Anda di halaman 1dari 24

Case Sulit

OD Ablasi Retina

Pembimbing:
dr.Dewi Prita Dharmastuti, Sp.M

Disusun oleh:
Tristi Lukita Wening
11.2016.238

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT MATA YAP
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 5 NOVEMBER 2018 – 8 DESEMBER 2018
STATUS ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT MATA YAP, YOGYAKARTA
OD ABLASI RETINA

Nama : Tristi Lukita Wening


NIM : 11.2016.238
Dr. Pembimbing : dr. Dewi Prita Dharmastuti, Sp.M

I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Tn. TAS
Umur : 13/07/1967 (51 Tahun)
Agama : Islam
Alamat : Karang Malang blok A 10A Catur Tunggal, Depok, Sleman
Status : Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
No. RM : 00525025

II. ANAMNESIS

Anamnesis secara : Autoanamnesis pada tanggal 23 November 2018

Keluhan Utama : Mata kanan terasa gelap sekitar 3 bulan yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang

Sejak 3 bulan yang lalu, mata kanan pasien terasa gelap. Pada awalnya, pasien
mengatakan bahwa sebelum mata kanan pasien terasa gelap, pasien merasa mata kanannya
sering mengeluarkan air mata tetapi mata tidak merah dan tidak juga gatal, keluhan tersebut
dirasakan 2 hari. Setelah keluhan air mata menghilang pasien merasa mata kanannya setengah
gelap dan setengah terang pasien merasa prosesnya secara tiba-tiba. Pasien menyangkal
melihat titik hitam yang bertebangan di depannya. Keluhan ini tidak diikuti dengan gejala lain
yaitu cahaya terang seperti kilat terutama, pasien mengatakan penglihatan pasien membaik
ketika pagi hari dan di tempat dengan penerangan yang cukup. Pasien juga pernah
memeriksakan matanya ke Rumah Sakit Condong Catur dan di rujuk ke Rumah Sakit Mata
Yap. Mata kiri tidak dikeluhkan oleh pasien, tapi pasien pernah memeriksakan mata kirinya di
Rumah Sakit Condong Catur dan diberikan resep kacamata min pasien mengaku lupa ukuran
kacamatanya berapa dan sampai sekarang pasien tidak pernah memeriksakan untuk
kecamatanya.

2 hari kemudian, pasien dating ke Rumah Sakit Mata yap dan dirujuk ke dokter spesialis
retina. Pada saat berobat ke dokter, pasien diberikan beberapa obat yaitu obat tetes flamar.

Pasien tidak memiliki riwayat trauma pada mata kanannya. Pasien juga tidak memiliki
riwayat kelainan pada mata lainnya seperti glaucoma ataupun katarak sebelumnya. Tidak ada
riwayat operasi sebelumnya. Pasien juga tidak memiliki kebiasaan merokok ataupun minum
alcohol sebelumnya.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien memiliki riwayat hipertensi. Menurut pasien, pasien mengetahui bahwa dirinya
memiliki hipertensi sejak sekitar 2 tahun yang lalu. Pasien sering melakukan kontrol dengan
dokter Penyakit Dalam setelah mengetahui adanya hipertensi. Pasien tidak memiliki riwaya
asma,dan Diabetes Melitus
.
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat penyakit mata. Tidak ada riwayat
tekanan darah tinggi ataupun kencing manis pada keluarga pasien.

III. PEMERIKSAAN FISIK

A. VITAL SIGN

Tekanan dara h : 110/70 mmHg


Nadi : 86 kali/menit
Pernafasan : 20 kali/menit
Suhu : 36.3 ᵒC
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Berat Badan : 59 Kg
Tinggi Badan : 157 cm
B. STATUS OFTALMOLOGI

KETERANGAN OKULO DEXTRA (OD) OKULO SINISTRA (OS)

1. VISUS
Tajam Penglihatan 1/300 6/18, tidak di pinhole
Axis Visus Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Addisi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Distansia Pupil Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Kacamata Lama Tidak ada Tidak ada

2. KEDUDUKAN BOLA MATA


Eksoftalmos Tidak ada Tidak ada
Enoftalmos Tidak ada Tidak ada
Deviasi Tidak ada Tidak ada

3. SUPERSILIA
Warna Hitam Hitam
Simetris Simetris Simetris

4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR


Edema Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Ektropion Tidak ada Tidak ada
Entropion Tidak ada Tidak ada
Blefarospasme Tidak ada Tidak ada
Trikiasis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Fissura palpebra Normal Normal
Tes Anel Tidak dilakukan Tidak dilakukan

5. KONJUNGTIVA TARSALIS SUPERIOR DAN INFERIOR


Hiperemis Tidak ada Tidak ada
Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Hordeolum Tidak ada Tidak ada
Kalazion Tidak ada Tidak ada

6. KONJUNGTIVA BULBI
Sekret Tidak ada Tidak ada
Injeksi Konjungtiva Tidak ada Tidak ada
Injeksi Siliar Tidak ada Tidak ada
Pendarahan Tidak ada Tidak ada
subkonjungtiva
Pterigium Tidak ada Tidak ada
Pinguekula Tidak ada Tidak ada
Nevus Pigmentosus Tidak ada Tidak ada
Kista Dermoid Tidak ada Tidak ada

7. SKLERA
Warna Tidak hiperemis Tidak hiperemis
Ikterik Tidak ada Tidak ada
Nyeri Tekan Tidak ada Tidak ada

8. KORNEA
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Licin Licin
Ukuran Normal Normal
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Infiltrat Tidak ada Tidak ada
Keratik Presipitat Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Ulkus Tidak ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Arkus Senilis Tidak ada Tidak ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Tes Placido Tidak dilakukan Tidak dilakukan

9. BILIK MATA DEPAN


Kedalaman Dalam Dalam
Kejernihan Jernih Jernih
Hifema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Tidak ada Tidak ada
Efek Tyndall Tidak dilakukan Tidak dilakukan

10. IRIS
Warna Coklat kehitaman Coklat kehitaman
Kripte Tidak tampak kelainan Tidak tampak kelainan
Sinekia Tidak ada Tidak ada
Koloboma Tidak ada Tidak ada
11. PUPIL
Letak Ditengah Ditengah
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran Normal Normal
Refleks Cahaya Positif Positif
Langsung
Refleks Cahaya Tak Positif Positif
Langsung

12. LENSA
Kejernihan Jernih Jernih
Letak Ditengah Di tengah
Shadow Test Negatif Negatif

13. BADAN KACA


Kejernihan Tidak dilakukan Tidak dilakukan

14. FUNDUS OKULI


Batas Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Ekskavasio Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Rasio Arteri:Vena Tidak dilakukan Tidak dilakukan

C/D Ratio Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Makula Lutea Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Retina Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Eksudat Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Perdarahan Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Sikatriks Tidak dilakukan Tidak dilakukan


Ablasio Tidak dilakukan Tidak dilakukan

15. PALPASI
Nyeri Tekan Tidak ada Tidak ada
Massa Tumor Tidak ada Tidak ada
Tonometri Schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan

16. KAMPUS VISI


Tes Konfrontasi Menyempit Baik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Ultrasonografi. Digunakan untuk menilai segmen belakang mata. USG juga
dapat dilakukan untuk mengetahui kejernihan badan kaca, dan posisi retina serta
bagian subretina.
2. Oftalmoskop indirek untuk menilai segmen belakang mata, dan untuk
mengetahui adanya robekan pada retina.
3. Perimetri untuk melihat seberapa luas lapang pandang pasien.

V. RESUME
Seorang laki-laki berusia 51 tahun datang dengan keluhan mata terasa gelap sejak 3
bulan yang lalu. Keluhan gelap dirasakan secara tiba-tiba, 3 bulan yang lalu pasien mengatakan
bahwa sebelum matanya terasa gelap pasien mengeluhkan mata kanannya sering keluar air
tidak gatal dan tidak merah. Riwayat trauma disangkal, pasien memiliki hipertensi sekitar 2
tahun yamg lalu. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg. Pada
pemeriksaan fisik mata kanan didapatkan visus 1/300. Selain itu didapatkan hasil pemeriksaan
lapang pandang mata kanan yang menyempit.

VI. DIAGNOSIS KERJA


OD Ablasio Retina
VII. DIAGNOSIS BANDING
1. Retinopati Hipertensi
2. Oklusi vena retina

VIII. PENATALAKSANAAN
Rujuk spesialis mata untuk pengobatan lebih lanjut dan perencanaan operasi

IX. PROGNOSIS

KETERANGAN OKULO DEXTRA (OD) OKULO SINISTRA (OS)

Ad Vitam : dubia ad bonam dubia ad bonam


Ad Fungsionam : dubia ad malam dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad malam dubia ad bonam
Tinjauan Pustaka

Pendahuluan
Ablasio retina (retinal detachment) adalah pemisahan retina sensorik, yakni lapisan
fotoreseptor (sel kerucut dan batang) dan jaringan bagian dalam, epitel pigmen retina
dibawahnya. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran Bruch.
Antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan struktural dengan
koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk lepas secara
embriologis.
Biasanya ablasio retina terjadi pada usia 40-70 tahun. Prevalensi meningkat pada beberapa
keadaan seperti miopi tinggi, afakia/pseudofakia dan trauma. Traumatik ablasio retina lebih
sering terjadi pada orang muda, dan ablasio retina akibat miopia yang tinggi biasa terjadi pada
usia 25-45 tahun.
Pemisahan retina sensoris dari lapisan epitel retina disebabkan oleh tiga mekanisme dasar.
Tiga mekanisme dasar pemisahan retina sensoris dari lapisan epitel retina ialah :
1. Lubang atau robekan di lapisan saraf yang menyebabkan cairan vitreous masuk
dan memisahkan antara lapisan neuro retina dan lapisan epitel pigmen (Ablasio
retina regmatogenosa).
2. Traksi dari inflamasi dan membran fibrosa vaskular pada permukaan retina, yang
terikat pada vitreous (Ablasio retina traksional).
3. Pengeluaran eksudat kedalam ruang subretina. Eksudat ini berasal dari pembulu
darah retina, yang disebabkan oleh karena hipertensi, oklusi vena retina setralis,
vaskulitis, atau papiledema (Ablasio retina eksudatif).1

Epidemiologi
Diperkirakan prevalensi ablasio retina adalah 1 kasus dalam 10.000 populasi. Prevalensi
meningkat pada beberapa keadaan seperti miopia tinggi, afakia/pseudoafakia dan trauma. Pada
mata normal, ablasio retina terjadi pada kira-kira 5 per 100.000 orang per tahun di Amerika
Serikat. Insidens ablasio retina idiopatik berdasarkan adjustifikasi umur diperkirakan 12,5
kasus per 100.000 per tahun atau 28.000 kasus per tahun. Ablasio retina terjadi kira-kira 5-16
per 1000 kasus diikuti oleh penyebab operasi katarak, dan ini terdiri dari sekitar 30 - 40 % dari
semua ablasio retina yang dilaporkan. 1-3
Anatomi dan Fisiologi Bola Mata dan Retina
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian
depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan
2 kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh tiga jaringan yaitu sklera, jaringan
uvea, dan lapisan ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai
susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membrane neurosensoris yang akan
merubah sinar menjadi ransangan pada saraf optic dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga
yang potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang disebut
ablasi retina.4

Gambar 1. Anatomi bola mata1

Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima
rangsang cahaya. Retina merupakan selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan, dan
multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata. Retina
membentang ke depan hampir sama jauhnya dengan korpus siliaris, dan akhirnya di tepi ora
serrata. Pada orang dewasa, ora serrata berada sekitar 6,5 mm di belakang garis Schwalbe pada
sistem temporal dan 5,7 mm di belakang garis ini pada sisi nasal. Permukaan luar retina
sensorik bertumpuk dengan membrana Bruch, koroid, dan sklera. Retina menpunyai tebal 0,1
mm pada ora serrata dan 0,23 mm pada kutub posterior. Ditengah-tengah retina posterior
terdapat makula. Di tengah makula terdapat fovea yang secara klinis merupakan cekungan
yang memberikan pantulan khusus bila dilihat dengan oftalmoskop. Retina berbatas dengan
koroid dengan sel epitel pigmen retina dan terdiri atas lapisan: 1,4

1. Lapisan epitel pigmen


2. Lapisan fotoreseptor merupakan lesi terluar retina terdiri atas sel batang yang
mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucut.
3. Membran limitan eksterna yang merupakan membrane ilusi.
4. Lapisan nucleus luar, merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan batang.
5. Lapisan pleksiform luar merupakan lapis aselular dan merupakan tempat sinapsis sel
fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.
6. Lapis nucleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel Muller.
7. Lapisan pleksiform dalam, merupakan lapis aselular merupakan tempat sinaps sel
bipolar, sel amakrin dengan sel ganglion.
8. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua,
9. Lapis serabut saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju kearah saraf optik.
10. Membran limitan interna, merupakan membrane hialin antara retina dan badan kecil.

Retina mendapatkan suplai darah dari dua sumber yaitu koriokapiler yang
berada tepat di luar membrana Bruch, yang mensuplai sepertiga luar retina, termasuk
lapisan pleksiformis luar dan lapisan inti luar, fotoreseptor, dan lapisan epitel pigmen
retina, serta cabang-cabang dari arteri retina sentralis yang mensuplai dua per tiga
sebelah dalam.1,4
Gambar 2. Lapisan pada retina1

Mata berfungsi sebagai suatu alat optis, sebagai suatu reseptor kompleks, dan sebagai suatu
transduser yang efektif. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor mampu mengubah
rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh lapisan serat saraf retina
melalui saraf optikus dan akhirnya ke korteks penglihatan ossipital. Makula bertanggung jawab
untuk ketajaman penglihatan yang terbaik dan untuk penglihatan warna, dan sebagian besar
selnya adalah sel kerucut. Di fovea sentralis, terdapat hubungan hampir 1:1 antara fotoreseptor
kerucut, sel ganglionnya, dan serat saraf yang keluar, dan hal ini menjamin penglihatan yang
paling tajam. Di retina perifer, banyak fotoreseptor dihubungkan ke sel ganglion yang sama,
dan diperlukan sistem pemancar yang lebih kompleks. Akibat dari susunan seperti itu adalah
bahwa makula terutama digunakan untuk penglihatan sentral dan warna (penglihatan
fototopik) sedangkan bagian retina lainnya, yang sebagian besar terdiri dari fotoreseptor
batang, digunakan terutama untuk penglihatan perifer dan malam (skotopik). 1,4
Definisi
Ablasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang retina dengan
dari sel epitel retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran
Brunch. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan
structural dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial
untuk lepas secara embriologis.
Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang koroid atau sel pigmen epitel akan
mengakibatkan gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila berlangsung lama
akan mengakibatkan gangguan fungsi yang menetap. Ada tiga klasifikasi ablasio retina yaitu
ablasi retina regmatogenosa, ablasi retina eksudatif, ablasi retina traksi (tarikan). 4

1. Ablasi retina regmatogenosa


Pada ablasi retina regmatogenosa dimana ablasi terjadi akibat adanya
robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel
dengan retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreous)
yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina
sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid.
Ablasi ini terjadi pada mata yang mempunyai faktor predisposisi untuk
terjadi ablasi retina. Trauma hanya merupakan faktor pencetus untuk terjadinya
ablasi retina pada mata yang berpotensi. Mata yang berpotensi untuk terjadinya
ablasi retina adalah mata dengan miopia tinggi, pasca retinitis, dan retina yang
memperlihatkan degenerasi di bagian perifer, 50% ablasi yang timbul pada
afakia terjadi pada tahun pertama.
Antara gejala yang timbul adalah terdapatnya gangguan penglihatan
yang kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutup. Terdapatnya riwayat
adanya pijaran api (fotopsia) pada lapangan penglihatan. Ablasi retina yang
berlokalisasi di daerah superotemporal sangat berbahaya karenan dapat
mengangkat makula. Penglihatan akan turun secara akut pada ablasi retina bila
dilepasnya retina mengenai makula lutea.
Pada pemeriksaan fundoskopi akan terlihat retina yang terangkat
berwarna pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya robekan
retina berwarna merah. Bila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas
(ablasi) bergoyang. Kadang-kadang terdapat pigmen di dalam badan kaca. Pada
pupil terlihat adaya defek aferen pupil akibat penglihatan menurun. Tekanan
bola mata rendah dan dapat meninggi bila terjadi neovaskular glaucoma pada
ablasi retina adalah pembedahan. Sebelum pembedahan, pasien dirawat dengan
mata ditutup. Pembedahan dilakukan secepat mungkin dan sebaiknya antara 1-
2 hari.
Pengobatan ditujukan untuk melekatkan kembali bagian retina yang
lepas dengan diatermi dan laser. Diatermi ini dapat berupa Diatermi permukaan
(surface diathermy) atau diatermi setengah tebal sklera (partial penetrating
diatermy) sesudah reseksi sklera. Hal ini dapat dilakukan dengan atau tanpa
mengeluarkan cairan subretina. Pengeluaran dilakukan di luar daerah reseksi
dan terutama di daerah di mana ablasi paling tinggi. Implan diletakkan di dalam
kantong sklera yang sudah direseksi yang akan mendekatkan sklera dengan
retina dan mengakibatkan pengikatan yang terlokalisir. Sabuk (band) yang
melingkar pada bola mata merupakan tindakan yang mulai popular karena
memperbaiki prognosis dan mobilisasi yang cepat. Komplikasi dari operasi
dapat terjadi miosis, edema kornea, pendarahan orbital, penetrasi ocular dan
injeksi intra-arteri.4

2. Ablasi retina eksudatif


Ablasi retina eksudatif adalah ablasi retina yang terjadi akibat
tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan
cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan
koroid (ekstra vasasi). Hal ini disebabkan penyakit koroid. Kelainan ini dapat
terjadi pada skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, radang uvea, idiopati,
toksemia gravidarum. Cairan di bawah retina tidak dipengaruhi oleh posisi
kepala. Permukaan retina yang terangkat terlihat cincin. Penglihatan dapat
berkurang dari ringan sampai berat. Ablasi ini dapat hilang atau menetap
bertahun-tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang. 4

3. Ablasi retina traksi (tarikan)


Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan
parut pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasi retina dan penglihatan
turun tanpa rasa sakit. Pada badan kaca, terdapat jaringan fibrosis yang dapat
disebabkan diabetes mellitus proliferatif, trauma akibat bedah atau infeksi.
Pengobatan ablasi akibat tarikan di dalam kaca dilakukan dengan melepaskan
tarikan jaringan parut atau fibrosis di dalam badan kaca dengan tindakan yang
disebut sebagai vitrektomi.4

Etiologi dan Faktor Resiko


Etiologi yang terkait dengan ablasio retina adalah miopia , katarak removal, dan trauma.
Sekitar 40 - 50 % dari semua pasien dengan ablasio retina memiliki miopia. Ablasio retina
yang berhubungan dengan miopia cenderung terjadi pada pasien berusia 25 - 45 tahun,
sementara non-miopia cenderung terjadi pada orang tua. Pasien dengan miopia tinggi ( > 6 D
), lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan, memiliki resiko seumur hidup 5 %
dari ablasio retina. Ablasio retina terjadi kira-kira 5-16 per 1000 kasus diikuti oleh penyebab
operasi katarak, dan ini terdiri dari sekitar 30 - 40 % dari semua ablasio retina yang dilaporkan.
Faktor-faktor resiko yang terkait dengan ablasio retina dalam katarak removal yang tidak
disengajakan (accidental) adalah posterior kapsul pecah pada saat operasi, usia muda, panjang
aksial meningkat, ruang bilik mata depan yang dalam, dan jenis kelamin laki-laki. Kira-kira 10
- 20% dari ablasio retina dikaitkan dengan trauma mata langsung. 3
Ablasio retina yang diakibatkan oleh trauma lebih sering terjadi pada orang yang lebih
muda. Meskipun tidak ada penelitian telah memperkirakan kejadian ablasio retina dalam
olahraga, olahraga tertentu (misalnya, tinju dan bungee jumping ) berhubungan dengan
peningkatan risiko terjadinya ablasio retina. Ada juga beberapa laporan bahwa Laser
capsulotomy dikaitkan dengan peningkatan resiko ablasio retina. Di Amerika Serikat, kelainan
struktural, operasi sebelumnya, trauma dan uveitis adalah faktor resiko utama untuk ablasio
retina. Miopia yang tinggi, trauma, kelainan struktural dan operasi sebelumnya adalah faktor
resiko utama di Asia.3

Patogenesis
Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan rongga
vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar, pada mata yang matur dapat
berpisah :1,5
1. Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami likuifikasi
dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio progresif (ablasio
regmatogenosa).
Gambar 3. Ablasi Retina Regmatogenosa dengan horshoe tear

2. Terjadi akibat akumulasi cairan subretinal dengan tanpa adanya robekan retina
ataupun traksi pada retina. Pada penyakit vaskular, radang, atau neoplasma
retina, epitel pigmen, dan koroid, maka dapat terjadi kebocoran pembuluh darah
sehingga berkumpul di bawah retina. Walaupun jarang terjadi, bila cairan
berakumulasi dalam ruangan subretina akibat proses eksudasi, yang dapat
terjadi selama toksemia pada kehamilan (ablasio retina eksudatif)

Gambar 4. Ilustrasi Ablasi Retina Eksudatif

3. Terjadi pembentukan yang dapat berisi fibroblas, sel glia, atau sel epitel pigmen
retina. Awalnya terjadi penarikan retina sensorik menjauhi lapisan epitel di
sepanjang daerah vaskular yang kemudian dapat menyebar ke bagian retina
midperifer dan makula. Pada ablasio tipe ini permukaan retina akan lebih
konkaf dan sifatnya lebih terlokalisasi tidak mencapai ke ora serata. Jika retina
tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina, misalnya seperti
pada retinopati proliferatif pada diabetes mellitus dan pendarahan vitreus
(ablasio retina traksional).

Gejala Klinis
Pertimbangkan pasien yang khas mengalami ablasio retina, seperti pasien dengan
miopia tinggi dengan usia berkisar 50 tahun, baik laki-laki ataupun perempuan, yang tiba-tiba
mengalami gejala “flashes dan floaters”, yang biasanya terjadi secara spontan atau sesaat
setelah menggerakkan kepala. Lakukan penggalian secara lebih detail terhadap gejala yang
dialami. 6
1. Flashes (photopsia)
Ketika ditanya, pasien biasanya menjawab gejala ini bisa terjadi sepanjang
waktu, tetapi paling jelas saat suasana gelap. Gejala ini cenderung terjadi
terutama sebelum tidur malam. Kilatan cahaya (flashes) biasanya terlihat pada
lapangan pandang perifer. Gejala ini harus dibedakan dengan yang biasanya
muncul pada migrain, yang biasanya muncul sebelum nyeri kepala. Kilatan
cahaya pada migrain biasanya berupa garis zig-zag, pada tengah lapangan
pandang dan menghilang dalam waktu 10 menit. Pada pasien usia lanjut dengan
defek pada sirkulasi vertebrobasilar dapat mendeskripsikan tipe lain fotopsia,
yakni kilatan cahaya cenderung muncul hanya saat leher digerakkan setelah
membungkuk.
2. Floaters
Titik hitam yang melayang di depan lapangan pandang adalah gejala yang
sering terjadi, tetapi gejala ini bisa menjadi kurang jelas pada pasien gangguan
cemas. Tetapi jika titik hitamnya bertambah besar dan muncul tiba-tiba, maka
ini menjadi tanda signifikan suatu keadaan patologis. Untuk beberapa alasan,
pasien sering menggambarkan gejala ini seperti berudu atau bahkan sarang
laba-laba. Ini mungkin karena adanya kombinasi gejala ini dan kilatan cahaya.
Kilatan cahaya dan floaters muncul karena vitreus telah menarik retina,
menghasilkan sensasi kilatan cahaya, dan sering ketika robekan terjadi akan
terjadi perdarahan ringan ke dalam vitreus yang menyebabkan munculnya
bayangan bintik hitam. Ketika kedua gejala ini muncul, maka mata harus
diperiksa secara detail dan lengkap hingga ditemukan dimana lokasi robekan
retina. Terkadang, robekan kecil dapat menyebabkan perdarahan vitreus yang
luas yang menyebabkan kebutaan mendadak.
3. Shadows
Saat robekan retina terjadi, pasien seharusnya segera mencari pengobatan medis
dan pengobatan efektif. Namun beberapa pasien tidak segera mencari
pengobatan medis atau bahkan malah mengabaikan gejala yang dialami.
Memang dalam beberapa saat gejala akan berkurang, tetapi dalam kurun waktu
beberapa hari hingga tahunan akan muncul bayangan hitam pada lapangan
pandang perifer. Jika retina yang terlepas berada pada bagian atas, maka
bayangan akan terlihat pada lapangan pandang bagian bawah dan dapat
membaik secara spontan dengan tirah baring, terutama setelah tirah baring pagi
hari. Kehilangan penglihatan sentral atau pandangan kabur dapat muncul jika
fovea ikut terlibat. terlibat.6

Saat anamnesis, penting juga untuk menanyakan riwayat trauma, apakah terjadi
bebrapa bulan sebelum gejala muncul atau bertepatan dengan timbulnya gejala. Perhatikan juga
riwayat operasi, termasuk ekstraksi katarak, pengangkatan benda asing intraokuler atau
prosedur lain yang melibatkan retina. Tanyakan juga mengenai kondisi pasien sebelumnya,
seperti pernah atau tidak menderita uveitis, perdarahan vitreus, ambliopia, glaukoma, dan
7
retinopati diabetik. Riwayat penyakit mata dalam keluarga juga penting untuk diketahui.

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Pemeriksaan menyeluruh diindikasikan pada kedua mata. Pemeriksaan pada mata yang
tidak bergejala dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab dari ablasio retina pada mata
yang lainnya.

a. Lakukan pemeriksaan segmen luar untuk menilai tanda-tanda trauma


b. Periksa pupil dan tentukan ada atau tidaknya defek pupil aferen
c. Periksa ketajaman penglihatan
d. Periksa konfrontasi lapangan pandang
e. Periksa metamorfopsia dengan tes Amsler grid
f. Pemeriksaan slit lamp untuk melihat ada atau tidaknya pigmen pada vitreus (Shafer’s
sign)
g. Periksa tekanan bola mata
h. Lakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi (pupil harus dalam keadaan
dilatasi)

Pada oftalmoskopi, retina yang terlepas akan terlihat putih dan edema dan kehilangan
sifat transparansinya. Pada ablasio regmatogen, robekan retina berwarna merah terang dapat
terlihat. Biasanya muncul pada setengah bagian atas retina pada regio degenerasi ekuator. Pada
ablasio tipe traksi, ablasio bullosa akan terlihat bersamaan dengan untaian retina berwarna abu-
abu. Pada tipe eksudatif akan terlihat adanya deposit lemak massif dan biasanya disertai dengan
perdarahan intraretina.
Pada pemeriksaan Ultrasound mata, jika retina tidak dapat tervisualisasi karena
katarak atau perdarahan, maka ultrasound A dan B-scan dapat membantu mendiagnosis ablasio
retina dan membedakannya dengan ablasio vitreus posterior. USG dapat membantu
membedakan regmatogen dari non regmatogen. Pemeriksaan ini sensitif dan spesifik untuk
ablasio retina tetapi tidak dapat membantu untuk menentukan lokasi robekan retina yang
tersembunyi.8

Tatalaksana
Tujuan utama bedah ablasi adalah untuk menemukan dan memeperbaiki semua
robekan retina, digunakan krioterapi atau laser untuk menimbulkan adhesi antara epitel pigmen
dan retina sensorik sehingga mencegah influks cairan lebih lanjut kedalam ruang subretina,
mengalirkan cairan subretina ke dalam ke luar, dan meredakan traksi vitreoretina.1,9
Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah pembedahan. Prinsip bedah pada ablasio
retina yaitu :9
1. Menemukan semua bagian yang terlepas
2. Membuat iritasi korioretinal pada sepanjang masing-masing daerah retina yang
terlepas.
3. Menguhubungkan koroid dan retina dalam waktu yang cukup untuk menghasilkan
adhesi dinding korioretinal yang permanen pada daerah subretinal.
Pada pembedahan ablasio retina dapat dilakukan dengan cara :
1. Scleral buckling
Metode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina rematogenosa terutama
tanpa disertai komplikasi lainnya. Prosedur meliputi lokalisasi posisi robekan retina,
menangani robekan dengan cryoprobe, dan selanjutnya dengan scleral buckle (sabuk).
Sabuk ini biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat. Ukuran dan bentuk sabuk
yang digunakan tergantung posisi lokasi dan jumlah robekan retina. Pertama – tama
dilakukan cryoprobe atau laser untuk memperkuat perlengketan antara retina sekitar dan
epitel pigmen retina. Sabuk dijahit mengelilingi sklera sehingga terjadi tekanan pada
robekan retina sehingga terjadi penutupan pada robekan tersebut. Penutupan retina ini akan
menyebabkan cairan subretinal menghilang secara spontan dalam waktu 1-2 hari. 1,9

Gambar 5. Spons silikon dijahit pada bola mata untuk menekan sklera di atas robekan retina setelah
drainase cairan sub retina dan dilakukan crioterapi

Gambar 6. Penekanan yang didapatkan dari spons silikon, retina sekarang melekat kembali dan
traksi pada robekan retina oleh vitreus dihilangkan

2. Retinopeksi pneumatik
Retinopeksi pneumatik merupakan metode yang juga sering digunakan pada ablasio
retina regmatogenosa terutama jika terdapat robekan tunggal pada bagian superior retina.
Teknik pelaksanaan prosedur ini adalah dengan menyuntikkan gelembung gas ke dalam
rongga vitreus. Gelembung gas ini akan menutupi robekan retina dan mencegah pasase
cairan lebih lanjut melalui robekan. Jika robekan dapat ditutupi oleh gelembung gas, cairan
subretinal biasanya akan hilang dalam 1-2 hari. Robekan retina dapat juga dilekatkan
dengan kriopeksi atau laser sebelum gelembung disuntikkan. Pasien harus mempertahankan
posisi kepala tertentu selama beberapa hari untuk meyakinkan gelembung terus menutupi
robekan retina.9

Gambar 7. Setelah pengangkatan gel vitreus pada drainase cairan sub retina, gas fluorokarbon inert
disuntikan ke dalam rongga vitreus

3. Vitrektomi
Merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat diabetes, dan juga
pada ablasio regmatogenosa yang disertai traksi vitreus atau perdarahan vitreus. Cara
pelaksanaannya yaitu dengan membuat insisi kecil pada dinding bola mata kemudian
memasukkan instruyen ingá cavum vitreous melalui pars plana. Setelah itu dilakukan
vitrektomi dengan vitreus cutre untuk menghilangkan berkas badan kaca (viteuos stands),
membran, dan perleketan – perleketan. Teknik dan instruyen yang digunakan tergantung tipe
dan penyebab ablasio. Lebih dari 90% lepasnya retina dapat direkatkan kembali dengan teknik-
teknik bedah mata modern, meskipun kadang- kadang diperlukan lebih dari satu kali operasi.9

Prognosis
Prognosis dari penyakit ini berdasarkan pada keadaan makula sebelum dan sesudah
operasi serta ketajaman visualnya. Jika, keadaannya sudah melibatkan makula maka akan sulit
menghasilkan hasil operasi yang baik, tetapi dari data yang ada sekitar 87 % dari operasi yang
melibatkan makula dapat mengembalikan fungsi visual sekitar 20/50 lebih kasus dimana
makula yang terlibat hanya sepertiga atau setengah dari makula tersebut.
Pasien dengan ablasio retina yang melibatkan makula dan perlangsungannya kurang
dari 1 minggu, memiliki kemungkinan sembuh post operasi sekitar 75 % sedangkan yang
perlangsungannya 1-8 minggu memiliki kemungkinan 50 %.
Dalam 10-15 % kasus yang dilakukan pembedahan dengan ablasio retina yang
melibatkan makula, kemampuan visualnya tidak akan kembali sampai level sebelumnya
dilakukannya operasi. Hal ini disebabkan adanya beberpa faktor seperti irreguler astigmat
akibat pergeseran pada saat operasi, katarak progresif, dan edema makula. Komplikasi dari
pembedahan misalnya adanya perdarahan dapat menyebabkan kemampuan visual lebih
menurun.9

Komplikasi
Jika pengobatan tertunda, perlepasan retina secara parsial dapat berlanjut sampai
seluruh retina terlepas. Ketika hal ini terjadi, penglihatan normal tidak dapat dipulihkan, dan
penurunan ketajaman visual atau kebutaan dapat terjadi pada mata yang terkena. Komplikasi
lain dapat mencakup perdarahan ke dalam mata (perdarahan vitreous), glaukoma (sudut
tertutup), peradangan, infeksi, dan jaringan parut akibat operasi. Kehilangan persepsi cahaya
juga dapat terjadi.
Jika retina tidak berhasil dilekatkan kembali dan pembedahan mengalami komplikasi,
maka dapat timbul perubahan fibrotik pada vitreous (vitreoretinopati proliferatif, PVR). PVR
dapat menyebabkan traksi pada retina dan ablasio retina lebih lanjut. 4,10
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan, Daniel G. Asbury, Taylor. Oftalmologi umum (General ophthalmology) edisi


17. EGC: Jakarta; 2013. p. 12-199.

2. Chang Huan J. In : Retinal Detachment. The Journal Of The American Medical


Association. 2012.
3. Kwon O. W., Roh M. I., Song J. H. Retinal Detachment and Proliferative
Victreoretinopathy. In. Retinal Pharmacotheraphy. Britain : Saunders-Elsevier. 2010.
Page 148-51.
4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi keempat. 2013. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
5. James B.,dkk. Ablasi retina. In: Oftalmologi. 9th ed. Erlangga: Ciracas Jakarta; 2006:
117-121.
6. Galloway NR, Amoaku WMK, Galloway PH, et al. In : Common Eye Disease And
Their Management. 3rd ed. London : Springer-Verlag. 2006. Page 103-10.
7. Pandya HK. In : Retinal Detachment. 2013. (Cited on 2013). Available from URL
http://emedicine.medscape.com/article/798501-overview
8. Chern KC. In : Emergency Opthalmology A Rapid Treatment Guide. New York :
McGraw-Hill. 2007.
9. American Academy Ophtalmology. Retina and Vitreous: Section 12 2007-2008.
Singapore: LEO; 2008. p. 9-299.
10. Lang, GK. Ophtalmology, A Pocket Textbook Atlas. 2nd Edition. 2006. Thieme.
Germany. p. 305-344.