Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Biologi perikanan sebagai dasar ilmu mengenai semua aspek-aspek yang
berhubungan dengan studi biologi ikan. Setiap makhluk hidup mengalami
pertumbuhan selama hidupnya dan melakukan reproduksi untuk menjaga
kelangsungan hidupnya.
Ikan adalah semua air vertebrata binatang yang ditutupi dengan sisik , dan
dilengkapi dengan dua set pasangan sirip dan sirip beberapa berpasangan.
Kebanyakan ikan ectothermic (atau berdarah dingin). Ikan berlimpah dalam tubuh
sebagian besar air.
Ikan dapat ditemukan di gunung tinggi sungai
(misalnya, char dan memperdaya ) dan terdalam di laut kedalaman
misalnya, gulpers dan anglerfish ). Menurut FishBase , 31.500 spesies ikan telah
dijelaskan oleh Januari 2010.
Ikan mempunyai rentang yang luas strategi reproduksi yang
berbeda. Kebanyakan ikan bagaimanapun yg menelur dan pameran fertilisasi
eksternal. Dalam proses ini, perempuan menggunakan kloaka mereka untuk
merilis jumlah besar gamet mereka, disebut bibit , ke dalam air dan satu atau lebih
laki-laki rilis "semen", cairan putih yang mengandung banyak telur yang tidak
dibuahi sperma selama ini. spesies ikan lain yang menelur dan fertilisasi internal
dibantu oleh panggul atau anal sirip yang diubah menjadi organ
intromittent analog dengan penis manusia. Sebagian kecil spesies ikan baik
vivipar atau ovoviviparous , dan secara kolektif dikenal sebagai livebearers . Ikan
gonad biasanya pasang baik ovarium atau testis. Kebanyakan ikan seksual
dimorfik tetapi beberapa jenis yang hermaprodit atau berkelamin tunggal .
Ikan terkenal sebagai mahluk yang mempunyai potensi fekunditas yang
tinggi dimana kebanyakan jenis ikan yang merupakan penghasil telur beribu-ribu
bahkan berjuta-juta tiap tahun. Apabila alam tidak mengaturnya maka dunia akan
sangat padat dengan ikan.

1
Pertumbuhan adalah perubahan ukuran bagian-bagian tubuh dan fungsi
fisiologis tubuh. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal maupun
eksternal. Faktor internal itu meliputi keturunan, pertumbuhan kelamin.
Pertumbuhan ikan memiliki hubungan yang erat antara pertumbuhan panjang dan
berat. Berdasarkan teori hubungan panjang berat dapat dinyatakan dengan rumus
W= aLb, dalam hal ini “W” = berat, “a dan b”= konstanta, dan “L”= panjang ikan
Dalam menduga pertumbuhan ikan di daerah tropis sulit dilakukan karena proses
pertumbuahan ikan terus menerus sehingga tidak bisa ditentukan hanya dengan
melihat bentuk sirkulus pada sisik saja. Pertumbuhan ikan juga dapat menduga
sebaran tingkat kematangan gonad ikan berdasarkan ukuran.
Ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Ikan akan melakukan reproduksi
bila gonadnya telah matang, dan kematangan gonad dapat ditentukan.
Cara reproduksi ikan yang ada antara lain :
1. Ovipar, sel telur dan sel sperma bertemu di luar tubuh dan embrio ikan
berkembang di luar tubuh sang induk. Contoh : ikan pada umumnya
2. Vivipar, kandungan kuning telur sangat sedikit, perkembangan embrio
ditentukan oleh hubungannya dengan placenta, dan anak ikan menyerupai
induk dewasa
3. Ovovivipar, sel telur cukup banyak mempunyai kuning telur,Embrio
berkembang di dalam tubuh ikan induk betina, dan anak ikan menyerupai
induk dewasa. Contoh : ikan-ikan livebearers
Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan seksual ikan antara lain
spesies, ukuran, dan umur. Secara umum ikan-ikan yang mempunyai ukuran
maksimum kecil dan jangka waktu hidup yang relatif pendek, akan mencapai
kematangan kematangan seksual lebih cepat dibandingkan ikan yang mempunyai
ukuran maksimum lebih besar.
Penentuan IKG (Indeks Kematagan Gonad) dan TKG (Tingkat
Kematangan Gonad) sangat penting dilakukan, karena dapat berguna untuk
mengetahui perbandingan antara gonad yang telah matang dan stok yang ada di
perairan, ukuraan pemijahan, musim pemijahan, dan lama pemijahan dalam satu
siklus. Terdapat dua cara untuk menentukan tingkat kematangan gonad dari ikan.
Pertama dengan cara morfologis yaitu dengan pengamatan secara visual terhadap

2
ukuran gonad ikan. Metode ini banyak dilakukan dan relatif lebih mudah, namun
tingkat ketelitian rendah. Pengamatan secara morfologis lebih praktis dilkukan
terutama dilapangan. Cara kedua yaitu dengan metode histologis. Metode ini
dilakukan di dalam laboratorium yaitu dengan mengamati perkembangan gonad
melalui fase perkembangan sel. Faktor-faktor yang mempengaruhi saat pertama
kali ikan matang gonad adalah jenis spesies, umur, ukuran, dan sifat fisiologis.
Sedangkan faktor luarnya adalah suhu, arus, individu lawan jenis, dan tempat
memijah yang sesuai (Effendi, 2002).

Banyaknya telur yang belum dikeluarkan sesaat sebelum ikan memijah


atau biasa disebut dengan fekunditas memiliki nilai yang bervariasi sesuai dengan
spesies. Jumlah telur yang dihasilkan merupakan hasil dari pemijahan yang
tingkat kelangsungan hidupnya di alam sampai menetas dan ukuran dewasa sangat
ditentukan oleh faktor lingkungan. Dalam pendugaan stok ikan dapat diketahui
dengan tingkat fekunditasnya. Tingkat fekunditas ikan air laut biasanya relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar. Telur yang dihasilkan memiliki
ukuran yang bervariasi. Ukuran telur dapat dilihat dengan menghitung diameter
telur. Diameter telur merupakan garis tengah atau ukuran panjang dari suatu telur
dengan mikrometer yang berskala yang sudah ditera. Pengamatan fekunditas dan
diameter telur dilakukan pada ikan dengan TKG III dan IV.
Proses makan adalah salah satu yang dilakukan makhluk hidup untuk
melakukan metabolisme dan juga menunjang aktivitas fisik. Energi sebagai
sumber untuk melakukan aktifitas diperoleh dari makanan yang dimakan
kemudian dirombak di dalam tubuh menjadi energi dan unsur lainnya sehingga
dapat dicerna dan diserap oleh tubuh. Makanan adalah semua organisme, bahan
dan zat yang dimanfaatkan oleh organisme untuk menunjang kehidupan dan
perkembangan organ tubuh. Makanan pada ikan penting untuk pertumbuhan
energi yang dihasilkan dari makanan berfungsi untuk pertumbuhan sel organisme.
Pada saat ikan mengambil dan mencari makan disebut kebiasaan makan atau
feeding habit. Ikan dalam hal pencarian makanan pula memiliki waktu khusus.
Waktu saat ikan aktif mencari makan disebut juga feeding periodicity.
Mempelajari kebiasaan makan ikan pada dasarnya adalah untuk mengetahui
kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan oleh ikan. Sehingga dapat

3
menentukan nilai gizi alamiah ikan disamping melihat hubungan ekologis dalam
tingkat trofik.
Praktikum mengenai pertumbuhan ikan, aspek reproduksi dan kebiasaan
makanan ikan sangat berkaitan dengan program studi biologi perikanan di
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Pentingnya pemahaman tentang
biologi perikanan merupakan salah satu upaya untuk memberikan kemampuan
dalam menganalisis dan menduga pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan.
Sehingga dengan demikian dapat melihat jumlah stok yang ada di alam
berdasarkan ukuran ikan.

Kematangan Gonad Ikan

Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum dan


sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk
perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan
akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan
berlangsung sampai selesai. Menurut Effendie (1997), umumnya pertambahan
bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10-25
persen dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5-10 persen. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa semakin rneningkat tingkat kematangan gonad, diameter
telur yang ada dalam gonad akan menjadi semakin besar. Pendapat ini diperkuat
oleh Kuo et al. (1974) bahwa kematangan seksual pada ikan dicirikan oleh
perkembangan diameter rata-rata telur dan melalui distribusi penyebaran ukuran
telurnya.

1.2 Tujuan Penelitian

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan gonad (TKG)


dan mengetahui perubahan – perubahan yang terjadi dalam gonad secara
kuantitatif pada Ikan selar

1.3 Kegunaan Penelitian


Kita dapat mengetahui tingkat kematangan gonad (TKG) dan mengetahui
perubahan – perubahan yang terjadi dalam gonad secara kuantitatif pada Ikan

4
selar

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Ikan

Kerajaan : Animalia

5
Phylum : Chordata

Class : Cachama

Order : Perciformes

Suborder : Percoidei

Superfamily : Percoidea

Family : Sillaginidae

Genus : Sillago

Sillago adalah satu dari tiga genus dalam keluarga Sillaginidae berisi-
berbau whitings, dan berisi 29 spesies , membuat Sillago satu-satunya non-
monotypic genus dalam keluarga. Membedakan antara Sillago spesies bisa sulit,
dengan serupa dalam penampilan dan warna, memaksa penggunaan berenang
kandung kemih morfologi sebagai fitur definitif. Semua kapur sirih spesies bentik
di alam dan umumnya ikan pantai , tinggal di dangkal, perairan yang dilindungi,
walaupun ada pengecualian.. Minor perikanan ada sekitar berbagai jenis Sillago,
membuat mereka kurang penting di sebagian besar mereka

Sillago genus salah satu dari tiga genus dalam keluarga Sillaginidae ,
dirinya bagian dari Percoidea , sebuah subordo dari Perciformes . pertama kali
dicetuskan oleh taksonomi terkenal Georges Cuvier sebagai genus untuk
menggambarkan spesies baru nya, Sillago acuta, yang kemudian ditemukan
menjadi sinonim junior S. sihama . John Richardson meletakkan genus, bersama
dengan Sillaginodes dan Sillaginopsis dalam keluarga, yang ia beri nama
Sillaginidae pada tahun 1846. Banyak spesies, baik yang valid dan tidak valid
ditambahkan ke dalam genus, dan itu tidak sampai 1985 ketika Roland McKay
dari Queensland Museum menerbitkan revisi Sillaginidae keluarga yang
hubungan yang kompleks antara nama-nama ini sudah dijernihkan.

Semua spesies dalam genus Sillago mirip dengan anggota lain dari
keluarga Sillaginidae dalam profil, dengan khas dikompresi, panjang, meruncing
tubuh umum untuk semua spesies. Karakteristik definitif untuk Sillago adalah

6
adanya berenang kandung kemih , dalam semua kecuali satu kasus (Sillago
chondropus) yang memiliki saluran seperti proses-dari ventral permukaan untuk
dekat anus . Mereka berenang kandung kemih sering kompleks, lebih lanjut
membedakan mereka dari marga Sillaginodes dan Sillaginopsis (yang sering
kekurangan berenang kandung kemih seluruhnya)

Dengan 29 spesies, genus Sillago memiliki luas distribusi dari setiap-genus


berbau kapur sirih, yang mencakup sebagian besar Indo-Pasifik . Genus berkisar
dari pantai timur Afrika untuk Jepang di timur dan Selatan Australia di selatan,
dengan spesies yang paling terkonsentrasi di sekitar Asia Tenggara , dengan
Indonesia Kepulauan dan Australia. Banyak spesies tumpang tindih distribusi,
sering membuat identifikasi yang positif keras.

Sillagos umumnya pesisir ikan, menghuni berbagai air dangkal habitat


termasuk dataran pasir terbuka, substrat berlumpur dan pantai dengan gelombang
aksi cukup kuat. Beberapa spesies memasuki muara dan bahkan menembus air
bersih untuk waktu yang cukup, terutama selama tahap-tahap mereka rentan siklus
hidup . Dangkal air beberapa sentimeter juga diduduki oleh sillagos remaja,
terutama di sekitar penutup seperti lamun tempat tidur atau mangrove . beberapa
spesies diketahui menghuni perairan lepas pantai yang lebih dalam, dengan ikan
dikenal dari trawl sampai dengan 180 m (600 kaki) dalam.

2.2 Pertumbuhan Ikan

Pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran panjang atau berat dalam


suatu waktu. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan antara lain keturunan,
pertumbuhan kelamin dan umur, serta kerentanan penyakit. Keturunan
berhubungan dengan cara seleksi induk, yaitu induk yang bermutu tentu
menghasilkan anakan yang baik atau sebaliknya.
Pertumbuhan kelamin dan umur pun sangat berkaitan. Ada baiknya
pemeliharaan ikan pada beberapa jenis dipisahkan antara jantan dan betina. Hal
ini untuk menghindari adanya gejala pematangan kelamin secara dini. Bisa saja
ikan yang masih kecil sudah bertelur sehingga pertumbuhan badannya terhambat.

7
Kerentanan penyakit terkadang merupakan faktor keturunan dan
tergantung jenis ikan. Ada ikan yang tahan terhadap bakteri, tetapi rentan terhadap
jamur atau sebaliknya. Oleh karena itu, pengetahuan tentang jenis ikan pun
diperlukan untuk mengetahui setiap jenis penyakit yang sering menyerang ikan
tersebut. Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati penyakit harus selalu
disiapkan sebagai tindakan antisipasi bila timbul penyakit.
Pada pemeliharaan ikan ini kualitas air, kepadatan ikan, serta jumlah dan
kualitas pakan pun harus selalu diperhatikan. Kepadatan ikan sangat penting untuk
kenyamanan hidup. Ikan yang terlalu padat dapat menimbulkan stres karena
kualitas air cepat menjadi jelek. Bahkan, oksigen terlarut cepat habis. Selain itu,
pada ikan tertentu dapat terjadi gesekan antar ikan sehingga menimbulkan luka.
Akibatnya, penampilan ikan menjadi jelek atau bahkan dapat menimbulkan
kematian.
Jumlah dan kualitas pakan merupakan faktor penting. Bila pakannya
terlalu sedikit, ikan akan sukar tumbuh. Sebaliknya bila terlalu banyak, kondisi air
menjadi jelek, terutama pakan buatan. Pemberian pakan dengan frekuensi lebih
sering dan jumlah yang tidak terlalu banyak akan lebih baik dibanding diberikan
sekaligus dalam jumlah banyak.
Pertumbuhan pada ikan dapat diketahui melalui penghitungan panjang dan
berat pada ikan yang kemudian dikorelasikan.

a. Pengukuran Panjang.

Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran system metric dengan


satuan panjang millimeter. Ada dua ukuran panjang yang diukur yaitu total length
dan standard length

• Total length ( Panjang Total )


Adalah panjang ikan yang diukur dari mulai ujung terdepan bagian kepala
sampai ujung terakhir bagian ekornya.
• Standard Length ( Panjang Standard )
Adalah panjang ikan yang diukur dari mulai ujung terdepan bagian kepala
sampai ujung terakhir tulang ekornya.

8
b. Pengukuran Berat.

Pengukuran berat dilakukan dengan cara menimbang berat ikan


menggunakan alat timbangan, satuan yang digunakan adalah gram. Alat timbang
yang dilakukan sebaiknya memiliki ketelitian yang baik dan mampu menunjukan
hasil timbangan secara langsung. Penimbangan ikan sebaiknya dilakukan oleh dua
orang, dimana yang satu menimbang dan yang satu lagi mencatat hasil timbangan.

c. Menghitung Hubungan Panjang Dan Berat.

Hubungan panjang dan berat dapat dihitung dengan menggunakan rumus


sebagai berikut : Log W = log a + b log L

Log a = ∑ log W x ∑ (log L)2 - ∑ log L x ∑ ( log L x log W)

N x ∑ ( log L)2 – ( ∑ log )2

Log b = ∑ log W – ( N x log a)

∑ log L

Keterangan : W = Berat

L = Panjang

a = Konstanta

b = Konstanta

2.3 Reproduksi Ikan

9
Reproduksi merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup
suatu organisme. Bayangkan apabila ada suatu organisme yang tidak melakukan
reproduksi, tentu saja akan menganggu keseimbangan alam.
Ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Dalam hal ini, ikan jantan dan betina
akan saling mendekat satu sama lain kemudian si betina akan mengeluarkan telur.
Selanjutnya si jantan akan segera mengeluarkan spermanya, lalu sperma dan telur
ini bercampur di dalam air. cara reproduksi ini dikenal sebagai oviparus, yaitu
telur dibuahi dan berkembang di luar tubuh ikan.
Ikan terkenal sebagai mahluk yang mempunyai potensi fekunditas yang
tinggi dimana kebanyakan jenis ikan yang merupakan penghasil telur beribu-ribu
bahkan berjuta-juta tiap tahun. Apabila alam tidak mengaturnya maka dunia akan
sangat padat dengan ikan.

Cara reproduksi ikan yang ada antara lain :


1. Ovipar, sel telur dan sel sperma bertemu di luar tubuh dan embrio ikan
berkembang di luar tubuh sang induk. Contoh : ikan pada umumnya
2. Vivipar, kandungan kuning telur sangat sedikit, perkembangan embrio
ditentukan oleh hubungannya dengan placenta, dan anak ikan menyerupai
induk dewasa
3. Ovovivipar, sel telur cukup banyak mempunyai kuning telur,Embrio
berkembang di dalam tubuh ikan induk betina, dan anak ikan menyerupai
induk dewasa. Contoh : ikan-ikan livebearers
Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan seksual ikan antara lain spesies,
ukuran, dan umur. Secara umum ikan-ikan yang mempunyai ukuran maksimum
kecil dan jangka waktu hidup yang relatif pendek, akan mencapai kematangan
kematangan seksual lebih cepat dibandingkan ikan yang mempunyai ukuran
maksimum lebih besar.

2.4 Rasio Kelamin Ikan

10
Siklus hidup ikan dimulai dari perkembangan di
dalam gonad (ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada
ikan jantan yang menghasilkan sperma). Sehingga rasio kelamin Ikan nila
(Oreochromis niloticus) ada yang jantan dan betina.
Kegiatan teknik produksi induk betina ikan bertujuan untuk memproduksi
induk betina secara massal dalam rangka memenuhi kebutuhan induk betina ikan.
Dalam pemijahan ikan, biasanya mengunakan standar rasio jantan : betina adalah
1 : 3,sedangkan pada pemijahan biasa, rasio kelamin jantan : betina sekitar 60 :
40. Hal ini menyebabkan kebutuhan induk betina lebih banyak dibandingkan
jantan.

2.5 Kualitas Telur Ikan

Telur merupakan hasil akhir dari proses gametogenesis, setelah oosit


mengalami fase pertumbuhan yang panjang yang sangat bergantung pada
gonadotropin. Perkembangan diameter telur pada oosit teleostei umumnya karena
akumulasi kuningtelur selama proses vitelogenesis. Akibat proses ini, telur yang
tadinya kecil menjadi Ada tiga macam bahan kuning telur yang berbeda 1) butir
minyak (oil droplet), 2) gelembung kuning telur (yolk vesicle), 3) bola kecil
kuning telur (yolk globule). Dalam vitelogenesis yang sedang berlangsung,
sitoplasma telur yang matang ruangannya diisi oleh bola-bola kecil kuning telur
saling bersatu dengan yang lainnya membentuk menjadi masa kuning telur.
Definisi kualitas telur yang umum digunakan adalah kemampuan telur untuk
menghasilkan benih yang baik. Potensi telur untuk menghasilkan benih yang baik
ditentukan oleh beberapa faktor, yakni faktor fisik, genetik dan kimia selama
terjadi proses perkembangan telur. Jika satu dari faktor esensial ini tidak ada maka
telur tidak berkembang dalam beberapa stadia.

2.6 Tingkat kematangan gonad

Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum


dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk
perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan

11
akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan
berlangsung sampai selesai. Menurut Effendie (1997), umumnya pertambahan
bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10-25
persen dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5-10 persen. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa semakin rneningkat tingkat kematangan gonad, diameter
telur yang ada dalam gonad akan menjadi semakin besar. Pendapat ini diperkuat
oleh Kuo et al. (1974) bahwa kematangan seksual pada ikan dicirikan oleh
perkembangan diameter rata-rata telur dan melalui distribusi penyebaran ukuran
telurnya.

Tingkat kematangan gonad menurut Takata dan Tester (1953),

1. Tidak masak. Gonad sangat kecil seperi benang dan trasparan.


Penampang gonad pada ikan jantan pipih dengan warna kelabu,penampang
pada ikan betina bulat dengan warna kemerah-merahan.
2. Permulaan masak. Gonad mengisi ¼ rongga tubuh. Warnanya pada ikan
jantan kelabu atau putih, bentuknya pipih, sedangkan pada ikan betina
warnanya kemerah-merahan atau kuning dan bentuknya bulat. Telur tidak
tampak.
3. Hampir masak. Gonad mengisi ½ rongga tubuh. Gonad pada ikan jantan
berwarna putih, pada ikan betina berwarna kuning. Bentuk telur tampak
melalui dinding ovarium.
4. Masak. Gonad mengisi ¾ rongga tubuh. Gonad ikan jantan berwarna putih
berisi cairan berwarna putih. Gonad betina berwarna kuning, hampir
bening atau bening. Telur dapat terlihat. Kadang-kadang dengan tekanan
halus pada perutnya ada yang menonjol pada lubang pelepasannya.
5. Salin. Hampir sama dengan tahap kedua dan sukar dibedakan. Gonad
jantan berwarna putih, kadang-kadang dengan bintik coklat. Gonad betina
berwarna merah, lembek dan telur tidak nampak.

Sedangkan tingkat kematangan gonad ikan menurut Nikolsky (1969) adalah


sebagai berikut :

1. Tidak masak, individu masih belum berhasrat mengadakan reproduksi dan


ukuran gonadnya kecil.

12
2. Masa istirahat, produk seksual belum berkembang, gonad berukuran kecil,
telur tidak dapat dibedakan oleh mata.
3. Hampir masak, telur dapat dibedakan oleh mata, testis berubah dari warna
transparan menjadi warna ras.
4. Masak, produk seksual masak, produk seksual mencapai berat maksimum
tetapi produk tersebut belum keluar bila perut diberi tekanan.
5. Reproduksi, apabila perut diberi sedikit tekanan produk seksualnya akan
menonjol keluar dari lubang pelepasan. Berat gonad cepat menurun sejak
permulaan berpijah sampai mijah selesai.
6. Keadaan salin, produk seksual telah dikeluarkan oleh lubang genital
berwarna kemerahan, gonad mengempis, ovarium berisi beberapa telur
sisa.
7. Masa istirahat, produk seksual telah dikeluarkan, warna kemerahan pada
lubang genital, telur putih, gonad kecil belum terlihat oleh mata.

Tingkat kematangan gonad menurut Kesteven ( Bagenal dan Braum, 1968)


1. Dara. Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung.
Testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai warna abu- abu
2. Dara Berkembang. Testes dan ovarium jernih, abu- abu merah.
Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur
satu persatu dapat dilihat dengan kaca pembesar.
3. Perkembangan 1. Testes dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna
kemerah- merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira
setengah ruang ke bagian bawh. Telur padat dilihat seperti serbuk putih.
4. Perkembangan 2. Testes berwarna putih kemerahan. Tidak ada sperma jika
bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah- merahan. Telur
jelas dapat dibedakan, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisi dus pertiga
ruang bawah.
5. Bunting. Organ seksual mengisi ruang bawah. Testes berwarna putih,
keluar tetesan sperma kija bagian perut ditekan. Telur bentuknya bulat,
beberpa darinya jernih dan masak.

13
6. Mijah. Telur dan sperma keluar jika bagian perut ditekan. Kebanyakan
telur berwarna jernih dengan beberapa berbentuk bulat telur tinggal
didalam ovarium.
7. Mijah/ Salin. Gonad belum kosong sama sekali. Tidak ada telur yang bulat
telur.
8. Salin. Testes dan ovarium kosong da berwarna kemerahan. Beberapa telur
sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.
9. Pulih Salin. Testes dan ovarium berwarna jernih, abu- abu sampai merah.

2.7 Fekunditas

Fekunditas merupakan ukuran yang paling umum dipakai untuk mengukur


potensi produksi pada ikan, karena relatif lebih mudah dihitung, yaitu jumlah telur
dalam ovari ikan betina (Sjafei et al, 1992 in Rizal, 2009). Peningkatan fekunditas
berhubungan dengan peningkatan berat tubuh dan berat gonad. Fekunditas
berbeda-beda tiap spesies dan kondisi lingkungan berbeda. Spesies ikan yang
mempunyai fekunditas besar, pada umumnya memijah di daerah permukaan
perairan sedangkan spesies yang mempunyai fekunditas kecil melindungi telurnya
pada tanaman atau substrat lainnya (Nikolsky, 1963 in Rizal, 2009).
Besarnya fekunditas spesies dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
fertilitas, frekuensi pemijahan, perlindungan induk (parental care), kondisi
lingkungan, kepadatan populasi, ketersediaan makanan, ukuran panjang dan bobot
ikan, ukuran diameter telur, dan faktor lingkungan (Satyani, 2003; Moyle dan
Cech, 2004; Okarsson dan Taggart, 2006 in Tampubolon, 2008).

2.8 Indeks kematangan gonad (IKG)

Indeks kematangan gonad ikan dipengaruhi oleh adanya perbandingan


antara berat gonad dengan berat tubuh yang dinyatakan dalam persen. Jika nilai
indeks akan semakin meningkat dan mencapai batas maksimum pada saat akan
mengalami pemijahan. Pada ikan betina nilai ini lebih besar dibandingkan dengan
jantan.

14
Di dalam proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan, sebagian besar
hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad. Gonad semakin bertambah
berat dibarengi dengan semakin bertambah besar ukurannya termasuk garis tengah
telurnya. Berat gonad akan mencapai maksimum sesaat ikan akan berpijah,
kemudian berat gonad akan menurun dengan cepat selama pemijahan sedang
berlangsung sampai selesai.
Telah dikemukakan bahwa secara morfologi perubahan-perubahan kondisi
tersebut dapat dinyatakan dengan tingkat kematangan. Namun hal ini belum
menyatakan suatu perhitungan secara kuantitatif. Untuk mengetahui perubahan
yang terjadi dalam gonad tersebut secara kuantitatif. Dapat dinyatakan dengan
suatu indeks yang dinamakan Indeks Kematangan Gonad, atau IKG. Indeks ini
dinamakan juga Maturity atau Gonad Somatic Indeks (GSI) yaitu suatu nilai
dalam persen sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan
termasuk gonad dikalikan dengan 100%.

IKG = Bg/Bt X 100%


Dimana: IKG = Indek kematangan gonad
Bg = Berat gonad dalam gram
Bt = Berat tubuh dalam gram
Dengan nilai tersebut akan di dapatkan bahwa sejalan dengan
perkembangan gonad, indek itu akan semakin bertambah besar dan nilai tersebut
akan mencapai batas kisar maksimum pada saat akan terjadi pemijahan. Jahson
(1971) mengemukakan bahwa pada ikan thredfin shad indeknya berkisar dari 1–
25%. Ikan dengan IKG mulai dari 19% ke atas sudah sanggup mengeluarkan
telurnya dan dianggap matang. Sesudah memijah indeknya turun menjadi 3 – 4%.
Untuk tingkat kematangan gonad tertentu nilai indek tidak merupakan
suatu nilai melainkan nilainya merupakan suatu nilai batas kisar. Sebagai contoh
misalnya:
Tingkat kematangan IKG
III 6 – 11
IV 8 – 14
V 13-20

15
Namun didapatkan pula pada ikan belanak (Effendie dan subardja, 1976)
bahwa pada tingkat kematangan yang sama (IV), tiap bulan indeknya bervariasi
dari 1– 20. Sudah barang tentu indek untuk jenis ikan lainnya berbeda-beda. Bagi
jenis ikan-ikan di Indonesia masih banyak sekali yang belum diketahui. Sekali
lagi hal ini merupakan peluang yang baik untuk diteliti lebih lanjut.
Dari awal perkembangan gonad sampai memijah, garis tengah telur yang
dikandungnya semakin membesar pula. Dengan demikian maka akan didapatkan
hubungan antara IKG dengan garis tengah telur. Hubungan ini dapat dinyatakan
dalam gambar histigram seperti yang dikemukakan oleh Arsjad (1973) pada ikan
baung seperti pada gambar 9.
Selain indek kematangan gonad seperti termaksud di atas ternyata Batts
(1972) mengemukakan indek lain yang dinamakan Gonad Indeks (GI) yaitu
perbandingan antara berat gonad dengan panjang ikan, yang rumusnya:

GI = w/Ls X 10s
Dimana: GI = Gonad Indek
W = Berat gonad segar dalam gram
L = panjang ikan dalam mm.

Harga 10s merupakan suatu faktor agar nilai GI mendekati harga satu.
Apabila tidak dikalikan dengan faktor tersebut akan didapatkan suatu nilai yang
sangat kecil (beberapa angka di belakang koma) sehingga apabila nilai tersebut
dipakai untuk membandingkan dengan nilai lainnya tidak sepeka dengan
menggunakan faktor 10s tadi.

2.9 Diameter telur

Menurut Effendie, 1979 in Baginda, 2006, diameter telur adalah garis


tengah atau ukuran panjang dari suatu telur yang diukur dengan mikrometer
berskala yang sudah ditera. Semakin meningkat tingkat kematangan gonad garis
tengah telur yang ada dalam ovarium semakin besar.

16
Masa pemijahan setiap spesies ikan berbeda-beda, ada pemijahan yang
berlangsung singkat (total leptolepisawner), tetapi banyak pula pemijahan dalam
waktu yang panjang (partial leptolepisawner) ada pada ikan yang berlangsung
beberapa hari. Semakin meningkat tingkat kematangan, garis tengah telur yang
ada dalam ovarium semakin besar pula (Effendie, 1979 in Rizal, 2009).

2.10Kebiasaan makanan

Makanan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan bagi


reproduksi, dinamika populasi dan kondisi ikan di suatu perairan (Nilolsky, 1963
in Rahayu, 2009). Keberadaan suatu jenis ikan di perairan memiliki hubungan
yang erat dengan keberadaan makanannya (Larger, 1972 in Rahayu, 2009).
Kebiasaan makanan ikan secara alami tergantung kepada lingkungan tempat ikan
itu hidup (Effendie, 2002).
Kebiasaan makanan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
habitat, kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, musim, periode harian mencari
makanan, spesies kompetitor, ukuran dan umur ikan (Ricker, 1970 in Rahayu,
2009). Nikolsky, 1963 in Rahayu, 2009, menyatakan bahwa urutan kebiasaan
makanan ikan terdiri dari : (1) makanan utama, yaitu makanan yang biasa
dimakan dalam jumlah yang banyak. (2) makanan tambahan, yaitu makanan yang
biasa dimakan dan ditemukan di dalam usus dalam jumlah yang lebih sesikit; (3)
makanan pelengkap, yaitu makanan yang terdapat dalam saluran pencernaan
dengan jumlah yang sangat sedikit; serta (4) makanan pengganti, yaitu makanan
yang hanya dikonsumsi jika makanan utama tidak tersedia

Klasifikasi pola makan berdasar jenis makanan :


- Ikan pemakan daging ( carnivora ) : Ikan Hampal
- Ikan pemakan tumbuhan ( Herbivora ) : ikan Tawes, Ikan Nilem, Ikan
Lalawak, Ikan Beureum Panon
- Ikan pemakan segala ( Omnivora ) : jenis pemakan tumbuhan dan juga
berbagai macam hewan dan serangga seperti laron, kroto dll. : ikan Mas ,
ikan Mujair, ikan Nila
Ada beberapa metoda yang digunakan untuk mempelajari Food And Feeding
Habits,

17
a. Metode Jumlah.

Dilakukan dengan cara memisahkan semua benda yang ada didalam


saluran pencernaan berdasarkan species masing – masing.

b. Metode Frekuensi Kejadian.

Hampir sama dengan cara pada metode jumlah, tetapi hasilnya dinyatakan
dalam persen.

c. Metode Perkiraan Tumpukan Dalam Persen.

Pada metode ini dilakukan dengan cara mengukur isi alat pencernaan.
Kemudian isi tersebut diencerkan dengan pengisian air sampai 10 kali, hasil
pengenceran diamati dibawah mikroskop. Lalu kita dapat menentukan Food And
Feeding Habits ikan dari banyaknya jenis makanan yang terlihat dibawah
mikroskop.

d. Metode Volumetrik.

Metode ini dilakukan dengan cara mongering udarakan isi dari saluran
pencernaan kemudian setelah dikeringkan isi dari saluran pencernaan masing –
masing dipisahkan sesuai dengan jenisnya.

e. Metode Gravimetrik.

Pada dasarnya metode ini sama dengan metode volumetric hanya saja isi
dari saluran pencernaan dkiukur berdasarkan beratnya.

2.11 Morfologi Ikan

Pengenalan struktur ikan tidak terlepas dari morfologi ikan yaitu bentuk
luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam
mempelajari jenis-jenis ikan. Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat
ikan tersebut di perairan. Sebelum kita mengenal bentuk-bentuk tubuh ikan yang

18
bias menunjukkan dimana habitat ikan tersebut, ada baiknya kita mengenal
bagian-bagian tubuh ikan secara keseluruhan beserta ukuran-ukuran yang
digunakan dalam identifikasi.
Ukuran tubuh ikan. Semua ukuran yang digunakan merupakan pengukuran
yang diambil dari satu titik ke titik lain tanpa melalui lengkungan badan.
- Panjang total (TL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir
(premaxillae) hingga ujung ekor.
- Panjang standar (SL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir
(premaxillae) hingga pertenganpangkal sirip ekor (pangkal sirip ekor bukan
berarti sisik terakhir karena sisik-sisik tersebut biasanya memanjang sampai ke
sirip ekor)

- Panjang kepala (HL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir


(premaxilla) hingga bagian terbelakang operculum atau membran operculum.

BAB III

19
ALAT & BAHAN
3.1 Alat dan bahan :

A. Alat

1. Baki (Dissecting-pan) Wadah menyimpan objek


2. Mistar cm Mengukur panjang obyek yang diamati
3. Alat Tulis Menulis hasil pengamatan
4. Pisau bedah (scalpel) Membedah ikan
5. Pinset (forceps) Menjepit Ikan
6. Kertas label Memberi label
7. Timbangan kg Menimbang Ikan
8. Mikroskop

B. Bahan

1. Seekor Ikan selar

3.2 Prosedur Praktikum


➢ Menentukan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dan Indeks Kematangan
Gonad (IKG)
1. Rongga perut ikan dibuka dengan menggunakan gunting, mulai dari lubang
genital ke atas sebesar rongga perut
2. Mengambil bagian gonad ikan di dekat bagian anus dengan menggunakan
pinset kemudian meletakkannya pada cawan petridish dan menentukkan jenis
kelamin dari ikan dengan metode pengamatan secara morfologi
3. Menentukan TKG ikan berdasarkan klasifikasi TKG Kesteven (Bagenal daan
Braum, 1968)
4. Menghitung IKG ikan berdasrkan rumus :
B.gonad
IKG = ×100 %
B.tubuh

5. Mencatat hasil yang diperoleh


➢ Menghitung fekunditas

20
Jika ikan tersebut berjenis kelamin betina, maka kita dapat menghitung
fekunditasnya dengan salah satu metode yang dapat digunakan. Metode yang
digunakan pada praktikum ini adalah metode volumetric dengan prosedur kerja:

1. Mengisi gelas ukur dengan air secukupnya. Catat volume ait tersebut (volume
awal).
2. Memasukkan seluruh gonad pada gelas ukur tersebut. Catat volumenya
(volume akhir).
3. Mengurangkan antara volume akhir dengan volume awal sehingga
mendapatkan V.
4. Membagi gonad menjadi 3 bagian secara.
5. Mengambil bagian anterior, tengah dan posterior dari gonad tersebut sebagai
sampel..
6. Melakukan seperti pada langkah 1, 2 dan 3 sehingga didapatkan v.
7. Menghitung jumlah telur sampel.
8. Menghitung fekunditasnya dengan menggunakan rumus:
X = V  X = Vx

x v v

dimana: V = volume seluruh gonad

v = volume gonad sample

X = fekunditas

x = jumlah telur sampel yang dihitung

➢ Menentukan food habits


1. Membuka rongga perut ikan dengan menggunakan gunting, mulai dari lubang
genital ke atas sebesar rongga perut.
2. Mengambil bagian usus dengan menggunakan pinset
3. Mengeluarkan isi usus dengan cara mengurut bagian usus mulai dari ujung
phylorus hingga bagian akhir usus dan meletakkan dalam cawan petridish.
4. Melihat isi usus di bawah mikroskop
5. Mencatat hasil yang diperoleh.

21
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Table ikan kaca piring

22
Nama Seksualita Pertumbuhan ikan Perkembangan gonad fekun Dia Jenis
s ikan ditas met paka
er n
telu
r

Jant Bet TL SL Ber TKG IKG


an ina (mm) (mm) at (%)
(gr)

1 Hafidz, V 185 160 79 Dara 1,27 - -


ahmad fikri

2 Noviani, nia V 193 165 81 Dara 1,2 - -

3 Poberson, V 190 160 81 Dara 1,23 - -


raisa

4 Yulianti, asep V 182 152 72 Dara 1,38 - -

5 Arindina, rais V 180 158 76 Dara 1,32 - -


berkembang

6 Sandy, ujang V 179 150 74 Perkembang 1,35 - -


an II

7 Nurani, V 182 160 75 Dara 0,52 - -


wanwan

8 Widya V 185 155 82 Dara 0,12 - -


ahmadi

9 Maulana, arie V 180 155 79 Perkembang 1,26 - -


b an II

10 Kusma, V 170 165 76 Pulih salin 1,315 - -


luciana, Laura

11 Dimas dini V 179 154 80 Perkembang 1,25 - -


an II

12 Hanif, ricko V 195 165 84 Dara 1,19 - -

13 Faizal chaerul V 198 160 82 Dara 1,22 - -

14 m. alpanda, V 197 169 84 Perkembang 1,19 - -


iqbal an I

15 Reva, m. V 190 170 81 Perkembang 1,24 - -


Bashir an I

16 Prima yani V 180 160 77 Tidak masak 0,65 - -

17 Abdan krisna V 180 155 73 Berkembang 1,36 - -

18 Obi, rizky V 186 153 81 Berentang 1,24 - -

19 - -

20 Nabila, eka V 175 166 80 Perkembang 1,25 - -


andi an I

23
Pengolahan data ikan kacapiring

1. Seksualitas

Jantan : Betina = 30 : 8

= :

A. Tingkat Kematangan Gonad

TKG JUMLAH
Dara 18
Dara berkembang 8
Perkembangan I 7
Perkembangan II 3
Salin 2
Tidak Terdeteksi 1

Berdasarkan data kelas, ikan kacapiring yang di amati paling banyak berada pada
dara dengan ciri-ciri ( menurut Kesteven )sebagai berikut :

Betina :

• organ seksual sangat kecil berdekatan dibawah tulang


punggung
• ovarium transparan
• tidak berwarna sampai berwarna abu-abu
• Telur tidak terlihat dengan mata biasa.
Jantan :
• organ seksual sangat kecil berdekatan dibawah tulang
punggung

24
• testes transparan
• tidak berwarna sampai berwarna abu-abu

Jantan
TKG
bobot Dara Perkembangan Perkembangan Tidak
Dara Salin
berkembang I II Terdeteksi
15-20 4 2
21-30 5 4 3 1 2 1
31-40 6 1 2
41-50
51-60 1
Total 17 7 5 1 2 1

Betina
TKG
Berat Dara Perkembangan Perkembangan Tidak
Dara Salin
berkembang I II Terdeteksi
15-20 1 2 1
21-30 1 1 2 1
Total 2 3 2 2

Food and Feeding Habits

Ikan-
Kel Fitoplankton Zooplankton Tumbuhan Hewan Detritus ikan Udang
kecil
1 35% 10% - 55% - - -
2 35% 50% - 15 - - -
3 80% 20% - - - - -
4 10% 50% - 40% - -
5 20% 20% - 35% - - -
6 25% 35% - 40% - - -
7 15% 35% - 50% - - -
8 80% 20% - - - - -
9 25% 15% 60% - - - -
11 25% 55% - 20% - - -
12 30% 50% - 20% - - -
13 50% 50% - - - - -
14 40% 40% 20% - - - -
15 10% 35% 20% 35% - - -
16 20% 30% - 50 % - - -
18 - - - - - - -
19 - - - - - - -
20 - - - - - - -
21 - - - - - - -

25
22 - - - - - -
23 80% - - - 20% - -
24 100% - - - - - -
25 90% - - - 10% - -
26 90% - - - 10% - --
27 90% - - - 10% - -
28 80% - 10% - 10% - -
29 - - - - - - -
30 80% - - 20% - -
31 - 100% - - - - -
32 - 100% - √ - - -
33 - 100% - √ - - -
34 - 100% - √ - - -
35 40% 50% - - 10% - -
36 60% 40% -- -
37 - 100% - √ - - -
38 - 100% - √ - - -
39 - 100% - √ - - -
40 - 100% - - - - -
41 - 100% - √ - - -
42 - - √ - - -

Grafik

1 : fitoplankton
2 : zooplankton
3 : tumbuhan
4 : hewan
5 : detritus

• Frekuansi jenis kelamin dalam spesies :

♂ = 30/38 x 100% =78,94%

♀ = 8/38 x 100% = 21,05%

• Korelasi TKG dengan jenis kelamin ikan :


♂= dara = 17/30 x 100% = 56,66%
Dara berkembang = 7/30 x 100% = 23,33%
TKG I = 5/30x 100% = 16,66%
TKG II = 1/30 x 100% = 3,33%

26
Salin = 2/30x 100% = 6,66%
Tidak terdeteksi = 1/30 x 100% = 3,33%

♀= dara = 2/8 x 100% =25 %


Dara berkembang = 3/8 x 100% =37.5 %
TKG I =2/8x 100% = 25%
TKG II = 2/8 x 100% = 25%
Salin = 0/8x 100% =0 %

• Korelasi IKG dengan bobot ikan


IKG (min-max)
bobot
15-20 0,012%-1,5%
21-30 0,012%-0,98%
31-40 0,31%-2,5%
41-50 -
51-60 0%-0,6%

• Perbandingan jantan betina terhadap bobot ikan

Bobot Jantan Betina


51-76 5 10
77-102 8 9
103-128 - -
129-154 - 1
155-180 - -
181-206 1 3
207-232 1 1
233-258 - -

W Log W Log L . (Log


Log W L)2
20 1,30 2,68 4,25
18 1,26 2,62 4,35

27
15 1,18 2,49 4,47
21 1,32 2,75 4,32
25 1,40 2,91 4,32
18 1,26 2,63 4,40
30 1,48 3,10 4,41
40 1,60 3,33 4,32
40 1,60 3,48 4,71
60 1,78 3,89 4,80
25 1,40 2,93 4,40
35 1,54 3,29 4,54
40 1,60 3,40 4,51
40 1,60 3,42 4,55
25 1,40 2,96 4,47
27 1,43 2,98 4,32
31 1,49 3,15 4,47
32 1,51 3,19 4,50
29 1,46 3,06 4,38
27 1,43 2,95 4,25
31 1,49 3,10 4,32
29 1,46 3,04 4,32
29 1,46 3,07 4,40
40 1,60 3,44 4,61
28 1,45 3,03 4,40
33 1,52 3,21 4,47
26 1,41 2,94 4,32
29 1,46 3,04 4,32
25,06 1,40 2,92 4,35
33,38 1,52 3,25 4,54
37,25 1,57 3,27 4,32
33,87 1,53 3,23 4,47
23,4 1,37 2,82 4,25
21,39 1,33 2,78 4,38
27,11 1,43 2,99 4,35
25,84 1,41 3,01 4,54
28,22 1,45 3,04 4,40
28,06 1,45 2,98 4,25
33,11 1,52 3,21 4,47
1159,69 56,88 119,59 172,21

28
Rumus Korelasi : kaca piring (wader laut)
Log a = logW . (logL)2- ∑(logL .logW) . ∑logLN . logL2-(∑logL )2
= 56,88 x (6715,8025- 119,59(81,95)39 . 6715,8025-
172,21

= 381994,8462-9800,4005261916,2975-172,21
= 372194,4457261744,0875
Log a = 1,422

Log B = ∑logW-(N xloga)∑logL


= 56,88-(39 .1,422)81,95
= 56,88-55,45881,95
= 1,42281,95
Log b = 0,0174
b = 100,0174
= 1,0409
Jadi, dengan b < 3

29
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum
dan sesudah memijah. Umumnya pertambahan berat gonad ikan betina sebesar
10-25% dari berat tubuhnya, dan jantan sebesar 5-10%. Perbandingan antara berat
gonad dengan berat tubuh diantara banyak peneliti menamakan indeks tadi ialah “
Gonado Somatic Indekx “ atau Ideks Kematangan Gonad ( IKG ). IKG akan
semakin meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat akan
terjadi pemijahan.
Menurut Bagenal, 1978; Fekunditas : jumlah telur yang matang yang akan
dikeluarkan oleh induk. Menurut Nikolsky, 1969; Fekunditas individu : jumlah

30
telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan (baik digunakan pada ikan
yang memijah satu tahun sekali.

5.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan oleh kelompok kami khususnya untuk
praktikum mata kuliah Biologi Perikanan dan umumnya untuk mata kuliah
lainnya yang bertujuan agar pelaksanaan praktikum untuk selanjutnya menjadi
lebih baik adalah Dosen dan Asisten Dosen agar lebih berkoordinasi, dan
diharapkan tepat waktu jadwal praktikum tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama,


Yogyakarta

ELearning/Iktologi/Textbook/Cover%20Buku%20ajar%20(ikhtiologi).htm

http://andhikaprima.wordpress.com/2010/08/16/tingkat-kematangan-
gonad-ikan/ (Diakses pada tanggal 20 Maret 2011 pkl. 21.43)

http://id.wikipedia.org/wiki/Fekunditas (diakses pada tangga 20 Maret


2011 pkl. 21.00)

http://o-fish.com/PakanIkan/pakan_1.php (diakses pada tanggal 23 Maret


2011 pkl. 02.34)

31