Anda di halaman 1dari 10

IW&P

Advocates – Attorney at Law


1.
2.
3.
4.
5.
6. Bahwa, kemudian pada bulan Oktober 2009, beberapa orang penyidik
Polda Metro Jaya mendatangi tempat usaha Michael Widjaja yang
beralamat di Pacifik Place Jakarta Selatan dengan melakukan penyitaan
terhadap beberapa produk berupa shampo mobil dan sejenisnya yang
bermerek Glare. Penyitaan ini dilakukan sehubungan adanya laporan dari
Sdr Widhyanto Widjaja terkait perbuatan PT. Bening Lestari
Otomotive milik Michael Widjaja yang dalam melakukan usahanya
memasarkan, menggunakan produk dengan nama atau bermerek Glare,
sedangkan pelapor Widhyanto Widjaja telah mendaftarkan merek Glare di
Direktorat Jenderal HAKI Departemen Hukum dan HAM RI, dan telah
mendapat sertifikat merek pada tahun 2005, dimana hal ini dianggap
sebagai perbuatan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 90,
pasal 91 dan pasal 94 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek;

7. Bahwa, sebelum penyitaan ini dilakukan, Michael Widjaja tidak pernah


diberikan somasi atau teguran atas perbuatan Michael Widjaja yang
menjual produk-produk berupa shampo mobil dan sejenisnya yang
bermerek Glare tersebut;

8. Bahwa, Michael Widjaja baru mengetahui adanya sertifikat Merek Glare


atas nama Sdr Widhyanto Widjaja tersebut sewaktu diperlihatkan
penyidik kepada Michael Widjaja ketika Michael Widjaja dipanggil dan
diperiksa oleh penyidik di Polda Metro Jaya;

II. Analisa Hukum Singkat

 Tentang dugaan pelanggaran pasal 90 dan pasal 91 Undang-


Undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek

 Pasal 90 menyebutkan :

a. “Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Merek


yang sama pada keseluruhannya dengan Merek terdaftar milik
pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi
dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”

 Pasal 91 menyebutkan:

b. “Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Merek


yang sama pada pokoknya dengan Merek terdaftar milik pihak lain

2
IW&P
Advocates – Attorney at Law
untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau
diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara

paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.


800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah)”

Bahwa, unsur pokok yang terdapat dalam pasal 90 dan pasal 91


Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek adalah unsur
”dengan sengaja” dan unsur ”tanpa hak”.

Karena asas hukum pidana mengharuskan semua unsur dalam suatu pasal
harus terpenuhi (terbukti) agar seseorang dapat dikenai suatu sanksi pidana
berdasarkan pasal yang disangkakan, maka agar pasal 90 dan pasal 91
dapat dikenakan kepada Michael Widjaja dalam kasus ini, harus dapat
dibuktikan bahwa perbuatan Michael Widjaja tersebut dilakukan dengan
sengaja dan tanpa hak. Atau dengan pengertian lain pertanyaan yang perlu
dijawab adalah; Apakah Michael Widjaja mengetahui bahwa Merek
Glare tersebut telah dimiliki oleh Sdr Widhyanto Widjaja? dan
Apakah Michael Widjaja dalam memasarkan produk-produk yang
berMerek Glare tersebut tidak memiliki hak ?

• Mengenai Apakah Michael Widjaja mengetahui bahwa Merek


Glare tersebut telah dimiliki oleh Sdr Widhyanto Widjaja ?

Bahwa, ada 2 (dua) teori berkaitan dengan kesengajaan atau opzettelijk,


pertama, teori kehendak atau wilstheorie yang dianut oleh Simons, dan
kedua, teori pengetahuan atau voorstellingstheorie yang antara lain
dianut oleh Hamel.

Menurut R. Soesilo, dalam bukunya berjudul ”Kitab Undang-Undang Hukum


Pidana Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal”, Penerbit
Politeia Bogor, 1976, hlm. 21 menyebutkan :

“Dalam buku ini dengan sengaja’ artinya : tahu dan dikehendaki”

Sedangkan Leden Marpaung, SH mengatakan :

“......Dengan demikian maka sengaja dan tanpa hak ditujukan


kepada menggunakan. Dengan perkataan lain, sengaja
menggunakan dan tanpa hak menggunakan, tetapi “tanpa hak”
tersebut juga mencakup “sengaja” dalam arti bahwa mengetahui
bahwa menggunakan tersebut tanpa hak”

(Leden Marpaung, SH.,“Tindak Pidana Terhadap Hak Atas Kekayaan


Intelektual”, Hal 193)

3
IW&P
Advocates – Attorney at Law
Sesuai fakta yang ada, Michael Widjaja baru mengetahui bahwa Sdr
Widhyanto Widjaja telah memiliki sertifikat Merek Glare sewaktu
diperlihatkan oleh penyidik di Polda Metro Jaya. Michael Widjaja
tidak mengetahui bilamana Sdr Widhyanto

Widjaja telah memiliki sertifikat merek Glare tersebut juga beralasan


dikarenakan Michael Widjaja mengetahui bahwa yang memiliki merek
tersebut adalah Ultra 2000 Mfg.Int.Inc, karena ketika Michael Widjaja
bersama Sdr Widhyanto Widjaja di PT. Glare Carstudio
pernah melakukan kerjasama dengan Glare Singapore sebagai
exclusive distributorship;

Selain itu, sebagaimana dikemukana di atas, Michael Widjaja tidak


pernah diberikan Somasi, teguran, pemberitahuan tentang adanya
pihak lain dalam hal ini Sdr Widhyanto Widjaja yang telah memiliki
sertifkat Merek Glare tersebut, padahal somasi ini merupakan hal
yang mutlak dilakukan dalam praktek penanganan kasus tindak
pidana merek, khususnya dalam hal dugaan pelanggaran pasal 90 dan
pasal 91 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek, hal ini
bertujuan untuk terpenuhinya unsur dengan sengaja tersebut. Berdasarkan
fakta tersebut maka unsur dengan sengaja dalam pasal ini tidak
terpenuhi;

• Mengenai Apakah Michael Widjaja dalam memasarkan produk-


produk yang berMerek Glare tidak memiliki hak ?

Dalam bukunya Pengertian Serta Sifatnya Melawan Hukum Bagi Terjadinya


Tindak Pidana, R.Achmad S. Soema di Pradja, SH mengutip pendapat
beberapa ahli sebagai berikut:

“SIMONS berpendapat ”recht” berarti hukum. Perbuatan yang


”wederrechtelijk” tidak perlu melawan hak orang lain, sudah cukup
apabila perbuatan itu melawan ”objectief recht” = hukum
NOYON Mengartikan ”recht” itu sebagai hak, yakni subjectief recht”
HOGE RAAD dalam putusannya tertanggal 18-12-1911 W. No.9263
”recht” harus ditafsirkan sebagai hak atau kekuasaan dan
”wederrechtelijk” berarti tanpa kekuasaan atau tanpa hak”

(R.Achmad S. Soema di Pradja, S.H. “Pengertian Serta Sifatnya


Melawan Hukum Bagi Terjadinya Tindak Pidana” CV Armico bandung
1983. Hal. 19)

Selain itu, Menurut Jan Remmelink :

“Siapa yang bertindak di luar kewenangan sudah tentu bertindak


bertentangan (weder=tegen) dengan hukum”

4
IW&P
Advocates – Attorney at Law
(Jan Remmelink, Hukum Pidana (Komentar atas Pasal-pasal
Terpenting dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Belanda dan
Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidan Indonesia,
PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003. Hal.187)

Sedangkan Leden Marpaung, SH mengatakan :

“....Dengan demikian maka sengaja dan tanpa hak ditujukan


kepada menggunakan. Dengan perkataan lain, sengaja
menggunakan dan tanpa hak menggunakan, tetapi “tanpa hak”
tersebut juga mencakup “sengaja” dalam arti bahwa mengetahui
bahwa menggunakan tersebut tanpa hak”

(Leden Marpaung, SH.,“Tindak Pidana Terhadap Hak Atas Kekayaan


Intelektual”, Hal 193)

Bahwa, sebagaimana telah dikemukakan di atas, Michael Widjaja


memasarkan produk Glare tersebut didasarkan pada perjanjian
distributor antara Michael Widjaja dengan Ultra 2000 Mfg.Int.Inc
selaku pemilik Merek Glare tanggal 31 Januari 2008, dimana pada
intinya Michael Widjaja diberikan hak untuk pembelian, inventaris,
mempromosikan dan menjual kembali Produk Glare. Adanya perjanjian
distributor ini yang menjadi alas hak atau dasar hukum Michael
Widjaja memasarkan produk Glare;

Berdasarkan fakta tersebut, maka terbukti bilamana perbuatan PT.


Bening Lestari Otomotive milik Michael Widjaja yang dalam
melakukan usahanya memasarkan, menggunakan produk dengan
nama atau Merek Glare tersebut memiliki alas hak yang sah,
dengan demikian unsur tanpa hak dalam pasal ini tidak terpenuhi.

Bahwa, selain itu, sesuai dengan asas yang dianut dalam peradilan
pidana, kebenaran yang akan dicari dalam suatu tindak pidana
adalah kebenaran materil dan bukan kebenaran formil. Kebenaran
materil ini menitik beratkan pada kejadian atau keadaan yang
secara nyata-nyata atau benar-benar terjadi, artinya harus ada
korelasi antara fakta lapangan dengan fakta hukum, kebenaran
materil tidak dapat dilihat hanya dari kertas, dokumen atau surat,
melainkan haruslah melalui proses penyelidikan secara intensif dan terfokus
pada pokok permasalahan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari
keterangan-keterangan saksi. Hal ini berbeda dengan asas yang dianut
dalam Hukum Acara Perdata yakni yang berlaku adalah kebenaran formil,
dimana kebenaran formil ini lebih menitikberatkan pada formalitas atau
surat tanpa melihat bobot atau isi kejadian yang sebenarnya.

5
IW&P
Advocates – Attorney at Law

Bahwa, sesuai fakta yang ada, Sdr Widhyanto Widjaja dalam mendaftarkan
sertifikat merek tersebut di Direktorat HAKI Departemen Hukum dan HAM
RI, telah dilakukan dengan itikad tidak baik/itikad buruk, dikarenakan Sdr
Widhyanto Widjaja diduga membuat pernyataan yang tidak benar yang
mengatakan bahwa Merek Glare tersebut adalah miliknya, padahal Merek
Glare tersebut milik Ultra 2000 Mfg.Int.Inc dan Sdr Widhyanto Widjaja tidak
pernah diberikan kuasa atau mendapat ijin dari Ultra 2000 Mfg.Int.Inc selaku
pemilik Merek Glare untuk mendaftarkan merek tersebut.

Dalam hubungannya dengan kasus ini, maka meskipun secara formil,


Sdr Widhyanto Widjaja telah memiliki sertifikat Merek Glare, akan
tetapi karena sertifikat tersebut diperoleh secara itikad tidak
baik/itikad buruk, maka hal ini menjadi fakta atau bukti materil
bahwa hak exclusif Sdr Widhyanto Widjaja atas merek tersebut
menjadi gugur. Sebagai akibat gugurnya hak exclusif tersebut, maka Sdr
Widhyanto Widjaja tidak dapat menuntut Michael Widjaja dengan alasan
adanya pelanggaran atas mereknya tersebut;

Bahwa, perlu diketahui pula, meskipun Sdr Widhyanto Widjaja telah


mendaftarkan Merek Glare tersebut, sampai saat ini Sdr Widhyanto Widjaja
tidak pernah memproduksi barang-barang sebagaimana yang dimaksud
dalam sertifkat mereknya tersebut akan tetapi yang ada hanyalah memiliki
sertifikat Merek Glare;

Berdasarkan uraian di atas, terbukti bilamana ketentuan pasal 90 dan


pasal 91 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek tidak
dapat dipersangkakan kepada Michael Widjaja, karena tidak terbukti
adanya unsur dengan sengaja dan tanpa hak yang dilakukan
Michael Widjaja dalam memasarkan produk Glare, dikarenakan
kegiatan pemasaran produk Glare yang dilakukan Michael Widjaja
tersebut berdasarkan alas hak yang sah yaitu adanya penunjukan
Michael Widjaja selaku exclusive distributor dari Ultra 2000 Mfg.
Intl. Inc. selaku pemilik Merek Glare;

 Tentang dugaan pelanggaran Pasal 94 Undang-Undang No. 15


Tahun 2001 tentang Merek

Bahwa, pada awalnya, tindak pidana yang disangkakan kepada Michael


Widjaja adalah pasal 90 dan pasal 91, namun kemudian dirubah menjadi
pasal 94;

Pasal 94 menyebutkan:

6
IW&P
Advocates – Attorney at Law
“Barangsiapa memperdagangkan barang dan/atau jasa yang diketahui
atau patut diketahui bahwa barang dan/atau jasa tersebut
merupakan hasil pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90,
Pasal 91, Pasal 92, dan Pasal 93 dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua
ratus juta rupiah)”

Bahwa, unsur pokok yang terdapat dalam pasal 94 Undang-Undang


No. 15 Tahun 2001 tentang Merek adalah unsur ”yang diketahui
atau patut diketahui” dan unsur barang dan/atau jasa tersebut
merupakan hasil pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal
90, Pasal 91, Pasal 92, dan Pasal 93”

Karena asas hukum pidana mewajibkan semua unsur dalam suatu pasal
harus dapat dibuktikan agar seseorang dapat dikenai suatu sanksi pidana
berdasarkan pasal yang disangkakan. Terkait dengan pasal 94 tersebut,
maka ada dua hal yang harus dicermati

agar ketentuan pasal 94 ini dapat diterapkan kepada Michael Widjaja ,


pertama berkaitan dengan unsur hasil pelanggaran, artinya harus dapat
dibuktikan terlebih dahulu bahwa barang-barang yang diperdagangkan oleh
Michael Widjaja tersebut merupakan hasil pelanggaran, kedua, harus dapat
dibuktikan bahwa Michael Widjaja mengetahui atau patut mengetahui
bahwa barang-barang yang diperdagangkan tersebut merupakan hasil
pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 90, pasal 91, pasal 92 dan
pasal 93. Atau dengan pengertian lain pertanyaan yang perlu dijawab
adalah:

1. Apakah barang - barang yang diperdagangkan oleh Michael Widjaja


tersebut
merupakan hasil pelanggaran? Dan

2. Apakah ketika memperdagangkan barang - barang tersebut, Michael


Widjaja
mengetahui atau patut mengetahui bahwa barang-barang tersebut
adalah hasil
pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 90, pasal 91, pasal
92 dan
pasal 93 ?

 Apakah barang-barang yang diperdagangkan oleh Michael


Widjaja tersebut
merupakan hasil pelanggaran ?

Bahwa, sesuai fakta yang ada, Merek Glare tersebut adalah milik Ultra 2000
Manufacturing International Inc. yang telah terdaftar di United State Patent
and Trademark Office (USPTO) untuk kelas barang No. 3 pada tanggal 25
Maret 2002, terdaftar di Madril Protocol pada tanggal 11 Oktober 2007 dan
7
IW&P
Advocates – Attorney at Law
juga terdaftar secara resmi di WIPO pada tanggal 6 September 2007,
dimana hal ini juga telah diketahui oleh Sdr Widhyanto Widjaja. Bukti bahwa
Sdr Widhyanto Widjaja mengetahui dan menyadari akan hal ini dapat dilihat
dari beberapa fakta sebagai berikut:

 Sebelum Michael Widjaja bekerjasama dengan Sdr Widhyanto


Widjaja, Sdr Widhyanto Widjaja melalui CV. Glare Carstudio telah
bekerjasama dengan Kristoff Tan (Glare Singapore, R’s Import
(S.E.A.) Pte Ltd) sebagai master franchise Glare untuk Indonesia;
 Ketika Michael Widjaja bekerjasama dengan Sdr Widhyanto
Widjaja, Michael Widjaja bersama Sdr Widhyanto Widjaja
bekerjasama dengan Glare Singapore selaku perwakilan dari pihak
pemilik Merek Glare (Ultra 2000 Manufacturing International Inc) sebagai
exclusive distributorship. Dengan fakta ini, maka sudah pasti
Michael Widjaja dan Sdr Widhyanto Widjaja menyadari dan
mengetahui bilaman Merek Glare tersebut bukanlah milik Sdr
Widhyanto Widjaja akan tapi milik Ultra 2000 Manufacturing
International Inc, karena jika milik Sdr Widhyanto Widjaja, tentu Sdr
Widhyanto Widjaja tidak akan bekerjasama dan tentu akan mengajukan
keberatan atau protes kepada pihak Ultra 2000 Manufacturing
International Inc dengan alasan merek itu adalah merek Sdr Widhyanto
Widjaja;

Bahwa, perlu difahami pula, adanya Sertifikat Merek Glare yang


dimiliki oleh Sdr Widhyanto Widjaja tidak serta
merta menjadi alasan atau dasar untuk menentukan barang-barang
tersebut merupakan hasil pelanggaran, dikarenakan Sdr Widhyanto
Widjaja dalam mendaftarkan merek tersebut dilandasi dengan
itikad tidak baik/itikad buruk, karena Sdr Widhyanto Widjaja
memberikan atau membuat pernyataan yang tidak benar yang
intinya mengatakan bahwa Merek Glare yang didaftarkan tersebut adalah
miliknya, padahal merek tersebut bukan milik Sdr Widhyanto Widjaja
akan tetapi milik Ultra 2000 Manufacturing International Inc;

Bahwa, satu hal yang perlu diperhatikan juga agar unsur barang-barang
hasil pelanggaran tersebut dapat terpenuhi dalam kasus ini, maka
bilamana yang dimaksud pihak yang melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 90 dan pasal 91 tersebut adalah pihak Ultra 2000
Manufacturing International Inc, maka sudah semestinya sebelum pasal
94 ini akan diterapkan kepada Michael Widjaja, penyidik terlebih
dahulu harus memeriksa pihak Ultra 2000 Manufacturing
International Inc untuk membuktikan apakah benar barang-barang
yang diperdagangkan oleh Michael Widjaja yang dibuat dan
diexport oleh pihak Ultra 2000 Manufacturing International Inc
tersebut adalah barang-barang hasil pelanggaran dalam hal ini

8
IW&P
Advocates – Attorney at Law
melanggar hak merek pihak lain yaitu Sdr Widhyanto Widjaja.
Tanpa dilakukannya hal tersebut, maka secara hukum ketentuan
pasal 94 tersebut belum dapat disangkakan kepada Michael Widjaja
, karena dianggap masih prematur;

Berdasarkan uraian tersebut, maka terbukti bilamana barang-barang yang


diperdagangkan oleh Michael Widjaja tersebut belum dapat dikualifikasi
sebagai barang hasil pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 90
dan pasal 91 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek. Dengan
fakta ini saja, maka telah cukup pasal ini tidak dapat dipersangkakan
kepada Michael Widjaja, sehingga unsur diketahui atau patut diketahui tidak
perlu dibuktikan.

 Apakah ketika memperdagangkan barang-barang tersebut,


Michael Widjaja mengetahui atau patut mengetahui bahwa
barang-barang tersebut adalah hasil pelanggaran sebagaimana
dimaksud dalam pasal 90, pasal 91, pasal 92 dan pasal 93 ?

Bahwa, terlepas dari adanya fakta bahwa barang-barang yang


diperdagangkan Michael Widjaja tersebut bukanlah hasil pelanggaran
dengan alasan karena memang diproduksi oleh pihak yang secara hukum
pemilik Merek Glare dan karena belum adanya penyidikan kepada pihak
Ultra 2000 Manufacturing International Inc untuk membuktikan apakah
benar barang-barang yang diperdagangkan oleh Michael Widjaja yang
dibuat dan diexport oleh pihak Ultra 2000 Manufacturing International Inc
tersebut adalah barang-barang hasil pelanggaran, maka seandainyapun
penyidik mengasumsikan bahwa barang-barang tersebut adalah hasil
pelanggaran (quad non), maka tidak serta merta Michael Widjaja dapat
disangkakan dengan pasal 94 hanya dengan alasan Michael Widjaja telah
memperdagangkan barang-barang tersebut dan

karena adanya sertifikat yang dimiliki Sdr Widhyanto Widjaja, akan tetapi
harus dapat dibuktikan bahwa ketika memperdagangkan barang-
barang tersebut, Michael Widjaja mengetahui atau patut
mengetahui bahwa barang-barang tersebut adalah hasil
pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 90, pasal 91,
pasal 92 dan pasal 93

Bahwa, dalam kamus bahasa Indonesia, diberikan pengertian tentang tahu


atau mengetahui sebagai berikut:

“Tahu : Mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami,


dsb), kenal; mengenal, mengindahkan; mempedulikan, insaf,
sadar.
Mengetahui : memaklumi, menyaksikan, tahu akan, menyadari,
menginsafi

9
IW&P
Advocates – Attorney at Law
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 2005. Hal
1121)

Bahwa, dari hasil penyidikan kasus ini, terungkap fakta-fakta sebagai


berikut:

 Sebelum Michael Widjaja bekerjasama dengan Sdr Widhyanto


Widjaja, Michael Widjaja mengetahui Sdr Widhyanto Widjaja
melalui CV. Glare Carstudio telah bekerjasama dengan Kristoff
Tan (Glare Singapore, R’s Import (S.E.A.) Pte Ltd) sebagai
master franchise Glare untuk Indonesia;
 Ketika Michael Widjaja bekerjasama dengan Sdr Widhyanto
Widjaja, Michael Widjaja bersama Sdr Widhyanto Widjaja
bekerjasama dengan Glare Singapore selaku perwakilan dari pihak
pemilik Merek Glare (Ultra 2000 Manufacturing International Inc) sebagai
exclusive distributorship. Dengan fakta ini, maka sudah pasti Michael
Widjaja dan Sdr Widhyanto Widjaja menyadari dan mengetahui
bilamana Merek Glare tersebut bukanlah milik Sdr Widhyanto Widjaja
akan tapi milik Ultra 2000 Manufacturing International Inc, karena jika
milik Sdr Widhyanto Widjaja, tentu Sdr Widhyanto Widjaja tidak akan
bekerjasama dan tentu akan mengajukan keberatan atau protes kepada
pihak Ultra 2000 Manufacturing International Inc dengan alasan merek
itu adalah merek Sdr Widhyanto Widjaja;
 Michael Widjaja memasarkan produk Glare tersebut didasarkan pada
perjanjian distributor antara Michael Widjaja dengan Ultra 2000
Mfg.Int.Inc selaku pemilik Merek Glare tanggal 31 Januari 2008, dimana
pada intinya Michael Widjaja diberikan hak untuk pembelian, inventaris,
mempromosikan dan menjual kembali Produk Glare.
 Michael Widjaja baru mengetahui Sdr Widhyanto Widjaja
memiliki sertifikat Merek Glare, ketika diperlihatkan oleh penyidik
sewaktu diperiksa sebagai saksi di Polda Metro Jaya;
 Selain itu, sebagaimana dikemukakan di atas, Michael Widjaja tidak
pernah diberikan Somasi, teguran, pemberitahuan tentang
adanya pihak lain dalam hal ini Sdr Widhyanto Widjaja yang
telah memiliki sertifkat Merek Glare tersebut, padahal somasi ini
merupakan hal yang mutlak dilakukan dalam praktek

penanganan kasus tindak pidana merek, guna pemenuhan unsur


dengan sengaja dan unsur mengetahui atau patut mengetahui yang
terdapat dalam pasal-pasal pidana merek pada Undang-Undang No. 15
Tahun 2001 tentang Merek.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, maka sangatlah tidak mungkin


Michael Widjaja mengetahui atau patut mengetahui bahwa barang-
barang yang diperdagangkan tersebut merupakan hasil
pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 90, pasal 91,

10
IW&P
Advocates – Attorney at Law
pasal 92 dan pasal 93. Dengan demikian unsur mengetahui atau
patut mengetahui dalam kasus ini tidak terbukti.

Bahwa, sesuai asas hukum pidana (strafrechtelijk), seseorang baru dapat


dinyatakan terbukti telah bersalah melakukan suatu tindak pidana
(strafmaatregel), bilamana dapat dibuktikan telah terpenuhinya semua
unsur dalam suatu pasal yang disangkakan.

Hal ini sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI, dalam Putusan
Mahkamah Agung RI No. 449.K/Pid/2001, tanggal 17 Mei 2001 yang
menyebutkan:
“Bahwa sesuai dengan asas yang dianut dalam hukum pidana
(strafrechtelijk), agar seseorang dapat dinyatakan terbukti telah
bersalah melakukan suatu tindak pidana (Strafmaatregel) apabila
semua unsur dalam satu pasal, ketentuan undang-undang yang
disangkakan telah dilanggar oleh seorang pelaku atau dader.”

(Majalah Hukum Varia Peradilan Tahun XVII No. 203 Agustus 2002.
hal. 4)

Berdasarkan uraian di atas, maka oleh karena unsur “dengan sengaja dan
unsur “tanpa hak” sebagaimana dimaksud dalam pasal 90 dan pasal 91,
serta unsur “mengetahui atau patut mengetahui” sebagaimana dimaksud
dalam pasal 94 tidak terbukti, maka ketentuan pasal 90, 91 dan pasal
94 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek tidak dapat
diterapkan kepada Michael Widjaja.

Demikian Legal Opinion ini dibuat dengan menggunakan metode yang lazim
digunakan oleh konsultan hukum, dalam rangka mencari kebenaran materil
atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materil.

Jakarta, 4 Mei 2010

Hormat Kami,
IW & P

Idris Wasahua, SH. Rudy Santoso, SH.

11