Anda di halaman 1dari 134

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Asuhan Kebidanan Komprehensif

1. Pengertian
a. Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan adalah prosedur tindakan yang dilakukan oleh
bidan sesuai dengan wewenang dalam lingkup praktiknya berdasarkan
ilmu dan kiat kebidanan, dengan memperhatikan pengaruh-pengaruh
social, budaya, psikologis, emisional, spiritual, fisik, etika dank ode etik
serta hubungan interpersonal dan hak dalam mengambil keputusan dengan
prinsip kemitraan dengan perempuan dan mengutamakan keamanan ibu,
janin/bayi dan menolong serta kepuasan perempuan dan keluarganya.
Asuhan kebidanan diberikan dengan memperhatikan prinsip-prinsip bela
rasa, kompetensi, suara hati, saling percaya dan komitmen untuk
memelihara serta meningkatkan kesejahteraanibu dan janin/bayinya.
(Frisca TRisnawati, M.Kes, 2012).
b. Asuhan kebidanan komprehensif
Asuhan kebidanan komprehensif adalah suatu pemeriksaan yang
dilakukan secara lengkap dengan adanya pemeriksaan laboratorium
sederhana dan konseling (Varney, 2006).
Asuhan kebidanan komprehensif mencakup empat kegiatan
pemeriksaan berkesinambungan diantaranya adalah asuhan kebidanan
kehamilan (antenatal care), asuhan kebidanan persalinan (intranatal care),
asuhan kebidanan masa nifas (postnatal care), dan asuhan bayi baru lahir
(neonatal care) (Varney, 2006).

11
2. Tujuan asuhan kebidanan
Tujuan utama asuhan kebidanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi
(Mengurangi Kesakitan dan Kematian). Asuhan kebidanan berfokus pada :
pencegahan promosi kesehatan yang bersifat polistik, diberikan dengan cara
yang kreatif dan fleksibel, suportif, peduli, bimbingan, monitor dan
pendidikan berpusat pada perempuan, asuhan berkesinambungan, sesuai
keinginan dan tidak otoriter serta menghormati pilihan perempuan.(Reni
Heryani, 2011, Hal : 14).
3. Filosofi asuhan kebidanan
Filosofi asuhan kebidanan menggambarkan keyakinan yang di anut oleh
bidan dan dijadikan sebagai panduan yang diyakini dalam memberikan asuhan
kebidanan. Filosofi asuhan kebidanan menjelaskan beberapa keyakinan yang
akan mewarnai asuhan. Keyakinan tersebut adalah :
a. Profesi kebidanan secara nasional diakui dalam undang-undang
maupun peraturan perintah Indonesia yang merupakan salah satu
tenaga pelayanan kesehatan professional dan secara internasional
diakui oleh International Confederation of Midwives (ICM),
International Federation of International Gynecologist and
Obstetrician (FIGO) dan WHO.
b. Tugas, tanggung jawab dan kewenangan profesi bidan yang telah
diatur dalam beberapa peraturan Keputusan Menteri Kesehatan
ditunjukkan dalam rangka membantu program pemerintah bidang
kesehatan khususnya ikut dalam rangka menurunkan angka kematian
ibu (AKI), angka kematian perinatal (AKP), meningkatkan pelayanan
kesehatan ibu dan anak (KIA), pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas
yang nyaman, pelayanan keluarga berencana, dan pelayanan
reproduksi lainnya.

12
c. Bidan berkeyakunan bahwa setiap individu berhak memperoleh
pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan
kebutuhan manusia dan perbedaan budaya. Setiap individu berhak
untuk menentukan nasib sendiri, mendapatkan informasi yang cukup
dan untuk berperan disegala aspek pemaliharaan kesehatannya.
d. Bidan meyakini bahwa menstruasi , kehamilan, persalinan, dan
menopause adalah proses fisiologi dan hanya sebagian, kecil yang
membutuhkan intervensi medic.
e. Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal, namun
apabila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal.
f. Setiap indifidu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu setiap
wanita usia subur, ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayinya berhal
mendaptkan pelaya\nan yan berkualitas.
g. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan
keluarga yang membutuhkan persiapan mulai anak menginjak mas
remaja.
h. Kesehatan ibu priode reproduksi dipengaruhi oleh prilaku ibu,
lingkungan dan pelayanan kessehatan.
i. Intervensi kebidanan bersifat komprehensif mencakup upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitative ditujukan kepada individu,
keluarga dan masyarakat.
j. Manajeman kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah
dalam rangka meningkatkan cukupan pelayanan kebidanan yang
professional dan interaksi social atas azas penelitian dan
pengembangan yang dapat melandasi manajeman secara terpadu.
k. Proses kepandidikan kebidanan sebaga upaya pengembangan
kepribadian berlangsung sepanjang hidup manusia perlu
dikembangkan dan diupayakan untuk berbagai strata masyarakat
(Estiwidani,2011: 2-5)

13
4. Prinsip Asuhan Kebidanan
a. Memahami bahwa kelahiran anak merupakan proses alamiah dan
fisiologis
b. Menggunakan cara yang sederhana, tidak melakukan intervensi tanpa
adanya indikasi sebelum berpaling ke teknolog.
c. Aman, berdasarkan fakta, dan memberi kontribusi pada keselamatan
jiwa ibu
d. Terpusat pada ibu, bukan terpusat pada pemberi asuhan
kesehatan/lembaga (sayang ibu)
e. Menjaga privasi serta kerahasiaan ibu
f. Membantu ibu merasa aman, nyaman dan didukung secara emosional
g. Memastikan bahwa kaum ibu mendapat informasi, penjelasan, dan
konseling yang cukup
h. Mendorong ibu dan keluarga agar aktif dalam membuat keputusan
setelah mendapat penjelasan mengenai asuhan yang akan mereka
dapatkan
i. Menghormati praktik adat dan keyakinan agama mereka
j. Memantau kesejahteraan fisik, psikologis, spiritual dan social
ibu/keluarganya selama masa kelahiran anak
k. Memfokuskan perhatian pada peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit.
(Atik.2008:39)
5. Model Asuhan Kebidanan
Ada dua jenis model yang dikenal dalm praktik kebidanan yaitu model
medical (medical model) dan model sehat untuk semua (Health for all).
Keduanya mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam pelayanan
kebidanan.

14
a. Model medical (medical model)
Model medical adalah sebuah model yang disusun untuk
membantu masyarakat dalam memahami konsep sehat dan sakit.
Didalamnya mengandung makna bahwa kesehatan merupakan dasar
enting dalam hidup seseorang, serta bagaimana mencegah terjadinya
penyakit dan cara mengatasinya.
Ada tiga elemen yang merupakan simpulan dari model medical, yaitu:
1) Pengendalian cara hidup yang alami
2) Mekanisme kehidupan manusia
3) Pemahaman bahwa penyakit merupakan hal yang tidak
terpisahkan dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial seseorang.
Model medical biasanya digunakan dalam peneyembuhan atau
terapi secara spesifik kepada seseorang baik masalah fisik maupun
psikologis.
b. Kesehatan untuk semua (Health For All/HFA)
Model kesehatan untuk semua (KESUMA) dikemukakan oleh
WHO sejak tahun 1978 dan kemudian tahun 1981 secara perlahan
juga diperuntukkan dalam pelayanan kebidanan yang berfokus pada
perawatan wanita, keluarga dan masyarakat. Jika model medical
berfokus pada individu, KESUMA member focus pada asuhan kepada
masyarakat.
Deklarasi model KESUMA adalah focus dan titik berat dalam
pencapaian tujuan adalah dengan menggunakan primary health care
(PHC). Model KESUMA didalamnya terkandung Lima konsep PHC
adalah sebagai berikut:
1) Pemeratan uaya kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat
2) Pelayanan kesehatan berupa promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitative
3) Pelayanan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna

15
4) Optimalisasi peran serta masyarakat
5) Kolaborasi lintas sektoral
Konsep dasar di atas diaplikasikan ke dalam 8 elemen PHC
sebagai berikut:
a) Pendidikan kesehatan tentang masalah-masalah kesehatan
termasuk metode pencegahan dan penanganannya
b) Ketersediaan makanan bergizi
c) Ketersediaan air dan lingkungan bersih
d) Kesehatan ibu dan anak termasuk di dalamnya keluarga
berencana (KB)
e) Program imunisasi
f) Pencegahan dan penanganan penyakit endemic
g) Penanganan penyakit dan kecacatan
h) Penggunaan obat-obatan esensial
A. Masa Kehamilan
1. Pengertian
Kehamilan didefenisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.
Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal
akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9
bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3
trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12minggu, trimester
kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13
minggu (minggu ke-28 hingga ke-40). (Sarwono Prawirohardjo, 2014,
Hal.213).
2. Perubahan yang terjadi pada masa kehamilan trimester III
1) System reproduksi
Uterus pada trimester III, isthimus lebih nyata menjadi bagian
dari korpus uteri dan berkembang menjadi segmen bawah rahim

16
(SBR). Kontraksi otot-otot bagian atas uterus menjadikan SBR lebih
lebar dan tipis, tambak batas yang nyata antara bagian atas yang lebih
tebal segmen bawah yang tipis.
2) System Perkemihan
Keluhan sering kencing akan timbul lagi karena pada akhir
kehamilan kepala janin mulai turun kepintu atas panggul dan kandung
kemih akan mulai terkena kembali. Selain itu juga terjadi hemodilusi
yang menye babkan metabolism air menjadi lancar.
Pelvis ginjal dan ureter lebih berdilatasi pada pelvis kiri akibat
pergeeran uterus yang berat ke kanan akibat adanya kolon
rektosigmoid di sebelah kiri. Perubahan ini membuat pelvis dan ureter
menampung urin lebih banyak dan memperlambat laju aliran urin.
3) Sistem musculoskeletal
Selama trimester III, otot rektus abdominalis dapat memisah
dapat menyebabkan isi perut menonjol digaris tengah. Umbilicus
menjadi lebih datar atau menonjol. Setelah melahirkan, tonus otot
secara bertahap kembali tetapi, pemisah otot (diastase recti) menetap.
Di lain pihak, sendi pelvis pada saat kehamilan sedikit dapat bergerak.
Postur tubuh wanita secara bertahap mengalami perubahan karena
janin membesar dalam abdomen. Untuk menkonpensasikan
penambahan berat ini, bahu lebih tertarik kebelakang dan tulang
belakang lebih melengkung, sendi tulang belakan lebih lentur, dapat
menyebabkan nyeri tulang punggung pada wanita. Payudara yang
besar dan posisi bahu yang bungkuk pada saat berdiri akan semakin
membuat kurva punggung dan lumbal menonjol. Pergerakan menjadi
lebih sulit. Kram otot-otot tungkai dan kaki merupakan maslah umum
selama masalah umum selam kehamilan. penyebabnya tidak diketahui,
tetapi berhubungan dengan metabolism otot, atau postur tidak
seimbang. Wanita muda yang cukup berotot dapat mentoleransi

17
perubahan ini tanpa keluhan. Akan tetapi wanita yang tua dapat
mengalami gangguan punggung atau nyeri punggung yang cukup berat
selam kehamilan.
4) System kardiovaskuler
Aliran darah meningkat dengan cepat sesui dengan pembesaran
uterus, walupun aliran darah uterus meningkat, akuran konseptus
meningkat lebih cepat. Akibatnya lebih iksigen diambil dairi darah
uterus selama masa kehamilan lanjut. Pada kehamilan cukup bulan,
1/6 volume darah ibu berada dalam system peredaran darah uterus dan
posisi maternal mempemangaruhi aliran darah.
5) Berat badan dan indeks masa tubuh (IMT)
Terjadi kenaikan berat badan sekitar 5,5 kg penambahan berat
badan dari mulai awal kehamilan sampai akhir kehamilan sekitar 11-
12 kg.
6) System pernafasan
Pada umur kehamilan 32 minggu keatas, uterus tertekan terus
yang membesar kearah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa
bergerak dan mengakibatkan kebanyakan wanita hamil mengalami
kesulitan bernafas (Kuswanti, 2014: 90-92).
3. Kebutuhan Ibu Hamil Trimester III
a. Kebuthan Fisik Ibu Hamil
1) Oksigen
Kebutuhan oksigen adalah yang utama pada manusia
termasuk ibu hamil. Berbagai gangguan pernafasan bisa terjadi
saat hamil sehingga akan mengganggu pemenuhan kebutuhan
oksigen pada ibu yang akan berpengaruh pada bayi yang
dikandung. Untuk mencegah hal tersebut diatas dan untuk
memenuhi kebutuhan oksigen maka ibu perlu:
a) Latihan nafas melalui senam hamil

18
b) Tidur dengan bantal yang lebih tinggi
c) Makan yang tidak terlalu banyak
d) Kurangi atau hentikan merokok
e) Konsul ke dokter bila ada kelaianan atau gangguan
pernapasan seperti asma dan lain-lain
Posisi miring kiri dianjurkan untuk meningkatkan perfusi
uterus dan oksigenasi fetoplasma dengan mengurangi tekanan
pada vena asenden (hipotensi supine).
2) Nutrisi
Pada saat hamil ibu harus makan makanan yang mengandung
nilai gizi bermutu tinggi meskipun tidak berarti makanan yang
mahal. Gizi pada waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300
kalori perhari, ibu hamil seharusnya mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein, zat besi dan minum cukup cairan (menu
seimbang).
(a) Kalori
Pada trimester ketiga, janin mengalami pertumbuhan dan
prekembangan yang sangat pesat ini akan terjadi pada 20
minggu terakhir kehamilan.
(b) Protein
Protein sangat dibutuhkan untuk perkembangan buah
kehamilan yaitu untuk pertumbuhan janin, uterus, plasenta,
selain itu untuk ibu penting untuk pertumbuhan payudara dan
kenaikan sirkulasi ibu (protein plasma, hemoglobin, dan lain-
lain).
Protein yang dianjurkan adalah protein hewani seperti
daging, susu, telur, keju dan ikan karena mengandunng
komposisiasam amino yang lengkap.

19
(c) Mineral
Pada prinsipnya semua mineral dapat terpenuhi dengan
makanan-makanan sehari-hari yaitu buah-buahan, sayur-
saturan dan susu.
(d) Vitamin
Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan makanan
sayur dan buah-buahan, tapi dapat pula diberikan ekstra
vitamin. Pemberian asam folat terbukti mencegah kecacatan
pada bayi.
3) Personal hygiene
Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan
sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk
mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama
lipatan kulit (ketiak, buah dada, daerah genitalia) dengan cara
dibersihan dengan air dan dikeringkan.
Kebersihan gigi dan mulut, erlu mendapat perhatian karena
seringkali mudah terjadi gigi berlubang, terutama pada ibu yang
kekurangan kalsium. Rasa mual selama masa hamil dapat
mengakibatkan perburukan hygiene mulut dan dapat menimbulkan
karies gigi.
4) Pakaian
Pemakaian pakaian dan kelengkapannya yang kurang tepat
akan mengakibatkan beberapa ketidaknyamanan yang akan
mengganggu fisik dan psikologi ibu. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pakaian ibu hamil adalah memenuhi criteria
berikut:
(a) Pakaian harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat
pada daerah perut
(b) Bahan pakaian usahakan yang mudah menyerap keringat

20
(c) Memakai bra yang menyokong payudara
(d) Memakai sepatu dengan hak yang rendah
(e) Pakaian dalam yang selalu bersih.
(Kuswanti.2014:120)
5) Eliminasi (BAK/BAB)
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan
eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kemih.
Konstipasi terjadi karena adanya pengaruh hormon progesteron
yang mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya
otot usus. Sering buang air kecil merupakan keluhan yang umum
dirasakan oleh ibu hamil, terutama pada trimester I dan III,
sedangkan pada trimester III terjadi pembesaran janin yang juga
menyebabkan desakan kantong kemih. Tindakan mengurangi
asupan cairan untuk mengurangi keluhan ini sangat tidak
dianjurkan karena akan menyebabkan dehidrasi.
6) Seksual
Hubungan seksual selama kehamilan tidak dilarang selama tidak
ada riwayat penyakit seperti:
(a) Sering abortus dan kelahiran premature
(b) Perdarahan pervaginam
(c) Koitus harus dilakukan dengan hati-hati terutama pada
minggu terakhir kehamilan.
(d) Bila ketuban sudah pecah, koitus sudah dilarang karena dapat
menyebabkan infeksi janin intrauteri
7) Mobilisasi, Body Mekanik
Perubahan tubuh yang paling jelas adalah tulang
punggungbertambah lordosis karena tumpuan tubuh bergeser lebih
belakang dibandingkan sikap tubuh ketika tidak hamil. Keluhan
yang sering muncul dari perubahan ini adalah rasa pegal di

21
punggung dan kram kaki pada malam hari. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
(a) Memakai sepatu dengan hak yang rendah atau tanpa hak dan
jangan terlalu sempit
(b) Posisi tubuh saat mnegangkat beban, yaitu dalam keadaan
tegak dan pastikan beban terfokus pada lengan
(c) Tidur dengan posisi kaki ditinggikan
(d) Duduk dengan posisi punggung tegak
(e) Hindari duduk atau berdiri terlalu lama (ganti posisi secara
bergantian untuk mengurangi ketegangan otot).
8) Exercise/senam hamil
Senam hamil dimulai pada umur kehamilan setelah 22
minggu. Senam hamil bertujuan untuk mempersiapkan dan
melatih otot-otot sehingga dapat berfungsi secara optimal dalam
persalinan normal serta menimbangi perubahan titik berat tubuh.
Senam hamil ditujukan bagi ibu hamil tanpa kelainan atau tidak
terdapat penyakit yang menyertai penyakit kehamilan, yaitu
penyakit jantung, ginjal, dan enyakit dalam kehamilan (hamil
dengan perdarahan, kelainan letak dan kehamilan yang disertai
dengan anemia).
Syarat senam hamil:
(a) Telah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan kehamilan oleh
dokter atau bidan
(b) Latihan dilakukan setelah 22 minggu
(c) Latihan dilakukan secara teratur dan disiplin
(d) Sebaiknya latihan di rumah sakit atau klinik bersalin dibawah
pimpinan instruktur senam hamil.

22
9) Istirahat
Dengan adanya perubahan fisik pada ibu hamil, salah satunya
beban berat pada perut sehinggaterjadi perubahan sikap tubuh,
tidak jarang ibu akan mengalami kelelahan, oleh karena itu
istirahat dan tidur sangat penting untuk ibu hamil. Posisi tidur
yang dianjurkan pada ibu hamil adalah miring ke kiri, kaki kiri
lurus, kaki kanan sedikit menekuk dan diganjal dengan bantal dan
untuk mengurangi rasa nyeri pada perut, ganjal dengan bantal
pada perut bawah sebelah kiri.
10) Imunisasi
Imunisasi selama kehamilan sangat penting dilakukan untuk
mencegah penyakit yang dapat menyebabkan kematian ibu dan
janin. Jenis imunisasi yang diberikan adalah tetanus toksoid (TT)
yang dapat mencegah penyakit tetanus. Imunisasi TT pada ibu
hamil harus terlebih dahulu ditentukan status
kekebalan/imunisasinya. Ibu hamil yang belum pernah
mendapatkan imunisasi maka statusnya adalah T0, jika telah
mendapatkan 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu atau pada
masa balitanya telah memperoleh imunisasi DPT sampai 3 kali
maka statusnya adalah T2, bila telah mendapat dosis TT yang ke 3
(interval minimal dari dosis ke2) maka statusnya T3, status T4
didapat bila telah mendapatkan 4 dosis (interval minimal 1 tahun
dari dosis ke3) dan status T5 didapatkan bila 5 dosis telah didapat
(interval minimal 1 tahun dari TT ke 4).
Selama kehamilan bila ibu hamil statusnya T0 maka
hendaknya mendapatkan minimal 2 dosis (TT1 dan TT2 dengan
interval 4 minggu dan bila memungkinkan untuk mendapatkan
TT3 sesudah 6 bulan berikutnya). Ibu hamil dengan status T1
diharapkan mendapatkan suntikan TT2 dan bila memungkinkan

23
juga diberikan TT3 dengan interval 6 bulan. (bukan 4 minggu/ 1
bulan). Bagi ibu hamil yang status T2 maka bisa diberikan satu
kali suntikan bila interval suntikan sebelumnya lebih dari 6 bulan.
Bila statusnya T3 maka suntikan selama hamil cukup sekali
dengan jarak minimal 1 tahun dari suntikan sebelumnya. Ibu hamil
dengan status T4 pun dapat diberikan sekali suntikan (TT5) bila
suntikan terakhir telah lebih dari setahun dan bagi ibu hamil
dengan status T5 tidak perlu disuntik TT lagi karena telah
mendapatkan kekebalan seumur hidu (25 tahun).
Walaupun tidak hamil maka bila wanita usia subur belum
mencapai status T5 diharapkan mendapatkan dosis TT hingga
tercapai status T5 dengan interval yang ditentukan. Hal ini penting
untuk mencegah terjadinya tetanus pada bayi yang akan dilahirkan
dan keuntungn bagi wanita untuk mendapatkan kekebalan aktif
terhadap tetanus long life card (LLD) (Kuswanti.2014:123)
11) Traveling
Meskipun dalam keadaan hamil, ibu masih membutuhkan
reaksi untuk menyegarkan pikiran dan perasaan, misalnya dengan
mengunjungi objek wisata atau pergi keluar kota.
12) Persiapan laktasi
Persiapan menyusui pada masa kehamilan merupakan yal yang
penting karena dengan persiapan dini ibu akan lebih baik dan siap
untuk menyusui bayinya. Untuk itu ibu hamil masuk dalam kelas
“bimbimgan persiapan menyusui” (BPM). Pelayanan pada BPM
terdiri dari penyuluhan tentang keunggulan ASI , manfaat rawt
gabung, perawatan putting susu, perawatan bayi, gizi ibu hamil
dan menyusui, keluarga berencana.

24
a) Persiapan psikologis
Langkah-langkah yang harus diambil dalam
mempersiapkan ibu secara kejiwaan untuk menyusui adalah
setiap ibu untuk percaya dan yakin bahwa ibu akan bahwa ibu
akan sukses dalam menyusui bayinya, meyakinkan ibu akan
keuntungan ASI dan kerugian susu buatan/formualam,
memecahkan masalh yang timbul dalam menyusui,
mengikutsertakan suami dan keluarga lain yang berperan,
memberika kesempatan pada ibu untuk bertanya.
b) Pemeriksaan payudara
Pemerksaan payudara bertujuan untuk mengetahui
lebih dni adanya kelainan, sehingga diharapkan dapat dikoreksi
sebelum peralinan.
c) Pemeriksaan putting susu
Untuk menunjang kebershasilan menyusui maka pada
saat kehamilan putting ibu perlu diperiksa kelenturunnya
dengan cara :
(1) Sebelum dipegang periksa dulu bentuk putting susu
(2) Cubit areola disisi putting dengan ibu jari dan telunjuk\
(3) Dengan perlahan putting susu dan areola di tarik, untuk
membentuk “dot”, bila putting susu mudah ditarik, berarti
lentur
d) Persiapan persalinan dan kelahiran bayi
Beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk persalinan adalah
sebagai berikut :
(1) Biaya dan penentuan tempat serta penolang persalinan.
(2) Anggota keluaga yang dijadikan sebgai pengambil
keputusan jika terjadi suatu komplikasi yang membutuhkan
rujukan.

25
(3) Baju ubu dan bayi beserta perlengkapan lainnya.
(4) Surat-surat fasilitas kesehatan (misalnya ASKES, dll)
(5) Pembagian peran ketka ibu berada di RS
Selain beberapa hal diatas, yang tak kalah penting yang
dipersiapkan dari ibu adalah pemahaman akan tanda-tanda
pasti persalinan kepada ibu ketika kinjungan ANC
trimester III yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
(a) Rasa sakit atau melus diperut dan menjalar keperut bagian
bawah sampai kepinggang bagian belakang, yamg disebut
sebagai kontraksi. Kontraksi ini terjad secara teratur dan
semakin lama semakin sering dengan intnsitas yan tinggi.
Minimal 3 kali dalam 10 menit dengan durasi 30-40 detik.
(b) Adanya pengeluaran pervaginam berupa secret yang
berwarnah merah muda disertai lendir.
(c) Kadang dijumpai air ketuban yang terjadi secara spontan
(selaput ketuban pecah) dengan cirri-ciri adanya
pengeluaran air ketuban seketika dalam jumlah banyak atau
keluarnya air ketuban sedikit-sedikit tetapi dalam waktu
yang lama
13) Pemantauan kesejahteraan janin
Salah satu indikator kesejahteraan janin yang dapat
dipantau sendiri oleh ibu adalah gerakan dalam 24 jam. Gerakan
janian dalam 24 jam minimal 10 kali. Gerakan ini dirasakan dan
dihitung sendir oleh ibu sendiri yang dikenal dengan menghitung
”gerakan sepuluh”.
14) Keidaknyamanan dan cara mengatasinya
Beberapa ketidaknyamanan dan cara mengatasinya
1) Sering buang air kecil (tmester I dan III)

26
Cara mengatasi:
a) Penjelasan menganai sebab terjadinya.
b) Kosongkan saat ada dorongan untuk kencing.
c) Perbanyak mium pada siang hari.
d) Jangan kurangi minum untuk mengurangi nokturia, kecuali
jika nokturia sangat menganggu tidur di malam hari.
e) Batassi minum kopi, teh, soda.
f) Jelaskan tentang bahaya infeksi saluran kemih dengan
menjaga posisi tidur, yaitu dengan berbaring miring ke kiri
dan kaki ditinggikan untuk mecegah deurisis.
2) Hemoroid (timbul pada trimester II dan III)
Cara menagtasi
a) Hindari konstipasi.
b) Makan makann yang berserat dan banyak minum.
c) Gunakan kompres es atau air hangat.
d) Dengan perlahan masukkan kembali anus setiap kali selesai
BAB.
3) Keputihan (terjadi trimester I, II dan III)
a) Tingkatkan kebersihan dengan mandi tiap hari.
b) Memakai pakain dalam dari bahan katun dan mudah
menyerap.
c) Tingkatkan daya tahan tubuh denan makan buah dan sayur.
4) Keringat bertambah secara perlahan terus mneingkat sampai
akhir kehamilan.
Cara mengatasi:
a) Pakailah pakaian yang tipis dan longgar.
b) Tingktakan asuhan cairan.
c) Mandi secar teratur
5) Sembelit (trimester II dan III)

27
Cara mengatasi:
a) Tingkatkan diet asupan cairan.
b) Buah prem atau jus prem.
c) Minum cairan dingiin atatau hangat, terutama pada ssat
perut kosong.
d) Istirahat cukup.
e) Senam hamil.
f) Membiasakan buang air besar secara teratur.
g) Buang air besar segera setelah ada dorongan
6) Napas sesak (trimester II dan III)
Cara mengatasi:
a) Jelaskan penyebab fisiologi.
b) Dorong agar secara sengaja mengatur laju dan dalamnya
pernafasan pada kecepatan normal yang terjadi.
c) Merentangkan tangan diatas kepala serta menarik nafas
panjang.
d) Mendorong postur tubuh yang baik, melakukan pernafasan
intercostal.
7) Nyeri ligamentum rotundum (trimester II dan III)
Cara mengatasi:
a) Berikan penjelasan mengenai penyebab nyeri.
b) Tekuk lutut kearah abdomen.
c) Mandi air hangat.
d) Gunakan bantalan pemanas pada area yang terasa sakit
hanya jika tidak terdapat kontraindikasi.
e) Gunkan sebuah bantal untuk menopang uterus dan bantal
lainnya letakkan diantara lutut sewaktu dalam posisi
berbaring miring.

28
8) Panas perut ( mulai bertambah sejak trimester II dan
bertambah semakin lamanya kehamilan, hilang pada
persalinan )
Cara mengatasi :
a) Makan sedikit-sedikit tapi sering.
b) Hindari makan berlemak dan berbumbu tajam.
c) Hindari rokok, asap rokok, alkohol dan cokelat.
d) Hindari berbaring setelah makan.
e) Hindari minum air putih saat makan.
f) Kunyah permen karet.
g) Tidur dengan kaki ditinggikan.
9) Perut kembung ( trimester II dan III )
Cara mengatasi :
a) Hindari makan yang mengandung gas.
b) Mengunyah makanan secara sempurna.
c) Lakukan secara teratur.
d) Pertahangkan saat buang air besar yang teratur.
10) Pusing / singkop ( trimester II dan III )
Cara mengatasi :
a) Bangun secara perlahan dari posisi istirahat.
b) Hindari berdiri terlalu lama dalam lingkungan yang hangat
dan sesak.
c) Hindari berbaring dalam posisi terlentang.
11) Sakit punggung atas dan bawah ( trimester II dan III )
Cara mengatasi :
a) Gunakan posisi tubuh yang baik.
b) Gunakan bra yang menopang dengan ukuran yang tepat.
c) Gunakan kasur yang kesar.
d) Gunakan bantal ketika tidur untuk meluruskan punggung.

29
12) Parises pada kaki ( trimestar II dan III )
Cara mengatasi :
a) Tinggikan kaki sewaktu berbaring.
b) Jaga agar kaki tidak bersilangan.
c) Hindari berdiri atau duduk terlalu lama.
d) Senam untuk melancarkan peredaran darah.
Hindari pakaian atau korset yang ketat
b. Kebutuhan Psikologis Ibu Hamil
1) Suport keluarga
Kehamilan melibatkan seluruh angggota keluarga.Karen
konsepsi merupakan awal, bukan saja bagi janin yang sedang
berkembang, tetapi juga bagi keluarga, yakni dengan hadirnya
seorang anggota keluarga baru dan terjadinya perubahan hubungan
dalam keluarga, maka setiap anggota keluarga harus beradaptasi
terhadap kehamilan dan menginterpretasikannya berdasarkan
hubungan masing-masing.
Hubungan antara wanita dan ibunya terbukti signifikan dalam
adaptasi terhadap kehamilan dan menjadi ibu. Keberadaan ibu
disamping anak perempuannya selama masa kanak-kanak.
2) Support dari tenaga kesehatan
a) Memberikan penjelasan bahwa yang dirasakan oleh ibu adalah
normal.
b) Menenangkan ibu.
c) Membicarakan kembali dengan ibu bagaimana tanda-tanda
persalinan yang sebenarnya.
d) Meyakinkan bahwa anda akan selalu berada bersama ibu untuk
membantu melahirkan bayinya

30
3) Rasa aman dan nyaman selama kehamilan
Untuk menciptakan rasa nyaman dapat ditempuh dengan
senam untuk memperkuat otot-otot, mengatur posisi duduk untuk
mengatasi nye eri punggung akibat janin, mengatur berbagai sikap
tubuh untuk meredakan nyeri dan pegal, melatih sikap santai untuk
menenangkan pikiran dan menenangkan tubuh, melakukan
relaksasi sentuhan atau teknik pemijatan.
4) Persiapan Menjadi Orang Tua
Persiapan menjadi orang tua sangat penting karena setelah
bayi lahir akan banyak perubahan peran yang terjadi, mulai dari
ibu, ayah dan keluarga. Bagi pasangan yang baru pertama
mempunyai anak, persiapan dapat dilakukan dengan banyak
berkonsultasi dengan oranag yang mamapu untuk membagi
pengalamanya dan memberikan nasehat mengenai persiapan
menjadi orang tua
5) Persiapan sibling
Sibling Rivalry adalah rasa persaingan diantara saudara
kandung akibat kelahiran anak berikutnya. Biasanya terjadi pada
anak usia 2-3 tahun. Rivaly biasanya ditunjukkan dengan
penolakan terhadap kelahiran adiknya, menangis, menarik diri
dari lingkungannya, menjauh dari ibunya atau melakukan
kekerasan terhadap adiknya. Kehadiran seorang adik yang baru
dapat merupakan krisis utama bagi seorang anak.
Langkah-langkah yang dapatdilakaaukanuntukmencegah
sibling rivalry adalah:
a) Menceritakan mengenai calon adik yang disesuaikan dengan
usia dan kemaampuannya untuk memahami, tetapi tidak pada
kehamilan muda karena akan cepat bosan.

31
b) Jangan sampai dia mengetahui tentang calon adiknya dari
orang lain.
c) Gerakan dia merasakan gerakan janin adiknya.
d) Menjelaskan pada anak tentang posisi (meskipun ada adiknya,
ia tetap disayangi oleh ayah ibunya).
e) Melibatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adiknya.
f) Mengarjakan untuk berkomukasi dengan bayi sejak masih
dalam kandungan.
g) Ajarkan anak untuk melihat benda-benda yang berhubungan
dengan kelahiran bayi (Kuswanti, 2014: 135-138).
4. Keadaan Patologis
5. Pengkajian
a. Anamnesis
1) Identifikasi diri ibu hamil : Nama ibu, nama suami, alamat
lengkap.
2) Status kesehatan reproduksi yang mungkin berkabaitan dengan
faktor resiko.
3) Usia ibu, gravida, paritas, abortus.
4) Usia kehamilan, hari pertama haid terakhir (HPHT) / hari tafsiran
persalinan.
5) Lama haid, siklus haid.
6) Riwayat kehamilan dan persalinan.
7) Riwayat keluarga berencana ( KB ).
8) Riwayat penularan penyakit menular seksual ( PMS ).
9) Riwayat kekerasan terhadap perempuan ( KtP ).
10) Status kesehatan :
a) Riwayat penyakit yang pernah diderita ibu seperti: sesak nafas
dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, penyakit jantung
(berbahaya bagi kehamilan dan persalinan), diabetes (dapat

32
menyebabkan penyulit pada persalinan), penyakit kuning yang
erat kaitannya dengan fungsi hati dan dapat mengakibatkan
perdarahan waktu persalinan, penyakit-penyakit kronis seperti
malaria dan TBC.
b) Riwayat penyakit yang sedang diderita (hal yang ditanyakan
sama seperti di atas).
c) Obat yang diminum ibu hamil.
11) Hal yang dirasakan selama kehamilan sekarang.
a) Gerakan janin: kapan mulai bergerak (biasanya setelah
kehamilan 18 – 20 minggu sampai lahir), janin masih bergerak
atau tidak.
b) Keluhan yang berkaitan dengan perkembangan kehamilan yaitu:
pada kehamilan muda (sampai usia kehamilan 3 bulan: sakit
kepala, mual dan muntah), rasa sakit / tidak enak pada perut
bagian bawah, sering buang air kecil pada kehamilan 4 – 6
bulan: sulit tidur, agak sulit bernafas, pegal didaerah bokong
atau pinggang, rasa tegang yang timbul sewaktu waktu diperut,
bengkak dikaki yang menghilang pada pagi hari setelah
bangun.
c) Pada kehamilan 7 bulan ke atas: lebih sering buang air kecil,
pegal dipinggang / bokong makin terasa, rasa mulas yang
datang secara tidak beraturan.
d) Keadaan patologis (berupa gejala obstetrik langsung) meliputi :
(1) Perdarahan melalui jalan lahir: kapan mulai terjadinya,
berapa kali terjadi dalam sehari, banyaknya darah yang
keluar (bandingkan dengan darah haid), keluhan yang
menyertai perdarahan.
(2) Gejala preeklampsia dan eklampsia: mulai timbulnya
bengkak pada kaki yang tidak menghilang pada pagi hari

33
setelah bangun, apakah bengkak semakin bertambah disertai
sakit kepala, mual, nyeri ulu hati hingga muntah,
penglihatan menjadi kabur, kemudian kejang-kejang.
(3) Keluar cairan ketuban: kapan terjadinya, bagaimana
warnanya, apakah disertai dengan tanda-tanda persalinan.
(4) Nyeri pada waktu buang air kecil.
(5) Mudah merasa lelah.
(6) Keputihan atau gatal-gatal di vulva yang tidak seperti biasa
dll.
12) Hal –hal yang mungkin dicemaskan atau ingin diketahui ibu hamil
dengan lebih jelas.
b. Pemeriksaan fisik
1) Memperhatikan: tanda-tanda tubuh yang sehat (apakah tampak
lemah,tampak nyaman dan gembira, adakah kecacatan tubuh, kulit
tampak bersih dll).
2) Ukur berat dan tinggi badan. (berat badan selama hamil biasanya
naik sekitar: 9 – 12 status gizi kurang/buruk. Bila tinggi badan
kurang dari 145 cm diperkirakan panggul ibu sempit sehingga
merupakan faktor risiko pada persalinan.
3) Periksa tekanan darah, normalnya di bawah 140/90 mmHg. Bila
tekanan sistolik meningkat 30 mmHg atau lebih, dan tekanan
diastolik 15 mmHg atau lebih, dapat yang normal adalah sekitar
80/menit, dikatakan tidak normal bila lebih dari 120/menit.
4) Periksa konjungtiva dan kuku (tanda sehat berwarna kemerahan)
5) Periksa adanya bengkak pada wajah, tangan dan mata kaki (tanda-
tanda preeklampsia).
6) Lakukan tes refleks lutut. Bila gerakan lutut berlebihan dan cepat
merupakan tanda preeklampsia.

34
7) Periksa punggung di bagian ginjal (tepuk punggung dengan bagian
sisi tangan yang dikepalkan). Bila ibu merasa nyeri, mungkin
terdapat gangguan ginjal dan salurannya.
8) Lihat dan raba payudara terhadap kemungkinan adanya benjolan
yang tidak normal.
9) Pemeriksaan obstetrik: pemeriksaan dengan perabaan perut
menurut metoda Leopold I sampai IV untuk memperkirakan:
a) Usia kehamilan, taksiran berat janin terhadap usia kehamilan
(pada letak belakang kepala), letak janin, turunnya bagian
terendah janin dan detak jantung janin. Pada kehamilan 12
minggu, fundus uteri biasanya sedikit di atas simfisis pubis,
pada kehamilan 24 minggu fundus uteri berada di pusat, dan
secara kasar setiap bulan fundus uteri naik 2 jari.
b) Keadaan janin. Periksa denyut jantung janin (Denyut jantung
janin normal 120 – 160 per menit). Bila kepala janin belum
turun pada kehamilan 36 minggu, denyut jantung janin lebih
dari 160 atau kurang dari 120 per menit, janin kurang bergerak
atau tidak bergerak, maka ibu hamil perlu dirujuk.
10) Pemeriksaan vulva; dalam keadaan normal tidak ada luka, rasa
gatal atau pembengkakan. Waktu memeriksa vulva, petugas
memakai sarung tangan. Raba daerah sedangkan untuk mengetahui
adanya pembengkakan kelenjar. Setelah selesai, cuci tangan
dengan sarung tangan masih terpakai, kemudian buka sarung
tangan dan cuci tangan sekali lagi dengan sabun. Bila ada luka,
pembesaran kelenjar atau nyeri pada kandung kemih, ibu perlu
dirujuk (Pinem, 2009 : 98-102)
c. Pemeriksaan laboratorium sederhana yaitu pemeriksaan terhadap Hb
pada kunjungan pertama dan setiap 3 bulan. Pemeriksaan lainnya
adalah pemeriksaan kemih terhadap protein bila ada tanda-tanda

35
preeklampsia. Bila Hb kurang dari 11 gr % atau konjungtiva pucat, ibu
mengeluh cepat lelah atau bila protein dalam kemih positif, ibu perlu
dirujuk (Pinem, 2009 : 98-102).

Tabel 2.1 pemeriksaan Laboratorium dan Nilainya

Tes Nilai Tidak Diagnosa / masalah


NIlai Normal
Laboratorium Normal yang terkait
Haemogglobin 10,5 - 14.0 < 10.5 Anemia
Proteoin urin Terlacak/negatif >atau =2+ Protein urin (mungkin
dipstick merebus Bening /negatif keruh (positif) ada infeksi(PHP)
Glukosa dalam Diabetes
urin benedict’s
VDRL/KPR tes Negatif Positif Syphilis
pemeriksaan
Syphilis Pertama
Faktor Rhesus RH + RH - RH sensitization
Gol. Darah A B O AB - Ketidacocoan ABO
HIV + AIDS
Rubella Positif Negatif Anomaly pada janin jika
ibu mengalami infeksi
Tinja (Ova/Telur Negatif Positif Anemia akibat cacing
cacing) dan parasit (cacing tambang)

Sumber : Diktat Kuliah Asuhan Kebidanan I (Kehamilan ) (Yeyeh


Rukiah, 2009:149)

d. Persiapan
e. Konseling
f. Menjadwalkan kunjungan ulang
1) Pengertian
Kunjungan ulang adalah kunjungan antenatal yang dilakukan
setelah kunjungan antenatal pertama sampai memasuki persalinan
(varney, 1997)
2) Tujuan
a) Pendeteksian komplikasi-komplikasi
b) Mempersiapkan kelahiran dan kegawatdaruratan

36
c) Pemeriksaan fisik terfokus
3) Element-element penting dari pemeriksaan pada kunjungan ulang
antenatal adalah :
a) Mengevaluasi penemuan masalah yang terjadi serta aspek-
aspek yang menonjol pada wanita hamil.
b) Pada kunjungan pemeriksaan difokuskan pada pendeteksian
komplikasikomplikasi,mempersiapkankelahiran,kegawatdarura
tan, pemerisaan fisik yang terfokus dan pembelajaran.
c) Pada tahap ini tenaga kesehatan menginventariasasi bebrapa
masalah yang terjadi serta aspek-aspek yang menonjol yang
membutuhkan penanganan dan pemberian KIE.
4) Mengevaluasi data dasar
Tabel. 1.2 Data dasar evaluasi pada kunjungan awal
1 Amenore Diagnosis kehamilan
2 HPHT Diagnosis kehamilan
3 Keluhan yang disampaikan Pemberian konseling
4 Hasil pemeriksaan head to toe Diagnosis kehamilan
a. Kenaiakan berat badan
b. Tes urine (HCG positif)
c. Cloasma gravidarum
d. Perubahan pada payudara
e. Linea nigra
f. Tanda Chadwick
g. Tanda hegar

5) Pengavaluasian keefektifan managemen/asuhan


a) Enanyakan kembali pada pasien mengenai apa yang sudah
dilakukan mengenai apa yang sudah dilakukan pada kunjungan
sebelumnya.

37
b) Melakukan pemeriksaan fisik terutama hal-hal yang terfokus
pada pemantauan kesehatan pada ibu dan janin.
6) Pengkajian dan fokus
a) Riwayat
(1) Menanyakan tentang perasaan pasien sejak kunjungan
terakhirnya.
(2) Menyakan pada pasien apakah pasien ada keluhan sejak
kunjungan terakhirnya.
b) Gerakan janin selama 24 jam terakhir (usia kehamilan ± 20
minggu)
7) Deteksi ketidaknyamanan dan komplikasi
a) Menanyakan keluhan atau ketidaknyamanan yang pasien alami
b) Menanyakan kemungkinan tanda bahaya yang dialami oleh
pasien.
8) Pemeriksaan fisik
a) Pemeriksaan tekanan darah.
b) Mengukur TFU.
c) Melakukan palpasi abdomen untuk mendeteksi adanya
kemungkinan kehamilan ganda, serta poengetahuan presentasi
letak, posisi dan penurunan kepala (jika usia kehamilan >36
minggu)
d) Memeriksa DJJ
9) Pemeriksaan laboratorium
a) Protein urine.
b) Glukosa urine.
10) Mengembangkan rencana sesuai dengan kebutuhan dan
perkebangan kehamilan.
a) Jelaskan mengenai ketidaknyamanan normal yang dialaminya.

38
b) Ajarkan ibu pendidikan kesehatan yang sesuai dengan
kehamilan
c) Diskusikan tentang rencana persiapan kelahiran jika terjadi
kegawatdaruratan.
d) Ajarkan ibu mengenai tanda-tanda bahaya, pastikan ibu untuk
memahami apa yang dilakukan jika menemukan tanda bahaya.
e) Buat kesepakatan untuk kunjungan berikutnya (Jannah,2012:
180-182)
A. Masa Persalinan
1. Pengertian
Persalinan adalah pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari
dalam uterus ke dunia luar. Persalinan mencakup proses fisiologis yang
memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat
melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal
merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi kepala yang
beralngsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin.
2. Jenis-jenis perslinan
persalinan dibagi menjadi tiga bagian menurut persalinan.
a. Persalinan normal atau disebut juga perslinan spontan. Pada persalinan
ini proses kelahiran bayi pada letak belakang kepala (LBK), dengan
tenaga ibu sendiri, berlangsung tanpa bantuan, alat serta tidak melukai
ibu dan bayi pada umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
b. Persalinan abnormal/buatan. Persalinan pervaginam denga
menggunakan bantuan alat, seperti ekstraksi degan foseps atau vacuum
atau melalui dinding perut dengan operasi Sectio Caesarea atauSC.
c. Persalinan anjuran. Persalinan tersebut tidak dimulai dengan
sendirinya, tetapi baru berlangsung setelah dilakukan perangsangan,
seperti dengan pemecahan ketuban dan pemberian prostaglandin

39
Menurut usia kehamilan, persalinan dapat dibagi empat macam:

a. Abortus (keguguran). Penghentian dan pengeluaran hasil konsepsi dari


jalan lahir sebelum mampu hidup diluar kandungan. Usia kehamilan
biasanya mencapai kurang dari 28 minggu dan berat janin kurang dari
1000 gram.
b. Partus prematurus. Pengeluaran hasil konsepsi baik spontan ataupun
buatan sebelum usia kehamilan 28-36 minggu dan berat janin kurang
dari 2.499 gram.
c. Partus matures atau aterm (cukup bulan). Pengeluaran hasil konsepsi
yang spontan ataupun buatan antara usia kehamilan 37-42 minggu
dengan berat janin lebih dari 2500 gram.
d. Partus postmaturus (serotinus). Pengeluaran hasil konsepsi yang
spontan ataupun buatan melebihi usia kehamilan 42 minggu dan
tampak tanda-tanda janin postmatur (Nurul Jannah, 2014 : 1-2).
3. Teori penyebab bermulanya persalinan
a. Teori estrogen- progesterone
Teori ini mengajukkan bahwa rasio estrogen-progesteron
penting dalm mempertahankan kehamilan.kadar kedua tersebut
mengatur perubahan kontrasepsi reseptor oksitosin dalam uterus.
Dalam penelitian , penurunan sirkulasi progesterone terbukti
memfasilitasi kontraksi uterus dengan menngkatkan pembentukan
celah pertautan dan peningkatan pembentikan prostaglandin E2 (PGE2),
ektrogen meningkatkan pembentukan celah pertautan dan
meningkatkan sintesis PGE2 (Ziatnik, 1994)
b. Teori oksitosin
Teori oksitosin menyatakan bahwa oksitosin menstimulasi
kontraksi uterus dengan bekerja secara langsung pada miomitrium dan
secara tidak langsung meningkatkan produksi prostaglandin dalam

40
deidua. Uterus semakin sensitive terhadap oksitosin seisiring dengan
pertambahan usia kehamilan. Konsentrasi tertinggi dalam aktivitass
darah telah ditemukan pada kala dua persalinan.
c. Teori control endokrin janin
Teori control endokrin janin mengajukan bahwa pada waktu
maturitas janin yang tepat, kelenjar adrenal janin menyekresi
kartosteroid yang memicu mekanisme persalinan. Steroid janin
menstimulasi pelapasan precursor ke prostaglandin, yang pada
akhirnya menghasilkan kontraksi persalinan pada uterus (Casey at al,
1958). Sesaat sebelum persalinan, sensitivitas kelenjar adrenal janin
terhadap hormone adreno kortikotropik, yang dihasilkan oleh
hipofisis, mengalami peningkatan, menyebabkan peningkatan
produksi kortisol. Pelepasan kortikosteroid selam priode stres telah
diajikan sebagai sebuah penyebab persalinan premature, ini dapat
terjadi jika janin dalam kondisi membhayakan , seperti preeklamsi
atau overdistensi uterus akibat kehamilanmulltipel atau hidramnion.
d. Teori prostaglandin
Studi tentang mekanidme sintesis prostaglandin telah
menunjukkan bahwa asam arekidonat, precursor wajib pad
prostaglandin, meningkat secara nyata dalam perbandingan asam
lemak lain di cairan amnion wanita dalam proses persalinan (Reddi et
al, 1987). Prostaglandin efektif dalam menginduksi kontraksi uteri
pada setiap tahap kehamilan (Cunningham et al, 1993; Granstrom et
al, 1990; Shaala et al, 1989). Prostaglandin dihasilkan oleh desidua
uteri, tali pusat dan amnion (Reeder DKK, 2011: 592-593)
4. Tanda-tanda persalinan
Persalinan yang sudah dekat ditandai dengan adanya Lightening atau
settling atau drooping dan terjadi his palsu. Persalinan itu sendiri ditandai
dengan his persalinan, yang mempunyai ciri seperti : (1) pinggang terasa

41
sakit menjalar kedepan,(2) His bersifat teratur,interval semakin pendek
dan kekuatnnya semakin besar, (3) mempunyai pengaruh terhadap
perubahan serviks, (4) semakin beraktivitas (jalan), semakin bertambah
kekutan kontraksinya. Selain His, persalinan ditandai juga dengan
pengeluaran lendoir dari kanalis servikalis karena terjadi pembukaan dana
pengeluaran darah dikarenakan kapiler pembuluh darah pecah.
Persalinan dapat juga disebabkan oleh pengeluaran cairan ketuban
yang sebagian besar baru pecah menjelang pembukaan lengkap dan tanda
inpartu, meliputi adanya his, Bloody show, peningkatan rasa sakit,
perubahan bentuk serviks, pendataran serviks, pembukaan seriks (dilatasi),
pengeluaran cairan yang banyak atau selaput ketuban yang pecah dengan
sedirinya (Jannah,2014 : 3)
5. Faktor faktor yng mempengaruhi persalinan
a. Power atau His
His adalah kontraksi otot-otot uterus pada persalinan. Pada
bulan terakhir kehamilan sebelum persalinan, kontraksi rahim telah
terjadi yang disebut dengan his pendahuluan atau his palsu, yang
sebetulnya hanya merupakan peningkatan kontraksu dari Braxton
Hicks. His pendahuluan ini tidak teratur dan menyebabkan nyeri
yaperut bagian bawah lipatan paha serta tidak menyebabkan nyeri
yang menyebar dari pingganng keperut bagian bawah seperti his
persalinan.kontraksi his pendahuluan berdurasi pendek dan tidak
bertambah kuat atau sering berkurang ketika ibu sedang berjalan. His
pendahuluan tidak bertambah kaut seiring berjlannya waktu,
beryentangan dengan persalinan yang semakin kuat. Hal terpenting
adalah bahwa his pendahuluan tidak mempunyai pengaruh terhadap
serviks.
Walaupun his persalinan merupakan kontraksia otot-otot rahim
yang fisiologis, namun kontraksinya bertentangn dengan kontraksi

42
fisiologis lainnya, yaitu bersifat nyeri. Kontaksi rahim dapat
dipengaruhi oleh rangsangan dari luar seperti rangsnagan jari tangan..
Kontraksi rahim bersifat berkala dan harus memperhatikan hal-
hal seperti berikut.
1) Lamnya kontraksi yang berlangsung 45-75 detik.
2) Kekuatan kontraksi, yang menimbulkan kenaikan tekanan
intrauterine sampai 35 mmHg .
3) Saat permulaan persalinan diantara dua kontaraksi, his timbul
sekali dalam 10 menit dank ala pengeluaran, sekali dalam 2 menit.

Menurut faalnya his persalinan meliputi his permulaan (his


yang menimbulkan pembukaan serviks), his pengeluaran (his yang
mendorong anaka keluar dan biasnya disertai dengan keinginan
menegejan), dan his pelepasan uri (kontraksi untuk melepaskan uri)

b. Passage (jalan lahir)


Keadaan jalan lahir atau passage terdiri atas panggul ibu, yakni
bagian tulang keras, dasra panggul, vagina dan inroitus. Panggul
terdiri atas bagian keras dan bagian lunak.
1) Bagian keras panggul
a) Tulan pangkal paha (os koksae)
Tulang pangkal paha atau koksae terdiri atas tulang yang
berhubungan satu sama lain pada astebulum yang berbentuk
cawan untuk kepala tulang paha atau kaput femoris.
Tulang tersebut adalah sebagai berikut.
(1) Os ileum ( tulang Usus) merupaka Krista iliaka (batas atas
merupakan pinggir tulang yang tebal). Ujung depan,
belakang, atas, bawah dari Krista iliakaanterior superior
(SIAS), spina iliaka posterior inferior (SIAI). Spina iliaka

43
posterior suoerior (SIPS), dan spino ailiaka posterior
inferior (SIPI)
(2) Os iskium (tulang duduk), mencakup spina ishiadika yang
terdapat pada spina ishiadika yang taerdapat di sebelah
bawah tulang usus, pinggir belakang berduri dan
dibawahnya terdapat incisura ishiadika minor. Tuber
ishiadika, strukter sangat tebal yang berada di pinggir
bawah tulang duduk dan merupakan bagian yang akan
mendukung berat badan saat kita duduk.
(3) Os pubis (tulang kemaluan), melipiti foramen
obsturatorium, yaitu tulang yang mambatasi sebuah lubang
dalam tulang panggul ; ramus superior os pubis, berupa
tangkai tulang kemaluan yang berhubungan tulang usus
atau os ilium; simfisis pubis, yang merupakan tempat
pertemuan antara ramus superior dan inferior os pubis;
arkus pubis, berupa ramus inferior kanan dan kirai yang
bergabung.
b) Os sacrum (tulang kelangkanag), di namakan juga
promonntorium, yang terdiri atas lima ruas tulang yang
senyawa. Tulang kelangkang berbentuk segitiga melebar diatas
dan meruncing bagian bawah. Permukaan depan tulang itu
cekung dari atas kebawah maupun kesamping.terdapat lima
lubang kiri dan kanan garis tengah yang disebut foramina
sakrolia anterior. Dan pembuluh darah kecil. Bagian belakang
tulang kelangkang gembung dan kasar, garis tengahnya
terdapat deretan cuat-cuat duri disebut Krista sakralis. Bagian
atas sacrum yang mengadakan perhubungan ini menonjol ke
depan disebut promontorium. Sisi tulang kealangkang

44
berhubungan dengan tulang pangkal paha disebut artikulatio
sakroiliaka.
c) Os koksigeus (tulang tungging), berbentuk segitiga dan terdiri
atas tiga ruas yang bersatu.
2) Bagian Lunak Panggul
a) Bagian otot
Bagian otot meliiputi dinding panggul sebelah dalam
dan yang menutupi panggul sebelah bawah. Bagian yang
menutupi panggul dari bawah membentuk dasar panggul dan
disebut difragma pelvis. Diafragma dari dalam keluar terdiri
atas pars muskularis dan pars membranasea.
Otot pars muskularis adalah muskulus levator ani yang
letaknya agak kebalakang yang merupakan suatu sekat yang di
tembus oleh rectum. muskulus levator ani kanan dan kiri
sebenarnya terdiri atas tiga bagian, yaitu m. pubokoksigeus
(dari os pubis anokoksigeum), m.iliokoksigeus (dari arkus
tendineus muskulus lavetor ani ke os koksigeus dan septum
anokoksigeum); m. ishiokoksigeus (dari spina iskiadika ke
pinggir sacrum dan os koksigeus).
Pars membranasea disebut juga diafragma urogenitale.
Di antara m. pubokoksigeus kiri dan kanan, terdapat celah
berbentuk segitiga yang di sebut hiatus uroginitalis yang
tertutup oleh sekat yang disebut diafragma urogenitale. Sekat
ini menutupi pintu bawah panggul di sebelah depan dan pada
wanita, sekat ini di tembus oleh uretra dan vagina. Diafragma
pelvis menahan genatalia interna di tempatnya bila otot-otot
rusak atau lemah, misalnya karena persalinan yang sering dan
berturut-turut, mungkin genetalia turun atau prolaps.

45
Bagian otot lain terdapat di daerah perineum. Daerah
perineum merupakan bagian permukaan dari pintu bawah
panggul. Daerah ini terdiri atas dua bagian, yaitu region analis
(terdapat sebelah belakang dan di dalamnya terdapat m.
sfingterani eksternum yang melindungi anus) dan ragio
uregenitalis, yang di dalamnya terdapat m. bulbo karvenesusu
yang melindungi vulva, m.iskiokarvernosus, dan
mentransversus perinea superfisialis.
b) Bagian legamen
Bagian legamena terdiri atas ligamentum latum.
Ligamentum rotundum, ligamentum infundibulo pelvikum,
ligamentum kardinale, ligamentum sakrouterina, dan
ligamentum ovarii poprium.
Ligamentum latum berupa lipatan peritoneum sebelah
lateral kanan-kiri uterus, meluas sampai ke dinding panggul
dan dasardan panggul sehingga seolah-olah menggatung pada
tuba. Ruang diantara kedua lembar lipatan ini terisi oleh
jaringa yang longgar disebut parametrium, yang di lalui oleh
arteri, vena uterine, pembuluh limfe dan ureter.
Ligamentum rotundum atau disebut juga ligamentum
teres uteri, terdapat dibagian atas lateral dari uterus, kaudal dari
insertie tuba. Ligament tersbeut menjalar melalui kanalis
inguinalis ke bagian cranial labia mayora. Ligamen rotundum
terdiri atas jaringan otot polos (identik dengan miometrium)
dan jaringan ikat, dan menahan uterus dalam antafleksi. Pad
waktu hamil, ligamentum rotundum mengalami hiprtrofi dan
dapat diraba.dengan pemariksaan luar.
Ligamentun infudibulo pelvikum di sebut juga
ligamentum suspensorium ovary, terdiri atss dua ligamen di

46
sebelah kiri dan kanan dari infidibulum dan ovarium kedinding
panggul.ligamentum ini mneggantungkan uterus pada dinding
panggul. Ditemukan juga ligamentum ovarii proprium di antara
sudut tuba dan ovarium.
c) Ukuran panggul
Ukuran Panggul Luar
(1) Distansia Kristarum 28-30 cm
(2) Distansia spinarum 24-26 cm
(3) Konjugata eksterna (boudeloque) 18-20 cm
(4) Lingkar panggul 80-90 cm
Ukuran panggul Dalam
(1) Konjugata diagonalis (jarak dari pinggir bawah simfisis ke
promontorium) 12,5 cm
(2) Konjugata versa (jarak dari pinggir atas simfisis ke
promontorium) 11 cm
(3) Konjugata transversa (jarak antara tuberum) 12-13 cm
(4) Konjugata oblik (jarak dari tengah simfisis ke
promontorium) 13 cm
(5) Diameter anterosposterior (jarak dari pinggir bawah
simfisis ke koksigeus) 11,5 cm
(6) Diameter interspinarum (jarak antara spina iskiadika kanan
dan kiri) 10,5 cm
3) Bentuk panggul
a) Panggul anthropoid
Bentuk panggul ini dimiliki oleh 35% wanita, panggul
anthropoid terbentuk lonjong seperti telur dengan diameter
anteropoterior yang lebih besar dibandingkan diameter
transversa.

47
b) Panggul Ginekoid
Empat 45% wanita memiliki panggul ginekoid dengan
diameter anteroposterior ( 12,5 cm) hamper dengan diameter
tranversa (12 cm)
c) Panggul Android
Bentuk panggul ini dimiliki oleh 15% wanita dan
umunya merupakan jenis panggul pria dan diameter tranversa
dekat dengan sacrum.
d) Panggul Platipeloid
Panggul platilepoid di dapati pada 5% wanita dengan
ciri mempunyai diameter transversa yang lebih besar
diabandingkan diameter anteropoterior.
4) Anatomi Genetalia
a) Genitalia Eksterna
(1) Mons veneris
(2) Labia mayora (bibir besar kemaluan)
(3) Labia Minora (bibir kecil kemaluan)
(4) Preputium
(5) Frenulum
(6) Klitoris (Klentit)
(7) Vulva
(8) Vestibulum
(9) Introitus vagina (lubang vagina)
(10) Hymen (selaput dara)
(11) Fourchhette
(12) Orifisium uretra eksterna (lubang kemih)
(13) Perineum
(14) Fosa nafikulare
(15) Pubis

48
b) Genetalia Interna
Genitalia interna terdiri atas vagina (liang senggama)
dan uterus. Uterus meliputi serviks (mulut rahim), portio,
orifisium uteri eksternum, kanalis servikalis, orifisium uteri
internum, dan ismus (segmen bawah rahim). Korpus uteri
(badan rahim) meliputi tiga dinding, yaitu endometrium,
miometrium, dan peritoneum atau parametrium. Kavum uteri
(rongga rahim) berisi tuba fallopi (saluran telur) dan ovarium
(induk telur). Tuba fallopi terdiri atas pars interstisial, ampula
tuba, ismus tuba, infundibulum, dan fimbria.
c. Janin dan Plasenta (Passanger)
Cara penumpang (passanger) atau janin bergerak disepanjang
jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa factor :
1) Ukuran kepala janin
Karen ukuran dan sifatnya yang relative kaku, kepala janin
sangat mempengaruhi proses persalinan. Tengkorak janin terdiri
atas dua tulang parietal, dua tulang temporal, sati tulang frontal,
dan satu tulang oksipital. Tulang-tulang tersebut disatukan oleh
sutura membranosa yang mencakup sutura sagitalis, lambliodalis,
koronalis, dan frontalis. Rongga yang berisi membrane ini disebut
fontanel. Fontanel terletak di pertemuan sutura-sutura tersebut.
Seteelah selaput ketuban pecah dalam persalinan, fontanel dan
sutura di palpasi untuk menetukan opresentasi, posisi dan sikap
janin. pengkajian ukuran janin member informasi dan usia dan
kesejahteraan bayi baru lahir. Dua fontanela yang paling penting
adalah fontanel anterior dan posterior. Fontanel yang ebih besar,
fontanel anterior, berbentuk seperti intan dan terletak pada
pertemuan sutura sagitalis, koronalis, dan frontalis. Fontanel itu

49
menutup pad usia 18 bulan. Fontanel posterior terletak di
pertemuan sutura dua tulang parietal dan satu tulang oksipital, dan
bebentuk segitiga.Fontanel tersebut menutuppada usia 6-8
minggu.

Tengkorak menjadi fleksibel karena adnya sutura dan fontanel


sehingga dapat menyusuakan diri terhadap otak bayi, yang
beberapa lama setelah lahir terus bertumbuh. Akan tetapi, belum
menyatu dengan kuat, tulang-tulang itu dapa tumpang tindih, atau
disebut juga molase, yakni struktur kepala yang terbentuk selama
persalinan.

2) Presentasi Janin
Presentasi adalah bagian janin yang pertama kali memasuki
pintu atas panggul dan terus melalui jaln lahir saat persalinan
mencapai aterm. Tiga presentasi janin yang utama adlah 96&
kepala (kepala lebih dahulu), 3& sungsang (bokong lebih dahulu),
dan 1% bahu. Bagian presentasi adalah bagian tubuh janin yang
pertama kali teraba oleh jari pemariksa atau bidan saat pertma kali
periksa dalam. Factor-faktor yang menentukan bagian presentasi
adalah letak janin, sikap janin, dan ekstensi atau fleksi kepala
janin.
a) Letak janin
Letak janin adalah hubungan sumbu panjang punggung
janin terhadap sumbu panjang punggung ibu.
Letak janin terdiri atas dua macam, yaitu memanjang
atua vertical (sumbu panjang parallel dengan sumbu panjang
ibu) dan melintang horizontal (sumbu panjang janin
membentuk sudut terhadap sumbu panjang ibu). Letak
memanjang dapat berupa presentasi kepala, atau presentasi

50
sacrum (sungsang). Presentsi ttersebut tergantung pada struktur
janin yang pertama memasuki panggul ibu.
b) Sikap janin
Sikap janin adalah hubungan diantara bagian tubuh
janin. Janin mempunyai postur yang khas atau sikap saat
berada di dalam rahim . hal itu sebagian diraskan disebabkan
oleh pola pertumbuhan janin dan penyusuain janin terhahadap
rongga rahim. Pada kondisi normal, punggung janin sangat
pleksibel kearah dada, dan paha fleksi kearah sendi lutut. Sikap
itu disebut fleksi umum.
Penyimpanan sikap normal dapat menimbulkan kesulitan saat
anka dilahirkan seperti pada presentasi kepala, karena kepala janin
dapat berada ekstensi atau fleksi. Hal tersebut dapar menyebabkan
diameter kepala berada posisi pada posisi yang tidak
mengunungkan terhadap batas-batas panggul ibu. Diameter
bieparetal adalah diameter lintang terbesar kepala janin. Dari
semua anteerposterior tersebut, jelas bahwa sikap ektensi atau
fleksi memungkinkan bagian presentasi dengan berbagai ukuran
diameter memasuki panggul ibu. Kepala yang berada dalam sikap
fleksi sempurna memunngkinkan diameter suboksipitobregmatika
(diameter terkecil) memasuki panggul sejati dengan sempurna.
c) Posisi Janin
Presentasi atau bagian presentasi menujukkan bagian janin
yang mnempati bagian pintu atas panggul. Bagian yang menjadi
presentasi kepala biasanya adalah oksiput pada presentasi kepala.
Engagement menunjukkan bahwa diameter tranversa terbesar
bagian presentasi telah memasulki pintu atas panggul atau panggul
sejati.Station adalah hubungan presentasi janin dengan garis
bayangan yang ditarik dari spina ishiadika ibu(Nurul Jannah,2014)

51
6. Pimpinan persalinan
a. Kala I (Kala pembukaan)
1) Diagnosa Kala I
Kala I atau kala pembukaan berlangsung dari pembukaan nol
(0 cm) sampai pembukaan lengkap (10 cm). kal I untuk
Primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar
8 jam. Berdasrkan kurva fridman, diperhitungkan pembukaan
primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2cm/jam
(Nurul Jannah, 2014).
2) Pemeriksaan Dalam (VT)
Frekuensi pemeriksaan vagina yang diiperlukan selama
persalinan bergantung pada kasus individu, seringkali, satu atau
dua pemeriksaan sudah cukup, sedangkan pada kasus lain,
diperlukan lebih banyak pemeriksaan. Jika terjadi pecah ketuban,
sangat penting untuk membatasi jumlah pemeriksaan vagina guna
memberikan perlindungan terhadap infeksi.jika terjadi perdarahan
per vaginam, pertama kali yang harus diperhatikan bahwa tidak
ada diagnosis plasenta previa sebelum pemeriksaan vagina dapat
dilakukan dengan aman, jika tidak maka dapat terjadi perforasi
plasenta yangmerupakan becana besar.((Reeder DKK, 2011)
3) Partograf
a) Pengertian partograf
Partograf adalah alat untuk mencatat informasi
berdasarkan informasi,anamnesis, dan pemeriksaan fisik pada
ibu dalm persalinan, dan sangat penting khususnya untum
membuat keputusan klinik selama kala I persalinan.

52
b) Tujuan utama
Tujuan utama penggunaan partograf adalah mengamati
dan mencatat hasil observasi dan kemajuan persalianan dengan
menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam dan
menentukan normal atau tidaknya persalianan lama sehingga
bidan dapat membuat deteksi dini mengenai kemungkinan
persalianan lama.
c) Keuntungan partograf
Penggunaan partograf mempunyai beebrapa
keuntungan yaitu efektif, dan paragmatik dalam kondisi
apapun, meningkatkan mutu dan kesejahteraan jani ibu selam
persalinan, dan untuk mnesejahterakan janin atau ibu.
d) Indikasi
Partograf dapat digunakan untuk semua ibu selama fase
aktif kala I persalinan; semua persalinan dan kelahiran disemua
tempat seperti rumah, puskesma, klinik bidan swasta, Rumah
sakit dll. Partograf juga secra rutin digunakan oleh semua
penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu
selama persalinan dan kelahiran.
e) Bagian Partograf
Partograf berisi ruang pencatatan hasil pemeriksaan
yang dilakukan selama kala I persalinan yang mencakup
kemajuan persalianan, keadaan janin, dan keadan ibu.
(1) Kemajuan persalinan
Kemajuan persalinan yang dicatat dalam pertograf meliputi
pembukaan serviks, penurunan kepala janin, dan kontraksi
uterus.

53
(2) Keadaan janin yang dicatat dalam pertograf melipti DJJ,
warnah dan jumlah air ketuban, molase serta tulang kepala
janin.
(3) Keadaan ibu
Keadaan ibu mencakup nadi, tekanan darah, suhu, urin
seperti volume dn protein, dan obat serta cairan intrave atau
IV.
f) Pencatat selama fase laten dan fase aktif persalinan
(1) Pencatatan selama fase laten
Fase laten ditandai dengan pembukaan serviks 1-3 cm.
selama fase laten persalinan, semua asuhan, pengamatan,
dan pemeriksaan harus dicatat terpisah dari partograf, yaitu
pada catat atau kartu menuju sehat (KMS) ibu hamil.
Tanggal dan waktu harus dituliskan setiap kali membuat
catatan selama fase laten persalinan dan semua suhan serta
intervensi harus dicatat.
Waktu penilaian, kondisi ibu, dan kondisi janin pada fase
laten meliputi :
(a) Denyut jantung janin, frekuensi dan lam kontraksi
uterus, nadi setiap 1 jam
(b) Pembukaan serviks, penurunan kepala, tekanan darah
dan suhu setiap 4 jam.
(c) Produksi urine, acetone dan protein setiap 2 sampai 4
jam.
Apabila ditemui tanda penyulit, penilaian kondisi ibu
dan bayi harus lebih sering dilakukan.
(2) Pencatatan selama fase aktif
Fase aktif ditandai dengan pembukaan serviks 4-10 cm.
selam fase aktif persalinan, pencatatan hasil observasi dan

54
pemeriksaan fisik dimasukkan ke dalam partograf.
Pencatatan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut.
(a) Informasi tentang ibu
i. Nama, umur
ii. Gravid, para, abortus
iii. Nomor catatan medis atau nomor puskesmas
iv. Tanggal dan watu mulai dirawat
v. Waktu pecah selaput ketuban
(b) Kondisi janin
i. Denyut Jantung Janin setiap 30 menit
ii. Warnah dan adanya air ketuban
iii. Penyusupan (molase) kepala janin
(c) Kemjuan persalinan
i. Pembukaan serviks setiap 4 jam
ii. Penurunan bagian terbawah janin atau presentasi
janin
iii. Garis waspadah pada garis bertindak
(d) Jam dan waktu
i. Waktu mulai fase aktif persalinan
ii. Waktu actual saat persalinan atau penilaian
(e) Kontraksi uterus
Frekuensi dan lamanya
(f) Obat dan cairan yang diberikan
i. Oksitosin
ii. Obat lainnya dan cairan IV yang diberikan
(g) Kondisi ibu
i. Nadi, tekanan darah, dan temperature tubuh
ii. Urine (volume, aseton atau protein)
(h) Asuhan, paengamatan dan keputusan klinik lainnya.

55
g) Pencatatan temuan pada partograf
(1) Informasi tentang ibu
(2) Kesehatan dan kenyamanan ibu
(a) Denyut jantung janin
Menilai dan mencatat setia 30 menit (lebih sering, jika
ad tanda gawat janin). Setiap kotak pada bagian
tersebut menunjukkan waktu 30 menit. Kisaran normal
DJJ terpajan pada partograf diantara gars tebal angka
180 dan 100. Akan tetapi, penolong harus sudah
waspada bila DJJ di bawah 120 atau di ats 160.
(b) Warnah dan adanya air ketuban
Air ketuban dinilai setiap melakukan pemeriksaan
dalam, selain arnah ketuban, jika pecah. Catat temian
yang sesuai dibawah jalur DJJ dab gunakan lambing
berikut

U: ketuban utuh (Belum pecah)

J: Ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

M: Ketuban sudah pecah dan air bercampur mekonium

D: Ketuban sudah pecah dan air bercampur darah


K: Ketuban sudah pecah dan Kering

Mekonium dalam air ketuban tidak selalu


menunjukkan gawat janin. Apabila terdapat mekonium,
pantau DJJ secara seksama untuk mengenali tanda
gawat janin (DJJ <100 atau >180 kali per menit) selama
proses persalinan.

(c) Molase (penyusupan kepala janin)

56
Penyusupan adalah indicator penting tentang
seberapa jauh keapala bayi dapat mneyusuaikan diri
dengan bagian keras panggul ibu. Tulang kepala yang
saling menyusup menunjukkan kemungkinan adnya
disproporsi tulang panggul (cepalopelvic
disprosortionate, CPD). Setiap kali melakukan
pemariksaan dalam, nilai penyusupan kepala janin, dan
catat temuan di lajur diair ketuban dengan
menggunakan lambing berikut ini .
0 :Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura
dengan mudah dapat dipalpasi
1 :Tulang-tulang kepala janin hanya saling
bersentuhan
2 :Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih,
namun masih dapat dipisahkan
3 : Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan
tidak dapat dpisahkan.
(d) Kemajuan persalinan
Kolom dan lajur pada partograf adalah
pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0-10 pada tepi
kolom paling kiri adlah besarnya dilatasi serviks. Skala
1-5 juga menunjukkan sebrapa jauh penurunan janin.
(e) Pembukaan serviks
Penilaian dan pencatatan pembukaan serviks
dilakukan setiap 4 jam (lebih sering, jika terdapat tanda
penyulit). Tanda X harus ditulis digaris waktu yang
sesui denga lajyur besarnya pembukaan serviks. Beri
tanda untuk temuan pemeriksaan dalam yang dilakukan
pertama kali selam fase aktif persalinan di garis

57
waspada. Hubungkan tanda X darui setiap pemariksaan
dengan garis utuh (tidak terputus).
(f) Penurunan bagian terrbawah presentasi janin
Setiap melakuakn pemeriksaan dalam (4 jam
atau lebih), jika terdapat tanda penyulit, catat dan nilai
bagian terbawah atu presentasi janin. Kemajuan
pembukaan servikd umumnya diikuti dengan
penurunan bagian terbawah janin atua presentasi janin
pada persalinan normal. Akan tetapi, penurunan bagian
terbawah janin terkadang baru terjadi setelah
pembukaan serviks sebesar 7 cm. penurunan kepala
bayi harus selalu diperiksa dengan memeriksa perut ibu
sesaat sebelum perikaa dalam dengan ukuran
perlimaandiatad pintu atas panggul (PAP). Beri tanda
“0” pada garis waktu yang sesui pada garis tidak
terputus dari 0-5 yang tertera disisi yang sama dengan
pembukaan serviks. Hubungkan tanda “0” dari setiap
pemeriksaan dengan agris tidak terputus.
(g) Garis waspada dan garis bertindak
Garis wwaspada dimulai pada pembukaan
serviks 4 cm dan berakhir pada titik dengan pembukaan
lengkap yang diharapkan jika terjadi laju 1 cm perjam.
Pencatatan selam fase aktif persalinan harus dimulai di
garis waspada. Apabila pembukaan serviks mengarah
seelah kanan garis waspada, penyulit yang ada harus
dipertimbangkan (misalnya fase aktif memanjang,
macet, dll).
(h) Jam dan wktu

58
i. Waktu mulai fase aktif. Bagian bawah partograf
(pembukaan serrviks dan penurunan kepala janin)
tertera kotak-kotak yang diberi angka 1-16. Setiap
kotak menyatakan waktu 1 jam sejak dimulai fase
aktif persalinan.
ii. Waktu actual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap
kotak menyatakan 1 jam penuh dan berkaitan
dengan dua kotak waktu tiga puluh menit pada lajur
kontraksi dibawahnya.
(i) Kontraksi uterus
Terdapat lima lajur dengan tulisan “kontraksi
setiap 10 menit” disebelah luar kolom palig kiri
dibawah lajur waktu partograf. Setiap kotak
menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan
catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lama satuan
detik >40 detik.
(j) Obat dan cairan yang diberikan
i. Oksitosin
Apabila tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai,
dokumentasikan setiap 30 menit jum;ah unit
oksitosin yang diberikanper volume cairan IV dan
satuan tetes permenit.
ii. Obat lain dan cairan IV
Catat semua pemberian abat tambahan dan/atau
cairan IV dalam kotak yang sesui dengan kolom
waktunya.
(3) Kesehatan dan kenyamanan ibu
Bagian terakhir bagian depan partograf berkaitan
dengan kesehatan ibu, meliputi hal-hal sebagai berikut.

59
(a) Nadi, Tekanan Darah dan temperature suhu tubuh.
Catat dan nilai nadi ibu setiap 30 menit selam fase aktif
persalinan (lebih sering ika dicurigai terdapat penyulit).
Beri tanda (.) pada kolom waktu yang sesuai. Nilai
tekanan darah ibu dan catat setiap 4 jam selama fase
aktif perdalinan (lebih sering ika dicurigai terdapat
penyulit). Beri tanda panah dala kolom waktu yang
sesuai pada partograf. Nilai dan catat juga tempertur
tubuh setiap 2 jam dan catat temperature tubuh dalam
kotak yang sesuai.
(b) Volume urine, protein atau aseton. Ukur dsn catat
jumlah produksi urine ibu sediktnya setiap 2 jam.
Apabila memungkinkan, setiap kali ibu berkemih,
lakukan pemeriksaaan aseton atau protein dalam urine.
h) Pencatatan pada lembar belakang partograf
(1) Data dasar
Data dasar terdiri atas tanggal, nama, bidan, tempat
persalinan, alamat tempat persalinan, catatan alas an
merujuk, tempat rujukan dan pendamping saat merujuk.
(2) Kala I
Data kala I terdiri ats pertanyaan tentang pertograf saat
melewati garis waspada , masalah yang dihadapi,
penatalaksanaan and hasil penatalaksanaan tersebut.
(3) Kala II
Data kala II terdiri atas episiotomy, pendamping
persalinan, gawat janin distosia bahu, masalah pemyerta,
penatalaksanna dan hasilnya.
(4) Kala III

60
Data kala III terdiri atas lama kala III, pemberian obat
oksitosin, penanganan tali pusat terkendali, massase uterus,
plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir >30 menit,
atonia uteri, jumlah perarahan, masalah penyerta,
penatalakasanaan dan hasilnya.
(5) Kala IV
Data kala IV terdiri atas tekanan darah, nadi, suhu, TFU,
kontraksi Uterus, kandung kemih dan perdarahan.
Pemantauan kala IV sangat penting untuk menilai untuk
menilai resiko atau teradi perdarahan pasca perslinan.
Pemantauan kala IV dilakukan setiap 15 menit pad jam
pertama setelah melahirkan dan setiap 30 menit satu jam
berikutnya.
(6) Bayi baru lahir
Data bayi baru lahir terdiri atas berat dan panjang badan,
jenis kelamin, penilaian kondisi bayi baru lahir pemberian
ASI masalah penyerta, penatalaksanaan terpilih. dan
hasilnya (Nurul Jannah, 2014)
b. Kala II
Dimulai sejak pembukaan lengkap dan berakhir dengan
lahirnya bayi. Lama kala II : pada primigravida 1½ jam, pada
multigravida ½ jam.
1) Penatalaksanaan
a) Perlengkapan, bahan dan obat yang dibutuhkan
Pastikan perlengkapan jenis dan jumlah bahan yang
diperlukan dalam keadaan siap pakai untuk setiap
persalinan dab kelahiran. Kegagalan untuk menyediakan
semua perlengkapan, bahan dan obat esensial pada saat
asuhan yang diberikan, dapat meningkatkan resiko terjadi

61
penyulit pad ibu dan bayi baru lahir yang dapat
membahayakan keselamatan jiwa mereka.
b) Memberikan Asuhan Sayang Ibu
(1) Pemberian dukungan emisional
(2) Pengaturan posisi
(3) Pemberian Cairan dan Nutrisi
(4) Pengosongan Kandung Kemih
(5) Persiapan Rujukan
2) Posisi saat meneran
(1) Duduk atau Setengah Duduk
Posisi ini dapat memberikan rasa nyaman bagi ibu dan
member kemudahan bagginya untuk beristirahat diantara
kontraksi. Keuntungan dari kedua posisi ini adalah gaya
gravitasi untuk membantu ibu melahirkan bayinya.
(2) Jongkok atau Berdiri
Posisi ini dapat membantu mempercepat kemajuan kala II
prsalinan dan mengurangi rasa nyeri.
(3) Merangkak atau Miring Kiri
Beberapa ibu merasa bahwa merangkak atau miring kiri
membuat meraka lebih nyaman dan efektif untuk meneran.
Kedua posisi tersebut juga akan membantu perbaiki posisi
oksiput yang melintang untuk berputar menjad posisi
oksiput anterior. Posisi merangkak sering kalimembantu
ibu mengurangi nyeri punggung saat persalinan. Posisi
berbaring miring kiri memudahkan ibu untuk beristirahat
diantara kontraksi jika ia mengalami kelelahan dan juga
mengurangi resiko terjadinya laserasi perineum.
3) Mekanisme persalinan kala II
a) Penurunan kepala

62
Pada primigravida, masuknya kepala kedalam pintu
atas panggul (PAP) biasanya telah terjadi pada bulan
terakhir kehamilan . akan tetapi pada multigravida, hal itu
terjadi pada permulaan persalinan. Masuknya kepala
kedalam PAP biasanya diserati denga sutura sagitalis yang
melintang dan fleksi yang ringan. Masuknya kepala
melewati asinklitismus. Keadaan tersebut ditandai dengan
posisi sutura sagitalis yang terdapat ditengah-tengah jalan
lahir, tepat diantara simfisis dan promontorium. Sementara
itu, pada sinklitismus, os parietal depan dan belakang sama
tingginya. Apabila sutura sagitalis agak kedepan mendekati
simfisis atau agak kebelakang mendekati promontorium,
kepala dapat dikatakan berada dalam keadaan
asinklitismus.
Penurunana kepala lebih lanjut terjadi pada kala I dan II
persalinan. Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retyraksi
segmen atas rahim, yang menyebabkan tekanan langsung
pad bokong janin. Dalam waktu yang bersamaan, terjadi
relaksasi dari segmen bawah rahim sehingga terjadi
penipisan dan dilatasi serviks. Keadaan tersebut
menyebabkan bayi terdorong kedalam jalan lahir.
Penurunana kepala itu juga disebabkan oleh tekanan cairan
intruterin. Kekuatan mengejan atau kontraksi otot-otot
abdomen, dan posisi anka yag melurus.
b) Fleksi
Pada awal persalinan, kepala bayi fleksi ringan. Seiring
kepala yang maju, biasanya fleksi juga bertyambah.
Dengan adanya fleksi, diameter suboksiptobregmatika (9,5)
menggantikan diameter oksipitofrontalis (11 cm). sampai

63
didasar panggul, kepala janin biasanya berada dalam
keadaan fleksi maksimal. Beberapa teori mengungkapkan
bahwa fleksi terjadi karena anak didorong maju,
sedangkan pada sat yang bersamaan, serviks, dinnding
panggul atau dasar panggul menahan laju tersebut sehingga
terjadi fleksi.
c) Rotasi Dalam (Putaran Paksi Dalam)
Putaran paksi dalam adalah ubun-ubun kecil (UUK)
dari bagian depan menyebabkan bagian terendah dari
bagian depan janin memutar kearah depan kebawah
simfisis.
d) Ekstensi
Setelah kepala janin sampai didasr panggul dan UUK
berada dibawah simfisis, terjadi ekstensi dari kepala janin.
Hal tersebut disebabkan oleh sumbu jalan lahir pada pintu
bawah panggul mengarah kedepan dan keatas sehingga
kepala harus mengadakan fleksi untuk melewatinya.
e) Rotasi Luar (Putaran Paksi Luar)
Kepala yang telah lahir selanjutnya mengalami
restitusi, yaitu kepala bayi memutar kembali kerah
punggungnya untik menghilangkan torsi pada leher yang
terjadi karena putaran paksi dalam. Bahu melintasi pintu
dalam keadaan miring dan akn menyesuaikan diri dengan
bentuk panggul yang dilaluinya dalam rongga panggul.
Dengan demikian, setelah kepal bayi lahir, bahu
mengalami putaran dalam didasar panggul dan ukuran bahu
(diameter bisa kronial) menmpatkan diri dalam diameter
anterposterior dari pintu bawah panggul. Bersamaan
dengan itu, kepala bayi juga melanjutkan putaran hingga

64
belakang kepal berhadapan dengan tuber iskiadikum
sepihak.
f) Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai dibawah
simfisis dan menjadia hipomoklion untuk kelahiran bahu
belakang. Setelah kedua bahu lahir, selanjutnya seluruh
badan bayi dilahirkan searah dengan sumbuh jalan lahir.
Kontraksia yang efektif, fleksi kepala yang edekuat, dan
janin yang berukuran rata-rata menyebabkan sebagian
besar oksiput yang posisinya posterior berputar cepat,
segera setelah mencapai dasar panggul, dan persalinan
tidak begitu bertambah panjang (Jannah, 2014 :98-106).
4) Melahirkan kepala
Saat kepala bayi membuka vulva (5-6 cm), letakkan
kain yang bersih dan kering yang dlipat 1/3 nya dibawah
bokong ibu dan siapkan kain atau handuk bersih daitas perut
ibu (untuk mengeringkan bayi segera setelah lahir). Lindungi
perineum dengan satu tangan (dibawah kain bersih dan kering),
ibu jari pada salah satu perineum dan empat jari pada sisi yang
lain dan tangan yang lain pada belakang kepal bayi. Tahan
kepal bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar
secara bertahap melawati introtus dan perineum.
Jangan melakukan pengisapan lendir secar rutin pada
mulut dan hidung bayi. Sebagian besar bay sehat dapat
menghilangkan lendir tersebut secara almiah pada dengan
mekanisme bersin dan menagis saat lahir. Pada pengisapan
lendir yang terlalu dalam, ujung kanul pengisap dapat
menyemntuh daerah orofaring yang kaya denga persyrafan
parsipatis sehingga dapat menimbulkan reaksi vaso-vegal.

65
Selalu isap mulut bayi lebih dulu sebelum menghisap
hidungnya. Menghisap hidung lebih dulu dapat menyebabkan
bayi menarik nafas dan terjadi asprasi mekonium atau cairan
yang ada dimulutnya.
5) Periksa Tali Pusat Pada Leher
Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti
meneran dan bernafas cepat. Periksa leher bayi apakah telilit
tali pusat. Jika dengan melewati kepala bayi. Jika lilitan tali
pusat sangat erat mak jepit tali pusat dengan klem pada 2
tempat dengan jarak 3 cm, kemudian potong tali pusat atara 2
klem tersebut.
6) Melahirkan bahu
a) Setelah menyeka mulut dan hidung dan memeriksa tali
pusat, tunggu kontraksi berikut sehingga terjadi putaran
paksi luar secar spontan.
b) Letakkan tangan pada sisi kiri dan kanan kepala bayi, minta
ibu untuk meneran sambil menekan kepala kearah bawah
dan lateral tubuh bayi sehingga bahu depan mlewati
simfisis.
7) Melahirkan seluruh tubuh bayi
a) Saat bahu posterior lahir, geser tangan bawah (posterior)
kearah perineum dan sanggah bahu dan lengan atas bayi
pada tangan tersebut
b) Gunakan tangan yang sama untuk menopang lahirnya siku
dan tangan posterior saat melewati perineum.
c) Tangan bawah (posterior) menopang samping lateral tubuh
bayi saat lahir
d) Secara simultan , tangan atas (anterior) untuk menelusuri
dan memeng bahu, siku dan lengan bagian anterior.
e) Lanjutkan penelusuran dan memegang tubuh bayi ke
bagian punggung, bokong dan kaki

66
f) Dari arah belakang, sisipkan jari telunjuk tangan atas
diantara kedua kaki bayi yang kemudian dipegang dengan
ibu jari dan ketiga jari tangan lainnya.
g) Letakkan bayi diatas kain atau handuk yang telah disiapkan
pada perut bawah ibu dan posisikan kepala bayi sedikit
lebih rendah dari tubuhnya.
h) Segera keringkan sambil melakukan rangsangan taktil pada
tubuh bayi dengan kain atau selimut diatas perut ibu.
Pastikan bahwa kepala bayi tertutup dengan baik.( JNPK-
KR.2012:86).

c. Kala III
Kala III persalinan adalah priode yang dimulai ketika bayi lahir
dan berakhir pada saat plasenta seluruhnya suddah dilahirkan. Kala
III pada primigravida berlangsung 15 menit, sedangkan
multigravida 10 menit.
1) Menejemen aktif kala III
a) Pemberian suntikan oksitosin
Oksitosin 10 IU secara IM dapat di berikan dalam 2
menit setelah bayi lahir dan dapat di ulangi setelah 15
menit jika plasenta belum lahir. Berikan oksitosin 10 IU
secara IM pada 1/3 paha kanan bawah bagian luar.
b) Penanganan tali pusat terkendali
Tempatkan klem pada ujung tali pusat ±5 cm darai
vulva, lalu pegang tali pusat dari jarak dekat untuk
mencegah ovulasi tali pusat. Saat terjadi kontraksi yang
kuat, plasenta di lahirkan dengan penegangan tali pusat
terkendali, kemudian tangan pada dinding abdomen
menekan korpus uteri kebawah dan atas (dorsol cranial)
karpus.

67
Lahirkan plasenta dengan penanganan yang lembut dan
keluarkan plasenta dengan gerakan ke bawah dan keatas
mengikuti jalan lahir. Ketika plasenta muncul dan keluar
dari dalam vulva, kedua tangan dapat plasanta searah jarum
jam untuk mengeluarkan selaput ketuban.
c) Pemijatan fundus uteri (masase)
Segera setelah plasenta dan selaput dilahirkan, dengan
perlahan dan kokoh, lakukan masase uterus dengan cara
menggosok uterus pada abdomen dengan gerakan
melingkar atau sirkulasi untuik menjaga uterus tetap keras
dan berkontraksi dengan baik serta untuk mendorong
pengeluaran setiap gumpalan darah.
Periksa plasenta dengan tangan kanan dan masasse
uterus dengan tangan kiri, untuk memastikan bahwa
kitiledon dan membrane sudah lengkap. Seluruh lobus di
bagian maternal harus ada dan bersatu atau utuh, tanpa
ketidakteraturan tersebut, sebagian fragmen plasenta mesti
masih tertinggal.
d) Pemeriksaan plasenta

Pemeriksaan plasenta meliputi hal-hal sebagai berikut.

(1) Selaput ketuban utuh atau tidak.


(2) Plasenta (ukuran plasenta) terdiri atas.
(a) Bagian maternal, jumlah kotiledon, keutuhan pinnggir
kotiledon,
(b) Again fetal, utuh atau tidak.
(3) Tali pusat, meliputi :
(a) Jumlah arteri dan vena,

68
(b) Adakah arteri atau vena yang terputus untuk
mendetaksi plasenta suksenturia,
(c) Insersi tali pusat, apakah sentral, marginal, panjang tali
pusat.
2) Pemantauan kala III
Selama kala III, hal-hal yang perlu di pantau adalah
sebagai berikut:
a) Perdarahan (jumlah darah ada bekuan darah atau tidak).
b) Kontraksi uterus (bentuk dan intensitas).
c) Robekan jalan lahir (laserasi)
d) Tanda tanda vital termaksud :
(1) Tekanan darah bertambah tinggi dari sebelum
persalinan,
(2) Nadi bertambah cepat,
(3) Temperature bertambah tinggi,
(4) Respirasi beranfsung normal,
(5) Gastrointestinal normal, pada awal persalinan mungkin
muntah.
e) Heigine personal.
3) Kebutuhan ibu bersalin pada kala III
Kebutuhan ibu bersalin selama kala III dapat meliputi
ketertarikan ibu pada bayi, dengan cara mengamati bayinya,
menanyakan jenis kelamin bayi, jumlah jari, dan mulai
menyentuh bayinya. Selain itu ibu juga dapat member
perhatian dari dirinya sehingga bidan perlu menjelaskan
kondisi ibu (seperti ad tidaknya penjahitan) dan memberikan
bimbinga tentang kelanjutan tindakan dam perawatan ibu.
Ketertarikan ibu juga dapat mengarah pada plasenta yang

69
dilahirkan hingga bidan dapat menjelaskan kondisi plasenta,
lahir lengkap atau tidak.
4) Penanganan komplikasi persalinan kala III
a) Perdarahan kala III
Penyebab perdarahan pada kala III meliputi atonia
uteri, laserasi jalan lahir, retensio plasenta dan kelainan
pembekuan darah.
(1) Atonia uteri
Ataonia uteri adalah suatu kondisi kegagalan
berkontraksi dengan baik setelah persalinan
(Safiuddin,2002)
Sebagian besar (75-80%) perdarahan pada masa
nifas diakibatkan oleh atonia uteri. Faktanya, aliran
darah uteroplasenta selam masa kehamilan adalah 500-
800 ml/menit.
Penyebab at;onia uteri diantaranya :
(a) Distensia rahim yang berlebihan
(b) Pemanjangan masa persalinan atau partus lama
(c) Grandemultipara (paritas 5 atau lebih)
(d) Kehamilan dengan mioma uterus

Tanda dan gejala Atonia Uteri

(a) Perdarahan pervaginam


(b) Konsistensi rahim lunak
(2) Laserasi jalan lahir atau robekan perineum
Berdasarkan luas robekan, laserasi jalan lahir
diklasifikasi menjadi empat derajat robekan.
(a) Derajat I Robekan sampai mengenai mukosa vagina
dan kulit perineum.

70
(b) Derajat II Robekan sampai mengenai mukosa
vagina, kulit perineum dan otot perineum.
(c) Derajat III Robekan sampai mengenai mukosa
vagina, kulit perineum, otot perineum dan otot
sfingter ani eksterna.
(d) Derajat IV Robekan sampai mengenai mukosa
vagina, kulit perineum, otot perineum, otot sfingter
ani eksterna dan mukosa rectum.
(3) Retensio plasenta
Retensio plasenta adalah plasenta yang tertahan
atau belum lahir hingga atau melebihi waktu 30 menit
setelah bayi lahir (Abdul, 2001).
Penyebab retensio plasenta
(a) Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena
tumbuh terlalu melekat lebih dalam. Berdasarkan
tingkat perlekatannya, kondisi plasenta dibagi
menjadi :
i. Plasenta adhesive, yang melekat pada desidua
endometrium lebih dalam.
ii. Plasenta akreta, plasenta jonjot korion
memasuki sebagian miometrium.
iii. Plasenta inkreta, plasenta menembus hingga
miometrium.
iv. Plasenta perkreta, manembus sampai serosa atau
peritoneum dinding rahim.
(b) Plasenta telah lepas, tetapi belum keluar karena
i. Atonia uteri, yang dapat menyebabkan banya
perdarahan.

71
ii. Terdapat lingkaran kontraksi pada bagian rahim
akibat kesalahan penanganan kal III sehingga
menghalangi plasenta untuk keluar.
(4) Kelainan pembekuan darah
Perdarahan yang telah dijelaskan sebeumnya umumnya
terjadi akibat pembekuan darah intravaskuler merata
atau kelainan bawan pada mekanisme pembekan darah.
Penanganan perdarahan persalinan pada kala III
(a) Atonia Uteri
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
penanganan atonia uteri adalah sbb:
i. Berikan 10 IU oksitosin IM
ii. Lakukan masase uterus untuk mengeluarkan
gumplan darah.
iii. Periksa kandung kemih jikakandung kemih
dapat dipalpasi atau gunakan tehnik aseptic
untuk memasang kateter kedalam
kandungkemih.
iv. Gunakan sarung tangan DTT atau steril,
lakukan kompresi bimanual interna selama 5
menit hingga perdarahan dapat dihentikan
atau uterus berkontraksi dengan baik.
v. Anjurkan keluarga untuk meyiapkan
rujukan.
vi. Jika perdarahan dapat dihentikan dan uterus
berkontrkasi dengan baik,
vii. Jika perdarahan tidak terkendali dan uterus
tidak berkontraksi selam 5 menit setelah
dimulai KBI,

72
ka uterus tetap tidak berkontraksi, ulangi
kompresi
viii.Jika uterus berkontraksi, lepaskan
tangan perlahan-lahan dan pantau kala IV
dengan seksama
Jika uterus tidak berkontraksi, rujik segera
ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan
pembedahan.
(b) Lasserasi jalan lahir
Penjahitan
Penjahitan dilakukan untuk menyatukan
kembaliatau mendekatkan jaringan tubuh dan
mencegah kehilangan darah yang tidak perlu.ingat
bahwa setiap kali jaringan masuk kedalam tubuh,
jaringan akan terluka dan menjadi tempat potensial
untuk terjadi infeksi. oleh karena itu pad saat
menjahit gunakan panjang dan buat sesedikit
mungkin jahitan untuk mencapa tujuan pendekatan
dan hemostatis.
(c) Retensio plasenta
Pada prinsipya, penanganan retensio plasenta sesui
dengan etiologi atau penyebabnya.
i. Jika plasenta terlihat dalam vagina, minta iu
untuk mengejan dan jika plasenta dan
vagina dapat diraba, kluarkan plasenta
tersebut.
ii. Pastikan kandung kemih kosong
iii. Jika plasenta belum lahir setelah 30 menit
pemberian oksitosin dan uterus

73
berkontraksi, lakukan penarikan tali pusa
terkendali.
d. Kala IV
Kala IV dimulai sejak plasenta lahir sampai dengan 2 jam
sesudahnya. Hal yang perlu diperhatikan pada kal IV adalah
kontraksi uterus smapaiuterus kembali ke bentuk normal.
1) Penanganan pada kala IV
a) Tanda Vital
Pemantauan dan evaluasi lanjut tanda vital
meliputi usaha untik memastikan bahwa uterus
berkontraksi dengan baik, tidak terjadia perdarahan
pervagina atau alt genetalia lainnya, plasenta dan
selaput ketuban telah lahir lengkap, kanduang kemih
kosong, luka pada perineum terawatt baik dan tidak
terjadi hematoma. Selain itu, ibu dan bayi berada
dalama keadaan yang baik.
Tanda syok pada ibu harus diperhatikan seperti
nad cepat dan lemah (110 kali/menit), tekanna darah
rendah sistolik >90 mmHg, pucat, berkeringat, dingin,
kulit lembab, nafas cepat, kesadaran menurun, dan urin
protein sangat sedikit.
b) Kontraksi uterus
Kontraksi yang baik pada uterus adalah bahwa
uterus terba keras dan tidak lembak dan tinggi fundus
uteri berada 1-2 jari di bawah pusat setelah melahirkan.
Pemeriksaan kontraksi uterus dilakukan 15 menit pada
jam pertama pascapartum, dan 30 menit 1 jam kedua
pascapartum.
c) Lockea

74
Selema beberapa hari persalinan, lokhea tampak
merah karena ditemukan eritrosit atau disebut lochea
rubra. Setelah 3 sampa 4 hari, loche menhjadi pucar
atau lochea serosa, dan hari ke 10, lochea tampak putih
atau kekuning-kuningan atau lochea alba. Lochea
berbau busuk dapat menjadi indikasi dengan
endometrisis.
d) Kandung kemih
Kandaung kemih harus tetap bertahan dalam
keadaan kosong. Kandung kemih penuh dapat
menghalangi kontraksi maksimal hingga perdarahan
terjadi.
e) Perineum
Setelah persalianan, keadaan perineum harus
juga menjadi perhatian. Apabila terdapat luka jahit,
perlu diperhatikan tanda-tanda infeksi, luka jahitan
yang terbuka, dan kebersihan area luka jahitan.
f) Perkiraan darah yang hilang
Perkiraan darah yang hilang sangat penting bagi
keselamatan ibu. Apabila ibu mengeluh lemas, pusing,
keadaran menurun, dan tekanan darah sistolik turun
lebih dari 10 mmHg dari kondisi sebelumnya,
perdarahan telah terjadi sebanyak lebih dari 500 ml.

B. Bayi Baru Lahir


1. Pengertian BBL
Bayi Baru Lahir (Neonatus) adalah bayi yang baru saja mengalami
proses kelahiran, berusia 0-28 hari. Bayi baru lahir memerlukan penyusuain
fisiologis berupa maturasi, adaptasi ( menyusuaikan diri dari kehidupan

75
intra uterin ke kehidupan ekstrauterine) dan toleransi bagi BBL untuk dapat
hidup dengan baik. Menurut M. Shaleh Kosim, (2007) Bayi baru lahir
normal adalah berat lahir antara 2500 - 4000 gram, cukup bulan, lahir
langsung menangis, dan tidak ada kelainan kogenital (cacat bawaan) yang
berat.
Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai usia 12 bulan,
menerut psikologis, bayi adalah priode perkembangan dari kelahiran hingga
18 atau 24 bulan.
2. Ciri-ciri Bayi baru lahir
a. Berat badan 2500-4000 gram
b. Panjang badan 48-52 cm
c. Lingkar dada 30-38 cm
d. Linkar kepala 33-35 cm
e. Frekuensi jantung 120-160 kali /menit
f. Pernafasan ± 40-60 kali /menit
g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena sub kutan cukup
h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala bisanya sudah sempurnah
i. Kuku agak panjang dan lemas
j. Genetalia : laki-laki testis sudah turun, skrotum sudah ada. Perempuan
labia mayora sudah menutupi labia minora.
k. Reflex menghisap menghisap dan menelan sudah baik
l. Reflek morrow atau gerak memeluk ketika dikagetkan sudah baik
m. Reflex graps atau mengenggap sudah baik
n. Eliminasi baik, mokonium akan keluar dalam 24 jam pertama,
mekonium berwarnah hitam kecoklatan (marmi & kukuh Rahardjo
2012,)
3. Penilaian bayi baru lahir

76
Untuk semua bayi baru lahir . lakukan penilaian awal dengan
menjawab tiga pertanyaan:

a. Sebelum bayi lahir


Apakah kehamilan cukup bulan?
b. Segera setelah bayi lahir, sambil meletakkan bayi diatas kain bersih dan
kering yang telah disiapkan pada perut bawah ibu, segera lakukan
penilain berikut :
Apakah bayi menangis atau bernafas/tidak mengap-megap?
Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif ?
4. Penatalaksanaan Awal bayi Baru lahir
a. membersihkan jalan nafas sekaligus menilai Apgar menit pertama.
b. Mengeringkan badan bayi dari cairan ketuban dengan menggunakan
kain yang halus dan handuk.
c. Memotong dan mengikat tali pusat dengan memperhatikan teknik
antseptik sekaligus menjadi Skor Apgar menit kelima.
d. Mempertahankan suhu tubuh.
e. Membersihkan badan bayi.
f. Member obat untuk mencegah terjadinya infeksi pada mata.
g. Melaksankan pemeriksaan kesehatan bayi.
h. Memasang pakain bayi.
i. Mengjarkan ibu cara membersihkan jalan nafas, membersihkan air susu
ibu (ASI) dan manfaatnya, perwatan tali pusat, perwatan bayi sehari-
hari, peawatan payudara selama menyusui.
j. Menjelaskan pentingnya memberikan ASI sedini mungkin, makan
bergizi bagi ibu, mengikuti program imunisasi utuk bayi, an KB bagi
ibu sesegera mungkin ( Sari Wahyuni, 2011).

77
5. Adaptasi fisiologi BBL
Penelitian menunjukkan bahwa 50% kematian bayi dalam priode
neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya
penanganan bayi baru lahir yang sehat akan menyebabkan kelainan-
kelainan yang mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian.
Pencegahan merupakan hal yang terbaik yang dilakukan agar neonates
dapat menyesuakan diri dari kehidupan intrauterin sehingga neonates dapat
bertahan dengan baik karena priode neonatal merupakan priode yang paling
kritis dalam fase pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Adaptasi neonatal (bayi baru lahir) adalah proses penyusuaian
fungsinal neonates dari kehidupan intrauterine.kemampuan adaptasi
fisiologis ini disebut juga Homeostatis. Bila terdapat gangguan, maka bayi
akan sakit.
Hemoistatis adalah kemampuan mempertahankan fungsi-fungsi vital,
bersifat dinamis, dipengaruhi oleh tahap pertumbuhan dan perkembangan,
termasuk masa pertumbuhan dan perkembangana intrauterine.masa
neonates tepat dipandang sebagai masa adaptasi dari kehidupan
ekstrauterine dari berbagai system.
a. System pernafasan
Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran
gas melalui plasenta, setelah bayi lahir pertukaran gass terjadi pada
paru-paru (setelah tali pusat dipotong).
Rangsangan untuk gerakan pernafasan pertama kali pada neonates
disebabkan karena adanaya :
1) Tekanan mekanis pada waktu torak sewaktu melalui jalan lahir.
2) Penurunan teknanan oksigen dan kenaikan tekanan karbondioksida
merangsang kemoreseptor pada sinus karotis (stimulasi kimiawi).
3) Rangsangan dingin dimuka dapat merangsang permulaan gerakan
(stimulasi sensorik).

78
Saat kepala melewati jalan lahir, ia akan mengalami penekanan
yang tinggi pada toraksnya, dan tekanan ini akan hilang dengan
tiba-tiba setelah bayi lahir. Proses mekanisme ini menyebabkan
cairan yang ada dalm paru-paru terdorong karena perifer paru
untuk kemudian diabsorpsi, karena terstimulus oleh sensor kimia,
suhu serta mekanis akhirnya bayi memulai aktifitas nafas untuk
yang pertama kali.

Tekanan intoraks yang negative disertai dengan aktivasi yang


pertama memungkinkan adanya uda yang masuk kedalam paru-
paru. Setelah bebrapa akali nafas pertama, udara dari luara mengisi
jalan nafas dan trakea dan bronkus, akhirnya semua alveolus
mengembang karena terisi udara.

b. Jamtung dan sirkulasi darah


1) Peredaran darah janin
Di dalam rahim darah yang kaya dengan oksigen dan nutrisi
berasal dari plasenta masuk kedalam janin melalaui plasenta
umblicallis, sebagian masuk vena cava inferior melalui duktus
venosus arantii. Darah dari vena cava inferior masuk ke atrium
kanan dan bercampur dengan dara dari vena cava superior. Darah
dari atrium kanan sebagian melalui foramen ovale masuk ke atrium
kiria bercampur dengan darah yang berasal dari vena pulmonalis.
Darah dari atrium kiri selanjutnya ke ventrikal kiri yang kemudian
akan dipompakan ke aorta, selanjutnya melalui arteri kronaria darah
mengalir kebagian kepala, ekstremitas kanan dan ektremitas kiri.
Sebagian kecil darah yang berasala dari atrium kanan mengalir
ke ventrikal kanan mengalir bersama-sama darah yang berasal dari
vena cava superior., kerena tekanan dari paru-paru belum
berkembang, maka sebagian besar dari vetrikanan yang seharusnya

79
engalir melalui duktus arteriosus botali ke aorta decenden dan
mengalir keseluruh tubuh, senagian kecuk mengalir ke paru-paru
dan selanjutnya ke atrium kiri melalui vena pulmonlis.
2) Perubahan peredaran darah neonates
Aliran darah dari plasenta berahenti pada sat tali pusat diklem,,
tindakan ini menyebabkan suplai oksigen ke plasenta menjadi tidak
ada dan menyebabkan serangkain reaksi selanjutnya.
Dampa pemotongan umbilicus terhadap hemodinamik sirkulasi
janin sirkulasi bayi adalah penutupan duktus artarteriosus melalui
proses sebagai berikut :
a) Sirkulasi plasenta terhenti, aliran darah ke atrium kanan menurun,
sehingga tekana jantung menurun, tekanan rendah diaorta hilang
sehinnga tekanan jantung kiri meningkat.
b) Reisitensi pada paru-paru dan aliran darah ke paru-paru meningkat, hal
ini menyebabkan tekanan ventrikal kiri meningkat.

Aliran darah hari pertamaialah 4-5 liter / menit (gessner, 1965). Aliran
adrah sisitolik pada hari pertama rendah, yaitu 1,96 liter /menit dan
bertambah pada hari kedua dan ketiga (3,45 liter /menit) karenan
penutupan duktus arteriotus. Tekanan darah pada waktu lahir dipengaruhi
oleh jumlah darah yang melalui transfuse plasenta pada jam-jam pertama
sedikit menurun, untuk kemudian naik lagi.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa bentuk


penyusuaian neonates pada system peredaraan darah adalah sebagai
berikut :

a) Penutupan olbitarasi sel pirau, voramen oral, dutus venosus, duktus


arteriosus

80
b) Dutus venosus berfungsi dalam pengendalian tahanan vaskuler
plasenta terutama pada saat janin mengalami hypoksia.
c) Dutus venosus menutup beberapa menit menit setelah bayi lahir dan
penutupan anatomis yang lengkap terjad pada hari ke-20
d) Pada neonates darah tidak bersikulasi dengan mudah, pada kaki dan
tangan sering berwarnah kebiru-biruan dan terasa dingin dan
biasanyabTD : 80/46 mmHg
e) Duktus anteriosusu merupakan peran vaskuler yang penting sirkulasi
fetus dan melakukan peran darah dari arteri pulmonalis ke aorta
desenden (melalui paru), selama kehidupan fetal tekanan arteri
pulmonalis sangat tinggi dan lebih dari tekanan aorta dan penutupan
duktus arteriosus disebabkan oleh peningkatan tegangan oksigen
dalam tubuh.
c. Saluran pencernaan
Bila dibnandingkan dengan uuran tubuh, saluran pencernaan pad
neonates lebih berat dan panjang dibandingkan dengan oaring dewasa.
Pada masa neonates, taktus digestivus mengandung zat-zat
yangbarwarnah hitam kehijauan yang terdiri dari mmukopolosarida
yang disebut mekonium. Pada masa neonates saluran pencernaan
mengeluarkan tinja pertama yang biasanya dalam 24 jam pertama
berupa mekonium ( zat ayng berwarnah hitam kehijauan). Dengan
adanya pemberian susu, mekonium mulai digantikan oleh tinja
tradisional pada hari letiga sampai keempat yang berwarnah coklat
kehijauan.
Frekuensi pengeluaran tinja pada neonates nampanya sangat erat
hubungannya dengan ferkuensi pemberian makan dan minum. Enzim
dalam saluran pencerrnaan biasanya sudah terdpat pada neonates
kecuali Amilase Pankreas, aktifitas lipase telah ditemukan tujuh
sampai delapan bulan kehamilan.

81
Pada saat lahir aktifitas sudah berfungsi yaitu menghisap dan
menelan, saat mengisap lidah beposisi palatum sehingga bayi hanya
bernafas melalu hidung, rasa kecap dan penciuman sudah ada sejak
lahir, saliva tidak mengandung tepung dalam 3 bulan pertama dan lahir
volume lambung 20-25 ml.

Adapun adaptasi pada saluran pencernaan adalah :

1) Pada hari ke 10 kapasitas lambung menjadi 100 ml.


2) Enzim tersedia untuk mengkatalisis protein dan karbohidrat
sederhana yaitu monoscarida dan disacarida
3) Difesiensi dan lipase pada pangkres menyebabkan terbatasnya
absorpsi lemak sehingga kemampuan bayi untuk mencerna lemak
belum matang, maka susu formula sebaiknya tidak diberikan pada
bayi baru lahir
4) Kelenjar lidah berfungsi pada ssat bayi lahir tettapi kebanyakan
tidak mengeluarkan ludah sampai usia bayi ± 2-3 bulan.
d. Produksi panas (suhu tubuh)
Bayi baru lahir memeliki kecenderungan untuk mengalami
stress fisik akibat perubahan suhu di luar uterus. Fluktuasi (naik
turunnya) suhu di dalam uterus minimal, rentang maksimal hanya
0,6ºC sangat berbeda dengan kondisi di luar uterus.
Tiga factor yang paling berperan dalam kehilangan panas
tubuh bayi , diantaranya :
1) Luasnya permukaan tubuh bayi
2) Pusat pengaturan suhu tubuh bayi yang belum berfungsi secara
sempurna
3) Tubuh bayi terlalau kecil untuk memproduksi dan menyimmpan
panas.

82
Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tubuh
tanpa menggigil merupaka usaha utama bayi yang kedinginan untuk
mendapatkan kembali panas tubuhnya. Suhu normal pada neonates,
adalah 36,5-37,5ºC melalui pengukuran diaksila dan rectum, jika
nilainya turun dibawah 36,5 ºCmaka bayi mengalamai hipotermia.

Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling


bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tida diterapkan
secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama
setelh bayi lahir.

Gejala Hipotermia

1) Sejalan dengan turunnya suhu tubuh, maka bayi akan jadi


kurang aktif, latargi, hipotanus, tidak kuat menghisap ASI dan
menangis lemah.
2) Pernafasan mengap-mengap dan lambat, serta denyut jantung
menurun.
3) Timbul skelerama yaitu, kulit mengeras berwarna kemerahan
terutama bagian punggung, tungkai dan lengan.
4) Muka bayi berwarnah merah terang.
5) Hipotermia menyebabkan terjadinya metabolisme tubuh yang
akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarah
terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian.(kukuh, 2012)
e. Hepar
Fungsi hati adalah metabolism karbohidrat, protein, lemak dan
asam ampedu, hati juga memiliki fungsi ekskresi (aliran empedu) dan
detoksifikasi obat/toksin. Bidan haruss hati-hati dalam memberikan
obat kepada neonates dengan memperhatikan dosisi ibu.

83
Bila menemukan bayi lebih dari 2 minggu dan feses dan
berbentuk dempul ada kemungkinan terjadi atresia belier yang
memerlukan operasi segera sebelum usia 8 minggu. Biliburan saat lahir
antara 1,8-2,8 mg/dl yang dapat meningkat sampai 5 hari pada hari ke-3
atau ke-4 imaturitas sel haati.

f. System neorolagi
Bayi tetap melihat dan mendengar sejak baru lahir sehingga
membutuhkan stimulasi suara dan penglihatan. Setelah lahir jumlah
dan ukuran sel saraf tidak bertambah. Pembentukan sinaps terjadi
secara progresif sejak lahir sampai usia 2 tahun. Meiliniasasi
(perkembangan serabut myelin) terjadi sjak janin 6 bulan sampai
dewasa. Golden period mulai trimester III sampai usia 2 tahun
pertambahan lingkar kepala (saat lahir rata-rata 36 cm, usia 6 bulan 44
cm, usia 1 tahun 47 cm, usia 2 tahun 49 cm, usia 5 tahun 51 cm,
dewasa 56 cm). Saat lahir bobot otak 25% dari berat dewasa, usia 6
bulan hamper 5% usia 2 tahun 75%, usia 10 tahun 100%.
g. System imunulogi
Sel fagosit, granulosit, monosit mulai berkembang sejak usia
gestasi 4 bulan. Setelah lahir imunitas neonates cukup bula lebih rendah
dari orang dewasa. Usia 3-12 bulan adalah keadaan imunodefesiensi
sementara sehingga bayi mudah terkena infeksi. neonates kurang bulan
memiliki kulit yangmasih rapuh, merman mukosa yang mudah cedera,
pertahanan tubuh lebih rendah sehingga berisiko mengalami infeksi
yang lebih besar. (hj.deslidell DKK, 2011)
6. Tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir
a. Pernafasan sulit atau lebih dari 60 kali /menit
b. Terlalau panas (>37,5ºC) /dingin (36,5ºC)
c. Warnah kulit kuning, biru atau pucat

84
d. Isapan lemah (tidak mau menghisap)
e. Mengantuk berlebihan /banyak muntah
f. Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan berbau busuk dan berdarah
g. Infeksi (suhu meningkat, pernafsan sulit)
h. Feses/ kemih (tidak berkemih dalam 24 jam, feses lembek, kering, hijau
tua, ada lemdir atau darah
i. Aktivitas : menggigil (tangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung,
lemas, terlalu mudah mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus, menagis
terus menerus)
7. Mekanisme kehilangan panas
Tiga factor yang paling berperan dalam kehilangan panas tubuh bayi ,
diantaranya :
a. Luasnya permukaan tubuh bayi
b. Pusat pengaturan suhu tubuh bayi yang belum berfungsi secara sempurna
c. Tubuh bayi terlalau kecil untuk memproduksi dan menyimmpan panas.
Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tubuh tanpa
menggigil merupaka usaha utama bayi yang kedinginan untuk
mendapatkan kembali panas tubuhnya. Suhu normal pada neonates, adalah
36,5-37,5ºC melalui pengukuran diaksila dan rectum, jika nilainya turun
dibawah 36,5 ºCmaka bayi mengalamai hipotermia.
Hipotermia dapata terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi
rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tida diterapkan secara
tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama setelh bayi
lahir.
Gejala Hipotermia
a. Sejalan dengan turunnya suhu tubuh, maka bayi akan jadi kurang aktif,
latargi, hipotanus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.
b. Pernafasan mengap-mengap dan lambat, serta denyut jantung menurun.

85
c. Timbul skelerama yaitu, kulit mengeras berwarna kemerahan terutama
bagian punggung, tungkai dan lengan.
d. Muka bayi berwarnah merah terang.
e. Hipotermia menyebabkan terjadinya metabolisme tubuh yang akan
berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarah terutama pada paru-
paru, ikterus dan kematian.
Berikut ini merupakan penjelasan tentang empat mekanisme
kemungkinan hilangnya suu tubuh dari bayi baru lahir.
a. Konduksi
Panas dihantarkan tubuh bayi ketubuh benda sekitarnya
yangkontak langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari
tubuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung).Contoh hilangnya
panas tubuh bayi secara konduksi, ialah menimbang bayi tanpa alas
timbangan, tangan penolong memegang bayi baru lahir, menggunakan
stetoskop untuk memriksa bayi baru lahir.
b. Konveksi
Panas hilang dari bayi ke udara sekitarnya yang sedang
bergerak (jumlah panas yang hilang tergantung pada kecepatan suhu
dan udara). Contoh hilangnya panas tubuh bayi secara konveksi, ialah
yaitu dengan menempatkan atau membiarakan bayi baru lahir dekat
jendela, membiarkan bayi berada diruangan yang terpasang kipas
angin.
c. Radiasi
Panas yag dipancarkana dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya
kelingkungan yang lebih dingin (perpindahan panas antara dua objek
yang mempunyai suhu yang berbeda). Contoh bayi yang mengalami
kehilangan panas tubuh yang secara radiasi, ialah bayi baru lahir
dibiarkan beada dalam ruangan dengan Air Conditioner (AC) tanpa
diberikan pemanas (Radiant Warmar), bayi baru lahir dibiarkan

86
telanjang, bayi baru lahir ditidurkan berdekatan dengan ruangan yang
dingin, misalnya dkat tembok.
d. Evaporasi
Panas hilang melalui penguapan tergantung kepada kecepatan
dan keelembaban udara (perpindahan panas dengan cara merubah
cairan dengan uap). Evaporasi dipengaruhi oleh jumlah panas yang
dipakai, tingkat kelebaban udara, alian udara yang melewati.
Akibat dari suhu tubuh yang rendah yaitu dengan metabolisme
jaringan akan meningkat dan berakibat lebih mudah terjadi asisdosis
metabolic berat hingga kebutuhan aksogen akan meningkat.
Tidak semua neonates memiliki ketahanan suhu tubuh yang
sama, karena hal ini sangat dipengaruhi oleh : Suhu bayi, umur
kehamilan dan berat badan bayi. Untuk mengurangi kehilangan panas
tersebut diatas dapat ditanggulangi dengan mengatur suhu tubuh
lingkungan, membungkus badan bayi dengan kain hangat, disimpan
didalam incubator, mengeringkan bayi secara seksama, menyelimuti
bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat, menutupi
bagian kepala bayi, menganjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui
bayi (kukuh, 2012).
8. Perwatan Tali Pusat
Perawatan tali pusat yang benar dan lepasnya tali pusat pada minggu
pertama secara bermakna dapat mengurangi insiden infeksi pada neonates.
Jelly Wharton yang membentuk jaringan nekrotik dapat berkolonisasi
dengan organism pathogen, kemudian menyebar dan menyebabkan infeksi
kulit dan infeksi sistemik pada bayi. Yang terpenting dalam perawatan tali
pusat adalah menjaga tali pusat tetap kerng dan bersih. Cuci tangan dengan
sabun dan air bersih sebelum merawat tali pusat. Bersihkan dengan lembut
disekitar tali pusta dengan kapas basah, kemudian bungkus dengan
longgar/tidak terlalu rapat dengan kapas bersih/steril. Popok dan celana bayi

87
di ikat dibawah tali pusat, tidak menutupi tali pusat untuk menghindari
kontak dengan feses dan urin. Hindari penggunaan kancing, koin atau uang
untuk untuk membalut tekan tali pusat.
Antisepatik dan antimikroba topikal dapat digunakan untuk mencegah
kolonisasi kuman dari kamar bersalin. Antiseptic yang biasa digunakan
adalah alcohol dan povidine-iodine. Akan tetapi, penelitian terbaru
membuktikan bahwa penggunaan povidine-iodine dapat menimbulkan efek
samping karena di absobsi oleh kulit dan berkaitan dengan terjadinya
transien hipotiriodisme. Alcohol juga tidak dianjurkan untuk merawat tali
pusat karena dapat mengiritasi kulit dan menghambat pelepasan tali pusat.
Saat ini belum ada mengenai petunjuk penggunaan antiseptic yang baik dan
aman di gunakan untuk perawatan tali pusat, karena itu dikatakan yang
terbaik adalah menjaga tali pusat tetap kering dan bersih (Sarwono
Prawiroharndjo, 2014)

C. Masa Nifas
1. Pengertian Masa Nifas
Ada beberapa pengertian masa nifas antara lain :
a. Masa nifas dimulai beberapa jam sesedah lahirnya plasentasampai
dengan 6 minggu berikutnya (JHPEIGO,2002).
b. Masa nifas tidak kurang dari 10 dan tidak lebih dari 8 hari setelah
akhir persalinan, dengan pemantauan bidan sesuai dengan kebutuhan
ibu dan bayi (Bennet dan Brown,1999).

Masa nifas atau puerperium adalah mas pulih kembali, mulai dari
persalinan selesai hingga alat-alat kandungan kembali seperti prahamil.

2. Tujuan Asuhan Masa Nifas


Tujuan dari perawatan masa nifas adalah
a. Memulihkan kesehatan umum penderita

88
1) Menyediakan makanan sesuai dengan kebutuhan
2) Mengatasi anemia
3) Mencegah infeksi dengan memperhatikan kebersihan dan
sterilisasi
4) Mengembalikan kesehatan umum dengan pergerakan otot untuk
memperlancar peredaran darah
b. Mempertahankan kesehatan psikologis
c. Mencegah infeksi dan komplikasi
d. Memperlancar pembentukan produksi ASI
e. Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai masa
nifass selesai dan memelihara bayi dnegan baik, senhingga bayi dapat
mengalami pertumbuhan dan perkembangan normal.
3. Tahapan Masa Nifas
a. Puerperium dini, yaitu masa kepulihan yang dalam hal ini ibu telah
diperbolehkan berdiri dan berjalan.
b. Puerperium intermidal, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital,
yang lamanya sekitar 6-8 minggu
c. Remote puerperium, yaitu waktu yang di perlukan untuk pulih dan
sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan
mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna mungkin
beberapa minggu, bulan dan tahun
4. Asuhan tindak lanjut masa nifas
a. Enam hari post partum
Pada kunjungan pertama ini, yang perlu bidan kaji adalah :
1) Memeastikan infolusi berjalan dengan normal, uterus berkontraksi,
fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal dan
tidak ada bau.
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan
abnormal

89
3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihaykan
tanda-tanda infeksi.
5) Bagaimana adaptasi pasien sebagai ibu dalam melaksanakan
perannya di rumah.
6) Bagaimana perwatan diri dan bayi sehari-hari, siapa membanu, dan
sejauh mana dia membantu.
Dari beberapa hasil pengkajian tersebut, bentuk asuhan yang di
berikan bidan dalam kaitannya dengan perubahan psikologis ibu,
antara lain :
1) Apabila terjadi baby blues, maka bidan harus melakukan
pendekatan kepada pasien dan keluarga, serta meningkatkan
dukungan mental terhadap pasien dengan melibatkan keluarga.
2) Menganjurkan dan memfasilitasi ibu untuk berdekatan dengan
bayinya.
3) Membantu ibu untuk mulai membasakan untuk menyusui
sesuai permintaan bayi (on demand)
4) Meemberi pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga
mengena pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu dan istirahat yang
cukup setelah melahirkan.
b. Dua minggu post partus
Dalam kunjungan ini, bidan perlu mengevaluasi ibu dan bayi.
Pengkajian terhadap ibu meliputi :
1) Presepsinya tentang persalinan dan kelahiran, kemampuan yang
sekarang dan bagaimna dia merespon terhadap bayi barunya.
2) Kondisi payudara, meliputi congesti, apakah ibu menyusui atau
tidak, tindakan kenyamanan apa yang ia gunakan untuk
mengurangi ketidaknyamanan.
3) Asupan maknannya, baik kualitas maupun kuantitasnya.

90
4) Nyer, kram abdomen, fungsi bowel.
5) Adanya kesulitan atau ketiknyamanan dengan urinasi.
6) Jumlah, warnah dan bau perdarahan lokea
7) Nyeri, pembengkakan perineum dan jika ada jahitan lihat
kerapatan jahitan
8) Adanya hemoroid dan tindakan kenyamanan yang digunakan.
9) Adanya nyeri, oedema dan kemarrahan pada ekstremitas bawah.
10) Apakah ibu mendaptkan istirahat yang cukup baik pada mlam hari
maupun siang hari.

Pegkajian terhadap bayi meliputi :

1) Suplai ASI.
2) Pola berkenmih dan buang air besar , termaksud frekuensinya.
3) Warnah kulit bayi, apakah atau ikterus sianosis.
4) Keadaan tali pusat, tanda-tanda infeksi.
5) Agaiman bayi berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya,

Bentuk asuhan yang diberikan padda tahap ini adalah :

1) Mendorong suami dan keluarga untuk lebih memperhatiakan ibu


nifas.
2) Memberikan dukungan dan aspresiasi atas apa yang telah
dilakukan oleh ibu untuk meningkatkan kemampuan dan
keterampilnnya merawat bayi dan dirinya.
3) Memastikan tidak ada kesulitan dlam proses menyusui.
c. Enam minggu post partum
Pengkajian (melalui anamnese) seperti pada kunjungan 2 minggu
post partum ditambah :
1) Permulaan seksual jumlah waktu, penggunaan kontrasepsi.
2) Metode KB yang ingin digunakan, dan riwayat KB yang lalu.

91
3) Adanya gejala demam, kedinginan, pilek dan sebagainya.
4) Keadaan payudara
5) Fungsi perkemihan.
6) Latihan pencegan otot perut.
7) Fungsi pencernaan, konstipasi, dan bagaimna penanganannya.
8) Resolusi lochea, apakah haid sudah mulai.
9) Kram atau nyeri tungkai.
5. Perubahan yang terjadi pada masa nifas
a. Perubahan sistem reproduksi
1) Uterus
a) Involusi
Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus
pada kondisi sebelum hamil. Dengan involusi uterus ini,
lapisan luar dari desi dua yang mengelilingi situs plasenta akan
menjadi neurotic ( layu / mati ).

Perubahan ini dapat di ketahui dengan melakukan


pemeriksaan palpasi untuk meraba dimana TFUnya ( tinggi
fundus uteri ).

(1) Pada saat bayi lahir, fundus uteri setinggi pusat dengan
berat 1000 gram.
(2) Pada akhir kala III, TFU teraba dua jari di bawah pusat.
(3) Pada 1 minggu post partum, TFU teraba pertengan pusat
simpisis dengan berat 500 gram.
(4) Pada 2 minggu post partum, TFU teraba di atas simpisis
dengan berat 350 gram.
(5) Pada 6 minggu post partum, fundus uteri mengecil ( tak
teraba ) dengan berat 50 gram.
b) Lochea

92
Lochea adalah eskresi cairan rahim selama masa nifas.
Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desi dua yang
nekrotik dari dalam uterus.

Lochea di bedakan 3 jenis berdasarkan warna dan


waktu keluarnya :

(1) Lochea Rubra / merah


Lochea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke 4 masa
post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena
terisi darah segar, jaringan sisa – sisa plasenta, dinding
rahim, lemak bayi, lanugo ( rambut bayi ), dan mekonium.
(2) Lochea Sanguinolenta
Lochea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir, serta
berlansung dari hari ke 4 sampai hari ke 7 post partum.
(3) Lochea Serosa
Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena
mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi
plasenta. Keluar pada hari ke 7 sampai hari ke 14.
(4) Lochea Alba / Putih
Lochea ini mengandung leukosit, sel desi dua, sel epitel,
selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati.
Lochea alba ini dapat berlansung selama 2 – 6 minggu post
partum.
c) Perubahan pada serviks

Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk


serviks agak menganga seperti corong, segera segera setelah
bayi lahir. Bentuk ini di sebabkan oleh corpus uteri yang dapat
mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi

93
sehingga seolah – olah pada perbatasan antara corpus dan
serviks berbentuk semacam cincin.

d) Vulva
Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta
peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi.
Dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua
organ ini tetap dalam keadaan kendor. Setelah 3 minggu, vulva
dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae
dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali,
sementara labia menjadi lebih menonjol.
e) Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur
karena sebelumnya teregan oleh tekanan bayi yang bergerak
maju. Pada postnatal hari 5, perineum sudah mendapatkan
kembali sebagian tonusnya, sekalipun tetap lebih kendur dari
pada keadaan sebelum hamil.
2) Perubahan sistem pencernaan
Biasanya, ibu akan mengalami konstipasi setelah
persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu persalinan, alat
pencernaan mengalami tekanan yang menyebabkan kolon menjadi
kosong, pengeluaran cairan berlebih pada waktu persalinan,
kurangnya asupan cairan dan makanan, serta kurangnya aktivitas
tubuh.

Supaya buang air besar normal, dapat diatasi diet tinggi


serat, peningkatan asupan cairan, dan ambulasi awal. Bila ini tidak
berhasil, dalam 2 – 3 hari dapat di berikan obat laksansia.

3) Perubahan sistem perkemihan

94
Setelah proses persalinan berlansung, biasanya ibu akan
sulit untuk buang air kecil dala 24 jam pertama. Kemungkinan
penyebab dari keadaan ini adalah terdapat spasme sfinkter dan
edema leher kandung kemih sesudah bagian ini mengalami
kompresi ( tekanan ) antara kepala janin dan tulang pubis selama
persalinan berlansung.
Urine dalam jumlah besar akan di hasilkan dalam 12 – 36
jam post partum. Kadar hormon strogen yang bersifat menahan air
akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan tersebut di
sebut “diuresis“. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal
daam 6 minggu.
Dinding kandung kemih memperlihatkan odem dan
hyperemia, kadang – kadang odem trigonum yang menimbulkan
alostaksi dari uretra sehingga menjadi retensio urine. Kandung
kemih dalam masa nifas menjadi kurang sensitif dan kapasitas
bertambah sehingga setiap kali kencing masih tertinggal urine resi
dual ( normal kurang lebih 15 cc ). Dalam hal ini, sisa urine dan
trauma pada kandung kemih sewaktu persalinan dapat
menyebabkan infeksi.
4) Perubahan sistem muskuloskeletan
Ligamen-ligamen, diafragma velvis, serta fasia yang
meregang pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur menjadi
ciut dan pulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh ke
belakang dan menjadi retropleksi karena ligamentum rotundum
menjadi kendor. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6 – 8
minggu setelah persalinan. Untuk memulihkan kembali jaringan –
jaringan menunjang alat genetalia, serta otot – otot dinding perut
dan dasar panggul, dianjurkan untuk melakukan latihan – latihan
tertentu.

95
5) Perubahan sistem endokrim
a) Hormon plasenta
Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan.
HCG ( Human Chorionic Gonadotropin ) menurun dengan
cepat dan menetap sampai 10% dala 3 jam hingga hari ke 7
post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke
3 post partum.
b) Hormon pituitary
Prolaktin darah akan meningkat dengan cepat. Pada wanita
yang tidak menyusui, prolaktin menurun dalam waktu 2
minggu. FSH dan LH akan meningkat pada fase konsentrasi
polikuler ( minggu ke 3 ) dan LH tetap rendah hingga ovulasi
terjadi.
c) Hypotalamik pituitary ovarium
Lamanya seorang wanita mendapat menstruasi juga
dipengaruhi oleh faktor menyusui. Seringkali menstruasi
pertama ini bersifat anovulasi karena rendahnya kadar estrigen
dan progesteron.
d) Kadar estrogen
Setelah persalinan, terjadi penurunan kadar estrogen yang
bermakna sehingga aktivitas prolaktin yang juga sedang
meningkat dapat memengaruhi kelenjar mamae dalam
menghasilkan ASI.
6) Perubahan tanda vital
a) Suhu badan
Dalam 1 hari ( 24 jam ) post partum, suhu badan akan
naik sedikit ( 37,5oc – 38oc ) sebagai akibat kerja keras sewaktu
melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan
normal, suhu badan menjadi. Biasanya, pada hari ke 3 suhu

96
badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI. Payudar
menjadi bengkak dan berwarna merah karena banyaknya ASI.
Bila suhu tidak turun, kemungkinan adanya inpeksi pada
endometrium ( mastitis, tractus genetalis, atau sistem lain ).
b) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60 – 80
kali per menit. Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan
lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihin 100 kali per
menit adalah abnormal dan hal ini menunjukkan adanya
kemungkinan inpeksi.
c) Tekanan darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan
tekanan darah akan lebih rendah setelah ibu melahirkan karena
ada perdarahan. Tekanan darah tingga pada saat post partum
dapat menendakan terjadinya pre eklamsi post partum.
d) Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan suhu dan
denyut nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal maka pernapasan
juga akan mengukutinya, kecuali bila ada gangguan khusus
pada saluan pencernaan.
7) Perubahan sistem kardiovaskuler
Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk
menampung aliran darah yang meningkat, yang diperlukan oleh
plasenta dan pembuluh darah uteri. Penarikan kembali estrogen
menyebabkan diuresis yang terjadi secara cepat sehingga
mengurangi volume plasma kembali pada proporsi normal. Aliran
ini terjadi dalam 2 – 4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama
masa ini, ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urine. Hilangnya
pengesteran membantu mengurangi retensi cairan yang melekat

97
dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama
kehamilan bersama – sama dengan trauma masa persalinan. Pada
persalinan, vagina kehilangan darah sekitar 200 – 500 ml,
sedangkan pada persalinan dengan SC, pengeluaran 2 kali lipatnya.
Perubahan terdiri dari volume darah dan kadar Hm ( haematokrit ).
8) Perubahan sistem hematology
Selama minggu – minggu terakhir kehamilan, kadar
fibrinogen dan plasma, serta faktor – faktor pembekuan darah
makin meningkat pada hari pertama post partum, kadar fibrinigen
dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah akan mengental
sehingga meningkat faktor pembekuan darah. Leukositosis yang
meningkat dengan jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000
selama proses persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari
post partum. Jumlah sel darah tersebut masih dapat naik lagi
sampai 25.000 – 30.000 tampa adanya kondisi patologis jika
wanita tersebut mengalam persalinan yang lama (Sulistyawati,
2009 : 73-82)
6. Program dan kebijakan nasional tentang kunjungan masa nifas
Tabel 1.3 Kebijakan Program Masa Nifas
Kunjungan waktu Tujuan
1 6-8 jam setelah a. Mencegah perdarahan masa nifas akibat
persalinan atonia uteri.
b. Mendeteksi dan merawat penyebab
laian perdarahan dan rujuk jika
perdarahan berlanjut.
c. Member konseling pada ibu atau salah
satu anggota keluarga mengenai cara
mencegah perdarahan maa nifas akibat
atonia uteri.
d. Pemberian ASI awal.

98
e. Melakukan hubungan antara ubu dan
bayi baru lahir.
1) Menjaga bayi tetap ssehat dan
mencegah hipotermia.
2) Petugas kesehatan yang menolong
persalinan harus mendampingi ibu
dan bayi baru lahir selama 2 jam
pertama setelah kelahiran atau
sampai ibu dan bayi dalam keadaan
stabil.
2 6 hari setelah a. Memastikan involusia berjalan
persalinan dengan normal, uterus
berkontraksi, fundus dibawah
umbilicus, tidak ada perdarahan
abnormal, dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya demam.
c. Memastikan agar ibu
mendapatkan cukup makanan,
cairan dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui
dengan baik, dan tidak
memperlihatkan tanda penyulit.
e. Memberikan konseling pada ibu
tentang asuhan pada bayi,
perawatan tali pusat, menjaga
bayi tetap hangat, dan perawatan
bayi sehari-hari.
3 3 minggu a. Memastikan involusia berjalan
setelah dengan normal, uterus
persalinan berkontraksi, fundus dibawah

99
umbilicus, tidak ada perdarahan
abnormal, dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya demam.
c. Memastikan agar ibu
mendapatkan cukup makanan,
cairan dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui
dengan baik, dan tidak
memperlihatkan tanda penyulit.
e. Memberikan konseling pada ibu
tentang asuhan pada bayi,
perawatan tali pusat, menjaga
bayi tetap hangat, dan perawatan
bayi sehari-hari.
4 6 minggu a. Mengkaji kemungkinan penyulit
setelah pada ibu.
persalinan b. Member konseling tentang
keluarga berancana (KB) secara
dini.

Sumber : Walyani dan Purwoastuti, 2015


7. Penatalaksanaan Masa Nifas
a. After Pain (Kram perut)
Hal oini disebabkan karena adanya serangkaian kontraksindan
relaksasi yangb terus menerus pada uterus.gangguan ini lebih bayak
terjadi pada wanita multipara dan wanita menyusui. Cara yang tepat
untukmengurangi after pain adalah denganamengosongkan kandung
kemih, yang penuh yang menyebabkan kontraksi uterus yang tidak

100
optimal. Ketika kandung kemih kosong, ibu dapat telungkup dengan
bantal dibawah perut. Hal ini akan menjaga kontraksi dan
menghilangkan nyeri. Pada keadaan ini dapat juga diberi analgetik (
Parasetamol, asam mefenamat, kodein, atau asteminofen).
b. Pembengkakan payudara
Pembengkakan payudara terjadi karena adanya gangguan
antara akumulasi air susu dan meningkatnya vaskularitar dan kongesti.
Hal tersebut menyebabkan penyumbatan pada saluran limfe dan vena,
terjadi pada hari ke tiga post partum baik pada penyusui maupun tidak
menyusui dan berakhir kira-kira 24-28 jam.
Tanda dan gejala ganguan ini meliputi ibu merasa payudaranya
bengkak dan mengalami distensi, kulit payudara menjadi mengilat dan
merah, payudara jadi hangat jika disentuh, vena payudar terlihat,
payudara nyeri, terasa keras, dan penuh. Cara mengurangi, antara lain :
1) Untuk ibu menyusui
a) Menyusui sesering mungkin
Menyusui setiap 2-3 jam sekali secara teratur tanpa makanan
tambahan.
Gunakan payudara saat menyusui
(1) Gunakan air hangat pada payudara, dengan menempelkan
kain atau handuk yang hangat pada payudara
(2) Pada payudaya diantara waktu menyusui untuk mengurangi
nyeri
(3) Minum parasetamol /asetaminofen untuk mengurangi rasa
nyeri
2) Bagi ibu yang tidak menyusui
a) Gunakan bra yang kuat menyangga payudara dan tepat
ukurannya

101
b) Pada payudara untuk mengurangi rasa nyeri dan menghalangi
aliran ASI
c) Yakinkan diri bahwa itu hanya terjadi selama 24-48 jam
d) Hindari masase payudara dan memberi sesuatu yang hangat
pada payudara karena dapat meningkatkan produksi ASI
e) Minum parasetamol /asetaminofen untuk mengurangi rasa
nyeri
c. Nyeri perineum
Nyeri perineum dapat disebabkan oleh episotomi, laserasi atau
jahitan. Sebelum memberikan asuhan, sebaiknya bidan mengkaji
apakah nyeri yang dialami ibu normal atau ada komplikasi,seperti
hematoma atau injeksi.
Asuhan yang dapat diberikan untuk nyeri perineum ,yaitu:
1) Letakkan kantong es didaerah genital untuk mengurangi rasa
nyeri, selama ±20 menit,2 atau 3 kali sehari
2) Lakukan rendam duduk dalam air hangat atau dingin selama
10-15 cm selama 30 menit, 2 atau 3 kali sehari. Perhatikan
kebersihan bak mandi agar tidak terjadi injeksi ( tidak
dilakukan pada ibu dengan jahitan di perineum)
3) Lakukan latihan kegal untuk meningkatkan sirkulasi didaerah
tersebut dan membantu memulihkan tonus otot. Untuk
melakukan hal ini .bayangkan otot perineum sebagai
elevator.Ketika rileks,elevator tersebut berada dilantai
satu.Secara perlahan,kontraksikan otot anda untuk
mengangkatkan kelantai dua,tiga,dan empat.
4) Minum parasetamol /asetaminofen untuk mengurangi nyeri
d. Manajemen konstipasi
Pada umumnya , sebangian besar wanita akan defeksi dalam
tiga hari pertama setelah persalinan, kemudian akan kembali kebiasan

102
semula. Namum ,ada sebagian wanita yang mungkin menemui
masalah konstipasi setelah melahirkan. Hal ini karena motilitas
ususnya berkurang selama persalinan dan sementra waktu setelahnya.
Obat anestesi selama persalinan dapat mengurangi motilitas usus.
Akan tetapi, dapat juga karena rasa takut sakit dan merusak / merobek
jahitan . Asuhan yang dapat dilakukan, antara lain :
1) Meningkatkan jumlah cairan yang diminum
2) Meningkatkan jumlah makanan berserat
3) Mengkomsumsi buah-buahan.
4) Istirahat yang cukup
5) Biasakan defekasi tepat waktu
6) Defekasi pada saat pertama kali ada dorongan
7) Beri laksatif untuk melunakkan feses bila konstipasi parah.

D. Keluarga Berencana
1. Pengertian Keluarga Berencana
Keluarga berencana merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif
yang paling dasar dan utama bagi wanita,meskipun tidak selalu diakui
demikian.Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana
merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian ibu yang sedemikan tinggi akibat kehamilan yang alami oleh
wanita.(Frisca Tresnawati.2013:120)
2. Tujuan Keluarga Berencana
Defenisi keluarga berencana Menurut WHO Expert Commite,(1970)
keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau
pasangan suami istri untuk :
a. Mendapatkan objektif –objektif tertentu
b. Menghindarkan kelahiran yang tidak diinginkan.
c. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan .

103
d. Mengatur interval di antara kelahiran waktu saat kelahiran.
e. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami
istri.
f. Menentukan jumlah anak dalam keluarga
(Saroha Pinem,2009.: 188)
3. Jenis-jenis Kontrsepsi
a. Metode Amenorea Laktasi (MAL)
1) MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI
secara ekslusif.
2) MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila: menyusui secara
penuh, lebih efektif jika pemberian belum haid 8x sehari, belum
haid, usia bayi kurang dari 6 bulan.
3) Efektif sampai 6 bulan dan harus dilanjutkan dengan pemakaian
metode kontrasepsi lain.
Cara kerja: menunda/menekan ovulasi
1) Keuntungan kontrasepsi adalah :
Efektifitas tinggi (keberhasilan 98%) pada bulan pertama
setelah melahirkan, segera efektif, tidak mengganggu sanggama,
tidak ada efek samping secara sistemik, tidak perlu pengawasan
medis, tidak perlu obat atau alat dan tanpa biaya.
2) Keuntungan nonkontrasepsi
a) Untuk bayi: mendapat antibodi perlindungan lewat ASI
(kekebalan pasif, sumber asupan gizi terbaik dan sempurna
untuk tumbuh kembang bayi yang optimal, tidak terpapar
dengan air, susu lain atau susu formula, atau alat minum yang
di pakai).
b) Untuk ibu: mengurangi perdarahan post partum, mengurangi
resiko anemia, meningkatkan hubungan psikologi ibu dan bayi.

104
Keterbatasan:
1) Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui
dalam 30 menit pasca persalinan
2) Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial.
3) Efektifitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai
dengan 6 bulan.
4) Tidak melindungi terhadap infeksi menular seksual, termaksud
hepatitis B (HBV) dan HIV / AIDS
5) Yang dapat menggunakan MAL adalah ibu yang menyusui secara
eksklusif, bayinya berusia kurang dari 6 bulan dan belum
mendapat haid setelah melahirkan.
Yang dapat menggunakan MAL
Ibu yang dapat menggunakan MAL adalah ibu yang menyusui
secara eksklusif, bayinya berusia kurang dari 6 bulan dan belum
mendapat haid setelah melahirkan.
Ibu seharusnya tidak menggunakan MAL
Jika sudah mendapat haid setelah bersalin, tidak menyusui
secara ekslusif, bayi sudah berusia lebih dari 6 bulan, bekerja dan
terpisah dari bayi lebih dari 6 jam.
untuk kontrasepsi dan kesehatan :
1). Anda memerlukan metode kontrasepsi lain ketika mulai dapat haid
lagi, jika tidak lagi menyusui secara eksklusif, atau bila bayi anda
berusia 6 bulan.
2). Konsultasi dengan bidan/dokter atau di klinik/puskesmas sebelum
mulai memakai kontrasepsi lain.
3). Jika suami/pasangan berisiko tinggi terpapar infeksi Menular
Seksual, termaksud AIDS, maka istri harus memakai kondom
ketika memakai MAL.

105
4) bila ibu menyusui tidak secara esksklusif atau berhenti menyusui
maka: ibu perlu memakai kondom atau kontrasepsi lain,
melakukan kunjungan ke klinik KB untuk mendapatkan bantuan
atau mendapatkan kontrasepsi yang sesuai.
b. Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)
Metode KBA efektif bila di pakai dengan tertib, tidak ada efek
samping, tetapi ibu harus belajar untuk mengetahui kapan masa
suburnya tiba dan secara sukarela menghindari senggama pada masa
subur ibu atau melakukan senggama untuk mendapatkan kehamilan.
1) Keuntungan dan keterbatasan dari Metode KB Alamiah :
Keuntungan
a) Untuk pasangan yang menginginkan kehamilan, metode Suhu
Badan Basal (SBB), metode lendir serviks dapat menentukan
hari subur sehingga senggama dapat di rencanakan. Pasangan
dianjurkan untuk bersenggama selang sehari mulai dari hari ke-
9 sampai SBB mencapai kenaikan suhu yang khas.
b) Dapat di gabungkan dengan metode kontrasepsi lain, misalnya
dengan metode barrier.
c) Aman dan murah, tanpa biaya.
Keterbatasan
a) Kurang efektif di bandingkan dengan metode kontrasepsi lain
(9-20 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama
pemakaian.
b) Efektifitasnya tergantung kemauan dan disiplin pasangan untuk
mengikuti instruksi. Perlu pencatatan setiap hari, perlu pantang
selama masa subur
c) Perlu ada pelatiahan untuk menggunakan metode KBA yang
paling efektif secara benar.
d) Infeksi vagian membuat lendir serviks sulit dinilai

106
e) Tidak terlindungi dari infeksi menular seksual (IMS) seperti
virus Hepatitis B dan HIV / AIDS.
2) Yang dapat menggunakan keluarga berencana alamiah
a) Untuk kontrasepsi
(1) Semua perempuan dalam masa reproduksi, baik siklus haid
teratur maupun tidak teratur, tidak haid baik karena
menyusui maupun pramenopause.
(2) semua perempuan dengan paritas berapapun termaksud
nulipara.
(3) perempuan kurus atau gemuk.
(4) perempuan yang merokok.
(5) perempuan dengan alasan kesehatan tertentu seperti
hipertensi sedang, varises, dismonorea, sakit kepala sedang
atau hebat, mioma uteri, anemia defesiensi besi, hepatitis
virus, malaria, trombosis vena dalam, atau emboli paru.
(6) pasangan dengan alasan agama atau filosofi untuk tidak
menggunakan metode lain.
(7) perempuan yang tidak dapat menggunakan metode lain.
(8) pasangan yang ingin berpantang senggama lebih dari
seminggu pada setiap siklus haid.
(9) pasangan yang ingin dan termotivasi untuk mengobservasi,
mencatat dan menilai tanda dan gejala kesuburan.
b) Untuk kontrasepsi: pasangan yang ingin mendapatkan
kehamilan, senggama dilakukan pada masa subur
3) Yang seharusnya tidak menggunakan KB alamiah:
a) Perempuan yang dari faktor usia, paritas atau masalah kehatan
membuat kehamilan merupakan resiko tinggi.
b) Perempuan sebelum mendapat haid (menyusui segera setelah
abortus), kecuali metode ovulasi billing (MOB).

107
c) Perempuan denga siklus haid yang tidak teratur, kecuali MOB
d) Perempuan yang pasangannya tidak mau berpantang selama
waktu tertentu, kecuali MOB
e) Perempuan yang tidak suka menyentuh daerah genetalianya.
4) Komplikasi metode KB alamiah.
a) Komplikasi yang langsung tidak ada.
b) Tetapi bila terjadi kegagalan / ibu hamil, data menunjukkan
timbulnya kelainan-kelainan pada janin sehubungan dengan
terjadinya fertilisasi oleh spermatozoa dan ovum yang berumur
tua / terlalu matang.
5) Kontra indikasi metode KB Alamiah :
a) Siklus haid yang tidak teratur
b) Riwayat siklus haid yang an-ovulatior
c) Kurve suhu badan yang tidak teratur
1) Macam-macam metode KB Alamiah (untuk menentukan saat ovulasi)
yaitu:
a) Metode kalender (Ogino-Knaus)
(1) Teknik metode kalender :
(a) Untuk menentukan awal masa subur dengan mengurangi
18 hari dari siklus haid terpendek.
(b) Untuk menentukan akhir masa subur dengan mengurangi
11 hari dari siklus haid terpanjang
(2) Masa ovulasi
(a) Pada siklus terpendek: tanggal 26 – 14 hari= tanggal 12
september. Lebih cepat atau lebih lambat 2 hari. Jadi
novulasi antara tanggal 10 september – 14 september.
(b) Pada pada siklus terpanjang: tanggal 29 – 14= tanggal 15
septerber, lebih cepat atau lebih lambat 2 hari. Jadi ovulasi
antar tanggal 13 september – 17 september. Jadi masa

108
ovulasi pada siklus haid 26 – 29 hari tersebut adalah mulai
tanggal 10 september samapai tanggal 17 september.
b) Metode suhu badan basal (Termal)
peninggian suhu badan basal 0,2 – 0,5 °C pada waktu ovulasi.
Peningkatan suhu badan basal di sebabkan oleh peningkatan kadar
hormon progesteron, mulai 1 – 2 hari setelah ovulasi.
(1) Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu badan basal :
(a) Influenza atau infeksi saluran pernafasan lain.
(b) Peradangan lokal lidah, mulut atau daerah anus.
(c) Penyakit-penyakit lain yang meningkatkan suhu badan.
(d) Jam tidur yang tidak teratur.
(e) Faktor-faktor situasional seperti mimpi buruk, menganti
popok bayi pada pukul 6 pagi dll.
(f) Minum minuman panas atau dingin sebelum
pengambialan suhu badan basal
(g) Gagal membaca termometer dengan tepat

c) Metode lendir serviks atau metode ovulasi billings (MOB)


perubahan siklus dari lendir serviks yang terjadi karena
perubahan kadar estrogen.
Cara pemeriksaan lendir serviks:
Masa subur dapat di pantau melalui lendir serviks yang keluar
dari vagina, pengamatan sepanjang hari, dan ambil kesimpulan
pada malam hari.
(1) Ciri-ciri lendir serviks pada berbagai fase dari siklus haid (30)
hari :
(a) Fase 1. Haid hari 1-5, lendir dapat ada atau tidak dan
tertutup oleh darah haid.

109
(b) Fase 2. Pasca haid hari ke 6-10, tidak ada lendir atau
kalaupun ada sedikit sekali
(c) Fase 3. Awal pra-ovulasi, hari 11 – 13, lendir keruh, kuning
atau putih dan liat (kenyal).
(d) Fase 4. Segera sebelum pada saat dan sesudah ovulasi hari
ke 14-17. Lendir bersifat jernih licin, basah, dapat di
regangkan konsistensinya seperti putih telur.
(e) Fase 5. Pasca ovulasi hari ke 18-21, lendir sakit, keruh dan
liat . perasaan liat atau lembab
(f) Fase 6. Akhir pasca ovulasi atau segera pra-haid, hari ke
27-30, lenir jernih seperti air.
(2) Teknik metode lendir serviks
(a) Untuk kontrasepsi
Lendir mungkin berubah pada hari yang sama, periksa
lendir setiap kali kebelakang dan sebelum tidur, kecuali ada
perasaan sangat basah waktu siang. Setiap malam sebelum
tidur, tentukan tingkat paling subur (menurut kode diatas)
dan berarti tanda pada catatan dengan kode yang sesuai
(b) Berpantang dimulai pada hari pertama diketahui adanya
lendir setelah haid dan berlanjut sampai dengan hari
keempat setelah gejala puncak
(c) Hindari senggama pada waktu haid karena hari-hari ini
tidak aman. Pada siklus pendek, ovulasi dapat terjadi pada
hari-hari haid.
(d) Pada hari kering setelah haid, aman untuk bersenggama
selang satu malam (aturan selang-seling) untuk
menghindari ibu bingung dengan cairan sperma dan lendir
(e) Segera setelah ada lendir jenis apapun atau perasaan basah
muncul, hindari senggama.

110
(f) Tandai hari terakhir dengan lendir paling licin dan mulur
dengan tanda X. Ini adalah hari-hari puncak hari ovulasi
dan merupakan hari yang paling subur.
(g) Setelah hari puncak, hindari senggama untuk 3 hari berikut
siang dan malam (aturan puncak). Mulai dari pagi hari
keempat setelah kering, adalah hari-hari aman untuk
bersenggama sampai akhir haid berikutnya
(h) Pada siklus yang tidak teratur (pada pasca persalinan atau
pramenopause), maka perlu memperhatiakan pola dasar
ketidak suburan (PDTS) dimana ada waktu 1-2 hari subur
yang menyelingi diantar hari-hari tidak subur.
(i) Untuk konsepsi (mendapat kehamilan) : bersenggama pada
setiap siklus pada setiap siklus pada hari-hari terdapat
lendir yang terasa mulur, basah dan licin.
(3) Penyulit metode lendir serviks
(c) Keadaan fisiologis: sekresi vagian karena
rangsanagan seksual.
(4) Keadaan patologis: infeksi vagina, serviks, penyakit dan
pamekaian obat-oabatan
Keadaan psikologis; stress fisik dan emosional.
(5) Efektifitas metode lendir serviks
(a) Keadaan fisiologis: sekresi vagian karena rangsanagan
seksual.
(b) Keadaan patologis: infeksi vagina, serviks, penyakit dan
pamekaian obat-oabatan
(c) Keadaan psikologis; stress fisik dan emosional.
(6) Efektifitas metode lendir serviks
(a) Angka kegagalan 0,4-39,7 kehamilan pada 100 wanita
pertahun

111
(b) Di samping berpantangan pada saat di perlukan, masih ada
3 sebab lainnya terjadi kegagalan/kehamilan yaitu :
mulainya pengeluaran lendir terlambat, gejala-gejala
puncak timbul terlalu dini, lendir tidak dirasakan oleh si
wanita atau menilainya salah.
d. Metode senggama terputus atau coitus interuptus
Adalah suatu metode kontrasepsi dimana senggama diakhiri
sebelum terjadi ejakulasi intra-vaginal. Cara kerja: alat kelamin (penis)
dikeluarga sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk kedalam
vagina. Dengan demikian tidak ada pertemuan antara spermatozoa
dengan ovum sehingga kehamilan dapat dicegah.
1) Keuntungan :
a) Kontrasepsi
(1) Efektif bila di laksanakan dengan benar.
(2) Tidak mengganggu produksi ASI
(3) Dapat di gunakan sebagai pendukung metode KB lainnya
(4) Tidak ada efek samping
(5) Tidak memerlukan alat, murah
(6) Selalu tersedia setiap saat
b) Nonkontrasepsi
(1) Meningkatkan keterlibatan suami dalam KB
(2) Meningkatkan hubungan lebih dekat dan pengertian yang
mendalam pada pasangan
2) Keterbatasan :
a) Angka kegagalan cukup tinggi yaitu 4 – 27 kehamilan per 100
perempuan pertahun
b) Efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak
ejakulasi masih melekat pada penis
c) Memutus kenikmatan dalam hubungan seksual

112
Tidak dapat di pakai untuk :
a) Suami dengan pengalaman ejakulasi dini
b) Suami yang sulit melakukan senggama terputus
c) Suami yang memiliki kelainan fisik atau psikologis
d) Isteri yang mempunyai pasangan sulit bekerjasama
e) Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi
f) Pasangan yang tidak bersedia melakukan senggama terputus.
Hal penting yang harus di ketahui oleh akseptor :
a) Sebelum berhubungan, pria lebih dahulu menggosongkan kandung
kemih dan membersihkan ujung penis untuk membersihkan penis
dari ejakulasi sebelumnya
b) Meningkatkan kerjasama dan membangun hubungan saling
pengertian sebelum melakukan senggama dan pasangan harus
mendiskusikan dan menyepakati pengunaan metode senggama
terputus
c) Bila pria merasa akan berejakulasi, maka ia harus segera
mengeluarkan penisnya dari dalam vagina, jauh dari orifisium
vagina
d) Sebaiknya tidak melakukan senggama pada masa subur.
e. Metode Barier
1) Kondom untuk pria
menghalangi masuknya spermatozoa ke dalam traktus genitalia
interna perempuan.
a) Profil Kondom
(1) Kondom merupakan sarung/selubung karet yang berbentuk
silinder, dapat terbuat dari lateks (karet), plastic (vini) atau
bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis
saat bersenggama. Muaranya berbentuk tebal dan kalau

113
digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti
putting susu.
(2) Dilihat dari ketebalan, pada umumnya adalah 0,02 mm
(3) Tipe kondom : kondom biasa, kondom bergerigi, kondom
beraroma, kondom tidak berorama, kondom pria dan
wanita.
b) Indikasi penggunaan kondom :
(1) Pada laki-laki : penyakit genitalia, penis sensitive terhadap
secret vagina, ejakulasi dini.
(2) Pada perempuan :
(a) Vaginitis, termasuk yang sedang dalam pengobatan
(b) Kontraindikasi terhadap penggunaan alat kontrasepsi
dalam Rahim (AKDR) sedangkan pemasangan
diafragma atau kap serviks tidak memungkinkan baik
secara anatomis maupun psikologis.
(c) Untuk membuktikan bahwa tidak ada semen yang
dilepaskan ke dalam vagina.
c) Cara Penggunaan Kondom
(1) Gunakan kondom setiap kali akan melakukan hubungan
seksual (gunakan kondom hanya untuk satu kali pakai).
(2) Jangan menggunakan gigi, atau benda tajam lainnya pada
saat membuka kemasan. Jangan gunakan kondom jika
kemasannya robek, atau kondom tampak lapuk atau kusut.
(3) Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermisida
ke dalam kondom.
(4) Pasang kondom pada saat penis ereksi, tempelkan ujungnya
pada glans penis dan tempatkan bagian penampung sperma
pada ujung uretra. Lepaskan gulungan karetnya dengan
cara menggeser gulungan tersebut kea rah pangkal penis.

114
(5) Bila kondom tidak mempunyai bagian penampung sperma
pada ujungnya, longgarkan sedikit pada bagian ujungnya
agar tidak terjadi robekan pada saat ejakulasi.
(6) Sebelum mencabut penis, pegang bagian pangkal kondom
sehingga kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut.
Lepaskan kondom di luar vagina sebelum penis lembek,
kemudian buang di tempat yang aman.
(7) Simpan persediaan kondom di rumah, jangan disimpan di
tempat yang panas karena dapat menyebabkan kondom
rusak. Jangan gunakan minyak goreng atau minyak mineral
atau pelumas dari bahan petrolatum karena dapat segera
merusak kondom.
f. Barier Intra Vaginal pada Perempuan
menghalangi masuknya spermatozoa ke dalam saluran
genitalia interna wanita dan immobilisasi atau mematikan spermatozoa
oleh spermisidnya.
1) Keterbatasan Metode Barier Intra-vaginalis :
a) Angka kegagalan relatif tinggi
b) Aktivitas hubungan seks harus dihentikan sementara untuk
memasangya.
c) Perlu dipakai setiap kali bersenggama.
2) Macam-macam barrier intra-vaginal yaitu : diafragma, kap serviks,
spons, kondom wanita.
a) Diafragma
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung (mangkok),
terbuat dari lateks (karet) yang diinsersikan ke dalam vagina
sebelum berhubungan dan menutup serviks.

115
Cara kerjanya menahan sperma agar tidak mendapatkan akses
mencapai akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas
(uterus dan tuba falopii) dan sebagai alat tempat spermisida.
(1) Keuntungan diafragma :
(a) Sangat efektif bila dipakai dengan benar dan bila
digunakan dengan spermisida
(b) Aman, tidak mengganggu kesehatan klien, tidak
mempunyai pengaruh sistemik.
(c) Diawasi sendiri oleh pemakai.
(d) Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah
terpasang sampai 6 jam sebelumnya.
(e) Hanya dipaai bila diperlukan.
(f) Tidak mempengaruhi laktasi
(g) Dapat dipaai selama haid (tetapi sangat tidak
dianjurkan).
(h) Mempunyai efek perlindungan terhadap
IMS/HIV/AIDS bila digunakan dengan spermisida.
(2) Kerugian/Keterbatasan
(a) Efektifitas angka kegagalan 6-16 kehamilan per 100
perempuan per tahun.
(b) Kurang popular karena memerlukan tingkat motivasi
tinggi dari pemakainya.
(c) Perempuan perlu memanipulasi genitalianya sendiri.
(d) Untuk pemakaian awal perlu bimbingan/instruksi cara
pemasangan oleh tenaga klinik yang terlatih.
(e) Menjadi mahal bila sering dipakai, karena perlu biaya
untuk pembelian spermisidnya.
(f) Insersinya relatif sulit

116
(g) Pada kasus tertentu dapat terasa oleh suami saat
bersenggama.
(h) Beberapa perempuan mengeluh “basah/becek”
disebabkan spermisidnya.
(i) Pada beberapa pemakai dapat menyebabkan infeksi
uretra.
(j) Kemungkinan timbulnya Sindrom Syok Toksik (TSS).
Syok disebabkan oleh toksin yang dihasilkan bakteri
staphylococcus aureus.
Wanita dan keluarga harus diajari tanda-tanda
TSS yaitu : demama, diarrhoe, muntah, nyeri otot dan
ras (seperti tersengat matahari). Jika diduga terjadi syok
keracunan, segera rujuk klien ke fasilitas kesehatan
yang lebih lengkap. Berikan rehidrasi per oral dan
analgetik seperti aspirin atau antalgin jika suhu tubuh >
38℃.
(3) Penilaian klien untuk penguna diafragma :
Klien yang sesuai :
(a) Tidak menyukai metode kontrasepsi hormonal, usia di
atas 35 tahun, perokok.
(b) Tidak menyukai penggunaan AKDR
(c) Memerlukan perlindungan terhadap IMS
(d) Memerlukan metode sederhana sambil menunggu
metode lain.

Klien yang tidak sesuai :

(a) Berdasarkan usia dan paritas serta masalah kesehatan


yang menyebabkan kehamilan menjadi berisiko tinggi.
(b) Infeksi saluran uretra.

117
(c) Tidak stabil secara psikis (tidak suka menyentuh vulva
dan vaginanya).
(d) Mempunyai riwayat sindrom syok toksik
(e) Ingin metode KB efektif.
(4) Cara penggunaan diafragma :
Instruksi yang perlu diberikan kepada klien adalah :
(a) Kosongkan kandung kemih
(b) Pastikan diafragma tidak berlubang (tes dengan mengisi
diafragma dengan air atau melihat menembus cahaya.
(c) Taruh sperside di dalam kubah dan disekeliling pinggir
alas diafragma. Untuk memudahkan pemasangan
tambahkan krim atau jelly, rems bersamaan dengan
pinggirannya.
(d) Posisi klien saat pemasangan : sambil jongkok, atau
satu kaki diangkat ke atas kursi atau dudukkan toilet,
atau sambil berbaring.
(e) Lebarkan kedua bibir vagina.
(f) Masukkan diafragma ke dalam vagina jauh ke
belakang, dorong bagian depan pinggiran ke atas
dibalik tulang pubis.
(g) Pindahkan jari ke dalam vagina sampai menyentuh
serviks, kemudian sarungkan karet diafragma pada
serviks. Pastikan serviks telah terlindungi seluruhnya.
(h) Diafragma dipasang sampai 6 jam sebelum
bersenggama. Jika senggama dilakukan lebih dari 6 jam
setelah pemasangan, tambahkan spermisida ke dalam
vagina.
(i) Setelah melakukan hubungan seksual, diafragma harus
tetap berada di dalam vagina paling sedikit selama 6

118
jam. Jangan tinggalkan diafragma dalam vagina lebih
dari 24 jam.
(j) Pencucian vagina bias dilakukan 6 jam kemudian
setelah bersenggama.
(k) Mengangkat diafragma dengan menggunakan jari
telunjuk dan jari tengah.
(l) Cuci diafragma dengan air sabun, keringkan dan
simpan kembali pada tempatnya.
g. Kap Serviks
Kap serviks adalah suatu alat kontrasepsi yang hanya menutupi
serviks saja.Dibandingkan dengan diafragma, kap serviks lebih tinggi
kubahnya (lebih dalam) tetapi lebih kecil diameternya, lebih kaku dan
menutupi serviks karena hisapan, bukan karena pegas.Pada saat ini
kap serviks terbuat dari karet.
1) Keuntungan kap serviks :
a) Efektif, meskipun tanpa spermisida, tetapi jika dibiarkan tetap
di serviks untuk waktu lebih dari 24 jam, perlu diberi
spermisida sebelum bersenggama untuk menambah
efektifitasnya.
b) Kap serviks dapat dibiarkan selama seluruh periode
intermenstrual, dan hanya perlu dikeluarkan pada saat
perkiraan datangnya haid (tetapi tidak dianjurkan).
c) Tidak terasa oleh suami saat bersenggama.
d) Dapat dipakai oleh perempuan sekalipun ada kelainan
anatomis dari vagina.
e) Kap serviks hanya menutupi serviks saja sehingga tidak
memerlukan pengukuran ulang bila terjadi perubahan tonus
otot vagina
f) Jarang terlepas selama senggama

119
2) Kerugian/keterbatasan kap serviks
Pemasangan dan pengeluarannya lebih sulit karena letak
serviks yang jauh di dalam vagina
3) Kontra indikasi penggunaan kap serviks :
a) Erosi atau laserasi serviks
b) Serviks terlalu panjang atau pendek
c) Riwayat infeksi saluran perkencingan yang berulang kali
d) Infeksi pada serviks, adnexa atau neoplasma serviks
e) Alergi terhadap karet atau spermisida
f) Hasil papsmear abnormal
g) Biopsy serviks atau kriosirurgi dalam 6 minggu terakhir
h) Post-partum < 6 − 12 minggu (pakai kondom)
i) Riwayat pernah mengalami toksik syok syndrome (TSS)
j) Ketidak mampuan perempuan untuk memasang dan
mengeluarkan kap dengan benar.
4) Efek samping dan komplikasi :
a) Timbulnya secret yang sangat berbau bila kap serviks
dibiarkan terlalu ama di vagina.
b) Yang selalu harus difikirkan adalahkemungkinan : toksik syok
syndrome, infeksi traktus urinarius yang berulang-ulang,
bertambahnya abnormalitas serviks sehubungan dengan HPV
(Human Papilloma Virus).
5) Memasang kap serviks :
a) Posisi tubuh perempuan jongkok atau setengah tidur/duduk
b) Isi kap serviks kurang lebih 1⁄3-1⁄2 bagian dengan
spermisida

120
c) Pegang kap serviks dengan jari telunjuk dan ibu jari dengan
kubah menghadap ke bawah sambil memijat pinggir alas kap
serviks bila terbuat dari karet
d) Tangan yang lain membuka bibir kemaluan
e) Kap serviks dimasukkan sepanjang dinding belakang vagina
sampai mencapai serviks
f) Dengan jari telunjuk, pinggir alas kap serviks ditekan di
sekeliling serviks sampai kubah kap serviks menutupi ostium
uteri dan ujung serviks dapat teraba di bawah kubah.
g) Kap serviks harus berada disitu selama minimal 6 jam setelah
senggama selesai
h. Spons
Sponsintral vaginal bentuknya seperti bantal dan salah satu
sisinya cekung, terbuat dariplyurethane yang mengandung
spermisida.Sisi lainnya mempunyai tali untuk mempermudah
pengeluarannya.
1) Cara kerja spons
Spons mempunyai efek kontraseptif karena :
a) Melepaskan spermisida yang terkandung di dalamnya.
b) Merupakan barrier antara spermatozoa dan serviks
c) Menangkap spermatozoa ke dalam spons
2) Kontra Indikasi ;
a) Riwayat toksik syok syndrome
b) Alergi terhadap polyurethane atau spermisidnya.
c) Ketidakmampuan perempuan untuk melakukan insersi dengan
benar
d) Kelainan anatomis pada vagina
3) Efek samping dan komplikasi :

121
a) Iritasi atau reaksi alergi yang umumnya disebabkan oleh
spermisidnya
b) Kemungkinan infeksi vagina oleh jamur bertambah besar
c) Kemungkinan timbulnya Syndrome Syok Toksik (10 per
100.000 akseptor per tahun).
i. Kondom perempuan
kombinasi antara diafragma dan kondom.
1) Insersi kondom :
Cincin di pasang tinggi di dalam vagina, dan tidak perlu
dipasang tepat menutupi serviks karena akan terdorong ke atas selama
senggama.
j. Spermisida vaginal
Spermisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk
menonaktifkan atau membunuh sperma di dalam vagina sebelum
spermatozoa bergerak ke dalam traktus genitalia interna.
1) Kemasan spermisida :
a) Suppositoria : dapat berbentuk larut dalam air atau yang tidak
larut dalam air.
b) Aerosol (busa): akan mengisi vagina dengan gelembug-
gelembung busa yang mengandung spermisida.
c) Krim : tidak larut dalam air
Cara kerja : menyebabkan sel membrane sperma pecah,
memperlambat gerakan sperma dan menurunkan kemampuan
pembuahan sel telur.
2) Manfaat :
a) Manfaat kontrasepi
b) Efektif seketika (bentuk busa dank rim)
c) Tidak mengganggu produksi ASI
d) Bias digunakan untuk mendukung metoda lain

122
e) Aman, tidak mengganggu kesehatan klien
f) Tidak mempunyai pengaruh sistemik
g) Mudah digunakan
h) Meningkatkan lubrikasi selama senggama
i) Tidak perlu pemeriksaan khusus dan resep Dokter
3) Keterbatasankerugian :
a) Efektifitas kurang (18-29) kehamilan per 100 perempuan per
tahun pertama).
b) Efektifitasnya hanya 1-2 jam
c) Karena harus diletakkan dalam-dalam di dalam vagina, ada
perempuan yang segan melakukannya.
d) Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah aplikasi
sebelum bersenggama
e) Dapat menimbulkan iritasi atau perasaan terbakar/panas pada
beberapa perempuan, atau iritasi penis.
f) Harus diberikan berulang kali untuk senggama yang berturut-
turut.
k. Kontrasepsi Hormonal :
Macam-macam Kontrasepsi Hormon Steroid
1) Pil Oral kombinasi
Pil kombinasi mengandung estrogen dan progesterone dengan
profil sebagai berikut :
a) Efektif dan reversible
b) Harus diminum setiap hari
c) Sangat jarang terjadi efek samping yang serius
d) Pada bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan
perdarahan bercak yang tidak berbahaya dan segera akan
hilang

123
e) Dapat digunakan oleh semua ibu usia reproduksi, baik yang
memiliki anak maupun yang belum.
f) Dapat diminum setiap saat jika yakin tidak sedang hamil
g) Tidak dianjurkan diminum oleh ibu yang menyusui
h) Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat
(1) Keuntungan :
a. Efektifitasnya tinggi
b. Resiko terhadap kesehatan sangat kecil
c. Tidak mengganggu hubungan seksual
d. Siklus haid menjadi teratur, mencegah anemia dan tidak terjadi
nyeri haid.
e. Dapat digunakan dalam jangka panjang
f. Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause
g. Dapat dihentikan setiap saat
h. Kesuburan segera kembali segera setelah penggunaan pil
dihentikan
i. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat
j. Dapat membantu mencegah : kehamilan ektopik, kanker
ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, penyakit radang
panggul, kelainan jinak pada payudara, dismenore atau akne.
(2) Keterbatasan :
a. Mual, terutama pada 3 bulan pertama
b. Perdarahan bercak terutama 3 bulan pertama
c. Pusing
d. Berat badan naik sedikit
e. Nyeri pada payudara
f. Berhenti haid (amenorea) jarang terjadi pada pil kombinasi
g. Mengurangi produksi ASI

124
h. Dapat menimbulkan depresi dan perubahan suasana hati
sehingga keinginan untuk bersenggama berkurang.
i. Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan
j. Tidak mencegah IMS, HIV/AIDS
k. Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya
setiap hari
(3) Yang boleh menggunakan Pil Oral Kombinasi :
a. Usia reproduksi
b. Telah atau belum memiliki anak, gemuk atau kurus
c. Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas tinggi
d. Setelah melahirkan tidak menyusui
e. Nyeri haid, siklus haid tidak teratur, anemia karena haid
berlebihan
f. Pasca keguguran
g. Riwayat kehamilan ektopik
h. Kelainan jinak payudara
i. Penyakit tiroid, radang panggul, endometriosis atau tumor
ovarium jinak, kencing manis tanpa komplikasi pada ginjal,
TBC dan varises vena.
(4) Yang tidak boleh menggunakan Pil Oral Kombinasi :
(a) Hamil atau dicurigai hamil
(b) Menyusui
(c) Perdarahan pervaginam yangbelum diketahui penyebabnya
(d) Penyakit hati akut (hepatitis)
(e) Usia >35 tahun dan perokok
(f) Riwayat penyakit jantung, stroke, atau tekanan darah
>180/110 mmHg

125
(g) Riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau kencing manis
>20 tahun
(h) Menderita kanker payudara atau dicurigai kanker payudara
(i) Migraine dan gejala epilepsy/riwayat epilepsy
(j) Tidak dapat menggunakan pil secara teratur setiap hari.
(5) Waktu mulai menggunakan Pil Kombinasi :
(a) Setiap saat ketika sedang haid untk meyakinkan bahwa
perempuan tersebut tidak hamil
(b) Hari pertama sampai hari ke 7 siklus boleh menggunakan pada
hari ke 8 siklus haid tapi perlu menggunakan metode
kontrasepsi lain (kondom) mulai hari ke 8 sampai hari ke 14
atau tidak melakukan hubungan seksual sampai menghabiskan
paket pil tersebut.
(c) Setelah melahirkan : setelah 6 bulan pemberian ASI ekslusif,
setelah 3 bulan dan tidak menyusui pasca keguguran.
(d) Bila berhenti menggunakan kontrasepsi injeksi, dan ingin
menggantinya dengan pil kombinasi, pil dapat segera
digunakan tanpa perlu menunggu haid.
(6) Efek samping dan penanganannya
(a) Amenorea (tidak ada perdarahan) atau spotting
(b) Mual, pusing, atau muntah (akibat reaksi anafilaktik)
(c) Perdarahan pervaginam/spotting
1. Kontrasepsi Pil yang Berisi Progestin Saja (Mini Pil)
Mini pil digunakan oleh perempuan yang ingin menggunakan
kontrasepsi oral tetapi menyusui atau untuk perempuan yang harus
menghindari estrogen oleh sebab apapun. Mini pil :
1) Cocok untuk perempuan menyusui yang ingin memakai pil KB.
2) Sangat efektif pada masa laktasi dan tidak menurunkan produksi ASI

126
3) Tidak memberikan efek samping estrogen.
4) Efek samping yang utama adalah perdarahan tidak teratur atau perdarahan
bercak
5) Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat.

Keuntungan mini pil :


1) Keuntungan kontrasepsi :
a. Sangat efektif digunakan bila dengan benar
b. Tidak mengganggu hubungan seksual
c. Tidak mempengaruhi ASI
d. Kesuburan cepat kembali
e. Nyaman dan mudah digunakan
f. Sedikit efek samping
g. Dapat dihentikan setiap saatidak mengandung estrogen yang dapat
menyebabkan efek samping mual, hipertensi, nyeri tungkai bawah,
sakit kepala, kloasma.
2) Keuntungan non kontrasepsi :
a. Dapat diberikan pada perempuan yang mengalami tromboembolik.
b. Mengurangi nyeri haid
c. Menurunkan keadaan/tingkat anemia
d. Mencegah kanker endometrium
e. Melindungi dari penyakit radang panggul
f. Tidak meningkatkan pembekuan darah
g. Dapat diberikan pada penderita endometriosis
h. Kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala dan
depresi.
i. Keluhan pramenstruasi sindrom (sakit kepala, perut kembung, nyeri
payudara, nyeri pada betis, lekas marah) dapat berkurang.

127
j. Gangguan metabolism karbohidrat sedikit sekali sehingga relative
aman diberikan kepada perempuan yang mengidap kencing manis
yang belum mengalami komplikasi.

Keterbatasan mini pil :


1) Hampir 30 -60 % mengalami gangguan haid seperti perdarahan
bercak, perdarahan menyerupai haid, variasi dalam panjang haid
siklus haid, kadang-kadang amenorea.
2) Harus diminum setiap hari dan pada waktu yang sama. Lupa minum
pil 1 atau 2 tablet saja sudah cukup untuk menghilangkan proteksi
kontrasepsinya.
3) Tidak memberi perlindungan terhadap infeksi menular seksual atau
HIV/AIDS.
4) Resiko kehamilan ektopik cukup tinggi (4 dari 100 resiko kehamilan),
tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan yang tidak
menggunakanmini pil.
5) Efektivitasnya menjadi rendah bila digunakan bersama obat
tuberculosis atau obat epilepsy.
6) Pertambahan/;penurunan berat badan.

Yang boleh menggunakan mini pil :


1) Usia reproduksi
2) Telah atau belum memiliki anak
3) Ingin menggunakan metode kontrasepsi yang efektif selama
menyusui.
4) Pasca persalinan atau tidak menyusui
5) Pasca keguguran
6) Perokok pada segala usia

128
7) Menderita tekanan darah tinggi asal <180/110 mmHg atau dengan
masalah pembekuan darah

Perempuan yang tidak boleh menggunakan mini pil :


1) Hamil atau diduga hamil
2) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
3) Menggunakan obat untuk tuberculosis dan obat untuk epilepsy
4) Kanker payudara atau riwayat kanker payudara
5) Sering lupa minum pil
6) Mioma uterus, progestin pemicu pertunbuhan miam
7) Tidak dapat menerima gangguan haid
8) Riwayat stroke, karena progestin menyebabkan spasme pembuluh
darah.

2. Kontrasepsi Suntikan
Mekanisme kerja kontrasepsi suntikan :
a. Primer : mencegah ovulasi
b. Sekunder :
1) Lender serviks menjadi kental dan sedikit, sehingga menjadi barrier
terhadap spermatozoa
2) Membuat endometrium menjadi kurang baik untuk implantasi dari
ovarium yang telah dibuahi
3) Mungkin mempengaruhi kecepatan transport ovum di dalam tuba
fallopii.
Macam-macam kontrasepsi suntikan
a. Suntikan Progestin
Suntikan berdaya kerja lama yang hanya mengandung progestin saja
adalah :

129
1) DMPA (Depot Medroxyprogesteron Asetat) atau depo Provera,
diberikan sekali setiap 3 bulan denhan dosis 150 mg.
2) NET-EN (Norethindrone Enanthate) atau Noristerat : diberikann
dalam dosis 200 mg sekali setiap 8 minggu.
Mekanisme kerja suntikan progestin :
Menceah ovulasi, lender serviks mejadi kental dan sedikit sehingga
menurunkan kemempuan penetrasi spermatozoa, membuat endometrium tipis
dan atrofi sehina kurang baik untuk implantasi ovum yang telah dibuahi,
mempengaruhi keepatan transport ovum oleh tuba fallopii.
Keuntungan suntikan depoprogestin ;
1) Sangat efektif
2) Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami istri
3) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap
penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah
4) Tidak mempengaruhi ASI
5) Efek samping sedikit
6) Dapat digunakan oleh perempuan yang berusia di atas 35 tahun sampai
perimenopause
7) Mencegah kanker endometrium dan kehamian ektopik
8) Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara dan penyakit radang
panggul.
Keterbatasan suntik progestin :
1) Sering ditemukan gangguan haid
2) Pada waktu tertentu harus kembali untuk mendapat suntikan
3) Tidak dapat dihentikan sebelum suntikan berikutnya
4) Peningkatan berat badan, dapat menimbulkan kekeringan pada
vagina,menurunkan libido, sakit kepala dan timbul akne
5) Tidak menjamin perlidungan terhadap infeksi menular seksual
6) Kesuburan tidak cepat pulih kembali

130
Yang boleh menggunakan kontrasepsi suntikan progestin :
1) Usia reproduksi, nulipara dan yang telah memiliki anak
2) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
3) Setelah melahirkan, setelah abortus dan tidak menyusui
4) Telah mempunyai banyak anak tetapi belum menginginkan tubektomi
5) Perokok
6) Tekanan darah 180/110 mmHg, masalah gangguan pembekuan darah atau
anemia bulan sabit
7) Menggunakan obat untuk epilepsy atau obat untuk obat TBC
8) Anemia defisiensi besi
Yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan progestin :
1) Hamil atau dicurigai hamil
2) Perdarahan pervaginam yang belum jeas penyebabnya
3) Tidak dapat menerim terjadinya gangguan haid, terutama amenorea
4) Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara
5) Penderita DM
6) Kanker pada traktus genitalia
Efek samping :
1) Meningkat/menurunnya berat badan
2) Gangguan haid yaitu perdarahan dan amenore
b. Suntikan kombinasi
Jeni suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo Medroksiprogestron Asetat
dan 5 mg Estradiol Sipionat yang diberikan injeksi nytamuskular sebulan
sekali (Cyclofen).
Cara kerja :
1) Mengentalkan lendir serviks sehingga menganggu penetrasi sperma
2) Menekan ovulasi
3) Endometrium menjadi atrofi sehingga implantasi terganggu

131
4) Menghambat transportasi gamet oleh tuba
Keuntungan kontrasepsi :
1) Sangat efektif
2) Resiko terhadap kesehatan kecil
3) Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami istri
4) Tidak perlu dilakukan periksa dalam
Keuntungan non kontrasepsi :
1) Mengurangi nyeri haid, mengurangi jumlah perdarahan, mencegah
anemia
2) Mempunyai khasiat untuk mencegah kanker ovarium dan
endometrium
3) Mengurangi penyakit jinak payudara dan kista ovarium
4) Mencegah kehamilan ektopik
5) Melindungi klien dari penyakit radang panggul
Kerugian/keterbatasan :
1) Terjadi perubahan pola haid
2) Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan
3) Klien harus kembali setiap 30 hari untuk mendapat suntikan
4) Dapat menyebabkan efek samping serius seperti serangan jantung,
stroke, bekuan darah pada paru dan otak
5) Peningkatan berat badan
6) Tidak menjamin perlindungan terhadap infeksi menular seksual,
hepatitis B virus atau HIV/AIDS
7) Pemulihan kesuburan kemungkinan terlambat setelah pemakaian pil
dihentikan.
Yang boleh menggunakan suntikan kombinasi :
1) Usia reproduksi, telh memiiki anak maupun belum
2) Memeberikan ASI pasca persalinan > 6 bulan

132
3) Pasca persalinan tetapi tidak menyusui
4) Anemia
5) Nyeri haid hebat, haid teratur
6) Riwayat kehamilan ektopik
7) Sering lupa minum pil
Yang tidak boleh menggunakan suntikan kombinasi :
1) Hamil atau diduga hamil
2) Menyusui, kurang dari 6 minggu pasca persalinan
3) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
4) Penyakit hati akut
5) Usia > 35 tahun dan merokok
6) Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan darah tinggi
7) Riwayat kelainan tromboemboli, riwayat kencing manis > 20 tahun
8) Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala
9) Keganasan pada payudara
Efek samping :
1) Amenorea
2) Mual, pusing, muntah
3) Perdarahan/perdarahan bercak (spotting).

1) Implant (Susuk KB)


(a) Indikasi
(1). Pemakian yang jangka waktu lama
(2). Masih berkeinginan punya anak lagi
(3). Tidak dapat meakai jenis KB lain
(b) Kontra Indikasi
(1). Hamil atau di duga hamil, pendarahan vagina tanpa sebab.
(2). Wanita dalam usia reproduksi.

133
(3). Telah atau belum memiliki anak.
(4). Menginginkan kontrasepsi jangka panjang (3 tahun).
(5). Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi.
(6). Pasca persalinan.
(7). Pasca keguguran.
(8). Tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak kontrasepsi mantap.
(9). Riwayat kehamilan ektopik.
(10). Tekanan darah <180/110, dengan masalah pembekuan darah, anemia.
(11). Tidak boleh menggunakan kontrasepsi yang mengandung estrogen.
(12). Perdarahan pervaginam yang belum di ketahui penyebabnya.
(13). Benjolan/kangker payudara atau riwayat kangker peyudara.
(14). Tidak dapat menrima perubahan pola haid yang terjadi.
(15). Mioma uterus dan kangker payudara.
(16). Gangguan toleransi glukosa.
2). Keuntungan KB implant
a). Pengambilan tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan.
b). Tidak melakukan pemeriksaan dalam.
c). Bebas dari pengaruh ekstrogen.
d). Tidak menganggu ASI.
e). Klien hanya perlu ke klinik jika ada keluhan.
f). Perdarah lebih ringan.
g). Tidak menakkan tekanan darah.
h). Mengurangi nyeri haid.
i). Mengurangi/ memperbaiki anemia.
j). Menurungkan angka kejadian kelainan jinak payudara.
k). Melindungi dari dari beberapa penyakit radang panggul.

134
Kekurangan

a. Timbul bebrapa keluhan nyeri kepala, peningkatan/penurunan


berat badan, nyeri payudara, perasaan mual, pusing kepala,
perubahan mood atau kegelisahan.
b. Membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan
mencabut.
c. Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual,
termaksud HIV/AIDS
d. Efwktifitasnya menurun jika menggunakan obat-obat tuborkolosis
atau obat epilepsy.
e. Terjadinya kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi.

Effek samping

a. Efek samping paling utama dari implant adalah perubahan pola


haid, yang terjadi pada kira-kira 6% akseptor terutama selam 3-6
bulan pertama dari pemakian.
b. Yang paling sering terjadi
1). Bertambahnya hari-hari perdarahan dalam 1 siklus haid
2). Perdarahan bercak (spotting)
3). Berkurangnya panjang siklus haid
4). Amenore, meskipun jarang terjadi dibandingkan
5). perdarahan lama atau perdarahan bercak.

Umumnya perubahan-perubahan haid tersebut tidak mempunyai efek yang


membahayakan diri akseptor. Meskipun terjadi perdaran lebih sering dari pada
biasanya, volume darah yang hilang tetap tidak berubah.

a. Pada sebagia akseptor, perdarahan ireguler akan berkurang dengan


berjalanna waktu.

135
b. Perdarah hebat jarang terjadi (cahyani, 2009).
c. Perubahan dalam priode menstruasi merupakan keadaan yang paling
sering ditemui. Kadang-kadang ada akseptoryang mengalami kenaikan
berat badan (Gunawan,1999)

Efektifitas
a. Lender serviks menjadi kental.
b. Menganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi
implantasi.
c. Mengurangi transportasi sperma.
d. Menekan ovulasi.
e. 99% sangat efektif (kegagalan 0,2-1 kehamilan per 100 perempuan.

Cara kerja susuk

Segera setelah implant di masukkan ke bawah kulit lengan atas akseptor,


secara tetap sejumlah levenogestrel akan dilepaskan. Keadaan inilahyang
melndungi alseptor dari kehamilan, selam implant tetap berada di tempat
tersebut (Gunawan,1999).

G. Teori Pendokumentasian

Kepmenkes No : 938/MenKes/SK/VIII/2007 tentang standar asuhan


Kebidanan.

Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan


keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan yang sesui dengan
wewenang dan ruang lingkup prakteknya berdsrkan ilmu dan kiat kebidanan.
Mulai dari pengkajian, perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan,
perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan.

136
a. Standart I : Pengumpulan Data
Pernyataan standart
Bidan mengmpulkan semua data informasi yang akuarat, relevan dan
lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Kriteria pengkajian:
1) Data tepat, akurat dan lengkap.
2) Terdiri dari data subjektif (hasil anamneses: biodata, keluhan utama,
riwayat obstetrik, riwayat kesehatan dan latar belakang social budaya) .
3) Data Objektif (hasil pemeriksaan fisik, Psikologis dan pemeriksaan
penunjang)
b. Standart II : perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan.
Peryataan Standart
Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian,
meninterpretasikannya secara akurat dan logis untuk menegakkan diagnose
dan masalh kebidanan yang tepat.
Kriteria Perumusan diagnosa dan atau masalah
1) Diagnosa sesui dengan nomenklatur kebidanan
2) Masalah dirumuskan sesui dengan kondisi klien
3) Dapat diselesaikan dengan asuhan kebidanan secara mandiri, kalaborasi
dan rujukan.
c. Standart III : Perencanaan
Pernyataan Standart
Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnose masalh
yang ditegakkan.
Kriteria Perencanaan
1) Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan kondisi
klien; tindakan segera, tindakan antisipasi, dan asuahn secar
komprehensif.
2) Melibatkan klien/pasien dan keluarga.

137
3) Mempertimbangkan kondisi psikologis dan social budaya klien/keluarga.
4) Memilih tindakan yang aan sesui kondisi dan kebutuhan klien berdasarkan
evidence based dan memastikan bahwa asuhan yang diberikan bermanfaat
untuk klien.
5) Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumber daya
serta fasilitas yang ada.
d. Standart IV : Implementasi
Pernyataan Standart
Bidan melaksankan rencana asuhan secara komprehensif, efektif,
efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien dalam
bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative yang dilaksanakan
secara mandiri, kaloborasi dan rujukan.
Kriteria :
1) Memperhatikan keunikan klien sebagai mahluk biopsikososial, spiritual,
cultural.
2) Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan klien dan atau
keluarganya (inform consent).
3) Melaksanakan tindakan asuhan berdasrkan evidence based.
4) Melibatkan klien/pasien dalam setiap tindakan
5) Menjaga privasi klien/pasien.
6) Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi.
7) Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambugan.
8) Menggunakan sumber daya, sarana dan fasilitas yang ada dan sesuai.
9) Melaksankantindakan sesui standar.
10) Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan.
e. StandarV : Evaluasi
Pernyataan Standart

138
Bidan melakukan evaluasi secara sistematis dan berkesinambungan
untuk melihat efktifitas dan asuhan yang sudah diberikan, sesui dengan
perubahan kondisi klien.
Kriteria Evaluasi :
1) Penilaian dilakukan segera setelah selesai melaksankan asuhan yang
sesuai kondisi klien.
2) Hasil evaluasi segara dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan
keluarga.
3) Hasil evaluasi ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien..
f. Standart VI : Pencatatan asuhan kebidanan
Pernyataan standart
Bidan melakuykan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat, singkat
dan jelas mengenai keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam
memberikan asuhan kebidanan.
1) Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formolir
yang tersedia (Rekam Medis/KMS/Status pasien/buku KIA)
2) Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP
S : adalah data subjektif, mencatat hasil anamnesa
O : adalah data Objektif, pencatatan hasil pemeriksaan
A : adalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah kebidanan
P : adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perncanaan dan
penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antsipatif,
tindakan segera, tindakan secara komprehensif, : penyeluhan, dukungan,
kaloborasi, evaluasi/Foloow Up dan rujukan (Syafruddin,2011 :92-94)
1. Pengertian SOAP
SOAP adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis, dan
tertulis. Seorang bidan hendaknya menggunakan SOAP setiap kali
mengkaji pasien. Selama anterpartum, bidan dapat menulis satu catatan
SOAP untuk setiap kali kunjungan, sementara dalam masa intrapartum

139
bidan boleh menulis lebih dari satu catatan untuk satu pasien dalam satu
hari. Bida juga harus melihat catatan SOAP terdahulu bila merawat
seorang klien untuk mengavaluasi kondisinya sekarang. Sebagai peserta
didik, bidan akan mendapat lebih banyak pengalaman dan urutan SOAP
akan terjadi alamiah.
2. Tahap-tahap Pendokumentasian SOAP
Metode empat langkah yang dinamakan SOAP (Subjektif, Objektif
Asessment, Planning) disarikan dari proses pemikiran penatalaksanaan
kebidanan, dipakai untuk mendokumentasikan asuhan pasien dalam rekam
medis sebagai catatan kemajuan pasien. Subjektif adalah apa yang
dikatakan pasien. Objektif adalah apa yang dilihat dan diraskan bidan
sewaktu melakukan pemeriksaan (laboratorium, tanda vital, dan lain-lain).
Assessment adalah kesimpulan dari data-data ubjektf/objektif. Planning.
Dokumentasi itu perlu untuk :
1. Menciptakan catatan permanen tentang asuhan yang diberikan
kepada pasien.
2. Memungkinkan berbagai informasi diantara pemberi asuhan.
3. Memfasilitasi pemberian asuhan yang berkesinambungan.
4. Memungkinkan pengefaluasian asuhan yang diberikan.
5. Member data untuk catatan rasional, riset, dan statistic
mortalitas/morbiditas.
6. Meningkatkan pemberian asuhan yang lebih aman dan bermutu
tinggi kepada klien.
Tujuan penggunaan catatan SOAP untuk pendokumentasian :
1. Pendokumentasian metode SOAP merupakan kemajuan informasi
yang sistematis yang mengorganisasi temuan dan kesimpulan menjadi
suatu rencana.

140
2. Metode ini merupakan penyaringan intisari dan proses
penatalaksanaan kebidanan untuk tujuan penyediaan dan
pendikumtasian asuhan.

Alur piker bidan Pencatatan dari


asuhan kebidanan

Proses menjemen Pendokumentasian


kebidanan asuhan kebidanan

7 langkah (Varney) 5 langkah SOAP NOTES


(kompetensi bidan)
Data Data Subjekti Objektif
Masalah/ diagnosis
Antisipasi masalah
Assessment/
potensial/ masalah lain Assessment/
Diagnosis
Menetapkan kebutuhan Diagnosis
segera untuk konsultasi,
Planning :
kolaborasi
Perencanaan(intervensi Perencanaan Konsul
Penatalasanaan Penatalaksanaan Uji diagnostik/lab
(implementasi)
Rujukan
Evaluasi Evaluasi
Pendidikan/
konseling
H. Teori Hukum Kewenangan Bidan
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Follow up
(Permenkes) Nomor
1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan,
kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:
1. Kewenangan normal:

141
Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh
bidan. Kewenangan ini meliputi:
1) Pelayanan kesehatan ibu
a) Ruang lingkup:
(1) Pelayanan konseling pada masa pra hamil
(2) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
(3) Pelayanan persalinan normal
(4) Pelayanan ibu nifas normal
(5) Pelayanan ibu menyusui
(6) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
b) Kewenangan:
(1) Episiotomi
(2) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
(3) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan
perujukan
(4) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
(5) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
(6) Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan
promosi air susu ibu (ASI) eksklusif
(7) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan
postpartum
(8) Penyuluhan dan konseling
(9) Bimbingan pada kelompok ibu hamil
(10) Pemberian surat keterangan kematian
(11) Pemberian surat keterangan cuti bersalin
2) Pelayanan kesehatan anak
Ruang lingkup:
a. Pelayanan bayi baru lahir
b. Pelayanan bayi

142
c. Pelayanan anak balita
d. Pelayanan anak pra sekolah
b) Kewenangan:
a. Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi,
pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini (IMD), injeksi
vitamin K 1, perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-
28 hari), dan perawatan tali pusat
b. Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
c. Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan
d. Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah
e. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra
sekolah
f. Pemberian konseling dan penyuluhan
g. Pemberian surat keterangan kelahiran
h. Pemberian surat keterangan kematian
3) Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana,
dengan kewenangan:
a) Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi
perempuan dan keluarga berencana
b) Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom
Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus bagi bidan
yang menjalankan program Pemerintah mendapat kewenangan tambahan
untuk melakukan pelayanan kesehatan yang meliputi:
1. Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim,
dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit
2. Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit
kronis tertentu (dilakukan di bawah supervisi dokter)
3. Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang
ditetapkan

143
4. Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan
ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan
lingkungan
5. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan
anak sekolah
6. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
7. Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan
terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian
kondom, dan penyakit lainnya
8. Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi
9. Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah
Khusus untuk pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan
antenatal terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit, dan
pelaksanaan deteksi dini, merujuk, dan memberikan penyuluhan terhadap
Infeksi Menular Seksual (IMS) dan penyakit lainnya, serta pencegahan
penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA),
hanya dapat dilakukan oleh bidan yang telah mendapat pelatihan untuk
pelayanan tersebut.
Selain itu, khusus di daerah (kecamatan atau kelurahan/desa) yang
belum ada dokter, bidan juga diberikan kewenangan sementara untuk
memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal, dengan syarat
telah ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Kewenangan bidan untuk memberikan pelayanan kesehatan di luar
kewenangan normal tersebut berakhir dan tidak berlaku lagi jika di daerah
tersebut sudah terdapat tenaga dokter.

144