Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN

PARAPARESE

I. LANDASAN TEORITIS PENYAKIT


A. Definisi
Paraparese adalah kelemahan otot kedua ekstremitas bawah pada
fungsi motorik dan sensorik pada segmen torakal, lumbal atau sacral medulla
spinalis (Sudoyo, 2009). Paraplegia adalah cedera saraf tulang belakang yang
disebabkan karena kecelakaan yang merusak sensorik dan fungsi motorik di
bagian tubuh. Paraplegia mengalami kelumpuhan pada kedua tungkai kaki
dan mati rasa pada bagian perut hingga ujung kaki akibat cedera pada
sumsum tulang belakang. Para penderita paraplegia juga memiiki masalah
lain seperti impotensia, BAK, BAB, selain itu emosional, depresi, dan stres
karena mereka tidak bisa berjalan lagi. Perbedaan kuadraplegi, paraplegia,
tetraplegia, paralisis dan parese. (Kowalak, 2011).
1. Kuadriplegik mengacu pada kehilangan gerakan dan sensasi pada keempat
ekstremitas dan badan yang dikaitkan dengan cedera pada medulla
spinalis cervikalis.
2. Paraplegia mengacu pada kehilangan gerak dan sensasi ekstremitas bawah
dan semua atau sebagian badan sebagai akibat cedera pada torakal, lumbal
atau sacral.
3. Paralisis merupakan hilangnya kekuatan untuk memindahkan tubuh
berhubungan dengan injury atau penyakit pada syaraf yang mengatur otot
dalam melakukan perpindahan tubuh.
4. Plegia yaitu kehilangan kekuatan.
5. Paresis yaitu kelemahan yang berarti pada otot yang terkena.
6. Paraparese yaitu kelemahan tonus otot pada ekstremitas bawah.
7. Tetraparese yaitu kelemahan tonus otot yang melibatkan salah satu
segmen servikal medulla spinalis dengan disfungsi kedua lengan dan
kedua kaki.

Klasifikasi:
1. Paraparese spastik: terjadi karena kerusakan yang mengenai upper motor
neuron (UMN) sehingga menyebabkan peningkatan tonus otot atau
hipertonus.
2. Paraparese flaksid terjadi karena kerusakan yang mengenai lower motor
neuron (LMN) sehingga menyebabkan penurunan tonus otot atau
hypotonus.

Paraparesis Inferior

Paresis memiliki arti kelemahan dan paraparesis digunakan untuk


mendeskripsikan kelemahan pada kedua tungkai. Pengertian ini kemudian
meluas dengan memasukkan kelainan pola jalan yang disebabkan oleh lesi
UMN, bahkan pada keadaan yang tidak disertai dengan kelemahan pada
pemeriksaan otot secara manual.
Gangguan ini kemudian dikaitkan dengan adanya spastisitas yang
diinduksi oleh adanya gangguan fungsi dari traktus kortikospinalis. Pada
orang dewasa, penyebab tersering dari sindroma ini adalah multiple sclerosis
dengan diagnosis banding berupa tumor pada daerah foramen magnum,
Chiari malformation, spondylosis cervical, arteriovenous malformation, dan
lateral sclerosis primer. Diagnosis untuk penyebab sindroma ini tidak bisa
ditegakkan dengan melihat gejala klinisnya saja, tetapi memerlukan
pemeriksaan lanjutan seperti; pemeriksaan cairan serebrospinalis, CT scan,
MRI, dan myelography.
Apabila terdapat tanda-tanda cerebellar ataupun tanda-tanda lain selain
dari tanda-tanda gangguan pada kortikospinal bilateral, kemungkinan
gangguan yang mendasarinya adalah multiple sclerosis ataupun penyakit
bawaan lain seperti olivopontocerebellar degeneration. Kombinasi antara
tanda-tanda LMN pada lengan dan UMN pada tungkai menjadi suatu
karakteristik dari amyotrophic lateral sclerosis.
Petunjuk lain dari penyebab spastic paraparesis termasuk nyeri servikal
dan radikular pada neurofibroma atau massa ekstra aksial lainnya pada
kanalis servikalis. Juga kemungkinan muncul bersamaan dengan gejala-gejala
cerebellar atau tanda lain yang mengarah pada multiple sclerosis.
Dikatakan juga bahwa tumor pada otak di daerah parasagital akan
menyebabkan terjadinya isolated spastic paraparesis karena terjadi
penekanan pada area tungkai di korteks motorik pada kedua hemisfer.
Paraparesis kronik dapat terjadi sebagai akibat dari gangguan pada
LMN. Alih-alih muncul tanda-tanda gangguan UMN, malah muncul
flaccid paraparesis yang disertai dengan hilangnya reflex tendon pada
tungkai.
Paraparesis akut memunculkan permasalahan lain pada diagnosisnya.
Jika ada nyeri pada punggung dan reflex tendon masih muncul, atau jika
ada tanda-tanda UMN, maka kemungkinan muncul akibat adanya lesi
kompresi dimana sebuah studi menyebutkan bahwa metastase dari tumor
menjadi penyebab utamanya.
Pada anak-anak dan orang dewasa muda, tanda dan gejala yang
muncul bisa menjadi lebih berat, ditambah dengan rasa nyeri karena
gangguan ini sering disebabkan oleh acute transverse myelitis. Hal ini
mungkin terlihat pada anak-anak dan orang dewasa. Selain dari gejala-
gejala motorik yang timbul, gejala sensoris juga bermakna untuk
menunjukkan letak lesi penyebab gangguan tersebut.

B. Anatomi fisiologi tulang belakang


1. Anatomi
Tulang belakang atau vertebra adalah tulang tak beraturan yang
membentuk punggung yang mudah digerakkan. Terdapat 33 tulang punggung
pada manusia, 7 tulang cervical, 12 tulang thorax (thoraks atau dada), 5
tulang lumbal, 5 tulang sacral, dan 4 tulang membentuk tulang ekor (coccyx).
Sebuah tulang punggung terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior yang
terdiri dari badan tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang
terdiri dari arcus vertebrae. 1
Gambar 1. Vertebrae (Tulang Belakang)

Medula spinalis mulai dari akhir medulla oblongata di foramen


magnum sampai konus medullaris di level Tulang Belakang L1-L2. Medulla
Spinalis berlanjut menjadi Kauda Equina (di Bokong) yang lebih tahan
terhadap cedera. 2
Medula spinalis diperdarahi oleh 2 susunan arteri yang mempunyai
hubungan istemewa, yaitu arteri spinalis dan arteri radikularis. Arteri spinalis
dibagi menjadi arteri spinalis anterior dan posterior yang berasal dari arteri
vertebralis, sedangkan arteri radikularis dibagi menjadi arteri radikularis
posterior dan anterior yang dikenal juga ramus vertebromedularis arteria
interkostalis. Medula Spinalis disuplai oleh arteri spinalis anterior dan arteri
spinalis posterior. Nervus spinalis/akar nervus yang berasal dari 4acral4
spinalis melewati suatu lubang di vertebra yang disebut foramen dan
membawa informasi dari spinalis sampai ke bagian tubuh dan dari tubuh ke
otak. 2
Gambar 2. Hubungan antara vertebrae dengan nervus spinalis

2. Fisiologi
Ada 31 pasang nervus spinalis dan dibagi dalam empat kelompok
nervus spinalis, yaitu :
a. Nervus servikal : berperan dalam pergerakan dan perabaan pada lengan,
leher, dan anggota tubuh bagian atas
b. Nervus thorak : mempersarafi tubuh dan perut
c. Nervus lumbal dan nervus sacral : mempersarafi tungkai, kandung kencing,
usus dan genitalia. 2
Susunan neuromuskular terdiri dari Upper Motor Neuron (UMN) dan
Lower Motor Neuron (LMN). UMN merupakan kumpulan saraf-saraf motorik
yang menyalurkan impuls dan area motorik di korteks motorik cerebrum
sampai inti-inti motorik di saraf kranial di batang otak sampai cornu anterior
medulla spinalis. Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik kelompok
UMN dibagi dalam susunan piramidal dan susunan ekstrapiramidal. Susunan
piramidal terdiri dari traktus kortikospinal dan traktus kortikobulbar. Traktus
kortikobulbar fungsinya untuk geraakan-gerakan otot kepala dan leher,
sedangkan traktus kortikospinal fungsinya untuk gerakan-gerakan otot tubuh
dan anggota gerak. Sedangkan lower motor neuron (LMN), yang merupakan
kumpulan saraf-saraf motorik yang berasal dari cornu anterior medulla
spinalis sampai ke efektor dilanjutkan ke berbagai otot dalam tubuh seseorang.
1,2

Gambar 3. Upper Motor Neuron dan Lower Motor Neuron

Dari otak medula spinalis turun ke bawah kira-kira ditengah punggung


dan dilindungi oleh cairan jernih yaitu cairan serebrospinal. Medula spinalis
terdiri dari berjuta-juta saraf yang mentransmisikan informasi elektrik dari dan
ke ekstremitas, badan, oragan-organ tubuh dan kembali ke otak. Otak dan
medula spinalis merupakan sistem saraf pusat dan yang mehubungkan saraf-
saraf medula spinalis ke tubuh adalah sistem saraf perifer. Medula spinalis
terdiri atas traktus ascenden (yang membawa informasi di tubuh menuju ke
otak seperti rangsang raba, suhu, nyeri dan gerak posisi) dan traktus descenden
(yang membawa informasi dari otak ke anggota gerak dan mengontrol fungsi
tubuh). 1
Motorneuron dengan aksonnya merupakan satu-satunya saluran bagi
impuls motorik yang dapat menggerakkan serabut otot. Bilamana terjadi
kerusakan pada motorneuron, maka serabut otot yang tergabung dalam unit
motoriknya tidak dapat berkontraksi, kendatipun impuls motorik masih dapat
disampaikan oleh sistem pyramidal dan ekstrapiramidal kepada tujuannya. 2

Upper Motor Neuron (UMN)


a. Sistem Piramidal 3
- Mulai dari sel-sel neuron di lapisan V koreks precentralis (area 4
Brodmann)
- Neuron-neuron tersebut tertata di daerah gyrus precentralis yang
mengatur gerakan tubuh tertentu.
- Serabut-serabut eferen berupa akson-akson neuron di girus precentralis
turun ke neuron-neuron yang menyusun inti saraf otak motorik, terbagi
menjadi 2:
- Di brain stem melalui traktus kortikobulbaris yang berperan dalam
pergerakan otot-otot kepala serta leher.
- Di kornu anterior medula spinalis melalui traktus kortikospinalis
berfungsi untuk mempersarafi sel-sel motorik batang otak secara
bilateral, kecuali nervus VII dan XII yang berfungsi menyalurkan
impuls motorik untuk gerakan-gerakan tangkas otot-otot tubuh dan
anggota gerak.

Apabila terdapat kelainan traktus piramidalis setinggi :


1) Hemisfer : Hemiparese tipikal (gangguan ekstremitas sesisi
dengan nervus cranialis dan kontralateral terhadap lesi).
2) Batang otak : Hemiparesis alternans(gangguan ekstremitas
kontralateral terhadap lesi dan nervus cranialisnya).
3) Medulla spinalis : Tetraparese ataupun paraparese. 2
b. Sistem Ekstrapiramidal
- Dimulai dari serebral korteks, basal ganglia, subkortikal nukleus secara
tidak langsung ke spinal cord melalui multi synap connection.
- Inti-inti yang menyusun ekstrapyramidal adalah:
1. Korteks motorik tambahan (area 4s, 6, 8).
2. Ganglia basalis (Nucleus kaudatus, Putamen, Globus pallidus,
substansia nigra), Korpus subtalamikum (Luysii), Nucleus
ventrolateralis Talami.
3. Nucleus ruber & substansia retikularis batang otak.
4. Cerebellum
- Gangguan pada ekstrapiramidal : Kekakuan, rigiditas, ataksia, tremor,
balismus, khorea, atetose. 2

Lower Motor Neuron (LMN)

Merupakan neuron-neuron yang menyalurkan impuls motoric pada


bagian perjalanan terakhir (dari kornuanterior medulla spinalis) ke sel otot
skeletal (final common pathway motoric impuls). 1,2
Lower Motor Neuron dibagi menjadi:
a. α-motoneuron akson tebal, menyalurkan impuls ke serabut otot ekstrafusal
b. γ-motoneuron akson halus, menyalurkan impuls ke serabut otot intrafusal
 Tiap motorneuron menjulurkan 1 akson yang bercabang-cabang dan
tiap cabangnya mensarafi seutas serabut otot. Otot untuk gerakan
tangkas terdiri dari banyak unit motoric yang kecil-kecil, sedangkan
otot untuk gerakan sederhana terdiri dari kesatuan motoric besar
berjumlah sedikit.
 Pola impuls motorik dari lintasan pyramidal menyalurkan impuls ke
system output striatal extrapyramidal, fungsinya untuk
menggalakkan/menghambat α-γ-motoneuron. Bila hubungan antara
UMN dan LMN diputus, motoneuron masih bisa menggerakkan otot,
akan tetapi gerakannya tidak sesuai dan cenderung reflektorik, massif.
Namun bila motoneuronnya yang rusak, impuls tetap disampaikan,
namun otot yang terhubungan tidak bisa digerakkan sehingga
menimbulkan atrofi otot. 4

Gambar 4. Tanda Klinis UMN dan LMN

C. Etiologi
Penyebab paraparese menurut Smeltzer (2014) adalah sebagai berikut:
1. Faktor trauma tulang belakang, paling banyak terjadi karena jatuh dari
ketinggian.
2. Faktor infeksi myelin
3. Tumor atau neoplasma pada medulla spinalis
4. Abses tuberculosa
5. Spina bifida thoracoumbal
6. Proses degenerasi medulla spinalis.
D. Manifestasi Klinis
Nurarif (2013) menjelaskan bahwa lesi yang terjadi pada medulla
spinalis dapat menimbulkan gejala klinis:
1. Gangguan fungsi motorik
a. Lesi pada medulla spinalis merusak kornu anterior medulla spinalis
sehingga menimbulkan kelumpuhan LMN pada otot-otot yang
dipersyarafi oleh kelompok motoneuron ynag terkena lesi dan
menyebabkan nyeri punggung yang terjadi secara tiba-tiba.
b. Gangguan motorik dibawah lesi: dapat terjadi kelumpuhan UMN
karena jaras kortikospinal lateral segmen thorakal terputus. Gerakan
reflex tertentu yang tidak dikendalikan oleh otak akan tetap utuh atau
bahkan meningkat. Misalnya, reflex lutut tetap ada dan bahkan
meningkat. Meningkatnya reflex ini menyebabkan kejang tungkai.
Reflex yang tetap dipertahankan menyebabkan otot yang terkena
menjadi memendek sehingga terjadi kelumpuhan jenis spastik. Otot
yang spastik teraba kencang dan keras dan sering mengalami kedutan.
2. Gangguan fungsi sensorik
Karena lesi total juga merusak kornu posterior medulla spinalis maka akan
terjadi penurunan atau hilang fungsi sensitabilitas di bawah lesi. Penderita
tidak dapat merasakan adanya rangsangan taktil, rangsang nyeri, rangsang
thermal.
3. Gangguan fungsi autonomy karena terputusnya jaras ascenden
spinothalamicus maka penderita kehilangan kontrol vesika urinaria dan
kehilangan kontrol saat defekasi (disfungsi kandung kemoh dan usus).

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
2. Hematologi
a. Hemoglobin dapat menurun karena destruksi sum-sum tulang vertebra
atau perdarahan. Peningkatan leukosit menandakan selain adanya
infeksi juga karena kematian jaringan.
b. Kimia klinik: fungsi pembekuan darah sebelum terapi antikoagulan.
c. Juga dapat terjadi gangguan elektrolit karena terjadi gangguan dalam
fungsi perkemihan dan fungsi gastrointestinal.
d. Radiognostik
e. CT Scan untuk melihat adanya edema, hematoma, iskemia dan infark
f. MRI menunjukkan daerah yang mengalami fraktur, infark hemoragik.
g. Rontgen menunjukkan daerah yang mengalami fraktur dan kelainan
tulang.

F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan cedera medulla spinalis menurut Mansjore (2009)
antara lain:
a. Penanganan awal cedera medulla spinalis, yaitu:
1) Mempertahankan usaha bernapas
2) Mencegah syok
3) Imobilisasi leher (neck collar dan long spine board)
4) Selain itu, fokus selanjutnya adalah mempertahankan tekanan darah
dan pernapasan, stabilisasi leher, mencegah komplikasi (retensi
urine atau alvi, komplikasi kardiovascular atau respiratorik, dan
thrombosis vena-vena profunda)
b. Penanganan lanjut trauma medulla spinalis dapat dilakukan dengan:
1) Farmakoterapi
Pemberian kortikosteroid dosis tinggi, khususnya metilprednisolon,
telah ditemukan unruk memperbaiki prognosis dan mengurangi
kecacatan bila diberikan dalam 8 jam cedera.
2) Hipotermia
Teknik pendinginan atau penyebaran hipotermia ke daerah cedera
dari medulla spinalis, untuk mengatasi kekuatan autodestruktif yang
mengikuti tipe cedera ini, cara ini keefektifannya masih diselidiki.
3) Tindakan pernapasan
Oksigen diberikan untuk mempertahankan PO2 arteri tinggi, karena
anoksemia dapat menimbulkan atau memperburuk deficit
neurologic medulla spinalis. Intubasi endotrakea diberikan bila
perlu, perawatan ekstrem dilakukan untuk menghindari fleksi atau
ekstensi leher, yang dapat menimbulkan tekanan pada cidera
servikal diaphragma pacing (stimulasi listrik terhadap saraf frenik)
dapat dipertimbangkan unituk pasien dengan lesi servikal tinggi
tetapi biasanya dilakukan setelah fase akut.
4) Traksi dan Reduksi skelet
Penatalaksanaan cidera medulla spinalis memerlukan imobilisasi
dan reduksi dislokasi (memperbaiki posisi normal) dan stabilisasi
kolum vertebra.
5) Fraktur servikal dikurangi dan spinal servikal disejajarkan dengan
beberapa bentuk traksi seklet seperti tong seklet atau callipers, atau
dengan menggunakan alat halo.
6) Intervensi pembedahan, pembedahan diindikasikan bila :
a) Deformitas pasien tidak dapat dikurangi dengan traksi
b) Tidak ada kestabilan tulang servikal
c) Cedera terjadi pada daerah toraks atau lumbal
d) Status neurologic pasien memburuk.
Pembedahan dilakukan untuk mengurangi fraktur spinal atau dislokasi
atau dekompresi medulla. Laminektomi (eksisi cabang posterior dan
prossesus spinosus vertebra) diindikasikan pada adanya defisit neurologic
progresif, dicurigai adanya hematoma epidural, atau cedera penetrasi yang
memerlukan debridemen pembedahan, atau memungkinkan visualisasi
langsung dan eksplorasi medulla.
Penderita menghadapi ketidakmampuan fisik sepanjang hidup sehingga
memerlukan tindak lanjut dan perawatan terus menerus dari professional
kesehatan seperti psikiatris, perawat rehabilitasi, ahli terapi okupasi.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Potter & Perry (2009), pasien dengan paraparese perlu
dilakukan ROM. ROM terdiri dari gerakan pada persendian sebagai berikut :
a. Leher, Spina, Servikal
Gerakan Penjelasan Rentang
Fleksi Menggerakan dagu menempel ke dada, rentang 45°
Ekstensi Mengembalikan kepala ke posisi tegak, rentang 45°
Hiperektensi Menekuk kepala ke belakang sejauh rentang 40-
mungkin, 45°
Fleksi lateral Memiringkan kepala sejauh mungkin rentang 40-
sejauh mungkin kearah setiap bahu, 45°
Rotasi Memutar kepala sejauh mungkin dalam rentang
gerakan sirkuler, 180°

b. Bahu

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Menaikan lengan dari posisi di samping rentang
tubuh ke depan ke posisi di atas kepala, 180°
Ekstensi Mengembalikan lengan ke posisi di rentang
samping tubuh, 180°
Hiperektensi Mengerkan lengan kebelakang tubuh, rentang 45-
siku tetap lurus, 60°
Abduksi Menaikan lengan ke posisi samping di rentang
atas kepala dengan telapak tangan jauh 180°
dari kepala,
Adduksi Menurunkan lengan ke samping dan rentang
menyilang tubuh sejauh mungkin, 320°
Rotasi dalam Dengan siku pleksi, memutar bahu rentang 90°
dengan menggerakan lengan sampai ibu
jari menghadap ke dalam dan ke
belakang,
Rotasi luar Dengan siku fleksi, menggerakan rentang 90°
lengan sampai ibu jari ke atas dan
samping kepala,
Sirkumduksi Menggerakan lengan dengan lingkaran rentang
penuh, 360°

c. Siku

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Menggerakkan siku sehingga lengan rentang
bahu bergerak ke depan sendi bahu dan 150°
tangan sejajar bahu,
Ektensi Meluruskan siku dengan menurunkan rentang
tangan, 150°

d. Lengan bawah

Gerakan Penjelasan Rentang


Supinasi Memutar lengan bawah dan tangan rentang 70-
sehingga telapak tangan menghadap ke 90°
atas,
Pronasi Memutar lengan bawah sehingga rentang 70-
telapak tangan menghadap ke bawah, 90°

e. Pergelangan tangan

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Menggerakan telapak tangan ke sisi rentang 80-
bagian dalam lengan bawah, 90°
Ekstensi Mengerakan jari-jari tangan sehingga rentang 80-
jari-jari, tangan, lengan bawah berada 90°
dalam arah yang sama,
Hiperekstensi Membawa permukaan tangan dorsal ke rentang 89-
belakang sejauh mungkin, 90°
Abduksi Menekuk pergelangan tangan miring ke rentang 30°
ibu jari,
Adduksi Menekuk pergelangan tangan miring ke rentang 30-
arah lima jari, 50°

f. Jari- jari tangan

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Membuat genggaman, rentang 90°
Ekstensi Meluruskan jari-jari tangan, rentang 90°
Hiperekstensi Menggerakan jari-jari tangan ke rentang 30-
belakang sejauh mungkin, 60°
Abduksi Mereggangkan jari-jari tangan yang rentang 30°
satu dengan yang lain,
Adduksi Merapatkan kembali jari-jari tangan, rentang 30°

g. Ibu jari

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Mengerakan ibu jari menyilang rentang 90°
permukaan telapak tangan,
Ekstensi menggerakan ibu jari lurus menjauh rentang 90°
dari tangan,
Abduksi Menjauhkan ibu jari ke samping, rentang 30°
Adduksi Mengerakan ibu jari ke depan tangan, rentang 30°
Oposisi Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari
-
tangan pada tangan yang sama.

h. Pinggul

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Mengerakan tungkai ke depan dan rentang 90-
atas, 120°
Ekstensi Menggerakan kembali ke samping rentang 90-
tungkai yang lain, 120°
Hiperekstensi Mengerakan tungkai ke belakang rentang 30-50°
tubuh,
Abduksi Menggerakan tungkai ke samping rentang 30-50°
menjauhi tubuh,
Adduksi Mengerakan tungkai kembali ke
posisi media dan melebihi jika rentang 30-50°
mungkin,
Rotasi Memutar kaki dan tungkai ke arah
rentang 90°
dalam tungkai lain,
Rotasi luar Memutar kaki dan tungkai menjauhi
rentang 90°
tungkai lain.
Sirkumduksi Menggerakan tungkai melingkar -

i. Lutut

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Mengerakan tumit ke arah belakang rentang 120-
paha, 130°
Ekstensi Mengembalikan tungkai kelantai, rentang 120-
130°

j. Mata kaki

Gerakan Penjelasan Rentang


Dorsifleksi Menggerakan kaki sehingga jari-jari rentang 20-30°
kaki menekuk ke atas,
Plantarfleksi Menggerakan kaki sehingga jari-jari rentang 45-50°
kaki menekuk ke bawah,

k. Kaki

Gerakan Penjelasan Rentang


Inversi Memutar telapak kaki ke samping rentang 10°
dalam,
Eversi Memutar telapak kaki ke samping rentang 10°
luar,

l. Jari-Jari Kaki

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Menekukkan jari-jari kaki ke bawah, rentang 30-60°
Ekstensi Meluruskan jari-jari kaki, rentang 30-60°
Abduksi Menggerakan jari-jari kaki satu rentang 15°
dengan yang lain,
Adduksi Merapatkan kembali bersama-sama, rentang 15°

G. Komplikasi
Mansjoer (2009) menjelaskan bahwa komplikasi yang dapat muncul
akibat dari paraparese adalah :
2. Gangguan penghubung dari lokasi pusat hambatan yang lebih tinggi di
otak.
3. Infeksi dan sepsis dari berbagai sumber meliputi saluran kemih, saluran
pernapasan dan decubitus.
II. LANDASAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Data – data yang sering muncul saat dilakukannya pengkajian pada
pasien dengan paraparese, anatara lain (Nurarif, 2013):
1. Riwayat
a. Keluhan Utama
Biasanya didapatkan laporan kelemahan dan kelumpuhan ekstremitas,
inkontinensia defekasi dan berkemih
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya terjadi riwayat trauma, pengkajian yang didapat meliputi
hilanya sensibilitas, paralisis, ileus paralitik, retensi urine, hilangnya
refleks
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya riwayat infeksi, tumor, cedera tulang belakang, DM, jantung,
anemia, obat antikoagulan, alkohol.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat kelurga dengan penyakit yang sama.

2. Pola Gordon
a. Persepsi dan Penanganan Kesehatan
Menggambarkan persepsi, pemeliharaan dan penanganan kesehatan.
Persepsi terhadap arti kesehatan, dan piñata laksanaan kesehatan,
kemampuan menyusun tujuan, pengetahuan tentang praktek kesehatan.

Komponen:

1) Gambaran kesehatan secara umum dan saat ini,


2) alasan kunjungan dan harapan,
3) gambaran terhadap sakit dan penyebabnya dan penanganan yang
dilakukan,
4) Kepatuhan terhadap pengobatan
5) Pencegahan/tindakan dalam menjaga kesehatan
6) Penggunaan obat resep dan warung,
7) Penggunaan produk atau zat didalam kehidupan sehari-hari dan
frekuensi (misal : rokok, alkohol)
8) Penggunaan alat keamanan dirumah/sehari-hari, dan faktor resiko
timbulnya penyakit
9) Gambaran kesehatan keluarga

b. Nutrisi-Metabolik
Menggambarkan intake makanan, keseimbangan cairan dan elektrolit,
nafsu makan, pola makan, diet, fluktuasi BB dalam 6 bulan terakhir,
kesulitan menelan, mual / muntah, kebutuhan julah zat gizi, masalah /
penyembuhan kulit, akanan kesukaan.

Komponen

1) Gambaran yang biasa dimakan (Pagi,siang,sore,snack)


2) Tipe dan intake cairan
3) Gambaran bagaimana nafsu makan, kesulitan dan keluhan yang
mempengaruhi makan dan nafsu makan
4) Penggunaan obat diet
5) Makanan Kesukaan, Pantangan,alergi
6) Penggunaan suplemen makanan
7) Gambaran BB, perubahan BB dalam 6-9 bln,
8) Perubahan pada kulit (lesi, kering, membengkak,gatal)
9) Proses penyembuhan luka (cepat-lambat)
10) Adakah faktor resiko terkait ulcer kulit (penurunan sirkulasi, defisit
sensori,penurunan mobilitas)

c. Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi eksresi, kandung kemih dan kulit.

Komponen

1) Berapa kali miksi dalam sehari, karakteristik urin


2) Adakah masalah dalam proses miksi, adakah penggunaan alat bantu
untuk miksi
3) Gambaran pola BAB, karakteritik
4) Penggunaan alat bantu
5) Bau bdn, Keringat berlebih,lesi & pruritus

d. Aktivitas-Latihan
Menggambarkan pola aktivitas dan latihan, fungsi pernafasan dan sirkulasi.

Komponen

1) Gambaran level aktivitas, kegiatan sehari-hari dan olahraga


2) Aktivitas saat senggang/waktu luang
3) Apakah mengalami kesulitan dalam bernafas, lemah, batuk, nyeri
dada,palpitasi,nyeri pada tungkai, gambarkan!
4) Gambaran dalam pemenuhan ADL
5) Level Fungsional (0-IV)
6) Kekuatan Otot (1-5)

e. Tidur-Istirahat
Menggambarkan pola tidur-istirahat dan persepsi pada level energi.

` Komponen

1) Berapa lama tidur dimalam hari


2) Jam berapa tidur-Bangun
3) Apakah terasa efektif
4) Adakah kebiasaan sebelum tidur
5) Apakah mengalami kesulitan dalam tidur

f. Kognitif-Persepsi
Menggambarkan pola pendengaran, penglihatan, pengecap, taktil,
penciuman, persepsi nyeri, bahasa, memori dan pengambilan keputusan.

Komponen

1) Kemampuan menulis dan membaca


2) Kemampuan berbahasa
3) Kemampuan belajar
4) kesulitan dalam mendengar
5) Penggunaan alat bantu mendengar/melihat
6) Bagaimana visus
7) Adakah keluhan pusing bagaimana gambarannya
8) Apakah mengalami insensitivitas terhadap dingin, panas,nyeri
9) Apakah merasa nyeri
10) (Skala dan karaketeristik)

g. Persepsi Diri – Konsep Diri


Menggambarkan sikap terhadap diri dan persepsi terhadap
kemampuan,harga diri,gambaran diri dan perasaan terhadap diri sendiri.

Komponen

1) Bagaimana menggambarkan diri sendiri


2) Apakah ada kejadian yang akhirnya mengubah gambaran terhadap diri
3) Apa hal yang paling menjadi pikiran
4) Apakah sering merasa marah, cemas, depresi, takut, bagaimana
gambarannya

h. Peran – Hubungan
Menggambarkan keefektifan hubungan dan peran dengan keluarga-
lainnya. Komponen

1) Bagaimana gambaran pengaturan kehidupan (hidup sendiri/bersama)


2) Apakah mempunyai orang dekat?Bagaimana kualitas hubungan?Puas?
3) Apakah ada perbedaan peran dalam keluarga, apakah ada saling
keterikatan
4) Bagaimana dalam mengambil keputusan dan penyelesaian konflik
5) Bagaimana keadaan keuangan
6) Apakah mempunyai kegiatan sosial?
i. Seksualitas – Reproduksi
Menggambarkan kepuasan/masalah dalam seksualitas-reproduksi.
Komponen

1) Apakah kehidupan seksual aktif


2) Apakah menggunakan alat bantu/pelindung
3) Apakah mengalami kesulitan/perubahan dalam pemenuhan kebutuhan
seks
4) Khusus wanita : TMA, gambaran pola haid, usia menarkhe/ menopause
riwayat kehamilan, masalah terkait dengan haid

j. Koping – Toleransi Stres


Menggambarkan kemampuan untuk menangani stres dan
menggunakan sistem pendukung. Komponen

1) Apakah ada perubahan besar dalam kehidupan dalam bbrp thn terakhir
2) Dalam menghadapi masalah apa yang dilakukan?efektif?
3) Apakah ada orang lain tempat berbagi?apakah orang tersebut ada
sampai sekarang?
4) Apakah anda selalu santai/tegang setiap saat
5) Adakah penggunaan obat/zat tertentu

k. Nilai – Kepercayaan
Menggambarkan spiritualitas, nilai, sistem kepercayaan dan tujuan
dalam hidup. Komponen

1) Apakah anda selalu mendapatkan apa yang diinginkan


2) Adakah tujuan,cita-cita,rencana di masa y.a.d
3) Adakah nilai atau kepercayaan pribadi yang ikut berpengaruh
3. Pemeriksaan Fisik
Pasien dengan paraparese akan timbul randa dan gejala pada
bagian neurosensorinya (Sudoyo, 2009). Sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan fisik pada :
a. Kesadaran: GCS
b. Fungsi motorik: Kelumpuhan, kelemahan
c. Fungsi sensorik: Kehilangan sensasi / sensibilitas.
d. Refleks fisiologis: Kehilangan refleks /refleks asimetris termasuk
tendon dalam. Kehilangan tonus otot /vasomotor.

Kekuatan otot (Potter & Perry, 2009)

Skala
Tingkat Fungsi Otot %
Tingkat Skala Lovett
Normal
Tidak ada kontraktilitas 0 0 0 (nol)
Kontraktilitas ringan, tidak 1 10 T
ada gerakan (trace/mimimal)
Rentang gerak penuh, 2 25 P (poor/buruk)
tanpa gravitasi
Rentang gerak penuh, 3 50 F (fair/cukup)
dengan gravitasi
Rentang gerak penuh, 4 75 G (good/baik)
melawan gravitasi, terdapat
sedikit tahanan
Rentang gerak penuh, 5 100 N (normal)
melawan gravitasi, tahanan
penuh

Refleks patologis: reflek patologis ynag sering diperiksa adalah


ekstensor plantar respons atau reflek Babinski.
Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya keringat bagian tubuh yang
terkena karena pengaruh trauma spinal.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan
paraparese antara lain (Nurarif, 2013):
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan berjalan
2. Retensi Urin berhubungan dengan cedera medulla spinalis
3. Konstipasi berhubungan dengan gangguan neurologis
4. Disfungsi seksual berhubungan dengan gangguan neurologis
5. Ketidakefektifan koping berhubungan dengan ketidakmampuan
beradaptif dengan situasi yang dialami.
C. Intervensi Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN


1 Hambatan mobilitas Setelah dilakukan tindakan Lower Extremity Monitoring
fisik berhubungan keperawatan selama 3x24 jam, 1. Inspeksi hyiene kulit
dengan pasien mampu melakukan 2. Kaji adanya edema pada ekstremitas
ketidakmampuan mobilisasi secara bertahap dengan 3. Kaji kuku terhadap adanya penebalan jamur
berjalan kriteria: 4. Kaji warna kulit, suhu, hidrasi, tekstur
Joint Movement: 5. Kaji status mobility misalnya berjalan tanpa
Pasien mampu melakukan ROM pendamping, atau menggunakan alat bantu atau tidak
secara pasif atau aktif dengan bisa berjalan atau menggunakan kursi roda.
melakukan gerakan fleksi, 6. Inspeksi adanya kelaiann pada tungkai
ekstensi, hiperekstensi, abduksi, 7. Kaji capilar refill time
adduksi, rotasi dalam, rotasi luar, 8. Kaji reflex tendon
gerakan memutar.
Exercise Therapy: Joint Mobiltity
Body Mechanics Perfomance: 1. Kaji adanya keterbatasan pergerakan sendi dan kekuatan
Mempertahankan kekuatan otot otot pasien
yang normal 2. Jelaskan kepada pasien dan kelaurga tentang pentingnya
Mempertahankan fleksibilitas latihan
sendi yang normal 3. Kaji dan pantau areaynag nyeri selama melakukan
4. latihan ROM aktif
5. Lindungi pasien dari cedera selamaalatihan
6. Lakukan ROM paif atau aktif sesuai kemampuan pasien
7. Tentukan jadwal melakukan latihan ROM
8. Libatkan keluarga dalam latihan
9. Kaji respon pasie setelah melakukan latihan ROM
10. Beri pujian setiap tindakan yang dilakuakn pasien.

2 Retensi urin 1. setelah dilakukan tindakan Self care Assistence : Toileting


berhubungan dengan keprawatan salaam 3x24 jam 1. Sediakan alat bantu untuk berkemih (misal : kateter).
gangguan diharapkan pasien dapat 2. Monitor integritas kulit pasien terutama di daerah bokong.
neuromuskular mengontrol pola berkemih
dengan kriteria: Urinary Catheterization (0580)
Urinary Elimination 1. Jelaskan prosedur dan rasional dilakukan pemasangan
Pola eliminasi urun kembali kateter.
normal seperti semula. 2. Siapkan alat alat pemasangan kateter.
3. Pertahankan teknik aseptic.
4. Gunakan kateter yang paling kecil.
5. Hubungkan kateter dengan drainase bag.
6. Amankan atau rekatkan kateter di kulit.
7. Monitor intake dan output.
Tube Care : Urinary (1876)
1. Pertahankan system drainase kateter tertutup.
2. Bersihkan kulit disekitar area pemasangan kateter.
3. Bersihkan saluran kateter bagian luar disekitar meatus.
4. Atur posisi pasien dan saluran kateter untuk meningkatkan
drainase urin.
5. Kosongkan urin bag bila penuh.
6. Monitor distensi bladder.
7. Buka kateter sesegara mungkin bila pasien sudah dapat
berkemih dengan normal.

Urinary Bladder Training


1. Tentukan interval pertama pasien untuk berkemih.
2. Tentukan jadwal untuk memulai dan mengakhiri proses
berkemih.
3. Tentukan interval berkemih jika tidak dalam waktu 1 jam
lebih baik jika kurang dari 2 jam.
4. Ingatkan pasien untuk berkemih sesuai dengan jadwal yang
ditentukan.
3 Konstipasi 2. Setelah dilakukan tindakan Bowel management
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam 1. catat kapan terakhir BAB
gangguan Bowel Elimination 2. Kaji pergerakan bowel seperti frekuensi,, konsistensi,
neuromuscular 1. Pola eliminasi teratur volume, warna
2. Pasien mengontrol eliminasi 3. berikan informasi tentang manfaat makan makanan yang
bowel banyak mengandung serat
3. konsistensi feces lemberk serta 4. Berikan retal suppositoria
warna feces normal 5. Beriakn air hangat setelah makan
4. Otot sfingter ani normal seperti 6. pastikan cairan yang diminum cukup sesuai kebutihan tubuh
semua

4 Disfungsi seksual Setelah dilakuakan tindakan Sexual Counseling


berhubungan dnegan keperawatan seama 3x24 jam 1. Diskusika tentang dampak trauma yang dialami
gangguan neurologis pasien dapat mempertahankan terhadap pola seksualiats
pola seksualitas yang normal 2. Dukung pasien dalam menyampaiakn ketakutannya
dengan kriteria terhadap perasalah seksualitas
3. Gunakan humor atau dukung pasien dengan hal yang
Sexual Functioning lucu untuk mengurangi kecemasan yang dialami
1. Menggunakan alata bantu
sesuai kebutuhan
2. Melakukan aktifitas seksual
dengan partner seperti
sebelumnya.

5 Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Coping enhancement


koping berhubungan keperawatan selama 3x24 jam, 1. Kaji pengaruh masalah yang dialmi terhadap situasi
dnegan pasien dapat memiliki harapan pasien saat ini
ketidakmamapuan yang positif terhadap truma yang 2. Dukung pasien untuk menjelaskan perubahan peran
beradapatasi dengan dialami dengan kriteria: yang dialami
situasi yang dialami 3. Lakukan pendekatan yang tenang dan terapeutik
4. Dengarkan keluhan pasien secara tenang. Pastiakn
untuk tidak memotong pembuicaraan dan bersifat
menggurui pasien
5. Dukung pasien untuk mengemukakan harapan nya
6. Dukung pasien untuk mengemukakan kemampouan
yang dimiliki.
7. Berikan pujian untuk setiap hal positif yang
dikemukakan pasien
8. Libatkan keluarga
4. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai intervensi keperawatan berdasarkan prioritas.
5. Evaluasi
a. Pasien dapat melakukan aktifitas fisik secacra bertahap dengan alat bantu
sampai mandiri
b. Kemampuan berkemih secara normal
c. Kemampuan defekasi kemmabi normal.
d. Fungsi seksual kembali normal
e. Pasien dpaat beradapatasi terhadap dampak trauma yang dialamu dan
melakukan hal yang positif sesuai kemampuan.
DAFTAR PUSTAKA

Bararah, Taqiyyah., Jauhar, Mohammad. (2013). Asuhan Keperawatan: Panduan


Lengkap Menjadi Perawat Profesional Jilid 1. Prestasi Pustakaraya, Jakarta

Bulecheck, Gloria M. (2013). Nursing Intervention Classification (NIC), Sixth


Edition. Missouri: Elsevier Mosby.

Herdman, T. Heather. (2015). Nursing Diagnoses Definition and Classification 2015-


2017. Oxford: Wiley-Blackwell.

Kowalak, P. J., Welsh, W., & Mayer, B. (2011). Buku Ajar Patofisologi. Jakarta: EGC

Mansjoer, Arif dkk. (2009). Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius FK UI

Moorhead, Sue et.al. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC), Fifth Edition.
Missouri: Elsevier Mosby

Nurarif, Amin Huda. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis dan NANDA, NIC-NOC Jilid 2.

Potter, P. A. & Perry, G. A. (2010). Fundamental of Nursing. Ed. 7. Volume 2.


Singapore. Elsevier Inc

Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle, J.L., and Cheever, K.H. (2014). Texbook of
medical surgical nursing. 12th ed. Philadelphia: Lipincott Williams &
Wilkins.

Sudoyo, Aru W. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II Ed. IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
LAPORAN PENDAHULUAN
PARAPARESE INFERIOR

OLEH :
DEWI ANITA
1841312047

PRAKTEK PROFESI FAKULTAS KEPERAWATAN


UNIVERSITAS ANDALAS
2018