Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH BIOMONITORING

BIOMONITORING PENCEMARAN AIR DENGAN MENGGUNAKAN


BENTOS

OLEH
KELOMPOK VB

AGHIL KRIS AMRELA (1710422028)


NURFITRI KARTIKA SARI (1710422016)
MUHAMMAD RONALDO (1710422026)
RAISSA MIRANDA DIVA (1710422027)
SALSABILA DHIA HIRWANTO (1710423020)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2019
BAB I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Laut merupakan sebuah ekosistem besar yang di dalamnya terdapat interaksi
yang kuat antara faktor biotik dan abiotik. Interaksi yang terjadi bersifat dinamis dan
saling mempengaruhi. Lingkungan menyediakan tempat hidup bagi organisme-
organisme yang menempatinya sebaliknya makluk hidup dapat mengembalikan
energi yang dimanfaatkkannya ke dalam lingkungan. Suatu daur energi memberikan
contoh nyata akan keberadaan interaksi tersebut. Di laut terjadi transfer energi antar
organisme pada tingkatan tropis yang berbedadengan demikian terjadi proses
produksi (Fachrul, 2006).
Organisme di dalam air sangat beragam dan dapat diklasifikasikan
berdasarkan bentuk kehidupannya atau kebiasaan hidupnya yaitu: bentos,
Periphyton, Plankton, Nekton dan Neuston. Plankton adalah organisme melayang
atau mengambang di dalam air. Kemampuan geraknya, kalaupun ada, sangat
terbatas, sehingga organisme tersebut selalu terbawa oleh arus (Kaswadji, 2001).
Parameter biologi yang paling banyak berpengaruh dalam pengelolaan
kualitas air meliputi seperti plankton, alga, tanaman air, dan bentos. Jasad renik
dalam perairan berpengaruh terhadap kehidupan ikan. Parameter biologi sangat perlu
untuk dipahami oleh pembudidayaan ikan karena beberapa jasad renik bermanfaat
untuk budidaya ikan khususnya larva untuk hidup, tumbuh dan berkembang .Sifat
biologi air yang banyak berperan dan perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi
budidaya ikan adalah produktifitas primer. Hal ini karena berperan sebagai pakan
alami serta penyedia oksigen terlarut dalam air bagi ikan untuk respirasi.

b. Rumusan Masalah
Pertanyaan mungkin selalu ada dalam batin maupun fikiran kita sebelum mengerti
tantang budaya politik indonesia,pastinya kita akan mencari tau tentang:
1. Apakah yang dimaksud dengan Benthos?
2. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi Benthos?
3. Faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi bentos.

c. Tujuan Penulisan
1. Memenuhi salah satu tugas mata pelajaran kualitas air.
2. Menambah pengetahuan tentang kualitas air.
3. Membahas secara sederhana peranan benthos di perairan.
BAB II. PEMBAHASAN

Bentos adalah organisme yang hidup di dasar sungai atau laut dengan melekatkan
diri pada substrat atau membenamkan diri di dalam sedimen . Hewan bentos yang
bersifat herbivor dan detrivor dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup
maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-
potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya
menjadi nutrien bagi produsen perairan (Lakitan, 1987).

Menurut Lakitan (1987), Hewan bentos dapat dikelompokkan berdasarkan


ukuran tubuh :

1. Makrozoobentos (Makroinvertebrata) ialah kelompok hewan yang lebih besar


dari 1,0 mm. Kelompok ini adalah hewan bentos yang terbesar, jenis hewan
yang termasuk kelompok ini adalah molusca, annelida, crustaceae, beberapa
insekta air dan larva dari diptera, odonata dan lain sebagainya.

2. Mesobentos adalah kelompok bentos yang berukuran antara 0,1 mm -1,0 mm.
Kelompok ini adalah hewan kecil yang dapat ditemukan di pasir atau lumpur.
Hewan yang termasuk kelompok ini adalah molusca kecil, cacing kecil, dan
crustaceae kecil.

3. Mikrobentos adalah kelompok bentos yang berukuran lebih kecil dari 0,1 mm.
Kelompok ini merupakan hewan yang terkecil. Hewan yang termasuk ke
dalamnya adalah protozooa khususnya cilliata.

Berdasarkan kepekaannya terhadap pencemaran, Makroinvertebrata bentos


dapat dikategorikan :

1. Intoleran meruapakan organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam


kisaran kondisi lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai di perairan yang
kaya organik, dalam artian lain hanya dapat hidup pada kualitas air yang bersih.
Organisme ini tidak dapat beradaptasi bila kondisi perairan mengalami
penurunan kualitas.

2. Fakultatif adalah organisme yang dapat bertahan hidup pada kisaran kondisi
lingkungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan organisme intoleran.
Walaupun organisme ini dapat bertahan hidup diperairan yang banyak bahan
organik namun tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan.

3. Toleran ialah organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran
kondisi lingkungan yang luas, yaitu organisme yang sering dijumpai diperairan
yang berkualitas buruk. Pada umumnya organisme tersebut tidak peka terhadap
berbagai tekanan lingkungan dan kelimpahannya dapat bertambah diperairan
yang tercemar oleh bahan organic (Odum, 1994).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air mengatakan bahwa
pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi
dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air
turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai
dengan peruntukannya.

Makroinvertebrata bentos digunakan sebagai bioindikator pencemaran karena


makroinvertebrata bentos relatif mudah diidentifikasi , karena ukurannya yang dapat
dilihat dengan mata telanjang atau > 1,0 mm. Makroinvertebrata bentos dapat
memberikan petunjuk adanya bahan pencemar, karena jenis-jenis tertentu sangat
peka terhadap pencemaran. Apabila terjadi bahan pencemar dalam perairan, maka
jenis makroinvertebrata bentos yang sangat peka akan hilang karena tidak mampu
bertahan hidup sserta hewan bentos relatif hidup menetap, sehingga baik digunakan
sebagai petunjuk kualitas lingkungan, dimana akan diketahui seberapa besar
pencemaran yang terjadi diperairan tersebut, karena selalu kontak dengan limbah
yang masuk ke habitatnya (Kimball, 1983).

Menggunakan mikroinvertebrata sebagai bioindikator miliki keuntungan serta


kelemahan masing-masing. Beberapa keuntungan menggunakan makroinvertebrata
bentos sebagai biodikator antara lain mempunyai kemampuan untuk bertambah
dalam lingkungan yang terganggu atau tercemar dan tidak seperti makrofauna,
umumnya mempunyai siklus hidup yang pendek (sekitar 30–40 hari), menghasilkan
generasi dalam setahun, organisme yang terekspos tahan terhadap toksikan dan siklus
hidupnya lebih komplit dan ukurannya yang kecil sehingga mudah dan sangat cocok
digunakan sebagai sampel untuk penelitian serta komunitas makroinvertebrata bentos
sifatnya lebih stabil, baik kualitas maupun kuantitasnya terhadap musim dan dari
tahun ke tahun daripada makrofauna. Terakhir, Makroinvertebrata bentos mempunyai
banyak karakteristik yang memudahkan peneliti dalam penggolongan kualitas
pencemaran air (Abel, 2010). Tidak hanya keuntungan tetapi uga kelemahan. Salah
satu kelemahan makroinvertebrata bentos sebagai biodikator ialah sebaran
makroinvertebrata bentos mengelompok, dan dipengaruhi oleh faktor hidrologi
seperti arus, dan kondisi substrat dasar, sehingga data yang didapatkan jika tidak
bekerja secara hati-hati maka hasil nya kurang akurat (Hawkes, 1978).

Contoh contoh spesies makroinvertebrata bentos sebagai biodikator dibagi


menjadi tiga kelompok, yaitu:

A. Bioindikator untuk perairan yang berkualitas baik

1. Nimfa Lalat Batu (Stonefly Nymphs) (Order Plecoptera)

Nimfa serangga ini biasanya hanya terdapat di perairan yang tidak tercemar
dan kaya oksigen. Kehadiran nimfa serangga ini di suatu perairan
menunjukkan kualitas air yang bagus.
2. Larva Lalat Kadis (Caddisfly Larvae) (Order Trichoptera)

Larva hewan ini beberapa diantaranya membuat selubung/pelindung dari


batu-batuan maupun pasir, karena tidak toleran/sensitif terhadap pencemaran
air. Kehadiran larva caddisfly di suatu perairan menunujukkan kualitas air
yang bagus

B. Bioindikator untuk perairan berkualitas sedang (moderat)

1. Dragonfly Nymph (Order Odonata, Suborder Anisoptera)

2. Damselfly Nymph (Order Odonata, Suborder Zygoptera)

Bioindikator untuk perairan berkualitas buruk

1. Blackfly Larva (Order Diptera, Family Simulid


Larva ini menangkap dan mencerna plankton dan bakteri yang berasal dari
perairan sekitarnya dengan antena khusus. Beberapa spesies sangat toleran
terhadap kualitas perairan yang buruk, sehingga dapat digunakan sebagai
indikator pencemaran perairan tercemar
2. Midge Larva (Order Diptera, Family Chironomidae)

B. Faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi bentos.

Sebagaimana kehidupan biota lainnya, penyebaran jenis dan populasi


komunitas bentos ditentukan oleh sifat fisik, kimia dan biologi perairan. Sifat fisik
perairan seperti pasang surut, kedalaman, kecepatan arus, kekeruhan atau kecerahan,
substrat dasar dan suhu air. Sifat kimia antara lain kandungan oksigen dan
karbondioksida terlarut, pH, bahan organik, dan kandungan hara berpengaruh
terhadap hewan bentos. Sifat-sifat fisika-kimia air berpengaruh langsung maupun
tidak langsung bagi kehidupan bentos. Perubahan kondisi fisika-kimia suatu perairan
dapat menimbulkan akibat yang merugikan terhadap populasi bentos yang hidup di
ekosistem perairan (Setyobudiandi, 1997).

Oksigen adalah gas yang amat penting bagi hewan. Perubahan kandungan
oksigen terlarut di lingkungan sangat berpengaruh terhadap hewan air. Kebutuhan
oksigen bervariasi, tergantung oleh jenis, stadia, dan aktivitas. Kandungan oksigen
terlarut mempengaruhi jumlah dan jenis makrobentos di perairan. Semakin tinggi
kadar O2terlarut maka jumlah bentos semakin besar.

Nilai pH menunjukkan derajad keasaman atau kebasaan suatu perairan yang


dapat mempengaruhi kehidupan tumbuhan dan hewan air. pH tanah atau substrat
akan mempengaruhi perkembangan dan aktivitas organisme lain. Bagi hewan bentos
pH berpengaruh terhadap menurunnya daya stress.
Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air,
membatasi zona fotosintesis dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman.
Kekeruhan, terutama disebabkan oleh lumpur dan partikel yang mengendap,
seringkali penting sebagai faktor pembatas. Kekeruhan dan kedalaman air
pempunyai pengaruh terhadap jumlah dan jenis hewan bentos.

Tipe substrat dasar ikut menentukan jumlah dan jenis hewan bentos disuatu
perairan (Susanto, 2000). Tipe substrat seperti rawa tanah dasar berupa lumpur.
Macam dari substrat sangat penting dalam perkembangan komunitas hewan bentos.
Pasir cenderung memudahkan untuk bergeser dan bergerak ke tempat lain. Substrat
berupa lumpur biasanya mengandung sedikit oksigen dan karena itu organisme yang
hidup didalamnya harus dapat beradaptasi pada keadaan ini (Ramli, 1989).

Perubahan tekanan air ditempat-tempat yang berbeda kedalamannya sangat


berpengaruh bagi kehidupan hewan yang hidup di dalam air. Perubahan tekanan di
dalam air sehubungan dengan perubahan kedalaman adalah sangat besar. Faktor
kedalaman berpengaruh terhadap hewan bentos pada jumlah jenis, jumlah individu,
dan biomass. Sedangkan faktor fisika yang lain adalah pasang surut perairan, hal ini
berpengaruh pada pola penyebaran hewan bentos (Susanto, 2000).

Faktor biologi perairan juga merupakan faktor penting bagi kelangsungan


hidup masyarakat hewan bentos sehubungan dengan peranannya sebagai organisme
kunci dalam jaring makanan, sehingga komposisi jenis hewan yang ada dalam suatu
perairan seperti kepiting, udang, ikan melalui predasi akan mempengaruhi
kelimpahan bentos.

C. Bentos sebagai bioindikator kualitas air

Makrozoobentos umumnya sangat peka terhadap perubahan lingkungan perairan


yang ditempatinya, Karena itulah makrozoobentos ini sering dijadikan sebagai
penentu ekologi di suatu perairan dikarenakan cara hidup, ukuran tubuh dan
perbedaan kisaran toleransi di anatar spesies di dalam lingkungan perairan. Alasan
pemilihan makrozoobentos sebagai penentu kualitas air menurut Wilhm (1978), dan
Oey (1980) dalam Wargadinata (1995) adalah sebagai berikut:

a. Mobilitas terbatas sehingga memudahkan dalam pengambilan sampel

b. Ukuran tubuh relative besar sehingga memudahkan untuk identifikasi

c. Hidup di dasar perairan, relative diam sehingga secara terus menerus


terdedah (exposed) oleh air sekitarnya.

d. Pendedahan yang terus menerus mengakibatkan makrozoobentos di


pengaruhi oleh keadaan lingkungan.
Menurut Rini (2011) bahwa keuntungan dari menggunakan makrozoobentos sebagai
penentu uji kualitas air adalah makrozoobentos hidup melekat pada tanah atau di
dalam tanah motilitasnya rendah sehingga hewan tidak mudah bergerak dan pindah.
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah BBI dimana dengan metode ini
menunjukkan kualitas air secara jelas.

Penentu dalam memantau kualitas air digunakan kombinasi parameter fisika,


kimia, dan biologi, tetapi yang sering digunakan hanyalah parameter fisika dan
kimia. Parameter biologi jarang digunakan sebagai parameter penentu pencemaran.
Pengukuran parameter fisika dan kimia hanya memberikan gambaan kualitas
lingkungan sesaat. Indikator biologi digunakan untuk menilai secara makro
perubahan keseimbangan ekologi, khusunya ekosistem akibat pengaruh limbah.
Dibandingkan dengan menggunaan parameter fisika dan kimia, indikator biologi
dapat memantau secara berkelanjutan. Hal ini karena komunitas biota perairan (flora
dan fauna) menghabiskan seluruh hidupnya di lingkungan tersebut,
DAFTAR PUSTAKA

Abel,2010. Keanekaragaman Jenis Makrozoobentos di Ekosistem Perairan Rawa


Pening Kabupaten Semarang, Skripsi, Semarang: UNS.

Hawkes, 1978. Ecologycal Diversity and Its Measurement. New Jersey: Princeton
University Press.

Kimball, J. W. 1983. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima.Erlangga:Jakarta

Lakitan, B. 1987. Bentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan Pesisir. PT. Raja
Grafindo Persada:Jakarta.

Odum, Yanney J. 1994. Dasar-Dasar Ekologi.Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001 tentang


Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air

Ramli, D. 1989. Ekologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Setyobudiandi, I. 1997. Makrozoobentos. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Susanto, P. 2000. Pengantar Ekologi Hewan. Departemen Pendidikan Nasional,


Jakarta.

Wargadinata, E. L. 1995. Makrozoobentos Sebagai Indikator Ekologi di Sungai


Percut. Tesis (Tidak Dipublikasikan). Medan: Program Pasca Sarjana Ilmu
Pengetahuan Sumber Daya Alam dan Lingkungan USU.