAI)

Berikut ini adalah laporan keuangan yang sesuai dengan SAK ETAP (Puspita;
2015) :
1. Neraca:

Makalah Kelompok II 15
2. Laporan Laba Rugi:

3. Laporan Perubahan Ekuitas:

Makalah Kelompok II 16
4. Laporan Arus Kas:

5. Catatan Atas Laporan Keuangan

2. 5 ISU KRUSIAL SEPUTAR SAK ETAP


Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan
Menengah (ED SAK EMKM) disusun untuk memenuhi kebutuhan pelaporan
keuangan entitas mikro, kecil, dan menengah (seterusnya disebut sebagai
“entitas”) sebagaimana dideskripsikan dalam Bab 1 Ruang Lingkup (Gustani:
2016).
ED SAK EMKM ditujukan untuk digunakan oleh entitas yang tidak atau
belum mampu memenuhi persyaratan akuntansi yang diatur dalam SAK ETAP.
ED SAK EMKM tidak memberikan definisi dan kriteria kuantitatif entitas mikro,
kecil, maupun menengah. Undang-Undang No 20 Tahun 2008 tentang Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah dapat digunakan sebagai acuan dalam
mendefinisikan dan memberikan rentang kuantitatif tersebut.
ED SAK EMKM disusun berdasarkan topik dan dinyatakan dalam Bab 1
sampai dengan Bab 18. Jika referensi silang ke bab atau paragraf lain dilakukan,
maka referensi silang tersebut hanya berlaku di antara bab-bab di dalam ED SAK
EMKM ini.

Makalah Kelompok II 17
ED SAK EMKM ini diharapkan dapat membantu sekitar 57,9 juta pelaku
UMKM di Indonesia dalam menyusun laporan keuangannya dengan tepat tanpa
harus terjebak dalam kerumitan standar akuntansi keuangan yang ada saat ini. ED
SAK EMKM ini merupakan standar akuntansi keuangan yang jauh lebih
sederhana bila dibandingkan dengan SAK ETAP. Misalnya, dari sisi teknikal, ED
SAK EMKM murni menggunakan dasar pengukuran biaya historis sehingga
UMKM cukup mencatat aset dan liabilitasnya sebesar biaya perolehannya.
Dalam ED SAK EMKM, laporan keuangan entitas disusun menggunakan
asumsi dasar akrual dan kelangsungan usaha, sebagaimana yang digunakan oleh
entitas selain entitas mikro, kecil, maupun menengah, serta menggunakan konsep
entitas bisnis. Laporan keuangan entitas terdiri dari: (a) laporan posisi keuangan,
(b) laporan laba rugi, dan (c) catatan atas laporan keuangan.

Berikut contoh Format Laporan Keuangan berdasarkan ED SAK EMKM


(DSAK-IAI; 2016) :
1. Laporan Posisi Keuangan:

Makalah Kelompok II 18
2. Laporan Laba Rugi:

3. Catatan Atas Laporan Keuangan


Lihat di ED SAK EMKM!!!

Makalah Kelompok II 19
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:
SAK ETAP yang merupakan kepanjangan dari Standar akuntansi
keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ditetapkan oleh Ikatan
Akuntansi Indonesia untuk perusahaan kecil dan menengah. SAK ETAP ini
dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan.
Sesuai dengan ruang lingkup SAK ETAP maka Standar ini dimaksudkan
untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa
akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki
akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk
tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal.
Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam
pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
Laporan keuangan yang dipersiapkan sesuai dengan SAK ETAP adalah
laporan yang menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan arus
kas perusahaanyang berguna bagi pengguna laporan keuangan tersebut. Laporan
keuangan SAK ETAP tidak jauh berbeda dengan PSAK. Yang beda adalah
istilahnya dan macam laporan keuangnnya.

Makalah Kelompok II 20
DAFTAR PUSTAKA

DSAK-IAI. 2016. Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro,


Kecil, dan Menengah (ED SAK EMKM). Graha Akuntan: Jakarta.

Gustani. 2016. Ikhtisar Ringkasan ED PSAK EMKM. Diakses pada tanggal 12


September 2016 di https://gustani.blogspot.co.id/2016/08/ini-ikhtisar-
ringkasan-ed-psak-emkm.html.

Mediaty. Bahan Ajar Mata Kuliah Seminar Akuntansi. Universitas Hasanuddin:


Makassar.

Nugrohudi, B.Satriyo. Makalah ETAP. Diakses pada tanggal 12 September 2016


di http://www.academia.edu/13639712/Makalahetab.

Puspita, Indah Sari. 2015. Makalah Seminar Akuntansi: Simulasi Laporan


Keuangan SAK ETAP. Universitas Mulawarman: Samarinda.

Riska. 2012. Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Diakses pada tanggal 12


September 2016 di http://ika-accounting.blogspot.co.id/2012/02/entitas-
tanpa-akuntabilitas-publik.html.

Makalah Kelompok II 21