Anda di halaman 1dari 146

Public Disclosure Authorized

Pertemuan ke 15
Grup Konsultatif untuk Indonesia
40712
Jakarta, 14 Juni 2006

Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian


Public Disclosure Authorized

Bencana Alam di Yogyakarta dan Jawa Tengah


Public Disclosure Authorized
Public Disclosure Authorized

Cetakan Kedua

Laporan bersama BAPPENAS, Pemerintahan Provinsi dan Daerah D.I. Yogyakarta,


Pemerintahan Provinsi dan Daerah Jawa Tengah, dan Mitra international, Juli 2006
MAGELANG (KOTA)

BOYOLALI
MAGELANG

PURWOREJO SLEMAN KLATEN SUKOHARJO


YOGYAKARTA (KOTA)

KULON PROGO
BANTUL WONOGIRI
GUNUNG KIDUL
Pertemuan ke-15
Grup Konsultatif untuk Indonesia
Jakarta, 14 Juni 2006

Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian


Bencana Alam di Yogyakarta dan Jawa Tengah

Laporan bersama BAPPENAS, Pemerintahan Provinsi dan Daerah


D.I.Yogyakarta, Pemerintahan Provinsi dan Daerah Jawa Tengah,
dan Mitra International, Juli 2006
i

PENDAHULUAN

Pada tanggal 27 Mei 2006, gempa bumi mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Yogyakarta adalah pusat
kesenian dan kebudayaan tradisional Jawa, candi-candi kuno seperti Borobudur dan Prambanan, dan
merupakan rumah bagi satu keluarga kerajaan yang garis keturunannya berasal dari era Mataram pada abad ke
16. Yogyakarta juga merupakan daerah pusat pendidikan tinggi di Indonesia.
Gempa yang terjadi di awal pagi hari itu menewaskan 5.700 jiwa, mencederai lebih dari 40.000 sampai 60.000
orang, dan menghancurkan ratusan ribu rumah dan mata pencaharian mereka. Seakan-akan kehancuran yang
disebabkan oleh gempa bumi ini belum cukup, bencana pun masih belum selesai. Meningkatnya kegiatan
vulkanis Gunung Merapi, yang mulai terjadi pada bulan Maret 2006, terus menghasilkan aliran lava, gas-gas
beracun, dan awan debu, dan memaksa dilakukannya evakuasi atas puluhan ribu orang.
Laporan ini menyajikan penilaian awal terhadap kerusakan dan kerugian yang disebabkan oleh gempa bumi
tersebut. Penilaian ini menggunakan metode standar internasional untuk mengukur besarnya bencana, dan
memanfaatkan beberapa pakar terbaik dunia. Laporan ini memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang
dampak dari bencana ini lepada Pemerintah dan masyarakat internacional, serta dapat menjadi dasar untuk
merancang program rekonstruksi dan pemulihan. Laporan ini dipersiapkan di bawah pimpinan BAPPENAS,
didukung oleh satu tim kuat yang terdiri dari para spesialis Indonesia dan spesialis internasional.
Analisis ini menemukan bahwa dampak dari gempa bumi ini jauh lebih parah daripada yang diperkirakan
semula. Walaupun kebanyakan infrastruktur utama tetap utuh, kerusakan dan kerugian yang terjadi pada rumah-
rumah dan bangunan lain yang dibangun tanpa penguatan yang benar (perusahaan-perusahaan kecil, sekolah,
klinik, dll) cukup mencengangkan. Dengan kerusakan dan kerugian akibat gempa bumi yang diperkirakan
mencapai Rp 29,1 triliun (US$3.1 billion), bencana ini mengakibatkan kerugian yang lebih besar daripada
dampak tsunami di Sri Lanka pada tahun 2004, dan sama skalanya dengan gempa bumi Gujarat pada tahun
2001 dan gempa bumi yang baru-baru ini terjadi di Pakistan.
Bencana yang terjadi belakangan ini memberikan peringatan yang sangat jelas betapa tingginya tingkat risiko
bencana alam yang dihadapi Indonesia. Jelas dari penilaian ini bahwa teknik pembangunan yang buruk dan
bahan bangunan yang tidak berkualitas merupakan penyebab utama tewasnya sejumlah besar orang dan
tingginya tingkat kerusakan yang terjadi. Rehabilitasi, rekonstruksi dan rencana-rencana pembangunan untuk
masa depan perlu memperhatikan hal ini dan kemudian mengintegrasikan langkah-langkah proaktif dan
langkah-langkah pencegahan ke dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi dan dalam strategi pembangunan
secara lebih luas. Sayangnya, di Indonesia, tidak ada yang dapat mengelak bahwa akan terjadi “yang berikut”,
dan mungkin akan datang lebih cepat daripada yang disangka.
Seperti yang terjadi di Aceh dan Nias, bencana yang menimpa Yogyakarta dan Jawa Tengah juga memberikan
contoh lain sehubungan dengan keuletan masyarakat Indonesia untuk melanjutkan dan membangun kembali
kehidupan mereka. Sekarang, sementara operasi pertolongan darurat telah berjalan dengan baik, Pemerintah
telah mengumumkan rencananya untuk segera memulai program rekonstruksi, di mana sumber daya akan
disediakan secara langsung bagi masyarakat yang terkena dampak, yang akan menggerakkan proses ini. Program
ini pantas mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat nasional dan internasional. Laporan ini bertujuan
untuk membantu memberikan informasi mengenai proses tersebut.

H. Paskah Suzetta Andrew Steer Edgar A. Cua


Menteri Negara Badan Country Director, Bank Dunia di Country Director,
Perencanaan Pembangunan Indonesia Asian Development Bank di
Nasional / Ketua BAPPENAS Indonesia
atas nama kontribusi para mitra internasional
ii Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

PENGHARGAAN

Laporan ini dipersiapkan oleh satu tim gabungan Pemerintah Indonesia yang dikoordinasi oleh Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) bekerja sama dengan Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Jawa Tengah (BAPEDA) dan masyarakat internasional, termasuk Bank Dunia,
ADB, GTZ, JBIC, JICA, ILO, UNDP, IFRC, Asia Foundation, dan UN Habitat, dengan partisipasi
dan kontribusi yang signifikan oleh banyak lembaga pemerintah dan donor lainnya.
Tim BAPPENAS dipimpin oleh Luky Eko Wuryanto dan Suprayoga Hadi, dan termasuk juga para
koordinator sektor berikut ini: Nural Wajah (perumahan dan infrastruktur), Choesni (kegiatan
produktif), Taufik Hanafi (sektor sosial), Togu Pardede (lintas-sektor), dan Sumedi (analisis dampak).
Kontribusi yang signifikan juga diberikan oleh Agus Prabowo, Arifin Rudiyanto, Arum Atmawikarta,
Basah Hernowo, Deddy Koespramudyo, Donny Azdan, Gumilang Hardjakusuma, Ikhwanuddin
Mawardi, Sidqy Suyitno, Subandi, Syahrial Loetan, Taufik Hanafi, Tubagus Achmad Choesni,
Umiyatun Hayati Triastuti, Wahyuningsih Darajati, dan Yohandarwati. Tim BAPPENAS didukung
oleh bantuan-bantuan teknis dari direktorat BAPPENAS, khususnya Amil Alhumami, Anom
Parikesit, Benny Azwir, Destri H., Edy Darmono, Eka Chandra Buana, Erik Armundito, Hayu
Parasati, Hermani Wahab, Inti Wikanestri, Jadhie Aradajat, Jayadi, Dading Gunadi, Khairul, Subarja,
Kuswiyanto, May Hendarmini, Nurul Wajah Mujahid, Petrus Sumarsono, Pungkas B. Ali, Rachmi
Utami, Rahmi Utamisari, Rohmad Supriyadi, Rohmad, Rudi Hartono Pakpahan, Rudi Pakpahan,
Setio Utomo, Somantha Prakosa, Sumedi Andono Mulyo, Suryansyah Bachta, Suryansyah Bachta,
Sutiman, Taufiq Hidayat Putro, Togu Pardede, Vivi Andriani, Yukie, dan Yunus Gustanto. Dari
BAPPEDA Provinsi, pemberian dukungan dipimpin oleh Bayudono, Anung Hermantoro, Edi
Siswanto, Tavip dan Budi Setyana.
Tim masyarakat internasional dipimpin oleh Wolfgang Fengler bekerja sama dengan Stefan Nachuk
(Bank Dunia) dan Almud Weitz (ADB). Tim inti ini mencakup para koordinator sektor berikut ini:
Bambang Suharnoko (Bank Dunia) untuk analisis data, Roberto Jovel dan Margaret Arnold (Bank
Dunia) untuk metodologi, Thakoor Persaud (Bank Dunia) dan Rehan Kausar (ADB) untuk
perumahan, Sarosh Khan (Universitas Colorado) dan David Hawes (Ausaid-TAMF) untuk
infrastruktur, Ramesh Subramanium (ADB) dan Guenther Kohl (GTZ) untuk sektor produktif, Lisa
Kulp (ADB) untuk sektor-sektor sosial, Sanny Ramos Jegillos dan Toshihiro Nakamura (UNDP)
untuk lintas-sektoral, serta Menno Pradhan dan Javier Arze Del Granado (Bank Dunia) untuk analisis
dampak dan ekonomi. Tim inti ini juga mencakup Amanah Abdulkadir, Farsidah Lubis, Farzana
Ahmed, Hari Purnomo, Indah Setyawati, James Darmawan Tunggono, Rehan Kausar, Robert
Valkovic, Sutarum Wiryono (ADB), Aurélien Kruse (Asia Foundation), Bridgitte Podborny, Herriet
Ellwein (GTZ), Cynthia Burton (IFRC), Diah Widarti, Kee Beom Kim, Peter Rademaker (ILO),
Agus Setiawan, Isamu Gunji, Ken Yamamoto, Kimihiro Maeta, Nobutaka Komai, Shigeru
Yamamura, Takaji Wakabayashi, Yuji Ide (JBIC), Aoki Toshimichi, Iwai Nobuo, Kanda Yumi,
Nagami Kozo, Ueda Daisuke (JICA), Bruno Dercon (UN Habitat), Hugh Evans, Tim Walsh
(UNDP), Reiko Niimi (UN), Andre Bald, Ahmad Zaki Fahmi, Bastian Zaini, Chairani Triasdewi, Cut
Dian Rahmi, Doddy Prima, Elif Yavuz, Kutlu Kazanci, Ilham Abla, Indra Irnawan, Ioana Kruse, Jed
Friedman, Joe Leitmann, Megawati Sulistyo, P.S. Srinivas, Paramita Dewi, Peter Milne, Peter
Heywood, Piet Buys, Puti Marzoeki, Risyana Sukarma, Susiana Iskandar, Vivi Alatas, Vincent da
Cruz, Yoko Doi dan Yulia Herawati (Bank Dunia).
Kelompok multi-lembaga yang lebih besar memberi kontribusi yang berharga berupa input dan
arahan untuk laporan ini, dan tim inti mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaannya.
Kelompok ini mencakup para kolega dari organisasi-organisasi berikut ini:
iii

ADB: Andi Swastika, Ayun Sundari, Deddy Herdiansjah, Endang Pipin Tachyan, Kemal Taruc,
Romzy Alkaterie, Sahat Richard Hutapea, Shodan Purba, Siti Hasanah
AusAID: Philipp Power, Robin Davies
Pusat Studi Kebijakan Ekonomi dan Publik
Pusat Studi Penduduk dan Kebijakan
GTZ: Effendi Syarif, Heinz-Josef Heile
IMF: Steven Schwartz
PLN: Muljo Adji
UN Habitat: Muamar Vebry, Raphael Anindito
UNDP: Dora Cheok, Ewa Wojkowska, Irene Widjaya, Robin Willison
UNESCO: Alisher Umarov, Arya Gunawan, Himachuli Curung, Jan Steffen
UNICEF: David Hipgrave, Douglas Booth, Eric Bentzen
USAID: Richard Hough
Bank Dunia: Hongjoo Hahm, George Soraya, Indira Dharmapatni, Jehan Arulpragasam, Mesra Eza,
Michael S. Kubzansky, Prabha Chandran, Joel Hellman, Migara Jayawerdana, Sentot Satria, Sylvia
Njotomihardjo and Steven Charles Burgess
Pusat Media Yogyakarta: Amiarsi Harwani, Nursatwiko
Tim ini juga mendapat manfaat dari wawasan sejumlah staf dari berbagai kementerian lini lainnya:
Kamaruzzaman (Biroren Departemen Kesehatan), Bambang P. (Departemen Pemuda dan Olahraga),
Makbullah Ruri (Departemen Dalam Negeri), Ari Sumarsono (Departemen Pendidikan Nasional), J.
Lubis, Rido M. Ichwan (Departemen Pekerjaan Umum), Bambang Sugianto, Titon Asung KW
(Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum), Baskoro Indrarto, Sugeng Sentosa (DJCK,
Departemen Pekerjaan Umum), A. Soewarno, Sugiarto (Biroren DDN), Hartono, Restu, Yola D.
(Departemen Sosial), Noviensi Makalam, Purbakala Jateng (Departemen Pariwisata dan Budaya),
Bachrul Chairi (Departemen Perdagangan), Pribudiarti (Departemen Pemberdayaan Kaum
Perempuan), Gandung Sijianto (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), Budi (Bappeda
Jawa Tengah), Poernomo, S. Suhral (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah), Muslim, Ngestiono
(Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah), Bambang R., Faiq AN (Badan Urusan Pemukiman dan
Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah), Abu K., Asmuni, Bambang, Husni, N. Sumandi, Tri Pura W.
(Bappeda D.I. Yogyakarta), Birowo (Bappeda Kabupaten Gunung Kidul), Adum Widodo, Danto,
Elin (Bappeda Kabupaten Kulon Progo), Kunto, Rusliyanto (Bappeda Kabupaten Sleman), Achmad
Kasujani, Asikin CH, Bambang Dwi (Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta), Bambang (Dinas
Pendidikan Provinsi D.I. Yogyakarta), Syahbenal, Tauhid (Dinas Industri, Perdagangan dan Koperasi
Provinsi D.I. Yogyakarta), S. Munawaroh (Dinas Kesehatan Provinsi D.I. Yogyakarta), Parjiya
(Kantor Wilayah Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Provinsi D.I Yogyakarta),
Khairuddin, Widyana (Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gunung Kidul), Eko Suryo, Hono
Cahyono (Dinas Provinsi Urusan Pemukiman dan Infrastruktur Daerah Jawa Tengah), Isna, Y.
Sudanasuni (Dinas Urusan Sosial Provinsi D.I. Yogyakarta), Setyanto (Dinas Provinsi Urusan
Pemukiman dan Infrastruktur Daerah Kabupaten Sleman), Djoko Handoyo, Suyanto, Yuni
(Kabupaten Sleman), Djunaedi, Koesman, Oni W. and Rosihan.
Foto-foto yang digunakan dalam publikasi ini diambil oleh Tim Penilai Gabungan kecuali dinyatakan
lain.
Tim ingin mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada para pemberi
kontribusi ini. Semua pertanyaan tindak-lanjut, atau permintaan untuk informasi tambahan dapat
dialamatkan kepada Suprayoga Hadi (suprayoga@bappenas.go.id) atau Wolfgang Fengler
(wfengler@worldbank.org).
iv Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

DAFTAR ISI
Pendahuluan ..................................................................................................................................................... i
Penghargaan..................................................................................................................................................... ii
Daftar Isi ......................................................................................................................................................... iv
Ringkasan Eksekutif ...................................................................................................................................... ix

Bagian I. Terjadinya Bencana....................................................................................................... 1


Gempa Bumi Tanggal 27 Mei 2006 ............................................................................................................. 2
Korban Jiwa ..................................................................................................................................................... 3
Tanggapan ........................................................................................................................................................ 4
Tingginya Risiko Bencana di Indonesia....................................................................................................... 6
Latar Belakang Sosial dan Ekonomi ............................................................................................................ 7

Bagian. II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian ............................................................ 13


Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian.................................................................................................................... 14
Perumahan .......................................................................................................................................................... 17
Infrastruktur........................................................................................................................................................ 22
Air dan Sanitasi.............................................................................................................................................. 23
Energi.............................................................................................................................................................. 26
Transportasi dan Perhubungan................................................................................................................... 28
Sektor Sosial........................................................................................................................................................ 34
Pendidikan...................................................................................................................................................... 35
Kesehatan dan Keluarga Berencana........................................................................................................... 37
Fasilitas untuk Orang Miskin dan Rentan................................................................................................. 40
Agama dan Kebudayaan .............................................................................................................................. 43
Sektor-Sektor Produktif .................................................................................................................................... 47
Pertanian, Irigasi dan Struktur Sungai........................................................................................................ 49
Perusahaan dan Industri .............................................................................................................................. 52
Perdagangan................................................................................................................................................... 57
Pariwisata........................................................................................................................................................ 60
Langkah Selanjutnya ..................................................................................................................................... 62
Lintas Sektor ....................................................................................................................................................... 63
Lingkungan Hidup........................................................................................................................................ 64
Administrasi Publik ...................................................................................................................................... 68
Sektor Keuangan........................................................................................................................................... 70

Bagian III. Dampak Ekonomi dan Sosial ......................................................................... 77


Dampak Terhadap Kinerja Perekonomian............................................................................................... 78
Dampak Terhadap Lapangan Kerja........................................................................................................... 80
Dampak Terhadap Sistem Keuangan ........................................................................................................ 83
Dampak Terhadap Mata Pencaharian ....................................................................................................... 83
Kerawanan dan Mitigasi Bencana............................................................................................................... 85
v

Daftar Tabel
Tabel 1: Perbandingan Bencana-Bencana Internasional................................................................................ x
Tabel 2: Korban Jiwa dan Jumlah Luka-luka Gempa Bumi Yogyakarta-Jawa Tengah ............................ 3
Tabel 3: Ikhtisar Kependudukan Provinsi dan Kabupaten........................................................................... 8
Tabel 4. PDB dan PDB per Kapita ................................................................................................................. 9
Tabel 5: Struktur Ekonomi Yogyakarta tahun 2004....................................................................................... 9
Tabel 6: Komposisi Pendapatan Kabupaten di Provinsi Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah ....... 10
Tabel 7: Indikator Kemiskinan di Yogyakarta dan Jawa Tengah .............................................................. 11
Tabel 8: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian ................................................................................................... 14
Tabel 9: Distribusi Geografis Efek Bencana ................................................................................................. 16
Tabel 10: Keseluruhan Kerusakan Fisik ........................................................................................................ 20
Tabel 11: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian di Bidang Perumahan .......................................................... 21
Tabel 12: Aceh versus Yogyakarta/Jawa Tengah – Jumlah Perumahan, Kerusakan, dan Biaya ......... 21
Tabel 13: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian Infrastruktur .......................................................................... 22
Tabel 14: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian pada sektor Air dan Sanitasi................................................ 24
Tabel 15: Kerusakan dan Kerugian Jalan Nasional, Provinsi dan Kabupaten......................................... 30
Tabel 16: Kerusakan dan Kerugian di Sektor Sosial ................................................................................... 35
Tabel 17: Kerusakan dan Kerugian di Sektor Pendidikan .......................................................................... 36
Tabel 18: Tabel Kerusakan dan Kerugian di Sektor Kesehatan ................................................................ 39
Tabel 19: Kerusakan dan Kerugian Fasilitas Orang Miskin dan Lemah .................................................. 42
Tabel 20: Kerusakan dan Kerugian terhadap Aset Keagamaan ................................................................ 44
Tabel 21: Kerusakan Situs Kebudayaan di Daerah yang Terkena dampak ............................................. 45
Tabel 22: Kerusakan dan Kerugian di Sektor Profuktif .............................................................................. 48
Tabel 23: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian di Sektor Irigasi ..................................................................... 51
Tabel 24: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian Struktur Sungai......................................................................51
Tabel 25: Dampak Bencana Gempa Bumi terhadap UKM di Yogyakarta dan Jawa Tengah ............... 52
Tabel 26: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian Lintas Sektor ......................................................................... 63
Tabel 27: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian di Sektor Administrasi Publik............................................. 68
Tabel 28: Kerusakan dan Kerugian Sektor Keuangan di Yogyakarta-Jawa Tengah ............................... 72
Tabel 29: LKNB di Provinsi DIY, Operasi dan Kerugian.......................................................................... 73
Tabel 30: Proyeksi 2006 dan 2007 GRDP nominal kawasan terkena dampak bencana ....................... 79
Tabel 31: Dampak potensial ekonomi terhadap kawasan terkena dampak per sektor produksi .......... 79
Tabel 32: Kerugian Ekonomi per Kabupaten TA 2006 & 2007 ............................................................... 80
Tabel 33: Lapangan kerja pra-gempa bumi dan perkiraan hilangnya pekerjaan menurut sektor .......... 82
Tabel 34: Perkiraan hilanganya lapangan kerja menurut gender ................................................................ 82
Tabel 35: Komposisi Pendapatan untuk Kabupaten-Kabupaten Terkena Dampak ............................. 83
Tabel 36: Distribusi indikator pilihan lintas rumah tangga menurut parahnya kerusakan ..................... 84
Tabel 37: Perkiraan dampak terhadap kemiskinan menurut kabupaten ................................................... 85

Daftar Peta
Peta 1: Distribusi Kerusakan secara Geografis ............................................................................................. xii
Peta 2: Distribusi Kerugian akibat Gempa Bumi Secara Geografis............................................................. 4
Peta 3: Pembagian Geografis Jumlah Total Kerusakan dan Kerugian di Bidang Perumahan ............. 18
vi Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Daftar Gambar
Gambar 1: Ikhtisar Mengenai Kerusakan dan Kerugian ............................................................................... x
Gambar 2: Komposisi Kerusakan dan Kerugian: 91 persen swasta........................................................... xi
Gambar 3: Lokasi Rawan Bencana di Indonesia: Risiko Kematian............................................................. 6
Gambar 4: Lokasi Rawan Bencana di Indonesai: PDB ................................................................................. 7
Gambar 5: Jaringan Jalan Nasional, Provinsi dan Kabupaten ....................................................................... 29
Gambar 6: Kerusakan dan Kerugian Perusahaan ......................................................................................... 55

Daftar Kotak
Kotak 1: Mengukur Kerusakan dan Kerugian – Metodologi ECLAC...................................................... 15
vii

DAFTAR ISTILAH

ADB Asian Development Bank


AusAID Australian Agency for International Development
BAKORNAS Badan Koordinasi Nasional
BAPEDALDA Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah
BAPPEDA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BI Bank Indonesia
BP3 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala
BPD Bank Pembangunan Daerah
BPM Badan Pembangunan Masyarakat
BPR Bank Pembangunan Rural
BPS Badan Pusat Statistik
BTN Bank Tabungan Negara
CGI Consultative Group for Indonesia
CSO Civil Society Organization
DAU Dana Alokasi Umum
DfID UK Department for International Development
Dinas Provincial or District Government Office
DPK Dinas Kebersihan dan Pertamanan
EC European Commission
ECLAC Economic Commission for Latin America and the Caribbean
EU European Union
FAO Food and Agriculture Organization
FIRM Financial Intermediation and Resource Mobilization
FY Financial Year
GDP Gross Domestic Product
GIS Geographic Information System
GOI Government of Indonesia
GRDP Gross Regional Domestic Product
GTZ German Cooperation Agency (Gesellschaft fuer Technische Zusammenarbeit)
HDI Human Development Index
JBIC Japan Bank for International Cooperation
JICA Japan International Cooperation Agency
KAI PT Kereta Api Indonesia
MoNE Ministry of National Education/Departemen Pendidikan Nasional
MoRA Ministry of Religious Affairs/Departemen Agama
MPW Ministry of Public Works/Departemen Pekerjaan Umum
NBFI Non-Bank Financial Institution
NGO Non-Governmental Organization/Lembaga Swadaya Masyarakat
NPL Non-Performing Loan
P3B Penyaluran dan Pusat Pengatur Bantuan
PDAM Perusahaan Daerah Air Minum
PLN Perusahaan Listrik Negara
Polindes Pondok Bersalin Desa
POSKO Pos Koordinasi
PUSKESMAS Pusat Kesehatan Masyarakat
Rp Indonesian Rupiah
viii Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

SATKORLAK Satuan Koordinasi Pelaksana


SD Sekolah Dasar
SME Small & Medium Enterprises
TELKOM State-Owned Telecommunications Company
TNI Tentara Nasional Indonesia
UN United Nations/Perserikatan Bangsa-Bangsa
UNDP United Nations Development Programme
UNICEF United Nations Children’s Fund
UNIDO United Nations Industrial Development Organization
WHO World Health Organization
WWF World Wildlife Fund
ix

RINGKASAN EKSEKUTIF

Pada tanggal 27 Mei, gempa bumi mengguncang bagian tengah wilayah Indonesia,
dekat kota sejarah, Yogyakarta. Berpusat di Samudera Hindia pada jarak sekitar 33
kilometer di selatan kabupaten Bantul, gempa ini mencapai kekuatan 5,9 pada Skala Richter
dan berlangsung selama 52 detik. Karena gempa berasal dari kedalaman yang relatif dangkal
yaitu 33 kilometer di bawah tanah, guncangan di permukaan lebih dahsyat daripada gempa
yang terjadi pada lapisan yang lebih dalam dengan kekuatan gempa yang sama, maka terjadi
kehancuran besar, khususnya di kabupaten Bantul di Provinsi Yogyakarta dan Klaten di
Provinsi Jawa Tengah.
Gempa bumi ini adalah bencana besar ketiga yang menimpa Indonesia dalam 18
bulan terakhir. Pada bulan Desember 2004, gempa bumi yang dahsyat diikuti dengan
gelombang tsunami menghancurkan sebagian besar Aceh dan pulau Nias di Sumatera Utara,
dan pada bulan Maret 2005, gempa bumi kembali mengguncang pulau Nias. Dengan lebih
dari 18.000 kepulauan Indonesia yang berada di sepanjang “cincin api” Pasifik yang berisi
banyak gunung berapi aktif dan patahan tektonik, bencana yang belakangan terjadi ini
merupakan peringatan akan besarnya risiko alam yang dihadapi negara ini.

Kerusakan dan Kerugian


Walaupun jumlah korban memang lebih sedikit daripada bencana yang sebanding,
kerusakan dan kerugian yang diderita menempatkan gempa bumi ini dalam kategori
bencana alam yang menimbulkan paling banyak kerugian di negara-negara
berkembang selama sepuluh tahun terakhir. Suatu analisis komprehensif oleh sebuah
tim yang terdiri dari Pemerintah Indonesia dan para pakar internasional memperkirakan
jumlah kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh gempa bumi tersebut mencapai Rp
29,1 triliun, atau US$ 3,1 milyar. Total kerusakan dan kerugian yang diakibatkan jauh lebih
tinggi daripada yang diakibatkan tsunami di Sri Lanka, India dan Thailand dan berada pada
skala yang serupa dengan gempa bumi di Gujarat (2001) dan di Pakistan (2005) (lihat Tabel
1).
Kerusakan yang terjadi sangat terpusat pada perumahan dan bangunan-bangunan
sektor swasta. Rumah-rumah pribadi terkena dampak paling parah, bernilai lebih dari
setengah dari total kerusakan dan kerugian (Rp 15,3 triliun). Bangunan-bangunan sektor
swasta dan aset-aset produktif juga rusak parah (diperkirakan mencapai Rp 9 triliun) dan
diperkirakan akan kehilangan pendapatan yang signifikan di masa depan. Ini tentunya
berdampak sangat serius pada usaha kecil dan menengah, karena wilayah tersebut merupakan
pusat industri kerajinan tangan skala kecil yang sedang sangat berkembang di Indonesia.
Kerusakan pada sektor sosial, khususnya sektor kesehatan dan pendidikan, diperkirakan
mencapai Rp 4 triliun. Sektor-sektor lainnya, khususnya infrastruktur, menderita kerusakan
dan kerugian yang relatif lebih kecil (lihat gambar 1), jauh di bawah tingkat kerusakan
infrastruktur yang diakibatkan oleh tsunami di Aceh dan Nias.
x Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Tabel 1: Perbandingan Bencana-Bencana Internasional


Negara Bencana Tanggal Jumlah Kerusakan & Kerusakan &
Korban kerugian kerugian (juta
Tewas (juta US$) US$ , harga
konstan 2006)
Turki Gempa Bumi 17 Agustus 1999 17.127 8.500 10.281
Indonesia (Aceh) Tsunami 26 Desember 2004 165.708 4.450 4.747
Honduras Topan Mitch 25 Oktober–8 14.600 3.800 4.698
November 1998
Indonesia Gempa Bumi 27 Mei 2006 5.716 3.134 3.134
(Yogya-Jawa
Tengah)
India (Gujarat) Gempa Bumi 26 Januari 2001 20.005 2.600 2.958
Pakistan Gempa Bumi 8 Oktober 2005 73.338 2.851 2.942
Thailand Tsunami 26 Desember 2004 8.345 2.198 2.345
Sri Lanka Tsunami 26 Desember 2004 35.399 1.454 1.551
India Tsunami 26 Desember 2004 16.389 1.224 1.306
Sumber: Pusat Kesiapan Bencana Asia (Asia Disaster Preparedness Center), Thailand; ECLAC, EM-DAT, Bank Dunia

Gambar 1: Ikhtisar Mengenai Kerusakan dan Kerugian


18000

16000

14000

12000

Rp Billion
10000

8000

6000

4000

2000

0
Perumahan Sektor Produktif Sektor Sosial Infrastruktur Lintas Sektor
Kerusakan Kerugian

Sumber: Perkiraan oleh Tim Penilai Gabungan

Fakta dan masalah sektor utama:


ƒ Kerusakan dan kerugian yang terjadi pada perumahan melampaui 50% dari
total. Diperkirakan 154.000 rumah hancur total dan 260.000 rumah rusak parah.
Jumlah rumah yang harus dibangun ulang dan diperbaiki lebih banyak daripada di
xi

Aceh dan di Nias dengan jumlah biaya sekitar 15% lebih tinggi daripada perkiraan
kerusakan dan kerugian yang diakibatkan tsunami.
ƒ Lebih dari 650.000 orang bekerja di sektor-sektor yang terkena dampak
gempa bumi, dengan hampir 90% kerusakan terpusat pada usaha kecil dan
menengah. 30.000 usaha terkena dampak langsung maupun melalui rantai suplai dan
gangguan lainnya dalam perantaraan. Kemungkinan besar tingkat pengangguran akan
melonjak naik. Pemulihan mata pencaharian tentu merupakan prioritas utama.
ƒ Sektor sosial juga mengalami kerusakan yang cukup parah. Sektor kesehatan
dan pendidikan sama-sama rusak parah dengan jumlah kerusakan dan kerugian yang
berjumlah lebih dari Rp 1,5 triliun. Fasilitas kesehatan di sektor swasta (yang pada
umumnya tidak diasuransikan) menderita lebih banyak daripada sektor publik.
ƒ Sebagian besar infrastruktur pedesaan dan perkotaan tetap utuh dan hanya
mengalami kerusakan kecil. Kerusakan dan kerugian di sektor transportasi dan
komunikasi, energi dan air bersih serta sanitasi diperkirakan berjumlah Rp 551 milyar.
Pada tingkat kerusakan seperti ini, diharapkan agar infrastruktur dapat dipulihkan ke
kondisinya sebelum bencana dengan cukup cepat melalui lembaga-lembaga
Pemerintah yang ada.

Kerusakan dan kerugian paling besar terjadi di sektor swasta (lihat gambar 2). Ini
adalah akibat kerusakan yang sangat terpusat pada perumahan swasta dan usaha kecil. Ini
membuat gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah unik jika dibandingkan dengan
bencana-bencana lain dan membawa implikasi penting terhadap strategi pembangunan
kembali dan kompensasi.

Gambar 2: Komposisi Kerusakan dan Kerugian: 91% swasta

9%

91%

Private Public

Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Dampak bencana sangat terkonsentrasi d kabupaten Bantul di Provinsi Yogyakarta


dan Klaten di Jawa Tengah. Bantul dan Klaten bersama-sama menderita lebih dari 70%
dari seluruh kerusakan dan kerugian. Di antara kawasan-kawasan utama lainnya yang
mengalami kerusakan termasuk Kota Yogyakarta dan tiga kabupaten pedesaan lainnya di
provinsi Yogyakarta (lihat peta 1). Klaten mengalami kerusakan keseluruhan yang paling
xii Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

parah, khususnya dalam hal perumahan; Bantul menderita kerusakan dan kerugian yang
parah pada sektor produktif maupun kerusakan perumahan .
Peta 1: Distribusi Kerusakan Secara Geografis

JAWA TENGAH

Sleman
Klaten
3,203
10,303
Yogyakarta
1,626

Kulon Progo
1,361

Bantul
10,271
Gunung Kidul
2,149
Damage and Losses
(Adjusted Total, Rp Billion) JAWA TIMUR
Above 10,000
3,000 to 10,000
2,000 to 3,000
1,000 to 2,000
Below 1,000 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Sumber: Perkiraan Tim Penilaian Gabungan

Mengapa kerusakan dan kerugian begitu parah?


Gempa bumi ini menghantam Jawa, salah satu kawasan paling padat penduduknya
di dunia. Enam kabupaten yang paling menderita dampak gempa bumi ini berpenduduk
sekitar 4,5 juta. Kabupaten Bantul dan Klaten - dengan rata-rata kepadatan penduduk di atas
1.600 – termasuk di antara sepuluh besar kabupaten yang sangat padat penduduknya di
Indonesia.
Kedangkalan pusat gempa turut menyebabkan meluasnya kerusakan struktural.
Gempa bumi yang serupa tingkat kekuatannya tetapi lebih dalam di bawah permukaan tanah
akan mengakibatkan jauh lebih sedikit guncangan di permukaan dan karena itu lebih sedikit
kerusakan pada bangunan.
Skala bencana alam ini diperparah oleh kegagalan manusia mendirikan bangunan
tahan gempa. Kerusakan berskala-besar terhadap bangunan-bangunan berkaitan dengan
kurangnya kepatuhan kepada standar bangunan yang aman dan metode konstruksi dasar
tahan gempa. Sebagian besar rumah-rumah pribadi menggunakan bahan bangunan bermutu
rendah dan tidak memiliki kerangka bangunan yang esensial serta tiang-tiang penopang
sehingga mudah runtuh akibat guncangan. Rakyat miskin adalah kelompok yang paling tidak
mampu untuk membangun rumah yang aman dan banyak dari rumah mereka mengalami
xiii

kerusakan. Banyak bangunan publik juga runtuh karena buruknya standar bangunan,
khususnya sekolah, dan banyak di antaranya dibangun pada tahun 1970-an dan tahun 1980
dengan dana hibah khusus (INPRES) dari pemerintah. Terlihat dengan jelas bahwa standar
bangunan tidak diterapkan dengan baik.
Mengingat banyaknya industri berbasis rumah tangga, kerugian ekonomis yang
disebabkan oleh rusak atau hancurnya rumah luar biasa besar. Banyak pembuat
perabot, keramik dan kerajinan tangan melihat mata pencaharian mereka hancur bersama
dengan rumah mereka. Hancurnya aset-aset pribadi yang tidak diasuransikan secara
substansial menambah kerugian yang diperkirakan.
Mengingat kerusakan berskala-besar, patut disyukuri bahwa korban jiwa tidak lebih
banyak. Fakta bahwa gempa bumi menghantam pada hari Sabtu pagi sekitar jam 6, pada
waktu sebagian besar orang sudah terbangun dan sibuk dengan pekerjaan rutin pagi hari di
luar rumah, membatasi korban jiwa yang telah cukup besar. Andai kata gempa bumi terjadi
selama jam sekolah atau jam kerja, jumlah korban jiwa pasti akan lebih besar lagi. Akan
tetapi, jumlah yang terluka diperkirakan di antara 40.000 sampai 50.000 orang karena banyak
rumah dengan konstruksi di bawah standar runtuh menimpa penghuninya.

Dampak
Kemiskinan – yang telah melampaui rata-rata nasional di kawasan ini - akan
diperparah oleh gempa bumi ini. Hampir 880.000 orang miskin tinggal di kawasan-
kawasan yang terkena dampak. Diperkirakan bahwa 66.000 orang lagi mungkin akan jatuh ke
dalam kemiskinan dan 130.000 mungkin kehilangan pekerjaan mereka sebagai akibat gempa
bumi tersebut. Dampak terhadap hilangnya pekerjaan khususnya parah di bidang jasa
maupun manufaktur berskala kecil. Perkiraan awal mengisyaratkan bahwa produk domestik
bruto daerah ini bisa jatuh 5%, dengan penyusutan ekonomi 18% di kabupaten-kabupaten
yang paling menderita dampaknya.
Perumahan dan pelayanan transisi akan terkonsentrasi terutama pada lokasi-lokasi
rumah yang sudah ada. Suatu survei kilat memperlihatkan bahwa 74% dari keluarga-
keluarga yang rumahnya hancur total tinggal di dalam tenda-tenda di atas tanah sendiri.
Dalam keadaan seperti ini, sangat mendesak untuk memastikan adanya pemulihan cepat
untuk kebutuhan dasar berupa air dan sanitasi di kawasan-kawasan yang terkena dampak.
Beberapa desa melaporkan bahwa mutu dan rasa air telah merosot meskipun persediaan air
bersih masih utuh. Kaum perempuan dewasa dan anak perempuan terus mengeluhkan
kebutuhan akan pakaian dalam, pembalut, alat pembersih dan peralatan masak.
Trauma psikologis akibat bencana ini seharusnya tidak diremehkan. Laporan-laporan
kualitatif menunjukkan bahwa tingkat trauma memang tinggi di kawasan-kawasan yang
terkena dampak parah. Stres secara signifikan diperparah oleh ancaman letusan di Gunung
Merapi. Meskipun masyarakat cepat bergerak untuk memastikan adaya pemondokan darurat
yang memadai, mungkin perlu beberapa waktu sebelum keluarga-keluarga tersebut siap
untuk terlibat dalam kegiatan perencanaan.
xiv Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Masalah-masalah Utama untuk Langkah Selanjutnya


Walaupun kerusakan dan kerugian sangat besar, sifat kerusakan sangat berbeda
dengan yang terjadi di Aceh dan Nias. Dengan sebagian besar infrastruktur berskala-
besar masih utuh dan kerugian yang dialami pemerintah daerah di lapangan hanya pada
tingkat sedang, tantangan rekonstruksi tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan Aceh dan
Nias. Suatu rencana induk yang mencakup semua aspek rekonstruksi secara terpadu tidak
dibutuhkan. Penetapan urutan rekonstruksi juga bukan tantangan yang terlalu besar. Sektor-
sektor yang menderita kerusakan dan kerugian yang relatif kecil dapat dengan mudah
ditangani melalui lembaga-lembaga pusat dan setempat yang sudah ada yang didanai oleh
anggaran nasional dan daerah.
Satu keputusan yang paling menentukan untuk dibuat adalah bagaimana caranya
memastikan bahwa rumah-rumah yang baru dibangun dan diperbaiki mematuhi
standar-standar bangunan yang benar untuk memastikan bahwa kerugian-kerugian
demikian tidak pernah terulang lagi. Banyak dari rumah-rumah pribadi dan bangunan-
bangunan publik tidak akan bertahan menghadapi gempa bumi yang bahkan ukurannya lebih
kecil. Skala kerusakan ini dapat dicegah di masa depan. Tetapi ini akan membutuhkan
program rekonstruksi perumahan berskala-besar yang memfasilitasi rumah-rumah baru tahan
gempa. Pengalaman di Aceh menunjukkan bahwa ini dapat diwujudkan. Sangat
terkonsentrasinya dampak bencana ini dan dengan terbatasnya kerusakan infrastruktur, serta
kuatnya masyarakat setempat dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa hal itu dapat
dilakukan lebih cepat daripada di Aceh dan Nias.
Pelajaran yang diperoleh dari Aceh dan Nias menegaskan menggunakan
pendekatan berbasis masyarakat untuk rekonstruksi. Masyarakat sangat peduli dengan
rumah mereka. Mereka mempunyai preferensi yang kuat dan terkadang sangat berbeda.
Dan mereka harus dilibatkan secara erat dengan pilihan yang mempengaruhi aset mereka
yang paling berharga. Masyarakat yang terlibat dalam pembangunan kembali rumah mereka
juga bertanggung jawab dalam membangun kembali hidup mereka – sebuah bagian penting
dalam proses pemulihan. Kepedulian dan kepentingan pribadi yang besar dalam
membangun kembali rumah mereka juga merupakan alat ampuh yang bisa digunakan untuk
memantau secara efektif aliran dana dalam rangka mencegah korupsi dan praktek kotor.
Demi alasan ini, pendekatan berbasis masyarakat secara konsisten telah menunjukkan
keunggulan yang penting dan harus menjadi model untuk kemajuan di Yogyakarta dan Jawa
Tengah.
Kecepatan merupakan hal kritis dalam perencanaan dan pelaksanaan rencana
rehabilitasi dan rekonstruksi. Para pemilik rumah sedang, telah, atau akan segera, mulai
membangun kembali mereka rumah, dan bila rumah-rumah ini dibangun menurut standar
yang sama seperti rumah mereka sebelumnya, keadaannya sekali lagi akan rentan terhadap
bencana di masa depan. Demikian pula, banyak dari UKM yang terkena dampak akan
membutuhkan bantuan jangka pendek untuk kembali berdiri di atas kaki sendiri. Pinjaman
cepat dan/atau jenis bantuan keuangan lain untuk membantu mereka mendirikan kembali
bangunan, perlengkapan, dan melengkapi lagi persediaan-persediaan barang akan
memungkinkan mereka untuk dengan cepat mulai menciptakan penghasilan sekali lagi.
Mengingat besarnya ukuran dana yang dibutuhkan serta bagian yang akan mengalir
berupa hibah untuk keluarga-keluarga, kerangka pemantauan dan evaluasi yang
xv

kuat sangat dibutuhkan. Rekonstruksi berskala-besar sering menderita akibat kurangnya


informasi yang tepat waktu mengenai kemajuan dan evaluasi program yang sudah ada.
Penilaian ini menyediakan sejumlah besar data awal sebagai acuan untuk memantau
kemajuan rekonstruksi.
Tragedi ini, yang datang tidak lama setelah tsunami, menegaskan kembali perlunya
kesiapan bencana dan manajemen resiko yang komprehensif. Gempa Yogyakarta
tidak bisa dianalisa sebagai satu kejadian yang terpisah. Bahkan, nilai dampaknya harus
dimasukkan dalam perhitungan dari dampak yang dialami oleh Indonesia di Propinsi
Nanggroe Aceh Darussalam sebagai hasil dari Gempa bumi dan Tsunami Lautan Hindia 26
Desember 2004. Dampak gabungan dari kedua bencana ini merupakan hal signifikan untuk
memaksa Pemerintah Indonesia secara serius melakukan praktek pengelolaan dampak
bencana, dengan rujukan khusus kepada skema pengalihan resiko finansial, apabila
pemerintah ingin mengurangi dampak bencana serupa di masa depan.
xvi Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian
Bagian I. Terjadinya Bencana 1

corbis/epa

Bagian I.
Terjadinya Bencana
2 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

GEMPA BUMI TANGGAL 27 MEI 2006

Sumber: Japan Bank for International Cooperation (JBIC)

Gempa bumi mengguncang pulau Jawa pada tanggal 27 Mei 2006 pukul 05:53 waktu
setempat, dan berkekuatan 5,9 skala Richter.1 Pusat dari gempa itu terletak di Samudera
Hindia sekitar 33 kilometer sebelah selatan kabupatan Bantul, Provinsi Yogyakarta.
Guncangannya berlangsung selama 52 detik. Lebih dari 750 gempa susulan telah dilaporkan,
dengan intensitas terkuatnya mencapai 5,2 skala Richter. Gempa bumi itu terjadi pada
kedalaman rendah di lempeng Sunda di atas zona lempeng Australia. Gerakan tektonik di
Jawa didominasi oleh gerakan lempeng Australia ke arah timur laut di bawah lempeng Sunda
dengan kecepatan relatif sekitar 6 cm/tahun.2
Gempa bumi itu berdampak langsung terhadap Provinsi Yogyakarta dan Provinsi
Jawa Tengah. Di Yogyakarta, peristiwa itu berdampak terhadap kelima kabupatennya -

1
Badan Metereologi dan Geofisika Indonesia. The United States Geological Survey mengatakan 6,3 skala
Richter.
2
United States Geological Survey,
http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/recenteqsww/Quakes/usneb6.php#summary
Bagian I. Terjadinya Bencana 3

Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman dan Kota Yogyakarta. Di sebelah Barat dan
Utara Yogyakarta, enam kabupaten Jawa Tengah terkena dampak – Boyolali, Klaten,
Magelang, Purworejo, Sukoharjo dan Wonogiri. Dua kabupaten yang paling parah terkena
bencana itu adalah Bantul di Provinsi Yogyakarta dan Klaten di Provinsi Jawa Tengah.

KORBAN JIWA

Gempa bumi itu menewaskan lebih dari 5.700 orang, melukai puluhan ribu orang
dan membuat ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Karena terjadi pada dini
hari, gempa bumi itu membuat banyak orang terperangkap di dalam rumah. Berdasarkan
informasi terbaru yang diterima, gempa bumi itu telah mengakibatkan lebih dari 5.700
korban jiwa. Penderita luka-luka diperkirakan berkisar antara 37.000 dan 50,000 orang dan
ratusan ribu orang lainnya kehilangan tempat tinggal (lihat tabel 2).

Tabel 2: Korban Jiwa dan Jumlah Luka-luka Gempa Bumi Yogyakarta-Jawa Tengah
Provinsi dan Kabupaten Korban Jiwa Korban Luka-luka
Yogyakarta 4.659 19.401
Bantul 4.121 12.026
Sleman 240 3.792
Kota Yogyakarta 195 318
Kulon Progo 22 2.179
Gunung Kidul 81 1.086
Jawa Tengah 1.057 18.526
Klaten 1.041 18.127
Magelang 10 24
Boyolali 4 300
Sukoharjo 1 67
Wonogiri - 4
Purworejo 1 4
Total 5.716 37.927
Sumber: Yogyakarta Media Center, 7 Juni 2006

Letusan Gunung Merapi yang terjadi terus-menerus berlokasi tidak jauh dari situ
memperparah kesulitan pengiriman bantuan kemanusiaan dan pemulihan. Empat
belas hari sebelum gempa bumi itu terjadi, Pusat Penanggulangan Bahaya Vulkanologi dan
Geologi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan status siaga Merapi
ke tingkat 4, yang berarti bahwa letusan besar segera terjadi. Sejak gempa bumi itu, letusan-
letusan kecil telah menghasilkan badai awan panas dan benda vulkanis, seraya kubah lava di
puncaknya kian membesar. Pada tanggal 8 Juni, aliran lava pijar mencapai jarak 4 km ke arah
Krasak dan Sungai Boyong dan mencapai jarak maksimum 4,5 km dari hulu Sungai Gendol.
Aktivitas Merapi tetap pada tingkat 4 dikarenakan risiko adanya aliran lava pijar, dan puluhan
ribu orang telah dievakuasi. Meskipun peristiwa gempa bumi kedalaman rendah di dekat
4 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

gunung berapi adalah hal yang wajar, data yang ada belum bisa menjelaskan apakah ada
kaitan langsung antara gempa bumi itu dan letusan terus-menerus Gunung Merapi.3

Peta 2: Distribusi Kerugian Akibat Gempa Bumi Secara Geografis

JAWA TENGAH

Boyolali

Kota Magelang

Magelang

Purworejo Sukoharjo

Wonogiri

Casualties
JAWA TIMUR
(No of person; Source: Media Center)
Above 400
200 to 400
50 to 200
10 to 50
Below 10 DAERAH ISTIMEW A YOGYAKARTA
No casualties

Sumber: Berdasarkan angka yang diperoleh tanggal 7 Juni 2006

TANGGAPAN

Tanggapan Pemerintah
Pemerintah Indonesia menanggapi bencana itu dalam waktu beberapa jam
kemudian dan telah mengalokasikan Rp 5 triliun bantuan kemanusiaan. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono tiba di Yogyakarta beberapa jam setelah bencana itu dan
memindahkan kantornya ke sana dari tanggal 27 hingga 31 Mei untuk memonitor sendiri
upaya pengiriman bantuan kemanusiaan. Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan
Bencana (BAKORNAS), yang dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, telah melaksanakan
koordinasi awal pengiriman bantuan dan upaya penyelamatan. Tanggapan itu dilakukan

3
United States Geological Survey,
http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/eqinthenews/2006/usneb6/#summary.
Bagian I. Terjadinya Bencana 5

melalui kerja sama erat dengan Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat,


Departemen Sosial, militer, pemerintah daerah, dan berbagai lembaga PBB. Pemerintah
Indonesia pada awalnya mengalokasikan Rp 1,0 triliun dari APBN untuk kegiatan
pengiriman bantuan dan rekonstruksi. Dari jumlah itu, Rp 75,0 triliun disalurkan kepada
BAKORNAS untuk bantuan kemanusiaan. Tim pengiriman bantuan, tim medis, dan unit-
unit militer dari pelosok negeri telah dikerahkan ke daerah bencana. Jumlah anggaran yang
telah disediakan meningkat menjadi Rp 5,0 triliun.
Pemerintah Kabupaten membagikan dana kompensasi bencana dan barang
kebutuhan yang disediakan Pemerintah. Di antara yang dibagikan adalah 10 kilogram
nasi per orang per bulan, Rp 3.000 per orang per hari, hibah satu-kali sebesar Rp 100.000
per orang untuk pakaian, dan Rp 100.000 per rumah tangga untuk perkakas dapur. Selain itu,
Pemerintah mengumumkan bahwa lebih dari 820.000 orang yang rumahnya rusak parah akan
diberi biaya hidup penuh selama tiga bulan, dan yang rumahnya menderita rusak ringan akan
diberi tunjangan satu bulan. Keluarga-keluarga juga menerima Rp 2,0 juta per anggota
keluarga yang meninggal, dan Wakil Presiden mengumumkan bahwa Rp 30,0 juta akan
diberikan untuk tiap rumah yang hancur, dan Rp 10,0 juta untuk rumah yang rusak. Biaya
rumah sakit untuk orang yang luka-luka akibat gempa bumi ditanggung oleh Pemerintah di
fasilitas-fasilitas umum.

Tanggapan Internasional
Masyarakat internasional bertindak dengan cepat mengingat banyak organisasi
internasional masih ada di Aceh. Banyak organisasi juga telah mempersiapkan diri untuk
menghadapi kemungkinan letusan Gunung Merapi beberapa pekan sebelum gempa bumi
terjadi. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, berbagai organisasi
PBB, dan paling sedikit 35 LSM internasional telah mengumpulkan bantuan berupa
kebutuhan pokok, selain personil medis dan penanggulangan bencana. PBB telah mendirikan
pusat koordinasi utama di Yogyakarta dan kantor penghubung di Klaten. Tim Evaluasi dan
Koordinasi Bencana PBB dikirim pada tanggal 30 Mei 2006 untuk mendukung berbagai
operasi di Bantul dan Yogyakarta.
6 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

TINGGINYA RISIKO BENCANA DI INDONESIA

Indonesia adalah salah satu negeri paling rawan bencana di dunia. Karena berlokasi
di penghubung tiga lempeng tektonik, Indonesia sangat rentan terhadap aktivitas
seismik. Dengan hampir 200 gunung berapinya, dimana lebih dari 70 di antaranya
digolongkan ”sangat aktif”, negeri ini memiliki jumlah tertinggi gunung berapi aktif di dunia.
Selain itu, Indonesia sering mengalami tanah longsor, banjir, dan gempa bumi. Resiko
terbesar adalah banjir apabila ditimbang secara proporsional terhadap PDB dan angka
kematian. Kebakaran hutan juga merupakan resiko yang harus diperhatikan, sebagaimana
diperlihatkan oleh kebakaran hutan tahun 1998 yang terjadi selama peristiwa El Niño.
Gambar 3 dan 4 memperlihatkan distribusi geografis dari resiko enam bencana utama (angin
topan, kekeringan, gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan gunung berapi) di Indonesia.
Tingkat kerawanan terhadap bencana-bencana ini di estimasi dari angka kematian yang
disebabkan oleh bencana tertentu dan tingkat kerugian ekonomi untuk wilayah yang dicakup
oleh Bank Dunia dan tingkatan kekayaan negara, yang dihitung dari data kerugian historis
selama 20 tahun. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan bahwa untuk Indonesia – Pulau
Jawa, yang berada pada decile teratas untuk resiko angka kematian untuk semau jenis bencana
– menghadapi resiko terbesar dalam hal korban jiwa dari bencana alam, sementara Pulau
Sumatera dan Jawa menghadapi resiko terbesar dalam hal kerugian ekonomi yang
disebabkan oleh bencana alam.

Gambar 3: Lokasi Rawan Bencana di Indonesia: Risiko Kematian


Bagian I. Terjadinya Bencana 7

Gambar 4: Lokasi Rawan Bencana di Indonesai: PDB

Sumber: M. Dilley et al., Bank Dunia dan Columbia University, 2005

LATAR BELAKANG SOSIAL DAN EKONOMI

Gempa bumi tanggal 27 Mei melanda 11 kabupaten, yang ditinggali oleh lebih dari
8,3 juta orang. Enam kabupaten yang sangat terkena dampak, termasuk lima kabupaten di
Provinsi Yogyakarta (Bantul, Sleman, Gunung Kidul, Yogyakarta, Kulon Progo) dan Klaten
di Jawa Tengah. Dengan 4,5 juta penduduk, keenam kabupaten tersebut memiliki populasi
yang padat.
Kebanyakan orang yang tinggal di daerah yang terkena dampak memang miskin,
tetapi tidak terlalu parah. Dengan pengecualian Kota Yogyakarta dan Kabupaten Slemen,
tingkat pendapatan tahunan mereka mencapai sekitar Rp 5 juta atau setengah dari rata-rata
nasional. Angka kemiskinan di semua daerah yang terkena dampak lainnya juga berada di
atas rata-rata nasional tetapi dalam taraf yang lebih rendah. Kombinasi antara pendapatan
rendah dan angka kemiskinan menengah menghasilkan distribusi pendapatan yang setara.
Sebagian besar orang di daerah yang terkena dampak juga memiliki karakteristik dan keadaan
hidup yang serupa.

Geografi dan Populasi


Kawasan yang terkena dampak gempa bumi secara geografis kecil tetapi padat
penduduk. Populasi totalnya mencapai sekitar 4,5 juta (2% dari populasi nasional) yang
terkonsentrasi di sebuah daerah seluas 0,2% persen wilayah nasional.
Bantul dan Klaten, kabupaten yang paling parah terkena dampak gempa bumi,
memiliki karakteristik serupa dalam hal populasi dan kepadatan. Kedua kabupaten
memiliki jumlah penduduk sekitar satu juta dan kepadatan penduduknya berada dalam
tingkat sepuluh besar di Indonesia (kita-kira 1.600 penduduk per km2). Yogyakarta dan Jawa
Tengah masing-masing berada dalam urutan kedua dan keempat di Indonesia (tabel 3),
8 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

sedangkan kepadatan di Kota Yogyakarta berada di urutan ketiga dibanding semua kota
kabupaten (kira-kira 12.000 penduduk per km2).
Tabel 3: Ringkasan Informasi Kependudukan Provinsi dan Kabupaten
Provinsi dan Jumlah % di % di Luas km2: Rata-rata Kepadatan per
Kabupaten Penduduk Provinsi Indonesia kabupaten nasional km2 (urutan
(1000) 4.564 1=tertinggi)*
Provinsi Yogyakarta 3.280,2 100 1,5 3.133 1.047 (2)**
Bantul 823,4 25 0,4 508 1.620 (9)
Sleman 955,2 29 0,5 575 1.662 (8)
Gunung Kidul 695,7 21 0,3 1.431 486 (82)
Kota Yogyakarta 419,2 13 0,2 33 12,897 (3)
Kulon Progo 386,8 12 0,2 586 660 (63)
Provinsi Jawa Tengah 32.900 100 15,5 32.800 1.003 (4)**
Klaten 1.139.2 3 0,5 656 1.736 (6)
Magelang 1.158.1 0,4 0,1 1085,74 1077 (24)
Boyolali 941,7 2,89 0,5 1015,1 927 (33)
Sukoharjo 838,3 2,58 0,4 466,66 1796 (4)
Wonogiri 1.010,6 3,11 0,5 1793,4 563 (74)
Purworejo 712,1 2,19 0,3 1034,49 688 (56)
Indonesia 212.000 100 100 1.981,122 107
Sumber: Data BPS dan Informasi Kemiskinan (2004), komputasi oleh tim Evaluasi Bersama, * Urutan dari 86 kota
kabupaten untuk Kota Yogyakarta dan 348 untuk desa kabupaten. ** Urutan di antara 30 provinsi

Kerangka Ekonomi dan Fiskal


Pendapatan per kapita di enam kabupaten yang paling terkena dampak adalah Rp
6,1 juta, atau sekitar 60% dari rata-rata nasional (Rp 10,5 juta). PDRB nominal untuk
Provinsi Yogyakarta adalah Rp 21,8 triliun (kira-kira US$ 2,3 miliar) pada 2004, mencapai 1%
dari PDBN (Tabel 4). Di Jawa Tengah, PDRB adalah Rp 193.4 triliun (kira-kira US$ 20,5
miliar), mencapai 8,8% PDB Nasional. PDRB per kapita di Provinsi Yogyakarta adalah
sekitar Rp 6,7 juta sedangkan di Jawa Tengah Rp 5,9 juta. Gambar A4 dalam lampiran teknis
mengilustrasikan kecenderungan dan ukuran relatif PDRB per kabupaten untuk periode
2000 hingga 2004.
Di Yogyakarta, jasa dan perdagangan menghasilkan 39% dari PDRB daerah pada
tahun 2004, sedangkan pertanian mencapai 16,6% (Tabel 5). Tetapi, terdapat perbedaan
besar dalam konsentrasi produksi di antara kabupaten dalam satu provinsi. Kota Yogyakarta,
suatu pusat perkotaan berpenduduk padat, nyaris tidak memiliki produksi pertanian (0.5%)
sementara jasa, perdagangan, restoran dan hotel, serta perhubungan mencapai 64% PDRB.
Di lain pihak, produk pertanian menghasilkan PDRB besar di kabupaten Gunung Kidul
(36%), Kulon Progo (25%), dan Bantul (23%)4.

4
Lihat Tabel A.1 dalam lampiran teknis untuk distribusi nominal per sektor, Tabel A.2 untuk setiap ukuran
relatif sektor, dan Gambar A.1 untuk distribusi gabungan sektor-sektor PDBD.
Bagian I. Terjadinya Bencana 9

Tabel 4. PDRB dan PDRB per Kapita (Rp 2004)


PDRB nominal 1/ PDRB per kapita 1/
Miliar Rp % di % di Juta Rp % di % di
Provinsi Indonesia Provinsi Indonesia
Provinsi Yogyakarta 21.849 100 1,0 6,7 100 65
Bantul 4.171 19 0,2 5,1 76 49
Gunung Kidul 3.378 15 0,1 4,9 73 47
Kulon Progo 1.836 8 0,1 4,9 73 47
Sleman 6.640 30 0,3 7,0 104 67
Kota Yogyakarta 5.876 27 0,3 14,8 221 141
Provinsi Jawa Tengah 193.438 100 8,8 5,9 76 43
Klaten 5.125 3 0,2 4,5 76 43
Magelang 4.148 2 0,2 3,5 59 33
Boyolali 4.247 2 0,2 4,5 76 43
Sukoharjo 4.420 2 0,2 5,3 90 50
Wonogiri 3.166 2 0,1 3,1 53 30
Purworejo 2,951 2 0,1 4,1 69 39
Semua kabupaten lain di 169.381 87 7,8 5,6 106 53
Jawa Tengah
Indonesia 2.273,142 100 100,0 10,5 270 100
Sumber: Data PDBD yang dilaporkan oleh BPS, dikomputasi oleh Tim Penilaian Gabungan 1/ di Provinsi Jawa Tengah

Tabel 5: Struktur Ekonomi Yogyakarta tahun 2004


Yogyakarta Indonesia
Miliar Rp % dari PDRB Miliar Rp % dari PDB
Pertanian 3.637 16,6 331.553 14.6
Pertambangan dan Penggalian 183 0,8 196.112 8,6
Manufaktur 3.219 14,7 639.655 28,1
Listrik, Gas, & Air 268 1,2 22.067 1,0
Konstruksi 1.744 8,0 143.052 6,3
Perdagangan, Restoran, & Hotel 4.171 19,1 369.361 16,2
Transportasi & Perhubungan 2.137 9,8 142.292 6,3
Jasa Keuangan 2.199 10,1 194.429 8,6
Jasa 4.290 19,6 234.620 10,3
PDB (tanpa Minyak & Gas) 21.849 100,0 2.072.052 91,2
Total PDB 21.849 100,0 2.273.142 100,0
Sumber: Data PDRB yang dilaporkan BPS, dikomputasi oleh Tim Penilaian Gabungan

Kawasan yang terkena dampak menghasilkan pendapatan yang sangat kecil, dan
seperti kabupaten miskin lainnya di Indonesia, sangat bergantung pada Dana
Alokasi Umum (DAU) dari Pemerintah pusat.5 Di Bantul dan Klaten, sumber
pendapatan asli daerah hanya menghasilkan 6% dari total pendapatan. Pendapatan dari dana
bagi hasil bukan pajak (dari sumber daya alam) pada umumnya sangat kecil di semua
kabupaten (kurang dari 0,1% dari seluruh pendapatan) dan pendapatan dari dana bagi hasil

5
Misalnya, DAU meliputi 93% dari seluruh pendapatan kabupaten Gunung Kidul (tabel 6).
10 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

pajak hanya menghasilkan kurang dari 4% dari seluruh pendapatan di kebanyakan kabupaten
yang terkena dampak (kecuali Kota Yogyakarta dan Sleman).

Tabel 6: Komposisi Pendapatan Kabupaten dan Kota yang Terkena Bencana di Provinsi
Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah, Realisasi APBD Tahun 2004 (Rp Miliar)
Pendapatan % Bagi Hasil Bukan % Bagi % Dana Alokasi % Total
Asli Pajak (Sumber Hasil Umum DAU)
Daerah Daya Alam) Pajak
Provinsi Yogyakarta
Kulon Progo 20 5.3 0.4 0.1 12 3.3 344 91 377
Gunung Kidul 20 4.2 0.4 0.1 15 3.1 433 93 467
Sleman 60 10 0.4 0.1 37 6.3 485 83 583
Bantul 31 5.9 0.4 0.1 19 3.7 471 90 521
Kota Yogyakarta 80 18 0.4 0.1 38 8.7 317 73 435
Provinsi Jawa Tengah
Klaten 27 3.9 0.6 0.1 24 3.5 635 93 687
Magelang 44 7.7 0.6 0.1 21 3.7 503 89 568
Boyolali 37 6.8 0.6 0.1 18 3.3 492 90 548
Sukoharjo 22 4.6 0.6 0.1 24 5.0 421 90 467
Wonogiri 25 4.5 0.6 0.1 19 3.3 523 92 568
Purworejo 26 7.7 0.7 0.1 20 3.7 432 89 479
Total (11 kabupaten 391 -- 5.7 -- 246 -- 5,057 -- 5,701
terkena dampak)
Sumber: Data Departemen Keuangan, hasil perhitungan Tim Penilaian Gabungan 1/ D.I Yogyakarta 2/ di Provinsi Jawa
Tengah

Kemiskinan
Sebanyak 880.000 orang miskin tinggal di daerah yang terkena dampak gempa bumi.
Dua dari lima kabupaten di Yogyakarta (33% dari populasi provinsi) sangat miskin
dibandingkan kabupaten lainnya di Indonesia.6 Kabupaten Klaten, Gunung Kidul dan
Kulon Progo adalah kabupaten termiskin dengan tingkat kemiskinan sekitar 25% (berada di
kelompok ke-3 kabupaten termiskin di Indonesia jika seluruh kabupaten dan kota dibagi
menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat kemiskinan) tetapi persentase kemiskinan lebih
rendah di Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta. Di tingkat provinsi, persentasi
kemiskinan di Yogyakarta sekitar 19%, berada di urutan kelima dari sepuluh provinsi
termiskin di Indonesia. Tetapi, persentase kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah sedikit lebih
tinggi daripada di Yogyakarta.

6
Tabel 7 melaporkan persentase populasi miskin di tiap kabupaten di Yogyakarta dan sepuluh kabupaten
termiskin di Indonesia.
Bagian I. Terjadinya Bencana 11

Tabel 7: Indikator Kemiskinan di Yogyakarta dan Jawa Tengah (2004)


Penduduk Penduduk Miskin (1000) % Kemiskinan Kelompok Decile
(1000) (1 Termiskin)
Provinsi Yogyakarta 3,224 616 19.1 5
Bantul 819 152 18.5 5
Gunung Kidul 687 173 25.2 3
Kulon Progo 376 95 25.1 3
Sleman 945 147 15.5 6
Kota Yogyakarta 396 50 12.7 7
Provinsi Jawa Tengah 32,543 6,844 21.0 4
Klaten 1,132 264 23.3 3
Magelang 132 186 16.0 9
Boyolali 942 172 18.4 9
Sukoharjo 838 118 14.3 8
Wonogiri 1,011 246 24.4 9
Purworejo 712 167 23.5 8
Provinsi Lain di Jawa 120,000 20,200 16.8 --
Indonesia 209,000 35,900 17.2 --
Sumber: Hasil perhitungan Tim Gabungan berdasarkan SUSENAS 2004.
12 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 13

corbis/Mast Irham

Bagian II.
Perkiraan Kerusakan dan Kerugian
14 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian

Jumlah total kerusakan dan kerugian akibat gempa bumi diperkirakan mencapai Rp
29,1 triliun (US$ 3,1 miliar). Jumlah total kerusahan diperkirakan mencapai Rp 22,75 triliun
(78% dari jumlah total) dan jumlah total kerugian ekonomi mencapai Rp 6,40 triliun (22%).
Angka kerusakan mewakili jumlah pembiayaan, termasuk sumbangan oleh korban, yang akan
dibutuhkan untuk rekonstruksi. Angka kerugian mewakili pengurangan kegiatan ekonomi
dan pendapatan pribadi dan keluarga yang akan timbul dalam bulan-bulan berikut akibat
bencana gempa bumi (Lihat tabel 8).

Tabel 8: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian (Rp Miliar)


Efek Bencana Kepemilikan
Kerusakan Kerugikan Total Swasta Pemerintah
Perumahan 13.915 1.382 15.296 15.296 0
Infrastruktur 397 154 551 76 476
Transportasi dan Perhubungan 90 0 90 0 90
Energi 225 150 375 0 375
Air dan Kebersihan 82 4 86 76 10
Sektor Sosial 3.906 77 3.982 2.112 1.870
Pendidikan 1683 56 1739 584 1154
Kesehatan dan Perlindungan Sosial 1569 21 1590 1030 560
Budaya dan Agama 654 0 654 498 156
Sektor Produktif 4.348 4.676 9.025 8.854 170
Pertanian 66 640 705 700 5
Perdagangan 184 120 303 138 165
Industri 4063 3899 7962 7962 0
Pariwisata 36 18 54 54 0
Lintas Sektor 185 110 295 48 247
Pemerintah 137 0 137 0 137
Perbankan dan Keuangan 48 0 48 48 0
Lingkungan 0 110 110 0 110
Jumlah Total 22.751 6.398 29.149 26.386 2.763
Jumlah Total, juta US$ 2.446 688 3.134 2.837 297
Sumber: Perkiraan oleh Tim Penilaian Gabungan

Dampak bencana di tiap sektor tidak sama, karena kerusakan dan kerugian
infrastruktur sangat sedikit. Sebaliknya, efek bencana terkonsentrasi di sektor perumahan,
sosial, dan produktif. Kerusakan dan kerugian di sektor perumahan mencapai Rp 15,3 triliun
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 15

(52% dari jumlah total). Sektor produktif mengalami kerugian sebanyak Rp 9 triliun (31%),
dan sektor sosial, terutama pendidikan dan kesehatan, mengalami kerusakan sebanyak Rp 4
triliun (14%). Bencana tersebut menghasilkan dampak sosial yang besar karena gempa bumi
tersebut berdampak terhadap kondisi kehidupan dan pendapatan para pekerja usaha kecil
dan menengah.
Rumah tangga dan perusahaan swasta paling terkena dampak bencana. Jumlah total
kerusakan dan kerugian sektor swasta diperkirakan mencapai Rp 26.4 triliun (90% dari
jumlah total), sedangkan kerusakan dan kerugian sektor pemerintah Rp 2.8 triliun (10%).
Tetapi, sumbangan sumber daya pemerintah terhadap rekonstruksi akan sangat besar, karena
tidak banyak rumah tangga atau usaha kecil yang memiliki asuransi.

Kotak 1: Mengukur Kerusakan dan Kerugian – Metodologi ECLAC

Untuk mengukur kerusakan dan kerugian, tim gabungan yang terdiri dari BAPPENAS,
pemerintah provinsi dan kabupaten, serta mitra internasional menggunakan metodologi
yang dikembangkan oleh Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin dan Karibia
(ECLAC). Metodologi ECLAC pertama kali dikembangkan pada awal tahun 1970-an
dan telah dimodifikasi dan ditingkatkan melalui aplikasi selama lebih dari tiga dekade
dalam konteks pasca-bencana di seluas dunia.
Metodologi ini menghasilkan perkiraan pendahuluan terhadap dampak atas aset fisik
yang harus diperbaiki dan diganti, serta terhadap aliran-aliran yang tidak akan diproduksi
sampai asset diperbaiki dan dibangun.
Perkiraan itu menganalisis tiga aspek utama:
ƒ Kerusakan (dampak langsung) memaksudkan dampak atas aset, saham, properti,
yang dinilai dengan harga unit penggantian (bukan rekonstruksi) yang disepakati.
Perkiraan itu harus memperhitungkan tingkat kerusakan (apakah aset masih bisa
dipulihkan/diperbaiki, atau sudah sama sekali hancur).
ƒ Kerugian (dampak tidak langsung) memaksudkan aliran-aliran yang akan terkena
dampak, seperti pendapatan yang berkurang, pengeluaran yang bertambah, dll
selama periode waktu hingga aset dipulihkan. Semua itu akan dijumlah
berdasarkan nilai sekarang. Penentuan periode waktu sangat penting. Jika
pemulihan berlangsung lebih lama daripada yang diharapkan, seperti dalam kasus
Aceh, kerugian bisa meningkat secara signifikan.
ƒ Efek ekonomi (kadang-kadang disebut dampak sekunder) mencakup dampak
fiskal, dampak pertumbuhan PDB, dll. Analisis ini juga bisa diterapkan pada
tingkat sub-nasional.

Kerusakan terkonsentrasi di beberapa kabupaten; Klaten di Jawa Tengah dan Bantul


di Provinsi Yogyakarta adalah yang paling terkena dampak. Kedua kabupaten itu
mengalami kerusakan dan kerugian masing-masing lebih dari Rp 10 triliun (sekitar 70% dari
jumlah total). Kabupaten-kabupaten lain menderita kerusakan dan kerugian pada skala yang
jauh lebih rendah (Lihat tabel 9). Tetapi, kekuatan sebenarnya dari bencana tersebut bisa
16 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

ditentukan dengan membandingkan jumlah kerusakan dan kerugian dengan ukuran


ekonominya, yang merupakan ukuran internasional kekuatan bencana. Bantul adalah
kabupaten paling terkena dampak yang menderita 246% total kerusakan dan kerugian
dibandingkan dengan produk domestik brutonya. Klaten memiliki perbandingan 201%.
Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Gunung Kidul juga memiliki rasio yang relatif
tinggi, antara 50% dan 75%.

Tabel 9: Distribusi Geografis Efek Bencana


Provinsi dan Penduduk Produk Dampak Besar Dampak Per
Kabupaten/Kota (1000) Domestik Total, Dampak Kapita,
Bruto, Miliar Rp Milliar Rp Bencana, % Juta Rp
Yogyakarta Province 3,224 21,849 18,742 86 5.8
Bantul 819 4,171 10,335 246 12.6
Yogyakarta City 396 5,876 1,639 28 4.1
Kulon Progo 376 1,836 1,372 74 3.6
Gunung Kidul 687 3,378 2,167 64 3.2
Sleman 945 6,640 3,229 48 3.4
Central Java Province 32,542 193,438 10,387 201 9.2
Klaten (incl. other 1,131 5,125 10,387 201 9.2
affected districts)
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Rata-rata kerusakan dan kerugian per kapita juga tidak seimbang. Bantul adalah
kabupaten yang paling terkena dampak dengan efek per kapita mencapai Rp 12,3 juta.
Dampak terhadap Klaten juga besar, mencapai Rp 6,5 juta. Kabupaten-kabupaten lain yang
terkena dampak parah memiliki kisaran angka yang sama, dengan efek per kapitanya Rp 3-4
juta (lihat tabel 9).
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 17

Perumahan

Ikhtisar
Membangun kembali dan merehabilitasi rumah-rumah akan menjadi hal yang
terpenting dalam upaya rekonstruksi Yogyakarta-Jawa Tengah. Kerusakan dan
kerugian di sektor perumahan mencapai Rp 15,3 triliun, atau lebih daripada setengah jumlah
total. Diperkirakan, 157.000 rumah hancur dan 202.000 lainnya rusak. Antara 600.000
samapai satu juta orang telah kehilangan tempat tinggal. Skala kehancuran perumahan lebih
besar daripada di Aceh, terutama karena padatnya populasi di daerah yang terkena dampak
gempa bumi dan standar konstruksi bangunan rumah yang berkualitas rendah. Sejumlah 4.1
juta kubik meter gabungan puing menumpuk di semua lokasi rumah yang runtuh itu. Tetapi,
pembangunan kembali seharusnya akan lebih mudah dan cepat daripada di Aceh karena
sebagian besar infrastruktur masih berdiri kokoh. Pembuangan puing dan penyediaan tenda
penampungan korban adalah tantangan yang harus segera diatasi dalam pekan-pekan
mendatang.

Kondisi Sebelum Bencana


Sebelum bencana, Provinsi Yogyakarta dan keenam kabupaten yang terkena
dampak di Jawa Tengah memiliki jumlah total rumah pribadi 2,1 juta, lebih daripada
dua kali lipatnya jumlah total perumahan di Aceh. Jumlah perumahan di keenam
kabupaten yang paling terkena dampak adalah 984.000. Kabupaten Klaten memiliki jumlah
rumah terbesar (280.500); Sleman di urutan kedua (197.000); dan Bantul ketiga (182.000).

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Sektor perumahan menderita kerusakan dan kerugian terparah dibanding semua
sektor lain akibat gempa bumi tanggal 27 Mei. Kebanyakan kerusakan terjadi di
Kabupaten Bantul dan Kabupaten Klaten (lihat gambar 1). Kebanyakan rumah yang terkena
dampak berumur antara 15 sampai 25 tahun. Kurang dari tiga persennya adalah rumah
dengan rancangan tradisional. Hampir 7,4% dari jumlah total perumahan hancur sama sekali
(sekitar 157.000 unit) dan 9,5% (sekitar 202.000 unit) menderita kerusakan. Angka tersebut
meningkat menjadi 15,6% dan 20,2% masing-masing di keenam kabupaten yang paling
terkena dampak.
Bantul di Province Yogyakarta dan Klaten di Provinsi Jawa Tengah adalah
kabupaten yang paling parah dilanda bencana. Kabupaten Bantul dan Kabupaten
Klaten (peta 3) berisi 72% dari jumlah total rumah hancur, dan 95% koban jiwa dan luka
18 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

berat terjadi di kedua kabupaten tersebut. Gunung Kidul, Sleman, dan Yogyakarta cukup
parah terkena dampak, sedangkan daerah-daerah yang jauh dari situ seperti Magelang,
Purworejo, dan Wonogiri hanya menderita sedikit kerusakan rumah. Klaten memiliki jumlah
rumah hancur terbesar (66.000) diikuti oleh Bantul (47.000).

Peta 3: Pembagian Geografis Jumlah Total Kerusakan dan Kerugian di Bidang Perumahan
(Rp Miliar)

Sumber: Tim Penilaian Gabungan berdasarkan kerusakan dan kerugian rumah

Rumah-rumah kami roboh Rumah-rumah yang terbuat dari kayu atau bambu
karena kami kekurangan uang ketimbang bata/beton lebih tahan terhadap
untuk membangun rumah yang guncangan gempa bumi. Meski rumah bambu tradisional
layak. Siapa yang tahu akan terlihat bisa lebih tahan gempa, tidaklah demikian halnya
terjadi gempa bumi seperti ini.” apabila rumah tersebut memiliki genteng yang berat dan
(Seorang penduduk lansia dibangun di atas tanah liat serta tidak memiliki struktur
di Bantul) penopang atap yang cukup.
Pada umumnya, orang-orang bisa membuat tempat
tinggal sementara di lokasi rumah mereka yang hancur dengan menggunakan tenda,
terpal, dan bahan-bahan yang bisa diselamatkan. Sebuah survei singkat mendapati
bahwa 74% dari keluarga yang rumahnya hancur sama sekali tinggal di dalam sebuah tenda di
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 19

depan rumah mereka. Hal itu memungkinkan masyarakat untuk berkumpul bersama
ketimbang tercerai berai dalam lokasi-lokasi tempat tinggal sementara. Hal itu juga
memungkinkan para penduduk melindungi harta benda mereka dalam lingkungan sendiri.
Dalam banyak kasus, penduduk telah mulai menyelamatkan barang-barang berharga serta
bahan bangunan, yang bisa digunakan kembali untuk membangun rumah mereka. Terpal
juga digunakan untuk melindungi harga benda dari angin dan hujan. Karena kekurangan
terpal, beberapa organisasi telah mendapati bahwa empat atau lima keluarga tinggal di bawah
satu terpal.
Penyebab utama kerusakan adalah kurangnya struktur anti-gempa di banyak rumah.
Sebuah evaluasi singkat terhadap perumahan yang terkena dampak harus dilaksanakan
dengan segera melalui masukan dari para insinyur seismik, guna menemukan sumber-sumber
utama masalah (aturan bangunan yang tidak memadai, sitting yang tidak layak, atau
pemantauan dan penegakan standar). Selain itu, sangat penting untuk menyebarluaskan
informasi dasar tentang bangunan yang aman secepat mungkin, karena orang-orang akan
segera membangun rumah mereka dan menghadapi risiko membangun rumah yang sama
lemahnya.
Perkiraan kerusakan perumahan dimulai tidak lama setelah gempa bumi melalui
Departemen Pekerjaan Umum, dan dikoordinasikan dengan BAPPENAS dan
organisasi nasional dan daerah. Prosesnya bersifat dari bawah ke atas (bottom-up):
penduduk menyediakan informasi tentang tingkat kerusakan kepada kepala desa, yang
kemudian ditinjau oleh Satkorlak dan berbagai kementerian yang terkait. Tim untuk laporan
ini mengadakan sejumlah kunjungan lapangan untuk memverifikasi data. Angka yang
ditampilkan dalam laporan itu menggunakan data yang disediakan oleh Yogyakarta
Earthquake Media Center sejak tanggal 6 Juni 2006, dengan penyesuaian 10% untuk
mencerminkan temuan-temuan dari kunjungan lapangan.
20 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Tabel 10: Keseluruhan Kerusakan Fisik (Unit Perumahan)7


Hancur Total Rusak Total Pribadi Pemerintah
Provinsi Yogyakarta 88.249 98.342 186.591 186.591 0
Bantul 46.753 33.137 79.889 79.889
Sleman 14.801 34.231 49.031 49.031
Gunung Kidul 15.071 17.967 33.038 33.038
Kota Yogyakarta 4.831 3.591 8.422 8.422
Kulon Progo 6.793 9.417 16.210 16.210
Provinsi Jawa Tengah 68.414 103.689 172.103 172,103 0
Klaten 65.849 100.817 166.666 166.666
Sukoharjo 1.185 488 1.673 1.673
Magelang 499 729 1.228 1.228
Purworejo 144 760 904 904
Boyolali 715 825 1.540 1.540
Wonogiri 23 70 93 93
Jumlah Total 156.662 202.031 358.693 358.693 0
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Rumah yang hancur di empat kabupaten pedesaan;


”Saya maunya membangun kembali
Bantul, Klaten, Sleman, dan Gunung Kidul;
rumah yang lebih baik, tetapi tidak
mencapai lebih dari 91% jumlah total rumah yang
bisa. Kami membiaya sendiri rumah
hancur. Rumah yang hancur di Provinsi Yogyakarta dan
kami dan tidak memiliki tabungan.
Kabupaten Klaten mencapai 98% dari jumlah total
Untuk membangun kembali dengan
rumah yang hancur dan hampir semua kerusakan dicatat
lebih baik jelas kita tidak bisa
di sana (gambar 1). Data penting yang dirinci menurut
meski risikonya memang ada.
jenis kelamin, kepala keluarga, usia, ukuran rumah
Apakah Anda mau memberi saya
tangga, kelompok rentan, tingkat pendapatan, atau
uang sekarang sehingga saya bisa
kepemilikan tanah belum tersedia. Tetapi, data sedang
membangun kembali rumah yang
dikumpulkan dan pasti akan memberi informasi untuk
lebih baik seperti yang Anda
strategi dan proyek rekonstruksi dan pemulihan.
bilang?” (Seorang kepala desa di
Klaten) Skala kehancuran perumahan lebih tinggi daripada
yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami
bulan Desember 2004 di Aceh (gambar 2). Kerusakan dan kerugian di bidang perumahan
(Rp 15,3 triliun) merupakan persentase terbesar dari jumlah totalnya. Angka itu lebih tinggi
daripada jumlah total kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana di Aceh (Rp
13,4 triliun – tabel 3). Meskipun daerah yang terkena dampak lebih kecil daripada yang
dilanda oleh tsunami di Aceh, skala kerusakannya lebih besar. Hal itu terutama karena
Yogyakarta dan Jawa Tengah merupakan beberapa di antara daerah yang memiliki angka
kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia, sehingga ada banyak orang yang menjadi korban.
Kabupaten Bantul dan Klaten memiliki lebih daripada 1.600 orang per km persegi, lebih dari
50% di atas rata-rata Jawa. Sebagai perbandingan, Aceh memiliki kepadatan penduduk yang
sangat rendah, yaitu 72 orang per km persegi.

7 Tim Evaluasi Gabungan menyesuaikan kategori awal: 70% dari rumah yang ”rusak parah” digolongkan ulang

menjadi hancur. Ke-30% sisanya digolongkan ulang menjadi hanya ”rusak”. Lihat tabel lampiran untuk
perincian semua asumsi, penyesuaian, dan sumber data.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 21

Tabel 11: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian di Bidang Perumahan (Miliar Rp)
Kerusakan Kerugian Total Pribadi Pemerintah
Provinsi Yogyakarta 7.420,7 732,9 8.153,5 8.153,5 0,0
Bantul 3.419,3 332,6 3.751,9 3.751.9
Sleman 1.723,5 175,0 1.898,4 1.898,4
Gunung Kidul 1.299,0 128,6 1.427,6 1.427,6
Kota Yogyakarta 357,8 34,9 392,7 392,7
Kulon Progo 621,1 61,8 682,9 682,9
Provinsi Jawa Tengah 6.493,9 648,7 7.142,7 7.142,7 0,0
Klaten 6.277,9 627,4 6.905,3 6.905,3
Sukoharjo 77,2 7,4 84,6 84,6
Magelang 46,6 4,6 51,3 51,3
Purworejo 28,3 3,0 31,2 31,2
Boyolali 60,9 6,0 66,9 66,9
Wonogiri 3,1 0,3 3,4 3,4
Jumlah Total Sektor Perumahan 13.914,6 1.381,6 15.296,2 15.296,2 0,0
% Total Kerusakan dan Kerugian Semua Sektor 61 22 53 58 0
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Tabel 12: Aceh versus Yogyakarta/Jawa Tengah – Jumlah Perumahan, Kerusakan, dan
Biaya
Kategori Aceh Yogyakarta –Jawa Yogyakarta –Jawa
Tengah (11 Tengah (6
kabupaten) kabupaten paling
terkena dampak)
Perumahan sebelum Bencana 832.208 2.117.375* 984.058
Rumah Hancur % Hancur 127.325 15,3% 156.662 7,4 % 154.098 15,7%
Rumah Rusak % Rusak 151,653 18,2% 202,031 9,5 % 199,160 20,2%
Total Rusak & Kerugian Rp 13,4 triliun Rp 15.3 triliun Rp 15,1 triliun
Rata-rata Biaya Rekonstruksi Rumah Baru Rp 1,4 ~ 1,6 juta/m² Rp 1.0 ~ 1.2 juta/m² Rp 1,0 ~ 1,2 juta/m²
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Rekomendasi Awal
ƒ Identifikasi bangunan berbahaya yang berisiko roboh guna menghindari korban jiwa
dan cedera lebih banyak. Banyak orang masih mencari perteduhan sementara di
bangunan demikian dan tidak mengetahui bahayanya.
ƒ Libatkan komunitas yang terkena dampak dalam program rekonstruksi. Korban
harus digugah untuk membayar lebih banyak demi kualitas guna menghindari
banyaknya korban jiwa di masa depan.
ƒ Standar perumahan dan kompensasi sejauh mungkin harus sama rata di seluruh
lapisan masyarakat guna menghindari ketegangan di antara kabupaten-kabupaten dan
desa-desa.
ƒ Fasilitasi persediaan bahan bangunan yang cukup melalui rantai pengadaan sangat
penting agar korban bisa memperoleh rumah baru dalam batas waktu yang sesingkat
mungkin guna membangun kembali mata pencaharian mereka.
22 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Infrastruktur

Dampak gempa bumi terhadap infrastruktur pemerintah dan swasta relatif terbatas,
dengan nilai kerusakan dan kerugian diperkirakan masing-masing sebesar Rp 397
miliar dan Rp 153,8 miliar. Sektor yang paling parah terkena dampak adalah energi, dengan
nilai kerusakan transmisi listrik dan fasilitas distribusi diperkirakan mencapai sejumlah total
Rp 225 miliar dan kerugian mencapai Rp 150 miliar akibat kerusakan fisik.
Dalam sektor transportasi, terdapat kerusakan jalan yang tersebar di berbagai
tempat tetapi tidak berat, serta kerusakan di bandara Yogyakarta, dan kerusakan jalur
kereta api utama dan infrastruktur yang terkait dengannya. Jumlah total kerusakan
diperkirakan mencapai Rp 90.2 miliar. Kebanyakan kerusakan jalan (80%) terjadi di jalan
provinsi dan kabupaten dan dua pertiga kerusakan terjadi di Kabupaten Sleman dan
Kabupaten Bantul.
Jumlah total kerusakan dan kerugian di sektor persediaan air dan sanitasi
diperkirakan mencapai Rp 85.6 miliar, terutama karena rusaknya sumur-sumur dangkal,
sumber utama air bagi 70-95% desa di Provinsi Yogyakarta maupun Provinsi Jawa Tengah.
Jasa pos dan telekomunikasi menderita sangat sedikit kerusakan, terutama kerusakan
pada base station telepon seluler dan nirkabel dan beberapa bangunan. Jumlah total
kerusakan diperkirakan tidak melebihi Rp 7 miliar.

Tabel 13: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian Infrastruktur


Sektor / Sub-Sektor Efek (Miliar Rp) Kepemilikan
Kerusakan Kerugian Total Pemerintah Swasta
Air & Sanitasi 81,9 3,7 85,6 10,1 75,5
PDAM 5,0 3,7 8,7 8,7 0,0
Pasokan Air Pedesaan 75,5 0 75,5 0.0 75,5
Sanitasi Perkotaan 1,4 0 1,4 1,4 0,0
Energi 225,0 150,0 375,0 375,0 0,0
Substasiun transmisi 135,0 150,0 285,0 285,0 0,0
Jaringan Distribusi 90,0 0 90,0 90,0 0,0
Transportasi dan Perhubungan 90,6 0,2 90,8 90,8 0,0
Jalan 45,0 0 45,0 45,0 0,0
Kereta Api 19,9 0 19,9 19,9 0,0
Penerbangan Sipil 18,7 0,2 18,9 18,9 0,0
Pos dan Telekomunikasi 7,0 0 7,0 7,0 0,0
Total 397,5 153,8 551,4 475,9 75,5
% dari total kerusakan dan kerugian 1,7 2,4 1,9
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 23

AIR DAN SANITASI

Ikhtisar
Jumlah total kerusakan dan kerugian di sektor pasokan air dan sanitasi diperkirakan
mencapai Rp 85,6 miliar, agak lebih sedikit dibandingkan dengan sektor lainnya.
Kebanyakan kerusakan tampaknya terjadi pada fasilitas pasokan air ketimbang fasilitas
sanitasi. Tidak ada jaringan pasokan air pipa yang mengalami kerusakan parah. Di daerah-
daerah terkena bencana yang kebanyakan tidak memiliki air pipa, pembersihan puing secara
segera dan biaya perbaikan sumur dapat mencapai Rp 75,5 miliar. Pada tahap ini, informasi
tentang infrastruktur sanitasi bawah tanah masih terbatas.

Kondisi Sebelum Bencana


Pasokan air perkotaan di daerah yang dilanda gempa bumi disediakan oleh
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan, kecuali di daerah Yogyakarta dan
sekitarnya, pelayanan sanitasi disediakan oleh pemerintah daerah melalui dinas
pertamanan dan kebersihan (DPK). Di daerah Yogyakarta dan sekitarnya, yang terdiri
dari kota Yogyakarta dan sebagian Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman, saluran limbah
dikelola dan dioperasikan secara bersama-sama oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
daerah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman. Sebagaimana pada
umumnya di Indonesia, jangkuan PDAM terbatas, sehingga sebagian besar rumah tangga
perkotaan dan hampir semua rumah tangga pedesaan mengandalkan upaya sendiri melalui
pengambilan air bawah tanah dangkal, tadah hujan, atau penggunaan air permukaan dari
sungai dan mata air. 85-95% desa di Kabupaten Bantul di Provinsi Yogyakarta dan
Kabupaten Klaten menggunakan sumur sebagai sumber air8. Sumur dan toilet di dalam
rumah merupakan hal biasa, dan pembuangan kotoran manusia ke sungai sudah merupakan
praktek yang umum di daerah pedesaan.
Sebelum gempa bumi, hanya sekitar 35 persen penduduk Kota Yogyakarta
(termasuk sebagian Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman) yang mendapatkan
persediaan air pipa dari PDAM Yogyakarta. PDAM Yogyakarta mengandalkan sumber
air bawah tanah (sumur dangkal dan dalam), sungai, dan mata air, dengan total kapasitas 583
liter/detik (l/s). Daerah yang dilayani dibagi menjadi empat zona, dengan 34.560 sambungan
rumah tangga dan 31,2% pasokan air yang hilang sebelum bencana. Kota Yogyakarta adalah
satu-satunya daerah perkotaan terkena bencana yang memiliki sistem pembuangan terbatas
(30% cakupan), dengan fasilitas pengolahan limbah yang kurang dimanfaatkan (40%) di
Sewon. Fasilitas toilet individu dan sanitasi/tangki penampung kotoran manusia di satu
lokasi merupakan hal yang umum di seluruh kota. Sehubungan pengelolaan limbah padat,
daerah Yogyakarta dan sekitarnya mengoperasikan sebuah lokasi pembuangan sampah
daerah di Piyungan. Pengambilan sampah, pembersihan kota, dan penyapuan jalan
dilaksanakan oleh masing-masing pemerintah kabupaten.

8
Data PODES 2005 yang dikumpulkan oleh BPS
24 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Di Kabupaten Bantul, pasokan air terdiri dari 12 unit, satu untuk kota Bantul dan 11
untuk saluran-saluran daerah kecamatan di wilayah tersebut. Hanya sekitar 10% dari
seluruh penduduk kabupaten yang dilayani oleh PDAM Bantul, 82% lainnya mengandalkan
sumur dangkal (93%), mata air (5%), pompa tangan (1%), tadah hujan (0,4%), dan cara-cara
lain. Jumlah total kapasitas produksi adalah 235 l/s, dan air yang tidak terhitung/hilang
dilaporkan mencapai 22%. Sistem sanitasi tidak ada, dan hanya sekitar 13% dari produksi
sampah harian yang diambil oleh petugas pengambilan sampah kabupaten.
Di Kabupaten Klaten, jangkauan persediaan air sebelum gempa bumi mencapai 56%
untuk kota dan 14% untuk kabupaten secara keseluruhan. PDAM menjangkau kota
Klaten, dan enam sistem pasokan air kecamatan tersebar di seluruh kabupaten; empat di
antaranya bergantung pada sumur dalam dan dua di antaranya mata air. Saluran pipa
melayani 22.537 sambungan rumah, yang di antaranya sekitar 13.000 berada di daerah kota
Klaten. Sumur-sumur galian umum digunakan sebagai sumber air rumah tangga.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Secara keseluruhan, kerusakan dan kerugian pada persediaan air dan sanitasi relatif
kecil dan bersifat sementara. Kerusakan fasilitas penyediaan air dan sanitasi diikhtisarkan
pada Tabel 14. 90% dari kerusakan pasokan air berada di daerah pedesaan.

Tabel 14: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian pada sektor Air dan Sanitasi
Efek (Milyar Rp) Kepemilikan
Total Kerusakan Kerugian Swasta Pemerintah
Air dan Sanitasi 85,6 81,9 3,7 75,5 10,1
Pasokan air 84,2 80,5 3,7 75,5 8,7
Pasokan Air PDAM 8,7 5,0 3.7 0,0 0,0
Unit Produksi (sumur, pompa) 0,0 1,8 0.0 0,0 0,0
Jaringan dan Sambungan Pipa 0,0 3,2 0,0 0,0 0,0
Truk Air 0,0 0,0 0.0 0,0 0,0
Pendapatan yang Hilang 0,0 0,0 2,5 0,0 0,0
Biaya Operasional Tambahan 0,0 0,0 1,2 0,0 0,0
Pasokan Air di Pedesaan 75,5 75,5 0,0 75,5 0,0
Sumur Galian yang Perlu Dibersihkan 0,0 33,5 0,0 33,5 0,0
Sumur Galian yang Perlu Direhabilitasi 0,0 41,9 0,0 0,0 0,0
Sanitasi 1,4 1,4 0,0 0,0 1,4
Fasilitas Pengolahan Air 0,0 1,4 0,0 0,0 0,0
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Pasokan air pipa di daerah perkotaan terganggu selama beberapa hari terutama
karena matinya aliran listrik, karena 90% air bersumber dari sumur dalam yang di
pompa. Di Yogyakarta, tidak satu pun dari bangunan, pompa, dan sumur PDAM rusak
berat akibat gempa bumi, dan perbaikan secara cepat telah dilakukan guna menjaga pasokan
air. Tetapi, jaringan distribusi air rusak akibat semakin banyaknya kebocoran fisik di kota,
terutama di kecamatan-kecamatan yang paling terkena dampak, yakni Umbulharjo,
Mergangsan, Kota Gede dan Mantri Jero. Perbaikan sementara lebih dari 200 titik kebocoran
sedang dilakukan. Tidak ada laporan tentang kerusakan jaringan limbah. Meski telah
dilaporkan ada kerusakan kecil di fasilitas pengolahan limbah, fasilitas itu masih beroperasi.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 25

Kerusakan kecil juga ditemukan di lokasi penampungan sampah daerah di Piyungan, yang
melayani daerah Yogyakarta dan sekitarnya, berupa kebocoran pada kolam penyaringan yang
bisa mencemari sungai di dekatnya.
Di Bantul, dua dari 12 sumur dalam dilaporkan rusak, dan dua jembatan pipa
transmisi telah roboh. Di Klaten, hanya sekitar 50 sambungan rumah tangga yang
terganggu. Kedua kabupatan itu pada umumnya berisi wilayah semi-perkotaan dan pedesaan,
yang hanya mempunyai sedikit sambungan pipa, sehingga hanya terdapat sedikit kerusakan
pada sambungan tersebut. Sebaliknya, karena sumur dan toilet sangat umum, kerusakan per
individu banyak terjadi. Tetapi, tampaknya, bahkan di tempat-tempat yang tingkat
kehancuran rumahnya tinggi, struktur sumur-sumur itu tetap kuat, meski sudah terisi dengan
puing. Maka, biaya pembersihan yang dilakukan dengan segera bisa jadi tinggi, tetapi biaya
penggantian dan rekonstruksi rendah. Untuk sementara, rumah tangga yang berada di daerah
yang terkena dampak parah telah menggunakan fasilitas air dan sanitasi umum yang
disediakan para tetangga, yang telah dibersihkan dari puing, dan PDAM sedang menyalurkan
air melalui truk dan penampungan air umum di tenda-tenda evakuasi.
Informasi tentang kerusakan tangki penampung tinja belum tersedia dan mungkin
akan berdampak pada mutu air apabila tangki-tangki itu dibangun dekat sumur. Tetapi,
penting untuk dicatat bahwa kebocoran tangki penampung tinja ke sumur-sumur didekatnya
sudah menjadi masalah umum bahkan sebelum adanya gempa bumi.
Semua PDAM di kabupatan-kabupaten yang terkena dampak kemungkinan besar
akan mengalami peningkatan biaya operasional dan pemeliharaan akibat pekerjaan
perbaikan yang harus segera dilakukan. Di Bantul, pekerjaan perbaikan dan rehabilitasi
terhalang oleh berkurangnya kapasitas staf, karena sekitar 80% rumah staf PDAM roboh
atau rusak berat.
26 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

ENERGI

Ikhtisar
Gempa bumi mengakibatkan kerusakan yang signifikan pada substasiun tegangan
ekstra tinggi di Pedan (Kabupaten Klaten), kerusakan kecil pada sebelas substasiun
tegangan tinggi, dan kerusakan di berbagai jaringan dan sambungan rumah tangga
tegangan menengah dan tinggi. Pasokan listrik daerah perkotaan Yogyakarta terputus
secara singkat, dan perkembangan bagus telah dibuat sejak saat itu dalam mengembalikan
sambungan listrik kepada para pelanggan di daerah pedesaan yang bangunannya masih bisa
digunakan. Tidak ada laporan mengenai kerusakan instalasi minyak dan gas. Ada beberapa
laporan tentang kerusakan tempat-tempat pengisian bensin pinggir jalan. Jumlah total
kerusakan dan kerugian diperkirakan mencapai masing-masing Rp 325 miliar dan Rp 150
miliar.

Keadaan Sebelum Bencana


Pasokan listrik untuk umum di Jawa dan di tempat-tempat lainnya dikelola oleh
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Daerah yang terkena gempa biasanya
memperoleh aliran listrik melalui jaringan 500KV dari pusat pembangkit listrik tenaga
batubara Paiton, Jawa Timur, dan PLN tidak memiliki kapasitas pembangkit yang signifikan
di daerah yang terkena bencana. 9 Pusat Pengendalian dan Pengaturan Beban (P3B) PLN
Jawa-Bali mengelola jaringan transmisi 500KV dan jaringan transmisi regional 150KV. Unit
usaha Distribusi Jawa Tengah mengelola jaringan distribusi dan penjualan listrik ke
pelanggan listrik tegangan menengah dan tinggi di semua daerah yang terkena dampak.
Substasiun Pedan yang baru saja dibangun, merupakan segmen sangat penting pada
jaringan 500 KV Jawa-Bali, terletak di jalur 500KV selatan yang, jika selesai, akan
menghubungkan Paiton via Kediri, Pedan, dan Tasikmalaya ke Depok (Jakarta). Juga
terdapat saluran 500KV dari Pedan ke Unggaran (Semarang) melalui jalur 500KV utara.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Substasiun Pedan menderita kerusakan pada pemutus arus 500 KV (3 pasang), saklar
pemutus 500KV (5 pasang), trafo 500KV/150KV (2 pasang) dan sebuah penangkal
listrik 500KV. Hal itu melumpuhkan sambungan 500KV Pedan-Kediri-Paiton maupun
Pedan-Ungaran, sehingga listrik harus disalurkan melalui jaringan 150KV dari pusat
pembangkit minyak bakar di dekat Semarang (Tambak Lorok) dan dari Jawa Barat.
Bangunan substasiun juga menderita sedikit keretakan tetapi perlengkapan kendali di
dalamnya selamat dari kerusakan. Selain itu, sebelas substasiun 150KV di Provinsi

9
PLN memiliki sebuah unit pembangkit listrik tenaga air kecil berukuran 260kW di daerah itu. Tidak
dilaporkan adanya kerusakan pada fasilitas itu. Sejumlah perusahaan memiliki ’pembangkit’ sendiri yang
menyediakan listrik untuk keperluan utama atau cadangan. Menurut laporan, ada sekitar 140 unit di Provinsi
Jawa Tengah/Provinsi Yogyakarta dengan total kapasitas terpasang sekitar 87MW. Unit-unit itu merupakan
bagian dari sektor produktif.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 27

Yogyakarta menderita kerusakan kecil pada bangunan dan perlengkapannya.10 Tidak ada
menara transmisi yang rusak. Jumlah total biaya untuk perbaikan diperkirakan mencapai Rp
135 miliar11 oleh PLN.
Aliran 500 KV Pedan-Unggaran diberi tenaga kembali pada tanggal 31 Mei,
memungkinkan listrik dari Tambok Lorok disalurkan pada tegangan 500KV. Aliran
500KV Pedan-Kediri diberi tenaga kembali pada tanggal 6 Juni, sehingga bisa mengalirkan
listrik dari pembangkit listrik tenaga batubara Paiton.12 Pekerjaan sisanya di Pedan dan di 11
stasiun 150KV direncanakan akan selesai pada tanggal 30 Juni.
Unit usaha Jawa Tengah melaporkan kerusakan pada lebih dari 140.000 sambungan
pelanggan (seluruhnya sekitar 6,7 juta), dan pada kurang lebih 880km jalur distribusi
tegangan menengah (30KV dan 20KV) dan 820km jalur distribusi tegangan rendah.
Hanya segmen-segmen pendek dari jaringan tersebut yang menderita kerusakan parah. Pada
awalnya, sekitar 1.800 trafo distribusi tidak berfungsi dan sekarang diperkirakan bahwa
sekitar 180 rusak. PLN merencanakan untuk memfungsikan seluruh jaringan pada akhir Juni,
meskipun konektivitas akhir akan bergantung pada kecepatan rekonstruksi rumah-rumah
yang rusak. Jumlah total biaya perbaikan jaringan distribusi dan bangunan diperkirakan oleh
PLN mencapai Rp 90 miliar.
Biaya pembangkitan listrik PLN naik dengan tinggi karena PLN harus memasok
listrik ke daerah dari stasiun-stasiun berbahan bakar minyak dan bukannya
berbahan bakar batubara selama periode 27 Mei sampai 6 Juni. Konsumsi BBM
diperkirakan meningkat hingga 3.000 kiloliter per hari, sehingga biaya pembangkitan listrik
harian meningkat menjadi Rp 15 milyar.13 Jumlah total kerugian selama 10 hari tidak
beroperasinya aliran Pedan-Kediri diperkirakan oleh PLN mencapai Rp 150 miliar.
Unit distribusi Jawa Tengah telah melaporkan bahwa mereka mengantisipasi
berkurangnya penjualan listrik selama enam bulan ke depan.14 Kerugian ini tidak
dihitung karena: (a) sebagian besar pelanggan yang terkena dampak mendapatkan tarif R1
yang disubsidi tinggi, yang nilainya hanya sedikit di atas biaya pasokan jangka pendek yang
dapat dihindari dan (b) sebagian besar pelanggan rumah kecil menggunakan listrik selama
periode puncak malam hari (antara pukul 17.00 dan 22.00) ketika PLN sedang kesulitan
untuk memenuhi permintaan.15

10
Bantul, Wirobrajan, Medari, Godean, Gejayan, Kentungan, Semanu, Solo Baru, Wates, Purwoajo, dan
Klaten.
11
Informasi terbaru diperoleh dari PLN setelah tabel yang dirujuk di naskah ini selesai dibuat. Kerusakan di
Pedan sekarang diperkirakan mencapai Rp 92 miliar. Perkiraan oleh PLN tidak diverifikasi secara independen
sebelum perlengkapan diperbaiki.
12
Jadwal ini bisa terealisasi karena P3B bisa ’meminjam’ perlengkapan untuk Pedan dari substasiun Grati, yang
sekarang sedang dibangun.
13
Angka harus divalidasi oleh data aliran beban dan biaya energi.
14
PLN sedang mempertimbangkan apakah pelanggan yang bangunannya rusak total akan ditagih untuk
penggunaan listrik mereka untuk bulan Mei.
15
PLN sedang berupaya menekan kebutuhan periode puncak dengan mengenakan tarif periode puncak yang
tinggi untuk pelanggan industri besar dan bisnis (satu-satunya dengan pengukuran meter berdasarkan waktu).
Pada akhir tahun 2005, PLN juga memperkenalkan kebjakan disinsentif sementara (Dayamax) untuk pelanggan
28 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

TRANSPORTASI DAN PERHUBUNGAN

Ikhtisar
Gempa bumi mengakibatkan kerusakan yang relatif kecil pada jaringan jalan umum,
infrastruktur kereta api, bandara Yogyakarta, dan instalasi telepon serta kantor pos.
Tidak ada pelabuhan laut atau sungai di daerah yang terkena dampak.

JALAN
Kondisi Sebelum Bencana
Jaringan jalan digolongkan berdasarkan tanggung jawab administratif menjadi
penghubung nasional, provinsi, kabupaten, dan kota. Penggolongan ini secara umum
mencerminkan fungsi jalan. Di pusat, tanggung jawab terhadap infrastruktur jalan dipegang
oleh Departemen Pekerjaan Umum (Dep-PU) dan ditangani oleh Direktorat Jenderal Jalan
Raya. Dep-PU bertanggung jawab secara langsung untuk pembangunan dan perawatan
jaringan nasional dan untuk menetapkan kebijakan dan standar untuk mengelola jaringan
subnasional. Dinas pekerjaan umum provinsi dan Kabupaten/Kota bertanggung jawab
untuk pembangunan dan perawatan jaringan mereka masing-masing.
Jaringan nasional di Provinsi Yogyakarta memiliki panjang total sejauh 169km (2004)
dan terdiri dari jalan lingkar Yogyakarta ditambah empat penghubung radial.
Panjang jaringan provinsi, distrik, dan kota adalah 690km (2006), 3.834km (2000), dan
210km (2000), masing-masing. Selain itu, ada 2.000km jalan desa. Data serupa untuk Klaten
belum tersedia.

bisnis dan industri guna semakin menekan konsumsi periode puncak. Meskipun demikian, PLN selama ini
telah beberapa kali terpaksa melepaskan beban.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 29

Gambar 5: Jaringan Jalan Nasional, Provinsi dan Kabupaten

Sumber: Tim Penilai Gabungan

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Terdapat kerusakan yang luas namun ringan pada jalan dan jembatan di daerah-
daerah yang dilanda gempa bumi. Jumlah total biaya kerusakan diperkirakan mencapai
Rp 45 miliar berdasarkan data kerusakan jalan dari dinas pekerjaan umum provinsi. Semua
jalan penghubung penting sekarang bisa digunakan dan sejauh ini tidak ada dampak
signifikan terhadap kecepatan lalu lintas. Maka, kerugian yang signifikan diperkirakan tidak
ada.
Kerusakan jalan mencakup retakan melintang dan memanjang. Ruas-ruas jalan telah
mengalami penurunan kecil dan deformasi aspal terutama karena hancurnya dinding
penahan. Kerusakan jembatan mencakup keretakan memanjang pada lempeng-lempeng dek
dan lepasnya sendi-sendi ekspansi. Juga ada penurunan pada jalan jembatan.
Perkiraan biaya kerusakan jalan dan jembatan ditampilkan di Tabel 15. Kerusakan
jembatan mencapai 60% dari jumlah total biaya, jalan nasional 16% dari jumlah total biaya,
sementara jalan provinsi dan kabupaten 84%. Dua per tiga kerusakan jaringan subnasional
terjadi di Bantul dan Sleman.
30 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Tabel 15: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian Jalan16


Kerusakan dan Kerugian (Miliar Rp)
Jalan Jembatan Total
Nasional 2,6 4,8 7,4
Provinsi 9,8 7,8 17,6
Kabupaten/Kota 6,2 13,8 20
Total 18,7 26,3 45
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

KERETA API
Kondisi Sebelum Bencana
Infrastruktur Jalan Kereta Api dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan dikelola oleh
Direktorat Jenderal Kereta Api di Departemen Perhubungan. Jalan kereta api
dioperasikan dan pelihara oleh perusahaan kereta api milik negara, PT Kereta Api Indonesia
(KAI), yang mengoperasikan pengangkutan penumpang dan pengangkutan barang. Kereta
api lintas Jawa umumnya melayani penumpang dan jalur utama selatan menjalankan lalu
lintas jarak jauh antara Jakarta dan Surabaya, serta pelayanan lokal ke bagian timur dan barat
Yogyakarta. Yogyakarta adalah salah satu stasiun penumpang yang sangat penting dan juga
merupakan bengkel bagi lokomotif diesel satu-satunya di Indonesia.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Jalur utama sebelah selatan mengalami kerusakan kecil pada rel, bangunan stasiun,
tanda-tanda dan telekomunikasi, serta bangunan di antara Delanggu (sebelah timur
Yogyakarta) dan Wates (sebelah barat).17 Kerusakan kecil juga terjadi pada bangunan
stasiun lain di Yogyakarta dan sekitarnya, termasuk bengkel lokomotif, bangunan operasi,
dan beberapa penginapan dan asrama. Jumlah total kerusakan diperkirakan mencapai sekitar
Rp 20 miliar. Tidak terdapat dampak yang signifikan pada operasi kereta api jarak jauh dan
pelayanan berlangsung kurang lebih normal selama beberapa jam kemudian; kerugian
signifikan tidak tampak.
Perkiraan awal biaya kerusakan telah dibuat oleh Daerah Operasi IV (DAOP VI)
KAI dengan berkonsultasi pada Departemen Perhubungan. Penguatan bantalan rel
dan pelurusan kembali rel di jalur sepanjang 800m diperkirakan memakan biaya sekitar
Rp 11,2 miliar. Kerusakan peralatan sinyal dan instalasi lainnya dan sebuah jembatan yang
sedikit rusak diperkirakan memakan biaya Rp 2,8 miliar. Perbaikan atau penggantian 12
bangunan stasiun yang rusak dan bangunan lainnya serta pagar diperkirakan memakan biaya
hingga sekitar Rp 5,9 miliar.

16
Angka terbaru disedikan oleh dinas pekerjaan umum provinsi setelah tabel ini selesai dibuat. Jumlah total
kerusakan dan kerugian jalan naik mencapai Rp 68.7 miliar. Tetapi, tidak ada perincian pendukung dalam data
tersebut.
17
Jalur kereta api dari Yogyakarta ke Bantul ditutup.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 31

Pelayanan berlangsung hampir normal selain dari adanya pembatasan kecepatan


sementara yang dikenakan pada ruas-ruas jalur yang pendek. Perbaikan rel diharapkan
akan selesai dalam waktu beberapa minggu, sehingga pembatasan kecepatan tidak akan
diperlukan lagi.

PENERBANGAN SIPIL
Keadaan Sebelum Bencana
Bandara Adi Sucipto di Yogyakarta dimiliki dan dikelola oleh perusahaan negara PT
Angkasa Pura I (AP-I) dan dilayani oleh Garuda serta beberapa perusahaan lain.
Perusahaan-perusahaan penerbangan itu mengoperasikan jalur-jalur langsung ke kota-kota
besar lainnya di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Denpasar, Bandung, Banjarmasin,
Balikpapan dan Makassar, dan ke Singapura. Panjang landasannya, 2.200 meter, sehingga
737 dan pesawat sejenis bisa dioperasikan.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Bandara Adi Sucipto menderita keretakan landas pacu dan sebuah ruas bangunan
terminal domestik satu lantai runtuh. Beberapa kerusakan kecil juga terjadi. Bandara
tersebut efektif ditutup selama dua hari, dan penerbangan dialihkan ke bandara Solo.
Perbaikan darurat terhadap keretakan landas pacu diselesaikan dengan cepat dan Adi Sucipto
sekali lagi menangani semua pelayanan yang dijadwalkan secara normal dan tanpa
pembatasan beban dalam waktu dua hari kemudian.
32 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Gempa bumi mengakibatkan keretakan melintang pada landas pacu di tiga lokasi
dan keretakan memanjang di satu lokasi. Keretakan terjadi selebar 3cm dan umumnya
sedalam 5cm. Instalasi listrik dan alat bantu penglihatan pada umumnya tidak terkena
dampak tetapi terdapat kerusakan kecil pada menara kendali, dan bangunan dan jalan
operasional. Dengan dilakukannya penambalan, operasi landas pacu bisa dipulihkan dengan
cepat tetapi pekerjaan perbaikan bandara yang memakan waktu lebih lama, termasuk
pengaspalan landas pacu, perbaikan bangunan, jalan, dan perlengkapan operasional
diperkirakan memakan biaya Rp 13,8 miliar.
Lobi keberangkatan domestik, yang luasnya mencapai 1.200m2 dan dibangun pada
tahun 1984, runtuh dan membutuhkan penggantian total.18 Tempat check-in domestik
dan daerah lobi mengalami keretakan, dan Sistem Data Informasi Penerbangan rusak.
Jumlah total biaya rekonstruksi dan perbaikan diperkirakan mencapai Rp 5,4 miliar.
Perkiraan hilangnya pendapatan dari ongkos pelayanan penumpang, parkir, dan
penanganan barang mencapai Rp 150 juta selama penutupan dilakukan. Biaya-biaya
itu mungkin sudah lebih dari tertutupi dengan meningkatnya pendapatan di Solo, dan
meningkatnya volume penumpang dan barang secara signifikan akibat gempa bumi.

POS DAN TELEKOMUNIKASI

Kerusakan instalasi pos dan telekomunikasi tidak banyak terjadi dan pelayanan
telepon beroperasi kembali hampir secara normal di sebagian besar daerah hanya dalam
waktu beberapa jam kemudian.
Menurut laporan, kerusakan fisik pada fasilitas telekomunikasi sangat sedikit.
Pelayanan surat dioperasikan oleh perusahaan negara PT Pos, yang melaporkan kerusakan
kepada kantor pos wilayah Yogyakarta dan kantor sortir pusat, dan ke sejumlah kantor
cabang dan subcabang serta perumahan staf. Menurut laporan PT Pos, sejumlah Rp 7 miliar
telah disediakan untuk perbaikan.

Rekomendasi Awal
Kerusakan pada infrastruktur relatif rendah. Bagian yang paling terkena dampak
adalah sektor energi. Tetapi, banyak dari kerusakan perlengkapan sudah diperbaiki dalam
waktu kurang lebih sepuluh hari. Secara keseluruhan, tampaknya pelayanan air dan sanitasi,
penerbangan, dan telekomunikasi hanya terkena dampak sementara. Sebagian besar
kerusakan jalan terjadi pada jalan provinsi dan kabupaten.
Perkiraan kerusakan ini sebagian besar didasarkan atas inspeksi visual. Suatu
perkiraan saksama terhadap kemungkinan kerusakan bawah tanah pada pipa, saluran limbah,
dan tangki pembuangan tinja; kualitas air, keutuhan struktur jembatan, dan rel kereta api

18
Penumpang yang akan berangkat sekarang menunggu di ruangan lain, tanpa menimbulkan banyak
ketidaknyamanan.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 33

harus dilakukan. Mengingat kemungkinan terjadinya gempa susulan, hal ini bisa jadi sangat
penting demi keamanan operasional.
Untuk ke depan, rekomendasi awal mencakup:
ƒ Memobilisasi pendekatan padat karya untuk membersihkan dan merehabilitasi sumur
dan toilet;
ƒ Memastikan bahwa air bawah tanah dan infrastruktur sanitasi diikutkan dalam
mempersiapkan lokasi, dengan jarak yang cukup jauh dari tangki penampung tinja
guna mencegah pencemaran lebih jauh; PLN harus siap memperluas sambungan ke
rumah-rumah.
ƒ Memulai program skala provinsi untuk meningkatkan akses ke pasokan air yang
bermutu dan pelayanan sanitasi. Hal itu mencakup program ekspansi PDAM
tahunan, serta sistem-sistem berbasis masyarakat.
ƒ Merehabilitasi jalan dan jembatan kabupaten dengan cepat guna menghindari
kerusakan lebih lanjut selama musim hujan.
34 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Sektor Sosial

Sebelum gempa bumi, Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Yogyakarta berada


di urutan ketiga tertinggi di Indonesia, dengan Jawa Tengah mendekati angka rata-
rata di Indonesia. Status kesehatan Yogyakarta merupakan salah satu yang terbaik di
Indonesia, disusul oleh Jawa Tengah. Tempat-tempat yang dilanda gempa bumi juga
merupakan pusat-pusat penting pendidikan, karena memiliki banyak universitas, sekolah
dasar dan menengah, dan memiliki tingkat pendaftaran yang sangat tinggi. Daerah tersebut
merupakan pusat seni utama Jawa dan memiliki sejumlah lokasi yang sangat penting secara
spiritual dan budaya.
Sebagian besar pelayanan sosial disediakan oleh sektor swasta. Sektor swasta
memainkan peran yang dominan dalam menyediakan pelayanan kesehatan dan memainkan
peran yang besar dalam pendidikan. Sebagian besar fasilitas kesejahteraan sosial dimiliki oleh
yayasan-yayasan swasta dan sebagian besar aset budaya adalah tempat ibadat, yang juga
berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat dan dibiayai, dikelola, dan dioperasikan oleh
masyarakat.
Gempa bumi mengakibatkan kerusakan dan kerugian di sektor sosial dengan jumlah
total mencapai Rp 4,0 triliun. Gempa bumi mengakibatkan kerugian besar di bidang
pelayanan sosial di Provinsi Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Beberapa gambaran kunci efek gempa bumi terhadap sektor sosial adalah:
ƒ Lebih dari Rp 3,2 miliar (82%) kerusakan terjadi di bidang kesehatan dan pendidikan.
ƒ Lebih dari setengah (53%) kerusakan dan kerugian di bidang pelayanan sosial terjadi
pada sektor swasta.
ƒ Perbandingan antara kerusakan dan kerugian yang diantisipasi sebanyak masing-
masing 98% dan 2%.
ƒ Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta adalah yang paling parah terkena dampak.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 35

Tabel 16: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian di Sektor Sosial (miliar Rp)
Sektor Sosial Efek Pemilik
Kerusakan Kerugian Total Swasta Pemerintah
Pendidikan 1,683 0,56 1,739 585 1.154
Kesehatan dan Keluarga Berencana 1,525 0,21 1,546 996 550
Fasilitas untuk Orang Miskin dan Rentan 44 0,1 44 34 10
Agama dan Kebudayaan19 654 0,0 654 498 156
Jumlah 3,906 0,77 3,982 2.113 1.870
% dari jumlah Kerusakan dan Kerugian 17 1,2 14
Seluruh Sektor
Sumber: Perkiraan Tim Gabungan

PENDIDIKAN
Ikhtisar
Jumlah kerusakan dan kerugian di bidang pendidikan kedua provinsi, Yogyakarta
dan Jawa Tengah, diperkirakan mencapai Rp 1,74 triliun. Jumlah kerusakan di Provinsi
Yogyakarta diperkirakan mencapai Rp 1,3 triliun untuk bangunan dan Rp 58,8 miliar untuk
peralatan pendidikan. Jumlah bangunan dan fasilitas yang rusak sekitar Rp 320 miliar di Jawa
Tengah, yang 60%-nya terjadi di Kabupaten Klaten. Perkiraan kerugian mencakup biaya
fasilitas sekolah sementara, perekrutan dan pelatihan guru baru, pembayaran guru sementara
untuk menggantikan guru yang luka-luka, biaya pembersihan, dan biaya konseling. Jumlah
kerugian di Yogyakarta dan Jawa Tengah diperkirakan mencapai sekitar Rp 55,8 miliar.

Kondisi Sebelum Bencana


Provinsi Yogyakarta adalah pusat penting pendidikan di Indonesia, yang memiliki
banyak sekali universitas, sekolah menengah, dan sekolah dasar. Prestasi pendidikan
di Yogyakarta berada di atas rata-rata nasional, sedangkan di Jawa Tengah angkanya
mendekati rata-rata.20 Pada tahun 2004, angka partisipasi sekolah bersih mendekati angka
rata-rata nasional, yaitu 93%, dengan tingkat partisipasi yang sama antara anak lelaki dan
perempuan. Angka transisi ke sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas lebih
tinggi di Yogyakarta ketimbang di Jawa Tengah, dengan tingkat partisipasi anak perempuan
lebih tinggi.21 Angka transisi yang tinggi ini menyebabkan angka partisipasi bersih di
Yogyakarta untuk pendidikan tersier mencapai 43,6%, jauh di atas Jawa Tengah, 6.9%, dan
tingkat nasional, 8,6%.22 Akses fisik ke sekolah-sekolah di Yogyakarta merupakan fakor

19
Kerusakan dan kerugian di bidang pariwisata dimasukkan ke dalam Sektor Produktif.
20
Angka ini mencakup sekolah negeri dan swasta, sekolah kejuruan, dan sekolah yang disupervisi oleh
Departeman Pendidikan Nasional dan Departemen Agama.
21
Angka partisipasi bersih di Sekolah Menengah Pertama di Yogyakarta 77,7, Jawa Tengah 67,8, dan Indonesia
65,2.
22
7.8 anak perempuan dan 6,1 anak lelaki. Di Jawa Tengah, partisipasi dalam pendidian tertiari dilakukan lebih
banyak orang anak laki-laki.
36 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

penting untuk meraih angka partisipasi yang tinggi. Pada tahun 2005, 70% dari semua desa di
Yogyakarta memiliki sekolah menengah pertama, dibandingkan dengan di Jawa Tengah dan
di seluruh negeri yang hanya mencapai 30%.
Sektor swasta memainkan peran yang besar dalam memberikan pelayanan
pendidikan. Sektor swasta mencakup 22% dari semua fasilitas pendidikan dasar, 51% dari
semua sekolah menengah pertama, dan 60% dari semua fasilitas sekolah menengah atas di
kedua provinsi itu. Karena fasilitasnya cenderung lebih luas, pemerintah memberikan layanan
pendidikan kepada lebih banyak siswa daripada sektor swasta. Pada saat yang sama, dan
berbeda dengan pengalaman di negeri-negeri lain, fasilitas pendidikan swasta cenderung
menarik lebih banyak orang miskin yang anaknya tidak berhasil dalam ujian masuk ke
sekolah negeri atau yang tidak bisa membayar biaya seragam dan buku yang diharuskan di
sekolah negeri.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Kerusakan. Gempa bumi telah mengakibatkan dampak yang besar pada sektor
pendidikan. Di Yogyakarta, sekitar 2.155 fasilitas pendidikan rusak atau hancur. Kabupaten
Bantul, Yogyakarta, adakah kabupaten yang paling parah terkena dampak, dengan 949, atau
lebih dari 90% bangunan pendidikan rusak atau hancur. Di Jawa Tengah, 752 bangunan
rusak atau hancur. Kabupaten Klaten mengalami tingkat kerusakan tertinggi di provinsi
tersebut, dengan 64 bangunan hancur dan 257 bangunan rusak parah, yang mencapai sekitar
38% dari semua bangunan di kabupaten. Pada saat penilaian, 36 guru telah dilaporkan tewas,
dan dua kali lipatnya terluka.
Mutu bangunan sekolah merupakan aspek utama yang menyebabkan tingkat
kehancuran yang tinggi. Banyak bangunan sektor sosial, terutama sekolah dasar di
pedesaan, dibangun pada tahun 1970-an dengan dana INPRES. Setelah adanya perbaikan
dalam angka kematian bayi dan anak, sekolah-sekolah harus dibangun dengan cepat guna
menampung sejumlah besar anak yang siap memasuki sekolah dasar. Karena penegakan
peraturan pembangunan rendah, memaksimalkan penggunaan dana untuk jumlah anak
sekolah yang kian meningkat diprioritaskan di atas kepatuhan terhadap standar bangunan
anti-gempa dan standar keamanan lainnya.
Kerugian. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, perhitungan mencakup
perkiraan biaya penggunaan lokasi sekolah sementara, biaya merekrut dan melatih
guru baru, dan pembayaran guru sementara, dan biaya membersihkan puing di
lokasi-lokasi yang terkena gempa. Hal-hal tersebut dianggap kerugian yang akan terjadi
dalam jangka menengah, sampai sistem pendidikan normal kembali.
Tabel 17: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian di Sektor Pendidikan (miliar Rp)
Efek Pemilik
Kerusakan
Kerugian Total Pemerintah Swasta
Bangunan Peralatan Sub-total
Jawa Tengah 317 3,0 320 12 332 245 88
Yogyakarta 1.304 59 1.363 44 1.406 910 496
Jumlah 1.621 62 1.683 56 1.739 1.154 585
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 37

Isu-Isu Kunci
Tindakan cepat harus dilakukan guna menghindari kerusakan yang lebih besar,
yang kemudian akan meningkatkan kerugian, dan juga guna memastikan keamanan
siswa. Observasi lapangan mengindikasikan bahwa beberapa sekolah, meskipun tampaknya
aman, telah mengalami kerusakan parah yang tidak terlihat yang bisa berbahaya bagi anak-
anak sekolah. Karena banyak dari sekolah itu sudah berumur 35 tahun dan tidak memenuhi
standar keamanan terhadap gempa bumi, rekonstruksi menyeluruh harus diprioritaskan di
atas perbaikan dan rehabilitasi.
Mengingat besarnya kerugian, rekonstruksi harus dilakukan dalam fase-fase
sedemikian rupa sehingga semua siswa mendapat akses ke fasilitas sekolah secara bersamaan.

Rekomendasi Awal
ƒ Penilaian teknis terhadap bangunan sekolah yang masih ada harus segera
dilakukan untuk menentukan fasilitas mana yang aman digunakan. Sementera
itu, sekolah-sekolah sementara harus dibuat bagi sekolah yang hancur dan yang rusak
sampai semuanya bisa dibuktikan aman untuk digunakan.
ƒ Pendekatan kemasyarakatan harus dilakukan untuk merekonstruksi fasilitas
pendidikan berdasarkan program pembangunan sekolah berbasis-masyarakat
dari Depdiknas yang pembangunannya dilakukan oleh masyarakat. Tetapi,
kepatuhan pada standar tahan gempa dan standar keamanan lainnya harus dipantau
dan ditegakkan secara ketat.
ƒ Pembangunan kembali merupakan kesempatan untuk mendistribusikan
kembali sekolah-sekolah. Perubahan demografis dan mengecilnya ukuran keluarga
mengubah pola demografis dan, dengan demikian, sejumlah besar sekolah tidak
memiliki banyak siswa. Demikian pula, distribusi guru tidak seimbang, karena
beberapa sekolah memiliki rasio guru-murid yang lebih tinggi daripada standarnya.
Pola-pola demikian harus dipertimbangkan pada waktu menentukan pembangunan
kembali sekolah tertentu, dan perekrutan guru pengganti.

KESEHATAN DAN KELUARGA BERENCANA

Ikhtisar
Jumlah kerusakan dan kerugian di sektor kesehatan dan keluarga di Provinsi
Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah bersifat signifikan. Jumlah kerusakan
diperkirakan mencapai sekitar Rp 1,5 triliun, sementara jumlah kerugian diperkirakan
mencapai sekitar Rp 21 miliar. Praktek dokter dan rumah sakit adalah yang paling terkena
dampak, dengan kerusakan dan kerugian mencapai hampir Rp 1 triliun, atau 65% dari
kerusakan dan kerugian.
38 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Kondisi Sebelum Bencana


Sebelum bencana, status kesehatan Provinsi Yogyakarta berada di antara yang
terbaik di Indonesia, diikuti oleh Provinsi Jawa Tengah, terutama di kabupaten-
kabupaten yang dekat dengan Yogyakarta. Indeks Pembangunan Manusia (HDI) untuk
Yogyakarta berada di urutan ketiga tertinggi di Indonesia, sedangkan HDI untuk Jawa
Tengah mendekati rata-rata nasional. Status kesehatan Yogyakarta dan Jawa Tengah
mencerminkan angka-angka HDI tersebut. Pada tahun 2002, angka harapan hidup rata-rata
telah mencapai 73,0 tahun di Yogyakarta, dibandingkan dengan 68,9 tahun di Jawa Tengah
dan 67,8 di Indonesia secara keseluruhan. Pada tahun 2004, angka kematian bayi di
Yogyakarta adalah 23,3 per seribu kelahiran hidup, jauh di bawah Jawa Tengah, 34,1, dan
rata-rata nasional, 35. Malnutrisi masih menjadi masalah yang berkelanjutan. Pada tahun
2004, 16,9% anak di bawah usia lima tahun di Yogyakarata dan 29,0% di Jawa Tengah
kekurangan berat badan, dibandingkan dengan rata-rata nasional, 29,0%. Rasio penduduk-
pusat-kesehatan sekitar 25.000 di Yogyakarta pada tahun 2002, dibandingkan dengan 36.000
di Jawa Tengah dan 39.000 di Indonesia.23 Tingginya rasio tersebut di Yogyakarta
menghasilkan indikasi-indikasi bermutu tinggi lainnya. Misalnya, pada tahun 2004, 84,7%
kelahiran dibantu oleh personil medis modern dibandingkan dengan 66,3% di Jawa Tengah
dan 64,3% di Indonesia.
Provinsi Yogyakarata dan Beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Tengah yang
mengelilinginya telah lama dikenal sebagai tempat pendidikan bermutu tinggi dan
inovasi pelayanan kesehatan. Jenis-jenis pelayanan kesehatan yang penting didominasi
oleh sektor swasta, yang menyediakan dua pertiga pelayanan rawat jalan dan sebagian besar
perawatan di rumah sakit. Pada saat yang sama, pemerintah daerah membantu pembentukan
sektor pemerintah yang kuat yang, dalam beberapa tahun belakangan ini, telah memperkuat
perannya dalam menyediakan pelayanan umum dan mengatasi kegagalan pasar. Misalnya,
bentuk-bentuk asuransi kesehatan yang baru sedang diujicoba, langkah-langkah untuk
meningkatkan kualitas personil kesehatan dan pelayanan kesehatan sedang dijalankan, dan
pemantauan terhadap penyakit telah diperkuat ketika kinerja di Indonesia secara umum
sedang menurun.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Kerusakan. Perkiraan kerusakan di sektor kesehatan akibat gempa bumi
diikhtisarkan di dalam tabel di bawah ini. Gempa bumi mengakibatkan kerusakan dan
kehancuran 17 rumah sakit swasta di Kota Yogyakarta. Satu rumah sakit pemerintah di
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mengalami sedikit kerusakan. Di Provinsi Yogyakarta, 41
klinik swasta dilaporkan rusak atau hancur dan 1.631 praktek dokter swasta terkena
dampak24. Dari jumlah total 117 Puskesmas di Provinsi Yogyakarta, 45 hancur, 22 rusak
parah dan 16 rusak ringan. Di Jawa Tengah, dua pusat kesehatan di Klaten hancur, tujuh
rusak berat dan tujuh rusak ringan; di Kabupaten Magelang dan Boyolali, puskesmas-
puskesmas mengalami rusak berat dan ringan. Kabupaten Klaten melaporkan kerugian
berupa satu puskesmas keliling. Dari 324 Puskesmas Pembantu (Pustu) in Yogyakarta, 73

23
35 Puskesmas di Klaten,134 Puskesmas di Yogyakarta.
24
Diperkirakan sebagai proporsi kerusakan terhadap jumlah rumah.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 39

hancur, 35 rusak berat, dan 42 rusak ringan. Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, delapan
Pustu hancur, 25 rusak berat, dan 19 rusak ringan; di Kabupaten Sukoharjo, empat Pustu
hancur dan satu rusak ringan. Tiga Polindes hancur di Yogyakarta. Kerusakan unit pelayanan
kesehatan utama untuk umum (puskesmas, pustu, polindes, dan asrama personil kesehatan)
paling parah terdapat di Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, Sleman, Klaten, dan Sukoharjo.
Di sana ditemukan unit-unit yang rusak berat atau hancur. Kantor-kantor keluarga berencana
di Yogyakarta juga mengalami kerusakan tetapi hal itu tidak dicatat dalam laporan ini.
Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul rusak dan harus
direkonstruksi. Pusat pelatihan kesehatan provinsi rusak ringan dan membutuhkan sedikit
renovasi. Terdapat konsentrasi tinggi praktek dokter pribadi dan apotek di Provinsi
Yogyakarta dan juga di Kabupaten Purworejo, Magelang, Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo di
Jawa Tengah. Karena praktek-praktek dokter dan apotek-apotek umumnya berada di
perumahan, kerusakan dinilai proporsional dengan angka kerusakan perumahan, sehingga
memberikan angka perkiraan rusak maupun hancur.

Tabel 18: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian di Sektor Kesehatan (Miliar Rp)
Kabupaten Kerusakan Kerugian Jumlah
Provinsi D.I. Yogyakarta 1408,059 14,636 1422,695
Sleman 198,237 1,487 199,724
Bantul 418,380 4,449 422,829
Gunung Kidul 169,115 1,147 170,262
Yogykarta 604,400 7,420 611,820
Kulon Progo 17,927 0,133 18,060
Provinsi Jawa Tengah 101,969 6,004 107,973
Klaten 15,291 0,403 15,694
Kabupaten lain 86,678 5,601 92,279
Jumlah 1510,028 20,640 1530,668
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Kerugian. Perkiraan kerugian mencakup biaya kegiatan kesehatan spesifik untuk


menanggapi bencana. Hal itu mencakup: kampanye kesehatan umum dan upaya
penanganan trauma (belum dihitung); kebutuhan modal manusia (merekrut dan melatih
dokter dan staf kesehatan permanen dan sementara) untuk menanggapi bencana;
pembersihan fasilitas; dan peningkatan biaya perawatan kesehatan untuk menanggapi
bencana. Jumlah kerugian diperkirakan mencapai Rp 21.1 miliar dan diikhtisarkan, beserta
perkiraan kerusakan, dalam tabel berikut.

Isu-isu Kunci
Jelas, bahwa bencana seperti ini berdampak cepat dan signifikan terhadap kesehatan
penduduk, khususnya di daerah yang paling terkena dampak. Perhatian awal
dipusatkan pada luka-luka akibat gempa bumi, pencegahan wabah penyakit, dan penyediaan
pelayanan kesehatan dasar.
Masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar yang bisa terjadi adalah perawatan
cedera tulang belakang dan tulang lainnya, khususnya yang diderita lansia.
40 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Penyembuhannya akan memakan waktu lama atau mungkin tidak akan pernah tercapai,
sehingga mereka akan cacat permanen dan tidak bisa beranjak dari tempat tidur, sehingga
menambah beban anggota keluarga lainnya.
Bantuan kemanusiaan disediakan oleh pemerintah dan organisasi bantuan
kemanusiaan berupa rumah sakit lapangan, obat-obatan, dan staf perawat. Bantuan
kemanusiaan di sektor kesehatan dikoordinasi oleh pusat dan provinsi. Tetapi, mengingat
banyaknya cedera tulang yang terjadi, dibutuhkan banyak ahli bedah tulang.
Upaya bantuan kemanusiaan juga dipusatkan pada langkah-langkah untuk
mencegah wabah penyakit dan mendeteksinya. Suatu sistem pemantauan penyakit dasar
di daerah Yogyakarta dan sekitarnya telah diterapkan, melengkapi upaya pemerintah provinsi
untuk memperkuat kinerja pemantauan penyakit. Hingga hari ini, tidak dilaporkan adanya
wabah penyakit yang signifikan.
Jumlah air minum yang cukup dan bersih juga harus segera disediakan. Sejumlah
organisasi sedang mengupayakan hal ini dan perkembangan bagus telah dihasilkan dalam
banyak bidang. Tetapi, sanitasi dan pembuangan limbah masin menjadi masalah utama.
Jumlah staf yang memadai untuk menyediakan pelayanan kesehatan dasar juga
penting dalam tahap pemulihan ini. Untunglah, tidak banyak personil kesehatan yang
menjadi korban bencana, sehingga pemulihan pelayanan secara keseluruhan bisa dilakukan
dengan cepat untuk menanggapi bencana. Tanggapan tersebut dilakukan secara bersama-
sama oleh para penyedia pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta, ditambah dengan staf
dari organisasi-organisasi bantuan kemanusiaan.

Rekomendasi Awal
ƒ Pendanaan di bidang kesehatan akan dibutuhkan untuk menghadapi kebutuhan
perawatan kesehatan jangka menengah dan panjang yang ditimbulkan oleh adanya
bencana.
ƒ Fasilitas-fasilitas perawatan jangka-panjang dibutuhkan untuk mengurus orang-orang
yang cacat akibat cedera tulang belakang dan tulang lainnya, khususnya kaum lansia,
kerena keluarga mereka tidak siap untuk melakukan perawatan jangka-panjang
demikian.
ƒ Rumah-rumah yang direkonstruksi harus mengikuti standar kesehatan dan
mempertimbangkan hal-hal seperti ventilasi yang cukup, selain standar keamanan
minimum.

FASILITAS UNTUK ORANG MISKIN DAN RENTAN


Ikhtisar
Jumlah kerusakan dan kerugian untuk fasilitas-fasilitas ini diperkirakan sekitar Rp
43,6 miliar. Jumlah ini mencakup sejumlah total 79 fasilitas yang melayani 3.428 klien, yang
67 di antaranya ada di Provinsi Yogyakarta dan 12 di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 41

Kerusakan fasilitas di Kota Yogyakarta dan daerah sekitarnya mencapai Rp 35.4 miliar, atau
lebih dari 81% dari jumlah total kerusakan dan kerugian.

Kondisi Sebelum Bencana


Dinas sosial Provinsi dan Kabupaten menyediakan fasilitas kesejahteraan sosial dan
mengawasi fasilitas-fasilitas swasta. Fasilitas swasta mencakup panti asuhan, panti wreda,
pusat rehabilitasi penderita cacat mental dan fisik, dan fasilitas lain untuk menangani pecandu
narkoba, pelacur, dan kaum papa. Sebagian besar fasilitas dimiliki yayasan swasta. Pada waktu
penghitungan, ada 303 yayasan pemerintah dan swasta yang terdaftar di Provinsi Yogyakarta
dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dengan kapasitas rata-rata 45 orang. Fasilitas tersebut
mencakup 153 panti asuhan, 64 panti wreda—62 di Yogyakarta—dan 54 pusat rehabilitasi
penyandang cacat.25 Juga terdapat dua pusat pelatihan pemerintah provinsi di Yogyakarta.
Fasilitas-fasilitas yang dikelola Pemerintah banyak terdapat di sekitar kota Yogyakarta,
sementara fasilitas-fasilitas swasta bertebaran di kabupaten-kabupaten sekitarnya.26
Fasilitas perlindungan sosial hanya menyediakan sedikit pelayanan sosial, sedangkan
keluarga tetap menjadi sumber dukungan utama bagi kaum lemah seperti kaum lansia,
penyandang cacat, kaum papa, dan anak-anak. Tetapi, kapasitas tersebut menghadapi
kesulitan yang kian berat berupa berkurangnya kesuburan, migrasi, dan meningkatnya usia
kehidupan. Ukuran rata-rata rumah tangga relatif kecil, sekitar 3,0 di Kota Yogyakarta dan
3,6 di Provinsi Yogyakarta dan Klaten, sedikit lebih tinggi daripada rata-rata nasional, 3,9.
Banyak orang juga hidup sendirian: proporsi rumah yang ditinggali satu orang 19,7% di
provinsi Yogyakarta, jauh lebih tinggi daripada 6.3% di Jawa Tengah dan angka rata-rata di
Indonesia, 5,5%. Sensus penduduk tahun 200327 memperlihatkan bahwa di Provinsi
Yogyakarta, 9,6% wanita dan 7,6% pria berusia di atas 65 tahun, lebih tinggi daripada rata-
rata nasional, dan 34% dari semua kepala rumah tangga wanita adalah janda. Karena
sedikitnya jumlah anggota keluarga untuk mengurus anak-anak, orang sakit, dan penyandang
cacat dan karena banyak wanita lansia hidup sendirian, di Provinsi Yogyakarta dan
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pelayanan sosial semakin dibutuhkan untuk melengkapi
keluarga sebagai jaring pengaman sosial.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Kerusakan dan kerugian diperkirakan sekitar Rp 43,6 miliar untuk 79 fasilitas yang
melayani 3.428 klien. Perkiraan didasarkan atas informasi pemerintah daerah yang
diverifikasi, jika memungkinkan, dengan kunjungan lapangan dan telepon.

25
Sisanya mencakup 18 pusat rehabilitasi kaum papa, tiga pusat rehabilitasi narkoba, dan satu pusat rehabilitasi
PSK.
26
Sekolah-sekolah seperti pesantren sering kali berfungsi sebagai panti asuhan untuk anak miskin. Tetapi,
sekolah seperti ini dicakup di dalam perkiraan untuk fasilitas pendidikan.
27
Sensus penduduk terbaru yang dilakukan secara simultan dengan pendaftaran pemilih pada tahun 2003.
42 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Tabel 19: Kerusakan dan Kerugian Fasilitas Orang Miskin dan Rentan (Milyar Rp)
Efek Pemilik
Kerusakan Kerugian Jumlah Swasta Pemerintah
Provinsi Yogyakarta 35,4 0,1 35,5 26,1 9,4
Kabupaten Klaten 8,1 0,04 8,1 7,4 0,7
Jumlah 43,5 0,14 43,6 33,5 10,1
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Kerusakan. Fasilitas-fasilitas yang rusak ringan tetap berfungsi. Pengaturan alternatif


yang tidak aman telah dibuat bagi para klien terhadap fasilitas-fasilitas yang rusak parah atau
hancur. Pada fasilitas-fasilitas yang rusak parah, klien tinggal di bagian-bagian yang masih
utuh atau, bagi klien yang fasilitasnya hancur, tinggal di tenda-tenda di halaman bangunan.
Hal itu merupakan pengaturan yang berbahaya bagi fasilitas-fasilitas untuk melayani
penyandang cacat mental atau fisik. Dua pusat pelatihan pekerja sosial di Kota Yogyakarta,
sumber utama pelatihan bagi perawat kelompok rentan, membutuhkan renovasi besar-
besaran.
Kerugian. Perkiraan kerugian mencakup biaya pembersihan dan penyediaan penampungan
sementara bagi fasilitas-fasilitas yang hancur atau rusak parah.

Isu-Isu Kunci
Karakteristik istimewa yang dimiliki oleh fasilitas-fasilitas perlindungan sosial di
daerah-daerah yang terkena dampak adalah bahwa sebagian besar fasilitas dimiliki
oleh yayasan swasta. Hal itu berarti bahwa masyarakat dan individu memainkan peranan
besar dalam menyediakan perlindungan sosial bagi kaum miskin dan lemah. Yayasan-yayasan
swasta tersebut bergantung pada dukungan para individu dan masyarakat agar bisa
menjalankan fasilitas mereka dan menyediakan kebutuhan dasar kliennya. Dalam situasi yang
normal, dukungan demikian mungkin tidak sulit didapat. Tetapi, dalam situasi bencana yang
berdampak terhadap hampir semua orang di masyarakat, dukungan demikian bisa jadi sukar
diperoleh. Dalam situasi seperti ini, para klien dari fasilitas-fasilitas itu bisa jadi terancam
tidak memperoleh perawatan dasar. Kemungkinan besar, hal itu merupakan kesulitan besar
yang akan dihadapi oleh fasilitas-fasilitas yang menyediakan pelayanan dan pernaungan bagi
penyandang cacat mental dan fisik, dan kaum lansia.
Mengingat besarnya jumlah korban bencana, kemungkinan besar jumlah klien pada
fasilitas demikian akan meningkat. Oleh karena itu, pada saat fasilitas-fasilitas itu
mendapat tekanan keuangan yang sangat berat, mereka dituntut untuk menyediakan
pelayanan yang lebih besar daripada sebelum terjadinya gempa bumi.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 43

Rekomendasi Awal
ƒ Penting agar pemerintah menyediakan bantuan tepat waktu agar rehabilitasi
dan rekonstruksi fasilitas yang rusak berat atau hancur bisa segera
dilaksanakan. Sebelum situasi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kembali
normal, bantuan juga dibutuhkan untuk menyediakan kebutuhan dasar klien.
ƒ Mekanisme pembiayaan dibutuhkan untuk merehabilitasi dan membangun
kembali fasilitas swasta karena fasilitas swasta mencakup 80% fasilitas yang
ada.
ƒ Pemerintah daerah dan dinas yang terkait harus mengantisipasi bahwa akan
ada peningkatan permintaan terhadap fasilitas-fasilitas demikian untuk
melayani orang miskin dan lemah. Antisipasi demikian akan menghindari
menumpuknya klien di fasilitas-fasilitas demikian dan akan mengurangi tekanan yang
dialami oleh fasilitas-fasilitas demikian yang sudah dilemahkan oleh bencana.

AGAMA DAN KEBUDAYAAN


Ikhtisar
Total kerusakan bangunan dan properti keagamaan di Provinsi Yogyakarta dan Jawa
Tengah diperkirakan mencapai Rp 514 miliar, umumnya bangunan swasta. Lebih dari
1.300 masyarakat di kedua provinsi tidak lagi memiliki tempat ibadat. Sementara itu,
kerusakan bangunan dan monumen kebudayaan diperkirakan mencapai Rp 140 miliar.
Kerugian pada umumnya berbentuk hilangnya pendapatan dari pariwisata. Karena itu, hal
tersebut dimasukkan ke dalam sektor produktif.

Kondisi Sebelum Bencana


Partisipasi dalam kehidupan beragama cukup tinggi di Yogyakarta dan Jawa
Tengah. Sebagian besar penduduk di kedua provinsi beragama Islam, diikuti oleh sejumlah
relatif kecil penganut Kristen, Buddha, dan Hindu. Departemen Agama bertanggung jawab
menangani perkawinan Islam dan pendaftaran melalui kantor tingkat kecamatan. Selain
sekolah Islam negeri yang berada di bawah pengawasan Departemen Agama, Departemen ini
juga mendaftarkan dan mengawasi pusat-pusat pendidikan agama Islam seperti Pondok
Pesantren. Ada banyak fasilitas keagamaan tingkat desa, rata-rata 75 rumah tangga, atau 300
orang, per fasilitas religius. Selain itu, ada organisasi-organisasi kemasyarakatan lainnya,
seperti lembaga pemakaman, yang beberapa di antaranya juga mengelola fasilitas peribadatan.
Di daerah yang terkena dampak gempa bumi terdapat Candi Prambanan, suatu situs
Warisan Budaya Dunia dari abad ke-9, dan sejumlah situs warisan nasional, yang
mencerminkan sejarah Indonesia sebagai pusat peradaban maupun warisan kerajaan
Jawa. Terdapat 11 kompleks candi Hindu-Buddha, satu istana besar dan satu istana kecil,
dua pekuburan kerajaan, dan 16 museum. Situs-situs itu merupakan lokasi utama wisata
internasional dan domestik, menghasilkan kesempatan kerja yang tinggi bagi Yogyakarta dan
Jawa Tengah. Kedua provinsi merupakan pusat utama pendidikan seni dan budaya. Selain
itu, lokasi istana dan pemakaman masih memainkan peran spiritual dalam kehidupan banyak
orang Jawa.
44 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Tempat-tempat ibadah memiliki banyak fungsi, seperti pusat kegiatan masyarakat


dan pemerintahan desa, selain berperan sebagai tempat kegiatan agama dan
pendidikan. Tempat-tempat ibadah menyediakan saluran penyebarluasan berita masyarakat
dan inforamasi pembangunan serta pemerintah.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Sekitar 20% fasilitas keagamaan di Provinsi Yogyakarta dan 10% di Provinsi Jawa
Tengah rusak atau hancur. Perkiraan ini berfokus pada nilai penggantian dari asset yang
hancur. Kerusakan dilaporkan oleh Kantor provinsi Departemen Agama. Di Provinsi
Yogyakarta, 2.201 fasilitas rusak atau hancur, yang berarti sekitar 20% dari semua fasilitas
keagamaan di provinsi itu. Di kabupaten-kabupaten yang dilanda gempa bumi di Jawa
Tengah, 827 fasilitas rusak atau hancur, yang berarti kurang dari 10% dari jumlah
keseluruhan. Tidak ada informasi tentang staf, atau tentang kehilangan staf, dan tidak
dilaksanakan perkiraan kerugian.

Tabel 20: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian terhadap Aset Keagamaan (miliar Rp)
Efek Pemilik
Kerusakan Kerugian Jumlah Swasta Pemerintah
Masjid dan Musala 479,1 0 479,1 479,1 0
Kantor Urusan Agama (KUA) 5,0 0 5,0 0 5,0
Gereja/Kapel, Katolik maupun Protestan 17,1 0 17,1 17,1 0
Pura (Kuil Hindu) 0,9 0 0,9 0,9 0
Vihara (Kuil Buddha) 1,0 0 1,0 1,0 0
Kantor Departemen Agama Propinsi 9,1 0 9,1 0 9,1
Rumah Dinas 1,8 0 1,8 0 1,8
Asrama Haji 0,03 0 0,03 0 0,03
Jumlah 514,0 0 514,0 498,1 15,9
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Kerusakan. Gempa bumi mengakibatkan 1.345 masyarakat atau sekitar 100.000


keluarga kehilangan tempat beribadat. Sejumlah 1.683 tempat ibadat lainnya
membutuhkan sedikit renovasi. Fasilitas keagamaan dibiayai, dikelola, dan dioperasikan oleh
masyarakat. Nilai kerusakan bisa diperkirakan setidaknya dengan jumlah hari yang
dibutuhkan untuk rekonstruksi. Nilai Kerusakan diperkirakan bernilai sekitar Rp 498 miliar
untuk Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Hal itu sama dengan sekitar 16.600 tahun bekerja
berdasarkan upah minimum.28 Mengingat berkurangnya kapasitas keuangan masyarakat yang
terkena dampak gempa bumi, mengumpulkan dana untuk pembangunan kembali tanpa
dukungan dari luar akan memakan waktu lama.
Sehubungan situs arkeologis dan historis, Direktorat Arkeologi, dari Departemen
Pendidikan Nasional, telah mengadakan penilaian cepat. Nilai keuangan dari

28
Berdasarkan upah minimum tahun 2005, yaitu Rp 400.000 per bulan di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 45

kerusakan dihitung kasar dan perkiraan yang lebih tepat akan tersedia setelah perkiraan yang
lebih terperinci dilakukan. Lampiran teknis berisi ikhtisar informasi untuk setiap situs.
Kerugian. Kerugian terutama berkaitan dengan pendapatan dari pariwisata dan telah
dimasukkan secara terpisah ke sektor produktif.

Isu-isu Kunci
Rekonstruksi tempat-tempat ibadah akan menghadapi kesulitan jika tidak ada
pendanaan eksternal. Sejumlah besar tempat ibadah rusak dan biaya pembangunan
awalnya berasal dari beberapa generasi.
Perlindungan terhadap situs arkeologis dan historis yang rusak harus dilakukan.
Kerusakan demikian bisa terjadi akibat cuaca maupun aktivitas manusia. Perlindungan,
konservasi, dan pengelolaan situs harus segera dilakukan.
Penutupan situs untuk pekerjaan pemulihan akan mengakibatkan dampak ekonomi
yang berat terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar situs. Suatu program khusus
harus dibuat untuk melindungi masyarakat sekitar dari dampak buruk dan untuk
memaksimalkan partisipasi mereka dalam pemulihan dan perlindungan situs.

Tabel 21: Kerusakan Situs Kebudayaan di Daerah yang Terkena dampak (miliar Rp)
Situs Efek
Kerusakan
Subtotal Provinsi Jawa Tengah 89,6
Prambanan 78,1
Candi Plaosan Lor 1,9
Candi Plaosan Kidul 0,4
Candi Sewu 2,0
Candi Sojiwan 5,0
Candi Lumbung 0,2
Kompleks Makam Sunan Bayat 0,1
Kompleks Masjid Golo 0,2
Kantor Direktorat Arkeologi Provinsi 1,8
Subtotal Provinsi Yogyakarta 50,1
Keraton Yogyakarta 0,1
Taman Sari dan Panggung Krapyak 12,6
Makam Imogiri 31,1
Pusat Kerajinan Perak Kota Gede 6,3
Jumlah 139,7
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan
46 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Rekomendasi Awal
ƒ Bantuan harus diberikan kepada masyarakat untuk membangun kembali
tempat ibadah dan memulihkan identitas masyarakat. Meskipun hal itu tidak
harus secara sepenuhnya dibiayai oleh pihak luar, biaya awal tetap dibutuhkan.
ƒ Untuk situs arkeologis dan historis, perkiraan kerusakan secara terperinci
oleh pakarnya sangatlah penting guna menentukan apakah ada kerusakan
struktur, memperkirakan biaya rekonstruksi, dan mengidentifikasi langkah-
langkah awal untuk menstabilkan situs dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Terutama, situs harus segera diamankan dari pencurian.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 47

Sektor-Sektor Produktif

Gempa bumi berdampak parah terhadap sektor-sektor produktif dalam


perekonomian. Kerusakan dan kerugian pada sektor produktif kira-kira sebanyak 30% dari
jumlah seluruh kerugian karena bencana ini. Banyak perusahaan, kebanyakan usaha kecil dan
menengah, toko, pedagang, dan mata pencahariannya hancur. Mengingat kerusakan yang luas
terhadap perumahan, kerugian berupa aset pribadi yang tidak diasuransikan kemungkinan
besar menjadi tantangan terbesar kedua untuk membangun kembali daerah-daerah yang
terkena dampak bencana.29 Struktur irigasi, sistem pertanian, dan sektor perikanan juga
terpengaruh, meskipun dampak langsung pada pertanian tampak terbatas pada tahap ini.
Tabel 22 meringkaskan kerusakan dan kerugian yang dialami oleh sektor produktif secara
keseluruhan, dengan jumlah yang sangat mengejutkan sebanyak Rp9,025 triliun.30 Kerusakan
langsung pada prasarana dan aset produktif menurut perkiraan kasar adalah sekitar setengah
dampak keseluruhan. Sebagian besar kerusakan ini berasal dari dampak signifikan gempa
bumi ini atas usaha-usaha kecil dan menengah (UKM), yang telah berfungsi sebagai tulang
punggung perekonomian di daerah-daerah yang terkena dampak bencana.

Prinsip Kunci: Faktor yang perlu diperhatikan dalam sektor-sektor produktif adalah
ukuran relatif kerusakan dan perkiraan kerugian di masa depan, jika kerusakan tidak
ditangani dalam kurun waktu yang masuk akal. Di sinilah letak pesan pentingnya:
rehabilitasi dan rekonstruksi segera prasarana yang rusak akan memulihkan air untuk
pertanian dan menghindarkan banjir di kemudian hari; dan pemberian likuiditas kepada
UKM yang terkena gempa akan mengurangi (aliran) tidak langsung kerugian karena
bencana, dengan membantu melanjutkan kegiatan perekonomian dengan segera.

29
Akibatnya, sektor finansial juga akan cukup terkena dampaknya. Masalah ini akan diulas di bagian lintas
sektor pada laporan ini.
30
Telah diupayakan agar tidak terjadi penghitungan ganda dengan tidak menyertakan beberapa kategori di sini.
48 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Tabel 22: Kerusakan dan Kerugian di Sektor Produktif


Sektor Kerusakan Kerugian Total
(miliar Rp)
Perusahaan
Perusahaan Besar 183,7 70,0 253,7
Usaha Kecil dan Menengah31 3879,2 3829,0 7.708,2
Sub-total Perusahaan 4.062,9 3.899,0 7.961,9
Perdagangan
Pasar Tradisional dan Prasarana terkait 165,0 79,8 244,8
Pasar Modern (supermarket/mal) 18,7 39,8 58,5
Sub-total Perdagangan 183,7 119,6 303,3
Pariwisata 36,2 17,9 54,1
Pertanian
Prasarana Irigasi & Fasilitas Penyimpanan 44,0 44,0
Kerugian Produksi 638,4 638,4
Kerugian Ternak 2,7 0,1 2,8
Mesin, Alat, dan Peralatan Pertanian 0,1 0,1
Bangunan Pemerintah (fasilitas tambahan pertanian) 4,0 4,0
Sub-total Pertanian 50,8 638,5 689,3
Perikanan
Dermaga Perikanan 0,1 0,1
Kolam Ikan, Kerusakan Persediaan Ikan 13,2 1,4 14,6
Aset Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat 1,4 1,4
Sub-total Perikanan 14,7 1,4 16,1
Total pada Sektor Produktif 4.348,3 4.676,4 9.024,7
% dari Total Kerusakan dan Kerugian 19.1 73.1 31.0

Segmen-segmen yang terkena dampak pada sektor-sektor “Rumah saya adalah ruang pamer usaha saya.
Saya tadinya menjual keramik senilai sekitar Rp
produktif saat ini mempekerjakan 650.000 orang. Oleh 10 juta per bulan di pasar setempat dan mengirim
karena itu, pengangguran kemungkinan besar akan meningkat kontainer-kontainer sebesar sekitar Rp 30 juta ke
secara signifikan. Kesempatan kerja harus segera disediakan bagi AS dan Eropa. Sekarang rumah saya hancur
yang menjadi tuna wisma dan yang mata pencahariannya sama sekali, persediaan barang saya hancur; saya
terpengaruh. Prinsip-prinsip yang dapat diikuti dalam rehabilitasi punya pesanan yang belum saya penuhi, dan
pembeli saya bisa beralih ke Vietnam dan
dan rekonstruksi mencakup: Kamboja. Musim pembelian kami adalah April
ƒ Memanfaatkan hubungan masyarakat yang erat di Yogya sampai Oktober. Jika saya tidak kembali
berusaha sepenuhnya pada bulan September, saya
dan Jateng untuk membangun kembali perumahan dan kehilangan satu tahun – itulah trauma saya yang
bangunan lain, guna menyediakan kesempatan kerja. sesungguhnya yang akan saya hadapi. Saya sudah
ƒ Membangkitkan UKM – khususnya yang bergerak di menjadi nasabah bank yang baik selama
bidang manufaktur, kepariwisataan, dan industri bertahun-tahun. Saya ingin bank menjadwal
sekunder lain – melalui program-program yang ulang utang saya – jadi saya bisa bernapas lega
selama 6 bulan. Saya juga ingin mendapat
menyediakan dukungan likuiditas. Kebanyakan UKM pinjaman baru sebesar Rp 5 juta hanya supaya
tidak bekerberatan untuk mengadakan kontrak usaha saya bisa saya mulai lagi. Begitu usaha saya
pinjaman, daripada menunggu bantuan hibah. jalan lagi, saya bisa menghidupi diri saya dan
ƒ Membangun kembali sektor perdaganan dan sektor jasa keluarga. Saya tidak perlu bantuan amal, saya
di daerah-daerah bencana. hanya perlu likuiditas – segera.” Pak. Timbul
Rahardjo, pemilik toko keramik,
Kasongan, Bantul

31
Kerugian bangunan yang dialami 22.700 unit usaha mikro dan kecil yang terdiri dari industri rumahan (sekitar
Rp 765 miliar) kemungkinan juga menjadi bagian dari kerusakan sektor perumahan
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 49

PERTANIAN, IRIGASI DAN STRUKTUR SUNGAI

Ikhtisar dan Kondisi Sebelum Bencana


Bagian ini mengetengahkan data mengenai kontribusi relatif berbagai sektor
terhadap produk domestik bruto regional (PDRB) keseluruhan di kabupaten-
kabupaten yang terkena dampak (lihat juga analisis ekonomi). Klaten memiliki basis
produksi yang besar dengan proporsi 23% terhadap PDRB dan 27% kontribusi dari
perdagangan dan sector terkait. Perekonomian Bantul didukung oleh pertanian, jasa, dan
perdagangan secara berimbang. Sektor perdagangan dan sektor jasa sangat penting di Kodya
Yogyakarta, yang merupakan pusat budaya dan pariwisata.

Penilaian Kerusakan dan Kerugian


Kerugian hasil panen dan potensi kerugian produksi di masa mendatang
mendominasi kerusakan dan kerugian di sektor ini. Secara khusus, biaya yang terjadi
(opportunity cost) karena tidak memperbaiki prasarana irigasi yang terkena dampak bencana dan
karena tertundanya kegiatan bercocok tanam persentasenya hampir 90% total dampak pada
sektor ini.
Provinsi Yogyakarta: Dari 58.000 hektar tanah yang digunakan untuk bercocok
tanam, sekitar 590 ha tampaknya mengalami dampak sedang, dan 18.200 dari 48.000
gudang dan fasilitas penyimpanan telah rusak. Beberapa bangunan umum juga telah
rusak (4 dari 44 rusak berat, 16 rusak sedang).
50 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Daerah Klaten, Jawa Tengah: Sebelum bencana, sekitar 5.670 ha tanah digunakan
untuk sawah, dan sekitar 360 ha di antaranya tampaknya mengalami dampak
sedang. Untuk fasilitas pergudangan dan penyimpanan, 14.873 unit berdiri sebelum gempa
bumi, dan 9.911 unit di antaranya diperkirakan rusak.32
Skema Irigasi: Ada kira-kira 476 skema irigasi meliputi area total 63.800 ha di
Yogyakarta, dan 409 skema irigasi meliputi area total 29.190 ha di daerah Klaten,
provinsi Jawa Tengah. Empat belas skema irigasi yang meliputi daerah seluas 36.124 ha di
Yogyakarta, dan 3.154 ha di Klaten telah terkena dampak bencana. Sebelum gempa bumi,
skema-skema irigasi di Yogyakarta itu menghasilkan sekitar 393.800 ton gabah/tahun (senilai
Rp 474 miliar berdasarkan harga petani) dan sekitar 153.700 ton palawija (jagung, kacang
tanah, singkong, dll.) per tahun (diperkirakan senilai Rp134 miliar). Dan di daerah Klaten,
36.300 ton beras per tahun (Rp43 miliar) serta 12.200 ton palawija (Rp7 miliar).
Berdasarkan penilaian awal oleh Departemen Pekerjaan Umum, struktur-struktur
irigasi di Kabupaten Klaten, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten
Sleman, dan Kotamadya Yogyakarta telah mengalami kerusakan parah. Di provinsi
DIY, sekitar 65% daerah yang digarap, atau 23.000 ha, bergantung pada irigasi dan telah
terkena dampak (kerugian sekitar Rp27 miliar), dan 82%, atau 1180 ha, di Klaten (kerugian
diperkirakan Rp1,4 miliar). Lampiran teknis untuk sektor-sektor produktif menyajikan
perincian lebih jauh.
Dengan asumsi curah hujan tetap tetapi tanpa rehabilitasi dalam tahun pertama,
panen akan anjlok sebesar kira-kira 347.630 ton, senilai dengan Rp 387 miliar pada
harga produsen yang merupakan 10.5% sektor pertanian di provinsi Yogyakarta. Di
Klaten, panenan akan anjlok sebanyak kira-kira 16.285 ton, senilai dengan Rp 18 miliar, yaitu
2% PDRB sektor pertanian di kabupaten ini.

32
Angka ini juga mencakup fasilitas dan bangunan irigasi.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 51

Tabel 23: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian di Sektor Irigasi


Kabupaten/ Penilaian Dampak (Miliar Rp)
Kodya Total (1) (2) Koefisien (3) Rugi Padi Palawija
((1)+(3)) Rusak Rusak % Total Rugi (Rp) Rugi (Rp)
Bantul 37,7 9,2 5-50 28,5 22,0 6,5
Sleman 257,9 11,3 20-70 246,6 192,0 54,6
Kulon Progo 111,3 6,5 90 111,3 87,7 23,6
Yogyakarta 0,7 0,3 20 0,4 0,3 0,1
Klaten 19,8 1,4 10-90 18,4 16,2 2,2
Jumlah Total 427,4 28,7 406,8 319,8 87,0
* Koefisien Kerusakan: luasnya daerah yang terkena dampak karena kerusakan pada bangunan-bangunan utama.
**Kerugian Produksi: kerugian dihitung berdasarkan daerah yang terkena dampak, pola tanam, intensitas penanaman, dan
hasil (ton/ha)
***Nilai kerugian: Nilai moneter kerugian adalah jumlah kerugian produksi kali harga produsen untuk setiap jenis tanaman
****Kerugian Palawija: Harga petani untuk Palawijya adalah rata-rata harga jagung, kacang tanah, dan singkong
***** Pola tanam, intensitas, dan hasil diambil dari JICA (2004)
******Harga produsen untuk setiap jenis tanaman di DI Yogyakarta dan Kabupaten Klaten diambil dari BPS (2004)

Pengendali Banjir dan Struktur Sungai: Ada tiga jaringan sungai utama yang terdiri dari
banyak anak sungai - Progo, Oyo, dan Solo Atas – yang mengalir melalui provinsi DIY dan
Kabupaten Klaten. Karena air di jaringan sistem sungai utama ini sebagian besar berasal dari
G. Merapi, endapan dari G. Merapi kemungkinan besar mempengaruhi aliran sungai-sungai
ini dan tanpa struktur sungai yang berfungsi dengan baik, bisa terjadi kerusakan akibat banjir
selama musim penghujan.
Dilaporkan ada sejumlah kerusakan fisik struktur sungai – seperti retakan dan
runtuhnya tanggul dan dinding tepian – karena gempa bumi di Bantul, Kulon Progo,
Kodya Yogyakarta, Sleman, dan Klaten. Kerusakan yang dilaporkan sehubungan dengan
struktur sungai sekitar Rp 19,1 miliar. Walaupun diperlukan penelitian yang lebih terperinci
dan diperlukan prioritisasi pekerjaan rehabilitasi untuk mencegah kemungkinan kerusakan
karena banjir, sebanyak 7.795 orang, 2.100 rumah, dan 3.720 ha lahan pertanian (senilai
dengan kerugian Rp 22 miliar) dapat terkena dampak banjir jika tidak ada rehabilitasi yang
layak dalam kurun waktu 6-12 bulan.

Tabel 24: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian Struktur Sungai


Kabupaten/ Nilai Dampak (Miliar Rp)
Kodya Total (1) (3) Total Populasi Rumah Lahan
((1)+(3)) Kerusakan Kerugian (Jumlah) (Jumlah) pertanian yang
(Rp) terkena (Rp)
Bantul 26 7,7 18,3 3.397 953 18,3
Sleman 1,0 0,5 0,5 67 16 0,5
Kulon Progo 7,3 3,8 3,5 848 229 3,5
Yogyakarta 1,5 1,5 NA 3.208 820 NA
Klaten 5,6 5,6 NA NA NA NA
Jumlah Total 63,7 19,1 22,3 7.520 2.018 22,3
* Kerugian populasi dan rumah: angka-angka yang dilaporkan oleh DINAS DI Yogyakarta
**Kerugian produksi: kerugian lahan pertanian adalah kerugian produksi beras pada harga produsen selama musim hujan.
52 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Isu-isu Kunci untuk Irigasi dan Struktur Sungai


Upaya yang Cepat bisa
ƒ Prioritaskan dan segera mulai pekerjaan rehabilitasi Mengurangi Kerugian Produksi
untuk mencegah kemungkinan banjir yang Signifikan di Kemudian
maupun kerugian panenan. Hari
ƒ Implementasikan pekerjaan rehabilitasi yang padat Kerugian produksi di masa
karya dan libatkan keluarga petani untuk mendatang sekitar 10 kali besarnya
menyediakan dukungan mata pencaharian nilai kerusakan fisik akibat bencana.
sementara pendapatan dari hasil pertanian Jadi, dengan investasi sekitar Rp 40-
menurun. 50 miliar untuk memperbaiki
ƒ Pastikan adanya pengendalian mutu yang prasarana irigasi dan struktur sungai
cukup, dan fokuskan pada ketahanan yang rusak, dampak bencana pada
terhadap gempa pada pembangunan kembali perekonomian di sektor irigasi dan
pertanian dapat dikurangi secara
struktur yang rusak.
signifikan.

PERUSAHAAN DAN INDUSTRI

Ikhtisar
Jawa Tengah dan Yogyakarta selama ini adalah pusat-pusat penghasil meubel,
keramik, kerajinan, dan lain-lain. Kawasan yang terkena dampak bencana memiliki
sampai 100.000 UKM. Gempa bumi telah berdampak langsung pada ribuan perusahaan ini
maupun pada jaringan pemasok dan gangguan lain pada jaringan perantara. Diperkirakan
sekitar 30.000 UKM langsung terkena dampak. Tabel 4 menyajikan besarnya dampak
tersebut. Sekitar 650.000 pekerja akan terkena dampak dengan satu atau lain cara, sementara
sekitar 2,5 juta orang yang bergantung pada usaha tersebut akan terkena dampak secara tidak
langsung karena hilangnya penghasilan sementara atau permanen.

Tabel 25: Dampak Bencana Gempa Bumi terhadap UKM di Yogyakarta dan Jawa Tengah
Nama Jumlah Unit yang Terkena Pekerja di UKM Yang Total
Kabupaten UKM Formal Informal Total Formal Informal Terkait Yang
yang Kena (pra-bencana) dengan Terkena
Bencana UKM
Formal
Bantul 21.306 9.588 5.040 14.628 335.570 20.160 1.342.278 1.362.438
Klaten 25.000 4.500 3.360 7.860 157.500 13.440 630.000 643.440
Kodya Yogya 8.619 776 1.680 2.456 27.150 6.720 108.599 115.319
Sleman 18.558 1.113 1.120 2.233 38.972 4.480 155.887 160.367
Gunung Kidul 21.659 650 560 1.210 22.742 2.240 90.968 93.208
Kulon Progo 22.418 673 560 1.233 23.539 2.240 94.156 96.396
Total 117.560 17.299 12.320 29.619 605.472 49.280 2.421.888 2.471.168
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 53

Industri-industri mengalami kerugian besar. Banyak pemilik usaha, kira-kira 17.300


perusahaan formal dan 12.320 perusahaan yang lebih kecil, informal, dan berbasis rumah
tangga, telah terkena dampak. Dalam kebanyakan kasus, usaha-usaha ini tampak hancur total.
Diperkirakan perusahaan-perusahaan ini menyediakan lapangan kerja untuk paling sedikit
600.000 orang. Menurut perhitungan kasar, hampir 2,5 juta orang yang mereka hidupi
kemungkinan besar terkena dampak secara tidak langsung oleh karena tidak adanya aliran
pendapatan untuk sementara atau
Temuan Kunci permanen.
ƒ Penilaian total kerusakan dan Tiga industri besar telah terkena
kerugian untuk sektor industri dan dampak: keramik dan kerajinan
usaha adalah sebesar Rp7.9 triliun, tangan; perabotan; dan kulit. Bantul,
atau 88% kerusakan yang dialami yang hampir tiga perempat perusahaannya
oleh sektor-sektor produktif. terkena dampak (14.600 dari 21.300 unit
ƒ Pemulihan dukungan finansial yang pra-bencana), dan Klaten, yang sekitar
cepat dapat mengurangi kerugian 30% usahanya rusak (7.900 dari perkiraan
penghasilan yang diantisipasi – saat 25.000 unit), adalah yang paling parah
ini diperkirakan Rp3,9 triliun atau terkena dampak. Selain itu, sekitar 85
sedikit di atas nilai kerusakan yang pasar tradisional tampaknya rusak, 48 di
sama dengan kerusakan aset tetap antaranya terdapat di Klaten.
dan persediaan. Jika kebanyakan Dukungan segera dapat mengurangi
usaha tidak pulih kegiatan kerugian. Kebanyakan pengusaha yang
operasionalnya sebelum bulan diwawancarai berpendapat bahwa mereka
September, potensi kerugian bisa mudah memulihkan rumah dan mata
penghasilan dapat meningkat karena pencaharian mereka, segera setelah usaha
banyak UKM akan kehilangan mereka mendapat dukungan. Sementara
kesempatan untuk musim pembelian semua UKM secara umum terkena
berikutnya. dampak, usaha-usaha skala menengah-lah
yang perlu waktu paling lama untuk
memulai lagi operasi mereka (paling sedikit 6 bulan pada beberapa kasus) karena hilangnya
gudang, mesin, persediaan bernilai tinggi (mis: perabot, keramik), pinjaman besar di bank,
dan biaya yang harus terus dibayarkan (gaji pegawai). Selain itu, hanya beberapa perusahaan
yang tampaknya diasuransikan. Perusahaan yang mengalami kerusakan menengah masih
beroperasi dengan 30-60% kapasitas mereka. Perusahaan-perusahaan kecil dan mikro, yang
berbasis rumahan, berharap bisa pulih dalam 3 bulan jika mereka bisa memperoleh bantuan
keuangan. Hal ini dimungkinkan karena mereka masih mempunyai pesanan yang harus
dipenuhi dan bahan baku yang relatif mudah untuk diperoleh.
54 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Dukungan keuangan langsung akan mencakup (i) penjadwalan ulang utang di bank,
(ii) pinjaman baru untuk modal kerja dan (iii) tempat sementara untuk bekerja. Dua
hal pertama itu dapat dilakukan melalui peraturan-peraturan BI - dan inisiatif dari bank lokal
yang beroperasi dengan Pemerintah atau bantuan donor, jika perlu.
Gempa bumi tidak berdampak besar pada jumlah dan ketersediaan tenaga kerja, dan
selain kerusakan pada jalan-jalan penghubung ke sub-desa di kabupaten Bantul,
tidak dilaporkan adanya kerusakan parah lainnya pada jalan, sehingga diharapkan
pengiriman barang berjalan normal. Karena banyak pekerja dan orang yang bergantung
pada penghasilan mereka, ada potensi yang signifikan untuk memanfaatkan tenaga kerja
sementara yang tercipta karena bencana segera dengan menggunakan mereka selama proses
rehabilitasi dan rekonstruksi. Hal ini akan membuat mereka yang terkena dampak segera
memiliki uang tunai di tangan dan membantu kebangkitan perekonomian.

Kondisi Sebelum Bencana


Usaha kecil dan menengah dominan di daerah bencana (dengan nilai output produksi
total sebesar Rp 5 triliun). Persentase UKM adalah 97% dari 117.000 unit usaha, 65% dari
650.000 pekerja, dan 40% dari keseluruhan nilai output. Sektor-sektor utama adalah:
perabotan meubel 25%, kerajinan 25%, dan tekstil 20%. Sekitar 25% output industri
diekspor – nilai ekspor gabungan (dari semua perusahaan di sektor-sektor ini) adalah 144 juta
dolar AS pada tahun 2005 (pertumbuhan diatas 17% tahun 2004). Di Bantul terdapat lebih
dari 21.000 unit usaha, di Gunung Kidul 21.700 unit, Kulon Progo 22.400 unit, Kodya
Yogya 8.600 unit, dan Klaten – sekitar 25.000 unit. Sebagian besar usaha kecil mempunyai
akses ke bank (terdapat lebih dari 120.000 peminjam di daerah bencana), saluran ekspor
langsung dan banyak perusahaan mikro sebagai industri pendukung. Hanya terdapat 71
produsen dan perusahaan logistik besar.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 55

Pengamatan Cepat dari Lapangan: Survei terhadap UKM


Sebuah tim dari Universitas Gajah Mada melakukan survei yang cepat di Bantul, Klaten, kota
Yogyakarta, dan Sleman pada tanggal 4-6 Juni 2006. Meliputi lebih dari 70 perusahaan, survei itu
berfokus pada: dampak langsung bencana pada usaha, termasuk kerusakan bangunan dan
persediaan; kapasitas operasional saat ini; antisipasi kerugian output dan penghasilan; waktu yang
diperkirakan untuk bisa berdiri lagi; dampak pribadi terhadap karyawan dan keluarga mereka;
dampak atas pelanggan dan pemasok; kesulitan logistik; dan dampaknya pada catatan di lembaga
keuangan. Survei itu telah memberikan gambaran sekilas tentang akibat bencana terhadap
manusia dan juga sisi fisiknya.

Penilaian Kerusakan dan Kerugian


Seluruh perkiraan kerusakan berjumlah lebih dari Rp 4 triliun. Bahkan tanpa kerusakan
potensial yang diderita oleh tiga perusahaan besar (PT ASA, PT Budi Makmur, dan PT Sari
Husada), kerusakan cukup besar, sampai senilai Rp 3,8 triliun (Gambar 1 dan lampiran
teknis). Kerusakan-kerusakan tersebut terutama pada properti tidak bergerak (gedung, dan
pada beberapa kasus, aset yang rusak seperti peralatan), dan persediaan barang.
Kerugian yang diantisipasi di masa depan adalah sekitar Rp 3,9 triliun. Kerugian
pendapatan diperkirakan atas dasar estimasi penurunan pendapatan, hilangnya kesempatan
memperoleh penghasilan dan pengeluaran yang meningkat untuk mempertahankan pekerja
selama periode non-operasional (untuk perusahan menengah dan perusahaan besar) dll.
Selama periode sampai aset kembali pulih. Asumsi periode pemulihan 3-6 bulan digunakan
untuk sebagian besar perusahaan yang terkena dampak.

Gambar 6: Kerusakan dan Kerugian Perusahaan

5000
Billions of Rupiah

4000
3000
2000

1000
0
Medium Small Units Micro Units Total
Enterprises

Damage (Building and Inventory) Losses (Salaries/Future Earnings)


Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan
56 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Isu-Isu Kunci
Dalam jangka pendek: (i) pemberian fasilitas likuiditas sementara dan (ii) hilangnya
rumah (yang juga menjadi tempat usaha) harus segera diperhatikan agar
perusahaan-perusahaan dapat beroperasi kembali. Usaha-usaha perlu menjadwal ulang
utang yang ada dan mendapatkan akses ke dana pinjaman segar yang cepat dan terbatas.
Tetapi, bank mengklaim bahwa mereka tidak dapat memberikan pinjaman baru tanpa
penyelesaian pinjaman sebelumnya. Karena kebanyakan industri beroperasi di rumah-rumah
penduduk, persoalan tentang tempat kerja adalah bagian dari program rehabilitasi perumahan
secara keseluruhan. Guna menghindari kerugian di masa depan karena para pembeli beralih
ke produsen lain, pesanan-pesanan yang sudah masuk hendaknya diupayakan untuk dipenuhi
tepat waktu. Sudah jelas perlunya tindakan intervensi yang segera: dampak psikologis akan
semakin buruk jika penduduk menganggur dan masa depan mereka tidak jelas. Perusahaan-
perusahaan yang lebih besar melaporkan bahwa bahkan pekerja mereka yang kehilangan
rumah dan keluarga memilih untuk masuk kerja.
Dalam jangka menengah, peran sektor asuransi yang lemah dalam menyediakan
penyelesaian risiko dan mekanisme pengalihan risiko untuk perusahaan-perusahaan
perlu diperhatikan. Sementara banyak UKM di daerah ini memiliki akses dan pengetahuan
terhadap produk-produk keuangan pada masa sebelum bencana, hanya sebagian kecil saja
yang dicakup asuransi. Kebanyakan di antara mereka yang sudah dicakup, tidak memiliki
penggantian karena bencana alam, karena perusahaan-perusahaan asuransi enggan
menyediakan penggantian sejak tsunami tahun 2004 di Aceh.

Rekomendasi Awal
ƒ Pemulihan mata pencaharian penting untuk tahap rekonstruksi – dan akses ke
likuiditas dan penyediaan tempat kerja merupakan alat mencapainya bagi mayoritas
perusahaan yang terkena bencana.
ƒ Manfaatkan tenaga kerja sementara, dan penggunaan nilai lokal “nrimo”( menerima
dan terus maju); dan “gotong royong” – akan mempercepat proses rekonstruksi.

Langkah Kunci mencakup:


ƒ Pemberian akses keuangan
ƒ Pemerintah, Bank Indonesia dan bank-bank komersial perlu segera membuat
pedoman untuk memulai restrukturisasi pinjaman untuk debitor mereka yang terkena
bencana dan memberikan pinjaman baru kepada mereka (dengan persyaratan khusus
mengenai waktu bebas pengembalian dan tingkat bunga). Bank-bank mengatakan
bahwa para debitor di daerah-daerah ini memiliki riwayat kredit yang baik dengan
tingkat NPL 3%.
ƒ Sambil menunggu pembangunan kembali rumah, tempat penampungan semi
permanen dapat dibuat untuk setiap ‘sentra industri’ untuk memberi para pengusaha
kesempatan untuk memenuhi pesanan ekspor.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 57

PERDAGANGAN

Ikhtisar
Kerusakan yang dialami pasar publik dan fasilitasnya serta pasar modern
diperkirakan sekitar Rp 168 miliar. Kerugian diperkirakan Rp 100 miliar, sehingga seluruh
kerusakan dan kerugian sebesar Rp 269 miliar.33 Selain itu, sektor-sektor jasa – termasuk
restoran dan jasa non-permerintah – kemungkinan besar telah menderita kerusakan dan
kerugian sebesar Rp 218 miliar.34 Jadi, keseluruhan kerusakan dan kerugian diperkirakan
sebesar 2% PDRB agregat di enam kabupaten yang mengalami dampak terparah.
Bantul dan Yogyakarta mengalami dampak terparah, sementara Klaten dan Gunung
Kidul mengalami kerusakan dan kerugian yang besar. Yogyakarta, karena
ketergantungannya pada restoran dan jasa yang terkait dengan pariwisata, akan menghadapi
tantangan kecuali dukungan rehabilitasi yang cukup telah dikerahakan. Perdagangan di
Bantul dan Klaten terkena pukulan terparah. Banyak pasar tradisional rusak atau hancur.
Fasilitas-fasilitas yang lebih baru seperti pusat perbelanjaan, mal, dan supermarket
kerugiannya tidak separah pasar tradisional. Harga-harga banyak komoditas sempat
melambung, dalam beberapa kasus sampai sepuluh kali lipat, tetapi sekarang sudah turun
lagi.

Kondisi Sebelum Bencana


Pada tahun-tahun belakangan ini, sektor perdagangan dan restoran sedikit naik
perannya dalam perekonomian di enam kabupaten yang terkena bencana. Sektor ini
sekarang persentasenya 20% dari produk regional gabungan, sementara sektor jasa non-
pemerintah tetap sekitar 4%. Peran perdagangan bervariasi dari 7% di Yogyakarta sampai
20% di Kulon Progo, sementara restoran dari hanya 2% di Kulon Progo sampai 15% di
Yogyakarta. Sektor jasa hanya sebesar 2% produk regional di Gunung-kidul, tetapi sampai
setinggi 6% di Yogyakarta. Secara keseluruhan, peran relatif sektor perdagangan dan restoran
jika digabung beragam dari 7% di Magelang sampai 24% di Klaten dan Yogyakarta.
Jumlah pasar tradisional berkurang 18% antara tahun 2003 dan tahun 2005, karena
persaingan dengan pasar modern dan waralaba.35 Jumlah pasar modern (pusat
perbelanjaan dan pasar swalayan) telah bertumbuh sepertiga kalinya selama periode yang

33
Angka yang telah direvisi yang diperoleh tim, setelah data kerusakan dan kerugian dikompilasi, menunjukkan
bahwa kerusakan bisa lebih besar yaitu sebesar Rp 222 miliar dan kerugian sebesar Rp 146 miliar.
34
Karena kerusakan di sektor jasa ini kemungkinan besar juga telah tercakup dalam data perusahaan kecil,
mereka tidak disertakan di bawah sektor “Perdagangan” untuk tujuan penilaian secara keseluruhan.
35
Di pasar tradisional, transaksi dicatat secara manual atau tidak dicatat sama sekali, para pembeli adalah orang
perorangan atau pedagang kecil, produk yang mereka jual kebanyakan adalah kebutuhan sehari-hari dan
pakaian, dan bangunan mereka dikelola dan dimiliki oleh pemerintah daerah. Pengembangan usaha dan
dukungan lain untuk pasar tradisional disediakan oleh Dinas perindustrian, perdagangan, dan koperasi
(Dinasperindagkop)-di bawah Departemen Perdagangan tetapi para pedagang di pasar tradisional dan pasar
modern serta waralaba melaporkan transaksi mereka ke kantor pajak – di bawah Departemen Keuangan.
58 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

sama. Selain itu, beberapa pasar tradisional telah direnovasi. Di provinsi DIY, beberapa pasar
tradisional berupa bangunan semi-permanen/permanen atau terdapat di tempat terbuka.
Pasar lapak di 400 desa di provinsi Jawa Tengah dan provinsi DIY buka dua atau tiga hari
dalam sepekan. Usaha lain yang baru dan berkembang cepat adalah waralaba pasar swalayan
kecil (minimarket). Pada tahun 2005, terdapat 28.075 pedagang berizin, kebanyakan di
antaranya pedagang kecil. Secara keseluruhan, lebih dari 300.000 orang atau 10% penduduk
di daerah yang terkena dampak bencana terlibat langsung dengan sektor perdagangan di
provinsi DIY, belum termasuk orang yang menyediakan jasa transportasi pulang pergi ke
pasar, para kuli, dan orang-orang lain yang pekerjaan dan usahanya terkait dengan
beroperasinya pasar. Banyak pekerja di kota Yogyakarta tinggal di Bantul dan daerah-daerah
lain yang terkena dampak bencana.
Pedagang kecil di pasar tradisional juga adalah eksportir. Data ekspor/impor yang
dibagi menurut golongan pedagang tidak tersedia, tetapi total ekspor dan impor dari provinsi
DIY pada tahun 2005 menunjukkan tren yang meningkat.

Penilaian Kerusakan dan Kerugian

Pasar Tradisional
Gabungan kerusakan dan kerugian yang dialami pasar-pasar tradisional di Provinsi
DIY dan Kabupaten Klaten diperkirakan sejumlah Rp 245 miliar.36 Kerusakan dan
kerugian tertinggi di Bantul dan Klaten, diikuti kota Yogyakarta dan kabupaten Gunung
Kidul. Banyak pasar yang sama sekali tidak terkena dampak, seperti Pasar Bantul – pasar
tradisional terbesar di Bantul. Sedangkan bagian-bagian pasar Niten, pasar Imogiri, pasar
Plered, dan pasar Piyungan, yang juga berlokasi di Bantul hancur sama sekali. Sekitar 10
pasar lain di Klaten dan satu pasar di Yogyakarta juga rusak parah. Di pasar yang ditutup atau
rusak parah, banyak pedagang memindahkan usaha mereka ke tempat-tempat perdagangan
sementara di emperan bangunan-bangunan atau di lokasi di dekatnya yang masih kosong.
Sekitar 2.820 pedagang di Klaten dan sekitar 16.300 pedagang lain di Yogyakarta dilaporkan
pindah sementara. Secara keseluruhan, dari penutupan sementara banyak pasar tradisional di
Yogyakarta dan Klaten, pendapatan total yang hilang kemungkinan besar sekitar Rp 80 miliar
lebih, termasuk pajak yang hilang.
Beberapa pasar ditutup sampai ada inspeksi lebih lanjut atau sampai dibangun
kembali, sementara yang lainnya beroperasi kembali beberapa hari kemudian. Di
banyak lokasi, nilai transaksi harian merosot – misalnya di Beringharjo, pasar terbesar di
Yogyakarta, transaksi turun dari Rp 1,2 miliar prabencana menjadi Rp 0,8 miliar setelah
bencana. Di beberapa pasar lainnya, kerusakannya tidak signifikan tetapi properti atau
keluarga karyawan mereka terkena dampak sehingga mereka tidak bisa bekerja untuk
sementara. Para pedagang di pasar-pasar tradisional tidak mengasuransikan aset mereka dan

36
Seperti dikemukakan di paragraf pertama di bagian perdagangan dan jasa, data yang direvisi pada tahap
penyelesaian laporan ini menunjukkan angka kerusakan dan kerugian yang lebih besar sampai Rp 370 miliar.
Angka yang direvisi akan terlihat di penilaian kerusakan dan kerugian tahap berikutnya.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 59

tidak menggunakan gudang sehingga aset mereka sebagian besar tidak bisa dipulihkan ketika
bangunan rusak.
Ada kerugian-kerugian lain, selain pendapatan yang hilang. Ketika beberapa pasar
berhenti beroperasi dan produksi maupun pengiriman beberapa komoditas terhambat selama
beberapa hari, terjadilah kekurangan kebutuhan sehari-hari dan harga-harga melambung dan
hal ini berpotensi mengurangi daya beli orang yang memiliki penghasilan tetap – ini kerugian
yang tidak dapat secara akurat dicatat dalam penilaian.

Pasar Modern
Total kerusakan dan kerugian pasar modern diperkirakan kurang dari 30% jika
dibandingkan dengan pasar tradisional. Hal ini sebagian besar adalah karena bangunan-
bangunan mereka lebih besar dan tidak rawan kerusakan karena gempa bumi. Berdasarkan
informasi terbatas yang tersedia, tampaknya Bantul yang paling besar kerugiannya, disusul
oleh Yogyakarta dan Klaten. Kerugian usaha karena struktur yang rusak paling sedikit
diimbangi oleh penjualan kepada orang-orang yang biasanya berbelanja di pasar tradisional,
maupun penjualan ke pihak yang memberikan bantuan kemanusiaan. Berapa banyak
perdagangan dan tenaga kerja yang diserap dari pasar tradisional oleh pasar yang lebih
modern adalah suatu fenomena yang perlu diteliti. Dalam waktu dekat, ada kemungkinan
hilangnya pasar luar negeri karena sebagian ekspor tidak dapat dikirimkan sesuai dengan
jadwal dan ada kebutuhan akan tambahan pengeluaran oleh para pengusaha untuk
mendapatkan karyawan baru sebagai ganti karyawan mereka yang sudah tidak ada lagi.

Restoran
Sementara restoran-restoran di bangunan yang rusak mengalami kerusakan dan
kerugian yang signifikan, banyak restoran lain yang kemungkinan besar mendapat
manfaat dari kegiatan yang meningkat. Meskipun data tidak tersedia, perkiraan
kerusakan dan kerugian berdasarkan bukti kasar adalah sekitar Rp150 miliar.37 Potensi
kerugian terhadap perekonomian secara keseluruhan kemungkinan besar diimbangi oleh para
konsumen yang memilih untuk makan di restoran terbuka atau warung.

Jasa Non-Pemerintah
Kerusakan dan kerugian pada sub-segmen ini kemungkin besar tidak banyak.
Meskipun tidak ada data yang andal hingga saat ini, perkiraannya adalah Rp 60 miliar.
Kebanyakan jasa berlokasi di kotamadya Yogyakarta dan kabupaten Sleman, tetapi dampak
gempa bumi tampaknya lebih besar di Yogyakarta.

Isu-Isu Kunci dan Rekomendasi Awal


Dengan hilangnya pekerjaan, peran sektor informal dalam ketenagakerjaan akan
meningkat. Orang yang terkena dampak gempa akan mengambil kesempatan apapun yang
tersedia, ada kemungkinan sektor formal akan menyusut segera setelah bencana.

37
Seperti dikemukakan sebelumnya, ini tidak tercakup dalam perkiraan sektor perdagangan dan jasa
keseluruhan, karena kemungkinan besar akan tercakup dalam data persudahaan.
60 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Meskipun dampaknya terhadap orang lebih sulit untuk diperkirakan, banyak yang
bekerja di sektor-sektor ini menderita kesulitan. Karena para pedagang wiraswasta di
pasar tradisional jarang mengasuransikan barang dagangan mereka ataupun menggunakan
gudang, banyak yang telah kehilangan aset karena bangunan runtuh. Yang lain-lain tidak bisa
melanjutkan usaha karena kehilangan, kerusakan, atau trauma dalam keluarga mereka sendiri
atau terhadap rumah mereka. Menurunnya pariwisata yang pasti terjadi tentu akan
merugikan restoran dan banyak perusahaan lain di sektor jasa yang memberikan pelayanan
makanan bagi para wisatawan. Para karyawan di tempat-tempat ini dan tempat-tempat yang
rusak atau ditutup paling sedikit kehilangan gaji selama beberapa waktu atau bahkan
kehilangan pekerjaan mereka.
Prioritas pertama adalah membantu orang yang kehilangan pekerjaan, penghasilan,
atau aset di sektor-sektor ini. Perlu upaya untuk mengorganisasi program-program padat
karya untuk membersihkan, memperbaiki, dan membangun kembali fasilitas-fasilitas umum.
Dana hendaknya dialokasikan untuk memberikan paket kompensasi bagi pihak-pihak yang
usahanya mengalami kerusakan tempat usaha dan peralatan atau kehilangan penghasilan
dari perdagangan. LSM-LSM dan organisasi-organisasi lain yang ahli dalam kredit mikro
hendaknya dikerahkan untuk memberikan bantuan bagi yang membutuhkan, bisa melalui
pinjaman kelompok.
Selain itu, dana hendaknya dikerahkan untuk memperbaiki dan membangun
kembali pasar tradisional. Sementara ini, pemerintah daerah hendaknya mengalokasikan
tempat untuk pasar sementara, menunda pembukaan kembali atau membangun kembali
fasilitas-fasilitas yang rusak. Tempat sementara ini bisa berupa taman atau alun-alun atau
lahan umum yang tidak digunakan, tetapi lokasi-lokasi ini hendaknya dekat dengan pasar
yang digantikannya, dan mudah dijangkau oleh calon pelanggan.

PARIWISATA

Ikhtisar
Perkiraan awal menunjukkan kerugian sebesar Rp 36 miliar dan hilangnya
penghasilan sebesar kira-kira Rp 18 miliar. Tempat-tempat wisata yang terkena dampak
gempa bumi berlokasi di kodya Yogyakarta, kabupaten Sleman, dan kabupaten Bantul
(provinsi DIY) serta Klaten (Jawa Tengah). Tempat wisata di kabupaten lain seperti Boyolali
atau Sukoharjo (Jateng) tidak terkena dampak. Walaupun ada kerusakan di sejumlah tempat
wisata, para pengelola tempat itu yang diwawancarai optimis bahwa pariwisata tidak akan
terkena dampak secara signifikan

Kondisi Sebelum Bencana


Sebagai pusat budaya Jawa, provinsi Yogyakarta adalah tempat wisata yang penting
di Indonesia. Sektor perdagangan, hotel dan restoran (yang merupakan inti penting
kepariwisataan) adalah penyumbang terbesar untuk PDRB, yang diperkirakan menyumbang
sedikit diatas 20% pada tahun 2005. Di kabupaten Klaten kepariwisataan juga dianggap
sebagai faktor yang sangat penting bagi promosi kabupaten itu tetapi sumbangannya
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 61

terhadap perekonomian daerah tidak terlalu besar. Candi Prambanan yang bersejarah (di
kabupaten Sleman) dan Kraton adalah tempat tujuan wisata terpenting di provinsi DIY.
Candi Prambanan menarik hampir 1 juta wisatawan pada tahun 2005, dan Kraton menarik
sekitar 400.000 wisatawan. Di Yogyakarta ada 34 hotel dan 1.106 losmen. Di Klaten terdapat
42 hotel dan losmen.

Penilaian Kerusakan dan Kerugian


Fasilitas 9 tempat wisata di Yogyakarta rusak. Tempat tujuan wisata yang paling terkena
dampak gempa bumi adalah Kawasan Prambanan dan Makam Raja-Raja di Imogiri,
kabupaten Bantul. Di Prambanan, kompleks candi maupun fasilitas-fasilitas di sekitarnya
seperti teater Ramayana, pusat informasi dan kantor pengelola PT TWC, sebuah perusahaan
milik negara, terkena dampaknya. PT TWC memperkirakan keseluruhan kerusakan fasilitas
Prambanan adalah Rp 2,835 Milyar , dan kerugian karena menurunnya pengunjung, Rp 1,151
Milyar per bulan pada tahun 2006. Makam Imogiri runtuh semuanya, dan fasilitas-fasilitas
seperti lapangan parkir, toilet juga hancur. Kerusakan fasilitas-fasilitas ini diperkirakan Rp
400 juta. Kerusakan di Klaten ditemukan di pintu masuk dan loket candi serta makam.
Jumlahnya relatif kecil, Rp 390 juta/unit.

Akomodasi
Saat ini 6 di antara 34 hotel bermutu tinggi (716 kamar) ditutup. Tahap rekonstruksi
akan berlangsung selama 3 bulan (Novotel, 202 kamar) hingga 12 bulan (Sheraton, 241
kamar). Hotel-hotel lain seperti Ina Garuda atau Melia Purosani tetap buka, tetapi beberapa
kamarnya harus direkonstruksi.38 Di Klaten 16 dari 42 hotel/akomodasi rusak, kebanyakan
di antaranya di daerah Prambanan.

Fasilitas Kantor
Kantor Dinas Pariwisata di Kabupaten Bantul rusak ringan. Saat ini kantor itu
digunakan untuk keperluan darurat. Kantor Dinas Pariwisata di Kodya Yogyakarta juga
mengalami kerusakan sedang, tetapi tetap beroperasi. Dari 4 kantor pariwisata Yogyakarta
hanya satu kantor yang terdapat di Bandara yang rusak sedikit. Yang rusak parah adalah Balai
Kota dan Taman Budaya. Di Klaten hanya Dinas Pariwisata di kota Klaten yang tidak rusak,
tiga badan lainnya (satu di antaranya bersifat nasional: BP3) rusak. Kerugian lembaga-
lembaga umum ini tidak dapat dihitung, karena mereka pun tidak memiliki penghasilan.

38
Kerusakan hotel-hotel berbintang diperhitungkan menurut rata-rata biaya rekonstruksi/kamar untuk berbagai
kategori hotel berbintang. Kerugiannya dihitung berdasarkan kamar yang sekarang tersedia, tarif kamar rata-rata
– berdasarkan tingkat hunian 52%. Tingkat hunian tidak dibuat lebih rendah daripada situasi sebelum bencana.
Pada saat ini hotel penuh dengan pekerja pemberi bantuan dll. Kemudian akan ada tahap rekonstruksi yang juga
menjanjikan adanya lebih banyak orang yang menginap. Diperkirakan bahwa jumlah wisatawan domestik tidak
akan menurun, karena akan ada kegiatan-kegiatan rutin (Ramadhan, Hari Raya, musim Haji, Natal, dll .).
62 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

LANGKAH SELANJUTNYA

Dengan banyaknya kerugian manusia, sosial, dan fisik, sektor-sektor produktif di


beberapa sentra ekonomi yang paling hidup di Indonesia telah terkena dampak
gempa bumi. Karena banyaknya industri rumahan, ratusan ribu rumah tangga kehilangan
tempat tinggal mereka dan sumber penghasilan mereka. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi
seharusnya bisa membantu penduduk yang terkena dampak untuk segera membangun
kembali kehidupan mereka.

Prinsip-Prinsip Kunci untuk Memulihkan Mata Pencaharian yang Hilang melalui


Kebangkitan Sektor Produktif
• Menanam modal untuk memperbaiki kerusakan fisik – hal ini tidak hanya akan segera
menghasilkan uang tunai bagi orang-orang yang terkena dampak untuk bertahan hidup,
tetapi juga mengurangi secara signifikan kerugian penghasilan yang diantisipasi di masa
depan. Dengan sekitar setengah dari total dampak berbentuk kerugian yang diantisipasi di
masa depan, opportunity cost karena tidak cepat tanggap sangat tinggi.
• Gunakan partisipasi masyarakat seluas mungkin
ƒ Kerahkan dukungan finansial dalam dosis kecil untuk memulihkan kegiatan ekonomi –
bertentangan dengan pandangan umum, sejumlah orang yang terkena bencana ingin sekali
mendapat kredit dari bank dan lembaga lain. Pada waktu yang sama, kebijakan publik
memegang peran yang penting untuk melakukan apa pun yang pemerintah dapat tawarkan
dalam bentuk dukungan .
ƒ Belajar dari kerawanan terhadap bencana dan persiapkan rencana jika ada bencana
berikutnya. Khususnya, lihatlah apa yang bisa ditawarkan pasar untuk melindungi
perusahaan dari bencana yang tidak terduga di masa depan.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 63

Lintas Sektor

Analisis lintas sektor meliputi subsektor pemerintahan/administrasi publik,


lingkungan hidup, dan perbankan serta keuangan. Perkiraan kerusakan dan kerugian
sudah mencakup bangunan dan peralatan pemerintah, maupun bangunan serta peralatan
lembaga perbankan dan keuangan. Di sektor lingkungan, kerugian terjadi pada: a)
manajemen limbah; b) rekonstruksi; c) prasarana lingkungan, dan d) efeknya pada ekosistem
dan pelayananan lingkungan.
Bila digabungkan, kerusakan dan kerugian ketiga sektor ini hanya sekitar 1% dari
seluruh kerusakan dan kerugian akibat bencana. Tidak ada satu pun dari sektor-sektor
ini yang terkena dampak gempa secara signifikan. Sebagian besar pelayanan pemerintah dan
perbankan dapat pulih dengan cepat. Ekosistem alami atau manajemen lingkungan
pemerintah daerah tidak terkena dampak yang parah.

Tabel 26: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian Lintas Sektor


Dampak Bencana (Miliar Rp) Kepemilikan
Kerusakan Kerugian Total Swasta Negeri
Pemerintah 137,0 0 137,4 0 137,4
Keuangan 48,0 0 48,0 48,0 0
Lingkungan 0 109,6 109,6 0 109,6
Kerusakan/Kerugian Lintas Sektoral 185,0 109,6 294,6 48,0 246,6
% Total Kerusakan dan Kerugian 0.8 1.7 1.0 0.2 9
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Walaupun tidak ada efek yang luas terhadap sruktur fisik, kerugian di kemudian hari
bisa signifikan jika tidak ada tindakan yang segera diambil, khususnya di sektor
perbankan dan keuangan. Sementara kerusakan saat ini pada sektor tersebut relatif
ringan, potensi kerugian di masa depan bisa mencapai Rp 2 triliun, karena diperkirakan
sampai 58.000 peminjam saat ini mungkin tidak dapat mengembalikan pinjaman mereka.
Untuk meminimalisasi kerugian di masa depan, pemulihan sektor keuangan harus
didukung dan pinjaman harus bisa dikembalikan sesegera mungkin. Kebijakan-
kebijakan memprioritaskan penyelesaian nyata terhadap masalah-masalah ini sangatlah
dibutuhkan, melalui restrukturisasi pinjaman yang belum dibayar, skema jaminan kredit yang
memungkinkan UKM peminjam yang potensial untuk mengakses pinjaman tanpa jaminan,
64 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

dan skema peminjaman yang potensial dan tepat sasaran. Semua tindakan ini memungkinkan
pemulihan perekonomian yang lebih cepat.
Pada sektor lingkungan hidup, langkah-langkah kunci yang diambil sekarang dapat
mengurangi kemungkinan kerugian di masa depan. Khususnya, perlu dilakukan
penilaian yang cermat terhadap rencana pembuangan puing, manajemen limbah berbahaya,
dan mengembangkan rencana kerja, serta merancang dan menetapkan standar bangunan
tahan gempa untuk bangunan baru berlantai satu serta menyesuaikan kembali bangunan
yang rusak.

LINGKUNGAN HIDUP

Ikhtisar
Dampak gempa terhadap lingkungan secara garis besar bisa dibagi dalam empat
bidang: a) manajemen limbah; b) dampak rekonstruksi; c) prasarana lingkungan; dan d) efek
terhadap ekosisten/pelayanan lingkungan. Tidak ada kerusakan yang signifikan pada
ekosistem alami (hutan, terumbu karang, pohon bakau, dll.), demikian juga dengan kapasitas
manajemen lingkungan pemerintah daerah..

Kondisi Sebelum Bencana


Manajemen limbah terbatas. Di provinsi DIY, pengumpulan sampah hanya dilakukan di
perkotaan dan pasar. Sebagian besar sampah yang dikumpulkan di daerah bencana dibawa ke
tempat pembuangan sampah di Sitimulyo dekat Piyungan, kabupaten Bantul. Satu tempat
pembuangan yang tidak diawasi di dekat Godean, kabupaten Sleman, digunakan untuk
limbah nonkimiawi seperti puing bangunan. Di kabupaten Klaten, provinsi Jawa Tengah,
sampah dikumpulkan dari kota Klaten dan pasar-pasar besar dan kemudian diangkut ke satu
di antara dua tempat pembuangan terbuka yang kecil (sekitar 1 hektar). Di pedesaan kedua
provinsi ini, tidak ada pengumpulan atau pembuangan sampah yang dikelola pemerintah.
Penduduk desa umumnya membakar, mengubur dan/atau membuang sampah ke sungai
yang dekat dengan komunitas mereka. Diperlukan adanya data tambahan mengenai sistem
pembuangan sampah industri dan medis di daerah yang terkena dampak gempa.
Penerapan Manajamen bahaya buruk. Walaupun sudah ada semacam pembagian zona
lingkungan, pembangunan rumah tetap diizinkan di sepanjang jalur patahan gempa dan
daerah lain yang berisiko tinggi seperti di lereng Gunung Merapi. Lemahnya penerapan
standar pembuatan rumah mengakibatkan rendahnya mutu pembangunan rumah. Bahaya
lain adalah retaknya Bendungan Sermo (seluas 157 hektar dengan kapasitas untuk menahan
25 juta m3 air) dan reaktor penelitian nuklir di daerah bencana.
Lingkungan yang terpenting adalah sumber daya air. Di daerah bencana tidak ada
hutan, pesisir yang rawan atau ekosistem lain yang bernilai signifikan. Taman Nasional
Gunung Merapi adalah kawasan lindung terdekat dengan daerah bencana. Pelayanan
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 65

lingkungan yang terpenting di daerah bencana adalah sumber daya air. Banyak simpanan air
pada lapisan kars terletak di selatan Yogyakarta dan di sebagian besar daerah Gunung Kidul.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Bencana menyebabkan kerusakan aset lingkungan dan kerugian pelayanan
lingkungan. Dalam hal ini, diperkirakan tidak ada kerusakan aset; namun, kerugiannya
diuraikan di bawah ini.
Komponen terpenting dalam kerugian yang terkait dengan lingkungan adalah
pengelolaan puing. Menurut perkiraan kasar, antara 30-60% puing dari setiap rumah dapat
langsung digunakan kembali untuk rekonstruksi. Walaupun banyak penduduk desa
melaporkan bahwa mereka akan memanfaatkan puing-puing, volume sampah yang perlu
dibuang ke luar desa bisa mencapai 2,25 juta m3. Pemerintah tidak mengantisipasi akan
adanya masalah untuk menemukan tempat pembuangan atau dampak seriusnya terhadap
daya tampung tempat pembuangan kota.
Biaya pembuangan puing menurut perkiraan kasar adalah Rp 110 miliar untuk satu
tahun. Pemerintah berasumsi bahwa biaya tenaga kerja, yang terkait dengan pembersihan
puing dari lingkungan setiap rumah, bisa diambil dari bantuan Rp 30 juta yang akan diberikan
kepada setiap keluarga untuk rekonstruksi. Menurut perkiraan, lima pekerja (Rp 20.000/hari)
dapat membersihkan rumah yang runtuh dalam waktu dua minggu (Rp 1.200.000 per
rumah) atau Rp 230 miliar jika semua rumah yang hancur dan rusak parah dibersihkan
dengan cara tersebut. Dirobohkannya bangunan-bangunan pemerintah yang rusak akan
menyebabkan kerugian lain yang perlu diperhitungkan setelah penilaian struktural
dirampungkan.
Ada beberapa ancaman yang bisa timbul dari limbah berbahaya di lokasi industri
dan medis. Laporan media menunjukkan bahwa 23 fasilitas industri mengalami kerusakan
yang berkisar antara 25 hingga 100%. Dilaporkan bahwa dampaknya meliputi polusi yang
terlokalisasi dari kerusakan tiga pabrik tekstil, kebocoran sisa penyamakan kulit di Klaten
(dilaporkan oleh UNIDO) dan kebocoran minyak dari drum-drum penyimpanan di PT
Samitex Sewan (dilaporkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup). Satu-satunya kerusakan
pada lokasi pembuangan limbah adalah retakan di kolam penanganan air limbah di tempat
pembuangan sampah Sitimulyo (terletak dekat Piyungan di Bantul) yang dapat mencemarkan
sungai di dekatnya. Adanya lebih dari 36.000 prosedur medis tambahan yang dilakukan
untuk merawat korban yang cedera, sampah medis yang terkumpul sangat banyak; masih
belum jelas apakah sampah ini sudah dibuang dengan benar. Dampak kumulatif masalah-
masalah ini dapat mencakup efek kesehatan manusia (dengan biaya medis dan biaya
produktivitas yang terkait) dan kerusakan ekosistem.
Dampak lingkungan karena kebutuhan akan bahan bahan bangunan untuk
rekonstruksi adalah kerugian lingkungan yang utama. Pembangunan kembali dan
perbaikan rumah dan bangunan lainnya dalam skala yang besar membutuhkan banyak
sumber daya alami, misalnya kayu, bambu, lempung, dan pasir. Pengambilan lebih banyak
sumber-sumber daya ini untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat dapat memiliki
dampak negatif pada lingkungan hidup.
66 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Kerugian besar yang kedua adalah menurunnya fungsi pelayanan lingkungan hidup,
khususnya air tanah. Badan Pengelola Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) di
Yogyakarta melaporkan peningkatan gejolak air tanah di sumur-sumur tertentu dan sistem
pipa air ledeng. Struktur air tanah juga tampaknya terkena dampak gempa bumi dan gempa-
gempa susulan; hal ini terlihat dari adanya laporan bahwa sejumlah sumur mengering. Hal ini
khususnya bisa terjadi di daerah-daerah kars dan gua, dimana perubahan aliran air bawah
tanah bisa mempengaruhi sumur dan sumber air.
Kerugian besar yang ketiga adalah biaya tambahan untuk penilaian lingkungan yang
dibutuhkan oleh proses rekonstruksi. Rekonstruksi akan memberikan tambahan
permintaan akan kapasitas kelembagaan daerah dalam bidang manajemen lingkungan. Biaya
administratif yang lebih besar akan timbul untuk menilai dampak lingkungan karena adanya
investasi baru, penegakan standar-standar lingkungan hidup dan pengawasan tindakan-
tindakan perbaikan.
Yang terakhir, kerugian lain adalah rawan tanah longsor yang disebabkan oleh
gempa bumi. Kementerian Lingkungan Hidup melaporkan paling sedikit ada enam tempat
baru yang rawan, yang mengalami beberapa kali tanah longsor setelah gempa utama. Tanah
longsor ini dapat dan telah menyebabkan kerusakan yang semakin parah pada jalan, rumah,
dan prasarana karena gerakan tanah, banjir, dan tumbukan bebatuan.
Tidak adanya kerugian terhadap manajemen sampah dan pembuangan puing telah
diantisipasi, kecuali volume sampah yang harus dibuang meningkatkan kebutuhan akan
perlunya tambahan kapasitas pembuangan sampah atau lahan yang digunakan untuk tempat
pembuangan puing adalah lahan produktif.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 67

Masalah Utama
Masalah-masalah utama yang terkait dengan manajemen puing dan sampah antara lain
ialah: a) diteruskannya pelayanan pengangkutan sampah di Bantul, yang terhenti karena
gempa bumi; b) dampak potensial terhadap sanitasi di desa-desa karena bertambahnya
permintaan akan pembuangan sampah setelah mendapatkan bantuan; c) keamanan
penduduk desa dan pekerja-pekerja yang terlibat dalam pekerjaan pembongkaran; d) dampak
potensial terhadap lingkungan karena pembuangan puing di tempat pembuangan sampah
darurat yang tidak layak; dan e) risiko-risiko yang bisa terjadi karena limbah yang berbahaya
(misalnya: semakin banyaknya volume limbah medis dari fasilitas-fasilitas perawatan yang
sudah ada maupun yang baru dan dari industri-industri yang memiliki sarana pengolahan
limbah yang rusak). Untuk rekonstruksi, masalah yang tercakup: a) memaksimumkan
pemulihan sumber daya untuk membangun kembali guna menurunkan biaya dan
menurunkan dampak terhadap lingkungan; b) memastikan bahwa standar bangunan yang
tahan bencana dikembangkan dan ditegakkan sebagai bagian dari upaya rekonstruksi; dan c)
menerapkan prinsip-prinsip perancangan yang ramah lingkungan selama rekonstruksi
(misalnya: untuk perencanaan ruang, konstruksi bangunan, penyediaan energi, air, dan
sanitasi).

Rekomendasi Awal
Rekomendasi awal untuk dimensi lingkungan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi
mencakup:
ƒ Penilaian yang lebih mendalam terhadap daerah-daerah kunci yang terkena dampak
terbesar. Untuk puing, ini mencakup: memperbarui perkiraan puing yang harus
dibuang, evaluasi lingkungan terhadap puing di tempat-tempat pembuangan di setiap
kecamatan, perlu dipercepatnya perencanaan fasilitas baru dan penilaian opsi untuk
daur ulang/pemrosesan puing gempa bumi lebih lanjut dan menerapkan program-
program untuk meminimumkan sampah yang harus dibuang.
ƒ Melakukan penilaian terhadap manajemen limbah berbahaya dan mengembangkan
rencana kerja untuk manajemen limbah secara lebih umum.
ƒ Mengembangkan dan menerapkan pedoman-pedoman pembangunan kembali yang
“hijau” demi proses rekonstruksi yang meminimalisasi dampak lingkungan minimal
dan penggunaan sumber daya alami yang langka. Pedoman-pedoman ini
dikembangkan oleh WWF untuk proses pemulihan di Aceh dan Nias.
ƒ Merancang dan menegakkan standar bangunan tahan gempa untuk tempat tinggal
baru berlantai satu serta untuk memperbaiki struktur-struktur yang rusak.
ƒ Mempertimbangkan mekanisme untuk fasilitasi penggunaan bahan-bahan bangunan
yang terbarukan, seperti konsep yang diajukan oleh GTZ di Aceh untuk
menyediakan fasilitas yang mendistribusikan bahan-bahan bangunan yang ramah
lingkungan beserta peralatan, sarana transportasi dan bantuan teknis mengenai
konstruksi tahan gempa.
ƒ Menilai dampak gempa bumi terhadap pelayanan lingkungan hidup, khususnya
sistem air tanah.
68 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

ƒ Mengembangkan dan mengimplementasikan rencana dan sistem kesiapan


menghadapi bencana bagi kawasan yang berisiko.

ADMINISTRASI PUBLIK

Ikhtisar
Total kerusakan dan kerugian terhadap struktur kepemerintahan dan administrasi
publik di Provinsi DIY dan Provinsi Jawa Tengah diperkirakan mencapai Rp 137,0
miliar. Angka ini berdasarkan atas pengamatan awal di 10 kabupaten dan mencerminkan
perkiraan kerusakan dan kerugian pada bangunan, peralatan, personel, dan arsip masyarakat.
Tantangan yang langsung dihadapi adalah cara untuk memulihkan fungsi-fungsi dasar
administrasi publik, memperkuat kapasitas pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, dan
kecamatan) untuk menangani erupsi gunung berapi yang bisa terjadi dan untuk
mengorganisasi bantuan kemanusiaan dan kegiatan rekonstruksi.

Kondisi Sebelum Bencana


Struktur-struktur administrasi publik di Yogyakarta dan Jawa Tengah relatif baik.
Masalah-masalah utamanya antara lain ialah tantangan-tantangan nasional seperti korupsi,
kurangnya kapasitas kelembagaan, pemberian pelayanan publik yang tidak efisien, kurangnya
sumber daya finansial, dan hubungan yang tidak jelas antara unit administratif regional dan
unit administratif pusat.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Setelah bencana pada tanggal 27 Mei 2006, total kerusakan terhadap bangunan
diperkirakan berjumlah Rp 128,7 miliar, nilai kerusakan di kabupaten Klaten adalah
60% nilai kerusakan total tersebut. Nilai penggantian peralatan yang hilang diperkirakan
mencapai Rp 6,4 miliar. Kerusakan tambahan, berjumlah Rp 1,9 miliar, mencakup biaya
penggantian arsip masyarakat yang rusak dan biaya yang terkait dengan kematian atau
cederanya personel.

Tabel 27: Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian di Sektor Administrasi Publik


Dampak, Miliar Rp Kepemilikan, Miliar Rp
Kerusakan Kerugian Total Swasta Negeri
Bangunan 128,7 128,7 128,7
Peralatan 6,4 6,4 6,4
Personel 0,1 0,1 0,1
Arsip Masyarakat 1,7 1,7 1,7
Total 137,0 0,0 137,0 0,0 137,0
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 69

Prasarana yang rusak dan keterlibatan langsung staf dalam upaya bantuan
kemanusiaan mempengaruhi berjalannya administrasi publik di Yogyakarta dan
Jawa Tengah. Akan tetapi, hukum dan ketertiban dapat dipulihkan dengan cepat.
Kehadiran polisi terlihat di lapangan dan hirarki komando pulih secara bertahap. Pelayanan
penyidikan, penuntutan dan pengadilan dihentikan untuk sementara hingga jangka waktu
yang bervariasi, tergantung pada tingkat kerusakan prasarana tersebut.
Kelompok masyarakat terum menderita dari buruknya akses ke pejabat kabupaten
dan kecamatan (untuk melakukan penilaian kebutuhan dan kerusakan atau memperoleh
informasi tentang status intervensi pemerintah untuk pemulihan dan rehabilitasi). LSM-LSM
dan kelompok-kelompok amal menyediakan bantuan kemanusiaan dan informasi dasar.
Pelayanan utama pemerintah seperti penyediaan air, saluran air, dan listrik tetap berfungsi
meski ada masalah-masalah di pusat daerah bencana.

Rekomendasi Awal
Berdasarkan penilaian awal dan parsial ini, rekomendasi yang dapat diberikan:
ƒ Memulihkan fungsi-fungsi ketertiban dan keamanan masyarakat kembali ke kondisi
pra-gempa.
ƒ merampungkan penghitungan yang cermat mengenai kerusakan dan perkiraan biaya
“saat itu”.
ƒ Merancang rencana darurat yang efektif untuk menghadapi kemungkinan letusan
gunung berapi (hindari kekeliruan seperti di Aceh dan setelah gempa bumi).
ƒ Melanjutkan fungsi-fungsi inti kepemerintahan di bangunan-bangunan yang bisa
digunakan.
ƒ Mengorganisasi pengumpulan dokumen-dokumen penting pemerintah yang masih
belum tersimpan dengan baik.
ƒ Memastikan bahwa skema pemberian kompensasi oleh pemerintah dipahami dengan
baik.
ƒ Membuat mekanisme yang transparan untuk mengelola dana yang terkait dengan
bantuan kemanusiaan.
ƒ Mengkoordinasi upaya bantuan kemanusiaan dari donor-donor besar dan fasilitasi
pengalokasian dana-dana tersebut di berbagai jenjang kepemerintahan.
70 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

SEKTOR KEUANGAN

Ikhtisar
Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di
Yogyakarta dan Jawa Tengah telah terkena dampak yang parah tetapi bencana ini
kemungkinan besar tidak berdampak signifikan terhadap sektor perbankan di
tingkat nasional. Hampir setengah pinjaman BPD Yogyakarta – atau sekitar Rp465 miliar –
bisa tidak tertagih dan rasio kecukupan modal (CAR) BPD bisa berkurang hingga minus
115%. Enam puluh dari 65 BPR provinsi DIY telah melaporkan kerugian dari pinjaman dan
memerlukan dukungan likuiditas, yang habis untuk pembayaran kembali pinjaman dan upaya
para deposan menarik dana mereka.
Pasar kredit berperan penting dalam proses rehabilitasi dan restrukturisasi. Bank-
bank hendaknya mengulurkan dukungan untuk membangkitkan kembali kegiatan ekonomi di
daerah bencana. Bank Indonesia (BI), pemerintah, dan bank-bank harus berupaya memenuhi
kebutuhan yang timbul tanpa harus menghapus regulasi dan operasi perbankan yang tepat.
Kerusakan yang diderita oleh Lembaga Keuangan Non-Bank (LKNB) akan
mempengaruhi kebangkitan perusahaan tetapi kecil peran absolutnya. Peranan
LKNB di daerah bencana kecil. Aset gabungan modal ventura, pegadaian, dan koperasi
adalah Rp2,3 triliun, atau sekitar 16% aset sistem keuangan regional.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 71

Kondisi Sebelum Bencana


Aset total sektor perbankan di Yogyakarta pada akhir bulan Maret 2006 mencapai Rp
13,6 triliun, atau sekitar 1% total aset sistem perbankan nasional. Di Provinsi DIY, 25
bank komersial, termasuk 20 bank swasta telah menyelenggarakan operasi perbankan melalui
41 cabang dan 100 cabang pembantu. Selain itu, 65 BPR memiliki peran penting di beberapa
kabupaten yang terkena dampak bencana dengan memberikan dukungan kredit mikro. Pada
akhir bulan Maret 2006, data BI menunjukkan bahwa pinjaman bank komersial dan bank
desa yang beroperasi di provinsi DIY Yogyakarta masing-masing adalah Rp5,9 triliun dan
Rp0,8 triliun, atau 1% total pinjaman sektor perbankan Indonesia. Dari jumlah ini, pinjaman
mikro, kecil, dan menengah (masing-masing kurang dari Rp 500 juta) adalah sebanyak Rp5,2
triliun atau 80%, menunjukkan kemungkinan adanya jumlah rekening pinjaman yang banyak.
Daerah yang terkena dampak terparah adalah Bantul, dengan pinjaman Rp0,6 triliun, sekitar
8,6% dari kredit sistem perbankan di daerah Yogyakarta. Di kabupaten Klaten (Jawa
Tengah), jumlah pinjaman adalah Rp800 miliar, yang disalurkan melalui 22 bank komersial.

Perkiraan Kerusakan dan Kerugian


Total kerusakan dan kerugian yang diderita oleh bank-bank dan LKNB diperkirakan sebesar
Rp1.998 miliar.39

39
Untuk menghindari pencatatan ganda, jumlah total kerugian sektor perbankan dan keuangan tidak akan
disertakan dalam jumlah total kerugian daerah bencana.
72 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Tabel 28: Kerusakan dan Kerugian Sektor Keuangan di Yogyakarta-Jawa Tengah (dalam
Miliar Rp)
Provinsi
Total
Yogyakarta Klaten
Perbankan 1.250 316 1.566
Prasarana (bangunan, dll.) 37 10 47
Kerugian Pinjaman 1.213 306 1.519
LKNB 196 41 237
Prasarana (bangunan, dll.) 6 3 9
Kerugian Pinjaman/Aset 190 38 228
Sektor Asuransi
Kerugian 147 48 195
Dampak Total 1.593 405 1.998
Kerusakan 48
Kerugian 1.958
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

Dalam waktu tiga hari setelah bencana, kegiatan perbankan telah kembali normal.
Sebuah cabang Bank BTN (bank perumahan rakyat yang dimiliki negara) kembali beroperasi
setelah satu minggu, dan beberapa bank melaporkan sebagian kecil ATMnya masih belum
berfungsi karena padamnya listrik.
Bencana ini akan menurunkan kesanggupan para debitor untuk mengembalikan
utang, dan karena itu akan berdampak buruk pada tingkat non-performing loans
(NPL) bank. BI memperkirakan kerugian potensial bisa mencapai Rp 1,2 triliun atau 18%
total pinjaman di Yogyakarta dan Rp 300 miliar atau 30% pinjaman di Klaten karena 58.500
peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman
Perkiraan kerugian potensial pinjaman mereka. NPL di Yogyakarta akan meningkat
bisa memburuk jika sektor riil daerah dari 2% menjadi 6%. Namun, karena jumlah
bencana tidak pulih dan jika lembaga pinjaman ini tergolong kecil dalam portfolio
keuangan terus mendapat kesulitan pinjaman nasional, dampak bencana ini
untuk mendapat pembayaran pinjaman terhadap kinerja sektor perbankan secara
dari perusahaan yang terkenan bencana keseluruhan dan bank-bank nasional
dan debitor lain. Satu faktor yang diperkirakan minimal. Selain itu, bank-bank
penting adalah tanggapan perusahaan yang terkena dampak tampaknya telah
asuransi terhadap klaim asuransi membuat pengaturan dalam neraca mereka
sejumlah kecil perusahaan: kebanyakan untuk mengantisipasi kerugian pinjaman.
penjamin kemungkinan besar akan
menggolongkan gempa bumi sebagai Beberapa bank lokal akan menderita,
force majeure dan mungkin akan khususnya bank yang dimiliki daerah dan
menolak mengganti kerugian. beroperasi di daerah seperti BPD dan BPR.
Kerugian potensial terbesar akan dipikul oleh
BPD, yang menurut estimasi menunjukkan akan ada Rp 464 miliar NPL baru. Bank BRI
telah memperkirakan jumlah potensial kerugian pinjaman adalah sebesar Rp 175 miliar. Di
antara bank-bank komersial swasta, Bank Bukopin melaporkan kerugian potensial yang
terbesar, sekitar Rp127 miliar. Selain itu, 60 di antara 65 BPR telah melaporkan peningkatan
gabungan dalam NPL sebesar Rp133 miliar, atau 16% portfolio pinjaman total mereka.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 73

Prasarana perbankan mengalami kerusakan yang terbatas. Informasi mengenai


nasabah tidak hilang.40 Beberapa kantor cabang, ATM, alat telekomunikasi, dan peralatan lain
telah rusak, tetapi kebanyakan bank telah memulihkan prasarana penting mereka. Beberapa
bank melaporkan kerusakan fasilitas mereka, termasuk: Bank BRI 3 cabang di Yogyakarta, 2
cabang di Klaten, dan 30 unit pembiayaan mikro BRI di seluruh daerah itu), Bank Mandiri (4
dari 73 ATM), BPR (7 rusak total dan 53 rusak ringan hingga sedang), dan Bank BPD
Yogyakarta (9 cabang pembantu dan beberapa kantor kas hancur).

Tabel 29: LKNB di Provinsi DIY, Operasi dan Kerugian


LKNB di Yogyakarta # kena Potensi Kerugian Volume Bisnis %
dampak Pra-Bencana kerugian
Modal Ventura: Sarana Jogya 55 debitor Rp10,3 miliar kerugian Rp255 miliar 5
Ventura (Swasta) pinjaman
Pegadaian
a. 16 cabang Perum Pegadaian di 559 debitor Rp2,38 miliar kerugian Rp650 miliar 0,3
Yogyakarta dan 5 kantor pinjaman dan
kerusakan bangunan
senilai Rp550 miliar
b. 6 cabang Perum Pegadaian di 393 debitor Rp2 miliar kerugian Rp65 miliar 3
Klaten dan 4 kantor pinjaman dan
kerusakan gedung
senilai Rp1,2 miliar
1.968 Koperasi Primer yang mapan 58.700 Rp14 miliar kerugian Rp710 miliar 7
dengan 580.486 anggota yang anggota dan dana dan kantor yang
terdaftar 100 kantor rusak senilai Rp 4,3
miliar
1.785 unit keuangan mikro yang N.A. Diperkirakan 10% N.A.
terdaftar di Yogyakarta, yang terdiri PDBR keuangan di
dari: Yogyakarta atau
a. 75 LDKP; sekitar Rp 160 miliar
b. 42 BMT;
c. 1.630 BKD;
d. 38 persatuan kredir
Perusahaan Leasing & Pembiayaan:
1. Astra Credit Company (Mobil) 1.099 Rp592 juta Rp189 miliar 0,04
dari 3.429 klien
2. FIF (Sepeda Motor) 1.769 Rp412 juta Rp129 miliar 0,3
dari 21.182
klien
3. Kredit Plus (pembiayaan pribadi) 112 Rp312 juta Rp3,2 miliar 10
dari 1.496 klien
Ikhtisar Rp190 miliar kerugian & Rp6 miliar nilai kerusakan gedung dan
fasilitas.
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

40
Tidak seperti daerah yang terkena Tsunami.
74 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Perkiraan dampak gabungan Seluruh kerusakan prasarana dan fasilitas


terhadap sektor perbankan perbankan dapat mencapai Rp 37 miliar. Estimasi
adalah sekitar Rp 1.566 miliar.awal dari bank-bank yang terkena dampak (BPD, Bank
Mandiri dan Bank BRI) menunjukkan bahwa nilai total
kerusakan fisik dapat mencapai Rp15 miliar. BPD melaporkan Rp5 miliar, Bank Mandiri Rp2
miliar, dan Bank BRI 7,5 miliar. Sepuluh cabang bank komersial lainnya telah melaporkan
adanya kerusakan.
Estimasi awal kerusakan dan kerugian di Sektor Keuangan Non-Bank adalah
sejumlah Rp 190 miliar.41 Ini khususnya terdiri dari kerugian pinjaman mikro 1.785
lembaga keuangan mikro yang terdaftar di Yogyakarta. LKNB lainnya telah melaporkan
potensi kerugian sebesar Rp50 miliar yang terdiri dari Rp45 miliar nilai kerugian usaha
(pinjaman) dan Rp6 miliar nilai kerusakan kantor dan fasilitas bangunan.
Kerugian asuransi bisa bertambah menjadi sekitar Rp 195 miliar, tetapi bertambah
seiring dengan semakin banyak klaim yang diketahui. Berdasarkan estimasi awal yang
tersedia, jumlah paparan asuransi non-asuransi jiwa di daerah bencana diperkirakan Rp 4,2
triliun. Dari jumlah tersebut, 25% dijamin lagi oleh P.T. Maipark, dan diperkirakan bahwa
10% tercatat di pembukuan perusahaan asuransi itu, dan sisanya dijamin lagi di luar negeri.
Diperkirakan, PT. Mairpark menderita kerugian sekitar 10%.

Rekomendasi Awal
Langkah Selanjutnya, Penyaluran Keuangan dan Pengerahan Sumber Saya
(Financial Intermediation and Resource Mobilization/FIRM) penting untuk
rehabilitasi dan rekonstruksi. Kegagalan atau penundaan disisi sistem finansial sebagai
penyalur yang efektif yang dapat berperan untuk kebangkitan ekonomi bisa meningkatkan
kerugian secara signifikan. Pada waktu yang sama, pasar kredit hendaknya tidak terdistorsi,
yang disebabkan oleh kurangnya semangat untuk mengejar NPL atau dengan memicu moral
hazard sebelum waktunya. Pemerintah bisa mempertimbangkan berbagai skema yang
berkisar dari sekadar menjadi penengah sampai menyediakan program pinjaman baru
dengan unsur-unsur subsidi demi menjaga agar biaya penyaluran keuangan tetap rendah.
Rekomendasi yang spesifik meliputi:
ƒ Mendukung pemulihan sektor riil dan penyelesaian masalah NPL: NPL
potensial hendaknya diperlakukan sebagai masalah komersial, dan perlu dicari solusi
yang realistis untuk menghindari moral hazard, tanpa memperparah kendala yang
dihadapi sektor swasta.
ƒ Menerapkan kebijakan dan regulasi yang akomodatif: Regulasi mengenai NPL
bisa diperlunak, agar pinjaman-pinjaman bisa direstrukturisasi dan memungkinkan
para peminjam dan bank-bank bernapas lega dalam proses pemulihan.
ƒ Dukungan tidak langsung melalui penggantian jaminan: Penggantian jaminan
atau skema jaminan kredit bisa meringankan kendala pasar kredit yang dihadapi oleh

41
Walaupun datanya terbatas dan tidak konsisten.
Bagian II. Perkiraan Kerusakan dan Kerugian 75

UKM yang tidak dapat menyediakan jaminan, dan pada waktu yang sama,
memungkinkan bank berfungsi dengan cara yang bijak.
ƒ Memperkuat lembaga keuangan non-bank: Lembaga modal ventura lokal,
perusahaan leasing, dan lembaga keuangan mikro lainnya perlu diperkuat dan
didukung agar mereka bisa memenuhi kesenjangan pendanaan.
76 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian
Bagian III. Dampak Ekonomi dan Sosial 77

corbis/Mast Irham

Bagian III.
Dampak Ekonomi dan Sosial
78 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Bab ini membahas dampak gempa bumi yang luas terhadap mata pencaharian
masyarakat di sekitar daerah Yogyakarta. Bab ini menganalisis dampak gempa bumi
terhadap perekonomian daerah, keuangan pemerintah daerah, dan lapangan kerja, demikian
juga akibatnya bagi kemiskinan dan kehidupan masyarakat yang terkena dampak langsung
gempa bumi.

DAMPAK TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN

Dari sudut pandang nasional, kerugian kegiatan ekonomi di daerah terkena dampak
mungkin hanya memiliki efek yang kecil. Sebelum gempa bumi ke-11 kabupaten/kota
yang terkena dampak menyumbangkan sekitar 2.2% kepada PDB nasional dan, dari
semuanya lima mengalami kerusakan dan kerugian yang rendah. Dua kabupaten yang terkena
dampak paling parah adalah kabupaten Bantul dan Klaten, menyumbang sekitar 0.4% dari
PDB nasional. Dampak utama terhadap perekonomian nasional kemungkinan berasal dari
biaya upaya rekonstruksi dan implikasinya terhadap keuangan Pemerintah pusat.
Perkiraan kerugian nilai tambah di daerah terkena dampak sebesar 5.6% dari
keseluruhan PDRB mereka. Dengan angka pertumbuhan yang diramalkan sebesar 5.5%,
pertumbuhan perekonomian netto di daerah terkena dampak diharapkan turun sekitar 1.3%
pada tahun 2006 dan 4.2% pada tahun 2007 (perubahan relatif dengan proyeksi PDRB
sebelum gempa sebesar -4.2% untuk tahun 2006 dan -1.3% untuk tahun 2007). Berdasarkan
perkiraan laporan kerugian ekonomi, PDRB yang diperkirakan untuk tahun fiskal 2006 di
daerah tersebut (Rp 51 triliun) diperkirakan turun menjadi Rp 2.1 triliun. Hal ini tidak
signifikan pada tingkat nasional (penurunan yang diperkirakan adalah 0.1% dari PDB).
Seandainya pemulihan berjalan normal maka diperkirakan 75% kerugian total nilai tambah
akan berdampak pada tahun 2006 (kira-kira 4% dari PDRB) sementara sisa 25% akan diserap
pada tahun 2007 (kira-kira 1% dari PDRB)42 (Tabel 30).
Kinerja sektor produktif yang terkena dampak paling parah meliputi industri
manufaktur, energi, air dan sanitasi, serta jasa. Diperkirakan masing-masing turun 20%,
5%, dan 2% (tabel 31). Sektor-sektor lain berjalan lebih baik dengan perkiraan penurunan
kurang dari satu persen untuk dua tahun ke depan.
Perekonomian kabupaten Bantul diperkirakan terkena dampak gempa bumi yang
paling parah diikuti oleh Klaten dan Kulon Progo. (PDRB diperkirakan turun masing-
masing 23%, 9% dan 7% pada tahun 2006 dibandingkan dengan proyeksi sebelum gempa

42
Estimasi kerugian nilai tambah berdasarkan estimasi kerugian ekonomi (seperti dilaporkan oleh masing-
masing sektor terpisah) disusun berdasarkan faktor nilai tambah sektor khusus yang dihitung dari sebuah
matriks input-output (data terakhir tahun 2000). Kerugian ekonomi dalam sektor jasa dimasukkan dengan
memasukkan bagian sektor ini di PDRB daerah yamg terkena dampak ke dalam perkiraan kerugian sektor
perumahan.
Bagian III. Dampak Ekonomi dan Sosial 79

bumi).43 Penurunan PDRB di seluruh Yogyakarta tahun 2006 diperkirakan sekitar 6.7%,
sedangkan dampak di Jawa Tengah hanya 0.24% (Tabel 32).

Tabel 30: Proyeksi 2006 dan 2007 GRDP Nominal Kawasan Terkena Dampak Pra and Pasca
Bencana menurut Sektor (Miliar Rp)
2006 2007
Proyeksi PDRB * Proyeksi PDRB Proyeksi Proyeksi
dikurangi kerugian PDRB * PDRB
dikurangi
kerugian
Pertanian 12,556 12,369 13,246 13,184
Konstruksi 3,242 3,242 3,420 3,420
Listrik, Gas & Persediaan Air 608 575 642 631
Jasa Keuangan 3,636 3,636 3,836 3,836
Manufaktur & Jasa 8,520 6,826 8,989 8,424
Jasa-jasa 8,197 8,038 8,648 8,595
Perdagangan, Restoran & Hotel 10,199 10,125 10,760 10,735
Transportasi & Komunikasi 3,729 3,729 3,934 3,934
Total 51,200 49,055 54,016 53,301
Sumber: Komputasi yang didasarkan atas perkiraan Kerusakan dan Kerugian oleh Tim Penilai Gabungan.
* Proyeksi GRDP untuk tahun 2006 dan 2007 didasarkan atas perkiraan-perkiraan pertumbuhan nasional sebesar 5,5
persen.

Tabel 31: Dampak Potensial Ekonomi terhadap Kawasan Terkena Dampak per Sektor
Produksi (Miliar Rp)
Sektor-sektor yang terkena Bagian Kerugian Perkiraan Koefisien Penurunan Penurunan
dampak Sektor Ekonomi Kerugian Input- Persen TA Persen TA
atas dalam Output 2006 2007
Seluruh Nilai
% PDRB Tambah
Pertanian 15.8 640 2489 0.39 -1.5 -0.5
Listrik, Gas & Persediaan Air 1.5 154 44 0.28 -5.4 -1.7
Manufaktur 26.3 3,899 2,258 0.58 -19.9 -6.3
Jasa-jasa 9.3 298 212 0.71 -1.9 -0.61
Perdagangan, Restoran & Hotel 17.7 138 98 0.71 -0.7 -0.23
Transportasi & Komunikasi 6.2 0.2 0.1 0.55 0.00 0.00
Total 5,128.3 2,861.80 -- -4.2 -1.3
Sumber: Komputasi yang didasarkan atas perkiraan Kerusakan dan Kerugian oleh Tim Penilai Gabungan.

43 Pertumbuhan ekonomi netto relatif pada tahun 2005 di Bantul, Klaten and Kulon Progo, dengan asumsi

angka pertumbuhan sebesar 5.5% ( masing-masing-17.7%, -3.5%, -1.5% ). Lihat Tabel tambahan untuk rincian
mengenai metodologi yang digunakan untuk menghitung penyebaran kerugian di seluruh kabupaten.
80 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Tabel 32: Kerugian Ekonomi per Kabupaten TA 2006 & 2007 (Miliar Rp)
Kerugian 2006 2007
Ekonomi PDRB yang Proyeksi % PDRB Proyeksi %
(2006 & Diproyeksikan PDRB Perubahan yang PDRB Perubahan
2007) dikurangi Diproyek dikurangi
kerugian sikan kerugian
Bantul 1,439 4,652 3,572 -23.2 4,912 4,552 -7.3
Gunung Kidul 97 3,766 3,693 -1.9 3,977 3,953 -0.6
Kulon Progo 179 2,047 1,913 -6.5 2,162 2,117 -2.1
Sleman 340 7,404 7,149 -3.4 7,819 7,733 -1.1
Yogyakarta 122 6,552 6,461 -1.4 6,919 6,889 -0.4
Provinsi Yogyakarta 1,908 24,363 22,730 -6.7 25,727 25,183 -2.1
Klaten 684 5,715 5,202 -9.0 6,035 5,864 -2.8
Provinsi Jawa Tengah 599 215,710 215,197 -0.24 227,789 227,405 -0.17
Sumber: Komputasi yang didasarkan atas perkiraan Kerusakan dan Kerugian oleh Tim Penilai Gabungan

Penurunan kinerja perekonomian sebagian akan ditutupi dengan meningkatnya


kegiatan sektor konstruksi selama masa rekonstruksi. Namun terlalu awal untuk
memperkirakan angka tingkat rekonstruksi, karena tergantung pada ketersediaan keuangan
dan kapasitas terpasang dari sektor konstruksi. Bagaimanapun juga pertumbuhan sektor
konstruksi tidak akan cukup untuk menutupi penurunan produksi secara keseluruhan dalam
waktu singkat.

DAMPAK TERHADAP LAPANGAN KERJA

Perkiraan awal menunjukkan bahwa berkurangnya kegiatan ekonomi akan


menyebabkan hilangnya sekitar 130.000 lapangan kerja. Hal ini mewakili sekitar 4% dari
total angkatan kerja sebelum gempa bumi di daerah yang terkena gempa. Sebagai akibatnya,
Bagian III. Dampak Ekonomi dan Sosial 81

angka pengangguran diperkirakan meningkat dari 7% menjadi sekitar 11% (Tabel 33).44
Sektor jasa terkena dampak paling parah dan menyebabkan sebagian besar pekerjanya
kehilangan lapangan kerja (55%). Sektor jasa meliputi pekerja di bidang perdagangan, baik
wiraswasta atau mewakili usaha kecil dan menengah. Hampir 70.000 orang kehilangan
sumber pendapatan utama mereka. Sektor pertanian yang menyerap lebih dari 45% tenaga
kerja akan kehilangan sekitar 1,1% (17.000 pekerjaan) sebagai akibat gempa bumi. Kerusakan
sawah dan tanaman pertanian relatif sedikit. Sejumlah 730.000 orang bekerja di berbagai
industri ( terdiri dari konstruksi, pabrik, utilitas dan pertambangan) di daerah yang terkena
dampak. Di kabupaten Bantul sendiri hampir 30% pekerja yang bekerja di perusahaan
memiliki ijin menempati sektor kerajinan tangan dan sektor terkait. Karena mayoritas
perusahaan tersebut merupakan usaha kecil dan juga berfungsi sebagai rumah, maka kerugian
di sub sektor ini diperkirakan merupakan bagian besar dari kerugian yang disebabkan oleh
hilangnya lapangan kerja disektor manufaktur.
Kehilangan lapangan kerja telah berdampak pada perempuan dan laki-laki secara
merata. Sejumlah 47% dari pekerjaan yang hilang sebelumnya dipegang oleh kaum
perempuan.45 Meskipun demikian, dampak negatif dari bencana terhadap perempuan juga
termasuk peningkatan siginifikan dalam kegiatan di rumah yang tidak dibayar.
Keadaan lapangan kerja di masa yang akan datang tergantung pada evolusi upaya
rekonstruksi. Dalam jangka pendek, angka partisipasi wanita dewasa diperkirakan
meningkat karena banyak perempuan akan melakukan jenis pekerjaan apapun untuk
bertahan hidup. Program Kerja-untuk-Dana Tunai (Cash-for-Work) adalah satu cara yang
berguna untuk menciptakan pekerjaan sementara dengan cepat, menyediakan dana tunai
kepada masyarakat, dan merangsang perekonomian lokal. Pembangunan kembali prasarana
dasar dan situs-situs peninggalan budaya melalui program Kerja-untuk-Uang melalui
keterlibatan intensif buruh adalah salah satu pilihan. Perhatian tertentu harus diberikan pada
pembangunan kembali pasar-pasar dan prasarana pendukung pasar sebagai bagian penting
yang dibutuhkan masyarakat untuk memperoleh mata pencaharian dari perdagangan dan
jasa. Kontraktor lokal dengan pengetahuan yang baik mengenai buruh lokal harus dilibatkan
karena peranannya yang penting dalam kegiatan rekonstruksi. Rehabilitasi yang cepat pada
prasarana yang digunakan oleh sektor pertanian akan dijamin karena sektor tersebut
mempekerjakan bagian terbesar penduduk di yang daerah terkena dampak. Dengan
bertambahnya konstruksi perumahan maka tenaga kerja di sektor konstruksi akan meningkat
dan dengan demikian kebutuhan tindakan kompensasi jangka pendek akan berkurang.

44 Kehilangan lapangan kerja diperkirakan dengan menilai share lapangan kerja pada masing-masing kategori
pertanian, industri dan jasa di daerah terkena dampak dengan menggunakan data dari Dinas Tenaga Kerja
Transmigrasi Provinsi D.I. Yogyakarta dan BPS. Data dasar kemudian dikalikan dengan share dari daerah
terkena dampak dan angka kerusakan sektor lapangan kerja yang disusun berdasarkan laporan dari lembaga
pemerintah, pegawai di lapangan dan media. Share dari daerah terkena dampak bervasiasi dari yang rendah 0.1%
Magelang sampai yang tinggi 70% Bantul. Angka kehilangan lapanagan kerja 5%, 20%, 25% digunakan masing-
masing untuk pertanian, pabrik dan jasa.
45
Tabel ini dihitung dengan memasukkan data angkatan kerja gender tertentu dan menganggap bahwa
pekerjaan yang hilang dalam sektor-sektor tersebut tidak berkaitan dengan gender
82 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

Tabel 33: Lapangan Kerja Pra-gempa bumi dan Perkiraan Hilangnya Pekerjaan menurut
Sektor
Total Tenaga Total Lapangan Kerja /
Kerja / Perkiraan Perkiraan Persen Pekerjaan Yang Hilang Lost
Total # Hilangnya Total Lapangan Pertanian Industri Jasa
Pekerjaan Kerja
Provinsi Yogyakarta 1,648,624 1,504,342 706,172 326,442 471,727
% perkiraan hilangnya pekerjaan 60,698 4.0% 1.8% 5.4% 6.4%
Yogyakarta 233,662 201,998 3,410 52,228 146,360
4,721 2.3% 0.5% 2.0% 2.5%
Sleman 387,624 346,186 171,368 72,813 102,005
34,043 9.8% 3.5% 14.0% 17.5%
Bantul 414,794 376,740 143,668 117,878 115,194
5,956 1.6% 0.5% 2.0% 2.5%
Kulon Progo 288,623 272,591 212,478 29,779 30,334
12,082 4.4% 2.5% 10.0% 12.5%
Gunung Kidul 323,921 306,826 175,248 53,744 77,834
3,897 1.3% 0.5% 2.0% 2.5%
Provinsi Jawa Tengah 2,043,515 1,919,877 849,167 404,087 666,623
% perkiraan hilangnya pekerjaan 67,764 3.5% 0.6% 5.8% 5.9%
Purowejo 345,720 335,226 171,744 57,616 105,866
47 0.0% 0.0% 0.0% 0.0%
Magelang 631,918 593,522 318,114 80,818 194,590
81 0.0% 0.0% 0.0% 0.0%
Boyolali 495,790 464,810 223,570 100,004 141,236
332 0.1% 0.0% 0.1% 0.1%
Klaten 570,087 526,319 135,739 165,649 224,931
67,305 12.8% 3.5% 14.0% 17.5%
Total 3,692,139 3,424,219 1,555,339 730,529 1,138,350
% perkiraan hilangnya pekerjaan 128,462 3.8% 1.1% 5.6% 6.1%
Sumber: Data Sakornas dan Kalkulasi oleh ILO, Jakarta

Tabel 34: Perkiraan Hilanganya Lapangan Kerja menurut Gender


Provinsi dan Kabupaten Perkiraan Hilangnya Perkiraan Hilangnya Perempuan sebagai
Pekerjaan Laki-laki Pekerjaan Perempuan Persentase dari Total (%)
Provinsi Yogyakarta 33,346 27,352 45.1
Yogyakarta 2,554 2,166 45.9
Sleman 19,244 14,799 43.5
Bantul 3,114 2,842 47.7
Kulon Progo 6,181 5,900 48.8
Gunung Kidul 2,252 1,645 42.2
Provinsi Jawa Tengah 34,512 33,252 49.1
Purowejo 25 22 46.3
Magelang 43 38 47.0
Boyolali 181 152 45.6
Klaten 34,264 33,041 49.1
Total 67,858 60,604 47.2
Sumber: Komputasi yang didasarkan atas perkiraan Kerusakan dan Kerugian oleh Tim Penilai Gabungan
Bagian III. Dampak Ekonomi dan Sosial 83

DAMPAK TERHADAP SISTEM KEUANGAN

Dari segi keuangan, kawasan-kawasan terkena dampak tergolong miskin dan sangat
tergantung pada Dana Alokasi Umum (DAU) dari pemerintah pusat; oleh karena itu
penurunan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) diperkirakan tidak berdampak
signifikan.46 Di kabupaten-kabupaten yang terkena dampak paling parah yaitu kabupaten
Bantul dan Klaten, PAD hanya 6% dan 4% persen dari total masing-masing pendapatan
mereka. Bagi hasil diluar pajak (dari sumber daya alam) merupakan bagian yang paling
diabaikan di semua kabupaen (kurang dari 0.1% dari total pendapatan), sementara bagi hasil
pajak menunjukkan 4% dari total pendapatan di sebagian besar daerah yang terkena dampak
(dengan pengecualian Yogyakarta dan Sleman). Jika pendapatan turun sebanding dengan
PDRB maka kabupaten-kabupaten yang terkena dampak akan mengalami penurunan
pendapatan sekitar Rp 16 triliun pada tahun 2006 dan Rp 4 triliun pada tahun 2007.

Table 35: Perkiraan Kerugian Pendapatan Publik Untuk Kabupaten/Kota Yang Terkena
Bencana di Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah (Miliar Rp)
Kabupaten/Kota 2006 2007
Proyeksi Simulasi % Proyeksi Simulasi %
PAD dan penurunan Perubahan PAD dan penurunan Perubahan
Bagi Hasil pendapatan Bagi Hasil pendapatan
Pajak Pajak
Kulon Progo 35 -2.3 -6.5 37 -0.7 -2.1
Gunung Kidul 38 -0.7 -1.9 40 -0.2 -0.6
Sleman 107 -3.7 -3.4 112 -1.2 -1.1
Bantul 55 -12.8 -23 58 -4.0 -7.3
Yogyakarta 130 -1.8 -1.4 136 -0.6 -0.4
Klaten 28 -2.5 9.0 30 -0.8 2.8
Total (6 districts) 393 -24 -6.1 413 -7.5 -1.8
Sumber: data Depkeu, komputasi Tim Penilai Gabungan

DAMPAK TERHADAP MATA PENCAHARIAN

Laporan kualitatif menunjukkan bahwa tingkat trauma tinggi di daerah yang terkena
dampak parah. Anak-anak menunjukkan reaksi stres yang kuat; masalah dengan tidur,
perasaan takut, gampang menangis, dan menderita demam. Orang dewasa mengeluh sakit
kepala dan perut, flu, dan pilek biasa. Stres meningkat karena aktivitas gunung Merapi.
Sementara kelompok masyarakat tertentu melakukan pembersihan yang teratur terhadap
puing-puing, dll, di tempat lain banyak orang takut untuk mulai memperbaiki rumah mereka
atau pergi bekerja, khususnya di lahan pertanian. Walaupun semua yang terlibat di daerah

46
Untuk ilustrasi, transfer Dana Alokasi Umum (DAU) sebanyak 93 persen dari total pendapatan G. Kidul
(tabel 4).
84 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian

terkena dampak setuju akan perlunya rencana rekonstruksi berbasis masyarakat, namun
dibutuhkan beberapa waktu sebelum penduduk siap terlibat dalam kegiatan perencanaan.
Walaupun angka kerusakan perumahan tinggi namun masyarakat cenderung untuk
tinggal di dekat rumah mereka. Survei kilat menemukan bahwa 74% keluarga yang
rumahnya hancur total, tinggal di tenda di depan rumah mereka. Dalam keadaan seperti ini,
menjamin pemulihan air dan sanitasi sederhana dengan cepat di daerah terkena dampak
adalah kebutuhan yang mutlak. Beberapa desa melaporkan bahwa kualitas air telah menurun
meskipun persediaan air masih utuh. Kebutuhan perempuan dewasa dan anak-anak
perempuan akan pakaian dalam, pembalut, dan peralatan memasak terus meningkat. Fasilitas
dasar untuk menjamin privasi merupakan perhatian khusus bagi kaum perempuan terutama
bagi yang sedang menstruasi. Beberapa LSM telah menunjukkan kepedulian mereka terhadap
risiko pelecehan anak-anak yang tidak diawasi. Contohnya seorang anak laki-laki
menunjukkan ”rasa bangga mampu mengumpulkan Rp 100.000 hanya di sepanjang jalan” ,
sebuah situasi yang rawan baginya.
Terbukti bahwa gempa bumi telah menghantam kaum miskin lebih keras. Di sebuah
survei kilat 42% keluarga yang dipimpin oleh seseorang yang hanya berpendidikan sekolah
dasar melaporkan rumah yang hancur. Untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi sekitar
31%. Akan tetapi tidak ada hubungan antara penerimaan Bantuan Langsung Tunai (BLT)
dan kerusakan rumah. Banyak orang miskin hidup di rumah bambu atau kayu daripada di
rumah beton, yang lebih tahan terhadap gerakan gempa bumi. Sementara itu 40% dari
rumah-rumah dengan dinding beton dilaporkan hancur total dan hanya 16% rumah dari
bambu dan kayu dilaporkan rusak.
Gempa bumi diperkirakan telah memiskinkan 67.000 keluarga dan meningkatkan
angka kemiskinan sebesar 1,6% di daerah terkena dampak. Untuk menilai dampak
terhadap kemiskinan maka digunakan data dasar kemiskinan dan data kerusakan perumahan
dan kehidupan di tingkat kecamatan

Tabel 36: Distribusi Indikator Pilihan lintas Rumah Tangga menurut Parahnya Kerusakan
Tdk Ada Sedikit Rusak Hancur Jumlah
Kerusakan Rusak Berat (%) (%)
(%) (%) (%)
BLT Diterima
Transfer Tunai Diterima (439 rumah tangga) 5.2 32.4 26.2 36.2 100
Transfer Tunai Tidak Diterima (1125 rumah tangga) 8.1 28.3 28.4 34.7 100
Pendidikan Kepala Rumah Tangga
Sekolah Dasar atau kurang (814 rumah tangga) 6 28.3 23.0 42.6 100
SMP (284 rumah tangga) 9.9 26.4 30.3 32.8 100
SMA atau lebih (542 rumah tangga) 9.6 28.4 31.6 30.7 100
Total 7.8 28.6 26.7 36.5 100
Sumber: Tabulasi dari survei yang diadakan oleh UGM pada tanggal 6 Juni 2006
Bagian III. Dampak Ekonomi dan Sosial 85

Tabel 37: Perkiraan Dampak terhadap Kemiskinan menurut Kabupaten


Provinsi Kabupaten Simulasi kenaikan jumlah Simulasi kenaikan titik persen
rumah tangga miskin dalam persentase orang miskin (%)
Yogyakarta Kulon Progo 3,050 1.00
Yogyakarta Yogyakarta 3,890 1.40
Yogyakarta Gunung Kidul 6,706 1.20
Yogyakarta Sleman 14,462 1.60
Yogyakarta Bantul 24,020 3.30
Jawa Tengah Klaten 14,664 1.90
Total 66,792 1.60
Sumber: Komputasi oleh Tim Penilai Gabungan

KERAWANAN DAN MITIGASI BENCANA

Diperlukan adanya intervensi awal yang berfokus pada dukungan mata pencaharian
dan rekonstruksi perumahan dalam rangka mengurangi peningkatan kemiskinan
dan kerawanan terhadap bencana. Banyak rumah tangga miskin yang telah kehilangan
sumber pendapatan utama ketika usaha mereka, yang sering memanfaatkan rumah mereka
sendiri, hancur. Tidak hanya tingkat kerawanan jangka pendek yang meningkat, tapi juga
sangat tidak mungkin bagi mereka untuk membangun kembali perumahan yang aman tanpa
dukungan serius. Survei awal tentang masyarakat yang dilakukan oleh LSM menunjukkan
bahwa anggota masyarakat tidak mampu membeli bahan bangunan berkualitas atau tidak
memiliki keahlian profesional untuk membangun perumahan yang tahan gempa. Mendorong
mulainya rekonstruksi perumahan, yang dikombinasikan dengan program penyediaan dana
tunai bagi rumah tangga yang terkena dampak bencana (melalui program Kerja-untuk-Dana
Tunai /Cash-for-Work, atau pemberian dana tunai/cash transfers), dapat memberi rumah tangga
kemampuan berjuang untuk hidup, sehingga dapat berfokus untuk membangun kembali
mata pencaharian mereka.
86 Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian
87

corbis/Mast Irham

Lampiran
ANNEX: DATA DAN METODOLOGI1

Perumahan
Data:
• Data yang digunakan untuk semua tabel disediakan oleh Yogyakarta media centre per 6 Juni
2006 pukul 18.00. Data ini dikurangi 10% berdasarkan pemantauan kunjungan lapangan,
diskusi dengan pegawai di lapangan dan pihak-pihak penerima bantuan
• Data sensus terakhir termasuk data perumahan merupakan hasil Survei Podes tahun 2003.
• Semua data yang berkaitan dengan ukuran, harga rumah dan yang lainnya berdasarkan
wawancara di lapangan dan diskusi dengan pemerintah daerah dan pejabat provinsi.
• Jumlah keluarga dan rumah di Sukaharjo dan Wonogiri diperkirakan hanya dengan memakai
data kependudukan karena tidak ada data yang tersedia dari Podes-2003.

Asumsi:
• Rata-rata ukuran rumah sekitar 9 x 6 m (54 meter persegi (m2)) memiliki 3 sampai 4 ruangan,
1 ruang keluarga, 1 toilet dan 1 dapur. Tipe rumah berlantai tanah atau atap seng/bambu,
batu bata, 8-9 mm balok baja, lantai semen, toilet sederhana dengan jamban.
• Biaya pembangunan berdasarkan biaya konstruksi di Indonesia saat ini, biaya tersebut
dihitung sekitar Rp 1,2 juta/m2, kurang 15% untuk bahan daur ulang.
• Peralatan rumah tangga terdiri dari TV, alat memasak nasi, tape recorder, blender, alat setrika
dan kulkas kecil. Unit yang rusak total, 60% diperkirakan hilang karena gempa bumi; untuk
unit yang rusak sebagian, 35% diangggap hilang.
• Biaya mebel terdiri dari kamar tidur sederhana dengan tempat tidur, lemari pakaian dan meja
kecil ditambah sofa ruang keluarga, meja dan lemari. Semuanya diperkirakan sebesar Rp
4.320.000 dengan pembagian kerugian seperti tertera diatas.
• Kerugian pakaian dan dan persediaan bahan makanan diperkirakan Rp 333.000 dengan
pembagian kerugian seperti tertera di atas.
• Bahan dan buruh untuk pemasangan tempat tinggal sementara ditambah penyelamatan
bahan diperkirakan sebesar Rp 225.000.
• Biaya rehabilitasi/perbaikan diperkirakan 50% dari biaya pembangunan kembali atau Rp
500.000 m2.

1
Kurs Tukar 1 US$ = Rp 9.300.-
Tabel A.1: Ringkasan Kerusakan dan Kerugian Perumahan

Kabupaten Dampak Fisik Penilaian Dampak


Stok Hancur Rusak Rusak Hancur Rusak % Stok % Stok Biaya Kerugian Biaya Kerugian Keseluruhan
Rumah Total Parah Ringan Total Disesuaikan Rumah Rumah Pembangunan pada Pembangunan pada Total
2003 Disesuaikan yang yang Kembali Unit- Kembali Unit- Kerusakan
Hancur Rusak untuk Unit- unit untuk Unit- unit & Kerugian
unit yang yang unit yang yang
Hancur Total Hancur Rusak Rusak
Total
(Juta Rp) (Juta Rp) (Juta Rp) (Juta Rp) (Juta Rp)
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13]
Bantul 181,991 26,045 29,582 24,262 46,753 33,137 25.69 18.21 2,524,639 243,140 894,694 100,526 3,762,999
Klaten 280,513 27,270 55,112 84,283 65,849 100,817 23.47 35.94 3,555,829 342,450 2,722,057 305,844 6,926,180
Gn. Kidul 158,570 11,323 5,355 16,360 15,071 17,967 9.50 11.33 813,856 78,380 485,101 54,505 1,431,841
Sleman 196,965 4,719 14,403 29,910 14,801 34,231 7.51 17.38 799,232 76,971 924,224 103,844 1,904,271
Yogya 78,079 1,948 4,119 2,355 4,831 3,591 6.19 4.60 260,880 25,124 96,959 10,894 393,858
Kulon Progo 87,940 3,485 4,726 7,999 6,793 9,417 7.72 10.71 366,818 35,327 254,258 28,568 684,971
Sukoharjo 214,463 46 1,627 - 1,185 488 0.55 0.23 63,987 6,162 13,180 1,481 84,810
Wonogiri 261,044 15 11 67 23 70 0.01 0.03 1,234 119 1,886 212 3,451
Boyolali 219,537 276 626 637 715 825 0.33 0.38 38,598 3,717 22,278 2,503 67,097
Magelang 260,391 179 456 592 499 729 0.19 0.28 26,920 2,593 19,685 2,212 51,409
Purworejo 177,882 9 193 702 144 760 0.08 0.43 7,766 748 20,514 2,305 31,333
Total 2,117,375 75,315 116,211 167,168 156,662 202,031 7.40% 9.54% 8,459,758 814,731 5,454,837 612,893 15,342,220

Catatan
[1] Sumber: Data Sensus Nasional (Podes 2003)
[2] [3] [4] Laporan Pusat Media Yogyakarta, 7 Juni 2006
[5] Asumsi 70% dari unit-unit yang rusak parah perlu diruntuhkan dan kemudian dibangun kembali
[6] Asumsi 30% dari unit-unit yang rusak parah dapat direhabilitasi dan/atau diperbaiki.
[7] Adalah rasio antara kolom [5] dan [1].
[8] Adalah rasio antara [6] dan [1].
[9] Asumsi rata-rata ukuran rumah adalah 54 m2. dan biaya pembangunan kembali mencapai sekitar Rp 54 juta/rumah.
[10] Asumsi 60 % dari aset yang ada sebelum gempa (alat-alat rumah tangga, peralatan dapur, pakaian, perabotan, dan bahan makanan) dan biaya pernaungan sementara, hilang.
[11] Asumsi rata-rata ukuran rumah adalah 54 m2 dan biaya perbaikannya mencapai sekitar Rp 27 juta/rumah.
[12] Asumsi 35 % dari aset yang ada sebelum gempa (alat-alat rumah tangga, peralatan dapur, pakaian, perabotan, dan bahan makanan) dan biaya pernaungan sementara, hilang
Prasarana
TRANSPORTASI DAN TELEKOMUNIKASI

Jalan, Rel Kereta Api, Penerbangan and Telekomunikasi

Data
Perkiraan kerusakan jalan (nasional, provinsi dan kabupaten) di provinsi Yogyakarta dilakukan oleh
Kimpraswil DI Yogya dan disetujui saat rapat di kantor Bappeda provinsi Yogyakarta pada hari
Selasa malam, 6 Juni 2006. Informasi pembiayaan yang terperinci dan foto-foto pendukung yang
lengkap juga disediakan. Perkiraan kerusakan jalan di Jawa Tengah dilaksanakan oleh Kimpraswil
Jawa Tengah dan diberikan kepada Bappeda Provinsi Yogyakarta pada hari Rabu tanggal 7 Juni.
Kumpulan data ini digunakan untuk mempersiapkan tabel utama dan tabel pendukung dari laporan
ini.
Untuk rel kereta api, perkiraan biaya kerusakan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kereta Api
dan Wilayah Operasi VI PT KAI pada tanggal 6 dan 7 Juni, 2006.
Untuk sektor penerbangan data disediakan oleh PT Angkasa Pura I / Direktorat Jenderal
Penerbangan Sipil pada tanggal 7 Juni.
Untuk telekomunikasi, provisi awal sejumlah Rp 7 triliun dibuat oleh tim penilai berdasarkan sebuah
laporan tentang kerusakan pos dan telekomunikasi yang dilaksanakan oleh Kementerian Komunikasi
dan Teknologi Informasi di mana tidak berisi perkiraan biaya.

Asumsi
Perkiraan biaya dilakukan berdasarkan inspeksi lokasi kerusakan secara terpisah dan biaya unit
standar yang digunakan oleh badan-badan kementerian pekerjaan umum
Tabel A.2: Kerusakan dan Kerugian pada Sektor Jalan Raya
Item Penilaian Dampak
Kerusakan Langsung (Miliar Rp)
Total Rehabilitasi Rekonstruksi Kerugian
JALAN 44.975 37.3 7.645 Dapat diabaikan

Jalan di Provinsi Yogyakarta 37.033 29.388 7.645


Jalan Nasional 2.609 2.609 0
Jalan Provinsi 9.824 9.824 0
Jalan Kabupaten 2.201 2.201 0
Jembatan Nasional 4.773 4.773 0
Jembatan Provinsi 5.056 5.056 0
Jembatan Kabupaten 12.569 4.924 7.645
Jalan di Jawa Tengah 7.942 7.942 0
Jalan Nasional 0 0 0
Jalan Provinsi 0 0 0
Jalan Kabupaten 4.025 4.025 0
Jembatan Nasional 0 0 0
Jembatan Provinsi 2.717 2.717 0
Jembatan Kabupaten 0 1.2 0

Table A.3. Kerusakan dan Kerugian pada Sektor Rel Kereta Api
Item Penilaian (Juta Rp)
Kerusakan & Kerugian
Total Kerusakan Kerugian
Jalur
Bagian Srowot-Branbanan 4,795 4,795 0
Bagian Maguwo-Lempuyangan 398 398 0
Bagian Wates-Sentolo 5,970 5,970 0
Listrik (Listrik, Tanda, Telekomunikasi)
Stasiun Srowoto-Branbanan 750 750 0
Sipil (Jembatan) 2,100 2,100 0
Bangunan
Stasiun (12 stasiun) 1,175 1,175 0
Bangunan Lainnya 3,682 3,682 0
Fasilitas Pendukung (Pagar Beton) 1,064 1,064 0
Total 19,934 19,934 0
Table A.4. Kerusakan dan Kerugian pada Sektor Penerbangan
Item Penilaian (Rp. Juta)
Kerusakan & Kerugian
Total Kerusakan Kerugian
Infrastruktur Bandara 0 0 0
Fasilitas Sisi Udara
Perataan Landasan 12,000 12,000 0
Perbaikan Retakan pada Landasan 300 300 0
Jalan/Jembatan Operasi 250 250 0
Peralatan NAV/COM/AFL 360 360 0
Fasilitas Sisi Darat
Terminal Keberangkatan 5,440 5,440 0
Menara Kendali 40 40 0
Pemeriksaan Bangunan 100 100 0
Fasilitas Lainnya 285 285 0
Kerugian dalam Pendapatan Bandara
Biaya Pelayanan Penumpang (PSC) 85 0 85
Biaya Parkir Penumpang 1 0 1
Biaya Penanganan Muatan 65 0 65
Total 18,926 18,775 151
Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan

ENERGI
Data
Data perkiraan kerusakan disampaikan oleh PLN pada Rapat Koordinasi tanggal 2 Juni 2006. Ada
laporan sejumlah kerusakan pada 6 sisi jalan pompa bensin yang tidak dikonfirmasikan. Tidak
terdapat rincian lebih lanjut.
Pusat Pengaturan dan Pendistribusian Beban (P3B) PLN memberikan perkiraan biaya yang
terperinci untuk perbaikan sub stasiun pada tanggal 9 Juni 2006. Laporan terperinci mengenai
jaringan distribusi dan perkiraan biaya perbaikan kerusakan gedung konsumen juga diterima dari
Kantor Pusat PLN. Tidak ada perkiraan terbaru dari kerugian yang disebabkan oleh biaya
pembangkit listrik yang meningkat. Kepala P3B telah memberikan biaya energi terbaru untuk
pembangkit tenaga batubara dan tenaga diesel masing-masing Rp 200 dan Rp 1800/KWH tetapi
perkiraan penjualan MWH belum diperoleh.
Perkiraan kerugian cabang transmisi yang telah direvisi harus dibuat berdasarkan informasi aliran
muatan normal dan “bencana” serta biaya energi unit indikatif untuk pembangkit tenaga batu bara
dan tenaga turbin.
AIR DAN SANITASI

Data
Informasi dikumpulkan dari Kementerian Pekerjaan Umum (MPW), Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM), Asosiasi Perusahaan Penyedia Air Minum Indonesia (PERPAMSI), Bank Pembangunan
Daerah, Bank Dunia, UNICEF dan donor lain serta lembaga-lembaga bantuan yang mendukung
upaya pertolongan. Tersedia informasi yang sangat terbatas mengenai persediaan air desa khususnya
kerusakan-kerusakan fisik dan dampak dari bencana gempa. Tim penilai melakukan kunjungan
lapangan untuk memeriksa kerusakan di daerah tertentu.

Asumsi
Kerusakan PDAM: Data pada aset yang ada (kapasitas unit produksi, tangki air, jaringan pipa dan
penghubung) tidak lengkap. Kerusakan gedung-gedung kantor dicakup oleh sektor lain (perumahan).
Biaya-biaya unit berdasarkan standar MPW dilengkapi oleh asumsi yang dibuat oleh tim penilaian.
Kerugian PDAM: Penghitungan kemungkinan kerugian untuk PDAM berdasarkan informasi yang
sangat awal dan data yang tidak lengkap. Diperkirakan bahwa 20% dari pendapatan akan hilang
untuk enam bulan pertama, pendapatan akan kembali ke tingkat sebelum bencana setelah 12 bulan.
Hal yang sama berlaku untuk biaya pelaksanaan tambahan yang diakibatkan dari tambahan biaya
bahan bakar dan bahan kimia serta upah lembur pegawai. Biaya tambahan untuk tangki pelayanan air
keliling yang dijalankan oleh lembaga–lembaga bantuan dan tentara tidak dimasukkan sehubungan
dengan kurangnya data.
Persediaan Air Daerah: Biaya untuk sanitasi di lapangan (tangki kotoran, lubang kakus) di daerah
perkotaan dan pedesaan telah dihitung secara terpisah di bawah analisis Sektor Perumahan. Biaya-
biaya unit berdasarkan asumsi yang dibuat oleh tim penilai.
Persediaan air individu diperkirakan sebagian dari sumur gali dangkal. Data Podes digunakan untuk
memperkirakan persentasi desa yang memakai sumur. Survei lapangan awal dilaksanakan oleh tim
penilai menyatakan bahwa 80% dari sumur-sumur tersebut berisi puing-puing dan perlu
pembersihan dan 20% mengalami kerusakan ringan. Biaya perbaikan sumur-sumur yang rusak
diperkirakan 50% dari biaya total sebuah sumur. Untuk memperkirakan biaya pembersihan 4 hari
kerja buruh sejumlah 10% dari biaya total sumur yang diperkirakan di dalam analisis tersebut. Jumlah
total sumur yang terkena dampak diperkirakan berdasarkan jumlah rumah yang hancur sebagaimana
dinilai oleh tim penilai perumahan.
Sanitasi Kota: Informasi mengenai kerusakan sanitasi kota dan pengelolaan sampah padat sangat
jarang. Penilaian kerusakan sanitasi kota di Yogyakarta terbatas pada informasi tambahan yang
diperoleh dari lembaga-lembaga pemerintah seperti Sekretariat Gabungan Kartamantul dan Dinas
Pekerjaan Umum. Sarana sanitasi masyarakat (MCK) tidak dimasukkan karena kurangnya data.
Kerusakan gedung-gedung kantor dicakup oleh sektor lain (perumahan). Biaya untuk sanitasi di
lapangan (tangki kotoran, lubang kakus) di daerah kota dan desa akan dicakup oleh bidang
perumahan. Biaya-biaya unit berdasarkan asumsi yang dibuat oleh tim penilai air dan sanitasi.
Tabel A.5: Kerusakan pada Persediaan Air PDAM
Kabupaten/ Kapasitas produksi, L/s Truk tangki air Jaringan Pipa, km termasuk
Kota sambungan
Sebelum Tingkat Setelah Biaya Biaya Sebelum Tingkat Setelah Biaya Biaya Sebelum Tingkat Setelah Biaya Biaya Biaya
kerusakan unit kerusakan kerusakan per kerusakan kerusakan per kerusakan kerus
(%) per (%) unit (%) km akan
L/s Total
Provinsi Jawa 0 0 0 75 0
Tengah
Purworejo 0 0 0 75 0
Magelang 0 0 0 75 0
Boyolali 0 0 0 75 0
Klaten 296.5 0 296.5 75 0
Kota 0 0 0 75 0
Magelang
Provinsi 1,674 1,877 1,786 16 16 0 840 812 3,220
Yogyakarta
Hanya yang 1,099 1,005
terkena
dampak
Kulon Progo 130 0 130 19 0 2 0% 2 200 0 0 0% 0 115 0 0
Bantul 235 40 141 19 1,786 3 0% 3 200 0 40 30% 28 115 1,380 3,166
Gunung Kidul 446 0 446 19 0 4 0% 4 200 0 0 0% 0 115 0 0
Sleman 281 0 281 19 0 2 0% 2 200 0 0 0% 0 115 0 0
Kota 583 0 583 19 0 5 0% 5 200 0 800 2% 784 115 1,840 1,840
Yogyakarta
Catatan: Biaya produksi per unit didasarkan atas rata-rata biaya investasi sumur di PDAM

Tabel A.6: Kerugian pada Persediaan Air PDAM


Item 0-6 bulan 6-12 bulan Total
(Juta Rp) (Juta Rp) (Juta Rp)
Pendapatan yang hilang 1,640 820 2,460
Biaya operasional tambahan 820 410 1,230
TOTAL 2,460 1,230 3,690
Asumsi:
Item unit
Air yang diproduksi l/s 1,099
Air non-pendapatan % 40%
Air yang diproduksi cm / bulan 2,847,312
Air yang dijual cm / bulan 1,708,387
Tarif rata-rata Rp / cm 800
Biaya operasional tambahan Rp / cm 400
Pendapatan yang hilang dalam 0-6 bulan % 20%
Pendapatan yang hilang dalam 6-12 bulan % 10%
Biaya operasional tambahan untuk 0-6 bulan % 20%
Biaya operasional tambahan untuk 6-12 bulan % 10%

Tabel A.7: Penilaian Kerusakan pada Persediaan Air Pedesaan


Item Total (unit) Biaya Kerusakan (Juta Rp)
Sumur galian yang harus dibersihkan 139,778 33,547
Sumur galian yang harus direhabilitasi 34,945 41,933
TOTAL 174,723 75,480

Asumsi: Biaya per unit


Item Sumur Baru Pembersihan Sumur Rehabilitasi Sumur
(Juta Rp) (% baru) (% baru)
Sumur galian 2.4 10% 50%
*Asumsi kerusakan sedang hingga total 50%
* Asumsi 4 hari-orang untuk membersihkan = 240k rp jadi 10% dari biaya total
Asumsi
*Diasumsikan bahwa jumlah sumur galian yang terkena dampak setara dengan jumlah total rumah yang hancur total
Jumlah rumah Jumlah sumur Jumlah sumur galian Jumlah sumur yang
yang rusak galian berisi puing perlu direhabilitasi
(dari tabel di (dari table di (perlu pembersihan)
bawah) bawah)
Total Provinsi Jawa Tengah 79,682 63,746 15,936
Kabupaten Purworejo 180 144 36
Kabupaten Magelang 229 183 46
Kabupaten Boyolali 413 330 83
Kabupaten Klaten 77,561 62,049 15,512
Kota Magelang - - -
Kabupaten Sukoharjo 1,281 1,025 256
Kabupaten Wonogiri 18 15 4
Total Provinsi Yogyakarta 95,041 76,033 19,008
Kabupaten Kulon Progo 6,845 5,476 1,369
Kabupaten Bantul 57,281 45,825 11,456
Kabupaten Gunung Kidul 9,269 7,415 1,854
Kabupaten Sleman 16,998 13,599 3,400
Kota Yogyakarta 4,648 3,718 930
TOTAL 174,723 139,778 34,945

Data mengenai rumah-rumah yang rusak (dari Sektor Perumahan)


Hancur Total Rusak Total Jumlah Jumlah % penduduk Jumlah
Disesuaikan Disesuaikan tertimbang desa desa yang yang sumur
memiliki menggunakan yang ada
sumur * sumur
Provinsi Yogyakarta 438 313 71% 95,041
Bantul 46,753 29,582 60,508 75 71 95% 57,281
Sleman 14,801 14,403 21,498 86 68 79% 16,998
Yogyakarta 4,831 4,119 6,747 45 31 69% 4,648
Kulon Progo 6,793 4,726 8,990 88 67 76% 6,845
Gn. Kidul 15,071 5,355 17,561 144 76 53% 9,269
Provinsi Jawa Tengah 68,414 58,026 95,012 1,532 1,017 66% 79,682
Klaten 65,849 55,112 91,476 401 340 85% 77,561
Magelang 499 456 711 370 119 32% 229
Boyolali 715 626 623 267 177 66% 413
Sukoharjo 1,185 1,627 1,942 - 66% 1,281
Wonogiri 23 11 28 - 66% 18
Purworejo 144 193 233 494 381 77% 180
Total 68,414 58,026 95,012 1,532 1,017 66% 79,682
Catatan:*data dari Podes 2005.
Tabel A.8: Penilaian Kerusakan Sanitasi Perkotaan
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Saluran dan sambungan selokan Truk Vakum
Sebelum Tingkat Setelah Biaya Biaya Sebelum Tingkat Setelah Biaya Biaya Sebelum Tingkat Setelah Biaya Biaya Total
kerusakan per kerusakan (m) kerusakan (m) per m kerusakan kerusakan per kerusakan Biaya
(%) unit (%) (%) unit kerusakan
Provinsi 1 0.97 1,422 130,537 130,537 - 0 0 0 250 0 1,422
Yogyakarta
Kulon Progo Tidak ada 0 none 0 Tidak ada 0 0 0
Bantul 1 3 1 47,413 1,422 10,092 0 10,092 896 - 2 0 2 250 0 1,422
Gunung Kidul Tidak ada 0 none - Tidak ada 0 0 0
Sleman Tidak ada 0 6,750 0 6,750 97,185 - Tidak ada 0 0 0
Yogyakarta Tidak ada 0 113,695 0 113,695 147,139 - 12 0 12 250 0 0
Catatan:
Penilaian kerusakan sanitasi perkotaan berdasarkan informasi berikut:
Tersedianya rencana penyaluran kotoran di Yogyakarta, sebagian dari Kab. Bantul dan sebagian dari Kab Sleman.
Tersedianya rencana komunal (CBS) di Yogyakarta
Tidak tersedianya IPLT (instalasi pengolahan endapan lumpur) di manapun di luar kota Yogyakarta
Tidak ada informasi mengenai tingkat kerusakan saluran selokan di Yogyakarta
Sumber: Bantuan manjemen prasarana kota Yogyakarta dan kantor Kimpraswil provinsi
Sektor Sosial
PENDIDIKAN

Asumsi:
TK/RA/Diniyah: 4 ruang kelas @ 48m2 + 1 ruang pelayanan@ 48m2
SD/MI: rata-rata 25 siswa/kelas, jumlah ruang kelas/sekolah = 6,26
1 ruang kelas = 56m2; ditambah 3 ruang pelayanan
SMP/MTs : 30 siswa/kelas, jumlah ruang kelas/sekolah = 10,7
1 ruang kelas = 63m2; ditambah ruang pelayanan & laboratorium
SMA/MA/SMK : 35 siswa/kelas; jumlah ruang kelas/sekolah = 10.3126984
1 kelas = 72m2
SLB : 150 - 200 m2

Pendidikan Tinggi : informasi dari wawancara, perkiraan kasar


Kantor Cabang Dinas = 200 m2/unit (info dari Dinas Kab & Prov)
Biaya unit untuk membangun kembali = Rp 1.800.000/m2; Faktor Beratnya Kerusakan = 1,0; Parah
= 0,65; Minor = 0,2. Berdasarkan informasi dari Tim Enjiniring Bank Dunia (Pak Anto + Pak
Atmaji)
Lab komputer: 20 unit per sekolah untuk SMP/MT; dan 30 unit untuk SMA/MA/SMK
SMP/MT 160000 Rp/sekolah
SMA/MA 240000 Rp/sekolah
PT 240000
Mebel = sekolah yang hancur 50% mebel rusak; 1 pasang meja & kursi per sekolah:
TK/RA 6000
SD/MI 18750 Rp/sekolah
SMP/MT 45000 Rp/sekolah
SMA/MA 61250 Rp/sekolah
SLB 8750
PT 50000
Tenda sementara atau sewa ruangan= Rp 15.000.000/100 m2, (or Rp 1.500.000/m2) diperkirakan
50% dari ruangan gedung
Biaya-biaya gaji dan pelatihan guru/pegawai baru = Rp 5.000.000/orang untuk menggantikan
pegawai yang meninggal.
Biaya membayar guru sementara untuk menggantikan yang terluka parah = Rp
1.500.000/orang/bulan; selama 3 bulan
Kerusakan peralatan pendidikan (audio, peralatan laboratorium, peralatan mengajar, dll.)
diperkirakan:
TK/RA 3000
SD/MI 5000 Rp/sekolah
SMP/MT 15000 Rp/sekolah
SMA/MA 25000 Rp/sekolah
SLB 10000
PT 30000

Kerusakan buku teks dan bahan pengajaran


TK/RA
SD/MI 5000 Rp/sekolah
SMP/MT 10000 Rp/sekolah
SMA/MA 15000 Rp/sekolah
SLB 5000
PT 20000

Biaya konseling siswa


Untuk memperkirakan sektor swasta dan umum, digunakan data jumlah ruang kelas sebelum terjadi
gempa
Umum (%) Swasta (%)
TK 1,5 98,5
SD 82 18
SMP 67 33
SMA 54 46
SMK 38 62
SLB 20 80
Tabel A.9: Kerusakan Sektor Pendidikan berdasarkan Jenis dan Tingkatan Sekolah
Kabupaten/Kota Jenis sekolah Jumlah bangunan yang rusak
Hancur Rusak Parah Rusak Ringan Total
Provinsi Jawa Tengah 79 382 291 752
Bangunan yang Rusak TK 2 10 16 28
SLB - 1 - 1
SD 56 295 213 564
SMP 2 28 21 51
SMA 4 5 6 15
SMK - 7 2 9
RA - - - -
MI 1 7 7 15
MTs - 1 2 3
MA - - - -
PT - - - -
Lembaga PAUD 2 6 - 8
PKBM + TBM 3 8 1 12
Lembaga Kursus - 2 13 15
Madrasah Diniyah 1 1 - 2
Pondok Pesantren 2 - 3 5
Gedung Diklat 4 3 - 7
SKB - 1 - 1
Kantor Cabang Dinas 2 7 7 16
Provinsi Yogyakarta 777 779 599 2,155
Bangunan yang Rusak TK 96 145 72 313
SLB 1 13 4 18
SD/MI 511 389 362 1,262
SMP/MTs 95 71 39 205
SMA 37 19 18 74
SMK 25 34 29 88
RA - - - -
MI - 5 2 7
MTs - 1 - 1
MA - - - -
PT 1 13 40 54
Lembaga PAUD 10 44 17 71
PKBM + TBM 1 10 - 11
Lembaga Kursus - - - -
Madrasah Diniyah - - - -
Pondok Pesantren - 27 14 41
Gedung Diklat - - 1 1
SKB - 3 - 3
Kantor Cabang Dinas - 5 1 6
TOTAL di Yogyakarta dan Jawa Tengah 856 1,161 890 2,907
Sumber Data:
1. Gugus Tugas Sekretariat MONE (Posko Sekretariat Pusat Satgas Depdiknas)
2. Kantor Pendidikan Provinsi Jawa Tengah
3. Kantor Pendidikan Provinsi Yogyakarta
KESEHATAN
Penilaian kerusakan berdasarkan perbandingan data ”Sebelum” dan “Sesudah”. Data ‘Sebelum’
jumlah sarana kesehatan dari BPS, Provinsi Jawa Tengah. Profil Kesehatan 2004 dan Profil
Kesehatan 2005 Provinsi Yogyakarta.

Data ‘Sesudah’ untuk rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan puskesmas
pembantu dikumpulkan oleh tim dari Kementerian Kesehatan (Balitbangdes) Jawa Tengah dan
Provinsi Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Wilayah yang terkait, Bank Dunia dan Bank
Pembangunan Asia. Survei dilakukan antara 29 Mei dan 7 Juni 2006. Tim mengunjungi semua 6
kabupaten di Yogyakarta dan 5 kabupaten di Jawa Tengah yang terkena gempa. Di masing-masing
kabupaten mereka mengumpulkan informasi mengenai variabel-variabel berikut ini di tingkat
kabupaten yang terkait dan tingkat provinsi. dari pegawai kesehatan dan informan lainnya

Rumah sakit – umum dan swasta, umum dan spesialis.


Pusat Kesehatan Masyarakat(Puskesmas)
Puskesmas pembantu (Pustu)
Polindes
Rumah Bersalin
Kendaraan
Praktek dokter swasta dan gabungan
Praktek Bidan
Dinas Kesehatan Kabupaten
Tempat tinggal; pegawai kesehatan di Puskesmas/Pustu
Gudang obat
Laboratorium kesehatan
Lembaga Pelatihan
Lembaga Politeknik Kesehatan

Asumsi:
Kerugian diperkirakan sebagai biaya marjinal program-program dan kegiatan yang biasanya akan
terjadi seandainya tidak terjadi gempa bumi. Program nyata yang dimasukkan berdasarkan laporan
kegiatan kesehatan masyarakat yang ada saat ini di provinsi tersebut.
Biaya unit baik untuk kerusakan maupun kerugian diperkirakan dengan menggunakan informasi dari
Departemen Kesehatan dan pengalaman di poyek-proyek dan sektor pekerjaan. Asumsi yang
mendasari perkiraan-perkiraan yang beraneka ragam dicatat di tabel-tabel yang relevan dan dibuat
kembali di bawah ini:
• Dianggap semua klinik kesehatan sementara yang beroperasi dijamin oleh para donor
• Dianggap semua rumah sakit spesialis swasta umum dan swasta sebagai rumah sakit swasta
dengan 100 tempat tidur
• Ini berarti bahwa jumlah sarana yang terkena dampak = jumlah total sarana * persentase
daerah yang terkena dampak gempa bumi, dari bagian yang diperkirakan rusak ini, rusak
berat dan rusak ringan setara dengan kerusakan pada stok perumahan modern (44% hancur,
28% rusak sedang, 28% rusak ringan)
• Dianggap bahwa biaya rekonstruksi ringan adalah 12% dari total rekonstruksi; biaya
rekonstruksi besar 55% dari total rekonstruksi.
• Biaya kesehatan masyarakat diperkirakan di samping pembelanjaan untuk pengamatan,
pengawasan vector, kampanye imunisasi dan gizi, serta program-program lainnya. Belum
dihitung.
• Tidak ada laporan kerusakan praktek-praktek swasta.
• Biaya poliklinik dinilai sama seperti biaya Pustu.
• Biaya kerusakan untuk praktek swasta merupakan biaya dasar rata-rata untuk dokter,
perawat dan praktek bidan, belum dihitung.
• Nilai tukar Rp/$ = 9300Rp/$1, berlaku per awal Juni 2006.
• Dianggap 10% dari obat yang dibeli oleh Kementerian Kesehatan diimpor, anggap 80% dari
biaya persediaan yang diganti untuk obat-obatan..
• Dianggap bahwa 50% dari peralatan diimpor.
• Memperbaharui perkiraan biaya asli Jan 2005 sampai dengan Mei 2006 dengan menggunakan
deflator BPS.
• Biaya obat dan peralatan masih perlu diperbaharui dikarenakan adanya inflasi.
• Perumahan Pegawai Kesehatan dianggap sama seperti biaya Pustu.
• Biaya UPT dianggap sama dengan biaya Puskesmas.
• Kampanye kesehatan masyarakat dan mitigasi trauma tidak dihitung.
Tabel A.10: Kerusakan dan Kerugian Sektor Kesehatan
Meter Persegi Fasilitas Rumah Sakit Klinik kesehatan Sub-klinik Publik dan Rumah Sakit Fasilitas swasta Kerusakan Program Penggantian Pembersihan Perawatan Kerugian
(M2) Kerusakan Umum Umum Umum Kesehatan Admin. Lain- Swasta Lainnya Kesehatan Personil Fasilitas Kesehatan
di sektor swasta Umum lain Umum Tambahan
Rumah Lainnya
Sakit
Kota Yogyakarta 11405 8 29 79,289,050,436 7,162,772,276 1,289,663,323 12,993,624,951 388,791,126,192 114,873,282,784 604,399,519,962 0 1,236,761,225 1,284,118,957 4,899,493,216 7,420,373,397
Bantul 6838 1 144 9,911,131,305 35,566,869,230 6,403,845,465 64,520,068,724 233,104,228,049 68,873,608,740 418,379,751,514 0 741,514,534 769,908,411 2,937,547,971 4,448,970,915
Kulon Progo 205 0 12 0 2,963,905,769 533,653,789 5,376,672,394 6,988,354,307 2,064,798,156 17,927,384,415 0 22,230,254 23,081,489 88,066,296 133,378,040
Gunung Kidul 1763 1 110 9,911,131,305 27,169,136,218 4,891,826,397 49,286,163,609 60,099,847,039 17,757,264,143 169,115,368,710 0 191,180,188 198,500,808 757,370,148 1,147,051,144
Sleman 2285 4 78 39,644,525,218 19,265,387,500 3,468,749,627 34,948,370,559 77,894,583,371 23,014,945,301 198,236,561,577 0 247,786,006 257,274,162 981,617,010 1,486,677,178
Yogyakarta 22496 14 373 138,755,838,263 92,128,070,993 16,587,738,601 167,124,900,238 766,878,138,957 226,583,899,125 1,408,058,586,177 0 2,439,472,207 2,532,883,827 9,664,094,641 14,636,450,674

Klaten 0 71 0 11,003,678,325 3,822,846,714 345,250,844 0 119,519,796 15,291,295,678 0 321,634,748 80,903,760 0 402,538,508


Jawa Tengah 2 98

Tabel A.11: Ringkasan Kerusakan dan Kerugian di Provinsi Yogyakarta


Item Kerusakan Kerugian
Total 1,408,058,586,177 14,636,450,674
Rumah Sakit Umum 138,755,838,263
Klinik Kesehatan Umum 92,128,070,993
Sub-klinik Kesehatan Umum 16,587,738,601
Publik dan Admin. Lain-lain 167,124,900,238
Rumah Sakit Swasta 766,878,138,957
Fasilitas Swasta Lainnya 226,583,899,125
Program Kesehatan Umum 0
Penggantian Personil 2,439,472,207
Pembersihan Fasilitas 2,532,883,827
Perawatan Kesehatan Tambahan 9,664,094,641
Table A.12: Ringkasan Kerusakan dan Kerugian di Provinsi Jawa Tengah
Item Kerusakan Kerugian
Total 117,260,530,753 6,406,845,005
Rumah Sakit Umum 95,691,306,523
Klinik Kesehatan Umum 15,188,175,716
Sub-klinik Kesehatan Umum 5,276,605,324
Publik dan Admin. Lain-lain 476,543,418
Rumah Sakit Swasta 0
Fasilitas Swasta Lainnya 627,899,772
Program Sesehatan Umum 0
Penggantian Personil 1,689,714,944
Pembersihan Fasilitas 425,029,613
Perawatan Kesehatan Tambahan 4,292,100,448

Pembagian Kerusakan antara Sarana Sektor Umum dan Swasta:

Untuk Provinsi Yogyakarta :


(i) Kerusakan sarana sektor swasta sama dengan persentase M2 yang rusak per kabupaten untuk
sarana swasta dan (ii) kerusakan sarana sektor umum sama dengan jumlah sarana rumah sakit dan
non rumah sakit yang rusak per kabupaten dan semua hal lainnya.

Untuk Kabupaten Klaten:


Kerusakan sarana Klaten adalah bagian dari sarana rumah sakit dan non rumah sakit yang rusak per
kabupaten dan semua hal yang lain.

PERLINDUNGAN SOSIAL
Asumsi:
Tiga sarana umum yang terkena dampak di kota Yogyakarta adalah pusat pelatihan pekerja sosial dan
kantor koordinasi.
Biaya kerusakan dihitung dari biaya rekonstruksi perumahan/gedung per m2 ditambah biaya
peralatan pendukung di dalamnya.
Dianggap biaya penggantian sarana sama dengan biaya rekonstruksi sebuah rumah dengan biaya
unit sebesar Rp 1,6 juta/m2.
Ini merupakan perkiraan kasar yang diberikan oleh seorang kontraktor yang bekerja di kantor dinas
sosial provinsi Yogyakarta bersama dengan pegawai kantor dinas.
Dianggap bahwa biaya untuk kerusakan parah sebesar 65% dan kerusakan ringan sebesar 20% dari
biaya rekonstruksi sebuah rumah dengan peralatan pendukungnya.
Dianggap bahwa biaya pembersihan sebesar Rp. 5.000/m2 untuk gedung yang hancur.
Dianggap bahwa biaya pembersihan sebesar 20% dan untuk kerusakan parah sebesar 65% dari
biaya pembersihan sebuah gedung yang hancur.
Kerusakan Taman Makam Pahlawan(TMP) dilaporkan oleh kantor dinas sosial Klaten namun belum
dihitung dan tidak dimasukkan ke dalam penilaian kerusakan.
Tabel A.13: Kerusakan dan Kerugian pada Sektor Perlindungan Sosial per Kabupaten (Juta Rp)
Kerusakan Kerugian Total Total Total Swasta Publik
Swasta Publik
Provinsi Yogyakarta 35,418.33 85.07 35,503 26,131 9,373 51 16
Kota Yogyakarta 9,365.55 7.68 9,373 7,142 2,232 16 5
Kabupaten Gunung Kidul 5,020.98 2.87 5,024 3,768 1,256 6 2
Kabupaten Kulon Progo 2,580.99 1.36 2,582 2,582 0 4 0
Kabupaten Bantul 4,419.15 64.51 4,484 3,139 1,345 7 3
Kabupaten Sleman 11,602.95 8.65 11,612 9,500 2,111 18 4
Fasilitas pelatihan pekerja sosial 2,428.71 2,429 - 2,429 2
Provinsi Jawa Tengah -
Kabupaten Klaten 8,084.07 4.27 8,088 7,414 674 11 1
Jumlah total 43,502 89.34 43,592 33,545 10,047 62 17

BUDAYA DAN AGAMA


Tabel A.14: Penilaian Kerusakan Tempat-Tempat Ibadah
Jumlah Tempat Ibadah (Sebelum Gempa Bumi)
Nama Kabupaten/Kota Masjid Tempat Gereja Gereja Pura Wihara Total
Sembahyang Protestan Katolik (Hindu) (Buddha)
(Surau/Langgar)
Kabupaten Klaten 2,396 1,827 132 52 56 7 4,470
Kabupaten Kulon Progo 957 956 38 53 0 5 2,009
Kabupaten Bantul 1,457 1,566 32 23 4 0 3,082
Kabupaten Gunung Kidul 1,635 701 97 34 10 4 2,481
Kabupaten Sleman 1,801 1,328 65 55 5 3 3,257
Kota Yogyakarta 393 284 42 12 0 10 741
Total 8,639 6,662 406 229 75 29 16,040
Penilaian kerusakan ini didasarkan atas laporan kerusakan yang terjadi pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di kabupaten-
kabupaten tersebut pada tanggal 6 Juni 2006: 21:30
Jumlah awal SLTP dari Podes 2005
Ini mencakup sekolah negeri dan swasta di bawah Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama

Proporsi kerusakan fasilitas Hancur Rusak Parah Rusak Ringan


Kabupaten Klaten 0.72% 14.49% 1.45%
Kabupaten Kulon Progo 0.00% 4.92% 6.56%
Kabupaten Bantul 85.19% 14.81% 0.00%
Kabupaten Gunung Kidul 3.33% 18.33% 19.17%
Sleman District 0.00% 13.11% 0.00%
Kota Yogyakarta 3.57% 10.71% 1.79%

Asumsi mengenai biaya rehabilitasi: Masjid Tempat Gereja Gereja Pura Wihara
Sembahyang Protestan Katolik (Candi (Candi
(Surau/Langgar) Hindu) Buddha)
Asumsi ukuran fasilitas (M2) 200 100 200 200 200 200
Asumsi biaya/M2 menurut jenis kerusakan
- Hancur 1,000,000 800,000 1,000,000 1,000,000 1,000,000 1,000,000
- Rusak parah 600,000 400,000 600,000 600,000 600,000 600,000
- Rusak ringan 300,000 200,000 300,000 300,000 300,000 300,000
Jumlah fasilitas yang ada dikalikan dengan proporsi fasilitas yang rusak, dengan ukuran yang diasumsikan, dan dengan biaya rekonstruksi
Tabel A.15: Penilaian Kerusakan Tempat-Tempat Ibadah di Provinsi Yogyakarta (Juta Rp)
Masjid Tempat Gereja Gereja Pura Wihara Total
Sembahyang Protestan Katolik (Candi (Candi
(Surau/Langgar) Hindu) Buddha)
Data Sebelum 6243 4835 274 177 19 22 11570
Bencana (Jumlah
Bangunan)
Kerusakan Ringan 22980 4040 1320 600 120 60 29120
Kerusakan Parah 100920 24480 4680 2400 480 240 133200
Hancur 262000 109360 6400 4200 600 0 382560
Total 385900 137880 12400 7200 1200 300 556450

Tabel A.16: Penilaian Kerusakan Tempat-Tempat Ibadah di Provinsi Jawa Tengah (Juta Rp)
Masjid Tempat Gereja Gereja Pura Wihara Total
Sembahyang Protestan Katolik (Candi (Candi
(Surau/Langgar) Hindu) Buddha)
Data Sebelum 2396 1827 132 52 56 7 4470
Bencana (Jumlah
Bangunan)
Kerusakan Ringan 2100 520 120 60 60 0 2860
Kerusakan Parah 41640 10600 2280 960 960 120 56560
Hancur 3400 1040 200 0 0 0 4640
Total 47140 12160 2600 1020 1020 120 52490
Sektor Produktif
PERTANIAN, PETERNAKAN DAN PERIKANAN
Gambaran terperinci dari asumsi dapat ditemukan di teks utama.

PERDAGANGAN
Tabel A.17: Kontribusi untuk PDRB, Provinsi Yogyakarta , 2000-2003
Kabupaten 2000 % 2001 % 2002 % 2003 %
Bantul
Perdagangan, Hotel dan Restoran 385,772 17.1 427,972 17.1 475,791 17.1 533,481 17.3
Perdagangan dan Restoran 380,267 16.8 421,772 16.8 469,396 16.9 526,327 17.1
Perdagangan 182,145 8.1 202,189 8.1 224,937 8.1 252,153 8.2
Hotel 5,505 0.2 6,200 0.3 6,395 0.2 7,154 0.2
Restoran 198,122 8.8 219,583 8.8 244,459 8.8 274,174 8.9
Yogyakarta
Perdagangan, Hotel dan Restoran 796,074 23.8 912,551 23.9 1,050,965 24.0 1,194,180 24.4
Perdagangan dan Restoran 687,083 20.5 789,272 20.7 905,713 20.7 1,027,035 21.0
Perdagangan 196,085 5.9 228,206 6.0 260,966 6.0 301,008 6.2
Hotel 108,991 3.3 123,279 3.2 145,252 3.3 167,145 3.4
Restoran 490,998 14.7 561,066 14.7 644,747 14.7 726,027 14.6

Tabel A.18: Kontribusi untuk PDRB, Provinsi Jawa Tengah, 2000-2003


Kabupaten 2000 % 2001 % 2002 % 2003 %
Klaten
Perdagangan, Hotel dan Restoran 772,019 26.2 878,585 26.2 1,009,835 25.9 1,100,308 25.7
Perdagangan dan Restoran 768,451 26.1 873,697 26.1 1,003,172 25.8 1,093,171 25.5
Perdagangan 538,219 18.3 622,175 18.6 731,348 18.8 800,338 18.7
Hotel 3,568 0.1 4,887 0.2 6,662 0.2 7,137 0.2
Restoran 230,231 7.8 251,521 7.5 271,823 6.9 292,832 6.8

Tabel A.19: Pasar di Yogyakarta dan Wilayah Bagian Provinsi Jawa Tengah, 2005
Kabupaten Desa-desa Desa-desa yang Memiliki Pasar-pasar yang Tidak Supermarket Restoran
yang Memiliki Bangunan-bangunan Memiliki Bangunan Unit Unit
Toko Permanen dan Semi Permanen yang Permanen
Desa Desa Unit
Magelang 42 65 39 10 95
Boyolali 65 80 30 24 116
Klaten 97 84 46 44 373
Kota Magelang 10 8 7 6 31
Kulon Progo 24 42 13 12 40
Bantul 41 40 7 71 23
Gunung Kidul 35 73 31 18 119
Sleman 63 57 9 143 509
Yogyakarta 35 25 15 62 331
Sumber: PODES 2005
Tabel A.20: Jumlah Pasar Modern dan Tradisional di Provinsi Yogyakarta, 2003 – 2005
Kebupaten 2003 2004 2005
Tradisional Modern Waralaba Tradisional Modern Waralaba Tradisional Modern Waralaba
Bantul 44 6 47 12 30 12
Sleman 51 47 36 57 36 53
Kulon Progo 34 4 36 10 36 10
Gunung Kidul 37 7 36 9 28 8
Yogyakarta 31 36 26 37 57 26 31 50 26
Total 197 100 26 192 145 26 161 133 26
Sumber: Dinas Deperindagkop, Yogyakarta, 2006

Tabel A.21: Pedagang Berijin (SIUP) di Provinsi Yogyakarta, 2002-2005


Klasifikasi 2002 2003 2004 2005
Besar 184 230 350 369
Menengah 418 521 614 737
Kecil 23,397 24,631 25,633 26,969
Total 23,999 25,382 26,597 28,075
Sumber: Dinas Deperindagkop, Yogyakarta, 2006

Tabel A.22: Perkiraan Kerusakan dan Kerugian Pasar


A. Pasar Tradisional
NO. LOKASI Perdagangan yang Hilang (disesuaikan) Kerusakan pada Bangunan dan Aset Lainnya Total
YOGYAKARTA
I Kabupaten Bantul 29,400 76,577 105,977
1. Pasar Niten * 8,400 12,171 20,571
2. Pasar Imogiri * 8,400 21,906 30,306
3. Pasar Plered * 4,200 22,500 26,700
4. Pasar Piungan * 8,400 20,000 28,400
II Kabupaten Sleman 7,320 906 8,226
Kec. Godean 1,600 5 1,605
800 17 817
Kec. Prambanan 1,000 36 1,036
Kec. Tegal Sari 480 13 493
100 102 202
400 184 584
Kec. Tempel 400 102 502
600 26 626
900 183 1,083
Kec. Gamping 840 179 1,019
Kec. Condongcatur 100 9 109
100 50 150
III Kota Yogyakarta 10,500 52,235 62,735
1. Pasar Bringharjo * 6,000 47,944 53,944
2. Pasar Kranggal 1,000 150 1,150
3. Pasar Giwangan 600 231 831
4. Pasar Sentul 500 225 725
5. Pasar Gading 100 1,026 1,126
6. Pasar Prawirotaman 350 90 440
7. Pasar Ciptomulyo 100 334 434
8. Pasar Karangkajen 150 1,094 1,244
9. Pasar Serangan 800 463 1,263
10. Pasar Patuk 100 9 109
11. Pasar Kotagede 300 82 382
12. Pasar Tunjungsari 400 557 957
13. Pasar Demangan 100 30 130
IV Kabupaten Gunung Kidul 11,259 19,657 30,916
Kec. Wonosari 9,250 17,702 26,952
Kec. Nglipar 63 11 74
356 17 373
Kec. Ngawen 184 557 741
29 557 586
348 49 397
Kec. Saptosari 131 50 181
Kec. Panggang 110 46 156
Kec. Purwosari 281 134 415
Kec. Playen 104 33 137
Kec. Gedangsari 203 223 426
Kec. Paliyan 200 278 478
30 450 480
V Kabupaten Kulon Progo 1,869 500 2,369
1. Pasar Dekso ** 311 200 511
2. Pasar Brosot ** 311 50 361
3. Pasar Kranggan ** 311 50 361
4. Pasar Sewugalur ** 311 50 361
5. Pasar Kasihan ** 311 50 361
6. Pasar Kenteng ** 311 100 411
Provinsi Jawa Tengah
VI Kabupaten Klaten 19,488 15,153 34,641
1. Pasar Taji * 1,188 2,534 3,722
2. Pasar Prambanan * 2,400 1,229 3,629
3. Pasar Wedi * 2,100 5,932 8,032
4. Pasar Gempol * 2,100 1,280 3,380
5. Pasar Gantiwarno * 2,550 390 2,940
6. Pasar Panggil * 2,100 1,121 3,221
7. Pasar Masaran * 1,050 779 1,829
8. Pasar Temuwangi * 2,100 612 2,712
9. Pasar Sidoharo * 2,100 979 3,079
10. Pasar Minggiran * 1,800 297 2,097
Total 79,836 165,028 244,864
Catatan/Asumsi:
Kerugian perdagangan dihitung berdasarkan data volume penjualan per hari dari Departemen Perdagangan dan Dinas Perdagangan dan
Industri Provinsi dan Data Koperasi.
*Untuk gedung-gedung pasar yang 100% hancur maka kerugian perdagangan dihitung selama 30 hari sampai pasar-pasar tersebut buka
kembali.
** Kerugian perdagangan dihitung selama satu hari (pasar mingguan), kerugian perdagangan di pasar-pasar lain dihitung selama 4 hari.
Kerusakan gedung berdasarkan data aktual dari Departemen Perdagangan
B. Pasar Modern (Harga Konstan – Juta Rp)
LOKASI Perdagangan yang Hilang Kerusakan pada Bangunan dan Total (Disesuaikan)
(Disesuaikan) Aset Lainnya
Kabupaten Bantul 0
Kabupaten Sleman 0
Kota Yogyakarta 10,000 1,000 11,000
(perkiraan)
10,000 1,000 11,000
(perkiraan)
150 150 300
Tidak tersedia 0
Tidak tersedia 20 20
Tidak tersedia 20 800
800 800
Kabupaten Gunung Kidul Tidak tersedia 0
Kabupaten Kulon Progo Tidak tersedia 0
Kabupaten Klaten 215 540 755
Total 20,365 3,530 24,675
Catatan
NA = Tidak tersedia informasi
*) - Barang persediaan tidak rusak, sebagian disumbangkan kepada korban.
- Tutup menunggu pemeriksaan bangunan
- akhir-akhir ini buka (3-4 bulan).
**) tidak ada interupsi
Sumber : Departemen Perdagangan dan kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi serta Data Koperasi
INDUSTRI DAN PERUSAHAAN
Tabel A.23: Usaha Kecil dan Menengah yang Terkena Dampak Gempa Bumi
Jumlah Unit Kerugian Total Pekerja di Anggota di Tanggungan Jumlah
Awal Kerugian Sektor Unit Sektor Sektor di Sektor yang
di Sektor Informal Kerugian Formal Informal Formal Terkena
Formal Dampak
Bantul 21,306 9,588 5,040 14,628 335,570 20,160 1,342,278 1,362,438
Klaten 4,500 3,360 7,860 157,500 13,440 630,000 643,440
Yogyakarta 8,619 776 1,680 2,456 27,150 6,720 108,599 115,319
Sleman 18,558 1,113 1,120 2,233 38,972 4,480 155,887 160,367
Gunung Kidul 21,659 650 560 1,210 22,742 2,240 90,968 93,208
Kulon Progo 22,418 673 560 1,233 23,539 2,240 94,156 96,396
Total 92,560 17,299 12,320 29,619 605,472 49,280 2,421,888 2,471,168
(Yogyakarta Saja)
Data: data awal dari survei Bank Indonesia dengan Universitas Gajah Mada PSE-KP, 2003 perkiraan angka pertumbuhan 2% per
tahun, menjadi 6% dari 2003 sampai data awal tahun 2006.
Di dalam survei ini tidak terdapat data awal untuk Klaten, data dikutip dari pakar ekonomi UGM Sri Adiningsih.
Struktur perekonomian utama: 25% mebel, 25% kerajinan tangan, 20% tekstil, 30% lainnya merupakan tanggungan dan korban
mengacu pada anggota keluarga, diperkirakan keluarga yang terdiri dari 4 orang.

Asumsi: Sektor formal


Kabupaten Bantul 50% pada industri yang terkena dampak, 90% hancur
Kabuptaen Klaten Lihat di atas
Kota Yogyakarta 30% pada industri yang terkena dampak, 30% hancur
Kabupaten Sleman 30% pada industri yang terkena dampak, 20% hancur
Kabupaten Gunung Kidul 30% pada industri yang terkena dampak, 10% hancur
Kabupaten Kulon Progo 30% pada industri yang terkena dampak, 10% hancur

Sektor Informal
• Data dasar 79.000 (untuk Yogyakarta) berasal dari survei terakhir tahun 2001 sebagaimana
diinformasikan oleh APIKRI--asosiasi kecil kerajinan tangan
• Data termasuk petani dengan porsi 50%, sehingga dianggap 40.000 adalah usaha kecil
• Tidak ada informasi mengenai penyebaran secara geografis, dianggap penyebaran yang
proporsional masing-masing 8000, tidak ada informasi mengenai Klaten, dianggap sama saja
• Dianggap 70% industri yang terkena dampak merupakan sebagian besar wirausaha yang
bertindak sebagai pendukung industri dengan tingkat kerusakan yang sama seperti di sektor
formal di setiap daerah
• Menyesuaikan dengan informasi sektor perbankan, asumsi unit kerugian seharusnya sesuai
(atau bahkan sedikit lebih rendah) di mana bank memperkirakan kemungkinan NPL dari
37.482 debitur dan BPR memperkirakan 21.008 debitur.
• Jumlah Total Debitur penunggak di Yogyakarta sendiri sejumlah 58,490. beberapa debitur
mungkin memilki sejumlah hutang dari bank-bank lain.
Pekerja
• Rata-rata pekerja di sektor formal
• 50% memiliki 50 pekerja
• 50% memiliki 20 pekerja
• Batas antara 5 sampai 500
• Sebuah perusahaan mungkin hanya mempunyai 20 pekerja permanen namun bisa mencapai
140 pekerja sementara
• Usaha informal mempunyai 4 anggota
• Perbandingan: 60% usaha kecil, 40% usaha menengah, usaha kecil sama dengan sektor
informal

Penilaian Kerusakan dan Kerugian Sektor Industri dan Perusahaan


Menengah Kecil Mikro
Kabupaten Bantul 3,835 5,753 5,040
Kabupaten Klaten 1,800 2,700 3,360
Kota Yogyakarta 310 465 1,680
Kabupaten Sleman 445 668 1,120
Kabupaten Gunung Kidul 260 390 560
Kabupaten Kulon Progo 269 404 560
Total 6,920 10,380 12,320
Asumsi per kerugian unit Usaha menengah Kecil Mikro
Bangunan 200,000,000 100,000,000 20,000,000
Inventaris 100,000,000 50,000,000 Tidak ada – kebanyakan sub kontrak
gaji yang terus dibayar (6 bulan) 3,000,000 Tidak dapat membayar Tidak dapat membayar
Pendapatan per bulan 50,000,000 20,000,000 2,500,000
Berdasarkan data yang didapatkan dari survey

Rata-rata kerugian total Usaha menengah Kecil Mikro


Bangunan 1,383,936,000,000 1,037,952,000,000 246,400,000,000
Inventaris 691,968,000,000 518,976,000,000
gaji yang terus dibayar (biaya 6 bulan) 1,037,952,000,000 Tidak tersedia Tidak tersedia
potensi kerugian penghasilan 2,075,904,000,000 622,771,200,000 92,400,000,000
(6 bulan untuk usaha menengah dan 3 bulan untuk usaha mikro dan usaha kecil)
Jumlah Perkiraan Kerugian 5,189,760,000,000 2,179,699,200,000 338,800,000,000
Rata-rata kerugian total = unit kerugian X kerugian per unit

Kerugian yang dilaporkan dari perusahaan besar: hanya 3 perusahaan yang melaporkan kerusakan ke Dinas yaitu Sari Husada
(makanan), PT. ASA (kulit) and PT. Budi Makmur (kulit)
PT ASA 5.700.000.000
PT Budi Makmur 3.000.000.000
PT Sari Husada pada saat jumpa pers melaporkan kerusakan di 2 pabriknya dan kerugian inventaris sebesar Rp 175 Milyar, ditambah
perkiraan Rp 70 Milyar kerugian pendapatan
Perusahaan tutup dan diharapkan memulai produksi kembali dalam waktu 2 sampai 3 bulan.
Penilaian kerusakan dan kerugian total untuk usaha mikro, kecil dan besar adalah 7.961.959.200.000
PARIWISATA

Tabel A.24: Ikhtisar Penilaian Kerusakan dan Kerugian sub sektor Pariwisata di wilayah Yogyakarta
ITEM PENILAIAN KERUSAKAN (Juta Rp) PENILAIAN KERUGIAN
Jumlah TINGKAT KERUSAKAN Jumlah Penghasilan/ Penghasilan/ Asumsi
Sebelum RUSAK PARAH RUSAK SEDANG RUSAK RINGAN yang Bulan Bulan
Bencana Jumlah Biaya / Unit Jumlah Biaya / Unit Jumlah Biaya / Unit Tidak Sebelum Setelah
Rusak Bencana Bencana
1. Fasilitas 31 2 450 4 603 3 400 22 1,744 1,322
Bangunan 4 11 9
Aset
Karyawan
Pengunjung
2. Hotel 34 5 21.494 13 9,697 3 120 13 372 268 tingkat unian 52%
Bangunan
Aset
Karyawan 275 220
Pengunjung 800,000
3. Motel/ 1,106 50 70 180 50 66 20 810 415 256 tingkat unian 50%
Hoster/
Losmen/
Wisma
Bangunan
Aset
Karyawan
Pengunjung
4. Kantor 12
Bangunan 12 2 350 3 285 2 105 5
Aset
Karyawan
Pengunjung
Tabel A.25: Ringkasan Penilaian Kerusakan dan Kerugian sub sektor Pariwisata di wilayah
Klaten/Jateng
ITEM PENILAIAN KERUSAKAN (Juta Rp) PENILAIAN KERUGIAN (Juta Rp) KOMENTAR
Jumlah TINGKAT KERUSAKAN Jumlah Penghasilan Penghasilan Asumsi
sebelum RUSAK PARAH RUSAK SEDANG RUSAK RINGAN yang /Bulan /Bulan
bencana Jumlah Biaya/ Unit Jumlah Biaya/Unit Jumlah Biaya/ Unit Tidak Sebelum Setelah
Rusak Sencana Bencana
1. Fasilitas 14 1 100 4 132 9 350 350 Penghasilan >Fasilitas
dan kerugian Prambanan di
dihitung kabupaten
secara kasar Klaten
berdasarkan mencapai
penghasilan 1.070 juta
kabupaten rupiah.
(pajak, >Kerugian
biaya-biaya, Prambanan
dsb.) pada daftar
Bangunan 2 10 9 Yogya;
Aset Catatan:
Karyawan kerusakan pada
Pengunjung 800,000 550,000 Jumlah daerah Paling
pengunjung Parah adalah
diperkirakan sebuah
menurun gerbang rusak
sebanyak kl. (maka nilainya
30% untuk lebih kecil
tahun depan daripada
Kerusakan
Sedng)
2. Hotel Semua
Bangunan akomodasi di
Aset kabupaten
Karyawan Klaten
Pengunjung merupakan
hotel tak
berbintang
3. Motel/ 42 10 270 6 120 32 750 550 Diasumsikan Panti pijat
Hostel/ bahwa termasuk
Losmen/ tingkat dalam kategori
Wisma penghunian ini
Bangunan 42 menurun
Aset 30%
Karyawan 275 220
Pengunjung
4. Kantor 4 Kerugian
Bangunan 4 1 500 2 100 1 dalam natura
Aset (tidak ada
Karyawan penghasilan
Pengunjung karena hanya
informasi)
karena lembaga
ini
menyediakan
informasi
Lintas Sektor
TATA PEMERINTAHAN DAN PEMERINTAHAN
Asumsi:

Kerusakan gedung:
Gedung tanpa rancangan yang tepat (kerusakan total) 80-100%
Gedung yang dirancang dan dibangun dengan buruk (rusak sedang dan parah) 30-80%
Gedung dengan rancangan yang kuat (sedikit rusak namun dapat diperbaiki) 0-30%
Bila tersedia laporan, perkiraan dasar permukaan dibuat berdasarkan rata-rata dan sebaliknya bila
tidak ada laporan akan diperkirakan berdasarkan wilayah yang sama dengan skala intensitas yang
sama.
Biaya unit resmi dari pemerintah per meter persegi sekitar Rp. 1,0 juta untuk gedung yang rusak
ringan dan Rp. 1,0 juta untuk gedung yang rusak berat sampai yang rusak total.

Peralatan dan Mebel:


Perkiraan berdasarkan jumlah pegawai: Rp. 3.0 juta per pegawai negeri pada tingkat kerusakan 30%.
Ini termasuk kerusakan komputer, kendaraan, mebel (lemari, meja dan kursi).

Pegawai:
Jumlah pegawai korban gempa diperkirakan dalam sebuah rasio dari populasi umum (yakni: jumlah
yang tewas, hilang, terluka dalam perbandingan dengan jumlah penduduk secara umum)
Biaya berdasarkan (3 bulan) gaji (Rp. 2.0 juta), perekrutan dan pelatihan dan “masa tidak aktif”
selama masa pertolongan krisis

Dokumen:
Biaya yang diperkirakan sebesar Rp. 50.000 per dokumen dengan 5 dokumen yang berbeda per
rumah tangga. Diperkirakan 10% dari total dokumen rusak.

Unsur tak terduga ditambahkan sebesar angka 10% .


Tabel A.26: Ringkasan Kerusakan dan Kerugian pada Sektor Pemerintahan

Pilar
Pemerintahan Kehakiman Parlemen Kepolisian Subtotal Tak Terduga Total
Umum 10%
Provinsi - - 800,000,000 600,000,000 1,400,000,000 140,000,000 1,540,000,000
Yogyakarta
Yogyakarta 31,112,245,380 471,397,657 157,132,552 1,080,024,410 32,820,800,000 3,282,080,000 36,102,880,000
Bantul 1,861,722,457 - 232,715,307 1,948,602,839 4,043,040,603 404,304,060 4,447,344,663
Kulon Progo 362,752,242 - 310,930,493 250,817,265 924,500,000 92,450,000 1,016,950,000
Gunung Kidul 4,209,565,011 - 169,512,685 966,222,304 5,345,300,000 534,530,000 5,879,830,000
Sleman 440,425,605 - 377,507,661 425,325,298 1,243,258,564 124,325,856 1,367,584,421
Provinsi Jawa - - 150,000,000 25,000,000 175,000,000 17,500,000 192,500,000
Tengah
Klaten 68,055,161,544 - 153,277,391 1,889,399,305 70,097,838,240 7,009,783,824 77,107,622,064
Boyolali 665,563,995 - 313,206,586 352,879,420 1,331,650,000 133,165,000 1,464,815,000
Magelang - - 395,877,743 446,022,257 841,900,000 84,190,000 926,090,000
Wonogiri 6,293,750,000 - - - 6,293,750,000 629,375,000 6,923,125,000
Total 113,001,186,234 471,397,657 3,060,160,419 7,984,293,098 124,517,037,407 12,451,703,741 136,968,741,148

Bangunan
Pillar
Pemerintahan Kehakiman Parlemen Kepolisian Subtotal Tak Terduga Total
Umum 10%
Provinsi - - 800,000,000 600,000,000 1,400,000,000 140,000,000 1,540,000,000
Yogyakarta
Yogyakarta 29,700,000,000 450,000,000 150,000,000 1,031,000,000 31,331,000,000 3,133,100,000 34,464,100,000
Bantul 1,200,000,000 - 150,000,000 1,256,000,000 2,606,000,000 260,600,000 2,866,600,000
Kulon Progo 175,000,000 - 150,000,000 121,000,000 446,000,000 44,600,000 490,600,000
Gunung Kidul 3,725,000,000 - 150,000,000 855,000,000 4,730,000,000 473,000,000 5,203,000,000
Sleman 175,000,000 - 150,000,000 169,000,000 494,000,000 49,400,000 543,400,000
Provinsi Jawa - - 150,000,000 25,000,000 175,000,000 17,500,000 192,500,000
Tengah
Klaten 66,600,000,000 - 150,000,000 1,849,000,000 68,599,000,000 6,859,900,000 75,458,900,000
Boyolali 318,750,000 - 150,000,000 169,000,000 637,750,000 63,775,000 701,525,000
Magelang - - 150,000,000 169,000,000 319,000,000 31,900,000 350,900,000
Wonogiri 6,293,750,000 - - - 6,293,750,000 629,375,000 6,923,125,000
Total 108,187,500,000 450,000,000 2,150,000,000 6,244,000,000 117,031,500,000 11,703,150,000 128,734,650,000

Perlengkapan
Pilar
Pemerintahan Kehakiman Parlemen Kepolisian Subtotal Tak Terduga Total
Umum 10%
Provinsi - - - - - - -
Yogyakarta
Yogyakarta 1,400,870,065 21,225,304 7,075,101 48,629,530 1,477,800,000 147,780,000 1,625,580,000
Bantul 319,109,747 - 39,888,718 334,001,535 693,000,000 69,300,000 762,300,000
Kulon Progo 185,397,982 - 158,912,556 128,189,462 472,500,000 47,250,000 519,750,000
Gunung Kidul 479,839,852 - 19,322,410 110,137,738 609,300,000 60,930,000 670,230,000
Sleman 256,654,858 - 219,989,879 247,855,263 724,500,000 72,450,000 796,950,000
Provinsi Jawa - - - - - - -
Tengah
Klaten 577,564,396 - 1,300,821 16,034,783 594,900,000 59,490,000 654,390,000
Boyolali 346,813,995 - 163,206,586 183,879,420 693,900,000 69,390,000 763,290,000
Magelang - - 245,877,743 277,022,257 522,900,000 52,290,000 575,190,000
Wonogiri - - - - - - -
Personil
Pilar
Pemerintahan Kehakiman Parlemen Kepolisian Subtotal Tak Terduga Total
Umum 10%
Provinsi - - - - - - -
Yogyakarta
Yogyakarta 11,375,315 172,353 57,451 394,880 12,000,000 1,200,000 13,200,000
Bantul 26,965,742 - 3,370,718 28,224,143 58,560,603 5,856,060 64,416,663
Kulon Progo 2,354,260 - 2,017,937 1,627,803 6,000,000 600,000 6,600,000
Gunung Kidul 4,725,159 - 190,275 6,000,000 600,000 6,600,000
1,084,567
Sleman 8,770,746 - 24,758,564 2,475,856 27,234,421
7,517,783 8,470,035
Provinsi Jawa - - - - - - -
Tengah
Klaten 14,811,182 - 33,359 411,199 15,255,740 1,525,574 16,781,314
Boyolali - - - - - - -
Magelang - - - - - - -
Wonogiri - - - - - - -

Dokumen
Pilar
Pemerintahan Kehakiman Parlemen Kepolisian Subtotal Tak Terduga Total
Umum 10%
Provinsi - - - - - - -
Yogyakarta
Yogyakarta - - - - - - -
Bantul 315,646,969 - 39,455,871 330,377,160 685,480,000 68,548,000 754,028,000
Kulon Progo - - - - - - -
Gunung Kidul - - - - - - -
Sleman - - - - - - -
Provinsi Jawa - - - - - - -
Tengah
Klaten 862,785,966 - 1,943,212 23,953,322 888,682,500 88,868,250 977,550,750
Boyolali - - - - - - -
Magelang - - - - - - -
Wonogiri - - - - - - -
PERBANKAN DAN KEUANGAN
Tabel A.27: Potret Sektor Perbankan Yogyakarta, Sebelum Bencana, Akhir Maret 2006
Jumlah Bank yang menjalankan bisnis di Yogyakarta Provinsi Yogyakarta Indonesia %
Bank Komersial: 25 131 19
- Bank Pemerintah 4 5 100
- Bank Swasta (termasuk asing & Usaha Patungan) 20 100 20
- Bank Daerah (BPD) 1 26
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 65 1,906 3
Jumlah Kantor/Cabang Bank Provinsi Yogyakarta Indonesia
Bank Komersial: 41
- Bank Pemerintah (tidak termasuk unit BRI) 11 1,755 0.6
- Bank Swasta (termasuk asing & Usaha Patungan) 24 3,925 0.6
- Bank Daerah (BPD) 6 709 0.8
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 65 1,906 3.4
Jumlah Aset Bank 13,611 1,465,300 0.9
Jumlah Deposito Bank 12,385 1,146,230 1.1
Jumlah Pinjaman Bank (Komersial dan BPR) 6,780 687,528 1.0
1. Pinjaman Bank Komersial 5,951 674,698 0.9
- Pinjaman Modal Kerja 2,320 340,887 0.7
- Pinjaman Investasi 842 129,399 0.7
- Pinjaman Konsumsi 2,789 204,411 1.4
NPL (%) 4.11% 9.40%
2. Pinjaman Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 829 12,830 6.5
NPL (%) 8.96
Sumber: Bank Indonesia
Semua dinilai dalam Miliar Rp kecuali dinyatakan lain

Tabel A.28: Kredit Perbankan Komersial per Sektor dan Kabupaten di Yogyakarta (Miliar Rp)
Sebelum Bencana Akhir Maret 2006
Distribusi Sektoral PDRB dan Kredit Provinsi Kabupaten-kabupaten di Yogyakarta (Kredit Bank
Sektor Bank Yogyakarta Komersial)
% % Bantul Gunung Kulon Sleman Kota
dalam dalam Kidul Progo Yogyakarta
PDRB Kredit
Bank
Pertanian 18.7 3.0 65 10 19 32 68
Pertambangan 0.7 0.4 - 1 - 19 1
Pabrik (industri) 14.5 9.8 14 3 2 63 489
Utilitas (Listrik, Gas dan Air) 0.9 0.0 - - - - 2
Konstruksi 8.3 3.1 1 1 2 117 64
Perdagangan, Restoran, dan Hotel 20.8 23.7 104 102 56 210 957
Transportasi dan pergudangan 9.9 1.5 1 1 12 1 67
Keuangan dan Jasa-jasa 26.3 10.5 36 10 2 62 507
Lainnya – Termasuk Pinjaman Konsumen 48.0 190 168 179 380 1,934
Total 5,952 411 296 272 884 4,089
Total (%) 100.0 100.0 6.9 5.0 4.6 14.9 68.7
Sumber: Bank Indonesia
Tabel A.29: Kredit Perbankan per Kabupaten di Yogyakarta (Miliar Rp) Sebelum Bencana Akhir Maret
2006
Kabupaten-Kabupaten di Yogyakarta
Provinsi Provinsi Bantul Gunung Kulon Sleman Yogyakarta
Yogyakarta Yogyakarta Kidul Progo
A. Kredit menurut Jenis Bank dan Penggunaannya 6,780 586 325 369 1,354 4,146
1. Bank Komersial 100 5,951 410 295 273 884 4,089
- Pinjaman Modal Kerja 39 2,320 183 95 83 394 1,563
- Pinjaman Investasi 14 842 48 33 29 127 606
- Pinjaman Konsumsi 47 2,789 179 167 161 363 1,920
2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 829 176 30 96 470 57
B. Bagian Kredit yang disediakan oleh BPR
1. Bank Komersial 88 70 91 74 65 99
2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 12 30 9 26 35 1
C. NPL Kredit menurut Daerah
1. Bank Komersial 4.11 2.26 1.61 2.94 2.47 4.91
2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 8.69 17.95 3.42 7.25 6.60 6.48
Sumber: Bank Indonesia
Tabel A.30: Dampak Gempa bumi--Perkiraan Potensial Kerugian Pinjaman (Juta Rp)
Provinsi Yogyakarta

# Bank # Debitur yang Kerugian


Terkena Dampak Pinjaman
Bank Komersial: 25 1,213,238
- Bank Pemerintah 4 7,792 310,580
- Bank Swasta (termasuk asing & Usaha Patungan) 20 1,365 304,278
- Bank Daerah (BPD) 1 28,325 464,675
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 65 21,008 133,705
Kerugian Terbesar: # Debitur yang Kerugian
Terkena Dampak Pinjaman
BPD:
- Bank BPD Yogyakarta Daerah 28,325 464,675
BANK MILIK NEGARA:
- Bank BRI Pemerintah 4,791 174,818
- Bank BTN Pemerintah 1,001 49,271
- Bank Mandiri Pemerintah 1,504 48,600
- Bank BNI (termasuk Syariah) Pemerintah 496 37,891
Total Bank Pemerintah: 7,792 310,580
BANK SWASTA:
- Bank Bukopin Swasta 78 127,389
- Bank Danamon Indonesia Swasta 856 51,277
- Bank Muamalat Indonesia Swasta 70 32,699
- Bank BCA Swasta 20 23,344
- Bank Permata Swasta 137 21,684
- Bank Lippo Swasta 47 18,574
- Bank BBI Swasta 16 6,242
- Bank Syariah Mandiri Swasta 35 5,800
- Bank Ekonomi Raharja Swasta 6 5,575
- Bank Bumiputera Swasta 10 5,203
- Bank NISP Swasta 13 1,750
- Bank ANK Swasta 37 1,581
- Bank Century Swasta 6 1,045
- Bank Mega Swasta 7 1,020
- Bank Haga Swasta 2 1,000
- Bank CNB Swasta 25 95
- Bank Niaga, BII, BTPN, Panin Swasta Tidak dilaporkan Tidak dilaporkan
Total Bank Swasta: 1,365 304,278
TOTAL BANK KOMERSIAL: 37,482 1,079,533
TOTAL 65 BPR: 21,008 133,705
TOTAL PINJAMAN RAGU-RAGU PERBANKAN: 58,490 1,213,238
Sumber: Bank Indonesia, kantor Yogyakarta
Provinsi Jawa Tengah--hanya Kabupaten Klaten
Nama # Peminjam Pinjaman Belum Bagian # Potensi Kerugian
Dilunaskan (%) Pinjaman
Bank BRI 18,402 291,063 36.1 145,532
Bank BPD JAWA TENGAH 10,348 194,481 24.1 97,241
Bank DANAMON INDONESIA 1,035 73,986 9.2 14,797
Bank BNI 2,741 72,209 9.0 14,442
Bank NIAGA 313 65,251 8.1 13,050
Bank MANDIRI 492 28,669 3.6 5,734
Bank BTN 697 12,580 1.6 2,516
Bank MEGA 1,232 10,517 1.3 2,103
Bank BII 56 9,854 1.2 1,971
Bank NISP 131 7,375 0.9 1,475
Bank BUANA INDONESIA 56 7,313 0.9 1,463
Bank BUKOPIN 79 6,421 0.8 1,284
Bank BCA 19 5,783 0.7 1,157
LIPPOBANK 43 5,065 0.6 1,013
Bank PANIN 45 4,773 0.6 955
Bank Haga 17 4,608 0.6 922
Bank PERMATA 10 3,220 0.4 644
Bank Bumi Arta 17 1,836 0.2 367
Bank WINDU KENTJANA 2 260 0.03
CENTRATAMA NASIONAL 10 242 0.03
Bank HARDA INTERNASIONAL 22 136 0.02
Bank MAYAPADA 4 32 0.004
TOTAL 35,771 805,674 306,664
Sumber: Bank Indonesia Solo
LINGKUNGAN HIDUP
Tabel A.31: Perkiraan Puing-puing Gedung Berdasarkan Jumlah Rumah yang Rusak, Yogyakarta
dan Jawa Tengah
Volume Limbah (m3) @ Volume
LOKASI Kerusakan Infrastruktur
10m3/rumah Limbah
Perumahan (50m2 Bertembok
Total Daur Ulang
Perumahan Satu Tingkat)
Volume (m3) @ 45%
20 15 5
Limbah (m3)
Rusak Rusak Rusak Rusak
Hancur Hancur Total (m3)
Parah Ringan Parah Ringan
Jawa Tengah 47,519 58,185 80,887 950,382 872,775 404,433 2,227,590 1,225,175
Bantul 26,045 29,582 24,262 520,902 443,732 121,311 1,085,945 597,269
Sleman 4,719 14,403 29,910 94,374 216,041 149,549 459,963 252,980
Yogyakarta 1,948 4,119 2,355 38,952 61,790 11,777 112,518 61,885
Kulon Progo 3,485 4,726 7,999 69,696 70,889 39,996 180,581 99,319
Gunung Kidul 11,323 5,355 16,360 226,458 80,325 81,801 388,584 213,721
Yogyakarta 27,796 58,026 86,281 555,912 870,386 431,406 1,857,704 1,021,737
Klaten 27,270 55,112 84,283 545,400 826,686 421,416 1,793,502 986,426
Magelang 179 456 592 3,582 6,845 2,961 13,388 7,363
Boyolali 276 626 637 5,526 9,396 3,186 18,108 9,959
Sukoharjo 46 1,627 - 918 24,408 - 25,326 13,929
Wonogiri 15 11 67 306 162 333 801 441
Purworejo 9 193 702 180 2,889 3,510 6,579 3,618
Total 75,315 116,211 167,168 1,506,294 1,743,161 835,839 4,085,294 2,246,911

Asumsi:
Pergerakan truk @ 4m3/rit: 561,728
@ 50% diasumsikan sebagai bahan urukan di lokasi: 280,864
200*6 truk/hari 120 Provinsi Yogyakarta & 80 Jawa Tengah: 234.05
@20000000/truk/bulan & 1/2 63000000/front loader/bulan = 51500000* Rp. 109,579,487,109
@9200: US$ 11,910,814
Buruh 5*20000*12 1,200,000
Biaya buruh untuk yang hancur & rusak parah: Rp. 229,830,480,000
DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI
Tabel A.32: Penyebaran Kerugian di daerah terkena dampak
2006 2007
Bagian Nilai Bagian Nilai Gabungan Taksiran Nilai Nilai PDRB Proyeksi Proyeksi Antisipasi Proyeksi Proyeksi Antisipasi
Kerugian Tambah Kerugian Tambah Kerugian Keseluruhan Tambah Tambah 2004 PDRB PDRB Penurunan PDRB PDRB Penurunan
UKM % Kerugian Pertanian Kerugian Nilai Kerugian tahun tahun yang PDRB yang PDRB
(1) UKM % Pertanian Tambah Nilai 2006 2007 direvisi % direvisi %
(2) (3) (4) (2) + (4) Tambah*
Provinsi 1,670 238 1,908 2,177 1,633 544 21,848 24,363 22,730 -6.7 25,727 25,183 -2.1
Yogyakarta
Bantul 55 1,244 7 18 1,261 1,439 1,079 360 4,171 4,652 3,572 -23.2 4,912 4,552 -7.3
Gunung Kidul 4 85 0 - 85 97 73 24 3,378 3,766 3,693 -1.9 3,977 3,953 -0.6
Kulon Progo 4 88 27 68 157 179 134 45 1,836 2,047 1,913 -6.5 2,162 2,117 -2.1
Sleman 7 147 61 151 298 340 255 85 6,640 7,404 7,149 -3.4 7,819 7,733 -1.1
Yogyakarta 5 106 0 0 106 122 91 30 5,876 6,552 6,461 -1.4 6,919 6,889 -0.4
Provinsi Jawa 588 11 599 684 513 385 193,438 215,710 215,197 -0.24 227,789 227,405 -0.17
Tengah
Klaten 26 588 5 11 599 684 513 171 5,125 5,715 5,202 -9.0 6,035 5,864 -2.8

Metodologi: Penilaian khusus daerah atas kerugian pabrik dan sektor pertanian, laporan 90% kerugian total terdapat di seluruh daerah
terkena dampak. Sisa 10% dari total kerugian tersebar di seluruh kabupaten berdasarkan masing-masing jumlah kerugian dalam dua sektor
ini. Nilai tambah dihitung berdasarkan faktor pemasukan dan pengeluaran sektor tertentu yang dilaporkan di bagian dampak ekonomi.
Indikator Ekonomi Terpilih

Tabel A.33: Struktur Ekonomi per Kabupaten dan Provinsi Tahun Fiskal 2004 (dalam Milyar Rp)
Pertanian Konstruksi Listrik, Gas, Jasa Manufaktur Pertambangan, Jasa-jasa Perdagangan, Transportasi, Total
Persediaan Air Keuangan Penggalian Restoran, Komunikasi
Hotel
Provinsi Yogyakarta 3,637.00 1,744.00 268.10 2,199.00 3,219.00 182.50 4,290.00 4,171.00 2,137.00 21,847.60
Bantul 967.38 350.27 49.82 277.58 854.04 46.01 610.76 738.74 276.79 4,171.38
Gunung Kidul 1,212.58 247.58 23.27 156.96 412.80 80.44 549.62 475.99 218.29 3,377.53
Kulon Progo 463.37 88.79 14.98 111.06 285.76 16.44 375.38 297.98 182.08 1,835.82
Sleman 1,029.82 630.36 75.89 730.98 1,075.61 28.11 1,307.56 1,391.73 369.46 6,639.51
Yogyakarta 29.79 376.54 103.67 903.57 678.29 0.49 1,404.94 1,337.47 1,041.13 5,875.89
Provinsi Jawa Tengah 38,490.00 10,900.00 2,362.00 7,141.00 63,140.00 1,855.00 19,650.00 38,940.00 10,960.00 193,438.00
Klaten 1,161.53 423.88 67.49 241.40 1,012.46 28.32 734.68 1,305.25 149.90 5,124.91
Magelang 1,342.22 209.24 30.64 114.11 769.42 93.05 688.29 676.03 225.26 4,148.25
Boyolali 1,496.60 100.48 39.85 268.07 751.05 31.68 313.62 1,128.22 117.69 4,247.27
Sukoharjo 968.63 203.97 80.18 160.19 1,381.92 43.64 408.32 927.84 245.20 4,419.90
Wonogiri 1,605.51 107.28 29.81 136.81 142.52 21.92 395.74 401.63 324.63 3,165.87
Purworejo 1,342.22 209.24 30.64 114.11 769.42 93.05 688.29 676.03 225.26 4,148.25
Indonesia 347,600.00 116,000.00 31,970.00 190,500.00 578,900.00 206,800.00 205,200.00 390,300.00 135,600.00 2,202,870.00
Table A.34: Struktur Ekonomi per Kabupaten dan Provinsi, Tahun Fiskal 2004 (persentase)
Total Total Total Total Jasa Total Total Jasa-jasa Total Total Total
Pertanian Konstruksi Listrik, Gas Keuangan Manufaktur Pertambangan Perdagangan, Transportasi
& dan Restoran & dan Komunikasi
Persediaan Penggalian Hotel
Air
% % % % % % % % % % % % % % % % % % % %
baris kolom baris kolom baris kolom baris kolom baris kolom baris kolom baris kolom baris kolom baris kolom baris kolom
Provinsi 16.6 100 8.0 100 1.2 100 10.1 100 14.7 100.0 0.8 100 19.6 100 19.1 100 9.8 100 100 100
Yogyakarta
Bantul 23.2 26.6 8.4 20.1 1.2 18.6 6.7 12.6 20.5 26.5 1.1 25.2 14.6 14.2 17.7 17.7 6.6 13.0 100 19.1
Gn. Kidul 35.9 33.3 7.3 14.2 0.7 8.7 4.6 7.1 12.2 12.8 2.4 44.1 16.3 12.8 14.1 11.4 6.5 10.2 100 15.5
Kulon Progo 25.2 12.7 4.8 5.1 0.8 5.6 6.0 5.1 15.6 8.9 0.9 9.0 20.4 8.8 16.2 7.1 9.9 8.5 100 8.4
Sleman 15.5 28.3 9.5 36.1 1.1 28.3 11.0 33.2 16.2 33.4 0.4 15.4 19.7 30.5 21.0 33.4 5.6 17.3 100 30.4
Yogyakarta 0.5 0.8 6.4 21.6 1.8 38.7 15.4 41.1 11.5 21.1 0.0 0.3 23.9 32.7 22.8 32.1 17.7 48.7 100 26.9
Provinsi Jawa 19.9 100 5.6 100 1.2 100 3.7 100 32.6 100 1.0 100 10.2 100 20.1 100 5.7 100 100 100
Tengah
Klaten 22.7 3.0 8.3 3.9 1.3 2.9 4.7 3.4 19.8 1.6 0.6 1.5 14.3 3.7 25.5 3.4 2.9 1.4 100 2.6
Magelang 32.4 3.5 5.0 1.9 0.7 1.3 2.8 1.6 18.5 1.2 2.2 5.0 16.6 3.5 16.3 1.7 5.4 2.1 100 2.1
Boyolali 35.2 3.9 2.4 0.9 0.9 1.7 6.3 3.8 17.7 1.2 0.7 1.7 7.4 1.6 26.6 2.9 2.8 1.1 100 2.2
Sukoharjo 21.9 2.5 4.6 1.9 1.8 3.4 3.6 2.2 31.3 2.2 1.0 2.4 9.2 2.1 21.0 2.4 5.5 2.2 100 2.3
Wonogiri 50.7 4.2 3.4 1.0 0.9 1.3 4.3 1.9 4.5 0.2 0.7 1.2 12.5 2.0 12.7 1.0 10.3 3.0 100 1.6
Purworejo 33.6 2.6 5.8 1.6 1.0 1.3 5.5 2.3 9.6 0.4 2.4 3.8 19.3 2.9 16.0 1.2 6.7 1.8 100 1.5
Indonesia 15.8 26.6 5.3 20.1 1.5 18.6 8.6 12.6 26.3 26.5 9.4 25.2 9.3 14.2 17.7 17.7 6.2
Gambar A.1 Sebaran Sektor Ekonomi per Kabupaten dan Provinsi, TA 2004

100%

80%

60%

Total Transportasi dan


40% Komunikasi
Total Perdagangan,
Hotel dan Restoran
Jasa-jasa

20% Total Pertambangan


dan Penggalian
Total Manufaktur

Total Jasa Keuangan

0% Total Listrik, Gas and


Penyediaan Air
l

n
ul

ta
an
tu

ah

a
te
og

Total Konstruksi
rt

si
d

ar
an

em

ng
la

ka
ki

ne
pr

ak

K
B

ng

ya

Te
Sl

do
g

gy
.

.
on

ab
ab

og
.

In
a
ab
un

Yo

Total Pertanian
aw
ul
K

.Y
K
G

.J
ov
ot
.

.
ab

ab

ov
K

Pr
K

Pr

Tabel A.35: PDRB Riil dan pertumbuhan PDRB (dalam triliun Rp pada harga tetap tahun 2000 dan
persentase)
PDRB Tingkat Pertumbuhan Riil
Tahunan
2000 2001 2002 2003 2004 00/01 01/02 02/03 03/04
Provinsi Yogyakarta 117.4 127.8 140.5 152.4 165.4 4.3 4.5 4.6 5.1
Bantul 2.58 2.68 2.80 2.93 3.08 3.74 4.46 4.69 5.04
Gunung Kidul 2.29 2.37 2.44 2.53 2.61 3.38 3.26 3.36 3.43
Kulon Progo 1.19 1.23 1.28 1.34 1.40 3.66 4.12 4.19 4.52
Sleman 3.99 4.17 4.37 4.60 4.84 4.67 4.86 5.08 5.25
Yogyakarta 3.51 3.65 3.81 3.99 4.20 3.95 4.49 4.76 5.05
Provinsi Jawa Tengah 114.7 118.8 123.0 129.2 135.8 3.6 3.5 5.0 5.1
Klaten 3.14 3.27 3.39 3.56 3.74 4.14 3.91 4.91 4.95
Indonesia 1,359 1,407 1,470 1,536 1,607 3.5 4.5 4.5 4.6