RTD Kopi
RTD Kopi
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)
Ellia Kristiningrum1, Firdanis Setyaning2, Febrian Isharyadi1 dan Ahmad Syafin A.3
1
Badan Standardisasi Nasional, Gedung BPPT I, Jl. M. H. Thamrin No. 8, Jakarta, Indonesia
2
Universitas Serang Raya, Jl. Raya Serang, Cilegon Km. 5, Serang, Banten, Indonesia
3
Wiratech, Jl. Gunung Sahari XI No. 76A, Sawah Besar, Jakarta, Indonesia
E-mail: ellia@bsn.go.id
Abstrak
Banyaknya produk kopi siap minum dalam kemasan yang beredar di Indonesia menandakan bahwa bisnis ini
memiliki peluang pasar yang besar. Masing-masing produsen berlomba-lomba menciptakan strategi untuk meraih
pasar yang ada. Oleh karena itu, keberadaan Standar Nasional Indonesia sangat penting untuk memberikan
jaminan kepada konsumen akan mutu produk kopi siap minum dalam kemasan meskipun merk yang beredar di
pasar berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisa terhadap SNI 01-4314-1996 dan strategi
pemasaran produk kopi siap minum dalam kemasan. Kesesuaian SNI 01-4314-1996 dengan kriteria-kriteria yang
ditetapkan dalam peraturan pedoman pengembangan Standar Nasional Indonesia menunjukkan bahwa dari segi
penulisan dan acuan normatif SNI tersebut tidak sesuai oleh karena itu perlu dilakukan kaji ulang terhadap SNI
tersebut. Sedangkan usulan strategi pemasaran produk kopi siap minum dalam kemasan antara lain low cost and
best value, menurunkan presentase kandungan kopi dalam RTD, menambah variasi rasa dan kemasan,
meningkatkan frekuensi iklan dalam televisi.
Kata kunci: competitive profile matrix (CPM), kopi RTD, standar, kualitas, strategi.
Abstract
The number of ready to drink (RTD) coffee products that circulated in Indonesia indicate that this business has a
large market opportunity. Each manufacturer competing to create a strategy to reach existing markets. The
strategy is a to reach a goal, where the formulation requires a mechanism that is not simple. The existence of the
Indonesian National Standard (SNI) is essential to guarantee to consumers of product quality ready to drink
coffee although the brand in the market are different. This study aimed to analyze SNI 01-4314-1996 and the
strategy of ready to drink coffee products. The suitability of the SNI 01-4314-1996 with the criteria set out in the
regulations of the National Standards development guidelines for Indonesia pointed out that in terms of writing
and normative reference the SNI is therefore not appropriate to do phased against SNI. While the proposed
strategy of marketing the product in packaging ready to drink coffee, among others, the low cost and best value,
the lower the percentage content of coffee in RTD, adding flavour and packaging variations, increase the
frequency of advertising in television.
Keywords: competitive profile matrix (CPM), coffee RTD, standards, quality, strategy.
205
Jurnal Standardisasi Volume 18 Nomor 3, November 2016: Hal 205 - 216
marketing dan diferensiasi produk yang hingga saat ini dikenal dengan nama kopi.
dihasilkan (Hsu dan Hung, 2005). (Fariz, 2014).
Di Indonesia, kopi siap minum dapat Pada tahun 1696 kopi Arabika pertama
dinikmati dalam beberapa kemasan, antara lain kali masuk ke Indonesia dan dibudidayakan di
botol kaca, kaleng, tetra (tetrapack dan tetra salah satu kawasan di Jakarta, namun tanaman
wedge), cup plastik dan botol plastik. Untuk rasa, kopi ini kemudian mati, sehingga pada tahun
pada awalnya RTD-Coffee lebih didominasi rasa 1699 didatangkan bibit baru dan dikembangkan
original (black coffee), sekarang ini tersedia di wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Kegiatan
varian rasa lainnya, seperti cappuccino, latte, perdagangan ekspor kopi di Indonesia pertama
mochaccino, milk coffee, caramel coffee, vanilla kali dilakukan pada tahun 1977 oleh VOC dan
coffee, dan sebagainya (Siregar, 2014). meningkat sebanyak 60 ton/tahun selama kurun
Semakin maraknya bisnis kopi dalam kemasan waktu 10 tahun. Selama satu-tiga perempat
di Indonesia memberikan pilihan yang sangat abad kopi Arabika merupakan satu-satunya jenis
bervariasi kepada masyarakat. Cara yang paling kopi komersial yang ditanam di Indonesia.
tepat untuk mengetahui kebutuhan konsumen Namun, penyakit hama daun (Hemileia vastatrix)
adalah dengan mengetahui pola pembeliannya. masuk ke Indonesia sejak tahun 1876 dan
Hal ini sangat penting karena saat ini, konsumen mengakibatkan tanaman kopi Arabika menajdi
mulai berfikir saat akan membeli sebuah produk, rusak. Akibatnya kopi Arabika hanya dapat
sehingga mereka akan mendapatkan hidup pada ketinggian 1000 m ke atas dari
kegunaan/manfaat yang mereka cari dari produk permukaan laut. Sisa-sisa tanaman kopi Arabika
tersebut. Bahkan terkadang, konsumen tidak ini masih dijumpai di dataran tinggi ijen (Jawa
ragu untuk mengeluarkan biaya lebih untuk Timur), Tanah Tinggi Toraja (Sulawesi Selatan),
mendapatkan produk yang lebih berkualitas lereng bagian atas Bukit Barisan (Sumatera)
(Lembang, 2010). seperti Mandhailing, Lintong dan Sidikalang di
Standar menetapkan kerangka kerja yang Sumatera Utara dan dataran tinggi Gayo di
mendefinisikan kosa kata umum, pengaturan Nangroe Aceh Darussalam. (AEKI, 2015).
karakteristik penting dari suatu produk atau jasa, Pada tahun 1875, Belanda mendatangkan
serta memberikan praktek terbaik yang akan kopi Liberika ke Indonesia untuk mengatasi
memastikan hasil yang bermanfaat (Shin, Kim, & serangan hama yang melanda, namun ternyata
Hwang, 2015). Kesesuaian produk dengan jenis tanaman inipun mudah diserang hama
standar dapat memberikan kontribusi dalam karat daun dan kurang bisa diterima di pasar
membantu kompetisi perusahaan, memperluas karena rasanya masam. Sisa tanaman Liberika
akses pasar, membuat operasi perusahaan saat ini masih dapat dijumpai di daerah Jambi,
menjadi efisien dan berkembang (Suminto, et. al, Jawa Tengah dan Kalimantan. (AEKI, 2015).
2013). Selanjtunya, pada tahun 1900, kopi jenis
Tujuan dari penelitian ini adalah robusta didatangkan ke Indonesia oleh Belanda.
melakukan analisa terhadap SNI 01-4314-1996 Jenis tanaman ini tahan terhadap hama karat
dan strategi pemasaran produk kopi siap minum daun dan memerlukan syarat untuk tumbuh yang
dalam kemasan. ringan dan produktivitasnya sangat tinggi.
Sehingga mulai tahun 1900, kopi jenis robusta
cepat berkembang dibandingkan kopi arabika.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Semenjak Pemerintah Hindia Belanda
meninggalkan Indonesia, perkebunan rakyat
2.1 Sejarah Kopi
terus tumbuh dan berkembang, sedangkan
Kopi adalah sejenis minuman yang berasal dari perkebunan swasta hanya bertahan di Jawa
proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil di
kopi. Penemuan biji kopi sebagai minuman yang Sumatera; dan perkebunan negara (PTPN)
sangat berkhasiat dan berenergi pertama kali hanya tinggal di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
oleh orang dari bangsa Etiopia di benua Afrika (AEKI, 2015). Luas area dan jumlah produksi
sekitar 3000 tahun yang lalu atau 1000 tahun kopi jenis robusta jauh lebih banyak
sebelum Masehi. Kata kopi berasal dari bahasa dibudidayakan di Indonesia (lihat Tabel 1).
Arab : ( ﻗﮭوةqahwah) yang artinya kekuatan,
karena pada awal ditemukan kopi digunakan
sebagai makanan berenergi tinggi. Kata qahwah
kemudian diubah menjadi kahveh yang berasal
dari bahasa Turki dan kemudian diubah lagi
menjadi koffie dalam bahasa Belanda.
Penggunaan kata koffie langsung diartikan ke
dalam bahasa Indonesia menjadi kata kopi yang
206
Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)
kaca. Di Indonesia, produk kopi dalam kemasan 2.4 SNI 01-4314-1996 Minuman kopi dalam
botol kaca ini pertama kali diluncurkan oleh kemasan
industri yang berlatar belakang minuman Dalam SNI 01-4314-1996 yang dimaksud kopi
bersoda/minuman beraroma buah sejak tahun dalam kemasan adalah minuman yang dibuat
1930-an, diantaranya adalah Perusahaan dari campuran ekstrak kopi dan air minum
Minuman Oriental yang berdiri tahun 1932. dengan atau tanpa penambahan bahan
(Siregar, 2014). makanan lain dan bahan tambahan makanan
Pada tahun 1980-an, industri kopi siap yang diizinkan, dikemas secara hermatik. SNI
minum modern di Indonesia mulai berdiri, dan tersebut mengatur parameter mutu yang dapat
beberapa perusahaan yang masuk ke dalam dipenuhi oleh produk kopi siap minum dalam
bisnis tersebut antara lain PT. Heinz ABC kemasan antara lain keadaan (bau, rasa,
Indonesia dengan merk CAPUCINI (ketika itu warna), kadar kafein, bahan tambahan makanan
bernama PT. ABC Central Food Industry), PT. (pemanis buatan, pewarna tambahan), cemaran
Salim Graha Food & Beverage Industry (tahun logam (Pb, Cu, Zn, Sn), cemaran Arsen, dan
1983). Perkembangan pasar RTD-Coffee hingga cemaran mikroba (ALT, coliform, clostridium
dekade tahun 1990-an masih lamban, karena perfringes, staphylococcus aureus) (lihat Tabel
sebagian besar pelakunya adalah home industry 3).
yang pemasarannya relatif terbatas sementara Kebutuhan pengembangan SNI yang akan
industri yang berskala lebih besar yang memiliki disusun harus mempertimbangkan salah
jaringan distribusi yang luas, fokus pada satunya adalah hasil kaji ulang SNI. Proses kaji
pengembangan berbagai produk lain yang ulang terhadap SNI ini dilakukan tehadap SNI
pasarnya sedang menggeliat, seperti sirup, sekurang-kurangnya satu kali dalam 5 (lima)
kecap, saus cabe dan tomat, dan sebagainya. tahun setelah ditetapkan untuk menjaga
(Siregar, 2014). kesesuaiannya terhadap kebutuhan pasar dan
Di pasar domestik, bisnis kopi siap minum perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
dalam kemasan mulai ramai di pasaran pada dalam rangka memelihara dan menilai kelayakan
tahun 2000-an yang ditunjukkan dengan dan kekinian SNI. Badan Standardisasi Nasional
pertumbuhan volume dan nilai pasar serta (BSN) menetapkan SNI hasil tindak lanjut kaji
semakin banyaknya industri yang ikut ulang berupa ralat, amandemen, revisi, abolisi,
meramaikan pasar dengan beberapa merk. Hasil atau tetap dengan menerbitkan surat keputusan
penelitian PT. Mars (2014) menyebutkan bahwa Kepala BSN.
lebih dari 50 perusahaan dan 60 merk bersaing
untuk meramaikan pasar ini. Selain itu distribusi
yang semakin meluas dan promosi yang begitu 3. METODE PENELITIAN
gencar juga mengindikasikan pasarnya semakin
berkembang. (Siregar, 2014). 3.1 Metode Pengumpulan Data
Volume pasar kopi siap mium di Indonesia Untuk mengetahui variasi produk kopi dalam
mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar kemasan di pasar, pengumpulan data dilakukan
27,1% per tahun selama periode 2010-2014. dengan cara observasi terhadap ketersediaan
Pada tahun 2010, volume pasar kopi siap minum produk di toko kelontong (3 tempat), minimarket
di Tanah Air tercatat sebesar 51,91 juta liter. (4 tempat) dan supermarket (2 tempat). Dari
Empat tahun berselang, yaitu pada 2014, hasil survei tersebut, didapatkan 9 merek produk
volume pasar minuman kopi siap minum di kopi siap minum dalam kemasan. Pengamatan
Indonesia sudah mencapai 134,17 juta liter. tersebut dilakukan untuk kemasan botol plastik,
Peningkatan pasar tersebut ternyata juga sejalan tetra pack, dan kaleng. Pada proses pemilihan
dengan pertumbuhan omzet kopi siap minum. responden digunakan teknik sampling, yaitu:
Selama periode 2010 - 2014 pertumbuhan nilai a. Purposive sampling
pasar atau konsumsi minuman kopi siap minum Teknik sampling ini dilakukan untuk memberikan
di Indonesia meningkat rata-rata 38% per tahun. kuesioner kepada konsumen secara online, yang
Pada tahun 2010, nilai pasar kopi siap minum dimulai pada tanggal 28 Mei 2015 pukul 08.30
tercatat sebesar Rp 441,88 miliar. Pada tahun WIB dan diakhiri pada tanggal 30 Mei 2015
2014, nilai pasar minuman kopi siap minum di pukul 08.30 WIB. Cara pengambilan sampel
Indonesia telah mencapai Rp1,58 triliun. Sampai dilakukan secara sengaja, dalam arti
dengan Agustus 2015 terdapat 124 perusahaan direncanakan berdasarkan kriteria tertentu, yaitu
minuman kopi siap minum di Indonesia (baik konsumen yang pernah mengkonsumsi produk
produsen maupun perusahaan pemegang merek kopi siap minum dalam kemasan.
lokal maupun impor) (Hybrida, 2016).
208
Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)
menunjukkan penting tidaknya faktor kunci, f. Brand image, faktor kunci brand image
dimana masing-masing faktor kunci nilainya diberikan rating berdasarkan produk favorit
berkisar antara 0,0 (sangat tidak penting) sampai pilihan responden
dengan 1,0 (sangat penting) dengan total bobot g. Layanan konsumen, faktor kunci layanan
sama dengan 1,0. Selanjutnya, menentukan konsumen dilihat dari pencantuman label
peringkat pada masing-masing faktor kunci untuk layanan konsumen pada kemasan.
menunjukkan seberapa efektif strategi
perusahaan dalam merespon faktor kunci
3.2.3 Analisa 5 kekuatan Porter
tersebut, dimana nilainya berkisar antara 1
Menurut David (2009), untuk menghadapi
(respon sangat buruk) sampai dengan 4 (respon
persaingan tersebut, Porter mengembangkan
sangat baik). Setelah mengetahui nilai bobot dan
lima tipe strategi, yaitu:
peringkat, kedua nilai tersebut dikalikan
1. Low-cost, memenuhi produk atau jasa bagi
sehingga dapat diketahui faktor kunci yang
sebagian besar konsumen dengan harga
paling unggul bagi perusahaan. Dengan
terendah yang beredar di pasaran.
demikian, faktor kunci tersebut dapat diandalkan
2. Best-value, memenuhi produk atau jasa bagi
untuk selanjutnya digunakan dalam menyusun
sebagian besar konsumen dengan nilai harga
strategi perusahaan.
terbaik yang beredar di pasaran.
Penentuan rating dilakukan dengan 3. Differentiation, bertujuan untuk memproduksi
memperhatikan hal – hal sebagai berikut: produk dan jasa yang mempertimbangkan
a. Iklan/ promosi, faktor kunci ini dinilai keunikan dan mengarah pada konsumen
berdasarkan frekuensi penayangannya di yang relatif terhadap harga.
televisi. Adapun pemilihan waktu didasarkan 4. Low-cost focus, memenuhi produk atau jasa
pada alasan bahwa pada jam tersebut bagi sebagian kecil konsumen dengan harga
merupakan waktu bagi sebagian besar terendah yang beredar di pasaran.
masyarakat untuk menonton televisi, 5. Best-value focus, memenuhi produk atau jasa
sedangkan stasiun TV yang terpilih bagi sebagian kecil konsumen dengan nilai
merupakan stasiun TV yang sudah ternama harga terbaik yang beredar di pasaran.
dengan jutaan penonton setianya. Metode ini dilakukan dengan mengidentifikasi 5
b. Kualitas produk, faktor kunci ini dilihat dari kekuatan yang terdapat pada perusahaan
pencantuman komposisi produk dalam penghasil produk kopi, sehingga selanjutnya
kemasan (pemanis buatan dan kadar kopi dapat diusulkan strategi bersaing perusahaan
instan). Dalam SNI disebutkan bahwa dalam sesuai dengan 5 tipe strategi Porter.
produk ini tidak boleh mengandung pemanis
buatan.
c. Variasi produk, faktor kunci ini dilihat dari 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
jumlah macam kemasan dan varian rasa
yang tersedia pada setiap merk. 4.1 Analisa SNI 01-4314-1996 Minuman kopi
d. Loyalitas pelanggan, faktor kunci ini dilihat dalam kemasan
berdarkan hasil kuesioner yang menunjukkan Usia dari SNI minuman kopi dalam kemasan
bahwa pelanggan tidak loyal. Dari hasil survei ditemukan telah lebih dari 5 tahun. Dengan
didapatkan bahwa sebagak 62 responden demikian sudah selayaknya dilakukan kaji ulang.
(64%) menyatakan suka berganti merk. Penelitian ini melakukan pemeriksaan terhadap
e. Ketersediaan, faktor kunci ini dilihat kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam peraturan
berdarkan hasil kuesioner yang menunjukkan pedoman pengembangan Standar Nasional
bahwa ketiga merk dapat ditemukan di Indonesia. (Tabel 4).
beberapa tempat belanja dengan skala yang
berbeda
210
Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)
menunjukkan bahwa faktor kunci ini dianggap pelanggan kurang memanfaatkan layanan
kurang penting oleh responden. konsumen yang telah disediakan. Sehingga,
h. Layanan konsumen faktor kunci ini diberikan bobot 0,05 yang
menunjukkan bahwa layanan konsumen
Faktor kunci layanan konsumen menjadi prioritas
dianggap kurang penting.
terakhir bagi responden karena terkadang
Tabel 5 Matrik CPM untuk 3 merek kopi siap minum dalam kemasan.
Produk A Produk B Produk C
Faktor kunci Bobot Rating Skor Rating Skor Rating Skor
Iklan 0.05 2.00 0.10 4.00 0.20 1.00 0.05
Kualitas produk 0.10 2.00 0.20 3.00 0.30 2.00 0.20
Variasi produk 0.20 4.00 0.80 3.00 0.60 1.00 0.20
Persaingan harga 0.15 3.00 0.45 3.00 0.45 4.00 0.60
Loyalitas pelanggan 0.20 1.00 0.20 1.00 0.20 1.00 0.20
Ketersediaan 0.15 4.00 0.60 4.00 0.60 4.00 0.60
Brand image 0.10 4.00 0.40 3.00 0.30 2.00 0.20
Layanan konsumen 0.05 4.00 0.20 4.00 0.20 3.00 0.15
(Sumber: hasil survei, 2015)
Penentuan rating dilakukan dengan dan C memiliki respon yang sangat buruk
memperhatikan hal – hal sebagai berikut: terhadap faktor kunci ini.
a. Iklan/ promosi f. Ketersediaan
Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui Berdarkan hasil kuesioner yang menunjukkan
bahwa produk B melakukan iklan/promosi bahwa ketiga merk dapat ditemukan di
yang frekuensinya lebih banyak, yang diikuti beberapa tempat belanja dengan skala yang
oleh produk A dan C, sehingga dapat berbeda. Sehingga, dapat dikatakan bahwa
dikatakan bahwa perusahaan penghasil perusahaan penghasil produk A, B, dan C
produk B memiliki respon yang lebih baik memiliki respon yang sama-sama sangat baik
terhadap faktor kunci ini. terhadap faktor kunci ini.
b. Kualitas produk g. Brand image
Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui Faktor kunci brand image diberikan rating
bahwa komposisi produk B lebih berkualitas, berdasarkan produk favorit pilihan responden,
yang diikuti oleh produk A dan C, sehingga dengan urutan produk favorit yaitu produk A,
dapat dikatakan bahwa perusahaan B, kemudian C. Sehingga, perusahaan
penghasil produk B memiliki respon yang penghasil produk A memiliki respon yang
lebih baik terhadap faktor kunci ini. sangat baik terhadap faktor kunci ini,
c. Variasi produk dibandingkan dengan produk B dan C.
Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui h. Layanan konsumen
bahwa produk A memiliki variasi produk yang Berdasarkan hasil pengamatan, produk A dan
lebih banyak, yang diikuti oleh produk B dan B telah mencantumkan label layanan
C, sehingga dapat dikatakan bahwa konsumen dengan jelas dibandingkan
perusahaan penghasil produk A memiliki dengan produk C. Sehingga perusahaan
respon yang lebih baik terhadap faktor kunci penghasil produk A dan B dapat dikatakan
ini. memiliki respon yang lebih baik dibandingkan
d. Persaingan harga produk C.
Berdasarkan hasil pengamatan, produk C
memiliki harga yang terbaik dibandingkan 4.3.2 Analisa Porter Five
produk A dan B, sehingga produk C mampu
bersaing dengan produk A dan B. Dengan 4.3.2.1 Persaingan dalam industri kopi
demikian, perusahaan penghasil produk C Dalam industri minuman kopi siap minum,
memiliki respon yang lebih baik dibandingkan terdapat persaingan yang cukup ketat dari segi
dengan produk A dan B. cita rasa, kemasan, harga, maupun kepraktisan.
e. Loyalitas pelanggan Kondisi industri minuman kopi siap minum di
Dari hasil survei didapatkan bahwa sebanyak Indonesia sendiri saat ini tingkat persaingannya
62 responden (64%) menyatakan suka cukup tinggi. Berdasarkan hasil survei, dari 31
berganti merk. Sehingga, dapat dikatakan responden, 25 orang diantaranya adalah
bahwa perusahaan penghasil produk A, B, penikmat minuman kopi. Mereka berusaha
memenuhi kebutuhan akan minuman kopi ini
213
Jurnal Standardisasi Volume 18 Nomor 3, November 2016: Hal 205 - 216
dengan berbagai macam cara, yaitu dengan dan beberapa perusahaan. Hal ini dapat
membeli kopi dalam kemasan sachet, membeli mengakibatkan terjadinya tekanan kompetitif jika
kopi seduh di warung, maupun membeli kopi di terjadi penurunan harga produk pengganti yang
kafe. Kopi dalam kemasan sachet adalah menyebabkan beralihnya daya beli konsumen.
pesaing utama dari kopi dalam kemasan siap Selain produk sejenisnya, produk
minum, diikuti dengan kopi seduh yang biasa minuman RTD lainnya juga dapat menjadi
dijual di warung kopi sebagai pesaing kedua. potensi ancaman produk pengganti dalam
Lebih lanjut, keberadaan kafe yang semakin industri minuman kopi. Berdasarkan hasil
menjamur, juga turut menjadi pesaing kuesioner, adapun produk minuman pengganti
keberadaan minuman kopi dalam kemasan siap yang dapat menjadi ancaman antara lain AMDK,
minum. Sehingga dapat dianalisa bahwa minuman isotonic, minuman bersoda, minuman
keberadaan ketiga pesaing tersebut harus teh dalam kemasan, minuman sari buah, yogurt,
diperhatikan agar minuman kopi dalam kemasan minuman berenergi, dan lain sebagainya.
siap minum dapat terus meningkatkan pasarnya,
terlebih lagi dapat menguasai pasar.
4.3.2.4 Kekuatan tawar-menawar pemasok
Perusahaan penyedia minuman kopi, cenderung
4.3.2.2 Pendatang baru atau pesaing baru mudah mendapatkan bahan baku. Hal ini
Berdasarkan time line perkembangan industri dikarenakan perusahaan tersebut biasanya
kopi di Indonesia, pendatang baru atau pesaing memiliki perkebunan kopi sendiri. Sedangkan
baru yang masuk dalam industri kopi cenderung untuk bahan baku lainnya seperti air, gula, dan
sedikit. Selain itu, dari hasil kuesioner dapat sebagainya dapat dipenuhi melalui kerja sama
diketahui bahwa meskipun terdapat pelaku dan dengan perusahaan lain. Dengan demikian
merk baru yang ikut meramaikan industri dapat dianalisa bahwa kekuatan tawar-menawar
minuman kopi, konsumen tetap loyal terhadap dari pemasok relatif rendah.
beberapa merk tertentu, sehingga konsumen
sulit untuk berpindah ke minuman lain yang
4.3.2.5 Kekuatan tawar-menawar konsumen
sekiranya dianggap kurang ternama. Oleh
karena itu, dapat dianalisa bahwa potensi Berdasarkan hasil pengumpulan data (97
pendatang baru atau pesaing baru dalam responden), konsumen memiliki keleluasaan
industri kopi ini tetap ada, namun ancamannya untuk memilih produk kopi RTD sesuai dengan
rendah. keinginannya. Tiga produk yang menjadi pilihan
teratas konsumen sebagai berikut:
4.3.2.3 Potensi produk pengganti a. Produk A (42%)
Dalam banyak industri, perusahaan berada b. Produk B (32%)
dalam persaingan dekat dengan produsen c. Produk C (22%)
produk pengganti di industri lain (David, 2009). Banyaknya alternatif produk lain yang dapat
Hasil penelitian dari Hendriani (2015) yang dipilih oleh konsumen dengan variasi rasa,
melakukan survei kepada 1.221 outlet tradisional harga, dan volume yang dimiliki oleh masing-
dari berbagai tipe, yaitu toko eceran, warung masing produk tersebut, menyebabkan kekuatan
belanja, dan kios rokok di wilayah Jabodetabek, tawar-menawar dari konsumen menjadi relatif
Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, tinggi.
Medan & Makassar. Survei digelar pada 13 Mei
Analisa menggunakan informasi dari
sampai 13 Juni 2015, menyebutkan 10 (sepuluh)
merk produk kopi siap minum dalam kemasan berbagai sumber yang dapat digunakan untuk
yang tersedia di pasar adalah: mempertimbangkan penyusunan strategi oleh
masing-masing produsen kopi. Usulan tersebut
a. Granita (30,0%)
b. Good Day (24,1%) dapat dilihat pada Tabel 6. Seperti yang telah
c. Kopiko 70C (18,2%) dijelaskan sebelumnya, faktor kunci persaingan
harga dianggap penting oleh responden,
d. Kopi Cup (7,7%)
e. Nescafe (3,0%) sehingga responden akan memperhatikan harga
f. Cafela (2,7%) jual produk ketika akan melakukan pembelian.
Sehingga, produk A perlu memperhatikan harga
g. Torabika Kopikap (2,3%)
h. HSL White Coffee (1,0%) jual produk dalam strategi perusahaan. Selain
i. Kopyes (0,9%) itu, kualitas produk A yang dilihat berdasarkan
j. Capucini (0,6%) komposisi produk, memiliki kandungan kopi yang
Dari data tersebut, dapat dianalisa bahwa melebihi persyaratan dalam SNI, sehingga hal ini
dinilai tidak memenuhi standar yang ada.
pasar produk kopi siap minum dalam kemasan
ini tinggi karena diramaikan oleh beberapa merk
214
Standar Produk Kopi dalam Kemasan dan Strategi Pemasarannya
(Ellia Kristiningrum, Firdanis Setyaning, Febrian Isharyadi dan Ahmad Syafin A.)
216