Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Biologi perikanan sebagai dasar ilmu mengenai semua aspek-aspek yang
berhubungan dengan studi biologi ikan. Setiap makhluk hidup mengalami
pertumbuhan selama hidupnya dan melakukan reproduksi untuk menjaga
kelangsungan hidupnya.
Ikan adalah semua air vertebrata binatang yang ditutupi dengan sisik , dan
dilengkapi dengan dua set pasangan sirip dan sirip beberapa berpasangan.
Kebanyakan ikan ectothermic (atau berdarah dingin). Ikan berlimpah dalam tubuh
sebagian besar air.
Ikan dapat ditemukan di gunung tinggi sungai
(misalnya, char dan memperdaya ) dan terdalam di laut kedalaman
misalnya, gulpers dan anglerfish ). Menurut FishBase , 31.500 spesies ikan telah
dijelaskan oleh Januari 2010.
Ikan mempunyai rentang yang luas strategi reproduksi yang
berbeda. Kebanyakan ikan bagaimanapun yg menelur dan pameran fertilisasi
eksternal. Dalam proses ini, perempuan menggunakan kloaka mereka untuk
merilis jumlah besar gamet mereka, disebut bibit , ke dalam air dan satu atau lebih
laki-laki rilis "semen", cairan putih yang mengandung banyak telur yang tidak
dibuahi sperma selama ini. spesies ikan lain yang menelur dan fertilisasi internal
dibantu oleh panggul atau anal sirip yang diubah menjadi organ
intromittent analog dengan penis manusia. Sebagian kecil spesies ikan baik
vivipar atau ovoviviparous , dan secara kolektif dikenal sebagai livebearers . Ikan
gonad biasanya pasang baik ovarium atau testis. Kebanyakan ikan seksual
dimorfik tetapi beberapa jenis yang hermaprodit atau berkelamin tunggal .
Ikan terkenal sebagai mahluk yang mempunyai potensi fekunditas yang
tinggi dimana kebanyakan jenis ikan yang merupakan penghasil telur beribu-ribu
bahkan berjuta-juta tiap tahun. Apabila alam tidak mengaturnya maka dunia akan
sangat padat dengan ikan.

1
Pertumbuhan adalah perubahan ukuran bagian-bagian tubuh dan fungsi
fisiologis tubuh. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal maupun
eksternal. Faktor internal itu meliputi keturunan, pertumbuhan kelamin.
Pertumbuhan ikan memiliki hubungan yang erat antara pertumbuhan panjang dan
berat. Berdasarkan teori hubungan panjang berat dapat dinyatakan dengan rumus
W= aLb, dalam hal ini “W” = berat, “a dan b”= konstanta, dan “L”= panjang ikan
Dalam menduga pertumbuhan ikan di daerah tropis sulit dilakukan karena proses
pertumbuahan ikan terus menerus sehingga tidak bisa ditentukan hanya dengan
melihat bentuk sirkulus pada sisik saja. Pertumbuhan ikan juga dapat menduga
sebaran tingkat kematangan gonad ikan berdasarkan ukuran.
Ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Ikan akan melakukan reproduksi
bila gonadnya telah matang, dan kematangan gonad dapat ditentukan.
Cara reproduksi ikan yang ada antara lain :
1. Ovipar, sel telur dan sel sperma bertemu di luar tubuh dan embrio ikan
berkembang di luar tubuh sang induk. Contoh : ikan pada umumnya
2. Vivipar, kandungan kuning telur sangat sedikit, perkembangan embrio
ditentukan oleh hubungannya dengan placenta, dan anak ikan menyerupai
induk dewasa
3. Ovovivipar, sel telur cukup banyak mempunyai kuning telur,Embrio
berkembang di dalam tubuh ikan induk betina, dan anak ikan menyerupai
induk dewasa. Contoh : ikan-ikan livebearers
Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan seksual ikan antara lain
spesies, ukuran, dan umur. Secara umum ikan-ikan yang mempunyai ukuran
maksimum kecil dan jangka waktu hidup yang relatif pendek, akan mencapai
kematangan kematangan seksual lebih cepat dibandingkan ikan yang mempunyai
ukuran maksimum lebih besar.
Penentuan IKG (Indeks Kematagan Gonad) dan TKG (Tingkat
Kematangan Gonad) sangat penting dilakukan, karena dapat berguna untuk
mengetahui perbandingan antara gonad yang telah matang dan stok yang ada di
perairan, ukuraan pemijahan, musim pemijahan, dan lama pemijahan dalam satu
siklus. Terdapat dua cara untuk menentukan tingkat kematangan gonad dari ikan.
Pertama dengan cara morfologis yaitu dengan pengamatan secara visual terhadap

2
ukuran gonad ikan. Metode ini banyak dilakukan dan relatif lebih mudah, namun
tingkat ketelitian rendah. Pengamatan secara morfologis lebih praktis dilkukan
terutama dilapangan. Cara kedua yaitu dengan metode histologis. Metode ini
dilakukan di dalam laboratorium yaitu dengan mengamati perkembangan gonad
melalui fase perkembangan sel. Faktor-faktor yang mempengaruhi saat pertama
kali ikan matang gonad adalah jenis spesies, umur, ukuran, dan sifat fisiologis.
Sedangkan faktor luarnya adalah suhu, arus, individu lawan jenis, dan tempat
memijah yang sesuai (Effendi, 2002).

Banyaknya telur yang belum dikeluarkan sesaat sebelum ikan memijah


atau biasa disebut dengan fekunditas memiliki nilai yang bervariasi sesuai dengan
spesies. Jumlah telur yang dihasilkan merupakan hasil dari pemijahan yang
tingkat kelangsungan hidupnya di alam sampai menetas dan ukuran dewasa sangat
ditentukan oleh faktor lingkungan. Dalam pendugaan stok ikan dapat diketahui
dengan tingkat fekunditasnya. Tingkat fekunditas ikan air laut biasanya relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar. Telur yang dihasilkan memiliki
ukuran yang bervariasi. Ukuran telur dapat dilihat dengan menghitung diameter
telur. Diameter telur merupakan garis tengah atau ukuran panjang dari suatu telur
dengan mikrometer yang berskala yang sudah ditera. Pengamatan fekunditas dan
diameter telur dilakukan pada ikan dengan TKG III dan IV.
Proses makan adalah salah satu yang dilakukan makhluk hidup untuk
melakukan metabolisme dan juga menunjang aktivitas fisik. Energi sebagai
sumber untuk melakukan aktifitas diperoleh dari makanan yang dimakan
kemudian dirombak di dalam tubuh menjadi energi dan unsur lainnya sehingga
dapat dicerna dan diserap oleh tubuh. Makanan adalah semua organisme, bahan
dan zat yang dimanfaatkan oleh organisme untuk menunjang kehidupan dan
perkembangan organ tubuh. Makanan pada ikan penting untuk pertumbuhan
energi yang dihasilkan dari makanan berfungsi untuk pertumbuhan sel organisme.
Pada saat ikan mengambil dan mencari makan disebut kebiasaan makan atau
feeding habit. Ikan dalam hal pencarian makanan pula memiliki waktu khusus.
Waktu saat ikan aktif mencari makan disebut juga feeding periodicity.
Mempelajari kebiasaan makan ikan pada dasarnya adalah untuk mengetahui
kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan oleh ikan. Sehingga dapat

3
menentukan nilai gizi alamiah ikan disamping melihat hubungan ekologis dalam
tingkat trofik.
Praktikum mengenai pertumbuhan ikan, aspek reproduksi dan kebiasaan
makanan ikan sangat berkaitan dengan program studi biologi perikanan di
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Pentingnya pemahaman tentang
biologi perikanan merupakan salah satu upaya untuk memberikan kemampuan
dalam menganalisis dan menduga pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan.
Sehingga dengan demikian dapat melihat jumlah stok yang ada di alam
berdasarkan ukuran ikan.

Kematangan Gonad Ikan

Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum dan


sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk
perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan
akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan
berlangsung sampai selesai. Menurut Effendie (1997), umumnya pertambahan
bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10-25
persen dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5-10 persen. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa semakin rneningkat tingkat kematangan gonad, diameter
telur yang ada dalam gonad akan menjadi semakin besar. Pendapat ini diperkuat
oleh Kuo et al. (1974) bahwa kematangan seksual pada ikan dicirikan oleh
perkembangan diameter rata-rata telur dan melalui distribusi penyebaran ukuran
telurnya.

1.2 Tujuan Penelitian

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan gonad (TKG)


dan mengetahui perubahan – perubahan yang terjadi dalam gonad secara
kuantitatif pada Ikan tawes dan lelawak

1.3 Kegunaan Penelitian


Kita dapat mengetahui tingkat kematangan gonad (TKG) dan mengetahui
perubahan – perubahan yang terjadi dalam gonad secara kuantitatif pada Ikan

4
tawes dan lelawak

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi (Bentuk Tubuh) dan Anatomi Ikan Tawes dan Ikan
Lalawak

5
• Ikan Tawes

Ikan tawes memiliki ciri-ciri sebagaimana ikan cyprinidae, yaitu badanya


pipih ke samping dan memanjang dengan bentuk punggung seperti busur. Tinggi
badannya 2.4-2.6 kali panjang standar moncong tawes runcing, mulut terletak di
ujung terminal (tengah), kecil dan mempunyai dua pasang sungut yanga sangat
kecil. Permulaan sirip punggung berhadapan dengan sisik garis rusuk yang ke 10
sirip dubur berbentuk seperti jari-jari, sedangkan sirip ekornya bercagak.
Permulaan sirip ini berhadapan dengan sisik linea iateralis yang ke 19. sirip ekor
bergerak dengan lobus membuat sisik garis rusuk berjumlah 29-31. Sisik tawes
berwarna putih keperakan. Warna sisik di bagian punggung lebih gelap,
sedangkan warna sisik di bagian perut lebih putih. Dasar sisik berwarna kelabu
sampai gelap.

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class : Osteichthyes

Subclass : Actinopterygii

Order : Cypriniformes

Family : Cyprinidae

Genus : Puntius

Species : Puntius javanicus

6
Kebiasaan Makan Ikan tawes sempat disangka sebagai ikan pemakan segala.
Hal ini disebabkan karena ikan ini dapat menerima makanan tumbuhan daalam
bentuk apapun seperti sisa-sisa dapur, dedak, bungkil. Namun ternyata Tawes
merupakan ikan herbivora. Hal ini dapat dilihat dari makanan yang sering
dimakan adalah tumbuhan air seperti Hydrilla Vercilata, Presl dan Ceratophyllum
demersum L, dll. Ikan Tawes dewasa juga sering didapati makan daun-daunan
tanaman darat seperti singkong, rumput-rumputan lunak, dan daun talas. Larva
tawes memakan alga bersel satu dan zooplankton yang halus. Sedangkan benih
dan ikan-ikan dewasa memakan tumbuh-tumbuhan air seperti chlorophyceae,
characeae, ceratophyllaceac, polygonaceae.

Kebiasaan berkembangbiak ikan ini mudah berkembangbiak di alam


sehingga tidak sulit mengembangkannya di kolam ikan tawes pada umunya
berkembangbiak pada awal musim hujan, saat permukaan air naik yang
menimbulkan rangsangan karena adanya bau tanah. Namun demikian ikan ini
mudah dikawinkan di selain musim hujan tapi dengan terlebih dulu memanipolusi
lingkungan. Tawes dapat dikembangkan pada tempat yang tingginya tidak lebih
dari 1100 m dari permukaan laut. Namun ikan ini sangat baik tumbuhnya bila
dibiakan di tempat yang tingginya tidak lebih dari 500 m dari permukaan laut.
Telur ikan tawes bersifat demersal yaitu melayang di dekat dasar kolam. Sama
sekali tidak berperekat seperti ikan mas. Tidak cocok dibiakkan di kolam yang
dasarnya lumpur, sebab tanah yang berlumpur akan menyebabkan telur-telur yang
sudah dibuahi tertutup dan mati. Tawes bukan ikan pengasuh keturunannya karena
induk ini membiarkan telurnya berserakan didasar kolam tanpa perlidungan
khusus. Hal ini berbeda dengan ikan gurami yang menepatkan telur-telurnya di
sarang yang dibuatnya sendiri.

Ikan tawes merupakan ikan air tawar. Dapat hidup di air payau dengan
salinitas 7 permil. Ikan tawes dapat hidup dan berkembangbiak di daerah
berketinggian antara 50 m – 800 m di atas permukaan laut. Tapi dapat
berkembang optimal di daerah yang berketinggian antara 50 m – 500 m diantara
permukaan laut dengan suhu ideal antara 20oC – 33oC. Ditinjau dari betuk
tubuhnya, tawes termasuk penghuni sungai dengan arus yang deras. Tubuhnya
yang langsing dan tinggi memang disiapkan untuk menghadapi kondisi perairan

7
berarus deras. Ikan ini lebih menyukai perairan yang airnya bersih dan jernih. Hal
ini terkait dengan sifat biologisnya yang membutuhkan oksigen lebih banyak.

• Ikan Lalawak

Genus Barbodes mempunyai ciri-ciri morfologi mulut kecil, terminal atau


subterminal, celahnya tidak memanjang melebihi garis vertical yang melalui
pinggiran depan mata, mempunyai bibir halus berpapila atau tidak tetapi tanpa
lipatan, bibir bagian atas terpisah dari moncongnya oleh suatu lekukan yang jelas,
pangkal bibir atas tertutup oleh lipatan kulit moncong, pada ujung rahang bawah
tidak ada tonjolan. Bagian perut di depan sirip perut datar atau membulat tidak
memipih menbentuk geligir tajam, jika terdapat geligir hanya dibagian belakang
sirip perut. Gurat sisi sempurna, tidak ada pori tambahan pada sisik sepanjang
gurat sisi. Terdapat 7 – 10 ½ jari-jari bercabang pada sirip punggung, jari-jari
terakhir sirip punggung lemah atau keras tapi tidak bergerigi, tidak ada duri
mendatar di depan sirip punggung, 5 – 8 ½ jari-jari bercabang pada sirip dubur.

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class : Pisces

Ordo : Cypriniformes

Subordo : Cyprinoidei

Family : Cyprinidae

Genus : Barbodes

8
Species : Barbodes spp

2.2 Pertumbuhan Ikan

Pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran panjang atau berat dalam


suatu waktu. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan antara lain keturunan,
pertumbuhan kelamin dan umur, serta kerentanan penyakit. Keturunan
berhubungan dengan cara seleksi induk, yaitu induk yang bermutu tentu
menghasilkan anakan yang baik atau sebaliknya.
Pertumbuhan kelamin dan umur pun sangat berkaitan. Ada baiknya
pemeliharaan ikan pada beberapa jenis dipisahkan antara jantan dan betina. Hal
ini untuk menghindari adanya gejala pematangan kelamin secara dini. Bisa saja
ikan yang masih kecil sudah bertelur sehingga pertumbuhan badannya terhambat.
Kerentanan penyakit terkadang merupakan faktor keturunan dan
tergantung jenis ikan. Ada ikan yang tahan terhadap bakteri, tetapi rentan terhadap
jamur atau sebaliknya. Oleh karena itu, pengetahuan tentang jenis ikan pun
diperlukan untuk mengetahui setiap jenis penyakit yang sering menyerang ikan
tersebut. Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati penyakit harus selalu
disiapkan sebagai tindakan antisipasi bila timbul penyakit.
Pada pemeliharaan ikan ini kualitas air, kepadatan ikan, serta jumlah dan
kualitas pakan pun harus selalu diperhatikan. Kepadatan ikan sangat penting untuk
kenyamanan hidup. Ikan yang terlalu padat dapat menimbulkan stres karena
kualitas air cepat menjadi jelek. Bahkan, oksigen terlarut cepat habis. Selain itu,
pada ikan tertentu dapat terjadi gesekan antar ikan sehingga menimbulkan luka.
Akibatnya, penampilan ikan menjadi jelek atau bahkan dapat menimbulkan
kematian.
Jumlah dan kualitas pakan merupakan faktor penting. Bila pakannya
terlalu sedikit, ikan akan sukar tumbuh. Sebaliknya bila terlalu banyak, kondisi air
menjadi jelek, terutama pakan buatan. Pemberian pakan dengan frekuensi lebih
sering dan jumlah yang tidak terlalu banyak akan lebih baik dibanding diberikan
sekaligus dalam jumlah banyak.
Pertumbuhan pada ikan dapat diketahui melalui penghitungan panjang dan
berat pada ikan yang kemudian dikorelasikan.

9
a. Pengukuran Panjang.

Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran system metric dengan


satuan panjang millimeter. Ada dua ukuran panjang yang diukur yaitu total length
dan standard length

• Total length ( Panjang Total )


Adalah panjang ikan yang diukur dari mulai ujung terdepan bagian kepala
sampai ujung terakhir bagian ekornya.
• Standard Length ( Panjang Standard )
Adalah panjang ikan yang diukur dari mulai ujung terdepan bagian kepala
sampai ujung terakhir tulang ekornya.

b. Pengukuran Berat.

Pengukuran berat dilakukan dengan cara menimbang berat ikan


menggunakan alat timbangan, satuan yang digunakan adalah gram. Alat timbang
yang dilakukan sebaiknya memiliki ketelitian yang baik dan mampu menunjukan
hasil timbangan secara langsung. Penimbangan ikan sebaiknya dilakukan oleh dua
orang, dimana yang satu menimbang dan yang satu lagi mencatat hasil timbangan.

c. Menghitung Hubungan Panjang Dan Berat.

Hubungan panjang dan berat dapat dihitung dengan menggunakan rumus


sebagai berikut : Log W = log a + b log L

Log a = ∑ log W x ∑ (log L)2 - ∑ log L x ∑ ( log L x log W)

N x ∑ ( log L)2 – ( ∑ log )2

Log b = ∑ log W – ( N x log a)

∑ log L

Keterangan : W = Berat

L = Panjang

a = Konstanta

10
b = Konstanta

2.3 Reproduksi Ikan


Reproduksi merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup
suatu organisme. Bayangkan apabila ada suatu organisme yang tidak melakukan
reproduksi, tentu saja akan menganggu keseimbangan alam.
Ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Dalam hal ini, ikan jantan dan betina
akan saling mendekat satu sama lain kemudian si betina akan mengeluarkan telur.
Selanjutnya si jantan akan segera mengeluarkan spermanya, lalu sperma dan telur
ini bercampur di dalam air. cara reproduksi ini dikenal sebagai oviparus, yaitu
telur dibuahi dan berkembang di luar tubuh ikan.
Ikan terkenal sebagai mahluk yang mempunyai potensi fekunditas yang
tinggi dimana kebanyakan jenis ikan yang merupakan penghasil telur beribu-ribu
bahkan berjuta-juta tiap tahun. Apabila alam tidak mengaturnya maka dunia akan
sangat padat dengan ikan.

Cara reproduksi ikan yang ada antara lain :


1. Ovipar, sel telur dan sel sperma bertemu di luar tubuh dan embrio ikan
berkembang di luar tubuh sang induk. Contoh : ikan pada umumnya
2. Vivipar, kandungan kuning telur sangat sedikit, perkembangan embrio
ditentukan oleh hubungannya dengan placenta, dan anak ikan menyerupai
induk dewasa
3. Ovovivipar, sel telur cukup banyak mempunyai kuning telur,Embrio
berkembang di dalam tubuh ikan induk betina, dan anak ikan menyerupai
induk dewasa. Contoh : ikan-ikan livebearers
Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan seksual ikan antara lain spesies,
ukuran, dan umur. Secara umum ikan-ikan yang mempunyai ukuran maksimum
kecil dan jangka waktu hidup yang relatif pendek, akan mencapai kematangan

11
kematangan seksual lebih cepat dibandingkan ikan yang mempunyai ukuran
maksimum lebih besar.

2.4 Rasio Kelamin Ikan


Siklus hidup ikan dimulai dari perkembangan di
dalam gonad (ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada
ikan jantan yang menghasilkan sperma). Sehingga rasio kelamin Ikan nila
(Oreochromis niloticus) ada yang jantan dan betina.
Kegiatan teknik produksi induk betina ikan bertujuan untuk memproduksi
induk betina secara massal dalam rangka memenuhi kebutuhan induk betina ikan.
Dalam pemijahan ikan, biasanya mengunakan standar rasio jantan : betina adalah
1 : 3,sedangkan pada pemijahan biasa, rasio kelamin jantan : betina sekitar 60 :
40. Hal ini menyebabkan kebutuhan induk betina lebih banyak dibandingkan
jantan.

2.5 Kualitas Telur Ikan

Telur merupakan hasil akhir dari proses gametogenesis, setelah oosit


mengalami fase pertumbuhan yang panjang yang sangat bergantung pada
gonadotropin. Perkembangan diameter telur pada oosit teleostei umumnya karena
akumulasi kuningtelur selama proses vitelogenesis. Akibat proses ini, telur yang
tadinya kecil menjadi Ada tiga macam bahan kuning telur yang berbeda 1) butir
minyak (oil droplet), 2) gelembung kuning telur (yolk vesicle), 3) bola kecil
kuning telur (yolk globule). Dalam vitelogenesis yang sedang berlangsung,
sitoplasma telur yang matang ruangannya diisi oleh bola-bola kecil kuning telur
saling bersatu dengan yang lainnya membentuk menjadi masa kuning telur.
Definisi kualitas telur yang umum digunakan adalah kemampuan telur untuk
menghasilkan benih yang baik. Potensi telur untuk menghasilkan benih yang baik
ditentukan oleh beberapa faktor, yakni faktor fisik, genetik dan kimia selama

12
terjadi proses perkembangan telur. Jika satu dari faktor esensial ini tidak ada maka
telur tidak berkembang dalam beberapa stadia.

2.6 Tingkat kematangan gonad

Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum


dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk
perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan
akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan
berlangsung sampai selesai. Menurut Effendie (1997), umumnya pertambahan
bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10-25
persen dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5-10 persen. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa semakin rneningkat tingkat kematangan gonad, diameter
telur yang ada dalam gonad akan menjadi semakin besar. Pendapat ini diperkuat
oleh Kuo et al. (1974) bahwa kematangan seksual pada ikan dicirikan oleh
perkembangan diameter rata-rata telur dan melalui distribusi penyebaran ukuran
telurnya.

Tingkat kematangan gonad menurut Takata dan Tester (1953),

1. Tidak masak. Gonad sangat kecil seperi benang dan trasparan.


Penampang gonad pada ikan jantan pipih dengan warna kelabu,penampang
pada ikan betina bulat dengan warna kemerah-merahan.
2. Permulaan masak. Gonad mengisi ¼ rongga tubuh. Warnanya pada ikan
jantan kelabu atau putih, bentuknya pipih, sedangkan pada ikan betina
warnanya kemerah-merahan atau kuning dan bentuknya bulat. Telur tidak
tampak.
3. Hampir masak. Gonad mengisi ½ rongga tubuh. Gonad pada ikan jantan
berwarna putih, pada ikan betina berwarna kuning. Bentuk telur tampak
melalui dinding ovarium.
4. Masak. Gonad mengisi ¾ rongga tubuh. Gonad ikan jantan berwarna putih
berisi cairan berwarna putih. Gonad betina berwarna kuning, hampir
bening atau bening. Telur dapat terlihat. Kadang-kadang dengan tekanan
halus pada perutnya ada yang menonjol pada lubang pelepasannya.

13
5. Salin. Hampir sama dengan tahap kedua dan sukar dibedakan. Gonad
jantan berwarna putih, kadang-kadang dengan bintik coklat. Gonad betina
berwarna merah, lembek dan telur tidak nampak.

Sedangkan tingkat kematangan gonad ikan menurut Nikolsky (1969) adalah


sebagai berikut :

1. Tidak masak, individu masih belum berhasrat mengadakan reproduksi dan


ukuran gonadnya kecil.
2. Masa istirahat, produk seksual belum berkembang, gonad berukuran kecil,
telur tidak dapat dibedakan oleh mata.
3. Hampir masak, telur dapat dibedakan oleh mata, testis berubah dari warna
transparan menjadi warna ras.
4. Masak, produk seksual masak, produk seksual mencapai berat maksimum
tetapi produk tersebut belum keluar bila perut diberi tekanan.
5. Reproduksi, apabila perut diberi sedikit tekanan produk seksualnya akan
menonjol keluar dari lubang pelepasan. Berat gonad cepat menurun sejak
permulaan berpijah sampai mijah selesai.
6. Keadaan salin, produk seksual telah dikeluarkan oleh lubang genital
berwarna kemerahan, gonad mengempis, ovarium berisi beberapa telur
sisa.
7. Masa istirahat, produk seksual telah dikeluarkan, warna kemerahan pada
lubang genital, telur putih, gonad kecil belum terlihat oleh mata.

Tingkat kematangan gonad menurut Kesteven ( Bagenal dan Braum, 1968)


1. Dara. Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung.
Testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai warna abu- abu
2. Dara Berkembang. Testes dan ovarium jernih, abu- abu merah.
Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur
satu persatu dapat dilihat dengan kaca pembesar.
3. Perkembangan 1. Testes dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna
kemerah- merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira
setengah ruang ke bagian bawh. Telur padat dilihat seperti serbuk putih.

14
4. Perkembangan 2. Testes berwarna putih kemerahan. Tidak ada sperma jika
bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah- merahan. Telur
jelas dapat dibedakan, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisi dus pertiga
ruang bawah.
5. Bunting. Organ seksual mengisi ruang bawah. Testes berwarna putih,
keluar tetesan sperma kija bagian perut ditekan. Telur bentuknya bulat,
beberpa darinya jernih dan masak.
6. Mijah. Telur dan sperma keluar jika bagian perut ditekan. Kebanyakan
telur berwarna jernih dengan beberapa berbentuk bulat telur tinggal
didalam ovarium.
7. Mijah/ Salin. Gonad belum kosong sama sekali. Tidak ada telur yang bulat
telur.
8. Salin. Testes dan ovarium kosong da berwarna kemerahan. Beberapa telur
sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.
9. Pulih Salin. Testes dan ovarium berwarna jernih, abu- abu sampai merah.

2.7 Fekunditas

Fekunditas merupakan ukuran yang paling umum dipakai untuk mengukur


potensi produksi pada ikan, karena relatif lebih mudah dihitung, yaitu jumlah telur
dalam ovari ikan betina (Sjafei et al, 1992 in Rizal, 2009). Peningkatan fekunditas
berhubungan dengan peningkatan berat tubuh dan berat gonad. Fekunditas
berbeda-beda tiap spesies dan kondisi lingkungan berbeda. Spesies ikan yang
mempunyai fekunditas besar, pada umumnya memijah di daerah permukaan
perairan sedangkan spesies yang mempunyai fekunditas kecil melindungi telurnya
pada tanaman atau substrat lainnya (Nikolsky, 1963 in Rizal, 2009).
Besarnya fekunditas spesies dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
fertilitas, frekuensi pemijahan, perlindungan induk (parental care), kondisi
lingkungan, kepadatan populasi, ketersediaan makanan, ukuran panjang dan bobot
ikan, ukuran diameter telur, dan faktor lingkungan (Satyani, 2003; Moyle dan
Cech, 2004; Okarsson dan Taggart, 2006 in Tampubolon, 2008).

15
2.8 Indeks kematangan gonad (IKG)

Indeks kematangan gonad ikan dipengaruhi oleh adanya perbandingan


antara berat gonad dengan berat tubuh yang dinyatakan dalam persen. Jika nilai
indeks akan semakin meningkat dan mencapai batas maksimum pada saat akan
mengalami pemijahan. Pada ikan betina nilai ini lebih besar dibandingkan dengan
jantan.
Di dalam proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan, sebagian besar
hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad. Gonad semakin bertambah
berat dibarengi dengan semakin bertambah besar ukurannya termasuk garis tengah
telurnya. Berat gonad akan mencapai maksimum sesaat ikan akan berpijah,
kemudian berat gonad akan menurun dengan cepat selama pemijahan sedang
berlangsung sampai selesai.
Telah dikemukakan bahwa secara morfologi perubahan-perubahan kondisi
tersebut dapat dinyatakan dengan tingkat kematangan. Namun hal ini belum
menyatakan suatu perhitungan secara kuantitatif. Untuk mengetahui perubahan
yang terjadi dalam gonad tersebut secara kuantitatif. Dapat dinyatakan dengan
suatu indeks yang dinamakan Indeks Kematangan Gonad, atau IKG. Indeks ini
dinamakan juga Maturity atau Gonad Somatic Indeks (GSI) yaitu suatu nilai
dalam persen sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan
termasuk gonad dikalikan dengan 100%.

IKG = Bg/Bt X 100%


Dimana: IKG = Indek kematangan gonad
Bg = Berat gonad dalam gram
Bt = Berat tubuh dalam gram
Dengan nilai tersebut akan di dapatkan bahwa sejalan dengan
perkembangan gonad, indek itu akan semakin bertambah besar dan nilai tersebut
akan mencapai batas kisar maksimum pada saat akan terjadi pemijahan. Jahson
(1971) mengemukakan bahwa pada ikan thredfin shad indeknya berkisar dari 1–
25%. Ikan dengan IKG mulai dari 19% ke atas sudah sanggup mengeluarkan
telurnya dan dianggap matang. Sesudah memijah indeknya turun menjadi 3 – 4%.

16
Untuk tingkat kematangan gonad tertentu nilai indek tidak merupakan
suatu nilai melainkan nilainya merupakan suatu nilai batas kisar. Sebagai contoh
misalnya:
Tingkat kematangan IKG
III 6 – 11
IV 8 – 14
V 13-20
Namun didapatkan pula pada ikan belanak (Effendie dan subardja, 1976)
bahwa pada tingkat kematangan yang sama (IV), tiap bulan indeknya bervariasi
dari 1– 20. Sudah barang tentu indek untuk jenis ikan lainnya berbeda-beda. Bagi
jenis ikan-ikan di Indonesia masih banyak sekali yang belum diketahui. Sekali
lagi hal ini merupakan peluang yang baik untuk diteliti lebih lanjut.
Dari awal perkembangan gonad sampai memijah, garis tengah telur yang
dikandungnya semakin membesar pula. Dengan demikian maka akan didapatkan
hubungan antara IKG dengan garis tengah telur. Hubungan ini dapat dinyatakan
dalam gambar histigram seperti yang dikemukakan oleh Arsjad (1973) pada ikan
baung seperti pada gambar 9.
Selain indek kematangan gonad seperti termaksud di atas ternyata Batts
(1972) mengemukakan indek lain yang dinamakan Gonad Indeks (GI) yaitu
perbandingan antara berat gonad dengan panjang ikan, yang rumusnya:

GI = w/Ls X 10s
Dimana: GI = Gonad Indek
W = Berat gonad segar dalam gram
L = panjang ikan dalam mm.

Harga 10s merupakan suatu faktor agar nilai GI mendekati harga satu.
Apabila tidak dikalikan dengan faktor tersebut akan didapatkan suatu nilai yang
sangat kecil (beberapa angka di belakang koma) sehingga apabila nilai tersebut
dipakai untuk membandingkan dengan nilai lainnya tidak sepeka dengan
menggunakan faktor 10s tadi.

17
2.9 Diameter telur

Menurut Effendie, 1979 in Baginda, 2006, diameter telur adalah garis


tengah atau ukuran panjang dari suatu telur yang diukur dengan mikrometer
berskala yang sudah ditera. Semakin meningkat tingkat kematangan gonad garis
tengah telur yang ada dalam ovarium semakin besar.
Masa pemijahan setiap spesies ikan berbeda-beda, ada pemijahan yang
berlangsung singkat (total leptolepisawner), tetapi banyak pula pemijahan dalam
waktu yang panjang (partial leptolepisawner) ada pada ikan yang berlangsung
beberapa hari. Semakin meningkat tingkat kematangan, garis tengah telur yang
ada dalam ovarium semakin besar pula (Effendie, 1979 in Rizal, 2009).

2.10Kebiasaan makanan

Makanan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan bagi


reproduksi, dinamika populasi dan kondisi ikan di suatu perairan (Nilolsky, 1963
in Rahayu, 2009). Keberadaan suatu jenis ikan di perairan memiliki hubungan
yang erat dengan keberadaan makanannya (Larger, 1972 in Rahayu, 2009).
Kebiasaan makanan ikan secara alami tergantung kepada lingkungan tempat ikan
itu hidup (Effendie, 2002).
Kebiasaan makanan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
habitat, kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, musim, periode harian mencari
makanan, spesies kompetitor, ukuran dan umur ikan (Ricker, 1970 in Rahayu,
2009). Nikolsky, 1963 in Rahayu, 2009, menyatakan bahwa urutan kebiasaan
makanan ikan terdiri dari : (1) makanan utama, yaitu makanan yang biasa
dimakan dalam jumlah yang banyak. (2) makanan tambahan, yaitu makanan yang
biasa dimakan dan ditemukan di dalam usus dalam jumlah yang lebih sesikit; (3)
makanan pelengkap, yaitu makanan yang terdapat dalam saluran pencernaan
dengan jumlah yang sangat sedikit; serta (4) makanan pengganti, yaitu makanan
yang hanya dikonsumsi jika makanan utama tidak tersedia

Klasifikasi pola makan berdasar jenis makanan :


- Ikan pemakan daging ( carnivora ) : Ikan Hampal

18
- Ikan pemakan tumbuhan ( Herbivora ) : ikan Tawes, Ikan Nilem, Ikan
Lalawak, Ikan Beureum Panon
- Ikan pemakan segala ( Omnivora ) : jenis pemakan tumbuhan dan juga
berbagai macam hewan dan serangga seperti laron, kroto dll. : ikan Mas ,
ikan Mujair, ikan Nila
Ada beberapa metoda yang digunakan untuk mempelajari Food And Feeding
Habits,

a. Metode Jumlah.

Dilakukan dengan cara memisahkan semua benda yang ada didalam


saluran pencernaan berdasarkan species masing – masing.

b. Metode Frekuensi Kejadian.

Hampir sama dengan cara pada metode jumlah, tetapi hasilnya dinyatakan
dalam persen.

c. Metode Perkiraan Tumpukan Dalam Persen.

Pada metode ini dilakukan dengan cara mengukur isi alat pencernaan.
Kemudian isi tersebut diencerkan dengan pengisian air sampai 10 kali, hasil
pengenceran diamati dibawah mikroskop. Lalu kita dapat menentukan Food And
Feeding Habits ikan dari banyaknya jenis makanan yang terlihat dibawah
mikroskop.

d. Metode Volumetrik.

Metode ini dilakukan dengan cara mongering udarakan isi dari saluran
pencernaan kemudian setelah dikeringkan isi dari saluran pencernaan masing –
masing dipisahkan sesuai dengan jenisnya.

e. Metode Gravimetrik.

Pada dasarnya metode ini sama dengan metode volumetric hanya saja isi
dari saluran pencernaan dkiukur berdasarkan beratnya.

19
2.11 Morfologi Ikan

Pengenalan struktur ikan tidak terlepas dari morfologi ikan yaitu bentuk
luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam
mempelajari jenis-jenis ikan. Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat
ikan tersebut di perairan. Sebelum kita mengenal bentuk-bentuk tubuh ikan yang
bias menunjukkan dimana habitat ikan tersebut, ada baiknya kita mengenal
bagian-bagian tubuh ikan secara keseluruhan beserta ukuran-ukuran yang
digunakan dalam identifikasi.
Ukuran tubuh ikan. Semua ukuran yang digunakan merupakan pengukuran
yang diambil dari satu titik ke titik lain tanpa melalui lengkungan badan.
- Panjang total (TL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir
(premaxillae) hingga ujung ekor.
- Panjang standar (SL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir
(premaxillae) hingga pertenganpangkal sirip ekor (pangkal sirip ekor bukan
berarti sisik terakhir karena sisik-sisik tersebut biasanya memanjang sampai ke
sirip ekor)

- Panjang kepala (HL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir


(premaxilla) hingga bagian terbelakang operculum atau membran operculum.

BAB III
ALAT & BAHAN
3.1 Alat dan bahan :

A. Alat

1. Baki (Dissecting-pan) Wadah menyimpan objek


2. Mistar cm Mengukur panjang obyek yang diamati
3. Alat Tulis Menulis hasil pengamatan
4. Pisau bedah (scalpel) Membedah ikan
5. Pinset (forceps) Menjepit Ikan

20
6. Kertas label Memberi label
7. Timbangan kg Menimbang Ikan
8. Mikroskop

B. Bahan

1. Seekor Ikan tawes dan lelawak

3.2 Prosedur Praktikum


➢ Menentukan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dan Indeks Kematangan
Gonad (IKG)
1. Rongga perut ikan dibuka dengan menggunakan gunting, mulai dari lubang
genital ke atas sebesar rongga perut
2. Mengambil bagian gonad ikan di dekat bagian anus dengan menggunakan
pinset kemudian meletakkannya pada cawan petridish dan menentukkan jenis
kelamin dari ikan dengan metode pengamatan secara morfologi
3. Menentukan TKG ikan berdasarkan klasifikasi TKG Kesteven (Bagenal daan
Braum, 1968)
4. Menghitung IKG ikan berdasrkan rumus :
B.gonad
IKG = ×100 %
B.tubuh

5. Mencatat hasil yang diperoleh


➢ Menghitung fekunditas

Jika ikan tersebut berjenis kelamin betina, maka kita dapat menghitung
fekunditasnya dengan salah satu metode yang dapat digunakan. Metode yang
digunakan pada praktikum ini adalah metode volumetric dengan prosedur kerja:

1. Mengisi gelas ukur dengan air secukupnya. Catat volume ait tersebut (volume
awal).
2. Memasukkan seluruh gonad pada gelas ukur tersebut. Catat volumenya
(volume akhir).
3. Mengurangkan antara volume akhir dengan volume awal sehingga
mendapatkan V.
4. Membagi gonad menjadi 3 bagian secara.

21
5. Mengambil bagian anterior, tengah dan posterior dari gonad tersebut sebagai
sampel..
6. Melakukan seperti pada langkah 1, 2 dan 3 sehingga didapatkan v.
7. Menghitung jumlah telur sampel.
8. Menghitung fekunditasnya dengan menggunakan rumus:
X = V  X = Vx

x v v

dimana: V = volume seluruh gonad

v = volume gonad sample

X = fekunditas

x = jumlah telur sampel yang dihitung

➢ Menentukan food habits


1. Membuka rongga perut ikan dengan menggunakan gunting, mulai dari lubang
genital ke atas sebesar rongga perut.
2. Mengambil bagian usus dengan menggunakan pinset
3. Mengeluarkan isi usus dengan cara mengurut bagian usus mulai dari ujung
phylorus hingga bagian akhir usus dan meletakkan dalam cawan petridish.
4. Melihat isi usus di bawah mikroskop
5. Mencatat hasil yang diperoleh.

22
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Data praktikum


a. data kelompok
✔ Berat : 33 gram
✔ Panjang (SL) : 100 mm
(TL) : 130 mm
✔ Jenis Kelamin : Jantan
✔ TKG : Mijah
✔ Berat Gonad : 0,65 gram
IKG = Berat GonadBerat Tubuh x 100%
= 0,6533 x 100%
= 1, 97 %
✔ Isi Lambung : Fitoplankton, Zooplankton, detritus
✔ Tingkat Trofik : Omnivora

23
✔ Tabel :
Jenis Panjang (mm) Berat Berat Tingkat
TKG Isi Lambung
Kelamin SL TL (gram) Gonad Trofik

Fitoplakton ,
0.65 gram
Jantan 100 130 33 mijah zooplankton, Omnivora
(1,97 %)
detritus

b. Data kelompok

Hasil Praktikum Kelas A

Praktikum : Biologi Perikanan


Spesimen : Ikan Lelawak
Tanggal : 13 April 2011
Lab Praktikum : Akuakultur

24
Jenis
Ikan Pertumbuhan
Kelamin Fekun Diameter Jenis
pada Panjang TKG IKG
Berat ditas Telur Pakan
SL TL ♀ ♂
Kel.
(gram)
(mm) (mm)
1 155 205 106 √ Bunti 4,71% 4536 0,6 mm Omnivora
ng
2 130 160 52 √ Bunti 0,04% 162 0,8 mm Omnivora
ng
3 117 148 38 √ Siap 2,63% - - Omnivora
mijah
4 136 172 63 √ Bunti 3,75% 339 0,6 mm Omnivora
ng
5 140 170 61 √ Perk. 4,91% 0,5 mm Omnivora
I
6 107 135 33 √ Dara 3,03% - - Omnivora
Berk.
7 133 135 54 √ Perk. 3,70% - 0,65 mm Omnivora
II
8 110 140 35 √ Mijah 2,86% - - -
9 135 175 60 √ Bunti 3,33% - - Omnivora
ng
10 251 310 557 √ Siap 14,44 153.8 0,9 mm Omnivora
mijah % 85
11 138 178 71 √ Perk. 4,23% - 0,9 mm Omnivora
II
12 135 175 62 √ Dara 4,84% - 0,6 mm Herbivora
berk.
13 130 170 59 √ Perk. 6,77% - 0,9 mm Omnivora
II
14 115 142 40 √ Perk. 2,50% - 0,7 mm Omnivora
II

25
Food and Feeding Habit
Kel Fitoplankton Zoopalnkton Bag. Bag. Detritus Ikan Serangga
Tumbuhan Hewan
1 - - - - - - -
2 - - - - - - -
3 - - - - - - -
4 65% 35% - - - - -
5 60% 40% - - - - -
6 60% 40% - - - - -
7 60% 40% - - - - -
8 - - - - - - -
9 - - - - - - -
10 - - - - - - -
11 - - - - - - -
12 - - - - - - -
13 - - - - - - -
14 - - - - - - -

Praktikum : Biologi Perikanan


Spesimen : Ikan Lelawak
Tanggal : 13 April 2011
Lab Praktikum : Fisiologi Hewan Air

Jenis
Ikan Pertumbuhan
Kelamin Fekun Diameter Jenis
pada Panjang TKG IKG
Berat ditas Telur Pakan
SL TL ♀ ♂
Kel.
(gram)
(mm) (mm)
15 110 130 25 √ Perk. II 4,00% - - Herbivora
16 115 155 37 √ Bunting 3,10% - - Omnivora
17 155 175 73 √ Bunting - 1.680 0,9 mm Omnivora
18 135 165 61 √ Mijah 1,63% - - Omnivora
19 125 160 45 √ Bunting 4,40% - - Herbivora
20 140 185 68 √ Bunting 5,88% 1.750 0,5 mm Herbivora

26
21 93 116 23 √ Mijah 4,30% - - Herbivora
22 105 135 32 √ Bunting 3,12% - - Herbivora
23 115 140 36 √ Bunting 2,70% - - Herbivora
24 110 130 34 √ Bunting 2,90% 1.035 0,6 mm Herbivora
25 120 140 32 √ Bunting 6,25% 2.220 0,6% Herbivora
26 135 165 66 √ Bunting 7,50% - 0,5% Herbivora
27 100 130 31 √ Dara 3,25% - - Omnivora
28
29
30

Food and Feeding Habit


Ikan Fitoplankton Zoopalnkton Bag Bag Detritus Ikan Serangga
pada Tumbuhan Hewan
Kel.
15 25% - 75% - - - -
16 20% 60% 20% - - - -
17 15% - 85% - - - -
18 15% 10% 80% - - - -
19 5% - 80% - 15% - -
20 25% - 75% - - - -
21 5% - 80% - 15% - -
22 5% - 80% - - - -
23 3% - 80% - 17% - -
24 30% - 70% - - - -
25 25% - 75% - - - -
26 30% - 70% - - - -
27 40% 30% 30% - - - -
28
29
30

Praktikum : Biologi Perikanan


Spesimen : Ikan Lelawak
Tanggal : 13 April 2011
Lab Praktikum : Manajemen Sumberdaya Perairan

Ikan Jenis TKG IKG Fekun Diameter Jenis


Pertumbuhan
pada Kelamin ditas Telur Pakan
Panjang Berat ♀ ♂

27
SL TL
(gram)
Kel. (mm) (mm)
28 130 155 56,80 √ Mijah 2,78% - - Herbivora
29 130 165 43,08 √ Mijah 2,57% - - Herbivora
30 125 140 37,46 √ Mijah 2,75% - - Herbivora
31 134 158 44,69 √ Bunting 2,43% 1.971 - Herbivora
32 125 155 44,97 √ Mijah 4,22% 2.397 - Omnivora
33 135 150 48,70 √ Mijah 2,87% 3.679 - Herbivora
34 130 160 47,12 √ Mijah 2,56% - - Herbivora
35 120 150 41,35 √ Mijah 0,02% - - Herbivora
36 145 160 60,50 √ Bunting 2,99% 1.024 - Herbivora
37 125 155 47,59 √ Mijah 2,42% - - Herbivora
38 130 150 49,45 √ Pulih 6,95% 2.391 - Herbivora
salin
39 140 175 70,05 √ Mijah 2,93% 7.140 - Herbivora
40
41

Food and Feeding Habit


Ikan Fitoplankton Zoopalnkton Bag. Bag Detritus Ikan Serangga
pada Tumbuhan Hewan
Kel.
28 100% - - - - - -
29 100% - - - - - -
30 100% - - - - - -
31 100% - - - - - -
32
33 100% - - - - - -
34 100% - - - - - -
35 100% - - - - - -
36 100% - - - - - -
37 100% - - - - - -
38 100% - - - - - -
39 100% - - - - - -
40
41

Hasil Praktikum Kelas B

Praktikum : Biologi Perikanan


Spesimen : Ikan Lelawak
Tanggal : 13 April 2011

28
Lab Praktikum : Akuakultur

Jenis
Ikan Pertumbuhan
Kelamin Fekun Diameter Jenis
pada Panjang TKG IKG
Berat ditas Telur Pakan
SL TL ♀ ♂
Kel.
(gram)
(mm) (mm)
16 120 1145 45 √ Matang 2,22% - - Omnivora
siap
mijah
17 115 150 37 √ Matang 0,40% - - Omnivora
siap
mijah
18 120 144 55 √ Perk. I 3,64% 432 0,4 mm Omnivora
19
20 102 133 34 √ Mijah 2,10% - - Omnivora
21
22 100 130 33 √ Mijah 1,97% - - -
23 120 150 49 √ Mijah 0,020 - - -
%
24 160 125 51 √ Perk. I 3,92% - - -
25
26 105 130 35 √ Mijah 2,90% - - Omnivora
27 120 150 40 √ Mijah 2,50% - - -
28 115 140 38 √ Perk. II 2,60% 340 0,4 mm Omnivora
29
30 130 170 70 √ Mijah 4,28% 12.00 0,4 mm Omnivora
0

Food and Feeding Habit


Ikan Fitoplankton Zoopalnkton Bag Bag Detritus Ikan Serangga
pada Tumbuhan Hewan
Kel.
16 30% 50% 10% 5% 5% - -
17 35% 50% 10% - 5% - -
18 30% 20% - - 50% - -
19

29
20 20% 50% 5% 10% 5% - -
21
22 20% 60% - - 20% - -
23 - - - - - - -
24 20% 60% - - 20% - -
25
26 20% 60% 10% - 10% - -
27 30% 50% 10% - 10% - -
28 25% 25% 25% - 25% - -
29
30 2015 60% 10% - 10% - -

Praktikum : Biologi Perikanan


Spesimen : Ikan Lelawak
Tanggal : 13 April 2011
Lab Praktikum : Manajemen Sumberdaya Perairan

Jenis
Ikan Pertumbuhan
Kelamin Fekun Diameter Jenis
pada Panjang TKG IKG
Berat ditas Telur Pakan
SL TL ♀ ♂
Kel.
(gram)
(mm) (mm)
31 95 125 25,11 √ Perk. II 3,00% - - Herbivora
32 140 170 71,19 √ Dara 2,27% - - Herbivora
33 120 150 50,05 √ Perk. II 3,26% - - Herbivora
34 120 145 38,33 √ Perk. I 0,79% - - -
35 135 155 63,8 √ Dara 4,02% 3.393 - Herbivora
Berk.
36
37 95 102 47,28 √ Perk. II 2,83% - - Herbivora
38 105 142 40,59 √ Mijah 3,00% - - Omnivora
39 110 130 33,7 √ Perk. I 2,50% - -
40 135 165 63,63 √ Dara 1,90% - -
41 97 110 27,2 √ Bunting 0,16% - - Herbivora

Food and Feeding Habit


Ikan Fitoplankton Zoopalnkton Bag. Bag Detritus Ikan Serangga

30
pada Tumbuhan Hewan
Kel.
31 100% - - - - - -
32 100% - - - - - -
33 100% - - - - - -
34 100% - - - - - -
35 100% - - - - - -
36
37 100% - - - - - -
38 70% 30% - - - - -
39 100% - - - - - -
40 100% - - - - - -
41 100% - - - - - -

Data Olahan

Ikan lalawak kelas B

Kel. L (SL) Log L W Log W Log L . Log (Log L)2


W
16 120 2,08 45 1,65 3,44 4,32
17 115 2,06 37 1,57 3,23 4,25
18 120 2,08 55 1,74 3,62 4,32
20 102 2,01 34 1,53 3,08 4,03
22 100 2,00 33 1,52 3,04 4,00
23 120 2,08 49 1,69 3,51 4,32
24 160 2,20 51 1,71 3,76 4,86
26 105 2,02 35 1,54 3,12 4,09
27 120 2,08 40 1,60 3,33 4,32
28 115 2,06 38 1,58 3,26 4,25
30 130 2,11 70 1,85 3,90 4,47
31 95 1,98 25,11 1,40 2,77 3,91
32 140 2,15 71,19 1,85 3,98 4,61
33 120 2,08 50,05 1,70 3,53 4,32
34 120 2,08 38,33 1,58 3,29 4,32
35 135 2,13 63,8 1,80 3,84 4,54
37 95 1,98 47,28 1,67 3,31 3,91
38 105 2,02 40,59 1,61 3,25 4,09
39 110 2,04 33,7 1,53 3,12 4,17
40 135 2,13 63,63 1,80 3,84 4,54

31
41 97 1,99 27,2 1,43 2,85 3,95
43,36 947,8 71,08 89,58
total 2459 8 34,37

Rumus Korelasi : Lelawak kecil kelas B

Log a
Berat = logW . (logL)2- ∑(logL .logW) . ∑logLN . logL2-∑logL 2

= 34,37 x 1880,0896- 71,08(43,36)21 . 1880.0896-89,58

= 64618,679552-3082,028839481,8816-89,58

= 61566,65075239392,3016
Panjang

Log a = 1,563

Log B = ∑logW-(N xloga)∑logL

= 34,37-(21 .1,563)43,36

= 34,37-32,8243,36

= 1,54943,36

Log b = 0,0357

b = 100,0357

= 1,0856

32
Jadi, dengan b < 3
diketahui
bahwa
perbandingan
ikan lelawak
untuk kelas B
sebesar
jantan betina
16 5

TKG JUMLAH
Dara 2
Dara berkembang 1

Perkembangan I 4

Perkembangan II 4

Bunting 1
Mijah 7
Matang siap mijah 2

Bera TKG jantan

33
mata
Dara puli
Dar Perkemba Perkemba ng
t berkemb Bunting Mijah h
a ngan I ngan II siap
ang salin
mijah
23-
78 2 - 2 3 1 6 - 2
Total 2 0 2 7 1 6 - 2

6 TKG betina
Ber 5 Dara matang
Dar
4
Perkemba Perkemba Bunti pulih
at berkemb Mijah siap
a3 ngan I ngan II ng salin
ang Jantan
mijah
2
23- Betina
1
78 1 1 1 4 7 5 1 -
0
Total 1 1 6 4 7 5 1 -

34
Data Kelas
A. Rasio jenis kelamin
• ♂ 1621 x 100%=76,19%
• ♀ 521 x 100%=23,81%

A. Tingkat Kematangan Gonad


1. Korelasi tingkat kematangan gonad terhadap jenis kelamin
♀ Dara = 05 x 100%=0%
TKG I = 25 x 100%=40%
TKG II = 15 x 100%=20%
Dara berkembang = 0%
Bunting = 0%
Mijah = 15 x 100%=20%
Pulih salin = 0%
Bunting = 0%

♂ TKG I = 216 x 100%=12,5%


TKG II = 316 x 100%=18,75%
Dara = 216 x 100%=12,5%
Dara berkembang = 0%
Pulih salin = 0%
Bunting = 116 x 100%=6,25%
Mijah = 616 x 100%=37,5%
Matang siap mijah = 216 x 100%=12,5%
Korelasi IKG dengan bobot :

Bobot Ikan Min-Max

25-34 0,16% - 3%

35-44 0,4% – 3%

45-54 0,02% - 3,9%

35
55-64 1,9% - 4,02%

65-74 2,27%- 4,28%

Ikan lalawak kelas A

Log
Log L. (Log
Kel. L (SL) Log L W
W Log L)2
W
1 155 2,19 75 1,88 4,11 4,80
2 130 2,11 80 1,90 4,02 4,47
3 117 2,07 85 1,93 3,99 4,28
4 136 2,13 98 1,99 4,25 4,55
5 140 2,15 74 1,87 4,01 4,61
6 107 2,03 81 1,91 3,87 4,12
7 133 2,12 81 1,91 4,05 4,51
8 110 2,04 71 1,85 3,78 4,17
9 135 2,13 84 1,92 4,10 4,54
10 251 2,40 90 1,95 4,69 5,76
11 138 2,14 92 1,96 4,20 4,58
12 135 2,13 82 1,91 4,08 4,54
13 130 2,11 71 1,85 3,91 4,47
14 115 2,06 200 2,30 4,74 4,25
15 110 2,04 230,95 2,36 4,82 4,17
16 115 2,06 89,02 1,95 4,02 4,25
17 155 2,19 251,52 2,40 5,26 4,80
18 135 2,13 61 1,79 3,80 4,54
20 125 2,10 73,91 1,87 3,92 4,40
21 140 2,15 147,69 2,17 4,66 4,61
22 93 1,97 3,09 0,49 0,96 3,87
23 105 2,02 214,45 2,33 4,71 4,09
24 115 2,06 98,31 1,99 4,11 4,25
25 110 2,04 69,05 1,84 3,75 4,17
26 120 2,08 78,88 1,90 3,94 4,32
27 135 2,13 53,11 1,73 3,68 4,54
28 100 2,00 51 1,71 3,42 4,00
30 130 2,11 61 1,79 3,77 4,47

36
31 130 2,11 191 2,28 4,82 4,47
32 125 2,10 78 1,89 3,97 4,40
33 134 2,13 206 2,31 4,92 4,52
34 125 2,10 185 2,27 4,75 4,40
35 135 2,13 66 1,82 3,88 4,54
36 130 2,11 67 1,83 3,86 4,47
37 120 2,08 93 1,97 4,09 4,32
38 145 2,16 71 1,85 4,00 4,67
39 125 2,10 92 1,96 4,12 4,40
40 130 2,11 68 1,83 3,87 4,47
41 140 2,15 91 1,96 4,20 4,61
82,18 3954, 159,1 173,3
total 98 75,42 2 4

Rumus Korelasi : Lelawak kelas A

Log a = logW . (logL)2- ∑(logL .logW) . ∑logLN . logL2-(∑logL )2

= 75,42 x 6753,5524- 159,12(82,18)39 . 6753,5534-


82,18

= 509352,922008-13076,4816263388,5826-82,18

= 496276,440408263306,4026

Log a = 1,885

Log B = ∑logW-(N xloga)∑logL

37
= 75,76-(39 .1,885)82,18

= 75,76-73,51582,18

= 2,24582,18

Log b = 0,0273

b = 100,0273

= 1,0648784

Jadi, dengan b < 3

diketahui
bahwa
perbandingan
ikan lelawak
untuk kelas B
sebesar
jantan betina
11 16

JUML
TKG AH
Dara 1
Dara
berkemb 2
ang

38
Perkemb
1
angan I
Perkemb
5
angan II
Bunting 15
Mijah 12
Matang
siap 2
mijah
pulih
1
salin

TKG jantan
mata
pul
Dara ng
Berat Da Perkemba Perkemba Bunti Mija ih
berkemb siap
ra ngan I ngan II ng h sali
ang mija
n
h
23-78 1 0 0 1 5 7 0 1
79-134 0 0 0 0 0 0 0 0
135-190 0 0 0 0 0 0 0 0
191-246 0 0 0 0 0 1 0 0
247-302 0 1 1 0 0 0 0 0
303-
358 0 1 0 0 0 1 0 0
359-414 0 0 0 0 0 0 0 0
415-470 0 0 0 0 0 0 0 0
471-526 0 0 0 0 0 0 0 0
527-
582 0 0 0 0 0 0 0 0
Total 1 2 1 1 5 9 0 1

Berat TKG betina

39
10
9
8
7
6
5
pul mata
Dara
4 Da Perkemba Perkemba Bunti Mija ih ng
3 berkemb Jantan
2 ra ngan I ngan II ng h sali siap
ang Betina
1
n mijah
0
23-78 1 1 1 4 7 5 1 -
79-134 - - - - 1 - - -
135-190 - - - - - - - -
191-246 - - - - - 1 - -
247-302 - 1 1 - - - - -
303- 358 - 1 - - - 1 - -
359-414 - - - - - - - -
415-470 - - - - - - - -
471-526 - - - - - - - -
527-
582 - - - - - 1 - -
Total 1 3 2 4 8 8 1 0

Induk Ikan Lelawak dan Tawes

Induk Lelawak

SL = 243 mm

40
TL = 505 mm

W = 505 gram (sumber: Ahmadi)

Wg = 109 gram

Pg = ......

TKG = Siap mijah

Vg = 100 ml (sumber: Winda)

V sampel g = 50 ml

n sampel g = 84.555 (sumber: Asep)

Induk Tawes

SL = 295 mm

TL = 350 mm

W = 827 gram (sumber: Ahmadi)

TKG = Bunting

Pg = 100 mm

Wg = 153 gram

Vg = 162,5 ml

V sampel g = 46 ml (sumber Fathan)

n sampel g = 82.146 (sumber: Wanwan)

Titrasi jumlah telur induk lelawak

N1xV1=N2xV2

41
N1x100 ml=150 ml x 84555 butir

N1= 12683250 butir.ml100 ml

N1=126832,50 butir

N1=126833 butir

Titrasi jumlah telur induk ikan tawes

N1xV1=N2xV2

N1x162,5 ml=208,5 ml x 82146 butir

N1= 17127441 butir.ml162,5 ml

N1=105399,6 butir

N1=105400 butir

Dari hasil perhitungan data korelasi berarti pertambahan berat Ikan tawes
dan lelawak tidak secepat pertambahan panjangnya (Allometrik).

4.2 Pembahasan

a. Analisis data kelompok (kelompok 22)

Kelompok kami mengamati Ikan tawes dan lelawak dengan data sebagai berikut :
Jenis kelamin = Jantan
Berat tubuh = 33 gram
Berat Gonad = 0.65 gram
Total Length : 130 mm
Standar Length = 100 mm
Tingkat Kematangan Gonad (TKG)

42
Tingkat kematangan gonad Ikan tawes dan lelawak yang kami amati adalah
Berentang karena memilki ciri-ciri Gonad berwarna putih tidak tembus cahaya
dan jika di tekan keluar sperma berwarna putih.
Indeks Kematangan Gonad ( IKG )
IKG = Berat GonadBerat Tubuh x 100%
= 0.6533 x 100%
= 1.97 %

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum
dan sesudah memijah. Umumnya pertambahan berat gonad ikan betina sebesar
10-25% dari berat tubuhnya, dan jantan sebesar 5-10%. Perbandingan antara berat
gonad dengan berat tubuh diantara banyak peneliti menamakan indeks tadi ialah “
Gonado Somatic Indekx “ atau Ideks Kematangan Gonad ( IKG ). IKG akan
semakin meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat akan
terjadi pemijahan.
Menurut Bagenal, 1978; Fekunditas : jumlah telur yang matang yang akan
dikeluarkan oleh induk. Menurut Nikolsky, 1969; Fekunditas individu : jumlah
telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan (baik digunakan pada ikan
yang memijah satu tahun sekali.

43
5.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan oleh kelompok kami khususnya untuk
praktikum mata kuliah Biologi Perikanan dan umumnya untuk mata kuliah
lainnya yang bertujuan agar pelaksanaan praktikum untuk selanjutnya menjadi
lebih baik adalah Dosen dan Asisten Dosen agar lebih berkoordinasi, dan
diharapkan tepat waktu jadwal praktikum tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama,


Yogyakarta

ELearning/Iktologi/Textbook/Cover%20Buku%20ajar%20(ikhtiologi).htm

http://andhikaprima.wordpress.com/2010/08/16/tingkat-kematangan-
gonad-ikan/ (Diakses pada tanggal 20 Maret 2011 pkl. 21.43)

http://id.wikipedia.org/wiki/Fekunditas (diakses pada tangga 20 Maret


2011 pkl. 21.00)

http://o-fish.com/PakanIkan/pakan_1.php (diakses pada tanggal 23 Maret


2011 pkl. 02.34)

44