Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Vertebrata adalah subfilum dari Chordata, mencakup semua hewan yang memiliki
tulang belakang. Tulang-tulang yang menyusun tulang belakang disebut vertebra.
Vertebrata adalah subfilum terbesar dari Chordata. Ke dalam vertebrata dapat
dimasukkan semua jenis ikan (kecuali remang, belut jeung, “lintah laut”, atau
hagfish), katak, reptil, burung, serta hewan menyusui. Kecuali jenis-jenis ikan,
vertebrata diketahui memiliki dua pasang tungkai (Djuhanda, 1974).
Jumlah spesies/jenis ikan adalah yang terbanyak jika dibandingkan dengan
jumlah spesies hewan vertebrata lainnya. jumlah spesies ikan lebih dari 27,000 di
seluruh dunia yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo. Jumlah spesies ikan yang
telah diberi nama diperkirakan sekitar 15 000 –17 000 jenis, dari sekitar 40 000 jenis
ikan yang ada. Persentase spesies hewan menurut Lagler et al. (1977) dari lima kelas
vertebrata pisces terdiri atas 20 000 spesies (48,1%), Aves 8600 spesies (20,7%),
Reptilia 6000 spesies (14,4%), Mammalia 4500 spesies (10,8%), dan Amphibia 2500
spesies (6,0%) (Alamsjah, 1974).
Ikan dapat ditemukan di hampir semua perairan baik air tawar, air payau
maupun air asin dan juga pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan air
hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan air. Namun, danau yang terlalu asin
seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan. Ada beberapa spesies ikan
dibudidayakan dan dipelihara untuk hiasan dalam akuarium, yang dikenal sebagai
ikan hias (Affandi,1992)
Jenis-jenis ikan ini sebagian besar tersebar di perairan laut yaitu sekitar 58%
(13,630 jenis) dan 42% (9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan. Jumlah jenis ikan
yang lebih besar di perairan laut, dapat dimengerti karena hampir 70% permukaan
bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan perairan tawar
(Affandi,1992)
Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan air lain,
seperti moluska dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika digunakan
sebagai sumber makanan. Menangkap ikan untuk keperluan makan dalam jumlah
kecil atau olah raga pancing sering disebut sebagai memancing. Hasil penangkapan
ikan seluruh dunia setiap tahunnya berjumlah sekitar 100 juta ton pertahun
(Affandi,1992)
Sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin dan
mineral yang sangat baik dan prospektif. Keunggulan utama protein ikan
dibandingkan dengan hewan lainnya adalah kelengkapan komposisi asam amino dan
kemudahannya untuk dicerna. Karena besarnya peranan gizi bagi kesehatan, ikan
merupakan pilihan tepat untuk diet di masa yang akan datang. Selain itu ikan juga

1
baik dikonsumsi oleh anak-anak yang berfungsi dalam perkembangan otaknya. Hal
ini disebabkan karena beberapa jenis ikan mengandung sumber DHA yang tinggi
misalnya ikan tongkol dan ikan kod (Retno,2014)
Selain digunakan sebagai bahan makanan ikan juga digunakan sebagi bahan
obat-obatan. Salah satu contohnya yaitu ikan gabus. Ikan gabus merupakan ikan ikan
air tawar. Ikan gabus sangat kaya albumin, jenis protein yang mempercepat
penyembuhan pascaoperasi dan melahirkan. Zat ini juga membantu pertumbuhan
anak dan menambah berat badan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Keunggulan
ikan gabus adalah kandungan proteinnya yang cukup tinggi. Kadar protein per 100
gram ikan gabus setara ikan bandeng, tetapi lebih tinggi bila dibandingkan dengan
ikan lele maupun ikan mas yang sering kita konsumsi(Retno,2014)
Untuk mendukung pengetahuan tentang klasifikasi dan taksonomi diperlukan
adanya identifikasi dari berbagai parameter morfologi dari bentuk tubuh ikan.
Dengan melihat morfologi ikan kita dapat mengelompokkan ikan/hewan air. Sistem
atau cara pengelompokan ini dikenal dengan istilah sistematika atau taksonomi.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui struktur morfologi dari kelas Actinopterigii
2. Mengetahui karakter dan sifat-sifat untuk pengidentifikasian dan pengklasifikasian
kelas Actinopterigii
3. Untuk mengetahui jenis-jenis dari kelas Actinopterigii

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

Pisces disebut hewan poikiloterm karena suhu tubuh tidak tetap (berdarah dingin),
yaitu terpengaruh suhu disekelilingnya. Ikan bernafas dengan insang (operculum)
dan dibantu oleh kulit, tubuh ditutupi oleh sisik dan memiliki gurat sisi untuk
menentukan arah dan posisi berenang. Pada ikan jantung terdiri atas satu serambi dan
satu bilik, dan tubuh terdiri atas kepala dan badan. Ikan berenang dengan bantuan
sirip. Jumlah sirip pada berbagi jenis ikan berbeda-beda.(Campbell, 2004)
Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan
kekerabatannya masih diperdebatkan. Berdasarkan tulang penyusunnya, kelas pisces
dibedakan atas Agnatha, Chonrichtyes, dan Osteichtyes. Ciri- ciri kelas Agnatha
adalah mulut tanpa rahang ( bentuk bulat ) ,tubuh gilig/ silindris tubuh halus tanpa
sisik, rangka tubuh dari tulang rawan, tidak memiliki sirip berpasangan, cekung
hidung hanya satu, terdapat pada bagian medial, dan insang terletak dalam kantong
insang dengan celah insang di sisi lateral tubuh (Brotowidjoyo,1995).
Kelas Chondrichthyes (Ikan bertulang rawan) kerangkanya terdiri atas tulang
rawan dan bukan tulang keras. Ciri-cirinya memiliki endoskeleton yang relative
lentur yang terbuat dari tulang rawan, memiliki rahang dan sirip berpasangan yang
berkembang dengan baik, respirsi melalui insang,pembuahan internal, bisa bertelur
atau melahirkan anak, memiliki indera yang tajam, termasuk system gurat sisi, suatu
barisan organ mikroskopis yang sensitive terhadap perubahan tekanan air di
sekitarnya.
Ikan bertulang rawan sebagian besar hidup di laut. Hewan yang bertulang
rawan di antaranya termasuk hiu, ikan pari, dan chimaera. Hiu bertubuh langsing.
Bagian atas sirip ekornya lebih panjang daripada bagian bawah. Hiu tidak memiliki
kantung udara. Ikan pari berbadan pipih atas bawah.Tubuh pipihnya berperan untuk
menyembunyikan diri di dasar perairan dan untuk menggali pasir guna mencari
makanan berupa hewan lunak dan udang-udangan. Beberapa jenis ikan pari memiliki
duri pada ekornya yang seperti pecut dan berfungsi untuk melindungi dari serangan
musuh.Jenis lainnya juga ada yang memiliki sengatan listrik (Yasin, 1984).
Rahang dan sirip berpasangan berkembang dengan baik pada ikan bertulang
rawan. Subkelas yang paling besar dan paling beraneka ragam terdiri dari hiu dan
ikan pari. Subkelas kedua terdiri atas beberapa lusin spesies ikan tidak umum yang
disebut chimaera atau ratfish. Chondrichthyes memiliki kerangka bertulang rawan
dan kerangka bertulang rawan yang merupakan karakteristik kelas itu berkembang
setelahnya (Campbell, 2004).
Ikan bertulang rawan pada umumnya, tidak ditemukan struktur yang mirip
paru-paru. Sistem ekskresi ikan seperti juga vertebrata lain yang mempunyai banyak
fungsi antara lain untuk regulasi kadar air tubuh, menjaga keseimbangan garam dan
mengeliminasi sisa nitrogen hasil dari metabolism protein. Untuk itu berkembang

3
tiga tipe ginjal yaitu pronefros, mesonefros dan metanefros. Pada ikan hiu fungsi
duktus gonad dan ginjal telah berkembang dilengkapi dengan duktus urinaria. Ginjal
ikan harus berperan besar untuk menjaga keseimbangan garam tubuh (Rudiyanto,
2011).
Beberapa ikan hiu, spina dorsal berhubungan dengan kelenjar bisa yang sangat
beracun. Sebahagian besar racun itu sendiri adalah toksin berasaskan protein yang
menyebabkan kesakitan pada mamalia dan biasa juga mengubah kadar degupan
jantung dan pernafasan. Ada beberapa ikan hiu yang mempunyai organ luminesen.
Bioluminesen adalah pancaran sinar oleh organisme, sebagai hasil oksidasi dari
berbagai substrat dalam memproduksi enzim. Susunan substratnya disebut lusiferin
dan enzim yang sangat sensitive sebagai katalisator oksidasi disebut lusiferase.
Organ luminesen (organ yang mampu menghasilkan sinar) ditemukan pada beberapa
ikan hiu, ikan pari berlistrik (Benthobatis moresbyi) dan beberapa ikan tulang keras
khususnya yang tinggal di laut dalam
Osteichthyes atau ikan bertulang sejati, terdiri atas kurang lebih 25000 spesies
baik dalam hal jumlah individu maupun dalam jumlah spesies. Tubuh berukuran
antara 1 cm dan lebih dari 6m, ikan bertulang keras sangat melimpah di laut dan
hampir setiap habitat air tawar dan merupakan vertebrata yang paling sukses, dan
yang berkembang menjadi vertebrata darat atau tetrapoda(Kottelat, 1993)
Ciri-ciri Kelas Osteichthyes (Ikan Bertulang Sejati) yaitu kulit ditutupi dengan
sisik dermal yang pipih atau plat tulang, tapi kadang-kadang tidak bersisik. Rahang
merupakan struktur yang kompleks dibangun oleh sejumlah tulang sejati terutama
tulang dermal (unsur tulang rawan yang direduksi). Pada umumnya rangka terdiri
atas tulang sejati, tapi tulang rawan terdapat pada beberapa golongan
(Coelacanthiformes dan Acipenseridae). Ruang insang ditutupi dengan tiga tulang
dermal yang besar disebut operculum. Tiap lengkung insang berfilamen (septum
direduksi dan tidak melebihi panjang filamen). Paru-paru atau gelembung renang
berkembang sebagai penonjolan keluar dari saluran pencernaan makanan
(Alamsjah,1974)
Ikan bertulang sejati berbeda dengan ikan bertulang rawan dalam berbagai hal.
Salah satu perbedaannya ialah pada perkembangan paru-paru dan gelembung renang
sebagai suatu divertikulum dari usus bagian depan. Gelembung renang merupakan
alat hidrostatik, sedangkan paru-paru merupakan ciri khas dari tiga subclass ikan
bertulang sejati yaitu Crossoptreygii dan Brachyopterygii. Crossoptreygii di
dalamnya termasuk Rhipidistia yang sekarang telah musnah yang diduga merupakan
leluhur dari tetrapoda, dan ikan paru-paru sekarang. Pada subkelas ketiga yaitu
Actinopterygii divertikulum dari usus depan berkembang menjadi gelembung renang
yang mempunyai fungsi sebagai alat hidrostatik (Kimball, 1983).
Hampir semua ikan bertulang sejati memiliki endoskeleton dengan matriks
kalsium fosfat yang keras. Kulitnya seringkali tertutupi dengan sisik pipih bertulang
yang berbeda strukturnya dari sisik berbebtuk gigi pada hiu. Kelenjar pada kulit ikan

4
bertulang keras, menekresikan mukus yang memberikn hewan itu kulit licin yang
khas, suatu adaptasi yang mengurangi gesekan selama berenang sama dengan hiu,
ikan bertulang memiliki sistem gurat sisi yang tampak jelas sekali sebagai barisan
saluran kecil pada kulit disetiap sisi tubuh (Kottelat, 1993).
Ikan bertulang sejati bernafas melewatkan air melalui empat atau lima pasang
insang Air disedot ke dalam mulut, melalui faring, dan keluar diantara celah insang
karena pergerakan operkulum dan kontraksi otot yang mengelilingi ruang insang
tersebut. yang terletak di dalam ruangan-ruangan yang tertutup oleh suatu penutup
pelindung yang disebut operkulum. Proses ini memungkinkan seekor ikan bertulang
untuk bernafas saat diam atau tidur. Adaptasi lain dari sebagian besar ikan bertulang
keras yang tidak ditemukan pada hiu adalah gelembung renang suatu kantung udara
yang membantu mengontrol pengambangan ikan tersebut. Perpindahan gas-gas
antara kantung renang dan darah mengubah volume kantong itu dan menyesuaikan
kerapatan ikan. Akibatnya, banyak ikan bertulang keras, berlawanan dengan
sebagian besar hiu, dapat menghemat energi dengan cara tidak bergerak (Storer,
1957).
Ikan bertulang sejati umumnya adalah perenang yang dapat mengontrol arah,
siripnya yang lentur lebih sesuai untuk pengendalian dan pendorongan dibandingkan
dengan sirip hiu yang lebih kaku. Ikan bertulang keras yang paling cepat, yang dapat
berenang dalam jarak pendek dengan kecepatan mencapai 80 km/jam, memiliki
bentuk badan dasar yang sama dengan hiu. Ternyata, bentuk tubuh ini yang disebut
fusiform (yang meruncing pada kedua ujung), sangat umum ditemukan pada semua
ikan perenang cepat dan mamailia air seperti anjing laut dan paus. Air kurang lebih
ribuan kali lebih rapat dibandingkan dengan udara dan dengan demikian tonjolan
sedikit saja yang menyebabkan gesekan akan lebih mengganggu pada ikan
dibandingkan pada burung. Terlepas dari asal usul mereka yang berbeda, kita
seharusnya memperkirakan bahwa ikan perenang cepat da mamalia laut memiliki
bentuk yang langsing karena hukum hidrodinamika bersifat universal. Inilah contoh
lain evolusi kovergen (Sjafei, 1989.)
Rincian mengenai reproduksi ikan bertulang keras sangat bervariasi. Sebagian
besar spesies adalah hewan ovivar, yang bereproduksi dengan fertilisasi eksternal
setelah betina melepaskan sejumlah besar telur kecil. Namun demikian, fertilisasi
internal dan kelahiran merupakan karakteristik spesies yang lain (Bond, 1979).
Baik ikan bertulang rawan maupun ikan bertulang keras menjadi sangat
beranekaragam selama masa Devon dan Karboniferus, tetapi jika hiu pertama kali
muncul dilaut, ikan bertulang keras muncul pertama kali di air tawar. Gelembung
renang telah termodifikasi dari paru-paru sederhana yang telah membantu
memperbesar pertukaran gas pada insang, mungkin di dalam kolam atau rawa yang
tenang dengan kandungan oksigen yang rendah. Kedua kelompok utama (subclass)
ikan bertulang keras yang ada saat ini telah memisah di akhir masa Devon (Rahardjo,
1980).

5
III. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum mengenai Kelas Actinopterigii dilaksanakan pada Kamis, 26 Oktober
2017 pukul 1.30-16.00 WIB di Laboratorium Teaching IV, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan adalah bak bedah, jangka sorong dan penggaris.
Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum yaitu Cyprinus carpio( ikan mas),
Clarias batrachus (ikan lele), Rasbora sp. (ikan pantau), Upeneus sulphureus (ikan
pinang-pinang), Sarda orientalis (ikan tongkol), Caranx sp. (ikan maco),
Monopterus albus (belut), Trichurus sp. dan Oreochromis niloticus (ikan nila)
3.3 Cara Kerja
Ikan diletakkan di atas bak bedah dengan kepala di sebelah kiri. Kemudian diambil
gambar menggunakan kamera digital dengan penggaris sebagai alat pembanding
ukuran. Selanjutnya dilakukan pengukuran dan penghitungan karakter morfogenik
yaitu panjang total (PT), panjang standar(PS), tinggi batang ekor(TBE), panjang
batang ekor(PBE), panjang predorsal (PPr), panjang dasar sirip dorsal(PdSD),
panjang dasar sirip anal(PdSA),tinggi badan(TB),panjang sirip pectoral (PSP),
panjang sirip pelvic(PSPe), panjang sirip dorsal terpanjang(PDT), panjang
kepala(PK), panjang moncong(PM), diameter mata(DM), panjang rahang atas(PRA),
jumlah duri dorsal(JDD), jumlah duri lunak dorsal (JDLd), duri anal (DA), duri lunak
anal (DLA), duri pektoral total (DPT) dan jumlah sisik pada gurat sisi(JSG). Selain
itu juga dilakukan pengamatan terhadap tipe mulut, tipe ekor, tipe sisik, sungut serta
warna ikan dan dicatat pada tabel yang telah disediakan.

6
IV. PEMBAHASAN

4.1 Ikan Air Tawar


4.1.1 Cyprinus carpio
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Subphyllum : Vertebrata
Class : Pisces
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae Gambar 1. Cyprinus carpio
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio
(FishBase, 2014)

Pada pengamatan didapatkan panjang total (PT) 275 mm, panjang standar (PS) 225
mm, tinggi batang ekor (TBE) 50 mm, panjang batang ekor(PBE) 45 mm, panjang
predorsal (PPr) 121 mm, panjang dasar sirip dorsal (PdSD) 80 mm, panjang dasar
sirip anal (PdSA) 30 mm, tinggi badan(TB) 110 mm, panjang sirip pectoral (PSP) 38
mm, panjang sirip pelvic (PSPe) 35 mm, panjang dasar sirip dorsal (PDSD) 80 mm,
panjang kepala (PK) 70 mm, panjang moncong (PM) 15 mm, diameter mata (DM)
12 mm dan jumlah sisik pada gurat sisi (JSG) 40 buah. Memiliki tipe mulut
terminal, tipe ekor forked, tipe sisik ctenoid, tidak mempunyai sungut, dan berwarna
kehitaman.
Menurut Djuhanda (1981) Cyprinus carpio L. mempunyai tubuh simetri
bilateral. Tubuh ikan terbagi atas tiga bagian, yakni kepala, batang tubuh, dan ekor,
serta memiliki garis literalis (gurat sisi). Pada ujung kepala terdapat mulut yang
berbentuk terminal, yakni mulut terletak di ujung hidung dan mulut dapat
disembulkan. C. carpio L. mempunyai organ seperti kumis di bagian samping mulut.
Memiliki mata yang terletak pada bagian lateral kepala yang saling bersebelahan. Di
bagian lateral kepala belakang mata terdapat operkulum yang merupakan penutup
insang. Sirip punggung tunggal,mempunyai sungut, tipe sisik siknoid, sirip ekor
homocercal. Habitat hidup di air laut dan air payau.Keunikan dari ikan ini adalah
sangat mudah sekali bertelur dan sisik keperakan keemasan.

7
4.1.2 Rasbora sp.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Cyprinoformes
Family : Nemachellidae
Genus : Rasbora Gambar 2. Rasbora sp.
Spesies :Rasbora sp. (FishBase, 2014)

Pada pengamatan didapatkan panjang total (PT) 25 mm, panjang standar (PS) 40
mm, tinggi batang ekor (TBE) 6 mm, panjang batang ekor(PBE) 15 mm, panjang
predorsal (PPr) 22 mm, panjang dasar sirip dorsal (PdSD) 6 mm, panjang dasar sirip
anal (PdSA) 5 mm, tinggi badan(TB) 13 mm, panjang sirip pectoral (PSP) 10 mm,
panjang sirip pelvic (PSPe) 6 mm, panjang dasar sirip dorsal (PDSD) 6 mm, panjang
Gambar 2. Rasbora sp.
kepala (PK) 11 mm, panjang moncong (PM) 20 mm, diameter mata (DM) 44 mm
dan jumlah sisik pada gurat sisi (JSG) 21 buah. Memiliki tipe mulut sub terminal,
tipe ekor forked, tipe sisik ctenoid, tidak mempunyai sungut, dan berwarna kuning.
Ikan Pantau (Rasbora argirotaenia) termasuk dalam genus Rasbora
mempunyai bentuk tubuh memanjang hampir persegi dan ditutupi oleh sisik cycloid
yang terdapat mulai dari belakang kepala sampai kepangkal ekor. Perut membundar,
sirip punggung berukuran pendek tidak memiliki jari-jari lemak yang mengeras serta
terletak di belakang sirip perut bercagak (forked), posisi mulut terminal dan mulut
tidak memiliki sungut. Ikan dengan posisi mulut terminal baik mengarah ke atas
maupun kebawah menurut kemungkinan besar hidup di lapisan tengah perairan
(Pamungkas, 2000).
4.1.3 Clarias bathracus
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Family : Clariidae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias bathracus Gambar 3. Clarias bathracus
(FishBase, 2014)

Pada pengamatan didapatkan panjang total (PT) 260 mm, panjang standar (PS) 30
mm, tinggi batang ekor (TBE) 16 mm, panjang batang ekor (PBE) 10 mm, panjang
predorsal (PPr) 28 mm, panjang dasar sirip dorsal (PdSD) 15 mm, panjang dasar sirip

8
anal (PdSA) 95 mm, tinggi badan (TB) 45 mm, panjang sirip pectoral (PSP) 20 mm,
panjang sirip pelvic (PSPe) 19 mm, panjang dasar sirip dorsal (PDSD) 15 mm,
panjang kepala (PK) 45 mm, panjang moncong (PM) 30 mm, diameter mata (DM) 5
mm dan jumlah sisik pada gurat sisi (JSG) 0 buah. Memiliki tipe mulut sub terminal,
tipe ekor ronded, tipe sisik ctenoid, mempunyai sungut 8 buah, dan berwarna hitam
Lele dilengkapi lima buah sirip, di antaranya sirip punggung, sirip dada, sirip
perut, sirip dubur, dan sirip ekor. Masing-masing sirip tersebut terpisah satu sama
Iain. Sirip punggung memiliki panjang hampir memenuhi tiga perempat panjang
badan, memanjang hingga hampir mencapai sirip ekor. Sirip ekor terletak di ujung
belakang badan, berbentuk bulat, dan berfungsi untuk bergerak. Sementara itu, sirip
perut dan sirip dubur terdapat di bawah sirip punggung dan bentuknya membulat.
Sirip dada lele dilengkapi sepasang duri tajam yang umum disebut patil. Patil
merupakan senjata lele untuk membela diri. Selain itu, patil berguna untuk menopang
tubuh dan berjalan saat lele berada di darat (Puspowardoyo,1993).
Lele memiliki sepasang mata yang bentuknya kecil. Mata lele ini dapat
mengenali atau mengidentifikasi warna pada obyek yang dilihatnya. Untuk
memfokuskan pandangan, lensa mata dapat bergerak keluar masuk. Lele mempunyai
bentuk badan yang unik dibandingkan dengan jenis ikan lainnya, seperti nila, ikan
mas, bawal, ataupun gurami. Lele mempunyai bentuk tubuh cenderung bulat dan
memanjang serta tidak bersisik. Warna tubuhnya hijau kelabu sampai hitam.
Badannya licin karena kulitnya dilapisi lendir. Jika diamati, ada tiga bentuk potongan
melintang pada ikan lele, yaitu pipih ke bawah, pipih ke samping (compressed), dan
bulat. Bentuk pipih ke bawah merupakan bentuk kepala, potongan membulat ada di
bagian tengah badan, sedangkan bagian belakang tubuh cenderung pipih ke samping
(Djuhanda, 1981).
4.1.4 Oreochromis niloticus
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Osteichtyes
Ordo : Percomorphi
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus
(FishBase, 2014) Gambar 7. Oreochromis niloticus

Pada pengamatan didapatkan panjang total (PT) 215 mm, panjang standar (PS) 180
mm, tinggi batang ekor (TBE) 30 mm, panjang batang ekor (PBE) 70 mm, panjang
predorsal (PPr) 50 mm, panjang dasar sirip dorsal (PdSD) 10 mm, panjang dasar sirip
anal (PdSA) 50 mm, tinggi badan (TB) 75 mm, panjang sirip pectoral (PSP) 50 mm,

9
panjang sirip pelvic (PSPe) 15 mm, panjang dasar sirip dorsal (PDSD) 110 mm,
panjang kepala (PK) 60 mm, panjang moncong (PM) 20 mm, diameter mata (DM)
10 mm dan jumlah sisik pada gurat sisi (JSG) 26 buah. Memiliki tipe mulut sub
terminal, tipe ekor truncate, tipe sisik ctenoid, tidak mempunyai sungut, dan
berwarna kuning kelabu.
Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap
melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis
tegak, 7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip
punggung dengan warna merah atau kemerahan (atau kekuningan) ketika musim
berbiak.ada garis linea literalis pada bagian truncus fungsinya adalah untuk alat
keseimbangan ikan pada saat berenang (Djuhanda, 1981).
4.1.5 Monopterus albus
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Synbranchiformes
Family : Synbranchidae
Genus : Monopterus
Spesies : Monopterus albus
(FishBase, 2014) Gambar 8. Monopterus albus

Pada pengamatan didapatkan panjang total (PT) 370 mm, panjang standar (PS) 300
mm, tinggi batang ekor (TBE) 70 mm, panjang batang ekor (PBE) 12 mm, panjang
predorsal (PPr) 320 mm, panjang dasar sirip dorsal (PdSD) 0 mm, panjang dasar sirip
anal (PdSA) 0 mm, tinggi badan (TB) 12 mm, panjang sirip pectoral (PSP) 0 mm,
panjang sirip pelvic (PSPe) 0 mm, panjang dasar sirip dorsal (PDSD) 0 mm, panjang
kepala (PK) 13 mm, panjang moncong (PM) 15 mm, diameter mata (DM) 2 mm dan
jumlah sisik pada gurat sisi (JSG) 0 buah. Memiliki tipe mulut inferior, filiform, ,
tidak mempunyai sungut, dan berwarna coklat.
Belut adalah predator ganas di lingkungan rawa dan sawah. Hewan ini
mampu menyerap oksigen bahkan lewat kulitnya. Kebiasaaannya adalah bersarang di
dalam lubang berlumpur dan menunggu mangsa yang lewat. Walaupun berasal dari
daerah tropika, belut sawah diketahui dapat menyintas (survive) musim dingin
dengan suhu sangat rendah. Kombinasi sifat-sifat yang dimiliki belut membuatnya
menjadi hewan yang dianggap berbahaya bagi lingkungan yang bukan habitatnya
(Saanin 1984).
Belut sawah (Monopterus albus) adalah sejenis ikan anggota famili
Synbranchidae (belut), ordo Synbranchiiformes, yang mempunyai nilai ekonomi dan
ekologi. Ikan ini dapat dimakan, baik digoreng, dimasak dengan saus pedas asam,
atau digoreng renyah sebagak makanan ringan. Secara ekologi, belut dapat dijadikan

10
indikator pencemaran lingkungan karena hewan ini mudah beradaptasi. Hilangnya
belut menandakan telah terjadi kerusakan lingkungan yang sangat parah (Saanin
1984).

4.2 Ikan Air Laut


4.2.1 Carax sp.
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Family : Carangidae
Genus : Caranx
Spesies : Caranx sp. (FishBase, 2014)
Gambar 4. Caranx sp.

Pada pengamatan didapatkan panjang total (PT) 78 mm, panjang standar (PS) 65
mm, tinggi batang ekor (TBE) 13 mm, panjang batang ekor (PBE) 5 mm, panjang
predorsal (PPr) 25 mm, panjang dasar sirip dorsal (PdSD) 10 mm, panjang dasar sirip
anal (PdSA) 140 mm, tinggi badan (TB) 30 mm, panjang sirip pectoral (PSP) 60 mm,
panjang sirip pelvic (PSPe) 10 mm, panjang dasar sirip dorsal (PDSD) 10 mm,
panjang kepala (PK) 17 mm, panjang moncong (PM) 8 mm, diameter mata (DM) 30
mm dan jumlah sisik pada gurat sisi (JSG) 0 buah. Memiliki tipe mulut retraced, tipe
ekor forked, tipe sisik placoid, tidak mempunyai sungut dan berwarna silver.
Ikan bada sering dijumpai di lingkungan dasar (demersal) perairan payau
ataupun laut. Bentuk tubuhnya pipih ramping dengan warna tubuhnya silver (terang
polos). Tipe mulut ikan ini terminal dan mulutnya prokontraktil, terdapat di bagian
tengah perairan dengan jenis makanannya berupa ikan-ikan kecil, kepiting, dan
kerang. ikan maco hidup dilaut pada kedalaman 10-100 m di daerah tropik dan
tersebar mulai dari India, Papua, Jepang, dan Australia. tipe ekor forked dan
memiliki sisik tipe ctenoid (Rifai, 1983). Kingdom
4.2.2 Upeneus sulphureus

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Family : Mullidae
Genus : Upeneus
Spesies : Upeneus sulphureus (FishBase, 2014)
(FishBase, 2014) Gambar 5. Upeneus sulphureus

11
Pada pengamatan didapatkan panjang total (PT) 140 mm, panjang standar (PS) 110
mm, tinggi batang ekor (TBE) 13 mm, panjang batang ekor (PBE) 40 mm, panjang
predorsal (PPr) 70 mm, panjang dasar sirip dorsal (PdSD) 15 mm, panjang dasar sirip
anal (PdSA) 10 mm, tinggi badan (TB) 35 mm, panjang sirip pectoral (PSP) 25 mm,
panjang sirip pelvic (PSPe) 20 mm, panjang dasar sirip dorsal (PDSD) 15 mm,
panjang kepala (PK) 30 mm, panjang moncong (PM) 15 mm, diameter mata (DM)
10 mm dan jumlah sisik pada gurat sisi (JSG) 40 buah. memiliki tipe mulut inferior,
tipe ekor forked, tipe sisik stenoid, tidak mempunyai sungut dan berwarna jingga.
Dari segi morfologinya ikan pinang-pinang memiliki bentuk tubuh bundar,
warna tubuh terang polos dengan gurat sisi berwarna kekuningan-kuningan yang
dimulai dari tutup insang sampai ekor. Ikan ini memiliki sisik yang sangat jelas
dengan tipe ctenoid. Tipe mulut subterminal dan memiliki sepasang sungut, ikan ini
terdapat di daerah dasar perairan air laut atau payau dengan jenis makanannya berupa
ikan-ikan kecil. ikan ini hidup pada kedalaman 10-90 m di daerah tropical (Kumaran,
1984).

4.2.3 Sarda orientalis


Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Family : Scombridae
Genus : Sarda
Spesies : Sarda orientalis
(FishBase, 2014) Gambar 6. Sarda orientalis

Pada pengamatan didapatkan panjang total (PT) 255 mm, panjang standar (PS) 225
mm, tinggi batang ekor (TBE) 6 mm, panjang batang ekor (PBE) 50 mm, panjang
predorsal (PPr) 150 mm, panjang dasar sirip dorsal (PdSD) 20 mm, panjang dasar
sirip anal (PdSA) 120 mm, tinggi badan (TB) 50 mm, panjang sirip pectoral (PSP) 30
mm, panjang sirip pelvic (PSPe) 6 mm, panjang dasar sirip dorsal (PDSD) 20 mm,
panjang kepala (PK) 45 mm, panjang moncong (PM) 15 mm, diameter mata (DM)
13 mm dan jumlah sisik pada gurat sisi (JSG) 0 buah. Memiliki tipe mulut superior,
tipe ekor Lunate, tipe sisik stenoid, tidak mempunyai sungut dan berwarna silver.
Ikan tongkol merupakan ikan konsumsi dengan bentuk yang memanjang dan
licin yang dapat memudahkannya untuk berenang dengan cepat dia dalam air,
sebagaimana diketahui bahwa ikan tongkol adalah salah satu ikan perenang tercepat.
Bentuk tubuhnya seperti belubo dengan kulit yang licin, sirip dada melengkung,
ujungnya lurus dan pangkalnya sangat licin. Ikan tomgkol merupakan ikan perenang
tercepat diantara ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung, dubur, perut,
dan dada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh sehinggah sirip-sirp ini dapat

12
dilipat masuk kedalam lekukan tersebut sehingga dapat mempperkuat daya gesekan
dari air saat ikan tersebut berenang cepat, da dibelakanng sirip punggungg dan sirip
dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut emlet (Djuhanda,
1981).
4.2.4 Trichiurus sp.
Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Perciformes
Famili : Trichiuridae
Genus : Trichiurus
Spesies : Trichiurus sp. Gambar 9. Trichiurus sp.
(FishBase, 2014)
Pada pengamatan didapatkan panjang total (PT) 560 mm, panjang standar (PS)
470mm, tinggi batang ekor (TBE) 90 mm, panjang batang ekor (PBE) 10 mm,
panjang predorsal (PPr) 55 mm, panjang dasar sirip dorsal (PdSD) 20 mm, panjang
dasar sirip anal (PdSA) 0 mm, tinggi badan (TB) 55 mm, panjang sirip pectoral
(PSP) 30 mm, panjang sirip pelvic (PSPe) 28 mm, panjang dasar sirip dorsal
(PDSD) 380 mm, panjang kepala (PK) 83 mm, panjang moncong (PM) 50 mm,
diameter mata (DM) 14 mm dan jumlah sisik pada gurat sisi (JSG) 0 buah. Memiliki
tipe mulut superior, tipe ekor rectacled, tipe sisik placoid, tidak mempunyai sungut,
dan berwarna silver.
Ikan layur (Trichiurus sp)mempunyai ciri-ciri morfologis sebagai berikut:
Badan sangat panjang, pipih seperti pitaterutama bagian ujung belakang ekor, dalam
bahasa inggris disebut hairtail. Mulut lebar dilengkapi dengan gigi tangkap yang kuat
dan tajam. Rahang bawah lebih besar dari rahang atasnya. Sirip punggung panjang
sekali mulai dari atas kepala sampai akhir badan dan berjari-jari lemah 105-134.
Sirip dubur tumbuh kurang sempurna dan berjari-jari lemah 72-80. Berupa deretan-
deretan duri kecil, tidak terdapat sirip perut dan garis rusuk terlihat jauh dibagian
bawah badan (Saanin 1984).

13
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Cyprinus carpio Memiliki tipe mulut terminal, tipe ekor forked, tipe sisik ctenoid,
tidak mempunyai sungut, dan berwarna kehitaman.
2. Rasbora sp Memiliki tipe mulut sub terminal, tipe ekor forked, tipe sisik ctenoid,
tidak mempunyai sungut, dan berwarna kuning.
3. Clarias bathracus Memiliki tipe mulut sub terminal, tipe ekor ronded, tipe sisik
ctenoid, mempunyai sungut 8 buah, dan berwarna hitam
4. Caranx sp. Memiliki tipe mulut retraced, tipe ekor forked, tipe sisik placoid, tidak
mempunyai sungut dan berwarna silver.
5. Upeneus sulphureus memiliki tipe mulut inferior, tipe ekor forked, tipe sisik
stenoid, tidak mempunyai sungut dan berwarna jingga
6. Sarda orientalis memiliki tipe mulut superior, tipe ekor Lunate, tipe sisik stenoid,
tidak mempunyai sungut dan berwarna silver
7. Oreochromis niloticus Memiliki tipe mulut sub terminal, tipe ekor truncate, tipe
sisik ctenoid, tidak mempunyai sungut, dan berwarna kuning kelabu.
8. Monopterus albus Memiliki tipe mulut inferior, filiform, , tidak mempunyai
sungut, dan berwarna coklat.
9. Trichiurus sp. Memiliki tipe mulut superior, tipe ekor rectacled, tipe sisik placoid,
tidak mempunyai sungut, dan berwarna silver.

5.2 Saran

Untuk pelaksanaan praktikum selanjutnya sebaiknya semua anggota kelompok ikut


dalam melakukan pengamatan, agar waktu praktikum bisa dimanfaatkan dengan
maksimal.

14
KUNCI DETERMINASI

1.a. Ikan air tawar ….................................................................................………….. 5


b. Ikan laut ..........................................................................................………... …5
2.a. Terminal ..........................................................................................……………7
b. Superior.............................................................................……Trichiurus lepturus
3.a. Bersisik ….........................................................................................……………5
b. Tidak bersisik ......................................................................... Monopterusalbus
5.a. Truncatus ............................................................................Oreochromis niloticus
b. Menggarpu …………………………................................................…………...8
6.a. Sangat pipih ………………................................................... Trichiurus lepturus
b. Pipih tegak ............................................................................…………Charanx sp
7.a.Punya fitlet ………......................................................………...…Sarda orientalis
b. Tidak punya fitlet …......................................................................,…………...9
8.a. Berwarna putih keorenan ………………….........................…....….Upeneus sp.
b. Berwarna abu-abu putih …………………………………………………………7
9.a. sungut ada……………………………………………………..Clarias batrachus
b. tidak ada sungut …………................................................................…………..9
10.a. Sisik ctenoid ………………………………………………………Upeneus sp.
b. Sisik cycloid ………………………………………………………………..3

15
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, R., D.S. Sjafei, M.F. Rahardjo, dan Sulistiono. 1992. Iktiologi. Suatu
Pedoman Kerja Laboratorium. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar
Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Alamsjah, Z. 1974. Ichthyologi I. Departemen Biologi Perairan. Fakultas

Perikanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.


.
Bond, C.E. 1979. Biology of Fishes. W.B. Saunders Company, Philadelphia.

Brotowidjoyo. 1995. Zoologi. Surabaya: penebar Swadaya.

Campbell, N.A. 2004. Biologi. Jakarta : Erlangga

Djuhanda,T. 1981. Dunia Ikan. Bandung: Penerbit Armiko

FishBase Team. 2014.http://www.fishbase.org/search.php. Stokholm, Sweden.

Kimball, john. 1985. Biologi jilid 3. Jakarta : Erlangga

Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari, and S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions Limited, Hong
Kong.

Puspowardoyo, H. dan Djarijah A.S. 2002. Pembentukan dan pembesaran ikan lele
Dumbo Hemat Air. Bandung: Kanisius

Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan. Fakultas Perikanan.


Institut Pertanian Bogor, Bogor..

Rifai, Sjamsudin Adang, dkk. 1983. Biologi Perikanan 2. Jakarta; Direktorat


Pendidikan Menengah Kejuruan.

Sjafei, D.S., M.F. Rahardjo, R. Affandi, dan M. Brodjo. 1989. Bahan Pengajaran
Sistematika Ikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Storer, T.J. and R.L. Usinger. 1957. General Zoology. McGraw Hill Book Company,
Inc., New York.

Yasin, Maskoeri. 1984. Sistematika Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Surabaya


: Sinar Wijaya.

16