Anda di halaman 1dari 46

Modul 1

PENETRASI BAHAN-BAHAN BITUMEN

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini di maksudkan untuk menentukan penetrasi bitumen keras atau
lembek (solid atau semi solid) dengan memasukkan jarum penetrasi ukuran
tertentu, dengan beban dan waktu tertentu ke dalam bitumen pada suhu tertentu.

2. TEORI DASAR
Bitumen adalah zat perekat (cementitious) berwarna hitam atau gelap
yang dapat di peroleh di alam ataupun sebagai hasil produksi. Bitumen terutama
mengandung senyawa hidrokarbon seperti aspal, tar, atau pitch.
Aspal di definisikan sebagai material perekat (cementitious), berwarna
hitam atau coklat tua dengan unsur utama bitumen. Asapal dapat di peroleh di
alam ataupun merupakan residu dari pengilangan minyak bumi. Tar adalah
material berwarna coklat atau hitam, berbentuk cair atau semi padat, dengan
unsur utama bitumen sebagai hasil kondensat dalam destilasi destruktif batu
bara, minyak bumi, atau material organik lainnya. Pitch di definisikan sebagai
material perekat (cementitious) padat berwarna hitam atau coklat tua, yang
berbentuk cair jika di panaskan. Pitch di peroleh sebgai residu dari destilasi
fraksional tar. Tar dan pitch tidak di peroleh dari alam , tetapi merupakan
produk kimiawi. Dari ketiga material di atas, aspal merupakan material yang
umum di gunakan untuk bahan pengikat agregat, oleh karena itu bitumen
seringkali di sebut pula sebagai aspal.
Aspal adalah material yang pada temperatur ruang berbentuk padat
sampai agak padat, dan bersifat termoplastis. (Sukirman, 2003)
Hal ini terlihat pada aspal yang mempunyai viskositas yang sama pada
temperatur tinggi tetapi sangat berbeda viskositas pada temperatur rendah.
Kepekaan terhadap temperatur akan menjadi dasar perbedaan umur aspal untuk
menjadi retak ataupun mengeras. Bersama dengan agregat, aspal merupakan
material pembentuk campuran perkerasan jalan .
Penentuan penetrasi adalah suatu cara untuk mengetahui konsistensi
aspal. Konsistensi aspal merupakan derajat kekentalan aspal yang sangat di

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 1
pengaruhi oleh suhu. Untuk aspal keras atau lembek penentuan konsistensi di
lakukan dengan penetrometer.
3. Konsistensi di nyatakan angka penetrasi, yaitu masuknya jarum penetrasi
dengan beban tertentu ke dalam benda uji aspal pada suhu 25°C selama 5 detik.
Penetrasi di nyatakan dengan anggka dalam satuan 1mm. (Soehartono, 2010)

4. PERALATAN
1. Alat penetrasi yang dapat menggerak kan pemegang jarum turun naik tanpa
gesekan dan dapat mengukur penetrasi sampai 0.1 milimeter.
2. Pemegang jarum seberat (47.5 ± 0.05 gram) yang dapat dilepas dengan
mudah dari alat penetrasi untuk peneraan.
3. Pemberat dari (50 ± 0.05 ) gram dan (100 ± 0.05 ) gram masing-masing di
pergunakan untuk pengukuran penetrasi dengan beban 100 gram dan 200
gram.
4. Jarum penetrasi di buat dari stainless steel mutu 440 C atau HRC 54 sampai
60 dengan bentuk dan ukuran menurut gambar 3, ujung jarum harus
berbentuk kerucut terpancung.
5. Cawan contoh terbuat dari logam atau gelas berbentuk silinder dengan dasar
yang rata. Ukuran cawan untuk pengukuran penetrasi sebagai berikut:

Penetrasi Kapasitas Diameter Dalam

Di bawah 90 ml 55 mm 35 mm

200 – 350 175 ml 70 mm 55 mm

6. Bak perendam (waterbath)


Terdiri dari bejana dengan isi tidak kurang dari 10 liter dan dapat menahan
suhu tertentu dengan ketelitian ± 0.1 ° C. Bejana di lengkapi dengan pelat
dasar berlubang-lubang, terletak 50 mm di atas dasar bejana dan tidak
kurang dari 100 mm di bawah permukaan air dalam bejana.
7. Tempat air untuk benda uji di tempatkan di bawah alat penetrasi. Tempat
tersebut mempunyai isi tidak kurang dari 350 ml dan tinggi yang cukup
untuk merendam benda uji tanpa gerak.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 2
8. Pengukur waktu
Untuk pengukur penetrasi dengan tangan di perlukan stopwatch dengan
skala pembagian terkecil 0.1 detik atau kurang dan kesalahan tertinggi 0.1
detik 60 per detik. Untuk pengukuran dengan alat otomatis kesalahan alat
tersebut tidak boleh melebihi 0.1 detik.

5. BENDA UJI
Memanas kan contoh perlahan-lahan lalu mengaduknya sehingga cukup
air untuk dapat di tuangkan. Saat memanaskan contoh untuk ter tidak boleh
melebihi 60 °C di atas perkiraan titik lembek, dan untuk bitumen tidak boleh
lebih dari 90 °C di atas perkiraan titik lembek.
Waktu untuk memanas kan tidak boleh lebih dari 30 menit. Aduklah
perlahan-lahan agar udara tidak masuk ke dalam contoh. Menuangkan contoh
cair ke tempat contoh setelah cair. Tinggi contoh dalam tempat tersebut tidak
kurang dari angka penetrasi di tambah 10 mm. Buatlah dua buah benda uji
(duplo).
Menutup benda uji agar bebas dari debu dan mendiamkan pada suhu
ruang selama 1 sampai 1,5 jam untuk benda uji kecil, dan 1,5 sampai 2 jam
untuk benda uji besar

6. PROSEDUR
A. Untuk Benda Uji sebelum Kehilangan Berat
a. Meletak kan benda uji dalam tempat air yang kecil dan masukkan tempat
air tersebut ke dalam bak perendam yang telah berada pada suhu yang
telah ditetapkan. Diamkan dalam bak tersebut selama 1 sampai 1,5 jam
untuk benda uji kecil.
b. Memindahkan tempat air dari bak perendam ke bawah alat penetrasi.
c. Menurunkan jarum perlahan-lahan sehingga jarum tersebut menyentuh
permukaan benda uji. Kemudian aturlah angka 0 di arloji penetrometer,
sehingga jarum penunjuk berimpit dengannya.
d. Lepaslah pemegang jarum dan serentak jalankan stopwatch selama
jangka waktu (5 ± 0.1 ) detik

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 3
e. Menjalankan arloji penetrometer dan bacalah angka penetrasi yang
berimpit dengan jarum penunjuk. Bulatkan hingga angka 0.1 mm
terdekat.
f. Lepaskan jarum dari pemegang jarum dan siapkan alat penetrasi untuk
pekerjaan berikutnya.
g. Melakukan pekerjaan (c) sampai (f) di atas tidak kurang dari 3 kali untuk
benda uji yang sama dengan ketentuan setiap titik pemeriksaan berjarak
satu sama lainnya dan dari tepi dinding lebih dari 1 cm.

B. Untuk Benda Uji setelah Kehilangan Berat


a. Melakukan pemeriksaan penurunan berat minyak dan aspal sesuai
dengan tata cara PA-0304-76 standar Bina Marga.
b. Melakukan langkah-langkah seperti pada pemeriksaan sebelum
kehilangan berat (langkah A).

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 4
Modul 2

TITIK LEMBEK ASPAL DAN TER

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan titik lembek aspal dan
ter yang berkisar antara 30°C sampai 200°C. Yang dimaksud dengan titik
lembek adalah suhu pada saat bola baja, dengan berat tertentu, mendesak turun
suatu lapisan aspal atau ter yang tertahan dalam cincin berukuran tertentu,
sehingga aspal atau ter menyentuh pelat dasar yang terletak di bawah cincin
pada tinggi tertentu, sebagai akibat kecepatan pemanasan tertentu. Sedangkan
penggunaan 30ºC sampai 200ºC berdasarkan spesifikasi termometer titik
lembek SNI 2434:2011 pada daerah pengukuran di titik lembek temperatur
tinggi.

2. DASAR TEORI
Aspal adalah suatu bahan bentuk padat atau setengah padat berwarna
hitam sampai coklat gelap, bersifat perekat (cementitious) yang akan melembek
dan meleleh bila dipanasi, tersusun terutama dari sebagian besar bitumen yang
kesemuanya terdapat dalam bentuk padat atau setengah padat dari alam atau
dari hasil permurnian minyak bumi atau derivatnya. Sedangkan yang
dimaksudkan titik lembek adalah dimana suhu pada saat bola baja dengan berat
tertentu mendesak turun suatu lapisan aspal yang tertahan dalam cincin ukuran
tertentu pada benda uji, sehingga aspal tersebut menyentuh plat dasar yang
terletak dibawah cincin dengan ketinggian tertentu akibat kecepatan pemanasan
suhu. Alat untuk menguji titik lembek ini adalah Ring and Ball. (Atmaja, 2015)

Tujuan dari uji titik lembek ini yakni untuk mengetahui pada suhu
berapa aspal tersebut mengalami perubahan dari kondisi keras hingga menjadi
lembek. Jika telah diketahui suhunya, maka pemakaian aspal tersebut tidak
boleh digunakan pada kondisi jalan yang memiliki suhu permukaan lebih besar
dari suhu titik lembek tersebut. Jadi jika aspal memiliki titik lembek 44ºC, maka
aspal tersebut tidak dapat digunakan pada jalan yang memiliki suhu permukaan
lebih dari 44ºC. Titik lembek aspal dan ter adalah 30°C - 200°C yang artinya
masih ada nilai titik lembek yang hampir sama dengan suhu permukaan jalan.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 5
Pada umumnya cara ini diatasi dengan mengunakan filler terhadap campuran
aspal.

Metoda ring and ball pada umumnya di terapkan pada aspal dan ter ini.
Dapat mengukur titik lembek bahan semi solid sampain solid. Titik
lembek adalah besar suhu dimana aspal mencapai derajat kelembekan (mulai
leleh) dibawah kondisi spesifik dari tes. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi titik lembek, yaitu :

• Kualitas dan jenis cairan penghantar,


• Berat bola besi,
• Jarak antara ring dengan dasar plat besi,
• Besarnya suhu pemanasan.
Menurut SK SNI 06 – 2434 – 1991, titik lembek aspal dan ter berkisar
antara 46º - 54ºc. Dalam pengujian titik lembek ini diharapkan titik lembek
hendaknya lebioh tinggi dari suhu permikaan jalan sehingga tidak terjadi
pelelehan aspal akibat temperatur permukaan jalan, untuk itu dilakukan usaha
untuk mempertinggi titik lembek antara lain dengan menggunakan filler
terhadap campuarn beraspal. (M.Ridho, 2012)

3. PERALATAN
a. Termometer sesuai gambar 5.
b. Cincin kuningan, gambar 6a.
c. Bola baja, diameter 9,53 mm berat 3,45 sampai 3,55 gram.
d. Alat pengarah bola, gambar 6b
e. Bejana gelas tahan pemanasan mendadak dengan diameter dalam 18,5 cm
dengan tinggi sekurang-kurangnya 12 cm.
f. Dudukan benda uji, gambar 6c.
g. Penjepit

4. BENDA UJI
a. Memanaskan contoh perlahan-lahan sambil menaduknya secara terus-
menerus hingga cair merata dan dapat dituang. Saat memanaskan dan

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 6
mengaduk, dilakukan secara perlahan-lahan agar gelembung-gelembung
udara tidak masuk.
Suhu saat memanaskan ter tidak melebihi 56°C diatas perkiraan titik
lembeknya dan untuk aspal tidak melebihi 100 °C. Waktu untuk
memanaskan tidak boleh lebih dari 30 menit di atas kompor/hotplate atau
tidak lebih dari 2 jam di dalam oven.
b. Memanaskan 2 buah cincin sampai mencapai suhu tuang dan meletakkan
kedua cincin tersebut di atas pelat kuningan yang telah diberi lapisan dari
campuran talc atau sabun.
c. Menuangkan contoh ke dalam 2 buah cincin. Lalu mendiamkannya
sekurang-kurangnya pada suhu 8°C dibawah titik lembeknya selama
minimal 30 menit.
d. Setelah dingin, selanjutnya diratakan permukaan contoh dalam cincin
dengan menggunakan pisau yang telah dipanaskan.

5. PROSEDUR
a. Memasang dan mengatur kedua benda uji diatas dudukannya dan
meletakkan pengarah bola diatasnya. Kemudian memasukkan seluruh
peralatan tersebut ke dalam bejana gelas. Lalu mengisi bejana dengan air
suling baru, dengan suhu (5±1)℃ sehingga tinggi permukaan air berkisar
antara 101,6mm sampai 108 mm. Meletakkan thermometer yang sesuai
untuk pekerjaan ini diantara kedua benda uji (kurang lebih 12,7mm dari tiap
cincin). Pengecekan dan mengatur jarak antara permukaan pelat dasar benda
uji sehingga menjadi 25,4mm.
b. Meletakkan bola-bola baja yang bersuhu 5℃ diatas dan ditengah
permukaan masing-masing benda uji yang bersuhu 5℃ menggunakan
penjepit dengan bantuan pengarah bola.
c. Memanaskan bejana dengan kecepatan pemanasan 5℃ per menit.
Kecepatan pemanasan ini tidak boleh diambil dari kecepatan
pemanasan rata-rata dari awal dan akhir pekerjaan ini. Untuk 3 menit
berikutnya perbedaan kecepatan pemanasan per menit tidak boleh

melebihi 0,5ᵒC.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 7
LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 8
Modul 3

TITIK NYALA DAN TITIK BAKAR DENGAN CLEVELAND OPEN

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan titik nyala dan titik
bakar dari semua jenis hasil minyak bumi kecuali minyak bakar dan bahan
lainnya yang mempunyai titik nyala open cup kurang dari 79℃.
Titik nyala adalah suhu pada saat terlihat nyala singkat pada suatu titik
diatas permukaan aspal.
Titik bakar adalah suhu pada saat nyala sekurang-kurangnya 5 detik
pada suatu titik diatas permukaan aspal.

2. TEORI DASAR
Terdapat dua metode pratikum yang umum dipakai untuk menentukan
titik nyala dari bahan aspal. Pratikum untuk Aspal Cair (Cutback) biasanya
dilakukan dengan menggunakan alat Tagliabue Open Cup, sementara untuk
bahan aspal dalam bentuk padat biasanya digunakan alat Cleveland Open Cup.
Kedua metode tersebut pada prinsipnya adalah sama, walau pada metode
Cleveland Open Cup, bahan aspal dipanaskan di dalam tempat besi yang
direndam di dalam bejana air, sedangkan pada metode Tagliabue Open Cup,
pemanasan dilakukan pada tabung kaca yang juga diletakkan di dalam air.
Pada kedua metode tersebut, suhu dari material aspal ditingkatkan
secara bertahap pada jenjang yang tetap. Seiring kenaikan suhu, titik api kecil
dilewatkan di atas permukaan benda uji yang dipanaskan tersebut. Titik nyala
ditentukan sebagai suhu terendah dimana percikan api pertama kali terjadi
sedangkan titik bakar ditentukan sebagai suhu dimana benda uji terbakar.
Penetrasi adalah suatu parameter yang mengelompokan aspal
didasarkan atas tingkat kekerasan aspal. Semakin besar penetrasi , semakin
lembek aspal. Aspal dengan tingkat penetrasi yang rendah cocok digunakan
pada daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia untuk menghindari
pelunakan aspal akibat temperature. Untuk aspal tingkat penetrasi yang tinggi
cocok digunakan daerah yang beriklim dingin untuk mencegah terjadinya retak-
retak pada musim dingin. Beberapa jenis aspal yang umum digunakan

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 9
berdasarkan tingkat penetrasinya adalah penetrasi 40/50, 60/70 dan 80/100.
Penetrasi 35 umumnya digunakan pada lokasi lalu lintas yang berat, penetrasi
70/100 pada lokasi yang lebih ringan dan penetrasi 50 digunakan pada banyak
tujuan (shell bitumen, 1990). Penetrasi 60/70 cocok untuk digunakan di
Indonesia, dibawah itu untuk tujuan aspal yang lain. Penetrasi 60/70 dengan
titik nyala min 200ºC dan titik bakar dengan penetrasi 60/70 min 100 ºC.

3. PERALATAN
a. Termometer.
b. Cleveland open cup yaitu cawan kuningan dengan bentuk dan ukuran.
c. Pelat pemanas, terdiri dari logam, untuk melekatkan cawan Cleveland dan
bagian atas dilapisi seluruhnya oleh asbes setebal 0,6 cm (1/4”).
d. Sumber pemanas, Pembakar gas atau tungku listrik, atau pembakar alcohol
yang tidak menimbulkan asap atau nyala disekitar bagian atas cawan.
e. Penahan angin, alat yang menahan angin apabila digunakan nyala sebagai
pemanas.
f. Nyala penguji, yang dapat diatur dan memberikan nyala dengan diameter
3,2 – 4,8 mm dengan panjang tabung 7,5 cm.

4. BENDA UJI
a. Panaskan contoh aspal antara 148,9℃ dan 176℃ sampai cukup cair.
b. Kemudian isilah cawan Cleveland sampai garis dan hilangkan (pecahkan)
gelombang udara yang ada pada permukaan cairan.

5. PROSEDUR
a. Meletakan cawan diatas pelat pemanas dan mengatur sumber pemanas
sehingga terletak di bawah titik tengah cawan.
b. Meletakan nyala penguji dengan poros jarak 7,5 cm dari titik tengah cawan.
c. Menempatkan termometer tegak lurus didalam benda uji dengan jarak 6,4
mm diatas dasar cawan dan terletak pada satu garis yang menghubungkan
titik tengah cawan dan titik poros nyala penguji. Kemudian mengatur
sehingga poros thermometer terletak pada jarak 1/4 diameter cawan tepi.
d. Menempatkan penahan angin di depan nyala penguji.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 10
e. Menyalakan sumber pemanas dan mengatur pemanasan sehingga kenaikan
suhu menjadi (15±1) ℃ per menit sampai benda uji mencapai suhu 56℃
dibawah titik nyala perkiraan.
f. Kemudian mengatur kecepatan pemanasan 5℃ per menit sampai 28℃
dibawah titik nyala perkiraan.
g. Menyalakan nyala penguji dan mengatur agar diameter nyala penguji
tersebut menjadi 3,2 sampai 4,8 mm.
h. Memutar nyala penguji sehingga melalui permukaan cawan (dari tepi ke
tepi cawan) dalam waktu satu detik. Mengulang pekerjaan tersebut setiap
kenaikan 2℃.
i. Melanjutkan pekerjaan (f) dan (h) sampai terlihat nyala singkat pada suatu
titik diatas permukaan benda uji. Membaca suhu pada termometer dan
mencatat.
j. Melanjutkan pekerjaan (i) sampai terlihat nyala yang agak lama sekurang-
kurangnya 5 detik diatas permukaan benda uji (aspal). Membaca suhu pada
termometer dan mencatat.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 11
Modul 4

PENURUNAN BERAT MINYAK DAN ASPAL (THICK FILM TEST)

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menetapkan kehilangan berat minyak
dan aspal dengan cara pemanasan dan tebal tertentu, yang dinyatakan dalam
persen berat semula.

2. DASAR TEORI
Aspal adalah suatu bahan bentuk padat atau setengah padat berwarna
hitam sampai coklat gelap, bersifat perekat (cementitious) yang akan melembek
dan meleleh bila dipanasi, tersusun terutama dari sebagian besar bitumen yang
kesemuanya terdapat dalam bentuk padat atau setengah padat dari alam atau dari
hasil permurnian minyak bumi atau derivatnya.

Aspal didefinisikan sebagai suatu cairan yang lekat atau membentuk padat,
yang terdiri dari hydrocarbons atau turunannya, terlarut dalam trichloro-ethylene
dan bersifat tidak mudah menguap serta lunak secara bertahap jika dipanaskan.
Aspal berwarna hitam atau kecoklatan, memiliki sifat kedap air dan adhesive. (
British Standart, 1989 )

Aspal terbuat dari minyak mentah, melalui proses penyulingan atau dapat
ditemukan dalam kandungan alam sebagai bagian dari komponen alam yang
ditemukan bersama-sama material lain. Aspal pula diartikan sebagai bahan
pengikat pada campuran beraspal yang berbentuk dari senyawa-senyawa komplek
seperti Asphaltenese, Resins dan Oils. Aspal mempunyai sifat visco-elastis dan
tergantung dari waktu pembebanan. Pada proses pencampuran dan proses
pemadatan sifat aspal dapat ditunjukan dari nilai viscositasnya, sedangkan pada
sebagian besar kondisi saat masa pelayanan, aspal mempunyai sifat viscositas
yang diwujudkan dalam suatu nilai modulus kekakuan. ( Shell Bitumen, 1990 )

Secara garis besar, kandungan pada aspal secara kimia terdiri dari Aromat,
Parafin, Alefine. Sedangkan pada sifat fisik aspal sendiri terdiri dari durabilitas
aspal, yaitu kemampuan untuk menghambat laju penuaan, lalu ada adhesi dan
LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 12
kohesi yang memiliki kemampuan untuk melekat satu sama lainnya pada adhesi
dan pada kohesi sebagai pelekat dan pengikat agregat. Lalu terdapat juga sifat
kepekaan aspal terhadap temperature yang berfungsi untuk mengetahui pada
temperatur berapa aspal dan agregat dapat dicampur dan dipadatkan. Selanjutnya
terdapat pengerasan dan penuaan, dimana sifat ini menyebabkan terjadinya
pengerasan pada aspal dan akan meningkatkan kekakuan campuran beraspal
sehinga akan mempengaruhi kinerja campuran pada aspal.

Sedangkan yang dimaksud penurunan berat minyak dan aspal ini adalah
proses penguapan minyak yang terkandung dalam aspal akibat kenaikan suhu
yang diberikan. Pada praktikum Penurunan Berat Minyak dan Aspal, proses
penguapan minyak yang terkandung dalam aspal dilakukan dengan cara
pengovenan. Proses ini disebut Thin Film Over Test (TFOT), yaitu dengan melihat
nilai penetrasi titik lembek dan daktilitas.
Tujuan dari praktikum Penurunan Berat Minyak dan Aspal ini yakni untuk
mengetahui kehilangan minyak pada aspal akibat pemanasan berulang dan juga untuk
mengukur perubahan kinerja aspal akibat kehilangan berat setelah dipanaskan.

3. PERALATAN
a. Termometer
b. Oven, yang dilengkapi dengan :
c. Pengatur suhu untuk memanasi sampai (180 ± 1)°C.
d. Pinggan logam berdiamter 25 cm, menggantung dalam oven pada poros
vertical dan berputar dengan kecepatan 5 sampai 6 putaran per menit, seperti
pada gambar 9.
e. Cawan
f. Logam atau gelas berbentuk silinder, dengan dasar rata ukuran dalam:
diameter 55 mm dan tinggi 35 mm.
g. Neraca analitik, dengan kapasitas (200± 0,001) gram.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 13
4. BENDA UJI
a. Persiapan Aduklah contoh minyak atau aspal serta panaskan bila perlu untuk
mendapatkan campuran yang merata.
b. Menuangkan contoh kira-kira (50 ± 0,5) gram kedalam cawan dan setelah
dingin timbanglah dengan ketelitian 0,01 gram (A)
c. Benda uji yang diperiksa harus bebas air.
d. Mempersiapkan benda uji ganda (duplo).

5. PROSEDUR
a. Meletakan benda uji diatas pinggan setelah oven mencapai suhu (163 ± 1)°C,
b. Memasang thermometer pada duduknya sehingga terletak pada jarak 1,9 cm
dari pinggir pinggan dengan ujung 6 mm diatas pinggan.
c. Mengambil benda uji dari oven setelah 5 jam sampai 5 jam 15 menit.
d. Mendinginkan benda uji pada suhu ruang, kemudian timbanglah dengan
ketelitian 0,01 gram (B).

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 14
Modul 5

KELARUTAN BITUMEN DALAM KARBON TETRA KLORIDA

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan kadar bitumen yang
larut dalam cairan karbon TCE

2. DASAR TEORI
Aspal merupakan bahan yang larut dalam Karbon Disulfida yang
mempunyai sifat tidak tembus air dan mempunyai sifat adhesi atau daya lekat
sehingga umum digunakan dalam campuran perkerasan jalan dimana aspal
sebagai bahan pengikatnya. Aspal merupakan material yang berwarna hitam
sampai coklat tua dimana pada temperatur ruang berbentuk padat sampai semi
padat. Jika temperatur tinggi aspal akan mencair dan pada saat temperatur
menurun aspal akan kembali menjadi keras (padat) sehingga aspal merupakan
material yang termoplastis (Sukirman, 2003).
Berdasarkan cara memperolehnya aspal dapat dibedakan atas aspal alam dan
aspal buatan. Aspal alam adalah aspal yang tersedia di alam seperti aspal danau
di Trinidad dan aspal gunung seperti aspal gunung seperti aspal di Pulau Buton.
Aspal buatan adalah aspal yang diperoleh dari proses destilasi minyak bumi
(aspal minyak) dan batu bara. (Mashuri, 2010)

3. PERALATAN
a. Labu Erlenmeyer
b. Corong
c. Kertas penyaring
d. Neraca analitik dengan kapasitas (200±0.001)gram
e. Cairan TCE
f. Batang Pengaduk
g. Gelas ukur

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 15
4. BENDA UJI
Mengambil contoh bitumen yang telah dikeringkan sebanyak 2 gram

5. PROSEDUR
a. Mengambil benda uji dan menimbangnya sebanyak 2 gram.
b. Memasukan benda uji kedalam labu erlenmeyer.
c. Lalu memasukan cairan karbon TCE kedalam labu erlenmeyer sebanyak
200 ml.
d. Menggoyangkan labu erlenmeyer secara perlahan hingga benda uji larut
dalam cairan TCE.
e. Menimbang kertas saring.
f. Menyaring larutan bitumen dengan cara menuangkan ke dalam gelas ukur
melalui kertas saring yang sudah dibentuk seperti corong.
g. Mengeringkan kertas saring dan setelah kering menimbang kembali kertas
saring.

6. PERHITUNGAN

Pada praktikum ini praktikan menghitung kadar kelarutan bitumen dengan


menggukan rumus dibawah ini:

%&' – )&*
Kadar kelarutan : 𝑋 100%
%&'

Keterangan: B-A = Berat aspal


C = Berat kertas penyaring
D = Berat kertas penyaring setelah menyaring
bitumen

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 16
Modul 6

DAKTILITAS BAHAN-BAHAN BITUMEN

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengukur jarak terpanjang yang dapat
ditarik antara cetakan yang berisi bitumen keras sebelum putus, pada suhu dan
kecepatan tarik tertentu.

2. TEORI DASAR
Pengujian daktilitas aspal yaitu untuk menentukan keplastisan suatu aspal,
apabila digunakan nantinya aspal tidak retak. Percobaan ini dilakukan dengan cara
menarik benda uji berupa aspal dengan kecepatan 50 mm/menit pada suhu 25˚C dengan
dengan toleransi ± 5 %.
Sifat reologis daktilitas digunakan untuk mengetahui ketahanan aspal terhadap
retak dalam penggunaannya sebagai lapis perkerasan. Aspal dengan daktilitas yang
rendah akan mengalami retak-retak dalam penggunaannya karena lapisan perkerasan
mengalami perubahan suhu yang agak tinggi. Oleh karena itu aspal perlu memiliki
daktilitas yang cukup tinggi.
Sifat daktilitas dipengaruhi oleh sifat kimia aspal, yaitu susunan senyawa
hidrokarbon yang dikandung oleh aspal tersebut. Standar regangan yang dipakai adalah
100 – 200 cm.
Pada pengujian daktilitas disyaratkan jarak terpanjang yang dapat ditarik
antara cetakan yang berisi bitumen minimum 100 cm.
Adapun tingkat kekenyalan dari aspal adalah :
· < 100 cm = getas
· 100 - 200 cm = plastis
· > 200 cm = sangat plastis liat
Sifat daklitas ini sangat dipengaruhi oleh kimia aspal yaitu akibat susunan
senyawa karbon yang dikandungnya. Bila aspal banyak mengandung senyawa prakin
dengfan senyawa panjang, maka daktalitas rendah. Demikian aspal didapatkan dari
blowing, dimana gugusan aspal hidrokarbon tak jenuh yang mudah menyusut
sedangkan yang banyak mengandung parakin karena susunan rantai hidrokarbonya dan
kekuatan strukturnya kurang plastis

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 17
3. PERALATAN
a. Cetakan dektilitas kuningan, gambar 10.
b. Termometer sesuai gambar 11.
c. Bak perendam isi 10 liter yang dapat menjaga suhu tertentu selama pengujian
dengan ketelitian 0,1°C, dan benda uji dapat direndam sekurang kurangnya 10
cm, dibawah permukaan air. Bak tersebut dilengkapi dengan pelat dasar yang
berlubang diletakkan 5 cm dari dasar bak perendam untuk meletakkan benda uji.
d. Mesin uji dengan ketentuan sebagai berikut;
• Dapat menarik benda uji.
• Dapat menjaga benda uji tetap terendam dan tidak menimbulkan getaran
selama pemeriksaan.
e. Methyl Alkohol teknik dan Sodium Klorida teknik (jika
diperlukan).

4. BENDA UJI
a. Melapisi semua bagian dalam cetakan daktilitas dan bagian atas pelat dasar
dengan campuran glycerin dan dextrin atau glycerin dan talk atau glycerin dan
kaolin atau amalgam.
b. Memanaskan contoh aspal kira-kira 100 gr sehingga mencair dan dapat dituang.
Untuk menghindarkan pemanasan setempat, dilakukan dengan hati-hati.
Pemanasan dilakukan sampai suhu antara 80 C sampai 100 C (diatas titik lembek).
Kemudian contoh disaring dengan saringan no.50 dan setelah diaduk, dituangan
ke dalam cetakan.
c. Pada waktu mengisi, contoh menuangkan hati-hati dari ujung ke ujung hingga
penuh berlebihan,
d. Mendinginkan cetakan pada suhu ruang selama 30 sampai 40 menit lalu
memindahkan seluruhnya ke dalam bak peredam yang telah disiapkan pada suhu
pemeriksaan (sesuai dengan pemeriksaan), selama 30 menit, kemudian ratakan
contoh yang berlebihan dengan pisau atau spatula yang panas sehingga cetakan
terasa penuh dan rata.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 18
5. PROSEDUR
a. Mendiamkan benda uji dengan suhu 25°C dalam bak perendam selama 85 sampai
95 menit, kemudian melepasan benda uji dari pelat dasar dan sisa-sisa cetakannya.
b. Memasang benda uji pada alat mesin uji dan menarik benda uji secara teratur
dengan kecepatan 5 menit/menit. Sampai benda uji putus. Perbedaan kecepatan
lebih kurang 5% masih diizinkan. Membaca jarak antara pemegang cetakan, pada
saat benda uji putus (dalam cm). Selama percobaan berlangsung benda selalu
terendam sekurang-kurangnya 2,5 cm dari air dan suhu dipertahankan tetap (2,5
+0,5) C.

6. PERHITUNGAN
Waktu (menit) Panjang (mm)

10

11

12

13

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 19
Modul 7
BERAT JENIS BITUMEN KERAS DAN TER

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis bitumen keras dan
ter dengan piknometer. Berat jenis bitumen atau ter adalah perbandingan antara berat
bitumen atau ter dan berat air suling dengan isi yang sama pada suhu tertentu.

2. TEORI DASAR
Aspal atau bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa
hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor. Aspal sebagai
bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat viskoelastis. Aspal
merupakan bahan yang sangat kompleks, dan secara kimia belum dikarakterisasi
dengan baik. Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon jenuh, dan tak jenuh,
alifatik, dan aromatic yang mempunyai atom karbon sampai 150 per molekul. Atom-
atom selain hidrogen, dan karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen,
oksigen, belerang, dan beberapa atom lain. Secara kuantitatif, biasanya 80% massa
aspal adalah karbon, 10% hydrogen, 6% belerang, dan sisanya oksigen, dan nitrogen,
serta sejumlah renik besi, nikel, dan vanadium. Senyawa-senyawa ini sering
dikelaskan atas aspalten (yang massa molekulnya kecil), dan malten (yang massa
molekulnya besar). Biasanya aspal mengandung 5 sampai 25% aspalten. Sebagian
besar senyawa di aspal adalah senyawa polar (Soehartono, 2010).

Berdasarkan Bina Marga dan SNI 15-2049-2004, berat jenis aspal merupakan
salah satu parameter yang digunakan dalam mendesain perencanaan campuran aspal
dan agregat. Syarat minimal berat jenis aspal pada umumnya menurut Binamarga
adalah 1,00 gr /cc. Berat jenis dari bitumen sangat tergantung dari nilai peneterasi
dan suhu bitumen itu sendiri. Macam-macam berat jenis bitumen dan kisaran
nilainya, yaitu:
1. Penetration grade bitumen dengan berat jenis antara 1,010 sampai dengan 1,040.
2. Bitumen yang telah teroksidasi dengan berat jenis berkisar antara 1,015 – 1,035.
3. Hard grades bitumen dengan berat jenis berkisar antara 1,045 – 1,065.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 20
4. Cut back grades bitumen dengan berat jenis berkisar antara 0,992 – 1,007.

3. PERALATAN
a. Piknometer
b. Thermometer
c. Timbangan dengan ketelitian 1 mg
d. Bak perendam
e. Es batu
f. Air

4. BENDA UJI
Memanaskan contoh bitumen keras sejumlah 2/3 piknometer sampai menjadi cair
dan mengaduk bitumen tersebut agar tidak terjadi pemanasan setempat.

5. PROSEDUR
1. Menimbang piknometer dengan tutup menggunakan timbangan dengan
ketelitian 1 mg
2. Menimbang piknometer dengan tutup + air menggunakan timbangan dengan
ketelitian 1 mg
3. Menimbang piknometer + benda uji menggukana ditimbangan dengan ketelitian
1 mg
4. Mengisi piknometer yang berisi benda uji dengan air kemudian menutup tanpa
ditekan lalu mendiamkannya agar gelembung – gelembung udara keluar
5. Menekan tutup piknometer hingga rapat lalu memasukan dan mendiamkan
piknometer ke dalam bak perendam selama 30 menit dengan suhu 25 °C
6. Mengangkat piknometer dari bak perendam lalu mengeringkan permukaan
piknometer dan menimbang piknometer+air+benda uji tersebut.

6. PENGOLAHAN DATA
Rumus menghitung berat jenis :

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 21
Dimana : A= Berat piknometer (dengan penutup) (gram)
B= Berat piknometer berisi air (gram)
C= Berat piknometer berisi aspal (gram)
D= Berat piknometer berisi aspal dan air (gram)

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 22
Modul 8
ANALISA AGREGAT HALUS DAN KASAR

1. MAKSUD
Praktikum ini dimaksudkan untuk menentukan distribusi ukuran butiran (gradasi)
agregat halus dan kasar dengan menggunakan saringan.

2. TEORI DASAR
Analisa saringan adalah suatu kegiatan analisis yang digunakan untuk
menentukan persentase berat butiran agregat yang lolos dalam satu set saringan,
yaitu angka persentase kumulatif yang digambarkan pada grafik pembagian butir.
Ukuran butiran yang maksimum dari agregat ditunjukan dengan saringan terkecil
dimana agregat tersebut masih bisa lolos 100%. Ukuran nominal maksimum agregat
adalah ukuran saringan yang terbesar dimana diatas saringan tersebut terdapat
sebagian agregat yang tertahan. Ukuran agregat maksimum dan gradasi agregat
dikontrol oleh spesifikasi. Susunan dari butiran agregat sangat berpengaruh dalam
perencanaan suatu perkerasan.
Saringan yang biasa digunakan untuk analisa saringan adalah saringan menurut
standar ASTM (amerika), Bristish Standard, DIN (jerman), AFNOR (Perancis), dan
ISo (Internasional). Setiap standar mempunyai ukuran berbeda satu sama lainnya.
Meskipun demikian biasanya dapat diambil ukuran-ukuran lubang yang berdekatan
atau ekivalennya. Saringan utama terdiri dari saringan yang berurutan dengan
ukuran lubang ayakan dibawahnya. Satu set saringan terdiri dari ukuran 4”, 3”, 2”,
1”, ¾”, ½”, 3/8”, No.4, No.8, No.16, No.30, No.50, No.100, No.200.

3. PERALATAN
1. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2% dari berat benda uji
2. Satu set saringan

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 23
a. 76,2 mm (3”) h. 6,4 mm (0,25”)
1
b. 63,5 mm (2 / 2 “) i. No.4 : 4,75 mm
c. 50,8 mm (2”) j. No.8 : 2,36 mm
d. 33,1mm (1 1/ 2 “) k. No.30 : 0,600 mm
e. 25,4 mm (1”) l. No.100 : 0,150 mm
f. 19,2 mm ( 3 / 4 “) m. No.200 : 0,075 mm
1
g. 12,7 mm ( / 2“)

3. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110 ± 5)
°C
4. Alat pemisah contoh (sample splitter)
5. Mesin Penggetar Saringan
6. Talam-talam
7. Kuas, sikat kuningan, sendok dan alat-alat lainnya

4. BENDA UJI
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara perempat sebanyak:
a. Agregat halus:
• Ukuran maksimum No.4 ; berat minimum 500 gram
• Ukuran maksimum No.8 ; berat minimum 100 gram
• Ukuran maksimum No.30 ; berat minimum gram
• Ukuran maksimum No.50 ; berat minimum gram
• Ukuran maksimum No.100 ; berat minimum gram
• Ukuran maksimum No.200 ; berat minimum gram

b. Agregat Medium

• Ukuran maksimum 1/2” ; berat minimum 2500 gram


• Ukuran maksimum 3/8” ; berat minimum gram
• Ukuran maksimum No.4 ; berat minimum 500 gram
• Ukuran maksimum No.8 ; berat minimum 100 gram
• Ukuran maksimum No.10 ; berat minimum gram

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 24
c. Agregat kasar
• Ukuran maksimum 1” ; berat minimum 10 kg
• Ukuran maksimum 3/4” ; berat minimum 5 kg
• Ukuran maksimum 1/2” ; berat minimum 2,5 kg
• Ukuran maksimum 3/8” ; berat minimum kg
• Ukuran maksimum No.4 ; berat minimum 500 gram

Bila agregat berupa campuran dari agregat halus dan kasar, agregat tersebut
dipisahkan menjadi 2 bagian dengan saringan No.4. Selanjutnya agregat halus dan
kasar disediakan sebanyak jumlah seperti tercantum diatas.
Benda uji disiapkan sesuai dengan prosedur, kecuali apabila butiran yang
melalui saringan No.200 tidak perlu diketahui jumlahnya dan bila syarat syarat
ketelitian tidak menghendaki pencucian.

5. PROSEDUR
1. Menyiapkan benda uji
• Agregat kasar (1 cm - 2 cm) : 2000 gram
• Agregat medium (6 mm – 15 mm) : 2000 gram
• Agregat halus (0 mm – 5 mm) : 1000 gram
2. Menyiapkan saringan
• Sampel agregat kasar : 1”, ¾”, ½”, 3/8”,No. 4, dan Pan
• Sampel agregat medium : ½”, 3/8”, No.4,No. 8,No. 30”,dan Pan
• Sampe agregat halus : No. 4, No. 8, No. 30, No. 50, No. 100, No. 200,
dan Pan
3. Menyusun saringan dengan susunan ukuran diameter saringan terbesar berada di
bagian atas.
4. Memasukkan benda uji ke dalam saringan paling atas pada susunan saringan.
5. Meletakkan susunan saringan ke atas mesin pengguncang. Mesin pengguncang
dinyalakan selama 15 menit.
6. Setelah 15 menit, menimbang berat agregat yang tertahan setiap saringannya

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 25
6. PENGOLAHAN DATA
Agregat Halus
Berat Jumlah Persen (%)
Saringan Diameter
Tertahan
No. (mm) Tertahan Kumulatif Lewat
(gr)

Jumlah

Modulus kehalusan atau Fineness Modulus (FM) pada percobaan adalah;

𝐹𝑀 = =

Agregat Kasar
Berat Jumlah Persen (%)
Saringan Diameter
Tertahan
No. (mm) Tertahan Kumulatif Lewat
(gr)
1
2
3
4
5
6
Jumlah

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 26
Modulus kehalusan atau Fineness Modulus (FM) pada percobaan adalah;

𝐹𝑀 = =

Agregat Medium
Berat Jumlah Persen (%)
Saringan Diameter
Tertahan
No. (mm) Tertahan Kumulatif Lewat
(gr)
1
2
3
4
5
6
Jumlah

Modulus kehalusan atau Fineness Modulus (FM) pada percobaan adalah;

𝐹𝑀 = =

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 27
Modul 9
BERAT JENIS DAN PENYERAPAN DARI AGREGAT KASAR

1. MAKSUD
Pemerikasaam ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis (bulk), berat
jenis kering permukaan jenuh (SSD), berat jenis semu (apparent) dari agregat kasar

a. Berat jenis ( bulk specific gravity) ialah perbandingan antara berat agregat kering
dan air suling yang isinya sama dengan agregat dalam keadaan jenuh pad suhu
tertentu.
b. Berat kering permukaan jenuh (SSD), yaitu perbandingan antara berat agregat
kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan agregat
dalam keadaan jenuh pada suhu tertetu.
c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) ialah perbandingan antara berat
agregat kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam
keadaan kering pada suhu tertentu.
d. Penyerapan ialah persentasi berat air yang dapat diserap pori terhadap berat
agregat kering.

2. TEORI DASAR
Berat jenis adalah nilai perbandingan antara massa dan volume dari bahan yang
kita uji.Sedangkan penyerapan berarti tingkat atau kemampuan suatu bahan untuk
menyerap air.Jumlah rongga atau pori yang didapatpada agregat disebut porositas.
Pengukuran berat jenis agregat diperlukan untuk perencanaan campuran aspal
dengan agregat,campuran ini berdasarkan perbandingan berat karena lebih teliti
dibandingkan dengan perbandingan volume dan juga untuk menentukan banyaknya
pori agregat. Berat jenis yang kecil akan mempunyai volume yang besar sehingga
dengan berat sama akan dibutuhkan aspal yang banyak dan sebaliknya.
Agregat dengan kadar pori besar akan membutuhkan jumlah aspal yang lebih
banyak karena banyak aspal yang terserap akan mengakibatkan aspal menjadi lebih
tipis.Penentuan banyak pori ditentukan berdasarkan air yang dapat terarbsorbsi oleh

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 28
agregat. Nilai penyerapan adalah perubahan berat agregat karena penyerapan air oleh
pori-pori dengan agregat pada kondisi kering.
Macam-macam berat jenis yaitu:
1. Berat jenis curah (Bulk specific gravity) adalah berat jenis yang diperhitungkan
terhadap seluruh volume yang ada (Volume pori yang dapat diresapi aspal atau
dapat dikatakan seluruh volume pori yang dapat dilewati air dan volume
partikel).
2. Berat jenis kering permukaan jenis (SSD specific gravity) adalah berat jenis yang
memperhitungkan volume pori yang hanya dapat diresapi aspal ditambah dengan
volume partikel.
3. Berat jenis semu (apparent specific gravity) adalah berat jenis yang
memperhitungkan volume partikel saja tanpa memperhitungkan volume pori
yang dapat dilewati air.Atau merupakan bagian relative density dari bahan padat
yang terbentuk dari campuran partikel kecuali pori atau pori udara yang dapat
menyerap air.
4. Berat jenis efektif merupakan nilai tengah dari berat jenis curah dan
semu,terbentuk dari campuran partikel kecuali pori-pori atau rongga udara yang
dapat menyerap air yang selanjutnya akan terus diperhitungkan dalam
perencanaan campuran agregat dengan aspal.

3. PERALATAN
1. Keranjang kawat ukuran 3.35 mm atau 2.36 mm (No.6 atau No.8) dengan
kapasitas kira-kira 5 kg.
2. Tempat air dengan kapasitas dan bentuk yang sesuai untuk pemeriksaan. Tempat
ini harus dilengkapi dengan pipa sehingga permukaan air selau tetap.
3. Timbangan dengan kapasitas 5 kg dan ketelitian 0,1 % dari berat contoh yang
ditimbang dan dilengkapi dengan alat penggantung keranjang.
4. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110 ±
5) ºC
5. Alat pemisah contoh
6. Saringan nomor 4

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 29
4. BENDA UJI
Benda uji adalah agregat kasar yang tertahan saringan no.4 diperoleh dari alat
pemisah contoh atau cara perempat sebanyak kira- kira 2000 gram.

5. PROSEDUR
1. Mencucikan benda untuk menghilangkan debu atau bahan- bahan lain yang
merekat pada permukaan.
2. Mengerinkan benda uji dalam oven pada suhu 105ᵒC sampai berat tetap.
3. Mendinginkan benda uji pada suhu kamar selama 1-3 jam, kemudian
menimbangkan dengan ketelitian 0,5 gram (Bk)
4. Merendamkan benda uji dalam air pada suhu kamar selama 24 ± 4 jam.
5. Mengeluarkan benda uji dari air, lap dengan kain penyerap sampai selaput air
pada permukaannya hilang (Kodisi SSD), untuk butiran yang besar pengeringan
harus satu persatu.
6. Menimbangkan benda uji kering permukaan jenu (Bj).
7. Meletakkan benda uji di dalam keranjang, lalu menggoncangkan batu untuk
mengeluarkan udara yang tersekap dan tentukan berat nya di dalam air (Ba).
Ukur suhu air untuk menyesuaikan perhitungan kepada suhu standar (25ᵒC).

6. PENGOLAHAN DATA
%2
Berat jenis curah (Bulk Specific Gravity) =
%3&%4
%3
Berat jenis kering permukaan jenuh (SSD) =
%3&%4
%2
Berat jenis semu (Apparent Specific Gravity) =
%2&%4
%3&%2
Persentasi Absorbsi = 𝑥 100%
%2

Keterangan:
Bk = Berat benda uji oven dry (gram)
Bj = Berat benda uji kering permukaan jenuh (gram)
Ba = Berat benda uji kering permukaan jenuh didalam air (gram)

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 30
Modul 10
BERAT JENIS DAN PENYERAPAN DARI AGREGAT HALUS

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini bermasud untuk menentukan berat jenis (bulk), berat jenis kering
permukaan tanah (SSD), berat jenis semu (apparent) dan penyerapan dari agregat halus,
a. Berat jenis (bulk specific gravity) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan air
suling yang isinya sama dengan agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
b. Berat kering permukaan jenuh (SSD), yaitu perbandingan antara berat agregat kering
permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan agregat dalam keadaan
jenuh pada suhu tertentu.
c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) adalah perbandingan antara berat agregat
kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan kering
pada suhu tertentu.
d. Penyerapan adalah presentasi berat air yang dapat diserap pori terhadap berat agregat
kering.

2. TEORI DASAR
Berat jenis agregat adalah perbandingan antara berat volume agregat dan berat volume
air. Berat jenis asal disyaratkan menurut spesifikasi minimum 1, jadi berat jenis yang digunakan
sesuai dengan spesifikasi nilai berat jenis ini digunakan dalam perencanaan untuk lapisan
perkerasan lentur karena dengan berat jenis aspal ini akan dapat menentukan besar kecilnya
volume dari aspal.
Berat jenis suatu agregat adalah perbandingan berat dari suatu satuan volume bahan
terhadap air dengan volume yang sama pada temperatur 20˚C-25˚C (68˚-77˚F).berat jenis
angregat berbea satu sama lain tergantung dari jenis batuan,susunan,material,struktur batuan
dan porositas batuannya.
Menurut SNI 03-1969-1990 tentang berat jenis penyerapan agregat kasar 3%
sedangkan SNI 03-1970-1990 menjelaskan berat jenis agregat halus min 2.5 dan penyerapan
agregat maks 5%.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 31
Pengukuran berat jenis agregat diperlukan untuk perencanaan campuran aspal dengan
agregat, campuran ini berdasarkan perbandingan berat karena lebih teliti dibandingkan dengan
perbandingan volume dan juga untuk menentukanbanyaknya pori agregat.
Berat jenis yang kecil akan mempunyai volume yang besar sehingga dengan berat sama
akan dibutuhkan aspal yang banyak dan sebaliknya.Perhitungan rancangan campuran
dibutuhkan parameter penunjuk berat yakni berat jenis agregat adalah berat volume agregat
adalah berat volume agregat dan volume air. Berat jenis ada beberapa macam yaitu :
a. Berat jenis bulk adalah berat jenis yang memperhitungkan berat agregat dalam keadaan
kering dan seluruh volume agregat
b. Berat jenis kering permukaan adalah dengan memperhitungkan berat agregat dalam
keadaan kering permukaan.Jadi berat agregat + berat air yang dapat meresap kedalam pori
agregat dan seluruh volume agregat
c. Berat jenis semu adalah menghitung berat agregat dalam keadaan kering dan volume
agregat yang tak dapat diresapi oleh air
d. Berat jenis efektif adalah berat jenis dengan memperhitungkan berat jenis/agregat dalam
keadaan kering.Berat jenis dan volume agregat yang tidak dapat diresapi oleh aspal
Dalam berat jenis dibedakan atas hasil yang didapat sesuai dengan untuk agregat kasar
disesuaikan dengan SNI 03-1969-1990 untuk berat jenis dan penyerapan agregat maksimal 3 ℅
dan untuk agregat halus sesuai dengan SNI 03-1970-1990 untuk berat jenis agregat halus dan
penyerapannya,digunakan maksimal 2.5 ℅ untuk berat jenis dan 3 ℅ untuk penyerapannya.
Ada juga dari AASHTO T-228-90 yang menyebutkan bahwa pada pemeriksaan apabila
diperoleh berat jenis aspal 1.039.Berat jenis yang disyaratkan menurut spesifikasi adalah jenis
aspal yang digunakan untuk pencampuran suatu lapisan perkerasan lentur karena dengan berat
jenis kita dapat menentukan persentase aspal atau sebesar kecilnya volume aspal.
Dalam penggunaan berat jenis curah adalah suatu sifat digunakan dalam menghitung
volume yang didapat oleh agregat dalam berbagai campuran yang mengandung agregat aspal
dan campuran lain yang diproporsikan atau dianalisis berdasarkan volume absolute.Berat jenis
curah ditentukan dari kondisi kering oven digunakan unuk menghitung ketika agregat dalam
keadaan kering atau disesuaikan kering.
Berat jenis semu adalah kepadatan relatif dari bahan padat yang membuat partikel
pokok tidak termasuk ruang pori diantara pori/partikel dapat dimasuki oleh air.Ketika agregat
tersebut dianggap telah cukup lama kontak dengan air sehingga air telah menyerap
penuh.Standar labolatorium untuk penyerapan akan diperoleh setelah merendam agregat kering
kedalam air selama (24 ± 4 jam).

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 32
3. PERALATAN
Berikut ini adalah peralatan yang digunakan dalam melakukan percobaan:
a. Timbangan dengan kapasitas minimum 1 kg dengan ketelitian 0,1 gr.
b. Piknometer dengan kapasitas 500 ml.
c. Kerucut terpancung (cone), diameter bagian atas (40 + 3) mm, diameter bagian bawah (
90+3) mm & tinggi (75+3) mm dibuat dari logam tebal minimum 0,8 mm.
d. Batang penumbuk yang mempunyai bidang penumbuk rata, berat (340+15) gr, diameter
permukaan penumbuk (25+3) mm.
e. Saringan no.4.
f. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110+5)ºC.
g. Pengatur suhu dengan ketelitian pembacaan 0,1 C.
h. Talam dan bejana tempat air.

4. BENDA UJI
Benda uji adalah agregat yang lewat saringan no.4 diperoleh dari alat pemisah
contoh atau cara perempat sebanyak kira kira 1000 gr (2 x 500 gr).

5. PROSEDUR
1. Menyiapkan seluruh peralatan dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini.
2. Mengeringkan benda uji dalam oven pada suhu (110+5)ºC sampai berat tetap yang
dimaksud dengan berat tetap adalah keadaan yang diuji selama 3 kali proses
penimbangan dan pemanasan dalam oven dengan selang waktu 2 jam berturut-turut,
tidak akan mengalami perubahan kadar air lebih besar dari pada 0,1%.
3. Kemudian, membuang air perendam dan menebarkan agregat diatas talam, lalu
memasukan talam tersebut ke dalam oven ±30 menit guna untuk mengkeringkan
agregat. Melakukan pengeringan sampai tercapai keadaan kering permukaan jenuh.
4. Lalu memeriksa keadaan kering permukaan jenuh dengan mengisikan benda uji kedalam
kerucut teepancung. Keadaan kering jenuh permukaan tercapai bila benda uji runtuh
akan tetapi dalam keadaan tercetak.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 33
5. Setelah tercapai kering permukaan jenuh, memasukkan 500 gr benda uji kedalam
piknometer. Memasukkan air suling mencapai 90% isi piknometer, memutar sambil
diguncang sampai terlihat sampai ada air yang ikut terhisap, dapat juga dilakukan
dengan merebus piknometer.
6. Merendam piknometer dala air dan ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan kepada
suhu standar 25ºC.
7. Menambahkan air sampai mencapai tanda batas.
8. Menimbang piknometer berisi air dan benda uji sampai ketelitian 0,1 gr (Bt).
9. Mengeluarkan benda uji, mengeringkan dalam oven dengan suhu (110+5)ºC sampai
berat tetap, kemudian mendinginkan benda uji dalam desikator.
10. Menimbang setelah benda uji dingin kemudian (Bk).
11. Menentukan berat piknometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna penyesuaian
dengan suhu standar 25ºC (B).

6. PENGOLAHAN DATA
%2
Berat jenis curah (Bulk Specific Gravity) =
% 6 788&%9
788
Berat jenis kering permukaan jenuh (SSD) =
%6788&%9
%2
Berat jenis semu (Apparent Specific Gravity) =
%6%2&%9
788&%2
Persentasi Absorbsi = 𝑥 100%
%2

Keterangan :
Bk = Berat benda uji oven dry (gram) = 481.5
B = Berat piknometer berisi air (gram) = 664
Bt = Berat piknometer berisi benda uji dan air (gram) = 971
500 = Berat benda uji, dalam keadaan kering permukaan jenuh (gram)

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 34
Modul 11
CAMPURAN ASPAL DENGAN ALAT MARSHALL

1. MAKSUD
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menetukan ketahanan (stabilitas) terhadap
kelelahan plastis (flow) dari campuran aspal. Ketahanan (stabilitas) ialah kemampuan
suatu campuran aspal untuk menerima beban sampai terjadi kelelahan plastis yang
dinyatakan dalam kilogram atau pound. Kelelahan plastis ialah keadaan perubahan
bentuk suatu campuran aspal yang terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh
yang dinyatakan dalam millimeter atau 0.01 inci.

2. TEORI DASAR
Rancangan campuran berdasarkan metode Marshall ditemukan oleh Bruce
Marshall, dan telah distandarisasi oleh ASTM ataupun AASHTO melalui beberapa
modifikasi, yaitu ASTM D 1559-76, atau AASHTO T-245-90. Prinsip dasar metode
Marshall adalah pemeriksaan stabilitas dan kelelehan (flow), serta analisis kepadatan
dan pori dari campuran padat yang terbentuk. Alat Marshall merupakan alat tekan
yang dilengkapi dengan proving ring (cincin penguji) berkapasitas 22.2 KN (5000
lbs) dan flowmeter. Proving ring digunakan untuk mengukur nilai stabilitas, dan
flowmeter untuk mengukur kelelehan plastis atau flow. Benda uji Marshall
berbentuk silinder berdiameter 4 inchi (10.2 cm) dan tinggi 2.5 inchi (6.35 cm).
Prosedur pengujian Marshall mengikuti SNI 06-2489-1991, atau AASHTO T 245-
90, atau ASTM D 1559-76. Secara garis besar pengujian Marshall meliputi:
persiapan benda uji, penentuan berat jenis bulk dari benda uji, pemeriksaan nilai
stabilitas dan flow, dan perhitungan sifat volumetric benda uji. Pada persiapan benda
uji, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Jumlah benda uji yang disiapkan
2. Persiapan agregat yang akan digunakan.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 35
3. Penentuan temperatur pencampuran dan pemadatan.
4. Persiapan campuran aspal beton.
5. Pemadatan benda uji.
6. Persiapan untuk pengujian Marshall.
Jumlah benda uji yang disiapkan ditentukan dari tujuan dilakukannya uji
Marshall tersebut. AASHTO menetapkan minimal 3 buah benda uji untuk setiap
kadar aspal yang digunakan. Agregat yang akan digunakan dalam campuran
dikeringkan di dalam oven pada temperatur 105 ºC - 110ºC. Setelah dikeringkan
agregat dipisah-pisahkan sesuai fraksi ukurannya dengan mempergunakan saringan.
Temperatur pencampuran bahan aspal dengan agregat adalah temperatur pada saat
aspal mempunyai viskositas kinematis sebesar 170 ± 20 centistokes, dan temperatur
pemadatan adalah temperatur pada saat aspal mempunyai nilai viskositas kinematis
sebesar 280±30 centistokes. Karena tidak diadakan pengujian viskositas kinematik
aspal maka secara umum ditentukan suhu pencampuran berkisar antara 145 ºC - 155
ºC, sedangkan suhu pemadatan antara 110 ºC - 135 ºC.

3. PERALATAN
a. 9 buah cetakan benda uji yang berdiameter 10 cm (4”) dan tinggi 7.5 cm (3”)
lengkap dengan pelat alas dan leher sambung.
b. Alat pengeluar benda uji yang digunakan untuk mengeluarkan benda uji yang
sudah dipadatkan dari dalam cetakan, alat ini dipakai sebagai alat ejector.
c. Penumbuk yang mempunyai permukaan tumbuk rata berbentuk silinder, dengan
berat 4.536 kg (10 pound), dan tinggi jatuh kebih bebas 45.7cm (18”)
d. Landasan pemadatan terdiri dari balok kayu (jati atau sejenis) berukuran kira-
kira 20x20x45 cm (8”x8”18”) yang dilapisi dengan pelat baja berukuran
30x30x2.5 cm (12”x12”x1”) ddan kaitkan pada lantai beton dengan 4 bagian
siku.
e. Silinder cetaakan benda uji
f. Mesin tekan lengkap dengan:
• Kepala penekan berbentul lengkung (breaking head)

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 36
• Cincin penguji yang berkapasitas 2500 kg (5000 pound) dengan ketelitiann
12.5 kg (25 pound) dilengkapi arloji tekan dengan ketelitian 0.0025 cm
(0.0001”)
• Arloji kelelehan dengan ketelitian 0.25 mm (0.01”) dengan perlengkapannya
g. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (200±3)
ºC
h. Bak perendam (waterbath) dilengkapi dengan pengatur suhu minimum 20 ºC
i. Perlengkapan lain:
• Panci-panci untuk memanaskan agregat aspal dan campuran aspal
• Pengukur suhu dari logam (metal thermometer) berkapasitas 250 ºC dan 100
ºC dengan ketelitian 0.5 atau 1% dari kapasitas
• Timbangan yang dilengkapi penggantung benda uji berkapasitas 2 kg dengan
ketelitian 0.1 gr dan timbangan berkapasitas 5 kg ketelitian 1 gr
• Kompor
• Sarung asbes dan karet
• Sendok pengaduk dan perlengkapan lain

4. BENDA UJI
a. Persiapan benda uji
Keringkan agregat, sampai berat nya tetap pada suhu (105±5) ºC. Pisah-pisah
kan agregat dengan cara penyaringan kering kedalam fraksi- fraksi yang
diketahui atau seperti berikut ini:
• 1” sampai ¾”
• ¾” sampai 3/8”
• 3/8” sampai No. 4 (4.76 mm)
• No.4 (4.76 mm) sampai No.8 (2.38 mm)
• Lewat saringan No. 8 (2.38 mm)
b. Penentuan suhu pencampuran dan pemadatan

Suhu pencampuran dan pemadatan harus ditentukan sehingga bahan


pengikat yang dipakai menghasilkan viscositas seperti tabel 5.

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 37
Tabel 5. Viskositas Penentu Suhu
Campuran Pemadatan
Bahan Kinematik Saybolt Engler Kinematik Saybolt Engler
Pengikat Furol Furol

C.St Det S. F. C. St Det S. F.

Aspal 170±20 85 ± 10 280 ± 30 140 ± 15


Panas

Aspal 170±20 85 ± 10 280 ± 30 140 ± 15


dingin

Tar 25 ± 3 40 ± 6

c. Persiapan campuran
Untuk tiap benda uji diperlukan campuran agregat dan aspal sebanyak
±1200 gram sehingga menghasilkan tinggi benda uji kira- kira 6.25 cm ± 0.125
(2.5” ± 0.05”) .Panaskan panic pencampur beserta agregat kira- kira ± 28 ºC
diatas suhu pencampur untuk aspal panas dan tar dan aduk sampai merata, untuk
aspal dingin pemanasan sampai 14 ºC di atas suhu pencampuran.
Sementara itu panaskan aspal sampai suhu pecampuran. Tuangkan aspal
sebanyak yang dibutuhkan ke dalam agregat yang sudah dipanaskan tersebut.
Kemudian aduklah dengan cepat pada suhu sesuai tabel 5 sampai agregat terlapis
mereta.
d. Pemadatan benda uji
Bersihkan perlengkapan cetakan benda uji serta bagian muka penumbuk
dengan seksama dan panaskan sampai suhu antara 93,3 ºC dan 148,9 ºC. Letakan
selembar kertas saring atau kertas penghisap yang sudah digunting menurut
ukuran cetakan ke dalam dasar cetakan, kemudian masukkan seluruh campuran

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 38
ke dalam cetakan dan tusuk-tusuk campuran keras-keras dengan spatula yang
dipanaskan atau aduklah dengan sendok smen 15 kali keliling pinggiran nya dan
10 kali di bagian dalam.
Lepaskan lehernya dan rata kanlah permukaan campuran dengan
menggunakan sendok semen menjadi bentuk yang sedikit cembung. Waktu akan
dipadatkan suhu campuran harus dalam batas-batas suhu pemadatan seperti yang
disebut pada tabel 5. Letekan cetakan diatas pemadat, dalam memegang cetakan.
Lakukan pemadatan dengan alat penumbuk sebanyak 75.50 atau 35 kali sesuai
kebutuhan dengan tinggi jatuh 45 cm (18”), selama pemadatan tahan lah agar
sumbu palu pemadat selalu tegak harus pada cetakan. Lepaskan capping alas dan
leher nya balikkan alat cetak berisi benda uji dan pasang kembali leher nya
dibalik ini tumbuk lah dengan jumlah tumbukan yang sama.
Sesudah pemadatan, benda uji didiamkan sampai suhu ruang kemudian
lepas kan capping alas dan pasang lah alat pengeluar benda uji pada permukaan
ujung ini. Dengan hati- hati keluarkan dan letakan benda uji di atas permukaan
rata yang halus, biarkan selama kira- kira 24 jam pada suhu ruang.

5. PROSEDUR
a. Membersihkkan benda uji dari kotoran- kotoran yang menempel
b. Memberikan tanda pengenal pada masing- masing benda uji
c. Mengukur tebal benda uji dengan ketelitian 0.1 mm
d. Menimbang benda uji
e. Merendam kira- kira 24 jam pada suhu ruang
f. Menimbang dalam air untuk mendapatkan isi
g. Menimbang benda uji dalam kondisi kering permukaan jenuh
h. Merendam benda uji dalam kondisi aspal panas atau terdalam bak perendam
selama 30 menit
Sebelum melakukan pengujian, membersihkan batang penuntun (guide
road) dan permukaan dalam dari kepala penekan (test heads). Melumasi batang
penuntun sehingga kepala penekan yang atas dapat meluncur bebas, bila di
kehendaki kepala penekan direndam bersama- sama benda uji pada suhu antara
21 ºC - 38 ºC. Keluarkan benda uji dari bak perendam atau dari oven pemanas

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 39
udara dan letakan kedalam sekmen bawah kepala penekan. Memasang segmen
atas di atas uji, dan meletakan keseluruhannya dalam mesin penguji. Memasang
arloji kelelehan atau (flow meter) pada kedudukan nya diatas salah satu batang
penuntun dan atur kedudukan jarum penunjuk pada angka nol, sementara tangkai
arloji (sleeve) dipegang teguh terhadap segmen atas kepala penekan (breaking
head). Menekan selubung tangkai arloji kelelehan tersebut pada segmen atas
kepala penekan selama pembebanan berlangsung.
i. Sebelum memberikan pembebanan, Menaikkan kepala penekan beserta benda uji
nya hingga menyentuh alas cincin penguji. Lalu mengatur kedudukan jarum
arloji tekan pada angka nol.
Memberikan pembebanan kepada benda uji dengan kecepatan tetap
sebesar 50 mm permenit sampai pembebanan maksimum tercapai atau
pembebanan menurut seperti yang ditunjukan oleh jarum arloji tekan dan catat
pembebanan maksimum yang tercapai.
Melepaskan selubung tangkai arloji kelelehan (sleeve) pada saat
pembebanan mencapai maksimum dan Mencatat nilai kelelehan yang ditunjukan
oleh jarum arloji. Waktu yang diperlukan dan saat diangkat nya benda uji dari
rendaman air sampai tercapai nya beban maksimum tidak boleh melebihi 30
detik.
Perlu diingat untuk benda uji yang tebal nya tidak sebedar 2.5 inci,
koreksi lah beban nya dengan menggunakan faktor perkalian yang bersangkutan
dari tabel 6. Umumnya benda uji harus didinginkan seperti yang di tentukan
diatas. Bila diperlukan pendinginan yang lebih cepat dapat dipergunakan kipas
angin meja. Campuran-campuran kohesi nya kurang sehingga pada waktu
dikeluar kan dari cetakan segera sesudah pemadatan tidak dapat menghasilkan
bentuk silinder yang diperlukan bisa didinginkan bersama-sama cetakan nya di
udara, sampai terjadi cukup kohesi untuk menghasilkan bentuk silinder yang
semestinya
Tabel 6. Faktor Koreksi Stbilitas
Isi benda uji Tebal benda uji
(cm) (in) (mm) Angka korelasi

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 40
200-213 1 25.4 5.56

214-225 1 1/16 27.0 5.00

226-237 1 1/8 28.6 4.55

238-250 1 3/16 30.2 4.17

251-264 1¼ 31.8 3.85

265-276 1 5/16 33.3 3.57

277-289 1 3/8 34.9 3.33

290-301 1 7/16 36.5 3.03

302-316 1½ 38.1 2.78

317-328 1 9/16 39.7 2.50

329-340 1 5/8 41.3 2.27

341-353 1 11/16 42.9 2.08

354-367 1¾ 44.4 1.92

368-379 1 13/16 46.0 1.79

380-392 1 7/8 47.6 1.67

393-405 1 15/16 49.2 1.56

406-420 2 50.8 1.47

421-431 2 1/16 52.4 1.39

432-443 2 1/8 54.0 1.32

444-456 2 3/16 55.6 1.25

457-470 2¼ 57.2 1.19

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 41
471-482 2 5/16 58.7 1.14

483-495 2 3/8 60.3 1.09

496-508 2 7/16 61.9 1.04

509-522 2½ 63.5 1.00

523-535 2 9/16 64.0 0.96

536-546 2 5/8 65.1 0.93

547-559 2 11/16 66.7 0.89

560-573 2¾ 68.3 0.86

574-585 2 13/16 71.4 0.83

586-598 2 7/8 73.0 0.81

599-610 2 15/16 74.6 0.78

611-625 3 76.2 0.76

6. PENGOLAHAN DATA

Tabel 6.1 Percobaan Marshall Test

a b c D E f g h i j
Persen
Tinggi Berat dalam Berat Berat isi Berat
aspal Berat Isi
No Benda keadaan jenuh dalam air benda jenis
terhadap (gr) (ml)
Uji (gr) (gr) uji (gr) teoritis
campuran
1 5% 68.8 1180.5 1195 649.5 545.5 2.164 2.328 0.104 92.848
2 5.50% 68.3 1193 1204.5 666 538.5 2.215 2.328 0.117 95.046
3 6% 69.5 1196 1206 662.5 543.5 2.201 2.328 0.127 94.404
4 6.50% 66.3 1190.5 1196.5 669.5 527 2.259 2.328 0.141 96.907
5 7% 65.5 1195 1201 670.5 530.5 2.253 2.328 0.152 96.627
6 7.50% 65.1 1189 1194 674 520 2.287 2.327 0.165 98.078

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 42

k l m n o p q r s
Persen Persen Persen
Jumlah Pembaca Stabilitas Stabilitas
rongga rongga rongga
kandungan arloji kalibrasi kolerasi kelelehan Stabilitas/kelelehan
terhadap terisi terhadap
rongga stabilitas alat alat
agregat aspal campuran
7.048 7.152 1.454 7.048 32 723.053 723.053 3.200 225.954
4.837 4.954 2.364 4.837 41 926.411 926.411 3.200 289.504
5.469 5.596 2.268 5.469 36 813.434 813.434 2.950 275.740
2.952 3.093 4.563 2.952 37 836.030 836.030 2.880 290.288
3.222 3.373 4.493 3.222 28 632.671 632.671 2.550 248.106
1.757 1.922 8.576 1.757 39 881.221 881.221 3.550 248.231

Keterangan:
a = % aspal terhadap campuran h = berat jenis teoritis
b = tinggi benda uji i = (a x g)/Bj aspal
:88&4 ; <
c = berat (gram) j =
%3 4<=><49

d = berat dalam keadaan jenuh (gram) k = Jumlah kandungan rongga (%)


e = berat dalam air (gram) = 100 – i – j
f = isi (ml) = d-e l = persen rongga terhadap agregat
g = berat isi benda uji = c/f = 100– j

m = persen rongga terisi aspal p = stabilitas = o x kalibrasi alat

= 100 x i/l q = stabilitas = p x korelasi tinggi

n = persen rongga terhadap campuran r = kelelehan (mm)

:88& <
= 100 − s = stabilitas/kelelehan = q/r
@

o = pembacaan arloji stabilitas

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 43
Tabel 6.2 Analisa Campuran Agregat (Blending)
Agregat Nilai
Agregat Kasar Agregat Halus Filler
Saringan No. Medium Total Spesifikasi Tengah
Total 19% Total 20.50% Total 60.50% Total 0% Spesifikasi
1 1/2" (38,1 mm) - - - - - - - -
1" (25,4 mm) 99.89 0.190 100 0.205 100 0.605 100 0 99.98 80 - 100 90
3/4" (19,1 mm) 89.78 0.171 100 0.205 100 0.605 100 0 98.06 - -
1/2" (12,7 mm) 54.78 0.104 100 0.205 100 0.605 100 0 91.41 - -
3/8" (9,52 mm) 32.46 0.062 98.36 0.202 100 0.605 100 0 86.83 - -
No. 4 (4,76 mm) 20.50 0.039 2.62 0.005 96.21 0.582 100 0 62.64 60 - 80 70
No. 8 (2,38 mm) 0 0.000 0.56 0.001 73.95 0.447 100 0 44.86 35 - 50 42.5
No.16 0 0.000 0 0.000 0 0.000 100 0 0.00 - -
No.30 (0,59 mm) 0 0.000 0.12 0.000 39.87 0.241 100 0 24.14 19 - 30 24.5
No. 50 (0,279
0 0.000 0 0.000 29.07 0.176 100 0 17.59 13 -23 18
mm)
No. 100 (0,149 7 sampai
0 0.000 0 0.000 19.18 0.116 100 0 11.61 11
mm) 15
No. 200 (0,074 1 sampai
0 0.000 0 0.000 6.16 0.037 100 0 3.73 4.5
mm) 8
Pan 0 0.000 0 0.000 0.000 0.000 0 0 0.00

a. Mencari nilai gram aggregat dari aspal dari total berat aspal dan aggregat
1000 gram
Perhitungan kadar aspal :
• Berat aspal
• Berat Aggregat
Aggregat Kasar, Aggregat Medium, Aggregat Halus

b. Perhitungan Menentukan Berat Jenis Aggregat


Berat Jenis Aggregat Bulk (A) :
:88
A= % BCCDECBF GBHBD % BCCDECBF MENOKM % BCCDECBF PBLKH
6 6
IJ IKLG BCCDECBF GBHBD IJ IKLG BCCDECBF MENOKM IJ IKLG BCCDECBF PBLKH

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 44
c. Perhitungan Menentukan Berat Jenis Aspal Teoritis
Contoh perhitungan menentukan Bj teoritis kadar aspal 6 %:
100
𝐵𝑗 𝑇𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 =
% 𝐴𝑔𝑔𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 % 𝑎𝑠𝑝𝑎𝑙
+
𝐵𝑗. 𝐴𝑔𝑔𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡 𝐵𝑗 𝐴𝑠𝑝𝑎𝑙

d. Menghitung Berat Isi Benda Uji


Contoh perhitungan pada kadar aspal :
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑖𝑠𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑑𝑎 𝑢𝑗𝑖 =
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑢ℎ − 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑖𝑟

e. Menghitung persen rongga terhadap aggregate


Contoh perhitungan kadar aspal 6 % :
100 − % 𝑎𝑠𝑝𝑎𝑙 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑖𝑠𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑑𝑎 𝑢𝑗𝑖
% 𝑟𝑜𝑛𝑔𝑔𝑎 = 100 −
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑎𝑔𝑔𝑟𝑒𝑔𝑎𝑡

f. Menghitung persen rongga terisi aspal


Contoh perhitungan kadar aspal 6% :
𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛 𝑎𝑠𝑝𝑎𝑙 𝑥 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑖𝑠𝑖
% 𝑟𝑜𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛 = 100 𝑥
𝑏𝑗 𝑎𝑠𝑝𝑎𝑙 𝑥 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛 𝑟𝑜𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑎𝑔𝑟𝑎𝑔𝑎𝑡

g. Menghitung persen rongga terhadap campuran


Contoh perhitungan kadar aspal 6% :
100 𝑥 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑖𝑠𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑑𝑎 𝑢𝑗𝑖
% 𝑟𝑜𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛 = 100 −
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠

h. Menghitung Nilai Stabilitas x Korelasi Tinggi


Stabilitas = Pembacaan arloji x kalibrasi alat
*Kalibrasi alat = 22,5954 kgf/div

LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 45
LABORATORIUM ASPAL
UNIVERSITAS BAKRIE 46