BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan infrastruktur di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Hal
ini dapat dilihat dari banyaknya gedung perkantoran, apartemen, mall, dan perumahan yang
sedang dibangun. Pembangunan ini diharapkan mampu menumbuhkan perekonomian
Indonesia yang cukup tertinggal dari negara lain.
Pembangunan dilakukan secara bertahap mulai dari struktur bawah hingga struktur atas dan
diperlukan hitungan yang akurat agar bangunan tidak roboh saat memerima beban. Struktur
bawah terdiri dari pekerjaan galian dan fondasi. Fondasi merupakan elemen struktur yang
sangat penting yang bertugas menerima beban dari struktur atas kemudian diteruskan
kedalam tanah keras. Fondasi umumnya dibagi menjadi 3 jenis yaitu fondasi dangkal,
fondasi bore pile dan fondasi batu kali. Dari ketiga jenis fondasi itu penerapan
dilapangaannya berbeda-beda tergantung dari berapa kedalaman tanah keras yang ada.
Perhitungan fondasi tidak hanya soal beban yang berada diatas fondasi tetapi melibatkan
gaya-gaya yang ada dalam tanah.
Dalam melaksanakan pembangun perlu adanya perhitungan yang matang baik itu dari
hitungan pondasi, struktur, dan sebagainya.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, penulis dapat merumuskan masalah seperti dibawah ini :
1. Apa pengertian fondasi?
2. Bagaimana cara pemilihan fondasi untuk suatu struktur bangunan?
3. Bagaimana metode pelaksanaan fondasi?
4. Apa saja hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pembangunan fondasi?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa itu fondasi
2. Untuk mengetahui bagaimana pemilihan fondasi untuk suatu bangunan
3. Mengetahui bagaimana metode pelaksanaan fondasi
4. Mengetahui apa saja hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan fondasi
1.4 Manfaat Penulisan
1. Dapat mengetahui pengertian fondasi
2. Dapat mengetahui bagaimana pemilihan fondasi suatu bangunan
3. Dapat mengetahui bagaimana metode pelaksanaan fondasi
4. Dapat mengetahui apa saja hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan fondasi
1.5 Metode Penulisan
Penulisan makalh ini disusun dengan metode kepustakaan, dengan menjadikan buku dan
internet sebagai referensi dalam penyusunan makalah ini.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Fondasi
Fondasi adalah suatu bagian dari konstruksi bangunan yang bertugas
meletakan bangunan dan meneruskan beban bangunan atas (upper structure/super
structure) kedasar tanah yang cukup kuat mendukungnya. Untuk tujuan itu
pondasi bangunan harus diperhitungkan dan menjamin kestabilan bangunan
terhadap berat sendiri, beban – beban bangunan dan gaya – gaya luar, seperti
tekanan angin, gempa bumi dan lain – lain, dan tidak boleh terjadi penurunan
pondasi setempat ataupun penurunan pondasi yang merata lebih dari batas tertentu
(Gunawan, 1991).
2.2 Pemilihan Fondasi
Menurut Kazuto Nakazama (2000) pemilihan fondasi yang memadai perlu
diperhatikan apakah fondasi itu cocok untuk berbagai keadaan di lapangan dan apakah
pondasi itu memungkinkan untuk diselesaikan secara ekonomis sesuai dengan jadwal
kerjanya. Bila keadaan tersebut ikut dipertimbangkan dalam menentukan macam fondasi,
berikut hal-hal perlu dipertimbangkan :
a) Keadaan tanah fondasi
b) Batasan-batasan akibat konstruksi diatasnya (superstructure)
c) Batasan-batasan dari sekelilingnya
d) Waktu dan biaya pekerjaan
Pemilihan tipe tiang pancang, untuk berbagai jenis keadaam tegantung pada banyak
variabel. Walaupun demikian harus ada indicator yang jelas yang dapat menunjukkan
kesesuaian beberapa tiang pancang dengan kondisi-kondisi tertentu.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan di dalam pemilihan tiang pancang anatara lain :
a) Tipe dari tanah dasar yang meliputi jenis tanah dasar dan ciri-ciri topografinya.
b) Jenis bangunan yang akan dibuat.
c) Alasan teknis pada waktu pelaksanaan pemancangan.
2.3 Macam-Macam Fondasi
Gunawan (1991) berpendapat bahwa fondasi bangunan biasanya dibedakan menjadi
dua jenis yaitu fondasi dangkal (shallow foundations) dan fondasi dalam (deep foundations).
Secara umum bergantung pada kedalaman fondasi berikut acuan yang digunakan :
1) Jika kedalaman dasar fondasi dari muka tanah adalah kurang atau sama dengan lebar
fondasi (D ≤ B) maka disebut fondasi dangkal.
2) Jika kedalaman fondasi dari muka tanah adalah lebih dari lima kali lebar fondasi (D
> 5B) maka disebut fondasi dalam.
Kedalaman suatu pondasi menetukan jenis pondasi apa yang akan digunakan.
Berdasarkan tingkat kedalaman pemancangan pondasi pada kedalaman tanah, maka pondasi
dapat dibagi menjadi dua (Hardiyatmo, 2002), yaitu :
1. Fondasi dangkal (shallow foundations).
Fondasi dangkal adalah pondasi yang mendukung beban secara langsung, seperti
tersebut di bawah ini:
a. Fondasi memanjang.
b. Fondasi telapak.
c. Fondasi rakit (raft foundations).
2. Fondasi dalam (deep foundations).
Fondasi dalam adalah pondasi yang meneruskan beban bangunan ke
tanah keras yang terletak pada kedalaman yang sangat dalam, seperti
tersebut di bawah ini:
a. Fondasi sumuran (pier foundations).
b. Fondasi tiang (pile foundations).
2.4 Fondasi Dangkal
2.4.1 Fondasi Batu Kali
Fondasi batu kali biasanya hanya dipakai untuk konstruksi yang tidak berat,
seperti pagar, rumah tinggal sederhana yang tidak bertingkat. Fondasi ini biasanya
ditempatkan menerus untuk dinding fondasi. Seluruh beban bangunan diatasnya
dipikul oleh kolom dan dinding kemudian diteruskan ketanah melalui fondasi.
Fondasi batu kali hanya mempertimbangkan berat beban yang bekerja tanpa
mempertimbangkan beban momen yang terjadi, oleh karena itu kurang tepat apabila
dipakai pada konstruksi bangunan yang berat dan bertingkat tinggi.
Figure 1 Fondasi Batu Kali
2.4.1.1 Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan fondasi batu kali dibagi menjadi beberapa tahap
antara lain :
1. Pekerjaan persiapan
Dalam pelaksanaan perkerjaan persiapan ini hanya menyiapkan
bahan-bahan untuk membuat fondasi serta melakukan pembersihan
lahan dan memasang patok sebagai acuan kerjanya.
2. Pekerjaan galian
Hal-hal yang harus dilakukan dalam pekerjaan galian
a) Menyaipkan alat yang akan digunakan.
b) Menggali tanah dengan ukuran lebar sama dengan lebar
fondasi bagian bawah dengan kedalaman yang disyaratkan.
c) Menggali sisi-sisi miringnya, sehingga diperoleh sudut
kemiringan yang tepat.
d) Membuang tanah sisa galian ke tempat yang telah ditentukan.
e) Mengecek posisi, lebar, kedalaman, dan kerapiannya sesuai
dengan rencana.
3. Pekerjaan urugan pasir
Hal yang harus dilakukan dalam pekerjaan urugan pasir adalah :
a) Meratakan pasir urug pada dasar galian dan disiram air untuk
mendapatkan kelembaban yang optimum untuk pemdatan.
b) Memadatkan pasir urug tersebut dengan memakai alat
stamper.
c) Jika diperlukan ulangi langkah satu dan dua sehingga
didapatkan tebal pasir urug seperti yang direncanakan.
4. Pekerjaan pasangan fondasi
Pada pekerjaan pasangan fondasi ada 2 tahap yaitu pembuatan profil
dan pemasangan batu kali.
Pembuatan profil
1) Memasang patok batu untuk memasang profil (2 patok untuk
tiap profil). Profil dipasang pada setiap ujung lajur pondasi
2) Memasang bilah batu datar pada kedua patok, setinggi profil.
3) Memasang profil benar-benar tegak lurus dan bidang atas
profil datar. Usahakan titik tengah profil tepat pada tengah-
tengah galian yang direncakan dan bidang atas profil sesuai
peil fondasi.
4) Mengikat profil tersebut pada bilah datar yang dipasang antara
2 patok dan juga dipaku agar lebih kuat.
5) Memasang patok sokong, miring pada tebing galian fondasi
dan ikatan dengan profil, sehingga menjadi kuat dan kokoh.
6) Mengecek ketegakan atau posisi profil dan ukuran-ukurannya,
diperbaiki jika ada yang tidak tepat, demikian juaga peilnya.
Pemasangan Batu Kali :
1) Menyiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan.
2) Memasang benang pada sisi luar profil untuk setiap beda tinggi
25 cm dari permukaan urugan pasir.
3) Menyiapkan adukan untuk melekatkan batu-batu tersebut.
4) Menyusun batu-batu diatas lapisan pasir urug tanpa adukan
(aanstamping) dengan tinggi 25 cm dan isikan pasir dalam
celah-celah batu tersebut sehingga taka da rongga antar batu
kemudian menyiram pasangan batu kosong tersebut dengan
air.
5) Menaikkan benang pada 25 cm berikutnya dan asang batu kali
dengan adukan, sesuai ketinggian benang. Usahakan bidang
luar pasangan tersebut rata.
2.4.2 Fondasi Bored Pile
Fondasi bored pile adalah bentuk fondasi dalam yang dibangun di dalam
permukaan tanah dengan kedalaman tertentu. Fondasi di tempatkan sampai kedalaman
yang dibutuhkan dengan cara membuat lobang yang dibor dengan alat khusus. Setelah
mencapai kedalaman yang disyaratkan, kemudian dilakukan pemasangan bekisting
yang terbuat dari plat besi, kemudian dimasukkan rangka besi fondasi yang telah
dirakit sebelumnya, lalu dilakukan pengecoran terhadap lubang yang sudah di bor
tersebut. Pekerjaan fondasi ini tentunya dibantu dengan alat khusus, untuk mengangkat
kesing dan rangka besi. Setelah dilakukan pengecoran kesing tersebut dikeluarkan
kembali.
Sitem kerja fondasi ini hamper sama denganfondasi pile (tiang pancang), yaitu
meneruskan beban struktur bangunan diatas ke tanah dasar dibawahnya sampai
kedalaman tanah yang dianggap kuat (memiliki daya dukung yang cukup). Untuk itu
diperlukan kegiatan sondir sebelumnya, agar daya dukung tanah dibawah dapat
diketahui pada kedalaman berapa meter yang dianggap memadai untuk mendukung
konstruksi diatas yang akan dipikul nantinya.
2.4.2.1 Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan fondasi bored pile dibagi menjadi beberapa tahap
antara lain :
1) Metode kerja
Metode pelaksanaan fondasi bore pile ada 3 macam, yaitu :
a) Metode kering : metode kering cocok digunakan pada tanah
diatas muka air tanah yang ketika di bor dinding lubangnya
tidak longsor.
b) Metode basah : metode bassah umumnya dilakukan bila
pengeboran melewati muka air tanah, sehingga lubang bor
selalu longsor bila dindingnya tidak ditahan.
c) Metode casing : metode ini digunakan jika lubang bor sangat
mudah longsor.
2) Pekerjaan persiapan
a) Menentukan lokasi untuk bangunan sementara, seperti ;
kantor, toilet dan tempat para pekerja.
b) Membuat jalan akses masuk dan keluar pada saat proses
pengerjaan dimulai.
c) Mengukur dan menetukan posisi titik-titik bored pile di site.
d) Membuat pabrikasi keranjang besi bored pile
e) Membuat schedule pengecoran bored pile dan terus
dikendalikan
f) Membuat format untuk monitoring report bore pile
3) Pekerjaan galian
a) Menempatkan alat pada posisi titik yang akan di bor.
b) Bila kondisi lapisan tanah baik, bor sampai kedalaman 6 m
saja dan pasang casing 6 m
c) Bila kondisi lapisan tanah jelek, menggunakan full casing
untuk mencegah kelongsoran tanah pada saat proses boring.
d) Kemudian melanjutkan dengan proses pengeboran sampai
kedalman yang dikehendaki (-10 m).
e) Mengecek apakah kedalaman yang dikehendaki sudah
tercapai
f) Membersihkan lumpur pada dasar lubang bor dengan bucket
cleaning.
g) Selama proses berlangsung, catat :
a. Kedalaman muka air tanah
b. Jenis lapisan tanah berikut kedalamn dan ketebalan
h) Buat laporan harian bore pile
4) Pekerjaan Penulangan
a) Paralel dengan pekerjaan persiapan, maka pembuatan
penulangan tiang bor telah dapat dilakukan.
b) Jika tertunda lama, tanah pada lubang bor bisa rusak (mungkin
karena hujan atau lainnya). Bisa-bisa perlu dilakukan
pengerjaan bor lagi.
c) Pemilihan tempat untuk merakit tulangan, tidak boleh terlalu
jauh, masih terjangkau oleh alat-alat berat.
d) Pemasangan pipa trimie sesuai dengan kedalaman lubang yang
dibor.
e) Memasang baja tulangan yang dirakit
f) Pembersihan akhir dengan menyemprotkan air bertekanan
selama ± 10 menit melalui pipa trimie untuk membersihkan
lubang dari endapan lumpur.
5) Pekerjaan Cor
a) Kantong plastik yang diisi dengan campuran beton untuk
memisahkan campuran beton dari endapan lumpur di dalam
pipa trime
b) Setelah tenaga pengecoran siap, campuran beton diisi kedalam
lubang pipa sampai kepermukaan dan kemudian tas plastik
bisa dilepas
c) Pengecoran dilakukan dengan bantuan vibrator untuk
membantu aliran campuran beton agar tidak ada udara dalam
campuran beton
d) Jika campuran tidak bisa turun lebih jauh, maka pipa trime nisa
ditarik perlahan-lahan sambal terus menuangkan campuran
beton.
e) Penarikan pipa trime harus dijaga sehingga ujung bawah pipa
tetap terendam 1 m di dalam campuran beton
f) Pengecoran dapat dihentikan jika campuran beton sampai
kepermukaan lubang (meluap) dan benar-benar bersih dari
lumpur
6) Pekerjaan Pile Cap
a) Melakukan penggalian tanah, pemotongan pile sesuai elevasi
pile cap
b) Pada pile dilakukan pembobokan pada bagian betonnya hingga
tersisa tulangan besinya yang kemudian dijadikan sebagai stek
pondasi sebagai pengikat dengan pile cap
c) Sebagai landasan pile cap, dibuat lantai kerja terlebih dahulu
dengan ketebalan ± 10cm
d) Melakukan pemasngan tulangan-tulangan pile cap yang
meliputi tulangan utama atas dan bawah
e) Sebelum dilakukan pengecoran, tanah disekitar bekisting
ditimbun kembali untuk menahan beban pengecoran dan
meratakan. Setelah semua persiapan sudah siap, maka dapat
dilakukan pengecoran pada pile cap
2.4.3 Fondasi Tiang Pancang
Fondasi tiang pancang merupakan bagian dari konstruksi fondasi bangunan yang
digunakan untuk membantu mengurangi tekanan dari bangunan beserta seluruh
isinya terutama jika tinggi bangunan lebih dari 3 lantai sementara struktur tanah di
bawah bangunan terlalu lembek diman tanah keras berada jauh dibawah.
2.5 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Perencanaan Dan Pembangunan
Menurut , pada waktu melakukan perencanan dan pembangunan, penting sekali untuk
mengetahui keadaan tanahnya, ditinjau dari segi mekanika tanah dan menjamin
kestabilannya dalam menahan gaya luar yang bekerja padanya. Untuk keperluan tersebut,
berikut ini diberikan penjelasannya.
1) Ciri-ciri topografis di lapangan
Dengan mengadakan penyelidikan yang menyuluruh atas ciri-ciri topografis di
sekitar lokasi, maka tinggi rendah dan dalamnya dasar sungai atau dasar laut dapat
diketahui benar-benar.
2) Jenis dan Karakteristik Tanah
Dalam merencakan sebuah fondasi suatu bangunan, harus mengetahui karakteristik
tanah yang akan dilakukan pekerjaan fondasi. Hal ini penting, karena dengan
mengetahui karakteristik tanah yang ada kita dapat merencanakan fondasi sesuai
dengan daya dukung masing-masing tanah. Untuk mengetahui itu, perlu dilalukan
beberapa pengujian antara lain pengujian sondir, N-SPT, dan uji laboratorium.
3) Kondisi Muka Air Tanah
Selain mengetahui karakteristik tanah, perlu mengetahui juga muka air tanah
berada pada kedalaman berapa meter. Jika muka air tanah berada pada kedalaman ±
5m perlu dilakukan metode dewatering. Istilah dewatering merujuk pada suatu cara
yang dilakukan untuk membebaskan area konstruksi dari aliran air tanah yang
bertujuan untuk menjaga kestabilan lereng galian dan menjaga area galian proyek
tetap kering selama proses konstruksi. Adapun 3 metode yang digunakan dalam
system dewatering yaitu :
a) Metode predrainage
Metode ini pada umumnya memiliki prinsip menurunkan muka air terlebih
dahulu sebelum mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan galian. Metode ini
cocok digunakan pada tanah dengan karakteritik tanah lepas, cadas lunak
dengan banyak celah dan tanah berbutir seragam. Selain itu, metode ini juga
bisa dipakai pada area yang memiliki saluran pembuangan air, memiliki
debit rembesan cukup besar dan tanah yang sensitive terhadap erosi.
Metode predrainage terbilang tak mempunyai efek yang mengganggu
bangunan disekeliling proyek akan tetapi dapat mengganggu warga sekitar
karena memiliki kebingan dan polusi udara yang cukup mengganggu.
b) Metode open pumping
Metode ini tebilang umum digunakan. Metode open pumping biasanya
dipakai pada tanah dengan karakter tanah padat, berkohesi, bergradasi baik,
sumur atau selokan yang digunakan untuk pemompaan tidak mengganggu
area proyek dan debit rembesan air tidak besar. Metode open pumping
dilakukan dengan mengumpulkan air permukaan dan rembesan dari bagian
tepi galian dengan menggunakan kolektor. Kolektor berfungsi membuang
air keluar dari galian dengan posisi kolektor yang terus mengikuti elevasi
galian. Dalam metode ini tidak perlu dilakukan pengeboran sehingga efek
dewatering pada sumur-sumur warga yang berada di sekitar area proyek
terbilang kecil.
c) Metode cut off
Metode ini dijalankan dengan memotong aliran air tanah dengan dinding
pembatas supaya area proyek bisa terbebas dari air tanah. Metode cut off
cocok dipakai jika area proyek bersebelahan dengan Gedung yang sensitive
terhadap penurunan air tanah, tidak ada saluran pembuangan, dan
karakteristik tanah berupa cadas lunak yang banyak celah, tanah lepas, serta
tanah berbutir seragam. Metode cut off ini tebilang merupakan metode
dewatering yang terbaik. Karena metode ini tidak menimbulka penurunan
muka air tanah di sekitar luar area galian dan juga tak terjadi aliran air
tanah.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Fondasi adalah elemen struktur yang berada dibawah permukaan tanah yang
berfungsi untuk menopang beban struktur diatasnya kemudian diteruskan hingga ketanah
keras. Dalam merencanakan suatu fondasi, hal yang perlu diperhatikan adalah jenis dan
karakteristik tanah yang akan dibangun fondasi. Jenis dan karakteristik tanah dapat dilihat
dari hasil penyelidikan tanah seperti sondir, N-SPT, dan uji laboratorium. Dari hasil
penyelidikan tanah didapatkan pula data tanah keras berada dikedalaman berapa dan muka
air tanh berada dikedalaman berapa. Setelah itu, dapat melakukan perhitungan daya dukung
ijin sehingga didapatkan berapa dimensi suatu fondasi yang akan dikerjaan untuk
pembangunan.
3.2 Saran