Anda di halaman 1dari 10

“Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian

Laporan Keuangan”

Tugas Mata Kuliah


Akuntansi Syariah

Disusun oleh :

1. Indah Rahmawati 15080694009


2. Indria Saroh Ayuning P. 15080694013
3. Nanda Umi Farikha 15080694015
4. Silka Asti Salamah 15080694021
5. Dean Aghitna Utami 15080694023

S1AK15 A

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
SURABAYA
2017
Asas Transaksi Syariah

Setiap asas transaksi syariah mengandung prinsip dasar yang melingkupinya :

1. Persaudaraan (ukhuwah) : setiap transaksi syariah yang dilakukan mengutamakan


nilai kebersamaan dalam memperoleh manfaatnya, sehingga tidak merugikan pihak
lain dan saling menguntungkan antar pihak. Prinsip persaudaraan didasarkan atas
prinsip saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), saling menolong
(ta’awun), saling menjamin (takaful), saling bersinergi (tahaluf).
2. Keadilan (‘adalah) : setiap transaksi syariah yang terjadi selalu memposisikan sesuatu
hanya pada yang berhak dan sesuai dengan takarannya. Prinsip ini dapat terealisasi
dalam aturan muamalah yang melarang adanyan unsur-unsur :
a. Riba adalah tambahan nominal pada pokok piutang yang dipersyaratkan dalam
transaksi pinjaman dan sejenisnya serta transaksi antar barang. Riba dilarang
dalam transaksi syariah, baik riba nasiah atau riba fadhl.
b. Kezaliman adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan takaran, kualitas,
dan temponya, mengambil sesuatu milik orang lain yang bukan haknya.
Kezaliman dapat terjadi baik terhadap diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
c. Judi adalah selalu bersikap spekulatif dan tidak berhubungan dengan
produktivitasnya. Mendapatkan sesuai yang cepat tanpa diiringi usaha yang
tepat.
d. Unsur ketidakjelasan, manipulasi, dan eksploitasi, serta ketidakpastiaan dalam
pelaksanaan akad yang telah disepakati.
e. Haram adalah segala sesuatu yang telah dilarang secara tegas dalam Al-Quran
dan As-Sunah, baik dalam kegiatan produksi dan operasional terkait.
3. Kemaslahatan (maslahah) adalah semua bentuk kebaikan dan manfaat baik duniawi
dan ukhrawih. Transaksi syariah yang mengandung asas ini harus memenuhi unsur
yang menjadi ketetapan syariah, yaitu di’en, ‘aql, nasl, nafs, dan mal. Kemaslahatan
sendiri harus mengandung dua unsur yaitu patuh terhadap ketentuan agama (halal)
dan membawa kebaikan (thayib).
4. Keseimbangan (tawazun) adalah setiap transansi syariah yang terjadi tidak hanya
memperhatikan kepentingan pemilik atau pihak tertentu tetapi mengutamakan
kepentingan setiap pihak sehingga manfaat ekonomi yang diperoleh dari transaksi
tersebut dapat dirasakan bersama.
5. Universalisme (syumuliyah) adalah setiap transaksi syariah mengandung esensi yang
dapat dilakukan oleh, dengan, dan untuk semua pihak yang berkepentingan tanpa
membedakan antara suku, ras, agama, dan golongan dengan niatan rahmatan lil
alamin.
Karakteristik Transaksi Syariah

Dalam berbagai transaksi bisa dikatakan sesuai dengan syariah jika memenuhi beberapa
dari kriterai berikut ini:

1. Kedua belah pihak yang bertransaksi harus iklas atau rida dan memahami seluk beluk
transaksi yang di sepakati
2. Objek yang terlibat dalam transakai harus halal
3. Komoditas dalam hal uang tidak di akui dan uang hanya sebagai alat ukur nilai dan
alat tukar
4. Tidak boleh riba
5. Tidak boleh ada kezaliman
6. Tidak boleh ada masyir
7. Tidak ada unsur gharar
8. Tidak haram
9. Tidak mengandung dan mengikuti unsur nilai waktu daripada uang
10. Kedua belah pihak yang bersepakat dalam transaksi tidak ada yang di rugikan
11. Tidak diperbolehkan adanya distorsi harga melalui berbagai permintaan dan
penawaran yang direkayasa
12. Tidak ada unsur kolusi maupun suap

Asumsi Dasar dalam Laporan Keuangan

1. Dasar akrual

Transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian dan bukan pada saat kas atau setara
kas diterima atau dibayar, serta diungkapkan dalam catatan akuntansi serta dilaporkan
dalam laporan keuangan periode yang bersangkutan.

2. Kelangsungan Usaha

Laporan keuangan disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha entitas yariah akan
melanjutkan usahanya di masa depan.

Pengakuan dan Pengukuran

Definisi

Pengakuan dalam Akuntansi didasarkan pada konsep pencatatan dalam Laporan


Keuangan. Konsep tersebut menjelaskan mengenai penentuan waktu pengakuan biaya
dan pendapatan, pengakuan rugi maupun laba dalam laporan keuangan. Pengakuan
Akuntansi dibagi pada atas dua basis yaitu berbasis Akrual dan Cash. Sementara
Pengukuran merupakan didasarkan pada konsep penentuan jumlah asset, liabilitas,
maupun ekuitas yang akan diakui dalam laporan posisis keuangan.Pada Akuntansi
Syariah pengakuan dan pengukuran dikelompokkan menjadi beberapa jenis, antara lain:
1. Akuntansi Murabahah (PSAK 102, 2009)

Merupakan Perjanjian atau Akad yang dilakukan antara pihak bank dan nasabahnya,
Yang mana pihak bank syariah membeli suatu barang yang dibutuhkan nasabah dan
menjualnya kepada nasabah tersebut sebesar haarga perolehan plus margin laba yang
telah disetujui.

Pengakuan

- Pengakuan Akuntansi pihak penjual :


a. Perolehan Asset Murabahah diakui sebesar Biaya perolehan
b. Pot.Harga Asset diakui sebagai pengurang atas Biaya perolehan dan tambahan
keuntungan Murabahah,
c. Pada saat terjadinya akad piutang Murabahah diakui sebesar biaya perolehan asset
ditambah keuntungan yang telah disepakati,
d. Pengakuan keuntungan diakui pada saat barang diserahkan ( Dengan jangka waktu
tidak lebih dari satu tahun, dan perlu memperhatikan risiko untuk merealisasi
keuntungan)
e. Penurunan pembayaran diakui sebagai beban, Potongan angsuran diberikan
kepada pembeli saat melakukan pembayaran tepat waktu
- Pengakuan Akuntansi Pihak Pembeli :
a. Pengakuan utang yang timbul karena transaksi Murabahah diakui sebagai utang
sebesar harga beli yang disetujui oleh kedua pihak
b. Pengakuan Asset yang diperoleh diakui sebesar biaya perolehan Murabahah tunai
c. Beban Murabahah tangguhan diakui saat terdapat selisih harga beli yang
disepakati dengan biaya perolehan tunai
d. Diskon pembelian yang diterima setelah akad potongan pelunasan dan potongan
utang murabahah diakui sebagi pengukuran beban murabahah tangguhhan.

Pengukuran

Pengukuran Asset Murabahah setelah diperoleh diakui saat:


a. Murabahah pesanan mengikat
b. Murabahah tanpa pesanan atau Murabahah pesanan tidak mengikat.

Akuntansi Salam (PSAK 103, 2009)

Salam merupakan akad jual beli muslam fiih (barang pesanan) dengan pengiriman
dikemudian hari oleh muslam illaihi (penjual) dengan pelunasannya dilakukan oleh
pembeli pada saat waktu akad disetujui kedua pihak sesuai dengan syarat tertentu.
Pengakuan

- Akuntansi Pihak Penjual


a. Kewajiban Salam diakui pada saat penjualan menerima modal sebesar modal
Salam yang diterima
b. Kewajiban Salam dihentikan pengakuannya pada saat penyerahan barang pada
pembelian.
c. (Akuntansi Pihak Pembelian)
d. Pengakuan Salam diakui pada saat modal usaha Salam dibayarkan/ dialihkan pada
penjual.
e. Barang pesanan diakui pada saat akad,
f. Dana yang diterima dikenai pembeli diakui sebagai dana kebajikan,
g. Barang persediaan yang telah diterima diakui sebagai persediaan.

Pengukuran

a. Modal usaha Salam dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan
b. Modal usaha Salam dalam bentuk asset nonkas diukur sebesar nilai wajar
(penjualan dan pembelian)
c. Barang pesanan diterima dan diukur sesuai akad yang disetujui, Apabila terdapat
selisih diakui sebagai kerugian
d. Saat pelaporan keuangan pada akhir periode persediaan yang diperoleh melalui
transaksi Salam diukur sebesar nilai terendah harga perolehan atau nilai bersih
yang dapat direalisasi.

Akuntansi Istishna’ (PSAK 104, 2009)

Istishna' merupakan perjanjian/ akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang
tertentu dengan kriteria dan persyaratan yang disepakati antara pemesan (mustashni') dan
penjual (shani').

Pengakuan

- Akuntansi Pihak Penjualan


a. Pendapatan istishna’ diakui dengan menggunakan metode prosentasi penyelesaian
atau metode akad selesai.
b. Pihak ketiga berdasarkan nilai bagi hasil dana syirkah temporer yang bagian
marjin keuntungan istishna’ diakui selama periode pelaporan di tambahkan pada
asset istishna’dalam penyelesaian.
c. Pada akhir periode harga pokok diakui sebesar biaya istishna’ pada periode
tersebut Pengukuran
d. Jika kedua metode digunakan dengan periode lebih dari satu tahun maka margin
keuntungan barang pembuat pesanan dilakukan secara tunai diakui sebesar
keuntungan tersebut.
e. Selisih antara akad dengan tunai diakui sesuai dengan pembayarannya
f. Tagihan setiap termin kepada pembeli diakui sebagai piutang istishna’ dan termin
istishna’ dipos lawannya.
g. Jika estimasi persentase tidak dapat ditentukan secara rasional maka digunakan
metode akad selesai dimana pendapatan, keuntungan, harga pokok diakui sampai
pekerjaan itu selesai
- Akuntansi Pihak Pembelian
a. Asset istishna’ yang diperoleh melalui transaksi istishna’ diakui sebesar biaya
perolehan tunai dan selisih akad istishna’ tangguh dengan biaya diakui sebagai
beban istishna’ tangguh.

Pengukuran

b. Jika pembelian menerima barang yang tidak sesuai dengan pesanan maka diukur
dengan nilai lebih rendah antara nilai wajar dan harga perolehan
c. Dalam istishna paralel, selisih nilai wajar dan harga pokok diukur dengan nilai
yang lebih rendah sebagai kerugian dalam periode berjalan.

Akuntansi Mudharabah (PSAK 105, 2009)

Mudharabah merupakan perjanjian untuk melakukan kerjasama usaha antara dua pihak
dimana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua
(pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di antara
mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh
pengelola dana.

Pengakuan

- Akuntansi Pihak Penjualan


a. Dana yang disalurkan oleh pemilik diakui sebagai investasi mudharabah.
b. Apabila nilai investasi turun sebelum usaha dimulai kerana ada barang yang rusak
bukan karena kesalahan penyandang atau karena faktor lain dana maka diakui
sebagai kerugian mengurangi saldo mudharabah.
c. Jika ada investasi yang berakhir sebelum atau saat jatuh tempo dan belum dibayar
oleh pengelola maka investasi tersebut diakui sebagai piutang
d. Jika investasinya melebihi satu periode berjalan, penghasilan diakui pada periode
terjadinya bagi hasil sesuai nisbah yang disepakati.
e. Kerugian yang dialami sebelum periode akad berakhir diakui sebagai kerugian
dan dibentuk sebagai penyisihan kerugian investasi pada saat akad berakhir.
- Akuntansi Pihak Pengelola
a. Dana yang diterima dari pemilik dana dalam akad mudharabah diakui ukuran
sebagai dana syirkah temporer, besarnya sejumlah kas atau nilai sudah
diperhitungkan namun belum dibagikan maka diakui sebagai kewajiban.
b. Kerugian yang dikelurkan karena kesalahan penyandang dana diakui sebagai
beban penyandang dana.
c. Jika penyandang dana, menyertakan dana musyarakah, mudharabah maka diakui
sebagai investasi mudharabah.
d. Jika terjadi kerugian maka kerugian dibagi sesuai porsi masing-masing

Pengukuran

a. Investasi dalam bentuk kas maka diukur sebasar sejumlah yang dibayarkan.
b. Investasi yang berwujud non kas akan diukur sebesar nilai wajar asset non kas
pada saat penyerahan.

Akuntansi Musyarakah (PSAK 106, 2009)

Musyarakah merupakan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu
usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan
ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan risiko
berdasarkan porsi kontribusi dana. Musyarakah permanen adalah musyarakah dengan
ketentuan bagian dana setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga
akhir masa akal. Untuk pertanggungjawaban pengelolaan usaha musyarakah harus
membuat catatan akuntansi yang terpisah untuk usaha musyarakah tersebut (Indrawan,
2010). Terdapat 2 pihak dalam musyarakah:

a. Mitra aktif adalah mitra yang mengelola usaha musyarakah, baik mengelola
sendiri atau menunjuk pihak lain atas nama mitra tersebut.
b. Mitra pasif adalah mitra yang tidak ikut mengelola usaha musyarakah.

Pengakuan

- Akuntansi pihak mitra aktif


a. Investasi musyarakah diakui sebagai atau asset non kas.
b. Jika asset wajar mengalami penurunan diakui sebagai kerugian.
c. Biaya akad dan biaya studi kelayakan tidak diakui sebagai investasi kecuali ada
kesepakatan musyarakah.
d. Perolehan dana dari investor pasif diakui sebagai investasi musyarakah dan diakui
sebagai dana syirkah temporer.
e. Selama periode akad berakhir investasi pasif yang belum dikembalikan.
f. Pendapatan musyarakah sebagai hal pemilik aktif diakui sebesar haknya.
g. Kerugian diakui sesuai porsi masing-masing sesuai akad musyarakah.
- Akuntansi pihak mitra pasif
a. Investasi musyarakah diakui saat membayar kepada mitra aktif sebesar kas aatau
non kas.
b. Biaya yang terjadi karena adanya akad musyarakah tidak dapat diakui sebagai
investasi kecuali ada persetujuan dari seluruh mitra.
c. Pada saat masa akad musyarakah sudah berakhir, Namun investasi belum
dikembalikan mitra aktif maka diakui sebagai piutang
d. Pendapatan investasi musyarakah diakui sesuai kesepakatan mitra pasif dan
kerugiannya diakui sebagai porsi dana.

Pengukuran

a. Kas dinilai sesuai dengan jumlah nilai pada saat diserahkan.


b. Untuk asset non kas dinilai sebesar nilai wajar dan jika terjadi selisih maka diakui
sebagai selisih penilaian asset musyarkah dalam ekuitas.
c. Pada saad akad apabila terdapat selisih antara nilai wajar dengan nilai tercatat non
kas maka diakui sebagai keuntungan tangguhan dan diamortisasi kedalam akad,
juga diakui sebagi kerugian pada saat terjadinya.

Akuntansi Ijarah

Akad ijarah merupakan perjanjian sewa menyewa suatu barang yang diakhiri dengan
perpindahan kepemilikan barang dari pihak yang memberikan sewa kepada pihak
penyewa (Zaki, 2008).

Pengakuan

- Akuntansi pihak pemilik (Mu’jir)


a. Objek ijarah diakui sebesar Harga Perolehan.
b. Pendapatan sewa selama masa akad diakui pada saat asset di serahkan kepada
penyewa.
c. Pengakuan perbaikan objek ijarah, pada saat biaya perbaikan tidak rutin diakui
pada saat terjadinya objek ijarah dan pada biaya rutin diakui sebagai beban pada
saat terjadinya.
- Akuntansi pihak penyewa (Musta’jir)
a. Beban sewa diakui selama masa akad pada saat manfaat atas asset yang diterima.
b. Biaya pemeliharaan ditanggung penyewa dan diakui sebagai beban pada saat
terjadinya.
c. Keuntungan maupun kerugian penjualan tidak dapat diakui sebagai pengurang
atau penambah beban ijarah.

Pengukuran

a. Piutang pendapatan sewa diukur sebesar nilai yang dapat direalisasi pada periode
akhir pelaporan.
b. Utang diakui sejumlah yang harus dibayar atas kegunaan yang telah diterima.
Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah (PSAK 108, 2009)

Pada umumnya akad yang digunakan asuransi konvesional adalah akad jual beli
sedangkan akad asuransi syariah merupakan akad tabbaru’ dan ijarah yang tujuannya
komersial (Medawati,2010: 1)

Pengakuan

a. Kontribusi peserta diakui sebagai dan tabarru’ dalam dana peserta.


b. Bagian pembayaran peserta untuk investasi diakui sebagai dana temporer dan
kewajiban.
c. Untuk fee atau ujrah diakui sebagai pendapatan dalam laporan L/R dan sebagai
beban dalam laporan surplus dan defisit underwriting dana tabarru’.
d. Bagian surplus underwriting kepada peserata diakui sebagai pengurang surplus
dalam laporan perubahan dan tabarru’.
e. Bagian surplus dana underwiriting yang diterima entitas pengelola diakui sebagai
pendapatan dan yang dibagikan kepada peserta diakui sebagai kewajiban.
f. Pinjaman qardh dalam neraca dan pendapatan dalam laporan surplus deficit
underwiriting dana taharru’ diakui pada saat entitas menyalurkan dana sebesar
nilai yang tercantum tersebut.
g. Cadangan dana taharru’ diakui jumlah yang dianggap mencerminkan kehati-
hatian.

Pengukuran

a. Penyisihan kontribusi yang belum diperhitungkan dan belum menjadi hak diukur
menggunakan metode yang berlaku di industri asuransi.
b. Klaim masih dalam proses diukur dalam jumlah sesuai dalam proses pengelola.
c. Klaim yang terjadi belum dilaporkan diukur sejumlah klaim yang di
ekspektasikan.

KDPPLKS (Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan


Syariah)

1. Pengertian

KDDPLKS (Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah


merupakan seperangkat peraturan yang menjadi dasar atas penyusunan dan penyajian
laporan keuangan entitas syariah. Kerangka konseptual KDPPLKS berbeda dengan SAK
umum yang mengatur etintas konvesiona, di dalam KDPPLKS memberikan konsep dasar
paradigm, asas transaksi syariah, dan karakteristik transaksi syariah.
2. Sejarah KDPPLKS
Pada tahun 2007, IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) mengesahkan KDPPLKS dan masih
berlaku hingga saat ini. Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No.
08230-B/DPN/IAI/XI/2013 maka seluruh produk akuntansi syariah yang dikeluarkan
DSAK sebelumnya dialihkan kewenangannya kepada Dewan Standar Akuntansi Syariah
(DSAS) IAI.

3. Tujuan dan Peranan KDPPLKS


Kerangka KDPPLKS disajikan bagi penggunanya dengan tujuan untuk digunakan sebagai
acuan bagi :

a. Penyusunan standar akuntansi keuangan syariah : dalam pelaksanaan tugasnya


b. Penyusunan laporan kuangan : menanggulangi masalah akuntansi syariah yang belum
diatur dalam standar akuntansi keuangan syariah
c. Auditor, yaitu dalam memberikan pendapat apakah laporan keuangan telah disusun
sesuai dengan prinsip akuntansi syariah yang berlaku umum
d. Para pengguna laporan keuangan, yaitu membantu untuk menafsirkan informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan . Para pengguna laporan keuangan meliputi investr,
pemilik dana qardh, pemilik dana syirkah temporer, pemilik dana titipan, pembayar
dan penerima wakaf, pengawas syariah, karyawan, pemasok, pelanggan, pemerintah,
dan masyarakat.
4. Bentuk Laporan Keuangan
Bentuk laporan keuangan yang harus disajikan berdasarkan KDPPLKS adalah sebagai
berikut :

1. Posisi keuangan entitas syariah


2. Informasi kinerja entitas syariah (dalam laporan laba rugi)
3. Informasi perubahan posisi keuangan entitas syariah
4. Informasi lain
5. Catatan dan skedul tambahan

Unsur-unsur Laporan Keuangan


Laporan keuangan entitas yariah memiliki karakteristik-karakteristik berikut :

1. Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial, yaitu :


a. Laporan posisi keuangan
b. Laporan laba rugi
c. Laporan arus kas
d. Laporan perubahan ekuitas
2. Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan sosial, yaitu :
a. Laporan sumber dan penggunaan dana zakat
b. Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan
3. Komponen laporan keuangan lainnya yang mencerminkan kegiatan dan tanggung
jawab khusus entitas syariah tersebut.