Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PENGGANTI ULANGAN HARIAN KEMUHAMMADIYAHAN

Disusun Oleh :
NIBRAS SYARIF
21 / XI KIMIA INDUSTRI

SMK MUHAMMADIYAH 4 SURAKARTA


TAHUN PELAJARAN 2018/ 2019
A. Periode Awal

KH Ahmad Dahlan sebelumnya bernama Muhammad Darwisy.


Beliau adalah putra dari KH Abu bakar (Imam Masjid Besar
Kesultanan Yogyakarta dan Nyai Abu Bakar ( Puteri H. Ibrahim ).
Beliau dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil, dan sekaligus
menjadi tempatnya menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia
menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1838), lalu
dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun.
Pada usia 20 tahun (1888 M), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Haji Ahmad
Dahlan (suatu kebiasaan dari orang-orang Indonesia yang pulang haji, selalu mendapat
nama baru sebagai pengganti nama kecilnya). Setelah itu, beliau menikah dengan Siti
Walidah, Saudara sepupunya sendiri, anak Kiai penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal
dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Pada
tahun 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan
cita-cita pembaharuan Islam Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu
pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin
mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan
Al-Hadis. Perkumpulan ini berdiri pada tanggal 18 Nopember 1912. Sejak awal Dahlan
telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial
dan bergerak di bidang pendidikan.Gagasan pendiri Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan
ini juga mendapatkan tantangan dan perlawanan baik dari keluarga maupun dari
masyarakat sekitarnya, bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun
rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk
melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bias mengatasi
semua rintangan tersebut.Pada usia 66 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, KH.
Ahmad Dahlan wafat di Karang Kuncwn, Yogyakarta

Sumber : Ihsan, Kumpulan Biografi KH Ahmad Dahlan, dikutip dari


http://simpulanilmu.blogspot.com/2017/11/biografi-singkat-kh-ahmad-dahlan.html,
accesed 30 November 2017.
B. Periode Sebelum Kemerdekaan dan Setelah Kemerdekaan
a. Periode Sebelum Kemerdekaan
K.H. Hisyam lahir di Kauman Yogyakarta, tanggal
10 November 1883 dan wafat 20 Mei 1945.
Ia memimpin Muhamadiyah hanya selama tiga tahun.
Pertama kali ia dipilih dalam Kongres Muhammadiyah
ke-23 di Yogyakarta tahun 1934, kemudian dipilih lagi
dalam Kongres Muhammadiyah ke-24 di Banjarmasin
pada tahun 1935, dan berikutnya dipilih kembali dalam
Kongres Muhammadiyah ke-25 di Batavia (Jakarta) pada
tahun 1936.
Yang paling menonjol pada diri Hisyam adalah ketertiban administrasi dan
manajemen organisasi pada zamannya. Pada periode kepemimpinannya, titik perhatian
Muhammadiyah lebih banyak diarahkan pada masalah pendidikan dan pengajaran, baik
pendidikan agama maupun pendidikan umum. Hal ini tercermin dari pendidikan putra-
putrinya yang disekolahkan di beberapa perguruan yang didirikan pemerintah. Dua
orang putranya disekolahkan menjadi guru, yang saat itu disebut, sebagai bevoegd yang
akhirnya menjadi guru di HIS Met de Qur’an Muhammadiyah di Kudus dan
Yogyakarta. Satu orang putranya menamatkan studi di Hogere Kweekschool di
Purworejo, dan seorang lagi menamatkan studi di Europese Kweekschool Surabaya.
Kedua sekolah tersebut merupakan sekolah yang didirikan Pemerintah Kolonial
Belanda untuk mendidik calon guru yang berwenang untuk mengajar HIS Gubernemen.
Pada periode kepemimpinan Hisyam ini, Muhammadiyah telah membuka sekolah
dasar tiga tahun (volkschool atau sekolah desa) dengan menyamai persyaratan dan
kurikulum sebagaimana volkschool gubernemen. Setelah itu, dibuka pula vervolgschool
Muhammadiyah sebagai lanjutannya. Dengan demikian, maka bermunculan volkschool
dan vervolgschool Muhammadiyah di Indonesia, terutama di Jawa. Ketika pemerintah
kolonial Belanda membuka standaardschool, yaitu sekolah dasar enam tahun,
Muhammadiyah pun mendirikan sekolah yang semacam dengan itu. Bahkan,
Muhammadiyah juga mendirikan Hollands Inlandsche School Met de Qur’an
Muhammadiyah untuk menyamai usaha masyarakat Katolik yang telah mendirikan
Hollands Inlandsche School Met de Bijbel.
Kebijakan K.H. Hisyam dalam memimpin Muhammadiyah saat itu diarahkan pada
modernisasi sekolah-sekolah Muhammadiyah, sehingga selaras dengan kemajuan
pendidikan yang dicapai oleh sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah kolonial. Ia
berpikir bahwa masyarakat yang ingin putra-putrinya mendapatkan pendidikan umum
tidak perlu harus memasukkannya ke sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah
kolonial, karena Muhammadiyah sendiri telah mendirikan sekolah-sekolah umum yang
mempunyai mutu yang sama dengan sekolah-sekolah pemerintah, bahkan masih dapat
pula dipelihara pendidikan agama bagi putra-putri mereka. Walaupun harus memenuhi
persyaratan-persyaratan yang berat, sekolah-sekolah yang didirikan Muhammadiyah
akhirnya banyak yang mendapatkan pengakuan dan persamaan dari pemerintah
kolonial saat itu.

Sumber : Sukoco, KH Hisyam, dikutip dari


http://hwsmpmuhpundong.blogspot.com/2012/01/kh-hisyam.html, accesed tanggal 03
Januari 2012.
b. Periode Setelah Kemerdekaan
Ki Bagoes Hadikoesoemo atau Ki Bagus Hadikusumo
(lahir di Yogyakarta, 24 November 1890 – meninggal di
Jakarta, 4 November 1954 pada umur 63 tahun) adalah
seorang tokoh BPUPKI. Ia dilahirkan di kampung
Kauman dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi'ul Akhir
1308 H (24 November 1890). Ki Bagus adalah putra
ketiga dari lima bersaudara Raden Kaji Lurah Hasyim,
seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di
Kraton Yogyakarta.
Ia mendapat pendidikan sekolah rakyat (kini SD) dan pendidikan agama di
pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta. Kemahirannya dalam sastra
Jawa, Melayu, dan Belanda didapat dari seorang yang bernama Ngabehi
Sasrasoeganda, dan Ki Bagus juga belajar bahasa Inggris dari seorang tokoh
Ahmadiyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.
Selanjutnya Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua
Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua
PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan
sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan
klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama
Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW). Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh
Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika
KH Mas Mansur dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Ki
Bagus menggantikan posisi ketua umum yang ditinggalkannya. Posisi ini dijabat hingga
tahun 1953. Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota
BPUPKI dan PPKI.
Ki Bagus aktif membuat karya tulis, antara lain Islam Sebagai Dasar Negara dan
Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935),
Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka
Iman (1954). Setelah meninggal, Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya
sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia.

Sumber : Wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedia bebas, Ki Bagoes Hadikoesoemo,


dikutp dari https://id.wikipedia.org/wiki/Bagoes_Hadikoesoemo, accesed tanggal 30
April 2012.
C. Periode Orde Lama
Ahmad Rasyid Sutan Mansur merupakan tokoh pemberani yang
mempunyai pedoman antipenjajah. Bahkan ia pernah menentang Jepang
yang mencoba menghalangi pelaksanaan salat karena ingin mengadakan
pertemuan jelang maghrib.
Ahmad Rasyid yang pernah menjabat sebagai ketum PP
Muhammadiyah ini lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat pada 15 Desember 1895.
Ayah Ahmad Rasyid, Abdul Somad al-Kusaij merupakan seorang ulama terkenal di
daerah Maninjau. Abdul Somad beristrikan Siti Abbasiyah atau yang juga dikenal dengan
sebutan Uncu Lampur.
Dari kedua orang tuanya itulah, Ahmad Rasyid memperoleh pengajaran tentang nilai-
nilai agama. Ahmad Rasyid juga menempuh pendidikan umum dengan bersekolah di
Inlandshe School (IS). Selepas di IS, Ahmad Rasyid mendapat tawaran beasiswa untuk
melanjutkan pendidikannya di Kweekschool. Karena ketertarikan pada dunia agama,
tawaran tersebut ditolaknya. Ia pun lebih memilih untuk mendalami ilmu agama.
Ahmad Rasyid lalu berguru kepada Tuan Ismail (Dr. Abu Hanifah). Selanjutnya atas
saran gurunya ini, ia lalu berguru kepada ayahnya Buya Hamka, Dr. Abdul Karim
Amrullah (Haji Rasul). Di bawah bimbingan Dr. Abdul Karim Amrullah, Ahmad Rasyid
mulai mempelajari Islam secara dalam. Ia diajarkan ilmu tentang ketauhidan, Bahasa
Arab, Ilmu kalam, mantiq, tarikh, dan ilmu-ilmu Islam yang lain seperti, tasawuf, Al
Qur’an, tafsir, dan hadits. Pada tahun 1917, Ahmad Rasyid kawin dengan Fatimah yang
merupakan kakak dari Buya Hamka. Ia dikawinkan oleh Dr. Abdul Karim Amrullah yang
mengambilnya sebagai menantunya.
Setahun kemudian, Ahmad Rasyid mulai mengajar di Kuala Simpang, Aceh, atas
tugas gurunya. Keinginan Ahmad Rasyid ke mesir pun harus terhambat karena adanya
bentrokan. Karena hal tersebutlah Ahmad Rasyid pun memutuskan untuk pegi ke
Pekalongan untuk berdagang dan menjadi guru agama bagi para perantau Sumatera dan
kaum Muslim lainnya. Kedatangannya di Pekalongan menuai hikmah ketika KH. Ahmad
Dahlan berkunjung ke Pekalongan untuk mengadakan tabligh Muhammadiyah. Ketika
beliau melihat aksi KH. Ahmad Dahlan tersebut, Ahmad Rasyid begitu terkesan dengan
sumbangsih pemikiran pendiri Muhammadiyah ini. Akhirnya, belaiu pun ikut bergabung.
Ahmad Rasyid Sutan Mansur dikenal warga Muhammadiyah sebagai pendobrak,
sekaligus penyebar pengaruh organisasi Muhammadiyah di tanah air. Ia juga dikenal
sebagai sosok yang antipenjajah. Karena menurutnya, penjajahan berlawanan dengan
fitrah sebagai manusia. Sosok teladan bagi warga Muhammadiyah ini menghembuskan
nafas terakhirnya pada usia 90 tahun. Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur ini meninggal
pada hari Senin, 25 Maret 1985 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Sumber : Wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedia bebas, Bayu A.R Sutan Mansyur,
dikutp dari https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Rasyid_Sutan_Mansur, accesed tanggal
31 Agustus 2018.
D. Periode Orde Baru
K. H. Abdul Rozak Fachruddin (lahir di Pakualaman, Yogyakarta, 14
Februari 1915 – meninggal di Solo, Jawa Tengah, 17 Maret 1995 pada
umur 80 tahun) adalah Ketua Umum Muhammadiyah yang menjabat
dari 1968 sampai tahun1990.
Fachruddin lahir di Pakualaman, Yogyakarta pada tanggal 14
Februari 1916. Ayahnya adalah K.H. Fachruddin adalah seorang lurah naib atau penghulu
di Puro Pakualaman yang diangkat oleh kakek Sri Paduka Paku Alam VIII, berasal dari
Kulonprogo. Sementara ibunya adalah Maimunah binti K.H. Idris, Pakualaman. Ia belajar
di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Pada tahun 1923, untuk pertama kalinya A.R.
Fachruddin bersekolah formal di Standaard School Muhammadiyah Bausasran. Setelah
ayahnya tidak lagi menjadi penghulu dan usaha dagang batiknya juga jatuh, maka ia
pulang ke Bleberan. Pada tahun 1925, ia pindah ke Sekolah Dasar Muhammadiyah
Kotagede dan setamat dari sana tahun 1928, ia masuk ke Madrasah Muallimin
Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah belajar di Muallimin, dia pulang untuk belajar
kepada beberapa kiai seperti K.H. Fachruddin, ayahnya sendiri. Beliau menjadi pimpinan
muhammadiyah dengan periode jabatan ketua hingga 19 tahun. Fakhruddin, atau sangat
terkenal dengan nama 'Pak AR' dikalangan Muhammaadiyah, adalah salah satu ketua yang
paling menentukan arah pergerakan Muhammadiyah di abad ke-21.
Terutama karena Fakhruddin harus memimpin Muhammadiyah di bawah kontrol
ketat pemerintahan Orde Baru. Dalam upaya menyeragamkan ideologi dan memberantas
kelompok garis keras, rezim Suharto meminta seluruh organisasi sosial politik mengadopsi
Pancasila sebagai asas tunggal tahun 1984. Sejumlah kalangan Islam menolak tetapi
Muhammadiyah, juga NU, memilih menerima. Menurut Fakhruddin menerima Pancasila
seperti "naik motor di jalur wajib helm", dengan helm diibaratkan sebagai Pancasila dan
Muhammadiyah sebagai pengendaranya. Menurut tafsir Fakhruddin, meski memakai
'helm', pengendara tetap punya kepalanya sendiri tidak berarti berganti kepala.

Sumber : ID Pena Prajurit, Perjalanan AR Sutan Mansur hingga Menuju Muhammadiyah,


dikutip dari http://idprajuritpena.blogspot.com/2017/01/perjalanan-ar-sutan-mansur-
hingga.html, accesed tanggal 06 januari 2017.
E. Periode Reformasi
PROF DR. H.M. AMIEN RAIS, M.A.dilahirkan di Surakarta, 26
April 1944. Setelah pendidikan SD Muhammadiyah 1 Surakarta,
SMP dan SMA. Pendidikan tingkat sarjana diselesaikan oleh
Amien Rais di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL
Universitas Gadjah Mada pada tahun 1968, sementara ia juga
menerima gelar Sarjana Muda dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta pada tahun 1969. Pada saat Mahasiswa inilah
ia banyak terlibat aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, seperti Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah (IMM) ( Ketua III Dewan Pimpinan Pusat IMM) dan Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) (Ketua Lembaga Da’wah Mahasiswa Islam HMI Yogyakarta).
Studinya dilanjutkan pada tingkat Master dibidang Ilmu Politik di University of Notre
Dame, Amerika Serikat dan selesai pada tahun 1974. Dari Uninersitas yang sama ia juga
memperolah Certifikate on East European Studies. Sementara itu, gelar doktoralnya
diperoleh dari Universitas Chicago, Amerika Serikat pada tahun 1981 dengan disertasinya
yang cukup terkenal, yaitu Gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Ia juga pernah
mengikuti Post Doctoral Program di George Washington Uniersity pada tahun 1986 dan di
UCLA pada tahun 1988.
Tugas-tugas intelektualisme pun ia lakukan, baik transformasi keilmuan (mengajar di
berbagai universitas) dan juga melakukan kritik atas fenomena sosial yang sedang
berlangsung. Kritiknya yang sangat vokal sangat mewarnai opini publik di Indonesia.
Sepulangnya dari pendidikan di Amerika, ia terkenal sebagai pakar politik Timur Tengah
dan melontarkan Isu Suksesi Keprisidenan, sebuah isu yang janggal pada saat itu karena
kepemimpinan orde baru yang sangat kuat. Bahkan Amien Rais yang menggulirkan
gagasan tentang Reformasi Politik yang selanjutnya sejarah mencatat bahwa Amien Rais
adalah orang terdepan dalam meruntuhkan kebobrokan politik Orde Baru. Setelah
tumbangnya Rezim Orde Baru Amien Rais meletakkan jabatan Ketua PP. Muhammadiyah
dan mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) yang pada pemilu 1999 menduduki
peringkat ke 5 dalam perolehan suara yang dapat menghantarkannya menjadi ketua MPR.
Lagi-lagi Amien Rais menggulirkan gagasan Poros Tengah yang mencoba
membangun jalan tengah dari dua titik ekstrim dalam kubu politik di Indonesia pasca
Pemilu 1999 yang ternyata cukup efektif dalam upaya merajut kembali hubungan
Muhammadiyah-NU dengan mencalonkan KH Abdurrohman Wahid sebagai Presiden RI
ke 4 dan ternyata berhasil. Hanya saja sayang KH. Abdurrohman Wahid tidak sampai satu
periode telah dilengserkan oleh MPR, dimana Amien Rais sebagai ketua MPR nya.

Sumber : Yusuf_Sdamada, Tokoh – Tokoh Muhammadiyah, dikutip dari


http://yusufsdamada.blogspot.com/2009/05/tokoh-tokoh-muhammadiyah.html, accesed
tanggal 03 Mei 2009.
F. Periode Abad Kedua
Ahmad Syafi’i Ma’arif dilahirkan di Sumpurkudus Sumatera Barat, 31
Mei 1935. Pendidkan formalnya SR Ibtidaiyah tahun 1947, Madrasah
Muallimin Lintau Sumatera Barat dan dilanjutkan ke Madrasah
Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta tamat tahun 1956. Satu tahun di
Fakultas Hukum berhenti karena tidak ada biaya. Ia melanjutkan kuliah
setelah ia mendapat pekerjaan. Gelar Sarjana Muda Jurusan Sejarah diperolehnya di
Universitas Cokroaminoto tahun 1964 dan gelar sarjananya di perolehnya di IKIP
Yogyakarta tahun 1968.
Gelar Master diperoleh dari Departemen Sejarah Ohio State University, Amerika
Serikat dan tahun 1993 gelar Doktor diperoleh dari Universitas Chicago AS. Disamping
kesibukannya sebagai anggota DPA dan staf pengajar di IKIP Yogyakarta, keterlibatannya
sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah merupakan sebuah keharusan sejarah.
Ketika reformasi di Indonesia sedang bergulir, Amien Rais yang saat itu menjabat sebagai
ketua PP Muhammadiyah harus banyak melibatkan diri dalam aktivitas politik di negeri
ini untuk menjadi salah satu lokomotif pergerakan dalam menarik gerbong reformasi di
Indonesia. Muhammadiyah harus diselamatkan agar tidak terbawa oleh kepentingan-
kepentingan jangka pendek. Pada saat itulah ketika Muhammadiyah harus merelakan
Amien Rais untuk menjadi pemimpin bangsa, maka Syafi’i Ma’arif menggantikannya
sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, setelah ia terpilih dan dikukuhkan sebagai
Ketua PP Muhammadiyah melalui sidang Pleno diperluas Muhammadiyah. Ia harus
melanjutkan tongkat kepemimpinan Muhammadiyah sampai Muktamar Muhammadiyah
ke 44 tahun 2000 di Jakarta.
Dan kita ketahui bersama Muktamar ke 44 tersebut telah memilih kembali Syafi’i
Ma’arif sebagai Ketua PP Muhammadiyah hingga kini. Prof. DR. KHA. Syafi’i Ma’arif
adalah figur ilmuwan dan agamawan yang rendah hati, sebagaimana kalimat yang
disampaikan dalam Pidato Pengukuhan Guru Besarnya di IKIP Yogyakarta.
Sudah 25 tahun terakhir, perhatian terhadap sejarah, filsafat dan agama melebihi perhatian
saya terhadap cabang ilmu yang lain. Namun saya sadar sepenuhnya bahwa semakin saya
memasuki ketiga wilayah itu semakin tidak ada tepinya. Tidak jarang saya merasa sebagai
orang asing di kawasan itu, kawasan yang seakan-akan tanpa batas. Terasalah kekecilan
diri ini berhadapan dengan luas dan dalamnya lautan jelajah yang hendak dilayari.

Sumber : Yusuf_Sdamada, Tokoh – Tokoh Muhammadiyah, dikutip dari


http://yusufsdamada.blogspot.com/2009/05/tokoh-tokoh-muhammadiyah.html, accesed
tanggal 03 Mei 2009.