Anda di halaman 1dari 4

Rumah Adat Nusa Tenggara Timur (NTB)

(Musalaki)

Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur (NTB)


Suku Rote, Sabu, Helong, Atoni (Dawan), Manggarai, Sumba dan Lio
Rumah Adat Nusa Tenggara Timur (NTB)
(Musalaki)

Struktur dan Arsitektur Rumah Adat Nama


Musalaki sebetulnya berasal dari kata
dalam bahasa Ende Lio yaitu Mosa dan Laki,
Mosa berarti ketua atau kepala sementara
Laki berarti Adat atau suku. Oleh karenanya
sesuai nama tersebut maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa rumah adat ini memang
hanya difungsikan sebagai tempat tinggal
kepala suku atau ketua adat Ende.

Berdasarkan penelusuran data, rumah ada ini juga kerap digunakan sebagai tempat
digelarnya upacara ritual adat, sebagai tempat bermusyawarah untuk memutuskan
suatu keputusan, dan kegiatan lain yang berhubungan dengan adat atau keagamaan.
Untuk menunjang fungsi tersebut, rumah adat Nusa Tenggara Timur ini disusun dengan
ukuran besar dan dengan struktur yang kokoh. Materialnya sendiri hampir secara
keseluruhan berasal dari alam, mulai dari batu-batuan, kayu, hingga daun-daunan.
Material-material tersebut digunakan untuk semua bagian dari struktur rumah adat
Musalaki ini
Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur (NTB)
Suku Rote, Sabu, Helong, Atoni (Dawan), Manggarai, Sumba dan Lio

Dari unsur demografinya, Provinsi NTT dihuni sedikitnya oleh 7 suku besar yaitu suku
Rote, suku Sabu, suku Helong, suku Atoni atau Dawan, suku Manggarai, suku Sumba,
dan suku Lio. Suku-suku ini memiliki pakaian adatnya masing-masing. Nah, berikut ini
akan dibahas pakaian adat NTT dari 4 dari ketujuh suku tersebut!
1. Pakaian Adat Suku Rote
Pakaian adat Suku Rote merupakan
simbol pakaian adat NTT di kancah
nasional. Pakaian ini dipilih karena
memiliki desain yang sangat unik dan
sarat nilai filosofis. Salah satu
keunikannya terletak pada desain Ti’i
langga. Ti’i langga adalah sebuah penutup kepala dengan bentuk seperti topi
sombrero khas Meksiko yang dibuat dari daun lontar kering. Selain untuk
pelengkap penampilan, topi adat suku Rote ini juga dianggap sebagai simbol
wibawa dan kepercayaan diri bagi para pria Rote.
2. Pakaian Adat Suku Sabu
Suku Sabu adalah suku mayoritas yang
bermukim di Pulau Rai Hawu atau Sabu,
Kabupaten Kupang. Suku ini juga memiliki
pakaian adat NTT khas yang bernama pakaian
adat Sabu. Untuk para pria, perlengkapan
yang dikenakan adalah kemeja putih lengan
panjang, bawahan dan selendang yang diselempangkan ke bahu berupa sarung
tenun, ikat kepala berupa mahkota tiga tiang terbuat dari emas kalung mutisalak,
sabuk berkantong, perhiasan leher (habas), dan sepasang gelang emas.
Sementara untuk para wanita, kebaya dan kain tenun dengan 2 kali lilitan adalah
pilihan utamanya. Kain tenun tersebut berupa sarung dengan ikat pinggang
bernama pending.
3. Pakaian Adat Suku Helong
Helong adalah suku mayoritas yang
mendiami pulau Timau atau pulau Semau.
Dari asal usulnya, suku ini disebut berasal
dari pulau Halong di Maluku. Suku ini
memiliki pakaian adat NTT khas yang
bernama pakaian adat Helong. Untuk pria
pakaian adat ini berupa selimut besar
yang diikat di pinggang sebagai bawahan, baju bodo (kemeja), destar sebagai
pengikat kepala, dan habas atau perhiasan leher. Sementara untuk
perempuannya, mereka menggunakan kebaya -kadang berupa kemben saja,
sarung yang diikat dengan ikat pinggang emas (pending), perhiasan kepala bula
molik (bulan sabit), giwang (karabu), dan hiasan leher yang juga berbentuk
bulan.
4. Pakaian Adat Suku Dawan
Suku Dawan adalah suku yang mendiami
wilayah di sekitar Kabupaten Kupang,
Kabupaten Timor, dan sebagian Kabupaten Belu.
Suku ini memiliki pakaian adat NTT yang
bernama baju amarasi. Baju amarasi untuk pria
berupa selimut dari kain tenun ikat, baju bodo,
kalung habas berbandung gong, ikat kepala dengan hiasan tiara, muti salak, dan
gelang timor. Sementara baju amarasi untuk wanita berupa sarung tenun sebagai
bawahan, selendang penutup dada, kebaya, kalung muti salak, hiasan kepala
berupa tusuk konde dengan 3 buah koin, sisir emas, dan sepasang gelang kepala
ular.