0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
771 tayangan7 halaman

Bab 9 Gading-Gading

Bab 9 membahas sistem gading-gading pada kapal. Gading-gading harus memiliki jarak maksimal 600 mm dan ukuran konstruksi yang cukup kuat untuk menahan beban. Gading-gading utama, geladak antara, dan bangunan atas harus memiliki modulus penampang dan luas geser yang sesuai untuk mencegah kerusakan akibat tegangan lengkung, geser, dan ekuivalen. Sambungan antar gading juga perlu dirancang dengan baik untuk men

Diunggah oleh

moch rizki darmawan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
771 tayangan7 halaman

Bab 9 Gading-Gading

Bab 9 membahas sistem gading-gading pada kapal. Gading-gading harus memiliki jarak maksimal 600 mm dan ukuran konstruksi yang cukup kuat untuk menahan beban. Gading-gading utama, geladak antara, dan bangunan atas harus memiliki modulus penampang dan luas geser yang sesuai untuk mencegah kerusakan akibat tegangan lengkung, geser, dan ekuivalen. Sambungan antar gading juga perlu dirancang dengan baik untuk men

Diunggah oleh

moch rizki darmawan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bab 9 - Sistem Gading-Gading A 9-1

Bab 9

Sistem Gading-Gading

A. Gading-Gading Melintang

1. Umum

1.1 Jarak gading-gading

Didepan sekat tubrukan dan dibelakang sekat ceruk buritan,


jarak gading pada umumnya tidak boleh lebih dari 600 mm.

1.2 Definisi

k = faktor bahan sesuai Bab 2, B.2.


R = panjang tidak ditumpu [m] sesuai Bab 3, C.,
lihat juga Gb. 9.1
Rmin = 2,0 m
RKu, RKo= panjang sambungan braket bawah/braket atas
gading-gading utama dalam panjang R [m], lihat
Gb. 9.1 Gb. 9.1 Panjang tidak ditumpu gading-gading
melintang
2
a a a
ma = 0,204 4 ! , dimana <
– 1
R R R
luas geser ujung atas :
e = jarak gading-gading besar [m]
ARO = 1 ! 0,817 @ ma 0,04 @ a @ R @ p @ k [cm2]
p = ps atau pe sesuai kasusnya
ps = beban pada sisi kapal [kN/m2] sesuai luas geser ujung bawah :
Bab 4, B.2.1
ARU = 1 ! 0,817 @ ma 0,07 @ a @ R @ p @ k [cm2]
2
pe = beban pada konstruksi haluan [kN/m ] sesuai
Bab 4, B.2.2 atau konstruksi buritan sesuai n = 0,9 ! 0,0035 @ L untuk L < 100 m
Bab 4, B.2.3 sesuai kasusnya
pL = beban geladak antara [kN/m2] sesuai Bab 4, C.1. = 0,55 untuk L >
– 100 m
p1, p2 = tekanan [kN/m2] sesuai Bab 4, D.1. RKu RKo
Hu = tinggi sampai geladak terbawah [m] c = 1,0 ! % 0,4 @
R R
cr = faktor untuk gading-gading lengkung
cmin = 0,6
s
= 1,0 ! 2
R Didaerah sambungan braket bawah, modulus penampang
tidak boleh kurang dari nilai yang didapat untuk c = 1,0.
crmin = 0,75
s = tinggi maximum lengkungan. 2.1.2 Pada kapal dengan jumlah geladak lebih dari 3,
gading utama harus diteruskan sedikitnya sampai geladak
2. Gading-gading utama diatas geladak terbawah.

2.1 Ukuran konstruksi 2.1.3 Ukuran konstruksi gading-gading utama tidak boleh
kurang dari ukuran gading-gading geladak antara yang
2.1.1 Modulus penampang WR dan luas geser AR dari berada diatasnya.
gading-gading utama termasuk sambungan ujung tidak boleh
kurang dari: 2.1.4 Jika ukuran konstruksi gading-gading utama
ditentukan dengan perhitungan kekuatan, maka tegangan
WR = n @ c @ a @ R2 @ p @ cr @ k [cm3] izin berikut agar diperhatikan:
9-2 Bab 9 - Sistem Gading-Gading A

150 gading yang terletak diantara geladak pertama dan geladak


tegangan lengkung: σb = [N/mm2]
k kedua.

100 Jika diatas bangunan atas ditempatkan bangunan atas lain


tegangan geser: τ = [N/mm2] atau rumah geladak yang besar, maka dapat disyaratkan
k
penguatan pada gading-gading ruangan yang dibawah.
tegangan ekuivalen : Untuk gading geladak antara dalam tangki, persyaratan
modulus penampang W1 dan W2 sesuai 2.2 harus
180
σv = σb % 3 τ2 = [N/mm2] diperhatikan.
k
2.1.5 Gaya akibat sistem pengikatan yang bekerja pada 3.2 Ukuran konstruksi
gading-gading harus diperhitungkan dalam penentuan
ukuran konstruksi gading-gading (lihat juga Bab 21, H.). 3.2.1 Modulus penampang Wt dan luas geser At dari
gading-gading geladak antara dan bangunan atas tidak boleh
2.1.6 Untuk gading-gading utama pada ruang muat kapal kurang dari:
curah lihat juga Bab 23, B.5.2. Wt = 0,55 @ a @ R2 @ p @ cr @ k [cm3]
2.2 Gading-gading dalam tangki At = (1 - 0,817 @ ma) 0,05 @ a @ R @ p @ k [cm2],

Modulus penampang W dan luas geser A dari gading-gading p tidak boleh diambil kurang dari:
dalam tangki atau ruang muat untuk tangki balas tidak boleh 2
b
kurang dari yang lebih besar dari nilai berikut: pmin = 0,4 @ pL @ [kN/m2]
R
W1 = n @ c @ a @ R2 @ p1 @ cr @ k [cm3],
atau b = panjang tidak ditumpu dari balok geladak
dibawah gading-gading geladak antara [m]
W2 sesuai Bab 12, B.3.1, dan
Untuk gading-gading geladak antara yang ujung bawahnya
A1 = (1 - 0,817 @ ma) 0,05 @ a @ R @ p1 @ k [cm2], dihubungkan ke pelintang geladak, pmin harus dikalikan
faktor dibawah ini:
A2 = (1 - 0,817 @ ma) 0,04 @ a @ R @ p2 @ k [cm2],
e
n dan c lihat 2.1.1. f1 = 0,75 + 0,25 $ 1,0
a
2.3 Sambungan ujung
3.3 Sambungan ujung
2.3.1 Sambungan braket bawah ke konstruksi alas Gading-gading geladak antara dan gading-gading bangunan
ditentukan sesuai Bab 3, D.2. berdasarkan modulus atas harus dihubungkan ke gading utama dibawahnya atau
penampang gading-gading utama. ke geladak. Sambungan ujung dapat dilaksanakan sesuai
dengan Gb. 9.2
2.3.2 Sambungan braket atas ke konstruksi geladak Untuk gading-gading geladak antara dan gading-gading
dan/atau ke gading-gading geladak antara ditentukan sesuai bangunan atas butir 2.3.3 agar diperhatikan, bila mungkin.
Bab 3, D.2. berdasarkan modulus penampang balok geladak
atau gading-gading geladak antara yang mana yang lebih
besar.

2.3.3 Jika gading-gading didukung oleh geladak yang


diperkuat secara membujur, maka gading-gading yang
dipasang diantara gading-gading besar harus dihubungkan
ke pembujur didekatnya dengan braket. Ukuran braket
ditentukan sesuai dengan Bab 3, D.2. berdasarkan modulus
penampang dari gading-gading. Gb. 9.2 Tipikal sambungan ujung gading-gading
geladak antara dan gading-gading bangunan
3. Gading-gading geladak antara dan gading-gading atas
bangunan atas
4. Gading-gading ceruk dan gading-gading
3.1 Umum
didaerah buritan
Pada kapal yang kecepatannya lebih dari v0 = 1,6 L [kn], 4.1 Gading-gading ceruk
gading-gading akil didepan 0,1 L harus mempunyai ukuran
konstruksi sekurang-kurangnya sama dengan ukuran gading- 4.1.1 Modulus penampang WP dan luas geser AP gading-
Bab 9 - Sistem Gading-Gading A 9-3

gading ceruk tidak boleh kurang dari: L


tebal t = 6,0 + [mm].
40
WP = 0,55 @ a @ R2 @ p @ cr @ k [cm3]

AP = (1 - 0,817 @ ma) 0,05 @ a · R @ p @ k [cm2], 5.2.2 Luas penampang tiap balok ceruk ditentukan sesuai
Bab 10, C.2 untuk beban
4.1.2 Jika panjang ceruk haluan tidak lebih dari 0,06 L, P = A @ p [kN]
maka modulus penampang yang disyaratkan pada
pertengahan panjang ceruk haluan, dapat diberlakukan untuk A = luas pembebanan balok [m2]
seluruh ceruk haluan.
p = ps atau pe, sesuai yang berlaku.
4.1.3 Gading-gading ceruk harus dihubungkan pada pelat
senta guna menjamin penyaluran gaya geser yang cukup. 5.2.3 Dalam ceruk buritan, balok ceruk dengan pelat senta,
umumnya dengan jarak satu sama lain, diukur secara tegak
4.1.4 Kapal dengan panjang tidak melebihi 30 m harus lurus 2,6 m harus dipasang sesuai persyaratan 5.2.1, sejauh
mempunyai gading-gading ceruk yang modulus bentuk kapal memungkinkannya.
penampangnya sama dengan modulus penampang gading-
gading utama. 5.2.4 Las putus-putus pada senta dalam ceruk buritan harus
dihindari. Skalop pada pelat kulit harus dibatasi hanya pada
4.1.5 Jika ceruk digunakan sebagai tangki, maka modulus lubang untuk kampuh las dan lubang air.
penampang gading-gading ceruk tidak boleh kurang dari
persyaratan pada Bab 12, B.3.1 untuk W2. 5.2.5 Jika ceruk digunakan sebagai tangki, pelat senta
harus diberi flens atau dipasang pelat hadap pada pinggir
4.2 Gading-gading didaerah buritan dalamnya. Senta harus dipasang secara efektif pada sekat
tubrukan sehingga gaya dapat tersalurkan dengan
4.2.1 Gading-gading pada buritan penjelajah (cruiser semestinya.
stern) yang ditempatkan dengan sudut yang berubah-ubah
terhadap arah melintang harus mempunyai jarak tidak lebih 5.2.6 Jika dipakai geladak berlubang sebagai pengganti
dari 600 mm dan harus diteruskan ke geladak diatas puncak balok ceruk, maka ukuran konstuksinya ditentukan seperti
tangki ceruk dengan ukuran konstruksi sama dengan gading- pada sekat berlubang sesuai Bab 12, G. Persyaratan luas
gading ceruk. penampang dalam 5.2.2, bagaimanapun, harus dipenuhi.

4.2.2 Senta tambahan dapat disyaratkan pada bagian 5.3 Gading-gading besar dan senta.
belakang kapal diluar ceruk buritan jika posisi gading-
gading menjorok jauh keluar dan tidak dipasang tegak lurus 5.3.1 Jika gading-gading besar dan senta penumpu
pada pelat kulit. dipasang sebagai pengganti balok ceruk, maka ukuran
konstruksinya ditentukan sebagai berikut:
5. Penguatan pada haluan dan buritan kapal .1 Modulus penampang:

5.1 Umum W = 0,55 @ e @ R2 @ ps @ n @ k [cm3]

Pada bagian depan kapal yaitu dari ujung depan sampai .2 Luas penampang bilah pada tumpuan:
0.15 L dibelakang garis tegak depan (F.P.), pada prinsipnya Aw = 0,05 @ e @ R1 @ ps @ k [cm2]
harus digunakan braket berflens.
Sejauh mungkin dan dapat dilaksanakan, balok ceruk atau R = panjang tidak ditumpu [m], tanpa
gading besar dan senta harus dipasang pada ceruk haluan memperhitungkan palang pengikat, jika ada
dan ceruk buritan. R1 = sama dengan R, tetapi dengan
memperhitungkan palang pengikat, jika ada
5.2 Balok ceruk
n = koefisien sesuai Tabel 9.1 berikut.
5.2.1 Didepan sekat tubrukan, balok ceruk (balok pada
tiap gading-gading kedua) umumnya berjarak tidak lebih Tabel 9.1 Koefisien reduksi n
dari 2,6 m diukur secara tegak lurus, harus dipasang dibawah
geladak terbawah dalam ceruk haluan. Pelat senta harus Jumlah palang pengikat n
dipasang pada balok ceruk yang dihubungkan dengan las
menerus pada pelat kulit dan dengan braket pada tiap 0 1,0
gading-gading. Ukuran pelat senta diperoleh dari rumus 1 0,5
berikut: 2 0,3
>
– 3 0,2
lebar b = 75 L [mm]
9-4 Bab 9 - Sistem Gading-Gading A

5.3.2 Pelintang-pelintang vertikal harus dihubungkan satu 5.5.2 Pada daerah yang sama dalam ruang geladak antara
sama lain dengan palang pengikat yang luas penampangnya dan bangunan atas dengan tinggi 3 m atau lebih, braket
ditentukan sesuai 5.2.2. jungkir sesuai 5.5.1 harus dipasang.

5.3.3 Jika gading-gading besar dan senta pada ujung depan 5.5.3 Bila ceruk atau ruang lainnya yang berada didepan
kapal ditentukan berdasarkan perhitungan kekuatan, maka sekat tubrukan akan digunakan sebagai tangki, braket
tegangannya tidak boleh melampaui tegangan izin pada jungkir menurut 5.5.1 harus dipasang antara balok-balok
2.1.4. ceruk atau senta-senta.

Catatan 5.5.4 Untuk penguatan daerah es, lihat Bab 15.


Jika terdapat sebuah haluan gembung yang besar dan
6. Gading-gading besar didalam kamar mesin
panjang, maka tekanan dinamis psdyn harus dikenakan pada
satu sisi. Tekanan pada satu sisi dapat dihitung sebagai
6.1 Penempatan
berikut:

z 6.1.1 Didalam kamar mesin dan ruang ketel, harus


psdyn = po @ cF @ 1 % [kN/m2] dipasang gading-gading besar. Pada umumnya gading-
T
gading besar harus diteruskan sampai geladak menerus
po , cF , z dan f sesuai Bab 4, dengan f = 0,75. teratas. Dalam kamar mesin jarak antara gading-gading
besar tidak boleh lebih dari 5 jarak gading.
Luas efektif psdyn,, dapat diasumsikan sama dengan luas
proyeksi bidang z-x dari depan sampai sekat tubrukan. 6.1.2 Pada motor bakar, gading-gading besar, umumnya,
harus dipasang pada ujung depan dan ujung belakang
5.4 Gading-gading besar dan senta di geladak antara motor. Gading-gading besar harus ditempatkan secara
dan geladak bangunan atas merata sepanjang motor.

Pada kapal yang kecepatannya melebihi v0 = 1,6 L [kn] 6.1.3 Jika motor bakar dipasang diburitan kapal, senta
atau pada kapal dengan bentuk haluan sangat melebar yang berjarak 2,6 m harus dipasang dalam kamar mesin,
keluar, senta dan pelintang sesuai 5.3 harus dipasang dalam yang letaknya segaris dengan senta dalam ceruk buritan,
ruang geladak antara dan bangunan atas dalam batas 0,1 jika ada. Jika tidak, maka gading-gading utama harus
L dari garis tegak depan. diperkuat secukupnya. Ukuran konstruksi senta harus sama
dengan ukuran gading-gading besar. Sedikitnya disyaratkan
Jarak antara senta-senta dan pelintang-pelintang harus
dipasang satu senta bila tinggi sampai geladak terendah
kurang dari 2,8 m. Pelebaran yang sangat besar dari haluan
kurang dari 4 m.
terjadi jika sudut kemiringan diukur pada arah melintang
kapal dan terhadap bidang vertikal melebihi 40°.
6.1.4 Untuk konstruksi alas di dalam kamar mesin, lihat
Bab 8, C.
5.5 Braket jungkir
6.2 Ukuran konstruksi
5.5.1 Antara titik terlebar kapal pada sarat maksimum
dan sekat tubrukan, harus dipasang braket jungkir sesuai
6.2.1 Modulus penampang gading-gading besar tidak boleh
Gb. 9.3 dengan jarak vertikal tidak melampaui 2,6 m. Tebal
kurang dari:
braket jungkir ditentukan menurut 5.2.1. Jika dibuktikan
bahwa konstruksi aman terhadap penjungkiran, maka braket W = 0,8 @ e @ R2 @ ps @ k [cm3]
jungkir dapat ditiadakan sebagian atau seluruhnya.
Momen inersia gading-gading besar tidak boleh kurang
dari:
I = H (4,5 H - 3,5) c @ 102 [cm4]
untuk 3 m # H # 10 m
I = H (7,25 H - 31) c @ 102 [cm4]
untuk H > 10 m
c = 1 + (Hu - 4) 0,07

Ukuran konstruksi gading-gading besar dihitung sebagai


berikut:
tinggi h = 50 @ H [mm],
Gb. 9.3 Braket jungkir hmin = 250 mm
Bab 9 - Sistem Gading-Gading B 9-5

h p = beban [kN/m2]
tebal t = [mm],
32 % 0,03 h = pB sesuai Bab 4, B.3. untuk pembujur alas
tmin = 8,0 mm.
= ps atau pe sesuai Bab 4, B.2.1 untuk
pembujur sisi
6.2.2 Kapal dengan tinggi kurang dari 3 m, umumnya,
harus mempunyai gading-gading besar dengan ukuran tidak = pl sesuai Bab 4, D.1.1 untuk pembujur pada
boleh kurang dari 250 × 8 mm dan luas penampang pelat sisi kapal, pada sekat memanjang dan
hadap minimum 12 cm2. pada alas dalam didaerah tangki.

6.2.3 Dalam kamar mesin yang sangat lebar, Untuk pembujur alas didaerah tangki p akibat tekanan
direkomendasikan untuk dipasang sekat sisi memanjang. tangki tidak perlu diambil lebih besar dari

p1 S 10 @ Tmin S p0 @ cF [kN/m2]

B. Pembujur Alas, Pembujur Sisi dan Pembujur Untuk pembujur sisi p tidak perlu diambil lebih besar dari:
Geladak, Pelintang Sisi
z
p1 S 10 @ Tmin S z S p0 @ cF 1% [kN/m2]
1. Umum Tmin

1.1 Pembujur sedapat mungkin menembus wrang dan Untuk suku yang berada dalam kurung siku, tidak boleh
pelintang. Hubungan bilah pembujur ke bilah wrang dan digunakan nilai < 0.
pelintang harus sedemikian rupa sehingga gaya reaksi
= pd sesuai Bab 4, D.2. untuk pembujur pada
tumpuan dapat disalurkan. Tegangan geser yang diizinkan
sisi kapal, geladak dan sekat memanjang
100/k [N/mm2] tidak boleh dilampaui.
dalam tangki yang diisi sebagian
Untuk gading-gading dan balok memanjang, kekuatan lelah
= pD sesuai Bab 4, B.1. untuk pembujur
yang cukup harus dibuktikan sesuai dengan Bab 20.
geladak dari geladak kekuatan
Didepan 0,1 L dari garis tegak depan (F.P.) bilah pembujur
= pDA sesuai Bab 4, B.5. untuk geladak terbuka
harus dihubungkan secara efektif pada kedua ujungnya.
yang tidak diperlakukan sebagai geladak
Jika sudut kemiringan lebih dari 40° maka penegar tumit
kekuatan
atau braket tambahan harus dipasang.
= pi sesuai Bab 4, C.2. untuk pembujur alas
1.2 Jika pembujur terputus pada sekat-lintang, maka dalam, bagaimanapun juga tidak boleh
braket harus menembus sekat-lintang. Didaerah lingkar kurang dari beban yang sesuai dengan
atas dan lingkar bawah, luas penampang braket pada sekat jarak antara alas dalam dan sarat muat
harus 1,25 kali luas penampang pembujur. Panjang kampuh tertinggi.
las yang menghubungkan braket dan pembujur kurang lebih
= pL sesuai Bab 4, C.1. untuk pembujur
2 kali tinggi penampang profil sehingga luas penampang
geladak muatan dan untuk pembujur alas
sambungan las sekurang-kurangnya1,5 kali luas penampang
dalam
profil. Pertimbangan dapat diberikan untuk rancangan yang
setara. p0 = sesuai dengan Bab 4, A.2.2
cF = sesuai dengan Tabel 4.1 dalam Bab 4, A.2.2
1.3 Diluar lingkar atas dan lingkar bawah, luas
penampang yang tersebut dalam 1.2 dapat dikurangi 20%. Tmin = sarat balas terkecil
σL = tegangan aksial pada profil yang ditinjau
1.4 Jika pembujur ditiruskan pada wrang kedap air dan [N/mm2] sesuai dengan Bab 5, D.1.
sekat, maka pembujur harus dihubungkan pada wrang
dengan braket yang tebalnya sama dengan tebal wrang pelat z = jarak konstruksi [m] diatas garis dasar.
dan panjang kampuh las pada pembujur sama dengan
2 × tinggi pembujur alas. (Mengenai alas ganda dengan 2 2 mK2
sistem memanjang lihat Bab 8, B.7.). m = mK S ma ; m$
2
1.5 Untuk kekuatan tekuk dari pembujur lihat Bab 3, RK
F.2.3 dan 3. mK = 1 S 3 sin2 αK
R
2. Definisi
RK = sesuai dengan Gb. 9.4 [m]
k = faktor bahan sesuai Bab 2, B.2.
αK = sesuai dengan Gb. 9.4 [E]
R = panjang tidak ditumpu [m] sesuai Bab 3, C.,
lihat juga Gb. 9.4 ma = lihat A.1.2
9-6 Bab 9 - Sistem Gading-Gading B

σLD = σLmax
σLB = 0,8 @ σLmax.
σLmaks lihat Bab 5, E.4.
Untuk perhitungan σpr, nilai tegangan mutlak harus diambil
untuk σLB and σLD.

3.2 Dalam tangki, modulus penampang tidak boleh


Gb. 9.4 Sambungan ujung
kurang dari W2 sesuai Bab 12, B.3.1.

3.3 Untuk penentuan modulus penampang pembujur


3. Ukuran konstruksi pembujur alas, pembujur
yang terletak berdekatan dengan lajur bilga yang tidak
sisi dan pembujur geladak
diperkuat arah membujur, nilai berikut
r a
3.1 Modulus penampang dan luas geser pembujur alas, %
pembujur sisi dan pembujur geladak kekuatan tidak boleh 3 2
kurang dari: harus dimasukkan sebagai pengganti a dalam rumus pada
3.1 (lihat Gb. 9.5)
83,3
WR = @ m @ a @ R2 @ p [cm3] Untuk keamanan terhadap jungkiran, maka jarak pelintang
σpr harus kurang dari 12 × lebar pelat hadap pembujur. Jika
tidak, maka sebuah braket tambahan harus dipasang pada
AR = (1 - 0,817 @ ma) 0,05 @ a @ R @ p @ k [cm2], pertengahan jarak pelintang.

Tegangan izin σpr ditentukan menurut rumus berikut:

Dibawah sumbu netral dari masing-masing penampang


melintang:

σLB % σLD
σpr = σperm S σLB % z [N/mm2]
H

Diatas sumbu netral dari masing-masing penampang


melintang:

σLB % σLD
σpr = σperm % σLB S z [N/mm2]
H Gb. 9.5
Untuk kedua kasus berlaku hal berikut:
3.4 Jika ukuran konstruksi pembujur ditentukan menurut
σpr # 150 [N/mm2] perhitungan kekuatan, maka jumlah tegangan ekuivalen
k
yang terdiri dari tegangan lengkung dan tegangan geser
setempat dan tegangan normal akibat lengkung bujur
L 230
σperm = 0,8 % [N/mm2] lambung tidak boleh melampaui jumlah tegangan σperm
450 k yang ditentukan dalam 3.1.

230 3.5 Tegangan tambahan pada daerah haluan dan buritan


σperm maks = [N/mm2]
k akibat penggunaan profil yang tidak simetris harus
diperhitungkan yang penentuannya dijelaskan dalam
Untuk pembujur sisi WR dan AR tidak boleh kurang dari: Bab 3, L.
83 Hal ini berlaku juga secara umum untuk analisa kekuatan
WRmin = @ m @ a @ R2 @ psl [cm3]
σpermmax & |σL| lelah sesuai Bab 20.

ARmin = (1 – 0,817 @ ma) 0,037 @ a @ R @ psl @ k [cm2] 3.6 Bila perlu, untuk pembujur antara sekat lintang dan
pelintang sisi, tegangan tambahan akibat deformasi pelintang
psl masing-masing sesuai dengan Bab 4,B.2.1.1 dan 2.1.2 sisi harus diperhitungkan.

Jika σLD dan σLB tidak diketahui, maka dapat diambil nilai 3.7 Jika penunjang dipasang antara pembujur alas dan
berikut: pembujur alas dalam, lihat Bab 8, B.7.2.
Bab 9 - Sistem Gading-Gading B 9-7

3.8 Untuk ukuran konstruksi pembujur sisi didaerah = 1,0 pada haluan kapal jika sudut kemiringan
yang akan diperkuat terhadap beban akibat olah gerak α > 40°
dipelabuhan dan olah gerak kapal tunda, lihat Bab 6, C.5.
Pada haluan kapal jika sudut kemiringan α lebih besar
dari 400, maka bilah pelintang didaerah balok geladak
3.9 Didaerah haluan, dimana sudut kemiringan α lebih
harus diperkuat.
besar dari 40° dan didaerah buritan dimana sudut kemiringan
α lebih besar dari 75°, panjang yang tidak ditumpu dari
4.3 Dalam tangki, modulus penampang dan luas
pembujur yang terletak diatas Tmin ! co harus tidak melebihi
penampang tidak boleh kurang dari W2 and Aw2 sesuai
2,6 m; co lihat Bab 4, A.2. Jika tidak, maka braket jungkir
Bab 12, B.3.
menurut A.5.5 harus dipasang.
4.4 Bilah pelintang sisi didaerah dimana diperkirakan
4. Pelintang sisi
akan terjadi konsentrasi beban akibat olah gerak kapal
diterminal, harus diperiksa tentang kecukupan kekuatan
4.1 Modulus penampang W dan luas geser Aw dari
tekuknya sesuai dengan Bab 3, F. Gaya yang disalurkan
pelintang sisi yang menumpu pembujur sisi tidak boleh
oleh pisang-pisang ke gading-gading besar dapat ditentukan
kurang dari:
dengan rumus berikut:
W = 0,55 @ e @ R2 @ p @ k [cm3]
D @ v2
Aw = 0,05 @ e @ R @ p @ k [cm2] Pf = [kN]
2 @ f
4.2 Jika pelintang sisi dirancang berdasarkan perhitungan
kekuatan, maka tegangan berikut tidak boleh dilebihi: D = displasemen kapal [t]
Dmax = 100 000 t
150
σb = [N/mm2]
k f = defleksi pisang-pisang dan/atau tiang [m]
v = kecepatan olah gerak kapal [m/s]
100
τ = [N/mm2]
k Jika f dan/atau v tidak diketahui dengan pasti, gaya Pf yang
ditimbulkan oleh pisang-pisang dapat dihitung dengan
2 180
σv = σb % 3 τ2 <
– [N/mm2] pendekatan berikut:
k
0 < D # 2100 [t]: Pf = 0,08 @ D [kN]
Pelintang sisi dan tumpuannya (misalnya geladak) harus 2100 < D # 17000 [t]: Pf = 170 [kN]
diperiksa menurut Bab 3, F. tentang kekuatan tekuknya.
D
D > 17000 [t]: Pf = [kN]
Catatan: 100
Tebal bilah pelintang sisi dapat ditentukan berdasarkan
4.5 Tegangan tekan pada bilah pelintang sisi yang
ukuran bidang bilah yang tidak ditumpu :
diakibatkan gaya Pf ditentukan dengan rumus berikut:
Pf @ 103
f @ b 200 b2 σD = [N/mm2]
t = 2 %
b 2 k a 2 c @ ts
1 %
2
a c = panjang vertikal bagian yang terkena gaya Pf,
jika c tidak diketahui, maka dapat diambil
a, b = panjang sisi dari bidang bilah yang tidak c = 300 mm sebagai nilai rujukan
ditumpu, a >
– b ts = tebal bilah [mm].
f = 0,75 pada umumnya
5. Penguatan pada haluan dan buritan
= 0,9 pada buritan kapal dengan sudut
kemiringan yang sangat besar dan pada
Dalam ceruk haluan dan ceruk buritan harus dipasang
haluan kapal dengan sudut kemiringan
gading-gading besar dan senta atau balok ceruk sesuai A.5.
α # 40°

Anda mungkin juga menyukai