Anda di halaman 1dari 30

I .

INPEKSI SANITASI SEKOLAH

Sekolah merupakan institusi formal dan strategis dalam menyiapkan sumber daya
manusia yang sehat secara fisik, mental,social,dan produktif. Salah satu yang
mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah adalah status kesehatan
dan kondisi lingkungan sekolah.
Masalah kesehatan di sekolah menjadi kompleks dan bervariasi terkait dengan
kesehatan peserta didik yang dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya kondisi
lingkungan sekolah dan perilaku hidup bersih.Sekolah dapat menjadi salah satu tempat
penyebaran penyakit seperti demam berdarah. Menurut Rois (2012), 3 sampai 4 anak
dalam setiap 1000 anak berusia 7—12 tahun berisiko menderita demam berdarah. Dari
penderita itu, 33,8% adalah kelompok usia sekolah. Duapertiga penderita tertular di luar
lingkungan tempat tinggalnya, salah satunya di sekolah.Hal tersebut membuktikan bahwa
kebersihan lingkungan sekolah merupakan faktor penting yang harus diperhatikan.
Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas, 2010),diketahui bahwa masalah gizi
usia sekolah 6—12tahun masih besar, yaitu terdapat 35,6% anak pendek, 12,2% anak
kurus, dan 9,2% anak gemuk. Masalah lain yang ditemukan adalah 44,6% anak usia
sekolah mengonsumsi sarapan berkualitas rendah. Dilaporkan juga bahwa 1,7% anak mulai
merokok pada anak usia 5—9 tahundan 17,5% pada usia 10—14tahun.Selain itu,
persentase menyikat gigi setiap hari pada kelompok umur 10—14tahunadalahsebesar
95,7%, namun yang berperilaku benar menyikat gigi hanya 1,7% (Riskesdas, 2013).
Guna mencegah dan mengurangi berbagai permasalahan di atas diperlukan perilaku
hidup bersih dan sehat melalui pengembangan pola hidup bersih dan sehat di sekolah.
Upaya tersebut tidak hanya mengandalkan proses belajar mengajar pendidikan jasmani,
olahraga, dan kesehatan, tetapi perlu didukung oleh kebijakan, sarana dan prasarana, serta
program yang tepat sehingga perilaku hidup bersih dan sehat akanmenjadi budaya
dikalangan warga sekolah.
Tujuan Panduan Sekolah Dasar Bersih dan Sehatini adalah memberikan informasi
dan solusi untuk menjawab berbagai permasalahan dan hambatan yang muncul. Dengan
begitu, sekolah dapat menumbuhkan pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat pada
setiap warga sekolah.

A. Dasar Hukum
1. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup (PPLH).
3. Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 1/U/SKB/2003, Nomor:
1067/Menkes/SKB/VII/2003, Nomor: MA/230A/2003, Nomor: 26 Tahun 2003 tanggal 23 Juli
2003 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah.
6. Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 2/P/SKB/2003, Nomor: 1068/
Menkes/SKB/VII/2003, Nomor: MA/230B/2003, Nomor: 4415-404 Tahun 2003 tanggal 23
Juli 2003 tentang Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah Pusat.
7. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1429/ Menkes/SK/XH/2006 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah.
8. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2269/MENKES/PER/XI/2011 tentang Pedoman
Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

B. Tujuan dan Manfaat


1. Mewujudkan sekolah dasar yang memenuhi syarat kesehatan untuk meningkatkan
kualitas hidup bersih dan sehat warga sekolah.
2. Menyelenggarakan pendidikan kesehatan di sekolah dasar.
3. Menyelenggarakan upaya promotif dan preventif di sekolah dasar.
4. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan bangunan dan halaman sekolah dasar.
5. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar sekolah dasar.
6. Mewujudkan warga sekolah yangmemiliki perilaku hidup bersih dan sehat.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menyebutkan Pendidikan Nasional


berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu tolok
ukur pengembangan pendidikan karakter adalah kebersihan dan kesehatan. Terkait dengan
fungsi pendidikan ini, sekolah sebagai tempat belajar memiliki lingkungan bersih dan sehat
untuk mendukungberlangsungnya proses pembelajaran yang baik. Sekolah berperan
membentuk peserta didik agar memiliki perilaku bersih dan sehat untuk meningkatkan
derajat kesehatan dan mendukung pencapaian tujuan pendidikan.

C. Konsep Dasar SD Bersih Sehat


SD Bersih Sejat adalah sekolah dasar yang warganya secara terus-menerus
membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, dan memiliki lingkungan sekolah yang
bersih, indah, sejuk, segar, rapih, tertib, dan aman. SD bersih sehat
mengutamakan pentingnya pembangunan kesehatan melalui kegiatan yang bersifat
promotif dan preventif, sehingga dapat mendorong kemandirian semua warga sekolah dan
masyarakat di lingkungan sekolah untuk berperilaku hidup sehat, memelihara
kesehatannya, dan meningkatkan kesehatannya.
Warga sekolah meliputisetiap individu yang berperan di dalam proses belajar-
mengajar di sekolah,antara lain, peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan yang
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing-masing baik sebagai pembelajar maupun
pebelajar. Masyarakat lingkungan sekolah meliputi semua masyarakat yang berada di
lingkungan sekolah selain warga sekolah.Perilaku hidup bersih dan sehat warga sekolah
dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran,sehingga warga sekolah
mampu menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan
kesehatan masyarakatnya.
Upaya mewujudkan Sekolah Dasar Bersih dan Sehat dapat dicapai melalui strategi
penyediaan sarana dan prasarana, manajemen yang baik, penyebarluasan pengetahuan,
penciptaan kondisi ideal dengan melibatkan partisipasi semua pihak seperti warga sekolah,
komite sekolah, puskesmas, dan masyarakat. Strategi tersebut dilaksanakan dengan
menyelenggarakan pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, kebersihan dan
kesehatan lingkungan, serta pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti
bagan berikut.

Higiene dan sanitasi sekolah adalah perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah
dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan guna terwujudnya lingkungan
sekolah yang sehat yang bersih dan nyaman dan terbebas dari ancaman penyakit.

Sekolah adalah suatu lembaga yang mempunyai peran strategis terutama mendidik
dan menyiapkan sumber daya manusia. Keberadaan sekolah sebagai suatu sub sistem
tatanan kehidupan sosial, menempatkan sekolah sebagai bagian dari sistem sosial.Sekolah
dapat menjalankan fungsinya yaitu sebagai lembaga untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa yang optimal dan mengamankan dari pengaruh negatif dari ingkungan sekitar.

Sekolah harus memenuhi syarat-syarat kesehatan tidak saja bangun fisik tetapi
masyarakat sekolah terrutama peserta didik. Salah satu bagian yang memegang peran
penting dalam mencipkatakan kesehatan peserta didik adalah lingkungan sekolah yang
memenuhi persyaratan kesehatan.

Kebijakan dalam penyelenggaraan sanitasi dan higiene sekolah sejalan dengan


kebijakan program Lingkungan Sehat, Kepmenkes Nomor 1429/Menkes/SK/XII/2006
tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan lingkungan di sekolah, kebijakan Nasional
Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) berbasis masyarakat dan Kepmenkes
Nomor 582/Menkes/SK/IX/2009 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM).

Higiene dan sanitasi sekolah pelaksanaannya dimotori oleh Usaha Kesehatan


Sekolah (UKS). Tujuan UKS adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi
belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dan derajat
kesehatan peserta didik maupun warga belajar serta menciptakan lingkungan yang sehat,
sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal
dalam rangka pembentukan manusia Indonesia yang seutuhnya.

Pembinaan dan pengembangan UKS dilaksanakan melalui tiga program pokok yang
meliputi :

a. Pendidikan Kesehatan

b. Pelayanan Kesehatan

c. Pembinaan Lingkungan Kehidupan Sekolah Sehat.

D. Standar dan Syarat Sekolah Sehat


Pengertian umum lingkungan sekolah adalah salah satu kesatuan lingkungan fisik,
mental dan sosial dari sekolah yang memenuhi syarat-syarat kesehatan sehingga dapat
mendukung proses belajar mengajar dengan baik dan menunjang proses pertumbuhan dan
perkembangan murid secara optimal.

Faktor lingkungan sekolah dapat mempengaruhi proses belajar mengajar, juga kesehatan
warga sekolah. Kondisi dari komponen lingkungan sekolah tertentu dapat menyebabkan
timbulnya masalah kesehatan. Faktor resiko lingkungan sekolah tersebut antara lain kondisi
atap, dinding, lantai, dan aspek lainnya sebagai berikut :

1. Kondisi atap dan talang : Atap dan talang yang tidak memenuhi syarat kesehatan
dapat menjadi tempat perindukan nyamuk dan tikus. Kondisi ini mendukung
terjadinya penyebaran dan penularan penyakit demam berdarah dan leptospirosis.

2. Kondisi dinding : Dinding yang tidak bersih dan berdebu selain mengurangi estetika
juga berpotensi merangsang timbulnya gangguan pernafasan seperti asthma atau
penyakit saluran pernafasan.

3. Kondisi lantai : Dinding yang tidak rata, licin dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan, sedangkan lantai yang kotor dapat mengurangi kenyamanan dan
estetika. Lantai yang tidak kedap air dapat menyebabkan kelembaban. Kondisi ini
mengakibatkan dapat berkembang biaknya bakteri dan jamur yang dapat
meningkatkan resiko penularan penyakit seperti TBC, ISPA dan lainnya.

4. Kondisi tangga :Tangga yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti kemiringan,
lebar anak tangga, pegangan tangga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi
peserta didik. Tangga yang memenuhi syarat adalah lebar injakan > 30 cm, tinggi
anak tangga maksimal 20 cm, lebar tangga > 150 cm serta mempunyai pegangan
tangan.

5. Pencahayaan :Pencahayaan alami di ruangan yang tidak memenuhi syarat


kesehatan mendukung berkembang biaknya organisme seperti bakteri dan jamur.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kesehatan. Selain itu
pencahayaan yang kurang menyebabkan ruang menjadi gelap sehingga disenangi
oleh nyamuk untuk beristirahat (rasting habit).

6. Ventilasi : Ventilasi di ruangan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan


menyebabkan proses pertukaran udara tidak lancar, sehingga menjadi pengap dan
lembab, Kondisi ini mengakibatkan berkembang biaknya bakteri, virus dan jamur
yang berpotensi menimbulkan gangguan penyakit seperti TBC, ISPA, cacar dan
lainnya.

7. Kepadatan Kelas :Perbandingan jumlah peserta didik dengan luas ruang kelas yang
tidak memenuhi syarat kesehatan menyebabkan menurunnya prosentase
ketersediaan oksigen yang dibutuhkan oleh peserta didik. Hal ini akan menimbulkan
rasa kantuk, menurunkan konsentrasi belajar dan resiko penularan penyakit.
Perbandingan ideal adalah 1 orang menempati luas ruangan 1,75 M2.
8. Jarak Papan tulis : Jarak papan tulis dengan murid terdepan < 2,5 meter akan
mengakibatkan debu kapur atau spidol beterbangan dan terhirup ketika menghapus
papan tulis, sehingga untuk jangka waktu lama akan berpengaruh terhadap fungsi
paru-paru. Bila jarak papan tulis dengan murid paling belakang > 9 meter akan
menyebabkan gangguan konsentrasi belajar.

9. Ketersediaan tempat cuci tangan : Tangan yang kotor berpotensi menularkan


penyakit. Kebiasaan cuci tangan dengan sabun mampu menurunkan kejadian
penyakit diare 30%. Tersedianya tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun
bertujuan untuk menjaga diri dan melatih kebiasaan cuci tangan dengan sabun
sebelum makan atau sesudah buang air besar merupakan salah satu Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS). Berdasarkan ketentuan Departemen Kesehatan maka
setiap 2 (dua) ruang kelas harus terdapat satu wastafel yang terletak di luar ruangan.

10. Kebisingan : Kebisingan adalah suara yang tidak disukai, bisa berasal dari luar
sekolah maupun dari dalam lingkungan sekolah itu sendiri, suara bising dapat
menimbulkan gangguan komunikasi sehingga mengurangi konsentrasi belajar dan
dapat menimbulkan stress.

11. Air bersih : Ketersediaan air bersih baik secara kualitas maupun kuantitas muklak
diperlukan untuk menjaga hygiene dan sanitasi perorangan maupun lingkungan.
Beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air antara lain diare, kholera,
hepatitis, penyakit kulit, mata dan lainnya. Idealnya ketersediaan air adalah 15
liter/orang/hari.

12. Toilet (kamar mandi, WC dan urinoir). Kamar mandi : Bak penampungan air dapat
menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, demikian juga kamar mandi yang
pencahayaannya kurang memenuhi syarat kesehatan akan menjadi tempat
bersarang dan beristirahatnya nyamuk. WC dan urinoir : Tinja dan urine merupakan
sumber penularan penyakit perut (diare, cacingan, hepatitis ). Penyakit ini ditularkan
melalui air, tangan, makanan dan lalat. Untuk perlu diperhatikan ketersediaan WC
dalam hal jumlahnya. Perbandingannya adalah : 1 WC untuk 25 siswi dan 1 WC
untuk 40 siswa.

13. Pengelolaan sampah : Penanganan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan
dapat menjadi tempat berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat, tikus,
kecoak. Selain itu dapat juga menyebabkan pencemaran tanah dan menimbulkan
gangguan kenyamanan dan estetika. Untuk itu disetiap ruang kelas harus terdapat 1
buah tempat sampah dan di sekolah tersebut harus tersedia tempat pembuangan
sampah sementara (TPS).

14. Sarana pembuangan air limbah : Sarana pembuangan air limbah yang tidak
memenuhi syarat kesehatan ataupun tidak dipelihara akan menimbulkan bau,
mengganggu estetika dan menjadi tempat perindukan dan bersarangnya tikus.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan dan menularkan penyakit seperti leptospirosis
dan filariasis (kaki gajah).
15. Pengendalian vector : Termasuk dalam pengertian vektor ini, terutama adalah tikus
dan nyamuk : Tikus :Tikus merupakan vektor penyakit pes, leptospirosis, selain
sebagai vektor penyakit, tikus juga dapat merusak bangunan dan instalasi listrik. Hal
ini meningkatkan resiko penularan penyakit dan juga menimbulkan terjadinya arus
pendek pada aliran listrik. Nyamuk : Nyamuk merupakan vektor penyakit, jenis
nyamuk tertentu menularkan jenis penyakit yang berbeda. Nyamuk Aedes Aegypti
dapat menyebabkan demam berdarah. Anak-anak usia sekolah merupakan
kelompok resiko tinggi terjangkit penyakit demam berdarah. Nyamuk demam
berdarah senang berkembang biak pada tempat-tempat penampungan air maupun
non penampungan air. Beberapa tempat perindukan yang harus diwaspadai antara
lain bak air, saluran air, talang, barang-barang bekas dan lainnya.

16. Kantin/warung sekolah : Kantin/warung sekolah sangat dibutuhkan oleh peserta


didik untuk tempat memenuhi kebutuhan makanan jajanan pada saat istirahat.
Makanan jajanan yang disajikan tersebut harus memenuhi syarat kesehatan, karena
pengelolaan makanan jajanan yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan
penyakit bawaan makanan dan berpengaruh terhadap kesehatan sehingga akan
mempengaruhi proses belajar mengajar.

17. Kondisi halaman sekolah : Halaman sekolah pada musim kemarau akan berdebu,
sehingga menyebabkan penyakit ISPA dan pada musim hujan akan menimbulkan
becek sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan. Halaman sekolah

Salah satu pembinaan dan pengembangan sekolah sehat adalah melalui pembinaan
dan penilaian pada keadaan lingkungan fisik sekolah, peserta didik dan tenaga pendidikan,
serta pada berbagai kegiatan, manajemen/organisasi serta pengaruh timbal balik antara
sekolah dan masyarakat sekitarnya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan secara
optimal.

Berikut adalah komponen dan kriteria nilai pada aspek kesehatan lingkungan sekolah.
INSPEKSI SANITASI SEKOLAH

1. NAMA SEKOLAH :
2. ALAMAT SEKOLAH :
3. TINGKATAN SEKOLAH :
4. TANGGAL PEMERIKSAAN :
NO. VARIABEL BOBOT KOMPONEN YANG DINILAI NILAI SCORE
I LOKASI
4 a. Tidak berdekatan 8
dgn sum-ber pencemaran (≥
500 m) 2
b. Tidak pd wil.
rawan banjir
II KONTRUKSI
1. Bangunan a. Kuat tidak mudah roboh 5
b. Dinding tidak lembab
c. Lantai kedap air
d. Kerangka atap kuat
e. Ventilasi memadahi dan
dapat mencegah masuk nya
serangga dan tikus
2. Atap a. Terbuat dari bahan yg
kuat
b. Bebas serangga dan tikus
c. Tidak bocor
d. Berwarna terang
e. Mudah dibersihkan
3. Dinding a. Terbuat dari bahan yg kuat
b. Rata dan tidak lembab
c. Bersih
d. Berwarna terang
e. Mudah dibersihkan
4. Lantai a. Kuat/Utuh/kedap air
b. Bersih
c. Rata
d. Tidak licin
e. Mudah dibersihkan
5. Langit-langit a. Tinggi langit2 min 2,75 m dari
lantai
b. Kuat
c. Berwarna terang
d. Mudah dibersihkan
6. Pintu dan Jendela a. Terbuat dari bahan yg kuat
b. Dapat mencegah masuk nya
serangga dan tikus
c. Dapat dibuka dan ditutup
d. Dapat dikunci dengan baik
7. Ventilasi a. Minimal 5 % dari
luas lantai
b. Aman dari
masuknya se-rangga dan tikus
NO. VARIABEL UPAYA KESLING BOBOT KOMPONEN YANG DINILAI NILAI SKOR
1 2 3 4 5 6
8. Pencahayaan 2 a. Terang untuk baca dan
tulis
b. Tidak menyilaukan
9. Pagar 1 a. Terbuat dari bahan yg kuat
b. Aman
c. Pintu pagar dapat dibuka/di
tutup/dikunci dgn baik
III. RUANG DAN BANGUNAN 30
1. Ruang Kelas
A. Konstruksi 5 a. Lantai kedap air,
ruang kelas rata dan tidak licin
b. Bersih
c. Ruangan tidak
Lembab
d. Pencahayaan
terang tidak menyilaukan
e. Meja/Kursi
terbuat dari ba-han yang kuat
tidak mudah patah dan
5 ergonomis
B. Kepadatan
ruang kelas a. Jarak papan tulis dgn kursi
terdepan
a. ≥ 2.5 m - 3 m
b. < 2.5 m
b. Kepadatan ruang kelas
a. 1.5 - 1.75 m²/murid
b. 1.25 - 1.15 m²/murid
c. 1.0 - 1.24 m²/murid
d. < 0.95 m²/murid
2. Ruang Perpustakaan 5 a. Pencahayaan
terang
b. Lantai kedap air,
rata dan tidak licin
c. Bersih
d. Terdapat rak buku
yang me madahi
e. Ruangan tidak
Lembab
f. Buku tertata rapi
sesuai ketentuan (katalog)
g. Terdapat meja/kursi
untuk baca
3. Ruang Guru 5 a. Pencahayaan
terang
b. Lantai kedap air,
rata dan tidak licin
c. Ruangan tidak
Lembab
d. Bersih
e. Terdapat meja/kursi
baca
NO. VARIABEL UPAYA KESLING BOBOT KOMPONEN YANG DINILAI NILAI SKOR
1 2 3 4 5 6
4. Ruang Kantor 5 a. Pencahayaan
terang
b. Lantai kedap air,
rata dan tidak licin
c. Ruangan tidak
Lembab
d. Bersih
e. Terdapat meja/kursi
baca
5. Kmar Mandi/WC/Paturasan 5 a. Rasio 1 : 25 Orang
siswa
b. Lantai kedap air dan tidak
licin √
c. Dinding dilapisi porselin/ke
ramik setinggi 2 m.
d. Dinding berwarna terang
e. Bak air kedap air dan tidak
bocor, tidak berlumut dan
bebas jentik
f. Ventilasi harus berhubung an
langsung dng udara luar
g. Pencahayaan terang
h. Kebersihan terawat baik
IV. PENYEDIAAN AIR BERSIH 20
1. Kuantitas Air bersih 10 a. Tersedia air bersih dalam
jumlah yang cukup
b. Distribusi air bersih meng-
gunakan sistem perpipaan
2. Kualitas 5 a. Kualitas air
bersih meme-nuhi syarat
fisika, kimia, mikrobiologi
dan radio aktif
b. Dilakukan √
pengambilan sampel air
bersih minimal 2 x setahun
3. Sarana 5 a. Sumber PDAM,
air tanah √
b. Distribusinya
bebas pence maran fisik,
kimia, dan bakteriologis
c. Pipa distribusi
tidak bocor
d. Penampungan
tertutup
V PENGELOLAAN LIMBAH 10
1. Limbah Padat 7 a. Terdapat Kotak sampah di
masing-masing ruangan
b. Sampah padat dikumpulkan
dan dibuang ke TPA
2. Limbah Cair 13 a. Saluran
limbah cair harus kedap air,
tertutup, limbah cair dapat
mengalir dengan lancar dan
tidak menimbul kan bau
NO. VARIABEL UPAYA KESLING BOBOT KOMPONEN YANG DINILAI SKOR
1 2 3 4 6
b. Semua limbah cair harus
dilakukan pengolahan fisik,
sesuai kebutuhan
VI KANTIN SEKOLAH 5
1. Konstruksi Bangunan a. Perman
en
b. Semi
Permanen
c. Tidak
permanen
2. Ruang Kantin Sekolah a. Tersedia
etalase tempat ma kanan siap
saji dan makan an dalam
kemasan/bung kus/sachet
b. Tersedia
tutup makanan untuk
makanan siap santap di meja
makan.
c. Tersedia
meja/kursi/bangku untuk
makan
d. Bersih
e. Tersedia
kotak sampah yang tertutup
3. Makanan dan Minuman a. Makana
n dan minuman olahan yg
tersedia tidak basi (baru)
b. Makana
n dan minuman yg dijual
bebas dari serangga
c. Tidak
menjual makanan
kadaluwarsa
d. Peralata
n makan serba bersih.
e. Tersedia
sabun dan air bersih untuk
cuci tangan
f. Tersedia
tissue/serbet untuk keringkan
tangan
4. Pramusaji a. Pernah dikursus
penjamah makanan
b. Tidak
berpenyakit menular
c. Rambut tersisir
dengan rapi/rambut diikat.
d. Tak ada kuku
tangan yg panjang
e. Tidak
menggunakan cat kuku
f. Pakain bersih
g. Mengunakan
celemek
1 2 3 4 5 6
VII HALAMAN DAN PARKIR 5

1. Halaman 3 a. Ada tanaman pelindung


b. Ada tanaman hias
c. Kebersihannya
terpelihara
2. Parkir 2 a. Terdapat lahan parkir
yang memadahi
b. Ada pengatur dan
penjaga keamanan parkir
c. Kebersihannya terpelihara

MENGETAHUI PETUGAS
Kepala Sekolah/Guru Sekolah................ PEMERIKSA

-……………………………..........- -.........................................................-

II. INSPEKSI SANITASI TEMPAT MESJID

A. Pengertian Masjid
Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum, pada waktu – waktu
tertentu berkumpul untuk melakukan ibadah keagamaan Islam. Masjid-masjid besar di
Indonesia pada umumnya dibangun dengan konsep masjid berkubah berbentuk setengah
bola atau dome. Semestinya, pada saat merancang masjid, desain akustik tidak boleh
dikesampingkan karena berpengaruh terhadap kualitas bunyi yang diterima pendengar
diakibatkan dari suara dengung di dalam ruang masjid. Kegiatan yang sering dilakukan di
dalam masjid adalah kegiatan yang menimbulkan kejelasan penyampaian suara, seperti
sholat berjamaah dan ceramah agama.Dasar pelaksanaan Penyehatan Lingkungan Masjid
adalah Kep. Menkes288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan
Bangunan Umum.
Persyaratan sanitasi tempat ibadah (masjid) berdasarkanKep.Menkes288/Menkes
/SK/III/2003 tentang penyehatan lingkungan masjid .
a. Persyaratanlingkunganfisik,meliputi :
1. Letak
- Sesuai dengan rencana tata kota
- Tidak berada pada arah angin dari sumber pencemaran (debu,asap,bau dan
cemaran lainnya)
- Tidak berada pada jarak < 100 meter dari sumber pencemaran debu, asap, bau dan
cemaran lainnya
2. Kontruksi
3. Persyaratan kesehatan tempat ibadah, seperti :
a. Alat shalat
- Alat sholat bersih dan tidak lembab, selalu dibersihkan dan dijemur secara periodic,
bebas dari kutu busuk dan serangga lainnya. sepanjang bagian depan shaf dipasang
kain putih yang bersih dengan lebar 30 cm2 yang digunakan untuk tempat bersujud.
- Bangunan
- Kuat, kokoh dan permanen
- Rapat serangga dan tikus
4. Lantai
- Kuat, tidak terbuat dari tanah, bersih, rapat air, tidak licin dan mudah dibersihkan.
- Ventilasi
- Minimal 10% dari luas bangunan, sejuk dan nyaman (tdk pengap dan tdk panas)
- Dinding
- Dinding bersih, berwarna terang, kedap air dan mudah dibersihkan
- Atap
- Menutup bangunan,kuat, bersih, cukup landai dan tidak bocor
- Pencahayaan
- Pencahayaan terang, tersebar merata dan tidak menyilau ( min. 10 fc)
5. Pintu
- Rapat serangga dan tikus, menutup dengan baik dan membuka ke arah luar
- Terbuat dari bahan yang kuat danmudahdibersihkan
6. Langit – langit
- Tinggi minimal 2,4 m dr lantai
- Kuatdantidakterdapat lubang
- Berwarna terang dan mudah dibersihkan
7. Pagar
- Kuat, aman dan dapat mencegah binatang pengganggu masuk
8. . Halaman
- Bersih, tdk berdebu dan becek, tdk terdapat genangan air, terdapat tempat sampah
yang cukup. Dan terdapat tempat parkir yang cukup
9. Jaringan instalasi
- Aman (bebas cross conection)
- Terlindung
10. Saluran air limbah
- Tertutup
- Mengalir dengan lancar

11. Tempat sandal dan sepatu


- Tersedia tempat sandal dan sepatu yang khusus
b. Fasilitas sanitasi, meliputi :
1. Air Bersih
- Jumlah mencukupi / selalu tersedia setiap saat
- Tidak berbau, tidak berasa & tidak berwarna
- Angka kuman tidak melebihi NAB
- Kadar bahan kimia tidak melebihi NAB
2. Pembuangan Air Kotor
- Terdapat penampungan air limbah yang rapat serangga
- Air limbah mengalir dengan lancar
- Saluran kedap air
- Saluran tertutup
3. Toilet/ WC
- Bersih
- Letaknya tidak berhubungan langsung dengan bangunan utama
- Tersedia air yang cukup
- Tersedia sabun & alat pengering
- Toilet pria & wanita terpisah
- Jumlahnya mencukupi untuk pengunjung terbanyak
- Saluran pembuangan air limbah dilengkapi dengan penahan bau (water seal)
- Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar
4. Peturasan
- Bersih
- Dilengkapi dengan kran pembersih
- Jumlahnya mencukupi
5. Tempat Sampah
- Tempat sampah kuat, kedap air, tahankarat, dan dilengkapi dengan penutup
- Jumlah tempat sampah mencukupi
- Sampah diangkut setiap 24 jam ke TPA
- Kapasitas tempat sampah terangkat oleh 1 orang
6. Tempat Wudhu
- Bersih
- Terpisah dari toilet, peturasan, & ruang mesjid
- Air wudhu keluar melalui kran – kran khusus & jumlahnya mencukupi
- Kolam air wudhu tertutup (rapat serangga)
- Tidak terdapat jentik nyamuk pada kolam air wudhu
- Limbah air wudhu mengalir lancar
- Tempat wudhu pria dan wanita sebaiknya terpisah
7. Tempat Sembahyang
- Bersih, tidak berbau yang tidak enak
- Bebas kutu busuk & serangga lainnya
- Sepanjang bagian depan tiap sap dipasang kain putih yang bersih dengan lebar 30
cm sebagai tempat sujud
8. Tempat sandal dan sepatu
- Tersedia tempat sandal & sepatu yang khusus
- Bersih dan kuat.

Dikatakan baik karena setiap variabel pada form penilaian sudah mencapai nilai
yang sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan diantaranya :
1. Lokasi dan Bangunan
a. Lokasi
Lokasi tidak terletak didaerah banjir dan sesuai dengan rencana tata kota serta memiliki
surat ijin bangunan, tetapi masjid ini berada pada jarak < 100 m dari sumber pencemar dan
terletak pada tepi jalan raya sehingga masjid ini berpotensi terkena debu, asap, bau dan
memiliki kebisingan yang tinggi dari kendaraan beroda.
b. Bangunan
Bangunan pada masjid ini permanen, rapat serangga dan rapat tikus. Bangunan ini terbuat
dari beton yang kokoh.
c. Lantai
Lantai pada masjid ini bersih, kedap air, tidak licin dan mudah dibersihkan. Terbuat dari
keramik / porslen.
d. Dinding
Dinding pada masjid ini bersih dan kedap air, namun padan lantai 2 kami menemukan ada
sebagian dinding yang sedikit rusak mungkin dikarenakan bangunan nya sudah lama dan
tidak direnovasi. Jika pada didnding tersebut tidak direnovasi maka bisa menjadi tempat
lumut dan tempat berkembang biaknya suatu bakteri.
e. Atap
Kuat, tidak bocor, menutup bangunan dan tidak menjadi berkembang biak serangga dan
tikus. Namun pada atap bagian bangunan belakang sedikit rendah tidak setara dengan atap
pada bangunan utama tetapi tidak mengganggu aktivitas jama’ah.
f. Langit-langit
Pada langit-langit masjid ini tingginya melebihi 2,5 m dari lantai, tidak terdapat lubang-
lubang dan bewarna putih dan hijau terang serta mudah dibersihkan.

g. Pintu
Pintu pada masjid ini terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibersihkan yaitu kayu
belian, rapat serangga dan rapat tikus, menutup dengan baik dan membuka kearah luar.
Dikatakan rapat serangga dan rapat tikus karena pada pintu ini hanya memiliki jarak 2cm
dari lantai dan kemungkinan besar tidak menjadi tempat hinggap serangga dan tikus.

2. Konstruksi
Konstruksi pada bangunan masjid ini kuat dan aman karena masjid ini terbuat dari beton
dan dalam kondisi baik.
3. Bagian Luar
a. Halamann
Pada halaman masjid ini bersih, tidak terdapat sampah berserakan dan tidak ditemukan
genangan air.
b. Tempat sampah
Pada tempat sampah masjid ini kedap air, mempunyai tutup, dan terbuat dari fiber bewarna
abu-abu. Tempat sampah pada masjid ini berjumlah 7 buah , pada halaman ada 4 buah
tempat sampah yang terletak disetiap sudut masjid dan 3 buah nya ada didalam masjid.
Sehingga dapat dikatakan cukup karena pengunjung masjid atau jam’ah nya ramai pada
saat hari-hari besar agama Islam. Tempat sampah ini pun terangkat pada 1 orang dan
setiap harinya dibuang ke TPS.
c. Tempat wudhu
Tempat wudhu pada masjid ini bersih, terpisah dari toilet, peturasan dan ruang masjid.
Air wudhu keluar dari kran khusus dan jumlahnya mencukupi dan terdapat kolam air wudhu
yang tertutup rapat serangga dan tidak terdapat jentik nyamuk.
d. Tempat sandal dan sepatu
Pada tempat sandal dan sepatu memiliki tempat yang khusus dan bersih.
e. Air bersih
Pada air yang ada dimasjid ini jumlah mencukupi/tersedia selalu setiap saat dan tidak
berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Namun dalam pratek inspeksi ini kami tidak
mengukur atau memeriksa angka kuman dan kadar bahan kimia pada air yang digunakan
di masjid ini.
f. Pembuangan air limbah
Pada pembuangan limbah wudhu dimasjid ini menngalir dengan lancar teapi tidak
bersambung dengan saluran pembuangan air kotor umum yang kedap air, namun air
limbah ini langsung mengalir ke parit.

g. Toilet
Toilet pada masjid ini bersih, letaknya tidak berhubungan langsung dengan bangunan
utama, memiliki lubang penghawaan yang berhnunggan langsung dengan udara luar, dan
tersedia sabun serta anatara toilet pria dan wanita terpisah dan jumlahnya mencukupi yaitu
untuk pengunjung yang banyak. Tetapi pada masjid ini tidak tersedia alat pengering dan
tidak tersedia saluran pembunangan air limbah dilengkapi penahan bau ( water seal ).

h. Peturasan
Peturasan pada masjid harus bersih dilengkapi dengan kran pembersih dan dengan jumlah
yang mencukupi

4. Bagian Dalam
a. Tempat sholat
Tempat sholat pada masjid ini bersih dan tidak kotor dan bebas kutu busuk atau serangga
lainnya, tetapi tidak dipasang kain putih sebagai tempat sujud.
b. Peralatan disekitar tempat ibadah bersih.
c. Pencahayaan
pencahayaan pada masjid ini terang dengan hasil pengukuran 153 lux atau 14,21 fc,
berdasarkan kep.menkes288/menkes /sk/iii/2003 tentang penyehatan lingkungan masjid
pencahayaan pada masjid ini tidak kurang dari nilai min 10 fc, tersebar
merata dibagaian dalam masjid.
e. Ventilasi
ventilasi pada masjid melebihi dari 10% luas bangunan, berfungsi dengan baik, sejuk dan
nyaman.

B. From Pengamatan
Formulir Pemeriksaan Sanitasi Tempat Ibadah (Masjid)
Nama tempat ibadah : Masjid Darul Falah
Alamat : Jalan Prof M Yamin
NamaPenanggungjawab : Wahyu Titianto Nugroho
Jumlah Jamaah : ± 1000 orang
Namapemeriksa : Kelompok 1

No Uraian Bobot Nilai Skor Keterangan


I Lokasi dan Bangunan
a.
8
Lokasi
- Tidak terletak didaerah banjir (tidak terletak
didaerah landai, jauh dari aliran sungai)
- Sesuai dengan rencana tatakota (terdapat
IMB)
- Tidak berada pada jarak<100 meter dari
sumber pencemaran:
- Debu Kebisingan
- Asap (fisik)
b. - Bau
- cemaran lainnya.
Bangunan
- Permanen 8
c. - Rapat serangga
- Rapat tikus
Lantai
- Bersih 2
- Kedap air

d. - Tidak licin
- Mudah dibersihkan
Dinding
- Bersih 2
e.
- Kedap air
Atap
- Tidak bocor 2
- Cukup landai
f. - Menutup bangunan
Langit-langit
- Tinggi minimal 2,4 m dari lantai 2
- Tidak terdapat lubang-lubang
g. - Berwarna terang dan mudah dibersihkan
Pintu
- Rapat serangga
- Rapat tikus
2
- Menutup dengan baik dan membuka kearah
luar 2 cm
- Terbuat dari bahan yang kuat dan mudah
dibersihkan

II. Konstruksi
- Kuat (kayu kelas 2, kayu kelas 1(belian),
beton)
9 Belian
- Aman (baik, rusak ringan, rusak berat)
Aman

III Bagian Luar


a. Halaman
-Bersih 1.5
-Tidak terdapat sampah berserakan
-Tidak terdapat genangan air
b Tempat sampah
- Kedap air dan mempunyai tutup
8
- Jumlah tempat sampah mencukupi
(berapa..... per .....org atau per m2)
- Kapasitas tempat sampah terangkat oleh 1 5 tong sampah
orang
c - Sampah diangkut setiap 24 jam
Tempat Wudhu
- Bersih
- Terpisah dari toilet, peturasan dan ruang 3
masjid
- Air wudhu keluar dari kran khusus dan
jumlahnya mencukupi
- Kolam air wudhu tertutup (rapat serangga)

d - Tidak terdapat jentik nyamuk pada kolam air


wudhu
Tempat Sandal dan Sepatu
- tempat sandal & sepatu yang khusus
- bersih 1.5
e
Air Bersih
- Jumlahnya mencukupi/selalu tersedia
9
setiap saat
- Tidak berbau, tidak berasa & tidak berwarna Menggunakan
f. - Angka kuman tidak melebihi NAB air PDAM
- Kadar bahan kimia tidak melebihi NAB
Pembuangan Air Limbah
- Air limbah mengalir dengan lancar 8
- Bersambung dengan saluran pembuangan
g. air kotor umum yang kedap air
- Saluran tertutup
Toilet
- Bersih 7
- Letaknya tidak berhubungan langsung
dengan bangunan utama
- Tersedia air bersih yang cukup
- Tersedia sabun
- Tersedia alat pengering
- Toilet pria & wanita terpisah
- Jumlahnya mencukupi untuk pengunjung
terbanyak(.....bh/....org)
- Saluran pembuangan air limbah dilengkapi
dengan penahan bau (water seal)
- Lubang penghawaan harus berhubungan
langsung dengan udara luar
Peturasan
- Bersih
7
- Dilengkapi dengan kran pembersih
- Jumlahnya mencukupi

III. Bagian Dalam


a. Tempat shalat
- Bersih dan tidak berbau
3
- Bebas kutu busuk dan serangga lainnya
- Sepanjang bagian depan tiap sap dipasang
kain putih yang bersih dengan lebar 30 cm
sebagai tempat sujud.
b. Peralatan disekitar tempati badah bersih 3
Pencahayaan
c.
- Pencahayaan terang (10 fc) 7
- Tersebar merata 153 fc
- Tidak menyilaukan
Ventilasi
d.
- Minimal 10% dari luas bangunan
7
- Berfungsi dengan baik
- Sejuk dan nyaman
JUMLAH 100

TanggalPemeriksaan Penanggung Jawab Petugas


1. ….
2. ….
3. ….
4. ….
Skore : > 15.000 = Baik
15.000-10.000 = Kurang baik
< 10.000 = Tidak baik

3. Hasil Pengukuran
Hasil perhitungan menggunakan alat dan Pengukuran dilakukan pukul ,,,,,,
No Lokasi Suhu kelembaban Kebisingan Intensitas cahaya
1 Dalam ruangan
2 Teras masjid
3 Lantai 2 masjid
4 Tempat wudhu
5 Luar masjid

4. Hasil Perhitungan
Score : Jumlah Bobot x Jumlah Nilai
: 100 x 173
: 17.300

I.GRAFITASI DI LINGKUNGAN KERJA


Korupsi yang terjadi di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan danberdampak
buruk luar biasa pada hampir seluruh sendi kehidupan.Korupsi telah menghancurkan
sistem perekonomian, sistem demokrasi,sistem politik, sistem hukum, sistem pemerintahan,
dan tatanan sosialkemasyarakatan di negeri ini. Upaya pemberantasan korupsi yang telah
dilakukan selama ini belummenunjukkan hasil yang optimal. Korupsi dalam berbagai
tingkatan tetapsaja banyak terjadi seolah-olah telah menjadi bagian dari kehidupan kitayang
bahkan sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Jika kondisi ini tetapkita biarkan
berlangsung maka cepat atau lambat korupsi akanmenghancurkan negeri ini. Korupsi harus
dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime yang oleh karena itu
memerlukan upaya luar biasa pula untukmemberantasnya. Upaya pemberantasan korupsi!
yang terdiri dari duabagian besar, yaitu (" penindakan, dan (# pencegahan!tidak akan
pernahberhasil optimal jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja tanpamelibatkan peran
serta masyarakat
1. Pengertian Gratifikasi menurut penjelasan Pasal 12B UU No. 20 Tahun 2001
Pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi,
pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata,
pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di
dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana
elektronik atau tanpa sarana elektronik.
Pengecualian:terkait Grafitasi
Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Pasal 12 C ayat (1) :
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12B ayat (1) tidak berlaku, jika penerima
melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi.

2. Peraturan yang Mengatur Gratifikasi


1. Pasal 12B ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, berbunyi
o Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap
pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan
kewajiban atau tugasnya,
2. Pasal 12C ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, berbunyi
o Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12B Ayat (1) tidak berlaku, jika
penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada KPK

3.Penjelasan Aturan Hukum Gratifikasi


Pasal 12 UU No. 20/2001:
Didenda dengan pidana penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 4 tahun dan
paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1
miliar:
Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal
diketahui atau patut diduga hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar
melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan
kewajibannya.
Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri
sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan
kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima
bayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri;

4.Sanksi terkait Gratifikasi


Landasan hukum tindak gratifikasi diatur dalam UU 31/1999 dan UU 20/2001 Pasal 12
dimana ancamannya adalah dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit 200 juta rupiah dan
paling banyak 1 miliar rupiah.
Landasan hukum tindak gratifikasi diatur dalam UU 31/1999 dan UU 20/2001 Pasal 12
dimana ancamannya adalah dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit 200 juta rupiah dan
paling banyak 1 miliar rupiah.
Pada UU 20/2001 setiap gratifikasi yang diperoleh pegawai negeri atau penyelenggara
negara dianggap suap, namun ketentuan yang sama tidak berlaku apabila penerima
melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi (KPK) yang wajib dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak
tanggal gratifikasi tersebut diterima.
Pasal 12B ayat (2) UU no. 31/1999 jo UU No. 20/2001
Pidana penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun
dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.
Penyelenggara Negara Yang Wajib Melaporkan Gratifikasi yaitu:
Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 1999, Bab II pasal 2, meliputi :
 Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara.
 Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara
 Menteri
 Gubernur
 Hakim
Pejabat Negara Lainnya :
 Duta Besar
 Wakil Gubernur
 Bupati / Walikota dan Wakilnya
 Pejabat lainnya yang memiliki fungsi strategis :
 Komisaris, Direksi, dan Pejabat Struktural pada BUMN dan BUMD
 Pimpinan Bank Indonesia.
 Pimpinan Perguruan Tinggi.
 Pimpinan Eselon Satu dan Pejabat lainnya yang disamakan pada lingkungan Sipil
dan Militer.
 Jaksa
 Penyidik.
 Panitera Pengadilan.
 Pimpinan Proyek atau Bendaharawan Proyek.
 Pegawai Negeri
Berdasarkan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan No.
20 tahun 2001 meliputi :
 Pegawai pada : MA, MK
 Pegawai pada L Kementrian/Departemen &LPND
 Pegawai pada Kejagung
 Pegawai pada Bank Indonesia
 Pimpinan dan Pegawai pada Sekretariat MPR/DPR/DPD/DPRD Propinsi/Dati II
 Pegawai pada Perguruan Tinggi
 Pegawai pada Komisi atau Badan yang dibentuk berdasarkan UU, Keppres
maupun PP
 Pimpinan dan pegawai pada Sekr. Presiden, Sekr. Wk. Presiden, Sekkab dan
Sekmil
 Pegawai pada BUMN dan BUMD
 Pegawai pada Badan Peradilan
 Anggota TNI dan POLRI serta Pegawai Sipil dilingkungan TNI dan POLRI
 Pimpinan dan Pegawai dilingkungan Pemda Dati I dan Dati II
1. Tata Cara Pelaporan Gratifikasi
Berdasarkan UU No. 31 tahun 1999 jo UU No. 20 tahun 2001 Pasal 12c ayat 2 dan UU No.
30 tahun 2002 Pasal 16, setiap Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yang
menerima gratifikasi wajib melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, dengan
cara sebagai berikut :
1. Penerima gratifikasi wajib melaporkan penerimaanya selambat-lambatnya 30 (tiga
puluh) hari kerja kepada KPK, terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima.
2. Laporan disampaikan secara tertulis dengan mengisi formulir sebagaimana ditetapkan
oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dengan melampirkan dokumen yang berkaitan dengan
gratifikasi.
3. Formulir sebagaimana huruf b, sekurang-kurangnya memuat :
4. Nama dan alamat lengkap penerima dan pemberi gratifikasi.
5. Jabatan Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara
6. Tempat dan waktu penerima gratifikasi.
7. Uraian jenis gratifikasi yang diterima; dan
8. Nilai gratifikasi yang diterima
9. Formulir Pelapor Gratifikasi dapat diperoleh di kantor KPK
Contoh-contoh Pemberian yang dapat dikategorikan sebagai Gratifikasi :
 Pemberian hadiah atau uang sebagai ucapan terima kasih karena telah dibantu
 Hadiah atau sumbangan pada saat perkawinan anak dari pejabat oleh rekanan
kantor pejabat tersebut
 Pemberian tiket perjalanan kepada pejabat atau keluarganya untuk keperluan pribadi
secara cuma-cuma
 Pemberian potongan harga khusus bagi pejabat untuk pembelian barang atau jasa
dari rekanan
 Pemberian biaya atau ongkos naik haji dari rekanan kepada pejabat
 Pemberian hadiah ulang tahun atau pada acara-acara pribadi lainnya dari rekanan
 Pemberian hadiah atau souvenir kepada pejabat pada saat kunjungan kerja
 Pemberian hadiah atau parsel kepada pejabat pada saat hari raya keagamaan, oleh
rekanan atau bawahannya.
 Seluruh pemberian tersebut diatas, dapat dikategorikan sebagai gratifikasi, apalbila
ada hubungan kerja atau kedinasan antara pemberi dan dengan pejabat yang
menerima, dan/atau semata-mata karena keterkaitan dengan jabatan atau
kedudukan pejabat tersebut.
 Pembiayaan kunjungan kerja lembaga legislatif, karena hal ini dapat memengaruhi
legislasi dan implementasinya oleh eksekutif.
 Cenderamata bagi guru (PNS) setelah pembagian rapor/kelulusan.
 Pungutan liar di jalan raya dan tidak disertai tanda bukti dengan tujuan sumbangan
tidak jelas, oknum yang terlibat bisa jadi dari petugas kepolisian (polisi lalu lintas),
retribusi (dinas pendapatan daerah), LLAJR dan masyarakat (preman). Apabila
kasus ini terjadi KPK menyarankan agar laporan dipublikasikan oleh media massa
dan dilakukan penindakan tegas terhadap pelaku.
 Penyediaan biaya tambahan (fee) 10-20 persen dari nilai proyek.
 Uang retribusi untuk masuk pelabuhan tanpa tiket yang dilakukan oleh Instansi
Pelabuhan, Dinas Perhubungan, dan Dinas Pendapatan Daerah.
 Parsel ponsel canggih keluaran terbaru dari pengusaha ke pejabat.
 Perjalanan wisata bagi bupati menjelang akhir jabatan.
 Pembangunan tempat ibadah di kantor pemerintah (karena biasanya sudah tersedia
anggaran untuk pembangunan tempat ibadah dimana anggaran tersebut harus
dipergunakan sesuai dengan pos anggaran dan keperluan tambahan dana dapat
menggunakan kotak amal).
 Hadiah pernikahan untuk keluarga PNS yang melewati batas kewajaran (baik nilai
ataupun harganya).
 Pengurusan KTP/SIM/Paspor yang "dipercepat" dengan uang tambahan.
 Mensponsori konferensi internasional tanpa menyebutkan biaya perjalanan yang
transparan dan kegunaannya, adanya penerimaan ganda, dengan jumlah tidak
masuk akal.
 Pengurusan izin yang sangat dipersulit
2. Penyelenggara Negara Yang Wajib Melaporkan Gratifikasi yaitu:
Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 1999, Bab II pasal 2, meliputi :
 Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara.
 Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara
 Menteri
 Gubernur
 Hakim
Pejabat Negara Lainnya :
 Duta Besar
 Wakil Gubernur
 Bupati / Walikota dan Wakilnya
 Pejabat lainnya yang memiliki fungsi strategis :
 Komisaris, Direksi, dan Pejabat Struktural pada BUMN dan BUMD
 Pimpinan Bank Indonesia.
 Pimpinan Perguruan Tinggi.
 Pimpinan Eselon Satu dan Pejabat lainnya yang disamakan pada lingkungan Sipil
dan Militer.
 Jaksa
 Penyidik.
 Panitera Pengadilan.
 Pimpinan Proyek atau Bendaharawan Proyek.
 Pegawai Negeri
Berdasarkan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan No.
20 tahun 2001 meliputi :
 Pegawai pada : MA, MK
 Pegawai pada L Kementrian/Departemen &LPND
 Pegawai pada Kejagung
 Pegawai pada Bank Indonesia
 Pimpinan dan Pegawai pada Sekretariat MPR/DPR/DPD/DPRD Propinsi/Dati II
 Pegawai pada Perguruan Tinggi
 Pegawai pada Komisi atau Badan yang dibentuk berdasarkan UU, Keppres
maupun PP
 Pimpinan dan pegawai pada Sekr. Presiden, Sekr. Wk. Presiden, Sekkab dan
Sekmil
 Pegawai pada BUMN dan BUMD
 Pegawai pada Badan Peradilan
 Anggota TNI dan POLRI serta Pegawai Sipil dilingkungan TNI dan POLRI
 Pimpinan dan Pegawai dilingkungan Pemda Dati I dan Dati II
3. ]Perbedaan Antara Suap dengan Gratifikasi
Bagaimanakah batasan dan perbedaan yang jelas antara suap dengan gratifikasi serta
faktor apa yang mendasari adanya perumusan mengenai delik gratifikasi tersebut? Terima
kasih.
Jawaban :
Pengaturan dan batasan/definisi suap dan gratifikasi beserta ancaman sanksi bagi masing-
masing tindak pidana tersebut dalam di bawah ini:
Perbedaan :
1. Suap
2. Gratifikasi
3. Pengaturan
o Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht, Staatsblad
1915 No 73)
o UU No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap (“UU 11/1980”)
o UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No. 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi serta diatur pula dalam UU No. 30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (“UU Pemberantasan
Tipikor”)
o UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No. 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi serta diatur pula dalam UU No. 30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (“UU Pemberantasan
Tipikor”)
o Peraturan Menteri Keuangan Nomor 03/PMK.06/2011 tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara yang Berasal Dari Barang Rampasan Negara dan
Barang Gratifikasi.
4. Definisi
Barangsiapa menerima sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat
menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu
atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau
kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum, dipidana karena menerima suap
dengan pidana penjara selama-lamanya 3 (tiga) tahun atau denda sebanyak-banyaknya
Rp.15.000.000.- (lima belas juta rupiah) (Pasal 3 UU 3/1980).
Pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi,
pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata,
pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di
dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana
elektronik atau tanpa sarana elektronik (Penjelasan Pasal 12B UU Pemberantasan Tipikor)
Sanksi
o UU 11/1980:
Pidana penjara selama-lamanya 3 (tiga) tahun atau denda sebanyak-
banyaknya Rp.15.000.000.- (lima belas juta rupiah) (Pasal 3 UU 3/1980).

o KUHP:
pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak
empat ribu lima ratus rupiah (Pasal 149)

o UU Pemberantasan Tipikor:
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama
5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh
juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima
hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji
tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan
dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan
hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya (Pasal 11 UU
Pemberantasan Tipikor).
Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat)
tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit
Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) (Pasal 12B ayat [2] UU Pemberantasan
TipikoR)

Jadi, selain pengaturan suap dan gratifikasi berbeda, definisi dan sanksinya juga
berbeda. Dari definisi tersebut di atas, tampak bahwa suap dapat berupa janji, sedangkan
gratifikasi merupakan pemberian dalam arti luas dan bukan janji. Jika melihat pada
ketentuan-ketentuan tersebut, dalam suap ada unsur “mengetahui atau patut dapat
menduga” sehingga ada intensi atau maksud untuk mempengaruhi pejabat publik dalam
kebijakan maupun keputusannya. Sedangkan untuk gratifikasi, diartikan sebagai pemberian
dalam arti luas, namun dapat dianggap sebagai suap apabila berhubungan dengan
jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.
Jadi, dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia memang masih belum
terlalu jelas pemisahan antara perbuatan pidana suap dan perbuatan pidana gratifikasi
karena perbuatan gratifikasi dapat dianggap sebagai suap jika diberikan terkait dengan
jabatan dari pejabat negara yang menerima hadiah tersebut.

Hal tersebut berbeda dengan pengaturan di Amerika yang mana antara suap dan
gratifikasi yang dilarang dibedakan. Perbedaannya adalah jika dalam gratifikasi yang
dilarang, pemberi gratifikasi memiliki maksud bahwa pemberian itu sebagai penghargaan
atas dilakukannya suatu tindakan resmi, sedangkan dalam suap pemberi memiliki maksud
(sedikit banyak) untuk mempengaruhi suatu tindakan resmi (sumber: “Defining Corruption: A
Comparison of the Substantive Criminal Law of Public Corruption in the United States and
the United Kingdom”, Greg Scally: 2009). Sehingga jelas pembedaan antara suap dan
gratifikasi adalah pada tempus (waktu) dan intensinya (maksudnya).

Mengenai faktor apa yang mendasari adanya perumusan mengenai delik gratifikasi,
dijelaskan sebagai berikut :
Terbentuknya peraturan tentang gratifikasi ini merupakan bentuk kesadaran bahwa
gratifikasi dapat mempunyai dampak yang negatif dan dapat disalahgunakan, khususnya
dalam rangka penyelenggaraan pelayanan publik, sehingga unsur ini diatur dalam
perundang-undangan mengenai tindak pidana korupsi. Diharapkan jika budaya pemberian
dan penerimaan gratifikasi kepada/oleh Penyelenggara Negara dan Pegawai Negeri dapat
dihentikan, maka tindak pidana pemerasan dan suap dapat diminimalkan atau bahkan
dihilangkan.

SOP
INSPEKSI SANITASI TEMPAT-
TEMPAT UMUM (TTU)

Kepala Puskesmas
No. Dokumen Rahayu
KAB. BANDUNG No. Revisi 0
PUSKESMAS Tanggal terbit 07 Januari 2018
RAHAYU dr. Hj Rina Faiza F
Halaman 1 dari 1
197012022002122005

Inspeksi sanitasi tempat – tempat umum adalah Kegiatan


Pengertian pemeriksaan setempat sanitasi di tempat-tempat umum
wilayah kerja puskesmas rahayu
Tujuan 1. Sebagai acuan pemeriksaan sanitasi di tempat-tempat umum
2. Agar tercipta tempat-tempat umum yang memenuhi syarat-
syarat kesehatan lingkungan
Surat Keputusan Kepala Puskesmas Nomor 440/018/PKM/2016
Kebijakan tentang Penetepan Pelaksana Program Upaya Kesehatan
Masyarakat di Lingkungan Kerja Puskesmas Rahayu

Petugas Petugas Sanitarian


1. Alat Pemeriksaan Sanitasi (Termometer, Luxmeter, pH meter,
Sound Levelmeter, Senter)
Peralatan 2. Lembar wawancara
3. Formulir pemeriksaan
4. ATK
1. Petugas menyiapkan alat dan bahan pemeriksaan termasuk
surat tugas
2. Petugas mendatangi tempat-tempat umum dan meminta ijin
kepada pemilik / pengelola.
3. Petugas melakukan wawancara untuk mencari faktor penyebab
penyakit pasien
4. Petugas melaksanakan pemeriksaan sanitasi sesuai dengan isi
Prosedur
formulir pemeriksaan
5. Petugas memaparkan hasil pemeriksaan kepada pemilik
6. Petugas memberikan penyuluhan kepada pemilik (bila perlu)
7. Hasil dilaporkan ke Dinas Kesehatan secara rutin
8. Tempat-tempat umum meliputi : pasar, terminal, stasiun,
sekolah dan tempat ibadah

1. Buku Pedoman Tempat-Tempat Umum yang memenuhi syarat


Kesehatan
Dokumen Terkait
2. Surat Tugas
3. Formulir Pemeriksaan Sanitasi

KERANGKA ACUAN KEGIATAN


TEMPAT – TEMPAT UMUM
(TTU)

A. PENDAHULUAN
Tempat-tempat umum adalah suatu tempat dimana bersifat umum (semua orang) dapat masuk
ke tempat tersebut untuk berkumpul melakukan kegiatan baik secara insidentil maupun terus
menerus. Jadi tempat – tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah kerugian
akibat dari tempat – tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya atau
menularnya suatu penyakit. Tempat – tempat umum merupakan tempat kegiatan bagi umum yang
mempunyai tempat sarana dan kegiatan tetap yang diselenggarakan oleh badan pemerintah, swasta
dan atau perorangan yang dipergunakan langsung oleh masyarakat.
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia sangat erat interaksinya dengan tempat – tempat
umum, baik untuk bekerja, melakukan interaksi social, belajar maupun melakukan aktivitas lainnya.
Tempat – tempat umum memiliki potensi sebagai tempat terjadinya penularan penyakit, penularan
lingkungan ataupun gangguan kesehatan lainnya. Kondisi lingkungan tempat – tempat umum yang
tidak terpelihara akan menambah besarnya resiko penyebaran penyakit serta penularan lingkungan
sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan menerapkan sanitasi lingkungan yang baik dan
tempat – tempat umum perlu dijaga sanitasinya.

B. LATAR BELAKANG
Sanitasi tempat – tempat umum sangatlah penting dijaga sanitasinya agar tidak menimbulkan
berbagai masalah kesehatan, misalnya menimbulkan penyakit berbasis lingkungan.

C. TUJUAN
Tujuan Umum :
- untuk meningkatkan agar masyarakat mengerti dan memelihara akan keberadaan tempat –
tempat umum di wilayah kerja puskesmas

Tujuan Khusus :
- untuk mengetahui sanitasi SAB di TTU
- untuk mengetahui sanitasi pembuangan kotoran di TTU
- untuk mengetahui sanitasi pengelolaan limbah cair di TTU
- untuk mengetahui sanitasi pengelolaan sampah di TTU
- untuk mengetahui sanitasi kualitas bangunan yang terpelihara dengan baik yang memenuhi
syarat kesehatan TTU

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


Pembinaan dan pengawasan terhadap sarana tempat – tempat umum (TTU)

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


Kegiatan yang bersifat monitoring atau inspeksi terhadap sarana tempat – tempat umum
(TTU) yang ada di wilayah kerja puskesmas

F. SASARAN
- Tempat ibadah (masjid atau gereja)
- Sekolah
- Kolam renang
- Pasar
- Pemangkas rambut
- Salon
- Rumah sakit
- Rumah bersain
- Pertokoan
- Hotel

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN


Setiap bulan untuk pembinaan dan pengawasan

H. EVALUASI PELAKSANAAN DAN PELAPORAN


Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.

I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan oleh penanggungjawab program dan dilaporkan
kepada kepala puskesmas.