0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan66 halaman

Proses Elektrolisis dan Sel Galvani

Dokumen tersebut membahas tentang elektrolisis. Secara singkat, elektrolisis adalah proses dimana energi listrik digunakan untuk memicu reaksi kimia. Hal ini berlawanan dengan sel galvani dimana energi kimia diubah menjadi energi listrik. Dokumen tersebut juga membahas faktor-faktor yang mempengaruhi hasil elektrolisis serta manfaat proses elektrolisis dalam pemurnian logam.

Diunggah oleh

jihan saf
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan66 halaman

Proses Elektrolisis dan Sel Galvani

Dokumen tersebut membahas tentang elektrolisis. Secara singkat, elektrolisis adalah proses dimana energi listrik digunakan untuk memicu reaksi kimia. Hal ini berlawanan dengan sel galvani dimana energi kimia diubah menjadi energi listrik. Dokumen tersebut juga membahas faktor-faktor yang mempengaruhi hasil elektrolisis serta manfaat proses elektrolisis dalam pemurnian logam.

Diunggah oleh

jihan saf
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

ELEKTROLISIS

1.1. TujuanPercobaan
- Memahami sel volta (sel galvani) dan pembuktian teori elektrolisis
1.2. Tinjauan Pustaka
Elektrokimia merupakan bagian yang penting dalam kimia dasar merupakan
jembatan antara kimia dengan kehidupan sehari-hari. Elektrokimia didefinisikan sebagai
studi perubahan kimia dan listrik. Sel galvani merupakan suatu perangkat energi kimia
diubah menjadi energi listrik. Proses kebalikan disebut elektrolisis. Reaksi dalam sel
elektrokimia terjadi di permukaan elektroda (Sastrohamidjojo, 2005).
Elektroda adalah konduktor yang dilalui arus listrik dari satu media ke yang lain,
biasanya dari sumber listrik ke perangkat atau bahan. Elektroda dapat mengambil
beberapa bentuk yang berbeda, termasuk kawat, piring, atau tongkat, dan yang paling
sering terbuat dari logam, seperti tembaga, perak, timah, atau seng, tetapi juga dapat
dibuat dari bahan konduktor listrik non-logam, seperti grafit. Elektroda yang digunakan
dalam pengelasan, listrik, baterai, obat-obatan, dan industri untuk proses yang
melibatkan elektrolisis (www.sridianti.com).
Elektroda yang bermuatan positif disebut anoda, yang bermuatan negatif disebut
katoda. Ada banyak tipe reaksi elektroda sebagai berikut:
- Arus listrik yang membawa ion akan dibebaskan pada elektroda
- Ion negatif yang sulit dibebaskan pada anoda menyebabkan penguraian H2O
dan pembentukan O2, H+ dan elektron
- Ion positif yang sulit dibebaskan pada katoda menyebabkan penguraian H2O
dan pembentukan H2, OH- dan absorbs elektron (Dogra, 1990).
Elektrokimia adalah reaksi redoks yang bersangkut paut dengan listrik. Reaksi
elektrokimia dibagi menjadi 2, yaitu:
- Sel galvani/sel volta adalah reaksi redoks yang menghasilkan listrik.
Contohnya baterai.
- Sel elektrolisis adalah listrik yang mengakibatkan reaksi redoks. Contohnya
adalah pemurnian logam dan pelapisan logam (id.wikibooks.org).
Sel galvani adalah sel dimana energi bebas dari reaksi kimia diubah menjadi
energi listrik. Disebut juga sebagai sel elektrokimia. Hubungan antara energi bebas dari
reaksi kimia dengan tegangan sel dinyatakan dengan persamaan:
ΔG = - nFE.................................................................. (1.1)
Dimana F adalah faraday, E adalah e.m.f sel (dalam volt) dan n adalah jumlah molekul
yang berperan pada reaksi kesetimbangan.
Sel elektrolisis adalah sel dimana energi listrik digunakan untuk berlangsungnya
reaksi kimia. Sel ini merupakan kebalikan dari sel galvani yang diperlukan untuk
berlangsungn
ya proses ini akan sedikit lebih tinggi dari pada yang dihasilkan oleh reaksi kimia
dan ini didapat dari lingkungannya. Reaksi kimia spontan menghendaki ΔG menjadi
negatif. Apabila e.m.f sel adalah positif, maka ini adalah sel galvanik. Kesetimbangan
akan terjadi bila ΔG dan E ΔG sama dengan nol. Reaksi dengan nilai E yang lebih
positif akan terjadi lebih positif akan terjadi lebih dahulu daripada reaksi-reaksi dengan
e.m.f yang kepositifannya lebih rendah.
Ada dua elektroda antara lain:
- Anoda: pada sel galvanik, anoda adalah tempat terjadinya oksidasi, bermuatan
negatif disebabkan oleh reaksi kimia yang spontan, elektroda akan dilepaskan
oleh elektroda ini. Pada sel elektrolisis, sumber eksternal tegangan didapat dari
luar, sehingga anoda bermuatan positif apabila dihubungkan dengan katoda.
Dengan demikian ion-ion bermuatan negatif mengalir ke anoda untuk di
oksidasi.
- Katoda: adalah elektroda-elektroda tempat terjadinya reduksi berbagai zat
kimia. Pada sel galvani, katoda bermuatan positif bila dihubungkan dengan
anoda. Ion bermuatan positif mengalir ke elektroda ini untuk direduksi oleh
elektron-elektron yang datang dari anoda (Dogra, 1990).
Gambar 1.1 Sel galvani Gambar 1.2 Sel Elektrolisis
(www.wikipedia.org). (www.id.wikibooks.org).

Berbagai jenis elektroda yang digunakan dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi
adalah:
- Elektroda- elektroda gas yaitu elektroda yang mengandung gas dengan ionnya.
Sebagai penyerap gas dipakai batang logam yang inert, seperti Pt (Syukri,
1990). Di sini elektroda inert yang berhubungan dengan gas pada tekanan 1
atm (kecuali ditentukan) dan ion-ionnya dalam larutan, misalnya elektroda gas
hydrogen dan lain-lain (Dogra, 1990).
- Elektroda Oksidasi-Reduksi yaitu elektroda yang dalam larutannya terjadi
redoks, dan sebagian penghubung elektron ke dalam larutan dipakai logam
inert (Syukri, 1990). Di sini elektroda inert (umumnya platina) dicelupkan
dalam larutan yang mengandung ion-ion yang mempunyai 2 tingkatan oksidasi
(Dogra, 1990).
- Elektroda Logam-Ion Logam yaitu elektroda yang mempunyai batang logam
dan larutan ionnya, sehingga terjadi perubahan antara ion dengan logamnya
(Syukri, 1990). Di sini elektroda logam dicelupkan dalam suatu larutan yang
mengandung ion-ion logam tersebut, dan elektroda logam ikut berperan pada
reaksi kimia (Dogra, 1990).
- Elektroda Logam-Garam Tidak Larut yaitu elektroda yang mengandung logam
dan garam logam tersebut yang tidak larut (syukri, 1990). Di sini elektroda
logam berhubungan dengan garamnya yang tidak larut, yang selanjutnya
berhubungan dengan ion-ionnya (umunya anion) (Dogra,1990).
Dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses elektrolisis larutan tembaga
sulfat dengan anoda dan katoda tembaga. Faktor yang diteliti adalah arus listrik,
lamanya elektrolisis, suhu elektrolisis, dan konsentrasi elektrolit. Dari hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa peningkatan arus listrik, waktu elektrolisis, suhu elektrolisis,
dan peningkatan konsentrasi elektrolit akan memperbesar jumlah endapan di katoda.
Arus listrik, lamanya elektrolisis, suhu elektrolisis, dan konsentrasi elektrolit yang
digunakan pada proses elektrolisis akan menentukan kualitas endapan. Penggunaan arus
listrik kecil (0,1-0,2A) menghasilkan efisiensi yang tinggi dan endapan yang
permukaannya halus dibanding arus besar (>1A). Suhu 61 oC merupakan suhu optimum
untuk elektrolisis karena pada suhu ini, endapan yang dihasilkan halus dan jumlahnya
banyak (digilib.Itb.ac.id).
Deret elektrokimia atau deret volta adalah urutan logam-logam (ditambah
hidrogen) berdasarkan kenaikan potensial elektrode standarnya. Unsur logam dengan
potensial elektrode lebih negatif ditempatkan di bagian kiri, sedangkan unsur dengan
potensial elektrode yang lebih positif ditempatkan di bagian kanan. Semakin ke kiri
kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka
- Logam semakin reaktif (semakin mudah melepas elektron)
- Logam merupakan reduktor yang semakin kuat (semakin mudah mengalami
oksidasi)
Sebaliknya, semakin ke kanan kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka
- Logam semakin kurang reaktif (semakin sulit melepas elektron)
- Logam merupakan oksidator yang semakin kuat (semakin mudah mengalami
reduksi)
Salah satu metode untuk mencegah korosi antara lain dengan menghubungkan
logam (misalnya besi) dengan logam yang letaknya lebih kiri dari logam tersebut dalam
deret volta (misalnya magnesium) sehingga logam yang mempunyai potensial elektroda
yang lebih negatiflah yang akan mengalami oksidasi. Metode pencegahan karat seperti
ini disebut perlindungan katodik (id.wikipedia.org).
Proteksi katodik adalah metode untuk melindungi struktur logam dari korosi.
Logam dengan struktur yang dibuat biasanya baja rentan terhadap korosi melalui reaksi
oksidasi ketika mereka sering terjadi kontak dengan air. Reaksi dapat melibatkan logam
yang menyerah elektron dan didorong oleh jejak garam terlarut dalam air, menyebabkan
air untuk bertindak sebagai elektrolit. Korosi dapat dipandang sebagai proses
elektrokimia. Proteksi katodik mengubah struktur logam ke katoda elektroda bermuatan
positif dengan mendirikan sebuah sel elektrokimia menggunakan logam yang lebih
elektropositif sebagai anoda, sehingga struktur tidak kehilangan elektron ke
lingkungannya (www.sridianti.com).
Contoh lain dari perlindungan katodik adalah pipa besi, tiang telepon, dan
berbagai barang lain yang dilapisi dengan zink, atau disebut Galvanisasi. Zink dapat
melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Oleh karena potensial
reduksi besi lebih positif daripada zink (posisinya dalam deret volta lebih ke kanan),
maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi
sebagai katoda. Dengan demikian besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.
Badan mobil-mobil baru pada umumnya telah digalvanisasi, sehingga tahan karat
(id.wikipedia.org).
Tabel 1.1. deret volta
K Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Cd Co Ni Sn H2 Cu Ag Hg Au Pt
Pb
Logam ringan; Logam berat; Setengah mulia Mulia
Bukan logam Bukan logam mulia
mulia
Sumber: (Widyatmoko, 2009).
Penerapan elektrolisis dalam kehidupan manusia. Banyak sekali manfaat
elektrolisis diantaranya antara lain:
- Pemurnian logam
Anoda yang dipakai adalah logam tak murni (kotor) pengotornya akan terlepes
selama proses elektrolisis ketika logam bergerak dari anoda ke katoda selama
proses ini katoda mengandung dakomposisi logam murni dari larutan yaang
berisi logam ion logam sebagai contoh tembaga dimurnikan melalui elektrolisis
yang membutuhkan konduktivitas listrik yang tinggi. Pada proses ini katoda
adalah tembaga murni sedangkan anoda adalah tembaga kotor. Ion Cu2+ dari
anoda bergerak melalui larutan tembaga (II) sulfat menuju katoda dan berubah
menjadi padatan tembaga selama proses berlangsung pengotornya akan
mengendap di dasar tangki hasil samping berupa pengotor disebut sebagai
lumpur anoda.
- Elektrosintesis
Elektrolisis adalah disosiasi elektrolit menjadi ion pada elektroda dengan
adanya arus lisrik konduksi listrik yang melewati larutan elektrolit akan
menghasilkan perubahan kimia.
Metode yang menggunakan reaksi elektrolisis untuk menghasilkan produk
tertentu sebagai contoh adalah elektrolisis MnO2 yang merupakan bahan baku
pembuatan baterai alkalin
- Proses klor-alkali
Elektrolisis air laut dapat menghasilkan klorin dan basa natrium hidroksida.
Ada 3 macam metode berbeda dimana dua komponen tersebut dihasilkan yaitu
sel membran, sel diafragma dan proses sel merkuri (www.ilmukimia.org).
- Produksi zat
Banyak zat kimia yang diproduksi melalui elektrolisis seperti logam-logam
alkali, magnesium, aluminium, fluorin, klorin, natrium, dan lainnya contohnya
produksi klorin dan NaOH dalam industri
- Penyepuhan
Penyepuhan digunakan untuk melindungi logam terhadap korosi, atau untuk
memperbaiki penapilan. Pada penyepuhan, logam yang akan disepuh dijadikan
ketoda, sedangkan logam penyepuh sebagai katoda. Kedua elektroda harus
dicelup kedalam larutan garam dari logam penyepuh.
- Contoh lain aplikasi elektrolisis
Aplikasi elektrolisis untuk sel surya (kimia.upi.edu).
- Pembuatan Gas di Laboratorium
Sel elektrolisis banyak digunakan dalam industri pembuatan gas misalnya
pembuatan gas oksigen, gas hidrogen, atau gas klorin. Untuk menghasilkan
gas oksigen dan hidrogen, Anda dapat menggunakan larutan elektrrolit dari
kation golongan utama (K+, Na+) dan anion yang mengandung oksigen
(SO42-, NO3-)dengan elektroda Pt atau karbon.
- Proses Pemurnian logam kotor
Proses pemurnian logam kotor banyak dilakukan dalam pertambangan.
Logam transisi yang kotor dapat dimurnikan dengan cara menempatkannya
sebagai anoda dan logam murni sebagai katoda. Elektrolit yang digunakan
adalah elektrolit yang mengandung kation logam yang dimurnikan. Contoh:
proses pemurnian nikel menggunakan larutan NiSO4 (id.wikipedia.org).
1.3. Tinjauan Bahan
A. Aquadest
- rumus molekul : H2O
- berat molekul : 18 gram/mol
- bentuk fisik : cairan tak berwarna dan tidak berbau
- titik didih : 100 oC
- densitas : 1 g/cm3
- pH :7
B. Natrium Klorida
- rumus molekul : NaCl
- berat molekul : 58,44 g/mol
- bentuk : bubuk kristal padat
- warna : putih
- pH : 7 (netral)
- titik leleh : 801 oC (1473,8 oF)
- titik didih : 1413 oC (2575 oF)
C. Seng Sulfat pentahidrat
- rumus molekul : ZnSO4.7H2O
- berat molekul : 287,56 g/mol
- bentuk : kristal
- warna : putih
- bau : tidak berbau
- pH : 4,4-6
- titik leleh : 100oC
- titik didih : >500oC
- densitas : 3,54 g/cm3
D. Tembaga Sulfat
- rumus molekul : CuSO4.5H2O
- berat molekul : 249,69 g/mol
- bentuk : padat
- warna : biru
- pH : 3,7-4,2
- titik leleh : 110 oC
- titik didih : 150 oC
1.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
- batang pengaduk - agar-agar
- Beakerglass 200 mL - Aquadest
- botol Aquadest - elektroda (Zn, Cu)
- corong kaca - natrium klorida (NaCl)
- kabel penjepit - seng sulfat (ZnSO4.7H2O)
- pipa U - tembaga sulfat (CuSO4.5H2O)
- voltmeter
1.5. Prosedur Percobaan
- Membuat jembatan garam dengan melarutkan bubuk agar-agar dengan air
secukupnya, lalu masak atau panaskan larutan agar-agar dengan menggunakan
pembakaran bunsen, tembahkan garam secukupnya, aduk hingga matang dan
mengental. Setelah itu masukkan ke pipa U sampai mulut hingga mengeras.
- Membuat larutan ZnSO4 0,5 M sebanyak 100 mL
- Membuat larutan CuSO4 0,5 M sebanyak 100 mL
- Masukkan larutan ke dalam Beakerglass yang berbeda
- Masukkan jembatan garam kedalam dua larutan tersebut
- Menjepit elektroda seng dan tembaga dengan kabel penjepit
- Memasukkan elektroda seng kedalam larutan seng sulfat dan elektroda
tembaga kedalam larutan tembaga sulfat
1.6. Data Pengamatan
Tabel 1.2. Data pengamatan elekrolisis
No Perlakuan Pengamatan
Logam Zn sebelum Abu-abu mengkilap
1. dimasukkan lar. ZnSO4.7H2O
Logam Zn sesudah dimasukkan Abu-abu sedikit berkarat
lar. ZnSO4.7H2O
Logam Cu sebelum Kuning tua
dimasukkan lar. CuSO4.5H2O
2.
Logam Cu sesudah dimasukkan Kuning tua mengkilap
lar. CuSO4.5H2O
Larutan ZnSO4.7H2O sebelum Larutan bening
dimasukkan elektroda Zn
3.
Larutan ZnSO4.7H2O sesudah Larutan tetap bening
dimasukkan elektroda Zn
Larutan CuSO4.5H2O sebelum Larutan biru bening
dimasukkan elektroda Cu
4.
Larutan CuSO4.5H2O sesudah Larutan tetap biru bening,
dimasukkan elektroda Cu terdapat gelembung sedikit

1.7. Persamaan Reaksi


Anoda : Zn Zn2+ + 2e- E˚ = 0,76 volt
Katoda : Cu2+ + 2e- Cu E˚ = 0,34 volt +
Zn + Cu2+ Zn2+ + Cu E˚ = 1,10 volt
1.8. Pembahasan
- Dari data pengamatan, kita dapat melihat perbedaan larutan dan logam sebelum
dan sesudah mengalami elektrolisis, yaitu warna larutan CuSO4.5H2O menjadi
biru bening dan larutan ZnSO4.7H2O menjadi keruh. Kemudian logam Cu
setelah mengalami elektrolisis menjadi berkarat (korosi) dan logam Zn setelah
dikeluarkan dari larutan menjadi lebih mengkilap
- Dalam percobaan, larutan ZnSO4.7H2O dengan larutan CuSO4.5H2O yang di
masukan elektroda masing-masing adalah logam Zn dan Cu, terdapat arus
listrik sebesar 0,8 volt. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang seharusnya
sebesar 1,1 volt dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi elektrolisis adalah
arus listrik, lamanya elektrolisis, suhu elektrolisis dan konsentrasi elektrolit.
1.9. Kesimpulan
Pada percobaan elektrolisis, dengan menggunakan larutan ZnSO4.7H2O dan
CuSO4.5H2O 0,2 M dan elektroda Zn dan Cu, menghasilkan energi listrik sebesar
0,8 volt. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang seharusnya sebesar 1,1 volt.
BAB II
DESTILASI SISTEM BINER

2.1. Tujuan Percobaan


˗ Mendefinisikan arti destilasi
˗ Membuat grafik antara komposisi larutan dengan berat jenis larutan dari sistem
biner
˗ Membuat kurva antara titik didih dengan komposisi dari sistem biner.
2.2. Tinjauan Pustaka
Destilasi dilaksanakan dalam praktek menurut salah satu dari dua metode utama.
Metode pertama didasarkan atas pembuatan uap dengan mendidihkan campuran zat cair
yang akan dipisahkan dan mengembunkan (kondensasi) uap tanpa zat cair yang kembali
ke dalam benjana didih. Jadi tidak refluks. Metode kedua didasarkan atas pengembalian
sebagian dari kondensat ke benjana didih dalam suatu kondisi tertentu sehingga zat cair
yang kembali ini mengalami kontak akrab dengan uap yang mengalir ke atas menuju
kondensor (Warren L, 1999). Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik
pemisahan kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan
titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk
memperoleh senyawa murni. Unit operasi distilasi merupakan metode yang digunakan
untuk memisahkan komponen-komponen yang terdapat dalam suatu larutan atau
campuran dan tergantung pada distribusi komponen-komponen tersebut antara fasa uap
dan fasa air. Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia
untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang
jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh
senyawa murni.
Macam-macam destilasi:
1. Destilasi Sederhana
Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk
memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang
jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh
senyawa murni. Senyawa yang terdapat dalam campuran akan menguap saat
mencapai titik didih masing-masing (Walangare, 2013). Pada distilasi sederhana,
dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih yang jauh atau dengan salah satu
komponen. Jika campuran dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih
rendah akan menguap lebih dulu. Distilasi ini dilakukan pada tekanan atmosfer.
Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air dan alkohol
(id.wikipedia.org).

Gambar 1.1. Destilasi Sederhana


2. Destilasi Fraksionasi (Bertingkat)
Sama prinsipnya dengan destilasi sederhana, hanya destilasi bertingkat ini memiliki
rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga mampu memisahkan dua
komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang berdekatan. Untuk memisahkan
dua jenis cairan yang sama mudah menguap dapat dilakukan dengan destilasi
bertingkat. Destilasi bertingkat adalah suatu proses destilasi berulang. Proses
berulang ini terjadi pada kolom fraksional. Kolom fraksional terdiri atas beberapa
plat dimana pada setiap plat terjadi pengembunan. Uap yang naik plat yang lebih
tinggi lebih banyak mengandung cairan yang lebih atsiri (mudah menguap)
sedangkan cairan yang yang kurang atsiri lebih banyak kondensat (Walangare,
2013). Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair,
dua atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi ini
juga dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari
20 °C dan bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari
distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak mentah, untuk memisahkan
komponen-komponen dalam minyak mentah (id.wikipedia.org).
Gambar 1.2. Destilasi Fraksionasi (Bertingkat)
3. Destilasi Azeotrop
Memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang sulit di
pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah
ikatan azeotrop tersebut atau dengan menggunakan tekanan tinggi (Walangare,
2013). Azeotrop dapat didistilasi dengan menggunakan tambahan pelarut tertentu,
misalnya penambahan benzena atau toluena untuk memisahkan air. Air dan pelarut
akan ditangkap oleh penangkap Dean-Stark. Air akan tetap tinggal di dasar
penangkap dan pelarut akan kembali ke campuran dan memisahkan air lagi.
Campuran azeotrop merupakan penyimpangan dari hukum Raoult (id.wikipedia.org).

Gambar 1.3. Destilasi Azeotrop


4. Destilasi Uap
Untuk memurnikan zat/senyawa cair yang tidak larut dalam air, dan titik didihnya
cukup tinggi, sedangkan sebelum zat cair tersebut mencapai titik didihnya, zat cair
sudah terurai, teroksidasi atau mengalami reaksi pengubahan (rearranagement),
maka zat cair tersebut tidak dapat dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi
bertingkat, melainkan harus didestilasi dengan destilasi uap. Destilasi uap adalah
istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa
yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air kedalam campuran
sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada temperature yang
lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung. Untuk destilasi uap, labu yang
berisi senyawa yang akan dimurnikan dihubungkan dengan labu pembangkit uap
(lihat gambar alat destilasi uap). Uap air yang dialirkan ke dalam labu yang berisi
senyawa yang akan dimurnikan, dimaksudkan untuk menurunkan titik didih senyawa
tersebut, karena titik didih suatu campuran lebih rendah dari pada titik didih
komponen-komponennya (Walangare, 2013). Aplikasi dari distilasi uap adalah untuk
mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak eucalyptus dari eucalyptus,
minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk ekstraksi minyak parfum dari
tumbuhan. Campuran dipanaskan melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran
dan mungkin ditambah juga dengan pemanasan. Uap dari campuran akan naik ke
atas menuju ke kondensor dan akhirnya masuk ke labu distilat (id.wikipedia.org).

Gambar 1.4. Destilasi Uap


5. Destilasi Vakum
Memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, motode yang
digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm,
sehingga titik didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang digunakan
untuk mendistilasinya tidak perlu terlalu tinggi (Walangare, 2013). Distilasi vakum
biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didistilasi tidak stabil, dengan
pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik didihnya atau
campuran yang memiliki titik didih di atas 150 °C. Metode distilasi ini tidak dapat
digunakan pada pelarut dengan titik didih yang rendah jika kondensornya
menggunakan air dingin, karena komponen yang menguap tidak dapat dikondensasi
oleh air. Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa vakum atau aspirator.
Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada sistem distilasi ini
(id.wikipedia.org).

Gambar 1.5. Destilasi Vakum (Walangare, e-Jurnal Teknik Elektro dan Komputer, 2013).
Faktor-faktor yang mempengaruhi destilasi, yaitu:
1. Kondisi Feed
Keadaan campuran dan komposisi feed (q) mempengaruhi garis operasi dan jumlah
stage dalam pemisahan itu juga mempengaruhi lokasi feed tray.
2. Kondisi Refluks
Pemisahan semakin baik jika sedikit tray yang digunakan untuk mendapatkan tingkat
pemisahan. Tray minimum dibutuhkan di bawah kondisi total refluks, yakni tidak
ada penarikan destilat. Sebaiknya refluks berkurang, garis operasi untuk seksi
rektifikasi bergerak terhadap garis kesetimbangan.
3. Kondisi Aliran Uap
Kondisi aliran uap yang merugikan dapat menyebabkan:
a. Foaming
Mengacu pada ekspansi liquid melewati uap atau gas. Walaupun menghasilkan
kontak antar fase liquid-uap yang tinggi, foaming berlebihan sering mengarah
pada terbentuknya liquid pada tray.
b. Entrainment
Mengacu pada liquid yang terbawa uap menuju tray di atasnya dan disebabkan
laju alir uap yang tinggi menyebabkan efisiensi tray berkurang. Bahan yang sukar
menguap terbawa menuju plate yang menahan liquid dengan bahan yang mudah
menguap. Dapat mengganggu kemurnian destilat. Enterainment berlebihan dapat
menyebabkan flooding.
c. Weeping/Dumping
Fenomena ini disebabkan aliran uap yang rendah. Tekanan yang dihasilkan uap
tidak cukup untuk menahan liquid pada tray. Karena itu liquid mulai merembes
melalui perforasi.
d. Flooding
Terjadi karena aliran uap berlebih menyebabkan liquid terjebak pada uap di atas
kolom. Peningkatan tekanan dari uap berlebih menyebabkan kenaikan liquid yang
tertahan pada plate di atasnya. Flooding ditandai dengan adanya penurunan
tekanan diferensial dalam kolom dan penurunan yang signifikan pada efisiensi
pemisahan (Komariah, Jurnal Teknik Kimia, 2009, Vol.16 No.4).
Bentuk dan sumber data kesetimbangan antara fase liquid dan fase gas
diantaranya dapat digambarkan dalam bentuk kurva kesetimbangan atau diperoleh
dengan cara eksperimen. Dua fasa dikatakan berada dalam kesetimbangan jika
temperatur, tekanan, dan potensial kimia dari masing-masing komponen yang terlibat di
kedua fasa bernilai sama. Salah satu alat yang digunakan untuk memperoleh data
kesetimbangan antara fase liquida dan fase gas adalah Glass Othmer Still. Adapun hal-
hal yang berpengaruh dalam sistem ksetimbangannya yaitu: Tekanan (P), Suhu (T),
Konsentrasi komponen A dalam fase liquid (x) dan Konsentrasi komponen A dalam
fase uap (y) (Sari, Jurnal Teknik Kimia, 2010, Vol.5 No.1).
Untuk larutan yang mengalami deviasi positif dari hukum Raoult akan diperoleh
maksimum pada kurva P-X dilihat pada gambar (1.6).

(a) (b)
Gambar 1.6.a. Diagram fasa P-X cair uap Gambar 1.6.b. Diagram T-X untuk sistem
dengan suatu maksimum yang sesuai dengan (a)
Campuran dengan komposisi cairan X’A pada gambar (1.6.b) jika didihkan akan
mempunyai komposisi uap yang sama dengan cairannya. Karena penguapan tidak
mengubah komposisi cairannya, keseluruhan sampel cair akan mendidih pada suhu
konstan. Larutan yang mempunyai titik didih konstan seperti ini disebut azeotrop. Titik
didih larutan azeotrop mirip dengan suatu zat murni dan sangat berbeda dengan
kebanyakan larutan dari dua cairan yang mendidih pada rentang suhu tertentu.
Destilasi bertingkat dari larutan yang membentuk azeotrop akan menghasilkan
pemisahan larutan menghasilkan A murni dan azeotrop (jika XA,l > X’A) atau B murni
dan azeotrop jika XA,l < X’A
Untuk larutan yang tidak membentuk azeotrop (seperti pada gambar 1.7) uap yang
berada dalam kesetimbangan dengan cairannya selalu lebih kaya dengan komponen
bertitik didih lebih rendah (lebih mudah menguap).

Gambar 1.7. Diagram fasa suhu terhadap komposisi fasa cair-uap untuk larutan ideal
Untuk penyimpangan negatif yang cukup besar dari hukum Raoult akan diperoleh
minimum pada kurva P-XA, dan maksimum pada kurva T-X dengan azeotrop bertitik
didih maksimum pada gambar (1.3.a dan b) (Rohman, 2000).

(a) (b)
Gambar 1.8.a. Diagram fasa cair-uap P-X Gambar 1.8.b. Diagram T-X untuk sistem
dengan suatu minimum yang sesuai dengan (a)
Definisi larutan ideal dapat diambil sebagai pernyataan Hukum Raoult, yang
bunyinya : “Tekanan uap parsial dari tiap-tiap komponen dalam larutan, sama dengan
tekanan uap komponen tersebut dalam keadaan murni kali fraksi mol dalam larutan”.
Untuk larutan dengan dua komponen A dan B, maka:
nA
PA = PAo . = PAo . XA.......................................(2.1)
nA  nB
nB
PB = PBo . = PBo . XB........................................(2.2)
nA  nB
Dimana:
PA = tekanan uap parsial A
PB = tekanan uap parsial B
XA = fraksi mol komponen A
XB = fraksi mol komponen B
PAo = tekanan uap murni komponen A
PBo = tekanan uap murni komponen B
Sesuai Hukum Dalton, tekanan uap total dalam campuran adalah jumlah tekanan
uap parsialnya.
Ptotal = PA + PB = PAo XA + PBo XB
Karena, XA + XB = 1 - XA, maka pesamaan diatas dapat pula ditulis:
Ptotal = XA PAo + (1 - XA) PBo
= XA PAo + PBo - XA PBo
= PBo + (PAo - PBo) XA (Sukardjo, 1985).
Hukum dalton (dinamai berdasarkan penemunya, John Dalton) kemudian
menyatakan bahwa tekanan total Ptot, adalah jumlah tekanan parsial setiap gas. Hukum
ini berlaku pada kondisi yang sama seperti hukum gas ideal itu sendiri. Untuk campuran
gas pada tekanan rendah, tekanan parsial salah satu komponen, A adalah
RT
PA= nA ............................................. ......................(2.3)
V
Keterangan :
PA = tekanan parsial A
nA = jumlah mol A
R = 0,082 L atm K-1mol-1
T = suhu
V = volume (Oxtoby, 2001).
2.3. Tinjauan Bahan
A. Aquadest
- rumus kimia : H2O
- bau : tidak berbau
- bentuk : cair
- berat molekul : 18,02 g/mol
- densitas : 1 g/cm3
- pH :7
- titik didih : 100 oC
- warna : tidak berwarna
B. Etanol
- rumus kimia : C2H5OH
- bau : berbau
- bentuk : cair
- berat molekul : 46,07 g/mol
- densitas : 0,789 g/cm3
- pH :7
- titik didih : 78,5 oC
- warna : tidak berwarna
2.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
˗ Beakerglass ˗ Aquadest (H2O)
˗ botol aquadest ˗ etanol (C2H5OH)
˗ Erlenmeyer ˗ es batu
˗ gelas ukur
˗ karet penghisap
˗ labu destilasi
˗ labu ukur
˗ neraca
˗ pendingin leibig
˗ piknometer
˗ pipet tetes
˗ pipet volume
˗ statif dan klem
˗ termometer
˗ Waterbath
2.5. Prosedur Percobaan
A. Preparasi larutan
˗ membuat larutan etanol 80%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%, 20%, dan 10%
sebanyak 50 mL.
B. Membuat kurva kalibrasi
˗ menentukan berat kosong piknometer
˗ menentukan suhu aquadest (menetapkan pada 25 oC), dan masukkan aquadest
ke dalam piknometer sampai penuh
˗ menentukan berat aquadest dalam piknometer
˗ menentukan volume piknometer
˗ memasukkan larutan etanol (pada konsentrasi yang telah ditentukan) dalam
piknometer dan menentukan berat jenisnya
˗ membuat grafik antara berat jenis dengan komposisi larutan etanol.
C. Proses destilasi
˗ mencampurkan 150 mL etanol 96% dengan 10 mL aquadest kemudian
memasukkan ke dalam labu destilasi
˗ melakukan destilasi pada larutan tersebut kemudian tampung destilatnya ± 30
mL [destilat(1)] dan menetapkan suhunya pada 25 oC
˗ memasukkan destilat tersebut ke dalam piknometer dan menentukan berat
jenisnya, kemudian destilat dibuang
˗ mengambil residu ± 30 mL pada saat pengambilan destilat (I) [residu (I)],
kemudian mengukur suhu pada labu destilat dan catat (T1)
˗ menambahkan 20 mL aquadest pada labu destilasi
˗ menetapkan suhu residu (I) pada 25 oC, kemudian memasukkan residu (I) ke
dalam piknometer dan menentukan berat jenisnya
˗ memasukkan kembali residu (I) yang telah ditentukan berat jenisnya ke dalam
labu destilasi
˗ melanjutkan proses destilasi dengan cara seperti diatas dengan penambahan
aquadest 30 mL dan 40 mL.
2.6. Data Pengamatan
Tabel 2.1. Data kurva kalibrasi C2H5OH
Berat Larutan Berat Jenis Berat total
No. Komposisi C2H5OH
(gram) (g/cm3) (gram)
1. 80% 21,26 0,8504 44,63

2. 70% 22,07 0,8828 45,44

3. 60% 22,67 0,9068 46,04


4. 50% 23,1 0,924 46,47
5. 40% 23,51 0,9404 46,88
6. 30% 23,87 0,9548 47,24
7. 20% 24,22 0,9688 47,59
8. 10% 24,53 0,9812 47,90
9. 0% 24,83 0,9932 48,20
Tabel 2.2. Data destilat yang dihasilkan pada destilasi

Berat Destilat Berat Jenis Destilat Berat Total


Penambahan
(gram) (g/cm3) (massa+piknometer)
10 mL aquadest 18,83 0,7532 42,20
20 mL aquadest 16,26 0,6504 39,63
30 mL aquadest 13,69 0,5476 37,06

Tabel 2.3. Data residu yang dihasilkan pada destilasi


Berat Jenis
Berat Residu Berat Total
Penambahan Residu Titik Didih
(gram) (massa+piknometer)
(g/cm3)
10 mL 19,19 0,7676 42,56 55 oC
20 mL 20,36 0,8144 43,73 57,5 oC
30 mL 21,53 0,8612 44,90 60 oC

2.7. Data Hasil Perhitungan


Tabel 2.4. Hubungan komposisi dengan berat jenis etanol
Berat Jenis Berat Jenis
Komposisi Komposisi
Titik Didih Destilat Residu
Destilat (%) Residu (%)
(g/cm3) (g/cm3)
55 oC 0,7532 0,7676 146,18% 137,70%
57,5 oC 0,6504 0,8144 206,6 % 110,18 %
60 oC 0,5476 0,8612 267,12 % 82,65 %
2.8. Grafik
1.02
1
Berat Jenis Etanol (gram/cm3)

0.98
0.96
0.94
0.92
0.9
0.88
y = -0.1702x + 1.0017
0.86 R² = 0.9728
0.84
0% 20% 40% 60% 80% 100%
Komposisi Etanol (%)

Grafik 2.1. Hubungan komposisi dengan berat jenis

116 120

114 100
Komposisi Destilat (%)

Komposisi Residu (%)


112
80
110
60
108
40
106

104 20

102 0
54 55 56 57 58 59 60 61
Titik Didih (oC)

Grafik 2.9. Hubungan komposisi dengan titik didih


2.7. Pembahasan
˗ Destilasi merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan titik didih atau kemudahan menguap (volatilitas). Faktor yang
berpengaruh pada proses distilasi adalah jenis bahan yang didestilasi,
temperatur, volume bahan dan waktu distilasi. Namun faktor yang paling
berpengaruh adalah temperatur. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan
sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam
bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih
dulu. Untuk membuat etanol 80% yaitu dengan cara mengambil 41,67 mL dari
etanol 96% kemudian tambahkan aquadest sampai 50 mL.
˗ Pada grafik 2.8 menunjukkan bahwa semakin kecil komposisi etanol dalam
larutan maka berat jenisnya semakin mendekati berat jenis air. Karena
komposisi air lebih banyak daripada komposisi etanol. Sehingga dapat
dikatakan bahwa komposisi etanol berbanding terbalik dengan berat jenisnya.
Hal tersebut ditunjukkan dari data, dimana komposisi etanol 0% mempunyai
berat jenis 0,9932. Sedangkan komposisi etanol 80% mempunyai berat jenis
0,8504 gr/cm3.
˗ Pada grafik 2.9 menunjukkan bahwa komposisi destilat dan residu semakin
kecil di ikuti dengan kenaikan suhu. Hal ini disebabkan karena titik didih air
pada suhu 100 ºC dengan berat jenis 1 gram/cm3 dan untuk etanol pada suhu 60
°C dengan berat jenis 0,8612 g/cm3.
˗ Dari penjelsan di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi titik didih
etanol maka komposisi destilatnya semakin kecil, sedangkan komposisi
residunya yaitu semakin tinggi. Hal tersebut ditunjukkan dari data yaitu pada
titik didih 60 oC komposisi destilatnya yaitu 267,29% sedangkan komposisi
residunya yaitu 82,82%.

2.8. Kesimpulan
˗ Destilasi merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan titik didih atau kemudahan menguap (volatilitas).
˗ Semakin besar komposisi etanol dalam larutan maka berat jenisnya semakin
kecil
˗ Semakin tinggi titik didih maka berat jenis larutan semakin besar.
BAB III
ISOTERM ADSORBSI

3.1. Tujuan Percobaan


- Menentukan pengaruh lama pengocokan terhadap jumlah adsorbat yang
diserap pada proses adsorbsi asam klorida (HCl) dengan karbon aktif.
3.2. Tinjauan Pustaka
Adsorbsi atau penyerapan adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida,
cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penyerap, adsorben)
dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis atau film (zat penyerap, adsorbad) pada
permukaannya berbeda pada adsorbsi yang merupakan penyerapan fluida oleh fluida
lainnya dengan membentuk suatu larutan. Adsorbs secara umum adalah proses
penggumpalan substansi terlarut yang ada dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda
penyerap, dimana terjadi suatu ikatan fisika antara substansi dengan penyerapnya.

Adsorbs dibedakan menjadi 2 jenis yaitu adsorbs fisika (disebabkan oleh gaya Van Der
Waals) penyebab terjadinya kondensasi gas untuk membentuk cairan yang ada pada
permukaan adsorben dan adsorbs kimia (terjadi reaksi antara zat yang diserap dengan
adsorben, banyaknya zat yang teradsorbsi tergantung pada sifat khas zat padatnya yang
merupakan fungsi tekanan dan suhu (id.wikipedia.org). Isoterm adalah perubahan
keadaan gas pada suhu yang tetap. Proses isotermal merupakan
proses termodinamika yang prosesnya berjalan dan suhu gasnya tetap. Persamaan
umum gasnya adalah P.V= n.R.T.
Karena suhunya konstan, maka usaha yang dilakukan gas adalah: W= P.dV =
n.R.T.dV/V.
Karena berlangsung dalam suhu yang kosntan, maka tidak terjadi perubahan energi dan
berdasarkan hukum termodinamika,kalor yang diberikan sama dengan usaha yang
diberikan (Q = W). Proses isoterm dapat dilihat dari gambar di samping. Usaha yang
dilakukan sistem dan kalor dapat dinyatakan sebagai Q-W-n.R.T= ln V1/V2. V1 dan V2
adalah volume akhir dari gas awal. Persamaan keadaan isotomik adalah P1.V1 = P2.V2
Isoterm adsorbsi menjelaskan hubungan adsorbsi dengan tekanan, berdasarkan
teorinya persamaan menyatakan hubungan antara jumlah situs aktif permukaan pada
kesetimbangan dengan tekanan ()
Macam-macam adsorben adalah :
- Karbon aktif
Suatu material yang memiliki pori-pori sangat banyak. Pori-pori ini berfungsi
menyerap apa saja yang dilaluinya.karbon aktif berguna sebagai filter untuk
menjernihkan air (www.karbonaktif.org).
- Zeolite
Zeolite alam dan sintetis membentuk suatu saringan molekul untuk pemisahan
gas-gas dan molekul organik berukuran kecil. Volume suatu zeolite terbentuk
dari suatu rongga-rongga yang saling dihubungkan oleh saluran-saluran,
penyaringan dan aksi penghambatan dari saluran dikombinasikan dengan
aktifitas adsorbsi permukaan matriks kristal sehingga memungkinkan
digunakannya zeolite untuk memisahkan molekul-molekul yang lebih kecil dari
ukuran saluran (Khopkar, 2014)
- Silica amorf

- Kaolin teraktivasi NaOH


- Kaolin
- bentonin
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorbs:
- Kecepatan pengadukan
Kecepatan pengadukan berpengaruh pada kecepatan proses adsorbsi dan
kualitas bahan yang dihasilkan. Jika pengadukan terlalu lambat maka proses
akan berjalan lambat juga tetapi pengadukan terlalu cepat maka muncul
kemungkinan struktur adsorbad mengalami kerusakan
- Luas permukaan
Semakin luas permukaan adsorben maka semakin banyak zat yang teradsorbsi
- Jenis dan karakteristik adsorban
Jenis adsorben yang digunakan pada umumnya adalah karbon aktif. Ukuran
partikel dan luas permukaan karbon aktif akan menentukan tingkat dan
kemampuan adsorbs. Ukuran partikel karbon mempengaruhi tingkat adsorbsi
yaitu tingkat adsorbsi naik jika ukuran partikel kecil
- Jenis dan karakteristik adsorbad
Jenis adsorbad dengan rantai yang bercabang biasanya lebih mudah diadsorbsi
dibandingkan rantai yang lurus. Kemampuan adsorbsi adsorbad biasanya akan
meningkat jika memiliki polarisabilitas dan berat molekul yang tinggi
- Kelarutan adsorbad
Senyawa yang terlarut memiliki gaya tarik menarik yang kuat terhadap
pelarutnya sehingga lebih sulit diadsorbsi dibandingkan dengan senyawa yang
tidak larut.
- Struktur molekul adsorbad dan konsentrasinya
Semakin besar konsentrasi adsorbad dalam larutan maka semakin banyak
jumlah substansi yang terkumpul pada permukaan adsorben
- pH
Tingkat keasaman adsorbad berpengaruh pada proses adsorbsi. Asam organic
lebih mudah teradsorbsi pada pH rendah, sedangkan adsorbsi basah organik
efektif pada pH tinggi
- Temperatur
Naik turunnya tingkat adsorbsi dipengaruhi oleh temperature. Pemanasan
adsorben akan menyebabkan pori-pori adsorben terbuka sehingga daya
serapnya meningkat tetapi pemanasan yang terlalu juga dapat membuat
struktur adsorben rusak sehingga daya serapnya menurun (www.kamusq.com).

Adsorbsi zat terlarut (dari suatu larutan) pada padatan adsorben merupakan hal
yang penting menurut Freundlich jika y adalah berat zat terlarut per gram adsorben dan
c adalah konsentrasi zat terlarut dalam larutan. Dari konsep tersebut dapat diturunkan
persamaan sebagai berikut:
Xm/m = k.C1/n
………………………….…………………………………………….. (1)
Log (Xm/m) = log k + 1/n . log C
………………………….………………………… (2)
Dimana :
Xm = berat zat yang diadsorbsi
m = berat adsorben (zeolit)
C = konsentrasi zat
Kemudian k dan n adalah adsorbsi yang nilainya bergantung pada jenis adsorben
dan suhu adsorbsi. Bila dibuat kurva log (Xn/n) terhadap log c akan diperoleh
persamaan dengan intersep log k dan kemiringan 1/n, sehingga nilai k dan n dapat
dihitung (Handayani dan Sulistiyono, 2009).
Indikator adsorbsi mempunyai beberapa keunggulan. Indikator ini memberikan
kesalahan yang kecil pada penentuan titik akhir titrasi. Perubahan warna yang disesbkan
adsorbsi indikator biasanya tajam. Adsorbsi pada permukaan berjalan baik jika endapan
mempunyai luas permukaan yang besar. Warna adsorbsi tidak begitu jelas jika endapan
terkoagulasi.
3.3. Tinjauan Bahan
A. Aquadest
- rumus kimia : H2O
- berat molekul : 18,02 g/mol
- warna : tidak berwarna
- pH :7
- bau : tidak berbau
- bentuk fisik : cair
- titik didih : 100oC
- densitas : 1 g/cm3
B. Asam klorida
- rumus kimia : HCl
- berat molekul : 36,46 g/mol
- warna : tak berwarna
- titik didih : 48 °C (321 K)
- bentuk fisik : cair
- titik lebur : -27,32oC (247 K)
- kelarutan : tercampur penuh
- densitas : 1,18 g/cm3
C. Asam oksalat
- rumus kimia : C2H2O4
- berat molekul : 90,04 g/mol
- warna : putih
- bentuk fisik : padat
- titik lebur : 189,5°C
- densitas : 1,9 g/cm3
D. Indikator phenolphthalein
- rumus kimia : C20H14O4
- warna : tidak berwarna
- pH : netral
- titik didih : 78,4oC
- titik lebur : - 144,1oC
E. Natrium hidroksida
- rumus kimia : NaOH
- berat molekul : 40 g/mol
- bentuk fisik : zat padat putih
- warna : putih
- pH : 13,5
- titik lebur : 323C
- titik didih : 1388C
3.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
- batang pengaduk - Aquadest (H2O)
- Beakerglass - Asam klorida (HCl)
- botol Aquadest - Asam oksalat (H2C2O4.2H2O)
- buret - Karbon aktif
- corong kaca - Phenolptalein (C20H14O4)
- Erlenmeyer - Natrium hidroksida (NaOH)
- gelas arloji
- karet penghisap
- kertas saring
- labu ukur
- neraca
- pipet tetes
- pipet volume
- statif dan klem
- Stopwatch
- Waterbath shaker

3.5. Prosedur percobaan


A. Aktifasi karbon
- Mengayak karbon aktif sampai berat karbon aktif kurang lebih 15 gram
- Letakkan didalam cawan kecil, lalu masukkan ke dalam oven pada suhu 250o C
- Diamkan selama 3 jam
B. Preparasi larutan
- Buat larutan asamklorida 0,2 N sebanyak 500 mL
- Buat larutan Natriumhidroksida 0,1 N sebanyak 500 mL
- Buat larutan asamoksalat 0,1 N sebanyak 50 mL
C. Standardisasi larutan natrium hidroksida dengan larutan standard asam oksalat
- Pipet 10 mL larutan asam oksalat ke dalam Erlenmeyer dan tambahkan
indicator fenolftalein sebanyak 3 tetes.
- Standardisasi dengan larutan natrium hidroksida sampai warna larutan berubah
dari tidak berwarna menjadi merah muda, dan ulangi percobaan sampai 3 kali.
D. Pengerjaan contoh
- Timbang 1 gram karbon aktif, masukkan ke dalam Erlenmeyer, lakukan
sebanyak 6 kali
- Tambahkan 50 mL larutan HCL 0,2 N pada masing-masing Erlenmeyer,
kemudian tutup Erlenmeyer tersebut dan kocok selama 5, 10, 15, 20, 25 dan
30 menit
- Saring tiap larutan dengan menggunakan kertas saring
- Pipet 10 mL dari tiap larutan lalu titrasi dengan larutan standard NaOH 0,1 N
dengan menggunakan indicator fenolftalein.
3.6. Data Pengamatan
Tabel 3.1. Standardisasi NaOH dengan H2C2O4.2H2O
No Volume H2C2O4.2H2O (mL) Volume NaOH (mL)
1. 10 15
2. 10 14,8
3. 10 15
Tabel 3.2. Volume titrasi NaOH
Bobot Arang Aktif Waktu Volume HCl Volume NaOH
No
(g) (menit) (mL) (mL)
1. 1 5 50 22
2. 1 10 50 22,8
3. 1 15 50 23
4. 1 20 50 21,2
5. 1 25 50 26,1
6. 1 30 50 23,2
3.7. Grafik
0
0 2 4 6 8 10
-2,000
-4,000
-6,000
-8,000
log C

-10,000
-12,000 y = 693.75x - 17728
R² = 0.4232
-14,000
-16,000
-18,000
log x/m

3.1. Grafik hubungan antara log x/m dan log C


3.8. Pembahasan
- Fungsi standarisasi adalah untuk mengetahui konsentrasi larutan secara
praktek lalu membandingkannya secara teoritis.
- Berdasarkan pada hasil praktikum konsentrasi NaOH yang didapat sebesar
0,0669 N berbeda dengan konsentrasi NaOH secara teoritis yaitu 0,1. Hal ini
disebabkan karena larutan NaOH memiliki sifat higrokopis (mudah menguap)
sehingga saat d timbang NaOH telah terkontaminasi
- Fungsi lama pengocokan pada t sama dengan 5,10,15,20,25 dan 30 menit
adalah untuk memperluas karbon aktif sehingga proses adsorbsi berjalan lebih
sempurna
- Pada praktikum asam klorida (HCl) digunakan sebagai adsorbad sedangkan
sebagai adsorbennya digunakan karbon aktif
3.9. Kesimpulan
Semakin lama waktu pengocokan maka semakin banyak HCl yang diserap pada
proses adsorbsi, sehingga konsentrasi HCl akan semakin kecil.
BAB IV
KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI TEMPERATUR

4.1. Tujuan Percobaan


- Menentukan kelarutan zat pada berbagai suhu
- Menentukan kalor pelarutan differensial.
4.2. Tinjauan Pustaka
Suatu larutan adalah campuran homogen dari molekul, atom ataupun ion dari dua
zat lebih atau lebih. Suatu larutan disebut suatu campuran karena susunannya dapat
berubah-ubah. Disebut homogen karena susunannya begitu seragam sehingga tidak
dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis
sekalipun. Dalam campuran heterogen permukaan-permukaan tertentu dapat dideteksi
antara bagian-bagian atau fase-fase yang terpisah. Meskipun semua campuran fase gas
bersifat homogen dan karena itu dapat disebut larutan, molekul-molekulnya begitu
terpisah sehingga tidak dapat saling menarik dengan efektif.
Biasanya dengan larutan dimasukkan fase cair lazimnya salah satu komponen
(penyusun) larutan semacam itu adalah suatu cairan sebelum campuran itu dibuat cairan
yang disebut medium pelarut atau pelarut (solvent), komponen lain yang dapat
berbentuk gas, cairan ataupun zat padat dibayangkan sebagai terlarut ke dalam
komponen pertama. Zat yang terlarut disebut zat terlarut (solute) (Kennan, 1980).
Pengertian kelarutan digunakan dalam beberapa paham. Kelarutan menyatakan
pengertian secara kualitatif dari proses larutan. Kelarutan juga digunakan secara
kuantitatif untuk menyatakan komposisi dari larutan (Sastrohamidjojo, 2005).
Jenis-jenis larutan yaitu:
a. Larutan zat padat dalam cairan
Kebanyakan zat padat menjadi lebih banyak larut ke dalam suatu cairan, bila
temperatur dinaikkan, namun terdapat beberapa zat padat yang kelarutannya
menurun bila temperatur dinaikkan. Contohnya pembentukan suatu larutan kalium
nitrat dalam larutan air, KNO3 pada 20 oC. Zat padat dapat dimurnikan dengan
memanfaatkan beda kelarutan pada temperatur yang berlainan. Untuk kebanyakan
zat bila larutan jenuh panas didinginkan, kelebihan zat padat akan mengkristal.
b. Larutan gas dalam cairan
Kelarutan suatu gas dalam suatu cairan biasanya menurun dengan naiknya
temperatur. Karbon dioksida berbuih-buih dengan hebatnya keluar dari minuman
berkarbonat jika cairan tersebut dipanaskan. Bila air ledeng dipanaskan sampai
hangat, sedikit udara yang terlarut mulai nampak sebagai gelembung kecil.
c. Larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang mengandung zat terlarut dalam
jumlah yang diperlukan untuk adanya untuk kesetimbangan untuk adanya
kesetimbangan antara zat terlarut yang larut dan yang tak larut (Kennan, 1980).
Larutan jenuh yang dalam keadaan terbatas ini disebut larutan jenuh dan konsentrasi
dari larutan jenuh disebut kelarutan dari sejumlah solut dalam jumlah solven tertentu
yang digunakan (Sastrohamidjojo, 2005).
d. Suatu larutan tak jenuh (unsaturated) kalah pekat (lebih encer) dari pada suatu
larutan jenuh. Suatu larutan lewat jenuh mengandung zat terlarut lebih dari pada
yang mungkin secara normal pada temperatur tertentu dan akhirnya kuantitas yang
berlebihan akan mengendap. Larutan lewat jenuh (supersaturated) lebih pekat
dibandingkan suatu larutan jenuh, zat terlarut lebih banyak larut dalam pelarut panas
dari pada dalam pelarut dingin (Keenan, 1980).
Kelarutan suatu zat dalam zat cair berbeda-beda. Hal tersebut bergantung pada
Faktor- faktor yang mempengaruhi kelarutan:
a. Pengaruh suhu
Kelarutan gas dalam air biasanya menurun jika suhu larutan dinaikan. Gelembung-
gelembung kecil yang terbentuk bila air dipanaskan adalah kenyataan bahwa udara
yang terlarut menjadi kurang larut pada suhu-suhu yang lebih tinggi. Tidak ada
aturan yang umum untuk perubahan suhu terhadap kelarutan cairan-cairan dan
padatan-padatan.
b. Pengaruh tekanan
Kelarutan dari semua gas naik jika tekanan parsial dari gas yang terletak di atas
larutan dinaikan (Sastrohamidjojo, 2005).
c. Pengaruh ion sama
Sebuah endapan biasanya lebih larut dalam air murni daripada dalam sebuah larutan
yang mengandung salah satu ion dari endapan.
d. Pelarut
Kebanyakan garam anorganik lebih larut dalam air daripada dalam pelarut organik
dimana ion di dalam sebuah kristal tidak mempunyai tarikan yang besar untuk
pelarut organik dan karenanya kelarutannya biasanya lebih kecil daripada dalam air
(Underwood, 1981).
Ada dua panas pelarutan yaitu panas pelarut integral dan panas pelarutan
diferensial, panas pelarutan integral didefinisikan sebagai perubahan entalpi jika satu
mol zat dilarutkan dalam n mol pelarut. Panas pelarutan diferensial didefinisikan
sebagai perubahan entalpi jika satu mol zat terlarut dilarutkan dalam jumlah larutan
yang tidak terhingga, sehingga konsentrasinya tidak berubah dengan penambahan satu
mol zat terlarut.
Panas pelarutan diferensial dapat diperoleh dengan mendapatkan kemiringan
kurva pada setiap konsentrasi. Jadi panas pelarutan diferensial tergantung pada
konsentrasi larutan (Dogra, 1984).
Secara umum untuk entalpi pelarut positif (endotermis), menurut Van’t Hoff,
semakin tinggi temperatur maka akan semakin banyak zat yang larut. Sedangkan untuk
zat-zat yang panas pelarutannya negatif (eksotermis), maka semakin tinggi suhu akan
makin berkurang zat yang dapat larut dan jika kesetimbangan terganggu dengan
perubahan temperatur, maka konsentrasi larutannya akan berubah. Menurut Van’t Hoff
pengaruh temperatur terhadap kelarutan dapat dinyatakan sebagai berikut:
ΔH
ln s= dengan mengintegralkan dari T1 ke T2 maka akan dihasilkan:
RT 2
ΔH 1
log s= - + C, atau
2,303R T
S2 ∆H −1 −1
In = T1 T2
S1 R
H
In S= - + C……………………............…........................(2.1)
R
Dimana :
S1, S2 = kelarutan zat masing-masing pada temperature 1 dan 2 (g/kg
solven)
ΔH = entalpi pelarutan
R = konstanta gas umum (Indarti, 2014).
4.3. Tinjauan Bahan
A. Aquadest
rumus molekul : H2O
berat molekul : 18,02 g/mol
warna : tidak berwarna
massa jenis : 1 g/cm3
titik didih : 100oC (212 F)
titik lebur : 0 oC
pH :7
B. Asam Oksalat
rumus molekul : H2C2O4
berat molekul : 90,04 g/mol
warna : kristal putih
massa jenis : 4,62 g/cm3
titik lebur : 189,5 oC (373,1 F)
pH : <7
C. Natrium Hidroksida
rumus molekul : NaOH
berat molekul : 40 g/mol
warna : putih
massa jenis : 2,13
titik didih : 1388 oC (2530,4 F)
titik lebur : 323 oC (613,4 F)
D. Phenolphtalein
rumus molekul : C20H14O4
warna : tidak berwarna
titik didih : 78,5 oC (173,3 F)
titik lebur : -114,1 oC (-173,4 F)
pH : 7 (netral)
4.4. Alat dan Bahan
A. Alat-Alat yang digunakan: B. Bahan-Bahan:
- batang pengaduk - Aquadest (H2O)
- Beakerglass - asam oksalat (H2C2O4.2H2O)
- botol Aquadest - es batu
- buret - indikator Fenolftalein
- corong kaca - natrium hidroksida (NaOH)
- Erlenmeyer
- gelas arloji
- karet penghisap
- kayu penjepit
- labu ukur
- neraca
- pipet tetes
- pipet volume
- statif dan klem
- tabung reaksi besar
- termometer
- Waterbath
4.5. Prosedur Percobaan
A. Preparasi Larutan
- Membuat larutan natrium hidroksida 0,5 N sebanyak 250 mL
- Membuat larutan asam oksalat 0,5 N sebanyak 50 mL.
B. Standarisasi larutan natrium hidroksida dengan asam oksalat
- Memipet 10 ml larutan asam oksalat dan tambahkan tetes indikator fenoftalein
- Menitrasi natrium hidroksida dengan asam oksalat sampai warna larutan merah
jambu. Melakukan titrasi sebanyak 3 kali.
C. Pengerjaan contoh
- Menyediakan larutan lewat jenuh asam oksalat dengan cara mengi air ke dalam
tabung reaksi besar kira-kira setengahnya, larutan asam oksalat mendapatkan
endapan
- Melengkapi tabung reaksi dengan termometer dan pengadukan, kemudian
aduk dan panaskan sampai 60 oC dalam waterbath
- Memasukan tabung reaksi ke dalam beaker glass yang berisi es untuk
mendinginkan larutan
o
- Pada saat suhu larutan mencapai 40 C, memipet 10 mL larutan dan
mengencerkan hingga 100 mL pada labu ukur
- Kemudian memipet 10 mL larutan yang telah diencerkan, menambahkan
indikator fenolftalein dan labu ukur
- Kemudian memipet 10 mL larutan yang telah diencerkan, menambahkan
indikator fenolftalein dan menitrasi dengan natrium hidroksida sampai
diperoleh titik akhir
- Melakukan pengerjakan yang serupa pada saat suhu 40oC, 35oC, 30oC, 25oC,
20oC, 15oC dan 10oC.
4.6. Data Pengamatan
Tabel 4.1. Data Standarisasi NaOH dengan asam oksalat
No. Volume asam oksalat (mL) Volume NaOH (mL)

1. 10 12,1
2. 10 12,0
Volume rata-rata asamoksalat (mL) 12,05

Tabel 4.2. Data titrasi NaOH terhadap asam oksalat jenuh pada berbagai suhu
Volume NaOH (mL)
NO Suhu (oC) Volume rata-rata NaOH(mL)
I II
1. 40 5,3 5,2 5,25
2. 35 4,95 4,9 5,05
3. 30 4,7 4,6 4,65
4. 25 4,0 4,1 4,05
5. 20 3,95 3,9 3,92
6. 15 3,85 3,8 3,82
7. 10 3,3 3,2 3,25
Tabel 4.3. Normalitas dan kelarutan asam oksalat pada berbagai suhu
Massa Massa
Suhu N NaOH V NaOH V H2C2O4.2H2O N H2C2O4.2H2O
No solut H2O
(°C) (mL) (mL) (mL) (mL)
(gram) (gram)
1 40 0,2203 5,25 10 0,2178 0,1372 9,8628
2 35 0,2203 5,05 10 0,2095 0,1319 9,8681
3 30 0,2203 4,65 10 0,1929 0,1215 9,8785
4 25 0,2203 4,05 10 0,1680 0,1058 9,8942
5 20 0,2203 3,92 10 0,1626 0,1024 9,8976
6 15 0,2203 3,82 10 0,1584 0,0997 9,9003
7 10 0,2203 3,25 10 0,1348 0,0849 9,9151

Tabel 4.4. Perhitungan Regresi


Suhu 1
Kelarutan (10-3) ln s x2
No T y2 xy(10-3)
0
( C) (K) (S) (y) (10-5)
(x)
1 40 313,15 1,3910 3,1934 0,3300 10,1978 0,1089 1,0538
2 35 308,15 1,3366 3,2452 0,2901 10,5313 0,0841 0,9414
3 30 303,15 1,2299 3,2987 0,2069 10,8814 0,0428 0,6825
4 25 298,15 1,0693 3,3540 0,0670 11,2493 0,0045 0,2247
5 20 293,15 1,0345 3,4112 0,0339 11,6363 0,0011 0,1156
6 15 288,15 1,0070 3,4704 0,0069 12,0436 0,0005 0,0239
7 10 283,15 0,8562 3,5317 -0,1552 12,4729 0,0240 -0,5481
     
  
4.7. Grafik
1.6

1.4 y = 0.0176x - 4.1047


R² = 0.9656
1.2
Kelarutan (S)

0.8

0.6

0.4

0.2

0
280 285 290 295 300 305 310 315
Temperatur (oK)

Grafik 4.1. Hubungan kelarutan terhadap temperatur

4.8. Pembahasan
- Zat yang digunakan pada praktikum ini adalah asam oksalat. Digunakan asam
oksalat karena kelarutannya sangat sensitif terhadap suhu sehingga dengan
berubahnya suhu, kelarutan asam oksalat juga akan berubah. Asam oksalat
dilarutkan sedikit demi sedikit hingga asam oksalatnya tidak dapat larut lagi
dan berubah menjadi larutan jenuh. Setelah terjadi kesetimbangan antara zat
terlarut dalam larutan dan zat yang tidak larut maka dalam kesetimbangan
tersebut kecepatan melarut sama dengan kecepatan mengendap yang artinya
konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap. Tetapi apabila kesetimbangan
diganggu dengan cara suhunya dirubah, maka konsentrasi larutan juga akan
berubah.
- Standarisasi larutan natrium hidroksida dengan larutan asam oksalat, bertujuan
untuk mencari konsentrasi pada larutan natrium hidroksida. Dari standarisasi
natrium hidroksida diperoleh hasil volume titrasi rata-rata sebanyak 12,05 mL
dan dari perhitungan konsentrasi larutan natrium hidoksida diperoleh sebesar
0,4149 N. Sedangkan secara teoritis, konsentrasi natrium hidroksida adalah 0,5
N. Jadi hasil konsentrasi yang didapat dalam praktium jauh beda dengan
konsentrasi natrium hidroksida secara teoritis.
- Secara teoritis menyatakan bahwa pemanasan pelarut dapat mempercepat
larutnya zat terlarut. Pelarut dengan suhu yang lebih tinggi akan lebih cepat
melarutkan zat terlarut dibandingkan pelarut dengan suhu lebih rendah.
Sedangkan secara hasil praktikum yang didapatkan, menyatakan bahwa
semakin tinggi suhu maka kelarutan zat semakin tinggi pula, hal ini
ditunjukkan pada grafik. Jadi, hasil praktikum yang didapat tersebut sudah
sesuai dengan secara teoritis.
- Secara teoritis menyatakan bahwa pengaruh temperatur tergantung dari panas
pelarutan, yaitu bila panas pelarutan (∆H) negatif, daya larut turun dengan
naiknya temperatur. Bila panas pelarutan (∆H) positif, daya larut naik dengan
naiknya temperatur.
- Untuk perhitungan secara analitik seperti pada tabel 4.6.4. Maka dapat dihitung
panas pelarutannya dengan menggunakan persamaan Van’t Hoff yang
menyatakan bahwa jika kesetimbangan terganggu dengan perubahan
temperatur maka konsentrasi larutan akan berubah, maka dengan menggunakan
persamaan Van’t Hoff di atas maka didapatkan 6 ∆H, kemudian dihitung harga
rata-rata sehingga ∆H didapat sebesar 94669,6 J/mol.
4.9. Kesimpulan
- Semakin tinggi suhu maka kelarutan suatu zat juga semakin tinggi. Hal ini
menunjukan bahwa reaksi tersebut bersifat endoterm atau menyerap panas,
sehingga terjadi perpindahan panas dari lingkungan ke sistem. Pada reaksi
endotermis, semakin tinggi suhu maka kelarutan suatu zat juga semakin tinggi.
- Pada percobaan diperoleh panas kelarutan (ΔH) positif secara analitik sebesar
94669,6 J/mol. Hal itu sesuai dengan teori van’t hoff yang menyatakan bahwa
pada umumnya panas pelarutan bernilai (+). Sehingga semakin tinggi suhu
panas akan menaikan jumlah zat terlarut.
BAB V
REKRISTALISASI GARAM DAPUR

5.1. TujuanPercobaan
- Mengetahui pengertian kristalisasi dan rekristalisasi
- Mengetahui berat Kristal murni NaCl hasil praktikum
5.2. Tinjauan Pustaka
Garam yang kita kenal sehari-hari dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan
senyawa kimia yang bagian utamanya adalah Natrium klorida (NaCI) dengan zat-zat
pengotor terdiri dari CaSO4 , MgSO4, MgCI2 dan lain-lain. namun untuk mendapatkan
garam industry tidak dapat diperoleh dengan jalan pencucian garam saja. Hal ini karena
impuritas pada garam ada di dalam kisi Kristal garam bukan hanya pada permukaan
Kristal garam saja, sehingga perlu dilakukan pemurnian garam dengan jalan kristalisasi
(Rositawati dkk, 2013). Kristal adalah benda padat yang mempunyai permukaan-
permukaan datar karena banyaknya zat padat seperti garam, kuarsa, dan salju ada dalam
bentuk-bentuk yang jelas simetris. Barisan tiga-dimensi yang teratur dari titik-titik
serupa dalam suatu zat padat kristal disebut Kisi Kristal (Wood, 1980). Kerapatan ideal
dari Kristal adalah kerapatan teoretis dari satuan sel Kristal, dan didefinisikan sebagai:
M
d
V
Dimana M adalah massa efektif dari satuan sel dan V adalah volume satuan vol
(Dogra, 1990).
Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari pengendapan larutan,
melt (campuran leleh), atau lebih jarang pengendapan langsung dari gas. Kristalisasi
juga merupakan teknik pemisahan kimia antara bahan padat-cair, dimana terjadi
perpindahan massa (mass transfer) dari suatu zat terlarut (solute) dari cairan larutan ke
fasa Kristal padat. (id.wikipedia.org/wiki/kristalisasi).
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau zat
pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah
dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok. Ada beberapa syarat agar
suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu memberikan perbedaan
daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak
meninggalkan zat pengotor pada Kristal, dan mudah dipisahkan dari kristalnya. Prinsip
dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang akan akan
dimurnikan dengan kelarutan zat pencampur atau pencemarnya, larutan yang terbentuk
dipisahkan satu sama lain, kemudian larutan zat yang diinginkan dikristalkan dengan
cara menjenuhkannya (mencapai kondisi supersaturasi atau larutan lewat jenuh). Secara
teoritis ada 4 metode untuk menciptakan supersaturasi dengan mengubah temperature,
menguapkan solven, reaksi kimia, dann mengubah komposisi solven (rositawati dkk,
2013). Pemisahan campuran rekristalisasi cara ini sering dilakukan untuk memisahkan
atau memurnikan suatu zat padat yang dapat mengkristal. Kristal dibentuk oleh ion ion,
atom atom, molekul molekul yang tersusun secara sistematik dan bertahap, sehingga
membentuk geometri tertentu. Bentuk kristal bergantung kepada sifat sifat, ukuran dan
gaya elektrostatik antara ion ion, atom atom, molekul molekul penyusun kristal. Bila
zat mengkristal dari larutannya, ion ion, atom atom, molekul molekul yang berlainan
sifatnya, akan cenderung dikeluarkan dari susunan kristal karena tidak dapat masuk
dalam susunan kristal secara bertahap. Dengan demikian jika kita melakukan
rekristalisasi maka kristal yang didapat akan lebih murni dari kristal sebelumnya
(bisakimia.com).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kristalisasi:
1. Konsentrasi larutan
Agar dicapai proses penempelan yang lebih cepat maka perlu diusahakan agar
larutan pada kejenuhan yang tinggi karena pada kandungan ini sukrosanya lebih
besar dibandingkan pada kejenuhan yang lebih rendah sehingga proses penempelan
pada kristal lebih cepat.
2. Kandungan kotoran
Adanya kotoran di dalam bahan akan menybabkan naiknya visikosivitas sehingga
berakibat turunnya nilai kemurnian hal ini dapat mengakibatkan rendahnya
kecepatan kristalisasi.
3. Bahan pemanas
Merupakan bahan yang sangat diperluhkan guna menguapkan air yang dikandung
oleh larutan dapat menimbulkan sirkulasi yang sangat diperluhkan dalam proses
kristalisasi.
4. Jenis alat
Bejana tipe serpertin umumnya akan lebih lama waktu masuknya dibandingkan
dengan bejana tipe alandria, hal ini karena untuk bejana tipe serpentin membutuhkan
tekanan bahan pemanas yang lebih besar (repository.usu.ac.id).
Kristalisasi memegang peranan yang sangat penting dalam industry kimia. Hal ini
mengingat kurang dari 70% dari produk-produk kimia dihasilkan dalam bentuk
padatan/Kristal. Keuntungan dari menghasilkan produk dalam bentuk padatan antara
lain adalah biaya transportasi yang lebih murah, padatan lebih tahan terhadap kerusakan
akibat terjadinya dekomposisi dan bentuk padatan lebih memudahkan dalam
pengepakkan dan penyimpanan (Unitas,maret 2013).
5.3. Tinjauan bahan
A. Aquadest
- Rumus molekul : H2O
- Berat molekul : 18,02 g/mol
- Warna : tidak berwarna
- pH :7
B. Calium oxide
- Rumus molekul : CaO
- Berat molekul : 56,08 g/mol
- Warna : putih
- pH : basa
C. Barium hydroxide monohydrate
- Rumus molekul : Ba(OH)2.8H2O
- Berat molekul : 189,39 g/mol
- Warna : tidak berwarna
- pH :-
D. Sodium Chloride
- Rumus molekul : NaCl
- Berat molekul : 58,44 g/mol
- Warna : putih
- pH :7
- Titik leleh : 801-1437,8
E. Hydrochloric Acid
- Rumus molekul : HCl
- Berat molekul :-
- Warna :-
- pH : Asam
- Titik didih : 158,58 oC
- Titik leleh : -62,25 oC (-80 oF)

F. Ammonium carbonate
- Rumus molekul : (NH4)2CO3
- Berat molekul : 96,11 g/mol
- Warna : putih
- pH :-
5.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
- Pemanas - Garam dapur
- Beakerglass - CaO
- Gelas ukur - Ba(OH)2
- Corong - (NH4)2CO3
- Pengaduk - Larutan HCl 0,1 M
- Larutan H2SO4 pekat
- Kertas saring
- Kertas pH
5.5. ProsedurPercobaan
- Melarutkan 16 gram garam dapur ke dalam 50 mL air (dalam gelas beaker)
dengan pemanasan sampai mendidih lalu diaduk.
- Menambahkan 0,2 gram CaO ke dalam larutan tersebut
- Menambahkan larutan Ba(OH)2 tetes demi tetes hingga tidak terbentuk lagi
endapan
- Menambahkan larutan (NH4)2CO3 tetes demi tetes sambil diaduk
- Menyaring campuran tersebut ke dalam gelas beaker dan menetralkan filtrat
dengan menambahkan larutan HCl encer tetes demi tetes hingga netral
- Menguapkan larutan sampai kering
- Menimbang NaCl yang diperoleh.
5.6. Data Pengamatan
Tabel 5.6.1. Data Pengamatan rekristalisasi garam dapur
NO. Perlakuan Hasil
1. Perlakuan awal
16 gr NaCl + 100 mL aquades panas Garam melarut sebagian
diaduk dan dipanaskan sampai mendidih
menjadi larutan 1
2. Kristalisasi melalui penguapan
Larutan 1 + 0,2 g CaO Larutan 2 Larutan berwarna putih keruh
Endapan berwarana putih
kekuningan
Larutan 2 + Ba(OH)2 encer Lar.3 Larutan berwarna putih keruh
Endapan berwarana putih
kekuningan
Larutan 3 + (NH4)2CO3 Lar.4 Filtrat berwarna putih
Residu berwarna coklat

3. Penyaringan dan filtratnya dinetralkan


dengan HCl menjadi larutan 5
Rekristalisasi melalui Pengendapan: Larutan berwarna kuning
Larutan 2 + H2SO4 + NaCl Tidak ada perubahan
H2SO4(aq) + 2NaCl(aq)
2HCl(g) + Na2SO4(aq)
Penguapan sampai kering Solven mulai menguap
Kristal berwarna putih
Warna garam NaCl yang
dihasilkan lebih bening
- Penimbangan Berat Kristal 9,91 gram

5.7. Persamaan reaksi:


NaCl +H2O NaOH + HCl
2NaCl + CaO CaCl2 + Na2O
CaCl2 + Na2O + Ba(OH)2 2NaOH + BaCl2 +CaO
2NaOH + Ba(OH) 2 + CaO + (NH4)2CO3 NaCl + Ba(OH) 2 + CaCO3 +
NH4Cl
NaCl + Ba(OH) 2 + NH4Cl + HCl BaCl2 + NaCl + NH3 + Cl2 + H2O
Ba(OH) 2 + HCl BaCl2 + H2O
NaCl + NH4Cl NaCl + NH3 + Cl2
5.8. Pembahasan
- Dengan melarutkan 16 gram garam dapur ke dalam 50 mL air (dalam gelas
beaker) dengan pemanasan sampai mendidih dan diaduk, data yang didapat
garam larut sebagian. Dikarenakan pemanasan tidak sempurna sehingga
campuran tidak homogen. Pencampuran ini bertujuan untuk melarutkan
campuran yang disebut larutan 1
- Penambahn 0,2 gram CaO ke dalam larutan 1 bertujuan untuk memperkeruh
larutan, dengan bentuk CaO sebuk putih kecoklatan, yang disebut larutan 2
- Penambahan larutan Ba(OH)2 tetes demi tetes pada larutan 2 bertujuan agar
melihat ada tidaknya endapan baru yang terbentuk, larutan ini disebut larutan 3
- Penambahan larutan (NH4)2CO3 tetes demi tetes pada larutan 3 sambil diaduk
bertujuan untuk membuat larutan 3 menjadi suasana basa, larutan ini disebut
larutan 4
- Penyaringan campuran atau larutan 4 ke dalam gelas beaker menggunakan
corong pisah yang dilapisi kertas saring bertujuan untuk memisahkan residu
dengan filtratnya, dan menambahkan larutan HCl encer tetes demi tetes pada
filtrat bertujuan untuk menetralkan filtrat tersebut.
- Penguapan filtrat bertujuan untuk mendapatkan Kristal murni NaCl
- Penimbangan NaCl murni didapatkan 9,91 gram dan % rendemen didapatkan
61,93%.
5.9. Kesimpulan
- Pemurnian garam dapur dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu kristalisasi
penguapan
- Metode paling efektif yang dapat digunakan dalam percobaan ini adalah
rekristalisasi mealui pengendapan karena lebih efisien waktu dan kristal yang
didapat lebih murni serta kekuatan garamnya lebih kuat
- Kristalisasi melalui penguapan beratnya adalah 9,91 gram
- Rekristalisasi penguapan rendemen prosentasenya adalah 61,93 %.
BAB VI
KALORIMETRI (SISTEM TERBUKA)

1.3. TujuanPercobaan
Memahami teori kalorimetri sistem terbuka beserta pembuktian teorinya.
6.2. Tinjauan Pustaka
Kalor adalah bentuk energi yang dipertukarkan karena suatu perbedaan suhu.
Kapasitas kalor adalah jumlah energi kalor yang diperlukan untuk mengubah suatu
benda atau zat. Sering dinyatakan sebagai kapasitas kalor molar misalnya, kal mol -1oC-1
atau J mol-1 K-1. Kalor dapat dipikirkan sebagai energi yang dipindahkan karena
perbedaan suhu. Energi sebagai kalor mengalir dari benda yang lebih panas (suhu lebih
tinggi) benda yang lebih dingin (suhu lebih rendah) termodinamika termasuk
termokimia merupakan salah satu segi penting yang menghubungkan energi kalor
dengan bentuk energi lain yang dikenal sebagai kerja (Petruci H.Ralph. 1985).
Secara matematika hukum pertama termodinamika dapat ditulis sebagai berikut:
ΔE = Q – W …………………….……………………..(6.1)
Dimana Q adalah panas total yang diadsorbsi, W adalah kerja yang dilakukan
sistem dan ΔE adalah perubahan energi yang terjadi (Dogra, 1990).
Kalorimeter adalah alat (dimana di dalamnya terdapat bermacam-macam
komponen) yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang dipertukarkan diantara
sistem dan sekelilingnya. Kalori (kal) adalah jumlah klor yang dibutuhkan untuk
meningkatkan suhu satu gram air sebesar satu derajat celcius (secara spesifik dari 14,5
menjadi 15,5 oC); 1 kal = 4,184.
Entalpi (kalor) pembentukan adalah perubahan senyawa dari unsur-unsurnya
dalam bentuk yang paling mantap. Termokimia terutama berhubungan dengan pengaruh
kalor yang menyertai reaksi-reaksi kimia. Sifat dasar kalor dan pengukurannya, serta
perbedaan antara kalor dan kerja yaitu dua bentuk perpindahan energi dalam reaksi-
reaksi kimiawi (Petrucci H.Ralph, 1985).
Kalorimetri adalah ilmu dalam pengukuran panas dari reaksi kimia atau
perubahan fisik. Kalorimetri termasuk penggunaan kalorimeter. Kata kalorimetri berasal
dari bahasa Latin yaitu calor, yang berarti panas. Kalorimetri tidak langsung (indirect
calorimetry) menghitung panas pada makhluk hidup yang memproduksi karbondioksida
dan buangan nitrogen (ammonia, untuk organisme perairan, urea, untuk organisme
darat) atau konsumsi oksigen. Lavosier (1780) mengatakan bahwa produksi panas dapat
diperkirakan dari konsumsi oksigen dengan menggunakan regresi acak. Hal itu
membenarkan teori energi dinamik. Pengeluaran panas oleh makhluk hidup juga dapat
dihitung oleh perhitungan kalorimetri langsung (direct calorymetry), dimana makhluk
hidup ditempatkan didalam kalorimeter untuk dilakukan pengukuran. Jika benda atau
sistem diisolasi dari alam, maka temperatur harus tetap konstan. Jika energi masuk atau
keluar, temperatur akan berubah. Energi akan berpindah dari satu tempat ke tempat
lainnya yang disebut dengan panas dan kalorimetri mengukur perubahan suhu tersebut,
bersamaan dengan kapasitas panasnya, untuk menghitung perpindahan panas.
Kalorimetri adalah pengukuran panas secara kuantitatif yang masuk selama proses
kimia. Kalorimeter adalah alat untuk mengukur panas dari reaksi yang dikeluarkan.
Berikut adalah gambar kalorimeter yang kompleks dan yang sederhana. Kalorimetri
adalah pengukuran kuantitas perubahan panas. Sebagai contoh, jika energi dari reaksi
kimia eksotermal diserap air, perubahan suhu dalam air akan mengukur jumlah panas
yang ditambahkan. Kalorimeter digunakan untuk menghitung energi dari makanan
dengan membakar makanan dalam atmosfer dan mengukur jumlah energi yang
meningkat dalam suhu kalorimeter. Bahan yang masuk kedalam kalorimetri
digambarkan sebagai volume air, sumber panas yang dicirikan sebagai massa air dan
wadah atau kalorimeter dengan massanya dan panas spesifik. Keseimbangan panas
diasumsikan setelah percobaan perubahan suhu digunakan untuk menghitung energi
tercapai (www.kimia.upi.edu).

Gambar 6.1. Kalorimeter Bomb


Azas Black menyatakan sebagaimana diketahui, kalor adalah energi yang pindah
dari benda yang suhunya tinggi ke benda yang suhunya rendah. Oleh karena itu,
pengukuran kalor menyangkut perpindahan energi. Energi adalah kekal, sehingga
benda yang suhunya tinggi akan melepas energi QL dan benda yang suhunya rendah
akan menerima energi QT dengan besar yang sama (Wijanarko, 2013).
Metode yang digunakan dalam laboratorium adalah untuk mengukur panas dari
suatu reaksi kimia.
qlarutan + qreaksi = 0 …………………………………(6.2)
Kalor dapat dipikirkan sebagai energi yang dipindahkan karena perbedaan suhu.
Energi sebagai kalor mengalir dari benda yang lebih panas (Suhu lebih tinggi) ke benda
yang lebih dingin (suhu lebih rendah). Pada tingkat molekul ini berarti bahwa molekul
Jenis-jenis kalorimeter antara lain:
- Kalorimeter Bomb
Kalor pembakaran biasanya diukur dengan menempatkan senyawa dengan masa
terntentu dalam wadah baja, disebut dengan kalorimeter bomb volume konstan, yang
diisi dengan oksigen pada tekanan 30 atm. Kalorimeter bomb dicelupkan dalam
sejumlah air. Sampel dihubungkan ke listrik, dan kalor yang dihasilkan oleh
pembakaran dapat dihitung secara akurat dengan mencatat kenaikan suhu air. Kalor
yang dihasilkan sampel diserap oleh air dan kalorimeter. Kalorimeter bomb didesain
khusus memungkinkan kita untuk berasumsi bahwa tidak ada kalor (massa) yang
hilang ke lingkungan selama waktu pengkuran. Oleh karena itu kita dapat menyebut
kalorimeter dan air tempat pencelupan sebagai sistem terisolasi. Karena tidak ada
kalor yang masuk atau keluar sistem selama proses (indoherbals.co.id).
- Kalorimeter Sederhana
Kalorimeter sederhana adalah kalorimeter yang digunakan untuk mengukur kalor
reaksi yang berlangsung dalam fase larutan karena itu disebut juga kalorimeter
larutan. Jadi kalorimeter larutan adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah
kalor yang terlibat pada reaksi kimia dalam sistem larutan. Pada dasarnya kalor
yang dibebaskan/diserap menyebabkan perubahan suhu per kuantitas pereaksi
kemudian dihitung kalor reaksi dari sistem larutan tersebut. Beaker alumunium dan
gelas plastik jenis polistirin (busa) dapat digunakan sebagai kalorimeter sederhana
dengan thermometer sebagi pengaduk. Keuntungan menggunakan gelas plastik
sebagai kalorimeter adalah murah harganya dan setelah dipakai dapat dibuang. Dan
kalorimeter yang biasa digunakan dilaboratorium fisika berbentuk bejana biasanya
silinder dan terbuat dari logam misalnya tembaga atau almunium dengan ukuran 75
mm x 50 mm (garis tengah). Bejana ini dilengkapi dengan alat pengaduk dan
diletakkan didalam bejana yang lebih besar yang disebut mantel/jaket. Mantel/jaket
tersebut berguna untuk mengurangi hilangnya kalor karena konveksi dan induksi
(Wijanarko, 2013).
Perbedaan sistem terbuka, sistem tertutup dan sistem terisolasi:
1. Sistem terbuka, pada sistem ini energi maupun materi dapat dipertukarkan secara
bebas dengan lingkungannya. Dalam kehidupan nyata atau sehari- hari sistem ini
banyak sekali dijumpai, misalnya kita meletakkan kapur barus (naftalena) di antara
buku atau baju- baju, kapur barus akan menguap, jadi ada materi yang dipertukarkan
yaitu antara uap naftalena dan udara. Atau botol yang berisi cuka atau alkohol. Di
laboratorium semua reaksi kimia yang dilakukan umumnya dilakukan dengan sistem
terbuka.
2. Sistem tertutup, sistem ini memungkinkan terjadinya pertukaran energi, tetapi tidak
memungkinkan terjadi pertukaran materi dengan lingkungannya. Dalam bahasa
sehari- hari dapat dikatakan sistem berada dalam suatu tempat yang ditutup rapat,
tetapi kita masih dapat mengamati perubahan suhu dari dinding sistem. Contoh
botol-botol zat kimia yang masih disegel, susu kaleng, makanan kaleng.
3. Sistem terisolasi, sistem ini sama sekali tidak memungkinkan melakukan pertukaran
baik energi maupun materi dengan lingkungannya.
Contoh aplikasi kalorimetri dalam kehidupan sehari- hari adalah termos. Di
laboratorium ada yang dikenal sebagai termostat, kalorimeter, maupun instrumen untuk
reaksi- reaksi in-situ menggunakan sistem terisolasi (Wijanarko, 2013).
6.3. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
- batang pengaduk - Aquadest (H2O)
- Beakerglass - asam klorida (HCl)
- Erlenmeyer - natrium hidroksida (NaOH)
- gelas arloji
- karet penghisap
- labu ukur
- penangas air
- peralatan sistem
- pipet volume
- termometer
6.4. Tinjauan Bahan
A. Aquadest
- Rumus kimia : H2O
- Berat molekul : 18,02 g/mol
- Bentuk fisik : cair
- Densitas : 0,62 g/cm3
- Titik didih : 100°C
- Titik lebur : 0°C
- Warna : tidak berwarna
- pH :7
B. Asam klorida 32%
- Rumus kimia : HCl
- Berat molekul : 36,46 g/mol
- Bentuk fisik : cair
- Densitas : 1,18 g/cm3
- Warna : cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat
- Titik didih : 48°C (321 K)
- Titik lebur : 100°C
C. Natrium hidroksida
- Rumus molekul : NaOH
- Massa molar : 40 g/mol
- Bentuk : cair
- Warna : putih
- Titik lebur : 323C
- Titik didih : 1388C
- Densitas : 2,1 g/cm3
- Kelarutan : mudah larut dalam air
6.5. ProsedurPercobaan
A. Kalibrasi alat
- Memasukkan VS1 mL air dingin dengan suhu normal ke dalam calorimeter
bagian sistem dan amati suhunya Ts1
- Memasukkan VL mL (VL=2 x VSI) air dingin ke bagian lingkungan dan amati
suhunya (TL1)
- Memanaskan VS2 mL air dingin dengan suhu normal sampai temperaturnya
naik 100C TS2
- Mencampurkan air yang telah dipanaskan dengan suhu TS2, ke dalam bagian
sistem kalorimeter yang telah berisi air dingin dengan suhu TS2
- Mengaduk keduanya hingga tercampur
- Menentukan suhu campuran di dalam sistem (TS3) dan suhu di bagian
lingkungan (TL3).
B. Penentuan perubahan entalpi penetralan
- Memasukkan 50 mL air dingin ke dalam lingkungan
- Menyamakan suhu natrium hidroksida dan asam klorida
- Mencampurkan 25 mL natrium hidroksida dan 25 mL asam klorida ke dalam
sistem
- Mengaduk hingga tercampur
- Menentukan suhu campuran di dalam sistem dan suhu di bagian lingkungan.
6.6. Data Pengamatan
A. Tabel 6.1 Kalibrasi alat
Suhu Suhu
No Nama Zat Keadaan awal Keadaan setelah reaksi
(oC) (K)
Jernih,
Jernih,
Air dingin Tidak
1 28 301 Tidak berwarna,
system berwarna,
Tidak berbau
Tidak berbau
Jernih,
Jernih,
Air dingin Tidak
2 28 301 Tidak berwarna,
lingkungan berwarna,
Tidak berbau
Tidak berbau
Jernih,
Air panas Jernih,
Tidak
3 sebelum 38 311 Tidak berwarna,
berwarna,
dimasukkan Menguap
Menguap
Setelah pencampuran
Setelah Jernih,
Jernih, Tidak berwarna,
dicampur, Tidak
4 32 305 Tidak berbau,
Kondisi pada berwarna,
Terjadi kenaikan suhu
system Tidak berbau
Jernih, Tidak Jernih, Tidak berwarna,
Kondisi pada
5 29 302 berwarna, Tidak berbau,
lingkungan
Tidak berbau Terjadi kenaikan suhu
B. Tabel 6.2 Penentuan perubahan entalpi penetralan
Suhu Suhu
No Nama Zat Keadaan awal Keadaan setelah reaksi
(oC) (K)
Granula putih,
agak panas, tidak
1 NaOH 29 302 agak panas,
berbau
tidak berbau
Jernih, Tidak
Tidak berwarna,
berwarna,
2 HCl 29 302 dingin, berbau
dingin, berbau
menyengat
menyengat
Jernih, Tidak
Air suhu Tidak berwarna, Tidak
3 28 301 berwarna,
lingkungan berbau
Tidak berbau
Setelah pencampuran
Setelah Jernih, Tidak Jernih, berbau
pencampuran:
4 33 306 berwarna, menyengat, terjadi
Kondisi pada
system Sedikit panas kenaikan suhu

Jernih, Tidak Jernih, Tidak berwarna,


Kondisi pada
5 30 303 berwarna, Tidak berbau, Terjadi
lingkungan
Tidak berbau kenaikan suhu

6.7. Pembahasan
- Berdasarkan sistem teori terbuka terjadi pertukaran energi (panas dan kerja)
dan benda dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan percobaan yang
berlaku.
- Penentuan harga k digunakan untuk mengetahui nilai kalibrasi alat yang
digunakan dalam percobaan. Kalibrasi alat dilakukan dengan prosedur yaitu
memasukkan 50 mL air dingin dengan suhu normal (28C) ke dalam
lingkungan, lalu menambahkan air dingin 25 mL dengan suhu 28C ke sistem,
kemudian masukkan air yang suhunya dinaikkan 10C dari suhu awal (air
panas) sebanyak 25 mL ke sistem. Setelah itu mengaduk campuran air panas
dan air dingin yang berada di dalam sistem. Kemudian menentukan suhu
campuran di dalam sistem dan suhu di dalam lingkungan. Perubahan suhu
sistem yaitu sebesar 4C, kemudian perubahan suhu di lingkungan sebesar 1C
dan suhu campuran yang didapat adalah sebesar 32C (305 K).
- Perubahan entalpi penetralan diperoleh dengan cara memasukkan 50 mL air
dingin ke dalam lingkungan dan menyamakan suhu NaOH dan HCl, lalu
mencampurkan 25 mL NaOH dan 25 mL HCl ke dalam sistem, mengaduk
hingga tercampur dan menentukan suhu campuran di dalam sistem sebesar
306 K dan suhu dibagian lingkungan 303 K.
6.8. Kesimpulan
Pada sistem terbuka terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) dan benda dengan
lingkungannya. Sistem tidak dapat terisolasi sepenuhnya dari lingkungan karena
terjadi sedikit pencampuran, meskipun hanya penerimaan sedikit gravitasi dalam
analisis sistem terisolasi energi yang masuk ke sistem sama dengan energi yang
keluar dari sistem.
BAB VII
SISTEM KOLOID

7.1. Tujuan Percobaan


Mengetahui dan membedakan cara pembuatan koloid secara dispersi dan
kondensasi
7.2. Tinjauan Pustaka
Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara
larutan dan suspensi (suspensi = campuran kasar). Sistem koloid mempunyai sifat-sifat
khas yang berbeda dari sifat larutan ataupun suspensi. Sistem koloid perlu dipelajari
karena berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Cairan tubuh, seperti darah, adalah
sistem koloid; bahan makanan, seperti susu, keju, nasi, dan roti adalah sistem koloid;
cat, obat, bahan kosmetik, tanah pertanian juga merupakan sistem koloid (Suryani,
2005).
Koloid ada 3 jenis faktor , tergantung dari pada jenis partikelnya yaitu:
- Dispers koloid: terdiri dari zat-zat yang tidak larut dengan partikel-partikel yang
terdiri dari gabungan banyak molekul, misalnya dispers koloid Au, As2, S3, minyak
dalam air dan sebagainya
- Larutan makro molekul: berupa larutan dari zat-zat dengan bentuk molekul yang
besar, hingga mempunyai ukuran koloid, misalnya protein, polivinil alkohol, larutan
karet atau polimer-polimer lain dalam pelarut organik
- Asosiasi koloid: terdiri dari larutan zat-zat yang larut dengan B.M. rendah, tetapi
membentuk agregat-agregat, misalnya larutan sabun (Sukardjo, 1985).
Dalam pembicaraan larutan telah dikenal adanya perbedaan antara campuran
homogen dan heterogen. Ternyata pembedaan tersebut tidak tepat betul. Ada sistem
yang tidak dapat dikategorikan homogen maupun heterogen; senyawa tersebut dikenal
sebagai koloid, contoh: asap rokok, fog, emulsi, buih, dan albumin.
Berikut ini jenis-jenis koloid yang dibedakan berdasarkan fasa zat terdispersi dan
medium pendispersi, yaitu:
Tabel 7.1 Jenis-jenis koloid berdasarkan fasa zat terdispersi dan medium pendispersi
Medium Senyawa yang
Tipe koloid Contoh
pendispersi didispersi
Cairan Gas Buih Sabun, krim
Cairan Cairan Emulsi Mayones, susu, “face cream”
Protoplasma, pati, gelatin, jelly,
Cairan Padatan Sol, gel
lempung (clay)
Gas Cairan Aerosol cair Fog, mist, aerosol spray
Gas Padatan Aerosol padat Smoke,airbone bacteria, virus
Padatan Gas Buih padatan Aerogel, buih-poliurethan
Emulsi padat, Keju
Padatan Cairan
gel
Padatan Padatan Sol padatan Alloy, ruby glass

Keterangan:
1. Sol (padatan terdispersi dalam cairan). Sol biasanya dibentuk dengan pemecahan
padatan menjadi partikel-partikel kecil berdimensi koloid dan partikel-partikel
tersebut terdispersi dalam fase cairan.
2. Aerosol (padatan atau cairan terdispersi dalam gas). Partikel-partikel koloidal dalam
aerosol terdiri atas cairan atau partikel-partikel padatan yang terdispersi dalam gas
seperti udara.
3. Emulsi (cairan terdispersi dalam cairan). Contoh umum dari koloid ini adalah susu,
merupakan lemak yang terdispersikan dalam air. Gel merupakan tipe koloid yang
tidak lazim, suatu cairan mengandung padatan yang tersusun dalam kerangka
jaringan yang bagus. Contoh: jelly, agar-agar, gelatin dsb
4. Buih atau foam (gas terdispersi dalam cairan atau padatan). Buih biasanya
dihasilkan dengan meniupkan udara kedalam fasa cair, seperti padat buih sabun
(Sastrohamidjojo, 2005).
Mengingat besarnya ukuran partikel-partikel terdispersi dalam sistem koloid
tertentu maka sistem ini tidak dapat dibuat dengan cara yang sama seperti membuat
larutan sejati. Selain itu satu syarat yang harus dipenuhi dalam pembuatan sistem koloid
yaitu fase yang terdispersi tidak boleh larut dalam medium pendispersi atau sebaliknya.
Secara umum ada dua cara untuk membuat sistem koloid yaitu cara kondensasi dan
dispersi.
a. Cara Kondensasi
Dalam cara ini, ion-ion, atom-atom dan molekul-molekul yang lebih kecil ukurannya
dari ukuran partikel koloid diperbesar menjadi partikel-partikel sebesar partikel
koloid. Kondensasi umumnya merupakan hasil dari suatu reaksi kimia. Contoh dari
reaksi-reaksi ini adalah sebagai berikut:
- Reaksi Pemindahan
Sol As2S3 dapat dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan asam arsenit
yang sangat encer pada suhu tertentu.
2 H2AsO3(aq) + 3 H2S(g) → 6 H2O(l) + As2S3(s)
(asam arsenit) (hidrogen sulfida) (air) (arsen trisulfida)
- Reaksi Hidrolisis
FeCl3(aq) + 3 H2O(l) → Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)
(besi klorida) (air) (besi (III) hidroksida) (asam klorida)
- Reaksi Redoks
2 H2S(g) + SO2(g) → 2 H2O(aq) + S(s)
(hidrogen sulfida) (sulfur dioksida) (air) (belerang)
b. Cara Dispersi
Pembuaatan sistem koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan cara mengubah
partikel-partike kasar menjadi partikel yang berukuran koloid. Cara ini biasanya
dilakukan dengan menggunakan penggiling koloid. Zat yang telah digiling halus
didispersikan ke dalam cairan, cara dispersi yang lain yaitu dengan peptisasi.
Menurut cara ini partikel endapan yang kasar dipecah-pecah menjadi partikel koloid
dengan penambahan suatu elektrolit (Legiman, 2008).
Selain memiliki jenis-jenis, koloid juga memiliki sifat-sifat diantaranya sebagai berikut:
- Efek Tyndall
Bila berkas sinar dilewatkan melalui larutan atau cairan murni, maka batas berkas
sinar tidak terlihat bila dipandang dari sisi samping. Namun, bila berkas sinar
tersebut dilewatkan pada koloid, maka kita dapat melihat batas atau jalan sinar.
Efek atau gejala tersebut disebut: Efek Tyndall. Efek tyndall teramati setiap hari
di alam. Contoh: kita melihat awan sebagai hasil pembauran sinar oleh partikel-
partikel air koloid, yang mencegah sejumlah sinar jatuh kepermukaan bumi.
- Gerak Brown
Bila mikroskop diarahkan pada berkas sinar tyndall, maka partikel koloid sendiri
terlalu kecil untuk dapat dilihat, tetapi posisi dapat diarahkan dengan
memperhatikan darimana cahaya muncul. Bila pengamatan dilakukan dengan cara
tersebut, maka partikel-partikel terlihat dalam keadaan gerak brown, cepat, acak,
gerak zig-zag. Partikel koloid yang lebih kecil gerak brownnya lebih cepat
(Sastrohamidjojo, 2005).
- Muatan Koloid, meliputi elektro foresis dan adsorbsi.
Elektroforesis yaitu pergerakan partikel koloid dibawah pengaruh medan listrik.
Partikel koloid yang bermuatan positif akan menuju katode, dan sebaliknya.
Sedangkan adsorbsi adalah peristiwa penyerapan suatu molekul atau ion pada
permukaan zat. Sifat adsorbsi dari sistem koloid dapat kita manfaatkan antara lain,
pada proses penyembuhan sakit perut (diare oleh serbuk karbon (norit) dan proses
pemutihan gula pasir).
- Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid membentuk endapan. Apabila
koagulasi terjadi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi
dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pencampuran koloid
yang berbeda muatan.
- Koloid pelindung
Koloid pelindung adalah koloid yang dapat melindungi koloid lain dari proses
koagulasi atau penggumpalan. Koloid pelindung ini akan membungkus partikel
zat terdispersi sehingga tidak dapat lagi mengelompok.
- Dialisis
Dialisis adalah pemisahan koloid dari ion ion terlarut.koloid dimasukkan ke dalam
kantong yang terbuat dari selaput semi permiabel yaitu selaput yang dapat
dilewati molekul atau ion tetapi tidak dapat dilewati partikel koloid.
- Koloid liofil dan koloid liofob
Kolid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan koloid
liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil apabila terdapat gaya tarik menarik yang
cukup besar antara zat terdispersi dengan mediumnya. Liofil berarti suka cairan
(Yunani: lio = cairan, philia = suka). Sebaliknya suatu koloid disebut koloid
liofob jika gaya tari menarik tersebut tidak ada atau sangat lemah. Liofob berarti
tidak suka cairan ( Yunani: lio = cairan, phobia = takut atau benci). Contoh koloid
hidrofil yaitu: sabun, detergen, agar-agar, kanji, dan gelatin. Sedangkan contoh
dari koloid hidrofob yaitu: sol belerang, sol Fe(OH)3, sol-sol sulfida, dan sol-sol
logam (Qudsiyah, 2013).
Sistem koloid sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh,
hampir semua bahan pangan mengandung partikel dengan ukuran koloid, seperti
protein, karbohidrat, dan lemak. Emulsi seperti susu juga termasuk koloid. Dalam
bidang farmasi, kebanyakan produknya juga berupa koloid, misalnya krim, salep adalah
emulsi. Dalam industri cat, semen dan industri karet untuk membuat ban semuanya
melibatkan system koloid. Semua bentuk spray untuk serangga, cat, hairspray, dan
sebagainya adalah juga koloid. Dalam bidang pertanian, tanah juga dapat digolongkan
sebagai koloid. Jadi terlihat betapa pentingnya koloid dalam kehidupan manusia (Bird,
1993).
7.3. TinjauanBahan
A. Aquadest
- Rumus molekul : H2O
- Bentuk : cair
- Bau : tidak berbau
- Berat molekul : 18,02 g/mol
- Warna : tidak berwarna
- pH :7
- Titik didih : 100oC
- Densitas uap : 0,62 (air = 1)
- Tekanan uap : 2,3 kPa
B. Alkohol 95%
- Rumus molekul : CH3CH2OH
- Bentuk : cair
- Berat molekul : 46,07 g/mol
- Warna : tidak berwarna
- Titik didih : 78,3oC
- Densitas uap : 1,6 (air= 1)
- Tekanan uap : 5,87 kPa
C. Kalsium asetat
- Rumus molekul : C4H6CaO4
- Bentuk : padat
- Berat jenis : 1,5
- Berat molekul :158,17 g/mol
- Warna : putih
D. Larutan FeCl3
- Rumus molekul : FeCl3
- Bentuk : padat
- Berat jenis : 2,9
- Berat molekul : 162,21 g/mol
- pH :2
- Titik didih : 316 oC
- Densitas uap : 5,61 (Air=1)
E. Serbuk belerang
- Rumus molekul :S
- Bentuk : padat
- Berat jenis : 2,07
- Berat molekul : 32,06 g/mol
- Warna : kuning
- Titik didih : 445 oC
- Titik beku : 112 oC
F. Sukrosa
- Rumus molekul : C12H22O11
- Bentuk : padat
- Berat jenis : 1,587
- Berat molekul : 342,3 g/mol
- Warna : putih
7.4. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan:
- batang pengaduk - agar-agar
- Beakerglass - alkohol 95% (C2H5OH)
- cawan porselen - Aquadest (H2O)
- gelas ukur - gula pasir (C12H22O11)
- mortar dan stamper - kalsium asetat (C4H6CaO4)
- pipet tetes - larutan Ferric klorida (FeCl3)
- rak tabung - larutan sabun
- tabung reaksi - minyak tanah
- Waterbath - serbuk belerang (S)

7.5. Prosedur Percobaan


A. Pembuatan sol dengan cara dispersi
a. Sol belerang dalam air
- Mencampurkan 2 gram bagian gula dengan 2 gram bagian serbuk belerang
dan dihaluskan dalam cawan porselen
- Mengambil 2 gram dari campuran pertama, menambahkan dengan 2 gram
bagian gula dan dihaluskan dalam cawan porselen.
- Mengulang langkah nomer 2 sampai 4x pengulangan
- Mengambil 2 gram campuran ke empat dan memasukkan ke dalam
Beakerglass 100 mL yang berisi 50 mL Aquadest, mengamati hasilnya.
b. Sol agar-agar dalam air
- Menimbang agar-agar sebanyak 2 gram dan melarutkan ke dalam
Beakerglass 400 mL yang berisi 250 mL Aquadest mendidih
- Mendinginkan larutan tersebut selama 15 menit, mengamati hasilnya.
B. Pembuatan sol dengan cara kondensasi
- Memanaskan 50 mL Aquadest dalam Beakerglass 100 mL sampai mendidih
- Menambahkan larutan FeCl3 jenuh setetes demi setetes sambil diaduk hingga
terjadi perubahan warna merah kecoklatan, mengamati hasilnya.
C. Pembuatan Emulsi
- Memasukkan 1 mL minyak tanah dan 5 mL air ke dalam tabung reaksi,
mengguncangkan tabung reaksi dengan keras setelah terlebih dahulu disumbat
dengan tutup gabus atau karet. Meletakkan pada rak tabung.
- Memasukkan 1 mL minyak tanah, 5 mL air, dan menambahkan 15 tetes larutan
sabun ke dalam tabung reaksi, mengguncangkan tabung reaksi dengan keras
terlebih dahulu disumbat dengan tutup gabus atau karet, meletakkan pada rak
tabung.
- Mengamati perubahan pada kedua tabung reaksi.
D. Pembuatan gel kalsium asetat alkohol
- Menimbang 1 gram kalsium asetat
- Memipet 2 mL alkohol 95%
- Memasukkan kedua bahan secara bersamaan kedalam cawan porselen, hasil
campuran merupakan gel.
- Mengambil sedikit gel dan memasukkan ke dalam cawan porselen lain,
kemudian dibakar. Diamati perubahannya.
7.6. Data Pengamatan
Tabel 7.3. Data Pengamatan
Perlakuan Pengamatan
A. Pembuatan sol dengan cara dispersi
a. Sol belerang dalam air
1. Gula + belerang dihaluskan campuran 1 - Bentuk : serbuk
- Warna : kuning tua
- Bau : belerang
2. Pengulangan camp. (1) sebanyak 4x - Bentuk : serbuk
dihaluskan - Warna : putih
pengulangan campuran 4
- Bau : belerang
3. campuran 4 + Aquadest Lar.1 - Bentuk : larutan
- Warna : putih keruh, ada endapan
berwarna putih dan
terdapat kotoran di
permukaan yang tidak
dapat larut dalam Aquadest
pada larutan
b. Sol agar-agar dalam air - Bau : tidak berbau
dipanaskan
1. Aquadest Lar. 1 - Bentuk : cairan
- Warna : bening
- Bentuk : cair dan ada endapan
2. Larutan 1 + Agar-agar Lar. 2 - Warna : putih
- Bau : bau khas agar-agar
B. Pembuatan Sol dengan Cara Kondensasi
dipanaskan
1. Aquadest (mendidih) Lar. 1 - Bentuk : cairan
- Warna : bening
- Bau : tidak berbau
2. Lar 1 + FeCl3 (tetes demi tetes) - Bentuk : cairan
Larutan 2 - Warna : merah kecoklatan
- Bau : tidak berbau
C. Pembuatan Emulsi - Bentuk : cairan, minyak tanah
1. Minyak tanah + Aquadest Lar. 1 berada di permukaan
- Warna : bening kecoklatan
- Bau : bau khas minyak tanah
2. Minyaktanah + Aquadest + Lar.Sabun - Bentuk : cairan dan terdapat busa
Lar. 2 - Warna : putih
- Bau : minyak tanah sedikit bau
khas sabun
D. Pembuatan gel kalsium asetat alcohol
1. Larutan kalsium asetat + alkohol 95% - Bentuk : gel
Gel - Warna : putih
- Bau : tidak berbau
2. Setelah dibakar - Bentuk : padatan
- Warna : biru kekuningan
- Bau : tidak berbau
7.7. Dokumentasi Percobaan

Gambar 7.7.1 Sol belerang dalam air Gambar 7.7.2 Sol agar-agar dalam air

Gambar 7.7.3 Sol dengan cara kondensasi Gambar 7.7.4 Pembuatan emulsi

Gambar 7.7.5 Pembuatan gel kalsium Gambar 7.7.6 Pembakaran gel kalsium
asetat alkohol asetat alcohol
7.8. Pembahasan
- Pembuatan Sol dengan Cara Dispersi
Adalah suatu cara pembuatan larutan koloid dengan mengubah partikel-
partikel kasar menjadi partikel koloid. Dalam praktikum ini khususnya pada
pencampuran gula dan belerang, sol belerang dibuat dengan cara mengerus
serbuk belerang bersama gula pasir, kemudian mencampur serbuk tersebut
dengan air. Dari penjelasan tersebut dapaaat dibuktikan bahwa hasil percobaan
sesuai dengan teori pembutan secara dispersi yaitu dengan cara mekanik.
- Pembuatan Sol dengan Cara Kondensasi
Dapat dilakukan dengan cara kimia atau dapat dilakukan dengan cara
penurunan kelarutan. Dalam percobaan ini ditambahkan laarutan FeCl3 dalam
aquades mendidih, terjadi perubahan warna larutan menjadi merah kecoklatan.
- Pembuatan Emulsi
Emulsi (cairan terdispersi dalam cairan). Contoh umum dari koloid ini adalah
susu, merupakan lemak yang terdispersikan dalam air. Dalam percobaan ketika
minyak dan Aquaadest dicampurkan begitu pula ketika minyak, Aquadest, dan
larutan sabun dicampurkan, larutan minyak terdispersi dalam Aquadest, begitu
juga dengan larutan minyak yang terdispersi didalam larutan sabun. Hal ini
membuktuikan bahwa emulsi terdiri dalam pencampuran minyak dan sabun.
- Pembuatan Gel Kalsium Asetat Alkohol
Gel merupakan tipe koloid yang tidak lazim, suatu cairan mengandung padatan
yang tersusun dalam kerangka jaringan yang bagus. Dalm percobaan, ketika
larutan kalium asetat dicampur dengan alkohol, laarutan membentuk gel. Dari
penjelasan tesebut dapat dibuktikan bahwa hasil percobaan sesuai dengan teori
pembuatan gel.
7.9. Kesimpulan
Pembutan koloid dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu cara dispersi dan
kondensasi. Pembuatan koloid secara dispersi adalah suatu cara pembuatan larutan
koloid dengan mengubah partikel-partikel kasar menjadi partikel koloid, sedangkan
pembutan koloid dengan cara kondensasi yaitu dapat dilakukan dengan cara kimia atau
dapat dilakukan dengan cara penurunan kelarutan.

Anda mungkin juga menyukai