Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Xenobiotik berasal dari bahasa Yunani: Xenos yang artinya asing.

Xenobiotik adalah zat asing yang masuk dalam tubuh manusia. Contoh: obat

obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan (pemanis, pewarna,

pengawet) dan zat karsinogen lainya. Xenobiotik umumnya tidak larut air,

sehingga kalau masuk tubuh tidak dapat diekskresi. Untuk dapat diekskresi

xenobiotik harus dimetabolisme menjadi zat yang larut, sehingga bisa diekskresi.

Organ yang paaling berperan dalam metabolisme xenobiotik adalah hati. Ekskresi

xenobiotik melalui empedu dan urine. Pada metabolisme obat, pada obat yang

sudah aktif → metabolisme xenobiotik fase 1 berfungsi mengubah obat aktif

menjadi inaktif, sedang paa obat yang belum aktif → metabolisme xenobiotik fase

1 berfungsi mengubah obat inaktif menjadi aktif

Kekuatan pendorong dalam evolusi sistem detoksifikasi metabolisme

canggih sebenarnya cukup lurus ke depan dan tergantung pada kemampuan air

untuk bertindak sebagai "pelarut" untuk melarutkan zat. Karena membran seluler

terutama lipid berbasis dan kedap larut air yang paling (ilmiah: "kutub") zat,

pengangkutan larut dalam air senyawa ke dalam sel memerlukan protein

transportasi khusus. Dengan menempatkan protein transport yang sesuai pada

membran sel, sel hanya akan memungkinkan diinginkan larut dalam air molekul

untuk masuk, dan akan mencegah masuknya air-larut racun. Ini paradigma yang

sama juga berlaku ketika sel perlu mengeluarkan senyawa larut dalam air yang

1
tidak diinginkan (seperti limbah selular), mereka keluar dari sel dengan

mekanisme yang serupa.

Berbeda dengan senyawa yang larut dalam air, membran sel lipid

menyajikan penghalang sedikit lipid-larut senyawa, yang bebas bisa dilewati.

Berpotensi merusak lipid-larut racun sehingga dapat memperoleh akses gratis ke

interior seluler, dan jauh lebih sulit untuk menghapus. Sistem detoksifikasi

metabolisme mengatasi masalah ini dengan mengubah lipid-larut racun ke aktif

larut dalam air metabolit. The "solubilisasi" dari racun dicapai oleh enzim yang

melekat (konjugasi) tambahan yang larut dalam air molekul terhadap toksin larut

lipid pada titik-titik lampiran tertentu. Jika racun tidak mengandung salah satu

titik sambungan, mereka pertama kali ditambahkan oleh satu set terpisah enzim

yang mengubah kimia racun untuk menyertakan "menangani" molekul. Setelah

reaksi solubilisasi, toksin kimia-dimodifikasi diangkut keluar dari sel dan

dikeluarkan. Ketiga langkah atau fase menghilangkan yang tidak diinginkan atau

berbahaya lipid-larut senyawa yang dilakukan oleh tiga set protein seluler atau

enzim, disebut fase I (transformasi) dan fase II (konjugasi) enzim, dan tahap III

(transportasi) protein.

2
Rumusan Masalah

1. Apa itu Senyawa xenobiotik?

2. Mengapa Senyawa xenobiotik di metabolisme?

3. Bagaimana Proses metabolisme senyawa xenobiotik pada logam?

4. Apa dampak xenobiotik bagi kesehatan?

Tujuan

1. Untuk mengetahui Apa itu senyawa xenobiotik.

2. Untuk mengetahui mengapa xenobiotik itu harus di metabolism.

3. Untuk mengetahui proses xenobiotik pada logam.

4. Untuk Mengetahui dampak xenobiotik bagi kesehatan.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Senyawa Xenobiotik

Xenobiotik berasal dari bahasa Yunani yaitu Xenos yang arti nya zat asing.

Zat Senobiotik merupakan senyawa yang asing bagi tubuh. Kelompok utama zat-

zat senobiotik yang mempunyai relevansi medik adalah obat-obatan,zat –zat

karsinogen kimia serta berbagai senyawa yang telah memasuki lingkungan

kehidupan kita melalui salah satu jalan,seperti senyawa-senyawa bifenil

Polikrolinasi (PCB) dan insektisida tertentu.sebagian besar senyawa ini akan

mengalami metabolism (perubahan kimiawi) dalam tubuh manusia dan hati

menjadi organ tubuh yang terutama terlibat dalam peristiwa ini.kadang-kadang zat

senobiotik dapat diekskresikan tanpa perubahan.Tujuan metabolism zat-zat

senobiotik adalah untuk meningkatkan kelarutannya dalam air (polaritas) dan

dengan demikian memudahkan eksresinya dari dalam tubuh.

Contoh: obat obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan

(pemanis, pewarna, pengawet) dan zat biotikkarsinogen lainya. Dalam kehidupan

sehari-hari tubuh manusia dapat terpapar oleh ribuan senobiotik yang setiap

xenobiotik dapat menimbulkan efek toksik.saat sarapan pagi dirumah mungkin

kita mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet,pewarna atau

penyedap rasa. Ketika kita di jalan menuju tempat kuliah dan tempat kerja

mungkin kita menghirup udara yang penuh dengan polutan rokok sendiri atau

teman kerja. Kedua, kemungkinan timbulnya efek toksik yang diakibatkan oleh

paparan xenobiotik belum disikapi secara benar baik oleh mereka yang bekerja

4
dibidang kesehatan terlebih lagi orang awam. Kasus formalin dalam makanan

mendapat tanggapan yang gegap gempita,sedangkan tercemarnya udara perkotaan

dan air tanah permukiman serta pemakaian obat-obatan yang irrasional menjadi

fenomena biasa.

B. Xenobiotik harus di Metabolisme

1. Xenobiotik umumnya tidak larut air, sehingga jika masuk tubuh tidak

dapat diekskresi

2. Untuk dapat diekskresi xenobiotik harus dimetabolisme menjadi zat yang

larut, sehingga bisa diekskresi

3. Organ yang paling berperan dalam metabolisme xenobiotik adalah hati

4. Ekskresi xenobiotik melalui empedu dan urine

C. Metabolisme Xenobiotik

Kasus ditemukannya formalin dalam makanan yang diberitakan pada

banyak media masa beberapa waktu lalu,bukanlah kasus baru. Formalin bukanlah

satu-satunya xenobiotik yang ditemukan dalam makanan. Bahan pewarna tekstil

seperti rodhamin B dan amaranth,residu peptisida golongan karbofular dan

cemaran logam berat juga pernah dilaporkan ditemukan dalam produk-produk

bahan makanan dan minuman yang beredar di beberapa daerah di Indonesia.

Selain senobiotik di dalam makanan, sangat senyawa kimia yang dapat

membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi dan masuk ke dalam tubuh.asap

rokok dan asap pembakaran sampah mengandung benzoa(a)piren yang sangat

karsinogenik. Didalam asap kendaraan bermotor mengandung gas karbon

5
monoksida yang sangat berbahaya bagi kesehatan.demikian pula sisa peptisida

dan insektisida yang digunakan untuk bebrbagai keperluan tentu bukan bahan

kimia yang baik untuk kesehatan. Penyedap rasa monosodium glutamate, dan

pemanis buatan seperti sakarin, siklamat dan aspartam. Walaupun diperbolehkan

untuk bahan makanan diduga dapat menginduksi pertumbuhan tumor.obat-obatan

yang sering kita konsumsi untuk penyembuhan penyakit tertentu adakalanya

menimbulkan efek samping atau efek toksik yang serius. Thalidomin yang semula

diproduksi dan diterima sebagai sdatif (obat penenang) ternyata bersifat

teratogenik (menyebabkan cacat pada janin), sehingga akhirnya obat tersebut

dilarang beredar dipasaran.

Dalam keseharian tubuh manusia dapat terpapar beribu-ribu senobiotik

mengingat senyawa asing yang diketahui manusia jumlahnya lebih dari 100.000

macam. Adakalanya kita secara sengaja mengkonsumsi senobiotik seperti obat

obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan (pemanis, pewarna,

pengawet) dan zat biotikkarsinogen lainya.walaupun tidak disertai kesadaran dan

pengetunahuan yang memadai akan akibat buruk yang mungkin timbul. Sedang

secara terus-menerus tanpa bermaksud untuk mengkonsumsi tubuh dapat terpapar

xenobiotik yang ada dilingkungan baik diudara,air maupun daratan seperti gas

karbon monoksid, benzo(a)piren,logam-logam berat dari asap buang kendaraan

bermotor dan bahan-bahan pencemar lingkungan lainnya. Senyawa senobiotik

tersebut masuk kedalam tubuh dapat melalui mulut (per-oral) seperti makanan dan

obat-obatan,atau karena terhirup atau dihirup pernafasan (per inhalasi)seperti asap

rokok dan asap kendaraan atau lewat kontak dengan kulit (per

6
cutan/transdermal)seperti dijumpai dalam beberapa kasus keracuna pestisida pada

petani. Apabila xenobiotik ini masuk ke tubuh manusia (dan juga hewan),tubuh

mempunyai mekanisme untuk mengendalikan keberadaan xenobiotik tersebut

sehingga aman bagi tubuh.xenoiotik yang masuk kedalam tubuh umumnya

melalui proses absorpsi akan sampai ke aliran darah,di distribusi ke seluruh tubuh

dan kemudian di eliminasi.proses eliminasi adalah usaha untuk menghilangkan

aktivitas dan keberadaan xenobiotik di dalam tubuh. Eliminasi meliputi

metabolisme/biotransformasi dan ekskresi. Metabolisme atau sendir

biotransformasi adalah perubahan kimiawi oleh pengaruh tubuh organisme,

sedangkan ekskresi adalah proses pembuangan xenobiotik dari dalam tubuh.

Proses adsorpsi, distribusi dan eliminasi ini pada umumnya melibatkan proses

penembusan membrane biologis.seperti diketahui bahwa membrane biologis

tersusun atas lapisan kompleks yang bersifat polar dan non polar.oleh karena nya

proses penembusan membrane tersebut juga tidak terlepas dari hokum-hukum

fisikokimia yang berlaku terhadap xenobiotikdan bahan penyusun membrane itu

sendiri,seperti derajat ionisasi,kelarutan dalam lemak, koefisien partisi

lemak/air,ketersediaan system transport spesifik,ukuran diameter pori membrane

serta kompleksitas matriks penyusun membrane. Didalam tubuh, xenobiotik

umumnya memberikan pengaruh pada system dan fungsi normal tubuh. Pengaruh

itu dapat berupa sesuatu yang diharapkan, misalnya efek terapetik obat (efek

untuk penyembuhan penyakit atau menghilangkan gejala penyakit), atau pengaruh

yang tidak diharapkan,seperti efek samping atau efek toksik. Melalui proses

metabolism dan proses ekskresi tubuh mampu menghilangkan semua pengaruh

7
yang timbul. Telah lama diketahui bahwa karena sifatnya yang suka lemak ada

banyak xenobiotik tidak akan dikeluarkan dari dalam tubuh apabila tidak

didahului proses perubahan struktur kimia melalui metabolism. Sebagai contoh,

pentobarbital diperkirakan akan tinggal di dalam tubuh selama 100 tahun

manakala tidak mengalami proses metabolism/biotransformasi.oleh karenanya

metabolism memegang arti penting dalam proses eliminasi xenobiotik. Ada

perbedaan antara metablisme nutrisi dan metabolism xenobiotik.

Metabolism nutrisi terjadi untuk keperluan proses normal sel. Proses ini

menghasilkan senyawa fungsional dan energy kimia yang dibutuhkan oleh sel

serta dalam langkah-langkah tertentu menghasilkan limbah

metabolik.metabolisme xenobik bertujuan untuk mengeliminasi keberadaan

xenobiotik di dalam tubuh. Dalam metabolism xenobiotik tidak pernah disertai

produksi energi.

Xenobiotik di dalam tubuh dapat mengalami berbagai macam reaksi

metabolism yang dapat di golongkan menjadi dua yaitu reaksi fase 1 dan reaksi

fase 2. Reaksi fase 1 adalah non-sintetik,merupakan pembentukan gugus

fungsional ataupun perubahan gugus fungsional yang sudah ada pada molekul

xenobiotik. Reaksi non sintetik ini meliputi reaksi oksidasi,reduksi dan hidrolisis.

Sebagai contoh hidroksilasi senyawa aromatic atau senyawa altik serta epoksidasi

ikatan rangkap merupakan reaksi oksidasi pembentukan gugus fungsional.

Sedangkan reaksi nitro,dealkilasi dan hidrolisis ester merupakan reaksi perubahan

gugus fungsional yang sudah ada. Gugus fungsional di maksudkan untuk

mengalami reaksi metabolic lanjutan berupa konjugasi dengan senyawa endogen

8
atau berinteraksi dengan reseptor untuk menimbulkan efek. (Williams,2002).

Reaksi oksidasi yang merupakan 90 % reaksi metabolism fase 1, dikatalis oleh

system enzim mikrosomal.sistem enzim ini dikenal pula sebagai mixed function

oxydase system (MFO)dengan sitokrom P450,suatu superfamily enzim

hemoprotein,sebagai komponen utamanya (lewis et al.,1998)

Reaksi fase 2 merupakan reaksi sintetik atau konjugasi. Reaksi ini

merupakan penggabungan antara molekul xenobiotik,atau metabolit yang

terbentuk dari reaksi fase 1, pada gugus fungsionalnya dengan senyawa endogen.

Reaksi sintetik meliputi reaksi glukuronidasi,sulfatasi,konjugasi dengan asam

amino,asetilasi,konjugasi dengan glutation dan mtilasi. Reaksi fase 2 ini

umumnya di katalisis oleh enzim-enzim sitosolik kecuali reaksi glukuronidasi.

Pada reaksi glukuronidasi membutuhkan asam uridil 5’-difosfoglukuronat

(UDPGA) untuk membentuk konjugat glukuronat, reaksi sulfatasi untuk

pembentukan konjugat sulfat membutuhkan 3’-fosfoadenosin-5’fosfosulfat

(PAPS), pembentukan konjugat glutation(menjadi konjugat asam

merkapturat(tioester) membutuhkan glutation tereduksi (GSH),sedang asilasi

membutuhkan koenzim A. pada umumnya konjugasi dengan senyawa endogen

berakibat hilangnya aktivitas biologis xenobiotik. Disamping tidak mempunyai

aktivitas biologis semua hasil reaksi fase 2 adalah metabolit yang mudah

terionisasi pada PH fisiologis,kecuali konjugat metil,sehingga lebih mudah larut

di dalam air yang mengakibatkan mudah dikeluarkan dari dalam tubuh. Ada

beberapa reaksi sintetikyang tidak umum yang hanya terjadi pada gugus senyawa

tertentu, seperti pembentukan hidrazon pada biotransformasi m dan hidratasi

9
epoksid membentuk dihidrodiol. Metabolit ini tidak terionisasi pada PH fisiologis

(sheweita,2000).

Metabolisme xenobiotik dapat terjadi baik di dalam hepar maupun di

jaringan-jaringan eksta hepatic seperti paru,ginjal dan mukosa saluran

pencernaan.kapasitas metabolic tertinggi ada di hepar.paru,ginjal dan mukosa

saluran pencernaan mempunyai kapasitas metabolic sedang dan kapasitas

metabolic terendah terjadi di kulit,testis dan plasenta.

Metabolisme xenobiotik umumnya terjadi dalam beberapa langkah reaksi

kimia yang berurutan atau simultan. Parasetamol,sebuah analgenik-antiseptik

yang sangat lazim, didalam tubuh secara simultan akan mengalami reaksi

glukuronidasi menjadi parasetamol-glukuronat, reaksi sulfatasi menjadi

parasetamol sulfat serta mengalami reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi ini kemudian

diikuti oleh reaksi konjugasi dengan glutation dan reaksi-reaksi ikutan selanjutnya

membentuk konjugat merkapturat, Amfetamin, stimulansia syarafpusat, di dalam

tubuh kelinci akan teroksidasi pada rantai samping,didalam tubuh

manusia,mencit,marmot dan anjing mengalami hidroksilasi menjadi asam

benzoate, sedangkan dalam tubuh tikus mengalami hidroksilasi cincin aromatic.

Insektisida malation dalam tubuh nyamuk mengalami desulfurasi oksidatif

menjadi malaokson yang lebih toksik,sedangkan pada tubuh mamalia, senyawa ini

akan mengalami hidolisis menjadi asam dikarboksilat kemudian terkonjugasi

dengan glukuronat menghasilkan metabolic yang inaktif. Benzo(a)piren yang

terhisap dari asap rokok berturut-turut akan terepoksidasi menjadi benzo(a)piren-

epoksid,terhidrasi menjadi dihidrodiol,terkonjugasi dengan sulfat membentuk

10
benzo(a)piren sulfat. Metabolit dihidrodiol yang terbentuk teroksidasi kembali

menjadi senyawa reaktif dihidrodiol epoksid yang dipercaya mampu menginisiasi

proses terjadinya kanker (karsinogenesis). Dihidrodiol epoksid ini kemudian

terhidrasi menjadi tetrol atau tersusun ulang menjadi triol yang akan diekskresikan

(Selkirk,1980;timbrell,1991).

Selama kapasitas tubuh(sel) tidak terlampaui maka semua matabolit yang

terbentuk akan bersifat aman bagi kehidupan dan segera dikeluarkan dari dalam

tubuh. Akan tetapi keadaan tersebut sering terlampaui, sebagai contoh,

mengkonsumsi 20 tablet parasetamol sekaligus (setara dengan 1 gram

parasetamol) dapat mengakibatkan kematian, karena kerusakan hepar

(hepatotoksik) yang massif dan tak terbalikkan (irreversible). Seorang perokok

berat dapat terkena kanker paru. Petani yang menyeprotkan pestisida organofosfat

untuk membasmi hama tanaman tiba-tiba dapat keracunan.

D. METABOLISME XENOBIOTIK PADA OBAT

Metabolisme obat adalah proses modifikasi biokimia senyawa obat oleh

organisme hidup, pada umumnya dilakukan melalui proses enzimatik. Proses

metabolisme obat merupakan salah satu hal penting dalam penentuan durasi dan

intensitas khasiat farmakologis obat. Metabolisme obat sebagian besar terjadi di

retikulum endoplasma sel-sel hati. Selain itu, metabolisme obat juga terjadi di sel-

sel epitel pada saluran pencernaan, paru-paru, ginjal, dan kulit. Terdapat 2 fase

metabolisme obat, yakni fase I dan II. Pada reaksi-reaksi ini, senyawa yang

kurang polar akan dimodifikasi menjadi senyawa metabolit yang lebih polar.

Proses ini dapat menyebabkan aktivasi atau inaktivasi senyawa obat.

11
1. Reaksi Fase I

Reaksi fase I, disebut juga reaksi nonsintetik, terjadi melalui reaksi-reaksi

oksidasi, reduksi, hidrolisis, siklikasi, dan desiklikasi. Reaksi oksidasi terjadi bila

ada penambahan atom oksigen atau penghilangan hidrogen secara enzimatik.

Biasanya reaksi oksidasi ini melibatkan sitokrom P450 monooksigenase (CYP),

NADPH, dan oksigen. Obat-obat yang dimetabolisme menggunakan metode ini

antara lain golongan fenotiazin, parasetamol, dan steroid.

Reaksi Oksidasi (Rx. Fase I)

Sebagian besar terjadi di retikulum endoplasmic bisa juga dikatalis di

sitosol atopun mitokondria

Reaksi Fase II

umumnya terjadi di sitosol, kecuali rx. Glukoronidasi

Jalur metabolisme obat dalam Hepar

Rx. Fase I = Rx fase non sintetik atau fungsionalisasi.

Membuat obat jadi lebih polar dengan memasukkan / menghilangkan gugus

fungsional.

meningkatkan aktifitas biologis

membentuk gugus yang reaktif terhadap enzim2 pada Rx. Fase II

Rx. Oksidasi

Melibatkan oksigenase, monooksigenase, dioksigenase

Oksigenase : oksidasi terjadi melalui penarikan hidrogen atau elektron.

Reaksi antara Xenobiotik dan seny. Endogen (As lemak, kolesterol, hormon

steroid) dikatalisis Enzim Mikrosom Hepar, Mukosa Usus, dan jaringan lain.

12
Monooksigenase : 1 atom oksigen dari O2 diikat pada xenobiotik, lalu direduksi

jadi air. Mengandung sitokrom P-450 dan P-448 (protein Hem). Istilah ini dipakai

karena terjadi absorpsi kuat dari cahaya pada panjang gelombang 450 dan 448 nm

setelah reduksi Na-ditionit dan penyeimbangan dengan CO. Dioksigenase :

memasukkan dua atom oksigen dari O2 ke dalam xenobiotika.

Rx. Oksidasi meliputi:

a. Hidroksilasi

Satu atom O berikatan dengan atom2 C, N, S dari molekul obat.

Katalis: enzim retikulum endoplasmik hepar (MFO = mixed function oxidases

system) Melibatkan sitokrom P-450 dan reduktase-NADPH-sitokrom-C.

b. Desulfurasi

Penggantian atom S dengan O akibat adanya oksigen pada turunan tio (tio-

urea, tiosemikarbon, organo-fosfor).

c. Dehalogenasi

Membutuhkan oksigen molekular dan NADPH. Misal pada Halotan

(anestetik) mengalami deklorinasi oksidatif dan debrominasi untuk menghasilkan

alkohol atau asam yang sesuai.

d. Pembentukan Oksida

Ada dua macam:

1. Oksidasi N-

a. Penambahan atom O pada N-.

b. Mikrosom hati + O2 + NADPH –> oksida N

13
c. Pada oksidasi metabolik amina akan menghasilkan: turunan Hidroksilamin

untuk amina primer dan sekunder oksida amin untuk amina tersier

2. b. Oksidasi S-

a. Pengikatan 1 ato 2 atom O pada sulfur (S)

b. Mengubah bentuk Sulfur Alifatik ato Aromatik jadi Sulfoksida dan

Sulfonat yang lebih polar dan lebih larut

Dealkilasi

Peniadaan radikal yang mula-mula terikat pada atom oksigen, nitrogen,

dan sulfur.

Ada 3 macam: Dealkilasi N-, Dealkilasi O-, Dealkilasi S-

Rx. Reduksi

dibanding oksidasi, hanya memegang peranan kecil

contoh:

Karbonil direduksi jadi alkohol

enzim: alkohol dehidrogenase

Senyawa azo jadi amina primer melalui tahap antara hidrazo

enzim: NADPH-sitokrom P-450 reduktase, NADPH-sitokrom e-reduktase

Rx. Hidrolisis

terdiri dari:

1. Hidrolisis ester dan amida oleh esterase (amidase)

Hidrolisis ester lebih cenderung terjadi di plasma dibanding di hati karena

plasma mengandung esterase yang lebih banyak

Ester terlindung secara sterik, jadi proses hidrolisis berjalan lambat

14
Amida lebih stabil dari ester dan lebih mungkin dihidrolisis oleh amidase

hati karena itu ester dan amida kemungkinan besar di ekskresikan tanpa berubah

dalam air kemih.

2. Reaksi Fase II

Reaksi fase II, disebut pula reaksi konjugasi, biasanya merupakan reaksi

detoksikasi dan melibatkan gugus fungsional polar metabolit fase I, yakni gugus

karboksil (-COOH), hidroksil (-OH), dan amino (NH2), yang terjadi melalui

reaksi metilasi, asetilasi, sulfasi, dan glukoronidasi. Reaksi fase II akan

meningkatkan berat molekul senyawa obat, dan menghasilkan produk yang tidak

aktif. Hal ini merupakan kebalikan dari reaksi metabolisme obat pada fase I.

- Obat2 mengalami Deaktivasi dengan Rx. Konjugasi.

Konjugasi: Rx. biosintesis dengan penempelan Seny. Endogen (as. glukoronat,

gugus sulfat, metil, asetil)

Untuk bisa konjugasi harus punya gugus aktif

Kalo gak punya gugus aktif ato obat sangat larut lipid, maka akan mengalami

Biotransformasi (Rx. Fase I: oksidasi, reduksi, hidrolisis) lebih dulu.

Glukoronidasi (Konjugasi dengan Glukoronat)

Koenzim antara (UDPGA : uridine diphosphoglucorinic acid) bereaksi

dengan obat dengan bantuan enzim UDP-glukoronosil-transferase (UGT) untuk

memindahkan glukoronida ke atom O pada alkohol, fenol, atau asam karboksilat;

atau atom S pada senyawa tiol; atau atom N pada senyawa2 amina dan

sulfonamida.

15
Secara skematis:

Konjugasi dengan Asam Amino (ex: Glisin & Glutamin)

Reaksi antara Obat yang dah punya gugus Karboksilat dan dah diaktivasi

koenzim-A dengan Seny. Endogen yang punya gugus amino Konjugasi dengan

Glutation (pembentukan Asam Merkapturat)

Epoksida atau aren oksida yang sangat reaktif bereaksi dengan Glutation,

kemudian dimetabolisir lebih lanjut menjadi As. Merkapturat (non toksik).

16
BAB II

PENUTUP

A. Kesimpulan

Xenobiotik berasal dari bahasa Yunani: Xenos yang artinya asing.

Xenobiotik adalah zat asing yang masuk dalam tubuh manusia. Contoh: obat

obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan (pemanis, pewarna,

pengawet) dan zat karsinogen lainya. Xenobiotik umumnya tidak larut air,

sehingga kalau masuk tubuh tidak dapat diekskresi. Untuk dapat diekskresi

xenobiotik harus dimetabolisme menjadi zat yang larut, sehingga bisa diekskresi.

Organ yang paaling berperan dalam metabolisme xenobiotik adalah hati. Ekskresi

xenobiotik melalui empedu dan urine. Pada metabolisme obat, pada obat yang

sudah aktif → metabolisme xenobiotik fase 1 berfungsi mengubah obat aktif

menjadi inaktif, sedang paa obat yang belum aktif → metabolisme xenobiotik fase

1 berfungsi mengubah obat inaktif menjadi aktif

Contoh: obat obatan, insektisida, zat kimia tambahan pada makanan (pemanis,

pewarna, pengawet) dan zat biotikkarsinogen lainya. Metabolisme xenobiotik

terjadi di hepar.

17
DAFTAR PUSTAKA

Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran,

ED : 3 jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima

Medikal.

Closkey, Mc, et all. 2007. Diagnosa Keperawatan NOC-NIC. St-Louis

Anonim. 2007. Skabies (kulit gatal bikn sebel).

http://www.cakmoki86.wordpress.com

Anonim. 2008. Skabies.

Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

otter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan

Praktik. Jakarta: EGC

Kee Joyce L. Dan Hayes Evelyne R.1996. Farmakologi. Jakarta: EGC

TUGAS JURNAL RACUN PESTISIDA BESERTA KRITIKANNYA

18