Anda di halaman 1dari 6

Analisis penyebab masalah

I. Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua dengan Status Gizi Anak


Balita merupakan salah satu kelompok yang rawan gizi selain ibu hamil,
ibu menyusui dan lanjut usia. Pada masa ini pertumbuhan sangat cepat
diantaranya pertumbuhan fisik dan perkembangan psikomotorik, mental dan
sosial. Anak usia bawah 5 tahun (Balita) mempunyai risiko yang tinggi dan
harus mendapatkan perhatian yang lebih. Semakin tinggi faktor risiko yang
berlaku terhadap anak tersebut maka akan semakin besar kemungkinan anak
menderita KEP (Kurang Energi Protein). Keadaan gizi buruk biasa disebabkan
karena ketidaktahuan ibu mengenai tata cara pemberian ASI dan MP ASI yang
baik kepada anaknya sehingga asupan gizi pada anak kurang. Namun, kejadian
gizi buruk pada anak balita ini dapat dihindari apabila ibu mempunyai cukup
pengetahuan tentang cara memelihara gizi dan mengatur makanan anak.
Karena dengan memiliki pengetahuan yang cukup khususnya tentang
kesehatan, seseorang dapat mengetahui berbagai macam gangguan kesehatan
yang mungkin akan timbul sehingga dapat dicari pemecahannya. Kurangnya
pengetahuan tentang gizi akan mengakibatkan berkurangnya kemampuan
menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari, hal ini merupakan salah
satu penyebab terjadinya gangguan gizi (As’ad, 2006).
Pengetahuan orang tua terhadap perkembangan dan cara asuh anak
merupakan salah satu faktor penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Semakin tinggi dan semakin baik pengetahuan ibu akan semakin baik pula
proses tumbuh kembang anak dan begitu pula sebaliknya. Pada kasus gizi
buruk, selain karena asupan gizi kurang juga diakibatkan minimnya
pengetahuan orangtua (Soeditama, 2006).
Pengetahuan ibu tentang kebutuhan gizi sangat penting sekali, hal ini
disebabkan untuk menciptakan generasi masa datang yang lebih baik, peran ibu
dalam merawat bayi dan anak menjadi faktor penentu. Masalahnya , kesadaran
akan pentingnya pemberian gizi yang baik kadang belum sepenuhnya
dimengerti. Ada orang tua yang sudah tahu tentang gizi sehat , tetapi tidak
peduli. Ada juga yang belum tahu, tetapi tidak mencari tahu. Padahal
seharusnya makanan bergizi dipersiapkan sejak ibu hamil dan masa balita.
Kebutuhan gizi yang tidak sesuai dapat menyebabkan gizi kurang dan gizi
buruk, bahkan dapat menyebabkan kematian. Pengetahuan ibu tentang
kebutuhan gizi sangat berpengaruh terhadap status gizi balita (As’ad, 2006).

II. Hubungan Status Imunisasi dengan Status Gizi Anak


Imunisasi adalah merupakan bagian dari pemberian vaksin (virus yang
dilemahkan) kedalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap
jenis penyakit tertentu. Imunisasi merupakan suatu sistem kekebalan yang
diberikan pada manusia dengan tujuan melindungi individu tersebut dari
penyakit yang dapat membahayakan jiwa anak-anak. Prinsip pemberian
imunisasi dalam hal ini adalah memasukkan kuman yang telah dilemahkan ke
dalam tubuh yang fungsinya untuk menangkal penyakit. Cara pemberian
imunisasi ini adalah melalui suntikan ataupun oral (lewat mulut). Melalui
imunisasi, beberapa penyakit bisa dilenyapkan seperti halnya penyakit cacar di
tahun 1970-an. Sejarah pun telah mencatat, bahwasannya imunisasi
menyelamatkan banyak generasi dan memperpanjang kemungkinan hidup
seseorang (Nancy, 2005).
Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan karena pencegahan
penyakit melalui imunisasi merupakan cara perlindungan terhadap infeksi yang
paling efektif dan jauh lebih murah dibanding mengobati seseorang apabila
telah jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Dengan imunisasi, anak akan
terhindar dari penyakit infeksi berbahaya, maka mereka memiliki kesempatan
beraktifitas, bermain, belajar tanpa terganggu masalah kesehatan.
Namun demikian, sampai saat ini masih terdapat masalah-masalah dalam
pemberian imunisasi, antara lain pemahaman orang tua yang masih kurang
pada sebagian masyarakat, mitos salah tentang imunisasi, sampai jadwal
imunisasi yang terlambat (As’ad, 2006).
Program imunisasi adalah cara terbaik untuk melindungi sesorang dari
serangan penyakit yang berbahaya dan juga mematikan khususnya bagi bayi
dan anak-anak. Banyak sekali kematianme akibat penyakit bisa dicegah dengan
menggunakan imunisasi ini, akan tetapi banyak org masih meragukan
keamanannya. Imunisasi di Indonesia dikenal oleh masyarakat sejak tahun
1970. Pemberian imunisasi pada bayi bertujuan agar tidak rentan terkena
penyakit sejak dini hingga ketika tumbuh dewasa. Diklaim bahwa tindakan
imunisasi dapat membangkitkan kekebalan tubuh yang ada di dalam tubuh
manusia akan serangan dari virus tanpa menimbulkan efek samping atau efek
berbahaya lainnya. Adapun penyakit berbahaya yang bisa dicegah
dengan imunisasi adalah penyakit Polio, Campak, Hepatitis A, Hepatitis B dan
juga Tetanus. Dengan baiknya status kesehatan pada balita, akan semakin baik
pula ststus gizi pada balita tersebut (Moehji, 2004).

III. Riwayat ASI Eksklusif dengan Status Gizi Anak


ASI Eksklusif adalah merupakan air susu ibu yang diberikan untuk bayi
sejak baru lahir sampai 6 bulan tanpa makanan pendamping dan minuman
pralakteal lainnya seperti hal dan contohnya adalah air gula, aqua, dan
sebagainya. Jadi murni hanya ASI saja yang diberikan kepada sang bayi dan
anak. Pemberian nutrisi secara seimbang pada anak harus dimulai sejak dalam
kandungan, yaitu dengan pemberian nutrisi yang cukup memadai pada ibu
hamil. Setelah lahir harus diupayakan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu
pemberian ASI saja sampai anak berumur 6 bulan. Sejak berumur 6 bulan,
anak diberikan tambahan atau pendamping ASI (PASI). Pemberian PASI ini
penting untuk melatih kebiasaan makan yang baik dan untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi yang meningkat pada masa bayi dan prasekolah. Karena pada
masa ini pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi adalah sangat pesat,
terutama pertumbuhan otak (Roesli, 2009).
ASI Eksklusif memiliki manfaat yang sangat besar bagi anak. ASI
mengandung antibodi dalam jumlah besar yang berasal dari tubuh seorang ibu.
Antibodi tersebut membantu bayi menjadi tahan terhadap penyakit, selain itu
juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi. Telah terbukti bahwa bayi
yang diberi ASI lebih kuat dan terhindar dari beragam penyakit seperti asma,
pneumonia, diare, infeksi telinga, alergi, “SIDs”, kanker anak, multiple
scleroses, penyakit Crohn, diabetes, radang usus buntu, dan obesitas (depkes,
2010).
IV. Riwayat Penyakit Infeksi dengan Status Gizi Anak
Penyakit yang infeksius merupakan salah satu faktor yang dapt
menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Banyak
berbagai macam penyakit infeksius yang dapat menjangkiti anak, diantaranya
yang paling sering adalah infeksi pada saluran pernapasan, yaitu ISPA dan juga
pada sistem pencernaan yaitu berupa diare. diare merupakan penyebab kedua
terbesar kematian balita di dunia. penyakit ini bisa dicegah dan diobati.
menurut data who sekitar 1,5 juta anak meniggal akibat diare dan ada sekitar 2
milliar kasus setiap tahunnya. Dan di Indonesia angka kejadian diare juga
cukup tinggi (Almatsier, 2005).
Penyebab utama diare adalah air minum yang telah terkontaminasi dan
makanan yang sudah terkontaminasbakteri penyebab diare seperti vibrio
cholera, e.choli dan beberapa jenis bakteri lainnya. Diare bagi orang dewasa
tidak akan menimbulkan efek yang lansung berbahaya, selain terganggu
aktivitas dan dapat langsung diobati dengan meminum obat anti diare. Berbeda
jika halnya balita yang mengalami hal tersebut. Balita merupakan kelompok
risiko tinggi terserang berbagai penyakit infeksi karena daya tahan tubuh
mereka belum begitu kuat karena kelenjar timusnya belum begitu aktif bekerja.
Dalam jangka pendek diare menyebab seorang anak dehidrasi karena
kehilangan berbagai ion penting dalam tubuh seperti natrium dan kalium.
Selain itu diare menyebabkan anak kehilangan selera makan dan tidak mau
makan, karena badannya sudah lemah dan lemas, nah jika sudah begini ibu
harus berperan aktif. anak jangan dibiarkan tidak mau makan, sang anak
membutuhkan asupan nutrisi untuk mengganti zat-zat yang diperlukan
tubuhnya yang hilang saat diare. Bila anak dibiarkan tidak mau makan maka
tanpa disadari hal tersebut akan berdampak pada tumbuh kembang sang anak
(As’ad, 2006).
Efek jangka panjang diare adalah terhambatnya pertumbuhan dan
perkembangan si anak, proses kematangan otak dan akan membuat si anak jadi
cenderung apatis dan kurang aktif. Hal ini terjadi karena nutrisi yang hilang
dari tubuh sianak tidak mengalami “recovery”, si anak mebutuhkan tambahan
nutrisi untuk mengisi kekosongan cadangan zat gizi yang hilang ketika diare
dan nutrisi untuk aktivitas kesehariannya (Soeditama, 2006).
V. Pengaruh Lingkungan terhadap Status Gizi Anak
Kebersihan lingkungan sangat erat kaitannya dengan agen-agen infeksius
penyebab penyakit pada anak. Dengan tata kelola dan kebersihan yang baik
akan mampu mencvegah agen-agen infeksius berkembang. Hal ini dapat
meminimalisir terjadinya infeksi pada anak yang menyebabkan timbulnya
penyakit-penyakit infeksius. Dengan dapat dicegahnya terjadinya infeksi pada
anak, makan dapat diminimalisir pula kejadian kekurangan gizi pada anak yang
disebabkan oleh infeksi penyakit (Notoatmodjo, 2005).

Daftar Pustaka

As’ad, Suryani. 2006. Gizi Kesehatan Ibu Dan Anak . Depdiknas. Jakarta.
Almatsier, Sunita.2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi . Jakarta:Gramedia
Arikunto, Suharsimi.2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek .
Jakarta:Rineka Cipta
Depkes.2010. Capaian Pembangunan Kesehatan Tahun 2011 . Depkes RI:
Jakarta

Moehji, Sjahmein.2004 . Ilmu Gizi Penanggulangan Gizi Buruk . Papas Sinar


Sinanti. Jakarta.
Nancy, Yetty.2005. Pedoman Umum Gizi Seimbang . Jakarta:Gramedia Pustaka
Utama.
Notoadmodjo, Soekidjo.2005. Ilmu Kesehatan Masyarakat .Jakarta:Rineka Cipta
Roesli, Utami.2009. Mengenal Asi Eksklusif . Jakarta:Pustaka Pembangunan

Soediatama, Achmad Djaeni. 2006. Ilmu Gizi. Jakarta: Dian Rakyat