Proses Elektrolisis dan Sel Galvani
Proses Elektrolisis dan Sel Galvani
ELEKTROLISIS
1.1. TujuanPercobaan
- Memahami sel volta (sel galvani) dan pembuktian teori elektrolisis
1.2. Tinjauan Pustaka
Elektrokimia merupakan bagian yang penting dalam kimia dasar merupakan
jembatan antara kimia dengan kehidupan sehari-hari. Elektrokimia didefinisikan sebagai
studi perubahan kimia dan listrik. Sel galvani merupakan suatu perangkat energi kimia
diubah menjadi energi listrik. Proses kebalikan disebut elektrolisis. Reaksi dalam sel
elektrokimia terjadi di permukaan elektroda (Sastrohamidjojo, 2005).
Elektroda adalah konduktor yang dilalui arus listrik dari satu media ke yang lain,
biasanya dari sumber listrik ke perangkat atau bahan. Elektroda dapat mengambil
beberapa bentuk yang berbeda, termasuk kawat, piring, atau tongkat, dan yang paling
sering terbuat dari logam, seperti tembaga, perak, timah, atau seng, tetapi juga dapat
dibuat dari bahan konduktor listrik non-logam, seperti grafit. Elektroda yang digunakan
dalam pengelasan, listrik, baterai, obat-obatan, dan industri untuk proses yang
melibatkan elektrolisis (www.sridianti.com).
Elektroda yang bermuatan positif disebut anoda, yang bermuatan negatif disebut
katoda. Ada banyak tipe reaksi elektroda sebagai berikut:
- Arus listrik yang membawa ion akan dibebaskan pada elektroda
- Ion negatif yang sulit dibebaskan pada anoda menyebabkan penguraian H2O
dan pembentukan O2, H+ dan elektron
- Ion positif yang sulit dibebaskan pada katoda menyebabkan penguraian H2O
dan pembentukan H2, OH- dan absorbs elektron (Dogra, 1990).
Elektrokimia adalah reaksi redoks yang bersangkut paut dengan listrik. Reaksi
elektrokimia dibagi menjadi 2, yaitu:
- Sel galvani/sel volta adalah reaksi redoks yang menghasilkan listrik.
Contohnya baterai.
- Sel elektrolisis adalah listrik yang mengakibatkan reaksi redoks. Contohnya
adalah pemurnian logam dan pelapisan logam (id.wikibooks.org).
Sel galvani adalah sel dimana energi bebas dari reaksi kimia diubah menjadi
energi listrik. Disebut juga sebagai sel elektrokimia. Hubungan antara energi bebas dari
reaksi kimia dengan tegangan sel dinyatakan dengan persamaan:
ΔG = - nFE.................................................................. (1.1)
Dimana F adalah faraday, E adalah e.m.f sel (dalam volt) dan n adalah jumlah molekul
yang berperan pada reaksi kesetimbangan.
Sel elektrolisis adalah sel dimana energi listrik digunakan untuk berlangsungnya
reaksi kimia. Sel ini merupakan kebalikan dari sel galvani yang diperlukan untuk
berlangsungn
ya proses ini akan sedikit lebih tinggi dari pada yang dihasilkan oleh reaksi kimia
dan ini didapat dari lingkungannya. Reaksi kimia spontan menghendaki ΔG menjadi
negatif. Apabila e.m.f sel adalah positif, maka ini adalah sel galvanik. Kesetimbangan
akan terjadi bila ΔG dan E ΔG sama dengan nol. Reaksi dengan nilai E yang lebih
positif akan terjadi lebih positif akan terjadi lebih dahulu daripada reaksi-reaksi dengan
e.m.f yang kepositifannya lebih rendah.
Ada dua elektroda antara lain:
- Anoda: pada sel galvanik, anoda adalah tempat terjadinya oksidasi, bermuatan
negatif disebabkan oleh reaksi kimia yang spontan, elektroda akan dilepaskan
oleh elektroda ini. Pada sel elektrolisis, sumber eksternal tegangan didapat dari
luar, sehingga anoda bermuatan positif apabila dihubungkan dengan katoda.
Dengan demikian ion-ion bermuatan negatif mengalir ke anoda untuk di
oksidasi.
- Katoda: adalah elektroda-elektroda tempat terjadinya reduksi berbagai zat
kimia. Pada sel galvani, katoda bermuatan positif bila dihubungkan dengan
anoda. Ion bermuatan positif mengalir ke elektroda ini untuk direduksi oleh
elektron-elektron yang datang dari anoda (Dogra, 1990).
Gambar 1.1 Sel galvani Gambar 1.2 Sel Elektrolisis
(www.wikipedia.org). (www.id.wikibooks.org).
Berbagai jenis elektroda yang digunakan dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi
adalah:
- Elektroda- elektroda gas yaitu elektroda yang mengandung gas dengan ionnya.
Sebagai penyerap gas dipakai batang logam yang inert, seperti Pt (Syukri,
1990). Di sini elektroda inert yang berhubungan dengan gas pada tekanan 1
atm (kecuali ditentukan) dan ion-ionnya dalam larutan, misalnya elektroda gas
hydrogen dan lain-lain (Dogra, 1990).
- Elektroda Oksidasi-Reduksi yaitu elektroda yang dalam larutannya terjadi
redoks, dan sebagian penghubung elektron ke dalam larutan dipakai logam
inert (Syukri, 1990). Di sini elektroda inert (umumnya platina) dicelupkan
dalam larutan yang mengandung ion-ion yang mempunyai 2 tingkatan oksidasi
(Dogra, 1990).
- Elektroda Logam-Ion Logam yaitu elektroda yang mempunyai batang logam
dan larutan ionnya, sehingga terjadi perubahan antara ion dengan logamnya
(Syukri, 1990). Di sini elektroda logam dicelupkan dalam suatu larutan yang
mengandung ion-ion logam tersebut, dan elektroda logam ikut berperan pada
reaksi kimia (Dogra, 1990).
- Elektroda Logam-Garam Tidak Larut yaitu elektroda yang mengandung logam
dan garam logam tersebut yang tidak larut (syukri, 1990). Di sini elektroda
logam berhubungan dengan garamnya yang tidak larut, yang selanjutnya
berhubungan dengan ion-ionnya (umunya anion) (Dogra,1990).
Dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses elektrolisis larutan tembaga
sulfat dengan anoda dan katoda tembaga. Faktor yang diteliti adalah arus listrik,
lamanya elektrolisis, suhu elektrolisis, dan konsentrasi elektrolit. Dari hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa peningkatan arus listrik, waktu elektrolisis, suhu elektrolisis,
dan peningkatan konsentrasi elektrolit akan memperbesar jumlah endapan di katoda.
Arus listrik, lamanya elektrolisis, suhu elektrolisis, dan konsentrasi elektrolit yang
digunakan pada proses elektrolisis akan menentukan kualitas endapan. Penggunaan arus
listrik kecil (0,1-0,2A) menghasilkan efisiensi yang tinggi dan endapan yang
permukaannya halus dibanding arus besar (>1A). Suhu 61 oC merupakan suhu optimum
untuk elektrolisis karena pada suhu ini, endapan yang dihasilkan halus dan jumlahnya
banyak (digilib.Itb.ac.id).
Deret elektrokimia atau deret volta adalah urutan logam-logam (ditambah
hidrogen) berdasarkan kenaikan potensial elektrode standarnya. Unsur logam dengan
potensial elektrode lebih negatif ditempatkan di bagian kiri, sedangkan unsur dengan
potensial elektrode yang lebih positif ditempatkan di bagian kanan. Semakin ke kiri
kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka
- Logam semakin reaktif (semakin mudah melepas elektron)
- Logam merupakan reduktor yang semakin kuat (semakin mudah mengalami
oksidasi)
Sebaliknya, semakin ke kanan kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka
- Logam semakin kurang reaktif (semakin sulit melepas elektron)
- Logam merupakan oksidator yang semakin kuat (semakin mudah mengalami
reduksi)
Salah satu metode untuk mencegah korosi antara lain dengan menghubungkan
logam (misalnya besi) dengan logam yang letaknya lebih kiri dari logam tersebut dalam
deret volta (misalnya magnesium) sehingga logam yang mempunyai potensial elektroda
yang lebih negatiflah yang akan mengalami oksidasi. Metode pencegahan karat seperti
ini disebut perlindungan katodik (id.wikipedia.org).
Proteksi katodik adalah metode untuk melindungi struktur logam dari korosi.
Logam dengan struktur yang dibuat biasanya baja rentan terhadap korosi melalui reaksi
oksidasi ketika mereka sering terjadi kontak dengan air. Reaksi dapat melibatkan logam
yang menyerah elektron dan didorong oleh jejak garam terlarut dalam air, menyebabkan
air untuk bertindak sebagai elektrolit. Korosi dapat dipandang sebagai proses
elektrokimia. Proteksi katodik mengubah struktur logam ke katoda elektroda bermuatan
positif dengan mendirikan sebuah sel elektrokimia menggunakan logam yang lebih
elektropositif sebagai anoda, sehingga struktur tidak kehilangan elektron ke
lingkungannya (www.sridianti.com).
Contoh lain dari perlindungan katodik adalah pipa besi, tiang telepon, dan
berbagai barang lain yang dilapisi dengan zink, atau disebut Galvanisasi. Zink dapat
melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Oleh karena potensial
reduksi besi lebih positif daripada zink (posisinya dalam deret volta lebih ke kanan),
maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi
sebagai katoda. Dengan demikian besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.
Badan mobil-mobil baru pada umumnya telah digalvanisasi, sehingga tahan karat
(id.wikipedia.org).
Tabel 1.1. deret volta
K Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Cd Co Ni Sn H2 Cu Ag Hg Au Pt
Pb
Logam ringan; Logam berat; Setengah mulia Mulia
Bukan logam Bukan logam mulia
mulia
Sumber: (Widyatmoko, 2009).
Penerapan elektrolisis dalam kehidupan manusia. Banyak sekali manfaat
elektrolisis diantaranya antara lain:
- Pemurnian logam
Anoda yang dipakai adalah logam tak murni (kotor) pengotornya akan terlepes
selama proses elektrolisis ketika logam bergerak dari anoda ke katoda selama
proses ini katoda mengandung dakomposisi logam murni dari larutan yaang
berisi logam ion logam sebagai contoh tembaga dimurnikan melalui elektrolisis
yang membutuhkan konduktivitas listrik yang tinggi. Pada proses ini katoda
adalah tembaga murni sedangkan anoda adalah tembaga kotor. Ion Cu2+ dari
anoda bergerak melalui larutan tembaga (II) sulfat menuju katoda dan berubah
menjadi padatan tembaga selama proses berlangsung pengotornya akan
mengendap di dasar tangki hasil samping berupa pengotor disebut sebagai
lumpur anoda.
- Elektrosintesis
Elektrolisis adalah disosiasi elektrolit menjadi ion pada elektroda dengan
adanya arus lisrik konduksi listrik yang melewati larutan elektrolit akan
menghasilkan perubahan kimia.
Metode yang menggunakan reaksi elektrolisis untuk menghasilkan produk
tertentu sebagai contoh adalah elektrolisis MnO2 yang merupakan bahan baku
pembuatan baterai alkalin
- Proses klor-alkali
Elektrolisis air laut dapat menghasilkan klorin dan basa natrium hidroksida.
Ada 3 macam metode berbeda dimana dua komponen tersebut dihasilkan yaitu
sel membran, sel diafragma dan proses sel merkuri (www.ilmukimia.org).
- Produksi zat
Banyak zat kimia yang diproduksi melalui elektrolisis seperti logam-logam
alkali, magnesium, aluminium, fluorin, klorin, natrium, dan lainnya contohnya
produksi klorin dan NaOH dalam industri
- Penyepuhan
Penyepuhan digunakan untuk melindungi logam terhadap korosi, atau untuk
memperbaiki penapilan. Pada penyepuhan, logam yang akan disepuh dijadikan
ketoda, sedangkan logam penyepuh sebagai katoda. Kedua elektroda harus
dicelup kedalam larutan garam dari logam penyepuh.
- Contoh lain aplikasi elektrolisis
Aplikasi elektrolisis untuk sel surya (kimia.upi.edu).
- Pembuatan Gas di Laboratorium
Sel elektrolisis banyak digunakan dalam industri pembuatan gas misalnya
pembuatan gas oksigen, gas hidrogen, atau gas klorin. Untuk menghasilkan
gas oksigen dan hidrogen, Anda dapat menggunakan larutan elektrrolit dari
kation golongan utama (K+, Na+) dan anion yang mengandung oksigen
(SO42-, NO3-)dengan elektroda Pt atau karbon.
- Proses Pemurnian logam kotor
Proses pemurnian logam kotor banyak dilakukan dalam pertambangan.
Logam transisi yang kotor dapat dimurnikan dengan cara menempatkannya
sebagai anoda dan logam murni sebagai katoda. Elektrolit yang digunakan
adalah elektrolit yang mengandung kation logam yang dimurnikan. Contoh:
proses pemurnian nikel menggunakan larutan NiSO4 (id.wikipedia.org).
1.3. Tinjauan Bahan
A. Aquadest
- rumus molekul : H2O
- berat molekul : 18 gram/mol
- bentuk fisik : cairan tak berwarna dan tidak berbau
- titik didih : 100 oC
- densitas : 1 g/cm3
- pH :7
B. Natrium Klorida
- rumus molekul : NaCl
- berat molekul : 58,44 g/mol
- bentuk : bubuk kristal padat
- warna : putih
- pH : 7 (netral)
- titik leleh : 801 oC (1473,8 oF)
- titik didih : 1413 oC (2575 oF)
C. Seng Sulfat pentahidrat
- rumus molekul : ZnSO4.7H2O
- berat molekul : 287,56 g/mol
- bentuk : kristal
- warna : putih
- bau : tidak berbau
- pH : 4,4-6
- titik leleh : 100oC
- titik didih : >500oC
- densitas : 3,54 g/cm3
D. Tembaga Sulfat
- rumus molekul : CuSO4.5H2O
- berat molekul : 249,69 g/mol
- bentuk : padat
- warna : biru
- pH : 3,7-4,2
- titik leleh : 110 oC
- titik didih : 150 oC
1.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
- batang pengaduk - agar-agar
- Beakerglass 200 mL - Aquadest
- botol Aquadest - elektroda (Zn, Cu)
- corong kaca - natrium klorida (NaCl)
- kabel penjepit - seng sulfat (ZnSO4.7H2O)
- pipa U - tembaga sulfat (CuSO4.5H2O)
- voltmeter
1.5. Prosedur Percobaan
- Membuat jembatan garam dengan melarutkan bubuk agar-agar dengan air
secukupnya, lalu masak atau panaskan larutan agar-agar dengan menggunakan
pembakaran bunsen, tembahkan garam secukupnya, aduk hingga matang dan
mengental. Setelah itu masukkan ke pipa U sampai mulut hingga mengeras.
- Membuat larutan ZnSO4 0,5 M sebanyak 100 mL
- Membuat larutan CuSO4 0,5 M sebanyak 100 mL
- Masukkan larutan ke dalam Beakerglass yang berbeda
- Masukkan jembatan garam kedalam dua larutan tersebut
- Menjepit elektroda seng dan tembaga dengan kabel penjepit
- Memasukkan elektroda seng kedalam larutan seng sulfat dan elektroda
tembaga kedalam larutan tembaga sulfat
1.6. Data Pengamatan
Tabel 1.2. Data pengamatan elekrolisis
No Perlakuan Pengamatan
Logam Zn sebelum Abu-abu mengkilap
1. dimasukkan lar. ZnSO4.7H2O
Logam Zn sesudah dimasukkan Abu-abu sedikit berkarat
lar. ZnSO4.7H2O
Logam Cu sebelum Kuning tua
dimasukkan lar. CuSO4.5H2O
2.
Logam Cu sesudah dimasukkan Kuning tua mengkilap
lar. CuSO4.5H2O
Larutan ZnSO4.7H2O sebelum Larutan bening
dimasukkan elektroda Zn
3.
Larutan ZnSO4.7H2O sesudah Larutan tetap bening
dimasukkan elektroda Zn
Larutan CuSO4.5H2O sebelum Larutan biru bening
dimasukkan elektroda Cu
4.
Larutan CuSO4.5H2O sesudah Larutan tetap biru bening,
dimasukkan elektroda Cu terdapat gelembung sedikit
Gambar 1.5. Destilasi Vakum (Walangare, e-Jurnal Teknik Elektro dan Komputer, 2013).
Faktor-faktor yang mempengaruhi destilasi, yaitu:
1. Kondisi Feed
Keadaan campuran dan komposisi feed (q) mempengaruhi garis operasi dan jumlah
stage dalam pemisahan itu juga mempengaruhi lokasi feed tray.
2. Kondisi Refluks
Pemisahan semakin baik jika sedikit tray yang digunakan untuk mendapatkan tingkat
pemisahan. Tray minimum dibutuhkan di bawah kondisi total refluks, yakni tidak
ada penarikan destilat. Sebaiknya refluks berkurang, garis operasi untuk seksi
rektifikasi bergerak terhadap garis kesetimbangan.
3. Kondisi Aliran Uap
Kondisi aliran uap yang merugikan dapat menyebabkan:
a. Foaming
Mengacu pada ekspansi liquid melewati uap atau gas. Walaupun menghasilkan
kontak antar fase liquid-uap yang tinggi, foaming berlebihan sering mengarah
pada terbentuknya liquid pada tray.
b. Entrainment
Mengacu pada liquid yang terbawa uap menuju tray di atasnya dan disebabkan
laju alir uap yang tinggi menyebabkan efisiensi tray berkurang. Bahan yang sukar
menguap terbawa menuju plate yang menahan liquid dengan bahan yang mudah
menguap. Dapat mengganggu kemurnian destilat. Enterainment berlebihan dapat
menyebabkan flooding.
c. Weeping/Dumping
Fenomena ini disebabkan aliran uap yang rendah. Tekanan yang dihasilkan uap
tidak cukup untuk menahan liquid pada tray. Karena itu liquid mulai merembes
melalui perforasi.
d. Flooding
Terjadi karena aliran uap berlebih menyebabkan liquid terjebak pada uap di atas
kolom. Peningkatan tekanan dari uap berlebih menyebabkan kenaikan liquid yang
tertahan pada plate di atasnya. Flooding ditandai dengan adanya penurunan
tekanan diferensial dalam kolom dan penurunan yang signifikan pada efisiensi
pemisahan (Komariah, Jurnal Teknik Kimia, 2009, Vol.16 No.4).
Bentuk dan sumber data kesetimbangan antara fase liquid dan fase gas
diantaranya dapat digambarkan dalam bentuk kurva kesetimbangan atau diperoleh
dengan cara eksperimen. Dua fasa dikatakan berada dalam kesetimbangan jika
temperatur, tekanan, dan potensial kimia dari masing-masing komponen yang terlibat di
kedua fasa bernilai sama. Salah satu alat yang digunakan untuk memperoleh data
kesetimbangan antara fase liquida dan fase gas adalah Glass Othmer Still. Adapun hal-
hal yang berpengaruh dalam sistem ksetimbangannya yaitu: Tekanan (P), Suhu (T),
Konsentrasi komponen A dalam fase liquid (x) dan Konsentrasi komponen A dalam
fase uap (y) (Sari, Jurnal Teknik Kimia, 2010, Vol.5 No.1).
Untuk larutan yang mengalami deviasi positif dari hukum Raoult akan diperoleh
maksimum pada kurva P-X dilihat pada gambar (1.6).
(a) (b)
Gambar 1.6.a. Diagram fasa P-X cair uap Gambar 1.6.b. Diagram T-X untuk sistem
dengan suatu maksimum yang sesuai dengan (a)
Campuran dengan komposisi cairan X’A pada gambar (1.6.b) jika didihkan akan
mempunyai komposisi uap yang sama dengan cairannya. Karena penguapan tidak
mengubah komposisi cairannya, keseluruhan sampel cair akan mendidih pada suhu
konstan. Larutan yang mempunyai titik didih konstan seperti ini disebut azeotrop. Titik
didih larutan azeotrop mirip dengan suatu zat murni dan sangat berbeda dengan
kebanyakan larutan dari dua cairan yang mendidih pada rentang suhu tertentu.
Destilasi bertingkat dari larutan yang membentuk azeotrop akan menghasilkan
pemisahan larutan menghasilkan A murni dan azeotrop (jika XA,l > X’A) atau B murni
dan azeotrop jika XA,l < X’A
Untuk larutan yang tidak membentuk azeotrop (seperti pada gambar 1.7) uap yang
berada dalam kesetimbangan dengan cairannya selalu lebih kaya dengan komponen
bertitik didih lebih rendah (lebih mudah menguap).
Gambar 1.7. Diagram fasa suhu terhadap komposisi fasa cair-uap untuk larutan ideal
Untuk penyimpangan negatif yang cukup besar dari hukum Raoult akan diperoleh
minimum pada kurva P-XA, dan maksimum pada kurva T-X dengan azeotrop bertitik
didih maksimum pada gambar (1.3.a dan b) (Rohman, 2000).
(a) (b)
Gambar 1.8.a. Diagram fasa cair-uap P-X Gambar 1.8.b. Diagram T-X untuk sistem
dengan suatu minimum yang sesuai dengan (a)
Definisi larutan ideal dapat diambil sebagai pernyataan Hukum Raoult, yang
bunyinya : “Tekanan uap parsial dari tiap-tiap komponen dalam larutan, sama dengan
tekanan uap komponen tersebut dalam keadaan murni kali fraksi mol dalam larutan”.
Untuk larutan dengan dua komponen A dan B, maka:
nA
PA = PAo . = PAo . XA.......................................(2.1)
nA nB
nB
PB = PBo . = PBo . XB........................................(2.2)
nA nB
Dimana:
PA = tekanan uap parsial A
PB = tekanan uap parsial B
XA = fraksi mol komponen A
XB = fraksi mol komponen B
PAo = tekanan uap murni komponen A
PBo = tekanan uap murni komponen B
Sesuai Hukum Dalton, tekanan uap total dalam campuran adalah jumlah tekanan
uap parsialnya.
Ptotal = PA + PB = PAo XA + PBo XB
Karena, XA + XB = 1 - XA, maka pesamaan diatas dapat pula ditulis:
Ptotal = XA PAo + (1 - XA) PBo
= XA PAo + PBo - XA PBo
= PBo + (PAo - PBo) XA (Sukardjo, 1985).
Hukum dalton (dinamai berdasarkan penemunya, John Dalton) kemudian
menyatakan bahwa tekanan total Ptot, adalah jumlah tekanan parsial setiap gas. Hukum
ini berlaku pada kondisi yang sama seperti hukum gas ideal itu sendiri. Untuk campuran
gas pada tekanan rendah, tekanan parsial salah satu komponen, A adalah
RT
PA= nA ............................................. ......................(2.3)
V
Keterangan :
PA = tekanan parsial A
nA = jumlah mol A
R = 0,082 L atm K-1mol-1
T = suhu
V = volume (Oxtoby, 2001).
2.3. Tinjauan Bahan
A. Aquadest
- rumus kimia : H2O
- bau : tidak berbau
- bentuk : cair
- berat molekul : 18,02 g/mol
- densitas : 1 g/cm3
- pH :7
- titik didih : 100 oC
- warna : tidak berwarna
B. Etanol
- rumus kimia : C2H5OH
- bau : berbau
- bentuk : cair
- berat molekul : 46,07 g/mol
- densitas : 0,789 g/cm3
- pH :7
- titik didih : 78,5 oC
- warna : tidak berwarna
2.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
˗ Beakerglass ˗ Aquadest (H2O)
˗ botol aquadest ˗ etanol (C2H5OH)
˗ Erlenmeyer ˗ es batu
˗ gelas ukur
˗ karet penghisap
˗ labu destilasi
˗ labu ukur
˗ neraca
˗ pendingin leibig
˗ piknometer
˗ pipet tetes
˗ pipet volume
˗ statif dan klem
˗ termometer
˗ Waterbath
2.5. Prosedur Percobaan
A. Preparasi larutan
˗ membuat larutan etanol 80%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%, 20%, dan 10%
sebanyak 50 mL.
B. Membuat kurva kalibrasi
˗ menentukan berat kosong piknometer
˗ menentukan suhu aquadest (menetapkan pada 25 oC), dan masukkan aquadest
ke dalam piknometer sampai penuh
˗ menentukan berat aquadest dalam piknometer
˗ menentukan volume piknometer
˗ memasukkan larutan etanol (pada konsentrasi yang telah ditentukan) dalam
piknometer dan menentukan berat jenisnya
˗ membuat grafik antara berat jenis dengan komposisi larutan etanol.
C. Proses destilasi
˗ mencampurkan 150 mL etanol 96% dengan 10 mL aquadest kemudian
memasukkan ke dalam labu destilasi
˗ melakukan destilasi pada larutan tersebut kemudian tampung destilatnya ± 30
mL [destilat(1)] dan menetapkan suhunya pada 25 oC
˗ memasukkan destilat tersebut ke dalam piknometer dan menentukan berat
jenisnya, kemudian destilat dibuang
˗ mengambil residu ± 30 mL pada saat pengambilan destilat (I) [residu (I)],
kemudian mengukur suhu pada labu destilat dan catat (T1)
˗ menambahkan 20 mL aquadest pada labu destilasi
˗ menetapkan suhu residu (I) pada 25 oC, kemudian memasukkan residu (I) ke
dalam piknometer dan menentukan berat jenisnya
˗ memasukkan kembali residu (I) yang telah ditentukan berat jenisnya ke dalam
labu destilasi
˗ melanjutkan proses destilasi dengan cara seperti diatas dengan penambahan
aquadest 30 mL dan 40 mL.
2.6. Data Pengamatan
Tabel 2.1. Data kurva kalibrasi C2H5OH
Berat Larutan Berat Jenis Berat total
No. Komposisi C2H5OH
(gram) (g/cm3) (gram)
1. 80% 21,26 0,8504 44,63
0.98
0.96
0.94
0.92
0.9
0.88
y = -0.1702x + 1.0017
0.86 R² = 0.9728
0.84
0% 20% 40% 60% 80% 100%
Komposisi Etanol (%)
116 120
114 100
Komposisi Destilat (%)
104 20
102 0
54 55 56 57 58 59 60 61
Titik Didih (oC)
2.8. Kesimpulan
˗ Destilasi merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan titik didih atau kemudahan menguap (volatilitas).
˗ Semakin besar komposisi etanol dalam larutan maka berat jenisnya semakin
kecil
˗ Semakin tinggi titik didih maka berat jenis larutan semakin besar.
BAB III
ISOTERM ADSORBSI
Adsorbs dibedakan menjadi 2 jenis yaitu adsorbs fisika (disebabkan oleh gaya Van Der
Waals) penyebab terjadinya kondensasi gas untuk membentuk cairan yang ada pada
permukaan adsorben dan adsorbs kimia (terjadi reaksi antara zat yang diserap dengan
adsorben, banyaknya zat yang teradsorbsi tergantung pada sifat khas zat padatnya yang
merupakan fungsi tekanan dan suhu (id.wikipedia.org). Isoterm adalah perubahan
keadaan gas pada suhu yang tetap. Proses isotermal merupakan
proses termodinamika yang prosesnya berjalan dan suhu gasnya tetap. Persamaan
umum gasnya adalah P.V= n.R.T.
Karena suhunya konstan, maka usaha yang dilakukan gas adalah: W= P.dV =
n.R.T.dV/V.
Karena berlangsung dalam suhu yang kosntan, maka tidak terjadi perubahan energi dan
berdasarkan hukum termodinamika,kalor yang diberikan sama dengan usaha yang
diberikan (Q = W). Proses isoterm dapat dilihat dari gambar di samping. Usaha yang
dilakukan sistem dan kalor dapat dinyatakan sebagai Q-W-n.R.T= ln V1/V2. V1 dan V2
adalah volume akhir dari gas awal. Persamaan keadaan isotomik adalah P1.V1 = P2.V2
Isoterm adsorbsi menjelaskan hubungan adsorbsi dengan tekanan, berdasarkan
teorinya persamaan menyatakan hubungan antara jumlah situs aktif permukaan pada
kesetimbangan dengan tekanan ()
Macam-macam adsorben adalah :
- Karbon aktif
Suatu material yang memiliki pori-pori sangat banyak. Pori-pori ini berfungsi
menyerap apa saja yang dilaluinya.karbon aktif berguna sebagai filter untuk
menjernihkan air (www.karbonaktif.org).
- Zeolite
Zeolite alam dan sintetis membentuk suatu saringan molekul untuk pemisahan
gas-gas dan molekul organik berukuran kecil. Volume suatu zeolite terbentuk
dari suatu rongga-rongga yang saling dihubungkan oleh saluran-saluran,
penyaringan dan aksi penghambatan dari saluran dikombinasikan dengan
aktifitas adsorbsi permukaan matriks kristal sehingga memungkinkan
digunakannya zeolite untuk memisahkan molekul-molekul yang lebih kecil dari
ukuran saluran (Khopkar, 2014)
- Silica amorf
Adsorbsi zat terlarut (dari suatu larutan) pada padatan adsorben merupakan hal
yang penting menurut Freundlich jika y adalah berat zat terlarut per gram adsorben dan
c adalah konsentrasi zat terlarut dalam larutan. Dari konsep tersebut dapat diturunkan
persamaan sebagai berikut:
Xm/m = k.C1/n
………………………….…………………………………………….. (1)
Log (Xm/m) = log k + 1/n . log C
………………………….………………………… (2)
Dimana :
Xm = berat zat yang diadsorbsi
m = berat adsorben (zeolit)
C = konsentrasi zat
Kemudian k dan n adalah adsorbsi yang nilainya bergantung pada jenis adsorben
dan suhu adsorbsi. Bila dibuat kurva log (Xn/n) terhadap log c akan diperoleh
persamaan dengan intersep log k dan kemiringan 1/n, sehingga nilai k dan n dapat
dihitung (Handayani dan Sulistiyono, 2009).
Indikator adsorbsi mempunyai beberapa keunggulan. Indikator ini memberikan
kesalahan yang kecil pada penentuan titik akhir titrasi. Perubahan warna yang disesbkan
adsorbsi indikator biasanya tajam. Adsorbsi pada permukaan berjalan baik jika endapan
mempunyai luas permukaan yang besar. Warna adsorbsi tidak begitu jelas jika endapan
terkoagulasi.
3.3. Tinjauan Bahan
A. Aquadest
- rumus kimia : H2O
- berat molekul : 18,02 g/mol
- warna : tidak berwarna
- pH :7
- bau : tidak berbau
- bentuk fisik : cair
- titik didih : 100oC
- densitas : 1 g/cm3
B. Asam klorida
- rumus kimia : HCl
- berat molekul : 36,46 g/mol
- warna : tak berwarna
- titik didih : 48 °C (321 K)
- bentuk fisik : cair
- titik lebur : -27,32oC (247 K)
- kelarutan : tercampur penuh
- densitas : 1,18 g/cm3
C. Asam oksalat
- rumus kimia : C2H2O4
- berat molekul : 90,04 g/mol
- warna : putih
- bentuk fisik : padat
- titik lebur : 189,5°C
- densitas : 1,9 g/cm3
D. Indikator phenolphthalein
- rumus kimia : C20H14O4
- warna : tidak berwarna
- pH : netral
- titik didih : 78,4oC
- titik lebur : - 144,1oC
E. Natrium hidroksida
- rumus kimia : NaOH
- berat molekul : 40 g/mol
- bentuk fisik : zat padat putih
- warna : putih
- pH : 13,5
- titik lebur : 323C
- titik didih : 1388C
3.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
- batang pengaduk - Aquadest (H2O)
- Beakerglass - Asam klorida (HCl)
- botol Aquadest - Asam oksalat (H2C2O4.2H2O)
- buret - Karbon aktif
- corong kaca - Phenolptalein (C20H14O4)
- Erlenmeyer - Natrium hidroksida (NaOH)
- gelas arloji
- karet penghisap
- kertas saring
- labu ukur
- neraca
- pipet tetes
- pipet volume
- statif dan klem
- Stopwatch
- Waterbath shaker
-10,000
-12,000 y = 693.75x - 17728
R² = 0.4232
-14,000
-16,000
-18,000
log x/m
1. 10 12,1
2. 10 12,0
Volume rata-rata asamoksalat (mL) 12,05
Tabel 4.2. Data titrasi NaOH terhadap asam oksalat jenuh pada berbagai suhu
Volume NaOH (mL)
NO Suhu (oC) Volume rata-rata NaOH(mL)
I II
1. 40 5,3 5,2 5,25
2. 35 4,95 4,9 5,05
3. 30 4,7 4,6 4,65
4. 25 4,0 4,1 4,05
5. 20 3,95 3,9 3,92
6. 15 3,85 3,8 3,82
7. 10 3,3 3,2 3,25
Tabel 4.3. Normalitas dan kelarutan asam oksalat pada berbagai suhu
Massa Massa
Suhu N NaOH V NaOH V H2C2O4.2H2O N H2C2O4.2H2O
No solut H2O
(°C) (mL) (mL) (mL) (mL)
(gram) (gram)
1 40 0,2203 5,25 10 0,2178 0,1372 9,8628
2 35 0,2203 5,05 10 0,2095 0,1319 9,8681
3 30 0,2203 4,65 10 0,1929 0,1215 9,8785
4 25 0,2203 4,05 10 0,1680 0,1058 9,8942
5 20 0,2203 3,92 10 0,1626 0,1024 9,8976
6 15 0,2203 3,82 10 0,1584 0,0997 9,9003
7 10 0,2203 3,25 10 0,1348 0,0849 9,9151
0.8
0.6
0.4
0.2
0
280 285 290 295 300 305 310 315
Temperatur (oK)
4.8. Pembahasan
- Zat yang digunakan pada praktikum ini adalah asam oksalat. Digunakan asam
oksalat karena kelarutannya sangat sensitif terhadap suhu sehingga dengan
berubahnya suhu, kelarutan asam oksalat juga akan berubah. Asam oksalat
dilarutkan sedikit demi sedikit hingga asam oksalatnya tidak dapat larut lagi
dan berubah menjadi larutan jenuh. Setelah terjadi kesetimbangan antara zat
terlarut dalam larutan dan zat yang tidak larut maka dalam kesetimbangan
tersebut kecepatan melarut sama dengan kecepatan mengendap yang artinya
konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap. Tetapi apabila kesetimbangan
diganggu dengan cara suhunya dirubah, maka konsentrasi larutan juga akan
berubah.
- Standarisasi larutan natrium hidroksida dengan larutan asam oksalat, bertujuan
untuk mencari konsentrasi pada larutan natrium hidroksida. Dari standarisasi
natrium hidroksida diperoleh hasil volume titrasi rata-rata sebanyak 12,05 mL
dan dari perhitungan konsentrasi larutan natrium hidoksida diperoleh sebesar
0,4149 N. Sedangkan secara teoritis, konsentrasi natrium hidroksida adalah 0,5
N. Jadi hasil konsentrasi yang didapat dalam praktium jauh beda dengan
konsentrasi natrium hidroksida secara teoritis.
- Secara teoritis menyatakan bahwa pemanasan pelarut dapat mempercepat
larutnya zat terlarut. Pelarut dengan suhu yang lebih tinggi akan lebih cepat
melarutkan zat terlarut dibandingkan pelarut dengan suhu lebih rendah.
Sedangkan secara hasil praktikum yang didapatkan, menyatakan bahwa
semakin tinggi suhu maka kelarutan zat semakin tinggi pula, hal ini
ditunjukkan pada grafik. Jadi, hasil praktikum yang didapat tersebut sudah
sesuai dengan secara teoritis.
- Secara teoritis menyatakan bahwa pengaruh temperatur tergantung dari panas
pelarutan, yaitu bila panas pelarutan (∆H) negatif, daya larut turun dengan
naiknya temperatur. Bila panas pelarutan (∆H) positif, daya larut naik dengan
naiknya temperatur.
- Untuk perhitungan secara analitik seperti pada tabel 4.6.4. Maka dapat dihitung
panas pelarutannya dengan menggunakan persamaan Van’t Hoff yang
menyatakan bahwa jika kesetimbangan terganggu dengan perubahan
temperatur maka konsentrasi larutan akan berubah, maka dengan menggunakan
persamaan Van’t Hoff di atas maka didapatkan 6 ∆H, kemudian dihitung harga
rata-rata sehingga ∆H didapat sebesar 94669,6 J/mol.
4.9. Kesimpulan
- Semakin tinggi suhu maka kelarutan suatu zat juga semakin tinggi. Hal ini
menunjukan bahwa reaksi tersebut bersifat endoterm atau menyerap panas,
sehingga terjadi perpindahan panas dari lingkungan ke sistem. Pada reaksi
endotermis, semakin tinggi suhu maka kelarutan suatu zat juga semakin tinggi.
- Pada percobaan diperoleh panas kelarutan (ΔH) positif secara analitik sebesar
94669,6 J/mol. Hal itu sesuai dengan teori van’t hoff yang menyatakan bahwa
pada umumnya panas pelarutan bernilai (+). Sehingga semakin tinggi suhu
panas akan menaikan jumlah zat terlarut.
BAB V
REKRISTALISASI GARAM DAPUR
5.1. TujuanPercobaan
- Mengetahui pengertian kristalisasi dan rekristalisasi
- Mengetahui berat Kristal murni NaCl hasil praktikum
5.2. Tinjauan Pustaka
Garam yang kita kenal sehari-hari dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan
senyawa kimia yang bagian utamanya adalah Natrium klorida (NaCI) dengan zat-zat
pengotor terdiri dari CaSO4 , MgSO4, MgCI2 dan lain-lain. namun untuk mendapatkan
garam industry tidak dapat diperoleh dengan jalan pencucian garam saja. Hal ini karena
impuritas pada garam ada di dalam kisi Kristal garam bukan hanya pada permukaan
Kristal garam saja, sehingga perlu dilakukan pemurnian garam dengan jalan kristalisasi
(Rositawati dkk, 2013). Kristal adalah benda padat yang mempunyai permukaan-
permukaan datar karena banyaknya zat padat seperti garam, kuarsa, dan salju ada dalam
bentuk-bentuk yang jelas simetris. Barisan tiga-dimensi yang teratur dari titik-titik
serupa dalam suatu zat padat kristal disebut Kisi Kristal (Wood, 1980). Kerapatan ideal
dari Kristal adalah kerapatan teoretis dari satuan sel Kristal, dan didefinisikan sebagai:
M
d
V
Dimana M adalah massa efektif dari satuan sel dan V adalah volume satuan vol
(Dogra, 1990).
Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari pengendapan larutan,
melt (campuran leleh), atau lebih jarang pengendapan langsung dari gas. Kristalisasi
juga merupakan teknik pemisahan kimia antara bahan padat-cair, dimana terjadi
perpindahan massa (mass transfer) dari suatu zat terlarut (solute) dari cairan larutan ke
fasa Kristal padat. (id.wikipedia.org/wiki/kristalisasi).
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau zat
pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah
dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok. Ada beberapa syarat agar
suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu memberikan perbedaan
daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak
meninggalkan zat pengotor pada Kristal, dan mudah dipisahkan dari kristalnya. Prinsip
dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang akan akan
dimurnikan dengan kelarutan zat pencampur atau pencemarnya, larutan yang terbentuk
dipisahkan satu sama lain, kemudian larutan zat yang diinginkan dikristalkan dengan
cara menjenuhkannya (mencapai kondisi supersaturasi atau larutan lewat jenuh). Secara
teoritis ada 4 metode untuk menciptakan supersaturasi dengan mengubah temperature,
menguapkan solven, reaksi kimia, dann mengubah komposisi solven (rositawati dkk,
2013). Pemisahan campuran rekristalisasi cara ini sering dilakukan untuk memisahkan
atau memurnikan suatu zat padat yang dapat mengkristal. Kristal dibentuk oleh ion ion,
atom atom, molekul molekul yang tersusun secara sistematik dan bertahap, sehingga
membentuk geometri tertentu. Bentuk kristal bergantung kepada sifat sifat, ukuran dan
gaya elektrostatik antara ion ion, atom atom, molekul molekul penyusun kristal. Bila
zat mengkristal dari larutannya, ion ion, atom atom, molekul molekul yang berlainan
sifatnya, akan cenderung dikeluarkan dari susunan kristal karena tidak dapat masuk
dalam susunan kristal secara bertahap. Dengan demikian jika kita melakukan
rekristalisasi maka kristal yang didapat akan lebih murni dari kristal sebelumnya
(bisakimia.com).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kristalisasi:
1. Konsentrasi larutan
Agar dicapai proses penempelan yang lebih cepat maka perlu diusahakan agar
larutan pada kejenuhan yang tinggi karena pada kandungan ini sukrosanya lebih
besar dibandingkan pada kejenuhan yang lebih rendah sehingga proses penempelan
pada kristal lebih cepat.
2. Kandungan kotoran
Adanya kotoran di dalam bahan akan menybabkan naiknya visikosivitas sehingga
berakibat turunnya nilai kemurnian hal ini dapat mengakibatkan rendahnya
kecepatan kristalisasi.
3. Bahan pemanas
Merupakan bahan yang sangat diperluhkan guna menguapkan air yang dikandung
oleh larutan dapat menimbulkan sirkulasi yang sangat diperluhkan dalam proses
kristalisasi.
4. Jenis alat
Bejana tipe serpertin umumnya akan lebih lama waktu masuknya dibandingkan
dengan bejana tipe alandria, hal ini karena untuk bejana tipe serpentin membutuhkan
tekanan bahan pemanas yang lebih besar (repository.usu.ac.id).
Kristalisasi memegang peranan yang sangat penting dalam industry kimia. Hal ini
mengingat kurang dari 70% dari produk-produk kimia dihasilkan dalam bentuk
padatan/Kristal. Keuntungan dari menghasilkan produk dalam bentuk padatan antara
lain adalah biaya transportasi yang lebih murah, padatan lebih tahan terhadap kerusakan
akibat terjadinya dekomposisi dan bentuk padatan lebih memudahkan dalam
pengepakkan dan penyimpanan (Unitas,maret 2013).
5.3. Tinjauan bahan
A. Aquadest
- Rumus molekul : H2O
- Berat molekul : 18,02 g/mol
- Warna : tidak berwarna
- pH :7
B. Calium oxide
- Rumus molekul : CaO
- Berat molekul : 56,08 g/mol
- Warna : putih
- pH : basa
C. Barium hydroxide monohydrate
- Rumus molekul : Ba(OH)2.8H2O
- Berat molekul : 189,39 g/mol
- Warna : tidak berwarna
- pH :-
D. Sodium Chloride
- Rumus molekul : NaCl
- Berat molekul : 58,44 g/mol
- Warna : putih
- pH :7
- Titik leleh : 801-1437,8
E. Hydrochloric Acid
- Rumus molekul : HCl
- Berat molekul :-
- Warna :-
- pH : Asam
- Titik didih : 158,58 oC
- Titik leleh : -62,25 oC (-80 oF)
F. Ammonium carbonate
- Rumus molekul : (NH4)2CO3
- Berat molekul : 96,11 g/mol
- Warna : putih
- pH :-
5.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
- Pemanas - Garam dapur
- Beakerglass - CaO
- Gelas ukur - Ba(OH)2
- Corong - (NH4)2CO3
- Pengaduk - Larutan HCl 0,1 M
- Larutan H2SO4 pekat
- Kertas saring
- Kertas pH
5.5. ProsedurPercobaan
- Melarutkan 16 gram garam dapur ke dalam 50 mL air (dalam gelas beaker)
dengan pemanasan sampai mendidih lalu diaduk.
- Menambahkan 0,2 gram CaO ke dalam larutan tersebut
- Menambahkan larutan Ba(OH)2 tetes demi tetes hingga tidak terbentuk lagi
endapan
- Menambahkan larutan (NH4)2CO3 tetes demi tetes sambil diaduk
- Menyaring campuran tersebut ke dalam gelas beaker dan menetralkan filtrat
dengan menambahkan larutan HCl encer tetes demi tetes hingga netral
- Menguapkan larutan sampai kering
- Menimbang NaCl yang diperoleh.
5.6. Data Pengamatan
Tabel 5.6.1. Data Pengamatan rekristalisasi garam dapur
NO. Perlakuan Hasil
1. Perlakuan awal
16 gr NaCl + 100 mL aquades panas Garam melarut sebagian
diaduk dan dipanaskan sampai mendidih
menjadi larutan 1
2. Kristalisasi melalui penguapan
Larutan 1 + 0,2 g CaO Larutan 2 Larutan berwarna putih keruh
Endapan berwarana putih
kekuningan
Larutan 2 + Ba(OH)2 encer Lar.3 Larutan berwarna putih keruh
Endapan berwarana putih
kekuningan
Larutan 3 + (NH4)2CO3 Lar.4 Filtrat berwarna putih
Residu berwarna coklat
1.3. TujuanPercobaan
Memahami teori kalorimetri sistem terbuka beserta pembuktian teorinya.
6.2. Tinjauan Pustaka
Kalor adalah bentuk energi yang dipertukarkan karena suatu perbedaan suhu.
Kapasitas kalor adalah jumlah energi kalor yang diperlukan untuk mengubah suatu
benda atau zat. Sering dinyatakan sebagai kapasitas kalor molar misalnya, kal mol -1oC-1
atau J mol-1 K-1. Kalor dapat dipikirkan sebagai energi yang dipindahkan karena
perbedaan suhu. Energi sebagai kalor mengalir dari benda yang lebih panas (suhu lebih
tinggi) benda yang lebih dingin (suhu lebih rendah) termodinamika termasuk
termokimia merupakan salah satu segi penting yang menghubungkan energi kalor
dengan bentuk energi lain yang dikenal sebagai kerja (Petruci H.Ralph. 1985).
Secara matematika hukum pertama termodinamika dapat ditulis sebagai berikut:
ΔE = Q – W …………………….……………………..(6.1)
Dimana Q adalah panas total yang diadsorbsi, W adalah kerja yang dilakukan
sistem dan ΔE adalah perubahan energi yang terjadi (Dogra, 1990).
Kalorimeter adalah alat (dimana di dalamnya terdapat bermacam-macam
komponen) yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang dipertukarkan diantara
sistem dan sekelilingnya. Kalori (kal) adalah jumlah klor yang dibutuhkan untuk
meningkatkan suhu satu gram air sebesar satu derajat celcius (secara spesifik dari 14,5
menjadi 15,5 oC); 1 kal = 4,184.
Entalpi (kalor) pembentukan adalah perubahan senyawa dari unsur-unsurnya
dalam bentuk yang paling mantap. Termokimia terutama berhubungan dengan pengaruh
kalor yang menyertai reaksi-reaksi kimia. Sifat dasar kalor dan pengukurannya, serta
perbedaan antara kalor dan kerja yaitu dua bentuk perpindahan energi dalam reaksi-
reaksi kimiawi (Petrucci H.Ralph, 1985).
Kalorimetri adalah ilmu dalam pengukuran panas dari reaksi kimia atau
perubahan fisik. Kalorimetri termasuk penggunaan kalorimeter. Kata kalorimetri berasal
dari bahasa Latin yaitu calor, yang berarti panas. Kalorimetri tidak langsung (indirect
calorimetry) menghitung panas pada makhluk hidup yang memproduksi karbondioksida
dan buangan nitrogen (ammonia, untuk organisme perairan, urea, untuk organisme
darat) atau konsumsi oksigen. Lavosier (1780) mengatakan bahwa produksi panas dapat
diperkirakan dari konsumsi oksigen dengan menggunakan regresi acak. Hal itu
membenarkan teori energi dinamik. Pengeluaran panas oleh makhluk hidup juga dapat
dihitung oleh perhitungan kalorimetri langsung (direct calorymetry), dimana makhluk
hidup ditempatkan didalam kalorimeter untuk dilakukan pengukuran. Jika benda atau
sistem diisolasi dari alam, maka temperatur harus tetap konstan. Jika energi masuk atau
keluar, temperatur akan berubah. Energi akan berpindah dari satu tempat ke tempat
lainnya yang disebut dengan panas dan kalorimetri mengukur perubahan suhu tersebut,
bersamaan dengan kapasitas panasnya, untuk menghitung perpindahan panas.
Kalorimetri adalah pengukuran panas secara kuantitatif yang masuk selama proses
kimia. Kalorimeter adalah alat untuk mengukur panas dari reaksi yang dikeluarkan.
Berikut adalah gambar kalorimeter yang kompleks dan yang sederhana. Kalorimetri
adalah pengukuran kuantitas perubahan panas. Sebagai contoh, jika energi dari reaksi
kimia eksotermal diserap air, perubahan suhu dalam air akan mengukur jumlah panas
yang ditambahkan. Kalorimeter digunakan untuk menghitung energi dari makanan
dengan membakar makanan dalam atmosfer dan mengukur jumlah energi yang
meningkat dalam suhu kalorimeter. Bahan yang masuk kedalam kalorimetri
digambarkan sebagai volume air, sumber panas yang dicirikan sebagai massa air dan
wadah atau kalorimeter dengan massanya dan panas spesifik. Keseimbangan panas
diasumsikan setelah percobaan perubahan suhu digunakan untuk menghitung energi
tercapai (www.kimia.upi.edu).
6.7. Pembahasan
- Berdasarkan sistem teori terbuka terjadi pertukaran energi (panas dan kerja)
dan benda dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan percobaan yang
berlaku.
- Penentuan harga k digunakan untuk mengetahui nilai kalibrasi alat yang
digunakan dalam percobaan. Kalibrasi alat dilakukan dengan prosedur yaitu
memasukkan 50 mL air dingin dengan suhu normal (28C) ke dalam
lingkungan, lalu menambahkan air dingin 25 mL dengan suhu 28C ke sistem,
kemudian masukkan air yang suhunya dinaikkan 10C dari suhu awal (air
panas) sebanyak 25 mL ke sistem. Setelah itu mengaduk campuran air panas
dan air dingin yang berada di dalam sistem. Kemudian menentukan suhu
campuran di dalam sistem dan suhu di dalam lingkungan. Perubahan suhu
sistem yaitu sebesar 4C, kemudian perubahan suhu di lingkungan sebesar 1C
dan suhu campuran yang didapat adalah sebesar 32C (305 K).
- Perubahan entalpi penetralan diperoleh dengan cara memasukkan 50 mL air
dingin ke dalam lingkungan dan menyamakan suhu NaOH dan HCl, lalu
mencampurkan 25 mL NaOH dan 25 mL HCl ke dalam sistem, mengaduk
hingga tercampur dan menentukan suhu campuran di dalam sistem sebesar
306 K dan suhu dibagian lingkungan 303 K.
6.8. Kesimpulan
Pada sistem terbuka terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) dan benda dengan
lingkungannya. Sistem tidak dapat terisolasi sepenuhnya dari lingkungan karena
terjadi sedikit pencampuran, meskipun hanya penerimaan sedikit gravitasi dalam
analisis sistem terisolasi energi yang masuk ke sistem sama dengan energi yang
keluar dari sistem.
BAB VII
SISTEM KOLOID
Keterangan:
1. Sol (padatan terdispersi dalam cairan). Sol biasanya dibentuk dengan pemecahan
padatan menjadi partikel-partikel kecil berdimensi koloid dan partikel-partikel
tersebut terdispersi dalam fase cairan.
2. Aerosol (padatan atau cairan terdispersi dalam gas). Partikel-partikel koloidal dalam
aerosol terdiri atas cairan atau partikel-partikel padatan yang terdispersi dalam gas
seperti udara.
3. Emulsi (cairan terdispersi dalam cairan). Contoh umum dari koloid ini adalah susu,
merupakan lemak yang terdispersikan dalam air. Gel merupakan tipe koloid yang
tidak lazim, suatu cairan mengandung padatan yang tersusun dalam kerangka
jaringan yang bagus. Contoh: jelly, agar-agar, gelatin dsb
4. Buih atau foam (gas terdispersi dalam cairan atau padatan). Buih biasanya
dihasilkan dengan meniupkan udara kedalam fasa cair, seperti padat buih sabun
(Sastrohamidjojo, 2005).
Mengingat besarnya ukuran partikel-partikel terdispersi dalam sistem koloid
tertentu maka sistem ini tidak dapat dibuat dengan cara yang sama seperti membuat
larutan sejati. Selain itu satu syarat yang harus dipenuhi dalam pembuatan sistem koloid
yaitu fase yang terdispersi tidak boleh larut dalam medium pendispersi atau sebaliknya.
Secara umum ada dua cara untuk membuat sistem koloid yaitu cara kondensasi dan
dispersi.
a. Cara Kondensasi
Dalam cara ini, ion-ion, atom-atom dan molekul-molekul yang lebih kecil ukurannya
dari ukuran partikel koloid diperbesar menjadi partikel-partikel sebesar partikel
koloid. Kondensasi umumnya merupakan hasil dari suatu reaksi kimia. Contoh dari
reaksi-reaksi ini adalah sebagai berikut:
- Reaksi Pemindahan
Sol As2S3 dapat dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan asam arsenit
yang sangat encer pada suhu tertentu.
2 H2AsO3(aq) + 3 H2S(g) → 6 H2O(l) + As2S3(s)
(asam arsenit) (hidrogen sulfida) (air) (arsen trisulfida)
- Reaksi Hidrolisis
FeCl3(aq) + 3 H2O(l) → Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)
(besi klorida) (air) (besi (III) hidroksida) (asam klorida)
- Reaksi Redoks
2 H2S(g) + SO2(g) → 2 H2O(aq) + S(s)
(hidrogen sulfida) (sulfur dioksida) (air) (belerang)
b. Cara Dispersi
Pembuaatan sistem koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan cara mengubah
partikel-partike kasar menjadi partikel yang berukuran koloid. Cara ini biasanya
dilakukan dengan menggunakan penggiling koloid. Zat yang telah digiling halus
didispersikan ke dalam cairan, cara dispersi yang lain yaitu dengan peptisasi.
Menurut cara ini partikel endapan yang kasar dipecah-pecah menjadi partikel koloid
dengan penambahan suatu elektrolit (Legiman, 2008).
Selain memiliki jenis-jenis, koloid juga memiliki sifat-sifat diantaranya sebagai berikut:
- Efek Tyndall
Bila berkas sinar dilewatkan melalui larutan atau cairan murni, maka batas berkas
sinar tidak terlihat bila dipandang dari sisi samping. Namun, bila berkas sinar
tersebut dilewatkan pada koloid, maka kita dapat melihat batas atau jalan sinar.
Efek atau gejala tersebut disebut: Efek Tyndall. Efek tyndall teramati setiap hari
di alam. Contoh: kita melihat awan sebagai hasil pembauran sinar oleh partikel-
partikel air koloid, yang mencegah sejumlah sinar jatuh kepermukaan bumi.
- Gerak Brown
Bila mikroskop diarahkan pada berkas sinar tyndall, maka partikel koloid sendiri
terlalu kecil untuk dapat dilihat, tetapi posisi dapat diarahkan dengan
memperhatikan darimana cahaya muncul. Bila pengamatan dilakukan dengan cara
tersebut, maka partikel-partikel terlihat dalam keadaan gerak brown, cepat, acak,
gerak zig-zag. Partikel koloid yang lebih kecil gerak brownnya lebih cepat
(Sastrohamidjojo, 2005).
- Muatan Koloid, meliputi elektro foresis dan adsorbsi.
Elektroforesis yaitu pergerakan partikel koloid dibawah pengaruh medan listrik.
Partikel koloid yang bermuatan positif akan menuju katode, dan sebaliknya.
Sedangkan adsorbsi adalah peristiwa penyerapan suatu molekul atau ion pada
permukaan zat. Sifat adsorbsi dari sistem koloid dapat kita manfaatkan antara lain,
pada proses penyembuhan sakit perut (diare oleh serbuk karbon (norit) dan proses
pemutihan gula pasir).
- Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid membentuk endapan. Apabila
koagulasi terjadi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi
dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pencampuran koloid
yang berbeda muatan.
- Koloid pelindung
Koloid pelindung adalah koloid yang dapat melindungi koloid lain dari proses
koagulasi atau penggumpalan. Koloid pelindung ini akan membungkus partikel
zat terdispersi sehingga tidak dapat lagi mengelompok.
- Dialisis
Dialisis adalah pemisahan koloid dari ion ion terlarut.koloid dimasukkan ke dalam
kantong yang terbuat dari selaput semi permiabel yaitu selaput yang dapat
dilewati molekul atau ion tetapi tidak dapat dilewati partikel koloid.
- Koloid liofil dan koloid liofob
Kolid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan koloid
liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil apabila terdapat gaya tarik menarik yang
cukup besar antara zat terdispersi dengan mediumnya. Liofil berarti suka cairan
(Yunani: lio = cairan, philia = suka). Sebaliknya suatu koloid disebut koloid
liofob jika gaya tari menarik tersebut tidak ada atau sangat lemah. Liofob berarti
tidak suka cairan ( Yunani: lio = cairan, phobia = takut atau benci). Contoh koloid
hidrofil yaitu: sabun, detergen, agar-agar, kanji, dan gelatin. Sedangkan contoh
dari koloid hidrofob yaitu: sol belerang, sol Fe(OH)3, sol-sol sulfida, dan sol-sol
logam (Qudsiyah, 2013).
Sistem koloid sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh,
hampir semua bahan pangan mengandung partikel dengan ukuran koloid, seperti
protein, karbohidrat, dan lemak. Emulsi seperti susu juga termasuk koloid. Dalam
bidang farmasi, kebanyakan produknya juga berupa koloid, misalnya krim, salep adalah
emulsi. Dalam industri cat, semen dan industri karet untuk membuat ban semuanya
melibatkan system koloid. Semua bentuk spray untuk serangga, cat, hairspray, dan
sebagainya adalah juga koloid. Dalam bidang pertanian, tanah juga dapat digolongkan
sebagai koloid. Jadi terlihat betapa pentingnya koloid dalam kehidupan manusia (Bird,
1993).
7.3. TinjauanBahan
A. Aquadest
- Rumus molekul : H2O
- Bentuk : cair
- Bau : tidak berbau
- Berat molekul : 18,02 g/mol
- Warna : tidak berwarna
- pH :7
- Titik didih : 100oC
- Densitas uap : 0,62 (air = 1)
- Tekanan uap : 2,3 kPa
B. Alkohol 95%
- Rumus molekul : CH3CH2OH
- Bentuk : cair
- Berat molekul : 46,07 g/mol
- Warna : tidak berwarna
- Titik didih : 78,3oC
- Densitas uap : 1,6 (air= 1)
- Tekanan uap : 5,87 kPa
C. Kalsium asetat
- Rumus molekul : C4H6CaO4
- Bentuk : padat
- Berat jenis : 1,5
- Berat molekul :158,17 g/mol
- Warna : putih
D. Larutan FeCl3
- Rumus molekul : FeCl3
- Bentuk : padat
- Berat jenis : 2,9
- Berat molekul : 162,21 g/mol
- pH :2
- Titik didih : 316 oC
- Densitas uap : 5,61 (Air=1)
E. Serbuk belerang
- Rumus molekul :S
- Bentuk : padat
- Berat jenis : 2,07
- Berat molekul : 32,06 g/mol
- Warna : kuning
- Titik didih : 445 oC
- Titik beku : 112 oC
F. Sukrosa
- Rumus molekul : C12H22O11
- Bentuk : padat
- Berat jenis : 1,587
- Berat molekul : 342,3 g/mol
- Warna : putih
7.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
- batang pengaduk - agar-agar
- Beakerglass - alkohol 95% (C2H5OH)
- cawan porselen - Aquadest (H2O)
- gelas ukur - gula pasir (C12H22O11)
- mortar dan stamper - kalsium asetat (C4H6CaO4)
- pipet tetes - larutan Ferric klorida (FeCl3)
- rak tabung - larutan sabun
- tabung reaksi - minyak tanah
- Waterbath - serbuk belerang (S)
Gambar 7.7.1 Sol belerang dalam air Gambar 7.7.2 Sol agar-agar dalam air
Gambar 7.7.3 Sol dengan cara kondensasi Gambar 7.7.4 Pembuatan emulsi
Gambar 7.7.5 Pembuatan gel kalsium Gambar 7.7.6 Pembakaran gel kalsium
asetat alkohol asetat alcohol
7.8. Pembahasan
- Pembuatan Sol dengan Cara Dispersi
Adalah suatu cara pembuatan larutan koloid dengan mengubah partikel-
partikel kasar menjadi partikel koloid. Dalam praktikum ini khususnya pada
pencampuran gula dan belerang, sol belerang dibuat dengan cara mengerus
serbuk belerang bersama gula pasir, kemudian mencampur serbuk tersebut
dengan air. Dari penjelasan tersebut dapaaat dibuktikan bahwa hasil percobaan
sesuai dengan teori pembutan secara dispersi yaitu dengan cara mekanik.
- Pembuatan Sol dengan Cara Kondensasi
Dapat dilakukan dengan cara kimia atau dapat dilakukan dengan cara
penurunan kelarutan. Dalam percobaan ini ditambahkan laarutan FeCl3 dalam
aquades mendidih, terjadi perubahan warna larutan menjadi merah kecoklatan.
- Pembuatan Emulsi
Emulsi (cairan terdispersi dalam cairan). Contoh umum dari koloid ini adalah
susu, merupakan lemak yang terdispersikan dalam air. Dalam percobaan ketika
minyak dan Aquaadest dicampurkan begitu pula ketika minyak, Aquadest, dan
larutan sabun dicampurkan, larutan minyak terdispersi dalam Aquadest, begitu
juga dengan larutan minyak yang terdispersi didalam larutan sabun. Hal ini
membuktuikan bahwa emulsi terdiri dalam pencampuran minyak dan sabun.
- Pembuatan Gel Kalsium Asetat Alkohol
Gel merupakan tipe koloid yang tidak lazim, suatu cairan mengandung padatan
yang tersusun dalam kerangka jaringan yang bagus. Dalm percobaan, ketika
larutan kalium asetat dicampur dengan alkohol, laarutan membentuk gel. Dari
penjelasan tesebut dapat dibuktikan bahwa hasil percobaan sesuai dengan teori
pembuatan gel.
7.9. Kesimpulan
Pembutan koloid dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu cara dispersi dan
kondensasi. Pembuatan koloid secara dispersi adalah suatu cara pembuatan larutan
koloid dengan mengubah partikel-partikel kasar menjadi partikel koloid, sedangkan
pembutan koloid dengan cara kondensasi yaitu dapat dilakukan dengan cara kimia atau
dapat dilakukan dengan cara penurunan kelarutan.