0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan6 halaman

Materi Jenis2 Tali

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai jenis-jenis tali yang umum digunakan di kapal dan cara penggunaannya. Jenis tali yang dijelaskan antara lain tali manila, nylon, sisal, serabut kelapa, hemp, jute, flax, cotton, polyester, polypropylene, polythene, dan terylene. Dokumen juga menyinggung cara mengeluarkan dan menyimpan tali agar tidak rusak. Pengetahuan tentang tali dan cara penggunaann

Diunggah oleh

nanang
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan6 halaman

Materi Jenis2 Tali

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai jenis-jenis tali yang umum digunakan di kapal dan cara penggunaannya. Jenis tali yang dijelaskan antara lain tali manila, nylon, sisal, serabut kelapa, hemp, jute, flax, cotton, polyester, polypropylene, polythene, dan terylene. Dokumen juga menyinggung cara mengeluarkan dan menyimpan tali agar tidak rusak. Pengetahuan tentang tali dan cara penggunaann

Diunggah oleh

nanang
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Mengenali Tali Dan Cara Penggunaanya DI Kapal

posted by Partono Suwadji

Pembaca setia blog ini apabila kita mempunyai keinginan menjadi seorang awak kapal ada hal
yang sangat penting yang berhubungan dengan pekerjaan di kapal yang kadang luput dari
perhatian kita. Hal penting tersebut adalah kemampuan dalam hal tali temali. Kelihatan sepele
namun apabila salah dalam menerapkan dapat mengganggu operasional kapal dan atau malah
bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

Contoh kecil misalnya, dalam pekerjaan menambatkan kapal. Apabila ABK tidak tanggap dan
benar dalam melilitkan tali di bolder bisa mengakibatkan tali susah di buka atau malah bisa
mengakibatkan tangan terlilit tali. Untuk itulah dasar atau pengetahuan tetang tali temali wajib
hukumnya untuk di mengerti bagi para calon ABK.

Pada zaman kapal layar dahulu, tali temali adalah dasar pengetahuan yang harus diketahui oleh
tiap-tiap anak buah kapal layar karena banyak berhubungan dengan keselamatan kapal dan
keselamatan jiwanya sendiri.

Hal ini disebabkan karena dengan ikatan yang sederhana saja dan cepat para pelaut dapat
mengikat maupun melepaskan suatu ikatan dimana bila pengetahuan ini tidak diketahui akan
ada kemacetan dalam ikatan tali temali sehingga untuk kapal layar dapat terjadi bahaya dalam
olah geraknya.

Juga untuk naik turun ke tiang layar diperlukan tangga-tangga dari tali serta untuk mengikat
dirinya sendiri pada tiang layar bilamana sedang bekerja diperlukan pengetahuan tentang tali
menali. Lama kelamaan pengetahuan tali menali berkembang sehingga terjadi tali-tali hiasan
maupun simpul-simpul.

Sebelum kita belajar lebih lanjut ada baiknya bila kita mengenali Jenis-jenis tali yang terdapat
di kapal di antaranya adalah ;

1. Tali Manila :
Tali manila atau abaca atau musa textilis adalah tali yang terbaik untuk dikapal sehari-hari
dalam kapal dan terbuat dari serat abaca dari tanaman termasuk kelompok pisang dan banyak
terdapat di Pilipina.
Sebagai tali ia licin, mengkilap, kuat, lentur, tahan lama dan mudah digunakan selain tahan
terhadap air laut.
Tali manila dapat merenggang lebih kurang 25% dari panjangnya. Tali manila dengan keliling
6 inci atau diameter 2 inci mempunyai daya tahan 16 ton.

2. Tali Nylon:
Tali nylon adalah yang terkuat namun juga yang termahal dari tali-tali yang dipergunakan
diatas kapal. Telah terbukti bahwa tali nylon 6,5" sama kekuatannya dengan tali manila 10"
dan lebih tahan 15 kali daripada tali manila dalam keadaan yang sama pemakaiannya.
Harganya lebih mahal 5x dari tali manila. Dapat merenggang 10% dari panjangnya. Nylon
termasuk dalam kelompok serat sintetis.

Tali nylon mempunyai sifat licin, enteng dan tahan terhadap gesekan. Juga tahan terhadap air
laut namun tidak tahan terhadap asam-asam kimia semacam acid dan alkali. Karena licinnya
maka bila membuat mata dari tali nylon diperlukan masuk dalam untai-untainya paling sedikit
4x bahkan lebih baik 6x.

Tali nylon banyak dipakai juga sebagai buntut atau ujung tros dari kawat untuk menyandarkan
kapal karena lebih enteng dan tahan terhadap tegangan. Biasanya ujung ini panjangnya 6
fathom atau 6 x 1,83 meter. Ukuran standar dari tali dalam perdagangan adalah fathom. Untuk
panjang tali di Inggris adalah 120 fathom sedangkan di Amerika mempunyai ukuran panjang
200 fathom. Di negara-negara Eropa maupun Asia dimana berlaku sistem metrik panjang tali
dalam perdagangan adalah 220 meter. Namun harap diingat bahwa 220 meter adalah sama
panjang dengan 120 fathon.

3. Tali Sisal:
Tali sisal atau agave sisalana terbuat dari serat-serat daun Aloe yang termasuk dalam kelompok
keluarga
nanas. Banyak terdapat di Jawa dan Afrika Timur. Termasuk juga tali yang kuat dan kekuatan
dari tali sisal yang baik hampir sama kekuatannya dengan tali manila yang kwalitet sedang.
Warnanya putih bersih namun tidak licin. Bilamana sudah beberapa kali dipakai akan keluar
serat-serat serabutnya sehingga mengganggu
bilamana dipegang dengan tangan terbuka. Bila terkena air lebih menggelembung daripada tali
manila. Kekuatan tali sisal yang mempunyai keliling 6 inci adalah antara 9 s/d 13 ton. Bila
dapat memilih maka untuk kapal lebih baik mempergunakan tali manila.

4. Coir atau tali serabut kelapa:


Terbuat dari serat-serat serabut kelapa dan benangnya diimpor dari India dan Sri Langka. Serat-
serat tersebut sebelumnya direndam dalam air untuk waktu yang lama baru kemudian dibuat
benang oleh penduduk dan benangnya kemudian di ekspor.

Tali serabut kelapa sangat lentur, berwarna merah dan sangat mudah mengapung. Terutama
dipakai sebagai tali gandeng di pelabuhan dan ukurannya bervariasi antara 16 s/d 22 inci dalam
kelilingnya. Biasanya berputar air atau berputar kabel yaitu tali yang terdiri dari tiga untai tapi
tiap-tiap untai terdiri dari untaian tiga kali. Secara umum beratnya setengah dari tali manila dan
kekuatannya hanya seperenam dari kekuatan tali manila yang sama ukurannya. Mempunyai
daya lentur antara 60 s/d 100% dari panjangnya.
Juga ada tali serabut kelapa yang terdiri dari tiga untai biasa dan daya lenturnya hanya 45%.
Biarpun tali serabut kelapa mudah mengapung namun harus dijaga jangan sampai terlalu
banyak meresap air karena dapat tenggelam karenanya. Terutama di perairan yang berkarang
hal ini harus diperhatikan. Tali ini akan mudah menjadi busuk kalau disimpan dalam keadaan
basah.

5. Tali hemp:
Hemp yang bernama latin Cannabia Satira berasal dari New Zealand dan St Helena. Karena
dari daerah daerah ini kwalitasnya kurang baik dipakai untuk inti atau jiwa dari kawat-kawat
baja. Namun hemp yang berasal dari Italia berkualitas baik dan karenanya dipakai untuk tali-
tali.

Termasuk tali yang kuat dan kekuatannya melebihi tali manila yang terbaik sebanyak 20% (1
1/5 kali). Tidak menggelembung bilamana basah tetapi karena mahal maka pemakaiannya di
kapal telah dilampaui oleh tali manila. Dipakai untuk tali yang melalui blok-blok karena
lemasnya.

6. Tali jute:
Nama latin corchorus dan berasal dari India dan dipakai untuk bahan pembuat karung goni dan
juga sebagai inti dari kawat-kawat baja. Untuk kawat-kawat baja lebih banyak dipakai hemp
karena lebih kuat dari jute.

7. Flax:
Dipakai untuk benang-benang layar dan terpal. Juga dipakai untuk benang-benang jahit karena
tahan gesekan. Nama latin linum usitatissum.

8. Tali cotton :
Bahan dari tali cotton atau gossypium atau kapas sering dipakai untuk tali bendera maupun
untuk pegangan tali tangga di gangway-gangway kapal.

9. Tali polyester, polyproylene, polythene :


Tali-tali ini terbuat dari serat buatan. Untuk polythene dan polypropylene mempunyai
keuntungan bahwa dapat mengambang di air. Ke tiga-tiganya tidak sekuat tali nylon. Untuk
tali polythene kekuatannya sebagai tali adalah antara tali manila dan nylon. Karena mempunyai
daya serap yang kecil maka mudah mengambang.

Sebagai tali sintetis adalah yang paling tepat sebagai pengganti tali serabut kelapa. Titik cair
adalah 135° Celsius dan tali itu akan mengkerut pada suhu yang lebih rengah. Pada suhu 60°
C akan berkerut sebesar 4% dan pada suhu 100° C akan berkerut sebesar 14%. Tidak terganggu
bilamana terkena bahan kimia industri dan bakteri dan tahan terhadap cahaya matahari dan
gesekan-gesekan. Lebih kuat 7 X daripada tali serat sabut kelapa. Sebuah tali polythene dengan
keliling 6 inci dan berat 262,50 kg per satu coil atau gulungan tali dari 220 meter mempunyai
kekuatan daya putus sebesar 20 ton.A

10. Tali Terylene:


Tali terylene seperti tali nylon sering dipakai sebagai ujung-ujung dari kawat-kawat gandengan
di kapal. Juga seperti nylon dan tali-tali sintetis lainnya tahan gesekan. Bila sebelah luar dari
tali sintetis luka terkena gesekan maka serat-serat sintetis akan mengumpul sehingga mencegah
melepasnya dari benang-benang dan serat serat yang sebelah dalam dari tali itu. Hal ini berarti
bahwa sebelah dalam dari tali sintetis tidak akan berkurang kekuatannya. Selain itu gesekan-
gesekan antara benang-benang, serat dan untai- untai dari tali-tali sintetis tidak seperti pada
tali-tali yang terbuat dari serat-serat alam. Juga tali sintetis tidak mudah terbakar. Karena titik-
titik cairnya rendah maka ujung-ujung dari tali-tali serat buatan dapat disatukan dengan
membakarnya sehingga untuk tali-tali kecil serat sintetis agar tidak terlepas ujung-ujungnya
cukup dibakar dengan api saja dan tidak perlu diikat seperti tali-tali serat alam.

Terylene tidak tahan terhadap asam alkali yang kuat. Tali-tali dari serat buatan bilamana
terkena air kekuatannya tidak berubah namun untuk tali-tali yang terbuat dari serat alam akan
berkurang kekuatannya. Umpama untuk tali manila akan berkurang kekuatannya menjadi 90%
dan tali hemp 80% dari kekuatannya mula-mula.

Setelah mengenal jenis atau macam – macam tali yang ada di kapal dapat kita ketahui cara
membuat agar tali yang ada di kapal bisa awet. Untuk mengawetkan tali-tali terhadap cuaca
atau yang akan direndam lama kedalam air dilumuri dengan minyak hitam atau tar. Tar itu
serupa seperti di Indonesia digunakan untuk melumuri kayu-kayu di bangunan rumah atas
untuk menghindari kerusakan oleh rayap-rayap. Untuk tali, minyak yang hampir serupa
dinamakan "Archangel tar" dan dengan memberi ini maka berat tali akan bertambah 5%
sedangkan kekuatannya akan berkurang dari 7 s/d 12,5%.

Bilamana kami hendak memakai tali baru maka harus dikeluarkan dahulu dari gulungannya
atau coilnya.
Dan bilamana tidak diketahui caranya akan sering menyebabkan bahwa tali menjadi kusut,dan
untuk tali
tros atau yang besar ukurannya akan memerlukan waktu seharian penuh untuk
melaksanakannya.

Untuk tali yang berputar ke arah kanan kami letakkan gulungan tali ditempat yang datar dengan
arah gulungan berputar ke arah kiri jadi berlawanan dengan putaran tali kanan. Sesudah itu
kami mengambil ujung tali dari sebelah dalam dan meletakkan di atas dek kapal dengan
berputar ke kanan.

Dengan cara ini maka tali tidak menjadi kusut. Untuk tali yang berputar ke kiri kita
melaksanakan sebaliknya.
Namun hal ini hanya berlaku untuk mengeluarkan tali dari gulungan baru. Semua tali-tali
bilamana ditaruh diatas dek harus diletakkan atau diputar sesuai dengan arah putar untai-untai
dari pada tali. Bilamana untainya berputar ke kiri maka menggulungnya juga harus ke arah kiri
jadi berlawanan dengan arah jarum jam.

contoh bolder
Bilamana tidak maka selain susah menggulungnya maka pintalan dari untaian dapat menjadi
renggang sehingga dengan demikian akan mengurangi kekuatan dari tali itu sendiri. Demikian
juga bilamana kita meletakkan tali di atas kepala winch harus sesuai dengan putaran winch
sewaktu menghibob. Menggulung tali adalah pekerjaan yang akan berulang-ulang kali
dilakukan di kapal dan dengan ini dimaksud agar tali maupun kawat baja akan segeredapat
dipakai bilamana diperlukan. Menggulung dengan cara salah juga akan membuat tali itu mudah
kusut. Tali yang lebih besar ukurannya tentunya akan lebih besar pula lubang gulungannya.

Jika tros atau kawat dipersiapkan untuk di aria maka, dipersiapkan agar gulungan tersusun
dengan rapi
dan berdekatan tempat di tali, keluar kapal sehingga keluarnya tali dari kapal tidak mengalami
hambatan dan dapat berjalan dengan cepat. Untuk tali kawat sesuai dengan pintalannya juga
digulung kiri atau kanan namun disebabkan oleh kekakuannya bila hal tersebut susah
dilaksanakan maka kita menggulung sesuai angka 8 (delapan).

Cara mengikat tali.


Sebuah dadung akan diikat pada bolder atau tunggak penambat kapal di atas geladak kapal
maupun kepada sebuah kaitan tupai-tupai dengan susunan tali atau kawat sesuai angka delapan.
Banyaknya gulungan angka delapan tergantung kepada ke kuatan yang akan dialami oleh tali
atau kawat itu, jadi pada kekuatan tarikan.
Namun biasanya untuk dadung sebanyak empat kali dan untuk kawat enam kali sudah dianggap
cukup untuk kekuatan tarikan.

Untuk gulungan yang terakhir lebih baik dilaksanakan dengan gulungan terbalik. Pada waktu
mengikat ke atas tonggak pengikat terutama untuk kawat baja harus diikat ikatan delapannya
agar tidak mudah lepas.
Untuk kawat baja dipergunakan stopper dari rantai. Dibelit satu kali pada kawat dan diputar
sesuai jalan dari untai kawat. Ada pula yang menggunakan dua belitan dengan jarak baru
rantainya diputar sesuai
dengan arah jalan dari untai-untai kawat.

Cara ini dapat juga dilaksanakan meskipun dalam membukanya bilamana kawat sudah dibelit
pada tonggak pengikat kadang-kadang akan mendapat kesukaran dalam cara membukanya.
Untuk menstoppor tros atau dadung kami menggunakan tali yang lebih kecil atau pintalan tali.
Untuk menstoppor maka jalan dari tali stoppor jalannya berlawanan dengan jalannya arah dari
untai-untai tali sehingga dengan ini maka stoppor akan lebih keras menggigit.

Orang yang menstopper demi keamanannya lebih balk berdiri di luar lengkungan dari kawat.
atau tros yang mengarah ke tonggak pengikat. Seperti pada kawat maka pada tali juga dapat
digunakan stopper dengan menggunakan dua belitan pada tros atau dadung. Untuk ini maka
stoppor dapat mengikuti jalan dari untai-untai dengan tidak mengurangi kuatnya gigitan
stoppor tali pada dadung.

Seperti terlihat pada gambar maka pada (1) dimulai dengan lilitan pertama dan pada (2) adalah
lilitan kedua yang dibuat antara lilitan pertama dengan tali. Pada (3) dengan melalui bawah tali
lalu dikeluarkan lagi, dan ujungnya dipegang oleh seorang sambil menunggu dadung
dipindahkan dari kepala winch dan dibelitkan ke tonggak pengikat.

Setelah selesai dibelit pada tong gak pengikat baru stoppor dilepas. Tali-tali yang sedang
ukurannya umpama tali bendera atau tali gai-gai diikat pada tupai-tupai tegak dikapal.
Bilamana talinya pendek dan tidak akan menggantung maka cara mengikat pada tupai-tupai
cukup seperti terlihat pada gambar. Hanya ikatan terakhir pada tupai-tupai harus dibalik agar
tidak mudah terlepas dan setagai kunci pada ikatan angka delapan. Selain tonggak pengikat
maka di kapal juga terdapat sarana-sarana pengikat yang lain.

Cara mengikat tali pada kapal selain pada tonggak pengikat dan pada tupai-tupai juga dapat di
laksanakan kepada tanduk pengikat yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan staghorn.
Tanduk pengikat terdapat pada dewi-dewi sekoci pada kapal-kapal dimana tali dari dewi-dewi
masih terbuat dari tali. Namun sekarang sudah jarang didapat di kapal-kapal besar akan tetapi
di kapal-kapal pesiar masih terdapat.

Anda mungkin juga menyukai