Anda di halaman 1dari 14

A.

Akhlak Secara Umum


Pengertian Akhlak Menurut Imam Ghozali adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang darinya
timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan pikiran.

Menurut Ibnu Maskawaih, Pengertian Akhlak ialah keadaan gerak jiwa yang mendorong ke
arah melakukan perbuatan dengan tidak bergantung pada pikiran.

Ahmad Amin dalam bukunya Al-Akhlaq mengungkapkan bahwa Pengertian Akhlak yaitu
membiasakan kehendak.

Secara Etimologi, Pengertian Akhlak berasal dari bahasa arab "akhlaq" yang mempunyai arti
budi pekerti. Persamaan atau nama lain akhlak ini biasa disebut dengan etika atau kebiasaan.

Dari pengertian akhlak diatas, dapat disimpulkan bahwa Pengertian Akhlak adalah suatu sifat
yang tetap pada jiwa, untuk menggerakkan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan tanpa
disadari. Karena Akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat pada diri seseorang, maka suatu
perbuatan itu baru disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat agar dapat
disebut sebagai akhlak :

1. Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang. Kalau suatu perbuatan itu hanya dilakukan sekali saja,
maka tidak dapat disebut sebagai akhlak.
2. Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dahulu, sehingga benar-
benar adalah suatu kebiasaan. Namun jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau karena ada
motif dari orang lain atau karena setelah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang, maka
tidak dapat disebut sebagai akhlak.

Rasulullah Muhammad SAW mempunyai akhlak yang mulia, karena sikap dan perilaku beliau
adalah kebaikan dan kemuliaan. Kebaikan dan kemuliaan itu sudah menjadi kebiasaan dalam
perjalanan hidup sehari-harinya. Akhlak Rasulullah itu biasa disebut dengan akhlak islam, karena
akhlak ini bersumber dari Alquran dan Alquran datangnya dari Allah SWT; maka akhlak islam
mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan akhlak Wad'iyah (ciptaan manusia).
Ciri-ciri Akhlak Islam itu ialah :

1. Kebaikannya itu bersifat mutlak, yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak islam merupakan
akhlak yang murni, baik untuk individu maupun untuk masyarakat, di dalam lingkungan, keadaan,
waktu dan tempat apapun.
2. Kebaikannya itu bersifat menyeluruh, yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan
kebaikan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan di semua tempat.
3. Tetap dan mantap, yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya bersifat tetap, tidak berubah oleh
waktu dan tempat atau perubahan kehidupan masyarakat.
4. Kewajiban tersebut harus dipatuhi, yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak islam
merupakan hukum yang harus dilaksanakan, sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang-orang
yang tidak melaksanakannya.
5. Pengawasan yang menyeluruh. Karena akhlak islam bersumber dari Tuhan, maka pengaruhnya
lebih kuat, bagi yang melanggar akhlak ini kecuali setelah ragu-ragu dan kemudian akan
menyesali perbuatannya untuk selanjutnya bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak
melakukan perbuatannya yang salah lagi. Hal tersebut terjadi karena agama merupakan pengawas
yang kuat. Pengawas yang lainnya adalah hati nurani yang hidup didasarkan pada agama dan akal
sehat yang dibimbing oleh agama serta diberi petunjuk.

B. Akhlak Bertamu
1. Pengertian
Bertamu adalah berkunjung ke rumah orang lain dalam rangka mempererat silahturrahim. Maksud
orang lain disini bisa tetangga, saudara (sanak famili), teman sekantor, teman seprofesi, dan
sebagainya. Bertamu tentu ada maksud dan tujuannya, antara lain menjenguk yang sedang sakit,
ngobrol-ngobrol biasa, membicarakan bisnis, membicarakan masalah keluarga, dan sebagainya.

Tujuan utama bertamu menurut islam adalah menyambung persaudaraan atau silaturrahim.
Silaturrahim tidak hanya bagi saudara sedarah (senasab) tapi juga saudara seiman. Allah Swt
memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang tua, saudara, kaum kerabat,
dan orang-orang mu`min yang lain.

Mempererat tali silaturahim baik dengan tetangga, sanak keluarga, maupun teman sejawat
merupakan perintah agama islam agar senantiasa membina kasih sayang, hidup rukun, tolong
menolong, dan saling membantu antara yang kaya dengan yang miskin.

Silahturahim tidak saja menghubungkan tali persaudaraan, tetapi juga akan banyak menambah
wawasan ataupun pengalaman karena bisa saja pada saat berinteraksi terjadi pembicaraan-
pembicaraan yang berkaitan dengan masalah-masalah perdagangan baru tentang bagaimana caranya
mendapatkan rezeki, dan sebagainya.
Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan, maka
ikatan sosial masyarakat akan berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, permusuhan terjadi
dimana-mana, sifat egoisme muncul kepermukaan. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani
hidup tanpa petunjuk, seorang tetangga tidak mengetahui hak tetangganya, seorang faqir merasakan
penderitaan dan kelaparan sendirian karena tidak ada yang peduli.

“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang
diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah
memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah
yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
(QS. An Nisa’ : 1)

2. Dalil Al Qur’an dan Hadist bertamu


Sahabat Abdullah bin Bisir ra. mengatakan: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:

ْ َ‫ فَإ ِ ْن أَذِنَ لَ ُك ْم فَا ْد ُخلُوا َوإالَّ ف‬٬‫الَ ت َأتُوا ْالبُي ُْوتَ ِم ْن أَب َْوا ِب َها َولَ ِك َّن أئت ُ ْوهَا ِم ْن َج َوانَ ِب َها فَا ْست َأ ْ ِذنُوا‬
٠‫ار ِجعُوا‬
"Janganlah kalian mendatangi rumah (orang) dari depan pintunya, tapi datangilah dari samping-
samping. Lantas ijin. Jika kalian diberi ijin, masuklah. Namun jika tidak, pulanglah."
(HR. Tabrani)

Dalam hadis ini, Nabi berpesan bagaimana etika mendatangi rumah saat bertamu. Yaitu dilarang
menghadap pintu rumah, dikhawatirkan akan memandang isi rumah yang semestinya tak pantas dia
pandang. Entah pemilik rumah atau perkakas rumah tangga yang tidak pantas terlihat, atau semua
yang tidak diinginkan pemiliknya dilihat orang lain. Bisa jadi tuan rumah baru berpakaian rumah
yang transparan, atau boleh jadi sedang sibuk bekerja sehingga perlu bersisir. Atau mungkin
peralatan rumah tangga semrawut sehingga perlu dirapikan dan diatur lebih dahulu. Karenanya
bertamu di hadapan pintu, besar kemungkinan mengkorek keburukan dan aurat. Padahal yang
demikian dilarang dalam Islam. Karenanya Nabi saw memerintahkan agar kita tidak mendatangi
rumah dari depan pintu, namun lewat samping pintu, kiri atau kanan, sembari menunggu ijin dengan
penuh kesopanan.

Etika kedua dalam bertamu adalah meminta ijin dengan mengetuk pintu atau bel. Jika diijinkan kita
masuk, jika tidak, kita pulang. Diijinkan masuk, tandanya dibukakan pintu, dijawab, atau disambut
oleh orang yang kita kunjungi. Tidak diijinkan tandanya orang yang kita cari tak ada, tidur, sibuk
dengan tamu lain, atau sama sekali tak ada jawaban. Bagaimana kita bisa mengerti batasan-
batasannya? Nabi mengajarkan kita cara tersebut dalam hadis lain. Beliau katakan, meminta ijin
cukuplah tiga kali seraya mengetuk pintu. Jika tidak dibukakan hendaklah kita pulang.
3. Etika Bertamu

 Meminta izin masuk maksimal sebanyak tiga kali

Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin), sesuai dengan poin pertama, maka batasannya adalah
tiga kali. Maksudnya adalah, jika kita telah memberi salam tiga kali namun tidak ada jawaban atau
tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu. Adapun ketika salam
kita telah dijawab, bukan berarti kita dapat membuka pintu kemudian masuk begitu saja atau jika
pintu telah terbuka, bukan berarti kita dapat langsung masuk. Mintalah izin untuk masuk dan
tunggulah izin dari sang pemilik rumah untuk memasuki rumahnya. Hal ini disebabkan, sangat
dimungkinkan jika seseorang langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk
dilihat belum sempat ditutupi oleh sang pemilik rumah.

“jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu
mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali.
itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An Nur : 28).

Hadis Riwayat Abu Musa Al-Asy’ary ra, dia berkata: “Rasulullah bersabda, ‘Minta izin masuk
rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’”
(HR. Bukhari dan Muslim)

 Berpakaian yang rapi dan pantas

Bertamu dengan memakai pakaian yang pantas berarti menghormati tuan rumah dan dirinya sendiri.
Tamu yang berpakaian rapi dan pantas akan lebih dihormati oleh tuan rumah, demikian pula
sebaliknya. Firman Allah,

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat
jahat maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri….” (QS. Al Isra : 7)

 Memberi isyarat dan salam ketika datang

Firman Allah

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum
meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar
kamu (selalu) ingat.” (QS An Nur : 27). Sabda Nabi,

‫ ا ُ ْخ ُرجْ اِلَى َهذَا‬: ‫ي ص م ِل َجاد ِِم ِه‬ ٍ ‫ال ِا ْست َأْذَنَ َعلى النَّ ِبي ِ ص م َو ه َُو ِفى َب ْي‬
ُّ ‫ “ا َ ِل ُج” َفقَا َل ال َّن ِب‬: ‫ت َفقَا َل‬ ً ‫ا َِّن َر ُج‬

ُّ ِ‫سالَ ُم َع َل ْي ُك ْم ا َ ا َ ْد ُخ ْل” َفاَذِنَ ال َّنب‬


‫ي‬ َّ ‫الر َج ْل َفقُ ْل “ال‬ ِ ُ‫س ِمعَه‬ َّ ‫ قُ ْل “ال‬: ُ‫اال ْستِأْذَانَ فَقَلَ لَه‬
َ ‫سالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم ا َ ا َ ْد ُخ ْل” َف‬ ِ ُ‫فَعَ ِل ْمه‬
)‫ص م قَ ْد دَ َخ َل (رواه ابو داود‬
“Bahwasanya seorang laki-laki meminta izin ke rumah Nabi Muhammad SAW sedangkan beliau
ada di dalam rumah. Katanya: Bolehkah aku masuk? Nabi SAW bersabda kepada pembantunya:
temuilah orang itu dan ajarkan kepadanya minta izin dan katakan kepadanya agar ia mengucapkan
“Assalmu alikum, bolehkah aku masuk” lelaki itu mendengar apa yang diajarkan nabi, lalu ia
berkata “Assalmu alikum, bolehkah aku masuk?” nabi SAW memberi izin kepadanya maka
masuklah ia. (HR Abu Daud)

Sebagaimana juga terdapat dalam hadits dari Kildah ibn al-Hambal radhiallahu’anhu, ia berkata,
“Aku mendatangi Rasulullah lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka
Rasulullah bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku
masuk?’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)

 Jangan mengintip ke dalam rumah

Mengintip ke dalam rumah sering terjadi ketika seseorang penasaran apakah ada orang di dalam
rumah atau tidak. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela perbuatan ini
dan memberi ancaman kepada para pengintip, sebagaimana dalam sabdanya,

“Dari Sahal bin Saad ia berkata: Ada seorang lelaki mengintip dari sebuh lubang pintu rumah
Rasulullah SAW dan pada waktu itu beliau sedang menyisir rambutnya. Maka Rasulullah SAW
bersabda: “Jika aku tahu engkau mengintip, niscaya aku colok matamu. Sesungguhnya Allah
memerintahkanuntuk meminta izin itu adalah karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR
Bukhari)

 Memperkenalkan diri sebelum masuk

Apabila tuan rumah belum tahu/belum kenal, hendaknya tamu memperkenalkan diri secara jelas,
terutama jika bertamu pada malam hari. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, “dari Jabir ra Ia
berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW lalu aku mengetuk pintu rumah beliau. Nabi
SAW bertanya: “Siapakah itu?” Aku menjawab: “Saya” Beliau bersabda: “Saya, saya…!” seakan-
akan beliau marah” (HR Bukhari)

 Tamu lelaki dilarang masuk kedalam rumah apabila tuan rumah hanya seorang wanita

Dalam hal ini, perempuan yang berada di rumah sendirian hendaknya juga tidak memberi izin
masuk tamunya. Mempersilahkan tamu lelaki ke dalam rumah sedangkan ia hanya seorang diri
sama halnya mengundang bahaya bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, tamu cukup ditemui diluar
saja.

 Masuk dan duduk dengan sopan

Setelah tuan rumah mempersilahkan untuk masuk, hendaknya tamu masuk dan duduk dengan sopan
di tempat duduk yang telah disediakan. Tamu hendaknya membatasi diri, tidak memandang
kemana-mana secara bebas. Pandangan yang tidak dibatasi (terutama bagi tamu asing) dapat
menimbulkan kecurigaan bagi tuan rumah. Tamu dapat dinilai sebagai orang yang tidak sopan,
bahkan dapat pula dikira sebagai orang jahat yang mencari-cari kesempatan. Apabila tamu tertarik
kepada sesuatu (hiasan dinding misalnya), lebih ia berterus terang kepada tuan rumah bahwa ia
tertarik dan ingin memperhatikannya.

 Menerima jamuan tuan rumah dengan senang hati

Apabila tuan rumah memberikan jamuan, hendaknya tamu menerima jamuan tersebut dengan
senang hati, tidak menampakkan sikap tidak senang terhadap jamuan itu. Jika sekiranya tidak suka
dengan jamuan tersebut, sebaiknya berterus terang bahwa dirinya tidak terbiasa menikmati makanan
atau minuman seperti itu. Jika tuan rumah telah mempersilahkan untuk menikmati, tamu sebaiknya
segera menikmatinya, tidak usah menunggu sampai berkali-kali tuan rumah mempersilahkan
dirinya. Mulailah makan dengan membaca basmalah dan diakhiri dengan membaca hamdalah

Rasulullah bersabda, “Jika seseorang diantara kamu hendak makan maka sebutlah nama Allah, jika
lupa menyebut nama Allah pada awalnya, hendaklah membaca: Bismillahi awwaluhu waakhiruhu.”
( HR Abu Daud dan Turmudzi)

 Makanlah dengan tangan kanan, ambilah yang terdekat dan jangan memilih

Islam telah memberi tuntunan bahwa makan dan minum hendaknya dilakukan dengan tangan kanan,
tidak sopan dengan tangan kiri (kecuali tangan kanan berhalangan). Cara seperti ini tidak hanya
dilakukan saat bertamu saja. Melainkan dalam berbagai suasana, baik di rumah sendiri maupun di
rumah orang lain.

 Bersihkan piring, jangan biarkan sisa makanan berceceran

Sementara ada orang yang merasa malu apabila piring yang habis digunakan untuk makan tampak
bersih, tidak ada makanan yang tersisa padanya. Mereka khawatir dinilai terlalu lahap. Islam
memberi tuntunan yang lebih bagus, tidak sekedar mengikuti perasaan manusia yang terkadang
keliru. Tamu yang menggunakan piring untuk menikmati hidangan tuan rumah, hendaknya piring
tersebut bersih dari sisa makanan. Tidak perlu menyisakan makanan pada pring yang bekas
dipakainya yang terkadang menimbulkan rasa jijik bagi yang melihatnya.

 Segeralah pulang setelah selesai urusan

Kesempatan bertamu dapat digunakan untuk membicarakan berbagai permasalahan hidup. Namun
demikian, pembicaraan harus dibatasi tentang permasalahan yang penting saja, sesuai tujuan
berkunjung. Hendaknya dihindari pembicaraan yang tidak ada ujung pangkalnya, terlebih
membicarakan orang lain. Tamu yang bijaksana tidak suka memperpanjang waktu kunjungannya, ia
tanggap terhadap sikap tuan rumah. Apabila tuan rumah telah memperhatikan jam, hendaknya tamu
segera pamit karena mungkin sekali tuan rumah akan segera pergi atau mengurus masalah lain.
Apabila tuan rumah menghendaki tamunya untuk tetap tinggal dahulu, hendaknya tamu pandai-
pandai membaca situasi, apakah permintaan itu sungguh-sungguh atau hanya sekadar pemanis
suasana. Apabila permintaan itu sungguh-sungguh maka tiada salah jika tamu memperpanjang masa
kunjungannya sesuai batas kewajaran.

 Lama Waktu Bertamu Maksimal Tiga Hari Tiga Malam

Terhadap tamu yang jauh tempat tinggalnya, Islam memberi kelonggaran bertamu selama tiga hari
tiga malam. Waktu tersebut dikatakan sebagai hak bertamu. Setelah waktu itu berlalu maka habislah
hak untuk bertamu, kecuali jika tuan rumah menghendakinya. Dengan pembatasan waktu tiga hari
tiga malam itu, beban tuan rumah tidak telampau berat dalam menjamu tamunya.

4. Membiasakan Akhlak Bertamu


Bertamu merupakan tradisi masyarakat yang selalu dilestarikan. Dengan bertamu seorang bisa
menjalin persaudaraan bahkan dapat menjalin kerja sama untuk meringankan berbagai masalah
yang dihadapi dalam kehidupan.adakalanya seorang bertamu karena adanya urusan yang serius,
misalnya untuk mencari solusi terhadap problema masyarakat actual, sekedar bertandang, karena
lama tidak ketemu (berjumpa) ataupun sekedar untuk mampir sejenak. Dengan bertandang ke rumah
kerabat atau sahabat, maka kerinduan terhadap kerabat ataupun sahabat dapat tersalurkan, sehingga
jalinan persahabatan menjadi kokoh.

Tujuan bertamu sudah tentu untuk menjalin persaudaraan ataupun persahabatan. Sedangkan
bertamu kepada orang yang belum dikenal, memiliki tujuan untuk saling memperkenalkan diri
ataupun bermaksud lain yang belum diketahui kedua belah pihak.

Bertamu merupakan kebiaaan positif dalam kehidupan bermasyarakat dari zaman tradisional sampai
zaman modern. Dengan melestarikan kebiasaan kunjung mengunjungi, maka segala persoalan
mudah dilestarikan, segala urusan mudah dibereskan dan segala masalah mudah diatasi.

Al Qur’an memberikan isyarat yang tegas, betapa pentingnya setiap orang yang bertemu dapat
menjaga diri agar tetap menghormati tuan rumah. Setiap tamu harus berusaha menahan segala
keinginan dan kehendak baiknya sekalipun, jika tuan rumah tidak berkenan menerimanya. Demikin
pula apabila kegiatan bertamu telah uai, maka seorang yang bertamu telah usai, maka seorang yang
bertamu harus meninggalkan kesan yang beik dan menyenagkan bagi tuan rumah. Karena itu haram
hukumnya orang yang bertamu meninggalkan kekecewaan ataupun kesusahan bagi tuan rumah.

5. Hikmah

1. Bertamu secara baik dapat menumbuhkan sikap toleran terhadap oaring lain dan menjauhkan
sikap pakaan, tekanan, dan intimidasi. Islam tidak mengenal tindakan kekerasan. Bukan saja
dalam usaha meyakinkan orang lain terhadap tujuan dan maksud beik kedatangan, tetapi juga
dalam tindak laku dan pergaulan dengan sesame manuia harus terhindar cara-cara pakaan dan
kekerasan.
2. Dengan bertamu seorang akan mempertemukan persamaan ataupun kesesuaian sehingga akan
terjalin persahabatan dan kerjasama dalam menjalin kehidupan.
Dengan bertamu, seorang akan melakukan diskui yang baik, sikap yang sportif, dan elegan
terhadap seamanya.
3. Bertamu dianggap sebagai sarana yang efektif untuk berdakwah dan menciptakan kehidupan
mesyarakat yang bermartabat.

C. Akhlak Menerima Tamu

1. Pengertian Akhlak Menerima Tamu

Menurut KBBI, menerima tamu diartikan kedatangan orang-orang bertamu, mela-wat atau
berkunjung. Secara istilah, menerima tamu dimaknai menyambut tamu dengan berbagai cara
penyambutan yang lazim dilakukan menurut adat ataupun agama dengan maksud untuk
menyenangkan atau memuliakan tamu, atas dasar keyakinan untuk menda-patkan rahmat dan rido
dari Alloh.

2. Bentuk Akhlak Menerima Tamu

Islam sebagai agama yang sangat serius dalam memberikan perhatian orang yang sedang bertamu.
Sesungguhnya orang yang bertamu telah dijamin hak-haknya dalam Ialam.
Karena itu menerima tamu merupakan perintah yang mendatangkan kemuliaan di dunia dan akhirat,
dan Rosululloh SAW bersabda.

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik dengan
tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hen-daklah ia memuliakan
tamunya dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik
dan diam (H.R. Muslim)

3. Nilai Positif Akhlak Menerima Tamu


Setiap orang Islam telah diikat oleh suatu Tata aturan supaya hidup bertetengga dan bersahabat
dengan orang lain, sekalipun berbeda agama ataupun suku. Hak-hak mereka tidak boleh dikurangi
dan tidak boleh dilanggar undang-undang perjanjian yang mengikat di antara sesama manusia.
Memuliakan tamu juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan kemas-lahatan dari Allah
ataupun makhluk Nya karena sesungguhnya orangyang berbuat baik akan mendapatkan
kemaslahatan dunia ataupun akhirat. Memuliakan tamu dengan peny-ambutan yang menyenangkan
dapat membina diri dan menunjukan kepribadian utama.
4. Membiasakan Akhlak Menerima Tamu

Menerima tamu merupakan bagian dari aspek social dalam ajaran Islam yang harus terus dijaga.
Menerima tamu dengan penyambutan yang baik merupakan cermin diri dan menunjukan kualitas
kepribadian seorang muslim. Seorang muslim harus membiasakan diri untuk menyambut setiap
tamu yang datang dengan penyambutan yang penuh suka cita.

Agar dapat menyambut tamu dengan suka cita maka tuan rumah harus mengha- dirkan tamu
pikiran yang positif terhadap tamu, jangan sampai kehadiran tamu disertai dengan munculnya
pikiran negative dari tuan rumah. Sebagai tuan rumah harus sabar dalam menyambut tamu yang
datang apapun keadaanya, pada kenyataanya sering meng-ganggu aktivitas yang sedang kita
serius. Jangan sampai tuan rumah menunjukan sikap yang kasar ataupun mengusir tamunya.

Seyogyinya seorang muslim harus menunjukan sikap yang baik terhadap tamunya mulai dari
keramahan diri dalam menyambut tamu, menyediakan sarana dan pasarana penyambutan yang
memadai, serta memberikan jamuan makan dan minum yang memenu hi selera tamu. Syukur
sekali menyediakan hidangan yang lezat yang menjadi kesukaan tamu yang datang. Jika hal
tersebut dapat dilakukan secara baik, maka akan menjadi tolak ukur kemuliaan tuan rumah.

5. Etika Menerima Tamu


Dalam ajaran Islam istilah ”Tamu adalah raja” ini merupkan inti dari ajaran islam itu sendiri dan
barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah
menyambungkan tali silaturrahim.
Tuan rumah (Shohibul bait) dalam menerima tamu hendaknya mempunyai etika-etika (adab) dalam
menerima tamu sesuai dengan ajaran islam. Yaitu seperti :

Hendaknya Menunjukkan Wajah Kegembiraan

Tuan rumah hendaknya menunjukkan wajah kegembiraan. Jika ketika itu tuan rumah sedang
mempunyai masalah yang merisaukan hendaknya kerisauan itu tidak ditampakkan kepada tamu.
Jika kekesalan itu tertuju kepada orang yang datang bertamu, hendaknya usahakan tetap bisa
bersikap ramah, karena berlaku tidak ramah kepada tamu, misalnya menampilkan wajah cemberut
atau secara sengaja tidak berbicara atau berbicara sangat singkat, berlawanan dengan muru`ah tuan
rumah yang justru harus dijaga.

Menjawab Salam

Menjawab salam saudara kita sesama muslim berarti merealisasikan sunnah Rosulullah saw dan
menunaikan hak sesama muslim. Dan menjawab salam itu sendiri hukumnya adalah wajib.
Dan jika yang bertamu itu ahli kitab (orang Non-Muslim) yang mengucapkan salam, maka
jawabannya cukup hanya dengan ucapan "alaik" atau "alaikum" saja.

Berjabat Tangan

Ketika bertemu dengan tamu saudara sesama muslim, disunnahkan berjabat tangan sebagaimana
amalan para sahabat Nabi.
Keutamaan Berjabat Tangan
Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

‫غ ِف َر لَ ُه َما قَ ْب َل أ َ ْن يَ ْفت َِرقَا‬


ُ َّ‫ان إِال‬
ِ ‫صافَ َح‬ ِ َ‫َما ِم ْن ُم ْس ِل َمي ِْن يَ ْلت َ ِقي‬
َ َ ‫ان فَيَت‬
“Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni
(dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.“

Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan berjabat tangan ketika bertemu, dan ini merupakan
perkara yang dianjurkan berdasarkan kesepakatan para ulama, bahkan ini merupakan sunnah yang
muakkad (sangat ditekankan).

Faidah-Faidah Penting yang Terkandung Dalam Hadits:

1. Arti mushaafahah (berjabat tangan) dalam hadits ini adalah berjabat tangan dengan satu tangan,
yaitu tangan kanan, dari kedua belah pihak. Cara berjabat tangan seperti ini diterangkan dalam
banyak hadits yang shahih, dan inilah arti “berjabat tangan” secara bahasa. Adapun melakukan
jabat tangan dengan dua tangan adalah cara yang menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
2. Berjabat tangan juga disunnahkan ketika berpisah, berdasarkan sebuah hadits yang dikuatkan oleh
syaikh al-Albani. Maka pendapat yang mengatakan bahwa berjabat tangan ketika berpisah tidak
disyariatkan adalah pendapat yang tidak memiliki dalil/argumentasi. Meskipun jelas anjurannya
tidak sekuat anjuran berjabat tangan ketika bertemu.
3. Berjabat tangan adalah ibadah yang disyari’atkan ketika bertemu dan berpisah, maka
melakukannya di selain kedua waktu tersebut, misalnya setelah shalat lima waktu, adalah
menyelisihi ajaran Nabi, bahkan sebagian ulama menghukuminya sebagai perbuatan bid’ah. Di
antara para ulama yang melarang perbuatan tersebut adalah al-’Izz bin ‘Abdussalam, Ibnu Hajar
al-Haitami asy-Syafi’i, Quthbuddin bin ‘Ala-uddin al-Makki al-Hanafi, al-Laknawi dan lain-lain.
4. Adapun berjabat tangan setelah shalat bagi dua orang yang baru bertemu pada waktu itu (setelah
shalat lima waktu, pen), maka ini dianjurkan, karena niat keduanya adalah berjabat tangan karena
bertemu dan bukan karena shalat.
5. Mencium tangan seorang guru/ustadz ketika bertemu dengannya adalah diperbolehkan,
berdasarkan beberapa hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatan beberapa
orang sahabat radhiyallahu ‘anhum. Akan tetapi kebolehan tersebut harus memenuhi beberapa
syarat,yaitu:

a. Tidak menjadikan hal itu sebagai kebiasaan, karena para sahabat radhiyallahu
‘anhum sendiri tidak sering melakukannya kepada Rasuluillah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, terlebih lagi jika hal itu dilakukan untuk tujuan mencari berkah
dengan mencium tangan sang guru.
b. Perbuatan itu tidak menjadikan sang guru menjadi sombong dan merasa dirinya
besar di hadapan orang lain, seperti yang sering terjadi saat ini.
c. Jangan sampai hal itu menjadikan kita meninggalkan sunnah yang lebih utama
dan lebih dianjurkan ketika bertemu, yaitu berjabat tangan, sebagaimana
keterangan di atas.

Bersikap simpatik
Selain menyambut tamu dengan wajah ceria di awal kehadirannya, dan mengajaknya bicara dengan
tutur kata yang baik dan sopan. Imam Al Auza`i mengatakan bahwa:

”Memuliakan tamu itu adalah (sekurang-kurangnya) menunjukkan wajah ceria dan baik tutur
kata”.

Tradisi masyarakat beradab sejak zaman Nabi saw dalam menjamu tamu selalu ada unsur obrolan,
luwes, simpatik dan ramah tamah. Dan sekiranya kita sebagai tuan rumah mempersilahkan tamunya
seperti layaknya rumah sendiri, sehingga tidak layak bagi tuan rumah untuk menyuruh tamu
melayani dirinya.

Memberi Hidangan

Ketika tamu itu duduk, hendaklah menyuguhkan minuman agar tamu merasa nyaman karena
penghormatan kita. Dan jika telah selesai janganlah terburu-buru mengangkat hidangan dari meja
tamu sebelum tamu benar-benar menyelesaikan makanannya dan membersihkan tangannya.
Jika kita termasuk dalam keadaan golongan orang yang kurang mampu, hendaknya hidangkan
kepada tamu kita seadanya saja meskipun itu hanya air putih. Jika tamu berpamitan hendaknya tuan
rumah mengantar sampai ke luar rumah.

Jangan Membebani Tamu

Janganlah seorang tuan rumah membebani tamu untuk membantu, kerana hal ini bertentangan
dengan kewibawaan dan jangan menampakkan kejemuan terhadap tamu, tetapi menampakkan
kegembiraan dengan kehadiran mereka, bermuka manis dan berbicara ramah dan ceria.

Boleh Menanyakan Siapa Namanya

Jika yang bertamu adalah orang yang belum kita kenal sama sekali, dan dia meminta izin untuk
masuk, maka kita boleh menanyakan namanya sambil berjabat tangan seraya mengenalkan diri.
Karena berjabat tangan dengan sesama muslim hikmahnya banyak yaitu diantarnya dapat
melapangkan dada, mempererat ukhuwah dan dapat menghapus dosa selama belum berpisah.

Boleh Menolak Tamu

Sebagai tuan rumah kita diberi kuasa oleh Allah SWT untuk menentukan sikap terhadap tamu.
Apakah kita akan menolak tamu tersebut atau menerimanya, jika kita menolak karena suatu hal
maka hendaknya bicara jujur dan menyampaikan udzurnya dengan akhlak yang baik.
Dari Abu Hurairah dari Nabi Beliau berkata:

"… barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya memuliakan
tamunya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya bicara
yang benar atau diam.”

Boleh Saling Berpelukan

Jika tamu kita adalah orang yang bertempat tinggal jauh sekali, bisa dikatakan bahwa tamu kita
tersebut hanya bersilaturrahim tiap Idul Fitri saja, maka ketika tamu tersebut berpamitan kita boleh
saling berpelukan. Berpelukan dengan tamu yang datang dari bepergian, pada asalnya dibolehkan,
karena banyak sahabat yang mengamalkannya. Lama berselisih pendapat dalam hukum berpelukan.
Ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Mereka yang membolehkan berdalil dengan
riwayat dari Sya’bi dengan sanadnya:
“Sesungguhnya sahabat Nabi apabila mereka bertemu, mereka saling berjabat tangan dan bila
datang dari bepergian mereka berpeluk-pelukan.

Dari Abu Ja’far dia berkata: Ketika aku datang menghadap Rosululloh dari Najasi beliau
menjumpaiku lalu memelukku.

Dari Ummu Darda’ dia berkata : Ketika Salman tiba, dia bertanya “Dimana saudaraku?” Lalu aku
menjawab: “Dia di masjid”, lalu dia menuju ke masjid dan setelah melihatnya, dia
memeluknya,sedangkan sahabat yang lain saling berpeluk-pelukan pula.
Kesimpulannya: Pada mulanya dilarang berpeluk-pelukan kemudian atsar berikutnya membolehkan.
Muhammad Al-Mubarokfuri berkata:

“Adapun penggabungan hadits antara Riwayat Anas yang menerangkan tidak disyari’atkannya
berpelukan, dengan riwayat Aisyah yang membolehkannya, maka riwayat Aisyah mertunjukkan
kekhususan ketika datang dari bepergian. Wallohu a’lam.”

Kami tambahkan pula bahwa berpelukpelukan ini dikutip pula oleh Imam Bukhori di dalam kitab
shohihnya, Imam Tirmidzi di dalam kitab Jami’nya dan Abu Dawud di dalam kitab Sunannya yaitu
Kitab Al-Isti’dzan wal Adab, silakan menelaahnya.Walhasil, berpelukan dengan tamu yang baru
datang dari bepergian jauh dibolehkan asal sesama jenis. Sebagaimana yang pernah diamalkan oleh
para sahabat. Wallohu a’lam.

Daftar Pustaka ;

http://kaizar1.blogspot.co.id/2014/08/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://www.organisasi.org/1970/01/etika-adab-bertamu-menjadi-tamu-yang-baik-di-rumah-orang.html

Ensiklopedia akhlak muslim. Prof.Dr. Wahbah Az-Zuhaili. 2014. Penerbit noura books
( PT Mizan Publika ). Jakarta.

Kebenaran Al-Qur’an dan Hadist. Lilis Fauziyah R. A. 2013. Penerbit PT Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri. Solo

Maftuh Ahnan, 2005. Keagungan Akhlak Rosululloh SAW (Cermin Budi Pekerti Al-Qur'an). Yang
Menerbitkan Terbit Terang : Surabaya.

http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.co.id/2013/10/hadis-tentang-akhlak-bertamu-dan.html

Anda mungkin juga menyukai