Anda di halaman 1dari 8

Tantangan Dan Peluang Pengembangan Dan Aplikasi

Akuntansi Hijau
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Andreas Lako, SE., MSi

Disusun Oleh :
Albert Martino 13.60.0010
Yohanes Aditya 13.60.0090
Apudjiwan Nurilhamdi 13.60.0216

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Program Studi Akuntansi
Universitas Katolik Soegijapranata
Semarang
2016
Dunia saat ini sedang mengalami krisis sosial lingkungan yang kian serius dan
menakutkan. Akuntansi dan akuntan dituding sebagai salah satu penyebabnya. Karena bertahan
dengan GAAP konvensional maka terjadi salah kaprah dalam perlakuan akuntansi dan pelaporan
informasi biaya tanggung jawab sosial & lingkungan (CSR). Costs CSR diperlakukan sebagai
beban periodik perseroan (expense). Akuntansi menghadapi dilema apakah tetap bertahan pada
GAAP Akuntansi konservatif atau bertransformasi ke Green Accounting / Sustainability
Accounting.

Fenomena Krisis Sosial Lingkungan

Indonesia

1. Pembakaran lahan dan penabangan hutan yang masih

2. Eksploitasi SDA dan lingkungan

3. Pencemaran dan kerusakan lingkungan

4. Kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi

Global

1. Perubahan iklim dan pemanasan global

2. Kerusakan-degradasi lingkungan, bencana alam

3. Krisis energi dan kelangkaan sumberdaya

4. Kemiskinan, kemelaratan dan penderitaan rakyat

Itu semua terjadi karena keserakahan dan ketamaan manusia, korporasi dan negara demi
meraup keuntungan (laba) dan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu dibutuhkan perubahan kea rah
yang lebih baik agar krisis social dan lingkungan dapat diatasi. Disinilah peran Green accounting.
Pengertian Akuntansi Hijau
green accounting adalah jenis akuntansi lingkungan yang menggambarkan upaya untuk
menggabungkan manfaat lingkungan dan biaya ke dalam pengambilan keputusan ekonomi atau
suatu hasil keuangan usaha, Green Accounting menggambarkan upaya untuk menggabungkan
manfaat lingkungan dan biaya ke dalam pengambilan keputusan ekonomi. Perusahaan akuntansi
lingkungan berkaitan dengan dampak lingkungan sebuah bisnis, akuntansi lingkungan nasional
berusaha untuk mencapai yang sama pada tingkat-negara.

Alasan Munculnya Akuntansi Hijau

 Terjadi krisis lingkungan yang kian parah dan Akuntansi dituding sebagai
salah satu penyebabnya karena tidak menyajikan informasi akuntansi
lingkungan

 Adanya demand dari korporasi/stakeholder terhadap Green


Reporting/Sustainability Reporting

 Adanya keinginan kuat dari para akuntan untuk menjadikan Akuntansi


sebagai ilmu sosial dan teknologi yang kian berperan strategis dan vital
dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, bisnis dan budaya umat manusia.

 Munculnya keinginan kuat dari para Akuntan untuk memajukan Akuntansi


dan profesi Akuntan agar semakin berperan penting dalam kehidupan umat
manusia

Tujuan Akuntansi Hijau

Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian


kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya (environmental costs) dan manfaat ekonomi
(economic benefit), serta memberikan perlindungan terhadap lingkungan (environmental
protection) (Almilia dan Wijayanto, 2007).Secara singkat, akuntansi hijau dapa tmemberikan
informasi mengenai sejauh mana organisasi atau perusahaan memberikan kontribusi positif
maupun negative terhadap kualitas hidup manusia dan lingkungannya (Belkaoui, 2000
dalamKomar, 2004).

Akuntansi Berkelanjutan

Akuntansi Berkelanjutan adalah sebuah bidang akuntansi yang baru yang fokusnya kepada
pengakuan,pengukuran,pelaporan dan akuntabilitas yang tidak tertuju kepada transaksi-transaksi
atau informaasi tentang keuangan tetapi kepada transaksi-transaksi peristiwa sosial dan lingkungan
yang di dasari oleh informasi keuangan.

Fokus Akuntansi Berkelanjutan

Fokus dari proses Akuntansi Berkelanjutan adalah pada transaksi-transaksi atau peristiwa
keuangan, sosial dan lingkungan sehingga output pelaporannya berisi informasi keuangan, sosial
dan lingkungan.

Tujuan Akuntansi Berkelanjutan

Tujuan akuntansi berkelanjutan menurut Hendriksen (1994) adalah untuk memberikan informasi
yang memungkinkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap masyarakat dapat di evaluasi.
Ramanathan (1976) dalam Arief Suadi (1988) juga menguraikan tiga tujuan yaitu:

 mengidentifikasikan dan mengukur kontribusi sosial neto periodik suatu


perusahaan, yangtidakhanya meliputi manfaat dan biaya sosial yang di
internalisasikan keperusahaan, namun juga yang timbul dari eksternalitas
yang mempengaruhi segmen-segmen sosial yang berbeda,
 membantu menentukan apakah strategi dan praktik perusahaan yang
secara langsung mempengaruhi relativitas sumberdaya dan status
individu, masyarakat dan segmen-segmen sosial adalah konsisten dengan
prioritas sosial yang diberikan secara luas pada satu pihak dan aspirasi
individu pada pihak lain,
(3) memberikan dengan cara yang optimal, kepada semua kelompok sosial, informasi
yang relevan tentang tujuan, kebijakan, program, strategi dan kontribusi suatu
perusahaan terhadap tujuan-tujuan sosial perusahaan.

Berdasarkan tujuan akuntansi sosial yang diuraikan diatas dapat dipahami bahwa akuntansi
berkelanjutan berperan dan menjalankan fungsinya sebagai bahasa bisnis yang mengakomodasi
masalah–masalah sosial yang dihadapi oleh perusahaan, sehingga pos–pos biaya sosial yang
dikeluarkan kepada masyarakat dapat menunjang kegiatan operasional dan pencapaian tujuan
jangka panjang perusahaan.

Pengertian Green Ekonomi

Program Lingkungan PBB (UNEP; United Nations Environment Programme) dalam laporannya
berjudul Towards Green Economy menyebutkan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu
meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak
negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam.

Ekonomi hijau menurut Cato, mempunyai ciri-ciri yaitu suatu sitem ekonomi hijau merupakan
ekonomi yang berbasis lokal. Dalam ekonomi hijau, orang-orang akan berhubungan satu dengan
yang lain lebih dulu dan baru kemudian berdagang.

Contoh green ekonomi:

1. Pengurangan Emisi Gas Buang Co2


2. Penganggulangan Efek rumah Kaca
3. Program Penghijauan
4. Program Industri ramah lingkungan

Pengertian Green bisnis

Bisnis hijau (Green business) adalah sebuah istilah yang mungkin tidak asing namun tak banyak
juga orang yang paham.Sederhananya bisnis hijau adalah sebuah pendekatan lingkungan dan
social dalam menjalankan aktifitas bisnis agar terjadi keberlanjutan bagi generasi mendatang akan
tersedianya sumber-sumber daya alam.
Tipe Green bisnis:

a. Responsible waste management


b. Membayar jasa lingkungan dan ekosistem yang digunakan
c. Bisnis jasa lingkungan
d. Bisnis berbasis sumberdaya kehati

Manfaat Green bisnis:

1. Menurunkan risiko pada bisnis dan politik, sosial


2. Untuk menaati undang-undang/ hukum
3. Meningkatkan kepercayaan kepada stakeholder
4. Untuk masa depan perusahaan yang baik dan benar
5. Meningkatkan rating/nama perusahaan di nilai baik pada masyarakat

Green Company

Green company yang dimaksud disini adalah aktifitas atau segala hal dalam operasional
perusahaan yang meminimalisir dampak kerusakannya terhadap lingkungan. Green Company
adalah perusahaan yang tidak memberikan impak negative terhadap lingkungan setempat
maupun global, juga terhadap komunitas serta ekonomi secara keseluruhan. Green Company
beroperasi sebagai earth-friendly enterprise atau beroperasi dengan mengadaptasi policies
& principles untuk menghasilkan produk/jasa yang bermanfaat bagi lingkungan, baik dalam
kerangka mengatasi persoalan lingkungan maupun sekedar memproduksi sesuatu dengan
meminimalkan kerusakan lingkungan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah perusahaan Indonesia yang mengadopsi dan menerapkan
Sustainability Reporting (SR), yaitu pelaporan yang memadukan pelaporan sosial, lingkungan,
keuangan dan tatakelola secara integral, terus meningkat.

 Model SR di kembangkan Global Reporting Inisiatives (GRI) sejak tahun 2001.


Kebanyakan korporasi global sudah menerapkan SR.
 Pada 2020, model Sustainability Reporting yang dikembangkan Global Reporting
Inisiatives (GRI) akan menjadi mandatory bagi korporasi global.

 Saat ini, sedang difinalisasi draft International Sustainability Reporting Standards


(ISRS).

Green Business and Green Accounting

Paradigma bisnis yang menganjurkan bahwa dalam berbisnis untuk meraup laba
(profit), korporasi perlu peduli dan bertanggung jawab melestarikan lingkungan planet)
dan meningkatkan kesejahteraan sosial (people) dengan mengelolanya secara baik.

Motif Green Business

 Patuh terhadap regulasi

 Mengurangi tekanan para stakeholder eksternal

 Untuk keberlanjutan bisnis dan laba dalam jangka panjang

 Mendapatkan akses politik, kredit, investasi dan bisnis

 Menurunkan risiko keuangan, risiko bisnis, risiko sosial dan risiko politis

 Meningkatkan reputasi dan nama baik perusahaan

 Meningkatkan apresiasi stakeholder

 Melindungi perusahaan

Tantangan Implementasi Akuntansi Berkelanjutan

 Akuntansi hanya memfokuskan pada kebutuhan informasi dari stakeholder


dominan yang memberi kontribusi dalam penciptaan nilai perusahaan.

 Akuntansi hanya memproses dan melaporkan informasi yang“materiality” dan


“measurability”.
 Akuntansi mengadopsi asumsi “entity” sehingga perusahaan diperlakukan sebagai
entitas yang terpisah dari pemilik dan stakeholder lainnya. Jika suatu transaksi tidak
secara langsung berdampak pada nilai entitas maka diabaikan dalam pelaporan
akuntansi.

 Masyarakat dan lingkungan adalah sumberdaya yang tidak berada dalam “area
kendali” dan tidak terikat dalam “executory contract” dengan perusahaan sehingga
diproses akuntansi.

Visi kurikulum akuntansi di masa yang akan datang

 Meningkatkan kompetensi lulusan Akuntansi dan merespon tren tuntutan pelaporan


korporasi global, Jurusan/Prodi Akuntansi di Indonesia perlu segera merespon dan
menginternalisasikan Sustainability Accounting and Reporting (SAR) dalam
desain Kurikulum dan mata kuliah Akuntansi.

 Fokuskan dan berdedikasi untuk mendukung “Sustainabilitas korporasi, sosial dan


lingkungan” dengan mengembangkan mata kuliah-mata kuliah baru yang relevan
dengan SAR.

Peluang bagi Profesi Akuntansi

 Pengembangan Akuntansi baik sebagai ilmu maupun sebagai teknologi rekayasa.

 Profesi akuntansi atau lulusan Akuntansi dalam pengembangan lapangan pekerjaan


atau profesi.

 Meningkatkan peran strategis informasi akuntansi dalam keputusan bisnis,


ekonomi, politik, sosial, hukum, lingkungan dan lainnya untuk para pihak pemakai.