Anda di halaman 1dari 10

A.

Pengertian

Tumbuh adalah proses bertambahnya ukuran/dimensi akibat penambahan jumlah atau


ukuran sel dan jaringan interseluler (Mansjoer, 2000). Pertumbuhan adalah suatu
peningkatan ukuran fisik keseluruhan atau sebagian yang dapat diukur, di mana grafik
pertumbuhan meliputi tinggi, berat badan dan diameter pada lipatan kulit (Suriadi,
2001).

Pengertian dari kembang (berkembang) adalah proses pematangan atau maturasi


fungsi organ tubuh termasuk berkembangnya kemampuan mental intelegensi serta
perilaku anak (Mansjoer, 2000). Perkembangan adalah pertambahan kemampuan
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat
diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan (Soetjiningsih, 1998).

B. Tahapan

Proses tumbuh kembang dimulai sejak sel telur dibuahi dan akan berlangsung sampai
dewasa.
1. Tahap prenatal
a) Masa embrio : mulai konsepsi 8 minggu
b) Masa tengah fetus : 9 minggu 24 minggu
c) Masa fetus lanjut : 24 minggu lahir
2. Tahap postnatal
a) Masa neonatal : lahir 1 bulan
b) Masa bayi awal : 1 bulan 1 tahun
c) Masa bayi lanjut : 1 tahun 2 tahun
3. Masa anak 2-12 tahun
a) Masa prasekolah : 2 6 tahun
b) Masa sekolah : 6 12 tahun
4. Masa remaja (adolesen) 10-18 tahun
a) Pra pubertas : wanita 10-12 tahun, laki-laki 10-14 tahun
b) Pubertas : wanita 12-14 tahun,laki-laki 14-15 tahun
c) Post pubertas :wanita 14-18 tahun,laki-laki 16-20 tahun

C. Ciri-Ciri

Menurut Nursalam (2005) menjelaskan bahwa pada umumnya pertumbuhan


mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu:
1. Perubahan proporsi tubuh yang dapat diamati pada masa bayi dan dewasa.
Sebagaimana pada usia 2 tahun besar kepala hampir seperempat dari panjang badan
keseluruhan, kemudian secara berangsur-angsur proporsinya berkurang.
2. Hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru yang ditandai dengan lepasnya
gigi susu dan timbulnya gigi permanen, hilangnya reflex primitif pada masa bayi,
timbulnya tanda seks sekunder, dan perubahan lainnya.
3. Kecepatan pertumbuhan tidak teratur yang ditanda dengan adanya masa-masa
tertentu yaitu masa pranatal, bayi dan adolesensi, di mana terjadi pertumbuhan
cepat. Masa prasekolah dan masa sekolah di mana pertumbuhan berlangsung
lambat.

D. Pola Perkembangan

Peristiwa yang terjadi selama proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak.
1. Pola perkembangan fisik yang terarah terdiri dari dua prinsip yaitu cephalocaudal
dan proximal distal (Wong, 1995).
a) Cephalocaudal adalah pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari
kepala yang ditandai dengan perubahan ukuran kepala yang lebih besar,
kemudian berkembang kemampuan untuk menggerakkan lebih cepat dengan
menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke bagian ekstremitas bawah lengan,
tangan dan kaki.
b) Proximal distal yaitu pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan
menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat/sumbu tengah,
seperti menggerakkan bahu dahulu baru kemudian jari-jari.
2. Pola perkembangan dari umum ke khusus
Pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan daerah
yang lebih umum (sederhana) dahulu baru kemudian daerah yang lebih kompleks.
Misalnya melambaikan tangan kemudian memainkan jari.

3. Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan


Pola ini mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan perkembangan yang dapat
digunakan untuk mendeteksi dini perkembangan selanjutnya. Pada masa ini dibagi
menjadi lima tahap yaitu :
a) Masa pra lahir, terjadi pertumbuhan yang sangat cepat pada alat dan jaringan
tubuh
b) Masa neonatus, terjadi proses penyesuaian dengan kehidupan di luar rahim dan
hampir sedikit aspek pertumbuhan fisik dalam perubahan
c) Masa bayi, terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang
mempengaruhinya dan mempunyai kemampuan untuk melindungi dan
menghindari dari hal yang mengancam dirinya
d) Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat, sikap, minat dan
cara penyesuaian dengan lingkungan
e) Masa remaja, terjadi perubahan ke arah dewasa sehingga kematangan pada
tanda-tanda pubertas

E. Teori Tumbuh Kembang

1. Teori Tumbuh Kembang Sidmund Freud


Sidmund Freud terkenal sebagai pengganti teori alam bawah sadar dan pakar
psikoanalisis. Tapi kita sering lupa bahwa Freud lah yang menekankan pentingnya
arti perkembangan psikososial pada anak. Freud menerangkan bahwa berbagai
problem yang dihadapi penderita dewasa ternyata disebabkan oleh gangguan atau
hambatan yang dialami perkembangan psikososialnya. Dasar psikoanalisis yang
dilakukannya adalah untuk menelusuri akar gangguan jiwa yang dialami penderita
jauh ke masa anak, bahkan ke masa bayi. Freud membagi perkembangan menjadi 5
tahap, yang secara berurut dapat dilalui oleh setiap individu dalam perkembangan
menuju kedewasaan.

a) Fase Oral
Dalam fase ini anak mendapat kenikmatan dan kepuasan berbagai pengalaman
sekitar mulutnya. Fase oral mencakup tahun pertama kehidupan ketika anak
sangat tergantung dan tidak berdaya. Ia perlu dilindungi agar mendapat rasa
aman. Dasar perkembangan mental sangat tergangtung dari hubungan ibu anak
pada fase ini. Bila terdapat gangguan atau hambatan dalam hal ini maka akan
terjadi fiksasi oral, artinya pengalaman buruk, tentang masalah makan dan
menyapih akan menyebabkan anak terfiksasi pada fase ini, sehingga perilakunya
diperoleh pada fase oral.
Pada fase pertama belum terselesaikan dengan baik maka persoalan ini akan
terbawa ke fase kedua. Ketidaksiapan ini meskipun belum berhasil ditutupi
biasanya kelak akan muncul kembali berupa berbagai gangguan tingkah laku.
b) Fase Anal
Fase kedua ini berlangsung pada umur 1-3 tahun. Pada fase ini anak
menunjukkan sifat ke-AKU-annya. Sikapnya sangat narsistik dan egoistic. Ia
pun mulai belajar kenal tubuhnya sendiri dan mendapatkan kepuasan dari
pengalaman. Suatu tugas penting dalam yang lain dalam fase ini adalah
perkembangan pembicaraan dan bahasa. Anak mula-mula hanya mengeluarkan
bahasa suara yang tidak ada artinya, hanya untuk merasakan kenikmatan dari
sekitar bibir dan mulutnya. Pada fase ini hubungan interpersonal anak masih
sangat terbatas. Ia melihat benda-benda hanya untuk kebutuhan dan kesenangan
dirinya. Pada umur ini seorang anak masi bermain sendiri, ia belum bisa berbagi
atau main bersama dengan anak lain. Sifatnya sangat egosentrik dan sadistik.
c) Fase Falik
Fase falik antara umur 3-12 tahun. Fase ini dibagi 2 yaitu fase oediopal antara 3-
6 tahun dan fase laten antara 6-12 tahun. Fase oediopal dengan pengenalan akan
bagian tubuhnya umur 3 tahun. Di sini anak mulai belajar menyesuaiakan diri
dengan hukum masyarakat. Perasaan seksual yang negative ini kemudian
menyebabkan ia menjauhi orang tua dengan jenisn kelamin yang sama. Disinilah
proses identifikasi seksual. Anak pada fase praoediopal biasanya senang bermain
dengan anak yang jenis kelaminnya berbeda, sedangkan anak pasca oediopal
lebih suka berkelompok dengan anak sejenis. Pada fase laten, resolusi konflik
oediopal ini menandai permulaan fase laten yang terentang 7-12 tahun, untuk
kemudian anak masuk ke permulaan masa pubertas. Periode ini merupakan
integrasi, yang bercirikan anak harus berhadapan dengan berbagai tuntutan dan
hubungan dengan dunia dewasa. Anak belajar untuk menerapkan dan
mengintegrasikan pengalaman baru ini. Dalam fase berikutnya berbagai tekanan
sosial akan dirasakan lebih berat oleh karena terbaur dengan keadaan transisi
yang sedang dialami si anak.
d) Fase Genital
Dengan selesainya fase laten, maka sampailah anak pada fase terakhir dalam
perkembangannya. Dalam fase ini si anak menghadapi persoalan yang
kompleks. Kesulitan sering timbul pada fase ini disebabkan karena si anak
belum dapat menyelesaikan fase sebelumnya dengan tuntas.

2. Teori Tumbuh Kembang Erik Erikson


Erikson melihat anak sebagai makhluk psisososial penuh energy. Ia
mengungkapakan bahwa perkembangan emosional berjalan sejajar dengan
pertumbuhan fisis, dan ada interaksi antara perkembangan fisis dan psikologis. Ia
melihat adanya suatu keteraturan yang sama antara perkembangan psikologis dan
pertumbuhan fisis. Erikson membagi perkembangan manusia dari awal hingga
akhir hayatnya menjadi 8 fase dengan berbagai tugas yang harus diselesaikan pada
setiap fase. Lima fase pertama adalah saat anak tumbuh dan berkembang.

a) Masa Bayi
Kepercayaan dasar vs ketidak percayaan. Dalam masa ini terjadi interaksi sosial
yang erat antara ibu dan anak yang menimbulkan rasa aman dalam diri si anak.
Dari rasa aman tumbuh rasa kepercayaan dasar terhadap dunia luar.
b) Masa Balita
Kemandirian vs ragu dan malu. Masa balita dari Erikson ini kira-kira sejajar
dengan fase anal. Pada masa ini anak sedang belajar untuk menegakkan
kemandiriannya namun ia belum dapat berfikir, oleh karena itu masih perlu
mendapat bimbingan yang tegas. Psikopatologi yang banyak ditemukan sebagai
akibat kekurangan fase ini adalah sifat obsesif-kompulsif dan yang lebih berat
lagi adalah sifat atau keadaan paranoid.
c) Masa Bermain
Inisiatif vs bersalah. Masa ini berkisar antara umur 4-6 tahun. Anak pada umur
ini sangat aktif dan banyak bergerak. Ia mulai belajar mengembangkan
kemampuannya untuk bermasyarakat. Inisiatifnya mulai berkembang pula dan
bersama temannya mulai belajar merencanakan suatu permainan dan
melakukannya dengan gembira.
d) Masa Sekolah
Berkarya vs rasa rendah diri. Masa usia 6-12 tahun adalah masa anak mulai
memasuki sekolah yang lebih formal. Ia sekarang berusaha merebut perhatian
dan penghargaan atas karyanya. Ia belajar untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan padanya, rasa tanggung jawab mulai timbul, dan ia mulai senang untuk
belajar bersama.
e) Masa Remaja
Identitas diri vs kebingungan akan peran diri. Pada sekitar umur 13 tahun masa
kanak-kanak berakhir dan masa remaja dimulai. Pertumbuhan fisis menjadi
sangat pesat dan mencapai taraf dewasa. Peran orang tua sebagai figure
identifikasi lain. Nilai-nilai dianutnya mulai dia ragukan lagi satu per satu.

3. Teori Tumbuh Kembang Menurut Piaget


Piaget adalah pakar terkemuka dalam bidang teori perkembangan kognitif. Seperti
juga Freud, Piaget melihat bahwa perkembangan itu mulai dari suatu orientasi yang
egosentrik, kemudian makin meluas dan akhirnya memasuki dunia sosial. Piaget
membagi perkembangan menjadi empat fase yaitu :

a) Fase Sensori-motor (0-2 tahun)


Seorang anak mempunyai sifat yang sangat egosentrik dan sangat terpusat pada
diri sendiri. Oleh karena itu kebutuhan pada fase ini bersifat fisik, fungsi ini
menyebabkan si anak cepat menguasainya dan dibekali dengan keterampilan
tersebut melangkah ke fase berikutnya.
b) Fase Pra-operasional (2-7 tahun)
Fase ini dibagi menjadi dua, yaitu fase para konseptual dan fase intuitif. Fase pra
konseptual (2-4 tahun). Di sini anak mulai mengembangkan kemampuan bahasa
yang memungkinkan untuk berkomunikasi dan bermasyarakat dengan dunia
kecilnya. Fase intuitif (4-7 tahun) anak makin mampu bermasyarakat namun ia
belum dapat berfikir secara timbal balik. Ia banyak memperhatikan dan meniru
perilaku orang dewasa.

c) Fase Operasional Konkrit (7-11 tahun)


Pengalaman dan kemampuan yang diperoleh pada fase sebelumnya menjadi
mantap. Ia mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan teman-temannya dan
belajar menerima pendapat yang berbeda dari pendapatnya sendiri.
d) Fase Operasional Formal (11-16 tahun)
Pada fase akhir ini kemampuan berfikir anak akan mencapai taraf kemampuan
berfikir orang dewasa. Tercapainya kemampuan ini memungkinkan remaja
untuk masuk ke dalam dunia pendidikan yang lebih kompleks, yaitu dunia
pendidikan tinggi.
Dari tiga teori berkembang tersebut diatas, yaitu teori Freud, Erikson, dan Piaget,
maka kita dapat melihat bagaimana para pakar tersebut mempelajari perkembangan
anak dari sudut yang berbeda namun semuanya sependapat bahwa:
a. Perkembangan suatu proses yang diatur dan berurutan, yang dimulai dari
beberapa hal sederhana, dan terus berkembang menjadi semakin kompleks.
b. Timbulnya gangguan jiwa disebabkan oleh adanya kegagalan disalah satu fase
untuk menyelesaikan suatu tugas perkembangan tertentu.
c. Adanya kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang dari pihak anak sendiri.

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Pola pertumbuhan dan perkembangan secara normal antara anak yang satu dengan
yang lainnya pada akhirnya tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh interaksi
banyak faktor. Menurut Soetjiningsih (2002), faktor yang mempengaruhi tumbuh
kembang, yaitu:

1. Genetika
1. Perbedaan ras, etnis, atau bangsa
2. Keluarga : ada keluarga yang cenderung mempunyai tubuh gemuk atau
perawakan pendek
3. Umur : masa prenatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan tahap yang
mengalami pertumbuhan cepat dibandingkan dengan masa lainnya
4. Jenis kelamin : wanita akan mengalami pubertas lebih dahulu dibandingkan laki-
laki
5. Kelainan kromosom : dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, misalnya
sindrom down.
2. Pengaruh hormon
Pengaruh hormon sudah terjadi sejak masa prenatal, yaitu saat janin berumur empat
bulan. Pada saat itu terjadi pertumbuhan yang cepat. Hormon yang berpengaruh
terutama adalah hormon pertumbuhan somatotropin yang dikeluarkan oleh kelenjar
pituitari. Selain itu kelenjar tiroid juga menghasilkan kelenjar tiroksin yang berguna
untuk metabolisme serta maturasi tulang, gigi, dan otak.
3. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
pranatal, kelahiran, dan pascanatal.
4. Faktor prenatal
a) Gizi, nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, terutama selama
trimester akhir kehamilan
b) Mekanis, posisi janin yang abnormal dalam kandungan dapat menyebabkan
kelainan conginetal, misalnya club foot
c) Toksin, zat kimia, radiasi
d) Kelainan endokrin
e) Infeksi TORCH atau penyakit menular seks
f) Kelainan imunologi

G. Skrining Dan Pengawasan Tumbuh Kembang

Pengawasan tumbuh kembang anak dilakukan secara berkelanjutan dengan pencatatan


yang baik dimulai sejak dalam kandungan (Ante Natal Care) secara teratur dan
pengawasan terutama anak balita.

1. Untuk pertumbuhan anak dengan pengukuran BB dan TB menggunakan Kartu


Menuju Sehat (KMS).
2. Untuk perkembangan anak dengan menggunakan DDST (Denver Development
Screening Test).

Sedangkan tahap-tahap penilaian perkembangan anak yaitu :


1. Anamnesis
2. Skrining gangguan perkembangan anak
3. Evaluasi penglihatan dan pendengaran anak
4. Evaluasi bicara dan bahasa anak
5. Pemeriksaan fisik

Perkembangan dan tumbuh kembang anak perlu kita pantau secara terus menerus.
Dengan memperhatikan tumbuh kembangnya kita berharap dapat mengetahuinya
secara dini kelainan pada anak kita sehingga langkah-langkah antisipatif lebih cepat
kita ambil. Anak yang cedas adalah harapan setiap orang tua. Orang tua selalu
berharap agar anaknya dapat tumbuh sehat. Berikut 7 gangguan tumbuh kembang anak
yang perlu kita ketahui
1. Gangguan bicara dan bahasa. Kemampuan berbahasa merupakan indikator
seluruh perkembangan anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan
gangguan berbicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap.
2. Cerebral palsy. Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak
progresif, yang disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel motorik pada susunan saraf
pusat yang sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya.
3. Sindrom Down. Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat dikenal
dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang menjadi akibat
adanya jumlah kromosom 21 yang lebih. Beberapa faktor seperti kelainan jantung
kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis atau lingkungan lainnya dapat
menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik dan keterampilan untuk
menolong diri sendiri.
4. Perawakan pendek. Penyababnya dapat karena variasi normal, gangguan gizi,
kelainan kromosom, penyakit sistemik atau karena kelainan endokrin.
5. Gangguan autisme. Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang
gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh
aspek perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang
mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan
pada autisme mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
6. Retardasi mental. Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang
rendah ( IQ<70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan
beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal.
7. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Merupakan
gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian yang
seringkali disertai dengan hiperaktivitas.
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ed.3. Media Aesculapius: Jakarta.

Nursalam dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi & Anak (Untuk Perawat&Bidan). Jakarta:
Salemba Medika

Suriadi, Y. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV Sagung Seto.

Supartini, Y. 2007. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

Wong and Whaley. 1995. Clinical Manual of Pediatric Nursing. Philadelphia.