Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

GEOLOGI TEKNIK

ORGANISIR, MERANCANG DAN PENYUSUNAN LAPORAN


INVESTIGASI LAPANGAN GEOTEKNIK

Disusun Oleh :
Robby Fajrino N 21100111190109
Fianza Panji Fahmi Pradita 21100112170002
Dimas Anas Hakim 21100113130081
Annisa Della Megaputeri 21100113140085
Rosalina Immanuela 21100113140087
Mukhammad Sofyan Rizka A 21100113140089
Chaidar Mirza 21100113140091
Wisnu Wijaya Jati 21100113140093

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
NOVEMBER 2015
ORGANISIR, MERANCANG DAN PENYUSUNAN LAPORAN
INVESTIGASI LAPANGAN GEOTEKNIK

1. Pengertian Investigasi Lapangan


Investigasi geoteknik yang dilakukan oleh para insinyur geoteknik atau
ahli geologi rekayasa untuk memperoleh informasi tentang sifat fisik tanah
dan batuan di sekitar lokasi untuk merancang pekerjaan tanah dan pondasi
untuk struktur yang diusulkan dan untuk perbaikan kesusahan untuk pekerjaan
tanah dan struktur yang disebabkan oleh kondisi bawah permukaan. Jenis
investigasi disebut penyelidikan situs. Selain itu, investigasi geoteknik juga
digunakan untuk mengukur resistivitas thermal tanah atau bahan urukan yang
dibutuhkan untuk jalur bawah tanah transmisi, jaringan pipa minyak dan gas,
pembuangan limbah radioaktif, dan fasilitas penyimpanan panas matahari.
Sebuah penyelidikan geoteknik akan mencakup eksplorasi permukaan dan
bawah permukaan eksplorasi dari sebuah lapangan. Kadang-kadang, metode
geofisika yang digunakan untuk mendapatkan data tentang lapangan.
Eksplorasi bawah permukaan biasanya melibatkan pengambilan sampel tanah
dan uji laboratorium dari sampel tanah diambil.
Eksplorasi permukaan dapat mencakup pemetaan geologi, metode
geofisika, dan fotogrametri, atau dapat yang sederhana seperti berjalan di
sekitar di situs untuk mengamati kondisi fisik lokasi.
Untuk mendapatkan informasi tentang kondisi tanah di bawah
permukaan, beberapa bentuk eksplorasi bawah permukaan diperlukan. Metode
mengamati tanah di bawah permukaan, mendapatkan sampel, dan menentukan
sifat fisik tanah dan batuan meliputi lubang tes, penggalian (terutama untuk
mencari kesalahan dan pesawat geser), pemboran, dan tes in situ.

2. Tujuan Penyelidikan Lapangan


Keadaan geologi suatu lapangan tidak selalu sesuai dengan kondisi
yang diinginkan sebagai tempat konstruksi bangunan. Hal-hal utama yang
umumnya butuh investigasi geologi diantaranya kestabilan lereng, struktur
geologi baik primer maupun sekunder, serta kondisi batuan/tanah. Tujuan
utama dari investigasi lapangan adalah untuk merumuskan desain manakah
yang paling cocok dengan kondisi geologi sekitar sebagai tindakan
pencegahan terjadinya kegagalan massa batuan/tanah yang menyebabkan
bencana seperti tanah longsor dan sejenisnya. Investigasi lapangan
membutuhkan banyak data seperti data sifat fisik batuan di permukaan, data
struktur geologi dan bila perlu dilakukan pengeboran inti untuk mendapatkan
data batuan di bawah permukaan. Tujuan dengan dilakukannya penyelidikan
lapangan adalah :
- Memilih jenis dan kedalaman fondasi yang sesuai dengan rencana struktur
- Mengevaluasi kapasitas dukung fondasi
- Melakukan estimasi kemungkinan penurunan struktur
- Menentukan potensi masalah yang akan timbul pada tanah dan fondasi
- Mengetahui kedalaman muka air tanah
- Memprediksi tekanan tanah lateral untuk struktur perkuatan tanah seperti
dinding penahan, turap, shortcrate dll
- Menentukan metode konstruksi terhadap perubahan kondisi tanah.
Gambar 1. Kondisi geologi lapangan sebagai masalah yang akan diatasi dengan rekayasa
geologi teknik

3. Mendesain dan Merancang Investigasi Lapangan


Dalam suatu investigasi lapangan, diperlukan adanya perancangan agar
kegiatan investigasi lapangan dapat berjalan efisien, terorganisir, dan sesuai
target ( menjawab pertanyaan ). Beberapa Tahap dalam investigasi lapangan
agar lebih terorganisir dan terencana dapat diilustrasikan pada gambar.
Gambar 2. Urutan Perencanaan dan Investigasi Lapangan

Dengan beberapa aspek penting yang diperlukan saat pengamatan


lapangan adalah mengamati sifat tanah mencakup :
- Kekuatan
- Deformasi
- Hidraulik
Selain itu, dalam merencanakan kondisi penelitian dilapangan perlu
dilakukan survey geologi untuk mengetahui kondisi geologi daerah setempat,
meliputi : jenis litologi, ketebalan dan persebaran litologi, densitas,
permiabelitas dan porositas, kekuatan batuan, struktur sekunder, kondisi
airtanah dan lainnya. Dengan mengetahui kondisi geologi yang ada, akan tahu
respon batuannya terhadap suatu gaya dan menganalisis dalam menentukan
pengambilan langkah selanjutnya. Analisis yang dilakukan adalah untuk
memprediksi daya dukung tanah, tingkat kestabilannya, dan kemungkinan
efek samping yang akan dihasilkan dari pengerjaan pemboran ini.
Pembuatan model geologi teknik
Pembuatan model ini diawali dengan mengumpulkan infomasi mengenai
kondisi geologi yang ada, bisa ditambahkan dengan data peta geologi daerah
pengeboran atau mungkin bisa ditambah dengan survei geofisika. Informasi
ini diproses dan diinterpretasikan dengan standart geologi lalu dibuat
prototype model geologinya. Pada model ini sudah ada rencana penempatan
titik bor, dan lapisan-lapisan batuannya.
Dalam mengebor, diperlukan mengambil sampel dari batuan atau tanah
yang ada. Pemisahan antara “undisturbing sample” dan “disturbing sample”
sangat diperlukan untuk dilakukan pengujian lab. Sampel biasanya diambil
tiap interval 1.5 meter atau tiap pergantian lapisan. Sampel ini digunakan
untuk mengetahui kualitas dan kuantitas dari material yang ada, serta
mengetahui jenis batuan dan persebarannya secara vertikal. Untuk mengetahui
persebaran lateralnya bisa dengan mengkorelasikan data vertikal dengan bor
lain atau dengan melakukan survei geofisika (seismik, radar, atau resestiviti).
Model dari distribusi batuannya yang ada ini bisa lebih divalidkan dengan
menghubungkannya dengan sejarah geologi di daerah tersebut dan faktor-
faktor pendukungnya.
Pengambilan sampel, mengetahui persebaran vertikal dan lateral dan
lainnya adalah data untuk mengetahui kondisi bawah permukaan dari tempat
pemboran. Sampel dapat diambil dari lubang bor tetapi juga ' sampel ' dapat
diuji in situ -akses ke lokasi tersebut sampel dapat diperoleh dengan lubang
bor, percobaan lubang , parit atau shaft .
Kondisi tanah pada daerah pemboran dapat ditentukan dari sampel yang
ada sebagai hasil dari rekayasa pembangunan yang ada. Jangan sampai
pembuatan rekayasa pembangunan yang ada tidak sesuai, contohnya;
pembuatan konstruksi yang simpel pada daerah berstruktur atau konstruksi
yang kompleks pada daerah yang berkondisi sederhana.
Panduan untuk perencanaan investigasi sumur
Berikut beberapa panduan dalam perencanaan investigasi sumur :
- Tentukan tujuan dari rekayasa pembangunan yang akan dibuat. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui beban yang akan digunakan, kedalaman
penggalian, dan lain-lain.
- Tentukan kondisi geologi, geomorfologi, dan hidrogeologi pada lapangan
dan kondisi lingkungannya.
- Tentukan kondisi geologi dan pengaruhnya pada manusia dan pada daerah
sekitar lapangan
- Menetapkan ukuran dan persebaran dari batuan atau massa tanah yang
dapat mempengaruhi atau dipengaruhi dari pembangunan rekayasa
bangunan ini.
- Daftar data yang harus diperoleh untuk perhitungan yang diperlukan yang
berhubungan dengan pembangunan rekayasa bangunan yang diusulkan
untuk dibuat
- Mempertimbangkan cara terbaik untuk memperoleh data .
- Buat perencanaan tahap awal penyelidikan .
Perencanaan yang baik tentunya menimbang dari sisi ekonomi juga,
Penyelidikan tanah harus terprogram dan terencana agar memperoleh
informasi maksimal dengan biaya dan waktu yang efektif dan efisien.
4. Tahapan Investigasi dan Desain Rekayasa
Diagram Alir
Tentukan Objek

Kumpulkan dan kaji data yang tersedia


dan kembangkan model situs

Rencana Pekerjaan untuk mengisi


kekosongan data

Siapkan estimasi dan RAB yang sesuai SOP


dan Regulasi

Tentukan Model semi kuantitatif


(Engineering Geologist)

Kuantifikasi – Uji Lapangan


dan Laboratorium

Analisa

Kesimpulan dan
penyusunan Report
Beberapa hal yang dipersiapkan dalam investigasi lapangan adalah:
- Pengetahuan atas prinsip-prinsip proses geologi.
Prinsip-prinsip tersebut meliputi prinsip kestabilan lereng, yaitu
menentukan tingkat keamanan suatu lereng dilihat dari aspek struktur
geologi (kekar, sesar, keterdapatan bidang gelincir, arah bidang pelapisan,
kondisi hidrologi dan lain-lain). Dalam kondisi tertentu, dibutuhkan juga
investigasi bawah permukaan yang dilakukan menggunakan alat-alat
investigasi. Namun hal utama yang harus diperhatikan saat pemetaan
permukaan adalah diskontinuitas batuan pada lereng karena berbeda jenis
diskontinuitas akan memerlukan penanganan yang berbeda pula.

Gambar 3. Perbedaan diskontinuitas batuan membutuhkan penanganan yang berbeda


Setelah mengetahui prinsip apa saja yang harus dipelajari, kita harus
mempelajari kondisi geologi lapangan dari pustaka yang tersedia seperti
Peta Geologi, Peta Geomorfologi, Peta Rupa Bumi Indonesia serta
penelitian-penelitian terdahulu tentang kondisi geologi di lapangan. Hal ini
dilakukan sebagai gambaran awal tentang apa saja yang harus disiapkan
untuk melakukan investigasi lapangan.
- Setelah melakukan persiapan di atas, ada urutan kegiatan yang harus
dilakukan, diantaranya :
 Reconnaissance
Yaitu kunjungan awal lapangan untuk membuktikan pustaka yang
telah dipelajari sebelumnya serta mengumpulkan pengetahuan umum
tentang kondisi lapangan.
 Seleksi rute dan desain slope
Adalah tahap pengumpulan data utama sebagai pertimbangan
rekayasa yang meliputi pemetaan singkapan batuan, pengambilan data
geofisika untuk mencari data ketebalan batuan di bawah permukaan,
serta dilakukan pengeboran inti bila diperlukan. Setelah itu, perlu juga
dilakukan penyusunan rencana-rencana cadangan seperti jalur alternatif,
titik aman saat terjadi bencana serta bagaimana cara
penanggulangannya. Penentuan desain rekayasa sangat tergantung pada
pengambilan data ini karena harus mempertimbangkan aspek keamanan
dengan menyeleksi bagian mana saja yang harus dihindari dari
pembangunan karena terlalu berbahaya atau semacamnya.
 Investigasi Detail
Desain akhir umumnya butuh data detail dari kondisi geologi.
Setelah menyeleksi dan menentukan desain rekayasa yang akan
dilakukan, harus dilakukan investigasi sekali lagi untuk mencocokkan
desain yang dibuat dengan kondisi di lapangan. Investigasi detail
terpusat pada daerah mana saja yang akan direkayasa. Investigasi detail
mengukur ulang seluruh komponen geologi secara teliti seperti struktur
geologi, hidrogeologi, geomorfologi serta potensi positif dan negatif
lapangan.

Gambar 4. Hasil investigasi lapangan secara detail menunjukkan rute yang dipakai dengan
pertimbangan kondisi geologi daerah sekitar mencakup aspek struktur geologi, hidrogeologi
serta geomorfologi.
5. Kunjungan Tender
Proyek rekayasa (termasuk investigasi lapangan) umumnya dilakukan
oleh tender. Orang pertama yang mengunjungi lapangan adalah seorang
insinyur yang harus terikat kontrak kerja. Pengumpulan data di lapangan
dilakukan berkelompok dengan kontraktor lain. Data lapangan yang didapat
kemudian diproses di pada setiap bidang karena umumnya kontraktor hanya
melayani satu bidang saja seperti uji laboratorium, pengolahan data citra dan
lain-lain sesuai spesialisasi masing-masing kontraktor. Pada beberapa negara,
data lapangan tersebut adalah milik negara sehingga perizinan harus disiapkan
sebelum melakukan investigasi karena informasi tersebut dapat ditahan karena
pelanggaran hukum.

Gambar 5. Tabel standar sampel untuk uji lab yang harus diperoleh oleh tender saat
melakukan investigasi lapangan
6. Supervisi Pekerjaan Investigasi
Setelah tender/kontraktor memenangkan kontrak untuk investigasi
lapangan dan mendesain manajemen proyek, sangat penting untuk
memastikan pekerjaan di lapangan dilakukan dengan benar. Untuk itu
dibutuhkan seorang ahli geologi teknik sebagai supervisi proyek. Banyak hal
yang dapat terjadi saat investigasi lapangan dilakukan, yang harus dilaporkan
setiap saat. Laporan ini dilakukan untuk pertimbangan keputusan yang harus
diambil saat itu juga Contohnya, sedang dilakukan pengeboran lubang bor
sesuai dengan standar, namun terjadi keruntuhan dinding lubang. Pengambilan
keputusan sangat dibutuhkan oleh orang yang bertanggung jawab. Keputusan
yang diambil dapat berupa
(a) membiarkan lubang bor;
(b) dilakukan grouting terhadap lubang bor yang runtuh dan coba bor
ulang;
(c) investigasi penyebab runtuhnya lubang bor atau;
(d) abaikan lubang bor dan bor ulang pada region yang sama.
Seorang insinyur geologi adalah orang yang paling berkapasitas untuk
memikirkan keputusan dari kejadian tersebut. Seorang supervisi harus bisa
mempertahankan investigasi agar terus berlanjut. Proyek yang tidak memiliki
seorang supervisi dapat menyebabkan kesalahan-kesalahan pengambilan
keputusan yang mengakibatkan pengambilan data yang buruk sampai
kesalahan pengambilan. Umumnya tender yang memiliki seorang supervisi
yang ahli, selalu mendapat kepercayaan oleh pemegang proyek sebagai
pengambil data yang akurat dan dapat dipercaya.

7. Evaluasi Data Investigasi


Data yang didapat di lapangan harus dievaluasi segera setelah investigasi
lapangan selesai. Data yang diambil harus lengkap sehingga tidak perlu
dilakukan pengambilan data ulang yang dapat memakan biaya tambahan.
Setelah memastikan kelengkapan data, bekas lubang bor harus segera ditutup
dengan alasan keamanan. Data investigasi umumnya terbagi menjadi dua tipe
pengetahuan, pertama kelompok aspek geologi (lapisan, lereng, diskontinuitas
dan lain-lain) dan yang kedua adalah aspek geoteknik (massa dan material).
Data investigasi pertama adalah data yang harus disajikan dalam bentuk cross-
section dan peta. Data didapat dari lubang bor atau akuisisi data geofisika.
Studi lebih lanjut mengenai data secara bersama antar disiplin ilmu akan
menghasilkan interpretasi yang saling mengisi. Penyajian data berupa peta
harus dibuat se-informatif mungkin karena tidak semua pembaca mengerti
tentang istilah-istilah rekayasa konstruksi. Dalam peta dapat dilihat distribusi
dari material pada area lapangan. Distribusi arah strike akan menghasilkan
informasi berupa geologi regional, yang dapat menjadi bahan interpretasi bagi
investigator tentang kondisi geologi dan bagaimana rencana penanganannya.

8. Rekayasa Geoteknik
Rekayasa kondisi geologi adalah upaya dalam mengubah sifat fisik dan kimia
suatu daerah geologi dengan tujuan menjamin faktor-faktor geologi yang
memengaruhi lokasi, desain, konstruksi, operasi dan perawatan. Pekerjaan geologi
rekayasa dapat dilakukan dengan perencanaan, analisis dampak lingkungan,
desain rekayasa sipil, rekayasa optimasi dan tahapan konstruksi proyek umum dan
swasta, serta pada tahap setelah konstruksi dan penyelidikan proyek. Rekayasa
geologi mencakup penyelidikan bahaya geologi, geoteknik, sifat-sifat materi,
stabilitas longsoran dan lereng, erosi, banjir, kekeringan dan seismik.
Rekayasa kondisi geologi memiliki beberapa metode, antara lain:
a. Mengurangi sudut kemiringan lereng
Apabila lereng memiliki sudut kemiringan yang besar, maka
kemungkinan lereng terjadi longsor akan semakin besar. Oleh karena itu,
dilakukanlah pengurangan sudut kemiringan lereng, dengan pengurangan
tersebut, sudut lereng akan semakin landai, dan kemungkinan longsor akan
dapat dikurangi.
Gambar 6. Ilustrasi Pengurangan Sudut Kemiringan Lereng

b. Pengurangan beban di bagian atas lereng


Dengan mengurangi beban di atas lereng, kemungkinan longsor akan
dapat diperkecil. Beban di atas lereng adalah salah satu faktor penyebab
longsor, maka dengan pengurangan beban, faktor penyebab longsorpun
berkurang.
c. Counterweight
Counterweight adalah metode pencegahan longsor dengan
menambahkan beban pada kaki lereng untuk menahan bidang longsor
lereng agar tidak terjadi longsor. Beban ini dimaksudkan agar kaki lereng
semakin kuat dalam menahan longsor.
d. Geotekstil
Geotekstil adalah bahan perkuatan tanah yang terbuat dari serat sintetis
berbentuk lembaran-lembaran yang disusun secara berlapis-lapis untuk
menahan tekanan tanah pada lereng. Geotekstil berfungsi sebagai jangkar
pengikat dinding muka lereng dan menahan tekanan aktif. Dalam beberapa
hal geotekstil mempunyai beberapa kelebihan di banding dengan dinding
penahan tanah.
e. Drainase
Pembuatan drainase dilakukan agar air yang melewati bawah
permukaan lereng tidak mengerosi dan melemahkan kondisi geologi lereng.
Pembuatan drainase juga membuat lereng tidak lembap dan tetap solid
dalam mempertahankan kondisinya.
f. Dinding Penahan
Dinding penahan berfungsi untuk menahan longsor dengan pembuatan
dinding yang terbuat dari campuran semen dan batuan andesit sebagai
penahan utama dalam dinding penahan.
g. Tiang Pancang
Tiang berupa turap baja, angkur, niling, pancang beton, kayu dan
sebagainya berguna dalam mengunci bidang gelincir lereng untuk
mencegah longsor.
h. Angkur
Angkur merupakan tiang pancang yang memfokuskan penguncian
bidang gelincir dengan mengunci batuan kunci yang menjadi faktor utama
longsor.

Gambar 7. Ilustrasi Rekayasa dengan Angkur

i. Grouting
Grouting dibuat dengan cara hasil bor tanah diperkuat dengan
penuangan semen dan pasir ke dalamnya.
j. Shotcrete
Shotcrete dilakukan dengan penyemprotan semen pada tanah yang ada
pada lereng dengan tujuan memperkuat permukaan lereng seperti dinding
penahan.

Gambar 8. Rekayasa Geoteknik dengan Shotcrete

9. Laporan
Data investigasi geoteknik, termasuk hasil laboratorium dan uji
lapangan, harus disampaikan di Laporan Geoteknik yang merupakan bagian
dari laporan desain pendukung untuk proyek-proyek baru. Laporan Geoteknik
diperlukan karena desain semua struktur tergantung pada kekuatan dan
kelemahan material dimana mereka akan mendirikan bangunan. Semua
laporan geoteknik harus terdiri dari presentasi singkat dari mereka kondisi
geologi yang berkontribusi terhadap karakterisasi lokasi proyek dan penentuan
desain berbagai struktur. Laporan Investigasi Geoteknik diperlukan untuk
proyek-proyek baru harus memberikan penilaian yang komprehensif dan
deskripsi geologi proyek. Informasi dalam laporan harus fokus pada topik-
topik berikut:
1. Kondisi topografi yang signifikan dan mengendalikan.
2. Deskripsi semua aspek batuan dasar dan geologi baru-baru ini, termasuk
diskusi dari:
- komposisi dan struktur batuan,
- deskripsi rekayasa tanah dan mereka hubungan dengan batuan dasar,
- sifat rekayasa utama dari batu dan tanah sebagai ditentukan oleh
lapangan dan laboratorium penyelidikan,
- kondisi geologi yang menyajikan khusus masalah teknik,
- obat yang diusulkan atau digunakan untuk masalah-masalah khusus,
dan
- Sumber dan karakteristik bahan bangunan.
Penyelidikan Permukaan dan bawah permukaan, pemeriksaan
laboratorium, dan ilustrasi geologi di Laporan Geoteknik harus cukup
komprehensif untuk memberikan informasi yang dapat diandalkan pada semua
kondisi geologi yang dapat mempengaruhi desain, konstruksi dan biaya
proyek.
Data disajikan dalam tabel, grafik, peta dan diagram yang menunjukkan
hasil pengolahan data serta kesimpulan yang dapat ditarik. Seluruh laporan
harus berbahasa dengan ejaan yang baik dan memenuhi standar. Diagram dan
ilustrasi harus mengikuti proposal yang telah dibuat. Rekaman lubang bor
harus sesuai standar. Setiap ilustrasi atau tabel dapat disajikan terpisah dari
laporan sesuai dengan kebutuhan.
Gambar 9. Standar penyajian data rekaman lubang bor
Gambar 10. Contoh data rekaman lubang bor berdasarkan standar Inggris BS5930 (1999)

Laporan geoteknik harus meninjau sejarah gempa dari daerah


investigasi. Berikut ini adalah daftar bahan ilustrasi yang harus dimasukkan
dalam laporan geoteknik, dan, untuk sebagian besar, disertakan atau dirujuk
dalam ringkasan geologi dalam laporan konsultan independen.
• Lokasi Proyek Peta
• peta Reservoir-Geologi
• Rencana Explorations
• Log dari eksplorasi Boring
• Plot Laboratorium Uji dan Tabulasi
• Situs Peta Geologi
• Foto-foto
• Top of Rock Contour Map
• Geologi Struktur Peta
• Bagian Geologi dan Profil
Bagian geologi dan profil harus menunjukkan korelasi unit tanah dan
batuan bersama-sama dengan seperti fitur signifikan tingkat air, kehilangan
air, kesalahan, zona geser, foliations, jointing, dan solusi zona. Bagian juga
harus menekankan struktur geologi dan menunjukkan kedalaman primer dan
pelapukan sekunder. Semua bagian dan profil harus ditumpangkan dengan
garis prinsipal struktur dan kedalaman pondasi penggalian untuk struktur yang
ada atau yang diusulkan. Selanjutnya, semua penyelidikan geologi dan tes
yang diperlukan untuk mengembangkan informasi pada beberapa item
konstruksi harus diselesaikan dan disajikan dalam laporan ini:
• Lereng Penggalian
• Metode penggalian batu khusus untuk penggalian struktural.
• Pembatuan untuk stabilisasi lereng atau dukungan terowongan.
• Mempersiapkan perbaikan dengan grouting atau beton gigi.
• Perlindungan cuaca terhadap material sensitif, seperti shale, dengan
memperkecil besarnya kembang susut.
• Desain khusus dan konstruksi masalah yang terkait dengan pemulihan
elastis dalam bahan dasar.
DAFTAR PUSTAKA

Price D.G.. 2009. Engineering Geology : Principles and Practice. United Kingdom
: Department of Civil and Environtmental Engineering, Imperial College
London.
Wyllie D.C., Mah C.W.. 2005. ROCK SLOPE ENGINEERING : CIVIL AND
MINING. United States of America : Taylor and Francis e-Library New
York, NY.
Muntohar Agus S. 2015. Bahan Ajar Penyelidikan Geoteknik. Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Yogyakarta.
https://www.sanjoseca.gov/DocumentCenter/View/9675 (diakses pada Senin, 9
November 2015 pukul 23.10)