MAKALAH PENGOLAHAN LIMBAH
INDUSTRI TAPIOKA
DISUSUN OLEH:
Lalu Topan Sulistiyono 1714008
P Dimas Anggi Prayoga 1714017
Chandra Galih Wicaksono 1714023
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG
2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Limbah adalah suatu buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri
maupun domestic, yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki
lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu,
kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan
manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan
yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
Di Indonesia, Industri tapioka adalah tergolong industri yang dikelola dalam bentuk
industri kecil, industri menengah maupun industri besar. Di Indonesia industri tapioka ini
terdapat di berbagai daerah dalam potensi yang cukup besar, misalnya di daerah Pati, Batang,
Temanggung, Wonosobo, dan D.I. Yogyakarta. Tapioka tennasuk salah satu komoditi yang
akan terns berkembang. Per-kembangan ini tentu saja akan memberikan dampak positif di
berbagai bidang yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Pengaruh tersebut antara lain
meningkatnya kesempatan kerja, juga bertambahnya pendapatan masyarakat dan kaum
pengusaha. Namun selain memberi dampak positif, keberadaan industri tapioka juga
menimbulkan dampak negatif. Salah satunya adalah pencemaran lingkungan yang
diakibatkan oleh air buang-an dari industri tapioka.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah:
a. Apa pengertian dari limbah tapioka ?
b. Darimana sumber limbah tapioka tersebut ?
c. Bagaimana jenis dan penggolongan limbah tapioka?
d. Bagaimana karakteritik limbah tapioka?
e. Bagaimana metode pengolahan limbah tapioka ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Proses Produksi
Pembuatan tepung tapioka dapat dilakukan dalam skala rumah tangga (menggunakan alat-
alat yang ada di dapur) maupun skala komersial (menggunakan alat-alat khusus). Bahan baku
berupa singkong dan memerlukan banyak air. Keluaran proses produksi selain tapioka, dihasilkan
limbah cair dan limbah padat berupa onggok dan kulit. Proses pengupasan dan pencucian
dilakukan secara manual, sedangkan pemarutan, ekstraksi, dan penghancuran secara mekanik
(Badan Litbang Pertanian, 2011). Secara tradisional, pembuatan tepung tapioka memerlukan
jumlah air yang banyak sekali, yaitu untuk mengolah 1 ton singkong segar diperlukan air
sebanyak 14.000–18.000 liter. Dengan teknologi yang lebih baik, jumlah air dapat dikurangi
hingga menjadi 8.000 liter per ton singkong. Kapasitas dari setiap industri skala rumah tangga
biasanya sekitar 2 ton singkong segar per hari yang dapat menghasilkan rendemen 15–25 %
dengan kadar air 18 % (Koswara, 2009).
Standar mutu tepung tapioka berdasarkan SNI No. 01-2973-1992, ditentukan oleh kadar
air (maksimal 15%); kadar serat dan kotoran (maksimal 0,6%); derajat keputihan (minimal 92 %
untuk Mutu II dan minimal 94,5% untuk Mutu I) dan kekentalan (3–4 Engler untuk Mutu I dan
2,5–3 Engler untuk Mutu II) (BSN, 1992). Proses pengolahan tepung tapioka dimulai dari
singkong diterima di gudang, lalu dicuci dan dikupas, terus digiling dalam mesin penggiling.
Dalam proses menggiling, yang keluar adalah ampas dan sari pati yang merupakan tepung
tapioka. Selanjutnya, sari pati dikeringkan (dijemur) untuk disimpan di gudang. Proses produksi
tapioka terdiri dari pencucian dan pengupasan, pemarutan, ekstraksi, pengendapan pati, dan
pengeringan seperti pada Gambar 1.
Berikut adalah penjelasan prosedur pengolahan singkong menjadi tepung tapioka:
a. Pencucian dan pengupasan
Singkong dicuci untuk menghilangkan kotoran yang masih melekat berupa tanah, getah, dan
benda asing lainnya dengan rotary wash machine (Gambar 2) yang berupa bak memanjang yang
dilengkapi dengan sudu sudu putar, bagian bawah terbuat dari jeruji besi yang dipasang
melengkung berjarak 2 cm. Bak pencucian ini terdiri dari tiga bagian bawah masing-masing
dibatasi sekat pemisah setinggi kurang lebih 40 cm, sehingga ada tiga tahapan pencucian. Tahap
pertama menggunakan air kotor yang berasal dari buangan separator, sedangkan tahap kedua dan
ketiga menggunakan air bersih untuk pencuciannya. Tujuan pencucian yaitu untuk
menghilangkan kotoran yang menempel di permukaan umbi singkong serta mengurangi
kandungan HCN (Direktorat Pengolahan Pangan Hasil Pertanian, 2005).
Setelah dicuci, singkong dihilangkan kulit arinya yang berwarna kecokelatan dengan
menggunakan root peeler (Gambar 3). Proses ini menghasilkan kotoran berupa kulit dan tanah
serta air limbah. Operator harus mengoptimalkan jumlah singkong yang akan dikupas sesuai
dengan kapasitas mesin.
b. Pemarutan singkong
Singkong yang sudah bersih kemudian diparut untuk memisahkan granula pati dari dinding sel
sehingga diperoleh 90% atau lebih granula pati dengan menggunakan high speed raasper
(Gambar 4).
Bubur singkong hasil dari pemarutan kemudian ditampung dalam bak atau wadah yang tidak
korosif. Pemarut terdiri dari beberapa bagian penting yaitu tenaga penggerak, silinder pemarut
(Gambar 5) , as besi, dinding, dan rangka mesin. Unit mesin pemarut digerakkan oleh mesin
diesel dengan daya 7,5 HP. Silinder pemarut berupa silinder kayu yang pejal dengan diameter 40
cm dan panjang 45 cm, mata parut terbuat dari potongan gergaji besi yang dipotong-potong
dengan ukuran tertentu dan dibenamkan pada silinder kayu tersebut (Guritno, 2011).
Bagian-bagian utama mesin pembuat tepung tapioka yang dirancang oleh Aninditya adalah rol
penggilas, poros, puli, sabuk V, rantai, penyaring serta pemarut (Soegihardjo dan Aninditya,
2005). Dalam rancangan tersebut, mekanisme pemarut dan mekanisme pemerasan/penggilas
menggunakan dua motor yang berbeda seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 6.
c. Ekstrasi pati
Bubur singkong yang dihasilkan dari proses pemarutan singkong diekstrasi menggunakan
saringan goyang (sintrik) (Gambar 7). Bubur singkong diletakkan di atas saringan yang
digerakkan dengan mesin. Pada saat saringan tersebut bergerak, kemudian ditambahkan air
melalui pipa
berlubang. Pati yangdihasilkan ditampung dalam bak pengendapan.
Proses ekstrasi ini menghasilkan ampas berupa onggok. Ekstraksi dengan menggunakan saringan
goyang ini terdiri dari 5 atau 6 bingkai saringan 80–100 mesh berukuran 1 m × 1 m yang
dipasang secara horisontal pada sebuah kerangka kayu yang digerakkan dengan mesin. Rendemen
tapioka berkisar antara 19–24% (Fauzi dkk., 2012). d. Pengendapan pati
Pati hasil ekstraksi diendapkan dalam bak pengendapan selama 4 jam seperti pada Gambar 8.
Air di bagian atas endapan dialirkan dan dibuang, sedangkan endapan diambil dan dikeringkan.
Proses pengendapan dimaksudkan untuk memisahkan tepung tapioka murni dari bagian lain
seperti ampas dan unsur-unsur lainnya. Pada proses pengendapan ini akan terdapat butiran
tapioka termasuk protein, lemak dan kandungan lainnya (Bank Indonesia, 2012). e. Pengeringan
Sistem pengeringan menggunakan sinar matahari dilakukan dengan cara menjemur tepung
tapioka yang dimasukkan di dalam tambir kemudian diletakkan di atas rak-rak bambu (Gambar
9) selama 1–2 hari (tergantung dari cuaca). Pengeringan bertujuan untuk menguapkan kandungan
air
sehingga diperoleh tepung tapioka yang kering. Endapan tepung tapioka yang berbentuk semi cair
mengandung air sebanyak 40%. Gumpalan tepung tapioka yang keluar dari pengeringan langsung
dihancurkan untuk memperoleh tepung tapioka yang diinginkan.
Hasil dari proses penghancuran tersebut masih berupa tepung kasar. Untuk mendapatkan tepung
tapioka yang halus maka perlu dilakukan penyaringan ulang atau diayak. Tepung tapioka yang
dihasilkan sebaiknya mengandung kadar air 15–19% (Bank Indonesia, 2012).
2.2. Sumber Limbah Industri
Industri tapioka merupakan salah satu industri yang dominan di Provinsi Lampung. Bahan
baku utama industri ini adalah singkong yang biasanya diperoleh dari petani dan perkebunan inti
rakyat yang dimiliki oleh industri tersebut (Prayati, 2005). Proses produksi tepung tapioka
merupakan suatu mata rantai yang dimulai dari proses penerimaan bahan baku, pembersihan,
pemotongan, pemarutan, penyaringan, pemurnian, pengeringan, pengayakan, pengemasan, dan
penggudangan. Proses pengolahan tepung tapioka di industri skala kecil pada umumnya.
Singkong pertama-tama dilakukan pengupasan kulit dan pencucian yang bertujuan untuk
memisahkan kotoran, kerikil, pasir, dan kulit singkong. Selama pengupasan, sortasi juga
dilakukan untuk memilih singkong berkualitas tinggi dari singkong
lainnya. Kemudian akan dilakukan tahap pengecilan ukuran dan pemarutan yang bertujuan untuk
memperkecil ukuran dari singkong serta membantu untuk menghancurkan dinding sel singkong
agar diperoleh hasil yang maksimal (Prayati, 2005).
2.3. Karakteristik Air Limbah Industri Tepung Tapioka
1. Limbah Cair Industri Tapioka
Limbah cair industri tapioka merupakan limbah yang bersumber dari proses pencucian
singkong, pencucian alat, dan pemisahan larutan pati (Ciptadi dan Nasution, 1978). Pengolahan 1
ton singkong menjadi tepung tapioka menghasikan sekitar 4.000-6.000 liter limbah cair (Djarwati
et al., 1993). Kualitas limbah cair industri tapioka biasanya diukur dari konsentrasi padatan
tersuspensi, pH, COD, dan BOD. Spesifikasi mutu standar limbah cair industri tapioka
didasarkan pada ketetapan Mentri Lingkungan Hidup tahun 1995. Baku mutu untuk limbah cair
industri tapioka dapat dilihat pada Tabel 1.Tabel 1. Baku mutu air limbah industri tapioka
Parameter Kadar Maksimal BOD (5 Hari, 20OC) COD Total Padatan Tersuspensi pH Sianida
Debit 100 mg/L 250 mg/L 60 mg/L 6 – 9 0,2 mg/L 25 m3 per ton produk Sumber : Peraturan
Gubernur Lampung Nomor 7 Tahun 2010
Menurut Fajarudin (2002), karakteristik limbah cair industri tapioka meliputi:
a. Warna
Warna limbah cair industri tapioka transparan disertai suspensi berwarna putih. Zat terlarut
dan tersuspensi akan mengalami penguraian hayati dan kimia yang akan mengakibatkan
perubahan warna. Hal ini disebabkan karena kadar oksigen di dalam limbah cair menjadi nol,
sehingga air limbah berubah menjadi warna hitam. Untuk parameter warna, bau dan kekeruhan
tidak tercantum dalam Standar Baku Mutu Limbah karena ketiga parameter tersebut sulit untuk
dihilangkan sehingga membutuhkan biaya yang mahal untuk dapat mencapai suatu standar yang
ditetapkan oleh pemerintah.
b. Bau
Limbah industri tapioka menimbulkan bau yang tidak enak, hal ini disebabkan oleh adanya
pemecahan zat organik oleh mikroba. Bau menyengat yang timbul di perairan atau saluran,
biasanya timbul apabila kondisi limbahnya sudah menjadi anaerob atau tidak ada oksigen yang
terlarut. Bau tersebut timbul karena penyusun protein dan karbohidrat terpecah, sehingga timbul
bau busuk dari gas alam sulfida.
c. Kekeruhan
Adanya padatan terlarut dan tersuspensi di dalam air limbah tapioka menyebabkan air keruh.
Kekeruhan ini terjadi karena zat organik terlarut yang sudah terpecah atau zat-zat tersuspensi dari
pati, sehingga air limbah berubah menjadi emulsi keruh. Emulsi adalah suatu dispersi atau
suspensi suatu cairan dalam cairan yang lain, dimana molekul–molekul kedua cairan tersebut
tidak saling berbaur tapi saling antagonistik dan biasanya terjadi pada air dan minyak (Winarno,
1992).
d. BOD (Biochemical Oxygen Demand)
Limbah cair industri tapioka mengandung pati, sedikit lemak, protein dan zat organik lainnya
yang ditandai banyaknya zat-zat terapung dan menggumpal. Jumlah zat organik yang terlarut
dalam limbah cair tapioka dapat diketahui dengan melihat nilai BOD. Jumlah zat organik yang
terlarut dalam limbah cair tapioka dapat diketahui dengan melihat nilai BOD. Angka BOD
menunjukkan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk keperluan aktivitas mikroba dalam memecah zat organik
secara biologis di dalam limbah cair. Angka BOD dinyatakan dalam satuan mg/l atau ppm (part
per million) dan biasanya pula dinyatakan dalam beban yaitu gram atau kilogram per satuan
waktu.
e. COD (Chemical Oxygen Demand)
COD merupakan parameter limbah cair yang menunjukkan jumlah zat organik biodegradasi
dan non biodegradasi dalam air limbah. Zat tersebut dapat dioksidasi oleh bahan kimia K2Cr2O7
dalam asam, misalnya sulfat, nitrit kadar tinggi, dan zat-zat reduktor lainnya. Besarnya angka
COD biasanya dua sampai tiga kali lebih besar dari BOD.
f. pH
pH limbah cair tapioka sangat dipengaruhi oleh kegiatan mikroba dalam pemecahan bahan
organik. Air buangan cenderung asam, dan pada keadaan asam ini terlepas zat-zat yang mudah
menjadi gas. Dari hasil percobaan, pada saat pembuatan tapioka pH larutan 6,51 namun setelah
air limbah berumur tujuh jam mulai terjadi penurunan pH menjadi 5.8 setelah 13 jam pH menjadi
4.91 dan setelah satu hari menjadi pH 4.84 (Nurhasanah dan Pramudyanto, 1993). g. Padatan
Tersuspensi
Padatan tersuspensi akan mempengaruhi kekeruhan air dan warna air. Apabila terjadi
pengendapan dan pembusukkan zat-zat tersebut di dalam badan perairan penerima limbah cair,
maka akan mengurangi nilai guna perairan tersebut.
h. Sianida
Industri tapioka kebanyakan menggunakan bahan baku singkong beracun, karena harganya
murah. Singkong beracun adalah jenis singkong yang banyak mengandung sianida. Sianida
sangat beracun, namun sejauh ini kandungan sianida bukan merupakan penyebab utama
timbulnya kasus pencemaran oleh buangan industri tapioka. Ubi kayu mengandung senyawa
sianogenik linamarin. Komponen ini apabilaterhidrolisis dapat menjadi glukosa, aseton, dan asam
sianida (HCN). HCN
terhidrolisa jika kontak dengan udara (O2), oleh karena itu kandungan sianida bukan penyebab
utama timbulnya pencemaran. Menurut Barana dan Cereda (2000), limbah cair industri tapioka
memiliki kandungan sianida sebanyak 33,59 ppm.
2.4. Proses Lumpur Aktif
a. Tangki aerasi
Oksidasi aerobik material organik dilakukan dalam tangki ini. Efluent pertama masuk dan
tercampur dengan Lumpur Aktif Balik (Return Activated Sludge =RAS) atau disingkat LAB
membentuk lumpur campuran (mixed liqour), yang mengandung padatan tersuspensi sekitar
1.500 - 2.500 mg/l. Aerasi dilakukan secara mekanik. Karakteristik dari proses lumpur aktif
adalah adanya daur ulang dari biomassa. Keadaan ini membuat waktu tinggal rata-rata sel
(biomassa) menjadi lebih lama dibanding waktu tinggal hidrauliknya (Sterritt dan Lester,
1988). Keadaan tersebut membuat sejumlah besar mikroorganisme mengoksidasi senyawa
organik dalam waktu yang singkat. Waktu tinggal dalam tangki aerasi berkisar 4 - 8 jam. b.
Tangki Sedimentasi
Tangki ini digunakan untuk sedimentasi flok mikroba (lumpur) yang dihasilkan selama
fase oksidasi dalam tangki aerasi. Seperti disebutkan diawal bahwa sebaghian dari lumpur
dalam tangki penjernih didaur ulang kembali dalam bentuk LAB kedalam tangki aerasi dan
sisanya dibuang untuk menjaga rasio yang tepat antara makanan dan mikroorganisme (F/M
Ratio). c. Oksidasi Bahan Organik Dalam Tangki Aerasi
Air limbah domestik mempunyai rasio C:N:P sebesar 100 : 5 : 1, yang mencukupi untuk
kebutuhan sebagian besar mikroorganisme. Bahan organik dalam air limbah terdapat dalam
bentuk terlarut, koloid, dan fraksi partikel. Bahan organik terlarut sebagai sumber makanan bagi
mikroorganisme heterotrophik dalam mixed liquor. Bahan organik ini cepat hilang oleh adsorpsi
dan proses flokulasi, dan juga oleh absorpsi dan oksidasi oleh mikroorganisme. Aerasi dalam
beberapa jam dapat membuat perubahan dari BOD terlarut menjadi biomassa mikrobial. Aerasi
mempunyai dua tujuan : (1) memasok oksigen bagi mikroorganisme aerobik, dan (2) menjaga
lumpur aktif agar selalu konstan teragitasi untuk melaksanakan kontsak yang cukup antara flok
dengan air limbah yang baru datang pada sistem pengolahan limbah. Konsentrasi
oksigen yang cukup juga diperlukan untuk aktifitas mikroorganisme heterotrophik dan
autotrophik, khususnya bakteri nitrit. Tingkat oksigen terlarut harus antara 0,5 - 0,7 mg/l.
Proses nitrifikasi berhenti jika oksigen terlarut dibawah 0,2 mg/l (Dart dan Stretton, 1980).
Curds dan Hawkes (1983) membuat ringkasan reaksi degradasi dan biosintesis yang terjadi
dalam tangki aerasi dalam proses lumpur aktif (Gambar 5).
d. Pengendapan Lumpur
Campuran air dan lumpur (mixed liqour) dipindahkan dari tangki aerasi ke tangki
pengendapan, tempat lumpur dipisahkan dari air yang telah diolah. sebagian lumpur aktif
dikembalikan ke tangki aerasi dan sebagian lagi dibuang dan dipindahkan ke pengolahan
aerobik. Sel mikrobial terjadi dalam bentuk agregat atau flok, densitasnya cukup untuk
mengendap dalam tangki penjernih. Pengendapan lumpur tergantung ratio F/M dan umur
lumpur. Pengendapan yang baik dapat terjadi jika lumpur mikroorganisme berada dalam fase
endogeneous, yang terjadi jika karbon dan sumber energi terbatas dan jika pertumbuhan
bakteri rendah. Pengendapan lumpur yang baik dapat terjadi pada rasio F/M yang rendah
(contoh : tingginya konsentrasi MLSS). Sebaliknya, Rasio F/M yang tinggi mengakibatkan
pengendapan lumpur yang buruk.
2.5. Pengolahan Limbah Industri Tapioka
1. Pengolahan Limbah Cair Industri Tapioka Menjadi Biogas
a. Proses pembentukan biogas secara anaerobik
Limbah cair memiliki nilai kebutuhan oksigen kimia (COD) yang cukup tinggi yaitu
sebesar 13.500 – 22.000 mg/l (Manik, 1994). Untuk menurunkan nilai COD yang cukup
tinggi diperlukan waktu yang cukup lama dalam pengolahannya. Jenie (1993) menyatakan
bahwa limbah dengan kandungan bahan-bahan organik dalam konsentrasi tinggi merupakan
limbah yang sesuai untuk diproses dalam sistem fermentasi anaerobik. Pengolahan limbah
cair secara anaerobik pada dasarnya merupakan penguraian senyawa organik oleh
mikroorganisme dalam
kondisi tanpa oksigen dan menghasilkan biogas sebagai produk akhir.Efisiensi
produksi biogas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor meliputi: suhu, derajat keasaman
(pH), konsentrasi asam-asam lemak volatil, nutrisi (terutama nisbah karbon dan nitrogen), zat
racun, waktu retensi hidrolik, kecepatan bahan organik, dan konsentrasi amonia (Hermawan
et al., 2007). Kondisi optimum pada produksi biogas dapat dilihat pada Tabel 3.Parameter-
parameter ini harus dikontrol dengan cermat supaya proses pencernaan anaerobik dapat
berlangsung secara optimal. Sebagai contoh pada derajat keasaman (pH), pH harus dijaga
pada kondisi optimum yaitu antara 7 - 7,2. Hal ini disebabkan apabila pH turun akan
menyebabkan pengubahan substrat menjadi biogas terhambat sehingga mengakibatkan
penurunan kuantitas biogas. Nilai pH yang terlalu tinggipun harus dihindari, karena akan
menyebabkan produk akhir yang dihasilkan adalah CO2 sebagai produk utama. Begitupun
dengan nutrien, apabila rasio C/N tidak dikontrol dengan cermat, maka terdapat kemungkinan
adanya nitrogen berlebih (terutama dalam bentuk amonia) yang dapat menghambat
pertumbuhan dan aktivitas bakteri (Hermawan et al., 2007).
Tabel 3. Kondisi optimum produksi biogas
Parameter Kondisi Optimum
Suhu Derajat Keasaman Nutrien Utama Nisbah Karbon dan Nitrogen Sulfida
Logam-logam Berat Terlarut Sodium Kalsium Magnesium Amonia
35oC 7 - 7,2 Karbon dan Nitrogen 20/1 sampai 30/1 < 200 mg/L < 1 mg/L <
5000 mg/L < 2000 mg/L < 1200 mg/L < 1700 mg/L
Sumber : Hermawan et al, 2007)
Fermentasi metan berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama (hidrolisis)
melibatkan enzim yang bertugas merombak komponen kompleks menjadi komponen yang
dapat digunakan sebagai sumber energi dan sumber karbon. Pada tahapan hidrolisis,
mikrobia hidrolitik mendegradasi senyawa organik kompleks yang berupa polimer menjadi
monomernya yang berupa senyawa tak terlarut dengan berat molekul yang lebih ringan.
Lipida berubah menjadi asam lemak dan gliserin, polisakarida menjadi gula (mono dan
disakarida), protein menjadi asam amino dan asam nukleat menjadi purin dan pirimidin.
Konversi lipid berlangsung lambat pada suhu dibawah 20oC dengan bantuan enzim.
Tahap kedua melibatkan bakteri untuk merombak komponen yang dihasilkan pada
tahap pertama menjadi hasil antara (asidogenesis). Monomer-monomer hasil hidrolisis
dikonversi menjadi senyawa organik sederhana seperti asam lemak volatil, alkohol, asam
laktat, senyawa mineral seperti karbondioksida, hidrogen, amoniak, dan gas hidrogen sulfida.
Pada tahap kedua dalam fermentasi metana dilakukan oleh berbagai kelompok bakteri,
mayoritasnya adalah bakteri obligat anaerob dan sebagian yang lain bakteri anaerob
fakultatif. Hasil pada tahap ini kemudian dikonversi menjadi hasil antara bagi produksi
metana berupa asetat, hidrogen, dan karbondioksida. Sekitar 70 % dari COD (Chemical
Oxygen Demand) semula diubah menjadi asam asetat. Pembentukan asam asetat disertai
dengan pembentukan karbondioksida atau hidrogen, tergantung kondisi oksidasi dari bahan
organik aslinya. Tahap ketiga yaitu tahap metanogenesis yang melibatkan bakteri perombak
hasil antara menjadi produk akhir berupa metana dan CO2. Metana dihasilkan dari asetat atau
darireduksi karbondioksida oleh bakteri asetotropik dan hidrogenotropik dengan
menggunakan hidrogen (Grady dan Lim, 1980.)
b. Biogas sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak
Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-
bahan organik termasuk diantaranya kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah
tangga), limbah agroindustri, sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang
biodegradable dalam kondisi anaerobik. Biogas merupakan gas yang tidak berwarna, sangat
tinggi dan cepat daya nyalanya, sehingga sejak biogas berada pada bejana pembuatan sampai
penggunaannya untuk penerangan atau memasak, harus selalu dihindarkan dari api yang
dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan (Suriawiria, 2005). Sifat Biogas adalah 20 %
lebih ringan dari udara dan mempunyai satu suhu nyala di sekitar 650ºC sampai dengan
750ºC. Nilai kalor dari biogas adalah 20 Mega Joules (MJ) per m3 dan membakar dengan
efisiensi 60 persen di suatu dapur biogas yang konvensional. Biogas dapat dimanfaatkan
sebagai bahan baku pembangkit listrik, pemanas ruangan, memasak, dan pemanas air. Jika
dikompresi, biogas dapat menggantikan gas alam terkompresi (CNG) yang digunakan pada
kendaraan. Biogas yang telah dimurnikan akan memiliki karakteristik yang sama dengan gas
alam. Akan tetapi gas tersebut harus sangat bersih untuk mencapai kualitas pipeline. Air
(H2O), hydrogen sulfide (H2S) dan partikulat harus dihilangkan jika terkandung dalam
jumlah yang besar di gas tersebut. Jika biogas harus digunakan tanpa pembersihan yang
ekstensif, biasanya gas ini dicampur dengan gas alam untuk meningkatkan pembakaran.
Biogas yang telah dibersihkan untuk mencapai kualitas pipeline dinamakan gas alam
terbaharui. Di Indonesia nilai potensial pemanfaatan biogas ini akan terus meningkat karena
adanya jumlah bahan baku biogas yang melimpah dan rasio antara energi biogas dan energi
minyak bumi yang menjanjikan (Hermawan et al., 2007). Gas metan adalah gas yang
mengandung satu atom C dan 4 atom H yang memiliki sifat mudah terbakar. Gas methan
yang dihasilkan kemudian dapat dibakar sehingga dihasilkan energi panas. Satu mol metana
memerlukan dua mol oksigen untuk dapat dioksidasi menjadi CO2 dan air, akibatnya setiap
produksi 16 gram metana dapat menurunkan COD air limbah sebanyak 64 gram. Pada suhu
dan tekanan standar, setiap stabilisasi 1 pound COD dapat menghasilkan 5,62 ft3 metana atau
0,35 m3 metana/kg COD (Grady dan Lim, 1980).
Questions And Answers
• Hubungan antara tekanan kompresor dengan penurunan zat kadar zat pencemar ?
Jawaban :
Jadi bertambahnya tekanan udara pada proses aerasi akan berpengaruh dengan penurunan
zat pada pencemaran air buangan.
• Seperti apa komposisi buangan limbah cair jika dikaitkan dengan proses pembuatannya ?
Jawab :
• Pada secondary clarifiyer itu terdapat buangan kebawah dan kembali ke alat BNR
bioreaktor. Proses apa yang mempengaruhi, sehingga terjadi seperti itu ?
Jawab :
Dikembali ke awal lagi karena sludgenya masih bisa untuk diaktivasi kembali sehingga
prosesnya dikembalikan ke awal.