Anda di halaman 1dari 9

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA

(STIKes PERTAMEDIKA)
Program Profesi/Ners S1 Keperawatan

LAPORAN PENDAHULUAN
PNEUMONIA

A. Pengertian
Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat,
penyakit ini sering menyerang anak balita, namun juga dapat ditemukan pada
orang dewasa, dan pada orang usia lanjut. pneumonia adalah proses infeksi akut
yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). terjadinya pneumonia pada anak
sering kali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut
broncho pneumonia) (Dinkes RI, 2009).

Batuk pilek merupakan penyakit yang umumnya terjadi pada anak-anak terutama
pada balita. batuk pilek yang menjadi masalah ialah batuk pilek yang disertai
dengan nafas yang cepat atau sesak, karena menunjukkan adanya gejala
peradangan pada paru. jika sudah menyerang bagian paru berarti sudah masuk ke
tahap serius dan harus benar-benar diobati karena dapat menimbulkan kematian.
keadaan seperti inilah yang disebut sebagai pneumonia (Machmud, 2006).

Pneumonia adalah radang paru yang disebabkan oleh bakteri dengan gejala panas
tinggi disertai batuk berdahak, napas cepat (frekuensi nafas >50 kali/menit),
sesak, dan gejala lainnya (sakit kepala, gelisah dan nafsu makan berkurang)
(Riskesdas, 2013).

B. Penyebab
Pneumonia yang ada di kalangan masyarakat umumnya disebabkan oleh bakteri,
virus, mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus) dan protozoa.
Penyebab dari pneumonia adalah sebagai berikut:
1. Bakteri
Bakteri pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi
sampai usia lanjut. sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling
umum adalah streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia
sehat. begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua atau malnutrisi,
bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. balita yang

1
terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah
dan denyut jantungnya meningkat cepat (misnadiarly, 2008). Bakteri lain
tersebut meliputi pneumococcus, staphilococcus.

2. Virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Virus
yang tersering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus
(RSV). Meskipun virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan
bagian atas, pada balita gangguan ini bisa memicu pneumonia. Tetapi pada
umumnya sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam
waktu singkat. Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza,
gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian (Misnadiarly, 2008).
Bakteri lainnya meliputi Adenovirus, Rhinovirus, Rubeola, Varisella.

3. Micoplasma (pada anak yang relatif besar)


Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit
pada manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun
bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan
biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala
jenis usia, tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka
kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati (Misnadiarly,
2008).

4. Protozoa
Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut Pneumonia
pneumosistis. Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii
Pneumonia (PCP). Pneumonia pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang
prematur. Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam beberapa minggu
sampai beberapa bulan, tetapi juga dapat cepat dalam hitungan hari. Diagnosis
pasti ditegakkan jika ditemukan P. Carinii pada jaringan paru atau spesimen
yang berasal dari paru (Djojodibroto, 2009).

Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh infeksi, akan tetapi dapat juga
disebabkan oleh bahan-bahan lain, sehingga dikenal:
1. Pneumonia terkait Lipid: oleh karena aspirasi minyak mineral.
2. Pneumonia terkait Kimiawi (chemical Pneumonitis): Inhalasi bahanbahan
organic atau uap kimia seperti Berillium.

2
3. Extrinsic allergic alveolitis: inhalasi bahan-bahan debu yang mengandung
allergen, seperti spora aktinomisetis termofilik..
4. Pneumonia terkait obat : Nitrofurantoin, Busulfan, Metotreksat.
5. Pneumonia terkait radiasi.
6. Pneumonia dengan penyebab tidak jelas: Desquamative interstitial
pneumonia, Eosinofilic pneumonia.

C. Klasifikasi Pneumonia
Penyakit pneumonia dibagi dalam tiga kelompok yaitu, sebagai berikut :
1. Pneumonia sangat berat : pneumonia sangat berat ditandai dengan kesulitan
bernafas dengan stridor (mengorok), kejang, adanya nafas cepat dan penarikan
dinding dada ke dalam, pada anak-anak akan disertai mengi (mengeluarkan
bunyi saat menarik nafas), dan sulit menelan makanan/minuman. Pneumonia
sangat berat harus segera dirujuk baik ke puskesmas atau ramah sakit.
2. Pneumonia berat : pneumonia berat ditandai dengan nafas cepat tanpa
penarikan dinding dada ke dalam, pada anak akan mengalami mengi.
3. Pneumonia : pneumonia ditandai dengan nafas cepat tanpa penarikan dinding
dada ke dalam.

KLASIFIKASI PNEUMONIA BERDASARKAN PENYEBABNYA


Grup Penyebab Tipe pneumonia
Streptokokus pneumonia Pneumonia bakterial
Streptokokus piogenesis
Stafilokokus aureus
Bakteri Klebsiela penumonia
Eserikia koli
Yersinia pestis
Legionnaires basillus Legionnares disease
Aktinomisetes israeli Akinomisetes pulmonal
Aktinomisetes
Nokardia asteroides Nokardia pulmonal
Kokidioides imitis Kokidioidomikosis
Histoplasma kapsulatum Histoplasmosis
Fungi Blastomises dermatitidis Blastomikosis
Aspergilus Aspergilosis
Fikomisetes Mukormikosis
Riketsia Koksiela burneti Q fever

3
Klamidia Chlamydia trachomatis Chlamydical pneumonia
Mikoplasma pneumonia
Mikoplasma Pneumoniamikoplasmial
Syncytial
Influenza virus, adeno virus Pneumonia virus
Virus
respratory
Pneumonia
Protozoa Penumositis karini
pneumosistis
Sumber: Alsagaff dan Mukry, 2010
D. Manisfestasi Klinis
1. Gejala
Gejala Penyakit Pneumonia Biasanya Didahului Dengan Infeksi Saluran
Napas Atas Akut Selama Beberapa Hari. Selain Didapatkan Demam,
Menggigil, Suhu Tubuh Meningkat Dapat Mencapai 40 Derajat Celcius,
Sesak Napas, Nyeri Dada Dan Batuk Dengan Dahak Kental, Terkadang Dapat
Berwarna Kuning Hingga Hijau. Pada Sebagian Penderita Juga Ditemui
Gejala Lain Seperti Nyeri Perut, Kurang Nafsu Makan, Dan Sakit Kepala
(Misnadiarly, 2008).
2. Tanda Menurut Misnadiarly (2008), Tanda-Tanda Penyakit Pneumonia Pada
Balita Antara Lain :
1) Batuk nonproduktif
2) Ingus (nasal discharge)
3) Suara napas lemah
4) Penggunaan otot bantu napas
5) Demam
6) Cyanosis (kebiru-biruan)
7) Thorax photo menujukkan infiltrasi melebar
8) Sakit kepala
9) Kekakuan dan nyeri otot
10) Sesak napas
11) Menggigil
12) Berkeringat
13) Lelah
14) Terkadang Kulit Menjadi Lembab
15) Mual Dan Muntah

E. Jenis

4
1. Pneumonia lobular
2. Bronchopneumonia

F. Patofisiologi
Patogen yang sampai ke trakea berasal dari aspirasi bahan yang ada di orofaring,
kebocoran melalui mulut saluran endotrakeal, inhalasi dan sumber patogen yang
mengalami kolonisasi di pipa endotrakeal. Faktor risiko pada inang dan terapi
yaitu pemberian antibiotik, penyakit penyerta yang berat, dan tindakan invansif
pada saluran nafas. Faktor resiko kritis adalah ventilasi mekanik >48jam, lama
perawatan di ICU. Faktor predisposisi lain seperti pada pasien dengan
imunodefisien menyebabkan tidak adanya pertahanan terhadap kuman patogen
akibatnya terjadi kolonisasi di paru dan menyebabkan infeksi. Proses infeksi
dimana patogen tersebut masuk ke saluran nafas bagian bawah setelah dapat
melewati mekanisme pertahanan inang berupa daya tahan mekanik ( epitel,cilia,
dan mukosa), pertahanan humoral (antibodi dan komplemen) dan seluler
(leukosit, 12 makrofag, limfosit dan sitokinin). Kemudian infeksi menyebabkan
peradangan membran paru ( bagian dari sawar-udara alveoli) sehingga cairan
plasma dan sel darah merah dari kapiler masuk. Hal ini menyebabkan rasio
ventilasi perfusi menurun, saturasi oksigen menurun. Pada pemeriksaan dapat
diketahui bahwa paru-paru akan dipenuhi sel radang dan cairan , dimana
sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk membunuh patogen, akan tetapi
dengan adanya dahak dan fungsi paru menurun akan mengakibatkan kesulitan
bernafas, dapat terjadi sianosis, asidosis respiratorik dan kematian.

G. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1. Identitas :
2. Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus
dibanding dewasa Mycoplasma terjadi pada anak yang
relatif besar
3. Tempat tinggal : Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih
besar

4. Riwayat Masuk
Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau
batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah
menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam

5
(seizure).

5. Riwayat Penyakit Dahulu


Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering
terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit
Pneumonia. Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan
dapat memperberat klinis penderita

6. Pemeriksaan Fisik
1) Sistem Integumen
Subyektif :-
Obyektif : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi
sekunder), banyak keringat , suhu kulit meningkat,
kemerahan

2) Sistem Pulmonal
Subyektif : sesak nafas, dada tertekan, cengeng
Obyektif : Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk
(produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan
otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut
meningkat, Laju pernafasan meningkat, terdengar
stridor, ronchii pada lapang paru,

3) Sistem Cardiovaskuler
Subyektif : sakit kepala
Obyektif : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah
vasokontriksi, kualitas darah menurun

4) Sistem Neurosensori
Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran, kejang
Obyektif : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi

5) Sistem Musculoskeletal
Subyektif : lemah, cepat lelah
Obyektif : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru
dan penggunaan otot aksesoris pernafasan

6
6) Sistem genitourinaria
Subyektif :-
Obyektif : produksi urine menurun/normal,

7) Sistem digestif
Subyektif : mual, kadang muntah
Obyektif : konsistensi feses normal/diare

7. Hasil Laboratorium
Hb : menurun/normal
Analisa Gas Darah : acidosis respiratorik, penurunan kadar oksigen
darah, kadar karbon darah meningkat/normal
Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal

b. Rencana Keperawatan
1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru
Karakteristik : batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran
nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam,
diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis
Tujuan :
Anak akan mengalami pola nafas efektif yang ditandai dengan :
- Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi
- Suhu tubuh dalam batas 36,5 – 37,2OC
- Laju nafas dalam rentang normal
- Tidak terdapat batuk, cyanosisi, haluaran hidung, retraksi dan
diaporesis

intervensi keperawatan
1) Pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan
jalan napas
Rasional: Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang
akan/telah diberikan
2) Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal
Rasional: Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi
3) Berikan Oksigen lembab, kaji keefektifan terapi
Rasional: Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru

7
4) Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan
efek samping (ruam, diare)
Rasional: Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan
5) Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks
Rasional: Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi
kondisi jaringan paru
6) Lakukan suction secara bertahap
Rasional: Membantu pembersihan jalan nafas
7) Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2 – 4 jam
Rasional: Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan

2. Defisit Volume Cairan b.d :


- Distress pernafasan
- Penurunan intake cairan
- Peningkatan IWL akibat pernafasan cepat dan demam

Karakteristik :
Hilangnya nafsu makan/minum, letargi, demam., muntah, diare,
membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.

Tujuan : Anak mendapatkan sejumlah cairan yang adekuat ditandai


dengan :
- Intake adekuat, baik IV maupun oral
- Tidak adanya letargi, muntah, diare
- Suhu tubuh dalam batas normal
- Urine output adekuat, BJ Urine 1.008 – 1,020

Intervensi Keperawatan
1) Catat intake dan output, berat diapers untuk output
Rasional: Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output
2) Kaji dan catat suhu setiap 4 jam, tanda devisit cairan dan kondisi IV
line
Rasional: Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan
3) Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu
Rasional: Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan
4) Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam
Rasional: Meningkatkan bersihan sal cerna, meningkatkan nafsu

8
makan/minum

Diagnosa lain :
1. Perubahan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan b.d anoreksia, muntah,
peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi
2. Perubahan rasa nyaman b.d sakit kepala, nyeri dada
3. Intoleransi aktivitas b.d distres pernafasan, latergi, penurunan intake,
demam
4. Kecemasan b.d hospitalisasi, distress pernafasan

Referensi :
Acton, Sharon Enis & Fugate, Terry (1993) Pediatric Care Plans, AddisonWesley
Co. Philadelphia