Anda di halaman 1dari 13

TUGAS 6

KONSELING KESEHATAN

“Konseling Kesehatan Klien di Rumah Tangga”

Oleh:

SOFIA PILOSUSAN

16006055

BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2018
KONSELING KESEHATAN KLIEN DI RUMAH TANGGA

A. Pengertian Konseling Kesehatan di Rumah Tangga


Mayers & Sweeney (2003) menjelaskan dalam The Individual Self Model,
kesehatan dikonseptualisasikan dalam sebuah unsur aturan kesehatan yang lebih
tinggi, yang terdiri dari lima unsur aturan sekunder dan 17 bagian dimensi
kesehatan yang berbeda-beda.. kelima unsur aturan sekunder itu adalah essential
self, sosial self, creative self, physical self, dan coping self. Adapun 17 bagian
dimensi kesehatan yang berbeda-beda itu adalah berfikir, emosi, kendali, kerja,
humor yang positif, olehraga, nutrisi, spiritual, identitas gender, identitas cultural,
perawatan diri, persahaban dan cinta.
Prayitno (2009:130) menyatakan bahwa konseling merupakan suatu proses
pemberian bantuan yang didasarkan atas prosedur wawancara konseling oleh
seorang ahli (konselor) kepada seorang individu (klien) yang bermuara pada
teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Kesehatan keluarga adalah suatu kondisi sehat sejahtera dalam keluarga dan
anggota keluarga pada khususnya baik itu yang menyangkut kesehatan fisik,
mental, emosional maupun sosial. Dalam UU no 23 tahun1992 tentang kesehatan
Bagian Kedua tentang Kesehatan Keluarga Pasal 12 ayat 1 dinyatakan bahwa
Kesehatan keluarga diselenggarakan untuk mewujudkan keluarga sehat, bahagia,
dan sejahtera.
Konseling kesehatan merupakan suatu upaya pemberian bantuan yang
dilakukan seorang konselor berkaitan dengan kesehatan klien untuk mencapai sehat
yaitu kondisi sejahtera, baik secara fisik, mental, maupun sosial yang bermuara
pada tercapainya tujuan akhir dari konseling yaitu KES .Sedangkan Rumah Tangga
adalah suatu kumpulan dari masyarakat terkecil yang terdiri dari pasangan suami
istri, anak-anak, mertua, dan sebagainya. Terwujudnya rumah tanggga yang syah
setelah akad nikah atau perkawinan, sesuai dengan ajaran agama dan undang-
undang (Sidi Nazar Bakry, 1993: 26).
Jadi dapat disimpulkan bahwa layanan konseling kesehatan klien di rumah
tangga merupakan pelayanan bantuan yang diberikan oleh seorang konselor
kepada klien dalam keluarga berkenaan dengan upaya pengembangan pemahaman
dan kemampuan untuk memelihara kesehatan di lingkungan keluarga untuk
mencapai suatu kondisi sehat sejahtera dalam keluarga baik yang menyangkut
kesehatan fisik, sosial, emosional, mental untuk mwujudkan keluarga sehat,
bahagia dan sejahtera.
B. Pentingnya Konseling Kesehatan di Rumah Tangga
Departemen Konseling Fokus Pada Keluarga memulai pelayanannya pada
tahun 1998. Hal ini didasari oleh rasa kepedulian akan permasalahan yang terjadi di
tengah - tengah keluarga masa kini. Ditengah himpitan ekonomi yang tengah
terjadi di masyarakat luas ditambah tingkat pengangguran yang semakin bertambah
setiap tahunnya membuat masyarakat merasa tertekanan untuk mempertahankan
kehidupan keluarganya. Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan depresi
berkepanjangan sehingga banyak yang kurangmenyadari dampak negatif dari
depresi tersebut jika tidak segera diatasi. Selain itu mundurnya nilai - nilai moral
yang terjadi ditengah masyarakat menyebabkan perubahan budaya secara spontan
sehingga menimbulkan banyak sekali masalah - masalah baru di tengah - tengah
keluarga.
Perselingkuhan, perceraian, kekekrasan terhadap anak, kekerasan dalam rumah
tangga dan berbagai masalah muncul dalam rumah tangga sehingga menimbulkan
ekses negatif dalam membangun relasi baik bagi pasangan suami istri maupun
pengaruh terhadap anak. Untuk itulah Konselor fokus Pada keluarga memberikan
waktunya untuk mendengar, mendampingi dan memeberikan masukan - masukan
yang baik yang tentunya diharapkan mempu menjadi solusi bagi setiap
permasalahan yang muncul dalam rumah tangga.
Hingga saat ini Departemen konseling fokus pada keluarga telah menangani
lebih dari 16 ribu kasus yang terjadi dalam keluarga baik permasalahan yang
terjadai pada anak - anak, remaja, pasangan suami istri hingga orang tua. Dewasa
ini pembangunan di bidang kesehatan telah mengalami perkembangan yang begitu
pesat, serta kesehatan sudah menjadi sebuah hal yang harus diutamakan
dibandingkan dengan kebutuhan lainnya. Melihat kondisi yang demikian sudah
seharusnya bukan hanya tenaga kesehatan saja yang menjadi penanggung jawab
kesehatan, tetapi kesehatan merupakan tanggung jawab semua masyarakat,
termasuk juga konselor. Siapapun masyarakat tersebut secara individu atau
berkelompok mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya dengan tenaga
kesehatan terhadap upaya menciptakan terwujudnya kesehatan masyarakat itu
sendiri.
Keluarga merupakan unit terkecil yang ada di masyarakat. Ini berarti keluarga
merupakan kelompok yang secara langsung berhadapan dengan anggota keluarga
selama 24 jam penuh. Menurut Mubarok (dalam Sukato, 2011) peran keluarga
adalah mampu mengenal masalah kesehatan, mampu membuat keputusan tindakan,
mampu melakukan perawatan pada anggota keluarga yang sakit, mampu
memodifikasi lingkungan rumah, dan mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan
yang ada.
C. Ruang lingkup kesehatan di rumah tangga
Dalam UU no 23 tahun 1992 tentang kesehatan Bagian Kedua tentang
Kesehatan Keluarga Pasal 12 ayat 2 dinyatakan bahwa Kesehatan keluarga
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi kesehatan suami istri, anak, dan
anggota keluarga Iainnya.
1. Kesehatan suami istri diutamakan pada upaya pengaturan kelahiran dalam
rangka menciptakan keluarga yang sehat dan harmonis.Kesehatan istri meliputi
kesehatan pada masa prakehamilan, kehamilan, pascapersalinan dan masa di
luar kehamilan, dan persalinan.
2. Kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan
perkembangan anak.Kesehatan anak sebagaimana dimaksud dilakukan melalui
peningkatan kesehatan anak dalam kandungan, masa bayi, masa balita, usia
prasekolah, dan usia sekolah.
3. Kesehatan manusia usia lanjut diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan dan kemampuannya agar tetap produktif. Pemerintah membantu
penyelenggaraan upaya kesehatan manusia usia lanjut untuk meningkatkan
kualitas hidupnya secara optimal.
Dilanjutkan pada pasal 18 bahwa :
a. Setiap keluarga melakukan dan mengembangkan kesehatan keluarga dalam
keluarganya.
b. Pemerintah membantu pelaksanaan dan mengembangkan kesehatan keluarga
melalui penyediaan sarana dan prasarana atau dengan kegiatan yang
menunjang peningkatan kesehatan keluarga.
Selanjutnya dalam UU no 36 Tahun 2009 tentang kesehatan Bab VII tentang
kesehatan ibu, bayi, anak, remaja, lanjut usia dan penyandang cacat, pada bagian
kesatu mengenai kesehatan ibu, bayi dan anak dinyatakan:

a. Pada pasal 126


(1) Upaya kesehatan ibu harus ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu
sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas serta
mengurangi angka kematian ibu.
(2) Upaya kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
(3) Pemerintah menjamin ketersediaan tenaga, fasilitas, alat dan obat dalam
penyelenggaraan kesehatan kesehatan ibu secara aman, bermutu dan
terjangkau.
b. Pasal 131
(1) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan untuk
mempersiapkan generasi yang akan datang yang sehat, cerdas dan
berkualitas serta dapat menurunkan angka kematian bayi dan anak.
(2) Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak anak masih dalam
kandungan, dilahirkan dan sampai berusia 18 tahun.
(3) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan (2) menjadi tanggung jawab dan kewaiban bersama bagi
orangtua, keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Selanjutnya dalam UU no 36 Tahun 2009 tentang kesehatan Bab VII tentang


kesehatan ibu, bayi, anak, remaja, lanjut usia dan penyandang cacat, pada bagian
kedua mengenai kesehatan remaja dinyatakan:

a. Pasal 136
(1) Upaya pemeliharaan kesehatan remaja ditujukan untuk mempersiapkan
remaja menjadi orang dewasa yang sehat, produktif baik sosial amupun
ekonomi.
(2) Upaya pemeliharaan kesehatan remaja sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) termasuk untuk reproduksi remaja dilakukan agar terbebas dari
berbagai gangguan kesehatan yang dapat menghambat kemampuan
kemampuan menjalani kehidupan reproduksi secara sehat.
(3) Upaya pemeliharaan kesehatan remaja sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat.
b. Pasal 137
(1) Pemerintah berkewajiban menjamin agar remaja dapat memperoleh
edukasi, informasi dan layanan mengenai kesehatan remaja agar mampu
hidup sehat dan bertanggung jawab.
(2) Ketentuan mengenai kewajiban pemerintah dalam menjamin agar remaja
memperoleh edukasi, informasi dan layanan mengenai kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
pertimbangan moral nilai agama dan berdasarkan ketentuan perundang-
undangan.
Selanjutnya dalam UU no 36 Tahun 2009 tentang kesehatan Bab VII
tentang kesehatan ibu, bayi, anak, remaja, lanjut usia dan penyandang cacat,
pada bagian kedtiga mengenai kesehatan lanjut usia dan penyandang cacat
dinyatakan:
a. Pasal 138
(1) Upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia harus ditujukan untuk
menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial maupun
ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan
(2) Pemerintah wajib menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan
kesehatan dan memfasilitasi kelompok lanjut usia untuk dapat hidup
mandiri dan produktif secara sosial ekonomis.
D. Tugas-tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan
Sukato (2011), keluarga mempunyai peran dan tugas di bidang kesehatan yang
perlu dipahami dan dilakukan yang meliputi:
1. Mengenal masalah kesehatan
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena
tanpa kesehatan segala sesuatu tidak berarti dan karena kesehatanlah seluruh
kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal
keadaan sehat dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarganya.
Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak
langsung akan menjadi perhatian dari orang tua atau pengambil keputusan
dalam keluarga. Dalam mengenal masalah kesehatan keluarga haruslah
mampu mengetahui tentang sakit yang dialami pasien.
2. Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga
Peran ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan
yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa
diantara keluarga yang mempunyai keputusan untuk memutuskan tindakan
yang tepat. Friedman menyatakan kontak keluarga dengan sistem akan
melibatkan lembaga kesehatan profesional ataupun praktisi lokal (Dukun)
dan sangat bergantung pada:
a. Apakah masalah dirasakan oleh keluarga ?
b. Apakah kepala keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang
dihadapi salah satu anggota keluarga ?
c. Apakah kepala keluarga takut akibat dari terapi yang dilakukan terhadap
salah satu anggota keluarganya ?
d. Apakah kepala keluarga percaya terhadap petugas kesehatan?
e. Apakah keluarga mempunyai kemampuan untuk menjangkau fasilitas
kesehatan?
3. Memberikan perawatan terhadap keluarga yang sakit
Beberapa keluarga akan membebaskan orang yang sakit dari peran atau
tangung jawabnya secara penuh, Pemberian perawatan secara fisik
merupakan beban paling berat yang dirasakan keluarga . Suprajitno (dalam
Sukato, 2011) menyatakan bahwa keluarga memiliki keterbatasan dalam
mengatasi masalah perawatan keluarga. Dirumah keluarga memiliki
kemampuan dalam melakukan pertolongan pertama. Untuk mengetahui dapat
dikaji :
a. Apakah keluarga aktif dalam ikut merawat pasien?
b. Bagaimana keluarga mencari pertolongan dan mengerti tentang perawatan
yang diperlukan pasien ?
c. Bagaimana sikap keluarga terhadap pasien? (Aktif mencari informasi
tentang perawatan terhadap pasien)
4. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga
a. Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki disekitar
lingkungan rumah
b. Pengetahuan tentang pentingnya sanitasi lingkungan dan manfaatnya.
c. Kebersamaan dalam meningkatkan dan memelihara lingkungan
rumah yang menunjang kesehatan.
5. Menggunakan pelayanan kesehatan
Menurut Effendy (dalam Sukato, 2011), pada keluarga tertentu bila ada
anggota keluarga yang sakit jarang dibawa ke puskesmas tapi ke mantri
atau dukun. Untuk mengetahui kemampuan keluarga dalam memanfaatkan
sarana kesehatan perlu dikaji tentang :
a. Pengetahuan keluarga tentang fasilitas kesehatan yang dapat
dijangkau keluarga
b. Keuntungan dari adanya fasilitas kesehatan
c. Kepercayaan keluarga terhadap fasilitas kesehatan yang ada
d. Apakah fasilitas kesehatan dapat terjangkau oleh keluarga.
Tenaga kesehatan dapat menjadi hambatan dalam usaha keluarga
dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Hambatan yang dapat
muncul terutama kamunikasi (Bahasa) yang kurang dimengerti oleh
petugas kesehatan. Pengalaman yang kurang menyenangkan dari keluarga
ketika berhadapan dengan petugas kesehatan ketika berhadapan dengan
petugas kesehatan.
E. Tujuan Konseling Kesehatan di Rumah Tangga
Tujuan utama dalam konseling kesehatan keluarga Menurut Dadang (1997)
adalah:
1. Tujuan umum
Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan
keluarga mereka sehigga dapat meningkatkan status kesehatan keluarga.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah
kesehatan yang dihadapi oleh keluarga.
b. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah-masalah
kesehatan dasar dalam keluarga.
c. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat
dalam mengatasi masalah kesehatan keluarga.
d. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan
terhadap anggita keluarga yang sakit dan dalam megatasi masalah kesehatan
anggota keluarga.
e. Meningkatkan produktifitas kelaurga dalam meningkatkan mutu hidupnya.
Rumah Tangga Sehat adalah rumah tangga yang melakukan 10 PHBS di
Rumah Tangga yaitu :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi bayi ASI eksklusif
3. Menimbang bayi dan balita
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik di rumah
8. Makan buah dan sayur setiap hari.
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah

F. Manfaat Konseling Kesehatan di Rumah Tangga

a) Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit.


b) Anak tumbuh sehat dan cerdas.
c) Anggota keluarga giat bekerja.
d) Pengeluaran biaya rumah tangga ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga,
pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.
PERTANYAAN

1. Dalam Undang-undang No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan yang dimaksud


dengan kesehatan, yaitu ...
a. keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
b. setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang
dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
c. setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.
d. tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
2. Suatu kumpulan dari masyarakat terkecil yang terdiri dari pasangan suami
istri, anak-anak, mertua, dan sebagainya. Terwujudnya rumah tanggga yang
syah setelah akad nikah atau perkawinan, sesuai dengan ajaran agama dan
undang-undang. merupakan pengertian dari...
a. Rumah tangga
b. Masyarakat
c. Sekolah
d. Organisasi
3. Yang termasuk dalam keluarga mempunyai peran dan tugas di bidang
kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, kecuali...
a. Mengenal masalah kesehatan
b. Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga
c. Mengabaikan perawatan terhadap keluarga yang sakit
d. Menggunakan pelayanan kesehatan
4. Tujuan Khusus dalam konseling kesehatan di rumah tangga, kecuali...
a. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah
kesehatan yang dihadapi oleh keluarga.
b. Kurangnya meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi
masalah-masalah kesehatan dasar dalam keluarga.
c. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang
tepat dalam mengatasi masalah kesehatan keluarga.
d. Meningkatkan produktifitas keluarga dalam meningkatkan mutu hidupnya.
5. Yang termasuk dalam manfaat konseling kesehatan di rumah tangga, kecuali..
a. Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan mudah sakit.
b. Anak tumbuh sehat dan cerdas.
c. Anggota keluarga giat bekerja.
d. Pengeluaran biaya rumah tangga ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga,
pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.

KUNCI JAWABAN:

1. A
2. C
3. B
4. D
5. A
DAFTAR PUSTAKA

Dadang Hawari. 1997. Al-Quran, Ilmu Kedokteran Jiwa, dan Kesehatan


Jiwa. Yogyakarta : Dana Bhakti Prima Yasa.
Mayers & Sweeney. 2003. Exploring the Term of the Auditor Client Relationship
and the quality of Earnings: A Case for Mandotory Auditor Rotation. The
Accounting Review 78: 779-800.
Prayitno dan Erman Amti. 2009. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sidi Nazar Bakry. 1993 Kunci Keutuhan Rumah Tangga. Jakarta : Pedoman Ilmu
Jaya
Sukato. 2011. Peran Keluarga dalam Keperawatan.http://czhukato.blogspot.com/
2011/05/peran-keluarga-dalam-keperawatan.html, diakses tanggal 10 Maret
2018.
UU NO 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
UU NO 23 Tahun 1992 tentang kesehatan.