Anda di halaman 1dari 106

VARIAN FONOLOGI BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS ANTARA

DESA SEGARAU DAN DESA TEBAS SUNGAI


KECAMATAN TEBAS
(Kajian Sosiolinguistik)

SKRIPSI

Oleh:

MARINA
NIM: 511200165

Program Studi: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI


INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PONTIANAK
2018
VARIAN FONOLOGI BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS ANTARA
DESA SEGARAU DAN DESA TEBAS SUNGAI
KECAMATAN TEBAS
(Kajian Sosiolinguistik)

SKRIPSI

Oleh:

MARINA
NIM: 511200165

Program Studi: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI


INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PONTIANAK
2018
VARIAN FONOLOGI BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS ANTARA
DESA SEGARAU DAN DESA TEBAS SUNGAI
KECAMATAN TEBAS
(Kajian Sosiolinguistik)

SKRIPSI

Oleh

MARINA
NIM: 511200165

Skripsi ini diajukan sebagai syarat untuk menempuh ujian


Sarjana Pendidikan pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Persatuan Guru Republik Indonesia (IKIP-PGRI) Pontianak

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI


INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
2018
VARIAN FONOLOGI BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS ANTARA
DESA SEGARAU DAN DESA TEBAS SUNGAI
KECAMATAN TEBAS
(Kajian Sosiolinguistik)

SKRIPSI

Oleh
MARINA
NIM: 511200165

Menyetujui,

Pembimbing Utama, Pembimbing Pembantu,

Dr. Elva Sulastriana, M.Pd Al Ashadi Alimin, M.Pd


NIP. 196410171991032001 NPP. 202 2012 192

Disahkan,

Dekan Fakultas
Pendidikan Bahasa dan Seni
IKIP PGRI Pontianak

Drs. H. Zuldafrial, M.Si.


` NPP. 195507051986031000

Tanggal Lulus:
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini dengan judul:
“Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek Sambas Antara Desa Segarau Dan Desa
Tebas Sungai Kecamatan Tebas” beserta isinya adalah benar-benar karya saya
sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara
yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan.
Atas pernyataan ini saya siap menanggung resiko / sanksi yang dijatuhkan kepada
saya apabila kemudian hari ditemukan ada pelanggaran terhadap etika keilmuan
dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Pontianak, Arpil 2018


Yang membuat pernyataan,

MARINA
NIM: 511200165
KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti sampaikan pada Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah yang telah di limpahkan-Nya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan desain ini yang berjudul” Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek
Sambas Antara Desa Segarau dan Desa Tebas Sungai Kecamatan Tebas (Kajian
Sosiolinguistik)”. Penyusunan rencana penelitian ini merupakan syarat untuk
menempuh ujian skripsi pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia Pontianak.
Selama proses penyusunan rencana penelitian ini, penulis banyak
mendapatkan bimbingan, masukan serta motivasi baik secara langsung maupun
tidak langsung. Untuk itu, selayaknya penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada :
1. Dr. Elva Sulastriana, M.Pd., selaku dosen pembimbing pertama yang telah
banyak memberikan masukan dan petunjuk kepada penulis.
2. Al Ashadi Alimin, M.Pd., selaku dosen pembimbing kedua yang telah banyak
memberikan bimbingan, saran dan dukungan berkenaan dengan penulisan
rencana penelitian.
3. Prof. Dr. H. Samion H. AR, M.Pd, selaku Rektor IKIPPGRI Pontianak yang telah
memberikan motivasi selama perkuliahan.
4. Drs. H. Zuldafrial, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
IKIP-PGRI Pontianak yang telah memberikan kesempatan dan peluang penulis
untuk menimba ilmu.
5. Mai Yuliastri Simarmata, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia yang banyak membantu, membimbing dan membagikan
ilmu di bangku perkuliahan.
6. Muhammad Thamimi, M.Pd., selaku sekretaris Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus dosen pembimbing akademik yang telah
memberikan petunjuk dalam proses pengajuan judul penelitian.

i
Proses penulisan rencana penelitian ini memerlukan kerja keras dan
menggunakan waktu yang cukup lama dalam menyelesaikannya. Namun
demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan
yang dimiliki sehingga rencana penelitian ini dapat diselesaikan. Kesempurnaan
peulisan di masa yang akan datang, kritik dan saran yang sifatnya membangun
sangatlah diharapkan. Penulis berharap semoga rencana penelitian ini bermanfaat
bagi kita khusunya demi kemajuan dalam dunia pendidikan.

Pontianak, Mei 2017

Penulis

ii
ABSTRAK

Judul : Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek Sambas Antara Desa Segarau Dan
Desa Tebas Sungai Kecamatan Tebas (Kajian Sosiolinguistik)
Nama : Marina
NIM : 511200165
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Perbedaan yang ada dalam sutu bahasa dapat diketahui dengan jelas jika dilakukan
pengkajian secara dialektologi. Pengenelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1)
menganalisis varian fonologi bahasa Melayu dialek Sambas antara desa Segarau
dengan desa Tebas Sungai, kecamatan Tebas, 2) Untuk mengetahui perbedaan
fonologi bahasa Melayu dialek desa Segarau dengan bahasa Melayu dialek desa
Tebas Sungai, 3) Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya
varian fonologi bahasa Melayu dialek desa Segarau dengan bahasa Melayu dialek
desa Tebas Sungai. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam penelitian ini digunakan
metode deskriptif dengan bentuk kualitatif melalui teknik observasi langsung dan
komunikasi langsung. Adapun alat pengumpulan data yang digunakan peniliti yaitu
berupa pedoman observasi dan pedoman wawancara. Untuk mendapatkan data
yang valid dalam penelitian ini digunakan teknik yang direkomendasikan Guba dan
Lincoln (1985); Creswell (1998:202); dan Nasution (2003:115), yaitu triangulasi
sumber data dan metode, yang meliputi pengecekan keabsahan data dengan
memanfaatkan berbagai sumber sebagai bahan perbandingan. Dan untuk menguji
keabsahan data dalam penelitian ini digunakan empat kriteria dasar yang digunakan
untuk menguji keabsahan data kulaitatif yaitu: kredebilitas, transferabilitas,
dependabilitas, dan konfirmabilitas. Berdasarkan hasil dari analisis data ditemukan
varian fonologi yang terdapat pada fonem pada bahasa Melayu dialek Sambas
antara desa Segarau dengan desa Tebas Sungai, yaitu pada bahasa Melayu dialek
desa Segarau fonem vokal [a] berubah menjadi [o]. Adapun faktor yang
menyebabkan terjadinya varian tersebut yaitu antara lain disebabkan oleh faktor
penuturnya sendiri yang meliputi dialek (sekelompok penutur, berjumlah relatif,
dan berada pada suatu tempat) dan kronolek atau dialek temporal (variasi bahasa
yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu.

Kata Kunci: Fonologi, Dialek, Melayu, Sambas, Sosiolinguistik

iii
RINGKASAN SKRIPSI

Skripsi ini berjudul “Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek Sambas


Antara Desa Segarau Dan Tebas Sungai”. Masalah umum pada penelitian ini yaitu
bagaimana varian fonologi bahasa Melayu dialek Sambas antara desa Segarau
dengan desa Tebas Sungai Kecamatan Tebas. Adapun fokus masalahnya antara lain
sebagai berikut: 1) adakah terdapat perbedaan fonologi bahasa Melayu dialek
Sambas antara desa Segarau dan desa Tebas Sungai? 2) apa saja faktor penyebab
terjadinya varian fonologi bahasa Melayu dialek Sambas antara desa Segarau dan
desa Tebas Sungai. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis varian
fonologi bahasa Melayu dialek Sambas antara desa Segarau dan desa Tebas Sungai.
Adapun tujuan secara khusus yaitu sebagai berikut: 1) perbedaan fonologi bahasa
Melayu dialek Sambas antara desa Segarau dan desa Tebas Sungai, 2) mengetahui
faktor terjadinya varian fonologi bahasa Melayu dialek Sambas antara desa Segarau
dan desa Tebas Sungai.
Untuk memperoleh tujuan tersebut peneliti menggunakan metode
deskriptif dengan bentuk kualitatif, dilakukan berdasarkan fakta dan fenomena
yang memang hidup pada penuturnya serta memberikan gambaran yang objektif
tentang fonologi bahasa Melayu dialek Sambas desa Segarau dengan desa Tebas
Sungai Kecamatan Tebas yang akan dianalisis sesuai dengan faktor pemakaian
sebenarnya dari bahasa Melayu Sambas. Dalam penelitian ini data yang digunakan
berupa data yang bersumber langsung dari penutur masyarakat desa Segarau dan
desa Tebas Sungai. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data meliputi
observasi langsung dan komunikasi langsung dengan menggunakan alat pedoman
observasi dan pedoman wawancara.
Hasil penelitian menunjukan Pada bahasa Melayu dialek Sambas terdapat
perubahan-perubahan yang terjadi pada fonem vokal dan fonem konsonan.
Perubahan tersebut yaitu antara lain terjadi pada bunyi vokal [a] yang pada bahasa
melayu dialek sambas menjadi [o] dan [Ɛ], bunyi vokal [ǝ] menjadi [a], dan bunyi
vokal [U] menjadi [o]. Sedangkan pada fonem konsonan [f] pada bahasa Melayu
dialek Sambas berubah menjadi [p], konsonan [h] berubah menjadi [?] (bunyi
hamzah (hambat glotal) seperti pada bapak), dan konsonan [z] menjadi [j].
Layaknya bahasa Melayu dialek Sambas, bahasa Melayu dialek desa Tebas Sungai
bunyi vokal [a] tidak mengalami perubahan. Namun berbeda dengan bahasa
Melayu dialek desa Segarau, fonem vokal [a] berubah menjadi [o]. Adapun faktor
yang menyebabkan terjadinya varian tersebut yaitu antara lain disebabkan oleh
faktor penuturnya sendiri yang meliputi dialek (sekelompok penutur, berjumlah
relatif, dan berada pada suatu tempat) dan kronolek atau dialek temporal (variasi
bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat perbedaan fonologi bahasa
Melayu dialek Sambas, antara desa Segarau dan desa Tebas Sungai, Kecamatan
Tebas. Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya varian bahasa tersebut adalah
faktor yang disebabkan oleh penutur yaitu dialek (berdasarkan wilayah) dan
kronolek atau dialek temporal (penutur pada masa tertentu). Adapun saran yang
dapat peneliti berikan terkait dengan peneliktian ini yaitu sebagai berikut: 1)
pengembangan dan pendokumentasian bahasa daerah perlu dilaksanakan karena

iv
yang kita ketahui bahasa yang selalu berubah-ubah dan berkembang. Oleh karena
itu penelitian bahasa daerah perlu dilakukan. Penelitian bahasa ini dapat bermanfaat
bagi peneliti lain untuk melengkapi hal-hal yang berhubungan dengan kebahasaan
salah satunya di bidang fonologi. Hasil penelitian ini dapat memperkaya kosa kata
bahasa daerah bahkan dapat juga menambah kosa kata bahasa Indonesia, sehingga
penelitian ini dapat menjadi pengembangan bahasa daerah dan Indonesia, 2)
mengingat masih jarang penelitian yang dilakukan untuk mengkaji bahasa pada
masyarakat di Kabupaten Sambas, untuk itu perlu dilakukan penelitian lanjutan.
Pengkajian lebih lanjut baik dengan fokus yang sama maupun dengan fokus yang
berbeda. Peneliti mengemukakan saran bahwa penelitian ini diharapkan dapat
menjadi bahan masalah dan bahan pembanding bagi peneliti berikutnya untuk
mlanjutkan penelitian bahasa Melayu dialek Sambas pada kajian yang lain, seperti
morfologi, sintaksis, maupun simantik. Untuk dapat menginventarisasikan dialek-
dialek bahasa Melayu Sambas diharapkan perhatian dari calon linguis untuk
melakukan penelitian yang lebih lanjut.

v
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
ABSTRAK iii
RINGKASAN SKRIPSI iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR LAMPIRAN x
DAFTAR LAMBANG xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Fokus dan Sub Fokus Penelitian 6
C. Tujuan Penelitian 6
D. Manfaat Penelitian 7
E. Ruang Lingkup Penelitian 8
BAB II VARIAN FONOLOGI BAHASA MELAYU DIALEK
SAMBAS ANTARA DESA SEGARAU DAN DESA TEBAS
SUNGAI KECAMATAN TEBAS (Kajian Sosiolinguistik)
A. Hakikat Bahasa 10
B. Fungsi Bahasa 11
C. Hakikat Bahasa Dialek Melayu Sambas 12
1. Bahasa Melayu Dialek Sambas Desa Segarau (BMDSDS) 14
2. Bahasa Melayu Dialek Sambas Desa Tebas Sungai
(BMDSTS) 14
D. Fonologi 14
1. Fonetik 15
2. Fonemik 34
E. Varian 42
1. Hakikat Varian (Variasi Bahasa) 42
2. Faktor Penyebab Terjadinya Varian 43
F. Sosiolinguistik 48

vi
BAB III METODELOGI PENELITIAN
A. Metode dan Bentuk Penelitian 50
B. Tempat dan Waktu Penelitian 52
C. Data dan Sumber Data 54
D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data 56
E. Pemeriksaan Keabsahan Data 58
F. Prosedur Analisis Data 62
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum 65
B. Temuan Penelitian 68
1. Sistem Fonologi BMDS (Bahasa Melayu Dialek Sambas) 68
2. Varian Fonologi Antara Desa Segarau Dan Desa
Tebas Sungai 71
C. Pembahasan 72
1. Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek Sambas 72
2. Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek Sambas antara Desa
Segarau dengan Tebas Sungai 72
3. Faktor Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek Sambas
antara Desa Segarau dengan Desa Tebas Sungai 73
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan 77
B. Saran 78
DAFTAR PUSTAKA xii

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Vokal a ............................................................................................. 21

Tabel 2.2 Vokal i .............................................................................................. 21

Tabel 2.3 Vokal I.............................................................................................. 21

Tabel 2.4 Vokal u ............................................................................................. 24

Tabel 2.5 Vokal U ............................................................................................ 22

Tabel 2.6 Vokal e ............................................................................................. 22

Tabel 2.7 Vokal ǝ ............................................................................................. 23

Tabel 2.8 Vokal ɛ ............................................................................................. 23

Tabel 2.9 Vokal o ............................................................................................. 23

Tabel 2.10 Vokal Ɔ .......................................................................................... 24

Tabel 2.11 Konsonan b .................................................................................... 24

Tabel 2.12 Konsonan c..................................................................................... 25

Tabel 2.13 Konsonan d .................................................................................... 25

Tabel 2.14 Konsonan f ..................................................................................... 26

Tebel 2.15 Konsonan g .................................................................................... 26

Tabel 2.16 Konsonan h .................................................................................... 27

Tabel 2.17 Konsonan j ..................................................................................... 27

Tabel 2.18 Konsonan k .................................................................................... 28

Tabel 2.19 Konsonan ? ..................................................................................... 28

Tabel 2.20 Konsonan l ..................................................................................... 29

viii
Tabel 2.21 Konsonan m ................................................................................... 29

Tabel 2.22 Konsonan n .................................................................................... 29

Tabel 2.23 Konsonan ṅ .................................................................................... 30

Tabel 2.24 Konsonan ŋ .................................................................................... 30

Tabel 2.25 Konsonan p .................................................................................... 31

Tabel 2.26 Konsonan r ..................................................................................... 31

Tabel 2.27 Konsonan s ..................................................................................... 31

Tabel 2.28 Konsonan Š ................................................................................................................ 32

Tabel 2.29 Konsonan t ..................................................................................... 32

Tabel 2.30 Konsonan w.................................................................................... 33

Tabel 2.32 Konsonan y .................................................................................... 33

Tabel 2.33 Konsonan z ..................................................................................... 34

Tabel 2.34 Realisasi Vokal .............................................................................. 36

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian.............................................................................. 52

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I 80
Lampiran II 81
Lampiran III 82
Lampiran IV 83
Lampiran V 85

x
DAFTAR LAMBANG

‘...’ penata terjemahan dalam bahasa Indonesia

a bunyi /a/ seperti pada kata

e bunyi /E/ seperti pada lebar

E bunyi /e/ seperti pada ember

ē bunyi /e/ seperti pada besar

i bunyi /I/ seperti pada ikan

I bunyi /i/ seperti pada kawin

o bunyi /o/ seperti pada toko

O bunyi /o/ seperti pada pokok

u bunyi /U/ seperti pada kutu

U bunyi /u/ seperti pada pantun

? bunyi hamzah (hambat glotal) seperti pada bapak

n bunyi /n/ seperti pada banyak

ŋ bunyi /ŋ / seperti pada pandang

aw bunyi diftong seperti pada kata kerbau

ay bunyi diftong seperti pada kata petai

oy bunyi diftong seperti pada amboi

xi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bangsa Indonesia mempunyai banyak sekali suku, ras, maupun bahasa
dengan dialek yang beragam.Ada suku Madura, Dayak, Melayu, Jawa, Bugis
dan banyak suku lainnya dengan dialeknya masing-masing hingga dengan
mudah dikenali atau pun menjadi ciri bahasa yang terbentang dari Sabang
sampai Maroke.
Manusia adalah makhluk yang mempunyai akal dan pikiran, serta
mempunyai kemampuan dan pengetahuan dari makhluk yang lainnya.Manusia
juga dapat dikatakan sebagai makhluk sosial yang saling berinteraksi antara
individu lainnya dengan menggunakan sebuah alat komunikasi yaitu bahasa.
Adapun cara mengetahui bahasa dapat dilakukan dengan cara mendengar,
melihat, merasa dan sebagainya, yang merupakan bagian alat indra manusia.
Manusia yang didasarkan secara indrawi dikategorikan sebagai pengetahuan
empiris, artinya pengetahuan yang bersumber dari pengalaman. Pengetahuan ini
mengarah pada penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan sehari-hari oleh
masyarakat baik masyarakat kota maupun masyarakat pedesaan, sehingga
menimbulkan variasi berbeda yang disebabkan beberapa faktor, yaitu
disebabkan oleh pendidikan, letak geografis dan pergaulan. Rohmadi
menjelaskan bahasa adalah alat komunikasi dalam kehidupan manusia (2012 :
9). Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan.Melalui
bahasa, setiap manusia melakukan komunikasi dengan sesamanya.Selain itu,
melalui media bahasa seseorang juga dapat menuangkan ide dan gagasan
terhadap masalah yang timbul dalam berbagai segi kehidupan.Pendekatan
bahasa sebagai bahasa ini juga sejalan dengan sifat atau ciri hakiki bahasa,
antara lain adalah (1) bahasa itu adalah sebuah sistem, (2) bahasa itu berwujud
lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bersifat arbitrer, (5) bermakna, (6)

1
2

bersifat konvensional, (7) unik, (8) bersifat universal, (9) produktif, (10)
bervariasi, (11) dinamis, (12) sebagai alat interaksi sosial, (13) merupakan
identitas penuturnya (Ngalimun & Noor Alfulaila, 2004 : 81).
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa bahasa
merupakan suatu alat komunikasi masyarakat yang bersifat arbitrer dan
mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran). Aktivitas manusia tidak
dapat berlangsung tanpa adanya bahasa. Pada era sekarang ini, semakin tinggi
peradaban manusia maka semakin tinggi pula intensitas penggunaan bahasa
yang didukung dengan kemajuan teknologi.
Di dalam bahasa sehari-hari yang kita gunakan, terdapat ilmu yang
mengkaji mengenai bahasa secara saintifik, yaitu linguistik.Linguistik adalah
ilmu tentang bahasa, penyelidikan bahasa secara alamiah (Kridalaksana, 2008 :
144). Yaitu ilmu yang mengkaji dan menganalisis satu-satu bahasa tertentu
secara empirikal dan objektif, yaitu mengkaji bahasa itu seperti yang benar-
benar wujud tanpa dipengaruhi oleh agakan-agakan, ramalan, sentimen atau
filsafah.Objek utama kajian utama linguistik adalah bahasa lisan, yaitu bahasa
dalam bentuk ujar.Fonetik dan fonologi berada dibawah cabang dan bidang
linguistik deskriptif. Linguistik deskriptif menguraikan bagaimana bunyi-bunyi
bahasa itu dituturkan dan bagaimana sistem bahasa itu digunakan dalam bidang
fonologi, morfologi, sintaksis dan segala aspek yang terdapat dalam bahasa,
termasuk didalamnya bahasa Melayu dialek Sambas (selanjutnya disingkat
BMDS).
BMDS merupakan satu diantara bahasa Melayu yang ada di Provinsi
Kalimantan Barat. BMDS pada umunya digunakan oleh masyarakat yang
tinggal di Kabupaten Sambas. Seperti bahasa daerah lainnya, BMDS juga
berfungsi sebagai alat komunikasi antar keluarga dan masyarakat serta
pengungkapan pikiran dan kehendak penuturnya. Selain fungsi tersebut, BMDS
juga berfungsi sebagai identitas masyarakat Sambas dan lambang kebanggan
masyarakat Sambas. Mengingat pentingnya kedudukan bahasa daerah dalam
membina dan mengembangkan kebudayaan , maka bahasa daerah perlu dibina
dan dilestarikan. Meski Kabupaten Sambas dominan masyarakatnya
3

menggunakan bahasa Melayu, namun bila di telaah lebih dalam terdapat


perbedaan penyebutan bahasa, baik dari segi penyebutan vokal maupun
konsonan.
Berdasarkan paparan diatas, penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian tentang varian fonologi bahasa Melayu dialek Sambas. Alasan
peneliti memilih variasi fonologi sebagai acuan penelitian yaitu ingin
memperkenalkan variasi bahasa Melayu dialek Sambas terhadap masyarakat
luas, khususnya variasi fonologi yang ada pada Desa Segarau dan Desa Tebas
Sungai Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Alasan kedua, yaitu penelitian
varian fonologi bahasa Melayu dialek Sambas Desa Segarau dengan Desa
Tebas Sungai Kecamatan Tebas belum pernah diteliti sebelumnya. Alasan
ketiga yaitu penulis sangat tertarik dengan perbedaan bahasa khusunya fonologi
yang dituturkan oleh Mayarakat Desa Segarau dan Desa Tebas Sungai,
meskipun sama-sama Bahasa Melayu Sambas bahkan dalam satu kecamatan,
yaitu Kecamatan Tebas. Kemudian jika dikaitkan dengan bidang pembelajaran,
penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pengetahuan demi
meningkatkan mutu pendidikan. Khususnya dalam pembelajaran bahasa, yang
terdiri dari empat aspek keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara,
membaca dan menulis. Pembelajaran fonologi bisa disajikan pada materi empat
aspek keterampilan bahasa tersebut. Namun, dari beberapa aspek tersebut,
keterampilan berbahasa yang lebih dominan dengan aspek fonologi yaitu aspek
berbicara.
Aspek fonologi dalam berbicara, misalnya dalam materi pembelajaran
kebahasaan kelas VII di Sekolah Menengah Pertama sebagaimana telah
disebutkan dalam standar kompetensi yaitu Mengekspresikan pikiran dan
perasaan melalui kegiatan berbicara. Selanjutnya dengan kompetensi dasar
yaitu Bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gesture, dan
mimik yang tepat. Berbicara merupakan aspek keterampilan berbahasa yang
produktif. Selain menjadi bekal dalam pemakaian Bahasa Indonesia yang baik
dan benar dalam kehidupan sehari-hari juga bermanfaat dalam pembinaan
kemampuan berbahasa siswa. Serta berdasarkan keaslian bahasa Melayu
4

Sambas yang digunakan oleh masyarakat Desa Segarau Parit dan Desa Tebas
Sungai Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas.
Penelitian ini dilakukan di Desa Segarau Parit dan Desa Tebas Sungai,
Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Tebas adalah sebuah kecamatan di
Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Terletak diantara 059º
Lintang Utara, 117º Lintang Selatan, 10903º Bujur Timur dan 10925º Bujur
Timur. Terkenal dengan hasil bumi tanaman jeruk yang pernah terkenal dengan
jeruk Pontianak.Sebagian besar pekerjaan masyarakat Kecamatan Tebas adalah
petani, selebihnya pedagang, buruh, nelayan dan pegawai. Kecamatan Tebas
terbentuk pada tahun 1956 pada awalnya meiliki luas wilayah ± 624,24 Km²
dengan membawahi 30 Desa. Sejalan dengan perkembangan, yaitu dengan
dikeluarkannya Peraturan Daerah Kabupaten Sambas Nomor 2 Tahun 2002
tentang pembentukan Kecamatan Tekarang, maka luas wilayah Kecamatan
Tebas berkurang menjadi 391,14 Km² dengan jumlah desa menjadi 23 Desa,
yaitu Desa Tebas Kuala, Desa Tebas Sungai, Desa Sempalai, Desa Bekut, Desa
Sejiram, Desa Makrampai, Desa Dungun Perapakan, Desa Mekar Sekuntum,
Desa Mensere, Desa Sungai Kelambu, Desa Serindang, Desa Matang Labong,
Desa Serumpun Buluh, Desa Pusaka, Desa Maktangguk, Desa Pangkalan
Kongsi, Desa Batu Mak Jage, Desa Bukit Segoler, Desa Segedong, Desa
Seberkat, Desa Segarau Parit, desa Maribas dan Desa Seret Ayon. Kecamatan
Tebas memiliki batas wilayah utara berbatasan dengan Kecamatan Sebawi,
sedangkan batas wilayah selatan berbatasan degan Kecamatan Semparuk, bata
wilayah timur berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang dan terakhir
perbatasan wilayah sebelah barat yaitu berbatasan langsung dengan kecamatan
Tekarang.
Desa Segarau Parit dan Desa Tebas Sungai adalah desa yang terletak di
Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Dengan memiliki luas masing-masing
yaitu Desa Segarau Parit dengan luas desa 1774,50 Ha. Sedangkan Desa Tebas
Sngai memiliki luas 20,30 km² (5,13% dari wilayah Kecamatan Tebas) dan
merupakaan desa terluas ke-5 di Kecamtan Tebas setelah Desa Maribas, Desa
Seret Ayon, Desa Seberkat dan Desa Batu Mak Jage. Desa Segarau Parit
5

terletak memisah dari desa-desa lainnya yang ada di Kecamatan Tebas, yaitu di
pisahkan oleh bentangan Sungai Sambas yang sangat luas, dengan anak sungai
yang mengalir dari Desa Tebas Sungai menuju Desa Segarau Parit.
Penelitian tentang fonologi pernah dilakukan oleh mahasiswa IKIP
sebelumnya yaitu Fitrianus Anton dan Ninis Ariska.Fitrianus Anton meneliti
fonologi dengan judul “Fonologi Bahasa Dayak Salako Kecamatan Tebas
Kabupaten Sambas (2014)”, sedangkan Ninis Ariska meneliti fonologi dengan
judul “Fonologi Bahasa Dayak Kanaytn (AHE) Di Desa Lingga Kecamatan
Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya (20014)”.
Penelitian tentang bahasa melayu dialek Sambas juga pernah di teliti
oleh mahasiswa IKIP yaitu oleh Arik Arianto dan Yuniarti. Penelitian Arik
Arianto dengan judul “ Idiom Bahasa Melayu Dialek Sambas Desa Tekarang
Kecamatan Tekarang Kabupaten Sambas (2014)”, sedangkan Yuniarti meneliti
dengan judul penelitian “Tindak Tutur Bahasa Melayu Dialek Sambas Di
Kabupaten Sambas (Kajian Sosiopragmatik) (2014)”.
Berdasarkan beberapa penelitian diatas, varian fonologi dalan BMDS
masih perlu dikaji mengingat varian fonologi dalam BMDS memiliki perbedaan
dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya.Varian bahasa
Melayu di Kalimantan Barat telah lama disadari, khususnya di Kabupaten
Sambas, Kecamatan Tebas.Hampir setiap desa mempunyai ciri atau ragam
bahasa Melayu yang berberda dan dengan mudah dikenali ketika pertama
mendengar seseorang berbicara. BMDS yang penulis jadikan sebagai objek
penelitian ini, yaitu untuk mengetahui perbedaan tuturan bahasa Melayu
Sambas khususnya di Desa Segarau Parit dan Desa Tebas Sungai yang
digunakan oleh penutur atau pengguna bahasa Melayu Sambas. Oleh karena itu,
dilakukan pengamatan dan penelitian yang harus dilakukan untuk mengetahui
apa saja permasalahan yang terjadi dalam proses analisis fonologi baik dari segi
fonetik dan fonemiknya.
BMDS atau tuturan yang dianalisis dari segi fonetik dan fonemiknya,
dari pengguna bahasa Melayu terebut sehingga dikelola dalam sebuah tulisan
karya ilmiah, dan diperkuat dengan penetapan pada Undang-Undang Republik
6

Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 yang didalamnya terdapat pasal 35 yang


berbunyi “ Penulisan dan publikai sebagai mana dimaksud pada ayat (1) untuk
tujuan atau bidang kajian khusus dapat menggunakan bahasa daerah atau bahaa
asing”.
Keaslian BMDS yang digunakan oleh masyarakat Desa segarau Parit
dan Desa Tebas Sungai, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas dengan
pertimbangan bahwa kehidupan sosial masyarakat yang masih utuh namun
berbeda bunyi ujaran yang disampaikan karena disebabkan oleh letak geografis,
pendidikan dan pergaulan yang berbeda maka peneliti memutuskan meneliti
bahasa yang digunakan khususnya di bidang fonologi di Desa Segarau Parit dan
Desa Tebas Sungai.

B. Fokus dan Sub Fokus Penelitian


Berdasarkan latar belakang diatas, dapat ditemukan fokus umum dalam
penelitian ini, yaitu “Bagaimana varian fonologi bahasa Melayu dialek Sambas,
Desa Segarau dengan Desa Tebas Sungai, Kecamatan Tebas?”
Adapun fokus umum diatas, peneliti menemukan sub fokus masalah
khusus dari penelitian ini. Adapun sub-sub masalah khusus dari penelitian ini
yaitu :
1. Adakah terdapat perbedaan fonologi bahasa Melayu Dialek Sambas,
Antara Desa Segarau dan Desa Tebas Sungai, Kecamatan Tebas?
2. Bagaimanakah faktor penyebab terjadinya varian fonologi bahasa Melayu
Dialek Sambas, Antara Desa Segarau dan Desa Teabas Sungai, Kecamatan
Tebas?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan sub-sub masalah diatas, maka tujuan umum dalam
penelitian ini adalah “Varian fonologi bahasa melayu dialek Sambas, Desa
Segarau dengan Desa Tebas Sungai, Kecamatan Tebas”. Secara khusus
penelitian ini adalah sebagai berikut :
7

1. Perbedaan fonologi bahasa Melayu dialek Sambas, Desa Seagarau dengan


Desa Tebas Sungai Kecamatan Tebas.
2. Faktor penyebab terjadinya varian fonologi bahasa Melayu dialek Sambas,
Desa Segarau dengan Desa Tebas Sungai, Kecamatan Tebas.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara
teoretis maupun secara praktis. Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil
penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoretis dari penelitian ini adalah diharapkan dapat
memberikan sumbangan pikiran dalam bidang kebahasaan, khususnya
dalam bidang ilmu fonologi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan
kepada masyarakat, baik Desa Segarau maupun Desa Tebas Sungai
mengenai fonologi khususnya bagian fonemik dalam bahasa melayu
yang sering digunakan setiap hari, agar kedepannya mereka bisa
melakukan pemakaian fonologi pada bagian fonemik di saat yang tepat.
b. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi peneliti, yaitu :
1) Dapat memberikan pengalaman dan wawasan bahwa dalam proses
interaksi atau berkomunikasi dengan masyarakat dalam forum
resmi lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia, dan bahasa
daerah digunakan sebagai bahasa sehari-hari saja saat berinteraksi
dengan sesama.
2) Sebagai sarana pengembangan diri sehingga peneliti dapat
menemukan hal-hal baru dalam ilmu kajian linguistik.
8

c. Bagi Pendidikan
Implementasi bagi pendidikan, hasil penelitian ini dapat
memberikan kontribusi dalam pembelajaran bahasa Indonesia di
sekolah. Fonologi ini dapat dijadikan penunjang dalam pembelajaran
bahasa indonesia di sekolah baik untuk pengajar maupun pelajar.
Pembelajaran mengenai fonologi ini dapat ditemukan dalam
pembelajaran SMP (Sekolah Menengah Pertama).

E. Ruang Lingkup Penelitian


Dalam ruang lingkup penelitian ini meliputi variabel penelitian dan
definisi operasional, sebagai berkut :
1. Variabel Penelitian
Agar mempermudah memahami pengumpulan data, maka hal yang
baru perlu diperhatikan terlebih dahulu adalah penetapan variabel
penelitian. Variabel penelitian adalah gejala-gejala yang menunjukkan
variasi, baik dalam jenis maupun tingkatannya (Sutrisno Hadi dalam Hamid
Darmadi, 2011 : 20). Menurut Hack dan Farhadi (dalam Hamid Darmadi
2011 : 20) mengemukakan bahwa “variabel dapat didefinisikan sebagai
atribut dari seorang atau objek yang mempunyai variasi antara satu dengan
orang lain atau satu objek lain”. Sedangkan menurut Arikuntoro (2010 : 61)
“Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik penelitian
suatu penelitian”. Sedangkan menurut Sugiyono (2006 : 61) mengatakan
“Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,
objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang diterapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan dikemudian ditarik kesimpulan”.
Berdasarkan definisi variabel menurut para ahli diatas, maka dapat
disimpulkan bahawa yang dimaksud dengan variabel adalah suatu gejala
yang bervariasi yang menjadi objek pengamatan dalam suatu penelitian.
Penelitian ini, penulis menggunakan variabel tunggal atau holistik yaitu
“Varian Fonologi Bahasa Melayu dialek Sambas Antara Desa Segarau dan
Desa Tebas Sungai Kecamatan Tebas (Kajian Sosiolinguistik)”, yang terdiri
9

dari fonologi yaitu ilmu yang mengkaji tentang bunyi bahasa, fonetik yaitu
pengkajian yang menitikberatkan pada ekspresi bahasa dan bunyi yang
dihasilkan penutur bukan maknanya, dan terakhir fonemik yaitu kajian
bunyi-bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsinya sebagai pembeda
makna (kata).
2. Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini berfungsi mempertegas
variabel penelitian yang menjadi gejala-gejala yang diungkapkan dalam
penelitian. Oemar Hamalik, (1990 : 242) mengatakan bahwa “Definisi
operasional adalah penjelasan mengenai istilah dan kata kunci yang terdapat
dalam penelitian”. Adapun cara agar tidak salah persepsi dan menyamakan
penafsiran terhadap beberapa istilah yang peneliti gunakan dalam penelitian
adalah :
a. Varian
Menurut kamus pelajar lanjutan tingkat pertama,(2006 : 768),
varian yaitu bentuk yang berbeda dari aslinya, bunyi dicantumkan agar
jelas ucapannya.
b. Fonologi
Fonologi adalah kajian linguistik yang memelajari, membahas,
membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi
oleh alat-alat ucap manusia, Abdul Chaer (2009 : 1).
c. Bahasa Melayu Dialek Sambas Desa Segarau (BMDSDS)
Bahasa Melayu dialek Sambas Desa Segarau (BMDSDS)
adalah satu diantara bahasa Melayu yang ada di Kalimantan Barat
digunakan oleh masyarakat Melayu yang tinggal di Kabupaten Sambas
khususnya masyarakat Desa Segarau.
d. Bahasa Melayu Dialek Sambas Desa Tebas Sungai (BMDSTS)
Bahasa Melayu dialek Sambas Desa Tebas Sungai (BMDSTS)
adalah satu diantara bahasa Melayu yang ada di Kalimantan Barat
digunakan oleh masyarakat Melayu yang tinggal di Kabupaten Sambas
khususnya masyarakat Desa Tebas Sunga
BAB II
VARIAN FONOLOGI BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS ANTARA
DESA SEGARAU DAN DESA TEBAS SUNGAI
KECAMATAN TEBAS
(Kajian Sosiolinguistik)

A. Hakikat Bahasa
Setiap manusia selalu berkeinginan untuk menjalin hubungan dengan
orang lain di lingkungannya. Hal ini merupakan akar kuadrat dari sifat manusia
sebagai makhluk sosial. Dalam menjalin hubungan tersebut, bahasa memiliki
peranan yang penting. Bahasa tidak dapat terpisahkan dari manusia dan
mengikuti dirinya dalam setiap kegiatannya. Dari pagi hingga malam hari ketika
beristirahat, manusia tidak akan pernah terlepas dari pemakaian / penggunaan
bahasa. Bahkan ketika tidur pun seseorang masih menggunakan bahasa.
Kata bahasa dalam Bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu
pengertian, sehingga sering kali membingungkan. Definisi bahasa memiliki
sifat atau ciri itu, antara lain adalah (1) bahasa itu adalah sebuah sistem, (2)
bahasa itu berwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bersifat arbitrer,
(5) bermakna, (6) bersifat konvensional, (7) unik, (8) bersifat universal, (9)
produktif, (10) bervariasi, (11) dinamis, (12) sebagai alat interaksi sosial, (13)
merupakan identitas penuturnya, Ngalimun & Noor Alfulaila (2014 :81).
Menurut Siswanto bahasa adalah seperangkat kaidah untuk
berkomunikasi antar umat manusia. Bahasa itu sistematik, manasuka, ucapan,
simbol, mengacu pada dirinya, komunikasi, produktif, unik, universal, benda,
objek yang bisa diteliti secara ilmiah, merupakan daftar kata-kata dan tak
tertukarkan.
Sedangkan menurut Muhammad Rohmadi & Aninditya Sri
Nugraheni,(2012: 9), bahasa adalah alat komunikasi dalam kehidupan manusia
Sarwiji Suwandi dalam bukunya Semantik Pengantar Kajian Makna,
mengartikan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer, yang

10
11

dipakai oleh para anggota sesuatu mayarakat untuk bekerja sama, berinteraksi,
dan mengidentifikasi diri.
Dari beberapa pengertian bahasa diatas, dapat disimpulkan bahwa
bahasa adalah suatu sistem lambang bunyi bersifat arbitrer,yang digunakan
untuk alat komunikasi dalam kehidupan manusia.

B. Fungsi Bahasa
Umumnya mengetahui bahwa bahasa merupakan suatu kenyataan
ababila manusia mempergunakan bahasa sebagai sarana komuniaksi verbal
dalam hidup ini. Bahasa adalah milik manusia. Bahasa merupakan ciri utama
yang membedakan umat manusia dengan makhluk hidup lainnya di dunia ini.
Setiap anggota masyarakat selalu terlibat dalam suatu komunikasi, karena
bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting bagi manusia terutama sekali
fungsi komunikatif. Berikut tujuh pendapat Halliday dalam Ngalimun & Noor
Alfulaila (2014 : 116) berkait dengan fungsi bahasa :
a. Fungsi instrumental yang bermaksud pengelolaan lingkungan,
menyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi.
b. Fungsi regulasi bertindak untuk mengawasi serta mengendalikan peristiwa-
peristiwa.
c. Fungsi interaksional bertugas untuk menjamin serta memantapkan
ketahanan dan kelangsungan komunikasi sosial.
d. Fungsi personal memberi kesempatan kesempatan kepada seseorang
pembicara untuk mengekspresikan perasaan, emosi, pribadi, serta reaksi-
reaksi yang mendalam.
e. Fungsi heuristik melibatkan penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu
pengetahuan, mempelajari seluk-beluk lingkungan. Fungsi heuristik
seringkali disampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang
menuntut jawaban secara khusus anak-anak mendapatkan penggunaan
fungsi ini dalam aneka pertanyaan ‘mengapa’? yang tidak putus-putusnya
mengenai dunia sekeliling alam sekitar mereka.
12

Menurut Keraf dalam Lamuddin Finoza,(2013 : 2), dalam literatur


bahasa, para ahli merumuskan fungsi bahasa secara umum ada empat, yaitu :
a. Sebagai alat komunikasi
b. Sebagai alat mengekpresikan diri
c. Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi sosial
d. Sebagai alat kontrol sosial

C. Hakikat Bahasa Dialek Melayu Sambas


Bahasa daerah adalah penamaan bahasa yang digunakan oleh kelompok
yang anggota-anggotanya secara relatif memperlihatkan frekuensi interaksi
yang lebih tinggi diantara mereka dibandingkan dengan mereka yang tidak
bertutur dalam bahasa daerah tersebut, M.Masinambow & Paul Haenen ( 2002
: 52).
Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang sampai saat ini sudah
ditemukan, para ahli arkeologi dan sejarah berkesimpulan bahwa bahasa
Melayu ternyata sudah di pakai di Indonesia sekurang-kurangnya sejak abad ke-
7 dalam wujud bahasa Melayu kuno.
Nama bahasa Melayu adalah nama yang dipilih oleh responden dari dua
ratus nama bahasa yang diberikan dalam daftar pengumpul data sensus. Nama
ini di pilih oleh lebih dari 20% penduduk di Provinsi Riau, Jambi, Sumatra
Selatan, Kalimantan Barat, masing-masing 51% di Riau, 33% di Jambi, 32% di
Sumatra Selatan dan 26% di Kalimantan Barat, Masinambow & Paul Haenen
(2001 : 25).
Bahasa Melayu Dialek Sambas (selanjutnya disingkat BMDS)
merupakan satu diantara bahasa daerah yang ada di indonesia, khususnya di
Kalimantan Barat yang masih dipelihara dengan baik oleh masyarakat
penuturnya. Secara linguistik Suku Sambas merupakan dari rumpun Suku
Dayak, khususnya dayak Melaik yang dituturkan oleh tiga suku dayak yaitu
Dayak Meratus, Dayak Iban, dan Dayak Kendayan (Kanayatn). Penutur utama
dari BMDS ini adalah masyarakat suku Melayu Sambas. BMDS berkedudukan
sebagai lambang identitas dari Masyarakat Sambas. BMDS berfungsi sebagai
13

alat komunikasi antara individu satu dengan yang lainnya didalam kehidupan
masyarakat Sambas, baik dilingkungan keluarga maupun di masyarakat,
maupun dimasyarakat. Disamping sebagai alat komunikasi antar anggota
masyarakat, BMDS juga digunakan sebagai wahana memelihara aspek
kebudayaan, sarana pengembangan dunia pendidikan, ekonomi, sosial, dan
politik. Dalam hal ini, misalnya sebagai bahasa pengantar di sekolah, kegiatan
usaha (perdagangan lokal), bahasa pengantar dalam kegiatan sosial (penyuluh,
ceramahan, dan rapat) dalam upacara adat, dan penceritaan cerita rakyat.
Termasuk bahasa daerah, BMDS memberikan pengaru positif terhadap
perbendaharaan kata bahasa Indonesia dan kontribusinya terhadap bahasa
nasional (Indonesia) sebagai bahasa persatuan dan kesatuan. Dalam hubungan
fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi sebagai (1) pendukung bahasa
nasional, (2) bahasa pengantar sekolah-sekolah di daerah tertentu, dan (3) alat
pengembang sebagai pendukung budaya daerah. Mengingat pentingnya fungsi
tersebut, perlu dilakukan upaya untuk membina, memelihara, mengembangkan,
dan melestarikan bahasa daerah khususnya BMDS.
Bahasa melayu khususnya bahasa melayu dialek Sambas merupakan
suatu bahasa menjadi pengantar pembicaraan yang digunakan oleh masyarakat
dalam berbicara. Bahasa daerah Sambas merupakan Bahasa Ibu yang harus
dilestarikan sesuai dengan rekomendasi UNESCO 1999 tentang pemeiharaan
Bahasa Ibu di Dunia. Adapun ciri khas BMDS yang membedakan penuturnya
dengan penutur bahasa Melayu di daerah lain di Kalbar adalah sebagai berikut,
pelafalan vokal a dikahir kata dilafalkan menjadi e dan konsonan yang
digunakan umumnya konsonan rangkap. Dapat diketahui, bahawa Bahasa
Melayu yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi dan
merupakan dasar dari Bahasa Indonesia, karena abad 15-17 bahasa Melayu di
kawasan Asia Tenggara dijadikan bahasa pergaulan Internasional (Lingua
Pranca).
Kabupaten Sambas terdiri dari Sembilan Belas Kecamatan, yaitu
Kecamatan Selakau,Selakau Timur, Salatiga, Pemangkat, Jawai,Jawai Selatan,
14

Semparuk, Tebas, Tekarang, Sebawi, Sambas, Teluk Keramat, Paloh,


Sejangkung, Sajingan, Galing, Sajad, Subah dan Tangaran.
1. Bahasa Melayu Dialek Sambas Desa Segarau (BMDSDS)
Segarau adalah desa yang terdapat di Kecamatan Tebas, Kabupaten
Sambas, Kalimantan Barat. Desa ini satu-satunya desa Kecamatan Tebas
yang berada di seberang sungai. Desa ini memiliki luas 1774,50 Ha.
Penduduk Desa Segarau mayoritas penduduknya adalah Melayu dan
menggunakan Bahasa Melayu dalah berkomunikasi sehari-hari. Bahasa
Melayu dialek Sambas Desa Segarau (BMDSDS) adalah satu diantara
bahasa Melayu yang ada di Kalimantan Barat digunakan oleh masyarakat
Melayu yang tinggal di Kabupaten Sambas khususnya masyarakat Desa
Segarau.
2. Bahasa Melayu Dialek Sambas Desa Tebas Sungai (BMDSTS)
Tebas sungai adalah desa yang terdapat di Kecamatan Tebas,
Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Desa ini memiliki luas 20,30 km²
(5,13% dari wilayah Kecamatan Tebas) dan merupakan desa terluas ke-5
di Kecamatan Tebas setelah Desa Maribas, Desa Seret Ayon, Desa
Seberkat dan Desa Batu Mak Jage. Bahasa Melayu dialek Sambas Desa
Tebas Sungai (BMDSTS) adalah satu diantara bahasa Melayu yang ada di
Kalimantan Barat digunakan oleh masyarakat Melayu yang tinggal di
Kabupaten Sambas khususnya masyarakat Desa Tebas Sungai.

D. Fonologi
Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang
berarti ‘bunyi’, dan logi yang berarti ‘ilmu’. Sebagai sebuah ilmu, fonologi
lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari,
membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang
diproduksi oleh alat-alat ucap manusia, Abdul Chaer (2009 : 1).
Menurut C. Spat,(1989 : 14), fonologi yaitu bunyi-bunyi yang
dihasilkan oleh alat bicara. Setiap bahasa menggunakan seperangkat bunyi
tersendiri, yang hanya merupakan bagian yang amat kecil dari jumlah bunyi
15

yang nyaris tak terbatas, yang dapat dihasilakan oleh alat bicara manusia.
Bunyi-bunyi dapat dibagi menjadi vokal atau bunyi hidup dan konsonan atau
bunyi mati Bila kita mendengar suara orang berbicara entah berpidato atau
bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtutan bunyi-bunyi bahasa yang terus
menerus, kadang-kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang-kadang
terdengar hentian sejenak dan hentian agak lama, kadang-kadang terdengar pula
suara panjang dan suara biasa dan sebagainya.
1. Fonetik
Fonetik merupakan bidang kajian ilmu pengetahuan (science) yang
menelaah bagaimana manusia menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dalam
ujaran, menelaah gelombang-gelombang bunyi bahasa yang dikeluarkan,
dan bagaimana alat pendengarkan manusia menerima bunyi-bunyi bahasa
yang untuk dianalisis oleh otak manusia O’Connor, 1982:10-11, ladefoged,
1982 : 1 dalam Masnur Muslich (2011 : 8). Menurut Clark dan Yallop
dalam Masnur Muslich (2011 : 8) , fonetik merupakan bidang yang
berkaitan erat dengan kajian bagaimana cara manusia berbahasa serta
mendengar dan memproses ujaran yang diterima. Sedangkan menurut
Bertil Marlberg dalam Masnur Muslich (2011 : 17), seorang fonetisi
Prancis, mendefinisikan fonetik sebagai pengkajian bunyi-bunyi bahasa.
Jadi, dari beberapa pengertian fonetik dari berbagai para ahli di
atas, dapat disimpulkan bahwa fonetik ialah pengkajian yang lebih
menitikberatkan pada ekspresi bahasa, bukan isinya. Yang dipentingkan
adalah bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan penutur, bukan makna yang
ingin disampaikan.
a. Alat Ucap
Apa yang disebut sebagai alat ucap sebenarnya mempunyai
fungsi utama untuk kelangsungan hidup kita. Paru-paru mempunyai
fungsi utama mengisap zat pembakar untuk disalurkan kedalam darah
dan menyalurkan zat asam arang ke luar tubuh. Pita suara mempunyai
fungsi utama menjaga agar tidak ada benda-benda apa pun yang masuk
ke saluran pernapasan. Lidah mempunyai fungsi utama memindahkan
16

makanan yang akan atau sedang dikunyah dan merasakan makanan yang
akan ditelan. Gigi mempunyai fungsi utama melumat makanan yang
akan masuk ke perut sehingga memudahkan kerja pencernaan.
Ketika berbicara, organ-organ tubuh yang disebut sebagai alat
ucap itu bekerja seperti pada proses ketika melakukan fungsi utamanya
masing-maing. Jadi, tidak ada perbedaan operasional yang berarti.
Hanya soal pengaturan saja sehingga bisa difungsikan sebagai alat
pembentukan bunyi.
Organ-organ tubuh yang dipergunakan sebagai alat ucap dapat
dibagi menjadi tiga komponen, yaitu (a) komponen supraglotal, (b)
komponen laring, dan (c) komponen subglotal.
1) Komponen Supraglotal
Komponen supraglotal ini terdiri dari rongga yang
berfungsi sebagai lubang resonansi dalam pembentukan bunyi, yaitu
(1) rongga kerongkongan (faring), (2) rongga hidung, dan (3) rongga
mulut. Rongga kerongkongan yang terletak di atas laring ini
merupakan tabung dan di bagian atasnya bercabang dua, yang
berwujud rongga mulut dan rongga hidung. Peranan rongga
kerongkongan ini hanyalah sebagai tabung udara yang akan turut
bergetar apabila pita suara (yang terletak di laring) menimbulkan
getaran pada arus udara yang lewat dari paru-paru. Volume rongga
kerongkongan ini dapat diperkecil denagn menaikkan laring, dengan
mengangkat ujung langit-langit lunak sehingga hubungan dengan
rongga hidung tertutup, dan dengan menarik belakang lidah ke arah
dinding faring.
Rongga hidung mempunuyai bentuk dan dimensi yang
relatif tetap tetapi dalam kaitannya dengan pembentukan bunyi
mempunyai fungsi sebagai tabungan resonansi. Peran ini terjadi
ketika arus udara dari paru-paru mengalami getaran sewaktu melalui
pita suara, dan getaran itu menggetarkan udara yang ada dalam
rongga kerongkongan, rongga mulut, dan rongga hidung. Udara
17

yang ada di rongga hidung akan ikut bergetar apabila pangkal


rongga hidung tidak disumbat oleh langit-langit lunak. Dalam
praktik pembentukan ujar, udara yang dari paru-paru (dan bergetar
setelah melalui pita suara) bisa keluar melalui tiga kemungkinan,
yaitu keluar melalui rongga hidung saja, keluar melalui rongga
mulut saja, atau keluar melaui rongga hidung dan rongga mulut.
Bunyi yang dihasilkan oleh arus udara yang keluar dari rongga
hidung saja disebut bunyi oral, dan yang keluar melalui rongga
hidung dan rongga mulut disebut bunyi dinasalisasi.
Rongga mulut merupakan rongga yang paling penting di
antara ketiga rongga yang ada pada supraglotal. Selain dimensi dan
bentuknya sangat bervariasi, bunyi-bunyi ujar yang dihasilakn dari
rongga mulut ini sangat banyak dan bervariasi. Hal ini
dimungkinkan karena keterlibatan lidah, bibir dan juga rahang yang
mudah digerakkan. Bagian-bagian alat ucap yang terdapat dalam
rongga mulut yang bia digerakkan disebut artikulator, dan bagian-
bagian alat ucap yang menjadi sasaran sentuh disebut titik artikulasi.
Artikulator berada dibagian bawah rongga mulut, sedangkan titik
artikulasi berada dibagian atas rongga mulut.
2) Komponen Laring
Laring yang biasa disebut dengan tenggorokkan ini
merupakan kotak yang berbentuk tulang rawan berbentuk lingkaran.
Didalamnya terdapat pita suara. Laring dengan kerja pita suara
inilah yang berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara
paru-paru, mulut, dan hidung. Pita suara yang dengan kelenturannya
bisa membuka dan menutup ini bisa memisahkan dan sekaligus
menghubungkan antara udara yang ada pada paru-paru dan yang ada
pada mulut dan hidung. Sebaliknya, apabila klep ditutup rapat, udara
yang ada pada paru-paru terpisah total dengan udara yang ada pada
mulut dan hidung.
18

Kinerja pita suara di laringlah yang mengakibatkan


penggolongan bunyi bahasa menjadi bunyi bersuara (hidup) dan
bunyi tidak bersuara (mati). Perbedaan pokok antara bunyi bersuara
dan bunyi tidak bersuara terletak pada ada tidaknya gerakan buka-
tutup pita suara ketika pembentukkan bunyi. Suatu bunyi dikatakan
bunyi bersuara (hidup) apabila pita suara melakukan gerakkan
membuka dan menutup secara secara cepat ketika mendapatkan
tekanan arus udara dari paru-paru. Sebaliknya, suatu bunyi
dikatakan bunyi tidak bersuara (mati) apabila pita suara tidak
melakukan gerakan membuka dan menutup. Tidak adanya gerakan
membuka dan menutup pita suara ini desebabkan oleh (1) arus udara
lewat tanpa hambatan yang berarti diantara kedua pita suara, atau (2)
arus udara tidak dapat lewat sama sekali karena pita suara menutup
rapat.
Ketika dua pita suara yang terdapat dalam laring dibuka,
akan terjadi celah yang berbentuk V. Celah diantara dua pita suara
inilah yang disebut glotis. Dengan demikian, glotis ini bisa tertutup
dan bisa terbuka. Glotis terbuka digunakan untuk pembentukkan
bunyi-bunyi tidak bersuara, sedangkan glotis tertutup digunakan
untuk membentuk bunyi-bunyi yang bersuara.
Penutupan rapat pita suara – dengan demikian glotis juga
tertutup – dilakukan untuk pembentukkan bunyi glotal [?] atau bunyi
hamzah. Sementara itu, apabila pita suara terbuka sempit – dengan
demikian glotis juga terbuka sedikit – digunakan untuk membentuk
bunyi frikatif-glotal [h]. Sebaliknya, kalau pita suara terbuka lebar –
dengan demikian glotis juga terbuka penuh – biasanya terjadi saat
menarik napas dalam - dalam.
3) Komponen Subglotal
Komponen subglotal ini terdiri atas paru-paru kiri dan
kanan, saluran bronkial, dan saluran pernapasan (trakea). Fungsi
utama komponen ini adalah untuk pernapasan, yaitu mengalirkan
19

udara dari dan ke paru-paru. Kalau udara mengalir ke dalam paru-


paru disebut menarik napas, sedangkan udara mengalir ke luar (dari
paru-paru) disebut menghembuskan napas.
Proses pengaliran udara yang berganti-ganti arah (ke dalam
dan ke luar) ini disebabkan oleh berkembang kempisnya kedua paru-
paru yang berongga. Apabila kedua paru-paru yang dihubungkan
oleh saluran bronkial ini mengembang maka tekanan udara yang
terdapat diluar lebih besar dari pada yang terdapat di dalam paru-
paru. Sebaliknay, apabila kedua paru-paru yang dihubungkan oleh
saluran bronkial ini mengempis maka tekanan udara yang terdapat
di dalam paru-paru lebuh besar dari pada yang tardapat di luar.
Dengan demikian, udara yang terdapat dalam paru-paru mengalir ke
luar.
Proses pengaliran udara secara bergantian yang disebut
bernapas ini berjalan secara teratur oleh kinerja otot-otot yang
terdapat dalam paru-paru, otot-otot perut, dan rongga dada. Proses
ini tidak mengganggu kegiatan berbicara, bahkan menjadi syarat
utama pembentukkan bunyi bahasa. Tanpa arus udara yang keluar
dari paru-paru, bunyi bahasa tidak akan tercipta.
Dalam kaitannya dalam berbicara, perlu dibedakan dua
macam pernapasan, yaitu (1) pernapasan biasa, dan (2) pernapasan
berbicara. Dalam pernapasan biasa, frekuensi pernapasan (mulai
dari penarikkan, penghembusan, dan penghentian) berkisar antara
10 sampai 20 kali per menit, bergantung pada karbon dioksida dalam
darah. Perbandingan antara penarikan dan penghembusan pada
pernapasan biasa adalah 10:11. Dalam pernapasan bicara, fase
penarikan napas lebih cepat, sedangkan fase penghembusnya lebuh
lambat. Hal ini disebabkan oleh adanya penghambatan arus pada
saat penghembusan dalam rangka pembentukan bunyi bahasa. Oleh
karena itu, perbandingan antara penarikan dan penghembusan pada
pernapsan bicara adalah 1 : 3 – 1 : 10. Berbeda dengan
20

penghembusan pada pernapasan biasa, penghembusan pada


pernapasan bicara merupakan proses aktif dan dikendalikan oleh
pembicara untuk keperluan pembentukan bunyi ujar.
Perlu juga diperhatikan bahwa proses penghasilan bunyi-
bunyi bahasa berlangsung secara kontinum atau terus-menerus.
Demi kepentingan analisis bunyi, arus bunyi yang kontinum itu
dipenggal-penggal, diruas-ruaskan atau disegmen-segmenkan
sampai terwujud segmen bunyi yang paling kecil. Arus bunyi yang
bisa diruas-ruaskan disebut bunyi segmental. Sebaliknya, arus bunyi
yang tidak bisa diruas-ruaskan diebut bunyi non-segmental atau
suprasegmental.
b. Deskripsi Bunyi
Dalam berbagai buku fonologi atau fonetik, dan berbagai kamus
Inggris kita lihat berbagai macam tulisan fonetik. Setiap pakar memang
dapat membuat sendiri, untuk keperluan yang biasanya disesuaikan
dengan keadaan fonetik yang dikajinya. Namun, dalam kajian linguistik
internasional dikenal dengan adanya abjad fonetik, yaitu The
International Phonetic Alphabet (IPA), yang mulai diperkenalkan pada
tahun 1886 oleh The International Phonetic Association; yang kemudian
telah berkali-kali di revisi. Revisi terakhir adalah pada tahun 1989.
Untuk mengkaji pemula, dan yang diesuaikan dengan fonetik bahasa
Indonesia, diturunkan huruf-huruf fonetik iu. Dimulai untuk bunyi-
bunyi vokal, dilanjutkan untuk bunyi-bunyi konsonan dan disusun
secara alfabetis.
1) Bunyi Vokal
Vokal adalah jenis bunyi bahasa yang ketika dihasilkan atau
diproduksi, setelah arus ujar keluar dari glotis tidak mendapat
hambatan dari alat ucap, melainkan hanya diganggu oleh posisi
lidah, baik vertikal maupun horisontal, dan bentuk mulut, Abdul
Chaer (2009 : 38). Adapun vokal tersebut yaitu ; a, i, I, u, U, e, ǝ, Ɛ,
21

o, dan Ͻ. Berikut bunyi dan penulisan vokal secara fonetik beserta


contoh :
a untuk bunyi [a]
contoh:
Tabel 2.1
Vokal a
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 A Anak anak anak
2 Banyak bonyok banyak

i untuk bunyi [i]


Contoh :
Tabel 2.2
Vokal i
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 I dini Dini anak
2 sini sito? sito?

I untuk bunyi [I] ditulis degan I kapital


Contoh :
Tabel 2.3
Vokal I
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 I batIk batik batIk
2 sIksa sIksƐ sIksƐ

u untuk bunyi [u]


Contoh :
22

Tabel 2.4
Vokal u
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 U susu Susu sussu
2 aku Aku aku

U untuk bunyi [U] ditulis dengan U kapital


Contoh :
Tabel 2.5
Vokal U
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 U batU botU batU
2 dUdUk dUdok dUdok

e untuk bunyi [e]


Contoh :
Tabel 2.6
Vokal e
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 E sate sale pale
2 gula Gule gulle
23

ǝ untuk bunyi [ǝ] sama dengan e terbalik


Contoh :
Tabel 2.7
Vokal ǝ
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 Ǝ kǝra kara? kara?
2 bǝli bali balli

Ɛ untuk bunyi [Ɛ]


Contoh :
Tabel 2.8
Vokal Ɛ
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 Ɛ ƐmbƐr ƐmbƐr ƐmbƐr
2 pƐndƐk pƐndƐk pƐndƐk

o untuk bunyi [o]


Contoh :
Tabel 2.9
Vokal o
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 O soto soto soto
2 kado kado kado
24

Ͻ untuk bunyi [Ͻ] hampir sama dengan penyebutan o


Contoh :
Tabel 2.10
Vokal Ͻ
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 Ͻ tϽkϽh tϽkϽh tϽkϽh
2 bϽtak bϽtak bϽtak

2) Bunyi Konsonan
Konsonan adalah bunyi bahasa yang diproduksi dengan
cara, setelah arus ujar keluar dari glotis, lalu mendapat hambatan
pada alat-alat ucap tertentu didalam rongga mulut atau rongga
hidung, Abdul Chaer (2009 : 48). Adapun konsonan tersebut yaitu,
b, c, d, f, g, h, j, k, ?, l, m, n, ṅ, ŋ, p, r, s, š, t, w, x, y, dan z. Berikut
bunyi dan penulisan konsonan secara fonetik beserta contoh :
b untuk bunyi [b]
Contoh :
Tabel 2.11
Konsonan b
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 B Lembar lambor lambar
2 Debu Dabbu dabbu
25

c untuk bunyi [c]


Contoh :
Tabel 2.12
Konsonan c
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 C cacar Cacar cacar
2 cukur Cukor cukor

d untuk bunyi [d]


Contoh :
Tabel 2.13
Konsonan d
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 D Dari Dori dari
2 Adat Adot adat
26

f untuk bunyi [f]


Contoh :
Tabel 2.14
Konsonan f
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 F Fitnah Pitnah pitnah
2 fokus Pokus pokus

g untuk bunyi [g]


Contoh :
Tabel 2.15
Konsonan g
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 G gagal Gagal gagal
2 gigi Gigi gigi
27

h untuk bunyi [h]


Contoh :
Tabel 2.16
Konsonan h
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 H basah boso? basa?
2 parah Parah parah

j untuk bunyi [j]


Contoh :
Tabel 2.17
Konsonan j
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 J Jalan Jolon jalan
2 jambu Jombu jombu
28

k untuk bunyi [k]


Contoh :
Tabel 2.18
Konsonan k
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 K kabar Kabar kabar
2 jarak Jarak jarak

? untuk bunyi [?] hampir menyerupai fonem k


Contoh :
Tabel 2.19
Konsonan ?
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 ? ra?yat ra?yat ra?yat
2 bapa? bapa? bapa?
29

1 untuk bunyi [l]


Contoh :
Tabel 2.20
Konsonan l
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 L lalai Lalai lalai
2 Alam Alam alam

m untuk bunyi [m]


Contoh :
Tabel 2.21
Konsonan m
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 M malam malam malam
2 alam Alam alam

n untuk bunyi [n]


Contoh :
Tabel 2.22
Konsonan n
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 N nakal nakal Nakal
2 dinas Dinas Dinas
30

ṅ untuk bunyi [ny] atau disebut dengan n bertilde


Contoh :
Tabel 2.23
Konsonan ṅ
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa
Segarau Tebas
Indonesia
Parit Sungai
1 ṅ ṅaṅi (nyanyi) ṅoṅi ṅaṅi
(nyonyi) (nyanyi)
2 ṅaring (nyaring) ṅoring ṅaring
(nyoring) (nyaring)

ŋ untuk bunyi [ng] atau disebut dengan n berekor


Contoh :
Tabel 2.24
Konsonan ŋ
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa
Segarau Tebas
Indonesia
Parit Sungai
1 Ŋ ŋaŋa (nganga) ŋaŋa? ŋaŋa?
(nganga?) (nganga?)
2 haŋat (hangat) aŋat aŋat
(angot) (angat)
31

p untuk bunyi [p]


Contoh :
Tabel 2.25
Konsonan p
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 P papan papan nakal
2 depan dappan dappan

r untuk bunyi [r]


Contoh :
Tabel 2.26
Konsonan r
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 R ramah ramah ramah
2 kurap Kurrap kurrap

s untuk bunyi [s]


Contoh :
Tabel 2.27
Konsonan s
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 S sakit Sakit sakit
2 salam Salam Salam
32

š untuk bunyi [sy] disebut dengan huruf s bertilde


Contoh :
Tabel 2.28
konsonan š
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa
Segarau Tebas
Indonesia
Parit Sungai
1 Š šarat (syarat) šarat šarat
(syarat) (syarat)
2 dahšat (dahyat) dahšat dahšat
(dahyat) (dahyat)

t untuk bunyi [t]


Contoh :
Tabel 2.29
Konsonan t
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa
Segarau Tebas
Indonesia
Parit Sungai
1 t tutup Tutup tuttup
2 centong Centong Centong
33

w untuk bunyi [w]


Contoh :
Tabel 2.30
Konsonan w
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 W wali Wali wali
2 awal Awal awal

y untuk bunyi [y]


Contoh :
Tabel 2.31
Konsonan y
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 Y yatim YatƐm yattƐm
2 bayar bayar bayar
34

z untuk bunyi [z]


Contoh :
Tabel 2.32
Konsonan z
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 Z zaman jaman jaman
2 zalim Jalem Jalem

3. Fonemik
a. Fonem
Fonem adalah kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang
berfungsi membedakan makna, Masnur Muslich (2011 : 77).
Berdasarkan rumusan tersebut jelaslah bahwa fonem mempunyai
“fungsi pembeda”, yaitu pembeda makna.
Di dalam bahasa Indonesia dijumpai bentuk linguistik [palaŋ]
‘palang’. Bentuk ini bisa dipisah menjadi lima bentuk linguistik yang
lebih kecil, yaitu [p], [a], [l], [a], dan [ŋ]. Kelima bentuk linguistik ini
(masing-masingnya) tidak mempunyai makna. Jika satu di antara bentuk
linguistik terkecil tersebut (misalnya [p]) diganti dengan bentuk
linguistik terkecil lain (misalnya diganti [k], [t], [j], [m], [d], [g]), maka
makna bentuk linguistik yang lebih besar, yaitu [palaŋ] akan berubah.
[kalaŋ] ‘sangga’ [malaŋ] ‘celaka’
[talaŋ] ‘sejenis ikan’ [dalaŋ] ‘dalang’
[jalaŋ] ‘liar’ [galaŋ] ‘galang’
Berdasarkan bukti empiris tersebut diketahui bahwa bentuk
linguistik terkecil [p] berfungsi membedakan makna terhadap bentuk
linguistik yang lebih besar, yaitu [palaŋ], walaupun [p] sendiri tidak
mempunyai makna. Bentuk linguistik terkecil yang berfungsi
35

membedakan makna itulah yang disebut fonem. Jadi, bunyi [p] adalah
realisasi dari fonem /p.
Pengertian fonem juga bisa diarahkan pada distribusinya, yaitu
perilaku bentuk linguistik terkecil dalam bentuk linguistik yang lebih
besar. Perhatikan data bentuk-bentuk linguistik berikut.
[palaŋ] ‘palang’ [atap’] ‘atap’
[pita] ‘pita’ [sap’tu] ‘sabtu’
[sap] ‘sapu’ [kap’sUl ‘kapsul’
Dari deretan data diatas dapat diketahui bahwa bunyi stop
bilabial tidak bersuara (tercetak tebal) diucapkan secara berbeda. Pada
deretan kiri diucapkan secara plosif, sedangkan deretan kanan
diucapkan implosif. Kedua jenis bunyi ini mempunyai kesamaan
fonetis. Setelah diamati, ternyata bunyi stop bilabial tidak bersuara
diucapkan secara plosif apabila menduduki posisi onset silaba
(mendahului nuklus), sedangkan bunyi stop bilabial tidak bersuara
diucapkan secara implosif apabila menduduki posisi koda silaba
(mengikuti nuklus). Ini berarti, kedua bunyi tersebut berdistribusi
komplementer, yaitu bunyi yang satu tidak pernah menduduki posisi
bunyi yang lain. Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis dan
masing-masing berdistribusi komplementer merupakan alofon dari
fonem yang sama yaitu /p/.
Sebagai bentuk linguistik terkecil yang membedakan makna,
wujud fonem tidak hanya berupa bunyi-bunyi segmental (baik vokal
maupun konsonan), tetapi bisa juga berupa unsur-unsur suprasegmental
(baik nada, tekanan, durasi, maupun jeda). Walaupun kehadiran unsur
suprasegmental ini tidak bisa dipisahkan dengan bunyi-bunyi
segmental, selama ia bisa dibuktikan secara impiris sebagai unsur yang
bisa membedakan makna, ia disebut fonem.
36

b. Realisasi Fonem
Pengklasifikasian fonem bahasa Indonesia didasarkan pada
polapengklasifikasian bunyi yang biasa dilakukan oleh fonetisi. Dengan
demikian, pengklasifikasiannya bisa memanfaatkan peta bunyi vokoid
dan peta bunyi kontoid yang selama ini sering kita lihat di buku-buku
tentang fonetik. Hanya saja, namanya bukan lagi vokoid dan kontoid,
tetapi vokal dan konsonan.
Perlu diiingat pula bahwa karena fonem merupakan penamaan
sistem bunyi yang membedakan makna, maka jumlah fonem tentu lebih
sedikit dari bunyi-bunyi yang ada. Bahkan, jumlah dan variasi bunyi
bahasa Indonesia yang tak bisa dipastikan jumlahnya itu, sebenarnya
merupakan realisasi dari sistem fonem yang terbatas jumlahnya.
Berdasarkan hasil penelitian, fonem bahasa Indonesia berjumlah sekitar
6 fonem vokal dan 22 fonem konsonan. Dikatakan “sekitar” karena
jumlahnya masih bisa beubah. Hal ini sangat bergantung pada korpus
data (berupa hasil rekaman) yang dipakai sebagai dasar analisis.
Apalagi, kosakata bahasa Indonesia terus bertambah setiap saat sesuai
dengan keperluan penuturnya seiring dengan era globalisasi.
1) Realisasi Vokal
Secara umum realisasi fonem vokal bahasa Indonesia
adalah sebagai berikut :
Tabel 2.33
Realisasi Vokal
Depan Tengah belakang
Tinggi /i/ /u/
Sedang /e/ /ǝ/ /o/
Rendah /a/
37

a) Fonem i
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu :
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [i] apabila berada pada
silabel terbuka atau silabel tak terkoda seperti pada kata <kini>
[kini], <lidi> [lidi], dan <sapi> [sapi]. Kedua, direalisasikan
sebagai bunyi [I] apabila berada pada silabel tertutup atau silabel
terkoda seperti pada kata, <batik> [batIk], <ambil> [ambIl], dan
<lirik> [lirIk].
b) Fonem e
Fonem e mempunyai dua macam realisasi, yaitu :
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [e] apabila berada pada
silabel terbuka, seperti pada kata , <sate> [sate], <pete> [pǝte],
dan <berabe> [bǝrabe]. Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [Ɛ]
apabila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata <monyet>
[mϽṅƐt], <karet> [karƐt], dan <ember> [ƐmbƐr].
c) Fonem ǝ
Secara umum direalisasikan sebagai bunyi [ǝ] seperti pada kata
<kera> [kǝra], <erat> [ǝrat], dan , <maret> [marƐt].
d) Fonem a
Secara umum fonem a direalisasikan sebagai bunyi [a], baik di
pada posisi awal kata, tengah kata, maupun akhir kata seperti
pada kata <apa> [apa], <padam> [padam] dan <dua> [dua].
e) Fonem u
Fonem u ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu :
Pertama, dilafalkan sebagai bunyi [u] apabila berada pada silabel
terbuka seperti pada kata <susu> [susu], <ibu> [ibu], dan
<ungu> [ungu]. Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [U] apabila
berada pada silabel tertutup seperti pada kata, <kasur> [kasUr],
<libur> [libUr], dan <tangguh> [tanggUh].
38

f) Fonem o
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu :
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [o] apabila berada pada
silabel terbuka, seperti pada kata <toko> [toko], <bakso>
[ba?so], dan <oto> [oto]. Kedua, direalisasikan sebagai bunyi
[Ͻ] apabila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata
<tokoh> [tϽkϽh], <besok> [bƐsϽk], dan <bodoh> [bϽdϽh].
2) Realisasi Konsonan
a) Fonem b
Fonem ini memiliki dua realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi /b/ apabila berada pada
awal silabel, baik silabel terbuka maupun silabel tertutup yang
bukan ditutup oleh fonem konsonan /b/. Misalnya terdapat kata
<bagus> [bagus], <kabur> [kabur], dan <bantal> [bantal].
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [b] atau [p] apabila
berposisi sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya pada kata
: <sebab> diucapkan [sǝbab] atau [sǝbab] <jawab> diucapkan
[jawab] atau [jawap] <sabtu> diucapkan [sabtu] atau [saptu]
b) Fonem c
Secara umum fonem /c/ ini direalisasikan sebagai bunyi [c]
seperti pada kata <cari> [cari], <acar> [acar], dan <cacar>
[cacar]. Fonem ini tidak pernah berposisi sebagai koda.
c) Fonem d
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [d] apabila berposisi
sebagai onset pada sebuah silabel. Misalnya pada kata <daging>
[dagiŋ], <hadis> [hadis], dan <dada> [dada]. Kedua,
direalisasikan sebagai bunyi [t] dan [d] bila berposisi sebagai
koda pada sebuah silabel, yaitu : <abad> dilafalkan [abat] atau
[abad] <ahad> dilafalkan [ahat] atau [ahad] <jilid> dilafalkan
[jilit] atau [jilid]
39

d) Fonem f
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [f], seperti
pada kata <fikir> [fikir], <kafe> [kafe], dan <aktif> [aktif]. Kaat
serapan asing yang secara ortografi ditulis dengan huruf <v>,
seperti pada kata <vitamin>, <variasi>, dan <rival> juga
dilafalkan sebagai bunyi [f]. Jadi, lafal ketiga kata itu adalah
[fitamin], [fariasi], dan [rifal].
e) Fonem g
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu : Pertama,
direalisasikan sebagai bunyi [g] apabila berposisi sebagai onset.
Misalnya pada kata <gajah> [gajah], <agar> [agar] dan <gagal>
[gagal].
f) Fonem h
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [h] baik berposisi
sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
Misalnya pada kata <hari>[hari], <sehat> [sƐhat], dan <lebih>
[lǝbih].
g) Fonem j
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [j] seperti
pada kata <jalan> [jalan], <jujur> [jujur], dan <ajal> [ajal].
Fonem [j] tidak pernah berposisi sebagai koda.
h) Fonem k
Fonem ini memiliki tiga macam realisasi, yaitu :
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [k] apabila berposisi
sebagai onset pada sebuah silabel. Misalnya pada kata <kabar>
[kabar], <bakar> [bakar], dan <akur> [akur]. Kedua,
direalisasikan sebagai bunyi [?] apabila berposisi sebagai koda
pada sebuah silabel seperti : <bapak> [bapa?], <nikmat>
[ni?mat], dan <rakyat> [ra?yat]. Ketiga, direalisasikan sebagai
bunyi [g] bila berposisi sebagai koda misalnya : <gudek>
[gudeg], <gubuk> [gubug], dan <gebuk> [gǝbug].
40

i) Fonem ?
Fonem ini direalisasaikan sebagai bunyi [?] yang muncul pada :
Pertama, silabel pertama disebuah kata yang berupa fonem
vokal. Misalnya pada kata <akan> [?akan], <isap> [?isap], dan
<udang> [?udaŋ]. Kedua, diantara dua silabel, di mana nuklus
silabel pertama dan nuklus silabel kedua berupa fonem vokal
yang sama. Misalnya pada kata :
<taat> dilafalkan [ta?at]
<aan> (nama orang) dilafalkan [a?an]
<iin> (nama orang) dilafalkan [i?in]
<uud> (nama orang) dilafalkan [u?ud]
<bloon> (bodoh) dilafalkan [blϽ?Ͻn]
j) Fonem m
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [m] seperti
pada kata <makan> [makan], <malam> [malam], dan <pejam>
[pǝjam]. Fonem [m] tidak pernah berposisi sebagai koda.
k) Fonem n
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [n], seperti
pada kata <nanas> [nanas], <panas> [panas], dan <iman>
[iman].
l) Fonem ṅ
Fonem nasal ini direalisasikan sebagai bunyi [ṅ] misalnya pada
kata <nyanyi> [ṅaṅi], <banyak> [baṅak] dan <nyonya> [ṅϽṅa].
Fonem [ṅ] tidak pernah berposisi sebagai koda.
m) Fonem ŋ
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [ŋ] baik berposisi
sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
Misalnya pada kata <nganga> [ŋaŋa], <angin> [aŋin], dan
<bingung> [biŋuŋ].
41

n) Fonem p
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [p] baik
sebagai onset pada sebuah silabel maupun sebagai koda.
Misalnya, <papan> [papan], <pukul> [pukul], dan <sampul>
[sampul]. Namun, perlu dicatat fonem /p/ pada awal kata bila
diberi prefiks me- atau prefiks pe- akan luluh atau disenyawakan
dengan bunyi nasal yang homorgan (sealat ucap). Misalnya :
me + pilih [memilih]
pe + pilih [pemilih]
me + potong [memotong]
pe + potong [pemotong]
o) Fonem r
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [r] baik sebagai onset
maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya <ribut>
[ribut], <karet> [karƐt], dan <kabar> [kabar].
p) Fonem s
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [s] baik sebagai onset
maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya pada kata
<sakit> [sakit], <pesan> [pesan], dan <kamus> [kamus].
q) Fonem š
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [š] baik sebagai onset
maupun sebagai koda. Misalnya <syarat> [šarat], <syahbandar>
[šahbandar], dan <arasy> [araš].
r) Fonem t
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [t], seperti
pada kata <titik> [titik], <latih> [latih], dan <rebut> [rebut].
Namun, perlu dicatat fonem /t/ pada posisi awal bila diberi
prefiks me- atau prefiks pe- akan luluh dan berenyawa dengan
bunyi nasal yang homogen dengan fonem /t/ itu misalnya:
me + tari [menari]
pe + tari [penari]
42

me + tumbuk [menumbuk]
pe + tumbuk [penumbuk]
s) Fonem w
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [w], seperti pada kata
<waris> [waris], <awan> [awan] dan <wow> [wow].
t) Fonem x
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [x] baik berposisi
sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
Misalnya pada kata <khas> [xas], <akhir> [axir], dan <tarikh>
[tarix].
u) Fonem y
Fonem ini selalu direalisasikan sebagai bunyi [y] seperti pada
kata <yatim> [yatim], <ayun> [ayun], dan <yayasan> [yayasan].
v) Fonem z
Fonem ini direalissaikan sebagai bunyi [z] bila sebagai onset
pada sebuah silabel. Misalnya <zaman> [zaman], <zakat>
[zakat], dan <azaam> [azam]. Bila sebagai koda dilafalkan
sebagai bunyi [z] atau bunyi [s]. Misalnya pada kata <aziz>
dilafalkan [aziz] atau [azis].

E. Varian
1. Hakikat Varian (Variasi Bahasa)
Bahasa dan masyarakat akan selalu menjadi pasangan yang mengisi
satu sama lain, karena adanya interaksi sosial yang menggunakan bahasa
sebagai alat komunikasi. Komunikasi tersebut terjalin di antara individu satu
dengan individu lainnya yang bersifat heterogen (beraneka ragam).
Keheterogenan penutur dan lawan tutur yanng ditunjang dengan sifat bahasa
yang arbitrer sangat memungkinkan untuk melahirkan variasi dalam bahasa
tersebut.
Varian adalah bentuk yang berbeda atau menimpang dari aslinya
atau dari yang baku dan sebagainya, nilai tertentu suatu variabel, yaitu [e]
43

dalam Bahasa Indonesia mempunyai dua varian, yaitu [é] dan [Ɛ], KBBI
(Kamus Besar Bahasa Indonesia : 1259).
Bahasa mempunyai dua aspek mendasar, yaitu bentuk dan makna.
Aspek bentuk meliputi bunyi, tulisan, dan strukturnya. Aspek makna
meliputi makna leksikal, fungsional, dan struktural. Jika diperhatikan lebih
rinci lagi, kita akan melihat bahasa dalam bentuk dan maknanya
menunjukkan perbedaan kecil maupun perbedaan yang besar antara
pengungkapan yang satu dengan pengungkapan yang lainnya. Mialnya,
perbedaan dalam hal pengucapan /e/ yang di ucapkan oleh seseorang dari
daerah yang berbeda akan berbeda pula bunyi nya. Perbedaan-perbedaan
bentuk bahasa seperti ini dan yang lainnya dapat disebut dengan variasi
bahasa I Nengah Suandi, (2014 : 34).
Amat sulit untuk mengetahui variasi ini melalui pendengaran kita
karena pendengaran kita dipengaruhi oleh banyak faktor seperti udara,
kesegaran, perasaan, dan besarnya perhatian kita. Untuk mengetahui ini
digunakan alat spektogram.

2. Faktor Penyebab Terjadinya Varian


Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya
disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena
kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam.Dalam hal
variasi atau ragam bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi atau
ragam bahasa itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur
bahasa itu, dan keragaman fungsi bahasa itu. Kedua, variasi atau ragam
bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam
kegiatan masyarakat yang beraneka ragam.
Chaer (2004 : 62) para ahli memiliki pandangan yang berbeda-beda
mengenai variasi bahasa. Hartman dan Stork dalam Chaer, (2004 : 62)
membedakan variasi bahasa berdasarkan kriteria (a) latar belakang geografi
dan sosial penutur, (b) medium yang digunakan, dan (c) pokok pembicaraan.
Mc David dalam Chaer, (2004 : 62) membagi variasi bahasa berdasarkan (a)
44

dimensi regional, (b) dimensi soial, (c) dimensi temporal. Sementara itu,
Abdul Chaer, (2004 : 62) mengklasifikasikan faktor yang menyebkan
terjadinya variasi bahasa sebagai berikut.
a) Variasi Bahasa dari Segi Penutur
1) Idiolek
Variasi bahasa pertama yang kita lihat berdasarkan
penuturnya adalah variasi bahasa yang diebut idiolek, yakni variasi
bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idiolek, setiap
orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-
masing. Variasi idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan
kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Namun yang
paling dominan adalah warna suara itu, sehingga jika kita cukup
akrab dengan seeorang, hanya dengan mendengar suaranya tanpa
melihat orangnya, kita dapat mengenalinya.
2) Dialek
Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang
jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area
tertentu. Karena dialek ini didasrkan pada wilayah atau area tempat
tinggal penutur, dialek ini lazim disebut dialek areal, dialek regional
atau dialek geografis. Para penutur dalam suatu dialek, mekipun
mereka mempunyai idioleknya masing-masing, memiliki ciri yang
menandai bahwa mereka berada pada satu dialek, yang berbeda
dengan kelompok penutur lain, yang berada dalam dialeknya sendiri
dengan ciri lain yang menandai dialeknya juga. Dalam bahasa
Melayu Sambas misalnya ada beberapa dialek, bahasa Melayu
Sambas dialek Segarau, bahasa Melayu Sambas dialek Tebas Sungai
dan banyak dialek lainnya. Contoh pengucapan kata “malam”
(bahasa Indonesia dan bahasa Tebas Sungai) yang bisa diucapkan
(molom) oleh masyarakat Segarau.
45

3) Kronolek atau Dialek Temporal


Kronolok atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang
digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya
variasi bahasa Melayu Sambas pada masa tahun tiga puluhan,
berbeda degan variasi bahasa Melayu Sambas sekarang ini.
4) Sosiolek atau Dialek Sosial
Sosiolek atau dialek sosial adalah variasi bahasa yang
berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial penuturnya.
Dalam sosiolingusitik, umumnya variasi bahasa inilah yang paling
banyak dibicarakan, karena variasi bahasa ini menyangkut semua
masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks,
pekerjaan, tingkat kebangsawanan, dan keadaan sosial ekonomi.
b) Variasi dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa ini biasanya dibicarakan berdarakan bidang
penggunaan, gaya atau tingkat keformalan, dan sarana penggunaan.
Variasi bahasa berdarsarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut
bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Mialnya bidang
sastra, jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran, perekonomian,
perdagangan, pendidikan dan kegiatan keimuan. Variasi bahasa
berdasarkan bidang kegiatan ini yang paling tampak cirinya adalah
dalam bidang kosa kata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai
sejumlah kosa kata khusus atau tertentu yang tidak digunakan dalam
bidang ini. Namun, variasi berdasarkan bidang kegiatan ini tampak pula
dalam tataran morfologis dan sintaksis.
Variasi bahasa atau ragam bahasa sastra biasanya menekankan
bahasa dari segi estetis, sehingga dipilihlah dan digunakanlah kosa kata
yang secara estetis memiliki ciri eufoni serta daya ungkap yang paling
tepat. Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni
bersifat sederhana, komunikatif dan ringkas.
Ragam bahasa militer dikenal dengan cirinya yang ringkas dan
bersifat tegas, sesuai dengan tugas dan kehidupan kemiliteran yang
46

penuh dengan disiplin dan instruksi. Ragam militer di Indonesia dikenal


dengan ciirinya yang memerlukan ketegasan yang dipenuhi dengan
berbagai singkatan dan akronim.
Ragam bahasa ilmiah yang juga dikenal dengan cirinya yang
lugas, jelas, dan bebas dari keambiguan, serta segala macam metafora
dan idiom. Bebas dari segala keambiguan karena bahasa ilmiah harus
memberikan informasi keilmuan secara jelas, tanpa keraguan akan
makna yang berbeda. Oleh karena itulah bahasa ilmiah tidak
mengguakan segala metafora dan idiom.
c) Variasi dari Segi Keformalan
Berdasarkan tingkat keformalan, Martin Joos (dalam Chaer dan
Agustina, 2004 : 70), membagi variasi bahasa atas lima macam gaya
atau ragam sebagai berikut.
1) Gaya atau ragam beku (frozen)
Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang
digunakan pada situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi,
misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah di mesjid, tata cara
pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akte notaris, dan surat-
surat keputusan. Disebut ragam beku karena pola dan kaidahnya
sudah ditetapkan secara mantap dan tidak boleh diubah.
2) Gaya atau ragam resmi (formal)
Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan pada
pidato kenegaraan, rapat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku
pelajaran, dan sebagainya. Ragam resmi ini pada dasarnya sama
dengan ragam bahasa baku atau standar yang hanya digunakan
dalam situasi resmi, dan tidak dalam situasi yang tidak resmi.
3) Gaya atau ragam uasaha (konsultatif)
Ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa
yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan
rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau
produksi. Jadi, dapat dikatakan ragam usaha ini adalah ragam bahasa
47

yang paling operasional. Wujud ragam bahasa ini berada diantara


ragam formal dan ragam informal atau ragam santai.
4) Gaya atau ragam santai (kasual)
Ragam santai atau ragam kasual adalah ragam bahasa yang
digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang
dengan keluarga atau teman karib pada waktu beristirahat, berolah
raga, berkreasi dan sebagainya.
5) Gaya atau ragam akrab (intimate)
Ragam akrab atau ragam intim adalah variasi bahasa yang
biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab,
seperti antaranggota keluarga atau antarteman yang udah karib.
Ragam ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap,
pendek-pendek, dan dengan artikulasi yang sering tidak jelas. Hal
ini terjadi karena diantara partisipan sudah saling pengertian dan
memiliki pengrtahuan yang sama.
d) Variasi dari Segi Sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi jalur yang digunakan.
Dalam hal ini ada ragam lisan dan ragam tulis atau juga ragam dalam
berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, yakni dalam
bertelepon atau dalam bertelegraf. Adanya ragam bahasa lisan dan
bahasa tulis didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa lisan dan bahasa
tulis memiliki wujud struktur yang tidak sama. Adanya ketidak samaan
wujud struktur ini adalah karena dalam berbahasa lisan atau dalam
menyampaikan informasi secara lisan, kita dibantu oleh unsur-unsur
non segmental atau unsur nonlinguistik yang berupa nada suara, gerak
gerik tangan, gelengan kepala, dan sejumlah gejala-gejala fisik lainnya.
Padahal di dalam ragam ragam bahasa tulis, hal-hal yang disebabkan itu
tidak ada Chaer dan Agustina, (2004 : 72).
48

F. Sosiolinguistik
Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan
lingusitik, dan bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat. Sebagai
objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekatai sebagai bahasa,
sebagaimana dilakukan oleh linguistik umum, melainkan di lihat atau didekati
sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat manusia. Setiap
kegiatan kemasyarakatan manusia, mulai dari upacara pemberian nama bayi
yang baru lahir sampai upacara pemakaman jenazah tentu tidak akan terlepas
dari penggunaan bahasa. Oleh karena itu, bagaimana pun rumusan mengenai
sosiolinguistik yang diberikan para pakar tidak akan terlepas dari persoalan
hubungan bahasa dengan kegiatan-kegiatan atau aspek-aspek kemasyarakatan.
Berikut pengertian sosiolinguistik dari beberapa pakar.
Ditinjau dari nama, sosiolinguistik mempunyai kaitan erat dengan
kedua kajian tersebut. Sosio adalah masyarakat, dan linguistik adalah kajian
bahasa. Jadi, sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkan
dengan kondisi kemasyarakatan Sumarsono, (2007 : 1).
Menurut sejumlah para ahli Wardaugh, dalam I Dewa Putu Wijana dan
Mohammad Rahmadi,(2010 : 11), sosiolingusitik adalah cabang ilmu bahasa
yang berusaha menerangkan korelasi antara perwujudan struktur atau elemen
bahasa dengan faktor-faktor sosiokultural pertuturannya tentu saja
mengasumsikan pentingnya pengetahuan dasar-dasar linguistik dengan
berbagai cabangnya, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik dalam
mengidentifikasikan dan menjelaskan fenomena-fenomena yang menjadi objek
kajiannya, yakni bahasa dengan berbagai variasi sosial atau regionalnya).
Menurut Abdul Chaer dan Leonie Agustina,(2004 : 4) sosiolinguistik
adalah cabang linguistik yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi,
dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial di
dalam suatu masyarakat tutur.
Nababan dalam Sumarsono, (2007 : 4) menyatakan sosiolinguistik
adalah kajian atau pembahasan bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu
sebagai anggota masyarakat.Dari beberapa pengertian sosiolinguistik di atas,
49

maka dapat disimpulan bahawa sosiolinguistik adalah kajian bahasa yang


dikaitkan dengan aspek-aspek sosial dalam masyarakat itu.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A. Metode dan Bentuk Penelitian


1. Metode Penelitian
Metode penelitian menurut R. Syaifullah Derito Sihombing,(2011
: 1-2), adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan
kegunaan tertentu. Cara ilmiah adalah dilaksanakan didasarkan pada ciri-
ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional adalah
penelitian yang dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga
terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris adalah cara yang digunakan
dapat diamati dengan indera manusia. Sistematis adalah proses penelitian
menggunakan langkah-langkah tertentu yang berifat logis. Menurut
Sugiyono, (2013 : 3-5) bahawa metode penelitian pada dasarnya merupakan
cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Metode juga merupakan cara kerja untuk memahami dan mendalami objek
yang menjadi sasaran. Jadi metode penelitian adalah suatu cara yang
dilakukan dalam pemecahan masalah penelitian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif. Zuldafrial, (2010 : 22) menjelaskan metode deskriptif adalah
suatu metode yang dipergunakan di dalam pemecahan masalah penelitian
dengan cara menggambarkan/melukiskan keadaan subjek atau objek
penelitian pada saat sekarang berdasarkann fakta-fakta yang tampak atau
sebagaimana adanya. Sedangkan menurut Mahmud,(2011 : 100) metode
deskriptif adalah suatu penelitian yang diupayakan untuk mencandra atau
mengamati permasalahan secara sistematis dan akurat mengenai fakta dan
sifat objek tertentu.
Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif
adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek,
suatu kondisi, atau peritiwa berdasarkan fakta. Penelitian deskriptif
ditujukan untuk memaparkan, menggambarkan dan memetakan

50
51

berdasarkan cara pandang atau berpikir tertentu. Metode ini berusaha


menggambarkan atau menginterpretasi apa yang ada atau mengenai kondisi
atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang berkembang, proses yang
sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau kecenderungan yang
berkembang. Oleh sebab itu, di dalam penelitian ini penulis menggunaan
metode deskriptif sebagai bahan petunjuk dalam penelitian.
Hal tersebut dapat ditegaskan bahwa, metode penelitian deskriptif
ini dilakukan berdasarkan fakta dan fenomena yang memang hidup pada
penuturnya serta memberikan gambaran yang objektif tentang fonologi
bahasa Melayu dialek Sambas Desa Segarau dengan Desa Tebas Sungai
Kecamatan Tebas (kajian Sosiolinguistik) yang akan dianalisis sesuai
dengan faktor pemakaian sebenarnya dari bahasa Melayu Sambas.
2. Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
bentuk penelitian kualitatif. Zuldafrial, (2011:3) penelitian kualitatif adalah
penelitian yang berdasarkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau
lisan dari orang-orang atau prilaku yang diamati. Penelitian kualitatif dalam
pengumpulan datanya secara fundamental sangat tergantung pada proses
pengamatan yang dilakukan oleh peneliti itu sendiri. Penelitian kualitatif
temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk
hitungan lainnya.
Creswell mengemukakan, (2007 : 263), penelitian kualitatif juga
memiliki strategi-strategi penelitian yang spesifik. Strategi-strategi ini
utamanya terkait dengan pengumpulan data, analisis data, dan laporan
penelitian, tetapi tetap berasal dari berbagai disiplin dan terus berkembang
dinamis sepanjang proses penelitian (seperti, jenis-jenis problem, masalah-
masalah etis, dan sebagainya).
Mahmud, (2011 : 29), penelitian kualitatif merupakan data yang
dinyatakan secara verbal dan kualifikasinya bersifat teoretis. Dari beberapa
pengertian para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif
adalah penelitian yang berdasarkan data deskriptif dengan cara
52

mengumpulkan data, analisis data, dan laporan penelitian yang bersifat


teoretis.
Berdasarkan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa, penelitian
kualitatif itu dilakukan secara intensif penulis ikut berpartisipasi lama
dilapangan, mencatat secara hati-hati apa yang terjadi, melainkan analisis
refleksi terhadap berbagai dokumen yang ditemukan di lapangan dan
membuat laporan penelitian secara mendetail. Oleh karena itu, berdasarkan
masalah dan tujuan penelitian ini penulis dapat mendeskripsikan fenomena
yang berhubungan dengan masalah dan tujuan penelitian secara nyata sesuai
dengan subjek penelitian.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Adapun penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sambas, yaitu di
Kecamatan Tebas khususnya di Desa Segarau dan di Desa Tebas Sungai.
Lokasi tersebut dipilih dikarenakan Desa Segarau Parit terletak memisah
dari desa-desa lainnya yang ada di Kecamatan Tebas, yaitu di pisahkan oleh
bentangan Sungai Sambas yang sangat luas, dengan anak sungai yang
mengalir dari Desa Tebas Sungai menuju Desa Segarau Parit.
2. Waktu Penelitian
Tabel 3.1
Jadwal Penelitian
Bulan/Tahun 2016-2017
NO Kegiatan Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan outline dan

ACC outline

2 Konsultasi rencana

penelitian

3 Seminar rencana

penelitian

4 Pelaksanaan

penelitian

5 Analisis

data

6 Penyusunan

skripsi

7 Ujian skripsi
53

Berdasarkan tabel diatas, tabel yang diarsir adalah waktu dimana


peneliti pada bulan Februari 2016 pengajuan outline dan ACC outline oleh
ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada minggu
keempat tanggal 23 Februari 2016.
Konsultasi rencana penelitian dilakukan pada minggu keempat
bulan Oktober 2016 dan direncanakan hingga bulan Maret 2017. Konsultasi
rencana penelitian pertama dilaksanakan dengan dosen pembimbing kedua
dan dilanjutkan kepada dosen pembimbing pertama.
Seminar rencana penelitian, peneliti merencanakan pada minggu
kedua bulan Mei 2017. Selanjutnya pelaksanaan penelitian yang akan
dilaksanakan di Desa Segarau dan Desa Tebas Sungai, peneliti
merencanakan pada minggu ketiga dan keempat bulan Juni 2017.
Analisis data, peneliti rencanakan pada minggu pertama, kedua,
ketiga dan keempat bulan Juli 2017. Selanjutnya penyusunan skripsi,
peneliti merencanakan pada minggu kedua, tiga, dan empat bulan Agustus
2017.
Setelah semua kegiatan penelitian dilaksanakan, yang terakhir
yaitu ujian skripsi yang direncanakan peneliti pada minggu keempat bulan
September dan minggu pertama bulan Oktober 2017.

b. Latar Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sambas yaitu di Kecamatan
Tebas, khususnya Desa Segarau Parit dan Desa Tebas Sungai. Desa Segarau
Parit dan Desa Tebas Sungai merupakan desa yang berada dalam satu
kecamatan yaitu Kecamatan Tebas. Adapun bahasa yang digunakan oleh kedua
daerah tersebut merupakan bahasa Melayu Sambas. Desa Segarau Parit dan
Desa Tebas Sungai dipisahkan oleh bentangan Sungai Sambas yang sangat
luas. Akses yang dapat digunakan untuk menuju Desa Segarau Parit hanya
dapat dilakukan dengan penyeberangan yang salah satunya berada di Desa
Tebas Sungai.
54

Desa Segarau dan Desa Tebas Sungai terkenal dengan hasil bumi
tanaman jeruk yang pernah terkenal dengan jeruk Pontianak. Sebagian besar
pekerjaan masyarakat Kecamatan Tebas adalah petani, selebihnya pedagang,
buruh, nelayan dan pegawai.

C. Data dan Sumber Data


1. Data
Data dalam penelitian kualitatif bukan berupa angka, tetapi
deskripsi naratif, kalaupun ada angka, angka tersebut dalam hubungan suatu
deskripsi. Dalam pengolahan data kualitatif tidak ada penjumlahan data,
sehingga mengarah kepada generalisasi. (Sukmadinata, 2009: 284).
Dalam Penelitian ini jenis data yang digunakan yaitu berupa data
yang bersumber langsung dari penutur masyarakat di Desa Tebas Sungai
dan Desa Segarau Parit yang keduanya mencakup ke dalam Kecamatan
Tebas, Kabupaten Sambas.
2. Sumber Data
Menurut Lofland (1984:47) sumber data utama dalam penelitian
kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan
seperti dokumen dan lain-lain. Kata-kata dan tindakan orang-orang yang
diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data
utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman vido/audio
tapes, pengambilan foto, atau film (Moeleong, 2007:157).
Dalam penelitian kualitatif, jenis sumber data yang berupa manusia
dalam penelitian pada umumnya sebagai responden (respondent). Posisi
sumber data yang berupa manusia (narasumber) sangat penting perannya
sebagai individu yang memiliki informasinya. Peneliti dan narasumber di
sini memiliki posisi yang sama, oleh karena itu narasumber bukan sekedar
memberikan tanggapan pada yang diminta peneliti, tetapi ia bisa lebih
memilih arah dan selera dalam menyajikan informasi yang ia miliki
(Sutopo, 2006: 58-59).
55

Sumber data pada penelitian ini difokuskan pada sumber data lisan
berupa tuturan bahasa Melayu Sambas yang dipakai oleh penutur dan
penduduk asli (sekurang-kurangnya tinggal di Desa Segarau Parit maupun
Desa Tebas Sungai selama 10 tahun), sudah lama beradaptasi dengan
penduduk desa sehingga dapat menggunakan bahasa Melayu Sambas.
Data sumber lisan memegang peranan penting dalam penelitian
dialek dan bahasa pada umumnya. Hal ini sesuai dengan pendapat (Guiraud
dalam Ayatrohaedi 1979: 11) bahwa sumber itu tersimpan dalam khazanah,
yaitu para pemakai bahasa dan dialek.

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data


1. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Susanto, (2006 : 125), pada hakikatnya ialah
menggabungkann antara berpikir secara deduktif dengan induktif. Jika
pengajuan rumusan hipotesis dengan susah payah diturunkan dari kerangka
teoretis dan kerangka berfikir secara deduktif, maka untuk menguji bahwa
hipotesis tadi diterima atau ditolak perlu dibuktikan kebenarannya dengan
data-data yang ada dilapangan. Data-data tersebut dikumpulkan dengan
teknik tertentu yang disebut teknik pengumpulan data. Sedangkan menurut
Sugiyono,(2012 : 193), pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai
setting, berbagai sumber dan berbagai cara. Teknik yang digunakan dalam
pengumpulan data penelitian meliputi :
a. Observasi Langsung
Observasi merupakan teknik pengamatan dan pencatatan
sitematis dari fenomena-fenomena yang diselidiki. Observasi
dilkakukan untuk menemukan data dan informasi dari gejala atau
fenomena (kejadian atau peristiwa) secara sistematis dan didasarkan
pada tujuan penyelidikan yang telah dirumuskan, Mahmud, (2011 :
168). Sedangkan menurut Sugiyono,(2012 : 203), observasi adalah
sebagai teknik pengumpulan data, tidak terbatas pada orang, tetapi juga
obyek-obyek alam yang lain .
56

Jadi, observasi adalah teknik pengumpulan data untuk


mendapatkan informasi. Didalam penelitian ini, peneliti menggunakan
observasi langsung.Pengumpulan data dengan observasi secara
langsung adalah cara pengambilam data dengan menggunakan mata
tanpa ada pertolongan alat yang digunakan untuk keperluan tersebut,
Agung Sunarno & R. Syaifullah D. Sihombing (2011 : 98).
S. Margono,(158-159 : 2005), observasi langsung adalah
pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat
terjadi atau berlangsung peristiwa, sehingga observasi berada bersama
objek yang diselidiki.Sedangkan menurut Zuldafrial,(2009 : 45), teknik
observasi langsung adalah sesuatu metode pengumpulan data secara
langsung dimana peneliti atau pembantu peneliti langsung mengamati
gejala-gejala yang diteliti dari suatu objek penelitian menggunakan atau
tanpa menggunakan instrumen penelitian yang sudah dirancang.
Gejala-gejala yang dilihat langsung dicatat dalam instrumen atau
lembaran catatan.
Kesimpulan dari beberapa pendapat ahli di atas tentang
observasi langsung adalah metode pengumpulan data secara langsung,
yang dilakukan terhadap objek penelitian.Observasi dilakukan langsung
terhadap masyarakat Desa Segarau dan Desa Tebas Sungai saat
melakukan interaksi komunikasi pada saat ada acara tertentu maupun
saat berinteraksi dalam kegiatan sehari-hari. Kemudian pengamatan
juga dilakukan saat berinteraksi dengan yang muda terhadap yang tua
dan yang tua terhadap yang muda saat melakukan komunikasi.
b. Komunikasi Langsung
Teknik komunikasi adalah cara pengumpulan data melalui
kontak atau hubungan pribadi, antara pengumpul data dengan sumber
data.Teknik komunikasi langsung dalam suatu penelitian adalah suatu
metode pengumpulan data, dimana si peneliti langsung berhadapan
dengan subjek penelitian untuk mendapatkan data atau informasi yang
57

diperlukan melalui wawancara dengan subjek penelitian atau responden,


Zuldafrial (2009 : 46).
Haryono, (135 : 2005), teknik komunikasi langsung yaitu teknik
pengumpulan data dengan mempergunakan interview sebagai alatnya.
Sedangkan menurut Hadari Nawawi, (2007 : 101), teknik komunikasi
langsung adalah cara mengumpulkan data yang mengharuskan
seseorang peneliti mengadakan kontak langsung secara lisan atau tatap
muka (face to face) dengan sumber data, baik dalam situasi yang
sebenarnya maupun dalam situasi yang sengaja dibuat atau keperluan
tersebut.
Pengertian komunikasi langsung diatas, dapat ditarik
kesimpulan yaitu metode pengumpulan data secara blangsung dengan
responden melalui wawancara atau interview.
2. Alat Pengumpulan Data
Alat dapat diartikan sebagai benda yang digunakan untuk
mengerjakan sesuatu, KBBI, (2007:22). Jadi alat alat pengumpul data
adalah benda yang digunakan peneliti untuk memperoleh data. Adapun alat
pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Pedoman Observasi
Pedoman observasi (panduan observasi) adalah alat
pengumpuklan data yang digunakan dalam penelitian menggunakan
teknik observasi secara langsung, Zuldafrial, (2009 : 46).
b. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara atau panduan wawancara merupakan alat
pengumpul data dalam penelitian yang menggunakan teknik
komunikasi langsung, Zuldafrial (2009 : 53).Peneliti dalam komunikasi
langsung ini menggunakan pedoman wawancara yang sudah disiapkan
sebelumnya.
58

E. Pemeriksaan Keabsahan Data


Penelitian ilmiah tidak dapat dijauhkan dari pada suatu proses
penelitian dan hasil dari penelitian itu sendiri. Data yang diperoleh dicermati di
lapangan penelitian, yang dikumpulkan dan dicatat dalam kegiatan penelitian,
di mana informasi yang diperoleh dijaga kebenarannya sesuai realita yang
tercatat di lapangan. Sehingga penulis harus dapat memilih dan menggunakan
cara yang tepat untuk mengembangkan validitas datanya.
Dasar dari pemeriksaan keabsahan data adalah jawaban atas pertanyaan
penelitian, bagaimana peneliti dapat meyakinkan audiens bahwa temuan
peneliti memiliki nilai dan kegunaan, argumen apa yang dikemukakan oleh
peneliti, kriteria apa yang digunakan peneliti, pertanyaan apa yang akan dijawab
melalui penelitian tersebut.
Secara umum, Lincoln & Guba (1985: 290) mengemukakaan empat
kriteria yang dijadikan dasar dalam menguji keabsahan penelitian kualitatif,
yaitu: kredebilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas.
1. Kredibilitas
Kredibilitas atau derajat kepercayaan merupakan ukuran kebenaran
data yang dikumpulkan selama pelaksanaan penelitian. Derajat kepercayaan
atau kredibilitas dapat dicapai dengan: (1) peniliti berada cukup lama di
lapangan, (2) melakukan triangulasi (teknik pemeriksaan keabsahan data
dengan maksud mengecek atau pembanding data tersebut yang dilakukan
dengan memanfaatkan sesuatu di luar data itu, peneliti melaksanakan
observasi terhadap masyarakat desa.
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai
teknik pengumpulan data dan sumber data yang ada. Bila peneliti
melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, makam sebenarnya
peneliti mengumpulkan data sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu
mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan
berbagai sumber data. Tujuan triangulasi adalah membandingkan informasi
tentang hal yang sama yang diperoleh dari berbagai pihak agar ada jaminan
tentang tingkat kepercayaan data.
59

Informasi yang telah berhasil dikumpulkan oleh peneliti dan akan


dijadikan data dalam penelitian ini perlu diperiksa kredibilitasnya, sehingga
data penelitian tersebut dapat dipertanggung-jawabkan dan dijadikan
sebagai dasar yang kuat dalam menarik simpulan. Bogdan dan Biklen
(1982) menjelaskan, bahwa dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif,
peneliti merupakan instrumen utamanya. Oleh karena itu, maka uji validitas
dan realibitas instrumen penelitian bukan dengan cara menguji-cobakan
instrumen, melainkan dengan triangulasi.
Nasution (2003: 114) menjelaskan, bahwa untuk menghindari
terjadinya keterlibatan dalam waktu lama yang melahirkan
‘kebablasan/kemunduran’ (going native) disarankan adanya pengujian
kesahihan data yang bertujuan untuk membuktikan bahwa apa yang diamati
oleh peneliti telah sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dalam
kenyataan dan sesuai dengan apa yang sebenarnya ada dan yang akan
terjadi.
Bungin (2008:254), untuk menghindari keraguan terhadap hasil
penelitian, maka diperlukan mekanisme sistem pengujian keabsahan hasil
penelitian kualitatif, yaitu dengan (1) perpanjangan keikutsertaan; (2)
menemukan siklus kesamaan data; (3) ketekunan pengamatan; (4)
triangulasi; (6) kajian kasus negatif; (7) pengecekan anggota tim; (8)
kecukupan refrensi; (9) uraian tugas; dan (10) auditing.
Untuk memperoleh data yang valid, dalam penelitian ini digunakan
teknik yang direkomendasikan Guba dan Lincoln (1985); Creswell
(1998:202); dan Nasution (2003:115), yaitu triangulasi (triangulation)
sumber data dan metode. Oleh karena itu, untuk mempertinggi peluang
mendapatkan temuan yang kredibel peneliti tempuh melalui triangulasi.
Sedangkan sebagai pelengkap, maka digunakan juga teknik diskusi teman
sejawat (reviewing/peer debriefing) dan pengecekan mengenai
ketercukupan referensi (refential adequacy checks).
Triangulasi dilakukan dalam penelitian ini untuk pengecekan
keabsahan data dengan memanfaatkan berbagai sumber sebagai bahan
60

perbandingan. Penggunaan triangulasi dalam studi kasus memungkinkan


adanya hubungan secara langsung dari ‘situasi data’ (Crewell, 1998:213).
Moleong (2007:330) memaparkan, bahwa triangulasi adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar
data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data
itu. Di sisi lain, uji keabsahan hasil penelitian melalui triangulasi dilakukan
dengan memanfaatkan kejujuran peneliti, metode, teori, dan sumber data
merupakan cara yang paling penting dan mudah (Denzim dalam Bungin,
2008:256).
Pertama, Triangulasi kejujuran peneliti (inventigators
triangulation). Dilakukan untuk menguji kejujuran, subjektivitas, dan
kemampuan merekam data oleh peneliti di lapangan. Artinya, meminta
bantuan peneliti lain melakukan pengecekan langsung, wawancara ulang,
serta merekam data yang sama di lapangan.
Kedua, Triangulasi dengan sumber data (sources
triangulation). Dilakukan dengan membandingkan data hasil pengamatan
dengan hasil wawancara; apa yang dikatakan di depan umum dengan apa
yang dikatakan secara pribadi; apa yang dikatakan orang-orang tentang
situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu; keadaan dan
perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang lain;
dan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yangberkaitan. Hasil dari
perbandingan yang diharapkan adalah berupa kesamaan atau alasan-alasan
terjadinya perbedaan.
Ketiga, Triangulasi dengan metode (methods triangulations).
Dilakukan dengan mengecek penggunaan metode pengumpulan data,
apakah informasi yang didapat dengan metode interview sama dengan
metode observasi, dan sebaliknya. Tujuannya adalah mencari kesamaan
dengan data dengan metode yang berbeda.
Keempat, Triangulasi dengan teori (theories triangulation).
Dilakukan dengan menyertakan usaha pencarian cara lainnya untuk
mengorganisasikan data yang barangkali mengarahkan kepada upaya
61

penemuan penelitian lainnya. Apabila peneliti gagal menemukan informasi


yang cukup kuat untuk menjelaskan kembali informasi yang telah diperoleh,
justru peneliti telah mendapat bukti bahwa derajat kepercayaan hasil
penelitian tinggi.
2. Transferabilitas
Suatu temuan penelitian naturalistik berpeluang untuk diterapkan
pada konteks lain apabila ada kesamaan karakteristik antara setting
penelitian dengan setting penerapan. Lincoln & Guba (1985: 315)
menjelaskan:
“The naturalist cannot specity the external validity of an inguiry, he
or she can provide only the thick descriotion necessery to enable
some one interested in making an transfer to reach a conclusion
about whwther transfer can be contemplated as apossibility.”
Ini berarti bahwa dalam konteks transferabilitas, permasalahan
dalam kemampuan terapan adalah permasalahan bersama antara peneliti
dengan pemakai. Dalam hal ini, tugas peneliti adalah mendeskripsikan
setting penelitian secara utuh, menyeluruh, lengkap, mendalam dan rinci.
Sedangkan tugas pemakai adalah menerapkannya jika terhadap kesamaan
antara setting penelitian dengan setting penerapan.
3. Dependabilitas
Dalam penelitian kualitatif, uji dependabilitas dilakukan dengan
melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Lincoln & Guba
(1985: 515), menyarankan agar keterhandalan atau dependability dapat diuji
dengan menguji proses dan produk. Menguji produk yaitu data, penemuan-
penemuan, interpretasi-interpretasi, rekomendasi-rekomendasi, dan
membuktikannya bahwa hal itu didukung oleh data. Dalam penelitian ini,
peneliti melakukannya dengan menggunakan catatan-catatan pelaksanaan
keseluruhan proses dan hasil penelitian.
4. Konfirmabilitas
Melakukan uji konfirmabilitas dalam penelitian kualitatif mirip
dengan uji dependabilitas, sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara
62

bersamaan. Menguji konfirmabilitas berarti menguji hasil penelitian


dikaitkan dengan proses yang dilakukan, dalam arti bahwa bila hasil
penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka
penelitian tersebut telah memenuhi standar konfirmabilitas.
Dalam penelitian ini, untuk menjaga objektivitas peneliti dilakukan
melalui pengamatan secara tekun, metode pengumpulan data yang
bervariasi, serta analisis data sesuai dengan konteksnya. Melaui pengamatan
yang tekun, penggunaan metode yang bervariasi dalam pengumpulan data,
serta melakukan analisis data secara kritis dengan berbagai persepsi
diharapkan dapat ditempatkan data yang sesuai dan dapat dipercaya.

F. Prosedur Analisis Data


Tahapan dalam analisis data kualitatif diperoleh peneliti dari hasil
observasi lapangan, wawancara dan dokumen pendukung penelitian lainnya.
Menurut M. Toha Anggoro dkk., (2007:6.19) “analisis data temuan dan
pengumpulan data di lapangan harus selalu dilakukan secara terus-menerus dan
simultan”. Sedangkan menurut Sugiyono (2013:336) “analisis data dalam
penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di
lapangan dan setelah selesai di lapangan”, Analisis data dalam penelitian
kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan dan
setelah selesai di lapangan. Dalam hal ini Nasution (1988) dalam Sugiyono
(2011:245) menyatakan bahwa, “analisis telah mulai sejak merumuskan dan
menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan langsung terus sampai
penulisan hasil penelitian”.
Menurut Bogdan dan Biklen sebagaimana dikutip Moloeng (2007, hal.
248), analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja
dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang
dapat dikelola, mengsintesiskannya, mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari. Analisis data dalam
penelitian ini menggunakan analisis sebagaimana yang terdapat dalam
63

penelitian kualitatif, yaitu dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung


dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.
Dalam penelitian ini, pertama-tama peneliti melakukan studi literatur
terhadap sumber-sumber data yang relevan untuk menjawab pertanyaan
penelitian, yang kemudian dilengkapi dengan data-data yang berasal dari hasil
wawancara langsung terhadap sumber data. Setelah wawancara dilakukan,
maka peneliti menganalisis hasil jawaban wawancara atau data mentah yang
diperoleh dari hasil wawancara dengan masyarakat Desa Segarau Parit dan
Tebas Sungai.
Miles dan Huberman, sebagaimana dikutip Sugiyono (2011, hal. 247)
berpendapat bahwa aktivitas dalam analisis data, yaitu terdiri dari data
reduction, data display, dan conclusion drawing (verification).
1. Reduksi Data (Data Reduction)
Reduksi data merupakan proses berfikir sensitif yang memerlukan
keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi dari peneliti. Karena data
yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, kompleks, dan
rumit, sehingga peneliti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, dan
membuang data yang dianggap kurang diperlukan (Sugiyono, 2011, hal.
338-339).
Reduksi data dalam penelitian ini adalah dengan mereduksi hasil
temuan yang diperoleh melalui studi pustaka, yaitu data yang berasal dari
buku-buku dan refrensi lainnya.
2. Mendisplaykan Data (Data Display)
Setelah data direduksi, maka data kemudian perlu disajikan
(didisplay) Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam
bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan
sejenisnya (Sugiyono, 2011, hal. 341). Mendisplaykan data akan
memudahkan untuk memahami keseluruhan isi penelitian secara detail.
Penyajian data dalam penelitian ini berupa teks yang bersifat
naratif deskriptif dan dalam bentuk tabel. Hasil uraian yang diperoleh
64

melalui studi pustaka kemudian dipadupadankan dengan hasil uraian


wawancara langsung yang dilakukan terhadap masyarakat Desa Segarau
Parit dan Desa Tebas Sungai. Setelah itu data didisplay dengan tabel untuk
memudahkan analisis perbandingan konsep-konsep dari data temuan yang
telah diperoleh.
3. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing)
Langkah selanjutnya dalam analisis data kualitatif menurut Miles
and Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi (Sugiyono,
2011, hal.345). Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menjawab
masalah-masalah penelitian berdasarkan hasil penelitian.
Karena sebelumnya peneliti telah merumuskan dua masalah dalam
penelitian ini, maka penarikan kesimpulan dari penelitian ini adalah untuk
menjawab ketiga rumusan masalah tersebut, yaitu mengenai perbedaan
fonologi bahasa Melayu Dialek Sambas, Antara Desa Segarau dan Desa
Tebas Sungai, Kecamatan Tebas, serta faktor penyebab terjadinya varian
fonologi bahasa Melayu Dialek Sambas, Antara Desa Segarau dan Desa
Teabas Sungai, Kecamatan Tebas. Penarikan kesimpulan dilakukan setelah
data didisplay dalam bentuk teks maupun dalam bentuk tabel perbandingan,
yang kemudian tabel perbandingan tersebut diinterpretasikan dalam bentuk
teks naratif deskriptif pula.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum
Kabupaten Sambas yang terbentuk sekarang ini adalah hasil pemekaran
pada tahun 2000. Sebelumnya wilayah Kabupaten Sambas sejak tahun 1960
adalah meliputi juga Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang sekarang di
mana pembentukan Kabupaten Sambas pada tahun 1960 itu adalah berdasarkan
bekas wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas.
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Kabupaten Jumlah penduduk Kabupaten Sambas sebanyak 667.921 jiwa. Total
penduduk laki-laki sebanyak 341.982 jiwa (51%), sedangkan penduduk
perempuan sebanyak 325.939 jiwa (49%).
Kepadatan penduduk sekitar 78 jiwa/km² atau 2.724 jiwa per desa.
Penyebaran penduduk di Kabupaten Sambas tidak merata antar kecamatan yang
satu dengan yang lainnya. Kecamatan Pemangkat merupakan kecamatan
dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi yaitu 403 jiwa/km². Sebaliknya
Kecamatan Sajingan Besar dengan luas sekitar 21,75% dari total wilayah
Kabupaten Sambas hanya dihuni 7 jiwa/km². Laju pertumbuhan penduduk
sebesar 1,01 persen. Laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Tangaran adalah
yang tertinggi dibandingkan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Sambas
yakni sebesar 3,50 persen. Sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Jawai
Selatan yaitu sebesar -0,33 persen. Kecamatan Tebas berada pada urutan
pertama dari jumlah penduduk, namun dari sisi laju pertumbuhan penduduk
masih berada di bawah laju pertumbuhan Kabupaten Sambas yaitu 0,92 persen.
Kabupaten Sambas termasuk daerah beriklim tropis dengan curah hujan
bulanan rata-rata 187.348 mm dan jumlah hari hujan rata-rata 11 hari/bulan.
Curah hujan yang tertinggi terjadi pada bulan September sampai dengan Januari
dan curah hujan terendah antara bulan Juni sampai dengan Agustus.
Desa Segarau Parit dan Desa Tebas Sungai adalah desa yang terletak di
Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Dengan memiliki luas masing-masing

65
66

yaitu Desa Segarau Parit dengan luas desa 1774,50 Ha. Sedangkan Desa Tebas
Sngai memiliki luas 20,30 km² (5,13% dari wilayah Kecamatan Tebas) dan
merupakaan desa terluas ke-5 di Kecamtan Tebas setelah Desa Maribas, Desa
Seret Ayon, Desa Seberkat dan Desa Batu Mak Jage. Desa Segarau Parit
terletak memisah dari desa-desa lainnya yang ada di Kecamatan Tebas, yaitu di
pisahkan oleh bentangan Sungai Sambas yang sangat luas, dengan anak sungai
yang mengalir dari Desa Tebas Sungai menuju Desa Segarau Parit.
Pada umumnya hubungan antar masyarakat desa di Kabupaten Sambas
khususnya desa Segarau Parit dan desa Tebas Sungai masih lekat dengan
budaya seperti gotong royong, kerja bakti, dan beberapa ritual adat melayu
sambas. Kerukunan di antara warga sangat terjaga, tegur sapa di antara tetangga
maupun berpapasan di jalanan. Meskipun budaya modernitas mulai masuk dan
berlaku pada sebagaian masyarakat di kedua desa tersebut namun tidak
meninggalkan ciri khas kebudayaan Melayu itu sendiri, seperti melaksanakan
ritual-ritual adat Melayu masih rutin dilaksanakan dan tetap terjaga.
Desa Segarau Parit dan Desa Tebas Sungai dan desa lainnya yang ada
di Kabupaten Sambas hubungan sosial yang mereka bangun bersifat akrab
diantara mereka. Artinya kebersamaan masyarakat desa tergambar dengan
hubungan sosial. Aktivitas kegiatan seperti gotong-royong dalam hal pertanian,
pernikahan, dan kegiatan ritual adat lainnya dilakukan secara bersama-sama.
Maka diantara mereka terlihat ada kebersamaan dan solidaritas terhadap nilai-
nilai yang telah mereka bangun.
Perkembanagan masyarakat dan industri juga sangat berpengaruh
kepada kehidupan sosial di Desa Segarau Parit dan Desa Tebas Sungai.
Teknologi dan Industri memberi dampak kepada perubahan pola pikir dan
tingkah laku masyarakatnya.
Struktur perekonomian di Desa Segarau Parit di dominasi oleh 2 sektor
utama yaitu sektor pertanian, perkebunan dan sektor perikanan. Sedangkan di
Desa Tebas Sungai perekonomian masyarakat digerakan oleh sektor pertanian
dan perkebunan, perikanan, dan industri. Pertumbuhan ekonomi diantara Desa
Segarau Parit dan Desa Tebas Sungai terdapat perbedaan, perekonomian di
67

Desat Tebas Sungai lebih tinggi pertumbuhannya dibandingkan Desa Segarau


Parit. Faktor yang menyebabkan perekonomian Tebas Sungai lebih maju
dibandingkan Desa Segarau Parit yaitu dikarenakan letak Desa Tebas Sungai
terletak dekat dengan Jalan Utama Kabupaten Sambas yang menghubungkan
ibu kota kabupaten dengan ibu kota kecamatan, antar ibu kota kecamatan, ibu
kota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antar pusat kegiatan lokal, serta
jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten,
dan jalan strategis kabupaten. Sedangkan Desa Segarau Parit terletak
bersebrangan yang dipisahkan oleh sungai serta akses untuk menjangkau desa
tersebut tidak mudah seperti desa-desa lainnya yang ada di Kecamatan Tebas.
Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2015, Desa Segarau Parit
merupakan desa dengan jumlah penduduk terbesar keenam dari 23 desa yang
ada di Kecamatan Tebas. Penduduk Desa Segarau Parit sebanyak 3.070 jiwa
(6,83% dari total penduduk Kecamatan Tebass) dengan rincian 1.485 laki-laki
dan 1.585 perempuan. Kepadatan penduduk di desa ini adalah 117 jiwa/km2
yang menjadikannya sebagai desa dengan kepadatan penduduk terkecil kelima
di Kecamatan Tebas. Sedangkan untuk desa Tebas Sungai berdasarkan Sensus
Penduduk Indonesia 2015, Desa Tebas Sungai merupakan desa dengan jumlah
penduduk yaitu 8.259 jiwa dengan rincian 4.081 laki-laki dan 4.178 perempuan.
Kepadatan penduduk di desa ini 407 jiwa/km2.
Walaupun berada pada satu kecamatan yaitu Kecamatan Tebas, desa
Segarau Parit dan Desa Tebas Sungai mempunyai lingkungan yang berbeda. Di
desa Segarau Parit dikarenakan kepadatan penduduknya lebih rendah maka
lingkungannya lebih alami dibandingkan dengan desa Tebas Sungai. Faktor lain
yang juga mempengaruhinya yaitu akses untuk menjangkau desa Segarau Parit
lebih sulit dibandingkan dengan desa Tebas Sungai yang berada di pusat
Kecamatan.
68

B. Temuan Penelitian
Dalam penelitian kualitatif analisis data merupakan tahap yang
bermanfaat untuk menelaah data yang telah di peroleh dari beberapa informan
yang telah di pilih selama penelitian berlangsung. Selain itu juga berguna untuk
menjelaskan dan memastikan kebenaran temuan penelitian. Analisis data ini
telah dilakukan sejak awal dan bersamaan dengan proses pengumpulan data di
lapangan.
1. Sistem Fonologi BMDS (Bahasa Melayu Dialek Sambas)
Bahasa Melayu Dialek Sambas (selanjutnya disingkat BMDS)
merupakan satu diantara bahasa daerah yang ada di indonesia, khususnya di
Kalimantan Barat yang masih dipelihara dengan baik oleh masyarakat
penuturnya. Adapun dari penelitian yang telah di lakukan, peneliti
mendapatkan beberapa temuan yang dapat mengambarkan varian fonologi
dari hasil wawancara dan observasi.
a) Fonem Vokal
Adapun sistem fonem vokal yang terdapat pada Bahasa Melayu
Dialek Sambas yaitu sebagai berikut:
1) Perubahan Bunyi [a]
Bahasa Melayu
Sambas
No Vokal Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 Anak anak anak
2 A Banyak bonyok banyak
Siksa siksƐ siksƐ
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada bunyi [a]
yang merupakan bunyi khazanah fonem bahasa indonesia pada
sistem fonologi bahasa melayu dialek sambas bunyi [a] dilafaskan
menjadi [o] dan [Ɛ].
69

2) Perubahan Bunyi [ǝ]


Bahasa Melayu
Sambas
No Vokal Bahasa Indonesia Segarau Tebas
Parit Sungai
1 kǝra kara? kara?
Ǝ
2 bǝli bali balli
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada bunyi [ǝ]
yang merupakan bunyi khazanah fonem bahasa indonesia pada
sistem fonologi bahasa melayu dialek sambas bunyi [ǝ] berubah
menjadi [a].
3) Perubahan Bunyi [U] ditulis dengan U kapital
Bahasa Melayu
No Vokal Bahasa Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 U batU botU batU
2 dUdUk dUdok dUdok
Pada tabel di atas fonem vokal yang berbunyi [U] pada kata
[dUdUk], pada sistem fonologi bahasa melayu dialek sambas
berubah bunyi menjadi [dUdok]. Dengan demikian pada kata
tertentu pada sistem fonologi bahasa melayu dialek sambas fonem
[U] berubah menjadi [o], namun tetap memiliki makna yang sama.
b) Fonem Konsonan
Adapun sistem fonem konsonan yang terdapat pada Bahasa
Melayu Dialek Sambas yaitu sebagai berikut:
1) Perubahan bunyi [f]
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 F fitnah Pitnah pitnah
2 fokus Pokus pokus
70

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada bunyi [f]


yang merupakan bunyi khazanah fonem konsonan bahasa
indonesia, yang pada sistem fonologi bahasa melayu dialek sambas
bunyi [b] pada kata [fitnah] berubah bunyi menjadi [pitnah] dan
kata [fokus] berubah menjadi [pokus]. Yang artinya fonem
konsonan [f] berubah menjadi [p] namun tetap mempunyai makna
yang sama.
2) Perubahan bunyi [h]
No Konsonan Bahasa Bahasa Melayu
Indonesia Sambas
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 H basah boso? basa?
2 parah Parah parah
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada bunyi [h]
yang merupakan bunyi khazanah fonem konsonan bahasa
indonesia, yang pada sistem fonologi bahasa melayu dialek sambas
bunyi [h] pada kata [basah] berubah bunyi menjadi [basa?]. Yang
artinya fonem konsonan [h] berubah menjadi [?] (bunyi hamzah
(hambat glotal) seperti pada bapak) namun tetap mempunyai makna
yang sama.
3) Perubahan bunyi [z]
Bahasa Melayu
Sambas
No Konsonan Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 Z Zaman jaman jaman
2 Zalim Jalem Jalem
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada bunyi [z]
yang merupakan bunyi khazanah fonem konsonan bahasa
indonesia, yang pada sistem fonologi bahasa melayu dialek sambas
71

bunyi [z] pada kata [zaman] berubah bunyi menjadi [jaman] dan
kata [zalim] berubah menjadi [jalim]. Yang artinya fonem konsonan
[z] berubah menjadi [j] namun tetap mempunyai makna yang sama.
2. Varian Fonologi Antara Desa Segarau Dan Desa Tebas Sungai
Variasi fonem vokal yang ditemukan di dua desa daerah
pengamatan diklassifikasikan berdasarkan perubahan fonem vokal yang di
sebut dengan istilah substansi. Seperti yang telah diketahui dalam bahasa
Indonesia khazanah fonem vokal yaitu terdiri dari (a,i,u,e,ə, dan o). Dari
data di atas yang telah peneliti sajikan maka dapat diketahui bahwa varian
fonologi yang terdapat di antara desa Segarau Parit dan Tebas Sungai yaitu
variasi fonem vokal [a].
Variasi Fonem Vokal [a]
Bahasa Melayu
Sambas
No Vokal Bahasa Indonesia
Segarau Tebas
Parit Sungai
1 A Anak Anak Anak
2 Banyak Bonyok Banyak

Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa terdapat perubahan


fonem vokal [a]. Perubahan fonem vokal [a] menjadi [o] seperti terlihat
pada tabel di atas pada kata [banyak] yang merupakan kata baku bahasa
Indonesia. Di desa Tebas Sungai kata [banyak] penyebutannya sama
dengan kata baku bahasa Indonesia, namun di desa Segarau kata
[banyak] menjadi [bonyok], dan tetap merupakan mempunyai makna
yang sama.
Sedangkan untuk bunyi fonem vokal lainnya tidak terdapat
perbedaan bunyi di antara desa Segarau dengan Desa Tebas sungai pada
sistem fonologi bahasa Melayu dialek Sambas. Begitu juga dengan
fonem konsonan, di antara desa Segarau dan desa Tebas Sungai tak ada
perbedaan bunyi konsonan.
72

C. Pembahasan
Dari temuan-temuan penelitian yang telah peneliti deskripsikan di atas,
maka peneliti akan membahas fokus masalah maupun sub fokus masalah pada
penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1. Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek Sambas
Varian fonologi pada bahasa Melayu dialek Sambas apabila
merujuk pada khazanah fonem vokal dan fonem konsonen terdapat
beberapa perubahan pada bunyi.
Seperti yang telah kita ketahui fonem vokal adalah jenis bunyi
bahasa yang ketika dihasilkan atau diproduksi, setelah arus ujar keluar dari
glotis tidak mendapat hambatan dari alat ucap, melainkan hanya diganggu
oleh posisi lidah, baik vertikal maupun horisontal, dan bentuk mulut, Abdul
Chaer (2009 : 38). Adapun vokal tersebut yaitu ; a, i, I, u, U, e, ǝ, Ɛ, o, dan
Ͻ. Sedangkan konsonan adalah bunyi bahasa yang diproduksi dengan cara,
setelah arus ujar keluar dari glotis, lalu mendapat hambatan pada alat-alat
ucap tertentu didalam rongga mulut atau rongga hidung, Abdul Chaer (2009
: 48). Adapun konsonan tersebut yaitu, b, c, d, f, g, h, j, k, ?, l, m, n, ṅ, ŋ, p,
r, s, š, t, w, x, y, dan z.
Pada bahasa Melayu dialek Sambas terdapat perubahan-perubahan
yang terjadi pada fonem vokal dan fonem konsonan. Perubahan tersebut
yaitu antara lain terjadi pada bunyi vokal [a] yang pada bahasa melayu
dialek sambas menjadi [o] dan [Ɛ], bunyi vokal [ǝ] menjadi [a], dan bunyi
vokal [U] menjadi [o]. Sedangkan pada fonem konsonan [f] pada bahasa
Melayu dialek Sambas berubah menjadi [p], konsonan [h] berubah menjadi
[?] (bunyi hamzah (hambat glotal) seperti pada bapak), dan konsonan [z]
menjadi [j].
2. Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek Sambas antara Desa Segarau
dengan Tebas Sungai
Setelah diketahui sistem varian fonologi bahasa Melayu dialek
Sambas maka selanjutnya peneliti akan mendiskripsikan varian fonologi
yang terdapat pada desa Segarau dan desa Tebas Sungai. Seperti halnya
73

bahasa Melayu dialek Sambas, bahasa Melayu dialek desa Segarau dan
bahasa Melayu dialek Tebas Sungai juga pastinya mengalami perubahan
yang sama. Namun di antara bahasa Melayu dialek desa Segarau dengan
bahasa Melayu dialek desa Tebas sungai terdapat perbedaan. Adapun
perbedaan yang terdapat pada bahasa Melayu dialek desa Segarau dengan
bahasa Melayu dialek desa Tebas Sungai terdapat pada fonem vokal [a].
Layaknya bahasa Melayu dialek Sambas, bahasa Melayu dialek
desa Tebas Sungai bunyi vokal [a] tidak mengalami perubahan. Namun
berbeda dengan bahasa Melayu dialek desa Segarau, fonem vokal [a]
berubah menjadi [o].
3. Faktor Varian Fonologi Bahasa Melayu Dialek Sambas antara Desa
Segarau dengan Desa Tebas Sungai
Chaer (2004 : 62) para ahli memiliki pandangan yang berbeda-beda
mengenai variasi bahasa. Hartman dan Stork dalam Chaer, (2004 : 62)
membedakan variasi bahasa berdasarkan kriteria (a) latar belakang geografi
dan sosial penutur, (b) medium yang digunakan, dan (c) pokok
pembicaraan. Mc David dalam Chaer, (2004 : 62) membagi variasi bahasa
berdasarkan (a) dimensi regional, (b) dimensi soial, (c) dimensi temporal.
Sementara itu, Abdul Chaer, (2004 : 62) mengklasifikasikan faktor yang
menyebkan terjadinya variasi bahasa berdasarkan (a) variasi bahasa dari
segi penutur, yang terdiri dari idealek, dialek, kronolek atau dialek temporal,
dan sosiolek dialek sosial, (b) variasi dari segi pemakaian, (c) variasi dari
segi keformalan, dan yang terakhir (d) variasi dari segi sarana.
Adapun menurut peniliti, faktor penyebab terjadinya varian
fonologi bahasa Melayu dialek Sambas, antara desa Segarau dan Desa
Tebas Sungai dipengaruhi oleh faktor dari segi penutur, yaitu antara lain:
a) Dialek
Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang
jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area
tertentu. Karena dialek ini didasarkan pada wilayah atau area tempat
tinggal penutur, dialek ini lazim disebut dialek areal, dialek regional atau
74

dialek geografis. Para penutur dalam suatu dialek, mekipun mereka


mempunyai idioleknya masing-masing, memiliki ciri yang menandai
bahwa mereka berada pada satu dialek, yang berbeda dengan kelompok
penutur lain, yang berada dalam dialeknya sendiri dengan ciri lain yang
menandai dialeknya juga.
Adapun alasan peneliti memilih faktor dialek sebagai faktor
terjadinya varian fonologi antara bahasa Melayu dialek desa Segarau
dan bahasa Melayu dialek desa Tebas Sungai dikarenakan terdapat
unsur-unsur yang terdapat pada faktor dialek, yaitu unsur sekelompok
penutur yang berjumlah relatif dan unsur berada pada suatu tempat /
wilayah tertentu.
Mengacu pada kedua unsur tersebut maka faktor varian yang
terdapat antara bahasa Melayu dialek desa Segarau dengan bahasa
Melayu dialek desa Tebas Sungai sesuai dengan penelitian yang telah
dilakukan, yaitu dipengaruhi oleh faktor dialek.
Gambar 1.1
Peta Desa Segarau dan Tebas Sungai
75

Dia atas merupakan peta letak desa Segarau dan sekitarnya serta
letak sungai Sambas Besar yang memisahkan desa tersebut dari desa-
desa lainnya di kecamatan tebas. Seperti yang terlihat di dalam peta,
sungai Sambas Besar memisahkan dua tanah di kabupaten Sambas.
Orang-orang di kabupaten Sambas mengistilahkan daerah yang terpisah
oleh sungai Sambas Besar sebagai “Sebarrang (Seberang)”. Adapaun
daerah “Sebarrang (Seberang)” meliputi kecamatan Tekarang,
kecamatan Jawai, dan kecamatan Teluk Keramat.
Berdasarkan hasil penilitian serta pengalaman peneliti sendiri
sebagai orang yang tinggal di Sambas di “Sebarrang (Seberang)” yang
meliputi kecamatan Tekarrang, Jawai, dan Teluk Keramat bahasa yang
mereka gunakan sama dengan bahasa Melayu dialek Desa Segarau,
yaitu varian fonem vokal [a] berubah menjadi [o].
Dengan demikian, walaupun desa Segarau merupakan bagian
dari kecamatan Tebas yang pada umumnya fonem vokal [a] tidak
berubah, namun karena terletak di “Sebarrang (Seberang)” maka fonem
vokal [a] berubah menjadi [o]. Ini artinya faktor penyebab terjadinya
varian fonologi merupakan dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok
penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah,
atau area tertentu.
b) Kronolek atau Dialek Temporal
Kronolok atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang
digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Seperti yang telah
peneliti jelaskan pada sub bab di atas bahwa dialek merupakan salah satu
faktor terjadinya varian bahasa di kabupaten Sambas khususnya di
antara desa Segarau dan desa Tebas Sungai. Dari kesimpulan tersebut
dapat dinyatakan bahwa terdapat dua varian bahasa Melayu dialek
Sambas berdasarkan faktor dialeknya. Yaitu bahasa Melayu dialek
Sambas yang berada di tanah “Sebarrang (Seberang)” yang
menggunakan fonem vokal [a] berubah menjadi [o] dan daerah yang
bukan terletak di tanah “Sebarrang (Seberang)” yaitu daerah yang
76

berada di jalur jalan utama kabupaten yang meliputi Kecamatan Sambas,


Sempalai, Tebas, Semparuk, Pemangkat dan lain-lain yang pada daerah
tersebut fonem vokal [a] tidak berubah menjadi [o] layaknya tanah
“Sebarrang (Seberang)”.
Namun berdasarkan penelitian yang peniliti lakukan dan
berdasarkan pengalaman peneliti sendiri yang merupakan warga di
Kabupaten Sambas, pada daerah yang bukan termasuk tanah
“Sebarrang (Seberang)” yang melipiti kecamatan Tebas, Semparuk,
Pemangkat dan lainnya terdapat beberapa individu yang menggunakan
fonem vokal [a] berubah menjadi [o].
Individu-individu yang menggunakan fonem vokal [a] berubah
menjadi [o] di daerah tersebut merupakan orang-orang yang usianya
sudah lanjut atau orang-orang yang sudah berumur tua. Ini artinya selain
faktor dialek (berdasarkan wilayah), faktor kronolek atau dialek
temporal ( penutur pada masa tertentu) juga menjadi pengaruh
terjadinya varian fonologi bahasa Melayu dialek Sambas.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui observasi,
wawancara dan dokumentasi terhadap varian fonologi bahasa Melayu dialek
Sambas diantara desa Segarau dengan desa Tebas Sungai maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa terdapat perbedaan fonologi bahasa Melayu dialek Sambas,
antara desa Segarau dan desa Tebas Sungai, Kecamatan Tebas. Adapun faktor
yang menyebabkan terjadinya varian bahasa tersebut adalah faktor yang
disebabkan oleh penutur yaitu dialek (berdasarkan wilayah) dan kronolek atau
dialek temporal (penutur pada masa tertentu).
Adapun kesimpulan secara lebih khusus dalam penelitian ini
diantaranya sebagai berikut:
1. Pada bahasa Melayu dialek Sambas terdapat perubahan-perubahan yang
terjadi pada fonem vokal dan fonem konsonan. Perubahan tersebut yaitu
antara lain terjadi pada bunyi vokal [a] yang pada bahasa melayu dialek
sambas menjadi [o] dan [Ɛ], bunyi vokal [ǝ] menjadi [a], dan bunyi vokal
[U] menjadi [o]. Sedangkan pada fonem konsonan [f] pada bahasa Melayu
dialek Sambas berubah menjadi [p], konsonan [h] berubah menjadi [?]
(bunyi hamzah (hambat glotal) seperti pada bapak), dan konsonan [z]
menjadi [j].
2. Perbedaan varian fonologi yang terdapat di antara desa Segarau Parit dan
Tebas Sungai yaitu terdapat pada fonem vokal [a]. Layaknya bahasa
Melayu dialek Sambas, bahasa Melayu dialek desa Tebas Sungai bunyi
vokal [a] tidak mengalami perubahan. Namun berbeda dengan bahasa
Melayu dialek desa Segarau, fonem vokal [a] berubah menjadi [o].
3. Adapun faktor penyebab terjadinya varian fonologi bahasa Melayu dialek
Sambas, antara desa Segarau dan Desa Tebas Sungai dipengaruhi oleh
faktor dari segi penutur, yaitu dialek (berdasarkan wilayah) dan kronolek
atau dialek temporal (penutur pada masa tertentu

77
78

4. Terdapat dua varian bahasa Melayu dialek Sambas berdasarkan faktor


dialeknya. Yaitu bahasa Melayu dialek Sambas yang berada di tanah
“Sebarrang (Seberang)” yang menggunakan fonem vokal [a] berubah
menjadi [o] dan daerah yang bukan terletak di tanah “Sebarrang
(Seberang)” yaitu daerah yang berada di jalur jalan utama kabupaten yang
meliputi Kecamatan Sambas, Sempalai, Tebas, Semparuk, Pemangkat dan
lain-lain yang pada daerah tersebut fonem vokal [a] tidak berubah menjadi
[o] layaknya tanah “Sebarrang (Seberang)”.
Pada daerah yang bukan termasuk tanah “Sebarrang (Seberang)” yang
melipiti kecamatan Tebas, Semparuk, Pemangkat dan lainnya terdapat
beberapa individu yang menggunakan fonem vokal [a] berubah menjadi
[o]. Individu-individu yang menggunakan fonem vokal [a] berubah
menjadi [o] di daerah tersebut merupakan orang-orang yang usianya sudah
lanjut atau orang-orang yang sudah berumur tua. Ini artinya selain faktor
dialek (berdasarkan wilayah), faktor kronolek atau dialek temporal (
penutur pada masa tertentu) juga menjadi pengaruh terjadinya varian
fonologi bahasa Melayu dialek Sambas.

B. Saran
Adapun saran yang dapat peneliti berikan terkait dengan peneliktian ini
yaitu sebagai berikut:
1. Sehubungan dengan simpulan di atas maka peneliti mengemukakan saran
bahwa pengembangan dan pendokumentasian bahasa daerah perlu
dilaksanakan karena yang kita ketahui bahasa yang selalu berubah-ubah
dan berkembang. Oleh karena itu penelitian bahasa daerah perlu dilakukan.
Penelitian bahasa ini dapat bermanfaat bagi peneliti lain untuk melengkapi
hal-hal yang berhubungan dengan kebahasaan salah satunya di bidang
fonologi. Hasil penelitian ini dapat memperkaya kosa kata bahasa daerah
bahkan dapat juga menambah kosa kata bahasa Indonesia, sehingga
penelitian ini dapat menjadi pengembangan bahasa daerah dan Indonesia.
79

2. Mengingat masih jarang penelitian yang dilakukan untuk mengkaji bahasa


pada masyarakat di Kabupaten Sambas, untuk itu perlu dilakukan
penelitian lanjutan. Pengkajian lebih lanjut baik dengan fokus yang sama
maupun dengan fokus yang berbeda. Peneliti mengemukakan saran bahwa
penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masalah dan bahan
pembanding bagi peneliti berikutnya untuk mlanjutkan penelitian bahasa
Melayu dialek Sambas pada kajian yang lain, seperti morfologi, sintaksis,
maupun simantik. Untuk dapat menginventarisasikan dialek-dialek bahasa
Melayu Sambas diharapkan perhatian dari calon linguis untuk melakukan
penelitian yang lebih lanjut.
80

Lampiran I

PEDOMAN WAWANCARA

Nama :

Umur/usia :

Jenis Kelamin :

Alamat :

Pekerjaan :

Status dalam Masyarakat Setempat :

Waktu Merekam (tanggal, bulan, tahun) :

Pertanyaan (Bahasa Indonesia)

1. Siapakah nama anda ?


2. Berapakah usia anda ?
3. Bahasa apa saja yang anda gunakan sehari – hari ?
4. Selain bahasa daerah, bahasa apa saja yang bias anda kuasai ?
5. Apakah anda pernah meninggalkan Desa dalam jangka waktu yang lama
untuk berpergian ?
81

Lampiran II

DATA INFORMAN

Nama : Solihin

Umur/usia : 40 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki

Alamat : Desa Segarau Parit

Pekerjaan : Swasta

Status dalam Masyarakat Setempat : Perangkat Desa

Waktu Merekam (tanggal, bulan, tahun) : Selasa, 21 Maret 2017


82

Lampiran III

DATA INFORMAN

Nama : Aspa'at

Umur/usia : 52 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki

Alamat : Desa Tebas Sungai

Pekerjaan : Petani

Status dalam Masyarakat Setempat : Perangkat Desa

Waktu Merekam (tanggal, bulan, tahun) : Sabtu, 25 Maret 2017


83

Lampiran IV

PEDOMAN WAWANCARA

Nama : Solihin

Umur/usia : 40 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki

Alamat : Desa Segarau Parit

Pekerjaan : Swasta

Status dalam Masyarakat Setempat : Perangkat Desa

Waktu Merekam (tanggal, bulan, tahun) : Selasa, 21 Maret 2017

1. (BI) Siapakah nama anda/Bapak ?


(BD) SapE namE Bapak to' E ?
Jawab :
(BI) Nama saya Solihin
(BD) NamE sayE Ke Solihin

2. (BI) Berapakah usia anda/ Bapak?


(BD) Berape kire-kire umor Bapak to' E?
Jawab :
(BI) Umur saya sudah 40 tahun
(BD) Umor sayE kE udoh 40 taon

3. (BI) Bahasa apa saja yang anda gunakan sehari – hari ?


(BD) BahasE apE ajak yang Bapak gunEkan seari-ari ?
Jawab :
84

(BI) Bahasa yang saya gunakan sehari-hari adalah Bahasa Melayu


Sambas
(BD) BohosE nang sayE gunEkan seari-ari ke, bohose Melayu Sombos

4. (BI) Selain bahasa daerah, bahasa apa saja yang bisa anda kuasai ?
(BD) Selaing bahase daerah bahase apE ajak yang bise bapak kuasae' ?
Jawab :
(BI) Bahasa Indonesia
(BD) Bahasa Indonesia

5. (BI) Apakah anda pernah meninggalkan Desa dalam jangka waktu yang
lama untuk berpergian ?
(BD) ApE kE Bapak suah ninggalkan kampong dalam jangkak waktu
yang lamak ?
Jawab :
(BI) Belum pernah
(BD) Baloman suah
85

Lampiran V

PEDOMAN WAWANCARA

Nama : Aspa'at

Umur/usia : 52 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki

Alamat : Desa Tebas Sungai

Pekerjaan : Petani

Status dalam Masyarakat Setempat : Perangkat Desa

Waktu Merekam (tanggal, bulan, tahun) : Sabtu, 25 Maret 2017

1. (BI) Siapakah nama anda/Bapak ?


(BD) SapE namE Bapak to' E ?
Jawab :
(BI) Nama saya Aspa'at
(BD) NamE sayE Ke Aspa'at

2. (BI) Berapakah usia anda/ Bapak?


(BD) Berape kire-kire umor Bapak to' E?
Jawab :
(BI) Umur saya sudah 52 tahun
(BD) Umor sayE udah 52 taon

3. (BI) Bahasa apa saja yang anda gunakan sehari – hari ?


(BD) BahasE apE ajak yang Bapak gunEkan seari-ari ?
Jawab :
86

(BI) Bahasa yang saya gunakan sehari-hari adalah Bahasa Melayu


Sambas
(BD) BohosE yang sayE gunEkan seari-ari, bahasE Melayu Sambas

4. (BI) Selain bahasa daerah, bahasa apa saja yang bisa anda kuasai ?
(BD) Selaing bahase daerah bahase apE ajak yang bise bapak kuasae' ?
Jawab :
(BI) Bahasa Indonesia
(BD) BahasE Indonesia

5. (BI) Apakah anda pernah meninggalkan Desa dalam jangka waktu yang
lama untuk berpergian ?
(BD) ApE kE Bapak suah ninggalkan kampong dalam jangkak waktu
yang lamak ?
Jawab :
(BI) Pernah
(BD) Suah
DAFTAR PUTAKA

Abror, Rachman, ABD. (2009). Pantun Melayu. Yogyakarta : LKIS

Ayatrohaedi, (1979). Dialektologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan


dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Chaer, Abdul. (2007). Kajian Bahasa Struktur Internal, Pemakaian dan


Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta
. (2009). Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Rineka Cipta

Chaer, Abdul dan Agustina, Leoni (2004). Sosiolinguistik. Jakarta : PT Rineka


Cipta

Creswell, W. John. (2015). RESEARCH DESIGN Pendekatan Kualitatif,


Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Finoza, Lamuddin. (2013). Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta : Diksi Insan


Mulia

Hadi, Ainul & Haryono (2005). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung. CV.
Pustaka Setia

Ismawati, Esti. (2011). Metode Penelitian Pendidikan Bahasa & Sastra. Kadipiro
Surakarta : Yuma Pustaka

KBBI, (2007). Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta : Balai Pustaka

Keraf, Gorys. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia Pustaka


Utama.

Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik : Edisi ke empat. Jakarta : PT Gramedia


Pustaka Utama

Mahmud. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : CV Pustaka Setia

Marsono. (1993). Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Masinambow dan Haenen, Paul. (2002). Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah.
Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Muslich, Mansur. (2011). Fonologi Bahasa Indonesia Tinjauan Deskriptif Sistem


Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Bumi Aksara

xii
Ngaalimun & Alfulaila,Noor. (2014). Pembelajaran Keterampilan Berbahasa
Indonesia. Yogyakarta : Aswaja Pressindo

Paimin, Suparmin, dkk. (1986). Morfologi Sintaksis Bahasa Melayu Sambas.


Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Pemerintah Kabupaten Sambas. (2001). Sejarah Kesultanan dan Pemerintahan


Daerah. Pontianak : Semar Karya Pontianak

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Kamus Pelajar. Jakarta :


pusat Bahasa

Rohmadi, Muhammad & Nugraheni, Sri, Aninditya. (2012). Belajar Bahasa


Indonesia. Surakarta : Cakrawala Media

Siswanto, dkk. (2011). Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta : Media Perkasa

S, Margono. (2005). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. PT. Rineka Cipta

Spat, C. (1989). Bahasa Melayu Tata Bahasa Selayang Pandang. Jakarta : Balai
Pustaka

Suandi, Nengah, I. (2014). Sosiolinguistik. Yogyakarta : Graha Ilmu

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif dan R&D. Bandung : CV Alfabeta

Sugono, Dendy dkk. (2012). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi
Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumarsono, (2007). Sosiolingusitik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Sunarno, Agung & Sihombing, Deritio, Syaiful. (2011). Metode Penelitian


Keolahragaan. : Yuma Pressindo

Susanto. (2006). Metode Penelitian Sosial. Solo : LPP, UNS dan UPT Penerbiatan
dan Pencetakan UNS (UNS Press)

Suwandi, Sarwiji. (2011). Semantik Pengantar Kajian Makna. Yokyakarta : Media


Perkasa

Wibowo, Wahyu. (2003). Manajemen Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Wijana, I Dewa Putu dan Rohmadi Muhammda. (2010). Sosiolinguistik Kajian


Teori dan Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

xiii
Zulaeha, Ida. (2010). Dialektologi: Dialek Geografi dan Dialek Sosial. Yogyakarta:
Graha Ilmu.

Zuldafrial. (2009). Pendekatan Penelitian dan Teknik Penulisan Karya Ilmiah.


Pontianak : Pustaka Abuya
. (2011). Penelitian Kualitatif. Pontianak : STAIN Pontianak Press

xiv