Anda di halaman 1dari 57

Anatomi dan Fisiologi ALS

Kontrol gerak oleh Sistem Saraf Pusat terbagi menjadi Sistem Saraf Somatis (SSS)
dan Sistem Saraf Otonom (SSO). Sistem saraf somatis mengontrol kontraksi otot skelet
secara sadar (volunter ). Sedangkan Sistem saraf otonom mengontrol gerak organ visceral
secara tidak sadar (involunter)
Berdasarkan letak anatomis, motoneuron pada sistem saraf somatis terbagi menjadi
dua, yakni Upper Motorneuron (UMN) dan Lower Motorneuron (LMN).

Upper Motor Neuron


Upper Motor Neuron (UMN) adalah neuron-neuron motorik yang berasal dari korteks
motorik serebri atau batang otak dengan serat saraf-sarafnya yang berada di dalam sistem
saraf pusat. Berdasarkan perbedaan anatomi dan fisiologis, kelompok UMN dibagi dalam
susunan/ traktus piramidal dan susunan ekstrapiramidal.
Susunan piramidal terdiri dari traktus kortikospinal dan traktus kortikobulbar. Traktus
kortikobulbar berfungsi untuk gerakkan pada otot kepala dan leher, sedangkan traktus
kortikospinal berfungsi untuk gerakan otot tubuh dan anggota gerak
Tractus extrapiramidal dibagi menjadi lateral pathway dan medial pathway. Lateral
pathway terdiri dari tractus rubrospinal dan medial pathway terdiri dari tractus
vestibulospinal, tractus tectospinal dan tractus retikulospinal. Medial pathway mengontrol
tonus otot dan pergerakan kasar daerah leher, dada dan ekstremitas bagian proksimal. Lateral
Pathway berfungsi sebagai kontrol tonus otot dan presisi pergerakan dari ekstremitas bagian
distal.

Lower Motor Neuron


Lower Motor Neuron (LMN) adalah neuron-neuron motorik yang berasal dari sistem
saraf pusat tetapi serat-serat sarafnya keluar dari sistem saraf pusat dan membentuk sistem
saraf tepi dan berakhir di otot rangka
LMN mempersarafi serabut otot dengan berjalan melalui radix anterior, nervus
spinalis dan saraf tepi. LMN terdiri dari 2 tipe yakni, alfa-motorneuron memiliki akson yang
besar, tebal dan menuju ke serabut otot ekstrafusal (aliran impuls saraf yang berasal dari
otak/medulla spinalis menuju ke efektor), sedangkan gamma-motorneuron memiliki akson
yang ukuran kecil, halus dan menuju ke serabut ototintrafusal (aliran impuls saraf dari
reseptor menuju ke otak/medulla spinalis)

Definisi
Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) adalah suatu penyakit motor neuron yang
mempengaruhi sel saraf otot rangka. Sebuah jaringan saraf membawa pesan dari otak,
menuruni tulang belakang dan keluar ke berbagai bagian tubuh. Bagian yang termasuk dalam
jaringan ini adalah motor neuron yang membawa pesan ke otot-otot rangka.
Pada ALS kemampuan sel saraf semakin berkurang dan akhirnya mati. Akibatnya,otot
rangka tidak menerima sinyal dari saraf yang dibutuhkan untuk berfungsi dengan baik. Lama
kelamaan akan terjadi atrofi otot karena kurangnya penggunaan otot sehingga berakhir
dengan keadaan paralisis.(7)
Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) adalah sindrom penurunan progresif yang
melibatkan traktus kortikospinalis, batang otak, dan sel-sel tanduk anterior dari sumsum
tulang belakang.
Patogenesis
ALS mempengaruhi upper motor neuron cortek serebral, turun kebawah melalui traktus
kortiko bulbaris dan kortiko spinalis yang kemudian bersinaps dengan lower motor neuron
atau interneuron. Hal tersebut dapat terjadi secara langsung mengenai lower motor neuron
dengan adanya penyakit pada AHC di spinal cord dan brainstem. Cell yang bermasalah
tersebut secara perlahan – lahan menjadi mengecil dan disertai seiring dengan akumulasi
yang sangat banyak dari pigmentasi lipid ( lipofusin ) dimana pada kondisi yang normal
kondisi ini tidak terbentuk sampai berkembangnya usia ( dewasa ) ( Brown 1994 ).

Produksi radikal bebas dapat menyebabkan perubahan molekul lipid, dan kadang
menyebabkan kematian sel. Ada beberapa bukti yang menunjukan keterkaitan antara reaksi
imunologi dengan ganglion side neuronal. Peradangan sel timbul pada spinal cord di ALS
tetapi penelitian tidak dapat memberikan kesimpulan hal tersebut di akibatkan pasti oleh
antibody anti ganglion side. Eksitoksin endogenus seperti neurotransmitter glutamal mungkin
menjadi komponen yang penting yang menyebabkan kerusakan neuron – neuron pada ALS.

Walaupun ditemukan bukti bahwa kadar amino acid ( Glutamat ) meningkat pada ALS, hal
tersebut tidak jelas sebagai bukti penyebab primer / sekunder ( Braak and Braak, 1994 ;
Rothstein et. At 1993 ). Kematian motor neuron perifer pada brainstaim dan spinal cord
menimbulkan denervasi dan atropi pada serabut otot yang berhubungan, terdapat bukti pada
fase awal penyakit, otot yang denervasi mungkin reinervasi oleh pengaruh akson motorik
distal terminal di dekatnya, walaupun reinervasi pada penyakit ini kurang baik dibandingkan
dengan penyakit neurologis kronis lainnya.

Ditemukan kematian sel neuron yang selektif yang mencakup motor neuron brainstaim,
spinal cord yang sebagian berhubungan dengan nuclei oculo motorik dan kadang – kadang
juga menyebar ke prefrontal, parietal dan temporal, subthalamus nuclei dan reticular formasi
pada pasien – pasien dengan alat bantu pernafasan ventilatori kemungkinan ditemukan
perubahan system sensoris. Daerah otak yang mengontrol koordinasi gerak ( cerebulum ) dan
kognisi ( kortex frontal ) tidak rusak pada kondisi ALS ini.

Manifestasi Klinis

1. Manifestasi klinis ALS sangat banyak tergantung daerah dominan mana yang terkena
kematian sel, upper atau motor neuron
2. Pada lower motor neuron dan denerfasi yang cepat, gejala pertama dari penyakit tersebut
adalah terjadi secara tiba – tiba terdapat kelemahan yang asimetris dan biasanya bagian distal
satu ekstremital. Kramping ( kekakuan ) dengan gerakan volitional di pagi hari sering
dikeluhkan dengan keluhan dengan “ kekakuan ”.
3. Kelemahan disebabkan denervasi dimana dimana denervasi ini berhubungan dengan
kerusakan yang progresif dan atropi serabut otot.
4. Pada awal penyakit ditemukan fasikulasi atau twitching spontan dari serabut otot.
5. Otot – otot ekstensor menjadi lemah dibandingkan dengan otot – otot fleksor khususnya
pada tangan.
6. Hal – hal tersebut adalah ciri – ciri ALS, diluar apakah penyakit tersebut di awali pada
upper atau lower motor neuron, kedua kategori umumnya saling melengkapi.
7. Kebanyakan pasien pada ALS, tanda Babinsky dan Hoffmann’s ditemukan reaksi tarikan
tendon aktif secara disproporsional ( Rouland, 1994 ).
8. Sepanjang perjalanan penyakit masih ditemukan gerakan dan sensori mata, fungsi Bladder
and Bowel ( BAK dan BAB ).

Anamnesis :
 Anamnesis umum :
Nama : Tn. X
Alamat : Paccerakkang
Umur : 58 Tahun
Pekerjaan : Karyawan Swasta
 Anamnesis Khusus :

Riwayat perjalanan penyakit: kelemahan pada keempat anggota badan tangan dan kaki ± 3
bulan yang lalu secara perlahan-lahan, diawali dengan timbulnya rasa kedutan pada otot-otot
badan utamanya otot-otot pada keempat anggota badan tangan dan kaki sekitar ± 6 bulan
yang lalu. Pasien mengalami sesak nafas ketika beraktifitas berat juga merasakan nyeri pada
tangan dan kaki bila terlalu banyak digerakkan.
Pemeriksaan Fisik
Vital sign :
Tekanan darah : 120/80
Denyut nadi : 60 x/menit
Laju pernapasan : 22x/menit

Auskultasi

Auskultasi paru adalah mendengarkan suara pada dinding thorax dengan menggunakan
stetoskop, caranya : pasien diminta bernafas cukup dalam dengan mulut terbuka dan
letakan stetoskop secara sistematik dari atas kebawah dengan membandingkan kiri-kanan.

Inspeksi :
a. Inspeksi statis: wajah pasien tampak pucat dan lemas
b. Inspeksi dinamis : pasien tidak dapat bangkit dari posisi tidur dan tidak dapat
mempertahankan posisi tubuhnya saat duduk, tidak mampu berjalan.
Palpasi : atropi pada otot upper trapezius, deltoid, serta otot- otot pada keempat ekstremitas
anggota badan tangan dan kaki.

Pemeriksaan mobilitas chest :


a. Gerakan simetris Chest
Kedua tangan diatas chest pasien dan periksa pengembangan tiap bagian chest
selama inspirasi dan expirasi .

Tiap lobus paru-paru dicek dengan :

1) Expansi Upper Lobus :  Pasien lying ; kedua thumb di mid sternal line Sternal
Notch), jari-jari extensi di atas kedua clavicula  pasien full ekspirasi lalu deep
inspirasi
2) Expansi Middle Lobus ;  Lying ; kedua ujung thumb di processus Xyphoideus dan
jari-jari di extensikan ke lateral costa  pasien Idem no. 1
3) Expansi Lower Lobus;  Sitting ; kedua ujung Thumb di medulla spinalis (sejajar
lower Costa) dan jari – jari diekstensikan sejajar costa pasien ekspirasi full lalu deep
inspirasi dalam
4) Selama pasien Ekspirasi dan Inspirasi  Cek apakah gerakan Chest simetris atau
tidak
Hasil : kurangnya ekspansi thoraks

Pemeriksaan Fungsi Dasar:


- Gerak Aktif meliputi gerakan pada shoulder, elbow, wrist, knee dan ankle.
- Gerak Pasif meliputi gerakan pada shoulder, elbow, wrist, knee dan ankle.
- TIMT meliputi gerakan pada shoulder, elbow, wrist, knee dan ankle.
Pada penderita ALS dalam hal ini terjadi kelemahan dan keterbatasan gerak pada
keempat ekstremitas.

Melalui pemeriksaan fisik dapat dijumpai tanda-tanda sebagai berikut walaupun tidak
semua pasien memiliki tanda seperti yang tertera di bawah ini:

 Disfungsi UMN/LMN
a. Kelemahan (Kelemahan klasik ALS biasanya karena disfungsi LMN).
b. Kram otot.
c. Kesulitan berbicara dan mengunyah.
d. Ketidakseimbangan

 Disfungsi UMN
a. Spastisitas.
b. Reflek tendon yang cepat atau menyebar secara abnormal.
c. Adanya reflek patologis.
d. Hilangnya ketangkasan dengan kekuatan normal
e. Kesuilitan bernafas
f. Emosi labil
 Disfungsi LMN
a. Fasikulasi
b. Atrofi
c. Foot drop
d. Kesulitan bernafas

Pemeriksaan Penunjang
Amyotrophic Lateral Sclerosis sulit untuk didiagnosa sejak awal karena manifestasi
klinisnya mirip dengan beberapa penyakit neurologis lainnya. Pemeriksaan penunjang untuk
mengesampingkan kondisi lain yang dapat dilakukan antara lain adalah:
 Elektrofisiologi
Terutama untuk mndeteksi adanya lesi LMN pada daerah yang terlibat. Dan untuk
menyingkirkan proses penyakit lainnya:

a. Konduksi saraf motorik dan sensorik.


Konduksi saraf diperlukan untuk mendiagnosis dan mengecualikan gangguan
lain dari saraf perifer dan neuromuscular junction.
b. Elektromiografi Konvensional
Konsentris jarum elektromiografi (EMG) memberikan bukti disfungsi LMN yang
diperlukan untuk mendukung diagnosis ALS, dan harus ditemukan dalam setidaknya dua dari
empat daerah SSP: Otak (bulbar / neuron motor tengkorak), leher rahim, toraks, atau
lumbosakral sumsum tulang belakang (anterior tanduk motor neuron).
Untuk daerah batang otak itu sudah cukup untuk menunjukkan perubahan dalam satu EMG
otot (misalnya lidah, otot-ototwajah, otot rahang). Untuk wilayah sumsum tulang belakang,
region dada sudah cukup untuk menunjukkan perubahan EMG baik dalam otot paraspinal
pada atau di bawah tingkat T6 atau di otot perut. Untuk daerah leher rahim dan sumsum
tulang belakang lumbosakral setidaknya dua otot dipersarafi oleh cabang yang berbeda dan
saraf perifer harus menunjukkan perubahan EMG.

c. Transcranial Magentic Stimulation and Central Motor Cunduction Time


Stimulasi Magnetik Transkranial (TMS) memungkinkan evaluasi non-invasif jalur motor
kortikospinalis, dan memungkinkan deteksi lesi UMN pada pasien yang tidak memiliki
tanda-tanda UMN. Amplitudo motorik, ambang batas kortikal, waktu pusat konduksi motorik
dan periode laten dapat dengan mudah dievaluasi dengan menggunakan metode ini. Central
Motor Cunduction Time (CMCT) memberikan hasil konduksi yang lama pada setidaknya
satu otot ekstremitas.
d. Elektromiografi kuantitatif
Motor Unit Number Estimation (MUNE) adalah teknik elektrofisiologi khusus yang dapat
memberikan perkiraan kuantitatif dari jumlah akson yang mempersarafi otot atau kelompok
otot.

 Neuroimaging
Dilakukan MRI pada kepala/tulang belakang untuk menyingkirkan lesi structural dan
diagnosis lain pada pasien yang dicurigai ALS (tumor, spondylitis, siringomielia,
strokebilateral, dan Multiple Sclerosis).
 Biopsi otot dan Neuropatologi
Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien dengan presentasi klinis yang tidak khas,
terutama dengan lesi UMN yang tidak jelas. Biopsi digunakan untuk menyingkirkan adanya
miopati, seperti inclusion body myositis.
 Pemeriksaan Laboratorium
Terdapat beberapa pemeriksaan lain yang dapat dianggap wajib dilakukan pada pasien
ALS. Tes laboratorium klinis yang mungkin abnormal dalam kasus ALS dinyatakan khas
yakni meliputi:
a) Serum kreatinin (terkait dengan hilangnya massa otot rangka)
b) Hypochloremia, peningkatan bikarbonat (terkait dengan gangguan pernapasan lanjutan

A. MOTORIK

1. Spastik pada ext. inferior dextra Hot pack, IRR, Massage,NDT

2. Kontraktur pada:

- M. Iliopsoas Walking exc, PNF

- M. Hamstring Rolling balance exc

- M. Tensor fascialatae Stretching

- M. Adduktor hip Strengthening, PNF

- M. gastrocnemius Contras bath

- M. Soleus Interferensi

- M. Tibialis anterior Hot pack

NDT (Rib, Rim dan fasilitasi)

- M. Fleksor wrist Frenkell exc., PNF

- M. Pronator teres ROM exc., Hold Rilex

- M. Biceps Brachii Manual terapi, Stretching, PROMEX, Kontras rileks

- M. Infraspinatus Bladder training

- M. Subs scapularis Mental support

3. Gangguan ADL berjalan dan ADL tangan Haptonomi

4. Gangguan ADL keseimbangan (balance) Penglihatan jarak pandang pasien menggunakan


bantuan chart
5. Gangguan postur

6. Kelemahan Otot

B. SENSORIK

1. Timbulnya numbness

2. Timbulnya nyeri
3. Timbulnya paresthesis dan disaesthesis

C. Hiperrefleks

1. APR dan KPR pada tungkai kanan

2. Biceps reflex, Triceps reflex, dan brachioradialis


reflex pada lengan kiri

D. GANGGUAN KOORDINASI

E. Keterbatasan ROM pada:

1. Hip joint, Knee joint dan ankle joint pada tungkai


kanan

2. Shoulder joint, elbow joint, dan wrist joint pada


lengan kiri

F. Gangguan Bladder dan Bowel

G. Gangguan Sex

H. Gangguan kognitif dan emosi

I. Gangguan memori

J. Gangguan penglihatan (double vision)

http://www.artikel.indonesianrehabequipment.com/2011/03/fisioterapi-pada-multiple-
sclerosis.html

1. Infra Red
Posisi pasien semyaman mungkin ( comfortable ) mungkin
disesuaikan dengan daerah yang diobati. Posisinya bisa tidur telentang
dengan kepala menoleh ke sebelah kanan. Pasien menggunakan penutup
mata. Daerah yang diobati bebas dari pakaian serta perlu dilakukan tes
sensibilitas terhadap panas dan dingin. Tes ini bisa dilakukan dengan
menggunakan tabung yang berisi air hangat dan air dingin. Bila terjadi
gangguan sensibilitas panas dan dingin pada daerah tersebut, maka
pengobatan dengan infra merah perlu dihindarkan tetapi bila pengobatan
dengan sinar infra merah sangat diperlukan maka perlu metode secara
khusus. Daerah yang diobati sebaiknya dibersihkan dengan air sabun dan
dikeringkan dengan handuk. Perlu pemberitahuan mengenai efek hangat
yang dirasakan saat penyinaran dengan infra merah. Bila ternyata ada rasa
panas yang menyengat, pasien diminta untuk segera memberitahukan pada
terapis ( Sujatno, dkk 1993 ). Penyinaran dengan sinar infra merah
diusahakan tegak lurus dengan daerah yang diobati dengan jarak lampu
antara 45 – 60 cm. Lama waktu penyinaran antara 10 – 30 menit /disesuaikan
dengan kondisi penyakitnya (Sujatno, dkk 1993 ).

Miror Exercise
Pasien diminta melakukan gerakan – gerakan dari wajah seperti:
mengangkat alis dan dahi ke atas, menutup mata, tersenyum, menarik sudut
mulut ke samping kanan atau kiri, bersiul dan mencucu, menutup mata
dengan rapat, memperlihatkan gigi seri dan mengangkat bibir ke atas,
mengembang kempiskan cuping hidung, mengucap kata – kata labial : l, m,
n. Latihan dilakukan selama 10 – 20 menit dengan pengulangan 4 – 5 kali
setiap latihan, dan dilakukan 2 – 3 kali sehari.

PASSIVE TRECHING
Nama Otot Yang Distretching Prosedur Pelaksanaan
Extremitas inferior
Otot gastrocnemius
Metode 1 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying. Kedua tungkai netral.

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri disamping kaki pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri pada anterior knee dan tangan
kanan pada calcaneus.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan ankle pasien
kearah dorsofleksi sampai otot
gastrocnemius terulur. Dipertahankan
selama 10-15 detik.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot
gastrocnemius.
2. Meningkatkan elastisitas dan
fleksibilitas jaringan otot
gastrocnemius.
Otot gastrocnemius
Metode 2 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying, tungkai bawah netral dan
ankle eversi.

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri disamping kaki pasien.
c. Peletakan tangan fisioterapis :
Tangan kiri pada anterior knee dan tangan
kanan pada calcaneus.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan ankle pasien
kearah dorsofleksi sampai otot
gastrocnemius terulur. Dipertahankan
selama 10-15 detik.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot
gastrocnemius.
2. Meningkatkan elastisitas dan
fleksibilitas jaringan otot
gastrocnemius.
Otot soleus
a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Prone lying dan fleksi knee 90o.

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri disamping kaki pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri berada pada posterior distal
tibia dan tangan kanan berada diatas
calcaneus.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan ankle pasien
kearah dorsofleksi sampai otot soleus
terulur. Dipertahankan selama 10-15 detik.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot soleus.
2. Meningkatkan elastisitas dan
fleksibilitas jaringan otot soleus.
Otot hamstring
Metode 1 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying, fleksi knee 90o disertai fleksi
hip.

b. Posisi fisioterapis :
Berada disamping kaki pasien.
c. Peletakan tangan fisioterapis :
Kedua tangan berada pada anterior knee
dengan memeluk tungkai pasien.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan hip pasien
kearah fleksi (knee tetap dalam posisi
ekstensi) sampai otot hamstring terulur.
Dipertahankan selama 10-15 detik.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot hamstring.
2. Meningkatkan elastisitas dan
fleksibilitas jaringan otot hamstring.
Otot hamstring
Metode 2 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying, ekstensi hip maksimal dan
fleksi knee 90o

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri disamping kaki pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kanan berada pada distal tibia dan
tangan kiri berada pada anterior knee.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan hip pasien
kearah fleksi (knee tetap dalam posisi
ekstensi) sampai otot hamstring terulur.
Dipertahankan selama 10-15 detik.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot hamstring.
2. Meningkatkan elastisitas dan
fleksibilitas jaringan otot hamstring.

Otot hamstring dan gastrocnemius


a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying , ekstensi hip + ekstensi knee

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri disamping kaki pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kanan berada pada telapak kaki dan
tangan kiri berada pada anterior knee

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan hip kearah fleksi
hip dan dorsofleksi sampai otot hamstring dan
gastrocnemius terulur. Dipertahankan selama
10-15 detik.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot hamstring.
2. Meningkatkan elastisitas dan fleksibilitas
jaringan otot hamstring.
Otot adduktor hip
Metode 1 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying, hip pasien dalam posisi abduksi
hip 45o.

b. Posisi fisioterapis :
Fisioterapis berdiri disamping kaki pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri fisioterapis berada di medial knee
sedangkan tangan kanan berada pada lateral
distal fibulla.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan hip pasien ke arah
abduksi sampai otot adduktor hip terulur dan
dipertahankan selama 10-15 detik.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot adduktor hip
2. Meningkatkan dan fleksibilitas elastisitas
jaringan otot adduktor hip.
Otot adduktor hip
Metode 2 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Side lying, fleksi knee 90o.

b. Posisi fisioterapis :
Fisioterapis berdiri dibelakang pasien
c. Peletakan tangan fisioterapis :
Tangan kiri fisioterapis berada di lateral
pelvic sedangkan tangan kanannya berada di
medial knee.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan hip pasien ke arah
abduksi dengan posisi pasien side lying
sampai otot adduktor hip terulur dan
dipertahankan selama 10-15 menit.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot adduktor hip
2. Meningkatkan dan fleksibilitas elastisitas
jaringan otot adduktor hip.
Otot abductor hip a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Metode 1 Supine lying, dengan bokong berada di
pinggir bed serta posisi awal tungkai
menggantung di atas bed dalam posisi fleksi
knee 90o dan pasien memeluk tungkai
tersebut.

b. Posisi fisioterapis :
Berada di samping kaki pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri pada anterior proksimal tibia
sedangkan tangan kanan berada di lateral
knee.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan hip pasien ke arah
abduksi sampai otot abduktor hip terulur dan
dipertahankan selama 10-15 menit.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot abduktor hip
(tensor fascia latae).
2. Meningkatkan dan fleksibilitas elastisitas
jaringan otot abduktor hip (tensor fascia
latae).

Otot abductor hip


Metode 2 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying, kaki kanan fleksi knee 45o
disertai fleksi hip dan disilangkan sedangkan
tungkai kiri dalam posisi adduksi hip.

b. Posisi fisioterapis :
Fisioterapis berdiri disamping pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri fisioterapis berada dianterior
knee sedangkan tangan kanan berada di
medial distal tibia.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan tungkai kiri pasien
ke arah adduksi sedangkan tungkai bagian
kanan pasien di fiksasi sampai otot abduktor
hip terulur dan dipertahankan selama 10-15
menit.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot abduktor hip
(tensor fascia latae).
2. Meningkatkan dan fleksibilitas elastisitas
jaringan otot abduktor hip (tensor fascia
latae)..
Otot quadriceps femoris/rectus femoris
Metode 1 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Side lying, posisi awal tungkai fleksi knee
90o.

b. Posisi fisioterapis :
Fisioterapis berdiri dibelakang pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kananterapis berada di anterior distal
femur sedangkan tangan kiri berada di lateral
pelvic.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan hip ke arah
ekstensi sampai otot quadriceps femoris
terulur dan dipertahankan selama 10-15
menit.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot quadriceps
femoris/rectus femoris.
2. Meningkatkan dan fleksibilitas elastisitas
jaringan otot quadriceps femoris/rectus
femoris.
Otot quadriceps femoris/rectus femoris a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Metode 2 Supine lying, dengan bokong berada di
pinggir bed serta posisi awal tungkai
menggantung di atas bed dalam posisi fleksi
knee 90o sedangkan pasien memeluk tungkai
yang lainnya.

b. Posisi fisioterapis :
Fisioterapis berada di bawah kaki pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri fisioterapis berada di anterior
knee sedangkan tangan kanan berada di
anterior distal tibia.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan hip pasien ke arah
ekstensi dan tungkai bawah kearah fleksi
knee sampai otot quadriceps femoris terulur
dan dipertahankan selama 10-15 menit.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot quadriceps
femoris/rectus femoris.
2. Meningkatkan dan fleksibilitas elastisitas
jaringan otot quadriceps femoris/rectus
femoris.
Otot iliopsoas a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Metode 1 Supine lying, dengan bokong berada di
pinggir bed serta posisi awal tungkai
menggantung di atas bed dalam posisi fleksi
knee 90o sedangkan pasien memeluk tungkai
yang lainnya.

b. Posisi fisioterapis :
Fisioterapis berada di depan kaki pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Masing-masing tangan terapis berada pada
anterior knee
d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan hip bagian pasien
ke arah ekstensi sedangkan hip bagian kanan
pasien ke arah fleksi 10 – 15 hingga otot
iliopsoas terulur

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot iliopsoas.
2. Meningkatkan dan fleksibilitas elastisitas
jaringan otot iliopsoas.

Otot iliopsoas
Metode 2 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Posisi pasien side lying dengan kedua tungkai
fleksi knee 90° disertai dengan sedikit fleksi
hip.

b. Posisi fisioterapis :
Posisi fisioterapis berada di belakang pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kanan fisioterapis memfiksasi pelvic
pasien sedangkan tangan kiri memegang
bagian medial knee sebagai penggerak.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan kaki pasien ke
arah ekstensi hip dipertahankan selama 10 –
15 detik sampai otot iliopsoas terulur

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot iliopsoas
Meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas
otot iliopsoas

Otot iliopsoas
Metode 3 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Posisi pasien prone lying dengan tungkai
sebelah kanan sedikit fleksi dan
menggelantung di luar bed sedangkan tungkai
kiri fleksi knee 90°.

b. Posisi fisioterapis :
Berada di samping pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri berada di posterior pelvic untuk
memfiksasi sedangkan tangan kanan berada
di bagian anterior knee.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan kaki kiri pasien
kearah ekstensi hip, dipertahankan selama 10
– 15 sampai otot iliopsoas terulur

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot iliopsoas
2. Meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas
otot iliopsoas

Otot piriformis
Metode 1 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying dengan kedua tungkai fleksi hip
+fleksi knee

b. Posisi fisioterapis :
Samping kanan tungkai pasien

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri berada pada lateral knee dan
tangan kanan pada bagian distal lateral tibia

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan kaki kanan pasien
kea rah medial/ adduksi hip selama 10-15
detik sampai otot piriformis terulur

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot piriformis
2. Meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas
otot priformis

Otot piriformis a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :


Metode 2 Supine lying dengan kedua kaki dalam posisi
fleksi hip +fleksi knee . Kaki kiri disanggah
dengan kaki fisioterapis dalam posisi fleksi
hip 90°+fleksi knee 90°

b. Posisi fisioterapis :
Samping kanan tungkai pasien

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri berada pada lateral knee dan
tangan kanan pada bagian anterior distal tibia

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan kaki kanan
pasien kea rah medial/ adduksi hip selama
10-15 detik sampai otot piriformis terulur

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot piriformis
2. Meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas
otot priformis

Otot piriformis
Metode 3 a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying dengan kaki kiri netral dan kaki
kanan menyilang dalam posisi fleksi
hip+fleksi knee menyilang

b. Posisi fisioterapis :
Samping kanan tungkai pasien

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri berada pada SIAS dan tangan
kanan pada bagian anterior knee

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan kaki kanan pasien
kea rah medial/ adduksi hip selama 10-15
detik sampai otot piriformis terulur

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot piriformis
2. Meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas
otot priformis
Extremitas Superior
Otot ekstensor wrist
a. Posisi pasien dan posisi awal lengan :
Duduk di atas bed dengan tangan abduksi 90°

b. Posisi fisioterapis :
Fisioterapis berdiri di belakang pasien

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri fisioterapis memegang elbow
pasien kemudian tangan kanan berada di dorsal
wrist

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan tangan pasien
kearah palmar fleksi wrist sampai otot
ekstensor wrist terulur dan dipertahankan
selama 10-15 detik

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot ekstensor wrist
2. Meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas
otot ekstensor wrist

Otot fleksor wrist


Metode 1 a. Posisi pasien dan posisi awal lengan :
Duduk di pinggir bed dengan posisi awal
lengan full fleksi elbow

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri di samping pasien

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri berada pada palmar wrist pasien
sebagai penggerak dan tangan kanan berada
pada elbow untuk memfiksasi

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan tangan pasien
kearah dorsofleksi wrist sampai otot fleksor
wrist terulur dan dipertahankan selama 10-15
detik

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot ekstensor wrist
2. Meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas
otot fleksor wrist

Otot fleksor wrist


Metode 2 a. Posisi pasien dan posisi awal lengan :
Tidur terlentang dengan tangan kiri abduksi 90°

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri di samping kepala pasien

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kiri berada pada palmar wrist pasien
sebagai penggerak dan tangan kanan berada
pada elbow untuk memfiksasi

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan tangan pasien
kearah dorsofleksi wrist sampai otot fleksor
wrist terulur dan dipertahankan selama 10-15
detik

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot fleksor wrist
2. Meningkatkan fleksibilitas ekstensor wrist
Elastisitas otot fleksor wrist

Otot triceps brachii


a. Posisi pasien dan posisi awal lengan :
Pasien duduk diatas bed dengan tangan kanan
maksimal fleksi shoulder + fleksi elbow dan
tangan kiri netral

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri di belakang pasien

c. Peletakan tangan fisioterapis:


Tangan kanan pada elbow sebagai penggerak
dan tangan kiri memfiksasi area punggung
d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan tangan pasien
kearah fleksi shoulder sampai otot triceps
brachii terulur dan dipertahankan selama 10-15
detik

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot triceps brachii
2. Meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas
otot triceps brachii

Otot biceps brachii


a. Posisi pasien dan posisi awal lengan:
Supine lying dengan tangan menggantung di
bed dalam posisi tangan pronasi + ekstensi
shoulder.

b. Posisi fisioterapis :
Berada di samping pasien

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kanan fisioterapis menstabilisasi
posterior elbow dan tangan kiri pada anterior
distal ulna sebagai penggerak

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan tangan pasien kea
rah ekstensi elbow+ekstensi shoulder sampai
otot biceps brachii terulur dan dipertahankan
selama 10-15 detik

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot biceps brachii
2. Meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas
otot biceps brachii

Otot infraspinatus a. Posisi pasien dan posisi awal lengan :


Tidur telentang, abduksi shpulder 90o +
endorotasi shoulder

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri disamping bed disisi kepala pasien.
c. Peletakan tangan fisioterapis :
Tangan kanan pada medial elbow untuk
memfiksasi, sedangkan tangan kiri pada
anterior distal lengan bawah sebagai
penggerak.

d. Teknik pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan shoulder pasien
kearah endorotasi sampai otot infraspinatus
terulur. Pertahankan selama 10-15 detik

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot infraspinatus
2. Meningkatkan fleksibilitas dan
elastisitas otot infraspinatus

- .

Otot supraspinatus a. Posisi pasien dan posisi awal lengan :


Duduk diatas kursi/bed. Tangan kiri netral,
sedangkan tangan kanan pasien didepan dada
dalam posisi fleksi elbow 90°.

b. Posisi fisioterapis :
Berdiri dibelakang pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kanan fisioterapis pada shoulder pasien
, sedangkan tangan kiri fisiotrapis diletakkan
pada posterior elbow.

d. Teknik pelaksanaan :
Fisioterapis menggerakkan shoulder pasien
kearah adduksi sampai otot supraspinatus
terulur. Pertahankan selama 10-15 detik

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot supraspinatus
2. Meningkatkan fleksibilitas dan
elastisitas otot supraspinatus

Otot pectoralis major (bilateral)


a. Posisi pasien dan posisi awal lengan :
Duduk di atas bed dengan posisi awal lengan
abduksi shoulder 90o dan kedua telapak tangan
diletakkan di area posterior head.

b. Posisi fisioterapis :
Berada di belakang pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Kedua telapak tangan fisioterapis berada pada
kedua medial elbow pasien.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis melakukan stretching pada elbow
pasien kearah abduksi horizontal shoulder,
kemudian dipertahankan selama 10 – 15 detik.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot Pectoralis major
2. Meningkatkan elastisitas dan fleksibilitas
otot Pectoralis major (bilateral).
Otot pectoralis major (unilateral)
a. Posisi pasien dan posisi awal lengan :
Pasien dalam posisi spine lying. Lengan kanan
pasien melakukan abduksi shoulder 90o +
fleksi elbow 90o, sedangkan lengan kiri pasien
rileks.

b. Posisi fisioterapis :
Fisioterapis berada di samping kanan pasien.

c. Peletakan tangan fisioterapis :


Tangan kanan fisioterapis berada di anterior
distal lengan bawah, sedangkan tangan kiri
fisioterapis berada dielbow.

d. Teknik Pelaksanaan :
Fisioterapis melakukan stretching pada elbow
pasien kearah abduksi horizontal, kemudian
dipertahankan selama 10 – 15 detik.

e. Tujuan :
1. Mengurangi spasme otot Pectoralis major
2. Meningkatkan elastisitas dan fleksibilitas otot
Pectoralis major (unilateral).

PNF LENGAN
LAPORAN PRAKTIKUM PNF LENGAN

No. Nama Pola Prosedur Pelaksanaan


1. Pola Fleksi-Adduksi-External
Rotasi
a. Posisi Pasien :
1. Posisi Awal
Supine lying

b. Posisi Awal Lengan :


Ekstensi,abduksi dan internal rotasi shoulder
dengan pronasi lengan bawah,ektensi + ulnar
deviasi wrist ,ektensi jari-jari tangan ,ekstensi dan
abduksi ibu jari.

c. Posisi Fisioterapis :
2. Posisi Akhir Berdiri di samping badan pasien dengan
menghadap kea rah tangan pasien yang akan
dilatih.Selama gerakan terapis mentransfer berat
badannya dari kaki kanan ke kaki kiri sehingga
dapat melanjutkan pandangan pada tangan pasien
sepanjang gerakan.

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Proximal : tanga kanan dari bawah memegang
forearm bagian proximal pasien .
Distal : palmar tangan kiri terapis memegang
palmar tangan pasien dari sisi radial menggunakan
lumbrical grip,jari-jari tangan kanan terapis
memegang permukaan flexor wrist dari sisi ulnar.

e. Timing :
Dimulai dari fleksi jari-jari tangan,fleksi
wrist,radial deviasi, diikuti supinasi lengan
bawah,ektensi elbow,diikuti eksorotasi shoulder
dan adduksi shoulder.

f. Teknik Pelaksanaan :
 Posisikan lengan pasien seperti awal lengan
yang telah disebutkan diatas
 Fisioterapi memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu.
 Instruksikan pasien untuk melakukan Fleksi
wrist dan hand(menggenggam tangan
fisioterapis), kemudian pasien melakukan
eksternal rotasi shoulder,supinasi lengan
bawah serta fleksi dan adduksi shoulder
kearah diagonal
 Saat pasien melakukan gerakan fisioterapis
memberikan tahanan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Scapula : serratus anterior (upper) dan
trapezius
2) Shuoulder : pectoralis mayor,deltoid
anterior,bicep,dan coracobrachialis
3) Elbow : triceps dan anconeus
4) Forearm : brachioradilis dan supinator
5) Wrist : flexor carpi radialis
6) Finger : flexor digitorum ( superficialis dan
profundus),lumbricales,dan interossei
7) Thumb : flexor pollicis (longus dan
brevis),adductor pollicis,dan opponens pollicics.
2. Pola Fleksi-Adduksi-External
Rotasi with fleksi elbow
a. Posisi Pasien :
1. Posisi Awal Supine liying
b. Posisi Awal Lengan :
Ekstensi shoulrder /abduksi/medial rotasi shoulder
dengan pronasi lengan bawah, ekstensi wrist dan
hand+ ulnar deviasi wrist

c. Posisi Fisioterapis :
Terapis berdiri disamping pasien dengan
menghadap kearah tangan pasien yang akan dilatih.
Selama gerakan, terapis mentransfer berat
badannya dari kaki kanan ke kaki kiri dengan rotasi
2. Posisi Akhir
sehingga dapat melanjutkan pandangan pada tangan
pasien sepanjang gerakan.

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Proksimal : Tangan kanan berada pada permukaan
Posterior Elbow pasien
Distal : Tangan kiri berada pada Palmar Wrist
pasien

e. Timing :
Fleksi wrist dan hand,eksternal rotasi,supinasi
lengan bawah, fleksi elbow, adduksi shoulder

f. Teknik Pelaksanaan :
 Posisikan lengan pasien seperti awal lengan
yang telah disebutkan diatas
 Fisioterapi memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu.
 Instruksikan pasien untuk melakukan Fleksi
wrist dan hand(menggenggam tangan
fisioterapis), kemudian pasien melakukan
eksternal rotasi shoulder,supinasi lengan
bawah serta fleksi dan adduksi shoulder
kearah diagonal dikombinasikan dengan
fleksi elbow

 Saat pasien melakukan gerakan fisioterapis


memberikan tahanan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Scapula : Serratus Anterior dan Trapesiuz
2) Shoulder : Pectoralis Mayor, Deltoid Anterior,
Biceps Brachii, dan Coracobrachialis
3) Elbow Biceps dan Brachialis
4) Forearm : Breachioradialis dan Supinator
5) Wrist : Flexor Carpi Radialis
6) Finger : Fleksor digitorum (Superficialis dan
Profundus), Lumbricalis dan Interossei.
7) Thumb : Fleksor Policis ( Longus dan Brevis),
Adductor Policis.
3. Pola Fleksi-Adduksi-External
Rotasi with extensi elbow
a. Posisi Pasien :
1. Posisi Awal Supine lying

b. Posisi Awal Lengan :


Ekstensi,abduksi dan internal rotasi shoulder
dengan pronasi lengan bawah,ektensi + ulnar
deviasi wrist ,ektensi jari-jari tangan ,ekstensi dan
abduksi ibu jari dikombinasikan dengan fleksi
elbow

2. Posisi Akhir c. Posisi Fisioterapis :


berdiri disamping kanan pasien

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Tangan kanan berada pada proksimal lengan bawah
dan tanagn kiri pada telapak tangan pasien

e. Timing :
Dimulai dari fleksi jari-jari tangan,fleksi
wrist,radial deviasi, diikuti supinasi lengan
bawah,ektensi elbow,diikuti eksorotasi shoulder
dan adduksi shoulder.

f. Teknik Pelaksanaan :
 Posisikan lengan pasien seperti awal lengan
yang telah disebutkan diatas
 Fisioterapi memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu.
 Instruksikan pasien untuk melakukan Fleksi
wrist dan hand(menggenggam tangan
fisioterapis), kemudian pasien melakukan
eksternal rotasi shoulder,supinasi lengan
bawah serta fleksi dan adduksi shoulder
kearah diagonal dikombinasikan dengan
ekstensi elbow
 Saat pasien melakukan gerakan fisioterapis
memberikan tahanan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Scapula : serratus anterior (upper) dan
trapezius
2) Shuoulder : pectoralis mayor,deltoid
anterior,bicep,dan coracobrachialis
3) Elbow : triceps dan anconeus
4) Forearm : brachioradialis dan supinator
5) Wrist : flexor carpi radialis
6) Finger : flexor digitorum ( superficialis dan
profundus),lumbricales,dan interossei
7) Thumb : flexor pollicis (longus dan
brevis),adductor pollicis.
4. Pola Extensi-Abduksi-Internal
Rotasi
a. Posisi Pasien :
1. Posisi Awal Supine lying

b. Posisi Awal Lengan :


Fleksi/adduksi/lateral rotasi shoulder, supinasi
lengan bawah, fleksi + radial deviasi wrist, fleksi
jari-jari tangan, fleksi + adduksi ibu jari.

c. Posisi Fisioterapis :
Berdiri disamping pasien menghadap ke kepala
pasien. Selama gerakan, terapis mentransfer berat
2. Posisi Akhir
badan dari kaki kiri ke kaki kanan dengan rotasi
sehingga dapat melanjutkan pandangan pada tangan
pasien sepanjang gerakan.

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Distal :Pegangan tangan kanan fisioterapis dengan
lumbrical grip memegang dorsum tangan kanan
pasien saat gerakan dimulai, jari-jari tangan ft’s
berada pada sisi ulnar sementara thumb memberi
tekanan pada sisi radial. Tidak ada kontak dengan
telapak tangan.
Proksimal : Tangan proksimal berada
menggenggam mengitari permukaan ekstensor sisi
ulnar dan radial pada forearm pasien di proksimal
wrist.

e. Timing :
Gerakan diawali dengan komponen rotasi ; gerakan
terjadi pertama kali pada sendi2 distal diikuti
dengan sendi-sendi lebih proksimal sampai seluruh
anggota gerak atas bergerak.Maka timingnya
dimulai dari ekstensi jari-jari tangan, ekstensi wrist,
ulnar deviasi, diikuti pronasi lengan bawah,
ekstensi elbow, internal rotasi shoulder, ekstensi
shoulder dan terakhir abduksi shoulder.

f. Teknik Pelaksanaan :
 Posisikan lengan pasien seperti awal lengan
yang telah disebutkan diatas
 Fisioterapi memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu.
 Instruksikan pasien untuk membuka
tangannya (ekstensi wrist) dan meminta
pasien membalikkan tangan dan menarik
lengan kebawah di samping tubuh seraya
mendorong tangan ke posisi diagonal
ekstensi-abd-Internal rotasi sementara
tangan fisioterapis menahan di bagian
dorsum telapak tangan dan ekstensor wrist.
Pada gerakan akhir terjadi ekstensi jari2
tangan khususnya jari manis dan kelingking,
ekstensi + abduksi ibu jari, ekstensi wrist
kearah sisi ulnar, pronasi lengan bawah,
ekstensi, abduksi dan medial rotasi
shoulder, rotasi, depresi dan adduksi
scapula.
 Saat pasien melakukan gerakan fisioterapis
memberikan tahanan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Rhomboid major dan minor ( pada saat depresi
scapula)
2) Latissimus dorsi , deltoid, Triceps brachii, dan
anconeus, teres major dan subscapularis(
ekstensi-abd-endorotasi shoulder)
3) Triceps brachii, dan anconeus ekstensi elbow
4) Brachioradialis, pronator teres dan quadratus
(pronasi forearm)
5) Ekstensor carpi ulnaris (ulnar deviasi)
6) Ekstensor digitorum longus, lumbrical dan
interossei(ekstensi dan ulnar deviasi jari-jari)
7) Abductor pollicis brevis dan ekstensor pollicis
brevis ( extensi, abduksi palmar pada thumb).
5. Pola Extensi-Abduksi-Internal
Rotasi with fleksi elbow
a. Posisi Pasien :
1. Posisi Awal
Supine lying

b. Posisi Awal Lengan :


Fleksi/adduksi/lateral rotasi shoulder, supinasi
lengan bawah, fleksi + radial deviasi wrist, fleksi
jari jari tangan, fleksi + adduksi ibu jari
dikombinasikan dengan ekstensi elbow

c. Posisi Fisioterapis :
2. Posisi Akhir Berdiri disamping pasien, Pegangan tangan kanan
terapis dengan lumbrical grip memegang dorsum
tangan kanan pasien untuk memastikan terjadinya
stretch, tetapi jari jari tangan kiri berada diatas titik
elbow dari sisi ulnar untuk memperoleh fleksi
elbow

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Tangan Proksimal : Tangan kiri fisioterapis berada
pada elbow pasien
Tangan Distal : tangan kanan fisioterapis berada
pada telapak tangan pasien.

e. Timing :
gerakan diawali dengan komponen rotasi ; gerakan
terjadi pertama kali pada sendi2 distal diikuti
dengan sendi2 lebih proksimal sampai seluruh
anggota gerak atas bergerak.Maka timingnya
dimulai dari ekstensi jari-jari tangan, ekstensi wrist,
ulnar deviasi, diikuti pronasi lengan bawah,
internal rotasi shoulder, ekstensi shoulder dan
abduksi shoulder dikombinasikan fleksi elbow.

f. Teknik Pelaksanaan :
 Posisikan lengan pasien seperti awal lengan
yang telah disebutkan diatas
 Fisioterapi memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu.
 Instruksikan pasien untuk membuka
tangannya (ekstensi wrist) dan meminta
pasien membalikkan tangan dan menarik
lengan kebawah di samping tubuh seraya
mendorong tangan ke posisi diagonal
ekstensi-abd-Internal rotasi sementara
tangan fisioterapis menahan di bagian
dorsum telapak tangan dan ekstensor wrist.
Pada gerakan akhir terjadi ekstensi jari2
tangan khususnya jari manis dan kelingking,
ekstensi + abduksi ibu jari, ekstensi wrist
kearah sisi ulnar, pronasi lengan bawah,
ekstensi, abduksi dan medial rotasi
shoulder, rotasi, depresi dan adduksi scapula
dikombinasikan dengan fleksi elbow
 Saat pasien melakukan gerakan fisioterapis
memberikan tahanan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Rhomboid major dan minor ( pada saat depresi
scapula)
2) Latissimus dorsi , deltoid ( middle dan
posterior), Triceps brachii, teres major dan
subscapularis( ekstensi-abd-endorotasi
shoulder)
3) Bicep dan brachialis pada gerakan fleksi elbow
4) Brachioradialis, pronator teres dan quadratus
(pronasi forearm)
5) Ekstensor carpi ulnaris (ulnar deviasi)
6) Ekstensor digitorum longus, lumbrical dan
interossei(ekstensi dan ulnar deviasi jari-jari)
7) Abductor pollicis brevis dan ekstensor pollicis
brevis ( extensi, abduksi palmar pada thumb).
6. Pola Extensi-Abduksi-Internal
Rotasi with extensi elbow
a. Posisi Pasien :
1. Posisi Awal
Supine lying

b. Posisi Awal Lengan :


Ekstensi/abduksi/internal rotasi shoulder dengan
fleksi elbow, ekstensi dan ulnar deviasi wrist,
ekstensi ibu-ibu jari, ekstensi dengan abduksi ibu
jari.

c. Posisi Fisioterapis :
2. Posisi Akhir
Berdiri disamping pasien menghadap ke kepala
pasien. Selama gerakan, terapis mentransfer berat
badan dari kaki kiri ke kaki kanan dengan rotasi
sehingga dapat melanjutkan pandangan pada tangan
pasien sepanjang gerakan.
d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :
Tangan Proksimal : Tangan kiri fisioterapis berada
pada elbow pasien
Tangan Distal : tangan kanan fisioterapis berada
pada telapak tangan pasien.

e. Timing :
gerakan diawali dengan komponen rotasi ; gerakan
terjadi pertama kali pada sendi2 distal diikuti
dengan sendi-sendi lebih proksimal sampai seluruh
anggota gerak atas bergerak.Maka timingnya
dimulai dari ekstensi jari-jari tangan, ekstensi wrist,
ulnar deviasi, diikuti pronasi lengan bawah,
ekstensi elbow, internal rotasi shoulder, ekstensi
shoulder dan terakhir abduksi shoulder.

f. Teknik Pelaksanaan :
 Posisikan lengan pasien seperti awal lengan
yang telah disebutkan diatas
 Fisioterapi memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu.
 Instruksikan pasien untuk membuka
tangannya (ekstensi wrist) dan meminta
pasien membalikkan tangan dan menarik
lengan kebawah di samping tubuh seraya
mendorong tangan ke posisi diagonal
ekstensi-abd-Internal rotasi sementara
tangan fisioterapis menahan di bagian
dorsum telapak tangan dan ekstensor wrist.
Pada gerakan akhir terjadi ekstensi jari2
tangan khususnya jari manis dan kelingking,
ekstensi + abduksi ibu jari, ekstensi wrist
kearah sisi ulnar, pronasi lengan bawah,
ekstensi, abduksi dan medial rotasi
shoulder, rotasi, depresi, adduksi scapula
dan dikombinasikan dengan ekstensi elbow
 Saat pasien melakukan gerakan fisioterapis
memberikan tahanan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1. Rhomboid major dan minor ( pada saat depresi
scapula)
2. Latissimus dorsi , deltoid ( middle dan
posterior), Triceps brachii, teres major dan
subscapularis( ekstensi-abd-endorotasi
shoulder)
3. Triceps dan Anconeus pada gerakan ekstensi
elbow
4. Brachioradialis, pronator teres dan quadratus
(pronasi forearm)
5. Ekstensor carpi ulnaris (ulnar deviasi)
6. Ekstensor digitorum longus, lumbrical dan
interossei(ekstensi dan ulnar deviasi jari-jari)
7. Abductor pollicis brevis dan ekstensor pollicis
brevis ( extensi, abduksi palmar pada thumb).
7. Pola Fleksi-Abduksi-External
Rotasi
a. Posisi Pasien :
1. Posisi Awal
Supine lying

b. Posisi Awal Lengan :


Ekstensi/adduksi/medial rotasi shoulder dengan
pronasi lengan bawah, fleksi dan ulnar deviasi
wrist, fleksi jari-jari tangan serta fleksi – opposisi
ibu jari.
c. Posisi Fisioterapis :
Berada di samping pasien.
2. Posisi Akhir

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Posisi tangan proksimal : diatas epicondylus lateral
humeri untuk menghasilkan fleksi elbow
Posisi tangan distal : tangan kiri terapis memegang
tangan kanan pasien dimana kontak dengan dorsum
tangan pasien.

e. Timing :
Ekstensi/adduksi/medial rotasi shoulder dengan
pronasi lengan bawah, fleksi dan ulnar deviasi wrist,
fleksi jari-jari tangan serta fleksi – opposisi,
Ekstensi jari-jari tangan (khususnya jari tengah dan
telunjuk) dan ibu jari tangan, ekstensi wrist + radial
deviasi, supinasi lengan bawah lalu ekstensi elbow
kearah kepala.

f. Teknik Pelaksanaan :
 Posisikan lengan pasien seperti awal lengan
yang telah disebutkan diatas
 Fisioterapi memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu.
 Tangan yang berada di permukaan dorsal
tangan, mengintruksikan untuk melakukan
ekstensi wrist secara maksimal, kemudian
pasien memutar tangannya menghadap
wajah. Lalu lengan ke atas dan luar(Abduksi
dan ekternal rotasi shoulder). Sambil pasien
melalkukan gerakan tersebut, fisioetrapi
memberikan tahanan kepada lengan pasien.
 Saat pasien melakukan gerakan fisioterapis
memberikan tahanan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Scapula : trapezius, levator scapula dan serratus
anterior
2) Shoulder : deltoid anterior, bicep (long head),
coracobrachialis, supraspinatus, infaspinatus dan
teres minor
3) Elbow : triceps dan anconeus
4) Forearm : brachioradialis,bicep, dan supinator
5) Wrist : ekstensor carpi radialis ( longus dan
brevis)
6) Finger : ekstensor digitorum longus dan
interossei
7) Thumb : ekstensor policis longus dan brevis,
abductor policis longus.
8. Pola Fleksi-Abduksi-External
Rotasi with fleksi elbow
a. Posisi Pasien :
1. Posisi Awal
Supine lying

b. Posisi Awal Lengan :


Ekstensi/adduksi/medial rotasi shoulder dengan
pronasi lengan bawah, fleksi dan ulnar deviasi
wrist, fleksi jari-jari tangan serta fleksi – opposisi
ibu jari dikombinasikan ekstensi elbow

c. Posisi Fisioterapis :
Berdiri di samping kanan pasien

2. Posisi Akhir
d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :
Posisi tangan proksimal : diatas epicondylus lateral
humeri untuk menghasilkan fleksi elbow
Posisi tangan distal : tangan kiri terapis memegang
tangan kanan pasien dimana kontak dengan dorsum
tangan pasien.

e. Timing :
Ekstensi/adduksi/medial rotasi shoulder dengan
pronasi lengan bawah, fleksi dan ulnar deviasi wrist,
fleksi jari-jari tangan serta fleksi – opposisi,
Ekstensi jari-jari tangan (khususnya jari tengah dan
telunjuk) dan ibu jari tangan, ekstensi wrist + radial
deviasi, supinasi lengan bawah lalu fleksi elbow
kearah kepala

f. Teknik Pelaksanaan :
 Posisikan lengan pasien seperti awal lengan
yang telah disebutkan diatas
 Fisioterapi memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu.
 Dalam posisi Ekstensi/adduksi/medial rotasi
shoulder dengan pronasi lengan bawah,
fleksi dan ulnar deviasi wrist, fleksi jari-jari
tangan serta fleksi – opposisi ibu jari pasien
diminta untuk melakukan gerakan membuka
tangan atau ekstensi wrist + radial deviasi,
supinasi lengan bawah, lalu minta pasien
mengangkat lengannya sambil
memfleksikan elbow seperti gerakan
menyisir sementara fisioterapis memberikan
sedikit tahanan
 Saat pasien melakukan gerakan fisioterapis
memberikan tahanan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1. Scapula : trapezius, levator scapula dan
serratus anterior
2. Shoulder : deltoid anterior, bicep (long head),
coracobrachialis, supraspinatus, infaspinatus
dan teres minor
3. Elbow : triceps dan anconeus
4. Forearm : brachioradialis,bicep, dan supinator
5. Wrist : ekstensor carpi radialis ( longus dan
brevis)
6. Finger : ekstensor digitorum longus dan
interossei
7. Thumb : ekstensor policis longus dan brevis,
abductor policis longus.
9. Pola Fleksi-Abduksi-External a. Posisi Pasien :
Rotasi with extensi elbow
Supine lying
1. Posisi Awal

b. Posisi Awal Lengan :


Fleksi elbow di atas chest, fleksi jari-jari dan wrist
serta ulnar deviasi.

c. Posisi Fisioterapis :
Berdiri di samping pasien (secara diagonal) dekat
dengan tangan yang akan dilatih.
2. Posisi Akhir
d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :
Tangan proksimal berada di epicondilus lateral
humeri dan tangan distal (kanan) berada di dorsal
telapak tangan pasien.

e. Timing :
Mulai dari ekstensi jari-jari tangan, ekstensi wrist +
radial deviasi diakhiri dengan ekstensi elbow kea
rah diagonal.

f. Teknik Pelaksanaan :
- Fisioterapis memberikan contoh gerakan terlebih
dahulu dengan menggerakkan lengan pasien.
- Kemudian instruksikan pasien melakukan gerakan
ekstensi wrist dan jari-jari. Letakkan tangan kanan
fisioterapis pada dorsal tangan pasien sebagai
tahanan.
- Secara perlahan minta pasien untuk
mengekstensikan lengannya ke arah diagonal
sambil fisioterapis memberikan tahanan pada
elbow.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Ekstensor carpi radialis longus dan brevis
2) Supraspinatus, infraspinatus dab teres minor
3) Ekstensor digitorum longus
4) Trisep dan anconeus
10. Pola Extensi-Adduksi-Internal a. Posisi Pasien :
Rotasi
Supine lying.
1. Posisi Awal

b. Posisi Awal Lengan :


Lengan bawah dalam posisi supinasi, ekstensi wrist
+ radial deviasi, ekstensi jari-jari tangan dan ibu
jari.

c. Posisi Fisioterapis :
Berdiri di samping pasien (secara diagonal) dekat
dengan tangan yang akan dilatih.

2. Posisi Akhir d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Tangan proksimal (kiri) berada di elbow dan tangan
distal (kanan) berada di permukaan palmar tangan
pasien.
e. Timing :
Dimulai dari fleksi jari-jari tangan, oposisi ibu jari,
fleksi wrist + ulnar deviasi, diikuti pronasi lengan
bawah, extensi elbow, diikuti internal rotasi
shoulder, ekstensi shoulder, dan terakhir adduksi
shoulder.

f. Teknik Pelaksanaan :
- Fisioterapis memberiksan contoh gerakan terlebih
dahulu dengan menggerakkan lengan pasien.
- Kemudian instruksikan pasien melakukan gerakan
fleksi jari-jari dan wrist bergerak kearah ulnar
deviasi. Letakkan tangan kanan fisioterapis pada
palmar tangan pasien sebai tahanan.
- Secara perlahan minta pasien untuk membawa
lengannya secara diagonal ke arah adduksi sambil
ekstensi dan internal rotasi shoulder. Tangan
fisioterapis pada elbow menahan gerakan dan
diakhiri dengan anterior depresi scapula pasien.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Fleksor digitorum (superficialis dan
profundus),
lumbricales, interossei
2) Fleksor carpi ulnaris
3) Pectoralis major, teres major, subscapularis
4) Serratus anterior (lower), pectoralis minor dan
rhomboid.

11. Pola Extensi-Adduksi-Internal a. Posisi Pasien :


Rotasi with fleksi elbow
Supine lying
1. Posisi Awal

b. Posisi Awal Lengan :


Fleksi shoulder+ ekstensi elbow, ekstensi wrist dan
jari-jari diagonal di atas kepala.

c. Posisi Fisioterapis :
Berada di samping pasien dekat dengan tangan
pasien yang akan dilatih.

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Tangan kiri fisioterapis berada di elbow (proksimal)
dan tangan kanan fisioterapis berada di palmar
2. Posisi Akhir
telapak tangan pasien (distal).

e. Timing : Diawali dengan fleksi jari-jari dan fleksi


wrist, ulnar deviasi wrist, fleksi elbow, adduksi dan
internal rotasi di depan chest.

f. Teknik pelaksanaan :
- Fisioterapis memberikan contoh gerakan terlebih
dahulu dengan menggerakkan lengan pasien.
- Kemudian instruksikan pasien melakukan
gerakan fleksi jari-jari dan wrist bergerak ke arah
ulnar deviasi. Letakkan tangan kanan fisioterapis
pada palmar tangan pasien sebagai tahanan.
- Secara perlahan minta pasien untuk membawa
lengannya secara diagonal kearah chest sambil
fleksi elbow disertai adduksi shoulder dan
internal rotasi shoulder. Tangan fisioterapis pada
elbow menahan gerakan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) M. pectoralis minor, M. serratus anterior (
lower), M.
a. Rhomboid
2) M. Bicep Barchii, M. Brachioradialis, M.
Brachialis
3) M. Pronator teres, M. Subscapularis
4) M. Flexor Carpi Ulnaris, M. Adductor Pollicis
5) M. Flexor Digitorum (Superficialis dan
profundus), M.
Flexor Pollicis (longus dan brevis).

12. Pola Extensi-Adduksi-Internal a. Posisi Pasien :


Rotasi with extensi elbow
Supine lying.
1. Posisi Awal

b. Posisi Awal Lengan :


Fleksi shoulder + fleksi elbow dengan ibu jari
menunjuk ke lantai, disertai ekstensi wrist.

c. Posisi Fisioterapis :
Berada di samping pasien dekat dengan tangan
pasien yang akan dilatih.
d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :
Tangan kiri fisioterapis berada di elbow (proksimal)

2. Posisi Akhir dan tangan kanan fisioterapis berada di palmar


telapak tangan pasien (distal).

e. Timing :
Diawali dengan fleksi jari-jari dan fleksi wrist ke
arah ulnar deviasi. Kemudian kearah ekstensi elbow
dan ekstensi shoulder diakhiri dengan adduksi
shoulder diantara kedua tungkai.

f. Teknik Pelaksanaan :

- Fisioterapis memberikan contoh gerakan terlebih


dahulu dengan menggerakkan lengan pasien.
- Kemudian instruksikan pasien melakukan gerakan
fleksi jari-jari dan wrist bergerak ke arah ulnar
deviasi. Letakkan tangan kanan fisioterapis pada
palmar tangan pasien sebai tahanan.
- Secara perlahan minta pasien untuk membawa
lengannya secara diagonal ke arah antara kedua
tungai sambil adduksi shoulder, internal rotasi
shoulder dan diakhiri dengan ekstensi full dari
elbow. Tangan fisioterapis pada elbow menahan
gerakan.

g. Tujuan : untuk melatih otot :

- Scapula : M. Pectoralis Mayor dan Minor


- Shoulder : M. Deltoideus pars clavicularis, M.
Subclavius, M. Teres mayor dan M.
Subscapularis
- Elbow : M. Tricpes brachiii, M. Pronator teres
- Wrist : M. Flexoris pollicis, M. adductor
pollicis, M. Interossei Palmaris

PNF TUNGKAI

No. Nama Pola Prosedur Pelaksanaan


1. Pola Fleksi-Adduksi-External a. Posisi Pasien :
Rotasi
Supine lying.
3. Posisi Awal

b. Posisi Awal Tungkai :


Ekstensi, abduksi, internal rotasi hip, plantar
fleksi ankle dan fleksi jari-jari kaki.

c. Posisi Fisioterapis :
Berdiri dekat dengan kaki pasien yang akan
dilatih.

d. Posisi tangan proksimal dan distal :


4. Posisi Akhir
Tangan proksimal (kanan) di atas patella dan
tangan distal (kiri) di metatarsal (punggung
kaki).

e. Timing :
Dimulai dengan ekstensi jari-jari kaki
kemudian dorso fleksi ankle dan inversi.
Kemudian knee fleksi dan fleksi hip kearah
diagonal atau kearah shoulder yang
berlawanan.

f. Teknik pelaksanaan :
 Fisioterapis memberikan contoh gerakan
terlebuh dahulu dengan menggerakkan
tungkai pasien.
 Kemudian instruksikan pasien melakukan
gerakan dorso fleksi sambil fisioterapis
memberikan tahanan pada punggung kaki.
 Secara perlahan minta pasien untuk
melakukan fleksi knee dan hip kearah
shoulder dalam posisi diagonal.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1. Psoas major, iliacus, group otot adductor,
Sartorius, pectineus, rectus femoris
2. Hamstring, gracillis, gastrocnemius
3. Tibialis anterior
4. Ekstensor hallucis dan ekstensor
digitorum.
Pola Fleksi-Adduksi-External a. Posisi Pasien :
Rotasi with fleksi knee
3. Posisi Awal Supine lying dan tungkai abduksi.

b. Posisi Awal Tungkai :


Abduksi, internal rotasi hip, plantar fleksi
ankle dan fleksi jari-jari kaki.

c. Posisi Fisioterapis : Berdiri dekat dengan


kaki pasien yang akan dilatih.

d. Posisi tangan proksimal dan distal :


Tangan proksimal (kanan) di atas patella dan
4. Posisi Akhir
tangan distal
(kiri) di metatarsal (punggung kaki).

e. Timing :
Dimulai dengan ekstensi jari-jari kaki
kemudian dorso fleksi ankle dan inversi.
Kemudian knee fleksi dan fleksi hip kearah
diagonal atau kearah shoulder yang
berlawanan.

f. Teknik pelaksanaan :
 Fisioterapis memberikan contoh gerakan
terlebuh dahulu dengan menggerakkan
tungkai pasien.
 Kemudian instruksikan pasien melakukan
gerakan dorso fleksi sambil fisioterapis
memberikan tahanan pada punggung kaki.
 Secara perlahan minta pasien untuk
melakukan fleksi knee dan hip ke arah
shoulder dalam posisi diagonal.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1. Psoas major, iliacus, group otot adductor,
Sartorius,
pectineus, rectus femoris
2. Hamstring, gracillis, gastrocnemius
3. Tibialis anterior
4. Ekstensor hallucis dan ekstensor
digitorum.
Pola Fleksi-Adduksi-External h. Posisi Pasien :
Rotasi with extensi knee
Supine lying dengan tungkai fleksi knee di
3. Posisi Awal
tepi bed.

i. Posisi Awal Tungkai :


fleksi knee + internal rotasi + plantar fleksi

j. Posisi Fisioterapis :
Fisioterapis berada disamping pasien dengan
kedua tungkai dalam posisi diagonal.
4. Posisi Akhir
k. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :
Tangan proximal (kiri) berada di atas patella
dan tangan distal (kanan) berada di punggung
kaki.

l. Timing :
Mulai dari ekstensi jari-jari kaki dan
dorsofleksi ankle disertai inversi kemudian
dilanjutkan dengan fleksi hip diikuti dengan
ekstensi knee full dan eksternal rotasi hip.

m. Teknik Pelaksanaan :
- Fisioterapis memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu dengan menggerakkan
tungkai pasien
- Kemudian instruksikan pasien melakukan
gerakan ekstensi jari-jari dan dilanjutkan
dengan dorso fleksi sambil fisioterapis
memberikan tahanan pada punggung kaki
pasien.
- Secara perlahan minta pasien untuk fleksi
hip diikuti ekstensi knee dan internal rotasi
hip. Tangan fisioterapis pada distal paha
memberi tahanan pada gerakan fleksi hip.
n. Tujuan : untuk melatih otot :
1) Psoas major, iliacus, group otot adductor,
Sartorius, pectineus dan rectus femoris
2) Quadriceps
3) Tibialis anterior
4) Ekstensor hallucis dan digitorum.
Pola Extensi-Abduksi-Internal a. Posisi Pasien :
Rotasi
Supine lying.
3. Posisi Awal

b. Posisi Awal Tungkai :


Fleksi, adduksi, external rotasi hip, dorso
fleksi ankle dan extensi jari-jari kaki.

c. Posisi Fisioterapis :
Berdiri dekat dengan kaki pasien yang akan
dilatih.
4. Posisi Akhir
d. Posisi tangan proksimal dan distal :
Tangan proksimal (kiri) di atas permukaan
telapak kaki bagian tengah dan tangan distal
(kanan) dibagian bawah lipatan knee.

e. Timing : Dimulai dengan plantar fleksi jari-


jari kaki kemudian putar kearah internal
rotasi hip sampai pada posisi akhir ekstensi
dn abduksi hip.

f. Teknik pelaksanaan :
 Fisioterapis memberikan contoh gerakan
terlebih dahulu dengan menggerakkan
tungkai pasien.
 Kemudian instruksikan pasien melakukan
gerakan plantar fleksi sambil fisioterapis
memberikan tahanan pada permukaan
telapak kaki pasien.
 Secara perlahan minta pasien untuk
memutar hip kearah internal rotasi sampai
pada posisi ekstensi dan abduksi hip
g. Tujuan : Untuk melatih otot :
1) Gluteus maksimus, Gluteus medius,
Gluteus minimus
2) Otot Hamstring
3) Tensor fasciae latae
4) Peroneus, gastronemius, soleus,
plantaris.
Pola Extensi-Abduksi-Internal
Rotasi with fleksi knee
h. Posisi Pasien :
3. Posisi Awal
Supine lying

i. Posisi Awal Tungkai :


Fleksi/adduksi/lateral rotasi hip, dorsifleksi
ankle dan inversi kaki, ekstensi jari-jari kaki.

j. Posisi Fisioterapis :
Berdiri disamping pasien.

4. Posisi Akhir k. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Tangan kiri berada di proksimal femur
sedangkan tangan kanan berada di telapak
kaki.

l. Timing :
Dimulai dari medial rotasi hip, plantar fleksi
ankle dan eversi kaki, fleksi jari2 kaki, fleksi
knee, ekstensi dan abduksi hip.

m. Teknik Pelaksanaan :
Minta pasien untuk memutar kakinya keluar,
dorong jari-jari kaki ke bawah kemudian
membengkokkan lututnya, sedangkan
fisioterapis melakukan transfer berat tubuh dari
kaki kanan ke kaki kiri selama aplikasi.

n. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Hip : Gluteus medius, gluteus maximus
(upper)
2) Knee : Hamstrings, gracilis
3) Ankle : Soleus, peroneus longus and brevis
4) Toes : Flexor hallucis, fl exor digitorum
Pola Extensi-Abduksi-Internal
Rotasi with extensi knee
h. Posisi Pasien :
3. Posisi Awal
Supine lying

i. Posisi Awal Tungkai :


Fleksi/adduksi/lateral rotasi hip dengan fleksi
knee, dorsifleksi ankle dan inversi kaki serta
ekstensi jari2 kaki.

j. Posisi Fisioterapis :
4. Posisi Akhir Berdiri disamping pasien

k. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Tangan kiri berada di patella sedangkan tangan
kanan berada di telapak kaki.

l. Timing : Medial rotasi hip, plantarfleksi


ankle dan eversi kaki, fleksi jari2 kaki,
ekstensi knee, ekstensi dan abduksi hip.

m. Teknik Pelaksanaan :
Pasien diminta untuk mendorong kakinya
dengan kuat

n. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Hip : Gluteus medius, gluteus maximus
(upper), hamstrings
2) Knee : Quadriceps
3) Ankle : Gastrocnemius, soleus, peroneus
longus and brevis
4) Toes : Flexor hallucis, flexor digitorum
Pola Fleksi-Abduksi-Internal
Rotasi
h. Posisi Pasien :
3. Posisi Awal
Supine lying.

i. Posisi Awal Tungkai :


Ekstensi/adduksi/lateral rotasi hip, plantar
fleksi ankle dan inversi kaki, serta fleksi jari2
kaki.

j. Posisi Fisioterapis :
Berdiri disamping pasien

4. Posisi Akhir
k. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :
Tangan kanan berada di patella sedangkan
tangan kiri berada di dorsal telapak kaki.

l. Timing :
Medial rotasi hip, dorsifleksi ankle dan eversi
kaki, ekstensi jari2 kaki, fleksi dan abduksi
hip.

m. Teknik Pelaksanaan :
Pasien diminta untuk memutar kakinya
kemudian keluar dan tarik kaki keatas  “tarik
– kuat”.

n. Tujuan : untuk melatih otot :


8) Hip : Tensor fascia lata, rectus femoris,
gluteus medius (anterior), gluteus minimus
9) Knee : Quadriceps
10) Ankle : Peroneus tertius
11) Toes : Extensor hallucis, extensor
digitorum

Pola Fleksi-Abduksi-Internal
h. Posisi Pasien :
Rotasi with fleksi knee
3. Posisi Awal Supine lying.

i. Posisi Awal Tungkai :


Ekstensi/adduksi/lateral rotasi hip, plantar
fleksi ankle dan inversi kaki, serta fleksi jari2
kaki.

j. Posisi Fisioterapis :
Berdiri disamping pasien

4. Posisi Akhir
k. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :
Tangan kiri berada di patella sedangkan tangan
kanan berada di dorsal telapak kaki.

l. Timing :
Medial rotasi hip, dorsifleksi ankle dan eversi
kaki, fleksi knee, fleksi hip dan abduksi hip.

m. Teknik Pelaksanaan :
Pasien diminta untuk menarik kuat kakinya
dengan menggerakkan kearah medial rotasi
hip, dorsifleksi ankle dan eversi kaki, fleksi
knee, fleksi hip dan abduksi hip.

n. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Hip : Tensor fascia lata, rectus femoris,
gluteus medius (anterior), gluteus minimus
2) Knee : Hamstrings, gracilis, gastrocnemius
3) Ankle : Peroneus tertius
4) Toes : Extensor hallucis, extensor
digitorum.
Pola Fleksi-Abduksi-Internal
Rotasi with extensi knee
a. Posisi Pasien :
3. Posisi Awal
Supine lying.

b. Posisi Awal Tungkai :


Ekstensi/adduksi/lateral rotasi hip, fleksi knee,
plantar fleksi ankle dan inversi kaki, serta
fleksi jari2 kaki.
c. Posisi Fisioterapis :
Berdiri disamping pasien

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


4. Posisi Akhir
Tangan kiri berada di distal femur sedangkan
tangan kanan berada di punggung kaki.

e. Timing :
Medial rotasi hip dengan dorsifleksi ankle dan
eversi kaki, ekstensi jari2 kaki, ekstensi knee,
fleksi dan abduksi hip.

f. Teknik Pelaksanaan :
Pasien diminta untuk memutar kakinya keluar,
tarik kuat keatas dan luruskan lutut.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Hip : Tensor fascia lata, rectus femoris,
gluteus medius
(anterior), gluteus minimus
2) Knee : Quadriceps
3) Ankle : Peroneus tertius
4) Toes : Extensor hallucis, extensor
digitorum
Pola Extensi-Adduksi-External
Rotasi
h. Posisi Pasien :
3. Posisi Awal
Supine lying.

i. Posisi Awal Tungkai :


Fleksi/abduksi/medial rotasi hip, dorsifleksi
ankle dan eversi kaki, serta ekstensi jari2 kaki.

j. Posisi Fisioterapis :
Berdiri disamping pasien.

k. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Tangan kanan berada di patella sedangkan
tangan kiri berada di telapak kaki.

l. Timing :
Lateral rotasi hip, plantarfleksi ankle dan
4. Posisi Akhir inversi kaki, fleksi jari2 kaki, ekstensi dan
adduksi hip.

m. Teknik Pelaksanaan :
Pasien diminta untuk memutar kakinya
kedalam dan dorong kaki ke bawah, “dorong –
kuat”, sedangkan fisioterapis harus
mentransfer berat tubuhnya dari satu kaki ke
kaki lainnya.

n. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Hip : Adductor magnus, gluteus maximus,
hamstrings, lateral rotators
2) Knee : Quadriceps
3) Ankle : Gastrocnemius, soleus, tibialis
posterior
4) Toes : Flexor hallucis, fl exor digitorum.
Pola Extensi-Adduksi-External
Rotasi with fleksi knee
a. Posisi Pasien :
3. Posisi Awal
Supine lying dan kaki digerakkan kearah ujung
bed sampai knee merasa nyaman untuk fleksi
b. Posisi Awal Tungkai :
Fleksi/abduksi/medial rotasi hip, dorsifleksi
ankle dan eversi kaki, serta ekstensi jari2 kaki.
Tungkai yang rest harus dalam keadaan
abduksi untuk memberikan adduksi pada
tungkai yang akan dilatih.

c. Posisi Fisioterapis :
Berdiri disamping pasien

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


4. Posisi Akhir
Tangan kiri berada di dorsal knee sedangkan
tangan kanan berada di telapak kaki.

e. Timing :
Lateral rotasi hip, plantarfleksi ankle dan
inversi kaki, fleksi jari2 kaki, fleksi knee,
ekstensi dan adduksi hip

f. Teknik Pelaksanaan :
Pasien diminta untuk mendorong – kuat,
kemudian bengkokkan lututnya.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Hip : Adductor magnus, gluteus
maximus, lateral rotators
2) Knee : Hamstrings, gracilis
3) Ankle : Gastrocnemius, soleus, tibialis
posterior
4) Toes : Flexor hallucis, fl exor digitorum.
Pola Extensi-Adduksi-External
Rotasi with extensi knee
a. Posisi Pasien :
3. Posisi Awal
Supine lying

b. Posisi Awal Tungkai :


Fleksi/abduksi/medial rotasi hip dengan fleksi
knee, dorsifleksi ankle dan eversi kaki, serta
ekstensi jari2 kaki.

c. Posisi Fisioterapis :
Berdiri disamping pasien.

d. Posisi Tangan Proksimal dan Distal :


Tangan kiri berada di dorsal knee sedangkan
tangan kanan berada di telapak kaki.

4. Posisi Akhir
e. Timing :
Lateral rotasi hip, plantar fleksi ankle dan
inversi kaki, fleksi jari2 kaki, ekstensi knee,
ekstensi dan adduksi hip

f. Teknik Pelaksanaan :
Pasien diminta untuk mendorong kuat tahanan
yang diberikan oleh fisioterapis.

g. Tujuan : untuk melatih otot :


1) Hip : Adductor magnus, gluteus maximus,
hamstrings, lateral rotators
2) Knee : Quadriceps
3) Ankle : Gastrocnemius, soleus, tibialis
posterior
4) Toes : Flexor hallucis, fl exor digitorum