0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
229 tayangan22 halaman

Pemahaman Inti Atom dan Energi Nuklir

Makalah ini membahas tentang inti atom, meliputi energi ikat inti, transmutasi buatan, radioaktif terinduksi, daya tembus, penggunaan radioisotop, pengobatan nuklir, penentuan umur dengan radioisotop, dan efek radiasi.

Diunggah oleh

RISKAFATIMAH
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
229 tayangan22 halaman

Pemahaman Inti Atom dan Energi Nuklir

Makalah ini membahas tentang inti atom, meliputi energi ikat inti, transmutasi buatan, radioaktif terinduksi, daya tembus, penggunaan radioisotop, pengobatan nuklir, penentuan umur dengan radioisotop, dan efek radiasi.

Diunggah oleh

RISKAFATIMAH
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH INTI ATOM

Dikerjakan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Pendahuluan Fisika Inti

DOSEN PEMBIMBING :
Irfandi S.Pd, M.Si

Disusun Oleh :

Kelompok VIII

CHALIDAZIA ANANDA NASUTION (4143321008)

CHRISTIAN DANIEL B (4143321009)

ELIYANA ( 4153321047)

ELSA HANDAYANI (4143321012)

RISKA FATIMAH (4153321031)

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis makalah ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat Rahmat dan Anugerah-Nyalah tugas mata kuliah Pendahuluan Fisika Inti dapat selesai.
Sesuai dengan kontrak mata kuliah Pendahuluan Fisika Inti pada pertemuan ke-5 mahasiswa
diwajibkan menyusun makalah yang ada hubungannya dengan mata kuliah tersebut.
Penulis makalah berusaha semaksimal mungkin mengerjakan tugas ini dengan baik
dan benar sesuai dengan sumber-sumber yang digunakan. Penulis makalah mengucapkan
terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pendahuluan Fisika Inti : Irfandi S.Pd,
M.Si Yang telah memberikan bimbingan dan arahan hingga makalah ini tersusun adanya.
Semoga makalah ini berguna bagi yang membutuhkannya dan dapat menambah wawasan
ilmu bagi yang membaca.

Medan, Maret 2018

Kelompok VIII

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ----------------------------------------------------------------- 1

DAFTAR ISI ---------------------------------------------------------------------------- 2

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ----------------------------------------------------------- 3
1.2 Rumusan Masalah ------------------------------------------------------------------ 4
1.3 Tujuan -------------------------------------------------------------------------------- 4

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Energi Ikat Inti ---------------------------------------------------------------------- 5

2.2 Transmutasi Buatan ---------------------------------------------------------------- 6

2.3 Radioaktif Terinduksi -------------------------------------------------------------- 8

2.4 Daya Tembus ----------------------------------------------------------------------- 9

2.5 Penggunaan Radioisotop -------------------------------------------------------- 11

2.6 Pengobatan Nuklir --------------------------------------------------------------- 13

2.7 Penentuan Umur dengan Radioisotop ----------------------------------------- 15

2.8 Efek Radiasi ---------------------------------------------------------------------- 16

BAB IV KESIMPULAN ------------------------------------------------------------ 20

DAFTAR PUSTAKA --------------------------------------------------------------- 21

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhan akan energi bertambah semakin cepat dari tahun ke tahun, sementara sumber
yang dapat langsung digunakan untuk kebutuhan tertentu semakin terbatas. Meskipun energi
yang bersumber pada radiasi matahari (energi surya) sangat berlimpah, tetapi sejauh ini
pemanfaatannya masih belum dapat optimal. Secara ekonomis peralatan yang diperlukan
untuk mengkonversi energi surya masih relatif mahal dibandingkan sumber-sumber energi
yang bersumber pada minyak dan gas bumi serta batubara.
Reaktor fusi nuklir merupakan salah satu sumber energi alternatif masa depan yang
menggunakan bahan bakar yang tersedia melimpah, sangat efisien, bersih dari polusi, tidak
akan menimbulkan bahaya kebocoran radiasi dan tidak menyebabkan sampah radioaktif yang
merisaukan seperti pada reaktor fisi nuklir. Sejauh ini reaktor fusi nuklir masih belum
dioperasikan secara komersial. Prototip reaktor-reaktor fusi saat ini masih dalam tahap
eksperimentasi pada beberapa laboratorium di USA dan di beberapa negara maju lainnya.
Suatu konsorsium dari USA, Rusia, Eropa dan Jepang telah mengajukan pembangunan suatu
reaktor fusi yang disebut International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER) di
Cadarache (Perancis) untuk menguji kelayakan dan keberlanjutan penggunaan reaksi fusi
untuk menghasilkan energi listrik. Reaktor-reaktor nuklir yang saat ini dioperasikan untuk
menghasilkan energi (listrik) merupakan reaktor fisi nuklir. Dalam reaktor fisi nuklir energi
diperoleh dari pemecahan satu atom menjadi dua atom. Dalam reaktor-reaktor fisi nuklir
konvensional, neutron lambat yang menumbuk inti atom bahan bakar (umumnya Uranium)
menghasilkan inti atom baru yang sangat tidak stabil dan hampir seketika pecah menjadi dua
bagian (inti) dan sejumlah neutron dan energi yang besar. Pecahan hasil reaksi fisi tersebut
merupakan sampah radioaktif dengan waktu paruh yang sangat panjang sehingga
menimbulkan masalah baru pada lingkungan. Dalam reaksi fusi nuklir dua inti atom ringan
bergabung menjadi satu inti baru. Dalam suatu reaktor fusi, inti-inti atom isotop hidrogen
(protium, deuterium, dan tritium) bergabungmenjadi inti atom helium dan netron serta
sejumlah besar energi. Reaksi fusi ini sejenis dengan reaksi yang terjadi di dalam inti
matahari dan bersifat jauh lebih bersih, lebih aman. lebih efisien dan menggunakan bahan
bakar yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan reaksi fisi nuklir.

3
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu energi ikat inti?
2. Bagaimana transmutasi buatan?
3. Apa itu radioaktif terinduksi?
4. Bagaimana daya tembus inti?
5. Apa saja penggunaan radioisotop?
6. Apa itu pengobatan nuklir?
7. Bagaimana penentuan umur dengan radioisotop?
8. Apa itu efek radiasi?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa itu energi ikat inti
2. Mengetahui transmutasi buatan
3. Mengetahui apa itu radioaktif terinduksi
4. Mengetahui daya tembus inti
5. Mengetahui penggunaan radioisotop
6. Mengetahui pengobatan nuklir
7. Mengetahui cara penentuan umur dengan radioisotop
8. Mengetahui efek radiasi

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Energi Ikat Inti


Hubungan antara massa inti atom dengan energi ikat inti dapat dijelaskan dengan teori
yang dikemukakan oleh Albert Einstein yang menyatakan hubungan antara massa dan energi
yang dinyatakan dalam persamaan E = mc2. energi ikat inti timbul akibat selisih massa antara
jumlah massa nukleon-nukleon dalam inti. Dimana E adalah energi yang timbul apabila
sejumlah m (massa) benda berubah menjadi energi dan c adalah cepat rambat gelombang
cahaya.
Dari hasil pengukuran massa inti atom selalu lebih kecil dari jumlah massa nukleon pada
inti atom tersebut, penyusutan/pengurangan massa ini disebut defek massa. Besarnya
penyusutan massa inti akan berubah menjadi energi ikat inti yang menyebabkan nukleon
dapat bersatu dalam inti atom. Besarnya energi ikat inti dapat diketahui jika besarnya defek
massa inti diketahui. Besarnya defek massa dinyatakan dengan selisih jumlah massa seluruh
nukleon (massa proton dan neutron) dengan massa inti yang terbentuk yang dapat dinyatakan
dalam persamaan :
Δm = ( Zmp + (A – Z) mn ) – mint i

dengan :
Δm = defek massa
mp = massa proton
mn = massa neutron
Z = jumlah proton dalam inti atom
(A – Z) = jumlah neutron pada inti atom
Menurut hasil pengukuran yang teliti jika massa 1 sma berubah menjadi energi setara
dengan energi sebesar 931 MeV (Mega elektron volt) atau 1 sma = 931 MeV, sehingga
besarnya energi ikat inti dapat dinyatakan :
ΔE = Δm * 931 MeV

dengan :

Δm = defek massa
ΔE = energi ikat inti

5
A
Rumus menghitung energi ikat inti, pada sebuah atom stabil Z X dengan nomor atom Z
dan nomor massa A yaitu:
∆𝐸 = |𝑍 𝑚𝑃 + (𝐴 − 𝑧)𝑚𝑛 + 𝑍𝑚𝑒 − 𝑚 𝐴𝑍𝑋| 931𝑀𝑒𝑉/𝑠𝑚𝑎

Jika inti memiliki jumlah nukleon yang banyak energi ikatnya juga besar. Namum belum
tentu inti tersebut stabil. Pada umumnya inti atom yang mempunyai jumlah neutron lebih
banyak mempunyai tingkat kestabilan inti yang lebih rendah. Ada besaran yang mempunyai
korelasi/hubungan dengan tingkat kestabilan inti yang disebut tingkat energi ikat per nukleon.

Grafik hubungan antara energi ikat per nukleon dengan nomor atom

Gambar diatas memperlihatkan grafik energi ikat per nukleon terhadap banyaknya
nukleon dalam berbagai inti atomik. Pada grafik itu energi ikat terbesar adalah 8,8 MeV yaitu
pada inti atom besi (26 Fe56). Lebih besar energi ikat per nukleonnya, maka lebih mantap inti
atom itu.

2.2 Transmutasi Buatan


Percobaan transmutasi inti nuklir buatan pertama kali dilakukan oleh Rutherford pada
tahun 1919. Berikutnya, Rutherford melakukan percobaan jarak tiba (arrival distance)
sinar a dengan menempatkan didalam ruang gas sinar a dari polonium (Po).
Pada saat itu jarak tiba sinar a diserap dari polonium sebesar beberapa derajat pada
tekanan udara 1 atm. Pada jarak diatas 40 cm dari sumber po menempatkan skrin plat cahaya
kadang-kadang juga bersinar (scintilasi). Elemen yang akan diukur ditumbukan pada plat
cahaya. Rutherford melakukan penelitian tentang inklinasi pada medan magnet elemen.
Elemen yang membuat terjadinya scintilasi disimpulkan adalah inti atom hidrogen (proton).
Jumlah scintilasi dengan menempatkan foil metal di depan skrin plat cahaya menurun secara

6
tajam. Dari hasil percobaan, jumlah scintilasi yang dilakukan bertambah dengan cara
mengeringkan udara gas inti nuklir nitrogen -14 (N-14), inti nuklir He-4, inti atom oksigen –
17 (O-17) dan proton, proton ditemukan pada penyinaran plat cahaya . Hal ini sesuai dengan
penelitian pertama kali yaitu merubah inti nuklir secara buatan.
Transmutasi inti atau transmutasi nuklir adalah perubahan suatu unsur kimia atau isotop
menjadi unsur kimia atau isotop lain melalui reaksi nuklir. Di alam berlangsung transmutasi
nuklir natural yang terjadi pada unsur radioaktif yang secara spontan meluruh selama kurun
waktu bertahun-tahun dan akhirnya berubah menjadi unsur yang lebih setabil. Transmutasi
nuklir buatan dapat dilakukan dengan menggunakan reactor fisi, reactor fusi atau alat
pemercepat partikel (particle accelerator). Transmutasi nuklir buatan dilakukan dengan tujuan
mengubah unsure kimia atau radioisotop dengan tujuan tertentu. Limbah radioaktif yang
dihasilkan dari reactor nuklir yang mempunyai umur sangat panjang dapat saja
ditransmutasikan menjadi radioisotop yang lebih stabil dan memancarkan radioaktivitas
dengan umur yang lebih pendek.
Reaksi fisi dan reaksi fusi sebenarnya juga dapat digolongkan sebagai transmutasi inti,
karena dalam kedua reaksi nuklir tersebut terjadi perubahan inti atom yang dapat
menyebabkan perubahan unsure kimia atau isotop.
Salah satu contoh transmutasi nuklir buatan yang menunjukkan bahwa suatu unsure kimia
dapat diubah menjadi unsur kimia baru lainnya dibuktikan oleh Lord Rutherford pada tahun
1919, yaitu dengan cara membombardir unsur nitrogen dengan sinar alfa yang menghasilkan
unsure oksigen dan partikel proton. Reaksi dari transmutasi ini dapat ditulis sebagai:

Berbagai transmutasi nuklir terjadi dalam sebuah reactor nuklir, dari transmutasi nuklir
tersebut ada beberapa transmutasi yang disengaja dan diperhitungkan kejadiannya untuk
tujuan tertentu misalnya untuk mengubah bahan yang tidak dapat membelah menjadi bahan
fisil, atau mengubah radioisotope berumur sangat panjang menjadi radioisotop yang lebih
pendek umurnya atau bahkan menjadi unsur stabil yang tidak memancarkan radioaktif. Bahan
yang dapat diubah menjadi bahan fisil disebut sebagai bahan fertil. Reaksi nuklir transmutasi
tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.
Transmutasi bahan fertil (thorium -232 dan uranium -238) menjadi bahan fisil (U-233 dan
Pu-239):

7
Transmutasi limbah radioaktif berumur panjang dari kelompok aktinida minor yaitu

amerisium-241 ( ) menjadi bahan fisil kurium-243 ( ) agar dapat berfisi di dalam


reactor nuklir daripada meluruh dengan memancarkan radioaktif yang berbahaya sebagai
limbah nuklir:

Contoh transmutasi nuklir lain yang digunakan untuk mengubah bahan-bahan produk
reaksi fisi nuklir (atau produk fisi) radioaktif berumur sangat panjang menjadi unsure stabil

yang tidak memancarkan radioaktif adalah transmutasi teknesium-99 ( ) dengan umur

paruh 2,13 x 105 tahun dan yodium-129 ( ) dengan umur paruh 1,6 x 107 tahun.

2.3 Radioaktif Terinduksi


Radioaktif terinduksi yaitu : pancaran radioaktif baru, yang dihasilkan dari suatu inti
radioaktif yg terbentuk dari reaksi inti sebelumnya.
27 30
13𝐴𝐿 + 42𝐻𝑒 → 15𝑃 + 10𝑛

30 0 30
15𝑃 → +1𝑒 + 14𝑆𝑖

0
1
1𝐻 → +1𝑒 + 01𝑛

8
Contoh:
Karbon-10 memancarkan positron ketika meluruh. Tuliskan reaksinya!

Jawab: 106𝐶 → 0
+1𝑒 + 10
5𝐵

2.4 Daya Tembus

Gambar Daya tembus sinar-sinar radioaktif

Daya tembus sinar α < sinar ß < sinar gamma hal ini dikarenakan oleh muatan yang
dimiliki oleh masing-masing sinar tersebut. Sinar α memiliki muatan positif, sinar ß memiliki
muatan negatif dan sinar gamma tidak bermuatan
Suatu benda terdiri atas beberapa atom, dimana atom-atom tersebut dapat dipecah lagi
menjadi sub atom yang terdiri dari proton, neutron dan elektron. Proton yang bermuatan
positif dan neutron yang tak bermuatan terletak pada inti atom, sedangkan elektron yang
bermuatan negatif tersebar pada kulit-kulit atom tersebut.Sinar α memiliki daya tembus
paling kecil dibandingkan sinar yang lain karena sinar alfa yang bermuatan positif saat
menabrak suatu atom maka sub atom yang pertama kali ditabrak adalah elektron, karena
muatannya berlawanan maka hampir seluruh energi sinar alfa tersebut terserap oleh materi
yang ditabraknya, sehingga sinar alfa tidak dapat menembus partikel lain yang berada di
depannya. Sedangkan sinar beta yang bermuatan negatif memiliki daya tembus lebih jauh
dibandingkan sinar alfa karena sinar beta saat menabrak suatu partikel, maka secara otomatis
yang ditabrak adalah elektron. Hal ini dikarenakan elektron berada pada kulit paling luar
suatu atom. Sinar beta dengan elektron yang sama-sama bermuatan negatif, maka akan terjadi
gaya tolak-menolak, sehingga saat menabrak atom-atom penyusun partikel atau materi
tersebut sinar beta dipantulkan oleh elektron yang berapa pada kulit atom,yang kemudian
menyebabkan arah sinarnya berbentuk zig-zag. Sehingga daya tembusnya semakin besar
dibandingkan dengan sinar alfa. Akan tetapi gaya tolak tersbut juga menyebabkan sinar beta

9
melepaskan sebagian energinya, sehingga daya tembus sinar beta tidak lebih jauh dari sinar
gamma. Urutan daya tembus sinar 𝛼< sinar 𝛽< sinar 𝛾.
Berikut ini adalah sifat-sifat sinar 𝛼< sinar 𝛽< sinar 𝛾:
a. Sifat-sifat sinar 𝜶
1. Sinar 𝛼 dihasilkan oleh pancaran-pancaran partikel 𝛼 dari sebuah sumber radioaktif.
2. Sinar𝛼 tidak lain adalah inti atom helium, ermuatan +2e dan bermassa 4u.
3. Sinar𝛼 dapat menghitamkan film. Jejak partikel 𝛼 dalam bahan radioaktif berupa garis
lurus.
4. Radiasi sinar 𝛼 memiliki daya tembus terlemah dibandingkan dengan sinar lain.
5. Radiasi sinar 𝛼 memiliki jangkauan beberapa cm di udara sekitar 10-2 mm dalam
logam tipis.
6. Radiasi sinar 𝛼 mempunyai daya ionisasi paling kuat sebab muatannya paling besar.
7. Sinar𝛼 dibelokkan oleh medan magnetic dan medan listrik.
8. Kecepatan sinar sekitar 0,054c sampai 0,07c, dengan c adalah kelajuan cahaya dalam
vakum. Massa sinar𝛼 lebih besar dari sinar𝛼 sehingga lebih lambat.
b. Sifat-sifat sinar 𝜷
1. Sinar 𝛽 dihasilkan oleh pancaran partikel-partikel 𝛽 .
2. Sinar 𝛽 tidak lain adalah electron berkecapatan tinggi yang bermuatan -1 e.
3. Radiasi sinar 𝛼< sinar 𝛽< sinar 𝛾.
4. Kecepatan parikel 𝛽 antara 0,32c dan 0,9c.
5. Sinar 𝛽 dibelokkan dengan medan magnetic dan medan listrik karena massanya kecil.
6. Jejak partikel 𝛽 dalam bahan berkelok-kelok.
7. Sinar 𝛽 memiliki jangkauan beberapa cm di udara.
c. Sifat-sifat sinar 𝜸
1. Memiliki daya tembus paling besar tetapi daya ionisasi paling lemah.
2. Tidak dibelokkan oleh medan listrik dan medan magnetic.
3. Sinar𝛾 merupakan radiasi elektromagnetik dengann panjang gelombang yag sangat
pendek. Sinar𝛾 hamper tidak bermassa.
4. Kecepatan 𝛾 bernilai sama dengan kecepatan cahaya di ruang hampa.
5. Sinar 𝛾 dalam interaksinya menimbulkan peristiwa fotolistrik atau juga dapat
menimbulkan produksi pasangan. Dalam interaksi dengan bahan, seluruh energi sinar
diserap oleh bahan. Peristiwa inilah yang disebut produksi pasangan

10
Tabel Sifat-sifat sinar𝜶, 𝜷 dan 𝜸

Dalam
Kelajuan
Identik Massa medan
No Jenis Muatan sampai Diserap
dengan (u) magnetik
dengan oleh
dan listrik
1 Selembar
1 sinar 𝛼 Inti helium 4 +2c 𝑐 Dibelokkan
10 kertas
Selembar
Elektron Dibelokkan
9 9 alumanium
2 Sinar 𝛽 kecepatan -1c 𝑐 dengan
1840 10 setebal 3
tinggi kuat
mm
Radiasi
Selembar
radiomagneti Tidak
3 Sinar 𝛾 0 0 c timbal
k frekuensi dibelokkan
setebal 3cm
tinggi

2.5 Penggunaan Radioisotop


Radionuklida atau radioisotop adalah isotop dari zat radioaktif. radioisotop mampu
memancarkan radiasi. Radioisotop dapat terjadi secara alamiah atau sengaja dibuat oleh
manusia dalam reaktor penelitian.
Peran radioisotop sebagai pencari jejak tidak terlepas dari sifat-sifat khas yang
dimilikinya. Pertama, radioisotop memancarkan radiasi manapun dia berada dan mudah
dideteksi. Radioisotop ibarat lampu yang tidak pernah padam senantiasa memancarkan
cahayanya. Kedua, laju peluruhan tiap satuan waktu (radioaktivitas) hanya merupakan fungsi
jumlah atom radioisotop yang ada, tidak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan baik
temperatur, tekanan, pH dan sebagainya. Ketiga, intensitas radiasi ini tidak bergantung pada
bentuk kimia atau senyawa yang disusunnya. Hal ini dikarenakan pada reaksi kimia atau
ikatan kimia yang berperan adalah elektron, utamanya elektron pada kulit atom terluar,
sedangkan peluruhan radioisotop merupakan hasil dari perubahan pada inti atom. Keempat,
radioisotop memiliki konfigurasi elektron yang sama dengan isotop lain sehingga sifat kimia
yang dimiliki radioisotop sama dengan isotop-isotop lain dari unsur yang sama. Kelima,
radiasi yang dipancarkan, utamanya radiasi gamma, memiliki daya tembus yang besar.

11
Radioisotop dapat digunakan pada beberapa bidang dalam kehidupan sehari-hari,
diantaranya :
a. Dalam Bidang Kedokteran
1. Perunut (tracer)
Sebagai perunut, radiosotop ditambahkan ke dalam suatu sistem untuk mempelajari
sistem itu, baik sistem fisika, kimia maupun sistem biologi. Oleh karena radioisotop
mempunyai sifat kimia yang sama seperti isotop stabilnya, maka radioisotop dapat
digunakan untuk menandai suatu senyawa sehingga perpindahan perubahan senyawa
itu dapat dipantau.
2. Sumber radiasi
Sumber radiasi didasarkan pada kenyataan bahwa radiasi yang dihasilkan zat
radioaktif dapat mempengaruhi materi maupun mahluk. Radiasi dapat digunakan
untuk memberi efek fisis: efek kimia, maupun efek biologi.
b. Dalam Bidang Industri
1. Tehnik radiografi
Aplikasi radioisotop dalam bidang industri sebenarnya hampir mirip dengan
pemakaian sinar-X pada bidang kedokteran, yaitu “melihat” keadaan tubuh manusia
dengan cara difoto dengan sinar-X. Sedangkan dalam teknik radiografi yang difoto
adalah benda atau obyek yang akan dilihat keadaan bagian dalamnya. Skema teknik
radiografi radiasi sinar gamma dapat digunakan untuk memeriksa cacat pada logam
atau sambungan las, yaitu dengan meronsen bahan tersebut. Tekhnik ini berdasarkan
sifat bahwa semakin tebal bahan yang dilalui radiasi, maka intensitas radiasi yang
diteruskan makin berkurang, jadi dari gambar yang dibuat dapat terlihat apakah logam
merata atau ada bagian-bagian yang berongga didalamnya. Pada bagian yang
berongga itu film akan lebih hitam.
2. Teknik Gauging
Dengan metode Gauging yaitu teknik pengukuran dengan menggunakan radioisotop.
Dalam teknik ini radioisotop digunakan sebagai sumber tertutup. Efek radiasi
terhadap sistem dapat mengetahui keadaan sistem tersebut. Penggunaan teknik
gauging ini antara lain untuk mengukur kandungan air dalam tanah, kepadatan tanah,
aspal, dan beton. Teknik ini sangat luas pemakaiannya dalam taknik sipil antara lain
pondasi bangunan, jalan raya, pembuatan tanggul, dan lain-lain. Prinsipnya sama
seperti diatas, bahwa intensitas radiasi yang diteruskan bergantung pada ketebalan
bahan yang dilalui. Detektor radiasi dihubungkan dengan alat penekan. Jika lembaran
12
menjadi lebih tebal, maka intensitas radiasi yang diterima detektor akan berkurang
dan mekanisme alat akan mengatur penekanan lebih kuat sehingga ketebalan dapat
dipertahankan.
3. Pengawetan Bahan
Radiasi juga telah banyak digunakan untuk mengawetkan bahan seperti kayu, barang-
barang seni dan lain-lain. Radiasi juga dapat meningkatkan mutu tekstil karena
mengubah struktur serat sehingga lebih kuat atau lebih baik mutu penyerapan
warnanya. Berbagai jenis makanan juga dapat diawetkan dengan dosis yang aman
sehingga dapat disimpan lebih lama.
4. Deteksi Kebocoran Cairan/Gas
Kebocoran dan dinamika fluida di dalam pipa pengiriman gas maupun cairan dapat
dideteksi menggunakan radioisotop. Zat yang sama atau memiliki sifat yang sama
dengan zat yang dikirim diikutsertakan dalam pengiriman setelah ditandai dengan
radioisotop. Keberadaan radioisotop di luar jalur menunjukkan terjadinya kebocoran.
Keberadaan radioisotop ini dapat dicari jejaknya sambil bergerak dengan cepat,
sehingga pipa transmisi minyak atau gas bumi dengan panjang ratusan bahkan ribuan
km dapat dideteksi kebocorannya dalam waktu relatif singkat.
Radioisotop dapat digunakan pula untuk menguji kebocoran tangki penyimpanan
ataupun tangki reaksi. Pada pengujian ini biasanya digunakan radioisotop dari jenis
gas mulia yang inert (sulit bereaksi), misalnya Xenon-133 (Xe-133) atau Argon-41
(Ar-41), agar tidak mempengaruhi zat atau proses kimia yang terjadi di dalamnya. Di
Pusat Radioisotop darn Radiofarmka BATAN telah berhasil dibuat Argon-41 untuk
perunut gas, Brom-82 dalam bentuk KBr untuk perunut cairan berbasis air dan brom-
82 dalam bentuk dibromo benzena untuk perunut cairan organik.

2.6 Pengobatan Nuklir


Teknologi nuklir juga digunakan dalam dunia kesehatan mempunyai manfaat di dunia
kedokteran nuklir. Penggunaan isotop radioaktif dalam kedokteran telah dimulai pada tahun
1901 oleh Henri DANLOS yang menggunakan radium untuk pengobatan penyakit
tuberculosis pada kulit. Namun yang dianggap Bapak Ilmu Kedokteran Nuklir adalah George
C. De HEVESSY, dialah yang meletakan dasar prinsip perunut dengan menggunakan zat
radioaktif. Waktu itu dia menggunakan rasioisotop alam Pb212. Dengan ditemukannya
radioisotop buatan maka radioisotop alam tidak lagi digunakan.

13
Di Indonesia, kedokteran nuklir diperkenalkan pada akhir 1960-an, yaitu setelah reaktor
atom Indonesia yang pertama kali mulai dioperasikan di Bandung. Beberapa tenaga ahli
Indonesia dibantu oleh tenaga ahli dari luar negeri merintis pendirian suatu unit kedokteran
nuklir di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknik Nuklir di Bandung.
Perkembangan ilmu kedokteran nuklir yang sangat pesat tersebut dimungkinkan berkat
dukungan dari perkembangan teknologi instrumentasi untuk pembuatan citra terutama
dengan digunakannya komputer untuk pengolahan data sehingga sistem instrumentasi yang
dahulu hanya menggunakan detektor radiasi biasa dengan sistem elektronik yang sederhana,
kini telah berkembang menjadi peralatan canggih kamera gamma dan kamera positron yang
dapat menampilkan citra alat tubuh, baik dua dimensi maupun tiga dimensi serta statik
maupun dinamik.
Radiasi yang dihasilkan oleh unsur radioaktif mudah dikenal sehingga mudah dilacak.
Berdasarkan sifat ini, radioisotop dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal. Salah satunya ialah
untuk mendeteksi adanya tumor dalam tubuh, yang dilakukan dengan isotop Tc-99.
Digunakannya Tc-99 ini mempunyai alasan tersendiri. Alasan pertama, waktu paruh yang
dimiliki tidak terlalu kecil dan besar. Jika waktu paruh terlalu kecil radioisotop terlalu sulit
untuk dideteksi(setelah disuntikkan, tak lama kemudian akan hilang kereaktifannya). Dan jika
radioisotop yang disuntikkan memiliki waktu paruh yang besar akan berbahaya bagi tubuh.
Tc-99 merupakan paruh waktu yang sangat cocok bila digunakan untuk mendeteksi adanya
penyakit dalam tubuh manusia Tc-99 Memiliki waktu paruh yang sangat ideal bagi
penyelidikan penyakit dalam tubuh manusia.
Ilmu kedokteran nulkir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi
terbuka berasal dari disintegrasi inti radionuklida buatan, untuk mempelajari perubahan
fisiologi, anatomi dan biokimia, sehingga dapat digunakan untuk tujan diagnostik, terapi dan
penelitian kedokteran.
Pada kedokteran nuklir, radioisitop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien (study in-
vivo) maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah, cairan
lambung, urine dan sebagainya yang diambil dari tubuh pasien yang lebih dikenal sebagai
study in-vitro (dalam gelas percobaan). Pada study in-vivo, setelah radioisotop dapat
dimasukkan ke dalam tubuh pasien melalui mulut atau suntikan atau dihirup lewat hidung
dan sebagainya maka informasi yang dapat diperoleh dari pasien dapat berupa :
1. Citra atau gambar dari organ atau bagian tubuh pasien yang dapt diperoleh dengan
bantuan peralatan yang disebut kamera gamma ataupun kamera positron (teknik
imaging).
14
2. Kurva-kurva kinetika radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu dan angka-
angka yang menggambarkan akumulasi radioisotop dalam organ atau bagian tubuh
tertentu disamping citra atau gambar yang diperoleh dengan kamera positron.
3. Radioaktivitas yang terdapat dalam contoh bahan biologis (darah, urine,dsb) yang diambil
dari tubuh pasien, dicacah dengan instrumen yang dirangkaikan pada detektor radiasi
(teknik non-imaging).

2.7 Penentuan Umur Dengan Radioisotop


Waktu paruh isotop tertentu dapat digunakan untuk memperkirakan umur batuan dan
benda purbakala, diantaranya:
1. Uranium-238 (t1/2 = 4,5 × 109 tahun)
Dengan persamaan :
238
U 206Pb

Untuk memperkirakan umur batuan, yaitu:


 Batuan bumi 3-3,5 × 109 tahun
 Batuan bulan 4,5 × 109 tahun
 Umur bumi 4,5-5,0 × 109 tahun

2. Karbon-14 (t1/2 = 5730 tahun)


14
Untuk menentukan umur benda purbakala dan mendeteksi keaslian benda purbakala C
terbentuk lapisan atmosfir atas :

14
7𝑁 + 10𝑛  146𝐶 + 11𝐻

14
6𝐶 (di atmosfir)  146𝐶 (di makhluk hidup)

Jika makhluk hidup mati, maka:

14
6𝐶 (berkurang)  147𝑁

15
3. Tritium (t1/2 = 5730 tahun)
Untuk penentukan umur benda sampai 100 tahun, antara lain:
Isotop T1/2 Selang umur yang Penerapan
(tahun) diukur
14
C 5730 500-50000 tahun Batubara, bahan
organik
3
H 12,3 1-100 tahun Anggur tua
40
K 1,3 × 109 10000 tahun – Batuan, kerak
contoh bumi tertua bumi
187
Rh 4,3 × 109 4 × 107 tahun – Meteorit
contoh tertetua di
dunia
238
U 4,5 × 109 107 – contoh tertua Batuan, kerak
bumi

2.8 Efek Radiasi


Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas,
partikel atau gelombang elektromagnetik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa
sumber radiasi yang kita kenal di sekitar kehidupan kita, contohnya adalah televisi, lampu
penerangan, alat pemanas makanan (microwave oven), komputer, dan lain-lain. Selain benda-
benda tersebut ada sumber-sumber radiasi yang bersifat unsur alamiah dan berada di udara, di
dalam air atau berada di dalam lapisan bumi. Beberapa di antaranya adalah Uranium dan
Thorium di dalam lapisan bumi; Karbon dan Radon di udara serta Tritium dan Deuterium
yang ada di dalam air. Radiasi dalam bentuk partikel adalah jenis radiasi yang mempunyai
massa terukur.
Ada dua macam sifat radiasi yang dapat digunakan untuk mengetahui keberadaan sumber
radiasi pada suatu tempat atau bahan, yaitu sebagai berikut :
 Radiasi tidak dapat dideteksi oleh indra manusia, sehingga untuk mengenalinya
diperlukan suatu alat bantu pendeteksi yang disebut dengan detektor radiasi. Ada
beberapa jenis detektor yang secara spesifik mempunyai kemampuan untuk melacak
keberadaan jenis radiasi tertentu yaitu detektor alpha, detektor gamma, detektor neutron,
dll.

16
 Radiasi dapat berinteraksi dengan materi yang dilaluinya melalui proses ionisasi, eksitasi
dan lain-lain. Dengan menggunakan sifat-sifat tersebut kemudian digunakan sebagai
dasar untuk membuat detektor radiasi.
Secara garis besar radiasi digolongkan ke dalam radiasi pengion dan radiasi non-pengion.
1) Radiasi Pengion
Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan proses ionisasi
(terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila berinteraksi dengan materi. Yang termasuk
dalam jenis radiasi pengion adalah partikel alpha, partikel beta, sinar gamma, sinar-X dan
neutron. Setiap jenis radiasi memiliki karakteristik khusus. Yang termasuk radiasi pengion
adalah partikel alfa (α), partikel beta (β), sinar gamma (γ), sinar-X, partikel neutron.

2) Radiasi Non Pengion


Radiasi non-pengion adalah jenis radiasi yang tidak akan menyebabkan efek ionisasi
apabila berinteraksi dengan materi. Radiasi non-pengion tersebut berada di sekeliling
kehidupan kita. Yang termasuk dalam jenis radiasi non-pengion antara lain adalah gelombang
radio (yang membawa informasi dan hiburan melalui radio dan televisi); gelombang mikro
(yang digunakan dalam microwave oven dan transmisi seluler handphone); sinar inframerah
(yang memberikan energi dalam bentuk panas); cahaya tampak (yang bisa kita lihat); sinar
ultraviolet (yang dipancarkan matahari).
Secara biologis efek radiasi dapat dibedakan atas :
1) Berdasarkan jenis sel yang terkena paparan radiasi
Sel dalam tubuh manusia terdiri dari sel genetic dan sel somatic. Sel genetic adalah sel
telur pada perempuan dan sel sperma pada laki-laki, sedangkan sel somatic adalah sel-sel
lainnya yang ada dalam tubuh. Berdasarkan jenis sel, maka efek radiasi dapat dibedakan
atas:
 Efek Genetik (non-somatik) atau efek pewarisan adalah efek yang dirasakan oleh
keturunan dari individu yang terkena paparan radiasi.
 Efek Somatik adalah efek radiasi yang dirasakan oleh individu yang terpapar radiasi.
Waktu yang dibutuhkan sampai terlihatnya gejala efek somatik sangat bervariasi sehingga
dapat dibedakan atas :
 Efek segera adalah kerusakan yang secara klinik sudah dapat teramati pada individu
dalam waktu singkat setelah individu tersebut terpapar radiasi, seperti epilasi (rontoknya
rambut), eritema (memerahnya kulit), luka bakar dan penurunan jumlah sel darah.
Kerusakan tersebut terlihat dalam waktu hari sampai mingguan pasca iradiasi.

17
 Efek tertunda merupakan efek radiasi yang baru timbul setelah waktu yang lama
(bulanan/tahunan) setelah terpapar radiasi, seperti katarak dan kanker.
2) Berdasarkan dosis radiasi
Bila ditinjau dari dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi radiasi), efek radiasi
dibedakan atas efek stokastik dan efek deterministic (non-stokastik).
a) Efek Stokastik adalah efek yang penyebab timbulnya merupakan fungsi dosis radiasi dan
diperkirakan tidak mengenal dosis ambang. Efek ini terjadi sebagai akibat paparan radiasi
dengan dosis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sel. Radiasi serendah apapun
selalu terdapat kemungkinan untuk menimbulkan perubahan pada sistem biologik, baik
pada tingkat molekul maupun sel. Dengan demikian radiasi dapat pula tidak membunuh
sel tetapi mengubah sel, sel yang mengalami modifikasi atau sel yang berubah ini
mempunyai peluang untuk lolos dari sistem pertahanan tubuh yang berusaha untuk
menghilangkan sel seperti ini. Semua akibat proses modifikasi atau transformasi sel ini
disebut efek stokastik yang terjadi secara acak. Efek stokastik terjadi tanpa ada dosis
ambang dan baru akan muncul setelah masa laten yang lama. Semakin besar dosis
paparan, semakin besar peluang terjadinya efek stokastik, sedangkan tingkat
keparahannya tidak ditentukan oleh jumlah dosis yang diterima. Bila sel yang mengalami
perubahan adalah sel genetik, maka sifat-sifat sel yang baru tersebut akan diwariskan
kepada turunannya sehingga timbul efek genetik atau pewarisan. Apabila sel ini adalah
sel somatik maka sel-sel tersebut dalam jangka waktu yang relatif lama, ditambah dengan
pengaruh dari bahan-bahan yang bersifat toksik lainnya, akan tumbuh dan berkembang
menjadi jaringan ganas atau kanker. Maka dari itu dapat disimpulkan ciri-ciri efek
stokastik :
 Tidak mengenal dosis ambang
 Timbul setelah melalui masa tenang yang lama
 Keparahannya tidak bergantung pada dosis radiasi
 Tidak ada penyembuhan spontan
 Efek ini meliputi : kanker, leukemia (efek somatik), dan penyakit keturunan (efek
genetik).

b) Efek Deterministik (non-stokastik) adalah efek yang kualitas keparahannya bervariasi


menurut dosis dan hanya timbul bila dosis ambang dilampaui. Efek ini terjadi karena
adanya proses kematian sel akibat paparan radiasi yang mengubah fungsi jaringan yang
terkena radiasi. Efek ini dapat terjadi sebagai akibat dari paparan radiasi pada seluruh
18
tubuh maupun lokal. Efek deterministik timbul bila dosis yang diterima di atas dosis
ambang (threshold dose) dan umumnya timbul beberapa saat setelah terpapar radiasi.
Tingkat keparahan efek deterministik akan meningkat bila dosis yang diterima lebih besar
dari dosis ambang yang bervariasi bergantung pada jenis efek. Pada dosis lebih rendah
dan mendekati dosis ambang, kemungkinan terjadinya efek deterministik dengan
demikian adalah nol. Sedangkan di atas dosis ambang, peluang terjadinya efek ini
menjadi 100%. Maka dari itu dapat disimpulkan ciri-ciri efek deterministik:
 Mempunyai dosis ambang
 Umumnya timbul beberapa saat setelah radiasi
 Adanya penyembuhan spontan (tergantung keparahan)
 Tingkat keparahan tergantung terhadap dosis radiasi
 Efek ini meliputi : luka bakar, sterilitas / kemandulan, katarak (efek somatik)

Radiasi dapat menyebabkan dua efek utama pada tubuh, yaitu merusak sel dengan panas
dan mengionisasi sekaligus memecahkan sel. Radiasi menghasilkan panas. Panas ini dapat
merusak jaringan, sama seperti yang terjadi pada kulit yang terbakar matahari. Faktanya,
istilah luka bakar radiasi umumnya digunakan untuk menjelaskan kerusakan kulit dan
jaringan karena adanya panas.
Cara utama radiasi merusak tubuh organisme adalah melalui pemecahan sel dan ionisasi.
Partikel radioaktif dan radiasi mempunyai energi kinetikyang besar. Saat partikel ini
menyerang sel di dalam tubuh, partikel dapat memecah (merusak) sel ata mengionisasi sel,
sehingga sel menjadi ion-ion (bermuatan listrik) dengan menghilangkan satu elektron.
Ionisasi ini akan melemahkan ikatan dan dapat menyebabkan kerusakan, pemusnahan, atau
mutasi DNA pada sel.

19
BAB III

PENUTUP
KESIMPULAN
1. Energi ikat inti timbul akibat selisih massa antara jumlah massa nukleon-nukleon dalam
inti, dimana besarnya energi ikat inti dapat diketahui jika besarnya defek massa inti
diketahui. Pada umumnya inti atom yang mempunyai jumlah neutron lebih banyak
mempunyai tingkat kestabilan inti yang lebih rendah. Namun jika lebih besar energi ikat
per nukleonnya, maka lebih mantap inti atom itu.
2. Transmutasi inti atau transmutasi nuklir adalah perubahan suatu unsur kimia atau isotop
menjadi unsur kimia atau isotop lain melalui reaksi nuklir. Transmutasi nuklir buatan
dapat dilakukan dengan menggunakan reactor fisi, reactor fusi atau alat pemercepat
partikel (particle accelerator). Transmutasi nuklir buatan dilakukan dengan tujuan
mengubah unsur kimia atau radioisotop dengan tujuan tertentu.
3. Radioaktif terinduksi yaitu pancaran radioaktif baru yang dihasilkan dari suatu inti
radioaktif yg terbentuk dari reaksi inti sebelumnya.
4. Daya tembus radioaktif terdiri dari 3 sinar dengan urutan daya tembus sinar 𝛼< sinar 𝛽<
sinar 𝛾, dimana setiap sinar memiliki sifat-sifat yang berbeda.
5. Radioisotop adalah isotop dari zat radioaktif yang mampu memancarkan radiasi.
Radioisotop biasanya digunakan dalam beberapa bidang, diantaranya dalam bidang
kedokteran digunakan sebagai sumber radiasi dan dalam bidang industri digunakan
sebagai tehnik radiografi.
6. Teknologi nuklir juga digunakan dalam dunia kesehatan mempunyai manfaat di dunia
kedokteran nuklir. Salah satunya ialah untuk mendeteksi adanya tumor dalam tubuh.
Selain itu pengobatan nuklir juga dapat digunakan melalui study in-vivo yang hanya
direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah, cairan lambung, urine dan
sebagainya yang diambil dari tubuh pasien
7. Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas,
partikel atau gelombang elektromagnetik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Radiasi
dapat menyebabkan dua efek utama pada tubuh, yaitu merusak sel dengan panas dan
mengionisasi sekaligus memecahkan sel. Cara utama radiasi merusak tubuh organisme
adalah melalui pemecahan sel dan ionisasi.

20
DAFTAR PUSTAKA

Akadi, Mukhlis. 2000. Dasar-Dasar Proteksi Radiasi. Jakarta : PT Rineka Cipta

Bueche, Frederick J. 2006. Fisika Universitas Edisi Kesepuluh. Jakarta : Erlangga

Halliday, David. 1999. Fisika Modern. Jakarta : Erlangga

Sihombing, Eidi dan Henok Siagian. 2018. Bahan Ajar Pendahuluan Fisika Inti. Medan :
UNIMED PRESS

21

Anda mungkin juga menyukai