Anda di halaman 1dari 4

A.

Proses Pembentukan Hukum Adat


Proses Pembentukan Hukum Adat adalah proses bagaiman bisa muncul dan
berkembang sebuah praturan yang di anut oleh sekelompok masyarakat yang
kebanyakan hukum tersebut tidak tertulis namun masyarakat tersebut bisa tunduk
dan patuh terhadap peraturan tersebut. Hukum adat juga lahir dan dipelihara oleh
putusan-putusan para warga masyarakat hukum terutama keputusan kepala rakyat
yang membantu pelaksanaan perbuatan hukum itu atau dalam hal bertentangan
keperntingan dan keputusan para hakim mengadili sengketa sepanjang tidak
bertentangan dengan keyakinan hukum rakyat, senafas, seirama, dengan
kesadaran tersebut diterima atau ditoleransi. Di lihat dari ilmuan-ilmuan yang
terkemuka di dunia seperti :

1. Van Vollenhoven
Menurut Van Vollenhoven dalam bukunya Adatrecht, jilid 2 halaman 398
menulis : bahwa dalam pembentukan hukum adat ini tidak perlu menggunakan
teori, melainkan dapat di teliti lansung dalam kenyataan seperti :

1) Hukum adat dan tingkah laku


2) Ketertiban-ketertiban
3) Ada kepentingan-kepentingan dalam masyarakat
4) Hubungan yang harmonis (kosmis)
5) Mengutamakan sangsi
6) Lingkungan wilayah

B. Proses terbentuknya hukum adat dilihat dari aspek sosiologi dan yuridis
a. Aspek Sosiologis
Pada prinsipnya manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan
manusia lainnya karena manusia adalah makhluk sosial dan miliki naluri “
Gregariousness” yaitu naluri untuk hidup bersama dengan manusia lainnya.
Karena hidup manusia membutuhkan manusia lainnya maka setiap manusia
akan berinteraksi dengan manusia lainnya, dari interaksi tersebut melahirkan
pengalaman . Dari pengalaman ini akan dapat didapati sistem nilai yang dapat
dianggap sebagai hal yang baik dan hal yang buruk. Dari Sistem nilai ini akan
melahirkan suatu pola piker / asumsi yang akan menimbulkan suatu sikap yaitu
kecendrungan untuk berbuat atau tidak berbuat. Bila sikap ini telah mengarah
kecendrungan untuk berbuat maka akan timbullah prilaku. Kumpulan prilaku-

1
prilaku yang terus berulang-ulang dapat dilahirkan / diabstraksikan menjadi
norma yaitu suatu pedoman prilaku untuk bertindak.
b. Aspek Yuridis
Dilihat dari tingkat sanksi, Bentuk konkret dari wujud prilaku adalah cara /
usage yang seragam dari sekumpulan manusia misalnya cara berjual beli, cara
bagi waris, cara menikah, dsb. Bila ada penyimpangan ada sanksi namum
lemah.Dari cara / usage tersebut akan terciptanya suatu kebiasaan / Folksway, dan
sanksi atas penyimpangannya agak kuat dibanding sanksi cara/usage. Kebiasaan /
Folksway yang berulang-ulang dalam masyarakat akan lahir standar kelakuan atau
mores dimana sanksi atas penyimpangan sudah menjadi kuat Dalam
perkembangan standar kelakuan atau mores ini akan melahirkan Custom yang
terdiri dari Adat Istiadat dan Hukum Adat, dan sanksinya pun sudah kuat sekali.

C. Pembentukan Hukum Adat dilihat dari proses secara umum


Ketika manusia hidup berdampingan satu sama lain, maka berbagai
kepentingan akan saling bertemu. Pertemuan kepentingan antara manusia yang
satu dengan yang lain ini, tak jarang, menimbulkan pergesekan ataupun
perselisihan. Perselisihan yang ditimbulkan bisa berakibat fatal, apabila tidak ada
sebuah sarana untuk mendamaikannya. Perlu sebuah mediator atau fasilitator
untuk mempertemukan dua belah pihak yang bersengketa tersebut. Tujuannya
adalah agar manusia yang saling bersengketa (berselisih) tersebut sama-sama
memperoleh keadilan. Langkah awal ini dipahami sebagai sebuah proses untuk
menuju sebuah sistem (tatanan) hukum.
Kenyataan ini menjadikan manusia mulai berpikir secara rasional. Di
berbagai komunitas (masyarakat) adat, hal ini menjadi pemikiran yang cukup
serius. Terbukti, kemudian mereka mengangkat pemangku (tetua) adat, yang
biasanya mempunyai ‘kelebihan’ tertentu untuk ‘menjembatani’ berbagai
persoalan yang ada. Dengan kondisi ini, tetua adat yang dipercaya oleh
komunitasnya mulai menyusun pola kebijakan sebagai panduan untuk komunitas
tersebut. Panduan tersebut berisikan aturan mengenai larangan, hukuman bagi
yang melanggar larangan tersebut, serta bentuk-bentuk perjanjian lain yang sudah
disepakati bersama. Proses inilah yang mengawali terjadinya konsep hukum di
masyarakat. Ini artinya, (komunitas) masyarakat adat sudah terlebih dahulu

2
mengetahui arti dan fungsi hukum yang sebenarnya. Inilah yang kemudian
disebut sebagai hukum adat. Dapat dirumuskan bersama, bahwa hukum adat
merupakan hukum tertua yang hidup di masyarakat. Hanya saja, mayoritas hukum
adat ini biasanya tidak tertulis. Inilah salah satu kelemahan hukum adat.
Semakin lama, hubungan antar masyarakat adat ini semakin luas dan semakin
berkembang. Masyarakat-masyarakat adat yang saling berinteraksi akhirnya
mengadakan perjanjian bersama untuk membentuk sebuah ikatan yang lebih luas,
yang kemudian dikenal dengan istilah ‘negara’. Sejatinya, ‘negara’ ini sebenarnya
berisikan berbagai kumpulan hukum adat. Terkadang, antara hukum adat yang
satu dengan hukum adat yang lain juga saling berbenturan.
Seiring dengan berkembangnya waktu, manusia modern memerlukan tatanan
yang lebih selaras, seimbang dalam menjembatani berbagai kepentingan yang
semakin dinamis dan kompleks. Hukum yang tadinya tidak tertulis, akhirnya
disepakati bersama untuk dibakukan dan dijadikan pedoman. Tentunya, pedoman
yang dimaksud kemudian dilakukan secara tertulis. Hukum tertulis inilah yang
kita kenal sampai sekarang. Hukum tertulis ini bersifat dinamis. Akan terus
berubah sesuai perkembangan zaman dan perkembangan kepentingan manusia.
Proses lainnya dalam pembentukkan Hukum Adat adalah seperti titah Raja
atau kepala suku, tulisan pada batu-batu nisan, daun lontar, pepatah, petuah-
petuah toko adat, Yurisprudensi, dokumen-dokumen, buku undang-undang yang
di keluarkan oleh raja-raja, kebiasaan dan adat isti adat (Van Vollen Hoven),
kebudayaan teradisional rakyat (Ter haar), pernyataan-pernyataan ke adilan,
peranan ke adilan yang hidup di dalam hati nurani rakyat (Supomo), pernyataan
keadilan dalam hubungan pamrih atau ugeran-ugeran (Djojodiguno), dan
sebagainya.
1. Bagi adat ketertiban itu telah ada da;am masyarakat yang bersumber dari
kosmos, yang berasaskan tiga hal pokok, yaitu
1) Rukun, yatu kerukunan yang berhubungan dengan musyawarah mufakat.
2) Patut, suatu kata sifat dalm menyatakan kepatutan dalam sesuatu
tindakkan.
3) Laras, adalah suatu kata sifat menjadi suatu kelarasan, dimana aspek
estetis terpenuhi

3
Daftar Pustaka
Badaruzzaman Ismail, SH, M.HUM “Bunga Rampai Hukum Adat” Tahun 2003
MR.B. Terhaar Bzn”Asas-asas dan Susunan Hukum Adat”Tahun 1980