Anda di halaman 1dari 114

BATIK : SELAYANG PANDANG

Pada saat mendengar kata batik, kita pasti sudah mengetahui apa yang dimaksud. Kita
akan langsung merujuk pada jenis kain yang dibuat secara khusus mengikuti motif-motif
tertentu. Betul, seperti itulah pengertian batik secara umum. Batik adalah sejenis kain tertentu
yang dibuat khusus dengan motif-motif yang khas, yang langsung dikenali masyarakat
umum.
Pada masa lampau, batik banyak dipakai oleh orang Indonesia di daerah Jawa. Itu pun
terbatas pada golongan ningrat keraton dengan aturan yang sangat ketat. Artinya, tidak
sembarang orang boleh mengenakan batik, terutama pada motif-motif tertentu yang
ditetapkan sebagai motif Jarangan bagi khalayak luas. Namun pada perkembangannya, batik
telah menjadi salah satu "pakaian nasional" Indonesia yang dipakai oleh bangsa Indonesia di
seluruh Nusantara dalam berbagai kesempatan. Batik enak disandang dan enak dipandang.
Itulah salah satu alasan mengapa batik banyak dipakai di berbagai kalangan. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2007), batik dijelaskan sebagai kain bergambar yang
dibuat secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam (lilin) pada kain, kemudian
pengolahannya diproses dengan cara tertentu; atau biasa dikenal dengan kain batik.
Di kamus tersebut dijelaskan pula perihal batik cap, yaitu batik yang dibuat dengan
alat cap. Batik tulis adalah batik yang dibuat dengan tangan (bukan dengan cap).
Kata yang berkaitan dengan batik adalah "membatik"yaitu membuat corak atau
gambar (terutama dengan tangan) dengan menerakan malam pada kain, membuat batik, atau
menulis dengan cara seperti membuat batik (sangat perlahan-lahan dan berhati-hati sekali)
karena takut salah.
Selain itu, ada pula kata-kata lainnya yang berkaitan, yaitu "batikan" adalah hasil
membatik; "pembatik" adalah orang yang membatik atau orang yang pekerjaannya membuat
kain batik; dan "pembatikan" adalah tempat membatik, perusahaan batik, atau bisa juga
proses, cara, dan perbuatan membatik.
Secara etimologi, kata batik berasaldaribahasaJawa, "amba"yang berarti lebar, luas,
kain; dan "titik" yang berarti titik atau matik (kata kerja membuat titik) yang kemudian
berkembang menjadi istilah "batik", yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi
gambartertentu pada kain yang luas atau lebar. Batik juga mempunyai pengertian segala
sesuatu yang berhubungan dengan membuat titik-titik tertentu pada kain mori.
Dalam bahasa Jawa, "batik" ditulis dengan "bathik", mengacu pada huruf Jawa "tha"
yang menunjukkan bahwa batikadalah rangkaian dari titik-titikyang membentuk gambaran
tertentu. Berdasarkan etimologi tersebut, sebenarnya "batik" tidak dapat diartikan sebagai
satu atau dua kata, maupun satu padanan kata tanpa penjelasan lebih lanjut.
Batik sangat identik dengan suatu teknik (proses) dari mulai penggambaran motif
hingga pelorodan. Salah satu ciri khas batik adalah cara penggambaran motif pada kain yang
menggunakan proses pemalaman, yaitu menggoreskan malam (lilin) yang ditempatkan pada
wadah yang bernama canting dan cap.
Para sarjana ahli seni rupa, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing,
hingga saat ini belum mencapai kata sepakat tentang apa sebenarnya arti kata batik. Ada yang
mengatakan bahwa sebutan batik berasal dari kata "tik" yang terdapat di dalam kata titik,
yang berarti juga tetes. Dan memang, di dalam membuat kain batik dilakukan pula penetesan
malam di atas kain putih.
Ada juga ahli yang mencari asal kata batik di dalam sumber-sumber tertulis kuno.
Menurut pendapat ini, kata batik dihubungkan dengan kata tulis atau lukis.
Dengan demikian, asal mula batik dihubungkan pula dengan seni lukis dan gambar
pada umumnya.
Apa pun pemikiran dan pendapat yang lahir mengenai asal-usul nama batik, sekarang
ini batik sudah banyak dikenal luas, baik di dalam maupun di luar negeri. Di Indonesia, baik
perempuan maupun lelaki dari berbagai suku sangat senang memakai batik. Para turis asing
atau pun pejabat-pejabat asing yang tinggal di Indonesia juga senang mengenakan batik dan
sering membawanya pulang ke negara asal sebagai oleh-oleh.
-----
Lalu, bagaimana cara membuat batik? Untuk membatik, diperlukan alat yang disebut
canting. Canting terbuat dari bambu, berkepala tembaga, serta bercerat atau bermulut.
Canting ini berfungsi seperti sebuah pulpen yang dipakai untuk menyendok malam cair yang
panas, yang digunakan sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna. Sekarang
ini, selain canting tradisional, sudah ada canting elektrik.
Namun sebelum sang pembatik melelehkan malam dikain putih, banyak langkah yang
harus dikerjakan pada kain putih tersebut. Persiapannya berupa pencelupan kain dalam
minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda. Gunanya untuk memudahkan malam melekat
dan zat warna meresap. Setiap kali kain akan diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak
boleh terkena zat warna ditutup dengan malam, sehingga makin banyak warna yang dipakai
untuk menghias kain batik, semakin lama juga proses pekerjaan menutup tersebut. Pada taraf
penghabisan, malam dibuang dengan merebus kain dalam air mendidih. Sesudah itu, kain
batik dijemur dan terlihatlah hasilnya berupa batik dengan warna-warna yang indah dan pola-
pola yang telah ditentukan.
Pada masa sekarang, telah banyak modifikasi dan pengembangan teknik pembuatan
batik mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi tekstil. Namun demikian, masih ada
sekelompok tertentu perajin batik yang mempertahankan cara pembuatan batik secara
tradisional sebagai salah satu cara mertjaga warisan budaya. Kita tidak dapat memungkiri
bahwa seiring kemajuan zaman, batik telah banyak dibuat dengan cara cap, printing (sablon),
kain tekstil bercorak batik, batik dengan desain komputer, dan lain sebagainya.
Berbagai macam cara pembuatan batik tersebut telah membuat batik di Indonesia
semakin dikenal sangat luas. Batik digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dari kalangan
paling bawah hingga masyarakat dengan strata tertinggi. Pada masa lampau, ada jenis-jenis
batik tertentu yang hanya boleh dipakai oleh kalangan bangsawan dan penguasa, namun
sekarang hal itu tidak berlaku lagi. Batik telah menjadi busana adiluhung yang mencerminkan
cita rasa Indonesia yang indah dan elegan.
Batik di Indonesia memang telah dikenali secara luas, tetapi belum banyak
masyarakat yang mengerti dan tahu apa sesungguhnya batik tersebut. Bahkan, perhatian dan
konsentrasi untuk melestarikan batik di Indonesia pada umumnya masih sebatas perlakuan
normal memakai dan menggunakan batik. Padahal, di dalam batik ada banyak aspek
kehidupan yang bisa kita ungkapkan. Baik aspek historis, filosofis, wisata, maupun
kebudayaan.
Batik telah menjadi salah satu ikon budaya asli Indonesia. Sebelumnya, batik sempat
diklaim sebagai warisan budaya dari Malaysia. Pertikaian itu sempat memperkeruh hubungan
baik antara dua bangsa serumpun Melayu ini. Namun dengan berbagai bukti, tidaklah dapat
dipungkiri bahwa batik merupakan salah satu budaya asli Indonesia.
Dan akhirnya badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya
(UNESCO) mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia pada tanggal 2
Oktober 2009. Sejak itulah, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai "Hari Batik" di Indonesia.
Batik digunakan secara meluas di segala kalangan. Di lingkungan pegawai
pemerintah, setiap hari Jumat pegawai diwajibkan menggunakan seragam kerja berupa batik.
Kebiasaan ini banyak diikuti pula oleh perkantoran-perkantoran swasta, sehingga batik
semakin eksis dan meluas.
Demikian populernya batik, batik di masa kini tidak hanya dipakai sebagai baju atau
pakaian saja. Banyak bentuk modifikasi berbagai keperluan rumah tangga yang borasal dari
batik. Kita dapat menemukan dengan mudah berbagai bentuk olahan batik, seperti tas, sepatu,
sandal, sprei, sarung bantal, taplak meja, kerudung, aksesori, suvenir, lukisan, bahan dasar
berbagai kerajinan, dan lain-lain.
Batik telah menjadi bagian keseharian masyarakat Indonesia yang sangat berarti.
Batik telah menjadi aset kekayaan Nusantara. Keberadaan batik menjadi sangat penting bagi
perkembangan perekonomian di Indonesia. Industri batik di Nusantara telah menampung
jutaan tenaga kerja, terutama perempuan dengan industri-industri skala rumah tangga yang
tersebar di seluruh pelosok negeri. Belum terhitung pula jumlah mereka yang menjadi
pedagang batik, baik skala kecil, menengah, maupun besar.
Secara umum di dunia internasional, batikjuga telah menempati hati masyarakat dunia
sebagai salah satu warisan budaya asli Indonesia. Apalagi pengusaha batik nasional terus-
menerus melakukan terobosan untuk mengembangkan industri batik. Berbagai cara kreatif
terus dilakukan agar batik kita dapat menembus pasar internasional. Tentu saja, dengan
harapan batik mendapatkan penghargaan dan penghormatan yang layak, sebagai salah satu
fashion dunia yang pantas diperhitungkan.
Batik memang sangat istimewa. Bentuk kain bercorak itu bukan sekedar kain yang
tanpa makna. Di balik setiap motif dan jenisnya, ada berbagai makna filosofis yang memiliki
nilai dan sejarah yang panjang. Ada perjalanan sejarah yang dapat kita baca lewat tutu ran
corak dan motif batik. Corak dan motif batik tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur yang
melekat dari wilayah asal pembuatannya. Dan dapat dipastikan tidak semua orang mengerti
adanya sejarah panjang di balik batik. Selain adanya makna filosofis di dalamnya sesuai
dengan corak dan motifnya, batik juga memiliki sejarah panjang di Indonesia.
Dengan adanya sejarah panjang mengenai batik, sangat tepat jika batik disebut
sebagai salah satu tujuan wisata. Pasar Beringharjo Yogyakarta, Pasar Klewer Solo, dan
Pasar Grosir Batik Sentono Pekalongan merupakan contoh dari tempat penjualan batik yang
dapat menjadi tujuan wisata batik.
Di tempat-tempat tersebut, kita tidak hanya dapat berbelanja batik dengan murah,
tetapi kita juga dapat menemukan berbagai variasi bentuk dan modifikasi industri batik.
Selain itu, kalau kita memiliki banyak waktu, kita juga dapat belajar membatik, mengenal
sejarah, dan industri batik secara lebih luas.
Demi pelestarian batik ini, sudah ada satu museum nasional batik, yaitu Museum
Batik Nasional yang berada di Jalan Jetayu No. 3 Pekalongan. Museum ini diresmikan oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 12 Juli 2006. Banyak orang berkunjung
ke sini untuk mendapatkan pengetahuan yang lengkap mengenai batik. Museum Batik
Pekalongan ini mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai tempat terbaik untuk
pendidikan dan pelatihan batik bersamaan dengan pengakuan UNESCO atas batik sebagai
warisan dunia asli dari Indonesia.
Jadi, kalau kebetulan berkunjung ke kota Pekalongan untuk berbelanja batik atau
berbagai keperluan lainnya, singgahlah ke Museum Batik Nasional untuk mengerti batik
secara detail.
Batik memang istimewa. Batik adalah milik semua orang. Batikku, batikmu, batik
kita, batik dunia!
SEJARAH BATIK

Di Indonesia, batik memiliki sejarah dan riwayat yang panjang. Di setiap wilayah di
Nusantara, batik memiliki perkembangan dan kisah yang menarik. Keberadaan Kerajaan
Majapahit sebagai kerajaan yang besar, makmur, dan mengalami masa kejayaan selama
beberapa abad telah membuat tradisi dan kebudayaannya mengakar kuat di wilayah
Nusantara, termasuk di antaranya seni batik.

A. Perkembangan Umum
Sampai saat ini, sebenarnya kapan batik mulai tercipta masihlah menjadi tanda
tanya. Namun, motif-motif batik di Indonesia dapat ditemukan pada beberapa artefak
budaya, seperti pada candi-candi.
Motif dasar lereng dapat ditemukan pada patung emas Syiwa (dibuat abad IX) di
Gemuruh, Wonosobo. Dasar motif ceplok ditemukan pada pakaian patung Ganesha di
Candi Banon dekat Candi Borobudur (dibuat abad IX). Batik juga ditemukan pada titik-
titik dalam motif pada patung Padmipani di Jawa Tengah (menurut perkiraan patung
tersebut dibuat awal abad VIII-X). Motif liris ditemukan pada patung Manjusri,
Ngemplak, Semongan, Semarang (dibuat abad X).
Selanjutnya, batik semakin eksis pada masa Kerajaan Majapahit dengan wilayah
dan kekuasaan yang sangat luas. Namun data yang lebih pasti tentang sejarah dan
perkembangan batik di Indonesia mulai terekam jelas sejak masa Kerajaan Mataram
Islam, yang bersumber dari keraton, seperti motif parang rusak, semen rama, dan lain-
lain.
Pada awalnya, batik digunakan sebagai hiasan pada daun lontar yang berisi naskah
atau tulisan agar tampak lebih menarik. Seiring perkembangan interaksi bangsa Indonesia
dengan bangsa asing, maka mulai dikenal media batik pada kain. Sejak itu, batik mulai
digunakan sebagai corak kain yang berkembang sebagai busana tradisional, khusus
digunakan di kalangan ningrat keraton.
Dalam beberapa literatur, sejarah pembatikan di Indonesia sering dikaitkan
dengan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Hal ini
dibuktikan dengan penemuan area dalam Candi Ngrimbi dekat Jombang yang
menggambarkan sosok Raden Wijaya, raja pertama Majapahit (memerintah 1294-1309),
memakai kain batik bermotif kawung.
Oleh sebab itu, kesenian batik diyakini telah dikenal sejak zaman Kerajaan
Majapahit secara turun-temurun. Wilayah Kerajaan Majapahit yang sangat luas
menyebabkan batik juga dikenal luas di Nusantara. Berikut ini adalah beberapa kota di
Indonesia yang memiliki riwayat dan sejarah batik yang cukup panjang dan memiliki
kontribusi besar terhadap perkembangan batik di Indonesia.

1) Mojokerto dan Tulungagung


Dengan pusat kekuasaan Kerajaan Majapahit berada di Jawa Timur
(Trowulan, Mojokerto), tidak mengherankan kalau hampir setiap kota di Jawa Timur
mengenal batik. Daerah Jawa Timur, terutama Mojokerto, memiliki gaya pembatikan
yang khas karena sangat dekat dengan pusat kekuasaan Majapahit. Perkembangan
gaya batik ini hingga sekarang dapat ditelusuri di daerah Mojokerto.
Tulungagung memiliki riwayat sejarah khusus tentang keberadaan batik dan
Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu, daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari
rawa-rawa dikenal dengan nama Bonorowo. Pada saat Kerajaan Majapahit sedang
pada masa keemasan di bawah kendali Mahapatih Gadjah Mada, Bonorowo dikuasai
oleh Adipati Kalang yang tidak bergabung di bawah Majapahit.
Keinginan Gadjah Mada dengan Sumpah Palapa-nya adalah mempersatukan
Nusantara di bawah Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, Gadjah Mada pun bertekad
untuk menaklukkan Bonorowo atau Tulungagung. Sayangnya, Adipati Kalang tidak
mau tunduk kepada Majapahit begitu saja. Akhirnya, Majapahit memutuskan untuk
menyerang Bonorowo.
Dalam aksi penyerangan yang dilancarkan oleh Majapahit, Adipati Kalang
tewas dalam pertempuran. Dia meninggal di sekitar desa yang sekarang bernama
Kalangbret, berasal dari kata "Kalang" dan "disebret-sebret", yang artinya badan
Adipati Kalang yang dicacah-cacah sehingga tidak bisa utuh kembali dan dihanyutkan
ke sungai. Sejak saat itulah desa tersebut terkenal dengan nama Desa Kalangbret.
Setelah itu, Bonorowo masuk menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Para
tentara Majapahit dan keluarganya dari Kerajaan Majapahit banyak yang menetap di
Bonorowo. Mereka membawa kesenian membuat batik tulis. Keterampilan membatik
ini kemudian disebarluaskan pada masyarakat asli Bonorowo sehingga menjadi
keahlian dan mata pencaharian mereka. Pada perkembangannya, batik bonorowo
lebih banyak dipengaruhi oleh corak batik solo dan yogya karena adanya pelarian
pengikut Pangeran Diponegoro setelah kalah dalam Perang Diponegoro melawan
Belanda.
Bahan-bahan batik yang dipakai pada waktu itu adalah kain putih yang
ditenun secara tradisional dan pewarna alami dari soga jambal, mengkudu, nila torn
(tarum), nila tinggi, dan sebagainya. Obat-obat pembuatan batik dari luar negeri baru
dikenal sesudah Perang Dunia I yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di
Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar
negeri. Cap dibuat di Bangil (Pasuruan) dan pengusaha-pengusaha batik mojokerto
dapat membelinya di Pasar Porong, Sidoarjo.
Di masa lalu, sebelum krisis ekonomi dunia akibat Perang Dunia I, Pasar
Porong dikenal sebagai pasar yang ramai. Hasil produksi batik dari Kedungcangkring,
Jetis, Sidoarjo, dan sekitarnya banyak diperjual-belikan di Pasar Porong. Waktu krisis
ekonomi, pengusaha batik mojokerto ikut lumpuh karena mereka hanya pengusaha
kecil. Sesudah krisis, kegiatan pembatikan timbul kembali. Dan ketika Jepang
menduduki Indonesia, kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan
muncul lagi sesudah kemerdekaan dan Mojokerto sudah menjadi bagian dari Republik
Indonesia.
Secara umum, batik tulungagung dan rnojokerto hampir sama dengan batik-
batik keluaran Yogya, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya cokelat muda atau
biru tua. Tempat pembatikan yang dikenal sejak lama di Tulungagung adalah Desa
Majan dan Desa Simo. Sedangkan daerah pembatikan di Mojokerto terdapat di Kwali,
Mojosari, Betero, dan Sidomulyo.
Desa Majan di Tulungagung juga mempunyai riwayat sebagai tempat pelarian
dari para pengikut Pangeran Diponegoro. Ketika terjadi bentrok antara tentara
kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan Pangeran Diponegoro, sebagian dari
pasukan-pasukan Kyai Mojo melarikan diri ke arah timur dan sampai sekarang
bernama Desa Majan.
Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini, Desa Majan
berstatus desa perdikan (daerah istimewa) dan kepala desanya seorang kyai yang
memimpin secara turun-temurun. Pembuatan batik majan ini merupakan seni
membuat batik peninggalan zaman perang Diponegoro.
Batik majan dan simo sangat unik karena warna dasarnya merah menyala (dari
kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom (tarum). Salah satu sentra batik lainnya
adalah Desa Sembung. Para pengusaha batik di daerah ini kebanyakan berasal dari
Solo yang datang ke Bonorowo pada akhir abad XIX. Hingga sekarang masih terdapat
beberapa keluarga pembatik dari Solo yang menetap di Desa Sembung.
2) Ponorogo
Riwayat dan sejarah pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya yang cukup
berpengaruh adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran
Islam di daerah ini.
Pada waktu itu, ada seorang keturunan dari Kerajaan Majapahityang bernama
Raden Katong, adik dari Raden Patah. Raden Katong inilah yang membawa agama
Islam ke Ponorogo dengan mendirikan pesantren. Dia terkenal sebagai Kyai Hasan
Basri dan lebih dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini
selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang,
dan kesusasteraan. Seorang murid kesusasteraan yang terkenal dari Tegalsari adalah
Raden Ronggowarsito.
Kyai Hasan Basri kemudian menjadi menantu raja Keraton Solo. Lalu putri
Keraton Solo diboyong ke Tegalsari, diikuti oleh para pengiringnya. Dari sanalah
batik ponorogo menjadi sangat dipengaruhi oleh batik solo. Di samping itu, banyak
pula keluarga Keraton Solo belajar di Pesantren Tegalsari dan semakin menguatkan
pengaruh batik solo terhadap batik ponorogo.
Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari Keraton Solo menuju ke
Ponorogo. Saat pemuda-pemudi yang dididik di Pesantren Tegalsari lulus, mereka
membaur di tengah masyarakat dan menyumbangkan ilmunya di bidang pemerintahan
maupun agama. Mereka juga mengembangkan tradisi membatik sebagai salah satu
mata pencaharian. Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang adalah daerah
Kauman, yaitu Kepatihan Wetan hingga meluas ke Desa Ronowijoyo, Mangunsuman,
Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok,
Banyudono, dan Ngunut.
Saat itu, obat-obat yang dipakai dalam pembatikan adalah obat buatan dalam
negeri dari kayu-kayuan, antara lain pohon tom, mengkudu, dan kayu tinggi.
Sedangkan bahan kain putihnya juga memakai buatan lokal dari tenunan gendong.
Kain putih impor baru dikenal di Ponorogo pada akhir abad XIX.
Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah Perang Dunia I
berakhir. Daerah Ponorogo pada awal abad XX sangat terkenal dengan batiknya
dalam pewarnaan nila yang tidak luntur. Oleh karena itu, banyak pengusaha batik dari
Banyumas dan Solo yang memberikan pekerjaan kepada para pengusaha batik di
Ponorogo. Sejak masa itulah, batik ponorogo terkenal di seluruh Indonesia dengan
batik Cap Mori Biru.
Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam adalah banyak daerah pusat
perbatikan di Jawa merupakan daerah santri. Batik menjadi alat perjuangan ekonomi
oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda. Dengan adanya
industri batik yang dapat dilakukan di dalam rumah, usaha ini jauh dari pengintaian
Belanda sehingga memungkinkan ekonomi masyarakat tetap berkembang, walaupun
dalam masa peperangan.
Kejayaan Kerajaan Majapahit turut membantu menyebarluaskan seni batik.
Dan saat kerajaan ini kehilangan pamor dan kedigdayaannya, perkembangan batik di
Nusantara tidaklah surut. Di daerah-daerah pedalaman, di luar keraton dan di luar
daerah pesisir, batik terus berkembang dan semakin eksis.
Perkembangan batik di Nusantara kembali menggeliat dan mendapatkan titik
terang pada saat kelahiran Kerajaan Mataram Islam. Pusat kekuasaan kerajaan yang
berada di Jawa Tengah telah turut memengaruhi perkembangan batik secara umum.
3) Yogya dan Solo
Keberadaan batik di setiap kota tidak dapat dilepaskan dari sejarah kota
tersebut. Demikian juga dengan Yogyakarta yang dianggap sebagai cikal bakal batik
dengan adanya batik keraton. Batik di kota ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah
berdirinya Kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati.
Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Pajang ke Mataram, Panembahan
Senopati sering mengadakan taper brata (bertapa, bersemedi) di sepanjang pesisir
selatan, menyusuri Pantai Parangkusuma ke Dlepih Parang Gupita, menyisiri tebing
Pegunungan Seribu yang tampak seperti pereng atau tebing berbaris. Tempat
pengembaraan itu akhirnya melahirkan ilham pembuatan motif batik lereng atau
parang yang merupakan ciri khas batik mataram yang berbeda dengan batik-batik
sebelumnya.
Batik di keraton memang bukan sekedar lukisan tanpa makna, tetapi sering
dikaitkan dengan laku brata dan pengalaman spiritual penciptanya. Hak eksklusif
penggunaan batik parang tentu saja menjadi milik raja pembuatnya dan keturunannya.
Kalangan di luar keraton dilarang menggunakan batik motif parang tersebut.
Larangan tersebut pernah dicanangkan oleh Sri Sultan HB I pada tahun 1785, yang
antara lain termasuk kain batik motif parang rusak barong dan beberapa motif parang
lainnya.
Terakhir, Sri Sultan HB VIII menetapkan revisi larangan tersebut dengan
membuat Pranatan Dalem bab Namanipun Pengangge ing Nagari Ngayogyokarta
Hadiningrat, yang dimuat dalam Rijksblad van Dyogyakarto No 19 Tahun 1927.
Pranoton ini sampai sekarang tidak diperbarui dan menjadi semacam aturan tidak
tertulis yang menjadi tradisi di lingkungan keraton.
Di masa lalu, batik bukan hanya digunakan untuk melatih keterampilan lukis
(menggambar) dan sungging (mewarnai dengan cat), namun merupakan seni yang
sarat dengan pendidikan etika dan estetika bagi perempuan. Batik juga sering
digunakan untuk menandai adanya peristiwa-peristiwa penting di dalam kehidupan
manusia Jawa. Misalnya saja batik dengan corak truntum cocok untuk upacara akad
nikah. Sedangkan corak midodareni, grompol, semen rama, naga sari cocok untuk
pernikahan.
Selain itu, banyak aturan dan larangan yang berkaitan dengan penggunaan
batik. Batik dengan corak parang rusak dilarang dipakai saat pernikahan dengan
harapan agar terhindar dari rumah tangga yang rusak. Pada saat pernikahan biasanya
digunakan kain batik dengan corak sido mukti atau sido luhur dengan harapan agar
kehidupan anaknya kelak menjadi orang yang luhur dan terpandang. Dalam
perkembangan selanjutnya, batik dijadikan komoditi perdagangan.
Daerah pembatikan Yogya pertama kali berada di Desa Plered, Imogiri,
Bantul. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga keraton yang
dikerjakan oleh perempuan-perempuan pembantu ratu. Dari sini, pembatikan rneluas
pada tingkat pertama keluarga keraton lainnya, yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-
tentara kerajaan. Pada upacara resmi kerajaan, keluarga keraton baik lelaki maupun
perempuan memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik (kain tenun yang
coraknya berjalur-jalur).
Pada masa itu, rakyat terbiasa melakukan kunjungan atau seba pada waktu-
waktu tertentu ke keraton. Mereka melihat pakaian bagus yang dikenakan oleh
keluarga keraton. Dari sinilah mereka tertarik untuk membuatnya. Batik akhirnya
ineluas ke kalangan rakyat dan pembatikan pun keluar dari tembok keraton.
Batik solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya, baik batik cap
maupun batik tulis. Bahan-bahan yang digunakan untuk pewarnaan adalah bahan-
bahan dalam negeri, seperti soga. Motifnya yang terkenal adalah sido mukti dan sido
luruh.
Akibat dari peperangan pada masa awal Kerajaan Mataram I, baik keluarga
raja maupun rakyat mengungsi dan kemudian menetap di daerah-daerah baru. Mereka
pada umumnya menetap di Kebumen, Banyumas, Pekalongan, Ponorogo,
Tulungagung, dan sebagainya.
Meluasnya daerah pembatikan ini ke daerah-daerah tersebut dimulai pada
abad XVIII. Keluarga-keluarga keraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan
pembatikan ke seluruh pelosok Pulau Jawa. Perang Pangeran Diponegoro melawan
Belanda mendesak sang Pangeran dan keluarganya, serta para pengikutnya
meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah timur dan barat
Yogyakarta.
Di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut Pangeran Diponegoro
mengembangkan batik. Ke daerah timur, batik solo dan yogya menyempurnakan
corak batik yang telah ada di Tulungagung dan Mojokerto. Selain itu, juga menyebar
ke Gresik, Surabaya, dan Madura. Sedang ke arah barat, batik solo dan yogya
berkembang di Kebumen, Banyumas, Pekalongan, legal, dan Cirebon.
Di masa sekarang, Yogya dan Solo masih tetap menjadi "kiblat" industri batik
di Nusantara. Segala macam hal yang berkaitan dengan batik sering diidentikkan
dengan batik yogya dan batik solo. Meskipun pada kenyataannya, di luar daerah
tersebut terdapat berbagai modifikasi dan pengembangan batik yang tidak kalah
pesatnya.
4) Kebumen
Di Kebumen, batik dikenal sekitar awal abad XIX yang dibawa oleh
pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah agama Islam. Mereka
mengembangkan batik di Kebumen. Batik pertama di Kebumen dinamakan tengobang
atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas atau Solo.
Pada permulaan ab4ad XX, batik kebumen mengalami perkembangan yang
pesat. Untuk membuat pola batik, digunakan kunyit dengan cap terbuat dari kayu.
Motif-motif batik kebumen pada umumnya adalah pohon-pohon dan burung-burung.
Bahan-bahan pewarna yang digunakan umumnya dari pohon mengkudu dan pohon
nila tom.
Pemakaian obat-obatan impor di Kebumen baru dikenal pada tahun 1920.
Obat-obatan impor ini diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia.
Pengenalan obat-obat impor inilah yang membuat para perajin batik meninggalkan
bahan-bahan alami buatan sendiri. Tujuannya demi menghemat waktu dan
meningkatkan mutu. Pemakaian cap dari tembaga di Kebumen dikenal pada tahun
1930. Daerah pembatikan di Kebumen antara lain di Watugarut dan Tanurekso.
5) Banyumas
Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja, dibawa oleh
pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830.
Bahan kain yang dipakai adalah hasil tenunan sederhana dan obat pewarna berasal
dari pohon tom dan mengkudu. Pewarna ini memberi warna merah bersemu kuning
(jingga).
Pembatikan pun meluas pada rakyat Sokaraja, dan pada akhir abad XIX, para
pembatik di Banyumas dapat berdagang dan berhubungan langsung dengan para
pembatik di daerah Solo dan Ponorogo. Perkembangan batik di Indonesia terus
meluas, meskipun terjadi pergantian kekuasaan, peperangan, maupun bencana alam.
Setelah Perang Dunia I, industri pembatikan mulai dilirik oleh orang Cina
yang semula hanya berdagang bahan-bahan dan alat keperluan batik. Mereka inilah
yang dalam masa Perang Dunia I merajai industri pembatikan di Nusantara.
6) Pekalongan
Pembatikan juga dikenal di Pekalongan. Dilihat dari proses dan desainnya,
batik pekalongan banyak dipengaruhi oleh batik dari Demak. Sampai awal abad XX,
proses pembatikan yang dikenal di Pekalongan adalah batik tulis dengan bahan mori
buatan dalam negeri dan sebagian impor. Setelah Perang Dunia I baru dikenal
pembuatan batik cap dan pemakaian obat-obat buatan Jerman dan Inggris.
Pada awal abad XX, yang pertama kali dikenal di Pekalongan adalah
pertenunan yang menghasilkan setagen (sabuk atau ikat pinggang perempuan yang
terbuat dari kain, panjangnya antara 3-5 meter berwarna polos, umumnya putih,
merah, hitam, hijau, dan lain-lain, yang dikenakan oleh mereka yang berkain) dan
benangnya dipintal secara sederhana.
Beberapa tahun berikutnya, barulah dikenal cara pembatikan yang dikerjakan
oleh orang-orang yang bekerja di sektor pertenunan ini. Pertumbuhan dan
perkembangan pembatikan di Pekalongan menjadi lebih pesat dari pertenunan
setagen. Akibatnya, buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto lari ke
perusahaan-perusahaan batik karena upahnya lebih tinggi daripada upah bekerja di
pabrik gula.
Saat ini, Pekalongan merupakan salah satu sentra industri batik nasional
dengan jumlah produksi batik yang sangat besar. Batik-batik pekalongan tidak hanya
dibuat untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga diekspor ke Amerika,
Eropa, Timur Tengah, dan lain-lain. Di kota ini pula terdapat Museum Batik Nasional
yang dapat dijadikan sebagai rujukan tentang sejarah dan perkembangan batik di
Nusantara. Museum ini semakin memperkuat keberadaan Kota Pekalongan sebagai
salah satu kota batik terbesar di Indonesia.
7) legal
Pembatikan dikenal luas di legal pada akhir abad XIX. Pewarna yang dipakai
pada waktu itu diambil dari tumbuh-tumbuhan, seperti mengkudu, nila, dan soga
kayu. Kain yang digunakan merupakan tenunan sendiri dengan cara sederhana. Pada
awalnya, warna batik legal adalah sogan dan dasar abu-abu. Setelah dikenal pewarna
nila dari pabrik, warna meningkat menjadi merah dan biru.
Pasaran batik tegal waktu itu sudah menjangkau ke luar daerah, antara lain ke
Jawa Barat dan dibawa oleh para pengusaha dengan berjalan kaki atau menggunakan
andong dan dokar. Mereka inilah yang kemudian mengembangkan batik di
Tasikmalaya dan Ciamis, di samping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota
batik di Jawa Tengah.
Pada awal abad XX, legal sudah mengenal mori dan obat-obat impor. Para
pengusaha batik di legal pada umumnya lemah dalam hal permodalan. Akhirnya,
mereka mendapatkan bahan baku dari Pekalongan dengan cara kredit dari orang-
orang Cina. Batik hasil olahan mereka pun dijual kepada orang Cina yang
memberikan kredit bahan baku. Konsep perdagangan saling menguntungkan sudah
terjadi sejak masa ini, walaupun secara umum dunia dalam keadaan perang.
Pada waktu krisis ekonomi melanda dunia akibat perang yang berkepanjangan,
industri pembatikan di legal ikut mengalami kelesuan. Ini terjadi karena mahalnya
bahan baku dan sedikitnya permintaan terhadap batik. Usaha tersebut baru
menghangat dan kembali beroperasi pada tahun 1934 sampai permulaan Perang Dunia
II. Waktu pendudukan Jepang di Indonesia, industri ini kembali tidak beroperasi
hingga awal kemerdekaan Indonesia, tahun 1945. Baru setelah Indonesia merdeka dan
kondisi ekonomi mulai meningkat, industri batik beroperasi kembali. Hingga
sekarang, legal masih memiliki banyak industri batik.
8) Purworejo
Pembatikan di Purworejo muncul pada awal abad XIX dengan datangnya para
pembatik dari Yogya dan Solo. Perkembangan kerajinan batik di Purworejo sangat
lambat dan sebagian besar hanya digunakan untuk konsumsi keluarga. Tidak banyak
perkembangan batik di wilayah ini, tetapi batik di sini menjadi penting karena
coraknya sangat dipengaruhi oleh gaya keraton. Hal ini terjadi karena pembatik di sini
sebagian besar adalah orang-orang. keraton yang ikut mengungsi ketika perang terjadi
di Yogya dan Solo.
Keberadaan batik keraton di Purworejo inilah yang membuat banyak
pedagang Cina melakukan pembelian di kota ini. Jadi, secara tidak langsung
Purworejo menjadi cukup populer di lingkungan pedagang dan pengusaha batik,
terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan batik keraton dengan harga yang lebih
murah.
Dengan keberadaan pesanan dari para pedagang dan pengusaha, para ibu yang
semula hanya membuat batik untuk konsumsi keluarga pun membuat lebih banyak
batik, meskipun tidak secara terang-terangan memproduksi dalam jumlah banyak
seperti industri batik yang terjadi di daerah-daerah lainnya. Dan jumlah pembatik
yang sedikit di kota ini pun tidak menyurutkan para pengusaha untuk datang karena
motif batiknya berbeda dan sangat kental dengan warna batik keraton. Suatu kekhasan
yang tidak banyak ditemukan dari daerah batik lainnya.
9) Tasikmalaya
Tasikmalaya merupakan daerah basis pembuatan batik. Di sana banyak pohon
tarum yang digunakan untuk pembuatan batik. Sentra pembuatan batik di
Tasikmalaya adalah Desa Wurug, Sukapura, Maronjaya, dan Kota Tasikmalaya. Batik
di Tasikmalaya sudah dipengaruhi oleh pembuatan pewarnaan dari soga karena
datangnya pengusaha-pengusaha batik dari Jawa Tengah, seperti Tegal, Pekalongan,
Banyumas, maupun Kudus.
Pengusaha-pengusaha batik ini pindah ke Jawa Barat ketika terjadi peperangan
di Jawa Tengah, yaitu pada abad XVII. Tidak mengherankan kalau produksi batik
tasikmalaya di masa sekarang merupakan batik-batik campuran, baik dalam segi
corak maupun warnanya. Batik tasikmalaya merupakan perpaduan antara batik
tasikmalaya dengan batik-batik asal Pekalongan, legal, Banyumas, Kudus, maupun
Kebumen.
10) Ciamis
Batik juga dikenal di daerah Ciamis mulai awal abad XIX setelah berakhirnya
Perang Diponegoro tahun 1830. Para pengikut Pangeran Diponegoro banyak yang
meninggalkan Yogya dan menuju selatan. Sebagian ada yang menetap di Banyumas,
sebagian yang lain meneruskan perjalanan menuju Ciamis atau Tasikmalaya.
Walaupun mereka telah berada di daerah baru, para pengikut Pangeran
Diponegoro tetap melanjutkan hidup dengan tata cara yang biasa mereka lakukan di
Yogya. Sebagian dari mereka ahli dalam pembatikan dan mengerjakannya sebagai
usaha rumah tangga. Lama kelamaan, pekerjaan tersebut berkembang pada penduduk
asli karena adanya interaksi dan pergaulan sehari-hari. Membatik telah meluas
menjadi pekerjaan keluarga, terutama di kalangan perempuan.
Bahan-bahan yang dipakai pada masa itu masih berupa bahan-bahan
tradisional. Kain yang digunakan adalah hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat
dari bahan alam, seperti dari pohon mengkudu, pohon torn, dan sebagainya. Motif
batik ciamis adalah campuran dari batik dari Jawa Tengah dan pengaruh daerah
Ciamis, terutama dalam hal motif dan warna. Di sinilah salah satu keistimewaan
batik-batik dari Ciamis. Perpaduan antara kedua tradisi yang sangat berbeda
menjadikan batik ciamis memiliki ciri khas.
Sampai pada awal abad XX, pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi
sedikit, ari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sekarang ini, batik ciamis
tidak banyak seperti di masa lampau.
Kenyataan bahwa masyarakat Ciamis lebih menyukai batik-batik dari Yogya,
Solo, atau Cirebon tidak menyurutkan atau mematikan keberadaan industri-industri
batik skala kecil di kota tersebut. Industri batik tetap memproduksi batik dan
memperluas pemasarannya ke luar daerah Ciamis. Kondisi ini semakin mantap karena
di kota ini terdapat koperasi batik yang beranggotakan para perajin batik, pedagang,
hingga pengusaha batik. Inilah yang menyokong agar industri-industri batik di Ciamis
tetap eksis.
11) Cirebon
Batik tumbuh sangat subur di daerah Cirebon. Batik cirebon berkaitan erat
dengan Kerajaan Kanoman, Kasepuhan, dan Keprabonan. Batik cirebon muncul di
lingkungan keraton dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar
keraton.
Batik di Cirebon sudah dikenal sejak abad XIII. Raja-raja dari kerajaan-
kerajaan di Cirebon sangat senang dengan lukisan-lukisan. Sebelum mereka mengenal
benang katun, lukisan menggunakan media daun lontar. Sangatlah dapat dimaklumi
kalau kemudian batik cirebon tetap eksis hingga saat ini, karena keberadaannya sudah
sangat lama dan terpelihara dalam lingkungan keraton maupun masyarakat
pendukungnya.
Sebagian besar batik cirebon bermotifkan gambar dengan lambang hutan dan
margasatwa. Corak-corak seperti merak ngibing sangat disenangi di kalangan
masyarakat Cirebon. Sedangkan motif laut dipengaruhi oleh alam pemikiran Cina
karena Kesultanan Cirebon di masa lampau pernah menyunting seorang putri dari
Cina. Batik cirebon yang bergambar garuda dipengaruhi oleh motif batik dari Yogya
dan Solo.
12) Garut
Garut adalah salah satu sentra pembuatan batik pesisiran yang sangat maju.
Sejak zaman kerajaan-kerajaan lama, di sini telah berkembang tradisi batik. Industri
batik di daerah ini sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang, 1942-1945. Namun
pada tahun 1949, usaha pembatikan pesisiran yang tumbuh pesat di Garut mulai
bergerak kembali dan dikerjakan oleh beberapa keluarga perajin.
Akhirnya, batik ini berkembang pesat di tahun 1960 sampai sekarang. Batik
Garut memiliki berbagai corak dan motif yang diproduksi secara massal untuk
kepentingan segala lapisan masyarakat.
Kemudian, banyak industri batik rumah tangga di kota ini yang berubah
menjadi industri menengah bahkan besar. Industri batik inilah yang turut
rnemperkokoh perekonomian masyarakat Garut secara umum.
13) Jakarta
Pembatikan di Jakarta dikenal dan berkembang bersamaan dengan
perkembangan batik di daerah-daerah lainnya, yaitu pada akhir abad XIX. Pembatikan
ini dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah. Daerah pembatikan yang
dikenal di Jakarta tersebar di sekitar Tanah Abang yaitu di daerah Karet, Bendungan
Hilir, Udik, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, dan Tebet.
Sebelum Perang Dunia I, Jakarta telah menjadi pusat perdagangan antar
daerah dengan pelabuhan Pasar Ikan. Setelah Perang Dunia I selesai, proses
pembatikan cap mulai dikenal di Jakarta. Produksi batik meningkat dan pedagang-
pedagang batik mulai mencari daerah pemasaran baru, yang meluas hingga ke luar
Pulau Jawa. Hal inilah yang turut mempercepat perkembangan batik di luar Pulau
Jawa.
Daerah pemasaran tekstil dan batik yang terkenal di Jakarta adalah Tanah
Abang, Jatinegara, dan Jakarta Kota. Yang terbesar adalah Pasar Tanah Abang.
Hingga sekarang pun, Pasar Tanah Abang masih menjadi pasar grosir tekstil terbesar
di Indonesia.
Batik-batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Kebumen, Ponorogo,
Tulungagung, Mojokerto, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon, dan daerah-
daerah lain di Indonesia bertemu di Pasar Tanah Abang. Dari sini, pedagang-
pedagang besar mengirimnya ke daerah-daerah di luar Pulau Jawa.
Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Tanah Abang dan bahan-
bahan baku batik diperdagangkan di tempat yang sama, timbullah pemikiran dari
pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di Jakarta yang
berdekatan dengan Tanah Abang.
Pengusaha-pengusaha batik yang muncul sesudah Perang Dunia I terdiri dari
bangsa Cina. Buruh-buruh batiknya didatangkan dari daerah-daerah pembatikan di
Kebumen, Pekalongan, Yogya, Solo, dan lain-lain. Selain dari buruh batik luar Jakarta
itu, maka diambil pula tenaga-tenaga setempat sebagai pembantu. Usaha pombatikan
kemudian meluas pada penduduk asli di sekitar Tanah Abang.
Motif dan proses batik Jakarta sesuai dengan asal para buruh. Bahan-bahan
baku batik yang dipergunakan adalah hasil tenunan tradisional dan obat-obatnya
merupakan hasil ramuan sederhana dari pohon mengkudu, kunyit, dan sebagainya.
Pengaruh kain dan budaya Betawi juga ikut memperkaya corak dan warna
batik-batik khas Jakarta. Para pengusaha Cina pada umumnya memberikan kebebasan
penuh kepada para buruh batiknya untuk melakukan kreasi terhadap pola, corak, dan
warna batik. Inilah yang membuat batik Jakarta berkembang lebih pesat dan
mendorong majunya perdagangan.
14) Padang
Permintaan batik yang terus meningkat di luar Pulau Jawa memicu
perkembangan industri batik di beberapa kota besar di luar Pulau Jawa, contohnya
Kota Padang, Sumatera Barat. Sebelumnya, daerah ini hanya merupakan daerah
konsumen batik, terutama batik-batik dari Pekalongan, Solo, dan Yogya.
Melihat tingginya permintaan batik, sebagian besar pengusaha asli Padang
mulai menggerakkan usaha batik. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah
pendudukan Jepang, sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa.
Dengan hasil karya sendiri dan penelitian yang saksama terhadap batik-batik
yang dibuat di Jawa, maka ditirulah pembuatan pola-polanya dan diterapkan pada
kayu sebagai alat cap. Obat-obat batik yang dipakai juga hasil buatan sendiri, yaitu
dari mengkudu, kunyit, gambir, damar, dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambil
dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan.
Setelah Padang dan kota-kota lainnya menjadi daerah pendudukan tahun 1949,
banyak pedagang batik membuka perusahaan-perusahaan batik dengan mengimpor
bahan dari Singapura melalui pelabuhan Padang dan Pekanbaru. Setelah hubungan
dengan Pulau Jawa terbuka kembali, para pedagang ini kembali berdagang dan
melupakan usaha batiknya. Hingga saat ini, produksi batik di Padang masih banyak
dan cukup maju, meskipun tetap kalah jauh bila dibandingkan dengan produksi batik
di kota-kota batik di Jawa.
15) Riau
Daerah Riau juga merupakan daerah sentra pembuatan batik. Pengembangan
ini berasal dari pedagang-pedagang batik di Padang. Perluasan usaha telah membuat
sebagian pedagang batik di Padang melirik kota ini untuk pengembangan batik. Batik
riau sangat khas, baik corak maupun warnanya, karena adanya pengaruh Melayu yang
sangat kuat.
Walaupun proses pembuatannya menggunakan cara yang sama dengan sistem
pembatikan, batik riau sering tidak diakui sebagai batik karena coraknya yang sangat
berbeda dengan motif batik pada umumnya. Warnanya yang lebih terang karena
pengaruh Melayu sering membuat batik dari daerah ini dianggap sebagai bukan batik,
tetapi kain yang bermotif batik.
Motif batik yang banyak digunakan pada batik riau adalah motif flora
(tumbuh-tumbuhan), rangkaian geometris, dan simbol-simbol lokal yang sangat kental
warna Melayu. Motif batik di sini sangat khas, sehingga tidak dapat dimasukkan
dalam golongan batik keraton maupun batik pesisiran.
Sebagian besar banyak yang mengatakan batik riau termasuk dalam batik
pedalaman. Batik ini memiliki ciri dan tanda-tanda yang khas, yang sangat berbeda
dengan batik keraton dan batik pesisiran. Namun keberadaan batik di Riau ini sangat
penting karena telah menunjukkan bagaimana tradisi melukis pada kain juga ada di
daerah Melayu dan memadukannya dengan unsur-unsur pembatikan yang sangat eksis
di Pulau Jawa.
16) Jambi
Batik di Jambi memiliki riwayat yang lebih kurang sama dengan batik di Riau.
Pengaruh Melayu sangat kuat, baik dalam motif maupun pewarnaannya. Namun batik
di Jambi dipengaruhi pula oleh tradisi Cina, sehingga batik-batik model encim yang
merupakan pakaian bangsa Cina banyak ditemukan di daerah ini. Corak khas Jambi
yang terang dan merah pun sangat banyak ditemukan di dalam batik ini. Namun, ada
juga beberapa corak yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Islam.
Sebagai daerah yang sudah banyak berinteraksi dengan bangsa asing, J.irnbi
mampu menampilkan corak batik yang sangat khas dan tidak ada duanya. Warna-
warna emas dan terang (terutama merah) sangat banyak digunakan dalam berbagai
keperluan. Ini juga dipengaruhi oleh tradisi Cina yang memiliki kopercayaan bahwa
warna merah terang membawa keberuntungan bagi para pemakainya.
17) Lampung
Walaupun Lampung cukup dekat dengan Jakarta, corak batik dan
perkembangan batik di daerah ini sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Batik di sini
umumnya sangat dipengaruhi oleh kultur Lampung, didominasi dengan corak
geometris dengan warna dasar biru.
Perkembangan batik di sini cukup pesat untuk memenuhi kebutuhan di
lingkungan Lampung dan sekitarnya. Tradisi penggunaan pakaian adat yang cukup
megah dan memberatkan pun sangat memengaruhi perkembangan batik yang dirasa
praktis, mudah, dan sangat enak dipakai.
18) Pontianak
Pengaruh corak tekstil suku Dayak sangat kuat di daerah ini. Walaupun teknik
pembuatannya sama seperti batik, tetapi karena corak dan warnanya lebih mirip kain-
kain khas Kalimantan, batik dari daerah ini sering tidak dianggap sebagai batik sama
halnya dengan batik dari daerah Kalimantan lainnya.
Perlu diingat, batik di wilayah Nusantara sudah ada sejak zaman Majapahit.
Kalimantan sebagai bagian kekuasaan Majapahit juga mengenal tradisi pembatikan
ini, meskipun tidak sepesat dengan yang ada di Pulau Jawa.
Keberadaan kota ini sangat penting dalam perkembangan batik di Nusantara
karena di kota inilah batik lahir dengan corak dari Jawa yang dipadukan dengan
Warna serta corak yang khas dari Kalimantan.
19) Toraja
Toraja merupakan salah satu daerah di Sulawesi yang memiliki banyak
perkembangan batik. Batik toraja tidak sama dengan batik-batik di Jawa. Pada
umumnya, corak batik toraja adalah dasar terang dengan warna putih dengan gambar
berwarna biru. Motifnya lebih mirip tradisi zaman lampau, yaitu lukisan dari zaman
prasejarah yang meliputi manusia, hewan, tumbuhan dengan bentuk-bentuk yang
khas.
Di masa kini, batik toraja sering dianggap sebagai kain atau tekstil bercorak
batik. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar karena batik toraja juga menggunakan
proses pembuatan batik seperti cara membuat batik pada umumnya. Namun coraknya
yang tidak biasa membuatnya sulit untuk digolongkan ke dalam batik.
Di masa kini, dengan banyaknya banyaknya batik bercorak Jawa dijual di
Sulawesi, batik toraja semakin tidak dikenali. Namun peranan batik toraja di masa
lampau telah memperkaya khazanah batik dengan warna dan coraknya yang khas.
20) Makassar
Di Makassar, corak batik cenderung dipengaruhi oleh Islam. Penggambaran
makhluk-makhluk bernyawa selalu menggunakan simbol-simbol dalam bentuk
geometris yang tidak tampak sebagai makhluk bernyawa.
Sebagai bentuk kuatnya pengaruh Islam di daerah ini, corak-corak kain batik
di sini pun cenderung menggunakan motif flora, bunga-bunga, serta benda-benda
secara geometris. Walaupun cukup banyak batik di daerah ini, tetapi sebagian besar
hanya dikonsumsi secara terbatas di lingkungan keraton. Masyarakat tidak Uinyak
menggunakan batik karena mereka lebih senang menggunakan kain asli daerah
Makassar.
21) Bali
Bali sangat terkenal dengan pantainya yang indah dan tradisi ritual yang
kental. Kondisi ini juga sangat memengaruhi sejarah dan perkembangan batik di Bali.
Sebagian besar batik bali berwarna terang dengan motif flora dan binatang.
Model dan corak kain batik bali lebih mirip dengan kain-kain pantai di masa
klni. Sebagian lagi menggunakan model-model putri Bali yang sedang menari. Oleh
karena itu, batik bali sering dianggap bukan batik walaupun proses pembuatannya
sama dengan proses pembatikan di Jawa.
22) Flores
Kain tenun dari Flores sangatlah terkenal. Pola, motif, corak, hingga warna
kain tenun tersebut juga sangat memengaruhi perkembangan batik di daerah ini.
Corak-corak dengan warna gelap maupun warna kontras sangat banyak ditemukan di
daerah ini, walaupun ada beberapa corak yang mirip dengan batik jawa.
Batik flores sangat khas karena tidak hanya mengandalkan warna-warna yang
udah terbiasa digunakan di Jawa. Flores memiliki banyak tumbuhan khas yang dapat
digunakan sebagai bahan pewarna yang tidak ada di daerah lain. Keadaan lilah yang
menjadikan warna-warna batik flores sangat berbeda dengan warna batik-batik dari
Jawa.
23) Ambon
Cara pembuatan batik di daerah ini sama seperti proses batik di Jawa. Namun
perbedaan yang sangat menonjol di sini adalah corak-corak dan pewarnaannya.
warna-warna cerah dan terang sangat dominan pada batik-batik ambon.
24) Abepura (Papua)
Di Papua, tidak hanya ada pakaian suku Asmat yang biasa dikenal dengan
koteka. Namun di sana juga ada tradisi pembatikan, terutama di Abepura. Kebiasaan
ini memang hanya ada di lingkungan ningrat Papua. Jadi, tidak aneh kalau masyarakat
luas Papua secara umum tidak mengenal pembatikan.
Corak dan warna batik abepura juga sangat dipengaruhi oleh segala sesuatu
yang khas Papua. Corak-corak seperti patung Asmat, lingkungan alam, dan warna-
warna gelap sangat dominan di dalam batik abepura. Meskipun demikian, banyak
juga batik yang corak dan motifnya ditiru dari batik-batik Jawa, tetapi dimodifikasi
dan dikembangkan dengan warna lokal Papua.

Dengan tidak adanya catatan tertulis yang mencukupi tentang batik, asal mula
batik di Indonesia sampai saat ini sebenarnya masih belum jelas karena banyak perbedaan
pendapat. Satu hal yang pasti, batik telah dikenal di Indonesia sejak lama dan merupakan
tradisi serta warisan budaya turun-temurun yang asli dari Indonesia.
Di India Selatan, batik pertama kali dibuat pada tahun 1516, yaitu di Palekat dan
Gujarat dalam lukisan malam, yang kemudian disebut dengan kain palekat.
Perkembangan batik di India mencapai puncaknya pada abad XVII-XIX, sedangkan batik
di Indonesia sudah muncul sejak abad XIII dan mencapai kesempurnaan pada sekitar
abad XIV-XV, pada waktu Kerajaan Mataram Islam mulai eksis.
Batik di Jepang, disebut ro-kechi, diperkenalkan pada masa Dinasti Nara. Batik
juga muncul di Cina pada zaman Dinasti Tang. Selain itu, ada juga batik di Bangkok dan
Turkistan Timur. Desain batik dari daerah-daerah tersebut umumnya bermotif geometris.
Batik di Indonesia berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit
sebagai kerajaan besar yang kemudian diteruskan oleh kerajaan-kerajaan berikutnya.
Pertemuan bangsa Indonesia dengan berbagai bangsa, seperti Cina, Arab, Belanda,
Portugis, Spanyol, Inggris, India, Melayu, Jepang, dan lain-lain pada masa lampau telah
turut mewarnai perkembangan motif dan tata warna seni batik. Contohnya adalah batik
jlamprang yang terinspirasi dari negeri India dan negeri Arab. Ada pula batik encim dan
batik klengenan yang dipengaruhi oleh gaya berpakaian orang China. Serta batik pagi
sore dan hokokai yang berkembang di masa pendudukan Jepang.
Pada awalnya, batik ditulis dan dilukis pada daun lontar. Pada saat itu, pola atau
motif batik masih didominasi dengan bentuk tanaman dan binatang yang ada di sekitar
lingkungan. Seiring dengan perkembangan zaman, motif-motif tanaman dan binatang
tersebut berkembang menjadi motif abstrak, seperti awan, relief candi, wayang, dan lain-
lain.
Jenis dan corak batik tradisional sangatlah banyak dan tiap daerah penghasil batik
memiliki corak dan variasi sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing. Jadi,
dapatlah dimengerti kalau kemudian corak batik yogya berbeda dengan corak batik
cirebon, misalnya. Inilah yang justru menambah kekayaan corak dan motif batik di
Nusantara.
Sebelum dikenal teknik batik dengan menggunakan malam, telah dikenal cara
menahan warna pada kain dengan teknik yang lebih sederhana. Hal ini tampak dalam
pembuatan kain simbut di Banten yang menggunakan nasi pulut yang dilumatkan dan
dicampur air gula. Bukti ini mendukung bahwa batik di Indonesia memiliki cikal bakal
teknik pewarnaan yang asli dan membantah pandangan bahwa batik kita berasal dari
India karena pengaruh Hindu. Selain itu, penamaan batik yang berasal dari kata-kata
bahasa Jawa sebenarnya telah cukup bisa mematahkan berbagai argumentasi bahwa batik
di Indonesia lahir karena pengaruh asing.
Batik di Indonesia memperlihatkan bagaimana masyarakat Indonesia dengan arif
bijaksana mentransformasi budaya yang dikenalnya ke dalam budayanya masing-masing
tanpa meninggalkan jati diri dan warna lokalnya. Di dalam proses transformasi tersebut,
tampak adanya kekuatan besar untuk melahirkan budaya-budaya baru yang diterima oleh
kedua belah pihak yang saling memengaruhi.
Jadi, sangatlah tepat kalau UNESCO-pada tanggal 2 Oktober 2009-menetapkan
batik sebagai warisan budaya dunia asli dari Indonesia. Beberapa alasan yang menyatakan
bahwa batik adalah hasil budaya asli Indonesia yaitu sebagai berikut:
1. Teknik dasar batik, yaitu menutup bagian kain tidak berwarna, tidak hanya dikenal di
daerah-daerah yang langsung terkena kebudayaan Hindu (Jawa dan Bali), tetapi juga
dikenal di Toraja, Flores, dan Papua.
2. Pemberian zat warna dengan atau dari bahan-bahan tumbuhan setempat dikenal di
seluruh wilayah Nusantara.
3. Penggunaan malam sebagai penutup dalam pembatikan asli dari Indonesia berasal
dari Palembang, Sumbawa, dan Timor.
4. Teknik mencelup dengan cairan merah yang dingin beda dengan teknik pencelupan
panas yang dilakukan di India.
5. Pola geometris sudah dikenal di seluruh wilayah Nusantara, jauh sebelum terjadi
interaksi antara pedagang Nusantara dengan pedagang dari India.
6. Menurut sejarah, batik di Nusantara sudah dikenal dan berkembang pada masa
Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad XIII. Padahal perkembangan teknik celup di
India baru mulai abad XVII. Pada masa ini (abad XVII), batik nusantara telah menjadi
bagian budaya, baik di kalangan kerajaan maupun rakyat Nusantara. Artinya, jauh
sebelum abad tersebut, batik telah hidup dan berkembang subur di wilayah Nusantara
dengan adanya Kerajaan Majapahit.
7. Penggunaan batik sebagai busana pada saat itu membuat batik mengalami banyak
perkembangan bentuk dan pola. Pola yang ada memiliki perbedaan tersendiri antara
batik yang berkembang di keraton dan di luar keraton yang disebut juga batik
pesisiran. Selain kedua jenis batik ini, ada juga batik-batik lain yang berkembang
dengan bentuk dan pola khas yang berbeda dengan batik keraton atau pesisiran, yang
disebut batik pedalaman.

Untuk memudahkan pemahaman, maka sejarah batik di Nusantara dalam bab ini
akan dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu sebagai berikut:
1. Batik keraton (batik kalangan keraton, misalnya Keraton Yogya dan Keraton
Solo)yang memiliki ragam khusus, hiasan bersifat simbolis, berlatarkan budaya
Hindu, Budha, dan Islam, serta memiliki warna-warna yang cenderung netral atau
kalem seperti sogo (merah), indigo (biru), hitam, cokelat, dan putih.
2. Batik pesisiran (batik pekalongan, indramayu, cirebon, garut, lasem, dan madura)
yang memiliki ragam hiasan natural dan dipengaruhi oleh berbagai budaya asing
karena pesisir (pantai) adalah tempat pertemuan berbagai bangsa (pelabuhan). Warna-
warna di dalam batik pesisiran sangat beraneka ragam dan lebih berani tampil
mencolok.
3. Batik pedalaman (batik bali, lampung, abepura, dan lain-lain). Batik pedalaman
memiliki motif, corak, dan ragam hiasan yang berbeda dengan batik keraton maupun
batik pesisiran. Batik-batik ini sangat eksis di daerah masing-masing, tetapi sering
dianggap bukan batik, bahkan sering disebut kain bermotif karena corak dan
warnanya yang keluar dari pakem (aturan) corak dan warna batik,, meskipun cara dan
pembuatannya mengikuti proses pembuatan batik. Namun di luar semua itu,
keberadaan batik pedalaman ini telah ikut mewarnai sejarah perkembangan batik di
Nusantara.

Berikut ini adalah uraian lebih detail tentang sejarah perkembangan batik di
Nusantara berdasarkan tiga kelompok besar yang telah disebutkan.

B. Batik Keraton
Walaupun ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa batik dimulai di negara
lain, lalu dibawa dan dikembangkan di Indonesia, ada pendapat lain yang mengatakan
bahwa batik benar-benar asli Indonesia dan berkembang pesat akibat kekuasaan Kerajaan
Majapahit dan karena adanya pengaruh berbagai jenis pakaian dan pewarnaan, serta motif
corak dan kebudayaan bangsa lain yang datang ke Indonesia.
Perdebatan tersebut sangat masuk akal mengingat bahwa teknik pembuatan motif
dengan menggunakan malam dapat ditemukan di banyak tempat di seluruh dunia,
diantaranya Jawa, India, Mesir, Jepang, Srilanka, Cina, Turki, Afrika, bahkan di sebagian
besar daerah lain di Nusantara. Semua teknik pembuatan motif tersebut menghasilkan
kain sejenis batik.
Jawa, sebagai salah satu tempat penting dalam teknik pembuatan motif dengan
malam, memiliki sejarah perkembangan batik yang luar biasa. Kalau berbicara soal batik
di Indonesia, kita pasti tidak dapat memisahkan pembicaraan tersebut dengan batik jawa.
Batik jawa memang sangat istimewa, baik dari bentuk, motif, corak, maupun sejarah
panjang yang melingkupinya.
Semenjak berdirinya Kerajaan Mataram Islam di Jawa, batik jawa mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Selain berkembang pesat, batik di Jawa juga
mengalami persebaran yang meluas. Perkembangan itu semakin pesat pada awal abad
XIX. Kemajuan teknologi telah membuka kelancaran jalinan komunikasi antar daerah,
sehingga informasi pun dapat menyebar dengan pesat.
Implikasinya pada batik adalah kemudahan dalam memperoleh bahan baku hingga
pemasarannya. Inilah yang membuat batik berkembang semakin pesat.
Batik jawa (khususnya yogya dan solo) merupakan batik yang sarat dengan makna
perlambangan dan simbol-simbol filosofis. Batik keraton sangat erat kaitannya dengan
falsafah kebudayaan Jawa dan bersumber pada pemikiran masyarakat Jawa yang sentral
atau berpusat di keraton. Dengan demikian, batik jawa sering dianggap sebagai batik
keraton yang memiliki kandungan rohaniah, yaitu sebagai media perenungan dan
meditasi.
Kegiatan membatik bagi kalangan keraton adalah sebagai media untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Batik di kalangan keraton juga
berkaitan dengan tingkat keningratan atau kebangsawanan. Ada corak-corak tertentu yang
hanya boleh dipakai oleh raja dan keluarga dekatnyai Biasanya corak-corak seperti ini
disebut dengan corak larangan, artinya masyarakat umum yang bukan trah keraton atau
golongan bangsawan tidak boleh mengenakannya.
Keberadaan batik yogya tentu tidak lepas dari sejarah berdirinya Kerajaan
Mataram Islam oleh Panembahan Senopati (Hamengkubuwono I). Setelah memindahkan
pusat kerajaan dari Pajang ke Mataram, dia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau
Jawa, antara lain Parang Kusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelusuri tebing
Pegunungan Seribu yang tampak seperti "pereng" atau tebing berbaris. Sebagai Raja Jawa
yang tentu saja menguasai seni, keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan
pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman (pakaian) Mataram yang
berbeda dengan pola batik sebelumnya.
Oleh karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh
keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan
keturunannya di lingkungan keraton. Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan
Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Corak larangan biasanya digunakan di lingkungan
keraton sebagai busana kebesaran keluarga keraton, untuk keperluan upacara kelahiran,
upacara perkawinan, dan upacara kematian. Batik tersebut digunakan sebagai kain
panjang, sarung dodot, selendang, ikat kepala, maupun kemben.
Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta
dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana, termasuk di dalamnya adalah
batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal
inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta sebagai kiblat perkembangan
budaya, termasuk pula khazanah batik. Kalaupun batik di Keraton Surakarta memiliki
beragam inovasi, sebenarnya motif pakemnya lotap bersumber pada motif batik keraton
Yogyakarta.
Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas
dalam tampilan warna dasar putih yang sangat bersih. Pola geometri Kasultanan
Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian di antaranya diperkaya dengan parang
dan nitik.
Sementara itu, batik di Pura Pakualaman merupakan perpaduan antara pola hcitik
kasultanan Yogyakarta dan warna batik keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sojak
adanya hubungan keluarga yang erat antara Pura Pakualaman dengan Keraton Surakarta
ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X.
Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada
batik pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya. Dua pola pola yang
terkenal dari Pura Pakulaman adalah pola candi baruna yang terkenal sejak sebelum tahun
1920 dan peksi manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola
batik kasultanan Yogyakarta yang terkenal antara lain ceplok blah kedaton, kawung,
tambal nitik, parang barang bintang leider, dan lain-lain.
Batik keraton atau yang disebut juga batik klasik ini sarat akan nilai-nilai filosofi
akibat adanya pengaruh pemikiran religi dan sopan santun yang mencerminkan budaya
keraton. Batik keraton merupakan batik dengan motif tradisional, terutama yang semula
tumbuh dan berkembang di keraton-keraton Jawa.
Tata susunan ragam hias dan pewarnaan batik keraton merupakan paduan
mengagumkan antara karya seni, adat, pandangan hidup, dan kepribadian lingkungan
yang melahirkannya, yaitu lingkungan keraton. Sebagian besar motif batik keraton
mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa yang pada zaman Pajajaran dan Majapahit
berpengaruh sangat besar dalam seluruh tata kehidupan dan kepercayaan masyarakat
Jawa. Kemudian, datangnya Islam di Pulau Jawa turut menampakkannuansa Islam dalam
bentukhiasanyang berkaitan dengan manusia dan satwa di dalam motif batik.
Pengaruh Hindu-Jawa tercermin jelas pada batik-batik keraton yang bermotif
semen. Burung garuda dan pohon hayat mencerminkan unsur mitologi Hindu-Jawa.
Sementara hiasan pengisi berupa ragam toru (tumbuh-tumbuhan) merupakan unsur asli
Jawa.
1) Perkembangan Batik Keraton
Pada awalnya, pembuatan batik keraton secara keseluruhan, yaitu sejak
penciptaan dan pembuatan ragam hias hingga pencelupan akhir, dikerjakan di dalam
keraton dan dibuat khusus untuk keluarga raja. Motif-motif dan pembatikannya
dikerjakan para putri keraton, sedangkan pekerjaan lanjutan dilaksanakan oleh para
abdi dalem. Dengan demikian, jumlah batikyang dihasilkan pun terbatas.
Seiring dengan kebutuhan batik di lingkungan keluarga kerabat keraton yang
semakin meningkat, pembuatan batik tidak mungkin lagi hanya bergantung pada para
putri dan abdi dalem keraton. Keadaan ini menyebabkan munculnya kcgiatan
pembatikan di luar keraton. Pembatikan di luar keraton mula-mula hanya dalam
bentuk kegiatan rumah tangga yang dikelola oleh para kerabat dan abdi dalem yang
tinggal di luar keraton.
Ketika kebutuhan batik meningkat pesat, usaha para kerabat dan abdi dalem
berkembang menjadi industri yang dikelola oleh para saudagar. Mereka
mempekerjakan para pembatik terampil dan mengawasi seluruh proses pombatikan.
Kehadiran saudagar pada batik di luar tembok keraton, yang semula hanya untuk
memenuhi kebutuhan lingkungan keraton, mendorong masyarakat di luar tembok
keraton yang semula memakai kain tenun untuk ikut mengenakan kain batik.
Gayung pun bersambut.. Para saudagar batik menangkap kesempatan dongan
membuat batik yang diperuntukkan bagi masyarakat luas. Sejak inilah batik keluar
dari keraton dan dapat digunakan oleh masyarakat luas, meskipun Masih dengan
aturan-aturan yang ketat, yaitu adanya motif-motif larangan untuk rakyat.
2) Batik Keraton Larangan
Perluasan pemakaian dan produksi batik di luar keraton menyebabkan pihak
Keraton Surakarta dan Yogyakarta membuat ketentuan mengenai pemakaian motif
batik. Ketentuan tersebutdiantaranya mengatursejumlah motif yang hanya boleh
dikenakan oleh raja dan keluarga keraton. Motif tersebut kemudian dikenal dengan
motif larangan. Motif larangan hanya terdapat di Keraton Yogyakarta dan Surakarta,
meskipun jenis masing-masing motif larangan tidak sama persis.
Pemberlakuan motif larangan di Keraton Yogyakarta lebih terperinci
dibanding yang berlaku di Keraton Surakarta. Pola batik yang termasuk larangan di
Keraton Yogyakarta antara lain motif parang besar, terutama motif parang rusak
barong, semen ageng, dan sawat gurdha. Semua motif parang, terutama parang rusak,
cemukiran, udan liris, dan berbagai motif semen yang menggunakan sawat ageng
merupakan motif larangan Keraton Surakarta.
Di luar aturan baku mengenai motif larangan di atas, motif sembagen huk juga
dianggap sebagai motif larangan. Anggapan ini kemungkinan besar muncul karena
rasa hormat kepada Sultan Agung Hanyakrakusuma, yaitu tokoh pencipta motif
tersebut.
Seiring dengan perkembangan zaman, pihak keraton melonggarkan kebijakan
mengenai motif larangan. Peraturan motif larangan sekarang hanya berlaku di dalam
keraton, terutama bila ada upacara-upacara adat atau upacara kebesaran. Motif
larangan sekarang menjadi motif batik yang dapat digunakan masyarakat umum.
3) Daerah Perkembangan Batik Keraton
Batik keraton sudah berkembang pada masa pemerintahan Sultan Agung
Hanyakrakusuma di Mataram awal pada abad XVII. Pada masa itu, Sultan Agung
Hanyakrakusuma menciptakan motif yang sebagian besar kemudian dikenal sebagai
motif larangan.
Politik pecah belah Belanda atas Mataram melahirkan Kasunanan Surakarta
dan Kasultanan Yogyakarta melalui perjanjian Giyanti tahun 1755. Berbagai motif
yang semula bersumber dari zaman Sultan Agung tersebut masing-masing
berkembang secara terpisah di kedua keraton sehingga menampilkan batik dengan
karya keindahan dan gaya yang berbeda.
a) Keraton Surakarta Hadiningrat
Batik keraton Surakarta penuh dengan isen halus. Warna batik surakarta
lembut, dari biru sampai kehitaman, krem, dan cokelat kemerahan. Motif batik
surakarta yang terkenal antara lain parang barong, parang curiga, parang sarpa,
ceplok burba, ceplok lung kestlop, candi luhur, srikaton, dan bondhet.
b) Pura Mangkunegaran
Motif Pura Mangkunegaran bergaya serupa dengan batik keraton
Surakarta, tetapi dengan warna soga cokelat kekuningan. Meski demikian, batik
dari Pura Mangkunegaran selangkah lebih maju dalam penciptaan motif. Hal ini
tampak dari motif batik yang beragam, antara lain buketan pakis, sapanti nata, ole-
ole, wahyu tumurun, parang kesit barong, parang sondher, parang klithik glebag
seruni, dan liris cemeng.
c) Keraton Yogyakarta
Batik keraton Surakarta dan Yogyakarta berasal dari satu sumber, yaitu
Kerajaan Mataram. Oleh karena itu, motif-motifnya memiliki banyak persamaan,
meskipun pada di kemudian hari terdapat beberapa perbedaan.
Batik yogyakarta mempunyai ciri khas, yaitu banyak bidang putih bersih
dan motif geometrisnya dibuat besar-besar, jauh lebih besar dibandingkan dengan
motif geometris di Surakarta. Beberapa contoh motif batik keraton Yogyakarta
yang terkenal antara lain ceplok belah kedaton, kawung, tambal nitik, ceplok noga
raja, parang kesit tumarutum.
d) Pura Pakualaman
Pada awalnya, wilayah Pakualaman merupakan bagian dari Kasultanan
Yogyakarta. Pada tahun 1813, Kasultanan dibagi menjadi Kasultanan
Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman sebagai akibat persengketaan antara
Kasultanan Yogyakarta dengan Letnan Gubernur Jenderal Inggris, Thomas
Stamford Raffles. Oleh karena itu, unsur budaya dan motif batiknya memiliki
banyak persamaan.
Gaya motif Pura Pakualaman berubah sejak Sri Paku Alam VII
mempersunting putri Sri Susuhunan Paku Buwono X. Motif batik pakualaman
kemudian tampil dalam paduan antara motif batik yogyakarta dan warna batik
keraton Surakarta. Motif batik pakualaman diantaranya canti baruna, peksi
manyura, parang barong seling sisik, parang klitik seling ceplok, parang rusak
seling huk, sawat manak, dan babon angrem.
e) Keraton Cirebon
Cirebon di bawah pemerintahan Sunan Gunung Jati merupakan pusat
kerajaan Islam tertua di Jawa dan sekaligus merupakan pelabuhan penting dalam
jal.ur perdagangan dari Persia, India, Arab, Eropa, dan Cina. Kedua keratonnya,
yaitu Kasepuhan dan Kanoman, menghasilkan batik dengan motif dan gaya yang
tidak terdapat di daerah lain.
Motif batik cirebon menunjukkan adanya pengaruh budaya Cina. Hal ini
tampak pada bentuk hiasan yang mendatar, seperti lukisan ragam hias khas mega
dan walasan dalam mega mendung dan walasan. Beberapa contoh batik lainnya
adalah batik hereto kasepuhan, kopal kandas, peksi naga liman, dan cento ponji.
f) Keraton Sumenep
Sumenep terletak di timur Pulau Madura yang masih memiliki keraton dan
terpelihara hingga sekarang. Berbeda dengan batik madura, batik sumenep
berwarna kecokelatan soga, hampir menyerupai batik dari Keraton Mataram.
Meski demikian, terdapat juga batik biru tua, hitam, dan putih, dengan tambahan
sedikit rona hijau dan merah.
Ragam bias sawat dan lar diperkirakan merupakan pengaruh Mataram
ketika Mataram menguasai Sumenep, walau kini ragam hias tersebut telah
mengalami banyak modifikasi. Beberapa contoh batik sumenep adalah lar, sekar
jagad, lereng, limar buket, dan corceno lobang.

C. Batik Pesisiran
Batik pesisiran adalah batik yang tumbuh subur di luar batik keraton. Pada
mulanya, batik pesisiran digunakan untuk kain panjang yang akan digunakan sebagai
kebaya dan sebagian besar untuk menggendong barang, menggendong anak, maupun
untuk bahan selimut. Fungsi ini tentu sangat berbeda dengan batik keraton yang tujuan
awalnya untuk kepentingan busana secara terbatas di lingkungan keraton.
Istilah "pesisir" muncul karena letaknya berada di daerah pesisiran utara pulau
Jawa seperti Cirebon, Indramayu, Lasem, dan lain sebagainya. Batik pesisiran ini lebih
kaya corak, simbol, maupun warna. Selain itu, batik jenis ini lebih moderat karena lebih
banyak dipengaruhi oleh corak-corak asing.
Pelabuhan dan pesisir sebagai tempat pertemuan berbagai bangsa dalam
perdagangan telah memunculkan berbagai perkembangan corak batik yang luar biasa.
Ragam hias pada batik ini biasanya natural yang merupakan gambaran tentang kehidupan
alam nyata, sebagai pengungkapan dari ciri-ciri bentuk alam dan peristiwa sehari-hari.
Warna dalam batik pesisiran juga sangat kaya ragam. Biasanya menggunakan
latar warna gading (jingga atau warna mangga yang hampir masak), biru tua, hijau tua,
cokelat tanah, hingga ungu. Sedangkan ragam hiasnya sangat dipengaruhi oleh unsur-
unsuryang menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan, seperti letak geografis, keadaan
alam, falsafah penduduk, sifat masyarakat, pola penghidupan, dan kepercayaan
masyarakat.
Usaha batik pesisiran ini secara komersial telah tumbuh pesat sejak masa Kolonial
Belanda. Namun usaha ini pernah berhenti pada masa pendudukan Jepang, yaitu sekitar
tahun 1942-1945 dan mulai bangkit kembali setelah Indonesia merdeka, sekitar tahun
1946.
Perjalanan sejaran batik pesisiran dapat digambarkan seperti berikut. Pada lahun
1656, utusan VOC Belanda datang ke ibukota Mataram. Pada saat itu, kegiatan kerajinan
masyarakat sudah sangat maju, seperti tenun, bordir, menjahit, membatik, dan lain-lain.
Menurut laporan Van der Kamp, pada tahun 1915 dibentuk komisi untuk
industrialisasi. Namun komisi ini ditujukan untuk menggarap bahan mentah menjadi
bahan jadi untuk kepentingan pemerintah penjajahan Belanda. Kemudian pada tahun
1918, bagian Kerajinan dibentuk di bawah Departemen Pertanian, dan kerajinan yang
mendapatkan perhatian pemerintah Hindia Belanda adalah pertenunan, keramik, bata
merah, dan perkulitan.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1949, usaha pembatikan pesisiran yang
tumbuh pesat di Garut mulai bergerak kembali dan dikerjakan oleh beberapa keluarga
perajin. Akhirnya, batik ini berkembang pesat hingga di tahun 1960. Hingga sekarang,
batik pesisiran yang ada di Garut menjadi salah satu sentra industri batik pesisiran yang
memiliki berbagai corak dan motif yang diproduksi secara massal untuk kepentingan
segaia lapisan masyarakat. Contoh motif batik pesisiran antara lain motif lereng arben,
lereng calung, cupat manggu, gambir saketi, kurung ayam, patah tebu, dan lain-lain.
Selain Garut, Indramayu juga memegang peranan penting dalam perkembangan
batik pesisiran. Batik indramayu termasuk ke dalanr jenis batik pesisiran jika dilihat dari
jenis motif yang ada. Mayoritas motif batik yang digunakan pada batik indramayu
menggambarkan kegiatan nelayan di tengah laut. Motif-motif batik di Indramayu
mendapat pengaruh besar dari gambar atau kaligrafi Arab. Corak-corak asli dari Cina,
Jawa Tengah, dan Jawa Timur, juga turut memengaruhi motif-motif batik indramayu.
Ciri yang menonjol dari batik indramayu adalah ragam flora dan fauna yang
digambarkan secara datar, dengan banyak lengkung dan garis yang meruncing (riritan).
Selain itu, batik indramayu juga menggunakan latar putin dan warna gelap dengan banyak
titik yang dibuat dengan teknik cocolan jarum, serta bentuk isen-isen atau sawut yang
pendek dan kaku.
Motif etong misalnya, menggambarkan berbagai satwa laut yang biasa dibawa
pulang oleh kalangan nelayan seusai melaut, seperti ikan, udang, cumi-cumi, ubur-ubur,
dan kepiting. Motif kapal kandas menyiratkan kapal nelayan yang sedang berada di batu-
batu karang sehingga terancam kandas. Motif ganggeng, sesuai namanya,
menggambarkan berbagai ganggang lautyang terdapat di Pantai Utara Jawa. Sedangkan
motif kembang gunda merupakan tumbuhan yang hidup di pesisir pantai dan bisa
dijadikan lauk.
Selain menggambarkan kegiatan di pesisir, motif batik khas Indramayu juga
menggambarkan kegiatan sehari-hari. Contohnya adalah motif swastika, merak ngibing,
kereta kencana, dan jati rombeng. Motif swastika diilhami oleh masa penjajahan Jepang.
Swastika, menu rut para perajin batik di Indramayu, menggambarkan kekerasan dan
penjajahan yang terjadi selama masa pendudukan Jepang. Motif merak ngibing diilhami
oleh keindahan burung merak. Sedangkan motif hereto kencana merupakan
penggambaran Raja Wilarodra yang sedang mengendarai kuda mengelilingi kerajaannya.
Batik pesisiran berkembang pesat di daerah-daerah pesisir yang merupakan
tempat pertemuan banyak pedagang, terutama di daerah-daerah pelabuhan besar. Di sini,
segala macam kebudayaan berinteraksi, saling memengaruhi, dan saling memperkaya
satu dengan lainnya. Keragaman itulah yang juga memperkaya ragam hias batik di
Nusantara.

D. Batik Pedalaman
Penyebutan batik pedalaman tidak dimaksudkan untuk mengucilkan batik ini dari
batik keraton maupun batik pesisiran. Penyebutan ini mengacu pada batik-batik dengan
ciri-ciri khusus yang tidak ditemukan pada batik keraton maupun batik pesisiran. Oleh
karena itu, batik-batik tersebut tidak dapat dimasukkan pada golongan batik keraton
maupun batik pesisiran. Ciri khasnya sangat berbeda dengan kedua golongan batik
tersebut.
Batik-batik ini terutama berkembang di luar Jawa dengan mengutamakan unsur-
unsur lokal yang kental. Ciri unik ini dipengaruhi oleh unsur-unsur daerah yang berbeda
dengan ciri-ciri umum di Jawa maupun pesisiran.
Artinya, batik di Nusantara tidak hanya ditemukan di lingkungan masyarakat
Jawa. Batik dapat dijumpai dan ditemukan hampir di setiap daerah di Nusantara. Masing-
masing daerah memiliki cara penggarapan seni kain seperti yang dilakukan pada proses
pembatikan. Tentu saja, mereka menggunakan unsur-unsur yang ada di daerah asal
mereka untuk mewarnai corak dan ciri khas kain yang dibuatnya. Lihat saja misalnya
pada batik bali, batik Sulawesi, batik kalimantan, batik abepura, batik bengkulu, dan lain-
lain. Warna dan coraknya sangat khas.
Teknik pembatikan untuk batik di Indonesia sangat beragam dan berkembang
sejak zaman Kerajaan Majapahit. Haruslah diingat bahwa di masa lampau, Kerajaan
Majapahit pada masa kejayaannya memiliki daerah kekuasaan yang sangat luas. Tidak
hanya meliputi wilayah Nusantara, tetapi beberapa negara tetangga, seperti Tumasik
(Singapura), Malaysia, Laos, Brunei, Papua Nugini, dan beberapa daerah lainnya.
Dengan kemajuan seni budaya Majapahit pada masa itu, tidaklah mengherankan
kalau semua wilayah kekuasaannya juga terpengaruh oleh seni dan budaya Majapahit,
termasuk dalam pembuatan batik. Masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri,
baik corak maupun warnanya, yang berbeda dengan batik keraton maupun batik pesisiran.
Secara umum, teknik pembuatan batiknya tetap sama. Namun pewarnaan, motif,
dan pernak-pernik pembuatannya biasanya berbeda, disesuaikan dengan kondisi dan
tradisi di lingkungan pembuatannya. Perbedaan yang paling mencolok dari masing-
masing daerah adalah motifnya yang disesuaikan dengan topografi dan kekayaan alam
masing-masing. Pembaharuan selalu dilakukan untuk pengembangan seni perbatikan.
Pengaruh dari unsur budaya asing yang datang juga muncul di dalam batik-batik tersebut
tanpa menghilangkan jejak keasliannya.
Kekhasan karakter batik tersebut menjadikan batik mengalami kategorisasi ketat
dalam aspek estetik dan teknisnya. Bentuk-bentuk corak dan pencorakan yang bukan
mencerminkan gaya pencorakan tradisional khas batik sering kali sulrt mendapatkan
pengakuan sebagai batik. Bahkan sering disebut "bukan batik" meskipun segala proses
pembuatannya sama persis dengan batik.
Daerah-daerah yang tidak memiliki sejarah batik, walaupun memiliki tekad dan
niat sungguh-sungguh untuk membuat batik, tidak mudah mendapat pengakuan akan
produk batiknya selain dari masyarakat pembuat batik di daerah tersebut. Penggunaan
nama daerah di belakang batik, seperti batik jambi, batik papua, batik betawi, dan lain-
lain mengikuti cara penamaan batik di Jawa, seperti batik solo dan batik pekalongan,
tetap tidak menyebabkan batik-batik dengan ciri khusus ini diakui sebagai anggota
lingkaran dalam keluarga besar batik jawa.
Meskipun demikian, batik-batik daerah yang tersebar di seluruh Nusantara ini
secara otomatis tetap masuk di dalam lingkaran keluarga besar batik. Batik-batik tersebut
telah memperkaya batik di Nusantara, yang tidak dapat ditandingi dalam hal corak dan
ciri khasnya oleh batik-batik dari negara lain.
Kondisi di atas akan tampak jelas bila kita datang ke suatu pameran batik. Batik-
batik dari luar daerah lingkaran keluarga batik jawa (batik yogya, solo, pekalongan),
biasanya termarginalkan dan kurang mendapatkan perhatian. Walaupun sebenarnya kain-
kain tersebut juga merupakan seni batik yang menggunakan teknik batik sama seperti
yang digunakan untuk pembuatan batik di Jawa.
Uniknya, walaupun tidak menggunakan teknik batik (printing, cap, tenun, dan
lain-lain), kalau motifnya batik, maka kain tersebut tetap disebut sebagai "batik".
Pandangan seperti inilah yang membuat perkembangan dan sejarah batik dari luar Jawa
sering kali tidak diperhatikan. Meskipun demikian, batik-batik pedalaman ini tetap eksis,
tumbuh, dan berkembang secara perlahan.
Batik pedalaman akan semakin eksis jikalau generasi muda turut mengembangkan
dan melestarikannya. Dengan demikian, corak khas kedaerahan dapat ditonjolkan. Inilah
yang menjadikan batik-batik pedalaman dari masing-masing daerah memiliki ciri khas
yang berbeda dengan batik-batik dari daerah Indonesia lainnya.
Di masa lalu, produksi batik di setiap wilayah berulang kali menjawab tantangan
melalui kreativitas. Kreativitas itulah yang berhasil menjadikan informasi eksternal
sebagai energi untuk membuat corak dan pencorakan baru, bahkan medium baru.
Pencorakan kreatif yang menerobos ke masa kini, menciptakan pencorakan yang
baru berdasarkan sikap terbuka terhadap perubahan dan informasi yang tersedia. Kreasi
batik di masa lalu telah membuatnya eksis hingga masa kini, maka dengan kreativitas
pula batik mulai mendunia. Para pengusaha batik tidak henti-hentinya mengembangkan
kreativitas terhadap batik agar eksistensi batik dan usahanya terus meningkat.
Semangat mengikuti perubahan dan perbaikan itulah yang membuat usaha dan
industri batik di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat dari tahun ke
tahun. Motif dan corak yang diciptakan pun semakin banyak dan beraneka ragam. Setiap
tahun, semakin banyak motif dan corak batik kita yang dipatenkan agar tidak dicuri atau
diklaim oleh negara lain.
Untuk inilah, generasi muda harus mengenali batik. Kecintaan terhadap batik yang
telah menjadi sangat besar tidak boleh berhenti pada euforia belaka. Kecintaan itu harus
diwujudkan dalam berbagai kegiatan nyata untuk melestarikannya. mulai dari memakai,
mengembangkan, memasarkan, menyebarluaskan, menciptakan tren baru sehingga lebih
mudah diterima publik, dan lain-lain.
Demikianlah gambaran singkat mengenai sejarah perkembangan batik di
Nusantara. Batik telah ada di seluruh Indonesia, tidak hanya di Jawa dan terbatas pada
Yogya, Solo, dan Pekalongan saja. Namun, kita tidak dapat memungkiri bahwa ketiga
kota di Jawa tersebut merupakan basis industri batik nasional yang hingga saat ini tetap
dijadikan sebagai rujukan dan referensi utama dalam urusan batik, baik untuk pembuatan,
motif corak, hingga perkembangannya.
Satu hal yang penting untuk kita cermati, seperti apa puncara pembuatannya,
bentuk, corak dan motif, bahkan medianya, pada kenyataannya batik adalah milik
Indonesia. Batik merupakan salah satu ikon kekayaan warisan budaya yang sangat
berharga. Kita wajib melestarikan budaya batik demi kebanggaan dan kejayaan bangsa di
masa-masa mendatang.
Keanekaragaman batik yang ada di Nusantara adalah suatu anugerah yang harus
kita kembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan banyaknya jenis batik, ada banyak peluang dan kesempatan yang bisa
dimunculkan untuk mencari pangsa pasar baru, baik di dalam negeri maupun di luar
negeri. Banyaknya permintaan batik karena luasnya daerah pemasaran akan semakin
mendorong majunya industri pembatikan di Indonesia. Kalau sudah demikian, secara
tidak langsung batik akan mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan para pelaku
industri batik secara umum.
RAGAM HIAS BATIK

Batik di Indonesia memiliki keragaman jenis, pola, motif, dan corak sesuai dengan
unsur-unsur daerah yang membentuknya. Batik bukan saja merupakan identitas visual artistik
dari keragamannya, tetapi juga merupakan identitas dan karakter budaya yang
membentuknya. Ragam hias batik sangat dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing yang
bersentuhan dengan budaya lokal.
Pada mulanya, batik memiliki ragam hias yang terbatas, baik corak maupun warnanya
dan hanya boleh digunakan oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisiran telah mampu
menyerap berbagai pengaruh luar, seperti dari para pedagang asing dan dari para penjajah.
Bangsa Eropa turut menaruh minat pada batik sehingga memengaruhi corak batik pada masa
itu. Ini terlihat dengan adanya corak bunga yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga
tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung dan kereta kuda), termasuk
warna-warna kesukaan mereka, seperti warna biru. Meskipun demikian, batik tradisional
tetap mempertahankan coraknya dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat.

A. Komponen Batik
Batik memiliki dua komponen utama, yaitu warna dan garis. Kedua komponen
inilah yang membentuk batik menjadi tampilan kain yang indah dan menawan. Tanpa
perpaduan warna dan garis yang serasi dan selaras, tidak mungkin ada hiasan-hiasan
maupun corak dan motif yang sesuai. Perpaduan tersebut sangat bergantung pada
pengolahan dan kreativitas sang pembatik.
1) Warna
Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya
sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan dari panjang gelombang
cahaya tersebut. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia
berkisar antara 380-780 nanometer.Sebagai contoh, warna biru memiliki panjang
gelombang 460 nanometer.
Dalam peralatan optis, warna bisa pula berarti interpretasi otak terhadap
campuran tiga warna primer cahaya, yaitu merah, hijau, biru yang digabungkan dalam
komposisi tertentu. Misalnya pencampuran 100% merah, 100% hijau, dan 100% biru
akan menghasilkan interpretasi warna magenta.
Dalam seni rupa, warna bisa berarti pantulan tertentu dari cahaya yang
dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Misalnya pencampuran
pigmen magenta dan cyan (biru) dengan proporsi tepat dan disinari cahaya putih
sempurna akan menghasilkan sensasi mirip warna merah.
Setiap warna mampu memberikan kesan dan identitas tertentu sesuai kondisi
sosial pengamatnya. Masyarakat penganut warna memiliki pandangan dan pemikiran
yang berbeda-beda terhadap warna. Ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan,
pandangan hidup, status sosial, dan lain-lain. Pemikiran terhadap warna sering pula
dipengaruhi oleh kondisi emosional dan psikis seseorang.
Misalnya warna putih akan memberi kesan suci dan dingin di daerah Barat
karena berasosiasi dengan salju. Sementara di kebanyakan negara Timur warna putih
memberi kesan kematian dan sangat menakutkan karena berasosiasi dengan kain
kafan. Meskipun secara teoretis sebenarnya putih bukanlah warna, tetapi netral.
Di dalam ilmu warna, hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis
gelombang warna. Sementara putih dianggap sebagai representasi kehadiran seluruh
gelombang warna dengan proporsi seimbang. Secara ilmiah, keduanya bukanlah
warna, meskipun bisa dihadirkan dalam bentuk pigmen.
Secara psikologis, orang bisa memberikan pemikiran yang berbeda terhadap
warna. Orang yang sedang jatuh cinta sering disimbolkan dengan warna pink atau
merah muda. Namun kenyataannya, setiap warna dapat menjadi warna cinta bagi
orang yang sedang jatuh cinta.
Warna-warna yang ada di alam sangat beragam dan pengelompokannya
adalah sebagai berikut:
a. Warna netral, adalah warna-warna yang tidak lagi memiliki kemurnian warna atau
dengan kata lain bukan merupakan warna primer maupun sekunder. Warna ini
merupakan campuran ketiga komponen warna sekaligus, tetapi tidak dalam
komposisi yang tepat sama.
b. Warna kontras, adalah warna yang berkesan berlawanan satu dengan lainnya.
Warna kontras bisa didapatkan dari warna yang berseberangan (memotong titik
tengah segitiga), terdiri atas warna primer dan warna sekunder. Tidak menutup
kemungkinan pula membentuk kontras warna dengan mengolah nilai atau pun
kemurnian warna. Contoh warna kontras adalah merah dengan hijau, kuning
dengan ungu, dan biru dengan jingga. Warna kontras biasanya digunakan untuk
memberikan efek yang lebih "tampak" dan "mencolok" perhatian.
c. Warna panas, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam
lingkaran warna mulai dari merah hingga kuning. Warna ini menjadi simbol dari
keadaan riang, semangat, marah, dan sebagainya. Warna panas mengesankan
jarak yang dekat.
d. Warna dingin, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam
lingkaran warna mulai dari hijau hingga ungu. Warna ini menjadi simbol dari
kelembutan, kesejukan, kenyamanan, dan sebagainya. Warna sejuk mengesankan
jarak yang jauh. Kondisi ini juga mencerminkan keselarasan yang ingin
ditunjukkan melalui warna.

Warna dapat diperoleh dengan bermacam cara. Zat pewarna dapat dibedakan
menurut sumber diperolehnya zat warna tekstil, terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Zat pewarna alam, diperoleh dari alam, yaitu berasal dari hewan (lac dyes) atau
pun tumbuhan dapat berasal dari akar, batang, daun, buah, kulit, dan bunga. Zat
ini biasanya dibuat secara sederhana dan umumnya memiliki warna yang sangat
khas.
b. Zat pewarna sintetis, adalah zat warna buatan (zat warna kimia).

Oleh karena banyaknya zat warna sintetis, maka untuk pewarnaan batik harus
dipilih zat warna yang memenuhi syarat berikut ini:
1) Pemakaiannya dalam keadaan dingin, atau jika memerlukan suhu panas,
prosesnya tidak sampai melelehkan malam.
2) Obat bantunya tidak merusak malam dan tidak menyebabkan kesulitan pada
proses selanjutnya.
3) Zat pewarna tersebut tidak menimbulkan iritasi bagi pembatik dan pengguna
batik.

Sebagian besar warna tekstil untuk batik dapat diperoleh dari produk
tumbuhan. Di dalam tumbuhan terdapat pigmen penimbul warna yang berbeda,
tergantung menurut struktur kimianya.
Para perajin batik telah mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai
bahan tekstil sejak dahulu kala. Beberapa tumbuhan yang dijadikan sebagai bahan
pewarna adalah daun pohon nila (Indofera), kulit pohon soga tinggi (Ceriops
andolleana Arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis). kunyit (Curcuma), teh
(Camellia sinensis), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal
(Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelono), dan daun jambu biji (Psidium
guajava).
Namun tidak semua bagian tumbuhan dapat digunakan sebagai zat pewarna.
Pada umumnya, golongan pigmen tumbuhan adalah klorofil, karotenoid, flavonoid,
dan kuinon. Pewarna nabati yang digunakan untuk mewarnai tekstil dapat
dikelompokkan menjadi empat tipe menurut sifatnya, yaitu sebagai berikut:
a. Pewarna langsung dari ikatan hidrogen dengan kelompok hidroksil dari serat;
pewarna ini mudah luntur. Contoh: kunyit (Curcuma).
b. Pewarna asam dan basa yang masing-masing berkombinasi dengan kelompok
asam basa pada kain wol dan sutra sehingga warna asam dan basa dapat melekat
dengan baik pada wol dan sutra; sedangkan katun tidak dapat kekal warnanya jika
diwarnai. Contoh: pigmen-pigmen flavonoid.
c. Pewarna lemak yang ditimbulkan kembali pada serat melalui proses redoks,
pewarna ini sering memperlihatkan kekekalan yang istimewa terhadap cahaya dan
pencucian. Contoh: tarum.
d. Pewarna mordan yang dapat mewarnai tekstil yang telah diberi mordan berupa
senyawa etal polivalen; pewarna ini dapat sangat kekal. Contoh: alizarin dan
morindin.

Dalam pencelupan dengan zat warna alam, pada umumnya diperlukan


pengerjaan mordanting pada bahan yang akan dicelup atau dicap. Dan proses
mordanting ini dilakukan dengan merendam bahan ke dalam garam-garam logam,
seperti aluminium, besi, timah, atau kromium.
Zat-zat mordan ini berfungsi untuk membentuk jembatan kimia antara zat
warna alam dengan serat sehingga afinitas zat warna meningkat terhadap serat.
Perubahan sifat fisika dan kimia kain sutra akibat pewarna alami kulit akar mengkudu
menunjukkan bahwa penggunaan pewarna mordan dapat mengurangi kelunturan
warna kain terhadap pengaruh pencucian. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa
mordan mampu mengikat warna sehingga tidak mudah luntur.
2) Garis
Garis adalah suatu hasil goresan di atas permukaan benda atau bidang gambar.
Garis-garis inilah yang menjadi panduan dalam penggambaran pola dalam membatik.
Menurut bentuknya, garis dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Garis lurus (tegak lurus, horizontal, dan condong).
b. Garis lengkung.
c. Garis putus-putus.
d. Garis gelombang.
e. Garis zig-zag.
f. Garis imajinatif.

Garis-garis inilah yang membentuk corak dan motif batik sehingga menjadi
gambar-gambar yang indah sesuai dengan yang diharapkan. Tanpa garis-garis yang
menjadi panduan ini, tidaklah mungkin terbentuk pola-pola batik yang sesuai. Garis-
garis tersebut akan dibentuk dan dikreasikan sesuai dengan motif yang diinginkan.

B. Kain untuk Batik


Ada bermacam-macam jenis kain yang digunakan untuk batik. Kain tersebut dapat
terbuat dari bahan sutra, katun prima, primisima, polisima, dobi, paris, atau shantung.
Jenis-jenis kain tersebut ini berbeda-beda tekstur maupun bahan dasarnya.
1) Kain Katun
Katun merupakan kain yang umum digunakan untuk batik. Ada beberapa
tingkatan dalam kain katun. Kain katun primisima lebih bagus dari katun prima, dan
kain polisima merupakan yang paling bagus. Masing-masing katun tersebut memiliki
beberapa tingkatan pula. Ada yang kasar dan tipis, lebih halus, tebal, paling tebal, dan
halus. Semua bergantung dari campuran serat kapas yang digunakan dalam
pembuatan kain tersebut.
2) Kain Shantung
Tekstur kain ini halus dan dingin. Kain ini juga terbagi dalam beberapa
tingkatan, dari yang tipis hingga tebal. Serat kain katun lebih kuat daripada kain
shantung.
3) Kain Dobi
Dobi dapat dikatakan sebagai kain setengah sutra. Ada beberapa tingkatan
dalam kain ini, seperti halnya katun prima dan primisima. Ciri khas kain dobi terletak
pada tekstur kasarnya. Jadi, pada kain dobi yang paling halus sekalipun, kita akan
merasakan serat-seratnya yang menonjol dan cenderung kasar. Inilah kekhususan kain
dobi.
4) Kain Paris
Teksturnya lembut dan jatuh. Bahannya tipis dengan serat kain yang kuat.
Kain paris pun memiliki tingkatan-tingkatan seperti kain-kain yang lain.
5) Kain Sutra
Bahan dasar kain sutra sangat mahal. Teksturnya lembut dan jatuh serta
mengkilap. Sangat nyaman digunakan dan terlihat eksklusif.
6) Kain Serat Nanas
Tekstur serat nanas kasar mirip dengan dobi. Kain tersebut mengkilap dan
biasanya terlihat sulur-sulur. Hampir semua kain mempunyai tingkatan, dari yang
paling kasar sampai yang paling halus, tergantung dari pencampuran bahan dasar pada
saat pembuatan kain.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jenis tekstil yang sangat
banyak. Hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki
banyak tumbuhan yang dapat digunakan untuk industri tekstil.
Oleh karena itu, banyak jenis kain yang bisa digunakan untuk batik. Pemilihan
kain untuk membatik sering dikaitkan dengan kepentingan, siapa pemakainya, serta
biaya yang dianggarkan.
Kekayaan batik di Indonesia rasanya mustahil ditandingi oleh negara-negara
lain. Apalagi kalau Indonesia terus-menerus berkonsentrasi mengembangkan batik
untuk berbagai kepentingan yang memiliki nilai ekonomis.

C. Jenis Batik
Jenis batik di Indonesia sangatlah bermacam-macam. Berbagai pengaruh dari
tradisi klasik sampai yang modern dan abstrak turut menyemarakkan jenis batik di
Indonesia. Banyaknya jenis batik di Indonesia juga disebabkan karena batik telah lama
berada di Indonesia, sejak kelahirannya pada masa Kerajaan Majapahit sampai saat ini.
Selain itu, banyaknya jenis batik di Indonesia juga disebabkan oleh interaksi
bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa asing, baik melalui hubungan persaudaraan,
terjadinya pernikahan antar bangsa, perdagangan, hubungan diplomatik, maupun karena
penjajahan bangsa Barat di Indonesia.
1) Batik Pecinan atau Cina
Bangsa Cina sudah lama dikenal sebagai bangsa perantau. Mereka juga
dikenal teguh dalam melestarikan adat budaya leluhurnya. Biasanya di negeri
perantauan, mereka tetap melestarikan budayanya. Mereka terbiasa memadukan
budaya mereka dengan budaya lokal sebagai bentuk akulturasi budaya.
Demikian juga yang terjadi di Indonesia, khususnya pada batik. Keturunan
dari para perantau Cina di Indonesia biasanya memproduksi batik untuk komunitas
sendiri dan diperdagangkan. Batik produksi mereka yang disebut batik pecinan
memiliki warna yang cukup variatif dan cerah. Dalam selembar kain, mereka dapat
menampilkan bermacam warna.
Motif yang digunakan pun banyak memasukkan unsur budaya Cina, seperti
motif burung huk (merak) dan naga. Biasanya pola batik pecinan lebih rumit dan
halus. Pada zaman dulu, batik pecinan yang berbentuk sarung dipadukan dengan
kebaya encim sebagai busana khas para perempuan keturunan Cina di Indonesia.
Pekalongan cukup terkenal dengan produksi batik pecinan. Batik-batik model encim
di masa sekarang juga sering diangkat sebagai tren mode pada masa tertentu, terutama
bila menjelang tahun baru Cina atau imlek.
2) Batik Belanda
Pada zaman penjajahan Belanda, banyak warga Belanda yang tinggal dan
menetap di Indonesia. Mereka juga berinteraksi dengan budaya lokal Indonesia. Sama
seperti warga keturunan Cina, warga keturunan Belanda juga banyak yang membuat
dan memproduksi batik. Batik yang dihasilkan warga keturunan Belanda mempunyai
ciri khas tersendiri dan sering disebut dengan batik belanda.
Motif yang digunakan pada batik belanda biasanya bunga-bunga yang banyak
terdapat di Eropa, seperti tulip, dan tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di negeri
asalnya. Batik model ini sangat disukai di Eropa. Batik belanda juga sangat banyak
diproduksi di Pekalongan sepanjang abad XIX-XX.
3) Batik Jawa Hokokai
Batik jenis ini muncul pada masa pendudukan Jepang, yaitu tahun 1942-1945.
Modelnya pagi sore, yaitu dalam satu kain terdapat dua pola atau corak yang berbeda.
Motif yang terbanyak adalah motif bunga, seperti bunga sakura dan krisan.
Hampir semua batik jawa hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang
sangat detail, seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih
diisi lagi, misalnya motif jepun (bunga padi).
4) Batik Rifa'iyah
Batik rifa'iyah mendapat pengaruh Islam yang kuat. Dalam budaya Islam,
motif-motif yang berhubungan dengan benda bernyawa tidak boleh digambarkan
sama persis sesuai aslinya. Oleh karena itu, corak dalam batik rifa'iyah yang berupa
motif hewan terlihat kepalanya terpotong. Dalam ajaran Islam, semua wujud binatang
sembelihan yang dihalaikan harus dipotong kepalanya. Biasanya warga keturunan
Arab memproduksi batik ini.
5) Batik Keraton
Pembuat batik di Pekalongan sering membuat batik yang motifnya merupakan
ciri khas dari batik keraton Yogyakarta atau pun Surakarta. Motif gaya keraton yang
biasanya dipakai yaitu motif semen, cuwiri, parang, dan lain-lain. Walaupun bermotif
pengaruh keraton, teknik pembuatan dan pewarnaannya menggunakan gaya
Pekalongan.
Dengan demikian, batik keraton produksi Pekalongan ini menjadi lebih unik
dan menarik. Ini karena gaya Pekalongan adalah gaya pesisiran yang lebih bebas dan
banyak mendapat berbagai pengaruh dari luar. Akhirnya, batik keraton yang
dihasilkan Pekalongan memiliki ciri-ciri yang sama dengan batik-batik keraton dari
Solo maupun Yogya, namun karakteristiknya telah menunjukkan adanya perubahan
yang kontras dalam hal warna maupun bentuknya.
Pada umumnya, motif batik keraton mengandung makna filosofi hidup. Batik-
batik ini pada mulanya dibuat oleh para putri keraton dan juga pembatik-pembatik
ahli yang hidup di lingkungan keraton. Dan pada umumnya, motif yang dipakai
adalah motif larangan.
6) Batik Sudagaran
Motif larangan dari kalangan keraton merangsang seniman dari kaum
saudagar untuk menciptakan batik motif baru yang sesuai selera masyarakat. Mereka
juga mengkreasikan motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat
umum.
Desain batik sudagaran umumnya terkesan "berani" dalam pemilihan bentuk,
stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi
warna soga dan biru tua.
Batik sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan
dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik sudagaran mengubah batik
keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga
tercipta batik yang sangat indah.
7) Batik Jawa Baru
Batik jenis ini diproduksi sesudah era batik jawa hokokai. Motif dalam dan
warna batik ini menyederhanakan batik jawa hokokai, tetapi masih berciri khas pagi
sore tanpa tumpal (hiasan lain). Kebanyakan menggunakan motif rangkaian bunga
dan lung-lungan.
8) Batik Jlamprang
Motif-motif jlamprang atau yang di Yogyakarta dikenal dengan nama nitik
adalah salah satu batik yang cukup populer diproduksi di daerah Krapyak,
Pekalongan. Batik ini merupakan pengembangan dari motif kain patola dari India.
Sebagian besar dari motif-motif jlamprang berbentuk geometris dan kadang
berbentuk bintang atau mata angin serta menggunakan ranting yang ujungnya
berbentuk segi empat. Batik jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu nama jalan
di Pekalongan. Ini terjadi karena banyaknya produksi batik jlamprang di Pekalongan.
9) Batik Terang Bulan
Desainnya berupa ornamen yang hanya ada di bagian bawah, baik itu berupa
lung-lungan atau berupa ornamen pasung, bagian atasnya kosong atau berupa titik-
titik. Batik terang bulan ini disebut juga dengan sebutan gedong atau rom-raman.
10) Batik Cap Kombinasi Tulis
Batik ini merupakan batik cap dengan proses kedua direntes atau dirining oleh
pembatik tulis sehingga batik kelihatan seperti ditulis. Hal ini dilakukan untuk
mempercepat produksi batik dan keseragaman. Namun, mereka yang terbiasa
menggunakan batik tulis tetap tidak menyenangi bentuk ini. Batik jenis ini biasanya
dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah.
11) Batik Tiga Negeri Pekalongan
Seperti halnya batik-batik negara lain, batik ini memiliki beberapa warna
dalam satu kain, yaitu warna merah, biru, dan soga yang semua dibuat di Pekalongan.
Kadang-kadang warna biru diganti dengan warna ungu dan hijau.
12) Batik Sogan Pekalongan
Batik sogan Pekalongan adalah batik dengan proses dua kali. Proses yang
pertama, latar putih diberi coletan dan untuk proses kedua, batik ditandai penuh atau
diberikan ornamen plataran berupa titik halus, baru setelah itu disoga. Batik yang
disoga terlihat klasik. Demikian pula yang terlihat pada batik sogan Pekalongan.
Namun perlu diingat, ini bukan jenis batik keraton. Orang sering mengartikan bahwa
segala sesuatu yang klasik itu adalah batik keraton. Padahal, tidak demikian adanya.
13) Batik Tribusana
Batik tribusana merupakan batik gaya baru yang cara proses keduanya direntas
atau riningan dan sebagian besar motifnya berupa lung-lungan lonjuran. Batik
tribusana ini ada yang bercorak dan ada juga yang polos.
14) Batik Pangan atau Batik Petani
Batik ini dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah pada
saat tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan
"sedikit aneh", serta tidak halus. Motifnya bermacam-macam dan paling banyak
disesuaikan dengan kondisi daerah pembuatnya masing-masing.
Batik ini dikerjakan secara sembilan sehingga tidak profesional.
Pewarnaannya pun hanya dipasrahkan kepada saudagar yang menjual bahan pewarna.
Jenis batik ini adalah salah satu pembuatan batik yang kurang kreatif. Ini karena
pembuatnya adalah mayoritas perempuan petani yang tidak memiliki keterampilan
khusus untuk membatik dan membatik bukan mata pencaharian hidup mereka.
15) Batik Coletan
Dalam batik ini, pewarnaan di sebagian tempat menggunakan sistem colet
dengan kuas dengan hanya sekali pencelupan, kecuali warna sogo. Warna-warna
lainnya menggunakan colet.
16) Batik Kemodelan
Batik kemodelan merupakan batik-batik modifikasi dari batik-batik klasik,
baik itu batik dari gaya Yogya maupun Solo. Batik ini dibuat dengan komposisi baru
dengan pewarnaan Pekalongan dan kelihatan modern. Hal ini sangat populer di zaman
Presiden Soekarno. Batik jenis ini merupakan salah satu ide Presiden Soekarno untuk
menjadikan batik yogya dan solo tampil lebih modern dan cerah.
Batik kemodelan ini sampai sekarang masih dapat ditemukan di berbagai
tempat yang menyediakan batik. Batik jenis ini cenderung disenangi oleh mereka
yang menginginkan sesuatu yang klasik, tetapi tetap tampil sesuai dengan tren.
Sekarang, jenis batik kemodelan ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga
kaya corak dan warna.
17) Batik Osdekan
Batik ini memiliki berbagai warna bayangan. Dalam suatu kain batik akan
timbul satu warna yang sudah jadi, kemudian bagian atas kain batik tersebut akan
dibatik lagi, kemudian ditimpa lagi dengan warna lain.
Warna yang digunakan untuk menimpa pun bermacam-macam, bisa warna
tua, muda, maupun campuran. Inilah yang membuat batik menjadi sangat kaya warna
dan seperti ada bayang-bayang sehingga tampak indah dipandang. Namun jika
pencampuran warnanya tidak bagus, hasilnya akan kurang memuaskan.
18) Batik Modern
Proses pewarnaan dan pencelupan batik ini telah menggunakan sistem baru.
Sistem tersebut dapat berupa gradasi, urat kayu, maupun rintang broklat. Motif-motif
ini adalah motif baru yang berhubungan dengan estetika. Komposisi gaya bebas.
Batik ini sangat populer pada tahun 1980 dan hingga sekarang masih banyak
diminati. Batik modern inilah yang mendorong perkembangan batik di Indonesia
karena lebih ekspresif, lebih bebas, dan dimodifikasi dengan berbagai ma cam tekstil
yang dapat digunakan oleh kalangan anak muda.
19) Batik Kontemporer
Batik ini terlihat tidak lazim untuk disebut batik, tetapi proses pembuatannya
sama seperti membuat batik. Warna dan coraknya cenderung seperti kain pantai khas
Bali atau kadang warna dan coraknya seperti kain sasirangan. Batik kontemporer
banyak dikembangkan oleh desainer batik untuk mencari terobosan-terobosan baru
dalam mengembangkan batik dan mode pakaian yang didesain.
Jadi, tidaklah aneh kalau batik cap ini dapat diperoleh dengan harga murah.
Tapi, batik cap ini dapat ditemukan dipakai oleh banyak orang sehingga terkesan
"pasaran", walaupun ada juga yang dibuat secara terbatas untuk memenuhi
kepentingan tertentu. Oleh karena itu, kalangan menengah ke atas jarang
menggunakan batik cap ini.
20) Batik Tulis
Kain ini dihias dengan tekstur dan corak batik menggunakan tangan.
Pembuatan batik jenis ini memerlukan waktu lebih kurang 2-3 bulan. Batik ini sangat
eksklusif karena dibuat dengan tangan sehingga sangat khas dan dapat dibuat sesuai
pesanan. Harganya lebih mahal dan biasanya digunakan oleh kalangan menengah ke
atas. Semakin rumit corak dan warnanya, semakin mahal harganya.
21) Batik Lukis
Batik ini langsung dilukis pada kain putih. Namun, batik lukis ini jarang
digunakan untuk pakaian, karena kurang lazim. Biasanya batik jenis ini hanya
digunakan sebagai pajangan.
Sudah banyak pelukis yang menggunakan batik sebagai salah satu cara untuk
menuangkan ide kreatifnya. Industri kreatif ini juga sudah mulai banyak berkembang
di daerah Yogya dan sekitarnya. Lukisan yang diterakan dengan cara membatik ini
sangat bermacam-macam. Sebagian besar dibuat berdasarkan pesanan pembeli, tetapi
sebagian yang lain juga dibuat oleh pelukis dan kemudian dijual secara bebas.
Itulah jenis-jenis batik yang ada di Indonesia. Batik-batik tersebut memiliki
penggemarnya masing-masing. Semuanya turut memperkaya khazanah batik di
Indonesia. Masing-masing orang dapat memilih batik sesuai dengan keperluannya.
Batik tidak lagi harus dibeli dengan harga yang mahal, tetapi sangat terjangkau dan
dapat ditemukan dengan mudah di mana saja.

D. Pola Batik
Pola batik adalah gambar di atas kertas yang nantinya akan dipindahkan ke kain
batik untuk digunakan sebagai motif atau corak pembuatan batik. Artinya, pola ini adalah
gambar-gambar yang menjadi blue print pembuatan batik. Dan keragaman budaya dan
suku bangsa yang ada di Indonesia membuat pola dan motif batik kita sangat beragam
juga.
Kini, pola-pola batik yang digunakan pun berkembang mengikuti jalannya tren
mode yang ada. Berbagai unsur alam, teknologi, geometris, dan berbagai bentuk abstrak
kini menjadi hal yang biasa dalam pola batik. Setiap daerah di Indonesia memiliki pola-
pola pembuatan motif batik yang khas.
Daerah di luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua,
memiliki cara dan pola-pola yang unik untuk membuat batik. Itu semua sangat
dipengaruhi oleh keadaan alam, lingkungan, falsafah, pengetahuan, adat istiadat, dan
unsur-unsur lokal yang khas di setiap daerah. Pola-pola batik yang umum dikenal hingga
saat ini adalah sebagai berikut:
1. Batik pola sri katon (sri katonan).
2. Batik pola semen rama (klasik).
3. Batik pola semen rama (baru).
4. Batik pola sido mukti Yogyakarta.
5. Batik pola semen remeng (gurda, burung garuda).
6. Batik pola lung-lungan babon angrem.
7. Batik pola lung-lungan gragah waluh.
8. Batik pola semen klewer dengan gaya batik pedalaman.
9. Batik pola semen klewer dengan gaya batik pesisiran.
10. Batik pola burung huk (burung merak).
11. Batik pola kawung.
12. Batik pola parang dan lereng.
13. Batik pola parang rusak baron.
14. Batik pola nitik (geometris).
15. Batik pola abstrak.

Pola-pola inilah yang lazim digunakan dalam batik-batik di Indonesia. Tentu saja
dengan perkembangan dan kemajuan yang semakin modern, semua pola tersebut
mengalami modifikasi dan penyempurnaan, sesuai dengan keperluan. Tidak heran kalau
kemudian banyak batik dengan pola-pola yang keluar dari "pakem" batik. Namun,
janganlah menanggapi dengan negatif, karena pola-pola yang baru justru memperkaya
pola batik Indonesia.

E. Corak Batik
Batik Indonesia memiliki corak yang beraneka macam. Berbagai bentuk dan unsur
keragaman budaya yang sangat kaya dapat dilihat dalam corak batik. Corak batik adalah
hasil lukisan pada kain dengan menggunakan alat yang disebut dengan canting. Jumlah
corak batik Indonesia saat ini sangat beragam, baik variasi bentuk maupun warnanya.
Pada umumnya, corak batik sangat dipengaruhi oleh letak geografis daerah
pembuatan, sifat dan tata penghidupan daerah bersangkutan, kepercayaan dan adat
istiadat yang ada, keadaan alam sekitar, termasuk flora dan fauna, serta adanya kontak
atau hubungan antar daerah pembuat pembatikan.
1) Bagian Corak Batik
Pada sehelai kain batik, corak dapat dikelompokkan menjadi dua bagian
utama, yaitu:
a) Ornamen Utama
Ornamen utama adalah suatu corak yang menentukan makna motif
tersebut. Pemberian nama motif batik tersebut didasarkan pada perlambang yang
ada pada ornamen utama ini. Jika corak utamanya adalah parang, maka biasanya
batik tersebut diberi nama parang. Banyak sekali jenis corak utama, diantaranya
meru (gunung), api, naga, burung, garuda, pohon hayat (kehidupan), tumbuhan,
bangunan, parang, dan lain-lain.
b) Isen-isen
Isen-isen merupakan aneka corak pengisi latar kain dan bidang-bidang
kosong corak batik. Pada umumnya, isen-isen berukuran kecil dan kadang rumit.
Dapat berupa titik-titik, garis-garis, atau pun gabungan keduanya. Dahulu, ada
beragam jenis isen-isen, tetapi pada perkembangannya hanya beberapa saja yang
masih biasa dijumpai dan masih dipakai pada saat ini.
Isen-isen pengisi latar antara lain galaran, rawan, ukel, udar, belara sineret,
anam karsa, debundel atau cebong, kelir, kerikil, sisik melik, uceng mudik,
kembang jati, dan gringsing. Sedangkan isen-isen pengisi bidang kosong antara
lain cecek, kembang jeruk, kembang suruh (sirih), kembang cengkeh, sawat,
sawut kembang, srikit, kemukus, serit, dan untu walang. Pembuatan isen-isen
memerlukan waktu yang cukup lama karena bentuknya yang kecil dan rumit
membutuhkan ketelitian yang tinggi.
2) Penggolongan Corak Batik Berdasarkan Bentuknya
Secara garis besar, corak batik berdasarkan bentuknya dibagi menjadi dua
golongan, yaitu golongan ragam hias geometris dan non geometris.
a) Corak Hias Geometris
Corak hias geometris adalah corak hias yang mengandung unsur-unsur
garis dan bangun, seperti garis miring, bujur sangkar, persegi panjang, trapesium,
belah ketupat, jajaran genjang, lingkaran, dan bintang, yang disusun secara
berulang-ulang membentuk satu kesatuan corak. Yang termasuk ragam hias
geometris aclalah sebagai berikut:
1. Corak Ceplok
Corak ceplok atau ceplokan adalah corak-corak batik yang di dalamnya
terdapat gambaran-gambaran bentuk lingkaran, roset, binatang, dan
variasinya. Beberapa nama corak ceplok yaitu ceplok nogo sari, ceplok sup/t
urang, ceplok truntum, dan ceplok cakra kusuma.
2. Corak Ganggong
Banyak orang menganggap corak ganggong adalah corak ceplok
karena sepintas hampir sama. Namun kalau diperhatikan dengan detail, akan
terlihat perbedaan antara corak ganggong dengan corak ceplok. Biasanya
orang yang paham batik akan memerhatikan perbedaan ini, terutama bila batik
akan digunakan untuk kepentingan tertentu.
Ciri khas yang membedakan corak ganggong dengan ceplok adalah
adanya bentuk isen yang terdiri atas seberkas garis yang panjangnya tidak
sama, dan ujung garis yang paling panjang berbentuk serupa tanda +. Nama-
nama corak ganggong antara lain ganggong arjuna, ganggong madusari, dan
ganggong sari.
3. Corak Parang dan Lereng
Corak parang merupakan salah satu corak yang sangat terkenal dalam
kelompok corak garis miring. Corak ini terdiri atas satu atau lebih ragam bias
yang tersusun membentuk garis-garis sejajar dengan sudut kemiringan 45°.
Contoh corak parang dan lereng adalah parang rusak dan lereng ukel.
4. Corak Banji
Corak Banji berdasar pada ornamen swastika, dibentuk atau disusun
dengan menghubungkan swastika pada garis-garis, sehingga membentuk
sebuah corak. Swastika ini menggambarkan kekerasan yang diterima oleh
masyarakat pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.
Batik dengan corak banji memang berkembang pesat di saat terjadi
penjajahan Jepang. Di masa kini, corak ini tetap digunakan untuk
melambangkan perjuangan melawan ketidakadilan. Nama-nama corak banji
antara lain banji guling, banji bengkok, banji kerton, dan banji lancip.
b) Corak Hias Nongeometris
Pola nongeometris merupakan pola dengan susunan tidak terukur, artinya
polanya tidak dapat diukur secara pasti, meskipun dalam bidang luas dapat terjadi
pengulangan seluruh corak. Pola yang termasuk ke dalam golongan pola ini yaitu:
1. Corak Semen
Ragam hias utama yang merupakan ciri corak semen adalah meru, suatu
gubahan menyerupai gunung. Meru berasal dari nama Gunung Mahameru.
Hakikat meru adalah lambang gunung atau tempat tumbuh-tumbuhan bertunas
(bersemi) hingga corak ini disebut semen. Semen berasal dari kata dasar semi.
Ragam hias utama semen adalah garudo, sawat, lar, maupun mirong. Contoh
corak semen adalah semen jolen dan semen gurdha.
2. Corak Lung-lungan
Sebagian besar corak lung-lungan mempunyai ragam hias serupa dengan
corak semen. Berbeda dengan corak semen, ragam hias corak lung-lungan
tidak selalu lengkap dan tidak mengandung ragam hias meru. Corak lung-
lungan di antaranya adalah grageh waluh dan babon angrem.
3. Corak Buketon
Corak buketan mudah dikenali lewat rangkaian bunga atau kelopak bunga
dengan kupu-kupu, burung, atau berbagai bentuk dan jenis satwa kecil yang
mengelilinginya. Berbagai unsur tersebut tampil sebagai satu susunan yang
membentuk satu kesatuan corak.
4. Corak Pinggiran
Corak ini disebut corak pinggiran karena unsur hiasannya terdiri atas ragam
hias yang biasa digunakan untuk hiasan pinggir atau hiasan pembatas antara
bidang yang memiliki hiasan dan bidang kosong pada dodot, kemben, dan
udheg.
5. Corak Dinamis
Corak dinamis adalah corak-corak yang masih dapat dibedakan menjadi
unsur-unsur corak, tetapi ornamen di dalamnya tidak lagi berupa ornamen-
ornamen tradisional. Corak ini merupakan peralihan corak batik klasik dan
modern.

Corak-corak ini terus mengalami perkembangan dan perluasan sehingga semakin


memperbanyak corak batik di Indonesia. Namun secara umum, corak batik masih
berkisar pada corak-corak tersebut. Selain untuk mengembangkan kreativitas, corak-corak
baru dibuat untuk memperoleh pelanggan baru yang akan meningkatkan pemasaran batik.

F. Motif Batik
Motif batik di Indonesia sangat beragam. Apalagi di masa modern sekarang ini
motif batik ikut dimodernisasi dan dikreasikan sesuai perkembangan zaman. Semuanya
semakin memperkaya motif batik Nusantara.
Motif batik adalah suatu dasar atau pokok dari suatu pola gambar yang merupakan
pangkal atau pusat suatu rancangan gambar, sehingga makna dari tanda, simbol, atau
lambang dibalik motif batik tersebut dapat diungkap. Motif merupakan susunan terkecil
dari gambar atau kerangka gambar pada benda.
Motif terdiri atas unsur bentuk atau objek, skala atau proporsi, dan komposisi.
Motif menjadi pangkalan atau pokok dari suatu pola. Motif itu mengalami proses
penyusunan dan diterapkan secara berulang-ulang sehingga diperoleh sebuah pola.
Pola itulah yang nantinya akan diterapkan pada benda lain yang nantinya akan
menjadi sebuah ornamen. Di balik kesatuan motif, pola, dan ornamen, terdapat pesan dan
harapan yang ingin disampaikan oleh pencipta motif batik.
Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan.
Motif batik disebut juga corak batik, kadang digunakan untuk penamaan corak batik atau
pola batik itu sendiri. Pada umumnya, motif batik di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Motif sawat.
2. Motif ceplok.
3. Motif gurdha (burung garuda).
4. Motif meru (gunung).
5. Motif truntum.
6. Motif udon liris.
7. Motif parang kusuma.
8. Motif parang rusak barong.
9. Motif slobog.
10. Motif tombol.
11. Motif ciptoning.
12. Motif parikesit.
13. Motif sido luhur.
14. Motif sido drajad.
15. Motif sido mukti.
16. Motif cuwiri.
17. Motif kawung.
18. Motif nitik karawitan.
19. Motif burung huk (burung merak).
20. Motif parang dan lereng.
21. Motif mega mendung.
22. Motif semen ramo.
23. Motif semen ageng.
24. Motif abstrak.

Selain motif-motif yang populer tersebut, masih ada banyak motif lainnya yang
beredar di pasaran batik. Terlebih di masa kini, motif batik sudah demikian modern dan
dikreasikan dengan berbagai corak, warna, serta bentuk. Bahkan modifikasi tersebut
sering kali tidak sesuai dengan pakem dan nilai-nilai filosofis yang terkandung di
dalamnya demi memperoleh nilai estetika yang diharapkan.
Indonesia harus bersyukur karena batik dengan motif berpakem tradisional
tersebut masih terus-menerus digunakan di kalangan tertentu, seperti lingkungan keraton.
Para penerus dan keturunan keraton masih banyak menggunakan batik-batik
dengan motif tertentu untuk melestarikan nilai-nilai filosofis yang terkandung di
dalamnya. Mereka masih menggunakan batik sesuai dengan pakem dan aturan, terutama
pada acara-acara keraton dan upacara-upacara adat yang mengharuskan mereka berbusana
sesuai dengan aturan yang ada di lingkungan keraton.
Pengembangan dan modifikasi terhadap motif, corak, dan warna batik harus
didukung sepenuhnya agar batik semakin memasyarakat dan dapat lestari. Pengembangan
tersebut selalu bertujuan baik, misalnya untuk mendapatkan nilai estetika yang
diharapkan, batik dibuat menggunakan bahan yang diinginkan serta menerobos jalur-jalur
klasik agar batik lebih dapat diterima di berbagai kalangan dengan beragam kepentingan.
Untuk itu, sangatlah penting untuk menghargai berbagai usaha yang dilakukan
oleh setiap pihak untuk mengembangkan batik. Bagaimana pun juga, batik di Indonesia
dapat bertahan dalam waktu yang lama karena masyarakatnya terus-menerus
melestarikannya. Tanpa adanya usaha tersebut, lambat laun batik bisa punah. Tentu kita
tidak menginginkan hal ini terjadi karena batik adalah kekayaan dan warisan budaya yang
sangat bernilai dan harus kita jaga kelestariannya demi identitas dan kejayaan Indonesia.
MAKNA FILOSOFIS DI BALIK MOTIF BATIK

Batik merupakan hasil seni budaya yang memiliki keindahan visual dan mengandung
makna filosofis pada setiap motifnya. Penampilan sehelai batik tradisional, baik dari segi
motif maupun warnanya, dapat mengatakan kepada kita dari mana batik tersebut berasal.
Motif batik berkembang sejalan dengan waktu, tempat, peristiwa yang menyertai, serta
perkembangan kebutuhan masyarakat.
Bering kali lokasi memberi pengaruh yang cukup besar pada motif batik. Meskipun
berasal dari sumber atau tempat yang sama, jika berkembang di tempat yang berbeda,
motifnya akan berbeda pula. Contohnya adalah motif nitik. Motif n/t/'/rsebenarnya berasal
dari pengaruh luar yang berkembang di pantai utara Laut Jawa, sampai akhirnya berkembang
pula di pedalaman dan menjadi suatu motif yang sangat indah.
Pada saat pedagang dari Gujarat (India) datang di pantai utara Pulau Jawa, mereka
membawa kain tenun dan bahan sutra khas Gujarat dalam barang dagangannya. Motif dan
kain tersebut berbentuk geometris dan sangat indah, dibuat dengan teknik dobel ikat yang
disebut patola yang dikenal di Jawa sebagai kain cinde. Warna yang digunakan adalah merah
dan biru indigo.
Motif kain patola memberi inspirasi para pembatik di daerah pesisir maupun
pedalaman, bahkan lingkungan keraton. Di daerah Pekalongan tercipta kain batik yang
disebut jlomprang, bermotif ceplok dengan warna khas Pekalongan. Oleh karena terinspirasi
motif tenunan, maka motif yang tercipta terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang yang
disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan anyaman yang terdapat pada tenunan
patola.
Kain batik jlamprang berkembang di daerah pesisir, sehingga warnanya pun
bermacam-macam, sesuai selera konsumennya yang kebanyakan berasal dari Eropa, Cina,
dan negara-negara lain. Warna yang dominan digunakan adalah merah, hijau, biru dan
kuning, meskipun masih juga menggunakan warna soga dan wedelan.
Selain terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang, nitik dari Yogyakarta juga
diperindah dengan hadirnya isen-isen batik lain, seperti cecek (cecek pitu, cecek telu), bahkan
ada yang diberi ornamen batik dengan klowong maupun tembokan, sehingga penampilannya,
baik bentuk dan warnanya, lain dari motif jlamprang Pekalongan. Nitik dari Yogyakarta
menggunakan warna indigo, soga (cokelat), dan putih. Seperti motif batik yang berasal dari
keraton lainnya, motif nitik kreasi keraton juga berkembang ke luar lingkungan keraton.
Lingkungan Keraton Yogyakarta yang terkenal dengan motif nitik yang indah adalah Ndalem
Brongtodiningrat. Batik nitik Yogyakarta yang terkenal adalah dari Desa Wonokromo, dekat
Kotagede.
Untuk membuat batikan yang berbentuk bujur sangkar dan persegi panjang,
diperlukan canting tulis khusus dengan lubang canting yang berbeda dengan canting biasa.
Canting tulis untuk nitik dibuat dengan membelah lubang canting biasa ke dua arah yang
saling tegak lurus.
Dalam pengerjaannya, setelah pencelupan pertama dalam warna biru, proses
mengerok hanya dikerjakan untuk bagian cecek saja atau bila ada bagian Wowong-nya. Agar
warna soga dapat masuk di bagian motif yang berupa bujur sangkar dan persegi panjang yang
sangat kecil tersebut, maka bagian tersebut ditekan-tekan sehingga pada bagian tertentu
malamnya dapat lepas dan warna soga dapat masuk ke dalamnya.
Oleh karena itu, untuk membuat batik nitik diperlukan malam khusus yaitu malam
yang kekuatan menempelnya antara malam klowong dan malam tembok. Langkah
selanjutnya adalah mbironi, menyoga, dan akhimya melorod.
Sampai saat ini terdapat kurang lebih 70 motif nitik. Sebagian besar motif nitik diberi
nama dengan nama bunga, seperti kembang kenthang, sekar kemuning, sekorrandu,
dansebagainya. Ada pula yang diberi nama lain, misalnya nitik cakar, nitik jonggrang,
tanjung gunung, dan sebagainya.
Motif nitik juga sering dipadukan dengan motif parang, ditampilkan dalam bentuk
ceplok, kothak, atau sebagai pengisi bentuk keyong, dan juga sebagai motif untuk sekar
jagad, tambal, dan sebagainya. Paduan motif ini terdiri dan satu macam maupun bermacam-
macam motif nitik. Tampilan yang merupakan paduan motif nitik dengan motif lain
membawa perubahan nama, misalnya parang seling nitik, nitik tambal, nitik kasatrian, dan
sebagainya.
Seperti halnya motif batik yang lain, motif nitik juga mempunyai arti filosofis.
Contohnya, nitik cakar yang sering digunakan pada upacara adat perkawinan ini diberi nama
demikian karena pada bagian motifnya terdapat ornament yang berbentuk seperti cakar.
Cakar yang dimaksud adalah cakar ayam atau kaki bagian bawah. Cakar ini digunakan untuk
mengais tanah mencari makanan atau sesuatu untuk dimakan.
Motif nitik cakar dikenakan pada upacara adat perkawinan, dimaksudkan agar
pasangan yang menikah dapat mencari nafkah dengan halal, sepandai ayam mencari makan
dengan cakarnya. Nitik cakar dapat berdiri sendiri sebagai motif dan satu kain atau sebagai
bagian dari motif kain tertentu, seperti motif wirasat atau sido drajat, yang juga sering
digunakan dalam upacara adat perkawinan.
Setiap motif batik memiliki makna filosofis. Makna-makna tersebut menunjukkan
kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai lokal. Hingga sekarang nilai-nilai tersebut masih
bertahan. Berikut ini akan dipaparkan beberapa makna filosofis motif batik yang populer di
kalangan masyarakat.

A. Motif Sawat
Sawat berarti melempar. Pada zaman dulu, orang Jawa percaya dengan para dewa
sebagai kekuatan yang mengendalikan alam semesta. Salah satu dewa tersebut adalah
Batara Indra. Dewa ini mempunyai senjata yang disebut wajra atau bajra, yang berarti
pula thathit (kilat). Senjata pusaka tersebut digunakan dengan cara melemparkannya
(Jawa: nyawatake).
Bentuk senjata Batara Indra tersebut menyerupai seekor ular yang bertaring tajam
serta bersayap (Jawa: mawa lar). Bila dilemparkan ke udara, senjata ini akan menyambar-
nyambar dan mengeluarkan suara yang sangat keras dan menakutkan.
Walaupun menakutkan, wajra juga mendatangkan kegembiraan sebab dianggap
sebagai pembawa hujan. Senjata pusaka Batara Indra ini diwujudkan ke dalam motif batik
berupa sebelah sayap dengan harapan agar si pemakai selalu mendapatkan perlindungan
dalam kehidupannya.

B. Motif Ceplok
Bentuk pola ceplok sangat kuno adalah pola kawung. Pola dengan motif-motif
ceplok ini terinspirasi oleh bentuk buah kawung (buah atap atau buah aren) yang dibelah
empat. Keempat bagian buah bersama intinya itu melambangkan empat arah (penjuru)
utama dalam agama Budha.
Pada dasarnya, ceplok merupakan kategori ragam bias berdasarkan pengulangan
bentuk geometri, seperti segi empat, empat persegi panjang, bulat telur, atau pun bintang.
Ada banyak varian lain dari motif ceplok, misalnya ceplok sriwedari dan ceplok keci.
Batik truntum juga masuk kategori motif ceplok. Selain itu, motif ceplok juga sering
dipadupadankan dengan berbagai bentuk motif lainnya untuk mendapat corak dan motif
batik yang lebih indah.

C. Motif Gurda
Gurda berasal dari kata garuda. Seperti diketahui, garuda merupakan burung
besar. Dalam pandangan masyarakat Jawa, burung garuda mempunyai kedudukan yang
sangat penting. Bentuk motif gurda ini terdiri dari dua buah sayap (/or) dan di tengahnya
terdapat badan dan ekor.
Motif batik gurda ini juga tidak lepas dari kepercayaan masa lalu. Garuda
merupakan tunggangan Batara Wisnu yang dikenal sebagai Dewa Matahari. Garuda
menjadi tunggangan Batara Wisnu dan dijadikan sebagai lambang matahari. Oleh
masyarakat Jawa, garuda selain sebagai simbol kehidupan juga sebagai simbol
kejantanan.

D. Motif Meru
Kata meru berasal dari Gunung Mahameru. Gunung ini dianggap sebagai tempat
tinggal atau singgasana bagi Tri Murti, yaitu Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Brahma,
dan Sang Hyang Siwa. Tri Murti ini dilambangkan sebagai sumber dari segala kehidupan,
sumber kemakmuran, dan segala sumber kebahagiaan hidup di dunia. Oleh karena itu,
meru digunakan sebagai motif batik agar si pemakai selalu mendapatkan kemakmuran
dan kebahagiaan.

E. Motif Truntum
Motif batik truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan
Paku Buwana III), bermakna cinta yang tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini
sebagai simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama terasa semakin
subur berkembang (tumaruntum).
Kain motif truntum biasanya dipakai oleh orang tua pengantin pada hari
pernikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi
kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk
"menuntun" kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru.

F. Motif Udan Liris


Motif ini mengandung makna ketabahan dan harus tahan menjalani hidup prihatin
biarpun dilanda hujan dan panas. Orang yang berumah tangga, apalagi pengantin baru,
harus berani dan mau hidup prihatin ketika banyak halangan dan cobaan. Ibaratnya
tertimpa hujan dan panas, tidak boleh mudah mengeluh. Segala halangan dan rintangan
itu harus bisa dihadapi dan diselesaikan bersama-sama.
Suami atau istri merupakan bagian hidup di dalam rumah tangga. Jika salah satu
menghadapi masalah, maka pasangannya harus ikut membantu menyelesaikan, bukan
justru menambahi masalah.
Misalkan, bila suami sedang mendapat cobaan tergoda oleh perempuan lain, maka
sang istri harus bisa bijak mencari solusi dan mencari penyelesaian permasalahan. Begitu
pula sebaliknya, jika sang istri mendapat godaan dari lelaki lain, tentu suami harus
bersikap arif tanpa harus menaruh curiga yang berlebihan sebelum ditemukan bukti.

G. Motif Parang Kusuma


Motif ini bermakna hidup harus dilandasi dengan perjuangan untuk mencari
kebahagiaan lahir dan batin, ibarat keharuman bunga (kusuma). Contohnya, bagi orang
Jawa, yang paling utama dari hidup di masyarakat adalah keharurnan (kebaikan)
pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat
terhindar dari bencana lahir dan batin. Mereka harus mematuhi aturan hidup
bermasyarakat dan taat kepada perintah Tuhan.
Kondisi ini memang tidak mudah untuk direalisasikan, tetapi umumnya orang
Jawa berharap bisa menemukan hidup yang sempurna lahir batin. Mereka akan
mengusahakan banyak hal untuk mencapai kehidupan bahagia lahir dan batin.
Di zaman yang serba terbuka sekarang ini, sungguh sulit untuk mencapai ke
tingkat hidup seperti yang diharapkan karena banyak godaan. Orang pun lebih cenderung
mencari nama harum dengan cara membeli dengan uang yang dimiliki, bukan dari
tingkah laku dan pribadi yang baik.

H. Motif Parang Rusak Barong


Motif batik parang rusak barong ini berasal dari kata batu karang dan barong
(singa). Parang barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena
kesakralan filosofinya, motif ini hanya boleh digunakan untuk raja, terutama dikenakan
pada saat ritual keagamaan dan meditasi.
Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan
pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya dan kesadaran
sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.
Kata barong berarti sesuatu yang besar dan ini tercermin pada besarnya ukuran
motif tersebut pada kain. Motif parang rusak barong ini merupakan induk dari semua
motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat
mengendalikan diri.

I. Motif Slobog
Slobog bisa juga berarti lobok atau longgar. Kain ini biasa dipakai untuk melayat,
dengan tujuan agar yang meninggal tidak mengalami kesulitan menghadap Yang Maha
Kuasa. Hal ini sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip keagamaan bahwa setelah
kematian ada kehidupan lain yang harus dipertanggungjawabkan, yaitu menghadap Tuhan
Yang Maha Esa.

J. Motif Tambal
Ada kepercayaan bahwa bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut,
maka ia akan cepat sembuh. Tambal artinya menambah semangat baru. Dengan semangat
baru itu diharapkan harapan baru akan muncul sehingga kesembuhan mudah didapat.
Selain itu, dengan kehadiran para penjenguk, diharapkan si sakit tidak merasa
ditinggalkan dan memiliki banyak saudara sehingga keinginan untuk sembuh semakin
besar.

K. Motif Ciptoning
Motif ciptoning ini biasanya dipakai oleh orang yang dituakan maupun pemimpin.
Dengan memakai motif ini, pemakainya diharapkan menjadi orang bijak dan mampu
memberi petunjuk jalan yang benar pada orang lain yang dipimpinnya. Makna filosofis di
balik motif ini sebenarnya bukan hanya untuk pemimpin, tetapi juga untuk setiap orang
agar mampu memimpin (menempatkan) dirinya sendiri di tengah masyarakatnya.

L. Motif Pari Kesit


Motif ini mengandung makna bahwa untuk mencari keutamaan, harus dilandasi
dengan usaha keras dan kegesitan. Tentu usaha keras dan kegesitan itu tidak boleh
meninggalkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Usaha keras dan kegesitan
dengan cara kotor harus dihindari karena bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.

M. Motif Sido Luhur


Motif ini mengandung makna keluhuran. Bagi orang Jawa, hidup memang
bertujuan untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya
segala kebutuhan ragawi bisa tercukupi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan,
pangkat, derajat, maupun profesinya.
Keluhuran materi sebaiknya diperoleh dengan cara yang benar, halal, dan sah
tanpa melakukan kecurangan atau perbuatan yang tercela, seperti korupsi, merampok,
mencuri, dan sebagainya. Sebab walaupun merasa cukup atau bahkan berlebihan secara
materi, jika harta materi itu diperoleh secara tidak benar, keluhuran materi belum bisa
tercapai.
Keluhuran materi akan lebih bermakna lagi bila harta yang dimiliki itu bermanfaat
bagi orang lain dan bisa diberikan dalam berbagai bentuk, seperti sumbangan, donasi,
hibah, dan sebagainya. Artinya, sejak dulu masyarakat Indonesia sudah terbiasa saling
menolong.
Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran
nonmateri. Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain atau perkataannya sangat
bermanfaat kepada orang lain tentu akan lebih baik daripada orang yang perkataannya
tidak bisa dipegang dan tidak dipercaya orang lain.
Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain adalah suatu bentuk keluhuran
nonmateri. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang
penuh dengan nilai keluhuran. Semua ini tidak lepas dari falsafah hidup orang Jawa,
bahwa orang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga, kerabat,
masyarakat, bahkan lingkungan, dan kepada Tuhan yang menciptakannya.

N. Motif Sido Drajad


Batik sido drajad dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan. Cara pemakaian
batiknya juga memiliki nilai pendidikan tersendiri. Bagi anak-anak, batik dipakai dengan
cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas.
Secara filosofi, pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-
anak yang masih bebas, belum dewasa, dan belum memiliki tanggung jawab moral di
dalam masyarakat.
Ketika beranjak remaja, seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk
wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Semakin
panjang jarit, semakin tinggi derajat seseorang dalam masyarakat, dan semakin pendek
jarit, semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat.
Bagi orang dewasa, pemakaian batik memiliki pakem yang berbeda antara laki-
laki dan perempuan. Pada laki-laki, wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada
perempuan, wiru diletakkan di sebelah kanan, yang berarti nengeni, seorang putri tidak
boleh melanggar kehendak suami.

O. Motif Sido Mukti


Motif sido mukti mengandung makna kemakmuran. Bagi orang Jawa, hidup yang
didambakan selain keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu adalah pencapaian mukti
atau kemakmuran, baik di dunia maupun di akhirat.
Setiap orang pasti mencari kemakmuran dan ketenteraman lahir dan batin.
Kemakmuran dan ketenteraman itu tidak akan tercapai tanpa usaha dan kerja keras,
keluhuran budi, ucapan, dan tindakan.
Setiap orang harus bisa mengendalikan hawa nafsu, mengurangi kesenangan
menggunjing tetangga, berbuat baik tanpa merugikan orang lain, dan sebagainya agar
dirinya merasa makmur lahir batin. Kehidupan untuk mencapai kemakmuran lahir dan
batin itulah yang juga menjadi salah satu dambaan masyarakat.

P. Motif Cuwiri
Batik motif cuwiri biasa digunakan pada saat acara mitoni, sebuah tradisi
memperingati tujuh bulan usia bayi. Cuwiri artinya kecil-kecil. Diharapkan pemakainya
terlihat pantas dan dihormati oleh masyarakat. Sejak kecil, manusia di Jawa sudah
memiliki banyak aturan sesuai dengan falsafah hidupnya dengan tujuan mendapatkan
kemakmuran dan kebaikan.

Q. Motif Kawung
Motif kawung bermakna keinginan dan usaha yang keras akan selalu
membuahkan hasil, seperti rejekinya berlipat ganda. Orang yang bekerja keras pasti akan
menuai hasil, walaupun kadang harus memakan waktu yang lama.
Contohnya, seorang petani yang bekerja giat di sawah, jika tidak ada hama yang
mengganggu, tentu dia akan memanen hasil padi yang berlipat di kemudian hari. Kerja
keras untuk menghasilkan rejeki berlipat akan lebih bermakna jika dibarengi dengan
sikap hemat, teliti, cermat, dan tidak boros. Namun sayang, budaya kerja keras untuk
menuai hasil maksimal tidak dilakukan oleh semua orang. Apalagi di zaman sekarang, di
mana banyak orang ingin serba instan, orang ingin cepat kaya tanpa harus bekerja keras.
Oleh karena itu, ada saja mereka yang melakukan hal-hal tercela untuk mendapatkan
keinginannya.
R. Motif Nitik Karawitan
Kebijaksanaan menjadi inti dari filosofi batik bermotif nitik karawitan. Dengan
demikian, para pemakainya diharapkan akan menjadi orang yang bijaksana. Itulah
mengapa orang-orang yang dituakan di lingkungannya banyak menggunakan batik motif
ini.

S. Motif Burung Huk


Bentuk dasar ragam hias motif burung huk adalah seekor anak burung yang baru
menetas, menggeleparkan kedua sayapnya yang masih lemah, berusaha lepas dari
cangkang telurnya, serta separuh badan dan kedua kakinya masih berada di dalam
cangkang. Motif burung huk juga sering disebut dengan motif burung merok.
Ide dasarnya adalah pandangan hidup tentang kemana jiwa manusia sesudah mati.
Dari gambaran tersebut disimpulkan bahwa kematian hanyalah kerusakan raga,
sedangkan jiwanya tetap hidup menemui Sang Pencipta. Keunikan motif ini adalah ia
selalu nadir bersama dengan motif lainnya, misalnya ceplokan sebagai selingan motif
parang, dalam bentuk yang berbaur dengan motif lainnya.

T. Motif Parang dan Lereng


Batik parang atau lereng menurut pakemnya hanya boleh digunakan oleh sentono
dalem (anak dari ratu). Lereng berasal dari kata mereng (lereng bukit). Sejarah motif ini
diawali dari pelarian keluarga kerajaan dari Keraton Kartasura. Para keluarga raja
terpaksa bersembunyi di daerah pegunungan agar terhindar dari bahaya. Mereka berada di
daerah-daerah yang sulit dijangkau musuh. Motif ini berarti juga topo brata para raja yang
dilakukan di lereng-lereng pegunungan untuk mendapatkan wahyu atau wangsit. Dalam
topo brata itulah mereka dapat melihat pemandangan gunung dan pegunungan yang
berderet-deret sehingga menyerupai pereng atau lereng.

U. Motif Mega Mendung


Pada bentuk mega mendung, bisa kita lihat garis lengkung dari bentuk garis
lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) yang
menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang
beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik
dan turun).
Hal itu kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar atau
menjalani kehidupan sosial agama). Pada akhirnya, membawa dirinya memasuki dunia
baru menuju ke dalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) dan
pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah).
Dengan demikian, kita bisa lihat bentuk mega mendung selalu terbentuk dari
lengkungan kecil yang bergerak membesar keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi
menjadi putaran kecil, tetapi tidak boleh terputus.
Terlepas dari makna filosofis bahwa mega mendung melambangkan kehidupan
manusia secara utuh sehingga bentuknya harus menyatu, sisi produksi memang
mengharuskan bentuk garis lengkung mega mendung bertemu pada satu titik lengkung
berikutnya agar pewarnaan bisa lebih mudah.

V. Motif Semen Rama


Semen berasal dari kata semi, yaitu tumbuhnya bagian tanaman. Pada umumnya,
ornamen pokok pada pola batik motif semen adalah ornamen yang berhubungan dengan
daratan yang digambarkan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang berkaki empat, udara
digambarkan dengan awan (mega) dan binatang terbang, serta air atau laut digambarkan
dengan binatang air. Sedangkan rama yang merupakan nama motif semen berasal dari
nama Ramawijaya. Dalam motif semen rama terdapat pesan atau nasihat Ramawijaya saat
penobatan Wibisana sebagai Raja Alengka dalam cerita pewayangan.
Nasihat tersebut termaktub di dalam osto brata (delapan keutamaan bagi seorang
pemimpin), yaitu:
1. Endabrata, yaitu pemberi kemakmuran dan pelindung dunia. Dilambangkan dengan
pohon hayat.
2. Yamabrata, yaitu menghukum yang bersalah secara adil. Dilambangkan dengan awan
atau meru (gunung).
3. Suryabrata, yaitu watak matahari yang bersifat tabah. Dilambangkan dengan garuda.
4. Sasibrato, yaitu watak rembulan yang bersifat menggembirakan dan memberi hadiah
kepada yang berjasa. Dilambangkan dengan ornamen binatang.
5. Bayubrata, yaitu watak luhur. Dilambangkan dengan ornamen burung.
6. Dhanababrata atau kuwerabrata, yaitu watak sentosa dan memberi
kesejahteraan pada bawahan. Dilambangkan dengan ornamen bintang.
7. Pasabrata, yaitu berhati lapang tetapi berbahaya bagi yang mengabaikan.
Dilambangkan dengan kapal air.
8. Agnibrata, yaitu kesaktian untuk memberantas musuh. Dilambangkan dengan
ornamen lidah api.

W. Motif Semen Ageng


Motif ini tersusun atas beberapa unsur, yaitu pohon hayat yang menggambarkan
pohon kehidupan, kemakmuran, keadilan, dan kekuasaan, serta simbol kesuburan, burung
yang merupakan simbol angin yang bermakna berbudi luhur, serta garuda
menggambarkan matahari yang bersifat jantan bermakna kekuasaan dan kepemimpinan.
Motif ini memiliki makna seorang pemimpin yang bersifat baik dan berbudi luhur,
adil, dan tabah dalam menghadapi segala rintangan, mengayomi, dan melindungi
rakyatnya serta lingkungan alam sekitar. Motif ini biasanya digunakan oleh keturunan
raja sebagai dodot dan bebet keprajuritan pada saat menghadiri upacara kebesaran
keraton.

X. Motif Abstrak
Ini adalah motif yang paling bebas. Motif ini menggabungkan berbagai unsur dan
warna. Penciptanya mengarahkan arti ini pada kehidupan yang lain: hidup setelah mati,
sehingga penggambarannya abstrak. Walaupun ada beberapa motif tradisional yang
menggambarkan kehidupan setelah mati, misalnya motif burung huk, tetapi motif ini
sering dianggap tidak memiliki jiwa muda.
Oleh karena itu, banyak pencipta desain batik yang menggunakan motif abstrak
yang lebih bebas dan ekspresif dalam menggambarkan kehidupan setelah mati. Motif ini
biasanya digunakan pada lukisan dengan penggambaran yang bebas dan tidak
menggunakan pakem batik seperti pada umumnya.
Demikianlah makna-makna di balik motif-motif batik yang banyak beredar di
masyarakat sekarang ini. Sebenarnya masih banyak lagi makna-makna filosofis di balik
motif-motif batik lainnya, terlebih di masa kini dengan adanya banyak modifikasi dan
penambahan kreasi di setiap model corak dan motif batik. Namun pada dasarnya motif-
motif tersebut memiliki makna-makna filosofis yang ingin disampaikan oleh penciptanya.
Motif batik di Indonesia akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan
perkembangan dan kemajuan industri. Ini merupakan hal yang sangat baik karena akan
mendorong masyarakat luas untuk lebih mencintai batik dan mendukung setiap kegiatan
untuk melestarikan batik.
PROSES PEMBUATAN BATIK

Dari dulu hingga sekarang, proses pembuatan batik tidak banyak mengalami
perubahan. Kegiatan membatik merupakan salah satu kegiatan tradisional yang terus
dipertahankan agar tetap konsisten seperti bagaimana asalnya. Walaupun motif dan corak
batik di masa kini sudah beraneka ragam, proses pembuatan batik pada dasarnya masih sama.
Berikut ini adalah uraian lebih detailnya:
A. Perlengkapan Membatik
Perlengkapan membatik tidak banyak mengalami perubahan. Dilihat dari
peralatan dan cara mengerjakannya, membatik dapat digolongkan sebagai suatu kerja
yang bersifat tradisional.
1) Gawangan
Gawangan adalah perkakas untuk menyangkutkan dan membentangkan mori
sewaktu dibatik. Gawangan terbuat dari kayu atau bambu. Gawangan harus dibuat
sedemikian rupa hingga kuat, ringan, dan mudah dipindah-pindah.
2) Bandul
Bandul dibuat dari timah, kayu, atau batu yang dimasukkan ke dalam kantong.
Fungsi pokok bandul adalah untuk menahan agar mori yang baru dibatik tidak mudah
tergeser saat tertiup angin atau tertarik oleh si pembatik secara tidak sengaja.
3) Wajan
Wajan adalah perkakas untuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam
baja atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan
diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.
4) Kompor
Kompor adalah alat untuk membuat api. Kompor yang biasa digunakan adalah
kompor berbahan bakar minyak. Namun terkadang kompor ini bisa diganti dengan
kompor gas kecil, anglo yang menggunakan arang, dan lain-lain. Kompor ini
berfungsi sebagai perapian dan pemanas bahan-bahan yang digunakan untuk
membatik.
5) Taplak
Taplak adalah kain untuk menutup paha si pembatik agar tidak terkena tetesan
malam panas sewaktu canting ditiup atau waktu membatik.
6) Saringan Malam
Saringan adalah alat untuk menyaring malam panas yang memiliki banyak
kotoran. Jika malam tidak disaring, kotoran dapat mengganggu aliran malam pada
ujung canting. Sedangkan bila malam disaring, kotoran dapat dibuang sehingga tidak
mengganggu jalannya malam pada ujung canting sewaktu digunakan untuk membatik.
Ada bermacam-macam bentuk saringan, semakin halus semakin baik karena
kotoran akan semakin banyak tertinggal. Dengan demikian, malam panas akan
semakin bersih dari kotoran saat digunakan untuk membatik.
7) Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan,
terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk
menuliskan pola batik dengan cairan malam. Saat ini, canting perlahan menggunakan
bahan teflon.
8) Mori
Mori adalah bahan baku batik yang terbuat dari katun. Kualitas mori
bermacam-macam dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang
dihasilkan. Mori yang dibutuhkan disesuaikan dengan panjang pendeknya kain yang
diinginkan.
Tidak ada ukuran pasti dari panjang kain mori karena biasanya kain tersebut d-
ukur secara tradisional. Ukuran tradisional tersebut dinamakan kacu. Kacu adalah
sapu tangan, biasanya berbentuk bujur sangkar.
Jadi, yang disebut sekacu adalah ukuran persegi mori, diambil dari ukuran
lebar mori tersebut. Oleh karena itu, panjang sekacu dari suatu jenis mori akan
berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lain.
Namun di masa kini, ukuran tersebut jarang digunakan. Orang lebih mudah
menggunakan ukuran meter persegi untuk menentukan panjang dan lebar kain mori.
Ukuran ini sudah berlaku secara nasional dan akhirnya memudahkan konsumen saat
membeli kain batik. Cara ini dapat mengurangi kesalahpahaman dan digunakan untuk
menyamakan persepsi di dalam sistem perdagangan.
9) Malam (Lilin)
Malam (lilin) adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya
malam tidak habis (hilang) karena pada akhirnya malam akan diambil kembali pada
proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain.
Malam yang dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malam (lilin)
biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat diserap kain, tetapi dapat dengan mudah
lepas ketika proses pelorodan.
10) Dhingklik (Tempat Duduk)
Dhingklik (tempat duduk) adalah tempat untuk duduk pembatik. Biasanya
terbuat dari bambu, kayu, plastik, atau besi. Saat ini, tempat duduk dapat dengan
mudah dibeli di toko-toko.
11) Pewarna Alami
Pewarna alami adalah pewarna yang digunakan untuk membatik. Pada
beberapa tempat pembatikan, pewarna alami ini masih dipertahankan, terutama kalau
mereka ingin mendapatkan warna-warna yang khas, yang tidak dapat diperoleh dari
warna-warna buatan. Segala sesuatu yang alami memang istimewa, dan teknologi
yang canggih pun tidak bisa menyamai sesuatu yang alami.
Itulah jenis perlengkapan membatik yang harus ada. Proses membatik
memerlukan waktu yang cukup lama, terlebih kalau kain yang dibatik sangat luas dan
coraknya cukup rumit.

B. Proses Membatik
Di masa kini, pengusaha batik juga menyediakan pendidikan batik kilat pada
anak-anak sekolah dan masyarakat umum. Yang diajarkan adalah tata cara membatik
dengan benar, dan biasanya menggunakan kain selebar saputangan sebagai percobaan.
Dengan demikian, proses membatik itu dapat dikerjakan hanya dalam beberapa jam dan
biaya yang diperlukan pun sangat kecil. Tradisi ini sangat bagus untuk memperkenalkan
proses membatik kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Berikut ini adalah proses membatik yang berurutan dari awal hingga akhir.
Penamaan atau penyebutan cara kerja di tiap daerah pembatikan bisa berbeda-beda, tetapi
inti yang dikerjakannya adalah sama.
1) Ngemplong
Ngemplong merupakan tahap paling awal atau pendahuluan, diawali dengan
mencuci kain mori. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kanji. Kemudian
dilanjutkan dengan pengeloyoran, yaitu memasukkan kain mori ke minyak jarak atau
minyak kacang yang sudah ada di dalam abu merang. Kain mori dimasukkan ke
dalam minyak jarak agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna
lebih tinggi.
Setelah melalui proses di atas, kain diberi kanji dan dijemur. Selanjutnya,
dilakukan proses pengemplongan, yaitu kain mori dipalu untuk menghaluskan lapisan
kain agar mudah dibatik.
2) Nyorek atau Memola
Nyorek atau memola adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain
mori dengan cara meniru pola motif yang sudah ada, atau biasa disebut dengan
ngeblat. Pola biasanya dibuat di atas kertas roti terlebih dahulu, baru dijiplak sesuai
pola di atas kain mori. Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau
menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses
pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses
batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.
3) Mbathik
Mbathik merupakan tahap berikutnya, dengan cara menorehkan malam batik
ke kain mori, dimulai dari nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-
isen (mengisi pola dengan berbagai macam bentuk). Di dalam proses isen-isen
terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan
cara memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan
isen-isen, tetapi lebih rumit.
4) Nembok
Nembok adalah proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena
warna dasar, dalam hal ini warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian tersebut
ditutup dengan lapisan malam yang tebal seolah-olah merupakan tembok penahan.
5) Medel
Medel adalah proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna
secara berulang-ulang sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.
6) Ngerok dan Mbirah
Pada proses ini, malam pade kain dikerok secara hati-hati dengan
menggunakan lempengan logam, kemudian kain dibilas dengan air bersih. Setelah itu,
kain diangin-anginkan.
7) Mbironi
Mbimni adalah menutupi warna biru dan isen-isen pola yang berupa cecek
atau titik dengan menggunakan malam. Selain itu, ada juga proses ngrining, yaitu
proses mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu. Biasanya, ngrining
dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.
8) Menyoga
Menyoga berasal dad kata soga, yaitu sejenis kayu yang digunakan untuk
mendapatkan warna cokelat, Adapun caranya adalah dengan mencelupkan kain ke
dalam campuran warna cokelat tersebut.
9) Nglorod
Nglorod merupakan tahapan akhir dalam proses pembuatan sehelai kain batik
tulis maupun batik cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap
ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukkan kain yang
sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih. Setelah diangkat, kain dibilas
dengan air bersih dan kemudian diangin-anginkan hingga kering.
Proses membuat batik memang cukup lama. Proses awat hingga proses akhir
bisa melibatkan beberapa orang, dan penyelesaian suatu tahapan proses juga
memakan waktu. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kain batik tulis berharga cukup
tinggi.
INDUSTRI BATIK DI INDONESIA

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil
yang tersebar di sepanjang garis khatulistiwa. Penduduknya terdiri dari ratusan suku bangsa
dengan beragam adat istiadat. Masing-masing suku bangsa memiliki jenis busana yang
berbeda dengan ragam hias dan pola yang berbeda-beda pula.
Ragam hias yang bermacam-macam itu turut memperkaya motif kain batik yang
sudah lama ada di Indonesia. Industri batik di Indonesia secara tidak langsung telah muncul
sejak adanya tradisi membatik di Nusantara. Dengan perjalanannya yang panjang, industri
batik Indonesia tetap eksis hingga sekarang. Bahkan dengan adanya pengukuhan dari PBB
bahwa batik adalah warisan budaya dunia asli dari Indonesia, muncul semangat baru untuk
melestarikan dan mengembangkan batik.
Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama pernah memprakarsai
penciptaan batik yang menampilkan desain motif khas Indonesia. Desain batik tersebut
dicontoh dari desain Solo dan Yogya dengan pewarnaan model Pekalongan sehingga menjadi
batik yang modern dan biasa disebut batik kemodelan. Batik ini sangat populer pada tahun
1950-an dan menyebabkan industri batik secara umum bangkit kembali.
Tahun 1970-an, batik Indonesia diunggulkan sebagai busana resmi di Indonesia oleh
Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Para pegawai lelaki di kantor Pemerintah Daerah DKI
Jakarta diwajibkan mengenakan kemeja batik berlengan panjang saat menghadiri acara-acara
resmi. Busana batik ini digunakan untuk menggantikan busana sipil lengkap yang biasa
dikenakan pada acara-acara resmi. Sedangkan untuk busana sehari-hari, dikenakan kemeja
batik berlengan pendek.
Busana batik kini telah berubah menjadi busana nasional Indonesia sebagai pengganti
jas pada acara-acara tertentu. Prakarsa ini dilandasi pemikiran-pemikiran sebagai berikut:
1. Suasana kemerdekaan yang menggugah semangat persatuan di seluruh bidang kehidupan
masyarakat.
2. Batik dapat menampilkan nilai seni budaya sebagai jati diri bangsa sekaligus
menyuarakan pesan persatuan Indonesia, dengan tujuan agar batik tidak hanya dikenal
sebagai batik dari daerah di Indonesia, tetapi juga mencerminkan persatuan Indonesia.
3. Mendorong semangat para seniman batik daerah untuk berkarya sekaligus
menumbuhkembangkan rasa memiliki warisan budaya leluhur pada seluruh bangsa
Indonesia.
4. Sebagai bahan sandang tradisional yang memiliki kekhasan tersendiri, batik
memungkinkan dijadikan busana nasional Indonesia.

Untuk mencapai tujuan dari pemikiran-pemikiran tersebut, maka diambillah langkah-


langkah sebagai berikut:
1. Mempertemukan pola tradisional batik keraton dengan proses batik pesisiran, serta
membebaskan adanya modifikasi dan pengembangan demi kebaikan dan estetika.
2. Mengubah pola-pola dari ragam hias tenun yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia,
yaitu Bali, Dayak, Papua, dan lain-lain.
3. Perkembangan selanjutnya, para desainer Indonesia telah mengembangkan batik dengan
memasukkan ragam hias yang berasal dari berbagai suku di Indonesia.
4. Dengan bertumpu pada pola batik keraton yang kaya makna dan ragam hias kedaerahan,
pewarnaan dilakukan dengan berbagai cara pada berbagai unsur pola batik. Pewarnaan
pada latar dilakukan dengan cara celupan, sedangkan pada bagian pola dalam beberapa
warna dilakukan secara coletan atau gabungan dari kedua cara pewarnaan tersebut.

Sejak itulah, semakin banyak seniman Indonesia melahirkan batik Indonesia dengan
ciri khasnya masing-masing. Beberapa nama yang sangat eksis sebagai seniman batik
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Bintang Soedibjo (Ibu Soed); dengan menghasilkan batik terang bulan, yaitu batik yang
bagian tengahnya hanya berupa bidang berwarna atau secara acak diisi dengan ragam hias
kecil yang merupakan bagian dari pola pinggirannya, sedang tepi kain dihias dengan pola
tradisional atau rangkaian bunga.
2. KPT Hardjonagoro, seorang budayawan dan pengusaha batik; dengan mendasarkan usaha
batiknya pada pola batik keraton dengan kehalusan batikan.
3. R.Ay. Kanjeng Harjowiratmo; menghasilkan batik wonogiren yang memadukan berbagai
ragam hias bebas dan natural dalam nuansa warna soga batik keraton dan memiliki latar
pecahan warna soga yang khas.
4. M.D. Hadi, pengusaha batik yang mengembangkan berbagai motif dan corak batik
dengan pembaharuan di berbagai bidang untuk modernisasi batik.

Batik Indonesia hadir dalam berbagai bentuk sandang, antara lain kain panjang dan
sarung. Setelan kain atau sarung dengan selendangnya sering digunakan dengan kebaya
sebagai busana nasional perempuan Indonesia.
Sekarang ini berkembang jenis batik yang menampilkan pola dan ragam hias daerah,
seperti pola dan ragam hias bunga-bunga khas Bali, ragam hias Asmat, dan ragam hias ukiran
Tana Toraja. Perkembangan pemakaian batik yang tidak hanya digunakan sebagai bahan
busana memungkinkan penerapan ragam-ragam hias kedaerahan sebagai penyusun pola
batik.
Batik Indonesia semula sebagian besar diproduksi di Yogya dan Solo, namun kini
dapat ditemukan dengan mudah di Pekalongan, Bali, Papua, Kalimantan, dan Sulawesi,
khususnya Toraja. Oleh para desainer Indonesia, batik dikembangkan secara luas menjadi
busana modern. Produk busana sehari-hari atau pun produk adi busana, yang dibuat untuk
kepentingan khusus atau terbatas (limitededition), dibuat dengan pola-pola batik, baik yang
berasal dari keraton maupun jenis batik lainnya, serta ragam hias daerah sesuai dengan
kepentingan.
Para desainer busana yang menggunakan dan mengembangkan batik untuk berkarya,
diantaranya sebagai berikut:
1. Iwan Tirta dari Jakarta.
2. Ardiyanto Pranata dari Yogyakarta.
3. Danar Hadi dari Solo, Jawa Tengah.
4. Samuel Wattimena dari Jakarta.
5. Asmoro Damais dari Yogyakarta.
6. Chossy Latu dari Jakarta.
7. Edward Hutabarat dari Jakarta.

Masih banyak lagi desainer busana di Indonesia yang menggunakan batik sebagai
salah satu bahan ekspresi, namun kebanyakan dari mereka tidak beriklan sehingga kurang
dikenal. Akibatnya, generasi muda Indonesia lebih mudah mengingat para desainer luar
negeri daripada desainer dalam negeri. Padahal, di kancah internasional, desainer Indonesia
tidak kalah pamor dengan desainer-desainer dari luar.
Industri batik di Indonesia sangat pesat dan tidak hanya terbatas pada produk sandang.
Kini batik telah digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai sandang: bahan busana tradisional, kain panjang, sarung, kerudung, selendang,
ikat kepala, busana utama, dan kemben.
2. Sebagai busana modern: rok, bahan untuk kain, gaun, scarf, dasi, saputangan, T-shirt,
dompet, kostum boneka, tas, dan sandal.
3. Sebagai barang kebutuhan rumah tangga: serbet, alas piring, alas gelas, taplak meja,
penutup berbagai barang rumah tangga (dispenser, tempat nasi, dan lain-lain), serta seprai
dan sarung bantal.
4. Sebagai pelengkap interior: gorden, penutup jok, bedcover, dan tutup lampu.
5. Sebagai elemen estetis: lukisan, hiasan dinding, map, dan lain-lain.
6. Sebagai seni kriya: patchwork, kartu bergambar, dan lain-lain.

Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, industri batik di Indonesia juga
diekspor untuk memenuhi kebutuhan luar negeri. Batik telah menjadi busana dunia yang
sangat populer. Kelebihan batik Indonesia dibandingkan dengan batik-batik dari negara lain
adalah keragaman motif dan desain penggarapannya yang cenderung halus, mengingat
Indonesia adalah negeri batik yang sudah ratusan tahun mengenal dan mengembangkan batik.
Salah satu faktor yang mempersulit perkembangan industri batik untuk ekspor adalah
rumitnya aturan birokrasi ekspor sehingga hanya sedikit pengusaha batik yang mengekspor
produknya. Usaha-usaha perbaikan untuk mempermudah ekspor tersebut terus dilakukan dari
tahun ke tahun sehingga memudahkan pengusaha batik untuk melakukan ekspansi. Industri
batik di Indonesia termasuk salah satu industri besar yang menampung banyak tenaga kerja.
Di dalam negeri, industri batik dapat ditemukan di berbagai daerah, baik di Jawa
maupun luar Jawa, baik dalam skala industri rumah tangga, skala industri kecil, menengah,
maupun besar. Perdagangan dan jual beli batik pun dapat ditemukan di setiap tempat, dari
pasar-pasar tradisional, grosir-grosir, toko-toko kecil, supermarket, sekolah mode, toko-toko
online, hingga butik-butik elit yang khusus menjual batik-batik tertentu.
Industri batik di Indonesia telah menjadi bagian erat dari kehidupan masyarakat
Indonesia. Batik di Indonesia telah menjadi barang yang sangat mudah didapatkan dengan
harga terjangkau. Tidak ada orang yang tidak bisa mendapatkan batik.
Sementara untuk ekspor batik ke luar negeri, tidak setiap perusahaan batik dapat
melakukannya. Hanya perusahaan-perusahaan yang telah memenuhi standar dan aturan untuk
melakukan eksporlah yang dapat melakukannya. Ini karena batik sebagai komoditas ekspor
tidak dilakukan secara massal, tetapi dibawa secara perorangan (atau perusahaan) melalui
pameran-pameran tekstil dan busana di forum internasional.
Apabila mereka memiliki kekurangan stok atas produk untuk ekspor, biasanya
perusahaan-perusahaan seperti ini akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain
yang menjadi mitra binaannya. Dengan demikian, kebutuhan ekspor akan dapat dipenuhi.
Tentunya hal ini sangat membantu penyebarluasan batik sebagai komoditas ekspor
mengingat batik di luar negeri juga tidak hanya digunakan sebagai bahan pakaian, tetapi
cenderung sebagai bahan seni bernilai tinggi. Inilah yang menjadi tantangan besar bagi
industri batik di Indonesia. Para pengusaha dan perusahaan batik harus dapat melakukan
terobosan-terobosan agar batik Indonesia dapat dijadikan komoditas ekspor yang dikirim
secara massal.
Beberapa negara yang bukan negeri batik, seperti Malaysia, Thailand, Singapura,
Vietnam, Cina, bahkan Afrika Selatan, dan Polandia sudah dapat melakukan hal ini. Mereka
mengekspor batik buatan mereka ke mancanegara. Padahal, batik-batik tersebut banyak
dibuat di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kearifan dan kerja sama dari berbagai pihak,
baik pengusaha, pedagang, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi
pengekspor batik terbesar di dunia. Namun jika potensi ini tidak dikelola dengan baik dan
dibiarkan begitu saja, jangan heran kalau kemudian negara-negara lain yang bukan negeri
asal batik pun bisa menjadi negara pengekspor batik skala besar.
Tantangan besar lainnya dalam industri batik Indonesia adalah sumber daya manusia
(SDM). Generasi pembatik di Indonesia pada umumnya sudah berumur lanjut dan biasanya
tidak ada upaya regenerasi secara besar-besaran untuk mentradisikan proses membatik.
Akhirnya, banyak generasi pembatik yang tidak mewariskan apa-apa, selain karya-
karya batik yang sudah diperjualbelikan dan mungkin sudah rusak karena pemakaian.
Berkaitan dengan hal ini, sangat diperlukan upaya khusus untuk menggugah minat generasi
muda Indonesia agar ikut terjun ke usaha dan industri batik.
Di masa sekarang, sudah banyak upaya regenerasi yang dilakukan oleh pemerintah,
pihak swasta, maupun masyarakat pembatik secara umum. Banyak sekolah dan kursus
informal pembatikan yang dibuka khusus untuk anak-anak, remaja, dewasa, hingga
masyarakat umum. Waktu dan biaya yang diperlukan pun relatif singkat dan terjangkau.
Dengan demikian, makin banyak orang mengenal dan mengerti proses pembatikan. Dari sini
diharapkan makin banyak generasi muda yang bersedia menekuni usaha pembatikan dan
mengembangkannya demi kelestarian batik Indonesia.
Dari segi teknologi, industri batik di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan
industri pembatikan di negara-negara lain. Industri batik di Indonesia pada umumnya belum
melakukan perbaikan sistem dan teknik produksi agar lebih produktif dan mutunya bisa sama
untuk setiap lembar batik yang diproduksi. Penggunaan zat warna alam pada umumnya masih
belum dapat memberikan hasil yang stabil antara satu dengan lainnya. Jadi, terjadi perbedaan
kualitas dalam setiap produksi batiknya. Ini tentu sangat mengganggu bila ditujukan untuk
produksi massal.
Selain itu, ketersediaan bahan baku sutra-bahan baku batik yang sangat diminati di
luar negeri-juga masih sangat terbatas. Sebagian besar serat sutra masih harus diimpor.
Diperlukan upaya khusus untuk mengembangkan dan memperluas industri ternak ulat sutra
sehingga dapat menumbuhkan industri tekstil sutra. Industri batik memang tidak dapat
dipisahkan dengan industri-industri lainnya, seperti tekstil, zat-zat pewarna, dan lain-lain.
Dari segi pemasaran, industri batik Indonesia juga masih sangat bias, belum ada fokus
pemasaran untuk mengangkat batik Indonesia sebagai high international fashion. Dengan
demikian, batik Indonesia masih sering dianggap sebagai fashion tradisional yang dikenal di
lingkungan terbatas. Padahal, sebenarnya batik Indonesia telah mendunia. Telah banyak
desainer busana dari Indonesia yang menyelenggarakan pameran batik maupun fashion show
batik di luar negeri.
Permasalahan hak kekayaan intelektual motif batik juga menjadi tantangan yang tidak
ringan bagi industri batik Indonesia. Sudan begitu banyak motif batik Indonesia yang ditiru
dan dijiplak mentah-mentah oleh industri batik negara lain karena tidak adanya hak paten.
Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah berusaha
mendokumentasikan motif-motif batik Indonesia. Ada sekitar 3.000 motif batik telah
didokumentasikan. Jumlah motif ini akan terus bertambah dan berkembang karena adanya
berbagai modifikasi dan pengembangan yang dilakukan oleh para desainer maupun pelaku
kreatif lainnya di industri batik Indonesia.
Saat ini, terdapat kurang lebih 50 perusahaan batik yang terdata, dengan 300 unit
usaha dan menyerap sekitar satu juta tenaga kerja di berbagai pelosok Nusantara, terutama
dari kalangan perempuan. Jumlah ini tidak termasuk jaringan distribusi dan berbagai pihak
yang terlibat dalam pengembangan dan industri kreatif batik, seperti desainer busana,
pencipta motif, pencipta modifikasi bahan dan perlengkapan dari batik, dan lain-lain.
Berikut ini adalah beberapa perusahaan batik raksasa yang ada di Indonesia, yang
tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga telah melakukan ekspor batik ke
mancanegara; baik secara mandiri maupun bersama-sama dengan kelompok pengusaha
lainnya mengadakan pameran batik di ajang pameran tekstil internasional.
Penulisan nama perusahaan batik disini tidak membedakan segmentasi pasar; apakah
tujuan pasar mereka kelompok menengah ke bawah atau menengah ke atas. Hal ini
disebabkan ada perusahaan yang pada awalnya melakukan segmentasi pasar untuk tujuan
menengah ke atas, tetapi pada perkembangannya kemudian juga membidik pasar menengah
ke bawah atau memproduksi keluaran-keluaran tertentu secara massal untuk memenuhi
permintaan khalayak luas.
Beberapa Daftar Nama dan Alamat Perusahaan Batik di Indonesia:
1. ADMTex
Jl. Pekajangan XX No. 10, Kedungwuni, Pekalongan 51172, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0285-785178, 785198. Faks: 0285-785178.
2. Batik Allure
Jl. Kemang Raya No. 27 A, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-7181355. Faks: 021-7195725.
Gerai batik Allure tersebar di pusat-pusat perbelanjaan elite di kota-kota besar Indonesia
dan beberapa kota pusat mode di luar negeri.
3. Batik Cirebon
Jl. Kelapa Dua No. 20 RT 03/06, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11550, DKI Jakarta,
Indonesia.
Telp: 021-5301995. Faks: 021-5301995.
4. Batik Danar Hadi
Jl. RE Martadinata No. 60, Bandung 40115, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 022-4261668, 4261665. Faks: 022-4230782.
Gerai batik Danar Hadi tersebar di kota-kota besar di Indonesia.
5. Batik El Rahma
Jl. Urip Sumoharjo No. 197, Pekalongan 51111, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0285-7997817.
6. Batik Ike
Jl. Trusmi Kulon No 129, Weru, Cirebon 45154, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 0231-320307.
7. Batik Kencana Murni
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 37, Solo 57142, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-714045, 723230. Faks: 0271-742935.
8. Batik Kencana Ungu
Jl. Karet Kuningan No. 8, Jakarta Selatan 12940, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-3847756. Faks: 021-3915076.
9. Batik Margaria
Jl. Ahmad Yani No. 69, Yogyakarta 55122, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-512669. Faks: 0274-516026.
10. Batik Merak Manis
Jl. Sidoluhur No. 19 Laweyan, Surakarta 57148, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-719641.
11. Batik Nusa Indah
Perkampungan Industri Kecil Blok C No. 6, Penggilingan, Jakarta Timur 13940, DKI
Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-46822816. Faks: 021-46822816.
12. Batik Plentong
Jl. Tirtodipiran No. 48, Yogyakarta 55143, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-373777, 371912. Faks: 0274-371912.
13. Batik Riana Kusuma
Jl. Bintaro Utama Blok EB 1 -71 Sektor V, Jakarta Selatan 12330, Indonesia.
Telp: 021-7374356. Faks: 021-7342543.
14. Batik Sahabat
Tanah Abang Shopping Centre Blok D Los A G-1 No. 6, Jl. KH. Fachruddin No. 36,
Tanah Abang, Jakarta Pusat 10250, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-31937940, 3148265. Faks: 021-8298111.
15. Batik Sekar Wangi
Jl. Kadipaten No. 2, Yogyakarta 55132, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-374728. Faks: 0274-377818.
16. Batik Sinar Gunung Jati
Jl. Syekh Datul Kahfi No. 73, Plered, Cirebon 45154, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 0231-321163. Faks: 0231-325578.
17. Batik Sri Timur
Jl. Parangtritis No. 71,Yogyakarta, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-385539, 376327, 374680. Faks: 0274-376327.
18. Batik Srihadi
Griya Bintara Indah Blok BB-2 No. 4, Jl. Bintara Raya, Bekasi Barat, Bekasi 17134, Jawa
Barat, Indonesia.
Telp: 021-8852367, 8852368. Faks: 021-8852368.
19. Batik Zainal
Jl. Raya Grogol Gang Seruni RT. 02/03, Solo 57552, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-622880, 621979, 621240. Faks: 0271-621089.
20. CV Batik Surya Kencana
Jl. Ngadinegaran MJ 3 No. 133, Yogyakarta 55143, Dl Yogyakarta, Indonesia.\
Telp: 0274-376798. Faks: 0274-377526.
21. CV Gino Valentine
Jl. Nangka Gg. Kenari V No. 17 Denpasar Timur, Denpasar 80231, Bali, Indonesia.
Telp: 0361-245233. Faks: 0361-244516.
22. CV Indah Rara Djonggrang
Jl. Tirtodipuran No. 18, Yogyakarta 55143, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-375209, 378653. Faks: 0274-378653.
23. CV Nadira
Jl. Kuta Resik No. 16, Indiahiang, Tasikmalaya 46132, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 0265-331335. Faks: 0265-338225.
24. Jawa Dwipa
Jl. Danau Semayang No. 135, Pejompongan, Jakarta Pusat 10210, Indonesia.
Telp: 021-5736732, 5704203. Faks: 021-5736732.
25. Luwes Putra Batik
Jl. Mongkuyodan No. 45, Yogyakarta, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-378655, 376144. Faks: 0274-369023, 381231.
26. Mustika Dewie Trading Co.
Jl. Nyai Ahmad Dahlan NG IV No. 58, Yogyakarta 55261, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-373352. Faks: 0274-381380.
27. Nalendra Batik Galery
Jl. Mangunsarkoro No. 54, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0291-592781.
28. PT. Adi Luhur Batik
Jl. Anggrek IV No. 24, Jakarta Selatan 12940, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-5223047-8. Faks: 021-5223049.
29. PT. Alfa Manunggal Texindo
Jl. Kaliwingko RT 01 /01, Grogol, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-620877. Faks: 0271-620877.
30. PT. Batik Hajadi
Jl. Palmerah Utara No. 46, Slipi, Jakarta Barat 11480, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-5480656, 5480584. Faks: 021-5480816.
31. PT. Batik Kencana Ungu
Alfa Building No. 10, Proyek Tanah Abang, Jakarta Pusat 10160, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021 -31936078, 3847756. Faks: 021 -3915076.
32. PT. Batik Keris Utama
Kelurahan Cemani (Selatan Laweyan), Grogol, Solo 57100, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-715399, 714555, 714400. Faks: 0271-717182, 714551.
Galeri Batik Keris tersebar di seluruh kota besar di Indonesia dan beberapa negara Asia.
33. PT. Batik Semar
Jl. Adi Sucipto No. 101, Solo 57132, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-722937. Faks: 0271-721590.
Galeri Batik Semar tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.
34. PT. Binkomara Huma (Bin House)
Jl. Purworejo (Teluk Betung) No. 10, Jakarta Pusat 10310, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-31934948, 31935941. Faks: 021-3152493.
35. PT. Citra Mulia Arta Kencana
Agung Sedayu Complex Blok F No. 22, Jl. Mangga Dua Raya, Harco Mangga Dua,
Jakarta Pusat 10730, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021 -6121174, 6128603. Faks: 021 -6128653.
36. PT. Damiru Cipta Kreasi
Jl. Bendi Besar No. 30, Tanah Kusir, Jakarta Selatan 12240, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-7290686, 7394875. Faks: 021-7239655.
37. PT. Dwira Kencana Citra Mandiri
Grand ITC Permata Hijau Complex, Jl. Letjen Soepeno No. 15-16 PG, Jakarta Selatan
12210, Indonesia.
Telp: 021-53663981-3. Faks: 021-53663980.
38. PT. Fuji Semitexijaya
Jl. Karet Kuningan No. 4, Jakarta Selatan 12930, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-5255925, 5256184, 5254355. Faks: 021-5207597, 5225052.
39. PT. Graha Toms Silver
Jl. Ngeksigondo No. 60, Kotagede, Yogyakarta 55172, DI Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-377800, 372818. Faks: 0274-373070.
40. PT. Hanung Craft
Jl. Aria Putra No. 40 RT 02/02, Ciputat, Jakarta Selatan 12410, Indonesia.
Telp: 021-70806044, 7490963. Faks: 021-7490963.
41. PT. Praja Cipta Karya
Jl. Hang Lekir VI No. 5, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12120, Indonesia.
Telp: 021-7243680, 7398668. Faks: 021-7398668.
42. PT. Sakura Sarana Putra
Jl. Kyai Maja No. 51, Solo 57117, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-645621. Faks: 0271-654551.
43. PT. Santha Buana Bali
Jl. Imam Bonjol No. 339 C Denpasar Barat, Denpasar 80119, Bali, Indonesia.
Telp: 0361 -484653. Faks: 0361 -484165,483534.
44. PT. Tirtasuryatex Anggun
Jl. Karet Sawah I No. 30, Jakarta Selatan 12930, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-5225001, 5250611. Faks: 021-5225002.
45. PT Wieda Sejahtera
Jl. Batu Alam Jaya No. 43, Condet, Jakarta Timur 13520, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-8090410, 8404866. Faks: 021-8090410.
46. Qonita Batik
Jl. Gajah Mada No. 49 Kramatsari, Pekalongan Barat, Pekalongan 51118, Jawa Tengah,
Indonesia.
Telp: 0285-423939, 422915. Faks: 0285-423939.
47. Ratna Dewi Tunggal Abadi
Jababeka Industrial Estate Blok W No. 10, Jl. Jababeka XII, Cikarang, Bekasi 17550,
Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 021-8934220. Faks: 021-8934541.
48. Ravena Batik Garmenindo
Jl. Pati Unus No. 46, Pekalongan 51123, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0285-428049. Faks: 0285-428048.
49. Rizki Ayu Batik
Jl. Langenarjan Lor No. 24, Keraton, Yogyakarta 55281, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-371685. Faks: 0274-371685.
50. Win-Win Batik Cirebon
Jl. Trusmi, Plered, Cirebon 45100, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 0231-3390483.
Demikian beberapa perusahaan batik yang ada di Indonesia. Selain daftar yang ada di
atas, masih sangat banyak usaha atau industri batik di Indonesia yang berskala kecil,
menengah, maupun industri rumah tangga. Bahkan ada pula yang melakukan usaha tanpa
nama, tetapi tetap membuat batik, memperjual-belikan, dan melakukan proses-proses yang
lain.
Jenis usaha rumah tangga seperti ini sangat banyak dan mungkin tak terhitung
jumlahnya. Sebagian besar dapat terus hidup karena keberadaan koperasi atau industri-
industri besar yang melindunginya sebagai bapak asuh. Namun, tidak sedikit pula yang
terpaksa mati karena kekurangan modal, tidak bisa memasarkan, berganti profesi, dan lain-
lain.
Kendala industri batik yang dirasa cukup memberatkan kalangan pembatik, terutama
mereka yang berprofesi sebagai buruh batik adalah upah membatik yang masih sangat
rendah. Merupakan kenyataan yang dapat dengan mudah ditemukan ditengah masyarakat di
lingkungan pembatik bahwa mereka membatik (memburuhkan tenaga kerjanya kepada
pengusaha), namun juga harus melakukan pekerjaan lainnya (seperti berdagang makanan,
menjadi buruh upahan kasar, dan lain-lain) karena upah dari membatik tidak mencukupi.
Para buruh batik tersebut terpaksa melakukan pekerjaan-pekerjaan lain untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Di siang hari, mereka bekerja sebagai pedagang
asongan, pedagang jajanan, buruh upahan kasar (tukang cuci, membersihkan rumah, pekerja
rumah tangga, buruh gendong di pasar, dan lam-lain), dan baru di malam harinya mereka
membatik.
Untuk mengatasi hal ini, tentunya diperlukan kesadaran pemerintah dan pihak terkait
untuk mengangkat kesejahteraan para buruh batik. Tujuannya agar mereka berkonsentrasi
membatik dan menghasilkan karya batik yang lebih bagus. Sungguhlah ironis kalau batik
Indonesia demikian berjaya di pentas nasional dan internasional, tetapi buruh-buruh batiknya
hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Para pengusaha batik yang mempekerjakan mereka
hendaknya juga lebih bijak menetapkan upah dan standar pembayaran. Tentu sangatlah tidak
adil kalau pengusaha memperoleh banyak keuntungan yang berlipat ganda tetapi para buruh
batiknya sangat miskin dan tidak bisa konsentrasi membatik karena kebutuhan hidupnya
tidak terpenuhi secara layak.
Konsep industri di mana pun akan sama, memperoleh hasil dan keuntungan sebesar-
besarnya dengan biaya seminimal mungkin. Namun rasanya konsep ini seharusnya tidak
diberlakukan di dalam industri batik mengingat para buruh batik itu tidak hanya bekerja,
tetapi mereka membatik-mereka memiliki keahlian membatik yang tidak dimiliki oleh setiap
orang. Coba pikirkan saja, berapa banyak biaya yang diperlukan oleh para pengusaha kalau
mereka harus mendidik tenaga-tenaga mentah yang tidak siap pakai untuk membatik. Jadi,
sangatlah bijaksana untuk mempertimbangkan upah buruh batik pada tingkat layak dan sesuai
dengan tingkat kesabaran dan keahliannya dalam membatik.
Selain itu, ada juga masalah yang berkaitan dengan desain-desain asli Indonesia yang
dengan mudah dibajak dan diambil oleh perusahaan-perusahaan batik di luar negeri karena
sedikitnya perlindungan paten terhadap karya anak bangsa. Permasalahan ini sering kali
dipicu oleh minimnya informasi tentang bagaimana mempatenkan karya asli mereka, biaya
yang cukup tinggi, serta birokrasi yang masih cukup sulit untuk berbagai urusan perizinan di
Indonesia.
Industri batik Indonesia juga terhadang oleh pasar global yang menyebabkan produk-
produk dari luar negeri, misalnya Cina, masuk secara bebas. Harga produk Cina yang lebih
murah, dengan berbagai corak dan motif, bila tidak disikapi bijaksana akan menghancurkan
industri kecil dan industri skala rumah tangga. Kita tidak mungkin menghindari pasar global,
tetapi harus menghadapinya dengan meningkatkan mutu, menambah pelayanan prima,
dengan harga yang bersaing sehingga pelanggan tetap memilih produk-produk batik
Indonesia. Mudah-mudahan di masa mendatang semua ini dapat terpecahkan dengan lebih
bijaksana. Apabila kondisinya sangat kondusif, pasti semakin banyak pihak yang tergerak
untuk menekuni dan mengembangkan industri batik.
Demikianlah gambaran singkat industri batik yang ada di Indonesia. Industri batik
telah mengalami perkembangan yang luar biasa dari masa ke masa. Kita harus berbangga
dengan hal ini, karena akan membantu pelestarian tradisi batik Indonesia. Namun di sisi lain,
kita juga tidak boleh menutup mata atas segala kekurangan, kelemahan, dan berbagai kendala
yang melingkupinya. Semua itu harus dijadikan sebagai tantangan dan peluang untuk
memajukan industri batik Indonesia.
BATIK SEBAGAI IDENTITAS BANGSA

Batik adalah bagian dari kebudayaan yang telah menjadi keseharian masyarakat
Indonesia. Dari masa Kerajaan Majapahit hingga masa kini, batik menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Batikdikenal dan digunakan secara
meluas setelah mengalami perkembangan dan jalan sejarah yang tidak singkat. Di masa lalu,
batik memang hanya identik sebagai pakaian para penguasa dan trah keraton. Namun dengan
perkembangan zaman, batik menjadi pakaian milik rakyat yang digunakan dalam berbagai
kesempatan.
Secara faktual, batik sebagai warisan budaya asli Indonesia tidaklah dapat dipungkiri.
Namun kenyataannya, kita sangat lemah dalam melindungi segala macam yang bersifat
"warisan" ini, sehingga membuat Malaysia mengklaim batik sebagai salah satu warisan
budaya mereka. Perselisihan dan persengketaan ini akhirnya diselesaikan oleh UNESCO
dengan menetapkan batik sebagai salah satu warisan dunia asli Indonesia pada tanggal 2
Oktober 2009. Tanggal 2 Oktober itulah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik
Nasional.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganjurkan seluruh pegawai di lingkungan
pemerintahan menggunakan batik sebagai pakaian kerja pada hari Jumat. Anjuran ini sebagai
salah satu usaha untuk memperkenalkan batik sebagai identitas bangsa. Tidak hanya pegawai
pemerintahan yang mengenakan batik pada hari Jumat, banyak juga pegawai di lingkungan
swasta yang menggunakan batik sebagai pakaian kerja di hari yang lain.
Penghargaan dunia terhadap batik Indonesia sangatlah membanggakan. Namun yang
terpenting adalah bagaimana agar kita sebagai bangsa yang besar mampu melestarikan batik
sebagai warisan budaya bangsa. Untuk itu, sangatlah penting membangun kesadaran bersama
agar batik tidak hanya menjadi euforia dan trensesaat yang kemudian hilang begitusaja. Batik
harus tetap dikembangkan agar identitas sebagai bangsa Indonesia tidak pudar dan kecintaan
terhadap batik juga tidak luntur. Dengan demikian, batik tidak hanya menjadi warisan sebagai
bagian masa lalu, tetapi tetap eksis di masa kini dan semakin berkembang di masa yang akan
datang.
Usaha untuk memperkenalkan batik sebagai salah satu identitas bangsa tidak hanya
dilakukan dengan mengenakan batik di berbagai kesempatan. Setiap pengusaha, pemerintah,
elite politik, desainer, model, dan berbagai pihak lainnya juga banyakberperansertadalam
memperkenalkan batiksebagai identitas bangsa Indonesia di forum internasional.
Indonesia terletak di Asia Tenggara dan merupakan bagian dari masyarakat dunia.
Keberadaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan negara-negara lainnya, baik negara-
negara tetangga, maupun negara-negara di belahan dunia lain. Sebagai bagian dari
masyarakat dunia, Indonesia pun turut berperan aktif dalam berbagai forum dan kancah dunia
untuk kemajuan.
Di forum-forum seperti inilah bangsa Indonesia menggunakan batik untuk
mengenalkan Indonesia. Pengenalan terhadap batik tentunya tidak hanya lewat pemakaian
batik di forum-forum internasional. Pengenalan itu dapat pula dilakukan melalui desain para
desainer handal dari Indonesia yang menggunakan batik sebagai bahan utamanya; dapat
dilakukan melalui pameran-pameran tekstil internasional; pembukaan gerai-gerai batik dari
Indonesia di negara-negara lain; ekspor batik; pengiriman tenaga-tenaga ahli batik untuk
memberikan pelajaran dan pengajaran tentang batik di luar negeri; penerbitan buku-buku
berbahasa Inggris tentang batik; pengenalan adanya industri dan wisata batik di Indonesia;
dan masih banyak lagi cara yang dapat ditempuh oleh setiap warga negara Indonesia untuk
turut serta menyebarluaskan batik.
Indonesia merupakan sumber utama inspirasi dunia dalam mengenai dan memahami
batik. Di Indonesia, tradisi membatiktelah diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan
adanya berbagai arti simbolis dalam wujud teknik, corak, proses pembuatan yang panjang,
pemakaian secara khusus dalam berbagai upacara adat, hingga berada di area kekuasaan,
seperti Keraton Yogya dan Keraton Solo, batik telah menjadi identitasyang memiliki
maknadari kehidupan budaya bangsa Indonesia.
Pengembangandan modifikasi batik dalam berbagai bentuk dalam keperluan
masyarakat juga telah banyak membantu memperkenalkan batik sebagai salah satu identitas
bangsa. Batik tidak lagi hanya dipakai dalam bentuk busana, tetapi segala macam keperluan
kehidupan untuk semua katangan. Dengan dernikian, batik sebagai identitas bangsa
diharapkan tidak luntur begitu saja.
Dengan corak batik yang saat ini beragam, cantik, fresh, dan memenuhi selera kaum
muda, generasi muda yang merupakan salah satu ujung tombak peiestarian batik dapat
berbangga hati dengan batik. Bahkan batik juga sudah banyak yang digunakan sebagai atribut
dalam kegiatan olahraga, seperti balap motor, balap mobil, basket, dan lain-lain yang sesuai
dengan selera kaurn muda.
Apa pun bentuk pengembangan dan modifikasi yang dilakukan terhadap batik, kita
patut berbangga hati dan terus mendukung. Dengan adanya kreativitas seperti itulah batik
dapat lestari.
BATIK DAN KEBUDAYAAN

Indonesia sangatlah kaya akan kebudayaan. Batik hanya salah satu dari sekian banyak
kebudayaan yang ada di Indonesia. Batik merupakan bagian kebudayaan asli Indonesia yang
diturunkan dari generasi ke generasi dengan cara yang sangat elegan, diajarkan dan dijadikan
tolok ukur kedewasaan seseorang.
Batik sebagai bagian dari kebudayaan bukan hanya digunakan untuk melatih
keterampilan lukis dan sungging, tetapi juga penuh dengan pendidikan etika dan estetika bagi
perempuan zaman dulu. Batik juga ikut menandai peristiwa-peristiwa penting dalam
kehidupan manusia, terutama di Jawa. Misalnya, batik corak sido mukti cocok digunakan
untuk upacara pernikahan. Tentunya ini bukan sekedar dipakai, tetapi digunakan untuk
menyampaikan maksud-maksud tertentu secara simbolis melalui motif-motif batik.
Kebudayaan Indonesia selalu mengalami perubahan dan perkembangan dari masa ke
masa. Kebudayaan bersifat sangat dinamis dan mengikuti perkembangan pemiliknya. Untuk
memahami kebudayaan, kita juga harus memahami makna, nilai, simbol, dan acuan yang
digunakan oleh komunitas pendukungnya. Nilai-nilai yang berkaitan dengan sesuatu yang
dianggap berharga dan simbol biasanya merniliki fungsi tertentu yang erat berkaitan dengan
identitas komunitas.
Pada umumnya, kebudayaan mengandung dua kemampuan sekaligus, yaitu
kemampuan untuk melestarikan dan kemampuan untuk mengembangkan. Satu kemampuan
mempertahankannya agar lestari, sementara daya yang lain menariknya untuk berkembang
lebih maju. Kemampuan tersebut akan sangat bergantung pada tingkat ketahanan budaya
masyarakatnya. Semakin rendah ketahanan budaya masyarakat, semakin kuat budaya luar
memengaruhi dan bahkan menghilangkannya secara perlahan-lahan.
Proses persentuhan budaya lokal dengan tradisi-tradisi besar di dunia telah melahirkan
keragaman budaya Nusantara, demikian pula yang terjadi pada batik. Baling silang budaya
itu telah membuat perubahan yang dinamis dalam tradisi batik Nusantara. Batik di Indonesia
telah mengalami perubahan yang demikian kreatif sehingga memunculkan berbagai bentuk
dan corak yang sangat asli Indonesia, seolah-olah tidak ada kebudayaan lain yang melatari
corak-corak dan motif-motif tersebut.
Berbagai jenis batik di Indonesia yang dipengaruhioleh India, Eropa, Asia, dan
berbagai bentuk karakterbusana tradisi-tradisi besardiduniatelahmengejawantah menjadi
dirinya sendiri. Mereka telah menjawab tantangan budaya global secara kreatif, sehingga
tidak terdesak tenggelam di dalam kebudayaan-kebudayaan besar tersebut.
Seni batik di Indonesia bukan hanya "seni yang indah dilihat" tetapi juga "seni yang
dapat dipakai". Seni batik telah berkembang sedemikian pesat sehingga tidak hanya menjadi
karakteristik keindahan, tetapi telah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan dengan sangat
mudah dapat diperhitungkan nilai jual belinya berdasarkan keindahan dan kegunaannya.
Keragaman corak, warna, hingga estetika yang membentuk batik pada masing-masing
daerah bukan saja merupakan identitas visual artistik dari keragaman batik itu sendiri, tetapi
sekaligus dapat dilihat sebagai identifikasi karakter budaya yang membentuknya. Selain itu,
ada pula filosofi, sejarah, dan nilai lainnya.
Kebudayaan yang maju di suatu negara akan semakin mendorong masyarakatnya
untuk terus bergerak kreatif. Dengan kekreatifan itu, diharapkan batik Indonesia akan
semakin menunjukkan jati dirinya sebagai salah satu warisan kebudayaan Indonesia yang
memiliki ciri, karakter, warna, corak, dan motif yang khas Indonesia.
BATIK DAN PARIWISATA

Dunia pariwisata Indonesia tidak dapat dilepaskan dari batik, teriebih sejak
dikukuhkannya batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Batik telah begitu banyak
digunakan, sangat populer, dan menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia. Batik kerap
digunakan pada hari atau acara tertentu oleh seluruh komponen industri pariwisata di
Indonesia.
Keberadaan batik di Indonesia sangat menunjang industri pariwisata. Kita dapat
menemukan batik di setiap tempat wisata, meskipun batik sendiri bukan komponen utama
untuk pariwisata di daerah tersebut. Misalnya saja di Bali, kita dapat dengan mudah
menemukan batik di berbagai tempat; dari bandara, hotel, rumah makan, pakaian para
pelayan, suvenir, perabotan, berbagai atribut di tempat wisata, dan lain-lain. Batik telah ikut
membantu memperkenalkan pariwisata Indonesia di mata dunia.
Dengan berbagai atribut batik tersebut, mau tidak mau para wisatawan, baik
wisatawan domestik maupun wisatawan asing, teringat akan batik. Ingat batik berarti ingat
Indonesia. Secara tidak langsung, ini akan membantu promosi pariwisata Indonesia ke
wisatawan asing di luar negeri. Ikon penggunaan batik di Indonesia pasti sangatlah khas
dibandingkan dengan penggunaan batik-batik di negara lain.
Dan bila batik menjadi atribut yang ada di kota-kota batik, para wisatawan tidak
hanya melihat dan menikmati pemandangan tentang batik, tetapi mereka juga dapat mengenal
batik dengan lebih dekat. Mereka dapat berkunjung ke museum batik dan mengetahui sejarah
perbatikan, mengenali proses dan cara membatik, berbelanja batik dengan harga yang lebih
murah dan kualitas terbaik, dan berbagai macam hal yang berkaitan dengan batik. Dengan
demikian, mereka akan lebih mengenali batik yang di dalamnya terdapat berbagai nilai-nilai
dan makna filosofis yang adiluhung.
Pengenalan batik untuk memopulerkan pariwisata Indonesia tidak hanya dilakukan di
dalam negeri, namun juga gencar dilakukan di luar negeri. Berbagai elemen, mulai dari
pemerintah, pengusaha, dan masyarakat Indonesia di luar negeri juga ikut menggunakan batik
sebagai sarana mempromosikan Indonesia, terutama bidang pariwisata.
Di berbagai perwakilan Indonesia di luar negeri, tidak jarang diadakan kegiatan yang
bersifat mengenalkan batik dan pariwisata dalam rangka meningkatkan jumlah wisatawan
asing ke Indonesia. Pengenalan-pengenalan tersebut sering pula dilakukan oleh para pelajar
dan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Batik telah menjadi salah satu identitas Indonesia yang dapat digunakan untuk
mempromosikan pariwisata Indonesia. Batik yang khas Indonesia sangat memudahkan orang
asing mengingat segala sesuatu tentang Indonesia. Batik membuat orang yang awalnya sama
sekali tidak tahu tentang Indonesia ingin berkunjung ke Indonesia. Mungkin tujuan awal
mereka ke Indonesia hanya untuk mengenal batik secara intensif, tetapi tidak jarang
kemudian mereka meneruskan perjalanan wisata batiknya ke tern pat-tern pat wisata lain di
Indonesia.
Hal ini jelas sangat menguntungkan dunia pariwisata Indonesia karena pada
umumnya, sekali orang asing berkunjung ke Indonesia, mereka akan datang lagi di lain waktu
dengan rombongan yang lebih besar. Ini bisa terjadi karena mereka terpikat dengan Indonesia
yang begitu indah, ramah, memukau, dan penuh kebudayaan yang tiada bandingnya.
Selain batik, berbagai tari-tarian asli Indonesia yang menggunakan pakaian adat juga
turut membantu perkembangan pariwisata Indonesia. Masih ditambah lagi berbagai macam
ritual dan upacara adat.
Batik tidak dapat dilepaskan dari masyarakat Indonesia dan keberadaannya pun telah
membantu kemajuan dunia pariwisata Indonesia. Pariwisata Indonesia memang tidak
bergantung pada keberadaan batik, namun pengakuan dunia internasional atas batik sebagai
warisan budaya asli Indonesia telah mendorong industri pariwisata Indonesia berkembang
pesat dengan menggunakan batik sebagai pendukungnya.
BATIK DAN DUNIA FASHION

Di balik simbol-simbol dalam berbagai motif dan corak batik terdapat banyak makna
dan nilai-m'lai luhur yang ingin disampaikan. Batik di Indonesia telah melewati masa dan
sejarahyang panjang untuk sampai pada perkembangannya yang pesat dewasa ini. Semua
tidak lepas dari perkembangan zaman, pemikiran, teknologi, hingga kreativitas yang
mewarnai motif dan corak batik.
Kreativitas memang tanpa batas. Kreativitas mendorong seseorang menjelajahi alam
pikiran yang gaib dan membuat kejutan yang tidak terduga. Kreativitas para pelaku industri
batik terus berkembang menerobos ruang dan waktu tanpa mengabaikan nilai-nilai universal,
sehingga dapat bertahan dan semakin kokoh eksistensinya.
Merupakan suatu keniscayaan realitas bahwa kemudian batik Indonesia lebih mampu
mengaktualisasi diri sebagai satu bagian dari warisan budaya yang disenangi, menjadi tren,
berkembang pesat, dimodifikasi, dikembangkan, disebarluaskan, hingga menjadi semacam
budaya baru yang up-to-date. Batik tidak tenggelam dimakan usia karena adanya usaha terus-
menerus dari generasi ke generasi untuk melestarikannya, sesuai dengan perkembangan
pemikiran dan teknologi di masanya masing-masing.
Kenyataan ini semakin menemukan relevansi ketika dunia batik menjadi bagian dari
dunia mode dan dunia fashion. Didalamdunia mode dan dunia fashion, telah berkembang
adanya fashion design industry yang membuat batik semakin kokoh dan eksis. Batik telah
diakui sebagai bahan fashion yang diperhitungkan, tidak hanya di dalam Indonesia tetapi juga
di luar negeri, di pentas internasional.
Dengan adanya sistem industri tersebut, segala sesuatu yang berkaitan dengan urusun
komersial berjalan dengan sangat ketat, tidak hanya bergantung pada selera pencipta
(designer), tetapi juga melibatkan unsur-unsur lain secara terpadu, seperti konseptor, penata
gaya, pembuat, promoter, pemasar, kolektor, pemakai, pengamat, kritikus, hingga penulis.
Hubungan lain yang berkaitan dengan kerjasama tersebut adalah adanya industri batik yang
bersifat global, di mana batik Indonesia telah menjadi bagian dari liberalisesi perdagangan
tekstil dunia. Di sinilah diperlukan komitmen yang kuat dari berbagai unsur dan komponen
yang bekerja sama tersebut untuk tetap mempertahanan keteguhan hati dalam
mempertahankan unsur dan nilai budaya bangsa yang terkandung di dalam batik.
Perjalanan sejarah batik yang sangat panjang tentunya tidak dapat dilepaskan dari
masalah perekonomian. Bahkan di masa lalu, batik ikut menopang perekonomian masyarakat
saat negara dalam keadaan perang dan masih dalam masa penjajahan. Jadi, batik bukan
sekedar kain warisan yang tidak bernilai karena batik sarat akan kisah yang mendalam.
Para pelaku industri fahion batik harus selalu memperbarui komitmen mereka bahwa
batik merupakan jati diri mereka. Batik tetap harus kental dan menjadi karakter dari setiap
karya mereka walaupun batik sudah dibingkai dalam pola-pola liberalisesi maupun pasar
bebas atas dasar keuntungan komersial. Bagaimana pun juga, urusan industri dan
komersialisasi tidak harus mengabaikan nilai-nilai budaya adiluhung yang terkandung di
dalam batik.
Telah banyak pengusaha batik nasional yang mernpertahankan batik sebagai industri
mereka. Walaupun mereka mengeluarkan batik cap sebagai produksi massal dengan berbagai
desain yang modern dan tidak sesuai pakern, mereka juga tetap mengeluarkan batik tulis yang
setia pada nilai-nilai budaya dan menggunakan pakem batik yang sangat kental bahkan
cenderung konvensional.
Fashion batik juga terus mengalami perkembangan pesat. Batik tidak hanya menjadi
fashion golongan tertentu, namun batiktelah menjadi miliksemua orang, dari bayi, anak-anak,
remaja, dewasa, orang sampai tua. Dalam dunia busana pun sudah banyak perancang muda
yang serius menekuni fashion batik. Inilah yang mendorong perkembangan fashion batik.
Pengembangan terhadap batik tidak hanya berkaitan dengan busana. Batik sebagai
fash/on juga telah merambah home furnishing, misalnya piring dengan desain batik untuk
suvenir, corporate gift, taplak meja, bantal hias, serbet, quilted bedcover, dan lain-lain.
Semuanya itu akan berdampak besar bagi perekonomian Indonesia. Semakin banyak orang
yang terlibat dalam fashion batik, semakin banyak pula tenaga kerja yang terserap.
Perkembangan ini tentu sangat baik untuk terus ditingkatkan di masa-masa yang akan datang.
WISATA BATIK DI INDONESIA

Membicarakan wisata batik di Indonesia ibarat membicarakan seluruh kota yang ada
di Indonesia. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya setiap kota di Indonesia memiliki
daerah "wisata batik", meskipun hanya kelas kecil atau mungkin baru berupa beberapa tempat
perbelanjaan yang menyediakan batik.
Hampir di seluruh kota di Indonesia dapat ditemukan tempat yang memperjualbelikan
batik. Namun yang dimaksud dengan wisata batikdisiniadalah tempat yang dikenal sebagai
daerah tujuan wisata batik. Di tempat tersebut tidak hanya terjadi jual beli batik, tetapi juga
komponen atau unsur-unsur penunjang lainnya, seperti museum batik, cara pengenalan dan
pembuatan batik, sarana dan prasarana yang memadai untuk mencapai tempat tersebut, dan
lain-lain.
Berikut ini adalah tempat-tempatyang dikenali sebagai daerah wisata batik di
Indonesia. Daerah-daerah wisata batik pada umumnya terdapat di daerah-daerah yang
memiliki sejarah cukup panjang berkaitan dengan batik. Jadi, di sini akan dikemukakan
daerah-daerah wisata batik, yang di dalamnya terdapat berbagai fasilitas untuk mendapatkan
pengetahuan batik secara cukup lengkap. Baik dari sejarah, proses pembuatan, penjualan, dan
lain-lain yang berkaitan dengan batik.
A. Tulungagung
Tulungagung memiliki sejarah batik yang cukup panjang. Di kota yang terkenal
dengan industri marmernya ini terdapat beberapa tempat yang dapat dijadikan wisata
batik, di antaranya Desa Sembung dan Desa Majan.
Keberadaan wisata batik di Tulungagung ini dipelopori oleh Lintu Tulistyan-toro
dan Sigit, perajin batik dari Tulungagung. Mereka berusaha menumbuhkan kembali
semangat dan kecintaan terhadap batik tulungagung, yang memiliki nilai sejarah terhadap
perkembangan batik di Jawa Timur dan Nusantara secara umum.
Dengan adanya desa tersebut sebagai wisata batik, diharapkan perhatian
masyarakat terhadap batik semakin meningkat dan akan meningkatkan penjualan batik.
Dengan demikian, diharapkan secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan perajin
batik. Di sini, orang yang datang juga bisa belajar membatik, mengetahui sejarah singkat
batik, dan juga melakukan pembelian berbagai jenis dan bentuk batik.
Sebagian besar tempat wisata batik di Tulungagung menggunakan bahan-bahan
alam, meskipun tetap mengedepankan inovasi. Bahan-bahan alam tersebut digunakan
karena aman untuk lingkungan dan murah karena banyak terdapat di lingkungan sekitar.
Batik tulungagung berasal dari banyak daerah di sekitarnya. Daerah tertua
Bonorowo atau Mrowo memiliki ciri khas batik dengan tanaman atau binatang air.
Beberapa corak antara lain kalangbret dengan ciri khas kotongon (bentuk kosong tanpa
ada isen-isennya) dan kembang blinjo. Ada pula corak rowan dengan ciri khas tergantung
daerah yang membuat. Corak yang lain misalnya sekar jagad dengan ciri bunga-bunga.
Sedangkan batik di Desa Majan, mengadaptasi dari Jawa Tengah; ada corak sido luhur
jarot asem, merak biru kedah, banyak ndekem (sampek engtay), dan lain-lain. Umumnya,
batik di Tulungagung dan sekitarnya ini dipengaruhi corak-corak batik dari Solo dan
Yogya.

B. Mojokerto
Mojokerto adalah kota istimewa dalam sejarah Indonesia. Inilah kota yang pernah
menjadi ibukota Majapahit. Jadi, tidak mengherankan kalau di kota ini banyak sekali
peninggalan bersejarah, baik yang sudah ditemukan dan terdata maupun yang masih
terpendam dan tersebar di hampir seluruh wilayah Mojokerto.
Sayangnya, walaupun di masa lalu batik mojokerto berkembang cukup pesat, kini
hampir tidak tersisa jejaknya. Hanya ada satu keluarga yang secara turun-temurun
meneruskan tradisi membatik, dan diperlukan kesabaran bertanya untuk bisa menemukan
lokasinya karena warga setempat umumnya mengernyitkan dahi bila mendapat
pertanyaan tentang "wisata batik mojokerto".
Yang masih sangat aktif membatik adalah Erna, perempuan setengah baya yang
secara turun-temurun meneruskan tradisi membatik dengan canting di kediamannya di
kawasan Surodinawan. Bisa jadi, dia kini satu-satunya pembatik yang masih produktif di
Mojokerto. Batik yang biasa dibuatnya adalah batik khas Mojokerto dengan simbol Surya
Majapahit yang dicampur dengan motif merica belong, beras tumpah, dan motif-motif
primitif lainnya.
Di tempat ini, walaupun skalanya kecil, kita bisa mendapatkan banyak wawasan
tentang batik, mengerti dan mengikuti proses pembuatan batik, serta membeli atau
memesan batik yang kita inginkan.

C. Ponorogo
Di Ponorogo, hanya terdapat tempat belanja batik yang menyediakan batik-batik
khas Ponorogo, yang sebagian besar coraknya didominasi oleh gambar-gambar merak
yang populer. Namun demikian, banyak sekolah bahkan masyarakat pembatik yang
bersedia memberikan workshop batik secara berkala pada mereka yang memerlukan.

D. Yogya
"Yogya Kota Wisata". Sepertinya julukan itu tidak berlebihan untuk Yogya. Kalau
kita sudah ada di kota ini, ada banyak sekali tempat wisata yang dapat dinikmati, dari
kotanya yang sangat nyaman dengan berbagai tradisi dan budaya, pantai-pantai yang
menawan, hingga peninggalan-peninggalan sejarah yang sangat banyak. Tidak
ketinggalan pula wisata kulinernya yang luar biasa.
Wisata batik di kota ini juga sangat lengkap. Batik seperti apapun pasti dapat
ditemukan di kota ini. Ada banyak sentra industri batik yang menyediakan wisata batik.
Daerah yang biasa dijadikan tempat wisata batik antara lain Tirtodipuran, wisata batik
Kayu Krebet Bantul, Kampung Batik Giriloyo, Desa Kliwonan, dan museum batik yang
ada di Jl. Dr. Sutomo 13A Yogyakarta. Selain itu, wisatawan yang ingin mendapatkan
model batik dalam bentuk lukisan dapat menemukannya dengan mudah di Pasar Seni
Gabusan, sepanjang Jalan Malioboro, atau pun Pasar Beringharjo.
Selain tempat-tempat tersebut, ada pula tempat wisata batik yang cukup lengkap,
yaitu Museum Ullen Sentalu di Kaliurang (dekat Kali Boyong) yang menyimpan sejarah
kejayaan kerajaan yang lebih menonjolkan jati diri wanita-wanita keraton yang selama ini
belum banyak diketahui orang. Museum ini sudah dibuka dari tahun 1997 oleh KGPAA
Paku Alam VIII yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur DIY.
Di Yogya, para pengagum batik bisa puas mendapatkan segala sesuatu tentang
batik: sejarahnya, wisatanya, belanjanya, bahkan workshop pembelajaran tentang batik.
Membatik di Yogya bukanlah sesuatu yang aneh dan merupakan profesi yang cukup
populer. Membatik tidak lagi hanya dilakukan oleh nenek-nenek atau orang-orang tua
generasi lama. Di sini, membatik telah menjadi bagian dari kegiatan generasi muda. Di
berbagai tempat dapat ditemukan anak-anak muda sibuk membatik.
Di Yogya, para seniman dan pengusaha batik terus-menerus melakukan inovasi
dan terobosan di bidang batik. Dengan demikian, wisata batik di Yogya mengalami
perubahan dan perbaikan setiap saat. Semuanya dilakukan untuk dapat mempertahankan
usaha batik itu sendiri dan di sisi lain juga mencari hal-hal baru yang dapat dikembangkan
untuk memajukan batik secara umum.
E. Solo
Solo juga merupakan kota besar untuk batik. Di sini terdapat banyak sentra
industri batik sehingga wisata batik pun bisa dilakukan di banyak tempat di kota ini. Di
antaranya adalah wisata batik Kampung Kauman, wisata batik Kampung Laweyan, wisata
batik Museum Galeri Batik Kuno Danar Hadi, dan Pasar Klewer. Batik apa pin tersedia di
kota ini. Selain itu, dijamin harganya cukup murah dan masih bisa ditawar.

F. Kebumen
Saat ini terdapat sekitar 170 perajin batik tulis yang eksis di Kebumen. Mereka
terus melakukan produksi batik dengan kecepatan seminggu untuk corak yang sederhana
dan sebulan untuk corak yang rumit. Pusat industri batik yang dapat dijadikan sebagai
tempat wisata batik adalah Desa Tanuraksan, yang berada di Jalan Karangsambung Km
1,5 RT 04 RW 01 Tanuraksan, Depan Masjid Al Khayyu, Kebumen. Di tempat tersebut
ada kegiatan pembatikan, pemesanan, hingga jual beli batik.

G. Banyumas
Banyumas memiliki cukup banyak perajin batik, namun daerah yang paling
banyak menghasilkan batik adalah Desa Sokaraja. Di sini banyak sekali perajin batik
yang terus memproduksi batik, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Banyumas,
tetapi juga untuk pesanan dari luar daerah.
Kalau ingin berwisata batik di Banyumas, pastikan mampir ke Sokaraja. Di
tempat ini kita bisa belajar membatik, membeli, hingga memesan batik. Walaupun wisata
batiknya belum dikelola secara profesional, ada kecenderungan tempat ini akan dijadikan
daerah wisata batik di masa-masa yang akan datang.

H. Pekalongan
Kalau ingin memanjakan keinginan tentang batik dan seluk-beluknya, kota yang
tak boleh dilewatkan adalah Pekalongan. Kota ini merupakan salah satu sentra industri
batik terbesar di Nusantara. Di sana banyak sekali industri dan pusat-pusat perdagangan
batik yang dapat dijadikan referensi wisata batik.
Biasanya sentra industri batik di Pekalongan disebut berdasarkan nama desa atau
kelurahannya karena hampir semua penduduk di daerah tersebut bekerja di bidang batik;
baik sebagai perajin, pengusaha, pedagang, hingga pemasok kain dan perabotan
keperluan batik. Sebut saja sentra industri batik Jenggot, sentra industri batik Kradenan,
sentra industri batik Kergon dan Pesindon, sentra industri batik Kauman, sentra industri
batik Landungsari, dan sentra industri batik Pasirsari.
Di tempat-tempat tersebut, para wisatawan dapat menikmati wisata batik dengan
lengkap, mulai dari mengetahui cara membatik, membeli batik, hingga pemesanan.
Segala jenis dan bentuk batik dapat ditemukan di tempat ini.
Apabila tidak cukup puas dengan mengunjungi sentra-sentra industri batik, jangan
khawatir. Di Pekalongan terdapat dua pasar grosir besar yang bisa memanjakan mata dan
keinginan kita untuk berbelanja batik, yaitu Pasar Grosir Setono dan Pasar Grosir Gamer.
Keduanya terletak di Jl. Dr. Sutomo, Pekalongan. Seharian mengelilingi pusat grosir ini
serasa tak puas karena ada begitu banyak batik yang ditawarkan.
Kalau masih merasa belum puasbelajarmembatikdan belanja batik dari sentra
industri maupun pasar grosir, wisata batik bisa dilanjutkan dengan mengunjungi Museum
Batik Nasional yang berada di Jl. Jetayu No. 3, Pekalongan. Museum terebut berisi segala
pengetahuan yang ingin kita ketahui tentang batik.
Secara umum, bangunan museum ini seperti bangunan museum lainnya. Tiket
masuk ke tempat ini sangat murah dan pelayanannya sangat memuaskan. Setelah
membayar tiket, pengunjung akan didampingi seorang guide untuk melihat seluruh
koleksi. Koleksi di museum tersebut selalu diperbaharui dan di-rolling. Demikian pula
dengan tatanan interiornya.
Museum ini telah menjadi salah satu aset nasional dan dikelola langsung oleh
pemerintah pusat dan bukan milik Pemda Pekalongan. Menurut statistik data pengunjung,
rata-rata per bulan terdapat sekitar 150 orang pengunjung dan sebagian merupakan
wisatawan asing. Di museum ini terdapat 4 ruang pamer, perpustakaan, dan ruang peraga.
Ruang pamer utama menampilkan gambaran umum batik, bahan pembuatnya, dan
aneka batik kuno, baik dari Indonesia maupun batik luar yang menurut ceritanya
didatangkan dari India. Ruang pamer kedua merupakan ruang batik Nusantara. Di sini
ditampilkan batik khas dari daerah di seluruh Indonesia. Ruang pamer ketiga adalah
ruang interior batik, menampilkan perangkat interior rumah dengan bahan dasar batik.
Terdapat juga batik koleksi seorang warga negara Australia bernama Digby Mackintosh
yang dihibahkan kepada Museum Batik Pekalongan. Ruang pamer yang terakhir adalah
ruang IwanTirta, berisi bermacam-macam kain batik hasil karya Iwan Tirta, seorang
desainer Indonesia yang memiliki kecintaan pada batik.
I. Tegal
Di kota Tegal terdapat sekitar 200 perajin batik tulis yang hampir semuanya
berada di kecamatanTegal Selatan. Mereka memproduksi batik untukkepentingan
masyarakat Tegal dan juga memenuhi pesanan dari luar Tegal. Tempat wisata batik di
Tegal dapat ditemukan di Griya Batik Tulis Tegal yang ada di Kelurahan Bandung,
Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal.
Griya ini didirikan oleh pemerintah Kota Tegal bersama Dewan Kerajinan
Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Tegal. Griya batik tulis ini merupakan pusat
perdagangan dan pendidikan batik tulis di Kota Tegal. Di sini para pengunjung dapat
mengetahui proses pembuatan batik tulis dan juga melakukan pembelian maupun
pemesanan batik.

J. Tasikmalaya
Tasikmalaya merupakan salah satu sentra industri batik di Indonesia. Setelah
penetapan Hari Batik dan penetapan dari Wali Kota Tasikmalaya agar para pegawai di
lingkungan pemerintahan dan swasta mengenakan batik pada hari Kamis dan Jumat, batik
menjadi semakin populer di Tasikmalaya.
Sejak itu, galeri batik bermunculan di Tasikmalaya sehingga mempermudah
wisatawanyang hendak belanja. Namun galeri batik yang dapat dijadikan rujukan sebagai
wisata batik adalah Galeri Batik Tasik Deden di sentra batik Cigeureung, Tasikmalaya.
Koleksi di galeri ini sangat lengkap dan selalu diperbarui. Selain itu, berbagai jenis bahan
batik ada di sini. Harganya juga sangat variatif dan dapat menyesuaikan kantong
pengunjung.

K. Ciamis
Di masa lalu, Ciamis pernah menjadi daerah sentra industri batik. Namun industri
batik ini sempat berhenti karena kalah saing dengan batik printing. Baru setelah
munculnya pengakuan UNESCO terhadap batik pada tanggal 2 Oktober 2009, industri
batik tulis mulai berkembang kembali. Ada salah satu tempat yang dapat dijadikan
sebagai tempat wisata batik, yaitu Sanggar Rukun Batik. Di sanggar ini dilakukan
produksi batik khas Ciamis dengan 20 orang pekerja.
Selain memproduksi batik, Sanggar Rukun Batikjuga membuka tempat untuk
belajar membuat batik sehingga batik ciamis dapat dilestarikan. Corak-corak batik ciamis
yang populer adalah galuh pakuan, parang sontak, ciung wanara, dan batu hiu.
L. Cirebon
Kota ini merupakan salah satu sentra industri batik nasional. Di kota ini terdapat
banyak perajin batikdengan gaya Cirebonan. Sangat mudah menemukan sentra-sentra
batik di kota ini, namun tempatyang dapat dijadikan rujukan sebagai wisata batik adalah
Desa Trusmi Kulon dan Desa Trusmi Wetan yang berada di Kecamatan Plered, Kota
Cirebon. Batik dari daerah ini sering disebut dengan batik trusmi. Tempat ini terletak
sekitar 5 km dari pusat kota Cirebon.

M. Garut
Kota ini merupakan salah satu sentra industri batik nasional. Di banyak tempat, di
kota ini dapat dengan mudah ditemukan sentra-sentra industri batik. Namun tempat yang
dapat dijadikan rujukan untuk wisata batik adalah Galeri Batik Tulis Garutan RM yang
ada di Jl. Papandayan 54, Garut. Batik yang diproduksi sebagian besar merupakan batik
tulis dan khas Garut, yang terkenal dengan nama batik garutan. Produksinya cukup
banyak karena gerainya tersebar di beberapa kota dan sudah melayani penjualan ke luar
negeri. Pengunjung di sini dapat membeli, memesan batik, juga dapat belajar membuat
batik.

N. Jakarta
Jakarta sebagai kota metropolitan dan ibukota negara memiliki banyak tempat
yang dapat dijadikan wisata batik. Namun wisata batik di Jakarta lebih bersifat wisata
belanja. Pasar-pasar grosir hingga butik-butik batik elite tersedia di Jakarta. Sebut saja
Pasar Grosir Tanah Abang, Pasar Grosir Mangga Dua, Pasar Grosir Jatinegara, Pasar
Grosir Cililitan, dan lain-lain.
Batik juga masuk ke berbagai mall elite, seperti di Senayan City, EX Plaza, FX
Plaza, Thamrin City, dan berbagai butik elite khusus batik yang tersebar di kawasan-
kawasan elite Jakarta, seperti Kemang. Selain itu, batik-batik dari gerai-gerai yang sudah
branded juga banyak terdapat di galeri-galeri hotel berbintang lima di seluruh Jakarta.
Koleksi batik di Jakarta pun sangat komplit. Kita bisa mendapatkan berbagai jenis
batik sesuai dengan keperluan dan dana yang disediakan, dari batik cap hingga batik halus
edisi terbatas. Jakarta merupakan pusat berkumpulnya berbagai batik dari daerah
produsen batik di Jawa sebelum kemudian dikirimkan ke luar Jawa.
Kota yang terjaga sepanjang waktu ini menyajikan pesona tersendiri untuk wisata
belanja batik. Tentu saja, kalau khusus untuk berbelanja batik, calon pembeli dapat
memilih gerai-gerai atau butik-butik khusus batik.

O. Riau
Batik riau yang cenderung terpengaruh oleh tradisi Melayu ini sebenarnya dapat
dengan mudah ditemukan di setiap tempat, terutama pusat-pusat perbelanjaan- biasanya
selalu ada tempat-tempat yang khusus melayani pembelian batik. Namun kalau ingin
berwisata batik, ada satu galeri yang dapat dijadikan rujukan yaitu Galeri Sri Puan yang
berada di Jl. Pantai Impian Gg. Lumba-lumba VI No 63, Tanjung Pinang, Riau.
Tempat ini memiliki koleksi batik yang relatif lengkap walaupun tempatnya tidak
mewah dan bukan didesain seperti gerai-gerai atau galeri batik. Tempat ini merupakan
tempat yang layak untuk berwisata batik.
Selain itu, ada juga yang menyediakan penjualan batikdan memberi pelajaran
tentang membatik, yaitu Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Riau yang berada di
Jl. Sisingamangaraja No. 140, Pekanbaru, Riau.

P. Jambi
Jambi merupakan salah satu kota penting dalam sejarah perkembangan batik
Nusantara. Di masa sekarang pun perkembangan industri batik di kota ini cukup pesat.
Batik Jambi disenangi tidak hanya oleh masyarakat Jambi, tetapi juga oleh masyarakat
dari berbagai daerah di luar Jambi. Tidak hanya itu, banyak pula wisatawan mancanegara
yang menyenangi batik Jambi.
Hal ini disebabkan karena coraknya yang khas didominasi oleh warna-warna
terang yang berbeda dengan batik-batik yang ada di Jawa. Wisata batikyang dapat
dikunjungi di kota ini adalah Desa Seberang Kota, yang berada tepat di jantung kota
Jambi yang terletak di pinggir Sungai Batanghari. Desa ini penuh dengan para perajin
batik tulisyang membawa dan menghadirkan kembali kejayaan batik kuno dari Kerajaan
Melayu Jambi.
Demikian populernya daerah ini hingga banyak birowisata yang menyediakan
paket wisata batik lengkap dengan workshop batiknya. Jadi, kalau berada di sekitar
Jambi, kita tak perlu jauh.-jauh ke Jawa untuk dapat berwisata batik. Belajar batik di sini
menjadi sangat khas karena cenderung ke arah membuat lukisan batik.
Q. Bengkulu
Bengkulu memiliki beberapa tempat yang dapat dijadikan tujuan untuk berwisata
batik. Berbeda dengan Jambi yang memiliki fasilitas belajar batik cukup lengkap, daerah
ini sebagian besar merupakan tempat belanja batik. Namun karena di wilayah Bengkulu
juga terdapat batik khas Bengkulu (besurek, dengan ciri bunga Raflesia), maka workshop
batik juga mungkin diberikan pada kesempatan tertentu.
Tempat-tempat yang dapat dijadikan rujukan untuk berwisata batik di Bengkulu
adalah Ovelia Galeri yang ada di Jl. Sutoyo No. 6, Tanah Patah, Bengkulu (Telp: 0736-
22387); Limura yang ada di Jl. S. Parman No. 16, Bengkulu (Telp: 0736 -342271);
Anggrek Biru yang ada di Jl. A. Yani No. 14, Bengkulu (Telp: 0736-343211); dan La
Mentique yang ada di Jl. Putri Gading Cempaka No. 30, Bengkulu (Telp: 0736-341081).
Selain itu, biasanya batik juga terdapat di mal yang ada di Bengkulu.

R. Pontianak
Kota ini memiliki kekhasan dalam hal batik. Tempat wisata batik yang dapat
dijadikan rujukan adalah Batik Insan di Jl. Nusa Indah III No. 61, Pontianak (Telp: 0561-
733417). Di sini terdapat koleksi batik khas Pontianak dan sekitarnya.

S. Bali
Bali merupakan salah satu tempat wisata yang paling spektakuler di Indonesia.
Kepopulerannya sebagai tempat wisata pantai yang eksotis di dunia telah membuat Bali
memiliki ciri tersendiri dalam hal batik. Di tempat ini, banyak terdapat gerai batik yang
dapat dijadikan tempat sasaran berbelanja, baik tempat-tempat yang berjejeran di
pinggiran jalan wisata hingga butik-butik khusus yang menyediakan batik.
Tentu saja yang dominan di sini adalah batik dengan corak kain-kain khas Bali
yang tidak dapat ditemukan di daerah lainnya. Namun di beberapa tempat juga tersedia
berbagai batik dari daerah lain di Indonesia, termasuk dari Yogya dan Solo.
Ada beberapa tempat di Bali yang dapat menjadi rujukan wisata batik, yaitu Pasar
Seni Sukowati; Pasar Seni Kuta; Pasar Seni Guwang; Pasar Badung; Pasar Kumbasari;
Uluwatu Handmade Balinese Lace yang berada di Jl. Legian, Jl. Pantai Kuta, Jl. D.
Tamblingan Sanur, dan Jl. Monkey Forest Ubud; Lucy's Batik di Jl. Basangkasa 88X,
Seminyak; Milo's di Kuta Square's; dan Prasada di Jalan Kunti, Seminyak.
Demikianlah tempat-tempat wisata batik yang ada di Indonesia. Jika ingin
berbelanja batik, hampir di setiap kota di Indonesia dapat ditemukan gerai, butik, atau pun
pusat-pusat perbelanjaan yang menyediakan batik dengan berbagai bentuk, jenis, motif,
dan pilihan harga yang sesuai.
Jadi, kalaupun di daerah dekat kita belum ada tempat atau daerah khusus wisata
batik, bukan berarti kita tidak bisa ikut menikmati dan melestarikan batik. Workshop atau
pelatihan membatik sekarang ini juga sudah sangat banyak diberikan secara berkala di
masing-masing daerah. Tidak ada alasan lagi untuk tidak mengenal batik dan membatik
dari dekati Selamat berwisata batik. Mari kita lestarikan budaya asli Indonesia!.
RAGAM KREASI BATIK INDONESIA

Seperti telah dibahas sebelumnya, batik tidak hanya digunakan sebagai busana, tetapi
telah berkembang menjadi berbagai macam barang sesuai dengan keperluan pemakainya. Di
Indonesia, batik telah mencapai pengembangan yang luar biasa. Ragam kreasi batik tersebut
akan terus berkembang dari tahun ke tahun mengikuti perkembangan zaman.
Dengan memerhatikan berbagai kegiatan yang terus berkembang di lingkungan
masyarakat, baik yang bersifat individu maupun kelompok berkaitan dengan batik, maka kita
dapat mengetahui beberapa jenis produk batik yang ada. Produk batik tersebut merupakan
produksi kerajinan yang memodifikasi batik. Berikut ini adalah barang-barang yang
merupakan bentuk kreasi dari batik Indonesia.
1. Kain panjang dan kain sarung
Kain dan sarung merupakan produk dasar dari batik. Kain panjang batik biasanya
digunakan oleh para perempuan dan kain sarung digunakan oleh para lelaki, meskipun
sekarang kondisi tersebut tidak lagi menjadi keharusan.
Kain panjang dan kain sarung batik telah banyak dimodifikasi menjadi bentuk rok
maupun celana. Semua itu disesuaikan dengan perkembangan
zaman. Selain untuk kain panjang dan kain sarung, batiksebagai bahan busana
tradisional juga dimanfaatkan untuk kerudung, selendang, ikat kepala, busana utama, dan
kemben.
2. Pakaian jadi
Bentuk pakaian jadi dengan bahan dasar batik sangat banyak ditemukan di pusat-
pusat perbelanjaan maupun di pasar grosir tradisional. Segala macam bentuk pakaian jadi,
dari anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, baik lelaki maupun perempuan dapat
ditemukan dengan mudah.
Bentuk dan variasinya sangat bermacam-macam dengan ukuran yang beragam,
harganya pun bertingkat-tingkat, dari yang murah, sedang, hingga yang sangat mahal
karena hanya dibuat secara terbatas untuk memenuhi pesanan. Jenis pakaian yang bisa
dibuat dari batik antara lain busana muslim, busana pesta, busana tidur, dan lain-lain.
Tidak jarang pula batik digunakan sebagai bahan rok, gaun, scarf, dasi, sapu tangan, T-
shirt, serta kostum boneka.
3. Tas
Sudah banyak tas yang dibuat dengan bahan batik. Ada yang menggunakan bahan
batik sepenuhnya, ada juga yang dimodifikasikan dengan bahan-bahan lainnya, seperti
kain flanel, kayu, kulit, bambu, rotan, dan lain-lain. Semuanya itu makin membuat batik
eksis dengan berbagai bentuk.
4. Sepatu
Bentuk sepatu di masa modern ini sangat bermacam-macam. Demikian pula
dengan bahannya. Sepatu batik juga sudah banyak dibuat dengan berbagai pengembangan
dan modifikasinya. Mendapatkan sepatu batik juga sangat mudah, terutama di tempat-
tempat yang khusus menjual batik.
5. Topi
Topi dengan berbagai bentuk dari bahan batik juga dapat kita temukan dengan
mudah. Ada yang berbentuk lebar, bulat, lonjong, kotak dengan berbagai hiasan, dan lain-
lain. Seperti juga tas, ada topi batikyang menggunakan bahan batik sepenuhnya, ada juga
yang digabungkan dengan bahan-bahan lainnya sehingga menambah keartistikannya.
6. Dompet
Biasanya dompetterbuat dari kulit binatang, misalnya kulit kambing atau kulit
sapi. Namun sejak batik eksis, dompet pun banyak dibuat dari batik. Kadang
dimodifikasikan dengan berbagai bahan lainnya sehingga dompet batik semakin cantik,
tetapi tetap kuat dan awet.
7. Aneka selendang, kerudung modern, dan peralatan ibadah muslim
Sangat banyak perempuan yang menggunakan selendang dan kerudung. Kedua
jenis atribut pakaian ini juga sangat banyak yang berbahan plastik terutama batik sutera
karena teksturnya yang halus dan nyaman dipakai.
Selain itu, tidak jarang pula batik digunakan sebagai bahan mukena, sajadah,
bahkan kopiah.
8. Barang keperluan rumahtangga
Barang-barang keperluan rumah tangga sangat banyak dan beragam. Berbagai
keperluan rumah tangga tersebut sudah banyak yang dibuat dari batik, misalnya seprai,
bed cover, gorden, taplak, serbet, tutup tudung saji, tutup dispenser, tutup mogic com,
tutup jok mobil, berbagai tutup perabotan rumah tangga, alas piring, alas gelas, bahkan
permainan anak-anak, seperti boneka, dan lain-lain.
9. Batik lukis
Lukisan terus mengalami perkembangan. Sekarang ini juga sudah banyak batik
lukis yang menjadi koleksi masyarakat karena keindahan dan keunikannya.
10. Hiasan rumah tangga
Banyak hiasan rumah tangga yang dibuat dari batik, misalnya penghias meja,
penghias dinding, patchwork, tutup lampu hias, kartu bergambar, dan lain-lain.
TIP-TIP BATIK

Bagi orang yang sudah terbiasa dengan batik, sangatlah mudah untuk menentukan
pilihan bagaimana membeli batik, merawat, memelihara, maupun berbelanja produk variasi
batikyang menguntungkan dan menyenangkan. Namun bagi mereka yang tidak tahu sama
sekali, bisa jadi yang mereka lakukan justru merugikan diri mereka sendiri. Misalnya,
membeli batik dengan harga terlalu mahal, membeli batik dengan motif yang tidak sesuai
dikenakan di acara tertentu, atau tidak benar cara mencuci dan merawat batik sehingga
batiknya cepat rusak, dan lain sebagainya.
Untuk menghindari hal-hal yang merugikan tersebut, di bagian ini akan diberikan
beberapa tip yang berkaitan dengan dunia batik. Tip-tip tersebut berkaitan dengan cara
memilih batik, cara belanja, dan cara merawatnya.
A. Tip Memilih Batik
Pada saat kita hendak menggunakan batik, kita pasti bingung saat dihadapkan
pada berbagai pilihan yang terlihat sama bagusnya. Untuk itu, ada beberapa tip yang
dapat kita ikuti dalam memilih batik.
1. Tentukan batik yang diinginkan.
Untuk menentukan ini, kita bisa melihat dari referensi batik dari katalog-katalog
galeri batik maupun majalah-majalah mode. Bertanya langsung pada orang yang
mengerti batik juga sangat baik.
Setelah itu, barulah tentukan batik yang diinginkan, seperti warna, bentuk,
corak, jenis, harga, dan untuk keperluan apa. Setelah tahu apa yang diinginkan, akan
mudah bagi kita untuk memilih batik yang beragam.
Jika dilihat dari proses pembuatannya, batik dapat dibedakan menjadi batik
tulis, batik printing, dan batik cap. Batik tulis memiliki motif yang sama pada bagian
dalam dan luar pakaian. Sedangkan, batik printing lebih terang di bagian luarnya dan
agak pudar di bagian dalam pakaian. Batik cap biasanya memiliki motif yang sama
tetapi terlihat sangat "pasaran" karena memang diproduksi massal untuk kepentingan
masyarakat menengah ke bawah. Untuk memastikannya, kita bisa mengeceknya
langsung.
Untuk kuantitas pembelian, kita tentu bisa membeli secara satuan maupun
grosir, kecuali untuk batik tulis yang dibuat secara terbatas; biasanya harus memesan
lebih dulu dan jadinya memerlukan waktu 3-4 bulan.
2. Jika dilihat dari bahannya, ada "batik lawas" yang awalnya digunakan untuk kain
gendongan yang sifatnya mudah sobek. Secara penggunaan, bahan ini digemari
karena dingin dan nyaman dipakai, seperti katun. Namun secara tekstur, kainnya lebih
tebal dan terlihat berbeda dari bahan batik yang dipakai secara umum.
3. Bahan terbaik yang digunakan untuk batik tulis adalah bahan yang berasai dari alat
tenun bukan mesin (ATBM). Untuk ini, biasanya bahan dasar yang digunakan adalah
sutera. Jadi wajar kalau kemudian harga batik tulis sutera sangat mahal. Proses
pembuatan batik tulisnya cukup lama dan bahan sutera juga cukup mahal.

Itulah beberapa hal yang harus diperhatikan jika hendak memilih batik. Jadi,
semuanya memang sangat bergantung pada kita. Para penjaga butik-butik batik biasanya
akan membantu kita menemukan jenis batik yang sesuai dengan keperluan kita. Namun
pada umumnya, di setiap galeri batik tersedia batik-batik tulis dan halus yang diproduksi
secara terbatas.

B. Tip Belanja Batik


Batik terlihat sangat menggoda. Apalagi kalau kita sedang berada di daerah wisata
batik yang menyediakan berbagai pilihan dari ragam, bentuk, corak, kualitas, hingga
harga. Untuk dapat berbelanja secara efektif dan efesien, ada beberapa tip belanja yang
harus kita ikuti.
1. Proses pembuatan.
Proses pembuatan batik akan memengaruhi harga dan kualitas kain batik yang
dihasilkan. Batik tulis yang dikerjakan dengan tangan membutuhkan waktu dan
ketelitian yang lebih sehingga harganya cenderung lebih mahal. Lain halnya dengan
batik cap atau batik sablon (printing) yang dikerjakan secara massal, harganya tentu
akan lebih bersahabatdi kantong.
2. Tiap motif ada artinya.
Secara garis besar, motif batik dibagi menjadi dua jenis, yaitu motif tradisional
(keraton) dan pesisiran. Batik tradisional biasanya memiliki aturan (pakem), karena
setiap motif memiliki makna tertentu.
Oleh karena itulah, motif batik tertentu dipakai pada acara adat, bahkan
beberapa di antaranya hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu, biasanya
anggota keluarga keraton. Sedangkan motif pesisiran sudah merupakan campuran
budaya lokal dan budaya asing sehingga motifnya lebih beragam dan penggunaannya
tidak dibatasi.
Namun di masa kini, hampir semua motif boleh digunakan oleh masyarakat
umum. Namun, ada batik tradisional yang hanya boleh dikenakan oleh keluarga
keraton sesuai dengan tingkatan kebangsawanannya.
Aturan dalam mengenakan batik sekarang lebih longgar. Meskipun begitu,
alangkah baiknya kalau kita mengerti arti filosofis dibalik motif batik. Tujuannya agar
kita tidak salah menggunakan motif batik pada kesempatan tertentu.
3. Kualitasdan bahannya.
Kualitas bahan juga merupakan salah satu hal penting dalam penentuan harga
kain atau busana batik. Jika terbuat dari sutera, tentu saja harganya akan lebih mahal
dibandingkan dengan kain batik yang terbuat dari katun.
4. Periksa anggaran.
Saat hendak membeli batik, yang harus kita perhatikan juga adalah anggaran.
Periksalah anggaran baik-baik dan tentukan berapa yang akan kita belanjakan,
terutama bila kita sedang berada di daerah wisata batik yang menawarkan berbagai
macam jenis dan pilihan batik yang terlihat menggoda hati.
5. Kain atau busana jadi.
Saat kita berada di tempat penjualan batik, kita sering bingung hendak memilih
kain batik atau busana jadi. Membeli busana lebih praktis dan bisa langsung dicoba
untuk merasakan cocok tidaknya dengan tubuh kita.
Kalau memutuskan untuk membeli kain batik, pikirkan lagi dengan sungguh-
sungguh. Ada motif-motif tertentu yang tidak cocok untuk diolah sebagai pakaian.
Ada beberapa jenis corak yang hanya cocok untuk pakaian bawah saja. Oleh karena
itu, pandai-pandailah memilih batik yang coraknya sesuai untuk bahan busana.
6. Harga mahal tidak jaminan batik tulis.
Ada yang beranggapan batik dengan harga mahal pastilah batik tulis dengan
corak halus yang tahan lama.Jangan keliru dengan persepsiitu. Batik-batik cap
maupun printing sekarang ini banyak mengikuti corak batik tulis dan kadang-kadang
bisa lebih halus dari batik tulis.
Oleh karena itu, pastikan untuk menanyakan pada penjualnya. Batik tulis,
bagaimana pun halusnya, pasti akan terdapat garis-garis khusus yang dapat dikenali
sebagai produk olahan tangan. Sangat berbeda dengan batik cap maupun batik
printing yang sangat halus.
Walaupun agak susah membedakan batik tulis dengan batik lainnya, cobalah
cermati beberapa hal ini. Pada batik tulis, setiap gambar dan motifnya tidak sama
persis (asimetris) ada bagian yang terlalu kecil dan ada bagian yang terlalu besar.
Cecek-cecek dan isen-isen dalam tiap gambar juga tidak sama besarnya.
Selain itu, yang tidak dapat ditiru oleh batik cap atau batik printing adalah
aroma batik tulis sangat khas. Ini disebabkan karena batik tulis tersebut disoga atau
diwarnai dengan kulit-kulit kayu, seperti kayu tingi untuk warna hitam dan kayu teger
untuk warna kuning, kayu jambal untuk warna cokelat, serta daun tom dan akarnya
untuk warna biru.
Mori yang biasa dipakai pun lebih berat dibanding dengan mori untuk jenis
batik lainnya. Semakin kecil dan rumit motifnya, biasanya batik itu semakin halus.

C. Tip Merawat Batik


Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar busana atau kain batik kita tetap
indah, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Jangan cuci batik menggunakan detergen, tetapi gunakan sampo atau pembersih
khusus untuk batik. Apabila menggunakan sampo, larutkan sampo terlebih dahulu
agar tidak terlalu kental. Kemudian tambahkan air secukupnya. Setelah itu, celupkan
batik yang hendak dicuci ke dalamnya.
Saat mencuci, jangan gosok batik terlalu kuat, secukupnya saja. Apabila batik tidak
terlalu kotor, batik dapat dicuci dengan air hangat tanpa pembersih. Kalau batik
terkena noda, kita dapat mencucinya dengan sabun mandi (batangan). Jika noda
tersebut belum dapat dihilangkan, kita bisa menggunakan kulit jeruk yang digosokkan
pada bagian noda. Dilarang keras mencuci batik dengan mesin cuci karena akan
merusak serat-serat kain dan juga dapat mengubah warnanya. Kita juga tidak perlu
memerasnya agar tidak kusut dan merusak bentuk.
2. Setelah noda dan kotoran hilang, batik harus dijemur di tempat yang teduh dan tidak
terkena sinar matahari langsung. Biarkan kering secara alami tanpa terpanggang sinar
matahari. Pada saat menjemur, sebaiknya kita menarik bagian tepi kain agar serat kain
yang terlipat dapat kembali seperti sedia kala.
3. Sebaiknya tidak menyetrika batik secara langsung. Apabila batik terlalu kusut,
semprotkan air netral di atas kain batik, kemudian lapisi batik tersebut dengan kain
lainnya. Barulah, kita menyetrika di atas kain tersebut.
Hal ini bertujuan untuk menghindarkan batik dari panas langsung dari setrika. Panas
setrika dapat mengubah warna batik dan menjadikan batik tidak tahan lama.
4. Kalau kita harus memberikan pewangi dan pelembut pada kain batik tulis, jangan
menyemprotkan langsung pada kainnya. Tutuplah kain batik terlebih dulu dengan
koran, kemudian baru semprotkan pewangi dan pelembut kain. Sebaiknya kita juga
tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi ke kain batik secara langsung.
Tindakan ini dapat mengubah warna asli batik.
5. Sesudah batik disetrika, sebaiknya kita simpan batik di dalam plastik khusus agar
tidak dimakan ngengat. Dilarang memberi kapur barus karena zat padat ini dapat
merusak kain batik.
Jika ingin mengamankannya, berikan merica atau lada yang telah dibungkus dengan
tisu. Masukkan ke sisi batik yang disimpan agar tidak dimakan ngengat. Kalau cara
ini dianggap tidak praktis, cobalah gunakan akar wangi. Celupkan akar wangi ke
dalam air panas, kemudian jemur sampai kering. Lakukan hal ini dua kali dan setelah
itu letakkan akar wangi di dekat batik yang akan disimpan. Akar wangi lebih praktis
karena bisa didapatkan di gerai-gerai batik.

Demikianlah tip batik yang mesti kita ketahui agar kita dapat memilih batik yang
baik dan sesuai, berbelanja batik sesuai dengan keperluan dan anggaran, serta merawat
batik agar tetap awet. Bagaimana pun, hidup dengan perencanaan tentu lebih baik dan
lebih mudah. Demikian pula dalam hal memilih dan berbelanja batik sehingga kita tidak
menjadi boros dalam usaha ikut melestarikan batik.
SERBA-SERBI BATIK

Batik memang salah satu seni indah yang merupakan ciri bangsa Indonesia. Tidak
aneh kalau kemudian kita dapat menemukan berbagai hal yang unik dan menarik berkaitan
dengan batik. Dan beberapa fakta yang mungkin tidak kita pikirkan sebelumnya akan dibahas
dalam bagian ini.
1. Batik merupakan hasil kebudayaan tak benda asli dari Indonesia. Pernyataan ini
dikukuhkan oleh UNESCO, lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang kebudayaan,
pada serangkaian kegiatan pada 28 September 2009 sampai 2 Oktober 2009 di Abu
Dhabi, Uni Emirat Arab. Sejak itu, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik
Nasional. Persengketaan dengan Malaysia terhadap berbagai warisan budaya telah
membuat Indonesia semakin sadar untuk melindungi berbagai aset kebudayaan dan
warisan budaya bangsa.
2. Sejarah batik tidak lepas dari perkembangan kebudayaan kerajaan-kerajaan Jawa dan
penyebaran ajaran Islam di Jawa. Kerajaan Majapahit dikenal sebagai masa asal mula
batik di Indonesia. Dahulu kala, membatik merupakan kegiatan yang dilakukan di dalam
keraton dan hanya untuk pakaian raja. Namun lambat laun batik dikerjakan oleh warga
karena banyaknya abdi dalem yang tinggal di luar keraton. Dari hal tersebut, batik mulai
dikenal oleh masyarakat. Kebanyakan dari pembatik merupakan perempuan yang mengisi
waktu senggang.
3. Batik di Indonesia pertama diperkenalkan ke khalayak asing oleh Chastelein seorang
anggota Raad van Indie (dewan Hindia Belanda) pada tahun 1705 dengan nama botex.
Dari situ banyak orang asing yang menyenangi batik dan mendorong kemajuan industri
batik di lingkungan bangsawan Jawa; yang sebelumnya lebih banyak dibuat untuk
kepentingan pakaian para bangsawan di lingkungan istana. Artinya, pembuatan batik di
lingkungan keraton pun semakin terdorong maju setelah adanya usaha pengenalan batik
oleh bangsa asing.
4. Bahan dasar batik pada mulanya adalah kain putih yang ditenun sendiri, malam, pewarna
alami (seperti kunyit, pohon mengkudu, tinggi, soga, nila), dan canting sebagai alat
menuliskan malam cair di atas kain. Proses pembatikan dengan cara tradisional atau
terkenal dengan batik tulis dimulai dengan menggambar pola yang selanjutnya diikuti
menuliskan malam cair di atas pola lalu merendamnya dengan air panas yang sudah
diberi pewarna alami. Setelah itu, kain direndam dengan air panas dengan tujuan
menghilangkan malam yang masih melekat. Tahap terakhir, batik dijemur dan jadilah
kain batik yang diinginkan.
5. Pada abad XX, muncul metode pembuatan batik dengan cara cap. Dengan metode batik
cap, pembuatan batik bisa menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Selain itu,
keseragamannya lebih dapat diandalkan. Namun dampak negatifnya, karena dibuat secara
banyak dan seragam, batik cap ini menjadi terlihat pasaran sehingga tidak disenangi oleh
kalangan menengah ke atas. Pembuatan batik cap memang lebih sederhana dari segi
pengerjaan daripada batik tulis. Walaupun demikian, keberadaan batik cap tidak
menggeser eksistensi batik tulis. Hal ini disebabkan segmentasi pasaryang berbeda antara
batik cap dan batik tulis.
6. Batik solo dan batikyogya sangat terkenal dalam hal corak dan pola tradisional. Pola yang
masih banyak digunakan dalam batik adalah sido mukti dan sido luruh. Hingga kini, batik
dari Solo dan Yogya tetap dikenal luas dengan pola-pola yang masih mematuhi pakem
keraton. Tentu saja, banyak daerah lain di Indonesia yang membuat dan memproduksi
batik dengan pola dan corak batik keraton. Namun ada kecenderungan pecinta batik
keraton lebih memilih batik dari Solo dan Yogya.
7. Akrobatik adalah produk pengembangan batik yang digenerasikan dari teknologi
komputer. Caranya adalah dengan memasukkan motif batik tertentu ke dalam program
komputer. Kemudian program komputer akan menggenerasikan motif tersebut menjadi
berbagai bentuk desain. Selanjutnya desain tersebut akan diaplikasikan pada kaos dan
jaket dengan produksi terbatas. Akrobatik mempunyai visi memperkenalkan batik pada
kaum muda, dengan desain-desain yang lebih pop dan kemudian disablon pada kaos dan
jaket.
8. Batik print merupakan salah satu jenis batik yang baru muncul. Tidak diketahui pasti
kapan mulai dikenal, tetapi kini menjadi produksi batik dengan jumlah paling banyak jika
dibandingkan dengan batik cap dan batik tulis. Jenis batik ini dapat diproduksi dalam
jumlah massal tanpa melalui proses penempelan malam dan tidak menggunakan
pencelupan seperti batik pada umumnya. Namun motifnya tetap menggunakan motif
batik.
Sebagian seniman dan perajin batik menganggap ini bukan batik, tetapi kain dengan motif
batik. Apa pun namanya, usaha ini berkembang sangat pesat dan banyak digerakkan oleh
anak-anak muda yang kreatif. Desain-desainnya yang berani dan pembuatannya yang
cepat, serta dapat diproduksi massal membuatnya cepat populer di lingkungan anak-anak
muda yang selalu menyukai gerak cepat.
9. Pada umumnya, kain yang digunakan untuk membatik adalah dari serat poliester, tetapi
ada juga yang terbuat dari kain katun, kain rayon, kain rami, dan kain sutra. Penggunaan
kain ini akan menentukan masalah kualitas, kenyamanan, dan harga batik.
10. Cara cepat untuk membedakan batik cap (sablon) dengan batik tulis adalah dengan
memerhatikan gambardan coraknya, serta mencium baunya. Gambar pada kain tekstil
bermotif batik (sablon) biasanya tidak akan tembus hingga pada bagian belakang kain.
Berbeda dengan yang terdapat pada kain batik tulis asli yang berkualitas. Pada batik
sablon dan batik cap, pada corak yang halus sekalipun, tidak akan tercium aroma malam
dan sering kali tidak tercium aroma apa pun.
11. Detail gambar pada kain batik sablon relatif lebih halus dan lebih lengkap bila
dibandingkan dengan kain batik tulis. Pada kain tekstil bermotif batik (sablon), detail
gambarnya lebih bisa mencapai ukuran yang kecil dengan warna yang lebih gelap,
berbeda dengan kain batik tulis. Hal ini dikarenakan kemampuan proses sablon semakin
bagus dan teknologinya semakin maju.
12. Harga kain batik sablon relatif lebih murah. Jumlah produksinya biasanya lebih banyak.
Hal ini ditempuh agar biaya untuk pembuatan film atau pembuatan screen sablon bisa
tertutupi karena biaya pembuatan film cukup mahal.
Apabila diproduksi dalam jum|ah sedikit, maka dengan sendirinya harga kain batik sablon
akan sama mahalnya dengan kain batik tulis. Itulah sebabnya bisa ditemukan banyak
batik sablon bermotif sama.
13. Bentuk ragam hias atau ornamen pada lembaran kain sablon sudah pasti akan tepat sama
antara satu dengan yang lainnya. Kain sablon bisa kita temui dalam bentuk gulungan.
Biasanya satu gulung bisa mencapai panjang lebih dari 100 meter.
14. Dengan adanya batik cap dan batik sablon, kini batik dapat dinikmati secara murah
meriah oleh segala kalangan. Tentunya ini adalah hal yang membanggakan. Meskipun
begitu, pelestarian tradisi membatik tetaplah harus diselamatan dengan cara
memperkenalkan teknik atau pembuatan batik tulis kepada generasi muda secara meluas;
caranya dapat dengan memberikan materi membatik pada kegiatan studi muatan lokal
kepada para siswa di sekolah.
15. Batik telah berkembang meluas, tidak hanya digunakan sebagai kain panjang dan busana
jadi, tetapi telah banyak bentuk modifikasi dalam bentuk kerajinan tangan batik.
Kerajinan tangan batik sebagai salah satu warisan leluhur bangsa ini seharusnya
ditingkatkan sebagai kegiatan aplikatif bagi kehidupan bangsa yang produktif. Artinya,
kita menjadikan kerajinan tangan batik sebagai kegiatan yang mendatangkan income bagi
diri dan keluarga. Tentunya ini tidak bisa ditangani secara asal-asalan, tetapi harus
dikelola dengan profesional.
Perkembangan keterampilan tangan batik ini sangat pesat sehingga untuk saat sekarang
ini keterampilan batik ada di beberapa negara, misalnya Indonesia, Thailand, India,
Malaysia, Iran, dan Sri Lanka. Dengan kata lain, keterampilan tangan batik ini ada hampir
di seluruh wilayah Asia.
Tidak hanya itu, dengan perkembangan teknologi yang ada, keterampilan tangan batik ini
juga sudah ada di seluruh belahan dunia. Meskipun demikian, batik dari Indonesia masih
menjadi andalan dan terkenal di seluruh dunia.
16. Batik merupakan simbol komunitas.
Sebagai simbol komunitas, batik menjadi barang konsumsi yang selalu dibutuhkan. Hal
ini terjadi mengingat perkembangan komunitas di negeri ini yang sangat pesat dan
menyebabkan kebutuhan batik juga meningkat. Oleh karena itu, hendaknya kita
mengelola kesempatan ini sebaik-baiknya sehingga akan menjadi peluang usaha yang
sangat potensial di masa depan.
Sebagai contoh, jika suatu kelompok pegawai yang berjumlah cukup banyak
menggunakan batik sebagai simbol komunitasnya, maka semakin lama semakin banyak
kebutuhannya. Apalagi, pemerintah telah mencanangkan hari batik dengan penentuan
penggunaan batik selama tiga hari kerja, yaitu Kamis, Jumat, dan Sabtu.
17. Di berbagai tempat di Indonesia telah ada wisata-wisata batik. Di tempat ini, kita tidak
hanya dapat berbelanja dan memesan batik, tetapi juga belajar membuat batik. Walaupun
tidak semua tempat di Indonesia terdapat wisata batik, tetapi di banyak sekolah dasar
hingga menengah telah digalakkan pembelajaran batik untuk memperkenalkan proses
membatik pada generasi muda.Sedangkanuntukurusanbelanja, batik dapat dengan
mudahditemukan di berbagai tempat di Indonesia.
18. Di masa kini modifikasi terhadap batik dan aneka kreasi batik terus dikembangkan. Tidak
hanya meliputi pakaian, hiasan, dan kebutuhan rumah tangga seperti yang sudah biasa
dikenal. Namun ada juga segolongan anak muda kreatif yang mengecat mobil-mobil
mereka dengan pola batik, adajuga yang mengecat helm dan berbagai atribut otomotif
mereka lainnya.
Anak muda Indonesia memang tidak pernah mati berkreasi, termasuk dalam
mengembangkan batik. Tentunya ini merupakan hal yang positif dan harus mendapatkan
dukungan. Kecintaan terhadap batik bisa membuat batik tetap terjaga dan lestari.
19. Batik ternyata tidak hanya menjadi milik manusia. Di Laut Banda, beberapa waktu yang
lalu ditemukan spesies ikan tertentu yang bermotif batik. Sekujur tubuhnya, dari ujung
ekor hingga kepala, bercorak batik. Untuk memudahkan penamaan, ikan ini pun disebut
dengan ikan batik.
20. Ada berbagai hal tentang batik yang sudah memecahkan rekor MURI di Indonesia, antara
lain panggung bermotif batik parang dan sido mukti, 10.000 roti batik pernah dibagikan
di lapangan Manahan Solo, kolase batik boneka Sinterklas, longmarch batik, mural motif
batik terlama selama 192 jam, jalan berbatik dengan 10.000 orang, batik terpanjang,
cemara batik untuk perayaan Natal, dan lain-lain. Ternyata ada berbagai cara yang
dilakukan orang untuk mengekspresikan kecintaan pada batik dan melestarikannya.