RENCANA BUKAAN KULIT (SHELL EXPANSION PLAN)
Dari sekian banyak rencana konstruksi kapal yang disyaratkan untuk pembuatan kapal,
rencana bukaan kulit merupakan petunjuk yang sangat berguna bagi pekerja untuk
mengetahui susunan pelat, ukuran pelat dan tebal masing-masing pelat. Demikian juga saat
perbaikan (pergantian) pelat kulit, dapat diketahui bagian kulit kapal yang harus diganti
(replating) sesuai peraturan yang diikuti.
Karena pelat kulit kapal berbentuk lengkung sesuai bentuk badan kapal, maka diperlukan
teknik khusus yang digunakan untuk mendapatkan ukuran dan bentuk masing-masing lembar
pelat secara benar, terutama untuk pengukuran, pemotongan dan pembentukan pelat dari
suatu pelat datar yang disesuaikan dengan ukuran dan bentuknya di badan kapal. Ukuran
pelat datar haruslah sesuai dengan yang tersedia di gudang galangan atau di pasaran.
Umumnya lebar pelat standar adalah 1,5 m, 1,8 m, 2,4 m dan panjang pelat standar adalah 6
m, 9 m, 12 m. Harus diusahakan agar sisa pelat terpotong sekecil mungkin.
Secara umum pelat kulit kapal terdiri dari lajur pelat membujur :
1. Pelat dasar (bottom plating) terdiri dari pelat lunas (keel plate), pelat pengapit lunas
(garboard strake) dan pelat bilga (bilge strake).
2. Pelat sisi kulit kapal (side shell plating) terdiri dari pelat sisi (side shell plating) dan
pelat lajur sisi atas (sheer strake)
3. Pelat sisi bangunan atas (superstructure) yang menerus dari pelat sisi kapal
Contoh gambar di bawah ini adalah ukuran profil dan pelat pada penampang melintang kapal
di midship.
Kapal mempunyai konstruksi campuran : bagian dasar dan geladak dengan konstruksi
membujur (longitudinal) sedangkan bagian sisi kapal dengan konstruksi melintang
(transverse).
PENGGAMBARAN RENCANA BUKAAN KULIT
Untuk penggambaran bukaan kulit dibutuhkan gambar rencana garis (lines plan) dan rencana
konstruksi (construction plan / steel plan). Pada gambar rencana garis lebih dahulu dibuat
body plan untuk setiap nomor gading (body plan untuk station dihapus, tidak dipakai lagi).
Bagian konstruksi yang berhubungan dengan kulit kapal haruslah digambarkan, baik yang
membujur ataupun melintang, misalkan penumpu tengah dan penumpu sisi (centre girder,
side girder),pelantaian (floor), gading melintang (transverse framing) dan senta sisi (side
stringer), gading membujur (longitudinals) dan pelintang (transverses), tanktop, pondasi
motor induk, platform di kamar mesin, sekat melintang dan membujur (bulkhead), geladak
kedua dan seterusnya (untuk kapal lebih dari satu geladak) dan konstruksi lainnya.
Harus diperhatikan jenis konstruksi kapal: melintang, membujur atau campuran. Hal ini
berhubungan dengan syarat Klasifikasi tentang jarak minimum antar sambungan pelat dengan
alur las lainnya yang berdekatan (BKI volume II section 19: Welded Joints).
Untuk daerah tengah kapal yang parallel middle body dapat diusahakan pemakaian pelat yang
selebar mungkin Diluar daerah parallel middle body yaitu daerah buritan dan haluan
mempunyai bentuk yang lebih rumit dengan banyak lengkungan sehingga dipergunakan pelat
dengan lebar yang lebih kecil. Pada penghentian ujung-ujung lajur pelat, tidak boleh
berbentuk runcing, lebar minimum 100 mm.
Harus digambarkan bukaan pada kulit kapal misalkan lobang tabung jangkar (hawse pipe),
kotak laut (seachest), lobang bow thruster dan lainnya. Juga hubungan pelat kulit dengan
linggi haluan (stem) dan linggi buritan (stern frame / stern post). Setelah gambar body plan
untuk setiap gading selesai dan ditandai tiap perpotongan dengan konstruksi lainnya misalkan
tanktop, senta, selanjutnya lengkung gading (half girth) dibeberkan ke garis dasar.
Setelah beberan setiap gading selesai, dapat dibuat lajur-lajur pelat dimulai dengan
pelat lunas (keel), pelat dasar (bottom plating: lajur A, B, C dan D), dilanjutkan
dengan pelat bilga (bilge plating: lajur E) dan pelat sisi (side plating: lajur F, G, H, I,
J, K) diakhiri pelat lajur sisi lajur atas (sheerstrake).
Pada gambar bukaan kulit diatas, sebenarnya gambar tiap gading (frame), senta
(stringer), geladak dan bukaan pada pelat sisi kapal digambarkan tetapi dihilangkan
agar gambar pelat lebih jelas terlihat
BUKAAN KULIT
Gambar bukaan kulit adalah suatu bentangan badan kapal baik secara melintang maupun
memanjang, adapun cara menggambarnya adalah sebagai berikut :
Data awal yang dibutuhkan
• Ukuran utama kapal
• Gambar lines plan
• Bodyplan
• Ukuran pelat yang akan dipakai
• Bentuk haluan
• Bentuk buritan
• Letak gading-gading
• Bentuk chamber
• Bentuk Sheer
Gambar : Lines plan dan Body plan
Gambar : bukaan kulit.
Cara membuat gambar bukaan kulit / Shell Expansion dengan data yang sudah ada
(menyalin)
Cara kita membuat gambar bukaan kulit dengan gambar yang sudah ada biasanya dibuat
pada saat kapal naik dock, dan gambar bukaan kulit masih dibuat secara manual / atau
walaupun sudah dikerjakan secara computer akan tetapi biasanya pihak galangan pada
saat memberikan gambar ke Owner Surveyor berupa gambar kertas / hard copy tidak soft
copynya, hal ini bila kapal masuk dok untuk reparasi ke galangan lainnya maka galangan
tersebut harus membuat lagi gambar bukaan kulit.
Adapun cara membuat gambar buakaan kulit tersebut adalah sbb :
1. Ukurlah setiap sambungan plat / nat dengan sekala yang sesuai dalam gambar (
dalam hal ini pengukuran secara vertical / melebar, pengukuran biasanya cukup
setiap lima jarak gading atau sesuai tingkat kesulitan lengkung garis, kalau lengkung
garis sangat extreme / sulit maka ukurlah disetiap gading, hal ini untuk menjaga
akurasi lebar plat
2. Buatlah gambar didalam Cad garis sumbu ( center line ) dan gambar garis gading –
gading sesuai dengan jaraknya.
3. Cara membuat garis sambungan kulit / nat ada dua cara yaitu dengan perintah offset
( ketik “ O “ ) lalu isi perintah offset tersebut sesuai dengan sekala yang sudah kita
buat digambar bukaan kulit yang sudah ada, cara yang kedua dengan perintah
polyline ( ketik “ PL “ ), cara kedua ini kita dituntut untuk selalu berhitung, karena
jalannya polyline sesuai dengan selisih ketinggian yang pertama dan yang kedua
dan jarak kita kehendaki, suatu misal dari hasil pengukuran sekala kita dapatkan
lebar gading A = 1000, B = 1500, C = 2000, sedangkan jarak gading adalah 500,
maka cara membuat nat tersebut sbb :
• Ketik “ ID “ enter, computer akan memberi perintah “specify poit “ maka arahkan pointer anda
dengan bantuan object snap “ end point “ ke ujung garis gading A, lalu klik, setelah itu ketik “
PL “ enter, computer akan memberi perintah “ specify start point “ maka ketiklah @0,1000
enter, computer akan memberi perintan “ specity next point or ….” @500,500 lalu klik kiri (
jika terjadi kesalahan maka cukup ketik “ U “ enter ), untuk penjelsan kenapa harus diketik
@500,500 sbb : @ adalah perintah wajib. Sedangkan 500 pertama menerangkan jarak
kearah “ X “ ( jarak gading ), sedangkan 500 kedua adalah selisih lebar kulit digading A dan
B ( 1500 – 1000 = 500 ).
• Dengan cara yang sama dan bila semua nat telah terukur, maka menyalin gambar bukaan
kulit kedalam Cad akan lebih mudah.
Gambar. : Memasukkan perintah “ ID “
Gambar. : Tampilan setelah mamasukkan perintah “ PL “
Cara kedua membuat gambar bukaan kulit yang belum ada data gambar kulit adalah sbb :
• Ambil gambar Body Plan digambar Rencana garis dengan cara copy paste
• Rencanakan pemakai plat mulai dari lajur Keel ( lebar lajur keel biasanya 1500 mm, karena
lajur ini berada ditengah kapal, maka dalam penggambaran hanya selebar 750 mm )
• Bagilah garis body plan disetiap ordinat dimulai dari lebar 750 ke lebar plat ( 1500 / 1800 )
• Demikian seterusnya sampai selebar kulit yang menyelubngi kapal
Gambar : Pembagian nat di Body plan
Setelah membagi nat / sambungan kulit di body plan, hasil pembagian tersebut dipindah di
gambar bukaan kulit sehingga akan tampak seperti gambar di bawah ini :
Gambar. : Bukaan kulit hasil dari pengukuran dari Body plan
Informasi pada bukaan kulit
1. Garis sambungan pada masing-masing pelat kulit, baik memanjang maupun
melintang.
2. Tebal pelat kulit pada masing-masing posisi pelat kulit
3. Ukuran panjang dan lebar (dimensi) dari masing-masing pelat yang akan
digunakan/dipasang.
4. Posisi masing-masing pelat yang akan dipasang
5. Bentuk masing-masing pelat kulit yang akan dipasang
6. Jumlah lembar pelat yang akan digunakan dalam pemasangan pelat kulit kapal
tersebut.
Gambar :. Informasi bukaan kulit
BUKAAN KULIT
1. Mengapa saudara harus membuat bukaan kulit? Untuk apa sebenarnya gambar ini?
2. Perhitungan tebal kulit, sebutkan fungsi dari apa setiap lajur plat, sehingga setiap lajur
plat mempunyai ketebalan yang berbeda?
3. Kenapa peletakan sambungan tidak boleh tepat pada frame/gading? Sebutkan
alasannya.
4. Mengapa tebal sheer strake lebih tebal atau sama dengan plat disisinya?
JAWABAN
1. Gambar bukaan kulit memiliki banyak fungsi dan penggunaan, baik pada awal
perencanaan, pembuatan hingga waktu reparasi. Di antara fungsi-fungsi tersebut di antaranya:
digunakan untuk mengetahui kebutuhan dengan tebal lajur yang berbeda-beda
sehingga bisa mengestimasikan berapa biaya produksi yang dibutuhkan untuk
pembuatan kulit kapal.
Disamping itu juga untuk mengetahui posisi sambungan antar plat. Dengan
adanya perencanaan dan penggambaran bukaan kulit, kita bisa tahu apakah nantinya
sambungan antar pelat cukup jauh dengan pengelasan gading agar tidak terjadi adanya
sambungan pelat yang berada tepat pada gading.
Pada saat reparasi, digunakaan untuk menandai dan mengetahui posisi dan
panjang plat yang memerlukan perbaikan.
Dengan mengetahui panjang plat, dapat dihitung berapa biaya yang harus
dikeluarkan untuk penggantian kulit pada waktu docking.
2. Setiap permukaan kulit kapal mengalami pembebanan yang berbeda-beda, terkait dengan
posisi pelat, besarnya tekanan air yang diterima, maupun beban rancang kapal itu sendiri.
Semakin dalam posisi pelat kulit, tekanan air yang diterima juga semakin besar. Karena itu
semakin ke bawah, kekuatan pelat harus semakin besar. Untuk jenis pelat yang sama,
besarnya pembebanan akan mengakibatkan penambahan terhadap tebal plat. Sehingga bisa
disimpulkan tebal plat adalah fungsi dari beban daerah setempat. Untuk plat sisi, besarnya
beban yang diterima berbanding terbalik titik berat setiap lajur plat terhadap baseline kapal.
3. Hal yang paling riskan dan dihindari dalam pembuatan bangunan kapal adalah terjadinya
perubahan stuktur mikro material yang menyebabkan perubahan sifat mekanik dan
mempengaruhi ketahanannya terhadap tekanan dan pembebanan. Proses pengelasan
membutuhkan panas yang sangat tinggi. Gading disambung dengan pelat melalui proses
pengelasan. Apabila sambungan pelat diletakkan pada join, maka akan terjadi dua kali
pemanasan suhu tinggi. Hal itu sangat memungkinkan terjadinya perubahan stuktur mikro
pada daerah tersebut dan material menjadi getas (brittle). Hal inilah yang harus dihindarkan.
Untuk mengatasi hal itu, jarak antar sambungan pengelasan setidaknya sepanjang 300 mm
guna menghindarkan pemanasan ulang pada daerah HAZ. Kemungkinan lainnya adalah,
terjadinya konsentrasi tegangan pada sambungan karena daerah tersebut harus menerima
beban dua arah penyambungan sehingga dapat terjadi fatigue dan crack lebih cepat dan
mengurangi endurance limit material.
4. Pada ujung-ujung kapal yang berada di atas garis air sebenarnya tidak menerima tekanan
dari luar. Namun daerah ujung sangat diperlukan untuk menjaga kekakuan dan kestabilan
bentuk kapal agar bentuk lambung tidak berubah. Karena itu, meskipun beban yang diterima
lebih kecil daripada plat sisi di bawah garis air, namun tebal sheer strake harus sama dengan
tebal plat sisi yang terbesar atau lebih tebal.
5. Peletakan seachest harus di bawah garis air pada ruang mesin. Dalam satu sisi kapal,
jumlah seachest ada dua, pada bagian dasar dan sisi kapal. Sea chest pada dasar kapal
digunakan bila kapal berada pada perairan dalam karena kondisi air dianggap cukup bersih
dari pengaruh tanah dan pasir pada dasar perairan. Sea chest di sisi kapal digunakan pada
perairan dangkal agar tidak ada sampah dan pasir yang ikut tersedot ke dalam pipa sehingga
proses pembersihan lebih mudah dan sirkulasi air laut ke dalam kapal tetap lancar.