Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MANAJEMEN FARMASI

RANCANGAN PEMBUATAN APOTEK

Oleh :

Choirul Umam (162211101004)

Herlita P. Silalahi (162211101009)

Sendy Puspitosary (162211101010)

Haris R. Dwiputri (162211101037)

Lisa Ayu Wardani (162211101060)

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2016
STUDY KELAYAKAN

I. LATAR BELAKANG

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian,


yang dimaksud dengan apotek adalah suatu sarana pelayanan kefarmasian tempat
dilakukannya praktek kefarmasian oleh Apoteker. Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud
adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas
resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional. Pekerjaan kefarmasian juga meliputi pengadaan sediaan farmasi, produksi sediaan
farmasi, distribusi atau penyaluran sediaan farmasi, dan pelayanan dalam sediaan farmasi.
Dalam peraturan ini seorang Apoteker bertanggung jawab atas pengelolaan apotek, sehingga
pelayanan kesehatan kepada masyarakat akan lebih terjamin keamanannya, baik kualitas
maupun kuantitasnya.

Untuk mendirikan serta mengelola sebuah apotek, perlu dilakukan perencanaan


terlebih dahulu. Satu hal yang sangat penting dalam perencanaan apotek adalah studi
kelayakan. Studi kelayakan merupakan suatu rancangan secara komprehensif segala sesuatu
tentang rencana pendirian apotek baru untuk dapat melihat kelayakan usaha baik ditinjau dari
pengabdian profesi maupun dari sisi ekonominya. Apotek dalam pelaksanaannya mempunyai
dua fungsi yaitu sebagai unit pelayanan kesehatan (patient oriented) dan unit bisnis (profit
oriented). Dalam fungsinya sebagai unit pelayanan kesehatan, fungsi apotek adalah penyedia
obat-obatan yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan optimal.
Sebagai unit pelayanan, apotek harus hadir dalam lingkup yang sangat sosial, penuh nilai
etika dan nilai moral. Sedangkan sebagai institusi bisnis, apotek juga mengutamakan
keuntungan, hal ini cukup wajar karena investasi yang ditanam pada pendirian dan
operasionalisme apotek juga tidak sedikit.

Apotek ini dibuat untuk memperluas akses obat yang terjamin kepada masyarakat.
Selain itu juga bertujuan untuk menertibkan peredaran obat-obat palsu dan ilegal, serta
memberikan kesempatan bagi Apoteker untuk memberikan pelayanan kefarmasian. Dengan
demikian, seorang APA tidak hanya sebagai penanggung jawab teknis kefarmasian, tetapi
juga dapat mengelola apotek sesuai dengan prinsip-prinsip bisnis tanpa memberikan
keuntungan kepada pihak-pihak tertentu dan juga memiliki fungsi sosial di masyarakat.
Dalam upaya untuk memajukan kesejahteraan umum yang berarti mewujudkan suatu
tingkat kehidupan secara optimal, yang memenuhi kebutuhan manusia termasuk kesehatan,
maka dibuatlah proposal pendirian Apotek ini yang diharapkan akan memudahkan
masyarakat untuk mendapatkan obat yang rasional.

II. ANALISIS STUDI KELAYAKAN APOTIK

Data penduduk jember menurut sensus tahun 2013 yaitu sebanyak 2.529.967 jiwa
(JDA, BPS 2013) dengan kepadatan rata-rata 787,47 jiwa/km2. Sedangkan jumlah apotik di
Jember sebanyak 392 apotik. Banyaknya jumlah apotik di kabupaten Jember khususnya
daerah kota membuat pelayanan kesehatan terpusat didaerah kota, sehingga kurang
menjangkau di daerah kecamatan maupun desa. Hal tersebut menyebabkan masyarakat di
daerah tersebut sulit mendapat pelayan kesehatan yang layak dan memadai. Hal tersebut
kemudian dijadikan dasar membuat setudi kelayakan apotik di daerah kecamatan Mumbulsari.

2.1. Aspek Lokasi

Menurut keputusan Menkes No 278/1981 tentang persyaratan apotek, lokasi apotek


harus mempertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan, jumlah
penduduk, jumlah dokter yang berpraktek, sarana pelayanan kesehatan, higienisitas
lingkungan, dan faktor lainnya. Lokasi apotek sangat menentukan keberhasilan apotek dan
erat hubungannya dengan aspek pasar. Lokasi apotek sebaiknya berada di :

 Daerah yang ramai


 Daerah yang aman
 Daerah yang dekat dengan rumah sakit/klinik
 Daerah yang sekiranya ada beberapa dokter yang berpraktek
 Daerah yang mudah dijangkaui, mudah dicapai oleh masyarakat banyak dengan
kendaraan.
 Daerah yang cukup padat penduduknya dan mampu
2.1.1. Denah Lokasi

2.1.2. Data-data Pendukung

a. Kepadatan Penduduk
Apotek berada di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi karena terletak tepat
di daerah pasar Mumbul Sari yang merupakan pusat dari kecamatan tersebut. Hal ini
dibuktikan dengan banyaknya orang yang beraktivitas tiap harinya dan selalu ramai.

b. Tingkat Sosial dan Ekonomi


Tingkat kesadaran kesehatan masyarakat sudah cukup tinggi dimana sebagian besar
masyarakat Mumbul Sari jika sakit akan mendatangi dokter umum atau puskesmas.
Selain itu tingkat ekonomi juga cukup baik sebab berada di daerah pasar Mumbul Sari
yang merupakan pusat ekonomi di daerah tersebut.

c. Pelayanan Kesehatan Lain

Sarana pelayanan kesehatan di sekitar apotek antara lain :

1) Puskesmas Mumbul Sari

2) Praktek dokter umum

3) Praktek mantri

d. Jumlah Pesaing

Jumlah apotek sebagai pesaing tidak ada sama sekali sebab di daerah kecamatan
Mumbul Sari belum terdapat apotek. Masyarakat sebagian besar membeli obat di
warung terdekat atau menebus di daerah Muktisari yang secara estimasi waktu
membutuhkan waktu sekitar 25 menit.

e. Dekat Pusat Keramaian

Apotek Sahabat dekat dengan pusat keramaian seperti pasar (Pasar Mumbul Sari)

f. Aman

Lingkungan Apotek Sahabat relatif aman karena letaknya berdekatan dengan Polsek
Mumbul Sari.

g. Mudah Dijangkau

Apotek terletak di pinggir jalan raya kecamatan dan mudah dijangkau. Apotek ini juga
dilengkapi dengan area parkir yang memadai yang terletak di samping dan belakang
apotek.

2.1.3. Tanah dan Bangunan


Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 278/MenKes/SK/V/1981
tentang persyaratan apotek tertanggal 30 Mei 1981 ditulis bahwa :
a) Luas bangunan apotek minimal 50 m2 terdiri dari :
 Ruang tunggu
 Ruang peracikan dan penyerahan obat
 Ruang administrasi
 Ruang laboratorium pengujian sederhana
 Ruang penyimpanan obat
 Tempat pencucian alat
 Jamban/WC
b) Bangunan apotek harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
 Atap dari genteng/sirap/bahan lain dan tidak boleh bocor.
 Dinding harus kuat, pojok tidak siku atau melengkung dan tahan air, dan
permukaan dalam usaha rata, tidak mudah mengelupas dan mudah
dibersihkan.
 Langit-langit (plafon) terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak dan
berwarna terang.
 Lantai/ubin/semen/bahan lain dan tidak lembab.
 Harus berventilasi dan mempunyai sanitasi yang baik.
c) Tanah dan bangunan yang digunakan sebagai lokasi Apotek :
 Tanah dan bangunan : Membeli
 Luas bangunan : Bangunan dengan luas lahan total 70 m2

2.2. Analisis SWOT


Strengths (kekuatan) Opportunities (Peluang)
- Adanya dokter praktek - Belum terdapat apotik
- Terdapat pelayanan Apoteker selama - Dekat dengan pusat pelayanan
apotik buka kesehatan
- Terdapat obat lengkap dengan harga - Berdiri di lokasi pusat ekonomi
bersaing kecamatan
- Terdapat pelayanan Home care
- Terdapat mushola, tempat wudhu dan
toilet.
Weaknesses (kelemahan) Threats (Ancaman)
- Pola penggunaan obat masyarakat di - Minimnya kesadaran masyarakat
sekitar apotek belum diketahui tentang kesehatan
- Jauh dari pusat kota, sehingga
pengadaan obat lebih lama

2.3. Lay Out dan Interior Apotek


Lay Out apotek adalah letak susunan tata ruang di sebuah apotek, antara lain ruang
tunggu, ruang racikan, ruang apoteker, ruang penyimpanan obat-obatan (gudang), ruang tata
usaha, ruang untuk menerima para verkoper (salesman) serta WC.

Interior apotek adalah ruang dalam apotek terutama di ruang tunggu. Dalam ruang
tunggu ini umumnya terdapat kursi-kursi tamu untuk para pasien / konsumen menunggu
sambil duduk-duduk. Sedapat mungkin ruang tunggu itu seluas mungkin dan hanya
digunakan untuk tempat pasien menunggu saja, bebas dari keluar masukknya orang lain dari
luar ke dalam maupun dari dalam keluar.

 Terdapat ventilasi agar ada aliran udara segar atau pakailah ruang ber-AC, bila
memungkinkan.
 Terdapat penerangan lampu yang terang, tapi tidak menyebarkan panas.
 Terdapat warna menyejukkan sehingga memberi kesan, segar, bersih dan terang.
 Agar merasa nyaman, terdapat tanaman-tanaman hijau yang tahan hidup dalam
ruangan dalam.
 Terdapat sound sistem dengan lagu yang sayup-sayup/nyanyian klasik.
 Terdapat TV, koran atau majalah supaya mereka merasa betah menunggu.
 Terdapat tempat minum dengan gelas, bila memungkinkan.

A. Denah Apotek

B. Perlengkapan
1) Alat Pembuatan, Pengolahan dan Peracikan
 Gelas ukur
 Labu Erlenmeyer
 Beker glass
 Corong
 Batang pengaduk
 Timbangan dan anak timbangan (gram/milligram)
 Mortir (bercucuk dan tidak bercucuk) dan stamper
 Termometer
 Spatel logam/tanduk, plastik atau porselen
 Literan plastik 1 dan 2 liter
 Penangas air
 Kompor atau alat pemanas yang sesuai
 Panci
 Rak tempat pengeringan alat
 Sumber air

2) Alat Perbekalan Farmasi


 Botol berbagai ukuran
 Pot plastik berbagai ukuran
 Lemari dan rak untuk penyimpanan obat
 Lemari untuk penyimpanan racun, narkotika, psikotropika, dan bahan/obat
yang berbahaya lainnya
 Lemari pendingin
3) Wadah Pengemas dan Pembungkus
 Etiket
 Wadah pengemas dan pembungkus untuk penyerahan obat (tas plastik)
 Stapler
4) Alat Administrasi
 Blanko pesanan obat
 Blanko kartu stock obat
 Blanko salinan resep
 Blanko faktur dan blanko nota penjualan
 Buku defecta
 Buku ED
 Buku OWA
 Buku Farmakope
 Buku ISO atau MIMS
 Buku pembelian
 Buku penerimaan
 Buku pengiriman
 Buku pembukuan keuangan
 Buku pencatatan narkotika
 Buku pesanan narkotika
 Buku pesanan obat narkotika
 Form laporan obat narkotika
 Buku pencatatan penyerahan racun
 Kuitansi
 Buku resep jika dokter akan beli obat
 Alat-alat tulis dan kertas
5) Perlengkapan Lainnya
 Alat pemadan kebakaran
 Papan nama dari papan/seng/bahan lain yang bagian muka apotek
(minimal 60 cm x 40 cm dengan tinggi huruf 5 cm dan tebal 5 mm) dan
harus memuat nama apotek, nama APA, nomor SIA, alamat apotek dan
no. telepon.

III. VISI DAN MISI


1. Visi
Menjadikan apotek dengan pelayanan kefarmasian yang berkualitas,
terpercaya, menguntungkan, dan menjadi pilihan utama masyarakat sekitar
dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan.
2. Misi
Misi dari apotek ini adalah :
a. Melaksanakan pelayanan kefarmasian yang terjangkau oleh masyarakat
dan menyediakan obat-obatan dan alkes yang asli dan legal.
b. Menyelenggarakan pelayanan kefarmasian yang efektif, tepat, cepat,
ramah, informatif, dan memuaskan semua pihak.
c. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat secara profesional.
d. Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja apotek dan pemilik modal.

IV. TUJUAN PENDIRIAN APOTEK


Adapun tujuan didirikannya Apotek ini adalah :
1. Menyediakan dan mendistribusikan perbekalan farmasi yang berkualitas, aman,
dan legal dengan tujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.
2. Sebagai tempat pengabdian bagi profesi apoteker yang telah mengucapkan
sumpah jabatan
3. Sebagi sarana farmasi yang melakukan peracikan, pencampuran, dan penyerahan
obat serta bahan obat.
4. Memberikan informasi tentang kesehatan khususnya obat dan penggunaan obat
yang tepat dan rasional dalam praktek pengobatan sendiri (swamedikasi)
5. Memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat.

V. STRATEGI INOVASI
Strategi inovasi yang dapat dilakukan untuk mngembangkan dan mempertahankan
eksistensi Apotek Sahabat adalah :
1. Menyediakan jasa konseling secara gratis dan ruangan khusus untuk konseling
sehingga pasien merasa nyaman untu melakukan konseling dengan APA.
2. Melakukan monitoring terhadap pasien terutama pasien dengan penyakit kronis
baik via telepon maupun secara langsung keadaan pasien lebih terkontrol dan
kepercayaan pasien terhadap apotek semakin meningkat.
3. Menyediakan fasilitas yang menarik seperti menyediakan TV, tempat duduk
yang nyaman, majalah kesehatan, koran, tabloid, air minum diruang tunggu.
4. Menyediakan “Herbal Corner” sehingga pasien yang menunggu bisa lebih
mengenal jamu.
5. Bekerja sama dengan apotek lain yang berada disekitar Apotek Sahabat.
6. Merancang Standar Prosedur Operasional (SPO) dan standar organisasi kerja.

VI. ANALISIS TEKHNIK


A. Deskripsi Gedung dan Tata Ruang
a. Luas bangunan
Luas bangunan Apotek Sahabat adalah ± 70 m2 (10 m x 7 m) dengan lahan
parkir yang cukup luas untuk menampung kendaraan pasien baik kendaraan
roda dua maupun roda empat. Bangunan yang akan ditempati merupakan
bangunan buatan sendiri sehingga sesuai dengan keinginan.
b. Penampilan fisik
Warna dinding apotek perpaduan warna hijau dan oranye dengan lantai
menggunakan keramik warna putih sesuai dengan aslinya.
c. Kelengkapan bangunan
Kelengkapan bangunan yang digunakan untuk menunjang semua aktivitas
yang dilakukan di apotek antara lain :
 Sumber penerangan PLN.
 Sumber air bersih dan sanitasi.
 Tabung pemadam kebakaran.
 Ventilasi.
 Kipas angin.
 Alat komunikasi telepon.
 Komputer.
 Cash ray.
 Lemari es.
 Tensimeter da Glukotest
 Timbangan dan Pengukur Tinggi badan
 Televisi
d. Identitas Apotek
Tujuan pemasangan papan nama apotek yaitu sebagai identitas dan alat
pengenal yang secara langsung mengumumkan keberadaan apotek kepada
masyarakat sekitar. Identitas apotek direncanakan :
 Di dalam ruang tunggu terdapat papan berukuran 50 cm x 40 cm yang
mencantumkan nama apotek, APA, SIA, dan alamat apotek.
 Di atas pintu masuk apotek terdapat papan identitas apotek berukuran 400
cm x 50 cm yang mencantumkan nama dan alamat apotek.
 Di luar apotek, di pinggir jalan menuju ke halaman apotek terdapat neon
box berukuran 180 cm x 100 cm yang berisi nama, alamat, dan jam kerja
apotek.
B. Tata ruang apotek
Tata ruang Apotek Sahabat diatur sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan
rasa nyaman bagi pengunjung dan memberikan keleluasaan bagi apoteker dan
karyawan apotek lainnya untuk menjalankan tugasnya. Berikut merupakan penataan
ruang Apotek Sahabat :
1) Ruang Apoteker yang dilengkapi dengan meja kerja dan rak buku berisi buku-
buku informasi obat seperti ISO, MIMS dan Farmakope.
2) Ruang tunggu dilengkapi dengan tempat duduk, meja pojok berisi brosur obat,
serta tempat sampah. Selain itu, untuk kenyamanan pasien juga dilengkapi dengan
kipas angin, rak koran dan majalah serta televisi.
3) Ruang pelayanan dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu kasir yang dilengkapi
dengan komputer sekaligus tempat penerimaan resep dan penyerahan obat.
4) Ruang konsultasi sebagai tempat untuk pelayanan konsultasi yang diberi sekat
untuk memberikan privasi kepada pasien serta literatur pendukung ketika
memberikan konsultasi. Ruang ini dilengkapi dengan buku-buku informasi obat
seperti ISO dan MIMS.
5) Ruang peracikan yang dilengkapi dengan meja, peralatan-peralatan untuk meracik
seperti timbangan, mortir, stamper, gelas ukur 10 mL dan 100 mL, corong kaca,
dan perlengkapan peracikan lainnya, wastafel, dan tempat sampah.
6) Di ruang ini juga terdapat lemari khusus untuk narkotika dan psikotropika, lemari
kaca yang berisi obat-obat keras, disusun menurut kelas terapi dan secara alfabetis,
sebuah lemari untuk menyimpan arsip administrasi apotek, dan sebuah rak khusus
untuk menyimpan arsip resep.
7) Toilet, tempat wudhu, dan musholla yang bisa digunakan untuk pengujung apotek

PSA APA Apoteker


Pendamping

AA

Juru Resep

Gambar 2.1 Struktur organisasi Apotek Sahabat

VII. ANALISIS KEUANGAN

Aspek finansial ditujukan untuk memperkirakan berapa jumlah dana yang dibutuhkan
untuk membangun dan kemudian untuk mengoperasikan apotek. Aspek finansial meliputi
rencana seluruh kegiatan apotek, mulai dari penyediaan sarana dan prasarana hingga
perhitungan parameter-parameter keuangan dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan.
Sumber pembiayaan apotek dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu : pertama modal sendiri,
saham bersama. Keduanya dapat pinjaman dengan melalui bank atau lembaga non bank.
Penilaian atau analisis aspek keuangan dapat ditinjau dari kegunaan dana dan pemilihan
sumbernya.
Aspek keuangan, meliputi :
a. Investasi dan modal kerja
b. Penilaian analisis keuangan (PP, ROI, NPV, IRR, BEP), penjelasan ada dibawah ini :

 Analisis Payback Periode (PP)


Payback Period merupakan analisis yang digunakan dengan tujuan untuk mengetahui
berapa lama modal yang kita investasikan akan kembali (balik modal) atau analisis yang
mengukur lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menutup kembali seluruh biaya
investasi. PP dapat diketahui dengan menghitung rasio dari total investasi dibandingkan
dengan laba bersih. PP dapat dihitung dengan rumus: Semakin kecil waktu pengembalian
modal maka semakin prospektif pendirian apotek yang menandakan semakin besar
tingkat pengembalian modal dan keuntungan bersih rata-rata juga akan semakin besar.
Payback period bergantung pada jumlah investasi dan modal tetap yang dikeluarkan.
Investasi juga berasal dari modal operasional dan modal cadangan.
Indikator analisis PP:
- Bila PP yang diperoleh < dari PP yang ditetapkan (bank), maka proyek tsb layak
dilaksanakan

- Bila PP nya > dari PP yang ditetapkan (bank), maka proyek tsb tidak layak
dilaksanakan

- Bila PP nya = dari PP yang ditetapkan (bank), maka proyek tsb boleh
dilaksanakan, boleh tidak

 Break Even Point (BEP)


Analisa BEP menunjukkan suatu keadaan kinerja suatu usaha pada posisi tidak
memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian karena pada posisi tersebut pada
omset tertentu laba yang diperoleh sama dengan biaya tetap yang dikeluarkan. Sehingga
dengan harga yang ada, omset yang didapatkan, serta biaya yang dikeluarkan itu tidak
akan menderita kerugian. Dengan adanya BEP ini menjadi alat untuk menetapkan
perkiraan omzet yang harus didapatkan agar suatu usaha tidak merugi (Anief, 2001).

BEP = [1/(1-Biaya Variabel/Volume Penjualan)] x biaya tetap

Analisa BEP berguna untuk perencanaan laba (Profit Planning), sebagai alat
pengendalian (Controlling), pertimbangan dalam menentukan harga jual dan
pertimbangan dalam mengambil keputusan perlu diketahui berapakah BEP-nya.
 ROI (Return on Investment)
Return on Investment (ROI) atau rentabilitas atau earning power merupakan
perbandingan antara pendapatan bersih dengan aktiva bersih rata-rata yang digunakan.
Hal ini penting untuk mengetahui kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan.
ROI dapat dihitung dengan rumus :

ROI = (Laba Bersih/Total Investasi) x 100%

Indikatornya ROI:
- Bila ROI yang diperoleh > bunga pinjaman, maka proyek dikatakan layak
dilaksanakan.
- Bila ROI yang diperoleh < bunga pinjaman, maka proyek dikatakan tidak layak
dilaksanakan
- Bila ROI yang diperoleh = bunga pinjaman, maka proyek dikatakan boleh
dilaksanakan boleh juga tidak
ROI dapat dinaikkan dengan cara:
a. Menaikkan margin
1. Hasil penjualan (total sales) dinaikkan lebih besar dibanding biaya.
2. Biaya diturunkan lebih besar dibanding penjualannya.
b. Menaikkan perputaran
1. Menaikkan hasil penjualan (laba) dibanding aktivanya (modal lancarnya).
2. Menurunkan aktivanya lebih besar dibanding hasil penjualan (laba).
ROI merupakan analisa hasil usaha. Hal ini tergantung dari tujuan perusahaan, tapi secara
umum dapat dikatakan R
OI yang baik adalah lebih besar daripada jasa pinjaman rata-rata. Besarnya ROI yang
diperoleh merupakan tingkat pengembangan usaha suatu perusahaan
 Net Present Value (NPV)
Analisis NVP analisis untuk mengetahui apakah nilai arus kas yang akan diterima selama
periode investasi (NPV 2) lebih besar atau lebih kecil dibandingkan dengan nilai investasi
yang dikeluarkan sekarang. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan
yag diperoleh selama umur ekonomi proyek. Proyek dinyatakan layak dilaksanakan jika
nilai B/C Rasio yang diperoleh lebih besar atau sama dengan satu, dan merugi dan tidak
layak dilakukan jika nilai B/C Rasio yang diperoleh lebih kecildari satu.
 IRR (Internal Rate of Return)
Merupakan tingkat suku bunga yag dapat membuat besarnya nilai NPV dari suatu usaha
sama dengan nol (0) atau yang dapat membuat nilai Net B/C Ratio sama dengan satu
dalam jangka waktu tertentu.
VIII. ASPEK MODAL DAN BIAYA

 Analisis anggaran apotek dengan BEP

MODAL TETAP
Bangunan Rp 160.000.000,00
Pembelian tanah (70 m2) Rp 40.000.000,00
Pendirian Bangunan Rp 120.000.000,00
Inventaris Rp 21.600.000,00
Etalase Rp 4.000.000,00
Furniture Rp 3.000.000,00
Lemari obat Rp 2.000.000,00
Lemari narkotik psikotropik Rp 800.000,00
Komputer kasir Rp 5.500.000,00
Papan Nama Apotek Rp 500.000,00
Kursi tunggu Rp 1.000.000,00
Meja racik dan kursi Rp 400.000,00
Lemari pendingin Rp 800.000,00
Alat pemadam kebakaran Rp 300.000,00
Kipas angin 3 buah Rp 1.500.000,00
TV Rp 800.000,00
Perlengkapan lain Rp 1.000.000,00
Biaya Ijin Apotek Rp 2.000.000,00
Modal Kerja Rp 56.555.555,00
(± 1 bulan omzet)
Total Modal Rp. 240.155.555,00
 Analisis Break Even Tahun Pertama

Biaya Tetap

Keterangan 1 Bulan (Rp.) 1 Tahun (Rp.) Total (Rp.)

Gaji Karyawan 57.600.000,00


a. APA 1.700.000,00 20.400.000,00
b. Apoteker Pendamping 1.500.000,00 18.000.000,00
c. 2 Asisten Apoteker
1.600.000,00 19.200.000,00

Biaya Listrik, air dan telepon 500.000,00 6.000.000,00 6.000.000,00

Biaya Pemeliharaan 150.000,00 1.800.000,00 1.800.000,00

Biaya Pajak 10.200.000,00


a. PBB 650.000,00 7.800.000,00

b. Reklame 200.000,00 2.400.000,00

Biaya penyusutan 1.200.000,00


a. Penyusutan inv. Apt 100.000,00
(5%)

b. Penyusutan inv. Kantor 1.100.000,00


(5%)

Total Biaya Tetap 76.800.000,00

Perhitungan batas laba rugi / break event point tahun pertama


Asumsi biaya variabel adalah 85% dari total pendapatan meliputi :
a. Harga Pokok Penjualan (HPP)
b. Biaya Promosi
c. Biaya service apotek
d. Biaya pemakaian keperluan apotik dan kantor
e. Biaya transportasi
biaya tetap
BEP = biaya variabel
1 –( )
volume penjualan

Rp.76.800.000,00
= 85
1 –( )
100

= Rp. 512.000.000,00 /tahun


= Rp. 42.666.667,00 /bulan (30 hari)
= Rp. 1.422.222,00 /hari
Hasil penjualan apotek sebesar Rp. 42.666.667,00/bulan tidak memberikan
keuntungan maupun kerugian dari apotek. Apotek menginginkan keuntungan bersih sebesar
Rp. 25.000.000,00 /tahun, apotik harus melakukan penjualan sebesar :
biaya tetap+keuntungan
Target penjualan setahun = biaya variabel
1 –( )
volume penjualan

Rp.76.800.000,00 +Rp.25.000.000,00
= 85
1 –( )
100

= Rp. 678.666.666,00 /tahun


= Rp. 56.555.555,00 /bulan (30 hari)
= Rp. 1.885.185,00 /hari
Berdasarkan target penjualan pertahun, maka target penjualan per hari yaitu:
- Resep non racikan Rp. 700.000,00
- Non resep Rp. 1.185.185,00 (+)
Target penjualan per hari Rp. 1.885.185,00
Omzet per bulan Rp. 56.555.555,00
Omzet per tahun Rp. 678.666.666,00

Rekonsiliasi
Penjualan per tahun Rp. 678.666.666,00
Biaya variabel (85%) Rp. 576.866.666,00 (-)
Pendapatan marginal Rp. 101.800.000,00
Biaya tetap Rp. 76.800.000,00 (-)
Laba per tahun sebelum pajak Rp. 25.000.000,-

Perhitungan
Gaji APA per tahun Rp. 20.400.000,-
Biaya jabatan 5% x Rp. 20.400.000,00 Rp. 1.020.000,- (-)
Penghasilan bersih Rp. 19.380.000,-
Laba apotek per tahun sebelum pajak Rp. 25.000.000,- (+)
Total penghasilan Rp. 44.380.000,-
DAFTAR PUSTAKA

Fauci, Antony S., D.L Kasper, D. L. L. Longo, E. Braunwald, S. L. Hauser, J. L. Jameson.


Harrison’s Principles of Internal Medicine, 17 th edition. 2008. USA: Mc Graw-Hill
Companies. P. 208-210

ISFI, 2010. Standar Kompetensi Farmasis Indonesia, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia,
Jakarta.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang


perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
922/MENKES/PER/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotik,
Jakarta.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan


Kefarmasian, Jakarta

Seto, S. & Nita, Y., 2002. Dasar-Dasar Akuntansi untuk Apotek, Airlangga University Press,
Surabaya.

Seto, S., Nita, Y. & Triana, L., 2004. Manajemen Farmasi, Lingkup : Apotek, Farmasi
Rumah Sakit, Pedagang Besar Farmasi, Industri Farmasi, Airlangga University Press,
Surabaya.

Weihrich, Heinz., 2011. The TOWS matrix: a tools for situational analysis. (Cited 2011 juli,2)
available from http://www.usfca.edu@facstaff/weihrichh/docs/tows/pdf
(http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/id/demografipendudukjkel.php?ia=3509)

(http://lewatmana.com/lokasi/fasilitas-kesehatan/apotek/di/jember/)