Anda di halaman 1dari 36

P R I N S I P DA S A R

M O B I L I Z AT I O N O F
N E RV U S A S S YS T E M
E X T. I N F E R I O R

Ke l o m p o k 1 1
1 . F a n i Yu a n i t a P r a t i w i
2. Milia Biang
3. Sri Mulyani Husain
4. Achmad Aditya Fajar
SISTEM SARAF
Sistem saraf merupakan jaringan tubuh yang mengkoordinasikan
perilaku dan fungsi penting tubuh kita, termasuk pernapasan, pencernaan,
sirkulasi darah, ekskresi, berkeringat, gerakan, persepsi, ucapan, tidur,
belajar dan memori. Otak mengkode identitas pribadi kita, seperti yang
dibuktikan secara tragis oleh kasus hilangnya kepribadian pada gangguan
otak seperti penyakit Alzheimer atau beberapa kasus stroke.
FUNGSI

Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama


yaitu :
1. pengatur / pengendali kerja organ tubuh;
2. pusat pengendali tanggapan; dan
3. alat komunikasi dengan dunia luar.
SISTEM SARAF

Berdasarkan letak kerjanya Sistem Saraf terdiri atas 3 bagian yaitu :


• Sistem Saraf Pusat
a. Otak
b. Sumsum Tulang Belakang
• Sistem Saraf Perifer/ Tepi
a. 2 pasang saraf serabut otak (saraf kranial)
b. 1 pasang saraf sumsum tulang belakang (saraf spinal)
• Sistem Saraf Autonom/Saraf Tak Sadar
a. Susunan saraf simpatik
b. Susunan saraf parasimpatik
MOBILISASI SARAF

Mobilisasi saraf adalah modalitas pengobatan yang digunakan dalam


kaitannya dengan lesi dari sistem saraf. Teknik mobilisasi saraf meliputi
gerakan berulang dari segmen yang mengalami gangguan, serta kombinasi
gerakan dari segmen sisi distal dan proksimalnya. (Kostopoulos : 2003)
Mobilisasi saraf adalah suatu bentuk pergerakan tubuh
yang menggunakan saraf sebagai kerangka acuan. Mobilisasi
saraf sangat membantu pasien yang mengalami kesemutan,
mati rasa, dan sensasi saraf lainnya.

 Mobilisasi saraf adalah pergerakan yang memprovokasi


sensasi saraf yang berguna untuk mengidentifikasi cabang
saraf mana yang mengalami masalah untuk menentukan
asal rasa sakit.
TUJUAN MOBILISASI SARAF

Mengembalikan keseimbangan dinamis antara gerakan jaringan saraf


dan jaringan di sekitarnya, sehingga mengurangi tekanan intrinsik pada
jaringan saraf.
Mobilisasi saraf dapat menyembuhkan permasalahan saraf karena
meningkatkan impuls saraf. Peningkatan impuls saraf ini berkaitan dengan
respon osilasi mobilisasi saraf dengan meningkatkan sirkulasi atau
pemindahan ion dari sekitar saraf.
MANFAAT MOBILISASI SARAF
Manfaat dari teknik mobilisasi saraf meliputi :
a. Memfasilitasi gliding saraf;
b. Meningkatkan vaskularisasi saraf; dan
c. Meningkatkan aliran axoplasmic atau transport aksonal.
INDIKASI
1. Membebaskan iritasi saraf dari perlengketan;
2. Meningkatkan kelenturan saraf;
3. Menormalkan konduktivitas saraf;
4. Menormalkan mikrosirkulasi saraf;
5. Mobilisasi artikular dan connective/otot;
6. Pemulihan fungsi saraf; dan
7. Meningkatkan rasa percaya diri.
KONTRAINDIKASI

Kontraindikasi dilakukannya mobilisasi saraf menurut Butler (1991)


adalah :
1) Kondisi yang irritable,
2) Inflamasi akut atau gangguan yang mengenai sistem saraf,
3) Gangguan neurologis,
4) Lesi cauda equine,
5) Cidera medula spinalis,
6) Tumor, dan
7) Fraktur atau dislokasi yang belum ditangani dokter.
TREATMENT
1. Menentukan diagnosis dan memastikan jaringan apa yang mengalami
gangguan,
2. Menentukan iritabilitasnya,
3. Memberikan treatment/mobilisasi saraf dengan dosis yang tepat
(grade I-IV),
4. Memberikan edukasi dan home program pada pasien,
5. Melakukan dokumentasi fisioterapi,
6. Evaluasi
Mobilisasi saraf dapat diberikan pada :
 Anggota ekstremitas superior dengan menggunakan teknik
ULTT (Upper Limb Tension Test)
 Anggota ekstremitas inferior dengan menggunakan LLTT
(Low Limb Tension Test)
ETIOLOGI

A. Luka terbuka (benda tajam, peluru);


B. Traksi, patah tulang, pergerakan sendi;
C. Tekanan pada saraf karena pemasangan bidai, bebat, atau turniket
yang terlalu kencang;
D. Infeksi akut (difteri), infeksi kronik (TBC, lepra),
keracunan(kemoterapi, antibiotik, logam berat, gas CO), iskemia
(emboli arteri, sindromkompartemen), dan gangguan metabolik
(diabetes mellitus, leukemia, defisiensi vitamin).
PATOFISIOLOGI

Serabut saraf adalah penghantar impuls listrik dari susunan saraf


pusat keujungnya di lempeng saraf otot, atau sebaliknya, dari reseptor
sensoris ke pusat. Seperti juga kabel listrik, serabut terdiri atas akson
sebagai kawatnya, dibungkusdengan selubung mielin kolagen halus sebagai
isolatornya yang disebutendoneurium. Beberapa ribu akson bergabung
menjadi fasikulus diselubungidengan sel Schwann yang disebut
perineurium; beberapa fasikulus bergabungmenjadi satu saraf diselubungi
epineurium.
Saraf perifer kebanyakan berselaput mielin mengandung akson
sensorik, motorik, atau keduanya. Diduga bahwa epineurium akan
mengundang reaksi fibroblastik yang menjadi penyebab utama timbulnya
fibrosis bila terjadi kerusakan saraf.
Kategori kerusakan saraf menurut Seddon, dimana pada tingkat
kedua terjadi kerusakan akson dengan endoneurium tetap utuh
(aksonotmesis). Kerusakan ini akan diikutidengan degenerasi akson distal
dari lokasi kerusakan (degenerasi Waller).
Tiga Proses Patologi Dasar Yang Bisa Terjadi
Pada Saraf Perifer (Adam, 2005)
a. Degenerasi Wallerian
Terjadi degenerasi sekunder pada mielin oleh karena penyakit
pada aksonyang meluas ke proksimal dan distal dari tempat
akson terputus. Perbaikanmembutuhkan waktu sampai
tahunaan, oleh karena pertama terjadi regenerasikemudian
baru terjadi koneksi kembali dengan otot, organ sensoris,
pembuluhdarah
b. Demielinisasi Segmental
Terjadi destruksi mielin tanpa kerusakan akson, lesi primer
melibatkan sel Schwann. Demielinisasi mulai dari nodus
ranvier meluas tak teratur kesegmen-segmen internodus lain.
Perbaikan fungsi cepat karena tidak terjadi kerusakan akson.
c. Degenerasi Aksonal
Degenerasi pada bagian distal akson saraf perifer dan
beberapa tempat ujung akson sentral kolumna posterior
medulla spinalis.
Tiga Tingkatan Nerve Injury (Sunderland)

Neurpraxia
Aksonotmesis
Neurotmesis
Neuropraxia adalah tidak berfungsinya sistem saraf yang
bersifat sementara tanpa terjadinya disrupsi fisik akson. Biasanya
fungsi saraf akan kembali normal setelah 2-4 minggu. Dalam hal
ini belum terjadi degenerasi Wallerian.
Aksonotmesis adalah terjadinya disrupsi akson dan mielin.
Jaringan ikat lunak sekitar yang termasuk endoneurium intak.
Terjadi degenerasi akson distal dan proksimal lokasi terjadinya
trauma. Degenerasi distal dikenal sebagai degenerasi Wallerian.
Akson akan mengalami regenerasi dengan kecepatan 1mm/hari.
Fungsi akan kembali normal setelah 18 bulan.
Neurotmesis adalah terjadinya disrupsi akson dan
endoneurial. Komponen kolagen perifer seperti epineurium dapat
intak atau terjadi disrupsi. Degenerasi aksonal terjadi pada distal
dan proksimal segmen.
TEKNIK MOBILISASI SARAF
Straight Leg Raise Test

Mobilisasi Saraf Peroneus


1. Supine Lying + Flexi
Hip + Ekstensi Knee
(Straight Leg Raising)
2. Plantar fleksi ankle
3. Inversi ankle
Mobilisasi Saraf Tibialis
1. Straigh Leg Raising
2. Dorso Fleksi Ankle
Mobilisasi Saraf Ischiadicus
1. Straigh Leg Raising
2. Adduksi Hip
3. Medial rotasi Hip
Slump Test
• Menurut Petren, awalnya pasien dalam posisi duduk lalu ekstensi knee.
• Gyriax mengkombinasikan ekstensi knee dan sitting dengan fleksi
servical untuk mendiagnosa sciatic perineuritis.
• Inman dan Saunders mengkombinasikan spinal fleksi dengan SLR untuk
melokalisasi sumber nyeri pada lumbar.
Peningkatan gejala saat peningkatan range SLR
mengindikasikan adanya patologi pada lower lumbar,
sedangkan peningkatan gejala saat fleksi trunk
mengindikasikan adanya patologi pada upper
lumbar.
INTERPRETASI SLUMP TEST
Tension mengindikasikan adanya tekanan akibat adanya spinal stenosis,
ekstraforaminal lateral diskus herniasi, sekuatrasi diskus, adhesi akar
saraf, dan vertebral impingement.
PENCEGAHAN
• Memperbaiki kemampuan mobilisasi;
• Melaksanakan latihan pasif;
• Mempertahankan posisi tubuh dengan benar sesuai dengan body
alignmment;
• Melakukan perubahan posisi tubuh secara periodik (mobilisasi untuk
menghindari terjadinya pressure area akbibat tekanan yang menetap
pada bagian tubuh).
Dalam lingkup mobilisasi pada gangguan neurologis, diharapkan :
 Fisioterapis dapat mengenal ciri-ciri dari mobilisasi pada gangguan
neurologis dengan cepat;
 Fisioterapis dapat menangani pasien dengan mobilisasi gangguan
neurologi secara tepat, teliti, dan terampil; dan
 Fisioterapis dapat bekerjasama dengan tim kesehatan lain maupun
pasien dalam tahap pemeriksaan mobilisasi pada gangguan neurologis.