Anda di halaman 1dari 54

BAB I

DERET FOURIER

1.1 Fungsi Periodik


Fungsi f(x) dikatakan periodik jika nilai-nilai fungsinya berulang secara
berkala pada suatu interval tertentu. Nilai interval tertentu disebut
periode f(x). f(x) dengan periode T dituliskan sebagai:
f(x)=f(x+T),
T = periode f(x), dengan nilai konstanta positif.

f(x)

x
T

Periode = T

Gambar 1. Fungsi Periodik

1.2 Fungsi Sinusoida


(a) f(x) = sin x
Salah satu contoh sinyal periodik adalah f(x)= sin x seperti tampak pada
Gambar 2. Nilai fungsi ini akan selalu berulang setelah interval 3600
atau 2π. Periode sin x (satu siklus penuh)= 2π dan Amplitudo sin x =1

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 1


f(x)

1
amplitudo

π 2π
amplitudo

-1
periode = 2π

Gambar 2. Fungsi sin x

Fungsi sin x mempunyai periode 2π, sin x juga dapat mempunyai


periode 4π, 6π,.. Karena sin (x+2π), sin (x+4π), sin (x+6π),... sama
dengan sin x maka 2π adalah periode terkecil atau periode sin x.

(b) f(x) = 5sin2x


Seperti tampak pada Gambar, fungsi ini mempunyai 2 siklus penuh pada
00-3600 , jadi periode = 1800 atau 2π/2. Amplitudo =5.
f(x)

π 2π

-5

Gambar 3. Fungsi 5sin 2x

(b) f(x) = Asin nx


Dari dua contoh sebelumnya dapat disimpulkan bentuk umum fungsi
Asin nx mempunyai periode 2π/n dan amplitudo= A. Bentuk Acos nx
juga berlaku sama.

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 2


Latihan
Untuk soal berikut tentukan a. Amplitudo b. Periode !
1. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 3𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠5𝑥𝑥 2. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 2𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐3𝑥𝑥
𝑥𝑥
3. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 4. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 4𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠2𝑥𝑥
2

5. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 5𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐4𝑥𝑥 6. 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 2𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠


2𝑥𝑥
7. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 3𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐6𝑥𝑥 8. 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 6𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
3

1.3 Fungsi Harmonik


Fungsi f(x) periodik sembarang dapat dinyatakan sebagai jumlah fungsi
sinusoida. Jumlah fungsi sinuoida yang dimaksud adalah jumlah fungsi
sinusoida dan harmonisanya (kelipatan periode T).
Contoh:
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 𝐴𝐴1 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 adalah fungsi sin x harmonisa ke-1 atau fundamental
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 𝐴𝐴2 sin 2𝑥𝑥 adalah fungsi sin x harmonisa ke-2
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 𝐴𝐴3 sin 3𝑥𝑥 adalah fungsi sin x harmonisa ke-3, dst
Secara umum fungsi 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 dan harmonisanya dapat dituliskan
sebagai
𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 𝐴𝐴𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛
2𝜋𝜋
dengan 𝐴𝐴𝑛𝑛 = amplitudo dan = periode
𝑛𝑛

Fungsi sinusoida dan cosinusoida adalah fungsi periodik yang


sederhana. Jika sebarang fungsi periodik dapat dinyatakan dalam bentuk
fungsi ini maka permasalahan sulit sebarang fungsi periodik dapat
disederhanakan.

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 3


1.4 Fungsi Periodik Non-Sinusoida
Fungsi periodik dapat berupa non sinuosida. Beberapa gambar berikut
adalah contoh fungsi periodik non-sinusoida.
f(t)
Periode = ...

4
(a)
6 8 14 16 t(det)
-4

f(t)
Periode = ...

3
(b)
2 5 6 8 11 t(det)

f(t)
Periode = ...

2
(c)
2 3 5 7 8 11 t(det)

Gambar 4. Fungsi Periodik Non Periodik

1.5 Analisa Grafik Fungsi Periodik


Analisa grafik fungsi periodik adalah pembentukan rumus matematik
yang dianalisa dari grafik periodik. Beberapa contoh analisa pada grafik
fungsi periodik dijelaskan sbb.
Contoh 1.
f(x)

0 4 6 10 12 x

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 4


a. Rentang antara x=0 dan x=4, y=3 maka ditulis sbg f(x)=3 0<x<4
b. Rentang antara x=4 dan x=6, y=0 maka ditulis sbg f(x)=0 4<x<6
c. Periode = 6 maka ditulis sbg f(x+6)=f(x)
Jadi analisa grafik periodik di atas berupa fungsi, yaitu:
3 0 < 𝑥𝑥 < 4
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = �
0 4 < 𝑥𝑥 < 6
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 + 6) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)
rumus terakhir menunjukkan f(x) mempunyai periode 6
Contoh 2.
f(x)

0 2 6 8 12 x

a. Rentang antara 𝑥𝑥 = 0 dan 𝑥𝑥 = 2 , 𝑦𝑦 = 𝑥𝑥 → 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 𝑥𝑥 ; 0 < 𝑥𝑥 < 2


𝑥𝑥 𝑥𝑥
b. Rentang antara 𝑥𝑥 = 0 dan 𝑥𝑥 = 2 , 𝑦𝑦 = − + 3 → 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = − + 3 ; 2 < 𝑥𝑥 < 6
2 2

c. Periode = 6 → 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 + 6) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)


Jadi analisa grafik periodik di atas berupa fungsi:
𝑥𝑥 0 < 𝑥𝑥 < 2
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = � 3 − 𝑥𝑥
2 < 𝑥𝑥 < 6
2
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 + 6) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)
Contoh 3.

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 5


f(x)
5

0 8 16 x

5𝑥𝑥
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = ; 0 < 𝑥𝑥 < 8
8
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 + 8) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)
Latihan
Untuk grafik periodik berikut tentukan analisa fungsinya!

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 6


Latihan
Gambarkan grafik untuk model fungsi berikut:
4; 0 < 𝑥𝑥 < 5
1. 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = �
0; 5 < 𝑥𝑥 < 8
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 + 8) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)
2. 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 3𝑥𝑥 − 𝑥𝑥 2 ; 0 < 𝑥𝑥 < 3
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 + 3) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)
2𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 ; 0 < 𝑥𝑥 < 𝜋𝜋
3. 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = �
0; 𝜋𝜋 < 𝑥𝑥 < 2𝜋𝜋
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 + 2𝜋𝜋) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)
𝑥𝑥
; 0 < 𝑥𝑥 < 𝜋𝜋
4. 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = � 2
𝑥𝑥
𝜋𝜋 − ; 𝜋𝜋 < 𝑥𝑥 < 2𝜋𝜋
2
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 + 2𝜋𝜋) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)
𝑥𝑥 2
; 0 < 𝑥𝑥 < 4
5. 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = � 4
4 ; 4 < 𝑥𝑥 < 6
0 ; 6 < 𝑥𝑥 < 8
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 + 8) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)

1.6 Integral Beberapa Fungsi Periodik Khusus


Integral beberapa fungsi periodik khusus adalah integral fungsi yang
akan banyak ditemukan pada pembahasan deret Fourier. Integrasi
dilakukan pada fungsi sinusoida dan cosinusoida pada rentang satu
periode mulai –π - π (periode 2π).

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 7


𝜋𝜋
𝜋𝜋
1. � 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 𝑥𝑥 � = 𝜋𝜋 − (−𝜋𝜋) = 2𝜋𝜋
−𝜋𝜋
−𝜋𝜋
𝜋𝜋
sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝜋𝜋 1
2. � cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � = (sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 − (sin(−𝑛𝑛𝑛𝑛))
𝑛𝑛 −𝜋𝜋 𝑛𝑛
−𝜋𝜋

1
= (sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 + sin 𝑛𝑛𝑛𝑛) = 0
𝑛𝑛
karena sin nπ = 0 untuk n = 1,2,3, …
𝜋𝜋
−cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝜋𝜋 1
3. � sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � = (−cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 − (−cos(−𝑛𝑛𝑛𝑛))
𝑛𝑛 −𝜋𝜋 𝑛𝑛
−𝜋𝜋

1
= (−cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + cos 𝑛𝑛𝑛𝑛) = 0
𝑛𝑛
karena cos(− nπ) = cos nπ
𝜋𝜋
sin 2𝑛𝑛𝑛𝑛 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋 cos 2𝑛𝑛𝑛𝑛 + 1
4. � cos 2 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � + 𝑥𝑥 � karena cos 2 𝑛𝑛𝑛𝑛 =
4𝑛𝑛 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋 2
−𝜋𝜋

1 𝜋𝜋
= 𝑥𝑥 � = 𝜋𝜋
2 −𝜋𝜋
karena sin 2𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 sin −2𝑛𝑛𝑛𝑛 = 0
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋 sin 2𝑛𝑛𝑛𝑛 𝜋𝜋 1 − cos 2𝑛𝑛𝑛𝑛
5. � sin2 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 𝑥𝑥 � − � karena sin2 𝑛𝑛𝑛𝑛 =
2 −𝜋𝜋 4𝑛𝑛 −𝜋𝜋 2
−𝜋𝜋

1 𝜋𝜋
= 𝑥𝑥 � = 𝜋𝜋
2 −𝜋𝜋
karena sin 2𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 sin −2𝑛𝑛𝑛𝑛 = 0
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋
6. � 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � [𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛)𝑥𝑥 + 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛)𝑥𝑥 ]𝑑𝑑𝑑𝑑
2 −𝜋𝜋
−𝜋𝜋

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 8


karena
𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝐴𝐴 + 𝐵𝐵) = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 − 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝐴𝐴 − 𝐵𝐵) = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 + 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
2𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝐴𝐴 + 𝐵𝐵) + 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝐴𝐴 − 𝐵𝐵)

1 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) 𝜋𝜋


= � + � 𝑚𝑚 ≠ 𝑛𝑛
2 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) −𝜋𝜋
1 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) 𝜋𝜋 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛)𝜋𝜋 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) (−𝜋𝜋) 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠(𝑚𝑚 − 𝑛𝑛)(−𝜋𝜋)
= � + �−� + �
2 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛)

=0
karena 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝐴𝐴𝐴𝐴 = 0 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 sin 𝐴𝐴(−𝜋𝜋) = −𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 = 0
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋
7. � 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � [𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛)𝑥𝑥 − 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛)𝑥𝑥 ]𝑑𝑑𝑑𝑑
2 −𝜋𝜋
−𝜋𝜋
karena
𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝐴𝐴 − 𝐵𝐵) = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 + 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝐴𝐴 + 𝐵𝐵) = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 − 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
2𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝐴𝐴 − 𝐵𝐵) − 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝐴𝐴 + 𝐵𝐵)

1 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) 𝜋𝜋


= � − � 𝑚𝑚 ≠ 𝑛𝑛
2 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) −𝜋𝜋
1 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) 𝜋𝜋 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛)𝜋𝜋 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) (−𝜋𝜋) 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠(𝑚𝑚 + 𝑛𝑛)(−𝜋𝜋)
= � − �−� − �
2 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛)

=0
karena 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝐴𝐴𝐴𝐴 = 0 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝐴𝐴(−𝜋𝜋) = − 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝐴𝐴𝐴𝐴 = 0
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋
8. � 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � [𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛)𝑥𝑥 + 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛)𝑥𝑥 ]𝑑𝑑𝑑𝑑
2 −𝜋𝜋
−𝜋𝜋
karena

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 9


𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠(𝐴𝐴 + 𝐵𝐵) = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 + 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠(𝐴𝐴 − 𝐵𝐵) = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 − 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
2𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 = 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠(𝐴𝐴 + 𝐵𝐵) + 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠(𝐴𝐴 − 𝐵𝐵)

1 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) 𝜋𝜋


= � − � 𝑚𝑚 ≠ 𝑛𝑛
2 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) −𝜋𝜋
1 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) 𝜋𝜋 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛)𝜋𝜋 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) (−𝜋𝜋) 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝑚𝑚 − 𝑛𝑛)(−𝜋𝜋)
= � − �−� − �
2 (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 + 𝑛𝑛) (𝑚𝑚 − 𝑛𝑛)

=0
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋
9. � 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � [𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 ]𝑑𝑑𝑑𝑑
2 −𝜋𝜋
−𝜋𝜋
karena 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠(2𝐴𝐴) = 2𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐
−cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝜋𝜋
= �
𝑛𝑛 −𝜋𝜋
1
= (−cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 − (−cos(−𝑛𝑛𝑛𝑛))
𝑛𝑛
1
= (−cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + cos 𝑛𝑛𝑛𝑛) = 0
𝑛𝑛
Hasil yang sama akan diperoleh, tidak peduli dimana titik akhir asal
periode 2π yang dapat dijelaskan sbb:
𝑘𝑘+2𝜋𝜋
sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑘𝑘 + 2𝜋𝜋
2. � cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = �
𝑛𝑛 𝑘𝑘
𝑘𝑘
1
= (sin 𝑛𝑛(𝑘𝑘 + 2𝜋𝜋) − (sin(𝑛𝑛𝑛𝑛))
𝑛𝑛
=0
karena sin(𝑛𝑛𝑛𝑛 + 2𝑛𝑛𝑛𝑛) = sin(𝑛𝑛𝑛𝑛)

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 10


1.7 Fungsi Orthogonal
Jika terdapat dua fungsi yaitu f(x) dan g(x) pada interval a≤x≤b dimana:
𝑏𝑏

� 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑔𝑔(𝑥𝑥)𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0
𝑎𝑎

maka f(x) saling tegak lurus (orthogonal) terhadap g(x) pada interval
a≤x≤b
Beberapa contoh fungsi orthogonal sbb:
𝜋𝜋

� 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0 untuk 𝑚𝑚 ≠ 𝑛𝑛


−𝜋𝜋
𝜋𝜋

� 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0 untuk 𝑚𝑚 ≠ 𝑛𝑛


−𝜋𝜋
𝜋𝜋

� 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0


−𝜋𝜋

1.8 Deret Fourier


Jika suatu fungsi f(x) terdifinisi pada interval (-π, π) dan f(x)=f(x+2πn),
n= bilangan bulat positif. Maka f(x) dapat dinyatakan dalam deret
Fourier sebagai

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛=1

a0, an dan bn disebut koefisien fourier yang dinyatakan sebagai

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 11


1 𝜋𝜋
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 𝜋𝜋
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 𝜋𝜋
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
a0, an dan bn di atas dapat dibuktikan dengan penjelasan berikut.
Untuk mendapatkan a0 maka kedua ruas diintegralkan pada rentang (-π,
π).
𝜋𝜋 𝜋𝜋 ∞
𝑎𝑎0
� 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑 = � � + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛) � 𝑑𝑑𝑑𝑑
−𝜋𝜋 −𝜋𝜋 2 𝑛𝑛=1

𝜋𝜋 𝜋𝜋 𝜋𝜋 ∞
𝑎𝑎0
� 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = � 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � � (𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛) 𝑑𝑑𝑑𝑑
−𝜋𝜋 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋 𝑛𝑛=1
𝜋𝜋
karena ∫−𝜋𝜋 (𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛) 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0, maka
𝜋𝜋 𝜋𝜋
𝑎𝑎0 𝑎𝑎0 𝑎𝑎0
� 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 𝜋𝜋 − �− 𝜋𝜋�
−𝜋𝜋 −𝜋𝜋 2 2 2
= 𝑎𝑎0 𝜋𝜋
Jadi
1 𝜋𝜋
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
Untuk mendapatkan an maka kedua ruas dikalikan cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 , dengan m=
sembarang bilangan bulat positif dan diintegralkan pada rentang (-π, π),
sehingga

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 12


𝜋𝜋 𝜋𝜋 ∞
𝑎𝑎0
� 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � � + � (𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 ) � cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑
−𝜋𝜋 −𝜋𝜋 2 𝑛𝑛 =1

setelah mengintegralkan ruas kanan suku demi suku, ruas kanannya


didapatkan

𝑎𝑎0 𝜋𝜋 𝜋𝜋
� cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � � (𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 )𝑑𝑑𝑑𝑑
2 −𝜋𝜋 −𝜋𝜋
𝑛𝑛=1
𝜋𝜋
suku pertama = nol, karena ∫−𝜋𝜋 cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0
diketahui bahwa
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋
� cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � cos(𝑛𝑛 + 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � cos(𝑛𝑛 − 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑
−𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋
� sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � sin(𝑛𝑛 + 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � sin(𝑛𝑛 − 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑
−𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋
Pengintegralan keempat suku di atas menghasilkan nol kecuali untuk
m=n
1 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋
� cos(𝑛𝑛 − 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � cos(0𝑥𝑥) 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 1𝑑𝑑𝑑𝑑
2 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋
1 𝜋𝜋 1
= 𝑥𝑥 � = �𝜋𝜋 − (−𝜋𝜋)� = 𝜋𝜋
2 −𝜋𝜋 2
Jadi
𝜋𝜋
� 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 𝑎𝑎𝑛𝑛 𝜋𝜋
−𝜋𝜋

1 𝜋𝜋
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋

Untuk mendapatkan bn maka kedua ruas dikalikan sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 , dengan m=


sembarang bilangan bulat positif dan diintegralkan pada rentang (-π, π),
sehingga

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 13


𝜋𝜋 𝜋𝜋 ∞
𝑎𝑎0
� 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � � + � (𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 ) � sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑
−𝜋𝜋 −𝜋𝜋 2 𝑛𝑛 =1

setelah mengintegralkan ruas kanan suku demi suku, ruas kanannya


didapatkan

𝑎𝑎0 𝜋𝜋 𝜋𝜋
� sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � � (𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 )𝑑𝑑𝑑𝑑
2 −𝜋𝜋 −𝜋𝜋
𝑛𝑛=1
𝜋𝜋
suku pertama = nol, karena ∫−𝜋𝜋 sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0.
diketahui bahwa
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋
� cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � sin(𝑛𝑛 + 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � sin(𝑛𝑛 − 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑
−𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋
� sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � cos(𝑛𝑛 − 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑 − � cos(𝑛𝑛 + 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑
−𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋
Pengintegralan keempat suku di atas menghasilkan nol kecuali untuk
m=n
1 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋
� cos(𝑛𝑛 − 𝑚𝑚)𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � cos(0𝑥𝑥) 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 1𝑑𝑑𝑑𝑑 = 𝜋𝜋
2 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋 2 −𝜋𝜋
Jadi jika ditulis kembali menjadi
𝜋𝜋
� 𝑓𝑓(𝑥𝑥) sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 𝑏𝑏𝑛𝑛 𝜋𝜋
−𝜋𝜋

1 𝜋𝜋
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) sin 𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
Contoh 1.
Tentukan deret Fourier dari grafik fungsi periodik berikut

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 14


Jawab.
Analisa grafik fungsi periodik adalah
𝜋𝜋
⎧0 − 𝜋𝜋 < 𝑥𝑥 < − 2
⎪ 𝜋𝜋 𝜋𝜋
𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 4 − < 𝑥𝑥 <
⎨ 2 2
⎪ 0 𝜋𝜋
⎩ < 𝑥𝑥 < 𝜋𝜋
2
𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥 + 2𝜋𝜋)
dari rumus deret Fourier didapat

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛=1

1 𝜋𝜋
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 −𝜋𝜋/2 𝜋𝜋 /2 𝜋𝜋
= �� 0𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 4𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 0𝑑𝑑𝑑𝑑 �
𝜋𝜋 −𝜋𝜋 −𝜋𝜋/2 𝜋𝜋/2

4 𝜋𝜋/2
= �𝑥𝑥 � �=4
𝜋𝜋 −𝜋𝜋/2
1 𝜋𝜋
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 15


1 −𝜋𝜋/2 𝜋𝜋/2 𝜋𝜋
= �� 0 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 4 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 0 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 �
𝜋𝜋 −𝜋𝜋 −𝜋𝜋/2 𝜋𝜋/2

4 𝜋𝜋 /2 4 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝜋𝜋/2


= �� cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 � = � � �
𝜋𝜋 −𝜋𝜋/2 𝜋𝜋 𝑛𝑛 −𝜋𝜋/2
4 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛/2 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛/2 8 𝑛𝑛𝑛𝑛
= � + �= sin( )
𝜋𝜋 𝑛𝑛 𝑛𝑛 𝑛𝑛𝑛𝑛 2
jika kita substitusi nilai n dengan bilangan bulat postif maka
8 𝑛𝑛𝑛𝑛
𝑎𝑎𝑛𝑛 untuk n= genap sin( ) = 0
𝑛𝑛𝑛𝑛 2
8 𝑛𝑛𝑛𝑛 8
𝑎𝑎𝑛𝑛 untuk n=1,5,9,... sin( ) =
𝑛𝑛𝑛𝑛 2 𝑛𝑛𝑛𝑛
8 𝑛𝑛𝑛𝑛 8
𝑎𝑎𝑛𝑛 untuk n=3,7,11,... sin( ) = −
𝑛𝑛𝑛𝑛 2 𝑛𝑛𝑛𝑛

1 𝜋𝜋
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
𝜋𝜋 𝜋𝜋
1 −2 2
𝜋𝜋
= �� 0 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 4 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 0 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 �
𝜋𝜋 −𝜋𝜋 −
𝜋𝜋 𝜋𝜋
2 2
𝜋𝜋 /2
4 4 − cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝜋𝜋/2
= �� sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 � = � � �
𝜋𝜋 −𝜋𝜋/2 𝜋𝜋 𝑛𝑛 −𝜋𝜋/2
4 − cos 𝑛𝑛𝑛𝑛/2 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛/2
= � + �=0
𝜋𝜋 𝑛𝑛 𝑛𝑛
Jadi koefisien Fouriernya adalah 𝑎𝑎0 = 4; 𝑏𝑏𝑛𝑛 = 0 dan
8 𝑛𝑛𝑛𝑛
𝑎𝑎𝑛𝑛 untuk n= genap sin( ) = 0
𝑛𝑛𝑛𝑛 2
8 𝑛𝑛𝑛𝑛 8
𝑎𝑎𝑛𝑛 untuk n=1,5,9,... sin( ) =
𝑛𝑛𝑛𝑛 2 𝑛𝑛𝑛𝑛
8 𝑛𝑛𝑛𝑛 8
𝑎𝑎𝑛𝑛 untuk n=3,7,11,... sin( ) = −
𝑛𝑛𝑛𝑛 2 𝑛𝑛𝑛𝑛

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 16


sehingga deret Fourier dari f(x)

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛=1

𝑎𝑎0
= + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 ) ; 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑏𝑏𝑛𝑛 = 0
2
𝑛𝑛 =1

8 cos 𝑥𝑥 cos 3𝑥𝑥 cos 5𝑥𝑥 cos 7𝑥𝑥


=2+ � − + − +⋯�
𝜋𝜋 1 3 5 7
Pada contoh ini didapatkan deret Fourier dengan dua komponen yaitu
𝑎𝑎
komponen konstan ( 20 ) dan deret cosinusoida (∑∞
𝑛𝑛=1(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 ))

Contoh 2.
Tentukan deret Fourier grafik fungsi periodik berikut:

Jawab.
Analisa grafik fungsi periodik:
Persamaan garis fungsi pada rentang 0 < 𝑥𝑥 < 2𝜋𝜋 adalah
𝑦𝑦 − 𝑦𝑦1 𝑥𝑥 − 𝑥𝑥1 𝑦𝑦 − 0 𝑥𝑥 − 0
= → =
𝑦𝑦2 − 𝑦𝑦1 𝑥𝑥 − 𝑥𝑥1 𝜋𝜋 − 0 2𝜋𝜋 − 0
𝑥𝑥
𝑦𝑦 =
2
jadi analisa grafik fungsi periodik adalah

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 17


𝑥𝑥
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 0 < 𝑥𝑥 < 2𝜋𝜋
2
𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥 + 2𝜋𝜋)
dari rumus deret Fourier didapat

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑥𝑥 )
2
𝑛𝑛=1

1 2𝜋𝜋
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 0
1 2𝜋𝜋 𝑥𝑥 1 2 2𝜋𝜋
= � 𝑑𝑑𝑑𝑑 = [𝑥𝑥 ]
𝜋𝜋 0 2 4𝜋𝜋 0
= 𝜋𝜋
1 2𝜋𝜋
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 0
1 2𝜋𝜋
= � 𝑥𝑥 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
2𝜋𝜋 0
dengan menerapkan integral bagian demi bagian yaitu

� 𝑢𝑢 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 𝑢𝑢. 𝑣𝑣 − � 𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣

� 𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 → 𝑢𝑢 = 𝑥𝑥; 𝑑𝑑𝑑𝑑 = cos 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛

𝑥𝑥 1 𝑥𝑥 1
� 𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 = 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 − � 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 = 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 − 2 [−𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛 ]
𝑛𝑛 𝑛𝑛 𝑛𝑛 𝑛𝑛

sehingga

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 18


2𝜋𝜋
1 2𝜋𝜋 1 𝑥𝑥 1
� 𝑥𝑥 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 − 2 [−𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛]�
2𝜋𝜋 0 2𝜋𝜋 𝑛𝑛 𝑛𝑛
0
1 2𝜋𝜋 1
= �( sin 2𝑛𝑛𝑛𝑛 − 0) − 2 [−𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 2𝑛𝑛𝜋𝜋 − (−𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐0)]�
2𝜋𝜋 𝑛𝑛 𝑛𝑛

1 1
= �(0 − 0) − 2 [−1 − (−1)]� = 0
2𝜋𝜋 𝑛𝑛

1 2𝜋𝜋
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 0
1 2𝜋𝜋
= � 𝑥𝑥 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
2𝜋𝜋 0
dengan menerapkan integral bagian demi bagian yaitu

� 𝑢𝑢 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 𝑢𝑢. 𝑣𝑣 − � 𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣

� 𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 → 𝑢𝑢 = 𝑥𝑥; 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛

𝑥𝑥 1 𝑥𝑥 1
� 𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 = − 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛 + � 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 = − 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 2 [𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛 ]
𝑛𝑛 𝑛𝑛 𝑛𝑛 𝑛𝑛

sehingga
2𝜋𝜋
1 2𝜋𝜋 1 𝑥𝑥 1
� 𝑥𝑥 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = �− 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 2 [𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛]�
2𝜋𝜋 0 2𝜋𝜋 𝑛𝑛 𝑛𝑛
0
1 2𝜋𝜋 1
= ��− cos 2𝑛𝑛𝑛𝑛 − 0� + 2 [𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 2𝑛𝑛𝜋𝜋 − (sin 0)]�
2𝜋𝜋 𝑛𝑛 𝑛𝑛

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 19


1 2𝜋𝜋 1 1
= �(− − 0) − 2 [0 − 0]� = −
2𝜋𝜋 𝑛𝑛 𝑛𝑛 𝑛𝑛
1
Jadi koefisien Fourier 𝑎𝑎0 = 𝜋𝜋, 𝑎𝑎𝑛𝑛 = 0, 𝑏𝑏𝑛𝑛 = −
𝑛𝑛
Sehingga deret Fourier f(x) adalah

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛=1

𝑎𝑎0
= + �(𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛) ; 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑎𝑎𝑛𝑛 = 0
2
𝑛𝑛=1
𝜋𝜋 sin 𝑥𝑥 sin 2𝑥𝑥 sin 3𝑥𝑥
= −� + + +⋯�
2 1 2 3
Contoh 3.
Tentukan deret Fourier untuk grafik fungsi periodik berikut:

Jawab.
Analisa grafik fungsi periodik:
Persamaan garis fungsi pada rentang −𝜋𝜋 < 𝑥𝑥 < 0 adalah
𝑦𝑦 − 𝑦𝑦1 𝑥𝑥 − 𝑥𝑥1 𝑦𝑦 − 𝜋𝜋 𝑥𝑥 + 𝜋𝜋
= → =
𝑦𝑦2 − 𝑦𝑦1 𝑥𝑥 − 𝑥𝑥1 0 − 𝜋𝜋 0 + 𝜋𝜋
𝑦𝑦 = −𝑥𝑥
Persamaan garis fungsi pada rentang 0 < 𝑥𝑥 < 𝜋𝜋 adalah

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 20


𝑦𝑦 = 0
jadi analisa grafik fungsi periodik adalah
−𝑥𝑥 − 𝜋𝜋 < 𝑥𝑥 < 0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = �
0 0 < 𝑥𝑥 < 𝜋𝜋
𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥 + 2𝜋𝜋)
dari rumus deret Fourier didapat

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛=1

1 𝜋𝜋
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑 =
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 0 1 −𝑥𝑥 2 0
= � −𝑥𝑥 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � �
𝜋𝜋 −𝜋𝜋 𝜋𝜋 2 𝜋𝜋
1 −𝜋𝜋 2 𝜋𝜋
= �0 − �=
𝜋𝜋 2 2
1 𝜋𝜋
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 0
= � −𝑥𝑥 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 0
= − � 𝑥𝑥 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 𝑥𝑥 0 1 0
= − �� 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛� − � sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 �
𝜋𝜋 𝑛𝑛 −𝜋𝜋 𝑛𝑛 −𝜋𝜋
0
1 1 1
= − �[0 − 0] − �− cos 𝑛𝑛𝑛𝑛� �
𝜋𝜋 𝑛𝑛 𝑛𝑛 −𝜋𝜋

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 21


1 1
= − �− 2 (−1 − cos(−𝑛𝑛𝑛𝑛))�
𝜋𝜋 𝑛𝑛
−2
= 2 𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔 ; = 0 𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝜋𝜋𝑛𝑛
1 𝜋𝜋
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 0
= � −𝑥𝑥 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
0
1 −𝑥𝑥 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 0
=− � � + �� cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 �
𝜋𝜋 𝑛𝑛 −𝜋𝜋 −𝜋𝜋
0
1 𝜋𝜋 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 1
= − �0 + � + � sin 𝑛𝑛𝑛𝑛�
𝜋𝜋 𝑛𝑛 𝑛𝑛 −𝜋𝜋
cos 𝑛𝑛𝑛𝑛
=−
𝑛𝑛
1 1
= untuk n ganjil, = − untuk n genap
𝑛𝑛 𝑛𝑛
Jadi

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 )
2
𝑛𝑛 =1

𝜋𝜋 2 1 1
= − �cos 𝑥𝑥 + cos 3𝑥𝑥 + cos 5𝑥𝑥 + ⋯�
4 𝜋𝜋 9 25
1 1 1
+ �sin 𝑥𝑥 − sin 2𝑥𝑥 + sin 3𝑥𝑥 − sin 4𝑥𝑥 + ⋯ �
2 3 4
Pada contoh ini, didapatkan deret fourier dengan tiga komponen yaitu
komponen konstan, deret cosinusoida dan sinusoida

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 22


1.9 Syarat Dirichlet
Fungsi f(x) dapat dinyatakan dalam deret Fourier jika memenuhi syarat
Dirichlet, yaitu:
1. f(x) mempunyai periodik terbatas serta terdefinisi dan bernilai tunggal
2. f(x) dan f’(x) pada tiap periodenya dapat mempunyai nilai diskontinya
terbatas dengan jumlah yang terbatas pula.
Latihan
Jika fungsi berikut periodik (f(x)=f(x+2π). Apakah fungsi berikut
memenuhi syarat Dirichlet.
1. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 𝑥𝑥 3 2. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 4𝑥𝑥 − 5
2 1
3. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 4. 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) =
𝑥𝑥 𝑥𝑥−5

5. 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = tan 𝑥𝑥 6. 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑥𝑥 2 + 𝑦𝑦 2 = 9


1.10 Fungsi dengan periode T
Jika f(x) terdifinisi pada range -T/2 s.d. T/2 dan mempunyai periode T
maka deret Fourier f(x) dapat diperoleh dari difinisi deret Fourier f(x)
pada periode 2π dengan cara sbb:
Jika didefinisikan ω=2π/T dan T=2π/ω maka untuk x dalam radian pada
waktu t adalah x=ωt. Sehingga jika kita substitusi dalam rumus deret
Fourier maka:

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛=1

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 23



𝑎𝑎0
= + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛 =1

𝑎𝑎0 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛
= + � �𝑎𝑎𝑛𝑛 cos + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin �
2 𝑇𝑇 𝑇𝑇
𝑛𝑛 =1

dari Rumus Deret Fourier di atas maka koefisien Fourier menjadi


(buktikan!):
2 𝑇𝑇 𝜔𝜔 2𝜋𝜋/𝜔𝜔
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓(𝑡𝑡)𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑓𝑓(𝑡𝑡)𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 0 𝜋𝜋 0
2 𝑇𝑇 𝜔𝜔 2𝜋𝜋/𝜔𝜔 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑡𝑡) 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑓𝑓 (𝑡𝑡) 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 0 𝜋𝜋 0 𝑇𝑇
2 𝑇𝑇 𝜔𝜔 2𝜋𝜋/𝜔𝜔 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓(𝑡𝑡) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑓𝑓 (𝑡𝑡) sin 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 0 𝜋𝜋 0 𝑇𝑇
Batas integrasi ditentukan dalam satu periode atau satu siklus T yang
dapat bervariasi misal 0 s.d. T atau –T/2 s.d. T/2 atau -π/ω s.d. π/ω atau
0 s.d. 2π/ω atau yang lain asalkan diambil pada range satu periode T
Contoh.
Tentukan deret Fourier fungsi periodik berikut
( )
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = �2 1 + 𝑡𝑡 − 1 < 𝑡𝑡 < 0
0 0 < 𝑡𝑡 < 1
𝑓𝑓(𝑡𝑡 + 2) = 𝑓𝑓(𝑡𝑡)

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 24


Jawab

𝑎𝑎0 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = + � �𝑎𝑎𝑛𝑛 cos + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin �
2 𝑇𝑇 𝑇𝑇
𝑛𝑛 =1

𝑎𝑎0
= + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛) ; 𝑇𝑇 = 2
2
𝑛𝑛 =1
𝑇𝑇/2
2
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓(𝑡𝑡)𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2
0 1
= � 2(1 + 𝑡𝑡)𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 0𝑑𝑑𝑑𝑑
−1 0

= [2𝑡𝑡 + 𝑡𝑡 2 ]0−1 =1
2 𝑇𝑇/2 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑡𝑡) 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2 𝑇𝑇
0 0
= � 2(1 + 𝑡𝑡) 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 2 � (1 + 𝑡𝑡) 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
−1 −1
0
1 𝑡𝑡 0
1 0
= 2 �� sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛� � + 2 �� sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛� − � 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑�
𝑛𝑛𝑛𝑛 −1 𝑛𝑛𝑛𝑛 −1 𝑛𝑛𝑛𝑛 −1
1
= 0 + 2 �0 − [−cos 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛]0−1 �
𝑛𝑛2 𝜋𝜋 2
2
=− (−1 − cos 𝑛𝑛𝑛𝑛)
𝑛𝑛2 𝜋𝜋 2
4
= 2 2 𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔 , = 0 𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢𝑢 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝑛𝑛 𝜋𝜋
2 𝑇𝑇/2 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑡𝑡) 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2 𝑇𝑇

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 25


0 0
= � 2(1 + 𝑡𝑡) 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 2 � (1 + 𝑡𝑡) 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
−1 −1
0
1 𝑡𝑡 0
1 0
= 2 ��− cos 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛� � + 2 ��− cos 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛� + � 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑�
𝑛𝑛𝑛𝑛 −1 𝑛𝑛𝑛𝑛 −1 𝑛𝑛𝑛𝑛 −1
−cos 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 0 2
= 2 �(1 + 𝑡𝑡) � + 2 2 [sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛]0−1
𝑛𝑛𝑛𝑛 −1 𝑛𝑛 𝜋𝜋
−1 −cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 2
= 2 ��(1 + 0) � − �(1 − 1) �� + 2 2 [sin 0 + sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛]
𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑛𝑛 𝜋𝜋
−2
=
𝑛𝑛𝑛𝑛
jadi
1 4 1 1
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = + 2 �cos 𝜋𝜋𝜋𝜋 + cos 3𝜋𝜋𝜋𝜋 + cos 5𝜋𝜋𝜋𝜋 + ⋯�
2 𝜋𝜋 9 25
2 1 1
− �sin 𝜋𝜋𝜋𝜋 + sin 2𝜋𝜋𝜋𝜋 + sin 4𝜋𝜋𝜋𝜋 + ⋯ �
𝜋𝜋 2 4
Deret Fourier

𝑎𝑎0
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛=1

dapat dinyatakan dalam bentuk:



𝐴𝐴0
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = + � 𝐵𝐵𝑛𝑛 sin(𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 + ∅𝑛𝑛 )
2
𝑛𝑛 =1

dimana 𝐴𝐴0 = 𝑎𝑎0 ; 𝐵𝐵𝑛𝑛 sin(∅𝑛𝑛 ) = 𝑎𝑎𝑛𝑛 ; 𝐵𝐵𝑛𝑛 cos(∅𝑛𝑛 ) = 𝑏𝑏𝑛𝑛


𝑎𝑎
𝐵𝐵𝑛𝑛 = �𝑎𝑎𝑛𝑛 2 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 2 ; ∅𝑛𝑛 = 𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎 �𝑏𝑏 𝑛𝑛 �
𝑛𝑛

𝐵𝐵1 sin(𝜔𝜔𝜔𝜔 + ∅1 ) disebut sebagai harmonik pertama atau fundamental


bab I– TRANSFORMASI FOURIER 26
𝐵𝐵2 sin(𝜔𝜔𝜔𝜔 + ∅2 ) disebut sebagai harmonik kedua
𝐵𝐵𝑛𝑛 sin(𝜔𝜔𝜔𝜔 + ∅𝑛𝑛 ) disebut sebagai harmonik ke-n
Pada deret konvergen maka nilai 𝐵𝐵𝑛𝑛 akan menurun, 𝐵𝐵𝑛𝑛 → 0 untuk 𝑛𝑛 →

1.11 Deret Fourier Fungsi Genap - Ganjil
Fungsi Genap Ganjil
Fungsi Genap adalah fungsi dimana nilai fungsi pada x negatif sama
dengan nilai fungsi pada x positif.
𝑓𝑓 (−𝑥𝑥 ) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)
Contoh.

Gambar 5. Fungsi Genap 𝑦𝑦 = 𝑥𝑥 2 dan 𝑦𝑦 = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑥𝑥

Pada Gambar Fungsi 𝑦𝑦 = 𝑥𝑥 2 dikatakan Fungsi Genap karena


𝑦𝑦 = 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 𝑥𝑥 2
𝑓𝑓(−2) = (−2)2 ; 𝑓𝑓(2) = 22 → 𝑓𝑓 (−2) = 𝑓𝑓(2)
𝑓𝑓(−3) = (−3)2 ; 𝑓𝑓(3) = 32 → 𝑓𝑓 (−3) = 𝑓𝑓(3)
dst.
Pada Gambar Fungsi 𝑦𝑦 = cos 𝑥𝑥 dikatakan Fungsi Genap karena
𝑦𝑦 = 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = cos 𝑥𝑥
𝑓𝑓 (−𝑎𝑎) = cos(−𝑎𝑎) = cos 𝑎𝑎 ; 𝑓𝑓 (𝑎𝑎) = cos 𝑎𝑎 → 𝑓𝑓(−𝑎𝑎) = 𝑓𝑓(𝑎𝑎)
Fungsi Ganjil adalah fungsi dimana nilai fungsi pada x negatif sama
dengan nilai negatif fungsi pada x positif.
bab I– TRANSFORMASI FOURIER 27
𝑓𝑓(−𝑥𝑥 ) = −𝑓𝑓(𝑥𝑥)
Contoh.

Gambar 6. Fungsi Ganjil 𝑦𝑦 = 𝑥𝑥 3 dan 𝑦𝑦 = sin(𝑥𝑥)

Pada Gambar Fungsi 𝑦𝑦 = 𝑥𝑥 3 dikatakan Fungsi Ganjil karena


𝑦𝑦 = 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 𝑥𝑥 3
𝑓𝑓(−2) = (−2)3 = −8; −𝑓𝑓(2) = −(23 ) = −8 → 𝑓𝑓 (−2) = −𝑓𝑓(2)
𝑓𝑓 (−3) = (−3)3 = −27; −𝑓𝑓(3) = −(33 ) = −27 → 𝑓𝑓 (−3) = −𝑓𝑓(3)
dst.
Pada Gambar Fungsi 𝑦𝑦 = sin 𝑥𝑥 dikatakan Fungsi Ganjil karena
𝑦𝑦 = 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = sin 𝑥𝑥
𝑓𝑓 (−𝑎𝑎) = sin(−𝑎𝑎) = −sin 𝑎𝑎 ; −𝑓𝑓(𝑎𝑎) = −sin 𝑎𝑎 → 𝑓𝑓 (−𝑎𝑎) = −𝑓𝑓 (𝑎𝑎)
Fungsi Genap jika 𝑓𝑓 (−𝑎𝑎) = 𝑓𝑓 (𝑎𝑎) dimana grafik fungsi akan simetri
pada sumbu .
Fungsi Ganjil jika 𝑓𝑓 (−𝑎𝑎) = −𝑓𝑓(𝑎𝑎) dimana grafik fungsi simetri pada
titik pusat.
Latihan
Tentukan fungsi genap/ganjil pada grafik fungsi berikut:

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 28


1.12 Perkalian Fungsi Ganjil-Genap
Fungsi Genap x Fungsi Genap
𝐹𝐹 (𝑥𝑥 ) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ). 𝑔𝑔(𝑥𝑥 ) 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑔𝑔(𝑥𝑥 )𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎ℎ 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
maka
𝐹𝐹 (−𝑥𝑥 ) = 𝑓𝑓 (−𝑥𝑥 ). 𝑔𝑔(−𝑥𝑥 )
= 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ). 𝑔𝑔(𝑥𝑥) 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑔𝑔(𝑥𝑥 )𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎ℎ 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝐹𝐹 (𝑥𝑥 ) = 𝐹𝐹(−𝑥𝑥)
Jadi fungsi genap x fungsi genap = fungsi genap
Fungsi Genap x Fungsi Ganjil atau sebaliknya
bab I– TRANSFORMASI FOURIER 29
𝐹𝐹 (𝑥𝑥 ) =
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ). 𝑔𝑔(𝑥𝑥 ) 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑔𝑔(𝑥𝑥 )𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎ℎ 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑝𝑝
maka
𝐹𝐹 (−𝑥𝑥 ) = 𝑓𝑓(−𝑥𝑥 ). 𝑔𝑔(−𝑥𝑥 )
= −𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ). 𝑔𝑔(𝑥𝑥 )𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑔𝑔(𝑥𝑥 )𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎ℎ 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝐹𝐹 (−𝑥𝑥 ) = −𝐹𝐹(𝑥𝑥)
Jadi fungsi genap x fungsi ganjil atau sebaliknya = fungsi ganjil
Fungsi Ganjil x Fungsi Ganjil
𝐹𝐹 (𝑥𝑥 ) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ). 𝑔𝑔(𝑥𝑥 ) 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑔𝑔(𝑥𝑥 )𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎ℎ 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
maka
𝐹𝐹 (−𝑥𝑥 ) = 𝑓𝑓(−𝑥𝑥 ). 𝑔𝑔(−𝑥𝑥 )
= −𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ). −𝑔𝑔(𝑥𝑥) 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑔𝑔(𝑥𝑥 )𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎ℎ 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝐹𝐹 (−𝑥𝑥 ) = 𝐹𝐹(𝑥𝑥)
Jadi fungsi ganjil x fungsi ganjil = fungsi genap
Latihan
Tentukan fungsi Ganjl /Genap pada fungsi berikut
1. 𝑥𝑥2 sin 2𝑥𝑥 2. 𝑥𝑥 3 cos 2𝑥𝑥
3. cos 2𝑥𝑥 cos 3𝑥𝑥 4. 𝑥𝑥 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛
5. 3 sin 𝑥𝑥 cos 4𝑥𝑥 6. (2𝑥𝑥 + 3) sin 4𝑥𝑥
7. 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠2 𝑥𝑥 cos 3𝑥𝑥 8. 𝑥𝑥 3 𝑒𝑒 𝑥𝑥
Integral Fungsi Genap

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 30


𝑎𝑎 𝑎𝑎
� 𝑓𝑓(𝑥𝑥) 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 2 � 𝑓𝑓(𝑥𝑥) 𝑑𝑑𝑑𝑑
−𝑎𝑎 0

Integral Fungsi Ganjil

𝑎𝑎
� 𝑓𝑓(𝑥𝑥) 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0
−𝑎𝑎

TEOREMA 1
Jika f(x) terdifinisi pada interval -π s.d. π dan f(x) fungsi genap maka
deret Fourier dari f(x) adalah deret cosinus dan konstanta.

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + � 𝑎𝑎0 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛
2
𝑛𝑛=1

Hal ini disebabkan


1 𝜋𝜋 2 𝜋𝜋
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋 𝜋𝜋 0
1 𝜋𝜋
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
2 𝜋𝜋
= � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 ; 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔, cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 = 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝜋𝜋 0

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 31


1 𝜋𝜋
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0 ; 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔 , sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 = 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
Contoh:
Tentukan deret Fourier pada fungsi Genap berikut:

Jawab

𝑎𝑎0
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = + � 𝑎𝑎0 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛
2
𝑛𝑛 =1
𝜋𝜋
1 2 𝜋𝜋 2 𝜋𝜋/2
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 4𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋 𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 0
2
= [4𝑥𝑥 ]𝜋𝜋/2
0 =4
𝜋𝜋
1 𝜋𝜋 2 𝜋𝜋
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 −𝜋𝜋 𝜋𝜋 0
𝜋𝜋/2
2 𝜋𝜋 /2 8 1
= � 4 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � sin 𝑛𝑛𝑛𝑛�
𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 𝑛𝑛 0

8 𝑛𝑛𝑛𝑛
= sin
𝜋𝜋𝜋𝜋 2
8 8
= , 𝑛𝑛 = 1, 5, 9, … ; = − , 𝑛𝑛 = 3, 7, 11, … ; = 0, 𝑛𝑛 = 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝜋𝜋𝜋𝜋 𝜋𝜋𝜋𝜋
jadi
8 1 1 1
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = 2 + �cos 𝑥𝑥 − cos 3𝑥𝑥 + cos 5𝑥𝑥 − cos 7𝑥𝑥 + … �
𝜋𝜋 3 5 7

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 32


TEOREMA 2
Jika f(x) terdifinisi pada interval -π s.d. π dan f(x) fungsi ganjil sinus
maka deret Fourier dari f(x) adalah deret sinus.

𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = � 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛


𝑛𝑛=1

Hal ini disebabkan


1 𝜋𝜋
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0 ; 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 𝜋𝜋
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = 0
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
1 𝜋𝜋
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 =
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
2 𝜋𝜋
= � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 ; 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔, sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 = 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝜋𝜋 0
Contoh.
Tentukan deret Fourier grafik fungsi ganjil berikut:

Jawab.

𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = � 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛


𝑛𝑛 =1

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 33


1 𝜋𝜋
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 =
𝜋𝜋 −𝜋𝜋
2 𝜋𝜋 2 𝜋𝜋
= � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 0
2 𝜋𝜋 12 12
= � 6 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = [− cos 𝑛𝑛𝑛𝑛]𝜋𝜋0 = (− cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 1)
𝜋𝜋 0 𝜋𝜋𝜋𝜋 𝜋𝜋𝜋𝜋
24
= , 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔; = 0, 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝜋𝜋𝜋𝜋
jadi
24 1 1
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = �sin 𝑥𝑥 + sin 3𝑥𝑥 + sin 5𝑥𝑥 + … �
𝜋𝜋 3 5
Contoh.
Tentukan deret Fourier pada grafik fungsi berikut:

Jawab.
Grafik di atas bukan fungsi genap atau ganjil sehingga 𝑎𝑎0 , 𝑎𝑎𝑛𝑛 , 𝑏𝑏𝑛𝑛 harus
ditentukan. Dan deret Fouriernya menjadi

𝑎𝑎0
𝑓𝑓(𝑥𝑥) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛=1
2𝜋𝜋 𝜋𝜋
1 1 2𝑥𝑥 1 2𝜋𝜋
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 2𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 𝜋𝜋 𝜋𝜋

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 34


𝜋𝜋
1 𝑥𝑥 2
= � � +2=3
𝜋𝜋 𝜋𝜋 0

1 2𝜋𝜋 1 𝜋𝜋 2𝑥𝑥 1 2𝜋𝜋


𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 2 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 𝜋𝜋 𝜋𝜋
−4
= 0, 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔; = , 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝜋𝜋 2 𝑛𝑛2
buktikan!
1 2𝜋𝜋 1 𝜋𝜋 2𝑥𝑥 1 2𝜋𝜋
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 + � 2 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 𝜋𝜋 𝜋𝜋
−2
=
𝜋𝜋𝜋𝜋
Jadi deret Fourier dari grafik pada contoh adalah
3 4 1 1
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) = − 2 �cos 𝑥𝑥 + cos 3𝑥𝑥 + cos 5𝑥𝑥 + ⋯ �
2 𝜋𝜋 9 25
2 1 1
− �sin 𝑥𝑥 + sin 2𝑥𝑥 + sin 3𝑥𝑥 + ⋯ �
𝜋𝜋 2 3

Kesimpulan:
Jika fungsi f(x) genap maka deret Fourier f(x) tidak akan ada bentuk deret sinus
Jika fungsi f(x) ganjil maka deret Fourierf(x) hanya berbentuk deret sinus
Jika fungsi f(x) bukan ganjil atau genap maka deret Fourier f(x) berbentuk
rumus definisi umum

1.13 Penguraian Setengah Kisaran


Seringkali f(x) yang berperiode 2π hanya terdefinisi pada interval 0 - π
atau disebut sebagai ”setengah kisaran” pada satu periode. Kita dapat

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 35


menyatakan deret Fourier fungsi ”setengah kisaran” ini dengan cara
menguraikannya. Proses ini disebut sebagai ”Penguraian Setengah
Kisaran”. Penguraian setengah kisaran dapat dilakukan dalam deret sinus
(fungsi ganjil) atau deret cosinus (fungsi genap).

Gambar 7. Fungsi y terdifinisi pada interval 0 - π dg periode 2π

Deret Fourier pada Gambar 7 dinyatakan



𝑎𝑎0
𝑦𝑦 = 𝑓𝑓(𝑥𝑥) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛)
2
𝑛𝑛=1

Pada Gambar 7. di atas jika diuraikan dalam deret sinus (fungsi ganjil)
atau penguraian setengan kisaran sinus menjadi

Gambar 8. Penguraian Setengah Kisaran Sinus

𝑦𝑦 = 𝑓𝑓(𝑥𝑥) = � 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛


𝑛𝑛=1

Sedangkan jika diuraikan dalam deret cosinus atau penguraian setengah


kisaran cosinus menjadi

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 36


Gambar 9. Penguraian Setengah Kisaran Cosinus


𝑎𝑎0
𝑦𝑦 = 𝑓𝑓(𝑥𝑥) = + � 𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛
2
𝑛𝑛=1

Contoh.
Jika fungsi berikut berperiode 2π. Tentukan penguraian setengah kisaran
cosinus grafik fungsi berikut.

Jawab.
Analisa fungsi pada grafik
𝑦𝑦 = 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) = 2𝑥𝑥
𝑓𝑓(𝑥𝑥 + 2𝜋𝜋) = 𝑓𝑓(𝑥𝑥)
Grafik fungsi penguraian setengah kisaran cosinus/genap

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 37


Rumus penguraian setengah kisaran cosinus/genap

𝑎𝑎0
𝑦𝑦 = 𝑓𝑓(𝑥𝑥) = + � 𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛
2
𝑛𝑛=1
𝜋𝜋 𝜋𝜋
2 2 2
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 2𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥𝑥 = [𝑥𝑥 2 ]𝜋𝜋0 = 2𝜋𝜋
𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 0 𝜋𝜋
2 𝜋𝜋 2 𝜋𝜋
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 = � 2𝑥𝑥 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜋𝜋 0 𝜋𝜋 0
4 𝑥𝑥 𝜋𝜋 1 𝜋𝜋
= �� 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛� − � sin 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑 �
𝜋𝜋 𝑛𝑛 0 𝑛𝑛 0
𝜋𝜋
4 1
= �(0 − 0) − 2 [−𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛]�
𝜋𝜋 𝑛𝑛
0
𝜋𝜋
4 1
= �− 2 [−𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑛𝑛𝑛𝑛 + 1]�
𝜋𝜋 𝑛𝑛
0
−8
= 0 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔; = 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑛𝑛 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔
𝜋𝜋𝑛𝑛2
jadi penguraian setengah kisaran genap adalah

𝑎𝑎0
𝑦𝑦 = 𝑓𝑓(𝑥𝑥) = + � 𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝑛𝑛
2
𝑛𝑛 =1
1 1
= 𝜋𝜋 + �cos 𝑥𝑥 + 𝑥𝑥 + cos 3𝑥𝑥 + cos 5𝑥𝑥 + ⋯�
9 25

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 38


BAB II
TRANSFORMASI FOURIER

2.1 Bentuk Polar dan Eksponensial Bilangan Kompleks


Setiap bilangan kompleks yang berbentuk z = a + jb bisa dinyatakan
dalam bentuk polar. Bentuk polar tersebut bisa dinyatakan dalam bentuk
z = r (cos θ + j sin θ)= rejθ
r adalah modulus dari z
θ adalah argumen dari z

Gambar 10. Bidang Kompleks

dari persamaan didapatkan


𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 + 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 = 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗
cos(−𝜃𝜃 ) + 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗(−𝜃𝜃 ) = 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎
cos(𝜃𝜃 ) − 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗(𝜃𝜃 ) = 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗
sehingga
𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 + 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗
cos(𝜃𝜃 ) =
2
𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 − 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗
sin(𝜃𝜃 ) =
2𝑗𝑗

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 39


2.2 Bentuk Eksponensial Kompleks Deret Fourier
Untuk fungsi 𝑓𝑓 (𝑡𝑡) dengan 𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = 𝑓𝑓(𝑡𝑡 + 𝑇𝑇). Didapatkan persamaan
deret Fourier yaitu

𝑎𝑎0 2𝜋𝜋
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = + �(𝑎𝑎𝑛𝑛 cos 𝑛𝑛𝜔𝜔0 𝑡𝑡 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 sin 𝑛𝑛𝜔𝜔0 𝑡𝑡) ; 𝜔𝜔0 =
2 𝑇𝑇
𝑛𝑛=1

2 𝑇𝑇/2
𝑎𝑎0 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2

2 𝑇𝑇/2
𝑎𝑎𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝜔𝜔0 𝑡𝑡 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2

2 𝑇𝑇/2
𝑏𝑏𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝜔𝜔0 𝑡𝑡 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2
dengan substitusi bentuk eksponensial kompleks deret menjadi

𝑎𝑎0 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 + 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 − 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡
= + � �𝑎𝑎𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 �
2 2 2𝑗𝑗
𝑛𝑛 =1

𝑎𝑎0 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 + 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 −𝑗𝑗𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 + 𝑗𝑗𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡
= + � �𝑎𝑎𝑛𝑛 + 𝑏𝑏𝑛𝑛 �
2 2 2
𝑛𝑛 =1

𝑎𝑎0 𝑎𝑎𝑛𝑛 − 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑛𝑛 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡 𝑎𝑎𝑛𝑛 + 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑛𝑛 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡
= + � �� � 𝑒𝑒 0 + � � 𝑒𝑒 0 �
2 2 2
𝑛𝑛 =1

jika
𝑎𝑎𝑛𝑛 − 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑛𝑛 𝑎𝑎𝑛𝑛 + 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑛𝑛
= 𝑐𝑐𝑛𝑛 ; = 𝑐𝑐𝑛𝑛 ∗
2 2
maka
bab I– TRANSFORMASI FOURIER 40

𝑎𝑎0 𝑎𝑎𝑛𝑛 − 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑛𝑛 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡 𝑎𝑎𝑛𝑛 + 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑛𝑛 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = + � �� � 𝑒𝑒 0 + � � 𝑒𝑒 0 �
2 2 2
𝑛𝑛=1

𝑎𝑎0
= 𝑐𝑐0 + ��𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 + 𝑐𝑐𝑛𝑛 ∗ 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 � ; 𝑐𝑐0 =
2
𝑛𝑛=1
∞ ∞
𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
= 𝑐𝑐0 + ��𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 + ��𝑐𝑐𝑛𝑛 ∗ 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
𝑛𝑛=1 𝑛𝑛=1

jika 𝑐𝑐𝑛𝑛 ditulis sebagai 𝑐𝑐−𝑛𝑛 maka
𝑎𝑎𝑛𝑛 + 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑛𝑛
= 𝑐𝑐𝑛𝑛 ∗ = 𝑐𝑐−𝑛𝑛 → 𝑎𝑎𝑛𝑛 = 𝑎𝑎−𝑛𝑛 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 −𝑏𝑏𝑛𝑛 = 𝑏𝑏−𝑛𝑛
2
sehingga
∞ ∞

𝑓𝑓(𝑡𝑡) = 𝑐𝑐0 + ��𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 � + ��𝑐𝑐𝑛𝑛 ∗ 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �


𝑛𝑛=1 𝑛𝑛 =1
∞ ∞
𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
= 𝑐𝑐0 + ��𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 + ��𝑐𝑐−𝑛𝑛 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
𝑛𝑛 =1 𝑛𝑛=1

jika n range dari 1 s.d ∞ maka –n range adalah -∞ s.d -1 sehingga


persamaan di atas menjadi
∞ −∞
𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
= 𝑐𝑐0 + ��𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 + � �𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
𝑛𝑛=1 𝑛𝑛=−1
−1 ∞
𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
= � �𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 + 𝑐𝑐0 + ��𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
𝑛𝑛=−∞ 𝑛𝑛=1

= � �𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
𝑛𝑛=−∞

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 41


dengan
𝑎𝑎𝑛𝑛 − 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑛𝑛
𝑐𝑐𝑛𝑛 =
2
2 𝑇𝑇/2 2 𝑇𝑇/2
� ∫−𝑇𝑇/2 𝑓𝑓(𝑥𝑥 ) cos 𝑛𝑛𝜔𝜔0 𝑡𝑡 𝑑𝑑𝑑𝑑� − 𝑗𝑗 � ∫−𝑇𝑇/2 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 ) sin 𝑛𝑛𝜔𝜔0 𝑡𝑡 𝑑𝑑𝑑𝑑�
𝑇𝑇 𝑇𝑇
=
2
2 𝑇𝑇/2
𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )[cos 𝑛𝑛𝜔𝜔0 𝑡𝑡 − 𝑗𝑗 sin 𝑛𝑛𝜔𝜔0 𝑡𝑡 ]𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 ∫−𝑇𝑇/2
=
2
1 𝑇𝑇/2
= � 𝑓𝑓 (𝑥𝑥 )�𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2
Contoh 1.
Tentukan deret Fourier eksponensial komplek fungsi berikut
0 − 𝑇𝑇/2 < 𝑡𝑡 < −𝑎𝑎/2
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = � 1 − 𝑎𝑎/2 < 𝑡𝑡 < 𝑎𝑎/2
0 𝑎𝑎/2 < 𝑡𝑡 < 𝑇𝑇/2
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = 𝑓𝑓(𝑡𝑡 + 𝑇𝑇)

Jawab:
Rumus deret Fourier

𝑓𝑓(𝑡𝑡) = � �𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �


𝑛𝑛=−∞

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 42


1 𝑇𝑇/2
𝑐𝑐𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑡𝑡)�𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2

1 𝑎𝑎/2
𝑐𝑐𝑛𝑛 = � 1�𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑎𝑎/2
𝑎𝑎/2
1
=� 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
−𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝜔𝜔0 −𝑎𝑎/2

1
= �𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑎𝑎/2 − 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑎𝑎/2 �
−𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝜔𝜔0
1 2𝜋𝜋
= �𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑎𝑎/2 − 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑎𝑎/2 � ; 𝜔𝜔0 =
−2𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑇𝑇
𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑎𝑎/2
1 �𝑒𝑒 − 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑎𝑎/2 �
=
𝑛𝑛𝑛𝑛 2𝑗𝑗
sin 𝑛𝑛𝑛𝑛0 𝑎𝑎/2 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 2𝜋𝜋
= = ; 𝜔𝜔0 =
𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑇𝑇
𝑎𝑎 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
= � �
𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
sehingga

𝑎𝑎 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = � � � � 𝑒𝑒 0 �
𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
𝑛𝑛=−∞

untuk n=0
1 𝑎𝑎/2 𝑎𝑎
𝑐𝑐0 = � 𝑓𝑓(𝑡𝑡)𝑑𝑑𝑑𝑑 =
𝑇𝑇 −𝑎𝑎/2 𝑇𝑇
jadi

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 43



𝑎𝑎 𝑎𝑎 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = + � � � � 𝑒𝑒 0 �
𝑇𝑇 𝑛𝑛 =−∞ 𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
𝑛𝑛≠0

Contoh 2
Tentukan deret Fourier eksponensial komplek fungsi berikut
1 0 < 𝑡𝑡 < 𝑎𝑎
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = �
0 𝑎𝑎 < 𝑡𝑡 < 𝑇𝑇
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = 𝑓𝑓(𝑡𝑡 + 𝑇𝑇)
f(t)

-a 0 a T t

Jawab:
Rumus deret Fourier

𝑓𝑓(𝑡𝑡) = � �𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �


𝑛𝑛=−∞

1 𝑇𝑇/2
𝑐𝑐𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑡𝑡)�𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2
1 𝑎𝑎
𝑐𝑐𝑛𝑛 = � 1�𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 0
𝑎𝑎
1 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡
=� 𝑒𝑒 0 �
−𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝜔𝜔0 0

1
= �𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑎𝑎 − 1�
−𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝜔𝜔0

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 44


1 2𝜋𝜋
= �𝑒𝑒 −𝑗𝑗 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 /𝑇𝑇 − 1� ; 𝜔𝜔0 =
−𝑗𝑗2𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑇𝑇

1 �−𝑒𝑒 −𝑗𝑗 2𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 /𝑇𝑇 + 1� 1 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 /𝑇𝑇 �−𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 /𝑇𝑇 + 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 /𝑇𝑇 �
= = 𝑒𝑒
𝑛𝑛𝑛𝑛 2𝑗𝑗 𝑛𝑛𝑛𝑛 2𝑗𝑗
1 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 /𝑇𝑇 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
= 𝑒𝑒 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 = 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 /𝑇𝑇
𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑛𝑛𝑛𝑛
jika dibuat bentuk lain
𝑎𝑎 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 /𝑇𝑇 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
= 𝑒𝑒
𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
sehingga

𝑎𝑎 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = � � 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 /𝑇𝑇 � 𝑒𝑒 0
𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
𝑛𝑛=−∞

untuk n=0
1 𝑎𝑎 𝑎𝑎
𝑐𝑐0 = � 𝑓𝑓(𝑡𝑡)𝑑𝑑𝑑𝑑 =
𝑇𝑇 0 𝑇𝑇
jadi

𝑎𝑎 𝑎𝑎 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = + � � 𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 /𝑇𝑇 � 𝑒𝑒 0
𝑇𝑇 𝑛𝑛=−∞ 𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
𝑛𝑛 ≠0

2.3 Spektra Diskrit


Pada contoh 1 dan 2, 𝑐𝑐𝑛𝑛 dapat berbentuk riil atau kompleks. Secara
umum bentuk kompleks 𝑐𝑐𝑛𝑛 adalah
𝑐𝑐𝑛𝑛 = |𝑐𝑐𝑛𝑛 |𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 ∅𝑛𝑛

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 45


Bentuk 𝑐𝑐𝑛𝑛 tersebut di atas disebut sebagai spektra diskrit koefisien
Foerier
untuk contoh 2
𝑎𝑎 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
|𝑐𝑐𝑛𝑛 | = � �
𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
∅𝑛𝑛 = −𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
|𝑐𝑐𝑛𝑛 | disebut sebagai spektra amplitudo dan 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 ∅𝑛𝑛 disebut sebagai spektra
fasa.

𝑎𝑎 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 /𝑇𝑇


Gambar 11. Spektra Amplitudo |𝑐𝑐𝑛𝑛 | = � �
𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 /𝑇𝑇

Gambar 12. Spektra Fasa ∅𝑛𝑛 = −𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇

2.4 Teorema Integral Fourier


Pada contoh 1 dinyatakan bahwa deret Fourier untuk fungsi berikut

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 46


0 − 𝑇𝑇/2 < 𝑡𝑡 < −𝑎𝑎/2
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = � 1 − 𝑎𝑎/2 < 𝑡𝑡 < 𝑎𝑎/2
0 𝑎𝑎/2 < 𝑡𝑡 < 𝑇𝑇/2
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = 𝑓𝑓(𝑡𝑡 + 𝑇𝑇)

adalah

𝑎𝑎 𝑎𝑎 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 𝑡𝑡
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = + � � � � 𝑒𝑒 0 �
𝑇𝑇 𝑛𝑛 =−∞ 𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇
𝑛𝑛≠0

dengan
𝑎𝑎 sin 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 2𝜋𝜋
𝑐𝑐𝑛𝑛 = � � ; 𝜔𝜔0 =
𝑇𝑇 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 𝑇𝑇
jika 𝑇𝑇 → ∞ maka 𝜔𝜔0 → 0.
f(t) f(t)

1 1

0 -a/2 0 a/2
-T/2 -a/2 a/2 T/2 t t

𝑛𝑛𝑛𝑛0 dapat dinyatakan sebagai 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛, untuk 𝑇𝑇 → ∞ maka 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 = 𝜔𝜔.


𝜔𝜔 disebut sebagai variabel frekuensi kontinyu.
Pengaruh terhadap deret Fourier adalah

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 47


𝑓𝑓(𝑡𝑡) = � �𝑐𝑐𝑛𝑛 𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �


𝑛𝑛=−∞
𝑇𝑇/2
1
𝑐𝑐𝑛𝑛 = � 𝑓𝑓 (𝑡𝑡)�𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2
subsitusi 𝑐𝑐𝑛𝑛 pada 𝑓𝑓(𝑡𝑡)

1 𝑇𝑇/2
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = � � � 𝑓𝑓 (𝑡𝑡)�𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �𝑑𝑑𝑑𝑑� �𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 �
𝑇𝑇 −𝑇𝑇/2
𝑛𝑛=−∞
∞ 𝑇𝑇
1 2
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = � � � 𝑓𝑓 (𝑢𝑢)[𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑢𝑢 ]𝑑𝑑𝑑𝑑� (𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 ) ; 𝑢𝑢 = 𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣. 𝑡𝑡
𝑇𝑇 −𝑇𝑇
𝑛𝑛=−∞ 2

∞ 𝑇𝑇
1 2 2𝜋𝜋
𝑓𝑓 (𝑡𝑡) = � � � 𝑓𝑓 (𝑢𝑢)�𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑢𝑢 �𝑑𝑑𝑑𝑑� 𝜔𝜔0 �𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗 𝜔𝜔 0 𝑡𝑡 � ; 𝜔𝜔0 =
2𝜋𝜋 −𝑇𝑇 𝑇𝑇
𝑛𝑛=−∞ 2

1 ∞
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = � � � 𝑓𝑓 (𝑢𝑢)�𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 �𝑑𝑑𝑑𝑑� �𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 �𝛿𝛿𝛿𝛿 ; 𝑇𝑇 → ∞ 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 𝜔𝜔0 = 𝛿𝛿𝛿𝛿
2𝜋𝜋 𝑢𝑢=−∞
𝑛𝑛=−∞

Untuk limit 𝑇𝑇 → ∞ maka 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 = 𝜔𝜔 dan 𝛿𝛿𝛿𝛿 = 𝑑𝑑𝑑𝑑 sehingga


∞ ∞
� 𝛿𝛿𝛿𝛿 → � 𝑑𝑑𝑑𝑑
𝑛𝑛=−∞ 𝜔𝜔 =−∞

maka
∞ 1 ∞
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = � � � 𝑓𝑓(𝑢𝑢)[𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ]𝑑𝑑𝑑𝑑� (𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 )𝑑𝑑𝑑𝑑
𝜔𝜔=−∞ 2𝜋𝜋 𝑢𝑢=−∞

1 ∞ 1 ∞
= � � � 𝑓𝑓 (𝑢𝑢)[𝑒𝑒 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ]𝑑𝑑𝑑𝑑� (𝑒𝑒 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 )𝑑𝑑𝑑𝑑
√2𝜋𝜋 𝜔𝜔=−∞ √2𝜋𝜋 𝑢𝑢=−∞
∞ ∞
𝟏𝟏 𝟏𝟏
= � [𝑭𝑭(𝝎𝝎)](𝒆𝒆𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋 )𝒅𝒅𝒅𝒅 ; 𝑭𝑭(𝝎𝝎) = � 𝒇𝒇(𝒖𝒖)[𝒆𝒆−𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋 ]𝒅𝒅𝒅𝒅
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝝎𝝎=−∞ √𝟐𝟐𝟐𝟐 𝒖𝒖=−∞

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 48


Bentuk rumus di atas disebut sebagai Teorema integral Fourier

2.5 Transformasi Fourier


Transformasi Fourier dari 𝑓𝑓 (𝑡𝑡) dinyatakan sebagai

𝟏𝟏
𝑭𝑭(𝝎𝝎) = � 𝒇𝒇(𝒕𝒕)[𝒆𝒆−𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋 ]𝒅𝒅𝒅𝒅
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝒕𝒕=−∞

Contoh
Tentukan Transformasi Fourier fungsi berikut
0 𝑡𝑡 < −𝑎𝑎/2
𝑓𝑓(𝑡𝑡) = �1 − 𝑎𝑎/2 < 𝑡𝑡 < 𝑎𝑎/2
0 𝑎𝑎/2 < 𝑡𝑡
f(t)

-a/2 0 a/2 t

Jawab

𝟏𝟏
𝑭𝑭(𝝎𝝎) = � 𝒇𝒇(𝒕𝒕)[𝒆𝒆−𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋 ]𝒅𝒅𝒅𝒅
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝒕𝒕=−∞
𝒂𝒂/𝟐𝟐
𝟏𝟏
= � 𝟏𝟏[𝒆𝒆−𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋 ]𝒅𝒅𝒅𝒅
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝒕𝒕=−𝒂𝒂/𝟐𝟐

𝟏𝟏 𝟏𝟏 −𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋 𝒂𝒂/𝟐𝟐
= �
𝒆𝒆 �
√𝟐𝟐𝟐𝟐 −𝒋𝒋𝒋𝒋 −𝒂𝒂/𝟐𝟐

𝟏𝟏 𝒆𝒆𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋/𝟐𝟐 − 𝒆𝒆−𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋/𝟐𝟐
= � �
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝒋𝒋𝒋𝒋

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 49


𝟐𝟐 𝒆𝒆𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋/𝟐𝟐 − 𝒆𝒆−𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋𝒋/𝟐𝟐
= � �
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝟐𝟐𝟐𝟐(𝝎𝝎)
𝟐𝟐 𝒔𝒔𝒔𝒔𝒔𝒔 𝝎𝝎𝝎𝝎/𝟐𝟐
= � �
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝝎𝝎
𝒂𝒂 𝒔𝒔𝒔𝒔𝒔𝒔 𝝎𝝎𝝎𝝎/𝟐𝟐
= � �
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝝎𝝎𝝎𝝎/𝟐𝟐
ternyata transformasi fourier dari fungsi f(t) di atas menghasilkan spektra
𝒂𝒂 𝒔𝒔𝒔𝒔𝒔𝒔 𝝎𝝎𝝎𝝎/𝟐𝟐
amplitudo kontinyu fungsi frekuensi, 𝐹𝐹(𝜔𝜔) = � �.
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝝎𝝎𝝎𝝎/𝟐𝟐

𝒂𝒂 𝒔𝒔𝒔𝒔𝒔𝒔 𝝎𝝎𝝎𝝎/𝟐𝟐
Gambar 13. Spektra Amplitudo Kontinyu 𝐹𝐹(𝜔𝜔) = � �
√𝟐𝟐𝟐𝟐 𝝎𝝎𝝎𝝎/𝟐𝟐

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 50


bab I– TRANSFORMASI FOURIER 51
bab I– TRANSFORMASI FOURIER 52
DAFTAR ISI

BAB I DERET FOURIER ............................................................ 1


1.1 FUNGSI PERIODIK....................................................................................................1
1.2 FUNGSI SINUSOIDA .................................................................................................1
1.3 FUNGSI HARMONIK .................................................................................................3
1.4 FUNGSI PERIODIK NON-SINUSOIDA .............................................................................4
1.5 ANALISA GRAFIK FUNGSI PERIODIK .............................................................................4
1.6 INTEGRAL BEBERAPA FUNGSI PERIODIK KHUSUS.............................................................7
1.7 FUNGSI ORTHOGONAL ...........................................................................................11
1.8 DERET FOURIER....................................................................................................11
1.9 SYARAT DIRICHLET ................................................................................................23
1.10 FUNGSI DENGAN PERIODE T...................................................................................23
1.11 DERET FOURIER FUNGSI GENAP - GANJIL .................................................................27
1.12 PERKALIAN FUNGSI GANJIL-GENAP .........................................................................29
1.13 PENGURAIAN SETENGAH KISARAN ..........................................................................35

BAB II TRANSFORMASI FOURIER .......................................... 39


2.1 BENTUK POLAR DAN EKSPONENSIAL BILANGAN KOMPLEKS .............................................39
2.2 BENTUK EKSPONENSIAL KOMPLEKS DERET FOURIER......................................................40
2.3 SPEKTRA DISKRIT ..................................................................................................45
2.4 TEOREMA INTEGRAL FOURIER ..................................................................................46
2.5 TRANSFORMASI FOURIER ........................................................................................49

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 53


DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1. FUNGSI PERIODIK .............................................................................................1


GAMBAR 2. FUNGSI SIN X ...................................................................................................2
GAMBAR 3. FUNGSI 5SIN 2X ...............................................................................................2
GAMBAR 4. FUNGSI PERIODIK NON PERIODIK .........................................................................4
GAMBAR 5. FUNGSI GENAP 𝑦𝑦 = 𝑥𝑥2 DAN 𝑦𝑦 = 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐 𝑥𝑥 .........................................................27
GAMBAR 6. FUNGSI GANJIL 𝑦𝑦 = 𝑥𝑥3 DAN 𝑦𝑦 = SIN(𝑥𝑥) ..........................................................28
GAMBAR 7. FUNGSI Y TERDIFINISI PADA INTERVAL 0 - π DG PERIODE 2π ......................................36
GAMBAR 8. PENGURAIAN SETENGAH KISARAN SINUS..............................................................36
GAMBAR 9. PENGURAIAN SETENGAH KISARAN COSINUS ..........................................................37
GAMBAR 10. BIDANG KOMPLEKS .......................................................................................39
GAMBAR 11. SPEKTRA AMPLITUDO 𝑐𝑐𝑐𝑐 = 𝑎𝑎𝑎𝑎SIN𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇/𝑇𝑇............................................46
GAMBAR 12. SPEKTRA FASA ∅𝑛𝑛 = −𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛/𝑇𝑇 .....................................................................46
GAMBAR 13. SPEKTRA AMPLITUDO KONTINYU 𝐹𝐹(𝜔𝜔) = 𝒂𝒂𝒂𝒂𝒂𝒂𝒂𝒂𝒂𝒂𝒂𝒂 𝝎𝝎𝝎𝝎/𝟐𝟐𝟐𝟐𝟐𝟐/𝟐𝟐 ......................50

bab I– TRANSFORMASI FOURIER 54