Anda di halaman 1dari 9

REKAYASA IDE

PENGEMBANGAN PERTANIAN PADA INDUSTRI


PUPUK HAYATI
BERBASIS REKAYASA HAYATI (BIO-ENGINEERING)
DISUSUN
O
L
E
H
KELOMPOK VI
ACONG JAYA SINAGA (4183520011)
FITRIANA NUR NASUTION (4181220009)
NOVARIA SILABAN (418222001)
ROZA ULFAYANTI SIREGAR (4182220017)
YUNI M HUTASOIT (4182220013)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
serta berkat kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Dengan judul makalah ”Rekayasa Ide : PENGEMBANGAN PERTANIAN PADA INDUSTRI
PUPUK HAYATI BERBASIS REKAYASA HAYATI (BIO-ENGINEERING)
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas
mata kuliah Biologi umum.

Dalam penulisan makalah ini, kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua
yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini sehingga selesai tepat waktu, dan
yang memberikan informasi untuk membuat makalah ini . Dan tidak lupa juga kami ucapkan
terima kasih dosen yang telah membimbing kami.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri selaku penulis
maupun kepada pembaca umumnya

Medan, 19 November 2018


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Saat ini berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pemenuhan kebutuhan menjadi
sangat mudah,cepat dan praktis, salah satunya ialah dengan adanya “rekayasa hayati”(Bio-
engineering) yang mana saat ini semakin banyak inovasi dan kreasi yang diciptakan para ilmuan
untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin hari semakin banyak, salah satunya untuk
memenuhi kebutuhan manusia dibidang pangan yang disokong dengan kemajuan teknologi
pertanian, contohnya penggunan tanaman transgenik dan kultur jaringan, namun disamping
peningkatan kualitas tanaman diperlukan juga peningkatan kualitas lahan, oleh karena itu kami
melakukan inovasi peningkatan kualitas lahan dengan menggunakan pupuk hayati(bio-
fertilizers).

Pupuk hayati adalah inokulan berbahan aktif organisme hidup atau laten dalam bentuk cair
atau padat yang memiliki kemampuan untuk memobilisasi,memfasilitasi,dan,meningkatkan
ketersediaan hara yang tidak tersedia (N2,Hara terikat dalam mineral atau terikat dalam bentuk
senyawa organik) menjadi bentuk tersedia melalui proses biologis. Dekomposer atau mikroba
perombak dikategorikan sebagai pupuk hayati karena berperan aktif dalam mengubah hara tidak
tersedia atau terikat dalam bentuk senyawa organik menjadi hara tersedia melalui proses
mineralisasi atau dekomposisi. Kelompok pupuk hayati (Bio-fertilizers) yang sangat potensial
untuk pertanian terpadu berbasis organik antara lain meliputi: penambat N (simbiotik dan non-
simbiotik), mikroba pelarut P,mikroba pelarut K, mikroba penghasil fitohormon (hormon pemacu
tumbuh tanaman), mikroba perombak bahan organik dan mikroba yang berperan sebagai agen
hayati. Pupuk hayati ini sangat bermanfaat dalam: 1) meningkatkan dan memfasilitasi ketersediaan
hara, 2) menghasilkan pupuk organik beragen hayati,3) mengurangi penggunaan pupuk anorganik
dan bahan energi berbahan fosil, 4) memperbaiki kesehatan tanah, dan meningkatkan produktivitas
tanah maupun tanaman. Berdasarkan manfaat pupuk hayati tersebutlah yang memotivasi kami
untuk melakukan inovasi tersebut untuk mendukung pertanian terpadu berkelanjutan.

1.2 Rumusan maslah


1. Apakah pupuk hayati dapat dijadikan sebagai penunjang kualitas pertanian?
2. Bagaimana cara pembuatan pupuk hayati yang berfungsi sebagai pengganti pupuk
anorganik?
3. Bagaimana penggunaan pupuk hayati serta dosis yang tepat terhadap tanaman?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui apasaja agen mikroba yang berperan dalam pembuatan pupuk hayati
2. Mengetahui keuntungan dan kerugian penggunaan pupuk hayati
3. Mengetahui dosis dan cara penggunaan pupuk hayati yang tepat
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 RINGKASAN KAJIAN


Pengembangan pertanian menjadi suatu keharusan ,baik melalui program ektensifikasi maupun
intensifikasi untuk memenuhi kebutuhan pangan,sandang dan papan yang terus meningkat sejalan
dengan kenaikan jumlah penduduk akibatnya kebutuhan akan pangan dan produk pertanian, serta
lahan permukiman akan meningkat. Dilain pihak konversi lahan ke non pertanian terus meningkat,
konsekuensinya pertanian intensif yang bertumpu pada penggunaan pupuk anorganik dan
berbahan kimia.
Peranan pengembangan dan penelitan sangat menentukan dalam membangun industri pupuk
hayati dengan karakteristik yang dinamis dan spesifik baik sebagai inokulen tunggal maupun
pupuk hayati majemuk yang efektif dan efisien dalam meningkatkan ketersediaan hara dan
produktifitas tanah maupun tanaman. Terobosan tekhnologi untuk meningkatkan efektifitas
maupun teknik produksi pupuk hayati dengan kualitas baik dan stabil sangat diperlukan dalam
menunjang pengembangan pupuk hayati. Sebaliknya, pengembangan industri pupuk hayati
diperlukan untuk menunjang pengembangan dan penelitian.
Aplikasi pupuk hayati penambat N simbiotik (bradyrhizobium japonicum) pada tanaman
kedelai sangat efektif untuk meningkatkan ketersediaan hara dan dapat mensubstitusi penggunaan
pupuk anorganik hingga 75%
Oleh karena itu , industri pupuk hayati penghasil inokulen bakteri penambat N tersebut telah
berkembang dengan baik dan penggunaan inokulen penambat N pada pertanaman legum menjadi
sangat diperlukan untuk menekan biaya produksi.
Pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula (endomikoriza) dapat meningkatkan pertumbuhan
dan hasil tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Sedangkan ektomikoriza umumnya hanya
terdapat pada tanaman tahunan
2.2 METODE PENELITIAN
Menggunakan rancangan petak terpisah (split plot design) yang terdiri dari dua faktor:
 Mikoriza arbuskula sebagai petak utama terdiri dari 3 taraf yaitu
1. tanpa mikoriza arbuskula(m0)
2. mikoriza dari pupuk hayati hasil perbanyakan/ rekayasa spesifik gambut (m1)
3. mikoriza propagul alami dari rizosfer nenas (m2)
 dosis pupuk fosfat (P) sebagai anak petak terdiri dari 4 saraf yaitu
1. d1 dengan taraf dosis fosfat 100 kg P2O5/hektar
2. d2 dengan taraf dosis fosfat 75 kg P2O5/hektar
3. d3 dengan taraf fosfat 50 kg P2O5/hektar
4. d4 dengan taraf fosfat 25 kg P2O5/hektar

Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang produktif, umur berbunga,
jumlah polong per tanaman, bobot per 100 biji kering, persentase akar terinfeksi mikoriza (%)
dengan melakukan staining akar berdaarkan metode kormanik.
pengembangan industry pupuk hayati secara komersial sangat tergantung pada efektivitas dan
kemampuan meningkatkan ketersediaan hara, dan mensubstitusi penggunaan pupuk anorganik.
Pupuk hayati yang efektif dan mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik secara signifikan
akan mempunyai peluang pasar yang baik. Pupuk hayati baik sebagai pupuk bio maupun sebagai
decomposer berkaitan dengan aktivitas mikroba (organisme) yang dinamis dan berbasis
bioteknologi. Selain itu pupuk hayati banyak yang mampu berperan ganda atau multifungsi.
Misalnya satu spesies mikroba tertentu dapat menambat N, menghasilkan fitohormon (PGPR),
menghasilkan senyawa yang bersifat agen hayati (bio control agen), menghasilkan siderofore dan
mampu menguraikan bahan organic (decomposer)
mikroba yang multifungsi tersebut diharapkan mampu meningkatkan manfaat dan efisiensi
penggunaan pupuk hayati.
Focus penelitian dan upaya untuk meningkatkan efektivitas dan peranan penggunaan pupuk hayati
untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan antara lain sebagai
berikut:
1. seleksi mikroba yang efektif meningkatkan ketersediaan hara dan produktivitas
tanaman, baik yang bersifat spesifik maupun non spesifik sehingga mampu mengurangi
penggunaan pupuk anorganik secara signifikan
2. formulasi inokulan majemuk yang efektif untuk meningkatkan ketersediaan hara,
keesehatan tanah maupun kesehatan tanaman
3. kajian untuk meningkatkan daya adaptasi dan persistensi inokulan pupuk hayati
sehingga mampu tumbuh maupun berkembang dan mampu mendominasi rhizosfir
tanaman dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (stressful conditions)
4. penelitian rekayasa genetika sehingga tanaman non legum mampu membentuk nodula
yang efektif menambat nitrogen dari udara
5. mengembangkan system produksi yang baik untuk menjamin kualitas dan efektivitas
bahan aktif (mikroba) di lapangan
6. pengaturan dan regulasi untuk menjamin pengendalian kualitas dan peredaran pupuk
hayati.

Mikoriza perperan dalam peningkatan perluasan permukaan perluasan permukaan akar,


sehingga memaksimalkan, penyerapan P, mengeksplorasi tanah secara lebih luas dan
meningkatkan fotosintesis. Infeksi akar oleh fungi mikoriza arbuskula menyebabkan terjadinya
perubahan pertumbuhan dan aktivitas akar tanaman melalui terbentuknya meselia eksternal yang
menyebabkan peningkatan serapan hara dan air dimana menurut hifa dan mikoriza tersebut dapat
menyebar hingga lebih dari 25 cm dari akar sehingga meningkatkan kemampuan eksplorasi tanah
untuk mendapatkan hara.
Peningkatan pertumbuhan tanaman sebagai responnya terhadap aplikasi mikoriza arbuskula ini
berlangsung dengan optimal apabila terjadi defisiensi unsur hara khusunya P. sebagai
perbandingan, aplikasi mikoriza arbuskula indigenous pada tanaman lada dapat meningkatkan
hasil sampai 65% disbanding tanaman tanpa mikoriza arbuskula pada kondisi defisiensi
2.3 Jawaban pertanyaan
1.Jelaskan apa yang dimaksud dengan rekayasa hayati!
Jawab: Rekayasa hayati (Bio-engineering) adalah salah satu disiplin ilmu biologi dan teknik yang
dikemas dan diaplikasikan dalam perekayasaan berbasis biosistem untuk meningkatkan efisiensi
fungsi dan manfaat biosistem untuk bioindustri dengan memanfaatkan sumber daya hayati.
2.Deskipsikan dengan teratur dan jelas sejarah rekayasa hayati!
Jawab: awalnya sejarah Bio-engineering dimulai sebelum era Perang Dunia II, Dimana pada era
inilah rekayasa hayati mulai diakui sebagai salah satu cabang ilmu teknik dan merupakan konsep
yang sangat baru bagi masyarakat pada masa itu,pasca era Perang Dunia II Rekayasa Hayati
mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal ini tidak terlepas dari istilah “Bioteknologi” yang
diciptakan oleh Heinz wolff pada tahun 1954 di British national institute for medical research dan
pada masa itu pula untuk pertama kalinya Bio-engineering diakui sebagai ilmu yang tersendiri di
universitas berkat kedudukan Wolff sebagai direktur divisi Biological Engineering di universitas
tersebut. Sejak era itu dimulailah kerjasama antara para insinyur dan ilmuwan biologi hingga pada
tahun 1966 untuk pertama kalinya program studi Rekaysa Hayati dibuat di University of
California,San diego dan menjadi kurikulum rekayasa hayati pertama di Amerika serikat,
kemudian menyusul di MIT dan Utah State University. Sedangkan di Indonesia sendiri ITB
menjadi yang pertama dan satu-satunya universitas yang mempunyai program studi Rekayasa
Hayati yang dibuka pada tahun 2006.
3.Jelaskan rekayasa hayati (bio-engineering) dalam revolusi 4.0
Jawab: rekayasa hayati tidak akan terpisahkan dengan adanya revolusi 4.0 yang mana revolusi 4.0
merupakan revolusi industri tahap 4 yang menitikberatkan perkembangan industri pada
pemanfaatan sumber energi terbaharukan dari sumber daya hayati, selain itu revolusi industri 4.0
dicirikan dengan menipisnya batasan digital,fisik dan biologis,serta berkembangnya teknologi,
infomasi dan industri berbasis mesin untuk memenuhi kebutuhan manusia namun tetep
memelihara keberlangsungan dan cadangan energi masa depan dengan memanfaatkan sumber
daya hayati. Nah sesuai pengertian rekayasa hayati, yangmana Rekayasa hayati merupakan ilmu
yang mampu menjawab tantangan pada era ini dimana dengan adanya rekayasa hayati yang
mampu meningkatkan efisiensi fungsi dan manfaat biosistem untuk bioindustri dengan
memanfaatkan sumber daya hayati akan menjawab tantangan kebutuhan manusia akan energi
terbaharukan.
4.Uraikan peranan rekayasa hayati (bio-engineering) bagi keanekaragaman hayati
indonesia
Jawab: rekayasa hayati memiliki peranan penting dalam keanekaragaman hayati di Indonesia,
dimana dengan adanya rekayasa hayati maka Indonesia yang mempunyai tingkat keberagaman
hayati terbesar kedua di dunia akan mampu manfaatkan dan mengelola sumber daya hayati ini
dengan lebih baik seperti halnya negara maju lain yang telah mengembangkannya terlebih
dahulu,sehingga Indonesia tidak akan menjadi penonton atau pemeran pasif dalam pengembangan
IPTEK terutama dalam pengeksploran dan pengelolaan sumber daya alam maupun hayati yang
sangat melimpah.
DAFTAR PUSTAKA

Sasli, iwan. (2013). Respon tanaman kedelai terhadap pupuk hayati Mikoriza arbuscula hasil
rekayasa spesifik gambut. Jurnal AGROVIGOR. 6(1): 73-80.

Simarmata, dkk.(2012). Peranan penelitian dan pengembangan pertanian pada industri pupuk
hayati (Bio-fertilizers). Jurnal pertanian. 3(2): 1-14.

Sinambella, dkk. 2018. Biologi Umum.Medan: UNIMED.