Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Anestesi umum adalah tindakan anestesi yang dilakukan dengan cara


menghilangkan nyeri secara sentral, disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih
kembali atau reversibel. Pada anestesi umum harus memenuhi beberapa hal ini yaitu
hipnotik, analgesi, relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi tegangnya tonus otot
sehingga akan mempermudah tindakan pembedahan, stabilisasi otonom.1
Anestesiologi ialah ilmu kedokteran yang pada awalnya berprofesi
menghilangkan nyeri dan rumatan pasien sebelum, selama, dan sesudah pembedahan.
Anastesi spinal bertujuan untuk memblok saraf sensorik untuk menghilangkan
sensasi nyeri. Namun anestesi spinal juga memblok saraf motoric sehingga
mengakibatkan paresis/paralisis di miotom yang selevel dengan dermatom yang
diblok. Disamping itu juga memblok saraf otonom dan yang lebih dominan memblok
saraf simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan tekanan darah. Hipotensi
adalah efek samping yang paling serring terjadi pada anestesi spinal, dengan insidensi
38% dengan penyebab utama adalah blockade saraf simpatis.
Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan penyakit yang sering diderita
oleh pria usia lanjut. Kedaan ini dialami oleh 50% pria berusia 60 tahun dan sekitar
80 % pria berusia 80 tahun. Oleh karena terjadi obstruksi pada saluran kencing, maka
pasien biasanya masuk dengan gangguan miksi. Beberapa terapi diketahui dapat
dilakukan pada pasien BPH, dimana salah satu diantaranya adalah dengan
menggunakan Transurethral Resection (TUR) prostat. Pembilasan yang dilakukan
meggunakan H2O pada TUR ini dapat menyebabkan terjadinya sindroma TUR yang
kemudian akan dijelaskan lebih lanjut.
Laporan kasus ini membahas mengenai tatalaksana TUR prostat pada pasien
BPH terutama penggunaan anestesi spinal yang digunakan pada kasus tersebut.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anesetesi spinal
Sub Arachnoid Blok (SAB) atau anestesi spinal adalah salah satu
teknik dalam anestesi yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat anestesi
lokal ke dalam ruang subarachnooid dengan tujuan mendapatkan analgesia
setinggi dermatom tertentu sesuai yang diinginkan (Covino et al., 1994).
Teknik ini pertama kali dilakukan oleh seorang ahli bedah asal Jerman yaitu
dr. August Bier pada tahun 1887 dengan menggunakan jarum spinal untuk
memasukkan kokain ke dalam ruang subarachnoid.
Anestesi spinal adalah injeksi obat anestesi lokal ke dalam ruang
intratekal yang menghasilkan analgesia.Pemberian obat lokal anestesi ke
dalam ruang intratekal atau ruang subaraknoid di regio lumbal antara vertebra
L2-3, L3-4, L4-5 untuk menghasilkan onset anestesi yang cepat dengan
derajat keberhasilan yang tinggi. Walaupun teknik ini sederhana, dengan
adanya pengetahuan anatomi, efek fisiologi dari anestesi spinal dan faktor-
faktor yang mempengaruhi distribusi anestesi lokal diruang intratekal serta
komplikasi anestesi spinal akanmengoptimalkan keberhasilan terjadinya blok
anestesi spinal.

Gambar 2.1. Anatomi Spinal Anestesi

2
Kolumna vertebralis terdiri dari 33 korpus vertebralis: 7 servikal, 12
torakal, 5 lumbal, 5 sakral dan 4 koksigeus. Kolumna vertebralis mempunyai
4 lekukan, yaitu lordosis servikalis, kifosis torakalis, lordosis lumbalis dan
kifosis sakralis.4

Gambar 1. Anatomi Kolumna Vertebralis


Lekukan kolumna vertebralis berpengaruh terhadap penyebaran obat
analgetika lokal dalam ruang subarakhnoid. Pada posisi terlentang titik
tertinggi pada vertebra lumbal 3 dan terendah pada torakal 5.
Segmen medula spinal terdiri dari 31 segmen: 8 segmen servikal, 12
torakal, 5 lumbal, 5 sakral dan 1 koksigeus yang dihubungkan dengan
melekatnya kelompok-kelompok saraf. Panjang setiap segmen berbeda-beda,
seperti segmen tengah torakal lebih kurang 2 kali panjang segmen servikal
atau lumbal atas. Terdapat dua pelebaran yang berhubungan dengan saraf
servikal atas dan bawah. Pelebaran servikal merupakan asal serabut-serabut
saraf dalam pleksus brakhialis. Pelebaran lumbal sesuai dengan asal serabut
saraf dalam pleksus lumbosakralis. Hubungan antara segmen-segmen medula
spinalis dan korpus vertebralis serta tulang belakang penting artinya dalam

3
klinik untuk menentukan tinggi lesi pada medula spinalis dan juga untuk
mencapainya pada pembedahan.
Lapisan yang harus ditembus untuk mencapai ruang sub arakhnoid
dari luar yaitu kulit, subkutis, ligamentum supraspinosum, ligamentum flavum
dan duramater. Arakhnoid terletak antara duramater dan piamater serta
mengikuti otak sampai medula spinalis dan melekat pada duramater. Antara
arakhnoid dan piamater terdapat ruang yang disebut ruang sub arakhnoid.
Kontraindikasi absolut anastesi spinal meliputi pasien menolak, infeksi
di daerah penusukan, koagulopati, hipovolemi berat, peningkatan tekanan
intrakranial, stenosis aorta berat dan stenosis mitral berat. Sedangkan
kontraindikasi relatif meliputi pasien tidak kooperatif, sepsis, kelainan
neuropati seperti penyakit demielinisasi sistem syaraf pusat, lesi pada katup
jantung serta kelainan bentuk anatomi spinal yang berat. Ada juga
menyebutkan kontraindikasi kontroversi yang meliputi operasi tulang
belakang pada tempat penusukan, ketidakmampuan komunikasi dengan
pasien serta komplikasi operasi yang meliputi operasi lama dan kehilangan
darah yang banyak.
Obat anestesi lokal adalah suatu senyawa amino organik. Pada
pemakaian sehari- hari, obat ini dapat dibagi menjadi golongan amino ester
dan golongan amino amida. Ikatan ester mempunyai sifat mudah dihidrolisis
dalam hepar dan oleh plasma esterase, mula kerja lambat, lama kerja pendek
dan hanya sedikit menembus jaringan. Sedangkan ikatan amida mudah
menjadi tidak aktif oleh hepatic amidase, mula kerja cepat, lama kerja lebih
lama dan lebih banyak menembus jaringan. Kelompok ester antara lain
procaine, chloroprocaine dan tetracaine. Kelompok amida antara lain
lidocaine, mepivacaine, bupivacaine dan etidocaine.
Anestesi lokal yang sering dipakai adalah bupivakain. Lidokain5%
sudah ditinggalkan karena mempunyai efek neurotoksisitas, sehingga

4
bupivakain menjadi pilihan utama untuk anestesi spinal saat ini.Anestesi lokal
dapat dibuat isobarik, hiperbarik atau hipobarik terhadap cairan
serebrospinal.Barisitas anestesi lokal mempengaruhi penyebaran obat
tergantung dari posisi pasien. Larutan hiperbarik disebar oleh gravitasi,
larutan hipobarik menyebar berlawanan arah dengan gravitasi dan isobarik
menyebar lokal pada tempat injeksi. Setelah disuntikkan ke dalam ruang
intratekal, penyebaran zat anestesi lokal akan dipengaruhi oleh berbagai faktor
terutama yang berhubungan dengan hukum fisika dinamika dari zat yang
disuntikkan, antara lain Barbotase (tindakan menyuntikkan sebagian zat
anestesi lokal ke dalam cairan serebrospinal, kemudian dilakukan aspirasi
bersama cairan serebrospinal dan penyuntikan kembali zat anestesi lokal yang
telah bercampur dengan cairan serebrospinal), volume, berat jenis, dosis,
tempat penyuntikan, posisi penderita saat atau sesudah penyuntikan.
Larutan bupivakain hidroklorida hiperbarik bupivakain adalah larutan
anestesi lokal bupivakain yang mempunyai berat jenis lebih besar dari berat
jenis cairan serebrospinal (1,003-1,008). Cara pembuatannya adalah dengan
menambahkan larutan glukosa kedalam larutan isobarik bupivakain. Cara
kerja larutan hiperbarik bupivakain adalah melalui mekanisme hukum
gravitasi, yaitu suatu zat/larutan yang mempunyai berat jenis yang lebih besar
dari larutan sekitarnya akan bergerak ke suatu tempat yang lebih rendah.
Dengan demikian larutan bupivakain hiperbarik yang mempunyai barisitas
lebih besar akan cepat ke daerah yang lebih rendah dibandingkan dengan
larutan bupivakain yang isobarik, sehingga mempercepat penyebaran larutan
bupivakain hiperbarik tersebut.
Pasien yang melakukan anestesi spinal, sering menimbulkan reaksi
menggigil. Menggigil pasca anestesi diduga disebabkan oleh empat hal yaitu :
(Sessler dkk, 1991)

5
1. Hipotermi dan penurunan suhu inti selama anestesi yang disebabkan
oleh karena kehilangan panas yang bermakna selama tindakan
pembedahan dan suhu ruang operasi yang rendah. Panas yang hilang
dapat melalui permukaan kulit dan melalui ventilasi.
2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pelepasan pirogen, tipe atau
jenis pembedahan, kerusakan jaringan yang terjadi dan absorbsi dari
produkproduk tersebut.
3. Efek langsung dari obat anestesi pada pusat pengaturan suhu di
hipotalamus, yaitu menurunkan produksi panas. Kompensasi tubuh
tidak terjadi karena penderita tidak sadar dan terkadang lumpuh
karena obat pelumpuh otot.
Cara-cara untuk mengurangi menggigil pascaanestesi yaitu sebagai
berikut: (Miller dkk, 2010)
1. Suhu kamar operasi yang nyaman bagi pasien yaitu pada suhu 72oF
(22oC)
2. Ruang pemulihan yang hangat dengan suhu ruangan 75oF (24oC)
3. Penggunaan sistem low-flow atau sistem tertutup pada pasien kritis
atau pasien resiko tinggi
4. Petidin adalah obat paling efektif untuk mengurangi menggigil
5. Penggunaan cairan kristaloid intravena yang dihangatkan :
a. Kristaloid untuk keseimbangan cairan intravena
b. Larutan untuk irigasi luka pembedahan
c. Larutan yang digunakan untuk prosedur sistoskopi urologi
6. Menghindari genangan air/larutan di meja operasi
7. Penggunaan penghangat darah untuk pemberian darah dan larutan
kristaloid/koloid hangat atau fraksi darah.

6
Komplikasi lainnya dari anastesi spinal diabagi menjadi komplikasi dini
dan delayed.
a) Komplikasi tindakan:
1. Hipotensi berat : akibat blok simpatis terjadi venous pooling.
Pada orang dewasa dicegah dengen memberikan infus cairan
elektrolit 1000 ml atau koloid 500 ml sebelum tindakan.
2. Bradikardi : dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia.
Terjadi akibat blok sampai T-2.
3. Hipoventilasi: akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi
pusat kendali nafas.
4. Trauma saraf.
5. Mual dan muntah.
6. Blok spinal tinggi atau total.
b) Komplikasi pasca tindakan:
1. Nyeri tempat suntikan
2. Nyeri punggung
3. Nyeri kepala akibat kebocoran cairan likuor
4. Retensi urin
5. Meningitis
c) Komplikasi intraoperative:
1. Komplikasi karsiovaskular.
Hipotensi yang signifikan harus diobati dengan pemberian cairan
intravena yang sesuai dan penggunaan obat vasoaktif seperti efedrin atau
fenilefedrin. Penggunaan cairan bisa menggunakan infus cairan kristaloid
(NaCl, RL) secara cepat sebanyak 10-15 mlkgBB dalam 10 menit segera
setelah penyuntikan anestesi spinal.

7
B. Transurethral Resection of Prostate (TURP)
Transurethral Resection Prostate (TURP) yaitu suatu tindakan
endoskopis pengurangan masa prostat (prostatektomi) dengan tujuan urinasi
pada pasien yang mengalami Benign Prostate Hyperplasia (BPH) stadium
moderat atau berat selain open prostatectomy. Pada operasi ini dilakukan
dengan alat endoskopi yang dimasukkan ke dalam uretra. Pengerokan jaringan
prostat dengan bantuan elektrokauter. Indikasi TURP adakah ketika pasien
dengan gejala sumbatan yang menetap, progresif akibat pembesaran prostat,
atau tidak dapat diobati dengan terapi obat lagi, gejalagejala dari sedang
sampai berat, volume prostat kurang dari 60 gram dan pasien cukup sehat
untuk menjalani operasi.
TURP merupakan tindakan non-invasif, namun dapat menimbulkan
beberapa komplikasi. Hahn, et al (2000) menjelaskan diantara adalah
ejakulasi retrograde (60-90%), infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh
kolonisasi bakteri pada prostat (2%), persistent urinary retention ketika pulang
dari rumah sakit dengan terpasang kateter (2.5%), stricture bladder (2-10%),
striktur uretra (10%) dan komplikasi kardiovaskuler misalnya Acute
Myocardial Infarction (AMI). Selain itu terdapat komplikasi yang dapat
membahayakan kondisi pasien, bahkan dapat mengakibatkan kematian, yaitu
sindrom TURP.
Sindrom TURP adalah sindrom yang disebabkan karena kelebihan
volume cairan irigasi sehingga menyebabkan hiponatremia.Sindrom ini
disebabkan oleh post TUR tumor kandung kemih, diagnostik penyakit dengan
cystoscopy, percutaneus nephrolithotomy, arthroscopy, berbagai macam
tindakan ginekologi yang menggunakan endoskopi dan irigasi, kelebihan
penyerapan cairan irigasi TURP, terbukanya sinus pada prostat, tingginya
tekanan cairan irigasi, waktu operasi > 60 menit.

8
Setelah dilakukan TURP, dipasang kateter Foley tiga saluran no. 24
yang dilengkapi balon 30 ml, untuk memperlancar pembuangan gumpalan
darah dari kandung kemih. Irigasi kanding kemih yang konstan dilakukan
setelah 24 jam bila tidak keluar bekuan darah lagi. Kemudian kateter dibilas
tiap 4 jam sampai cairan jernih. Kateter dingkat setelah 3-5 hari setelah
operasi dan pasien harus sudah dapat berkemih dengan lancar.
TURP masih merupakan standar emas. Indikasi TURP ialah gejala-
gejala dari sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 60 gram dan
pasien cukup sehat untuk menjalani operasi. Komplikasi TURP jangka
pendek adalah perdarahan, infeksi, hiponatremia atau retensio oleh karena
bekuan darah.Sedangkan komplikasi jangka panjang adalah striktura uretra,
ejakulasi retrograd (50-90%), impotensi (4-40%). Karena pembedahan tidak
mengobati penyebab BPH, maka biasanya penyakit ini akan timbul kembali
8-10 tahun kemudian.

C. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)


Pembesaran prostat benigna atau lebih dikenal sebagai BPH sering
diketemukan pada pria yang menapak usia lanjut. Istilah BPH atau benign
prostatic hyperplasia sebenarnya merupakan istilah histopatologis, yaitu
terdapat hiperplasia sel-sel stroma dan sel-sel epitel kelenjar prostat.
Hiperplasia prostat benigna ini dapat dialami oleh sekitar 70% pria di atas usia
60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria berusia di atas 80
tahun.
Diagnosis BPH dapat ditegakkan berdasarkan atas berbagai
pemeriksaan awal dan pemeriksaan tambahan.Jika fasilitas tersedia,
pemeriksaan awal harus dilakukan oleh setiap dokter yang menangani pasien
BPH, sedangkan pemeriksaan tambahan yang bersifat penunjang dikerjakan
jika ada indikasi untuk melakukan pemeriksaan itu. Pada 5th International

9
Consultation on BPH (IC-BPH) membagi kategori pemeriksaan untuk
mendiagnosis BPH menjadi: pemeriksaan awal (recommended) dan
pemeriksaan spesialistik urologi (optional), sedangkan guidelines yang
disusun oleh EAU membagi pemeriksaan itu dalam: mandatory,
recommended, optional, dan not recommended.
Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup
pasien. Terapi yang ditawarkan pada pasien tergantung pada derajat keluhan,
keadaan pasien, maupun kondisi obyektif kesehatan pasien yang diakibatkan
oleh penyakitnya. Pilihannya adalah mulai dari: (1) tanpa terapi (watchful
waiting), (2) medikamentosa, dan (3) terapi intervensi (Tabel 1). Di Indonesia,
tindakan Transurethral Resection of the prostate (TURP) masih merupakan
pengobatan terpilih untuk pasien BPH.

10
BAB III
KASUS PASIEN

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn. A
Umur : 63 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Tanggal masuk : 03/05/2018
Tanggal operasi : 08/05/2018

II. ANAMNESIS
A. Keluhan utama:
Tidak bisa buang air kecil
B. Riwayat penyakit sekarang:
Os masuk rumah sakit dengan keluhan tidak bisa kencing kurang lebih 1
tahun yang lalu, memberat sejak 3 bulan terakhir. Awalnya pasien mengeluh
nyeri perut bagian bawah dan tidak bisa kencing. Kemudian pasien datang
ke rumah sakit kemudian dirawat dan dipasangkan kateter. Mual tidak ada,
muntah tidak ada, sakit kepala tidak ada, pusing tidak ada dan demam tidak
ada.
C. Riwayat penyakit dahulu:
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
D. Riwayat penyakit keluarga:
Riwayat penyakit hipertensi (-), asma (-) dan diabetes mellitus (-)
E. Anamnesis yang berkaitan dengan anastesi:
- Riwayat alergi obat (-)

11
- Alergi makanan (-)
- Riwayat kencing manis (-)
- Riwayat hipertensi (-)
- Riwayat penyakit jantung (-)
- Riwayat penyakit ginjal (-)
- Gigi palsu (-)
- Batuk (-)

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan umum : sakit sedang, kesadaran komposmentis
Tanda vital :TD : 130/70 mmhg RR: 20 kali/menit VAS: 4
N: 84 kali/menit T: 36,8C
BB : 55 kg
Kepala : Normocephal
Kulit : Sianosis (-)
Mata : anemis (-/-), ikterik (-/-)
Telinga : discharge (-)
Hidung : Discharge (-)
Mulut : Gigi palsu (-), sianosis (-)
Leher : pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-)
Tenggorokan : Tonsil (1/1), faring hiperemis (-)
Dada :
- Paru : inspeksi : simetris, retraksi (-)
Palpasi : Vocal fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : suara nafas vesikuler, suara tambahan (-)
- Jantung : inspeksi : IC tidak tampak
Palpasi : IC teraba di SIC V, 2 cm medial LMCS

12
Perkusi : Batas jantug DBN
Auskultasi : BJ (I,II) murni regular, bising (-)
- Abdomen: Inspeksi : tampak datar
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani pada 13 titik
Palpasi : organomegali (-)
Ekstremitas : superior inferior
Akral dingin -/- -/-
Edema -/- -/-
Sianosis -/- -/-

1) Breath
Jalan nafas paten (bicara spontan), bentuk wajah dalam batas normal, buka
mulut lebih dari 3 jari, Mallampati score: I, gigi baik, gigi palsu (-),
kebersihan rongga mulut baik.
RR: 20 kali/menit, tipe abdomino-torakal, cuping hidung (-), leher gemuk
(-), trakea ditengah, massa regio coli (-). Retraksi interkosta (-). Stridor (-),
ronki (-), wheezing (-).
2) Blood
Akral dingin (-/-).Nadi 80 kali/menit, reguler, kuat angkat, TD 130/80
mmHg.
3) Brain
GCS E4 V5 M6, defisit neurologis (-), pupil isokor 3mm/3mm, reflex cahaya
+/+, tanda-tanda ↑TIK (-)
4) Bladder
Terpasang kateter urine
5) Bowel
Cembung (+), nyeri tekan (-)

13
6) Back and Bone
Mobilitas tidak terbatas, edema -/-, pucat +/+. CRT <2 detik. Kelainan
tulang belakang (-), sensorik normal.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Darah :RBC : 4,67 x 106/mm3 WBC : 5.35 x 103/mm3
HB : 13.6 g/dl HCT : 40.8 %
PLT : 210 x 103/mm3 HBsAg: non reaktif
GDS : 123 mg/dl Ureum : 30 mg/dl
SGPT : 20,1 Ul Creatinin: 1,17 mg/dl
SGOT : 24 UI

V. DIAGNOSIS
BPH + retensi urin

VI. PENATALAKSANAAN
TURP (Transurethral Resection of Prostat)

VII. TINDAKAN ANASTESI


Pasien termasuk kategori PS ASA kelas II.
Jenis anestesi : Anastesi Regional
Teknik anestesi : SAB (Subarachnoid Block)
- Disinfeksi area kerja
- Inspeksi dan palpasi daerah lumbal yang akan ditusuk
- Posisi pasien:
a. Posisi lateral. Pada umumnya kepala diberi bantal setebal 7,5 –
10 cm, lutut dan paha fleksi mendekati perut, kepala kearah dada
(pada pasien).

14
b. Posisi duduk. Dengan posisi ini lebih mudah melihat columna
vertebralis, tetapi pada pasien-pasien yang telah mendapat
premadikasi mungkin akan pusing dan diperlukan seorang
asisten untuk memegang pasien supaya tidak jatuh. Posisi ini
digunakan terutama bila diinginka slade block.
c. Posisi pronasi. Jarang dilakukan, hanya dilakukan bila dokter
bedah mengingikna posisi jack knife atau prone.
- Kulit dipersiapkan dengan larutan antiseptic seperti betadin, alkohol,
kemudian kulit ditutupi dengan “doek” steril.
- Cara penusukan:
Pakailah jarum yang kecil (no. 25, 27 atau 29). Makin besar nomor
jarum, semakin kecil diameter jarum tersebut, sehingga untuk
mengurangi komplikasi sakit kepala (PDPH= post duran puncture
headache), dianjurkan dipakai jarum kecil. Penarikan stylet dari jarum
spinal akan menyebabkan keluarnya likuor bila ujung jarum ada di
ruangan subarachnoid. Bila liquor keruh, likuor harus diperiksa dan
spinal analgesi dibatalkan. Bila keluar darah, tarik jarum beberapa mili
meter sampai yang keluar adalah likuor jernih. Bila masih merah,
masukkan lagi stilletnya, lalu ditunggu satu menit, bila jernih, masukkan
obat anastesi local, tetapi bila masih merah, pindahkan tempat tusukan.
Darah yang mewarnai likuor harus dikeluarkan sebelum menyuntik obat
anastesi local karena dapat menimbulkan reaksi benda asing
(Meningismus).
Induksi : Bupivacaine Hyperbaric 0,5% sebanyak 15 mg
Anestesi mulai : 10.20 WITA
Anestesi selesai : 11.20 WITA
Operasi mulai : 10.40 WITA
Operasi selesai : 11.20 WITA

15
Premedikasi : Ondancentron 4 mg
Medikasi : Furosemide 40 mg
Ketorolac 30 mg
Asam Tranexamat 500mg
A. Pre-operatif
1. Pasien puasa 8 jam pre-operatif
2. Infus RL 20 tpm
3. Keadaan umum dan vital sign baik
B. Intra operatif
Waktu (WITA) Sistol (mmhg) Diastole (mmhg) Pulse (x/m)
9:05 150 80 80
10:10 150 80 75
10:15 130 90 95
10:20 135 80 80
10:25 120 80 85
10:30 130 80 80
10:35 130 80 84
10:40 135 80 85
10:45 140 70 80
10:50 140 70 78
10:55 130 80 77
11:00 130 80 70
11:05 140 75 70
11:10 140 75 65
11:15 140 75 68
11:20 140 80 80

C. Post operatif
Pemantauan di PACU (Post Anestetic Care Unit)
1. Tensi, nadi, pernapasan, aktivitas motoric
2. Beri O2 3 lpm nasal canul
3. Bila BS ≤2 boleh pindah ruangan
4. Bila mual (-), muntah (-), peristaltic usus (+), boleh makan dan minum
sedikit-sedikit.

16
Laporan pemantauan tanda vital:

160

140

120

100

80 Sistol
Diastol
60 Nadi

40

20

17
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pre operatif
Pasien datang dengan keluhan sulit buang air kecil sejak 1 tahun yang
lalu dan memberat sejak 3 bulan terakhir. Pasien diputuskan untuk dirawat
dibangsal. Setelah keadaan umum pasien membaik, pasien dipersiapkan untuk
operasi.
Sebelum dilakukan operasi, dilakukan persiapan pre operasi yang
meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk
menentukan status fisik ASA dan resiko. Diputuskan kondisi fisik pasien
termasuk keadaan ASA II, serta ditentukan rencana anestesi yang akan
dilakukan yaitu regio nal anestesi dengan teknik Sub Arachoid Blok (SAB)
atau anestesi spinal. Adapun pembagian kategori ASA adalah:
I. Pasien normal dan sehat fisik dan mental
II. Pasien dengan penyakit sistemik ringan dan tidak ada keterbatasan
fungsional
III. Pasien dengan penyakit sistemik sedang hingga berat yang menyebabkan
keterbatasan fungsi
IV. Pasien dengan penyakit sistemik berat yang mengancam hidup dan
menyebabkan ketidakmampuan fungsi
V. Pasien yang tidak dapat hidup/bertahan dalam 24 jam dengan atau tanpa
operasi
VI. Pasien mati otak yang organ tubuhnya dapat diambil.
Operasi yang dilakukan adalah TURP. Pasien yang akan menjalani
TURP umumnya adalah pasien geriatric, untuk itu penting untuk dilakukan
evaluasi ketat terhadap fungsi kardiovaskular, respirasi dan ginjal. Pasien-
pasien ini dilaporkan mempunyai prevalensi tinggi untuk mengalami

18
gangguan kardiovaskular dan respirasi. Hal lain yang perlu diperhatikan pada
pembedahan ini adalah darah harus selalu tetap tersedia karena jika ada
perdarahan prostat dapat sangat sulit terkontrol, terutama pada pasien yang
kelenjar prostatnya > 40 gram.
Jenis anestesi yang dipilih adalah regional anestesi dengan cara
anestesi spinal. Anestesi regional baik spinal maupun epidural dengan blok
saraf tinggi memberikan efek anestesi yang memuasakan dan kondisi operasi
yang optimal bagi prosedur operasi TURP. Dibanding dengan general
anestesi, regional anestesi dapat menurunkan insiden terjadinya post operative
venous thrombosis.
Pasien diberikan Ondansentron 4 mg suatu antagonis reseptor
serotonin 5 – HT 3 selektif. Baik untuk pencegahan dan pengobatan mual,
muntah pasca bedah. Efek samping berupa hipotensi, bronkospasme,
konstipasi dan sesak nafas. Dengan dosis dewas 2-4 mg.

B. Durante operatif
Teknik anestesi yang digunakan adalah spinal anestesi dengan alassan
operasi yang dilakukan pada bagian tubuh inferior, sehingga cukup memblok
bagian tubuh inferior saja. Anestesi regional yang paling popular adalah Sub
Arachnoid Blok (SAB) tau anestesi spinal. Teknik ini mudah, awitan cepat,
dan harganya murah.
Obat anestesi yang diberikan saat ini adalah bupivacaine Hcl 0,5%.
Bupivacaine merupakan anestesi local golongan amino amida. Bupivacaine
mencegah konduksi rangsang saraf dengan menghambat aliran ion,
meningkatkan ambang eksitasi elekton, mememperlambat perambatan
rangssang saraf dan men urunkan kenaikan potensial aksi. Penggunaan
bupivacaine untuk anestesi spinal adalah 2-3 jam dan memberikan relaksasi
otot perut derajat sedang (moderate). Efek blockade motoric pada otot perut

19
menjadikan obat ini sesuai untuk digunakan pada operasi-operasi daerah
tubuh bagian inferior. Lama blockade motorik ini tidak melebihi durasi
analgesiknya.
Bupivacaine bekerja menstabilkan membrane neuron dengan cara
menginhibisi perubahan ionic secara terus menerus yang diperlukan dalam
memulai dan menghantarkan impuls. Kemajuan anestesi yang berhubungan
dengan diameter, mieliniasi dan kecepatan hantaran dari serat saraf yang
terkena menunjukkan urutan kehilangan fungsi sebagai berikut: otonomik,
nyeri, suhu, raba propiosepsi, tonus otot skelet. Eliminasi bupivacaine terjadi
di hati dan melalui pernapasan paru-paru.
Prosedur pembedahan dilakukan adalah TURP. Dimana prosedur
pembedahan ini adalah membuka perlekatan prostat dengan vesika urinary
kemudian mereseksi kelenjar prostat yang membesar, selalu memerlukan
cairan irigasi kontiniu dalam jumlah yang besar.
Pada saat intaoperatif, prosedur pelaksanaan TURP berjalan dengan
lancer sesuai prosedur dan perencanaan. Kondisi pasin selama operatif stabil
dan tidak terdapat kondisi emergensi selama operasi dari awal sampai selesai.
Operasi mulai pukul 10.20 wita dan selesai tepat pukul 11.20 wita.

Untuk manajemen cairan pada pasien ini:


BB : 55 kg
EBV : 75 cc/kg BB x 55 kg = 4.125 cc
Jumlah perdarahan : ± 80 cc
% perdarahan : 80/4.125x 100% = 1,93 %
Cairan masuk:
 Pre operatif: Kristaloid RL 500 cc
 Durante operatif: Kristaloid RL 500 cc
 Total input cairan: 1000 cc

20
Cairan keluar:
 Durante operatif: Urin (-); perdarahan ± 100 cc

o Cairan maintenance (M)


BB Pasien :
10 kg pertama : 10 kg x 4cc = 40 cc
10 kg kedua : 10 kg x 2 cc = 20 cc
Sisa BB : 35 kg x 1 cc = 35 cc
Total : 95 cc/jam (2.280 ml/24 jam)
o Untuk terapi cairan perioperatif dapat digunakan formula M O P,
dengan keterangan sebagai berikut:
 M : Maintenance, dapat dihitung menggunakan rumus holyday
Zegar untuk anak-anak yaitu rumus 421
 O : prediksi cairan yang hilang selama operasi dapat dihitung dari
jenis operasi x BB
- Operasi kecil : 2-4 ml x BB
- Operasi sedang : 4-6 ml x BB
- Operasi besar : 6-8 ml x BB
 P : Lamanya puasa dihitung dari jumlah jam puasa x maintenance
Perhitungan cairan menggunakan rumus:
Jam I : M + O + 1/2 P
Jam II-III : M + O + 1/4 P
Jam IV :M+O
Berikut merupakan perhitungan pada saat operasi:
a. Maintenance : 95cc
b. Pengganti puasa: lama jam puasa (8 jam) x maintenance (95cc) =
760 cc

21
c. Stress operasi : pada kasus ini termasuk jenis operasi sedang
karena merupakan operasi bedah sedang sehingga stress operasi =
6 x 55 kg = 330 cc
Pasien ini menjalani operasi selama ± 35 menit. Jadi kebutuhan
cairan pada jam I:
M + SO + 50% PP
95 + 330 + 50% (760) = 805 cc
Perhitungan cairan pengganti darah :
Transfusi + 3x cairan kristaloid = volume perdarahan
0 + 3x = 100
3x=100
X : 3 x 100 = 300 ml
Untuk mengganti kehilangan darah 100 cc diperlukan± 300 cairan kristaloid.
Cairan yang masuk selama durante operasi sebanyak 1000 cc (RL 500
cc 2 kolf) sehingga sesuai dengan perhitungan cairan yang harus diberikan
sebanyak 805 cc.
Ketorolac diberikan dengan tujuan penggunaan berupa analgesia.
Dosis awal ketorolak dengan pemberian intravena yakni 30-60 mg (0,5-1
mg/kgBB). Sementara untuk dosis pemeliharaannya dengan pemberian
intravena yakni 15-30 mg (0,25-0,5 mg/kgBB) setiap 4-6 jam. Dosis intravena
harus diberikan perlahan-lahan (5 menit) untuk mengurangi risiko flebitis.
Awitan aksi obat ini dengan pemberian intravena < 1 menit, efek puncak 1-3
jam, dengan lama aksi 3-7 jam.
Furosemide merupakan golongan diuretic, dimana fungsinya sebagai
diuresis sehingga digunakan untuk meningkatkan produksi urin. Obat ni juga
bertujuan untuk mengurangi pembengkakan dan retensi cairan yang
disebabkan oleh berbagai masalah kesehatan. Dosis dewasa diberikan dosis
awal 20-80 mg oral sebagai dosis tunggal. Dosis yang sama atau ditingkatkan

22
diberikan 6-8 jam kemudian. Dapat ditingkatkan lagi setiap 6-8 jam sampai
efek yang diinginkan terjadi.
Asam tranexamat merupakan golongan obat anti fibrinolitik. Obat ini
dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan pada sejumlah kondisi,
misalnya perdarahan pasca operasi dan sebagainya. Transamin tersedia dalam
bentuk sediaan kapsul 250 mg, tablet salut selaput 500 mg, serta injeksi 250
mg/5 mL dan 500 mg/5 mL.dosis injeksi diberikan 250-500 terbagi dalam 1-2
dosis/hari intramuscular dan intravena. Saat atau setelah operasi 500 – 1000
mg intravena atau 500 – 2500 mg drip injeksi intravena.
C. Post operatif
Pada saat post operatif kondisi pasien dalam keadaan yang baik.
Operasi berakhir dengan tanda vital tekanan darah 119/69 mmhg, nadi 55
kali/menit dengan saturasi oksigen 99 %. Selesai operasi pasien dipindahkan
ke Recovery Room (RR), pasien diberI bantuan oksigenase melalui canul
oksIgen 3 liter per menit, dilanjutkan pemberian cairan dan observasi 15
menit. Dinilai pernapasan, tekanan darah dan nadi sambil menunggu sampai
pasien stabil untuk dipindahkan kembali ke ruangan.
Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air, elektrolit dan kalori/nutrisi.
Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis dalam keadaan basal sekitar
kurang lebih 50 ml/kgBB/24jam. Sehingga kebutuhan air untuk pasien ini
adalah: 50 cc/kgBB/24 jam = 2750cc/24jam

23
BAB V

KESIMPULAN

Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan penyakit yang sering diderita


oleh pria usia lanjut. Sub Arachnoid Blok (SAB) atau anestesi spinal adalah salah
satu teknik dalam anestesi yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat anestesi
lokal ke dalam ruang subarachnooid dengan tujuan mendapatkan analgesia setinggi
dermatom tertentu sesuai yang diinginkan. Transurethral Resection Prostate (TURP)
yaitu suatu tindakan endoskopis pengurangan masa prostat (prostatektomi) dengan
tujuan urinasi pada pasien yang mengalami Benign Prostate Hyperplasia (BPH). Jenis
anestesi yang dipilih adalah regional anestesi dengan cara anestesi spinal. Anestesi
regional baik spinal maupun epidural dengan blok saraf tinggi memberikan efek
anestesi yang memuasakan dan kondisi operasi yang optimal bagi prosedur operasi
TURP.

24
DAFTAR PUSTAKA

Boulton, T., Blogg, C., 2002.Anestesiologi.Edisi 10.EGC. Jakarta.

Gunawan, S., 2007.Farmakologi dan Terapi.Edisi 5.FKUI. Jakarta.

Liou, S., 2013.Spinal and Epidural Anesthesia. Diakses dari: http://www.nlm.nih.

gov/medlineplus/ency/article/007413.htm

Mansjoer, A., et all. 2009. Anestesi Spinal. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Edisi

III. Media Aesculapius. Jakarta.

Siswo, H., 2006. Anestesi Regional, Aplikasi Klinis, dan Manfaat. Diakses dari:

http://digilib.uns.ac.id

25