0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
533 tayangan12 halaman

RTD Kopi

Dokumen tersebut membahas tentang standar produk kopi dalam kemasan dan strategi pemasarannya di Indonesia. Standar produk kopi sangat penting untuk memberikan jaminan mutu kepada konsumen meskipun merk berbeda. Dokumen juga menganalisis kesesuaian SNI 01-4314-1996 dengan pedoman standar nasional dan menyarankan strategi pemasaran seperti menurunkan kandungan kopi, menambah variasi rasa dan kemasan, serta meningkatkan iklan di televis

Diunggah oleh

departmentbeauty
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
533 tayangan12 halaman

RTD Kopi

Dokumen tersebut membahas tentang standar produk kopi dalam kemasan dan strategi pemasarannya di Indonesia. Standar produk kopi sangat penting untuk memberikan jaminan mutu kepada konsumen meskipun merk berbeda. Dokumen juga menganalisis kesesuaian SNI 01-4314-1996 dengan pedoman standar nasional dan menyarankan strategi pemasaran seperti menurunkan kandungan kopi, menambah variasi rasa dan kemasan, serta meningkatkan iklan di televis

Diunggah oleh

departmentbeauty
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya

(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)

STANDAR PRODUK KOPI DALAM KEMASAN DAN STRATEGI


PEMASARANNYA
Ready to Drink Coffee Standard and the Marketing’s Strategies

Ellia Kristiningrum1, Firdanis Setyaning2, Febrian Isharyadi1 dan Ahmad Syafin A.3

1
Badan Standardisasi Nasional, Gedung BPPT I, Jl. M. H. Thamrin No. 8, Jakarta, Indonesia
2
Universitas Serang Raya, Jl. Raya Serang, Cilegon Km. 5, Serang, Banten, Indonesia
3
Wiratech, Jl. Gunung Sahari XI No. 76A, Sawah Besar, Jakarta, Indonesia
E-mail: ellia@bsn.go.id

Diterima: 3 Oktober 2016, Direvisi: 19 Oktober 2016, Disetujui: 24 Oktober 2016

Abstrak

Banyaknya produk kopi siap minum dalam kemasan yang beredar di Indonesia menandakan bahwa bisnis ini
memiliki peluang pasar yang besar. Masing-masing produsen berlomba-lomba menciptakan strategi untuk meraih
pasar yang ada. Oleh karena itu, keberadaan Standar Nasional Indonesia sangat penting untuk memberikan
jaminan kepada konsumen akan mutu produk kopi siap minum dalam kemasan meskipun merk yang beredar di
pasar berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisa terhadap SNI 01-4314-1996 dan strategi
pemasaran produk kopi siap minum dalam kemasan. Kesesuaian SNI 01-4314-1996 dengan kriteria-kriteria yang
ditetapkan dalam peraturan pedoman pengembangan Standar Nasional Indonesia menunjukkan bahwa dari segi
penulisan dan acuan normatif SNI tersebut tidak sesuai oleh karena itu perlu dilakukan kaji ulang terhadap SNI
tersebut. Sedangkan usulan strategi pemasaran produk kopi siap minum dalam kemasan antara lain low cost and
best value, menurunkan presentase kandungan kopi dalam RTD, menambah variasi rasa dan kemasan,
meningkatkan frekuensi iklan dalam televisi.
Kata kunci: competitive profile matrix (CPM), kopi RTD, standar, kualitas, strategi.

Abstract

The number of ready to drink (RTD) coffee products that circulated in Indonesia indicate that this business has a
large market opportunity. Each manufacturer competing to create a strategy to reach existing markets. The
strategy is a to reach a goal, where the formulation requires a mechanism that is not simple. The existence of the
Indonesian National Standard (SNI) is essential to guarantee to consumers of product quality ready to drink
coffee although the brand in the market are different. This study aimed to analyze SNI 01-4314-1996 and the
strategy of ready to drink coffee products. The suitability of the SNI 01-4314-1996 with the criteria set out in the
regulations of the National Standards development guidelines for Indonesia pointed out that in terms of writing
and normative reference the SNI is therefore not appropriate to do phased against SNI. While the proposed
strategy of marketing the product in packaging ready to drink coffee, among others, the low cost and best value,
the lower the percentage content of coffee in RTD, adding flavour and packaging variations, increase the
frequency of advertising in television.
Keywords: competitive profile matrix (CPM), coffee RTD, standards, quality, strategy.

1. PENDAHULUAN kemasan tradisional dan dapat dikonsumsi


dalam keadaan panas maupun dingin. Selain itu
Bisnis industri kopi dalam kemasan juga tersedia kemasan cup plastik dengan
mengalami persaingan yang sangat ketat. Hal ini bentuk yang berbeda-beda untuk menekankan
dapat dilihat dari banyaknya para kompetitor kesegaran dan rasa khusus yang dapat
yang bermunculan meramaikan pasar yang dipertahankan dalam suasana suhu rendah (Hsu
berlomba-lomba menawarkan keunikan dan nilai dan Hung, 2005). Beberapa perusahaan di
lebih dari produk yang akan ditawarkan pada Taiwan juga menawarkan kemasan botol plastik
masyarakat misalnya bentuk dan jenis kemasan untuk konsumen yang memerlukan produk kopi
(Hidayat, 2007). dalam volume yang lebih besar dan juga
kemasan tetrapack. Variasi dari kemasan yang
Di Taiwan, terdapat beberapa kemasan
diciptakan ini sebagai salah satu tujuan
kopi siap minum, kemasan kaleng adalah

205
Jurnal Standardisasi Volume 18 Nomor 3, November 2016: Hal 205 - 216

marketing dan diferensiasi produk yang hingga saat ini dikenal dengan nama kopi.
dihasilkan (Hsu dan Hung, 2005). (Fariz, 2014).
Di Indonesia, kopi siap minum dapat Pada tahun 1696 kopi Arabika pertama
dinikmati dalam beberapa kemasan, antara lain kali masuk ke Indonesia dan dibudidayakan di
botol kaca, kaleng, tetra (tetrapack dan tetra salah satu kawasan di Jakarta, namun tanaman
wedge), cup plastik dan botol plastik. Untuk rasa, kopi ini kemudian mati, sehingga pada tahun
pada awalnya RTD-Coffee lebih didominasi rasa 1699 didatangkan bibit baru dan dikembangkan
original (black coffee), sekarang ini tersedia di wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Kegiatan
varian rasa lainnya, seperti cappuccino, latte, perdagangan ekspor kopi di Indonesia pertama
mochaccino, milk coffee, caramel coffee, vanilla kali dilakukan pada tahun 1977 oleh VOC dan
coffee, dan sebagainya (Siregar, 2014). meningkat sebanyak 60 ton/tahun selama kurun
Semakin maraknya bisnis kopi dalam kemasan waktu 10 tahun. Selama satu-tiga perempat
di Indonesia memberikan pilihan yang sangat abad kopi Arabika merupakan satu-satunya jenis
bervariasi kepada masyarakat. Cara yang paling kopi komersial yang ditanam di Indonesia.
tepat untuk mengetahui kebutuhan konsumen Namun, penyakit hama daun (Hemileia vastatrix)
adalah dengan mengetahui pola pembeliannya. masuk ke Indonesia sejak tahun 1876 dan
Hal ini sangat penting karena saat ini, konsumen mengakibatkan tanaman kopi Arabika menajdi
mulai berfikir saat akan membeli sebuah produk, rusak. Akibatnya kopi Arabika hanya dapat
sehingga mereka akan mendapatkan hidup pada ketinggian 1000 m ke atas dari
kegunaan/manfaat yang mereka cari dari produk permukaan laut. Sisa-sisa tanaman kopi Arabika
tersebut. Bahkan terkadang, konsumen tidak ini masih dijumpai di dataran tinggi ijen (Jawa
ragu untuk mengeluarkan biaya lebih untuk Timur), Tanah Tinggi Toraja (Sulawesi Selatan),
mendapatkan produk yang lebih berkualitas lereng bagian atas Bukit Barisan (Sumatera)
(Lembang, 2010). seperti Mandhailing, Lintong dan Sidikalang di
Standar menetapkan kerangka kerja yang Sumatera Utara dan dataran tinggi Gayo di
mendefinisikan kosa kata umum, pengaturan Nangroe Aceh Darussalam. (AEKI, 2015).
karakteristik penting dari suatu produk atau jasa, Pada tahun 1875, Belanda mendatangkan
serta memberikan praktek terbaik yang akan kopi Liberika ke Indonesia untuk mengatasi
memastikan hasil yang bermanfaat (Shin, Kim, & serangan hama yang melanda, namun ternyata
Hwang, 2015). Kesesuaian produk dengan jenis tanaman inipun mudah diserang hama
standar dapat memberikan kontribusi dalam karat daun dan kurang bisa diterima di pasar
membantu kompetisi perusahaan, memperluas karena rasanya masam. Sisa tanaman Liberika
akses pasar, membuat operasi perusahaan saat ini masih dapat dijumpai di daerah Jambi,
menjadi efisien dan berkembang (Suminto, et. al, Jawa Tengah dan Kalimantan. (AEKI, 2015).
2013). Selanjtunya, pada tahun 1900, kopi jenis
Tujuan dari penelitian ini adalah robusta didatangkan ke Indonesia oleh Belanda.
melakukan analisa terhadap SNI 01-4314-1996 Jenis tanaman ini tahan terhadap hama karat
dan strategi pemasaran produk kopi siap minum daun dan memerlukan syarat untuk tumbuh yang
dalam kemasan. ringan dan produktivitasnya sangat tinggi.
Sehingga mulai tahun 1900, kopi jenis robusta
cepat berkembang dibandingkan kopi arabika.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Semenjak Pemerintah Hindia Belanda
meninggalkan Indonesia, perkebunan rakyat
2.1 Sejarah Kopi
terus tumbuh dan berkembang, sedangkan
Kopi adalah sejenis minuman yang berasal dari perkebunan swasta hanya bertahan di Jawa
proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil di
kopi. Penemuan biji kopi sebagai minuman yang Sumatera; dan perkebunan negara (PTPN)
sangat berkhasiat dan berenergi pertama kali hanya tinggal di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
oleh orang dari bangsa Etiopia di benua Afrika (AEKI, 2015). Luas area dan jumlah produksi
sekitar 3000 tahun yang lalu atau 1000 tahun kopi jenis robusta jauh lebih banyak
sebelum Masehi. Kata kopi berasal dari bahasa dibudidayakan di Indonesia (lihat Tabel 1).
Arab : ‫( ﻗﮭوة‬qahwah) yang artinya kekuatan,
karena pada awal ditemukan kopi digunakan
sebagai makanan berenergi tinggi. Kata qahwah
kemudian diubah menjadi kahveh yang berasal
dari bahasa Turki dan kemudian diubah lagi
menjadi koffie dalam bahasa Belanda.
Penggunaan kata koffie langsung diartikan ke
dalam bahasa Indonesia menjadi kata kopi yang
206
Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)

Tabel 1 Luas areal dan produksi kopi Indonesia.


TAHUN ARABIKA ROBUSTA JUMLAH
LUAS PRODUKSI LUAS AREAL PRODUKSI LUAS PRODUKSI
AREAL (Ha) (Ton) (Ha) (Ton) AREAL (Ha) (Ton)
1999 113,407 72,766 1,013,870 458,923 1,127,277 531,689
2000 107,465 42,988 1,153,222 511,586 1,260,687 554,574
2001 82,807 23,071 1,230,576 546,163 1,313,383 569,234
2002 91,293 25,116 1,280,891 565,963 1,372,184 682,079
2003 99,393 43,356 1,195,495 628,273 1,294,888 671,629
2004 127,198 55,255 1,176,744 592,161 1,303,942 647,416
2005 101,313 60,255 1,153,959 580,110 1,255,272 640,365
2006 177,110 94,773 1,131,622 587,356 1,308,732 682,159
2007 228,930 124,098 1,058,478 549,088 1,287,409 673,186
2008 239,476 129,660 1,063,417 553,278 1,302,893 682,938
2009 281,398 147,631 984,839 534,961 1,266,237 682,592
2010 251,582 146,641 958,782 540,280 1,210,364 686,921
2011* 251,753 146,761 1,041,212 487,230 1,292,965 633,991
2012** 252,645 147,017 1,053,250 601,092 1,305,865 748,109
(Sumber: AEKI, 2015)

2.2 Konsumsi Domestik


Tingkat konsumsi kopi di Indonesia
mengalami kenaikan dari tahun 2000 – 2011
yang mengindikasikan berhasilnya kemampuan
industri kopi dalam melakukan pengembangan
produk kopi untuk memenuhi kebutuhan dan
selera konsumen, serta makin banyaknya gerai
kopi terutama di kota-kota besar di Indonesia.
Produk kopi olahan saat ini tidak hanya berupa
kopi bubuk (roast and ground) tetapi telah
terdapat berbagai diversifikasi produk kopi
olahan seperti kopi instant, kopi three in one,
minuman kopi dengan berbagai rasa seperti
vanilla, cocoa, dan lainnya. Data konsumsi kopi
lainnya disampaikan oleh AEKI (2015) yang
menunjukkan meningkatkan konsumsi kopi di
Indonesia dari tahun ke tahun (lihat Gambar 1).
Peningkatan konsumsi kopi tersebut selain Gambar 1 Tingkat konsumsi kopi di Indonesia.
didukung dengan pola kehiupan sosial (Sumber: Infografis, 2015)
masyarakat dalam mengkonsumsi kopi, juga
ditunjang dengan harga yang terjangkau,
kepraktisan dalam penyajian serta keragaman 2.3 Perkembangan Kopi Siap Minum (Ready
rasa/citarasa yang sesuai dengan selera to Drink Coffee)
konsumen. Tingkat konsumsi kopi dalam negeri Perkembangan produk kopi siap minum (RTD
pada tahun 1989 berdasarkan hasil survei LPEM Coffee) di Indonesia jauh setelah perkembangan
UI sebesar 0,5 kilogram/kapita/tahun dan pada industri minuman bersoda berdiri. Pelopor
tahun 2013 konsumsi kopi domestik diperkirakan produk kopi siap minum tidak diketahui, karena
telah mencapai 1,0 kilogram/kapita/tahun. (AEKI, pada saat itu produk ini merupakan produk hasil
2015). pengembangan dari industri minuman bersoda
untuk melebarkan pasarnya. Pada awalnya,
format kopi siap minum ini adalah kopi bubuk
yang telah diseduh terlebih dahulu baru
kemudian dimasukkan ke dalam kemasan botol
207
Jurnal Standardisasi Volume 18 Nomor 3, November 2016: Hal 205 - 216

kaca. Di Indonesia, produk kopi dalam kemasan 2.4 SNI 01-4314-1996 Minuman kopi dalam
botol kaca ini pertama kali diluncurkan oleh kemasan
industri yang berlatar belakang minuman Dalam SNI 01-4314-1996 yang dimaksud kopi
bersoda/minuman beraroma buah sejak tahun dalam kemasan adalah minuman yang dibuat
1930-an, diantaranya adalah Perusahaan dari campuran ekstrak kopi dan air minum
Minuman Oriental yang berdiri tahun 1932. dengan atau tanpa penambahan bahan
(Siregar, 2014). makanan lain dan bahan tambahan makanan
Pada tahun 1980-an, industri kopi siap yang diizinkan, dikemas secara hermatik. SNI
minum modern di Indonesia mulai berdiri, dan tersebut mengatur parameter mutu yang dapat
beberapa perusahaan yang masuk ke dalam dipenuhi oleh produk kopi siap minum dalam
bisnis tersebut antara lain PT. Heinz ABC kemasan antara lain keadaan (bau, rasa,
Indonesia dengan merk CAPUCINI (ketika itu warna), kadar kafein, bahan tambahan makanan
bernama PT. ABC Central Food Industry), PT. (pemanis buatan, pewarna tambahan), cemaran
Salim Graha Food & Beverage Industry (tahun logam (Pb, Cu, Zn, Sn), cemaran Arsen, dan
1983). Perkembangan pasar RTD-Coffee hingga cemaran mikroba (ALT, coliform, clostridium
dekade tahun 1990-an masih lamban, karena perfringes, staphylococcus aureus) (lihat Tabel
sebagian besar pelakunya adalah home industry 3).
yang pemasarannya relatif terbatas sementara Kebutuhan pengembangan SNI yang akan
industri yang berskala lebih besar yang memiliki disusun harus mempertimbangkan salah
jaringan distribusi yang luas, fokus pada satunya adalah hasil kaji ulang SNI. Proses kaji
pengembangan berbagai produk lain yang ulang terhadap SNI ini dilakukan tehadap SNI
pasarnya sedang menggeliat, seperti sirup, sekurang-kurangnya satu kali dalam 5 (lima)
kecap, saus cabe dan tomat, dan sebagainya. tahun setelah ditetapkan untuk menjaga
(Siregar, 2014). kesesuaiannya terhadap kebutuhan pasar dan
Di pasar domestik, bisnis kopi siap minum perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
dalam kemasan mulai ramai di pasaran pada dalam rangka memelihara dan menilai kelayakan
tahun 2000-an yang ditunjukkan dengan dan kekinian SNI. Badan Standardisasi Nasional
pertumbuhan volume dan nilai pasar serta (BSN) menetapkan SNI hasil tindak lanjut kaji
semakin banyaknya industri yang ikut ulang berupa ralat, amandemen, revisi, abolisi,
meramaikan pasar dengan beberapa merk. Hasil atau tetap dengan menerbitkan surat keputusan
penelitian PT. Mars (2014) menyebutkan bahwa Kepala BSN.
lebih dari 50 perusahaan dan 60 merk bersaing
untuk meramaikan pasar ini. Selain itu distribusi
yang semakin meluas dan promosi yang begitu 3. METODE PENELITIAN
gencar juga mengindikasikan pasarnya semakin
berkembang. (Siregar, 2014). 3.1 Metode Pengumpulan Data
Volume pasar kopi siap mium di Indonesia Untuk mengetahui variasi produk kopi dalam
mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar kemasan di pasar, pengumpulan data dilakukan
27,1% per tahun selama periode 2010-2014. dengan cara observasi terhadap ketersediaan
Pada tahun 2010, volume pasar kopi siap minum produk di toko kelontong (3 tempat), minimarket
di Tanah Air tercatat sebesar 51,91 juta liter. (4 tempat) dan supermarket (2 tempat). Dari
Empat tahun berselang, yaitu pada 2014, hasil survei tersebut, didapatkan 9 merek produk
volume pasar minuman kopi siap minum di kopi siap minum dalam kemasan. Pengamatan
Indonesia sudah mencapai 134,17 juta liter. tersebut dilakukan untuk kemasan botol plastik,
Peningkatan pasar tersebut ternyata juga sejalan tetra pack, dan kaleng. Pada proses pemilihan
dengan pertumbuhan omzet kopi siap minum. responden digunakan teknik sampling, yaitu:
Selama periode 2010 - 2014 pertumbuhan nilai a. Purposive sampling
pasar atau konsumsi minuman kopi siap minum Teknik sampling ini dilakukan untuk memberikan
di Indonesia meningkat rata-rata 38% per tahun. kuesioner kepada konsumen secara online, yang
Pada tahun 2010, nilai pasar kopi siap minum dimulai pada tanggal 28 Mei 2015 pukul 08.30
tercatat sebesar Rp 441,88 miliar. Pada tahun WIB dan diakhiri pada tanggal 30 Mei 2015
2014, nilai pasar minuman kopi siap minum di pukul 08.30 WIB. Cara pengambilan sampel
Indonesia telah mencapai Rp1,58 triliun. Sampai dilakukan secara sengaja, dalam arti
dengan Agustus 2015 terdapat 124 perusahaan direncanakan berdasarkan kriteria tertentu, yaitu
minuman kopi siap minum di Indonesia (baik konsumen yang pernah mengkonsumsi produk
produsen maupun perusahaan pemegang merek kopi siap minum dalam kemasan.
lokal maupun impor) (Hybrida, 2016).

208
Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)

Tabel 3 Syarat mutu dalam SNI kopi dalam kemasan.

NO JENIS UJI SATUAN PERSYARATAN


1 Keadaan:
1.1 Bau - Khas normal
1.2 Rasa - Khas normal
1.3 Warna - normal
2 Kafein mg/kg Min. 200
3 Bahan tambahan makanan
3.1 Pemanis buatan:
- Sakarin - Tidak boleh ada
- Siklamat - Tidak boleh ada
3.2 Pewarna tambahan - Sesuai dengan SNI 01-0222-1995
4 Cemaran logam:
4.1 Timbal (Pb) mg/kg Maks 0,2
4.2 Tembaga (Cu) mg/kg Maks 2,0
4.3 Seng (Zn) mg/kg Maks 5,0
4.4 Timah (Sn) mg/kg Maks 40,0/250,0* (dikemas dalam kaleng)
5 Cemaran arsen (As) mg/kg Maks 0,1
6 Cemaran mikroba:
2
6.1 Angka lempeng total Kol/ml Mak 10
6.2 Coliform APM/ml <3
6.3 Clostridium perfringes Per ml 0
6.4 Staphylococcus aureus Per ml 0

b. Accidental sampling dan area random 3.2 Metode Analisa Data


sampling
Teknik sampling ini dilakukan untuk memberikan 3.2.1 Analisa SNI 01-4314-1996
kuesioner secara langsung kepada konsumen. Metode analisa data yang digunakan adalah
Cara penarikan sampel ini tanpa direncanakan metode analisa deskriptif, yaitu analisa
secara seksama. Peneliti memilih sampel secara mendasar untuk menggambarkan keadaan data
acak, yaitu orang-orang yang kebetulan dapat secara umum (Wiyono, 2011). Analisa terhadap
dijumpai di toko kelontong, mini market, dan standar ini dilakukan pada kriteria pemeriksaan
supermarket, khususnya di wilayah Kota Depok, yang ditetapkan dalam peraturan pedoman
Jawa Barat. pengembangan Standar Nasional Indonesia,
Dari pengumpulan data tersebut, diperoleh antara lain:
107 jawaban kuesioner yang merinci informasi - Kesesuaian judul SNI dengan isi subtansinya
antara lain: - Kesesuaian penulisan SNI dengan PSN
a. Hubungan antara usia dan budaya penulisan SNI
mengkonsumsi minuman kopi dalam - Kesesuaian acuan normatif/referensi dengan
kemasan persyaratan dan statusnya masih berlaku
- Kejelasan disertai klausul terkait syarat mutu,
b. Merk kopi dalam kemasan yang sering metoe uji, dan pengambilan contoh
dikonsumsi - Ketersediaan infrastruktur pendukung untuk
c. Merk kopi dalam kemasan yang paling penerapannya, seperti laboraotirum uji,
disukai lembaga sertifikasi produk
d. Faktor ketertarikan mengkonsumsi kopi - Penyusunan Strategi Industri produk kopi
dalam kemasan dalam kemasan. Metode analisa yang
e. Kemasan yang paling digemari responden digunakan adalah analisa CPM (competitive
profil matrix) dan analisa Porter 5.
f. Loyalitas responden
g. Alasan berganti merk 3.2.2 Competitive Profile Matrix - CPM
h. Tempat pembelian produk Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi
i. Produk substitusi yang digunakan kompetitor utama perusahaan dan posisi
strategisnya, yaitu dengan menentukan faktor
Sedangkan untuk analisa standar,
kunci perusahaan terlebih dahulu, kemudian
pengumpulan data dilakukan dengan studi
menentukan bobot dan peringkat pada masing-
literatur terkait dengan acuan-acuan yang
masing faktor kunci tersebut. Nilai bobot
digunakan dalam standar tersebut.
209
Jurnal Standardisasi Volume 18 Nomor 3, November 2016: Hal 205 - 216

menunjukkan penting tidaknya faktor kunci, f. Brand image, faktor kunci brand image
dimana masing-masing faktor kunci nilainya diberikan rating berdasarkan produk favorit
berkisar antara 0,0 (sangat tidak penting) sampai pilihan responden
dengan 1,0 (sangat penting) dengan total bobot g. Layanan konsumen, faktor kunci layanan
sama dengan 1,0. Selanjutnya, menentukan konsumen dilihat dari pencantuman label
peringkat pada masing-masing faktor kunci untuk layanan konsumen pada kemasan.
menunjukkan seberapa efektif strategi
perusahaan dalam merespon faktor kunci
3.2.3 Analisa 5 kekuatan Porter
tersebut, dimana nilainya berkisar antara 1
Menurut David (2009), untuk menghadapi
(respon sangat buruk) sampai dengan 4 (respon
persaingan tersebut, Porter mengembangkan
sangat baik). Setelah mengetahui nilai bobot dan
lima tipe strategi, yaitu:
peringkat, kedua nilai tersebut dikalikan
1. Low-cost, memenuhi produk atau jasa bagi
sehingga dapat diketahui faktor kunci yang
sebagian besar konsumen dengan harga
paling unggul bagi perusahaan. Dengan
terendah yang beredar di pasaran.
demikian, faktor kunci tersebut dapat diandalkan
2. Best-value, memenuhi produk atau jasa bagi
untuk selanjutnya digunakan dalam menyusun
sebagian besar konsumen dengan nilai harga
strategi perusahaan.
terbaik yang beredar di pasaran.
Penentuan rating dilakukan dengan 3. Differentiation, bertujuan untuk memproduksi
memperhatikan hal – hal sebagai berikut: produk dan jasa yang mempertimbangkan
a. Iklan/ promosi, faktor kunci ini dinilai keunikan dan mengarah pada konsumen
berdasarkan frekuensi penayangannya di yang relatif terhadap harga.
televisi. Adapun pemilihan waktu didasarkan 4. Low-cost focus, memenuhi produk atau jasa
pada alasan bahwa pada jam tersebut bagi sebagian kecil konsumen dengan harga
merupakan waktu bagi sebagian besar terendah yang beredar di pasaran.
masyarakat untuk menonton televisi, 5. Best-value focus, memenuhi produk atau jasa
sedangkan stasiun TV yang terpilih bagi sebagian kecil konsumen dengan nilai
merupakan stasiun TV yang sudah ternama harga terbaik yang beredar di pasaran.
dengan jutaan penonton setianya. Metode ini dilakukan dengan mengidentifikasi 5
b. Kualitas produk, faktor kunci ini dilihat dari kekuatan yang terdapat pada perusahaan
pencantuman komposisi produk dalam penghasil produk kopi, sehingga selanjutnya
kemasan (pemanis buatan dan kadar kopi dapat diusulkan strategi bersaing perusahaan
instan). Dalam SNI disebutkan bahwa dalam sesuai dengan 5 tipe strategi Porter.
produk ini tidak boleh mengandung pemanis
buatan.
c. Variasi produk, faktor kunci ini dilihat dari 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
jumlah macam kemasan dan varian rasa
yang tersedia pada setiap merk. 4.1 Analisa SNI 01-4314-1996 Minuman kopi
d. Loyalitas pelanggan, faktor kunci ini dilihat dalam kemasan
berdarkan hasil kuesioner yang menunjukkan Usia dari SNI minuman kopi dalam kemasan
bahwa pelanggan tidak loyal. Dari hasil survei ditemukan telah lebih dari 5 tahun. Dengan
didapatkan bahwa sebagak 62 responden demikian sudah selayaknya dilakukan kaji ulang.
(64%) menyatakan suka berganti merk. Penelitian ini melakukan pemeriksaan terhadap
e. Ketersediaan, faktor kunci ini dilihat kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam peraturan
berdarkan hasil kuesioner yang menunjukkan pedoman pengembangan Standar Nasional
bahwa ketiga merk dapat ditemukan di Indonesia. (Tabel 4).
beberapa tempat belanja dengan skala yang
berbeda

210
Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)

Gambar 2 Lima Tipe Strategi Porter.


(Sumber: David, 2009)

Tabel 4 Hasil pemeriksaan SNI 01-4314-1996.


PENILAIAN
NO KRITERIA PEMERIKSAAN KETERANGAN
Ya Tidak
1 Judul SNI jelas sesuai dengan √ -
isi substansinya

2 Penulisan SNI sesuai dengan √ Beberapa penulisan belum sesuai


ketentuan penulisan SNI dengan Pedoman penulisan SNI, antara
lain:
- Belum mencantumkan prakata
- Belum mencantumkan subjek dari
standar dalam penulisan ruang
lingkup
- Format penulisan

3 Kesesuaian acuan √ SNI 01-2897-1992 telah mengalami


normatif/referensi dengan revisi menjadi SNI 2897-2008.
persyaratan dan statusnya
masih berlaku

4 Kejelasan disertai klausul √ -


terkait syarat mutu, metode
uji, dan pengambilan contoh

5 Ketersediaan infrastruktur √ Tidak ada laboratorium uji khusus


pendukung untuk produk kopi siap minum dalam
penerapannya, seperti kemasan, namun beberapa
laboraotirum uji, lembaga laboratorium pengujian mampu
sertifikasi produk melakukan pengujian sesuai dengan
persyaratan dalam SNI 01-4314-1996.
211
Jurnal Standardisasi Volume 18 Nomor 3, November 2016: Hal 205 - 216

4.2 Jenis kopi yang dikonsumsi responden a. Iklan/ promosi


Untuk mengetahui kebutuhan konsumen Berdasarkan hasil kuesioner, faktor kunci
tehadap produk kopi siap minum dalam iklan/promosi menjadi prioritas terakhir.
kemasan, penelitian ini melibatkan sebanyak Sehingga diberikan bobot 0,05 yang
107 responden yang terlibat terbagi dalam menunjukkan bahwa faktor kunci ini dianggap
kisaran usia sebagai berikut: kurang penting oleh responden.
- <17 tahun 3 orang (1%) b. Kualitas produk
- 17-25 tahun 51 orang (48%)
Berdasarkan hasil kuesioner, faktor kunci
- 26-35 tahun 44 orang(41%)
kualitas produk menjadi prioritas ketiga yang
- 36-45 tahun 8 orang (7%),
membuat responden tertarik mengonsumsi
- 56-60 tahun 1 orang(1%)
produk minuman kopi siap minum. Sehingga
Dari hasil penelitian diketahui bahwa diberikan bobot 0,10 yang menunjukkan bahwa
sebanyak 97 orang (91%) menyatakan pernah faktor kunci ini dianggap cukup penting oleh
mengkonsumsi minuman kopi siap minum dalam responden.
kemasan, dan sisanya sebanyak 10 orang (9%)
c. Variasi produk
menyatakan tidak pernah mengkonsumsi produk
tersebut. Dari 9 merek yang ditawarkan kepada Berdasarkan hasil kuesioner, faktor kunci variasi
responden, ternyata terdapat 3 merek yang produk menjadi prioritas utama dalam
paling banyak dipilih oleh responden. Ketiga mengonsumsi produk minuman kopi siap minum.
merek tersebut yang akan digunakan sebagai Sehingga diberikan bobot 0,20 yang
bahan untuk menyusun strategi industri menunjukkan bahwa faktor kunci ini dianggap
minuman kopi siap minum dalam kemasan. sangat penting oleh responden.
Konsumen juga menyampaikan bentuk dan jenis d. Persaingan harga
kemasan yang paling disukai. Diantara kemasan Berdasarkan hasil kuesioner, faktor kunci
yang ada, kemasan botol disukai sebanyak 45 persaingan harga menjadi prioritas kedua yang
orang (46%), kemasan tetrapack disukai membuat responden tertarik mengonsumsi
sebanyak 35 orang (36%), dan kemasan kaleng produk minuman kopi siap minum. Sehingga
disukai sebanyak 17 orang (18%), seperti terlihat diberikan bobot 0,15 yang menunjukkan bahwa
pada Gambar 5. faktor kunci ini dianggap penting oleh responden
e. Loyalitas pelanggan
Berdasarkan hasil kuesioner, faktor kunci
loyalitas pelanggan menjadi prioritas utama
dalam mengonsumsi produk minuman kopi siap
minum, sama halnya dengan variasi produk. Hal
ini dikarenakan sebagian besar responden tidak
loyal, sehingga faktor kunci ini sangat penting
untuk dipertimbangkan agar loyalitas pelanggan
dapat meningkat. Dengan demikian, diberikan
bobot 0,20 yang menunjukkan bahwa faktor
kunci ini dianggap sangat penting.
f. Ketersediaan
Faktor kunci ketersediaan diberikan bobot 0,15
Gambar 5 Kemasan kopi siap minum yang karena berdasarkan hasil kuesioner, responden
paling disukai responden. menyatakan bahwa ketersediaan produk
Kemasan botol banyak disukai menjadi prioritas kedua bagi responden dalam
dibandingkan dengan kemasan yang lain karena mengonsumsi produk minuman kopi siap minum,
kepraktisan dalam mengkonsumsi produk sama halnya dengan faktor kunci persaingan
tersebut. Dengan kemasan botol dapat terjamin harga. Jelaskan berapa banyak yang
kopi tidak tumpah ketika tidak habis dalam satu mengatakan dalam kelompok bobot ini). Apa arti
kali konsumsi. nilai bobot tersebut?
g. Brand image
4.3 Analisa penyusunan strategi pemasaran Faktor kunci brand image berdasarkan hasil
kopi siap minum dalam kemasan kuesioner menjadi prioritas ketiga, sama halnya
dengan faktor kunci kualitas produk, yang
4.3.1 Analisa CPM (competitive profile matrik) membuat responden tertarik untuk mengonsumsi
Penentuan bobot dilakukan dengan produk minuman kopi siap minum. Sehingga,
memperhatikan hal – hal sebagai berikut: brand image diberikan bobot 0,10 yang
212
Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)

menunjukkan bahwa faktor kunci ini dianggap pelanggan kurang memanfaatkan layanan
kurang penting oleh responden. konsumen yang telah disediakan. Sehingga,
h. Layanan konsumen faktor kunci ini diberikan bobot 0,05 yang
menunjukkan bahwa layanan konsumen
Faktor kunci layanan konsumen menjadi prioritas
dianggap kurang penting.
terakhir bagi responden karena terkadang
Tabel 5 Matrik CPM untuk 3 merek kopi siap minum dalam kemasan.
Produk A Produk B Produk C
Faktor kunci Bobot Rating Skor Rating Skor Rating Skor
Iklan 0.05 2.00 0.10 4.00 0.20 1.00 0.05
Kualitas produk 0.10 2.00 0.20 3.00 0.30 2.00 0.20
Variasi produk 0.20 4.00 0.80 3.00 0.60 1.00 0.20
Persaingan harga 0.15 3.00 0.45 3.00 0.45 4.00 0.60
Loyalitas pelanggan 0.20 1.00 0.20 1.00 0.20 1.00 0.20
Ketersediaan 0.15 4.00 0.60 4.00 0.60 4.00 0.60
Brand image 0.10 4.00 0.40 3.00 0.30 2.00 0.20
Layanan konsumen 0.05 4.00 0.20 4.00 0.20 3.00 0.15
(Sumber: hasil survei, 2015)
Penentuan rating dilakukan dengan dan C memiliki respon yang sangat buruk
memperhatikan hal – hal sebagai berikut: terhadap faktor kunci ini.
a. Iklan/ promosi f. Ketersediaan
Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui Berdarkan hasil kuesioner yang menunjukkan
bahwa produk B melakukan iklan/promosi bahwa ketiga merk dapat ditemukan di
yang frekuensinya lebih banyak, yang diikuti beberapa tempat belanja dengan skala yang
oleh produk A dan C, sehingga dapat berbeda. Sehingga, dapat dikatakan bahwa
dikatakan bahwa perusahaan penghasil perusahaan penghasil produk A, B, dan C
produk B memiliki respon yang lebih baik memiliki respon yang sama-sama sangat baik
terhadap faktor kunci ini. terhadap faktor kunci ini.
b. Kualitas produk g. Brand image
Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui Faktor kunci brand image diberikan rating
bahwa komposisi produk B lebih berkualitas, berdasarkan produk favorit pilihan responden,
yang diikuti oleh produk A dan C, sehingga dengan urutan produk favorit yaitu produk A,
dapat dikatakan bahwa perusahaan B, kemudian C. Sehingga, perusahaan
penghasil produk B memiliki respon yang penghasil produk A memiliki respon yang
lebih baik terhadap faktor kunci ini. sangat baik terhadap faktor kunci ini,
c. Variasi produk dibandingkan dengan produk B dan C.
Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui h. Layanan konsumen
bahwa produk A memiliki variasi produk yang Berdasarkan hasil pengamatan, produk A dan
lebih banyak, yang diikuti oleh produk B dan B telah mencantumkan label layanan
C, sehingga dapat dikatakan bahwa konsumen dengan jelas dibandingkan
perusahaan penghasil produk A memiliki dengan produk C. Sehingga perusahaan
respon yang lebih baik terhadap faktor kunci penghasil produk A dan B dapat dikatakan
ini. memiliki respon yang lebih baik dibandingkan
d. Persaingan harga produk C.
Berdasarkan hasil pengamatan, produk C
memiliki harga yang terbaik dibandingkan 4.3.2 Analisa Porter Five
produk A dan B, sehingga produk C mampu
bersaing dengan produk A dan B. Dengan 4.3.2.1 Persaingan dalam industri kopi
demikian, perusahaan penghasil produk C Dalam industri minuman kopi siap minum,
memiliki respon yang lebih baik dibandingkan terdapat persaingan yang cukup ketat dari segi
dengan produk A dan B. cita rasa, kemasan, harga, maupun kepraktisan.
e. Loyalitas pelanggan Kondisi industri minuman kopi siap minum di
Dari hasil survei didapatkan bahwa sebanyak Indonesia sendiri saat ini tingkat persaingannya
62 responden (64%) menyatakan suka cukup tinggi. Berdasarkan hasil survei, dari 31
berganti merk. Sehingga, dapat dikatakan responden, 25 orang diantaranya adalah
bahwa perusahaan penghasil produk A, B, penikmat minuman kopi. Mereka berusaha
memenuhi kebutuhan akan minuman kopi ini

213
Jurnal Standardisasi Volume 18 Nomor 3, November 2016: Hal 205 - 216

dengan berbagai macam cara, yaitu dengan dan beberapa perusahaan. Hal ini dapat
membeli kopi dalam kemasan sachet, membeli mengakibatkan terjadinya tekanan kompetitif jika
kopi seduh di warung, maupun membeli kopi di terjadi penurunan harga produk pengganti yang
kafe. Kopi dalam kemasan sachet adalah menyebabkan beralihnya daya beli konsumen.
pesaing utama dari kopi dalam kemasan siap Selain produk sejenisnya, produk
minum, diikuti dengan kopi seduh yang biasa minuman RTD lainnya juga dapat menjadi
dijual di warung kopi sebagai pesaing kedua. potensi ancaman produk pengganti dalam
Lebih lanjut, keberadaan kafe yang semakin industri minuman kopi. Berdasarkan hasil
menjamur, juga turut menjadi pesaing kuesioner, adapun produk minuman pengganti
keberadaan minuman kopi dalam kemasan siap yang dapat menjadi ancaman antara lain AMDK,
minum. Sehingga dapat dianalisa bahwa minuman isotonic, minuman bersoda, minuman
keberadaan ketiga pesaing tersebut harus teh dalam kemasan, minuman sari buah, yogurt,
diperhatikan agar minuman kopi dalam kemasan minuman berenergi, dan lain sebagainya.
siap minum dapat terus meningkatkan pasarnya,
terlebih lagi dapat menguasai pasar.
4.3.2.4 Kekuatan tawar-menawar pemasok
Perusahaan penyedia minuman kopi, cenderung
4.3.2.2 Pendatang baru atau pesaing baru mudah mendapatkan bahan baku. Hal ini
Berdasarkan time line perkembangan industri dikarenakan perusahaan tersebut biasanya
kopi di Indonesia, pendatang baru atau pesaing memiliki perkebunan kopi sendiri. Sedangkan
baru yang masuk dalam industri kopi cenderung untuk bahan baku lainnya seperti air, gula, dan
sedikit. Selain itu, dari hasil kuesioner dapat sebagainya dapat dipenuhi melalui kerja sama
diketahui bahwa meskipun terdapat pelaku dan dengan perusahaan lain. Dengan demikian
merk baru yang ikut meramaikan industri dapat dianalisa bahwa kekuatan tawar-menawar
minuman kopi, konsumen tetap loyal terhadap dari pemasok relatif rendah.
beberapa merk tertentu, sehingga konsumen
sulit untuk berpindah ke minuman lain yang
4.3.2.5 Kekuatan tawar-menawar konsumen
sekiranya dianggap kurang ternama. Oleh
karena itu, dapat dianalisa bahwa potensi Berdasarkan hasil pengumpulan data (97
pendatang baru atau pesaing baru dalam responden), konsumen memiliki keleluasaan
industri kopi ini tetap ada, namun ancamannya untuk memilih produk kopi RTD sesuai dengan
rendah. keinginannya. Tiga produk yang menjadi pilihan
teratas konsumen sebagai berikut:
4.3.2.3 Potensi produk pengganti a. Produk A (42%)
Dalam banyak industri, perusahaan berada b. Produk B (32%)
dalam persaingan dekat dengan produsen c. Produk C (22%)
produk pengganti di industri lain (David, 2009). Banyaknya alternatif produk lain yang dapat
Hasil penelitian dari Hendriani (2015) yang dipilih oleh konsumen dengan variasi rasa,
melakukan survei kepada 1.221 outlet tradisional harga, dan volume yang dimiliki oleh masing-
dari berbagai tipe, yaitu toko eceran, warung masing produk tersebut, menyebabkan kekuatan
belanja, dan kios rokok di wilayah Jabodetabek, tawar-menawar dari konsumen menjadi relatif
Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, tinggi.
Medan & Makassar. Survei digelar pada 13 Mei
Analisa menggunakan informasi dari
sampai 13 Juni 2015, menyebutkan 10 (sepuluh)
merk produk kopi siap minum dalam kemasan berbagai sumber yang dapat digunakan untuk
yang tersedia di pasar adalah: mempertimbangkan penyusunan strategi oleh
masing-masing produsen kopi. Usulan tersebut
a. Granita (30,0%)
b. Good Day (24,1%) dapat dilihat pada Tabel 6. Seperti yang telah
c. Kopiko 70C (18,2%) dijelaskan sebelumnya, faktor kunci persaingan
harga dianggap penting oleh responden,
d. Kopi Cup (7,7%)
e. Nescafe (3,0%) sehingga responden akan memperhatikan harga
f. Cafela (2,7%) jual produk ketika akan melakukan pembelian.
Sehingga, produk A perlu memperhatikan harga
g. Torabika Kopikap (2,3%)
h. HSL White Coffee (1,0%) jual produk dalam strategi perusahaan. Selain
i. Kopyes (0,9%) itu, kualitas produk A yang dilihat berdasarkan
j. Capucini (0,6%) komposisi produk, memiliki kandungan kopi yang
Dari data tersebut, dapat dianalisa bahwa melebihi persyaratan dalam SNI, sehingga hal ini
dinilai tidak memenuhi standar yang ada.
pasar produk kopi siap minum dalam kemasan
ini tinggi karena diramaikan oleh beberapa merk

214
Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)

menurunkan presentase kandungan kopi. Begitu


juga dengan produk B, berdasarkan hasil
pengamatan dapat diketahui bahwa perusahaan
perlu memperhatikan harga jual produknya.
Selain itu, frekuensi iklan/promosi yang
diberikan kepada konsumen masih rendah.
Sehingga, usulan strategi yang dapat diberikan
kepada produk B yaitu cost leadership, dengan
menerapkan harga terendah dan terbaik di
pasaran, serta penetrasi produk, dengan
meningkatkan frekuensi iklan/ promosi kepada
konsumen.
Selanjutnya, berdasarkan hasil
pengamatan terhadap produk C, dapat diketahui
bahwa variasi produk dan rasa yang ditawarkan
kepada konsumen masih rendah. Selain itu,
frekuensi iklan/ promosi yang dilakukan
perusahaan dinilai masih rendah. Sehingga,
Gambar 6 Porter five produk kopi siap minum strategi yang dapat diusulkan yaitu
dalam kemasan. pengembangan produk, dengan menambah
(Sumber: Hasil analisa, 2015) variasi kemasan dan rasa, serta penetrasi
Dengan demikian, strategi yang dapat produk, dengan menambah frekuensi
diusulkan pada produk A yaitu cost leadership, iklan/promosi kepada para konsumen.
dengan memberikan harga terendah dan terbaik
di pasaran, dan pengembangan produk, dengan
Tabel 6 Usulan strategi untuk industry kopi RTD.
PRODUK KRITERIA USULAN STRATEGI KETERANGAN
A Cost leadership low cost dan best value konsumen sangat sensitif terhadap harga
dan kekuatan pembeli sangat kuat
Pengembangan menurunkan presentase karena dari ketiga produk yang dianalisa,
produk kandungan kopi dalam produk A memiliki kandungan kopi yang
RTD paling tinggi
B Cost leadership low cost dan best value konsumen sangat sensitif terhadap harga
dan kekuatan pembeli sangat kuat
Penetrasi produk menambah iklan untuk -
produk RTD coffee
C Pengembangan menambah variasi -
produk kemasan dan rasa
Penetrasi produk menambah iklan untuk -
meningkatkan pangsa
pasar

5. KESIMPULAN dalam RTD, menambah variasi rasa dan


kemasan dan meningkatkan frekuensi iklan
dalam televisi.
Hasil analisa terhadap dokumen SNI 01-
4314-1996 menunjukkan bahwa SNI tersebut Pentingnya tingkat kesesuaian produk
tidak sesuai dengan kriteria pedoman dengan standar untuk mengetahui kualitas
pengembangan Standar Nasional Indonesia produk kopi siap minum dalam kemasan,
dalam hal penulisan SNI dan penggunaan acuan membuka peluang untuk dilakukannya penelitian
normatif/referensi, sehingga SNI tersebut perlu lanjutan. Standar-standar yang sesuai untuk
dikaji ulang sesuai dengan prosedur yang telah dijadikan acuan dalam pengujian produk
ditetapkan. minuman kopi dalam kemasan juga perlu
diidentifikasi lebih lanjut. Selain itu perlu
Usulan strategi yang dihasilkan dari
diketahui pula tingkat kepedulian konsumen
penghimpunan informasi dari eksternal dan
terhadap standar dan tingkat kemampuan
internal perusahan antara lain low cost and best
produsen dalam menerapkan standar produk
value, menurunkan presentase kandungan kopi
dan bagaimana penggunaan SNI 01-4314-1996
215
Jurnal Standardisasi Volume 18 Nomor 3, November 2016: Hal 205 - 216

Minuman kopi dalam kemasan di kalangan http://mix.co.id/brand-


pengusaha untuk mengetahui kebutuhan pasar insight/research/siapa-top-10-indonesia-
akan SNI tersebut. most-visible-rtd-coffee
Infografis, 2013, Infografis produksi kopi
Indonesia terbesar ketiga dunia,
http://houseofinfographics.com/kopi-
UCAPAN TERIMA KASIH indonesia-terbesar-ketiga-dunia/
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Lembang. RD, 2010, Analisis Pengaruh Kualitas
Rahmat Nurcahyo dan Perpustakaan BSN yang Produk, Harga, Promosi, Dan Cuaca
telah menyediakan referensi yang dibutuhkan Terhadap Keputusan Pembelian Teh Siap
dalam melaksanakan penelitian ini. Minum Dalam Kemasan Merek Teh Botol
Sosro, Universitas Diponegoro, Semarang
Suminto, Kristiningrum, E., Widyatmoko. W.,
DAFTAR PUSTAKA
Susanto, D. A ., 2013. Kesesuaian Mutu
Produk Unggulan UKM Sektor Pangan
Badan Standardisasi Nasional, 1996, SNI 01-
Terhadap Standar Nasional Indonesia,
4314-1996 Minuman kopi dalam
Jurnal Standardisasi, Vol 15, No 3
kemasan, Jakarta
Siregar, S. 2014, Bisnis Minuman Kopi Siap
-------, 2015, Peraturan Kepala Badan Nasional
Minum yang Sangat Menggiurkan,
Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang
http://www.marsindonesia.com/newsletter/
Pedoman Pengembangan Standar
bisnis-minuman-kopi-siap-minum-yang-
nasional Indonesia, Jakarta
kian-menggiurkan
David, F.R. 2009. Strategic Management,
Shin DH., Kim H., Hwang J. (2015).
Manajemen Strategis Konsep. Penertbit
Standardization revisited: A critical
Salemba, Jakarta.
literature review on standards and
Harisudin. M, 2011, Competitive Profile Matrix
innovation., Computer Standards &
Sebagai Alat Analisis Strategi Pemasaran
Interfaces Vol. 38, pp. 152–157
Produk Atau Jasa, Sepa : Vol. 7 No.2
Undang-Undang No 20 Tahun 2014 tentang
Pebruari 2011 : 80–84
Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian
Hidayat, HN, 2007, Strategi Marketing Mix Kopi
Wiyono, G 2011, Merancang Penelitian Bisinis
Kapal Api,
dengan Alat Analisis SPSS 17.0 &
https://moko31.wordpress.com/2009/08/30
SmartPLS 2.0, Cetakan Pertama, UPP
/strategi-marketing-mix-kopi-kapal-api/
STIM YKPN, Yogyakarta
Hybrida, S, 2016. Harumnya pasar kopi siap
Wikipedia, 2015, Analisa lima kekuatan porter,
minum. Mars Indonesia webmail.
https://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_lima_
http://www.marsindonesia.com/articles/har
kekuatan_Porter, diakses tanggal 2 Juli
umnya-pasar-kopi-siap-minum
2015
Hsu. J.L and Hung. W.C, 2005, Packed coffee
drink consumption and product attribute Woods, J. A., Cortada, J, (2001), The Knowledge
preferences of young adults in Taiwan. Management Yearbook 2000-2001
Food Quality and Preference, Volume 16,
Issue 4, June 2005, Pages 361–367
Hendriani, L. (2015). Top 10 Indonesia most
Avaliable RTD Coffee Brand.

216

Anda mungkin juga menyukai