Anda di halaman 1dari 21

Sarvadharma Mahasandhi Samantabhadra Bodhichitta

Vajra Kulaya Rāja Maha Tantraraja Nama Mahayana


Sutra

om namah śrī kulayarāja bodhicittam jina


om namah śrī vajrasattvāya

1
Bab 1
Paricaya

Demikianlah telah kudengar, pada suatu waktu, sang Raja Pencipta (kulayarāja),
sang Bodhicittavajra, sedang tinggal berdiam di Akanistha, pada dharma yang sama
seperti ruang angkasa, dharmadhatu yang seluas itu, di tempat dimana sifat alami
dari pikiran itu sendiri berada, di dalam gedung suci dari kesadaran murni, dimana
keberadaan-Nya (svabhava), intisari-Nya, belas kasih-Nya dan kesadaran murni-
Nya menciptakan rombongan makhluk dalam cara ini : Rombongan dari
keberadaan-Nya Sendiri dikenal sebagai Rombongan dari Tubuh Kenyataan Sejati
(dharmakāya). Rombongan dari intisari-Nya yang adalah perwujudan dari Tubuh
Kesenangan (sambhogakāya) dikenal sebagai Rombongan dari Tanah, Rombongan
dari Air, Rombongan dari Api, Rombongan dari Angin, dan Rombongan dari Ruang
Angkasa. Lebih lanjut, perwujudan dari belas kasih-Nya dan kesadaran murni-Nya
sebagai Rombongan dari Hasil Ciptaan (nirmāna) terjadi dalam cara ini :

Rombongan yang dikenal sebagai makhluk hidup dari alam nafsu (kāmaloka).
Rombongan yang dikenal sebagai makhluk hidup dari alam bentuk-rupa (rupaloka).
Rombongan yang dikenal sebagai makhluk hidup dari alam tiada bentuk-rupa
(arupaloka). Lebih lanjut, Rombongan yang sebanding dengan keberadaan-Nya
sendiri sesuai dengan empat yoga (caturyoga) : Rombongan dari Adiyoga.
Rombongan dari Anuyoga. Rombongan dari Mahayoga. Dan Rombongan dari
Bodhisattvayoga. Karena keberadaan-Nya, intisari-Nya, dan belas-kasih-Nya tidak

2
terpisah dari sifat alami-Nya, hanya ada satu cara (ekamopaya).

Lebih lanjut, para Rombongan itu menyadari keberadaan Dia sendiri sebagai
demikian : Rombongan yang tinggal berdiam di dalam Dia adalah para Buddha masa
lampau. Rombongan yang mencapai tujuan Dia adalah para Buddha masa sekarang.
Rombongan yang menghasilkan perbuatan Dia adalah para Buddha yang akan
datang. Karena Mereka tidak terpisah dari sifat alami-Nya, hanya ada satu cara.

Setelah itu, sang Kulayarāja, sang Bodhicitta, menyerap kedalam pikiran dan hati
dari semua Rombongan itu sehingga Mereka diberdayakan dengan Diri-Nya sendiri.
Dia lalu membuat kesadaran murni yang muncul dengan sendirinya
(svayambhuvimalajnana) itu menjadi terang. Untuk menganugerahkan segala
sesuatu dengan kenyataan, Dia lalu tinggal berdiam sebagai yang Satu di dalam titik
pusat (bindu) kekosongan (anusvara) setelah Dia menyatukan segala sesuatu
(sarvadharmasamyukta).

Setelah itu, Vajrasattva, yang tinggal berdiam melalui Dia di dalam titik pusat
kekosongan dari keberadaan-Nya, muncul keluar dari ini, dan duduk dengan pikiran
bergembira dan penampilan murni yang terang dihadapan sang Kulayarāja, sang
Bodhicitta.

Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta, berkata kepada Vajrasattva : "Aho !


Vajrasattva, Aho ! yang menghasilkan pikiran gembira, Aho ! yang menghasilkan
wajah yang murni dan terang, Aho ! Anda telah muncul keluar dari Saya !"

Setelah Dia berkata begitu, Vajrasattva menyapa-Nya : "Gurunya para Guru


(sastrsastra), Kulayarāja ! Apakah titik pusat kekosongan dari yang tiada gagasan
3
juga adalah Guru atas dirinya sendiri? Atau, apakah titik pusat kekosongan dari
yang tiada gagasan juga adalah keseluruhan dari Rombongan? Atau, apakah titik
pusat kekosongan juga adalah waktu dan tempat? Atau, Bagaimanakah Sastrsastra
mengajar jika segala sesuatu tinggal berdiam di dalam sifat alami dari titik pusat
kekosongan ini? Untuk tujuan apakah para Rombongan itu ber-pradaksina sebagai
Rombongan Anda? Mengapa Dharma diajarkan kepada Rombongan itu? Bagaimana
bisa waktu dan tempat adalah satu?"

Begitulah yang ditanyakannya. Setelah itu, sang Kulayarāja, sang Bodhicitta,


mengatakan kepada Vajrasattva petunjuk berikut ini : "Maha Bodhisattva,
arahkanlah pikiran Anda terhadap pengajaran ini. Saya akan menjelaskan artinya.
Vajrasattva, pikiran yang demikian itu, Saya, sang Kulayarāja, adalah pusat rahim
(garbha) dari segala sesuatu. Pusat Garbha ini, yang tanpa gagasan, adalah titik pusat
kekosongan yang ada sejak awal-mula (mula-bindu). Titik pusat kekosongan di
dalam ukuran terakhirnya adalah yang tanpa gagasan sejak awal-mulanya. Guru,
Ajaran, Rombongan, Waktu dan Tempat, mereka muncul keluar dari Saya sebagai
titik pusat kekosongan yang ada sejak awal-mula. Keberadaan Saya dikenal sebagai
titik pusat kekosongan."

Begitulah yang sang Kulayarāja, sang Bodhicitta katakan.

4
Bab 2
Sarvadharmadrsta

Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta, memasuki Samadhi yang bernama


"Segala Sesuatu Muncul Keluar Dari Diri-Nya (sarvadharmodgahati nāma
samādhim)".

Kemudian Vajrasattva bangkit dari keberadaan dari Rombongan itu dan, datang
mendekat dengan wajah tersenyum kepada sang Guru, sang Kulayarāja, sang
Bodhicitta, bertanya kepada-Nya dan duduk : "Sastrsastra, Kulayarāja ! Karena Saya
dalam cara yang terpadu hadir di dalam Rombongan Anda, lalu apa tujuan dari
keberadaan Saya? Tolong ajarkanlah tujuan dari keberadaan Saya!"

Begitulah yang dia katakan. Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta, mengatur
segala sesuatu berdasarkan keberadaan-Nya, intisari-Nya, dan belas kasih-Nya.
Yang dari satu kesadaran yang muncul dengan sendirinya, lima kesadaran yang
muncul dengan sendirinya datang, yaitu :

Maha Svayambhujnana yang dikenal sebagai Kebencian (dvesa), Kemelekatan


(rāga), Angan-angan khayalan (moha), Iri (irshya), Kebanggaan (māna). Kelima
kesadaraan yang muncul dengan sendirinya ini menghasilkan lima yang besar
sebagai penyebab dari penghiasan. Dia mendirikan tiga alam yang besar sebagai
wadah dari apa yang bisa hancur. Bahwa penyebab dari penghiasan memperoleh
lima bentuk sebagai satu, yaitu : Ada bentuk dari tanah sebagai penyebab dari

5
penghiasan. Ada bentuk dari air sebagai penyebab dari penghiasan. Ada bentuk dari
api sebagai penyebab dari penghiasan. Ada bentuk dari angin sebagai penyebab dari
penghiasan. Ada bentuk dari ruang angkasa sebagai penyebab dari penghiasan.
Semua bentuk ini diperoleh sebagai yang satu.

Kelima kesadaran diatur sesuai dengan Lima Keluarga : Keluarga dari kesadaran
yang muncul dengan sendirinya dari kebencian. Keluarga dari kesadaran yang
muncul dengan sendirinya dari kemelekatan. Keluarga dari kesadaran yang muncul
dengan sendirinya dari angan-angan khayalan. Keluarga dari kesadaran yang muncul
dengan sendirinya dari iri. Keluarga dari kesadaran yang muncul dengan sendirinya
dari kebanggaan. Penampilan yang indah dari bentuk dari keluarga yang terhubung
dengan lima kesadaran yang muncul dengan sendirinya itu didirikan sebagai
kenyataan dari mereka yang diberkati dengan tubuh. Karena kenyataan di dirikan
sesuai dengan keberadaan-Nya, sang Kulayarāja, sang Bodhicitta, bahkan tinggal
berdiam di dalam cara ini.

Kemudian Vajrasattva kembali lagi tinggal berdiam di hadapan sang Kulayarāja,


sang Bodhicitta, dengan mengatakan : "Guru, Kulayarāja ! Dari kesadaraan yang
muncul dengan sendirinya, satu dengan pikiran Anda, lima bentuk dari kesadaraan
yang muncul dengan sendirinya datang. Kulayarāja, apakah alasan untuk ini, kelima
kesadaran yang muncul dengan sendirinya itu mengambil lima bentuk?"

Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta, menjelaskan lebih lanjut : "Maha


Bodhisattva, ini anda harus ketahui: Selain Saya, sang Kulayarāja, sang Pencipta
(srastr), tiada pencipta lain. Tiada seorangpun selain Saya yang menciptakan
kenyataan. Tiada seorangpun selain Saya yang menciptakan perwujudan dari Tiga

6
Tubuh (Trikaya : Dharmakaya, Sambhogakaya, Nirmanakaya). Tiada seorangpun
selain Saya yang menciptakan rombongan berjumlah besar itu. Tiada seorangpun
selain Saya yang menciptakan yang sungguh apa adanya (tathātā) di dalam
kenyataannya. Vajrasattva, oleh Saya, anda ada ! Saya akan memperlihatkan kepada
anda keberadaan Saya. Keberadaan Saya memiliki tiga aspek. Keberadaan Saya
adalah pikiran dari kemurnian yang sempurna. 'Kemurnian' adalah yang diajarkan
menjadi sifat alami dari yang terang di dalam tiga aspeknya dari keseluruhan.
'Kesempurnaan' adalah yang diajarkan menjadi sifat alami dari yang terang seperti
meliputi tiga sebab (1.kesadaran murni yang muncul dengan sendirinya, 2.lima
kesadaran, 3.lima unsur.). Yang terang adalah yang menyerap meliputi semua sama
seperti ruang angkasa. Sifat alami dari yang dinamakan 'Pikiran' diajarkan sebagai
yang tanpa penghentian, yang menyerap meliputi semua, penguasa yang
menciptakan semua. Segala sesuatu diciptakan, semua di hasilkan di dalam pikiran
dari kemurnian yang sempurna."

Begitulah yang Dia ucapkan.

7
Bab 3
Sarvadharmamula

Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta, berbicara tentang bagaimana telah


menjadi di masa lampau sebagai Kulayarāja : "Maha Bodhisattva, fokuskan pikiran
anda untuk mendengar perkataan melalui kebajikan dari mendengar. Saya adalah
Kulayarāja. Saya adalah Bodhicitta, sang Pencipta semua. Jika Saya tidak ada di
masa lampau, tidak ada Garbha untuk segala sesuatu bermula. Jika Saya tidak ada
di masa lampau, tiada Penguasa yang menciptakan segala sesuatu. Jika Saya tidak
ada di masa lampau, tiada seorangpun yang menjadi Guru dari sejak permulaan. Jika
Saya tidak ada di masa lampau, tiada seorangpun yang mengajar dari sejak
permulaan. Jika Saya tidak ada di masa lampau, yang dikenal sebagai Rombongan
tidak akan ada dari sejak permulaan. Vajrasattva, janganlah ragu. Juga, anda, Maha
Bodhisattva, adalah berasal dari Saya."

Begitulah yang Dia ucapkan.

Kemudian Vajrasattva menyapa sang Kulayarāja, sang Bodhicitta : "Kulayarāja,


Bodhicitta ! Anda adalah Yang Besar sejak permulaan. Karena Anda, sang pencipta
Guru, Ajaran, dan Rombongan, juga segala sesuatu, telah membuat mereka,
bagaimanakah segala sesuatu menjadi ada? Itu terlihat bahwa Anda, sang Pencipta,
telah membuat mereka. Lalu apakah satu Guru telah muncul atau banyak? Apakah
satu Ajaran atau banyak? Apakah Rombongan itu satu atau banyak?"

8
Begitulah yang dia tanyakan.

Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta kembali berbicara : "Ah ! kesadaran


murni yang muncul dengan sendirinya, satu-satunya Guru atas semua, muncul
sebagai tiga aspek dari keberadaan Saya. Sehubungan dengan jumlah Guru, mereka
menjadi ada sebagai tiga. Karena Saya adalah tathātā, kenyataan dari segala sesuatu
adalah tathātā ini. Tiada apapun selain Saya, sang Bodhicitta. Dari Saya, muncul
keluar tiga bentuk Guru dari perwujudan yang mengajar Rombongan itu tiga bentuk
dari Ajaran. Intisari Saya telah berwujud sebagai satu, dan karena keberadaan Saya
diumumkan sebagai yang satu, semua adalah satu seperti Rombongan Saya. Namun,
Rombongan dari para Guru, walaupun muncul keluar dari Saya, adalah yang dari
tiga bagian."

Begitulah yang Dia ucapkan.

Vajrasattva bertanya : "Sastrsastra, Kulayarāja ! Dari Anda, tiga bentuk Guru dari
perwujudan muncul keluar, namun, adakah jalan untuk para makhluk hidup ke
tingkat Anda atau tidak? Jika tidak, bisakah orang mencapai tingkat Anda atau tidak?
Jika begitu, apakah orang mencapainya melalui perkembangan atau melalui tanpa
perkembangan?"

"Dengarlah Maha Bodhisattva ! Tiga bentuk Guru dari perwujudan muncul keluar
dari Saya, namun tiada jalan yang anda bisa maju menuju tingkat Saya. Saya telah
memperlihatkan kesadaran murni yang muncul dengan sendirinya. Namun semua
Buddha dari tiga masa waktu telah mengajar Rombongan itu, terhubung dengan Tiga
9
bentuk Guru dari perwujudan, Jalan Semesta, Jalan menuju pembebasan dalam lima
tingkat. Lima tingkat dari lima kesadaran murni yang muncul dengan sendirinya
adalah Kemelekatan, Kebencian, Angan-angan khayalan, Kebanggaan, Iri. Ini
adalah Jalan Semesta. Lima aspek dari kesadaran murni yang muncul dengan
sendirinya."

Begitulah yang Dia ucapkan (ity aha vaca).

"Sastrsastra, Kulayarāja ! Jelaskanlah secara terperinci menurut kesadaran murni


yang muncul dengan sendirinya. Bagaimana telah menjadi dikenal sebagai yang
muncul dengan sendirinya (svayambhu)? Apa persamaan arti dari istilah kesadaran?
Apa yang diberikan sebagai arti dari jalan? Saya memohon Anda untuk menjelaskan
secara terperinci arti dari Lima Jalan mengenai Lima Aspek yaitu: Kemelekatan,
Kebencian, Angan-angan khayalan, Kebanggaan, Iri!"

Begitulah yang dia tanyakan.

"Maha Bodhisattva ! Sehubungan dengan Jalan dari Lima Aspek dari kesadaran
murni yang muncul dengan sendirinya, 'Yang muncul dengan sendirinya
(svayambhu)' adalah yang tanpa sebab dan kondisi; 'Kesadaran murni (vimalajnana)'
adalah yang terang di dalam tiada penghentian; Tidak ada alasan untuk meneruskan
di jalan ini, karena itu tanpa sebab dan kondisi. Lima Svayambhu itu dikenal sebagai
Lima Jalan dimana orang tidak bisa maju berkembang. 'Keinginan' adalah
menginginkan hal untuk diri sendiri; 'Kemelekatan' adalah mendambakan yang
mana yang diinginkan untuk diri sendiri; 'Pikiran' adalah sifat alami dari yang tidak
dilahirkan; Dan 'Murka' adalah membenci keanekaragamannya yang ajaib; 'Angan-

10
angan khayalan' adalah tidak mencapai kejelasan tentang pembagian dari kesamaan
dan kenyataan melalui bermeditasi pada yang tiada gagasan. Saya adalah Pikiran
Yang Tidak Pernah Salah Dari Kemurnian Sempurna. Di dalam Tathatā ini, Saya
adalah Yang Berkuasa Dari Sejak Permulaan (muladipati). Karena segala sesuatu
adalah Satu di dalam Tathatā, menghargai dan merendahkan keberadaan dan
ketiadaberadaan akan menciptakan perasaan iri. Ini adalah penjelasan tentang Lima
Jalan yang mana tiada kemajuan."

"Maha Bodhisattva, dengarlah ! Segala sesuatu, dalam cara kemunculannya, datang


keluar dari Lima Jalan dari kesadaran murni yang muncul dengan sendirinya ini.
Alam nafsu keinginan (kamaloka) adalah kesadaran murni yang muncul dengan
sendirinya. Demikian juga alam bentuk-rupa, juga alam tiada bentuk-rupa. Karena
Saya sang Kulayarāja telah menciptakannya, segala sesuatu yang dibuat oleh Saya
dikenal sebagai intisari dari kesadaran murni. Bahwa semua makhluk hidup dari
enam jenis di dalam Triloka adalah bukan kesadaran murni yang muncul dengan
sendirinya, yang demikian itu Saya tidak pernah mengumumkan. Lebih lanjut, Saya
tidak mengatakan bahwa pikiran dari kemurnian sempurna adalah bukan leluhur dari
semua Buddha. Saya, sang sifat alami dari Kulayarāja, adalah diumumkan sebagai
tiga aspek dari kenyataan. Kenyataan yang tidak dilahirkan itu tidak sungguh
muncul, dijelaskan sebagai alam tiada bentuk-rupa (arupadhatu). Sehubungan
dengan keajaiban dari keberadaan sebagai bentuk-rupa, itu diajarkan sebagai alam
bentuk-rupa (rupadhatu). Belas-kasih datang keluar sebagai intisari dari kesadaran
murni, belas-kasih menjadi terwujud sebagai alam nafsu keinginan (kamadhatu) agar
untuk menghabiskan karma dari keberuntungan yang baik dan sakit melalui belas-
kasih."

11
Bab 4

Kulayarājanama Parivartah

Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta membicarakan tentang Kenyataan dari


Nama untuk Keberadaan-Nya Sendiri.

"Maha Bodhisattva, dari sejak permulaan, Saya adalah Svayambhuvimalajnana.


Dari sejak permulaan, Saya adalah pusat Garbha dari segala sesuatu. Saya adalah
Kulayarāja, sang Bodhicitta. Seorang Bodhisattva harus memahami nama Saya. Jika
Bodhisattva mengenali nama Saya, dia akan memahami segala sesuatu tanpa
kecuali. Saya disebut Garbha, karena Saya adalah pusat Garbha dari segala sesuatu.
Saya disebut Svayambhu, karena Saya sepenuhnya melampaui perjuangan dan
pencapaian, dan sebagai pusat Garbha, Saya bebas dari sebab dan kondisi. Saya
disebut Kesadaran Murni (Vimalajnana), karena melalui kebajikan dari yang tiada
berhenti dan yang tiada noda, Saya adalah Guru dari segala sesuatu. Saya dikenal
sebagai Bodhicitta. Arti dari 'sejak permulaan' adalah bahwa Saya ada langsung dari
awal. 'Segala sesuatu' dikatakan karena semua Guru adalah di dalam Kenyataan, dan
demikian juga semua Ajaran, dan Rombongan, tempat adalah Kenyataan, tiada satu
hal pun yang tidak di dalam Kenyataan. Kenyataan ini yang disebut Rahim bagin
dalam (antahgarbha) adalah Antahgarbha yang menghasilkan segala sesuatu."

"Di dalam keberadaan dari Bodhicitta, Tiga Guru juga muncul dari itu, Tiga Ajaran
juga muncul dari itu, dan Rombongan di dalam tempat dan waktu juga muncul.
Karena segala sesuatu muncul dari itu, Itu dinamakan pusat Garbha."

"Tentang Saya sebagai pusat Garbha dari pikiran itu sendiri, Saya telah menciptakan
12
segala sesuatu tanpa kecuali. 'Semua' dikatakan sehubungan dengan semua hal atau
segala sesuatu. 'Segala sesuatu' adalah apapun yang bisa diketahui sebagai Guru,
Ajaran, Rombongan, Tempat, dan Waktu. 'Menciptakan' adalah Saya disebut
Penguasa ciptaan (prajānātha). Karena Saya telah menciptakan Guru, Ajaran,
Rombongan, Tempat, dan Waktu, Saya adalah Penguasa kesadaran murni yang
muncul dengan sendirinya (svayambhūvimalajnananatha). Saya disebut Penguasa
Tertinggi (adhipāti) karena Saya mengungguli segala sesuatu sebagai sang Pencipta
segala sesuatu dan sebagai Antahgarbha dari kesadaran murni yang muncul dengan
sendirinya."

"Arti dari 'Kemurnian' adalah Pusat Garbha dari Bodhicitta. Melalui cara dari Yang
muncul dengan sendirinya (svayambhu) yang adalah yang murni sejak awal-mula,
sang Kulayarāja menciptakan segala sesuatu. Karena Saya adalah yang murni di
dalam yang sepenuhnya sempurna tanpa noda, Saya dikenal sebagai sang Murni
(śuddha). 'Sempurna' dikatakan dalam hal ini : disebabkan oleh pusat Garbha dari
Svayambhūvimalajnana yang muncul atau ada, ringkasnya, yang hidup dan yang
tidak hidup, seperti semua Buddha dari tiga masa waktu, dan enam jenis makhluk
hidup di dalam tiga alam (triloka), adalah secara luas didirikan dan sepenuhnya
disempurnakan di dalam Tathatā. Oleh karena itu, Saya disebut Diri yang sempurna
(svamoghah)."

"Arti dari 'Pikiran' adalah : Pusat Garbha dari Svayambhūvimalajnana melihat


dengan kekuatan pada yang bisa hancur di dalam semua yang ada sebagai yang hidup
dan yang tidak hidup. Dengan begitu, itu dikenal sebagai Pikiran. Pusat Garbha yang
tanpa sebab dan tanpa kondisi menjalankan kekuasaan atas segala sesuatu, dan
menciptakan semua. Maha Bodhisattva, jika anda memahami keberadaan Saya, anda
juga akan memahami semua para Guru, dan semua Ajaran; anda akan memahami
13
pikiran dari para Rombongan itu, dan bahwa keseluruhan dari tempat dan waktu
telah menjadi satu. Karena Saya adalah semua dan segala sesuatu, anda akan
memahami segala sesuatu jika memahami keberadaan Saya. Oleh karena itu, melalui
tanpa perjuangan, anda akan secara spontan menyempurnakan diri di dalam apa yang
sepenuhnya melampaui perbuatan tindakan, dan melampaui perjuangan dan
pencapaian."

Begitulah yang Dia ucapkan.

14
Bab 5

Artha

Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta mengajar Vajrasattva di dalam arti yang
ringkas dari Dharma tentang keberadaan-Nya.

"Dengarlah, Maha Bodhisattva, keberadaan Saya adalah demikian ini : svabhava-


Nya hanya satu. Ajaran-Nya diajarkan dalam dua aspek. Asal-mula-Nya
diungkapkan dalam sembilan kendaraan (navayāna). Penyatuan-Nya adalah
keutuhan pada 'kesempurnaan besar (adiyoga)'. Keberadaan-Nya yang jelas adalah
Bodhicitta. Keberadaan-Nya tinggal berdiam di dalam dharmadhātu. Cahaya terang-
Nya menyinari ruang angkasa kebijaksanaan. Luas-Nya mencakup seluruh dunia
makhluk hidup (sattvaloka) dan dunia benda tak hidup (bhajanaloka). Perwujudan-
Nya mewujudkan sebagai keseluruhan dari apa yang muncul dan yang ada.
Mengajarkan hal yang tidak memiliki tanda-tanda. Dengan melihatnya, orang akan
terbebas dari objek tanggapan penglihatan. Dengan mengetahuinya, orang tidak
akan berusaha mengungkapkannya melalui kata-kata."

"Intisari Garbha ini, yang tidak berasal dari sebab apapun, adalah yang terbebas dari
semua belenggu oleh cara-cara. Jika menginginkan pemahaman yang lengkap
tentang hal ini, orang harus mengambil ruang angkasa sebagai kiasan : tepatnya
adalah bahwa kenyataan adalah yang tidak dilahirkan, dan seperti ciri-ciri utama dari
pikiran yang adalah tanpa penghentian, sama seperti ruang angkasa demikian juga
kenyataan; Melalui cara dari ruang angkasa sebagai kiasan, itu di tunjukkan.
Kenyataan yang tidak terlihat diajarkan dengan menunjukkan yang tidak terlihat,
yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dijelaskan melalui yang tidak dapat
15
dijelaskan. Intisari dari yang tidak terlihat diajarkan sebagai hal utama dari ajaran
yang tergabung. Intisari dari makna ini diberikan dalam pembicaraan. Dengan
begitu, anda harus memahami makna tentang Saya. Dengan begitu, anda akan
dituntun untuk memahami makna tentang Saya. Jika anda tidak paham dengan
makna tentang Saya, anda tidak akan pernah bertemu Saya, walau betapa banyak
kata-kata yang anda telah pelajari. Jika anda menyimpang dari Saya, Saya akan
terselubung, dan oleh alasan ini, anda tidak akan memperoleh 'rahim dari dharma
(dharma-garbha)'."

Bab 6

Ekamula

Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta memberikan khotbah ini bahwa


kesempurnaan dari segala sesuatu bertumpu pada keberadaan-Nya :

"Maha Bodhisattva, dengarlah perkataan ini ! Saya adalah Kulayarāja, dan Saya
telah mengatur segala sesuatu dari sejak awal-mula. Saya membuat dharma menjadi
jelas. Saya akan memperlihatkan kepada anda intisari Saya. Setelah Saya
memperlihatkan kepada anda svabhava, Saya akan menunjukkan maknanya dalam
kata-kata, dan suara, dan anda akan mampu membayangkan intisari yang diajarkan
itu. Svabhava itu, ketika dijelaskan, anda akan memahaminya sebagai

huruf A . Melalui cara dari mengucapkan kata-kata ini, anda akan melihat
makna itu."

16
Begitulah yang Dia katakan, dan tidak mengatakan apapun lagi. Dia tinggal berdiam
di dalam intisari dari semua dharma. Oleh karena itu, Vajrasattva bangkit dari
tengah-tengah perkumpulan itu dan duduk dengan wajah yang serius dihadapan sang
Kulayarāja, sang Bodhicitta.

Sang Kulayarāja berkata : "Maha Bodhisattva, anda sedang duduk disini dihadapan
Saya dalam keseriusan. Bertanyalah apa yang anda ingin tanyakan!"

Vajrasattva bertanya : "Sastrsastra, Kulayarāja ! Jika segala sesuatu adalah


keberadaan anda, lalu bagaimana Anda mendirikan seperti para guru, ajaran, dan
rombongan? Apa itu keberadaan yang sempurna?"

Kemudian sang Kulayarāja, sang Bodhicitta mengucapkan kata-kata ini : "Maha


Bodhisattva, dengarlah ! dharma dibuat di dalam cara yang sempurna. Ini begitu,
karena Saya adalah sifat alami dari kesempurnaan. Saya akan memperlihatkan
kepada anda keberadaan Saya. Karena keberadaan Saya adalah yang tiada gagasan
dan yang tidak diciptakan, Saya telah membuat menjadi ada di dalam dharmadhatu.
Mereka tidak bertumpu pada apapun yang lain tetapi hanya pada Bodhicitta. Karena
keberadaan Saya adalah yang sempurna dan menyerap-meliputi semua, jangan
bertumpu pada apapun yang lain tetapi hanya pada kesadaraan yang muncul dengan
sendirinya (svayambhujnana) itu sendiri di dalam gedung kesadaran, yaitu ruang
angkasa. Karena Saya adalah pusat Garbha dari segala sesuatu yang datang menjadi
ada, yaitu lima unsur besar, triloka, enam jenis perpindahan : mereka tidak lain
adalah Tubuh, Ucapan dan Pikiran Saya. Saya telah mendirikannya sebagai
svabhava. Saya memperlihatkan kepada anda para Buddha dari tiga masa waktu dan

17
para makhluk hidup dari triloka sebagai keberadaan Saya. Karena intisari Saya
adalah yang tidak dilahirkan, dan yang tiada gagasan, ia tidak ada, namun
melampaui semua wilayah dari tanggapan penglihatan. Ia bahkan melampaui objek
dari Samadhi dan tidak menjadi jelas terlihat di dalam Dhyāna. Walaupun
keberadaan Saya tidak terlihat, Saya memperlihatkan intisari Saya kepada anda
sebagai tiga dunia (triloka : kāmaloka, rūpaloka, arūpaloka), lima unsur besar
(pancamahadhātu : tanah, air, api, angin, ruang angkasa), dan enam jenis
perpindahan makhluk hidup (sadgati : devagati, manusyagati, asuragati,
tiryagonigati=hewan, pretagati=makhluk halus kelaparan, narakagati=makhluk di
neraka). Dari lima unsur itu yang adalah keberadaan Saya yang jelas, yaitu
Bodhicitta, datang lima kesadaran Svayambhu yang kuat. Lima kesadaran ini
menghasilkan lima objek nafsu. Lima nafsu gairah ini mendatangkan hasilnya
masing-masing yang muncul sebagai enam jenis perpindahan makhluk hidup. Saya
mengajarkan anda kemunculan seperti itu."

"Bahkan jika Saya mengajarkan kepada anda tiga bentuk dari perwujudan, dan enam
kendaraan (sadyana), anda tidak akan memahaminya. Masing-masing itu diberkahi
dengan keberadaan sejati Saya di dalam bentuk tersendiri, dan masing-masing itu
adalah 'pendorong (hetú)' Saya di dalam bentuk tersendiri seperti tubuh, ucapan, dan
pikiran. Hetú tersendiri itu membiarkan anda melihat seluruhnya. Dalam cara seperti
itu, keberadaan Saya diajarkan. Saya, sang Bodhicitta, sang intisari dari semua yang
murni, memunculkan dari Saya permainan dari triloka, dan enam jenis perpindahan
dari makhluk hidup, karena Saya menggerakkan bidang dari yang tiada gagasan
pikiran, dan Saya adalah tempat kediaman besar (mahāsthāna) dari semua Buddha.
Secara khusus Saya mengajarkan bahwa, jika anda tidak keliru tentang kemurnian
itu, semua tindakan dari kebahagiaan dan penderitaan adalah belas kasih Saya. Saya,

18
sang Kulayarāja, tidak akan mengajarkan pengetahuan seperti itu kepada mereka
yang melekat pada kendaraan dari sebab dan hasil. Jika Saya mengajarkan kepada
mereka pengetahuan Saya sebagai yang pasti, mereka akan membuang pujian dan
menfitnah Saya, sang semua kemurnian (sarvaśuddho), seperti mereka menegaskan
bahwa sebab dan hasil menjadi ada dikarenakan oleh tindakan yang baik dan buruk.
Karena alasan ini, mereka tidak akan bertemu Saya, sang Sarvaśuddho, untuk waktu
yang lama. Saya adalah sang Guru, sang Kulayarāja, sang Bodhicitta. Bodhicitta
adalah Kulayarāja. Bodhicitta menciptakan para Buddha dari tiga masa waktu.
Bodhicitta menciptakan para makhluk hidup dalam triloka ini. Bodhicitta
menciptakan segala sesuatu yang muncul dan yang ada di sattvaloka dan
bhajanaloka."

"Dengan membawa sebab, hasil, persamaan, tujuan, dan pengartian kedalam


kesesuaian, pada waktu dari sebab, lima unsur besar diciptakan; pada waktu dari
hasil, para makhluk hidup di triloka diciptakan; pada waktu dari persamaan, ruang
angkasa sebagai persamaan dari segala sesuatu diciptakan; pada waktu dari arti, yang
tidak dilahirkan dibuat oleh Saya sebagai arti dari segala sesuatu; pada waktu dari
tanda Bodhicitta - pada waktu dari pengartian, kesadaran yang muncul dengan
sendirinya diajarkan. Ini adalah bagaimana sebab, hasil, persamaan, maksud, dan
pengartian dibawa kedalam kesesuaian."

"Melalui Bodhicitta, semua diciptakan. Tiada satupun yang tidak dibuat melalui-
Nya. Svabhava sang Bodhicitta telah membuat semua, dan tidak satupun yang bukan
dibuat melalui-Nya; Tiada alasan untuk Diri-Nya sendiri diciptakan. Svabhava Saya,
sang Kulayarāja, adalah melampaui pengartian kesadaran, namun Saya disadari
dengan kepastian di dalam dharma yang Saya telah ciptakan. Melalui cara dari nafsu

19
pendambaan, penampilan [dari dharma] tercapai, namun itu akan binasa dikarenakan
oleh sifa alaminya yang tidak abadi dan yang ditimbulkan oleh khayalan, sifat alami
yang tidak memihak dan sama seperti orang yang terlahir buta. Walaupun sang
Kulayarāja tidak memihak di dalam penciptaan, indera menjadi terrintangi saat
mengalami penderitaan ketika enam objek tujuan indera disadari melalui enam
indriya. Untuk alasan ini, sang Kulayarāja, adalah tidak memihak didalam
penciptaan. Jadi, tiada hasil yang ada yang mampu membinasakan penghentian dan
asal-mula. Tentu saja, dua kebenaran muncul dari ini. Yang terakhir dan yang biasa
muncul sebagai dua, keberadaan dan tiada keberadaan, walaupun kenyataan
diciptakan oleh Saya, sang Kulayarāja. Oleh karena itu, dua kebenaran (satyadvaya)
itu tidak mengarah pada penanggulangan sebab dan hasil. Didalamnya, tiada hasil
yang mengarah pada mengatasi sebab dan hasil. Melalui usaha perenungan yang
demi memurnikan dan mencari apa yang belum ada dan di dalam meditasi dari
langkah yang menakjubkan, yang tidak akan pernah muncul, anda tidak akan
mencapai hasil yang terbebas dari pengejaran dan penolakan. Yang merenungkan
tiga aspek dari meditasi yang terpusat pada satu tujuan, dan yang melaksanakan
meditasi tahap demi tahap sesuai dengan empat praktek Dharma dan menimbulkan
Dewa, tidak akan mencapai hasil yang mengatasi perjuangan dan pencapaian, yaitu,
yang sepenuhnya terbebas dari kegiatan dan yang bertindak karena itu secara
spontan tersempurnakan dengan sendirinya. Karena Saya mengajar 'yang tidak
dilahirkan (anutpanna)', 'yang tiada tanda (animitta)', 'yang tiada diri (anātma)', anda
harus memahami yang tidak dapat dijelaskan itu sebagai yang terbebas dari pujian
dan tiada pujian."

20
"Perumpamaan untuk segala sesuatu menjadi Bodhicitta adalah bahwa semua yang
diciptakan adalah yang keberadaan diri mereka sendiri sama seperti ruang angkasa;
Ini adalah hal utama dari Bodhicitta. Ruang angkasa, angin, air, tanah, dan api, lima
unsur ini muncul secara ajaib dari Bodhicitta sebagai para Buddha, tiga dunia
(triloka), lima jalan, dan enam jenis makhluk hidup. Yang jelas kelihatan, namun
sang Aksobhya Buddha yang perbuatan-Nya termatangkan dengan baik adalah yang
dari sejak permulaan sang Bodhicitta dari triloka di dalam tubuh, ucapan, dan
pikiran. Oleh karena itu, apapun yang muncul sebagai yang hidup dan yang tidak
hidup memiliki akibat tiada tempat untuk berada, sama seperti pusat ruang angkasa.
Dikarenakan oleh cakupan yang luas dari Bodhicitta sebagai objek yang sebenarnya,
semua yang muncul dan yang ada sebagai yang hidup dan yang tidak hidup, para
Buddha dan makhluk hidup, adalah yang terbebas dari pujian dan tiada pujian,
adalah yang tiada mendua karena semua adalah kenyataan yang sepenuhnya murni.
Yang tidak melihat pikiran sebagai 'Garbha dari tiada keberadaan' tidak akan
mencapai tujuan selama kalpa. Akar dari segala sesuatu adalah Bodhicitta itu sendiri.
Garbha dari Bodhicitta yang darimana segala sesuatu muncul, para Buddha, para
makhluk hidup, semua yang muncul dan yang ada sebagai yang hidup dan yang tidak
hidup, tidak bisa diungkapkan melalui menghitung apa yang tidak bahkan satu. Juga,
tubuh dan ucapan Buddha, dan, tubuh dan ucapan makhluk hidup, adalah sang
Bodhicitta, dan oleh karena itu, terbebas dari subjek dan objek. Yang mencapai
pembebasan dari subjek dan objek akan menguasai akar dari segala sesuatu, menjadi
Yang menyelesaikan semua. Dengan kegembiraan, orang akan mengakui
pemahaman dari pikiran, keunikan dari Bodhicitta. Saya mengajarkan apa yang
melampaui 'perhitungan dan dualitas'.

21