Anda di halaman 1dari 22

MANAJEMEN ANGKUTAN BARANG DAN LOGISTIK

A. Manajemen
a. Pengertian Manajemen
Secara bahasa atau etimologi manajemen disadur dari
bahasa Perancis Kuno yaitu ménagement yang artinya adalah
seni melaksanakan serta mengatur. Secara etimologis, kata
manajemen berasal dari Bahasa Inggris, yakni management,
yang dikembangkan dari kata to manage, yang artinya
mengatur atau mengelola. Kata manage itu sendiri berasal dari
Bahasa Italia, maneggio, yang diadopsi dari Bahasa Latin
managiare, yang berasal dari kata manus, yang artinya tangan
(Samsudin, 2006:15).
Manajemen dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
diartikan proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk
mencapai sasaran. Dalam istilah manajemen terdapat tiga
pandangan yang berbeda, pertama: Mengartikan administrasi
lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti
dari administrasi), kedua: melihat manajemen lebih luas dari
administrasi dan ketiga: pandangan yang beranggapan bahwa
manajemen identik dengan administrasi.
Harold Knoontz & O’ Donnel dalam bukunya yang
berjudul “Principles Of Management” mengemukakan,
Manajemen adalah berhubungan dengan pencapainan suatu
tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain.
George R Terry dalam bukunya yang berjudul
“Principles Of Manajemen” memberikan definisi Manajemen
adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan pelaksanaan , dan pengawasan
dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni agar dapat
menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut James A.F. Stoner, Manajemen adalah suatu
proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan
pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan
sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Handoko, manajemen dapat didefinisikan
sebagai bekerja dengan orang-orang untuk menentukan,
menginterpretasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi
dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau
kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan
(leading), dan pengawasan (controlling) (Handoko,1999: 8).
Schein (2008: 2) memberi definisi manajemen sebagai
profesi. Menurutnya manajemen merupakan suatu profesi yang
dituntut untuk bekerja secara profesional, karakteristiknya
adalah para profesional membuat keputusan berdsarkan prinsip-
prinsip umum, para profesional mendapatkan status mereka
karena mereka mencapai standar prestasi kerja tertentu, dan
para profesional harus ditentukan suatu kode etik yang kuat.
Johnson, sebagaimana dikutip oleh Pidarta
mengemukakan bahwa manajemen adalah proses
mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan
menjadi sistem total untuk menyalesaikan suatu tujuan. (Abdul
Choliq, 2011: 2)
b. Fungsi Manajemen
Menurut G.R. Terry, fungsi-fungsi manajemen adalah
Planning, Organizing, Actuating, Controlling. Sedangkan
menurut John F. Mee fungsi manajemen diantaranya adalah
Planning, Organizing, Motivating dan Controlling. Berbeda lagi
dengan pendapat Henry Fayol ada lima fungsi manajemen,
diantaranya Planning, Organizing, Commanding, Coordinating,
Controlling, dan masih banyak lagi pendapat pakar-pakar
manajemen yang lain tentang fungsi-fungsi manajemen. Dari
fungsi-fungsi manajemen tersebut pada dasarnya memiliki
kesamaan yang harus dilaksanakan oleh setiap manajer secara
berurutan supaya proses manajemen itu diterapkan secara baik
(Hasibuan, 2005: 3-4). Persamaan tersebut tampak pada
beberapa fungsi manajemen dakwah sebagai berikut:
1. Perencanaan
Menurut G.R. Terry, Planning atau perencanaan
adalah tindakan memilih dan menghubungkan fakta dan
membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai
masa yang akan datang dalam hal menvisualisasikan serta
merumuskan aktivitas-aktivitas yang diusulkan yang
dianggap perlu untuk mencapai hasil yang diinginkan.
(Purwanto, 2006: 45).
Planning (perencanaan) ialah penetapan pekerjaan
yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai
tujuan yang digariskan. Planning mencakup kegiatan
pengambilan keputusan, karena termasuk dalam pemilihan
alternatif-alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk
mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna
merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa
mendatang.
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian (organizing) adalah 1) penentuan
sumber daya-sumber daya dan kegiatan-kegiatan yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi, 2)
perancangan dan pengembangan suatu organisasi kelompok
kerja yang akan dapat membawa hal-hal tersebut kearah
tujuan., 3) penugasan tanggung jawab tertentu dan
kemudian, 4) pendelegasian wewenang yang diperlukan
kepada individu-individu untuk melaksanakan tugas-
tugasnya. Fungsi ini menciptakan struktur formal dimana
pekerjaan ditetapkan, dibagi dan dikoordinasikan (Handoko,
1999: 24).
Pengorganisasian dilakukan untuk menghimpun dan
mengatur semua sumber-sumber yang diperlukan, termasuk
manusia, sehingga pekerjaan yang dikehendaki dapat
dilaksanakan dengan berhasil.
3. Pelaksanaan
Setelah rencana ditetapkan, begitu pula setelah
kegiatan-kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan itu
dibagi-bagikan, maka tindakan berikutnya dari pimpinan
adalah menggerakkan mereka untuk segera melaksanakan
kegiatan-kegiatan itu, sehingga apa yang menjadi tujuan
benar-benar tercapai (Shaleh, 1977: 101).
Penggerakan adalah membuat semua anggota
organisasi mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas serta
bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan
perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian (Purwanto,
2006: 58).
Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan
anggota-anggota kelompok sedemikian rupa, hingga mereka
berkeinginan dan berusaha untuk mencapai tujuan yang
telah direncanakan bersama Terry (1993:62).
4. Pengawasan
Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan
penerapan cara dan alat utk menjamin bahwa rencana telah
dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Menurut G.R. Terry, pengawasan dapat dirumuskan
sebagai proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu
standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan,
menilai pelaksanaan dan bila perlu melakukan perbaikan-
perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana
atau selaras dengan standar (Purwanto, 2006: 67).
Tujuan utama dari pengawasan ialah mengusahakan
agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan. Oleh
karenanya agar sistem pengawasan itu benar-benar efektif
artinya dapat merealisasi tujuannya, maka suatu sistem
pengawasan setidak-tidaknya harus dapat dengan segera
melaporkan adanya penyimpangan-penyimpangan dari
rencana (Manullang, 1982:174).
Untuk menjadi efektif, sistem pengawasan harus
memenuhi kriteria tertentu. Kriteria-kriteria utama adalah
bahwa sistem seharusnya 1) mengawasi kegiatan-kegiataan
yang benar, 2) tepat waktu, 3) dengan biaya yang efektif, 4)
tepat akurat, dan 5) dapat diterima oleh yang bersangkutan.
Semakin dipenuhinya Kriteria-kriteria tersebut semakin
efektif sistem pengawasan (Handoko, 1999: 373).
c. Tujuan Manajemen
Manajemen ada tentu ada tujuannya, tujuan paling
utama untuk mencapai target yang telah ditentukan. Lebih
jelasnya berikut ini adalah tujuan-tujuan diperlukannya
manajemen yang baik :
1. Bisa menentukan strategi yang efektif serta efisien untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan.
2. Melakukan evaluasi kerja, dan mengkaji ulang akan situasi
yang terjadi yang bertujuan untuk melakukan penyesuaian
strategi jika terjadi hal-hal yang diluar strategi.
3. Mengatur dan menjaga kesehatan emosi (personal),
keuangan, dan semua sektor perusahaan supaya
perusahaan bisa mencapai profit yang maksimal.
4. Mengevaluasi dan meninjau kembali kekuatan (strength),
kelemahan (weakness), peluang maupun ancaman yang
ada.
B. Angkutan Barang
a. Pengertian
Pengertian pengangkutan menurut Abdulkadir
Muhammad adalah Pengertian “angkutan” berasal dari kata
“angkut” yang berarti mengangkat atau membawa, memuat dan
membawa atau mengirim. Dengan kata lain angkutan adalah
proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat
tempat pemuatan ke tempat tujuan dan menurunkan barang
atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang telah
ditetapkan.
Menurut pendapat R. Soekardono, SH, pengangkutan
pada pokoknya berisikan perpindahan tempat baik mengenai
benda-benda maupun mengenai orang-orang, karena
perpindahan itu mutlak perlu untuk mencapai dan meninggikan
manfaat serta efisiensi. Dapat diartikan bahwa pengangkutan
sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke
tempat tujuan.
b. Klasifikasi
1. Pengangkutan Darat
2. Pengangkutan udara
3. Pengangkutan laut
c. Kendaraan Pengangkut
Ditinjau berdasarkan klasifikasi aspek teknis dan terminologi
yang digunakan oleh Dinas Perhubungan, jenis kendaraan yang
digunakan untuk jasa angkutan truk dibedakan sebagai berikut:
1. Truk besar dengan kapasitas angkut (tonase) mencapai lebih
dari 8 ton yang banyak digunakan untuk jasa angkutan peti
kemas dan alat berat.
2. Truk sedang, baik tipe single (4 ban) maupun tipe double (6
ban), dengan kapasitas angkut (tonase) antara 4-8 ton.
3. Truk kecil tipe pick-up dengan kapasitas angkut (tonase) di
bawah 4 ton.
Jenis-jenis Mobil Barang (Truk) yang umum digunakan adalah
sebagai berikut :
1. Truk Barang Umum
Merupakan truk yang digunakan untuk mengangkut segala
jenis barang, baik yang dikemas ataupun tanpa kemasan
dalam bentuk curah. Penggunaan yang sifatnya spesifik
sering diangkat dengan truk yang diperuntukkan untuk satu
jenis barang saja
2. Truk Tangki
Dirancang untuk mengangkut muatan berbentuk cair atau
gas. Untuk meningkatkan kestabilan dalam transportasi
cairan dalam tangki, tangki dibagi dalam beberapa
kompartemen yang dipisahkan dengan sekat-sekat.
3. Mobil Box
Kendaraan angkutan barang antaran yang biasanya
digunakan untuk mengangkut barang antaran (delivery van)
yang dimasukkan dalam suatu box yang terbuat dari baja
ataupun dari aluminium. Ada pula truk box yang dilengkapi
dengan pendingin yang digunakan untuk mengangkut
barang yang mudah busuk atau rusak karena suhu seperti
untuk angkutan es, daging, ikan, sayuran dan buah-buahan.
4. Mobil Peti Kemas
Disebut juga truk kontainer adalah kendaraan pengangkut
peti kemas terdiri dari kendaraan penarik (tractor head) dan
kereta tempelan dimana peti kemas ditempatkan.
d. Muatan
Barang muatan adalah barang yang diangkut dari satu tempat
menuju ke tempat tujuan dengan menggunakan alat kendaraan
pengangkutan. Barang muatan terdiri dari berbagai jenis
menurut keperluannya, yaitu:
1. Secara kegunaan atau keperluannya barang muatan terdiri
dari:
 Barang sandang, contohnya tekstil, sarung, baju;
 Barang pangan, contohnya beras, gula dan buah-buahan;
 Barang perlengkapan rumah tangga, contohnya meja,
pintu, almari dan perlengkapan dapur;
 Barang perlengkapan pendidikan, contohnya buku, papan
tulis, alat peraga dan komputer;
 Barang bangunan, contohnya kayu, besi dan semen;
 Hewan, contohnya sapi potong, ikan hias dan burung
piaraan
2. Secara fisik barang muatan dibedakan menjadi 6 golongan,
yaitu :
 Barang berbahaya, contohnya racun, carbide, dan
binatang buas;
 Barang tidak berbahaya, contohnya tekstil, kelontongan;
 Barang cair, contohnya minyak tanah, minyak sawit, air,
dan bahan bakar minyak;
 Barang berharga, contohnya mutiara, emas dan perak;
 Barang curah, contohnya kacang, pasir;
 Barang khusus, contohnya ikan dingin, tembakau, gas
alam dan obat-obatan.
3. Secara alami barang muatan dapat dibedakan menjadi
empat golongan, yaitu :
 Barang padat, contohnya besi, kayu balok, dan suku
cadang;
 Barang cair, contohnya minyak mentah, air mineral, dan
bahan bakar minyak;
 Barang gas, contohnya LPG, amoniak;
 Barang rongga, contohnya mobil, televisi.
4. Dilihat dari cara menjaga dan mengurusnya, barang muatan
dibedakan menjadi tiga golongan:
 Barang berbahaya (dangerous cargo) yang sifatnya
mudah terbakar (highly flamable), mudah meledak (highly
explosive), mudah pecah (highly breakable), mengandung
racun (poisonous);
 Barang digin atau beku (refrigarated cargo) yang perlu
diangkut menggunakan ruan pendingin, misalnya daging
atau ikan segar, dan obat-obatan;
 Barang yang panjang atau beratnya melebihi ukuran
tertentu, misalnya barang peti kemas, barang koli
5. Dari jenisnya, barang muatan dapat dibedakan menjadi 3
golongan, yaitu :
 general cargo, adalah jenis barang yang dimuat dengan
cara membungkus dan mengepaknya dalam bentuk unit-
unit kecil;
 bulk cargo, adalah suatu macam barang dalam jumlah
besar yang dimuat dengan cara mencurahkan ke dalam
tanki. Misalnya pengangkutan bahan bakar minyak
dengan menggunakan tanki 5.000 liter;
 homogeneous cargo, adalah suatu macam barang dalam
jumlah besar yang dimuat dengan cara
pembungkusan/pengepakan, misalnya pengangkutan
2.000 zak semen.
C. Manajemen Logistik
a. Pengertian
Logistik merupakan seni dan ilmu, barang, energi,
informasi, dan sumber daya lainnya, seperti produk, jasa, dan
manusia, dari sumber produksi ke pasar dengan tujuan
mengoptimalkan penggunaan modal. Manufaktur dan marketing
akan sulit dilakukan tanpa dukungan logistik. Logistik juga
mencakup integrasi informasi, transportasi, inventori,
pergudangan, reverse logistics dan pemaketan.
Menurut Subagya (1994), logistik adalah proses
pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan
penyimpanan strategis barang, suku cadang dan barang dari
para suplier, diantara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada
para langganan.
Logistik atau Supply Chain adalah kegiatan
pengumpulan fungsional (transportasi, persediaan, kontrol, dll)
yang diulang berkali-kali di seluruh chanel di mana bahan baku
diubah menjadi produk jadi dan nilai konsumen ditambahkan.
Logistik merupakan suatu istilah yang dipinjam dari
militer yang menjelaskan suatu proses secara strategik
mengelola aliran efisien dan penyimpanan sejumlah bahan
mentah, persediaan dalam proses, dan persediaan barang jadi
dari titik asal sampai ke titik konsumsi (Daniel, 2001:31)
Menurut Bowersox (2002:13) logistik merupakan proses
pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan
penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para
suplaier, di antara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para
langganan.
Menurut Sondang P Siagian (2003:58) “Logistik adalah
keseluruhan bahan, barang, alat dan sarana yang diperlukan
dan dipergunakan oleh suatu organsasi dalam rangka
pencapaian tujuan dan berbagai sasarannya”.
Manajemen logistik merupakan aliran barang secara
baik, efektif dan efisien mulai dari pengiriman barang dari
pemasok atau supplier ke toko, penyimpanan yang baik di
dalam gudang, pendistribusiannya hingga barang tersebut
sampai kepada konsumen untuk dikonsumsi, selain itu juga di
dalam manajemen logistik memiliki jasa pelayanan serta
informasi mengenai produk yang dimilikinya di dalam penjualan
barang.
The Council of Logistic Management (1998)
mendefinisikan Manajemen Logistik merupakan bagian dari
proses Supply Chain yang berfungsi untuk merencanakan,
melaksanakan dan mengendalikan keefisienan dan keefektifan
aliran dan penyimpanan barang, pelayanan dan informasi terkait
dari titik permulaan (point of origin) hingga titik konsumsi (point
of consumption) dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan
para pelanggan.
Manajemen logistik adalah suatu ilmu pengetahuan dan
atau seni serta proses mengenai perencanaan dan penentuan
kebutuhan pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan
pemeliharaan serta penghapusan material/alat-alat. (Subagya:
1994), sehingga manajemen logistik mampu menjawab tujuan
dan bagaimana cara mencapai tujuan dengan ketersediaan
bahan logistik setiap saat bila dibutuhkan dan dipergunakan
secara efisien dan efektif.
Manajemen logistik merupakan serangkaian kegiatan
perencanaan, pengawasan, pengorganisasian, dan pengawasan
terhadap kegiatan pengadaaan, pencatatan pendistribusian,
penyimpanan, pemeliharaan serta penggunaan logistik secara
terstruktur. Manajemen logistik menitikberatkan pada cara
untuk mengelola barang melalui tindakan-tindakan perencanaan
dan penentuan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan,
penyaluran, pemeliharaan, serta penghapusan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan perusahaan atau badan udaha
tertentu.
Manajemen logistik merupakan bagian dari proses
supply chain yang berfungsi untuk merencanakan,
melaksanakan, dan mengendalikan keefisienan dan keefektifan
penyimpanan dan aliran barang, pelayanan dan informasi terkait
dari titik permulaan (point of origin) hingga titik konsumsi (point
of consumption) dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan
para pelanggan.
b. Tujuan
1. Tujuan Umum
 Tujuan Operasional
Tujuan operasional dimaksudkan utnuk menjaga supaya
ketersediaan logistik tetap aman. Artinya ketika jumlah
logistik yang dibutuhkan sudah menipis, departemen
manajemen logistik sebisa mungkin akan melakukan
pengadaan logistik secara cepat.
 Tujuan Keuangan
Tujuan keuangan dimaksudkan untuk melakukan
pengadaan logistik bagaimanapun caranya dengan biaya
serendah mungkin. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan
untung sebesar besar, atau bisa pula menjaga harga
produk supaya tetap stabil tanpa merugikan konsumen
ditengah biaya produksi yang semakin meningkat.
 Tujuan Pengamanan
Tujuan pengamanan dimaksudkan untuk menjaga dan
mendukung efektifitas dan efisiensi dalam upaya
mencapai tujuan organisasi.
2. Tujuan Khusus
Mendukung efektivitas dan efisiensi dalam setiap upaya
pencapaian tujuan organisasi, antara lain :
 mampu menyediakan logistik sesuai dengan kebutuhan,
baik berkaitan dengan jenis dan spesifikasinya, jumlah,
waktu, maupun tempat dibutuhkan, dalam keadaan dapat
dipakai, dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan,
dengan harga yang layak, serta dengan memberikan
pelayanan yang baik.
 mampu menyediakan informasi berkaitan dengan
keberadaan logistik yang dapat dipergunakan sebagai
sarana untuk melakukan pengawasan dan pengendalian
logistik serta dapat digunakan sebagai instrumen
pengambilan keputusan berkaitan dengan tindakan-
tindakan manajemen logistik, seperti pengadaan, distribusi
dan penghapusan.
 mampu menyediakan logistik yang siap pakai (ready for
use) ke unit-unit kerja maupun personel sehingga
menjamin kelangsungan aktivitas maupun tugas setiap
unit kerja maupun personel dalam suatu organisasi
melalui penyelenggaraan pengelolaan gudang dan
distribusi secara optimal.
 mampu menjaga dan mempertahankan kondisi teknis,
daya guna dan daya hasil logistik, baik secara preventif
maupun represif secara optimal guna mendukung
optimalisasi fungsional maupun umur barang.
 mampu melakukan pengakhiran fungsi logistik dengan
pertimbangan-pertimbangan dan argumentasi-
argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan guna
mendukung kelancaran pelaksanaan aktivitas maupun
tugas, serta mencegah tindakan pemborosan.
 mampu mencegah dan mengambil tindakan antisipatif
terhadap berbagai penyimpangan dalam setiap kegiatan
pengelolaan maupun penggunaan logistik sehingga selain
dapat menekan pengeluaran biaya, baik berkaitan dengan
finansial, tenaga, waktu, material, maupun pikiran, juga
mendukung kelancaran pelaksanaan aktivitas dan tugas
dalam organisasi.
 mampu menyediakan pedoman kerja bagi setiap unit kerja
maupun personel sehingga setiap unit kerja maupun
personel dapat menjalankan aktivitas maupun tugasnya
secara optimal.
 mampu membangun budaya penggunaan logistik secara
bertanggung jawab oleh para pegawai di lingkungan
organisasi sehingga dapat dicegah dan dihindarkan
tindakan penyimpangan maupun pemborosan.
c. Manfaat
1. Persediaan
Dengan adanya manajemen logistik sudah pasti segala
keperluan atau bahan-bahan logistik dapat tersedia dan
terpenuhi dengan cukup. Dengan begitu kebutuhan dari
perusahaan terus terpenuhi sehingga perusahaan mampu
beroperasi dengan baik. Melalui manajemen tersebut
perusahaan dapat melaksanakan kegiatan operasionalnya
dengan baik. Akibat manajemen pada aktivitas logistik
perusahaan juga dapat fokus pada bidang manajemen yang
lain karena kebutuhan akan barang telah tersedia.
2. Transportasi
Salah satu fungsi dari manajemen logistik ini adalah
penyaluran barang. Untuk itu perusahaan harus memiliki
layanan transportasi sendiri. Transportasi yang dimiliki ini
akan membantu mobilitas perusahaan. Perusahaan dengan
manajemen logistik yang baik akan menyediakan
transportasi untuk distribusi persediaan.
3. Fasilitas
Transportasi menjadi salah satu hal utama. Kemudian
penyediaan fasilitas khususnya tempat penyimpanan juga
merupakan pengembangan dari spesialisasi pada
manajemen ini. Melalui fasilitas yang baik maka akan
mendukung manajemen logistik. Meningkatkan fasilitas
memadai yang dimiliki perusahaan untuk mendukung
pengadaan logistik maupun penyaluran produk ke
pelanggan.
4. Layanan
Meningkatkan pelayanan kepada konsumen atau pelanggan.
Merupakan bagian dari manajemen pemasaran maka
manajemen logistik juga menyediakan pelayanan yang baik.
Pelayanan ditujukan tidak hanya keapda pelanggan atas
ketepatan waktu pengantaran. Akan tetapi terhadap
stakeholder yang terkait lainnya seperti supplier.
5. Manajemen dan Administrasi
Manfaat selanjutnya, pihak manajemen dan administrasi
akan terbantu karena persediaan akan tertata dengan baik.
Begitupula tentang pelayanan, pencatatan, dan informasi
yang diberikan.
6. Inbound Transportasi
Inbound transportasi ini mengacu pada pergerakan barang
dan bahan baku dari pemasok ke perusahaan. Dengan
manajemen logistik perusahaan akan mendapatkan pemasok
yang terbaik dan sesuai dengan perusahaan.
7. Outbound Transportasi
ika inbound bergerak ke perusahaan kita, outbound
transportasi berarti bergerak ke pelanggan. Artinya
penyaluran barang dari perusahaan ke pelanggan.
Manajemen logistik ini menjamin pelayann dan pengiriman
terlaksanan dengan baik sehingga kepercayaan pelanggan
terjaga dan transaksi berjalan.
8. Problem Solving
Dengan memanfaatkan manajemen logistik, perusahaan
akan mampu menghadapi permasalahan yang tidak biasa.
Permasalahan seperti keinginan pelanggan yang sulit
dipenuhi dan lain sebagainya.
9. Penyediaan Informasi Pelanggan
Dengan adanya manajemen logistik, perusahaan diharapkan
dapat mampu menghadapi berbagai permasalahan yang
mungkin akan terjadi, terutama dalam hal pengadaan
logistik, permintaan konsumen, dan lain sebagainya.
10. Kepercayaan Konsumen
Melalui berbagai pelayanan yang diberikan kepada
konsumen maupun pelanggan baik pemberian informasi,
ketepatan distirbusi, dan pelayanan yang baik. Maka faktor
tersebutlah yang membangun kepercayaan konsumen
terhadap perusahaan. Faktor itu pula yang akan
menumbuhkan loyalitas konsumen terhadap perusahaan.

d. Fungsi
Fungsi logistik merupakan suatu proses yang
berkesinambungan dan saling berkaitan satu sama lainnya serta
saling mendukung satu sama dan lainnya. Proses logistik
menurut subagya (1996:10) terdiri dari:
1. Fungsi Perencanaan
Pengertian umum adalah proses untuk
merumuskan sasaran dan menentukan langkahlangkah yang
harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Sedangkan secara khusus perencanan logistik
adalah merencanakan kebutuhan logistik yang
pelaksanaannya dilakukan oleh semua calon pemakai (user)
kemudian diajukan sesuai dengan alur yang berlaku di
masing- masing organisasi( Mustikasari: 2007). Subagya
menyatakan perencanaan adalah hasil rangkuman dari
kaitan tugas pokok, gagasan, pengetahuan, pengalaman dan
keadaan atau lingkungan yang merupakan cara terencana
dalam memuat keinginan dan usaha merumuskan dasar dan
pedoman tindakan.
Fungsi perencanaan mencakup aktivitas dalam
menetapkan sasaran-sasaran, pedoman-pedoman,
pengukuran penyelenggaraan bidang logistik. Sementara
penentuan kebutuhan merupakan perincian dari fungsi
perencanaan, bilamana perlu semua faktor yang
mempengaruhi penentuan kebutuhan harus diperhitungkan.
2. Fungsi Penganggaran
Penganggaran (budgetting) adalah semua kegiatan
dan usaha untuk merumuskan perincian penentu kebutuhan
dalam suatu skala tertentu/skala standar yaitu skala mata
uang dan jumlah biaya (Subagya, 1994).
Fungsi penganggaran terdiri dari kegiatan-kegiatan
dan usaha-usaha untuk merumuskan perincian penentuan
kebutuhan dalam suatu skala standar, yakni skala mata uang
dan jumlah biaya dengan memperlihatkan pengarahan dan
pembatasan yang berlaku terhadapnya.
3. Fungsi Pengadaan
Pengadaan adalah semua kegiataan dan usaha
untuk menambah dan memenuhi kebutuhan barang dan jasa
berdasarkan peraturan yang berlaku dengan menciptakan
sesuatu yang tadinya belum ada menjadi ada. Kegiatan ini
termasuk dalam usaha untuk tetap mempertahankan
sesuatu yang telah ada dalam batas-batas efisiensi.
(Subagya: 1994). Sedangkan Mustikasari berpendapat fungsi
pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasi atau
mewujudkan kebutuhan yang telah direncanakan atau telah
disetujui sebelumnya.
Fungsi pengadaan merupakan usaha-usaha dan
kegiatan-kegiatan untuk memenuhi kebutuhan operasional
yang telah digariskan dalam fungsi perencanaan, penentuan
kebutuhan dan penganggaran.
Pengadaan tidak selalu harus dilaksanakan dengan
pembelian tetapi didasarkan dengan pilihan berbagai
alternatif yang paling tepat dan efisien untuk kepentingan
organisasi. Cara–cara yang dapat dilakukan untuk
menjalankan fungsi pengadaan adalah:
 Pembelian
 Penyewaan
 Peminjaman
 Pemberian ( hibah )
 Penukaran
 Pembuatan
 Perbaikan
4. Fungsi Penyimpanan
Penyimpanan merupakan suatu kegiatan dan usaha
untuk melakukan pngelolaan barang persediaan di tempat
penyimpanan. (Mustikasari: 2007) Penyimpanan berfungsi
untuk menjamin penjadwalan yang telah ditetapkan dalam
fungsi-fungsi sebelumya dengan pemenuhan setepat-
tepatnya dan biaya serendah-rendahnya. Fungsi ini
mencakup semua kegiatan mengenai pengurusan,
pengelolaan dan penyimpanan barang. Fungsi yang lain
adalah: Kualitas barang dapat dipertahankan, barang
terhindar dari kerusakan, pencarian barang yang lebih
mudah dan barang yang aman dari
pencuri.
Fungsi ini merupakan pelaksanaan penerimaan,
penyimpanan dan penyaluran perlengkapan yang telah
diadakan melalui fungsi-fungsi terdahulu untuk kemudian
disalurkan kepada instansi-instansi pelaksana.
5. Fungsi Penyaluran (Distribusi)
Penyaluran atau distribusi merupakan kegiatan atau
usaha untuk mengelola pemindahan barang dari satu tempat
ke tempat lainnya (Subagya: 1994).
Menurut Keith Lockyer (1999:186) “Pemeliharaan
adalah suatu usaha untuk memaksimalkan umur kegunaan
dari alat sehingga peralatan dapat bekerja secara
memuaskan dan meminimalkan biaya kerusakan”. Fungsi
pemeliharaan sendiri adalah usaha atau proses kegiatan
untuk mempertahankan kondisi teknis, daya guna barang
inventaris.
Batasan pengertian tersebut, menegaskan bahwa
yang hendak dicapai dalam kegiatan pemeliharaan adalah
menjaga dan menjamin setiap logistik yang ada tetap
berfungsi sebagaimana mestinya. Disamping itu,
pemeliharaan logistik diarahkan agar umur pemakaian
logistik dapat mencapai batas waktu yang optimal (sesuai
batas waktu yang ditetapkan). Dengan demikian
pemeliharaan logistik juga ditujukan untuk mendukung
efisiensi organisasi.
6. Fungsi Penghapusan
Penghapusan suatu barang logistik dilakukan apabila
barang telah mencapai titik akhir manfaatnya. Penghapusan
logistik dapat dilakukan tergantung dari kebijakan yang
diterapkan oleh instansi ataupun perusahaan.
Menurut Sondang P Siagian (2004:62) penghapusan
merupakan kegiatan penghapusan inventaris yang sudah
tidak bermanfaat.
Penghapusan adalah kgiatan atau usaha
pembebasan barang dari pertanggungjawaban sesuai
peraturan dan perundang-undangan yang berlaku (Subagya:
1994). Alasan penghapusan barang antaralain:
 Barang hilang, akibat kesalahan sendiri, kecelakaan,
bencana alam, administrasi yang salah, tercecer atau tidak
ditemukan
 Tehnis dan ekonomis: Setelah nilai barang dianggap tidak
ada manfaatnya. Keadaan tersebut disebabkan faktor-
faktor: Kerusakaan yang tidak dapat diperbaiki, obsolete
(meningkatkan efisiensi atau efektifitas), kadaluarsa yaitu
suatu barang tidak boleh dipergunakan lagi menurut
ketentuan waktu yang ditetapkan, aus atau deteriorasi
yaitu barang mengurang karena susut, menguap atau
hadling, Busuk karena tidak memenuhi spesifikasi
sehingga barang tidak dapat dipergunakan lagi.
 Surplus dan ekses
 Tidak bertuan: Barang-barang yang tidak diurus
 Rampasan yaitu barang-barang bukti dari suatu perkara
7. Fungsi Pengendalian
Fungsi pengendalian merupakan fungsi inti dari
pengelolaan logistik yang meliputi usaha untuk memonitor
dan mengamankan keseluruhan pengelolaan logistik. Dalam
fungsi pengendalian ini terdapat kegiatan-kegiatan yakni
pengendalian inventarisasi dan Expediting yang merupakan
unsur-unsur utamanya.
Pengendalian adalah sistem pengawasan dari hasil
laporan, penilaian, pemantauan dan pemeriksaan terhadap
langkah-langkah manajemen logistik yang sedang atau telah
berlangsung (Mustikasari:2007). Bentuk kegiatan
pengendalian antara lain:
 Merumuskan tatalaksana dalam bentuk manual, standar,
kriteria, norma, instruksi dan prosedur lain
 Melaksanakan pengamatan (Monitoring), evaluasi dan
laporan, guna mendapatkan gambaran dan informasi
tentang penyimpangan dan jalannya pelaksanaan dari
rencana
 Melakukan kunjungan staf guna mengidentifikasi cara-cara
pelaksanaan dalam rangka pencapaian tujuan
 Melakukan supervisi
SUMBER
http://logistik13.blogspot.co.id/2012/12/tujuan-manajemen-logistik.html
http://jurnalmanajemen.com/manajemen-logistik/
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/47787/Chapter%
20II.pdf;sequence=4
https://www.scribd.com/doc/251490899/Manajemen-Logistik-
Pengendalian-Persediaan-Literatur-pdf
https://www.carajadikaya.com/manajemen-logistik/
http://supplychainindonesia.com/new/unduh/materi-
pembelajaran/manajemen-logistik/
https://rinatnunay.com/2013/07/01/apa-sih-logistik-itu/
http://unjalu.blogspot.co.id/2011/03/hukum-angkutan.html
http://ginsx.blogspot.co.id/2016/03/definisi-pengangkutan.html
https://www.scribd.com/document/353885383/Pengangkutan-Barang
http://desidayanti1.blogspot.co.id/2013/10/manajemen-transportasi.html
http://www.academia.edu/26202844/MANAJEMEN_TRANSPORTASI_BARA
NG