Anda di halaman 1dari 24

Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan

mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak


untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah
berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

LAPORAN

LAJU PERTUMBUHAN IKAN NILA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada dasarnya ikan mengalami pertumbuhan secara terus-


menerus, baik pertumbuhan bobot, panjang serta gonadnya.
Oleh sebab itu maka pertumbuhan ikan adalah salah satu
ilmu perikanan yang dipelajari di dunia perikanan.

Sebenarnya pertumbuhan itu merupakan proses biologis yang


komplek dimana banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor
luar yang utama mempengaruhi pertumbuhan seperti suhu
air, kandungan oksigen terlarut dan ammonia, salinitas
dan fotoperiod.

Menurut Mudjiman (1998), pertumbuhan didefinisikan


sebagai perubahan ikan dalam berat, ukuran, maupun volume
seiring dengan berubahnya waktu. Pertumbuhan ikan
dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor
internal merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan
ikan itu sendiri seperti umur, dan sifat genetik ikan
yang meliputi keturunan, kemampuan untuk memanfaatkan
makanan dan ketahanan terhadap penyakit. Faktor eksternal
merupakan faktor yang berkaitan dengan lingkungan tempat
hidup ikan yang meliputi sifat fisika dan kimia air,
ruang gerak dan ketersediaan makanan dari segi kualitas
dan kuantitas.

Pertumbuhan ikan memang sanagat penting di dalam dunia


perikanan sehingga banyak peneliti yang melakukan
penelitian pertumbuhan ikan. Hal ini untuk mengetahui
pertumbuhan ikan berdassarkan jenisnya, dan untuk
memudahkan kita dalam berbudidaya ikan yaitu pada
kegiatan pembesaran.

1.2. Tujuan

ü Mahasiswa mampu menghitung laju pertumbuhan dan


efisiensi pakan.

ü Mahasiswa mampu mengukur tingkat kelangsungan hidup


ikan nila.

ü Mahasiswa mampu membuat manajemen pengelolaan pemberian


pakan pada ikan nila secara efektif dan efisien.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifkasi Ikan Nila

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Osteichtyes

Ordo: Perciformes

Famili: Cichlidae

Genus: Oreochromis

Spesies: Oreochromis niloticus

Nama binomial

Oreochromis niloticus
Linnaeus, 1758

Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan


ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian
timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan
yang populer di kolam-kolam air tawar
di Indonesia sekaligus hama di setiap sungai dan danau
Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan
dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.
Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa
pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada
ikan dewasa. Ikan nila yang masih kecil belum tampak
perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya
mencapai 50 gram, dapat diketahui perbedaan
antara jantan dan betina. Perbedaan antara ikan jantan
dan betina dapat dilihat pada lubang genitalnya dan juga
ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di
samping lubang anus terdapat lubang genital yang berupa
tonjolan kecil meruncing sebagai saluran
pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga
berwarna lebih gelap, dengan tulang rahang melebar ke
belakang yang memberi kesan kokoh, sedangkan yang betina
biasanya pada bagian perutnya besar.

2.2. Pertumbuhan Ikan Nila

Menurut Mudjiman (1998), pertumbuhan didefinisikan


sebagai perubahan ikan dalam berat, ukuran, maupun volume
seiring dengan berubahnya waktu. Pertumbuhan ikan
dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor
internal merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan
ikan itu sendiri seperti umur, dan sifat genetik ikan
yang meliputi keturunan, kemampuan untuk memanfaatkan
makanan dan ketahanan terhadap penyakit. Faktor eksternal
merupakan faktor yang berkaitan dengan lingkungan tempat
hidup ikan yang meliputi sifat fisika dan kimia air,
ruang gerak dan ketersediaan makanan dari segi kualitas
dan kuantitas.

Berat dapat di anggap sebagai suatu fungsi dari panjang.


Hubungan panjang dan berat hampir mengikuti hukum kubik
yaitu berat ikan sebagai pangkat tiga dari
panjangnya.Tetapi hubungan yang terdapat pada ikan
sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan
berbeda-beda. (Effendi. 2002).
Perbedaan nilai berat pada ikan tidak saja antara
populasi yang berbeda dari spesies yang sama, tetapi juga
antara populasi yang sama pada tahun – tahun yang berbeda
yang barangkali dapat diasosiasikan dengan kondisi
nutrisi mereka. Hal ini bisa terjadi karena pengaruh
faktor ekologis dan biologis. ( Ricker, 1975 )

Ukuran ikan ditentukan berdasarkan panjang atau beratnya.


Ikan yang lebih tua, umumnya lebih panjang dan gemuk.
Pada usia yang sama, ikan betina biasanya lebih berat
dari ikan jantan. Pada saat matang telur, ikan mengalami
penambahan berat dan volume. Setelah bertelur beratnya
akan kembali turun. Tingkat pertumbuhan ikan juga
dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dilingkungan
hidupnya (Poernomo, 2002 ).

Pengukuran panjang ikan dalam penelitian biologi


perikanan hendaknya mengikuti suatu ketentuan yang sudah
lazim digunakan. Dalam hal ini panjang ikan dapat diukur
dengan menggunakan sistem metrik ataupun sistem lainnya
(Effendie, 1979).

Faktor kondisi ini menunjukan keadaan ikan, baik dilihat


dari kapasitas fisik maupun dari segi survival dan
reproduksi. Dalam penggunaan secara komersial,
pengetahuan kondisi ikan dapat membantu untuk menentukan
kualitas dan kuantitas daging ikan yang tersedia agar
dapat dimakan. Faktor kondisi nisbih merupakan simpangan
pengukuran dari sekelompok ikan tertentu dari berat rata-
rata terhadap panjang pada kelompok ikan tertentu dari
berat rata-rata terdapat panjang gelombang umurnya,
kelompok panjang atau bagian dari populasi (Weatherley,
1972 dalam Yasidi,dkk 2005).

2.3. Manajemen Pemberian Pakan

Dalam manajemen pemberian pakan ada 6 faktor yang harus


diperhatikan, yaitu :

1. Feeding frekuensi

2. Feeding time

3. Feeding behaviour

4. Feeding habits

5. Feeding periodicity

6. Feeding level
Pemberian pakan pada benih ikan umur 7 sampai 15 hari
biasanya diberi pakan dalam bentuk tepung dan remah.
Benih umur 15 sampai 30 hari dapat diberi pakan berupa
pelet yang berdiameter ± 1 mm atau disesuaikan dengan
bukaan mulut ikan. Pakan ini diberikan 3-5 kali sehari
(Soetomo, 1987).

Frekuensi pemberian pakan adalah jumlah pemberian pakan


per satuan waktu, misalnya dalam satu hari pakan
diberikan tiga kali. Pada ukuran larva frekuensi
pemberian pakan harus tinggi karena laju pengosongan
lambungnya lebih cepat, dan dengan semakin besarnya
ukuran ikan yang dipelihara maka frekuensi pemberian
pakannya semakin jarang. Laju evakuasi pakan didalam
lambung atau pengosongan lambung ini tergantung pada
ukuran dan jenis ikan kultur, serta suhu air (Effendi,
2004). Untuk ikan lele, satu sampai tiga hari setelah
tebar pakan diberikan empat kali dalam sehari dan setelah
itu tiga kali.

Konversi pakan dan efisiensi pakan merupakan indikator


untuk menentukan efektifitas pakan. Konversi pakan dapat
diartikan sebagai kemampuan spesies akuakultur mengubah
pakan menjadi daging sedangkan efisiensi pakan adalah
bobot basah daging ikan yang diperoleh per satuan berat
kering pakan yang diberikan. Nilai konversi pakan
menunjukkan bahwa sejauh mana makanan efisien
dimanfaatkan oleh ikan peliharaan. Oksigen secara tidak
langsung mempengaruhi besar kecilnya konversi pakan.

Efisiensi pakan adalah bobot basah daging ikan yang


diperoleh per satuan berat kering pakan yang diberikan.
Hal ini sangat berguna untuk membandingkan nilai pakan
yang mendukung pertambahan bobot. Efisien pakan berubah
sejalan dengan tingkat pemberian pakan dan ukuran ikan.
Efisiensi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya kualitas pakan, jumlah pakan, spesies ikan,
ukuran ikan dan kualitas air.

2.4. Tingkat Kelangsungan Hidup

Kelangsungan hidup adalah peluang hidup suatu individu


dalam waktu tertentu, sedangkan mortalitas adalah
kematian yang terjadi pada suatu populasi organisme yang
menyebabkan berkurangnya jumlah individu di populasi
tersebut (Effendi, 1979). Tingkat kelangsungan hidup akan
menentukan produksi yang diperoleh dan erat kaitannya
dengan ukuran ikan yang dipelihara.
Kelangsungan hidup benih ditentukan oleh kualitas induk,
kualitas telur, kualitas air serta perbandingan antara
jumlah makanan dan kepadatannya. Padat tebar yang terjadi
dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya tingkat
kelangsungan hidup suatu organisme, terlihat
kecenderungannya bahwa makin meningkat padat tebar ikan
maka tingkat kelangsungan hidupnya akan makin kecil
(Allen, 1974).

Nilai tingkat kelangsungan hidup ikan rata-rata yang baik


berkisar antara 73,5-86,0 %. Kelangsungan hidup ikan
ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya kualitas air
meliputi suhu, kadar amoniak dan nitrit, oksigen yang
terlarut, dan tingkat keasaman (pH) perairan, serta rasio
antara jumlah pakan dengan kepadatan (DEPTAN, 1999).
2.5. Kualitas air

 Suhu
Suhu atau temperatur air sangat berpengaruh
terhadap metabolismedan pertumbuhan organisme serta
memengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme
perairan. Suhu juga memengaruhi oksigenterlarut dalam
perairan. Suhu optimal untuk hidup ikan nila pada kisaran
14-38 °C. Secara alami ikan ini dapat memijah pada suhu
22-37 °C namun suhu yang baik untuk perkembangbiakannya
berkisar antara 25-30 °C.

 pH
Nilai pH merupakan indikator tingkat keasaman perairan .
Beberapa faktor yang memengaruhi pH perairan di antaranya
aktivitas fotosintesis, suhu, dan
terdapatnya anion dan kation. Nilai pH yang ditoleransi
ikan nila berkisar antara 5 hingga 11, tetapi pertumbuhan
dan perkembangannya yang optimal adalah pada kisaran pH
7–8 .

 Amonia
Amonia merupakan bentuk utama ekskresi nitrogen dari
organisme akuatik. Sumber utama amonia (NH3) adalah
bahan organik dalam bentuk sisa pakan, kotoran ikan
maupun dalam bentuk plankton dari bahan organik
tersuspensi. Pembusukan bahan organik, terutama yang
banyak mengandung protein, menghasilkan ammonium (NH4+)
dan NH3. Bila proses lanjut dari pembusukan (nitrifikasi)
tidak berjalan lancar maka dapat terjadi penumpukan NH3
sampai pada konsentrasi yang membahayakan bagi ikan.

 Oksigen terlarut
Oksigen terlarut diperlukan untuk respirasi, proses
pembakaran makanan, aktivitas berenang,
pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Sumber oksigen
perairan dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat
di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh
tumbuhan air dan fitoplankton. Kadar oksigen terlarut
yang optimal bagi pertumbuhan ikan nila adalah lebih dari
5 mg/l.

Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran di dasar


kolam juga akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain
halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh
adanya plankton; air yang kaya plankton dapat berwarna
hijau kekuningan dan hijau kecoklatan karena banyak
mengandung diatom. Plankton ini baik sebagai makanan ikan
nila, sedangkan plankton biru kurang baik. Tingkat
kecerahan air karena plankton harus dikendalikan.

BAB III

METODELOGI

3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan praktikum “Pengukuran Laju Pertumbuhan Ikan, dan Manajemen


Pemberian Pakan” dilakukan pada :
Tanggal : 23, 30 September, dan 07 Oktober 2013

Hari : Senin

Waktu : 08.00 – 11.30 WIB

Praktikum dilaksanakan di Departemen Perikanan PPPPTK


Pertanian Cianjur.

3.2. Alat dan Bahan

v Alat

o Aquarium

o Timbangan analitik

o Timbangan manual

o Penggaris ukur

o pH meter/kertas pH (lakmus), DO meter, thermometer.


v Bahan

o Ikan nila

o Pellet kandungan protein

3.3. Langkah Kerja

1. Tentukan padat tebar ikan yang akan dipelihara dan hitung jumlah ikan yang
diperlukan

2. Timbang bobot dan ukur panjang ikan yang akan dipelihara dan catat rata-rata
bobot, dan panjang ikan

3. Tentukan feeding rate pemberian pakan dan hitung kebutuhan pakan selama masa
pemeliharaan 3 minggu
4. Tentukanfeeding frekuensi dan feeding timenya
5. Ikan yang telah ditimbang boot dan diukur panjangnya ditebar di dalam aquarium
sesuai denagn kepadatan tebar yang telah ditentukan

6. Lakukan pemberian pakan sesuai dengan dosis, feeding time, dan feeding
frekuensi yang telah ditentukan

7. Lakukan pengukuran kualitas air setiap 3 hari sekali dan catat hasilnya

8. Lakukan pengumpulan data terhadap biomassa, laju pertumbuhan (bobot dan


panjang) dan kelangsungan hidup ikansetiap satu minggu sekali

9. Laporkan hasil pratikum dan persentasikan pada tanggal 21 oktober 2013


3.4. Analisa data

3.4.1. Tingkat kelangsungan hidup

Survival Rate (SR) adalah persentase ikan yang hidup setelah


dipelihara dalam waktu tertentu terhadap jumlah awal
pemeliharaan. Untuk menghitung SR dapat digunakan rumus
sebagai berikut
SR = (Nt/No) x 100%

Dimana :

SR = Tingkat kelangsungan hidup (%)

Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir percobaan (ekor)

No = Julah ikan pada awal percobaan (ekor).

MR adalah presentase jumlah ikan yang mati selama


pemeliharaan dalam jangka waktu tertentu, dibandingkan
jumlah ikan pada awal pemeliharaan. Untuk menghitung MR
dapat digunakan rumus Sebagai berikut :

MR = (M/No) x 100%

3.4.2 Koreksi feeding rate.


Feeding rate koreksi adalah tingkat perbandingan dari jumlah
pakan yang diberikan dikurangi jumlah pakan yang tersisa
di bagi biomassa induk. Sehingga dengan demikian dapat
diketahui jumlah pakan yang dikonsumsi secara nyata oleh
ikan.
FR=(∑pakan perhari – ∑pakan tersisa)/biomassa induk

Σ Pakan = FR x Biomassa

Karena kondisi di lapangan yang tidak menentu maka perlu


dilakukan koreksi FR dengan melihat pakan aktualnya.

Pakan aktual = Σ pakan yang habis X 100 %

Σ pakan yang seharusnya diberikan


Maka koreksi Feeding Rate-nya dapat dicari dengan menggunakan
rumus:
FR Terkoreksi = Jumlah Pakan Perhari

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Ø Penimbangan berat tubuh ikan

No Berat tubuh ikan per 10 ekor (gr)

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3

Jumlah total 336,27 354,87 356,01

Jumlah rata-rata 6,73 7,09 7,12

Ø Data hasil perhitungan minggu 1

 FR
=

= 13,45 gr/hari

ü Pagi = 4,035 gr

ü Siang = 5,38 gr

ü Sore = 4,035 gr

Ø Data hasil minggu 2


 FR
=

= 14,19 gr/hari

ü Pagi = 4,257 gr

ü Siang = 5,676 gr

ü Sore = 4,257 gr

 FCR = 0,051

 SR = 100 %
Ø Data hasil minggu 3

 FCR = 12,4

 Pertumbuhan harian = 0,004

 SR = 100 %
Ø Pengukuran kualitas air

· Minggu 2

DO : 8,0

Suhu : 26 oC

pH :7

· Minggu ke 3

DO : 8,2

Suhu : 28 oC

pH :7
4.2. Pembahasan

Kualitas Air

Oksigen Terlarut

Dalam kehidupan sehari-hari, oksigen merupakan salah satu


dari sekian banyak kebutuhan pokok yang sangat
mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Tanpa oksigen tidak
mungkin semua makhluk hidup bisa hidup begitu pula halnya
organisme akuatik. Dalam kehidupan
akuatik, oksigen terlarut diperlukan untuk respirasi,
proses pembakaran makanan, aktivitas berenang,
pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Sumber oksigen
perairan dapat berasal dari difusioksigen yang terdapat
di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh
tumbuhan air dan fitoplankton. Kadar oksigen terlarut
yang optimal bagi pertumbuhan ikan nila adalah lebih dari
5 mg/l (http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_nila).

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan,


didapatkan kadar DO dalam wadah budidaya adalah 8 mg/l.
Hal ini tidak sesuai dengan referensi yang digunakan.
Ketidaksesuaian antara referensi dengan hasil praktikum
dapat terjadi karena beberapa factor, diantaranya yaitu
bisa terjadi karena kesalahan dalam pengambilan sampel,
suplai oksigen yang terlalu banyak, dan bisa terjadi
karena alat yang digunakan sebagai pengukur sudah tidak
memadai sehingga hasil yang didapat tidak efektif dan
efesien.

Tetapi dalam kegiatan budidaya, sebisa mungkin tingginya


kadar oksigen harus dihandari. Karena kadar oksigen
terlarut dalam air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan
penyakit pada ikan yaitu gas bubble diaseas.
Suhu

Suhu atau temperatur air sangat berpengaruh


terhadap metabolismedan pertumbuhan organisme serta
memengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme
perairan. Suhu juga memengaruhi oksigenterlarut dalam
perairan. Suhu optimal untuk hidup ikan nila pada kisaran
14-38 °C. Secara alami ikan ini dapat memijah pada suhu
22-37 °C namun suhu yang baik untuk perkembangbiakannya
berkisar antara 25-30 °C.

 pH
Nilai pH merupakan indikator tingkat keasaman perairan .
Beberapa faktor yang memengaruhi pH perairan di antaranya
aktivitas fotosintesis, suhu, dan
terdapatnya anion dan kation. Nilai pH yang ditoleransi
ikan nila berkisar antara 5 hingga 11, tetapi pertumbuhan
dan perkembangannya yang optimal adalah pada kisaran pH
7–8 .

 Amonia
Amonia merupakan bentuk utama ekskresi nitrogen dari
organisme akuatik. Sumber utama amonia (NH3) adalah
bahan organik dalam bentuk sisa pakan, kotoran ikan
maupun dalam bentuk plankton dari bahan organik
tersuspensi. Pembusukan bahan organik, terutama yang
banyak mengandung protein, menghasilkan ammonium (NH4+)
dan NH3. Bila proses lanjut dari pembusukan (nitrifikasi)
tidak berjalan lancar maka dapat terjadi penumpukan NH3
sampai pada konsentrasi yang membahayakan bagi ikan.
 Oksigen terlarut
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

v Mengetahui pertumbuhan ikan sangat penting dalam dunia


perikanan.

v Ikan yang dipelihara pada saat pratikum survival


ratenya 100%, hal ini karena didukung dengan manajemen
pemberian pakan yang baik dan kualitas air yang baik.

v Jumlah pakan yang diberikan adalah faktor utama untuk


pertumbuhan ikan.

5.2. Saran

v Pada pemeliharaan kualitas harus diperhatikan karena


sangat berpengaruh pada tingkat kelangsungan hidup ikan.

v Pratikum ini harus terus dilakukan karena pertumbuhan


ikan adalah indicator peting dalam dinia perikanan.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_nila

Mudjiman. 1998. Pengukuran Tingkat Kelangsungan Hidup,


Laju Pertumbuhan dan Efisiensi Penggunaan Pakan.
Efendi, H., 2002. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan
Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius;
Yogyakarta.

Ricker, W.E. 1975. Computation and interpretation of


biological statistics of fish populations. Fish. Res. Bd.
Can. Bull. 191: 382 pp.

Effendie, I.M., 1979. Biologi Perikanan. Fakultas


Perikanan IPB, Bogor.

Soetomo. 1987. Pengukuran Tingkat Kelangsungan Hidup,


Laju Pertumbuhan dan Efisiensi Penggunaan Makanan pada
Ikan.

Yasidi, F.,Aslan L.M, Asriyana., Rosmawati, 2005.


Penuntun Praktikum Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan. Universitas Haluoleo. Kendari.

Effendi. 2004. Pengukuran Tingkat Kelangsungan Hidup,


Laju Pertumbuhan dan Efisiensi Penggunaan Makanan pada
Ikan.

Allen. 1974. Pengukuran Tingkat Kelangsungan Hidup, Laju


Pertumbuhan dan Efisiensi Penggunaan Makanan pada Ikan.

DEPTAN. 1999. Pengukuran Tingkat Kelangsungan Hidup, Laju


Pertumbuhan dan Efisiensi Penggunaan Makanan pada Ikan.

LAMPIRAN

Ø Pengukuran panjang tubuh ikan nila


No Panjang Tubuh (cm)

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3

1 75 7 8

2 8 7,9 8,2

3 8,5 8 8

4 8,5 8,3 7,9

5 8 7,9 7,4

6 7,5 8,4 7,2

7 7 7,7 8,4

8 8 8,8 8,2

9 7,5 7 7,4

10 7,5 7,3 8,3

11 7,5 7 7,9

12 7,5 8,9 8,2

13 7,5 7,7 7,5

14 7 7,5 9,3

15 7 7,8 7,1

16 8 9 7,8

17 7 7,2 7,5

18 7 8,3 7,8

19 8 7,5 7,8
20 7 8,5 8,1

21 7,5 7,7 8

22 8 8,4 7,7

23 8 7,4 8,5

24 7,5 7 7,1

25 7,5 7,5 7

26 7 7,3 8,1

27 7,5 8,5 8

28 7 7,8 7,3

29 7,5 7,4 7,2

30 7 8 7,9

31 7,5 7,8 7,5

32 7 7,2 7,2

33 7 7,3 7,8

34 7 7,8 9

35 7 7,4 7,1

36 7 7,8 7,2

37 7 7,6 7,5

38 7 7 7,8

39 7,5 7,5 8

40 8 8,1 7,6
41 7 7,2 7,3

42 7,5 7,3 7,6

43 7,5 7 8,2

44 7,5 7,5 8,1

45 7 8 7,3

46 7 7 7,6

47 7 7,8 7,4

48 7,5 7,7 7,5

49 7 7,8 8,8

50 7 8 7,5

Ø Penimbangan berat tubuh ikan

No Berat tubuh ikan per 10 ekor (gr)

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3

1 64,43 67,33 77,72

2 55,76 70,25 69,34

3 68,98 75,72 70,55

4 72,56 73,93 67,34

5 74,54 67,64 71,06

Jumlah total 336,27 354,87 356,01

Jumlah rata-rata 6,73 7,09 7,12

Ø Data hasil perhitungan minggu 1


 FR
=

= 13,45 gr/hari

 Pagi
= 4,035 gr

 Siang
= 5,38 gr

 Sore
= 4,035 gr

Ø Data hasil minggu 2

 FR
FR =

= 14,19 gr/hari

 Pagi
= 4,257 gr

 Siang
= 5,676 gr

 Sore
= 4,257 gr

 FCR
FCR=

=
= 0,723

 Pertumbuhan harian =
=

=0,051

 SR
SR=

= 100 %

Ø Data hasil minggu 3

 FCR
FCR=

= 12,4

 Pertumbuhan harian =
=

=0,004

 SR
SR=

= 100 %

Ø Pengukuran kualitas air

 Minggu 2
DO : 8,0

Suhu : 26 oC
pH : 7

 Minggu ke 3
DO : 8,2

Suhu : 28 oC
pH : 7