Pemahaman Inti Atom dan Energi Nuklir
Pemahaman Inti Atom dan Energi Nuklir
DOSEN PEMBIMBING :
Irfandi S.Pd, M.Si
Disusun Oleh :
Kelompok VIII
ELIYANA ( 4153321047)
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis makalah ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat Rahmat dan Anugerah-Nyalah tugas mata kuliah Pendahuluan Fisika Inti dapat selesai.
Sesuai dengan kontrak mata kuliah Pendahuluan Fisika Inti pada pertemuan ke-5 mahasiswa
diwajibkan menyusun makalah yang ada hubungannya dengan mata kuliah tersebut.
Penulis makalah berusaha semaksimal mungkin mengerjakan tugas ini dengan baik
dan benar sesuai dengan sumber-sumber yang digunakan. Penulis makalah mengucapkan
terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pendahuluan Fisika Inti : Irfandi S.Pd,
M.Si Yang telah memberikan bimbingan dan arahan hingga makalah ini tersusun adanya.
Semoga makalah ini berguna bagi yang membutuhkannya dan dapat menambah wawasan
ilmu bagi yang membaca.
Kelompok VIII
1
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ----------------------------------------------------------- 3
1.2 Rumusan Masalah ------------------------------------------------------------------ 4
1.3 Tujuan -------------------------------------------------------------------------------- 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Energi Ikat Inti ---------------------------------------------------------------------- 5
2
BAB I
PENDAHULUAN
3
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu energi ikat inti?
2. Bagaimana transmutasi buatan?
3. Apa itu radioaktif terinduksi?
4. Bagaimana daya tembus inti?
5. Apa saja penggunaan radioisotop?
6. Apa itu pengobatan nuklir?
7. Bagaimana penentuan umur dengan radioisotop?
8. Apa itu efek radiasi?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa itu energi ikat inti
2. Mengetahui transmutasi buatan
3. Mengetahui apa itu radioaktif terinduksi
4. Mengetahui daya tembus inti
5. Mengetahui penggunaan radioisotop
6. Mengetahui pengobatan nuklir
7. Mengetahui cara penentuan umur dengan radioisotop
8. Mengetahui efek radiasi
4
BAB II
PEMBAHASAN
dengan :
Δm = defek massa
mp = massa proton
mn = massa neutron
Z = jumlah proton dalam inti atom
(A – Z) = jumlah neutron pada inti atom
Menurut hasil pengukuran yang teliti jika massa 1 sma berubah menjadi energi setara
dengan energi sebesar 931 MeV (Mega elektron volt) atau 1 sma = 931 MeV, sehingga
besarnya energi ikat inti dapat dinyatakan :
ΔE = Δm * 931 MeV
dengan :
Δm = defek massa
ΔE = energi ikat inti
5
A
Rumus menghitung energi ikat inti, pada sebuah atom stabil Z X dengan nomor atom Z
dan nomor massa A yaitu:
∆𝐸 = |𝑍 𝑚𝑃 + (𝐴 − 𝑧)𝑚𝑛 + 𝑍𝑚𝑒 − 𝑚 𝐴𝑍𝑋| 931𝑀𝑒𝑉/𝑠𝑚𝑎
Jika inti memiliki jumlah nukleon yang banyak energi ikatnya juga besar. Namum belum
tentu inti tersebut stabil. Pada umumnya inti atom yang mempunyai jumlah neutron lebih
banyak mempunyai tingkat kestabilan inti yang lebih rendah. Ada besaran yang mempunyai
korelasi/hubungan dengan tingkat kestabilan inti yang disebut tingkat energi ikat per nukleon.
Grafik hubungan antara energi ikat per nukleon dengan nomor atom
Gambar diatas memperlihatkan grafik energi ikat per nukleon terhadap banyaknya
nukleon dalam berbagai inti atomik. Pada grafik itu energi ikat terbesar adalah 8,8 MeV yaitu
pada inti atom besi (26 Fe56). Lebih besar energi ikat per nukleonnya, maka lebih mantap inti
atom itu.
6
tajam. Dari hasil percobaan, jumlah scintilasi yang dilakukan bertambah dengan cara
mengeringkan udara gas inti nuklir nitrogen -14 (N-14), inti nuklir He-4, inti atom oksigen –
17 (O-17) dan proton, proton ditemukan pada penyinaran plat cahaya . Hal ini sesuai dengan
penelitian pertama kali yaitu merubah inti nuklir secara buatan.
Transmutasi inti atau transmutasi nuklir adalah perubahan suatu unsur kimia atau isotop
menjadi unsur kimia atau isotop lain melalui reaksi nuklir. Di alam berlangsung transmutasi
nuklir natural yang terjadi pada unsur radioaktif yang secara spontan meluruh selama kurun
waktu bertahun-tahun dan akhirnya berubah menjadi unsur yang lebih setabil. Transmutasi
nuklir buatan dapat dilakukan dengan menggunakan reactor fisi, reactor fusi atau alat
pemercepat partikel (particle accelerator). Transmutasi nuklir buatan dilakukan dengan tujuan
mengubah unsure kimia atau radioisotop dengan tujuan tertentu. Limbah radioaktif yang
dihasilkan dari reactor nuklir yang mempunyai umur sangat panjang dapat saja
ditransmutasikan menjadi radioisotop yang lebih stabil dan memancarkan radioaktivitas
dengan umur yang lebih pendek.
Reaksi fisi dan reaksi fusi sebenarnya juga dapat digolongkan sebagai transmutasi inti,
karena dalam kedua reaksi nuklir tersebut terjadi perubahan inti atom yang dapat
menyebabkan perubahan unsure kimia atau isotop.
Salah satu contoh transmutasi nuklir buatan yang menunjukkan bahwa suatu unsure kimia
dapat diubah menjadi unsur kimia baru lainnya dibuktikan oleh Lord Rutherford pada tahun
1919, yaitu dengan cara membombardir unsur nitrogen dengan sinar alfa yang menghasilkan
unsure oksigen dan partikel proton. Reaksi dari transmutasi ini dapat ditulis sebagai:
Berbagai transmutasi nuklir terjadi dalam sebuah reactor nuklir, dari transmutasi nuklir
tersebut ada beberapa transmutasi yang disengaja dan diperhitungkan kejadiannya untuk
tujuan tertentu misalnya untuk mengubah bahan yang tidak dapat membelah menjadi bahan
fisil, atau mengubah radioisotope berumur sangat panjang menjadi radioisotop yang lebih
pendek umurnya atau bahkan menjadi unsur stabil yang tidak memancarkan radioaktif. Bahan
yang dapat diubah menjadi bahan fisil disebut sebagai bahan fertil. Reaksi nuklir transmutasi
tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.
Transmutasi bahan fertil (thorium -232 dan uranium -238) menjadi bahan fisil (U-233 dan
Pu-239):
7
Transmutasi limbah radioaktif berumur panjang dari kelompok aktinida minor yaitu
Contoh transmutasi nuklir lain yang digunakan untuk mengubah bahan-bahan produk
reaksi fisi nuklir (atau produk fisi) radioaktif berumur sangat panjang menjadi unsure stabil
paruh 2,13 x 105 tahun dan yodium-129 ( ) dengan umur paruh 1,6 x 107 tahun.
30 0 30
15𝑃 → +1𝑒 + 14𝑆𝑖
0
1
1𝐻 → +1𝑒 + 01𝑛
8
Contoh:
Karbon-10 memancarkan positron ketika meluruh. Tuliskan reaksinya!
Jawab: 106𝐶 → 0
+1𝑒 + 10
5𝐵
Daya tembus sinar α < sinar ß < sinar gamma hal ini dikarenakan oleh muatan yang
dimiliki oleh masing-masing sinar tersebut. Sinar α memiliki muatan positif, sinar ß memiliki
muatan negatif dan sinar gamma tidak bermuatan
Suatu benda terdiri atas beberapa atom, dimana atom-atom tersebut dapat dipecah lagi
menjadi sub atom yang terdiri dari proton, neutron dan elektron. Proton yang bermuatan
positif dan neutron yang tak bermuatan terletak pada inti atom, sedangkan elektron yang
bermuatan negatif tersebar pada kulit-kulit atom tersebut.Sinar α memiliki daya tembus
paling kecil dibandingkan sinar yang lain karena sinar alfa yang bermuatan positif saat
menabrak suatu atom maka sub atom yang pertama kali ditabrak adalah elektron, karena
muatannya berlawanan maka hampir seluruh energi sinar alfa tersebut terserap oleh materi
yang ditabraknya, sehingga sinar alfa tidak dapat menembus partikel lain yang berada di
depannya. Sedangkan sinar beta yang bermuatan negatif memiliki daya tembus lebih jauh
dibandingkan sinar alfa karena sinar beta saat menabrak suatu partikel, maka secara otomatis
yang ditabrak adalah elektron. Hal ini dikarenakan elektron berada pada kulit paling luar
suatu atom. Sinar beta dengan elektron yang sama-sama bermuatan negatif, maka akan terjadi
gaya tolak-menolak, sehingga saat menabrak atom-atom penyusun partikel atau materi
tersebut sinar beta dipantulkan oleh elektron yang berapa pada kulit atom,yang kemudian
menyebabkan arah sinarnya berbentuk zig-zag. Sehingga daya tembusnya semakin besar
dibandingkan dengan sinar alfa. Akan tetapi gaya tolak tersbut juga menyebabkan sinar beta
9
melepaskan sebagian energinya, sehingga daya tembus sinar beta tidak lebih jauh dari sinar
gamma. Urutan daya tembus sinar 𝛼< sinar 𝛽< sinar 𝛾.
Berikut ini adalah sifat-sifat sinar 𝛼< sinar 𝛽< sinar 𝛾:
a. Sifat-sifat sinar 𝜶
1. Sinar 𝛼 dihasilkan oleh pancaran-pancaran partikel 𝛼 dari sebuah sumber radioaktif.
2. Sinar𝛼 tidak lain adalah inti atom helium, ermuatan +2e dan bermassa 4u.
3. Sinar𝛼 dapat menghitamkan film. Jejak partikel 𝛼 dalam bahan radioaktif berupa garis
lurus.
4. Radiasi sinar 𝛼 memiliki daya tembus terlemah dibandingkan dengan sinar lain.
5. Radiasi sinar 𝛼 memiliki jangkauan beberapa cm di udara sekitar 10-2 mm dalam
logam tipis.
6. Radiasi sinar 𝛼 mempunyai daya ionisasi paling kuat sebab muatannya paling besar.
7. Sinar𝛼 dibelokkan oleh medan magnetic dan medan listrik.
8. Kecepatan sinar sekitar 0,054c sampai 0,07c, dengan c adalah kelajuan cahaya dalam
vakum. Massa sinar𝛼 lebih besar dari sinar𝛼 sehingga lebih lambat.
b. Sifat-sifat sinar 𝜷
1. Sinar 𝛽 dihasilkan oleh pancaran partikel-partikel 𝛽 .
2. Sinar 𝛽 tidak lain adalah electron berkecapatan tinggi yang bermuatan -1 e.
3. Radiasi sinar 𝛼< sinar 𝛽< sinar 𝛾.
4. Kecepatan parikel 𝛽 antara 0,32c dan 0,9c.
5. Sinar 𝛽 dibelokkan dengan medan magnetic dan medan listrik karena massanya kecil.
6. Jejak partikel 𝛽 dalam bahan berkelok-kelok.
7. Sinar 𝛽 memiliki jangkauan beberapa cm di udara.
c. Sifat-sifat sinar 𝜸
1. Memiliki daya tembus paling besar tetapi daya ionisasi paling lemah.
2. Tidak dibelokkan oleh medan listrik dan medan magnetic.
3. Sinar𝛾 merupakan radiasi elektromagnetik dengann panjang gelombang yag sangat
pendek. Sinar𝛾 hamper tidak bermassa.
4. Kecepatan 𝛾 bernilai sama dengan kecepatan cahaya di ruang hampa.
5. Sinar 𝛾 dalam interaksinya menimbulkan peristiwa fotolistrik atau juga dapat
menimbulkan produksi pasangan. Dalam interaksi dengan bahan, seluruh energi sinar
diserap oleh bahan. Peristiwa inilah yang disebut produksi pasangan
10
Tabel Sifat-sifat sinar𝜶, 𝜷 dan 𝜸
Dalam
Kelajuan
Identik Massa medan
No Jenis Muatan sampai Diserap
dengan (u) magnetik
dengan oleh
dan listrik
1 Selembar
1 sinar 𝛼 Inti helium 4 +2c 𝑐 Dibelokkan
10 kertas
Selembar
Elektron Dibelokkan
9 9 alumanium
2 Sinar 𝛽 kecepatan -1c 𝑐 dengan
1840 10 setebal 3
tinggi kuat
mm
Radiasi
Selembar
radiomagneti Tidak
3 Sinar 𝛾 0 0 c timbal
k frekuensi dibelokkan
setebal 3cm
tinggi
11
Radioisotop dapat digunakan pada beberapa bidang dalam kehidupan sehari-hari,
diantaranya :
a. Dalam Bidang Kedokteran
1. Perunut (tracer)
Sebagai perunut, radiosotop ditambahkan ke dalam suatu sistem untuk mempelajari
sistem itu, baik sistem fisika, kimia maupun sistem biologi. Oleh karena radioisotop
mempunyai sifat kimia yang sama seperti isotop stabilnya, maka radioisotop dapat
digunakan untuk menandai suatu senyawa sehingga perpindahan perubahan senyawa
itu dapat dipantau.
2. Sumber radiasi
Sumber radiasi didasarkan pada kenyataan bahwa radiasi yang dihasilkan zat
radioaktif dapat mempengaruhi materi maupun mahluk. Radiasi dapat digunakan
untuk memberi efek fisis: efek kimia, maupun efek biologi.
b. Dalam Bidang Industri
1. Tehnik radiografi
Aplikasi radioisotop dalam bidang industri sebenarnya hampir mirip dengan
pemakaian sinar-X pada bidang kedokteran, yaitu “melihat” keadaan tubuh manusia
dengan cara difoto dengan sinar-X. Sedangkan dalam teknik radiografi yang difoto
adalah benda atau obyek yang akan dilihat keadaan bagian dalamnya. Skema teknik
radiografi radiasi sinar gamma dapat digunakan untuk memeriksa cacat pada logam
atau sambungan las, yaitu dengan meronsen bahan tersebut. Tekhnik ini berdasarkan
sifat bahwa semakin tebal bahan yang dilalui radiasi, maka intensitas radiasi yang
diteruskan makin berkurang, jadi dari gambar yang dibuat dapat terlihat apakah logam
merata atau ada bagian-bagian yang berongga didalamnya. Pada bagian yang
berongga itu film akan lebih hitam.
2. Teknik Gauging
Dengan metode Gauging yaitu teknik pengukuran dengan menggunakan radioisotop.
Dalam teknik ini radioisotop digunakan sebagai sumber tertutup. Efek radiasi
terhadap sistem dapat mengetahui keadaan sistem tersebut. Penggunaan teknik
gauging ini antara lain untuk mengukur kandungan air dalam tanah, kepadatan tanah,
aspal, dan beton. Teknik ini sangat luas pemakaiannya dalam taknik sipil antara lain
pondasi bangunan, jalan raya, pembuatan tanggul, dan lain-lain. Prinsipnya sama
seperti diatas, bahwa intensitas radiasi yang diteruskan bergantung pada ketebalan
bahan yang dilalui. Detektor radiasi dihubungkan dengan alat penekan. Jika lembaran
12
menjadi lebih tebal, maka intensitas radiasi yang diterima detektor akan berkurang
dan mekanisme alat akan mengatur penekanan lebih kuat sehingga ketebalan dapat
dipertahankan.
3. Pengawetan Bahan
Radiasi juga telah banyak digunakan untuk mengawetkan bahan seperti kayu, barang-
barang seni dan lain-lain. Radiasi juga dapat meningkatkan mutu tekstil karena
mengubah struktur serat sehingga lebih kuat atau lebih baik mutu penyerapan
warnanya. Berbagai jenis makanan juga dapat diawetkan dengan dosis yang aman
sehingga dapat disimpan lebih lama.
4. Deteksi Kebocoran Cairan/Gas
Kebocoran dan dinamika fluida di dalam pipa pengiriman gas maupun cairan dapat
dideteksi menggunakan radioisotop. Zat yang sama atau memiliki sifat yang sama
dengan zat yang dikirim diikutsertakan dalam pengiriman setelah ditandai dengan
radioisotop. Keberadaan radioisotop di luar jalur menunjukkan terjadinya kebocoran.
Keberadaan radioisotop ini dapat dicari jejaknya sambil bergerak dengan cepat,
sehingga pipa transmisi minyak atau gas bumi dengan panjang ratusan bahkan ribuan
km dapat dideteksi kebocorannya dalam waktu relatif singkat.
Radioisotop dapat digunakan pula untuk menguji kebocoran tangki penyimpanan
ataupun tangki reaksi. Pada pengujian ini biasanya digunakan radioisotop dari jenis
gas mulia yang inert (sulit bereaksi), misalnya Xenon-133 (Xe-133) atau Argon-41
(Ar-41), agar tidak mempengaruhi zat atau proses kimia yang terjadi di dalamnya. Di
Pusat Radioisotop darn Radiofarmka BATAN telah berhasil dibuat Argon-41 untuk
perunut gas, Brom-82 dalam bentuk KBr untuk perunut cairan berbasis air dan brom-
82 dalam bentuk dibromo benzena untuk perunut cairan organik.
13
Di Indonesia, kedokteran nuklir diperkenalkan pada akhir 1960-an, yaitu setelah reaktor
atom Indonesia yang pertama kali mulai dioperasikan di Bandung. Beberapa tenaga ahli
Indonesia dibantu oleh tenaga ahli dari luar negeri merintis pendirian suatu unit kedokteran
nuklir di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknik Nuklir di Bandung.
Perkembangan ilmu kedokteran nuklir yang sangat pesat tersebut dimungkinkan berkat
dukungan dari perkembangan teknologi instrumentasi untuk pembuatan citra terutama
dengan digunakannya komputer untuk pengolahan data sehingga sistem instrumentasi yang
dahulu hanya menggunakan detektor radiasi biasa dengan sistem elektronik yang sederhana,
kini telah berkembang menjadi peralatan canggih kamera gamma dan kamera positron yang
dapat menampilkan citra alat tubuh, baik dua dimensi maupun tiga dimensi serta statik
maupun dinamik.
Radiasi yang dihasilkan oleh unsur radioaktif mudah dikenal sehingga mudah dilacak.
Berdasarkan sifat ini, radioisotop dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal. Salah satunya ialah
untuk mendeteksi adanya tumor dalam tubuh, yang dilakukan dengan isotop Tc-99.
Digunakannya Tc-99 ini mempunyai alasan tersendiri. Alasan pertama, waktu paruh yang
dimiliki tidak terlalu kecil dan besar. Jika waktu paruh terlalu kecil radioisotop terlalu sulit
untuk dideteksi(setelah disuntikkan, tak lama kemudian akan hilang kereaktifannya). Dan jika
radioisotop yang disuntikkan memiliki waktu paruh yang besar akan berbahaya bagi tubuh.
Tc-99 merupakan paruh waktu yang sangat cocok bila digunakan untuk mendeteksi adanya
penyakit dalam tubuh manusia Tc-99 Memiliki waktu paruh yang sangat ideal bagi
penyelidikan penyakit dalam tubuh manusia.
Ilmu kedokteran nulkir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi
terbuka berasal dari disintegrasi inti radionuklida buatan, untuk mempelajari perubahan
fisiologi, anatomi dan biokimia, sehingga dapat digunakan untuk tujan diagnostik, terapi dan
penelitian kedokteran.
Pada kedokteran nuklir, radioisitop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien (study in-
vivo) maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah, cairan
lambung, urine dan sebagainya yang diambil dari tubuh pasien yang lebih dikenal sebagai
study in-vitro (dalam gelas percobaan). Pada study in-vivo, setelah radioisotop dapat
dimasukkan ke dalam tubuh pasien melalui mulut atau suntikan atau dihirup lewat hidung
dan sebagainya maka informasi yang dapat diperoleh dari pasien dapat berupa :
1. Citra atau gambar dari organ atau bagian tubuh pasien yang dapt diperoleh dengan
bantuan peralatan yang disebut kamera gamma ataupun kamera positron (teknik
imaging).
14
2. Kurva-kurva kinetika radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu dan angka-
angka yang menggambarkan akumulasi radioisotop dalam organ atau bagian tubuh
tertentu disamping citra atau gambar yang diperoleh dengan kamera positron.
3. Radioaktivitas yang terdapat dalam contoh bahan biologis (darah, urine,dsb) yang diambil
dari tubuh pasien, dicacah dengan instrumen yang dirangkaikan pada detektor radiasi
(teknik non-imaging).
14
7𝑁 + 10𝑛 146𝐶 + 11𝐻
14
6𝐶 (di atmosfir) 146𝐶 (di makhluk hidup)
14
6𝐶 (berkurang) 147𝑁
15
3. Tritium (t1/2 = 5730 tahun)
Untuk penentukan umur benda sampai 100 tahun, antara lain:
Isotop T1/2 Selang umur yang Penerapan
(tahun) diukur
14
C 5730 500-50000 tahun Batubara, bahan
organik
3
H 12,3 1-100 tahun Anggur tua
40
K 1,3 × 109 10000 tahun – Batuan, kerak
contoh bumi tertua bumi
187
Rh 4,3 × 109 4 × 107 tahun – Meteorit
contoh tertetua di
dunia
238
U 4,5 × 109 107 – contoh tertua Batuan, kerak
bumi
16
Radiasi dapat berinteraksi dengan materi yang dilaluinya melalui proses ionisasi, eksitasi
dan lain-lain. Dengan menggunakan sifat-sifat tersebut kemudian digunakan sebagai
dasar untuk membuat detektor radiasi.
Secara garis besar radiasi digolongkan ke dalam radiasi pengion dan radiasi non-pengion.
1) Radiasi Pengion
Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan proses ionisasi
(terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila berinteraksi dengan materi. Yang termasuk
dalam jenis radiasi pengion adalah partikel alpha, partikel beta, sinar gamma, sinar-X dan
neutron. Setiap jenis radiasi memiliki karakteristik khusus. Yang termasuk radiasi pengion
adalah partikel alfa (α), partikel beta (β), sinar gamma (γ), sinar-X, partikel neutron.
17
Efek tertunda merupakan efek radiasi yang baru timbul setelah waktu yang lama
(bulanan/tahunan) setelah terpapar radiasi, seperti katarak dan kanker.
2) Berdasarkan dosis radiasi
Bila ditinjau dari dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi radiasi), efek radiasi
dibedakan atas efek stokastik dan efek deterministic (non-stokastik).
a) Efek Stokastik adalah efek yang penyebab timbulnya merupakan fungsi dosis radiasi dan
diperkirakan tidak mengenal dosis ambang. Efek ini terjadi sebagai akibat paparan radiasi
dengan dosis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sel. Radiasi serendah apapun
selalu terdapat kemungkinan untuk menimbulkan perubahan pada sistem biologik, baik
pada tingkat molekul maupun sel. Dengan demikian radiasi dapat pula tidak membunuh
sel tetapi mengubah sel, sel yang mengalami modifikasi atau sel yang berubah ini
mempunyai peluang untuk lolos dari sistem pertahanan tubuh yang berusaha untuk
menghilangkan sel seperti ini. Semua akibat proses modifikasi atau transformasi sel ini
disebut efek stokastik yang terjadi secara acak. Efek stokastik terjadi tanpa ada dosis
ambang dan baru akan muncul setelah masa laten yang lama. Semakin besar dosis
paparan, semakin besar peluang terjadinya efek stokastik, sedangkan tingkat
keparahannya tidak ditentukan oleh jumlah dosis yang diterima. Bila sel yang mengalami
perubahan adalah sel genetik, maka sifat-sifat sel yang baru tersebut akan diwariskan
kepada turunannya sehingga timbul efek genetik atau pewarisan. Apabila sel ini adalah
sel somatik maka sel-sel tersebut dalam jangka waktu yang relatif lama, ditambah dengan
pengaruh dari bahan-bahan yang bersifat toksik lainnya, akan tumbuh dan berkembang
menjadi jaringan ganas atau kanker. Maka dari itu dapat disimpulkan ciri-ciri efek
stokastik :
Tidak mengenal dosis ambang
Timbul setelah melalui masa tenang yang lama
Keparahannya tidak bergantung pada dosis radiasi
Tidak ada penyembuhan spontan
Efek ini meliputi : kanker, leukemia (efek somatik), dan penyakit keturunan (efek
genetik).
Radiasi dapat menyebabkan dua efek utama pada tubuh, yaitu merusak sel dengan panas
dan mengionisasi sekaligus memecahkan sel. Radiasi menghasilkan panas. Panas ini dapat
merusak jaringan, sama seperti yang terjadi pada kulit yang terbakar matahari. Faktanya,
istilah luka bakar radiasi umumnya digunakan untuk menjelaskan kerusakan kulit dan
jaringan karena adanya panas.
Cara utama radiasi merusak tubuh organisme adalah melalui pemecahan sel dan ionisasi.
Partikel radioaktif dan radiasi mempunyai energi kinetikyang besar. Saat partikel ini
menyerang sel di dalam tubuh, partikel dapat memecah (merusak) sel ata mengionisasi sel,
sehingga sel menjadi ion-ion (bermuatan listrik) dengan menghilangkan satu elektron.
Ionisasi ini akan melemahkan ikatan dan dapat menyebabkan kerusakan, pemusnahan, atau
mutasi DNA pada sel.
19
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Energi ikat inti timbul akibat selisih massa antara jumlah massa nukleon-nukleon dalam
inti, dimana besarnya energi ikat inti dapat diketahui jika besarnya defek massa inti
diketahui. Pada umumnya inti atom yang mempunyai jumlah neutron lebih banyak
mempunyai tingkat kestabilan inti yang lebih rendah. Namun jika lebih besar energi ikat
per nukleonnya, maka lebih mantap inti atom itu.
2. Transmutasi inti atau transmutasi nuklir adalah perubahan suatu unsur kimia atau isotop
menjadi unsur kimia atau isotop lain melalui reaksi nuklir. Transmutasi nuklir buatan
dapat dilakukan dengan menggunakan reactor fisi, reactor fusi atau alat pemercepat
partikel (particle accelerator). Transmutasi nuklir buatan dilakukan dengan tujuan
mengubah unsur kimia atau radioisotop dengan tujuan tertentu.
3. Radioaktif terinduksi yaitu pancaran radioaktif baru yang dihasilkan dari suatu inti
radioaktif yg terbentuk dari reaksi inti sebelumnya.
4. Daya tembus radioaktif terdiri dari 3 sinar dengan urutan daya tembus sinar 𝛼< sinar 𝛽<
sinar 𝛾, dimana setiap sinar memiliki sifat-sifat yang berbeda.
5. Radioisotop adalah isotop dari zat radioaktif yang mampu memancarkan radiasi.
Radioisotop biasanya digunakan dalam beberapa bidang, diantaranya dalam bidang
kedokteran digunakan sebagai sumber radiasi dan dalam bidang industri digunakan
sebagai tehnik radiografi.
6. Teknologi nuklir juga digunakan dalam dunia kesehatan mempunyai manfaat di dunia
kedokteran nuklir. Salah satunya ialah untuk mendeteksi adanya tumor dalam tubuh.
Selain itu pengobatan nuklir juga dapat digunakan melalui study in-vivo yang hanya
direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah, cairan lambung, urine dan
sebagainya yang diambil dari tubuh pasien
7. Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas,
partikel atau gelombang elektromagnetik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Radiasi
dapat menyebabkan dua efek utama pada tubuh, yaitu merusak sel dengan panas dan
mengionisasi sekaligus memecahkan sel. Cara utama radiasi merusak tubuh organisme
adalah melalui pemecahan sel dan ionisasi.
20
DAFTAR PUSTAKA
Sihombing, Eidi dan Henok Siagian. 2018. Bahan Ajar Pendahuluan Fisika Inti. Medan :
UNIMED PRESS
21