Anda di halaman 1dari 29

ANALISIS SEMIOTIKA PADA VIDEO CLIP THIS IS AMERICA OLEH

DONALD GLOVER DENGAN TEORI CHARLES SANDERS PIERCE

MUHAMMAD INOVAL HWARIZMI


44115120059
Jurusan Penyiaran, Fakultas Ilmu Komunikasi,
Universitas Mercu Buana Meruya, Jakarta

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Hidden Message Melalui Simbol-Simbol Yang Terdapat


Dalam Video Clip This Is America Oleh Donald Glover”. Penelitian ini bertujuan
untuk memenuhi tugas UAS Kualitatif dan mengetahui bagaimana cara
menganalisis teori semiotika terhadap video musik This Is America oleh Donald
Glover.
Teori yang digunakan untuk menjadi landasan penelitian ini adalah teori
semiotika khususnya teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders
Pierce. Teori ini digunakan karena mengemukakan tiga kategori semiotika yakni
ikon, indeks dan simbol dalam menciptakan makna yang terdapat didalam video
clip ini.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
pendekatan kualitatif. Bigdan dan Taylor mendefinsikan metodologi sebagai
mekanisme penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata, baik
itu tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati oleh
peneliti (Moeloeng, 2002:3)

Kata Kunci: Video Clip, Semiotika, Donald Glover, Rasisme, Amerika Serikat
PENDAHULUAN
Rasisme di Amerika Serikat telah merebak sejak era colonial hingga sekarang.
Secara hukum dan sosial, hak-hak dan pemberian-pemberian diberikan kepada
orang kulit putih Amerika namun ditolak kepada Amerika asli, Afrika Amerika,
Asia Amerika dan Hispanik atau Latino Amerika. Eropa Amerika (terutama
Protestan Anglo-Saxon kulit putih) diberi pemberian eksklusif dalam materi-
materi pendidikan, imigrasi, hak suara, kewarganegaraan, kepemilikan tanah, dan
prosedur kriminal sepanjang periode waktu yang terbentang dari abad ke-17
sampai 1960an. Namun, para imigran non-Protestan dari Eropa; terutama orang
Irlandia, orang Polandia, dan orang Italia, yang mengalami pengecualian
xenofobik dan bentuk diskriminasi berbasis etnis lainnya dalam masyarakat
Amerika, masih dianggap ras rendah dan tak dianggap orang kulit putih
sepenuhnya. Selain itu, kelompok Timur Tengah Amerika seperti Yahudi dan Arab
menghadapi diskriminasi berkelanjutan di Amerika Serikat, dan akibatnya,
beberapa orang yang masuk kelompok tersebut tak diidentifikasikan sebagai orang
kulit putih. Orang Asia Timur Selatan juga menghadapi rasisme di Amerika.
Hal itu coba disinggung Donald Glover yang memiliki nama panggung Childish
Gambino. Pria multitalenta menjadi obrolan hangat terkait video lagunya berjudul
“This Is America”. Glover ingin menyampaikan maksud rahasia di video klip itu
terkait isu yang sedang merebak di Negeri Paman Sam.
Video clip ini menjadi satu-satunya lagu yang bertemakan politik yang menduduki
peringkat pertama di Billboard Hot 100 di minggu pertama peluncurannya.
Setelah Donald Trump terpilih menjadi presiden, musisi US, yang kebanyakan
mendunia dan pasti terkenal, banyak membuat lagu-lagu bertema politik.
Sebagian menyembah Trump, sementara lagu politik yang menyindir Trump lebih
banyak. Tapi, sebelum This Is America rilis, lagu-lagu bertema politik seperti
Chained to the Rhythm dari Katy Perry, cuma maksimal berada di peringkat 4
tahun 2017 lalu. Sementara lagu Ye vs The People, puji-pujian Kanye West untuk
Presiden Oranye, berkolaborasi dengan T.I. malah mentok di peringkat 85
sebelum akhirnya terjun bebas di minggu ini (minggu kedua May 2018).
Meskipun begitu, Childish Gambino tetap merasa kalau bukan bagian dia untuk
menjelaskan apa sih pesan yang terkandung dalam lagu ini, meskipun di luar sana
sudah banyak sekali teori-teori dan penjelasan-penjelasan sok tau.
TINJAUAN PUSTAKA

Komunikasi

Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin “communicatus” yang artinya


“berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Dengan demikian, komunikasi berarti
suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan (Ardianto,
2011:20).

Semiotika
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda (sign) dalam kehidupan manusia.
Semiotika dapat digolongkan menjadi dua yakni semiotik struktural dan semiotik
pragmatis (Hoed, 2011:28).

Teori Semiotika Menurut Charles Sander Peirce

Teori Semiotika menurut Charles Sander Peirce, semiotika didasarkan pada


logika, karena logika mempelajari bagaimana orang bernalar, sedangkan
penalaran menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda ini menurut
Peirce memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi
makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta.

Peirce membagi tanda menjadi tiga tipe yakni ikon, indeks dan simbol. Sebuah
ikon memiliki kesamaan dengan objek. Hal ini seringkali terlihat pada tanda-tanda
visual seperti foto, peta, tanda di toilet yang melambangkan pria dan wanita
adalah ikon. Indeks adalah tanda dengan sebuah hubungan langsung yang nyata
dengan objek yang diwakilinya. Asap adalah indeks dari api, bersin adalah indeks
dari flu. Sebuah simbol adalah sebuah tanda yang keterkaitannya dengan objek
merupakan permasalahan konvesi, persetujuan atau aturan. Secara umum kata-
kata merupakan simbol. Palang merah adalah simbol. Angka-angka adalah simbol
(Fiske, 2012:80).

Klasifikasi Tanda Menurut Peirce

Peirce menghendaki agar teori semiotikanya ini menjadi rujukan umum atas
kajian berbagai tanda-tanda. Oleh karenanya ia memerlukan kajian lebih
mendalam mengenai hal tersebut. Terutama mengenai seberapa luas
jangkauan dari teorinya ini. untuk itu ia membaginya dalam beberaoa
klasifikasi.
A. Berdasarkan Ground

Yakni berkaitan dengan sesuatu yang membuat suatu tanda dapat berfungsi.
Dalam hal ini Peirce mengklasifikasikan Ground kedalam tiga hal yakni :

Qualisign

Qualisign yaitu kualitas dari suatu tanda. Misalnya kualitas kata-kiata yang
digunakan dalam menyertai tanda tersebut seperti kata-kata yang keras, kasar
ataupun lembut. Tak hanya kata-kata yang menetukan kuwalitas dari pada suatu
tanda, dapat pula berupa warna yang digunakan bahkan gambar yang
menyertainya.

Sinsign

Sinsign adalah eksistensi dan aktualitas atas suatu benda atau peristiwa
terhadap suatu tanda. Misalkan kata banjir dalam kalimat “terjadi bencana
banjir” adalah suatu peristiwa yang meneranggkan bahwa banjir diakibatkan
oleh adanya hujan.

Legisign

Lesigsign adalah norma yang terkandung dalam suatu tanda. Hal ini berkaitan
dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalkan tanda dilarang
merokok menunjukan bahwa kita dilarang merokok pada lingkungan dimana
tanda itu berada. Yang lebih umum lagi tentu saja adalah rambu lalu lintas,
yang menunjukan hal-hal yang boleh dan tidak boleh kita lakukan saat
berkendara.

B. Berdasarkan Objeknya

Ikon

Ikon adalah tanda yang menyerupai bentuk objek aslinya aslinya. Dapat
diartikan pula sebagai hubungan atara tanda dan objek yang bersifat kemiripan.
Bahwa maksud dari ikon adalah memberikan pesan akan bentuk aslinya.
Contoh yang paling sederhana dan banyak kita jumpai namun tidak kita sadari
adalah peta.

Indeks

Indeks adalah tanda yang berkaitan dengan hal yang bersifat kausal, atau sebab
akibat. Dalam hal ini tanda memiliki hubungan dengan objeknya secara sebab
akibat. Tanda tersebut berarti akibat dari suatu pesan. Contoh yang umum
misalkan asap sebagai tanda dari api. (baca: Teori Semiotika Ferdinand De
Saussure)
Simbol

Simbol adalah tanda yang berkaitan dengan penandanya dan juga petandanya.
Bahwa sesuatu disimbolkan melalui tanda yang disepakati oleh para
penandanya sebagai acuan umum. Misalkan saja lampu merah yang berarti
berhenti, semua orang tahu dan sepakat bahwa lampu merah menandakan
berhenti.

C. Berdasarkan Interpretant

Rheme

Rheme adalah tanda yang memungkinkan ditafsirkan dalam pemaknaan yang


berbeda-beda. Misalnya saja orang yang matanya merah, maka bisa jadi dia
sedang mengantuk, atau mungkin sakit mata, iritasi, bisa pula ia baru bangun
tidur atau bahkan bisa jadi dia sedang mabuk.

Dicent sign atau dicisign

Dicent sign atau dicisign adalah tanda yang sesuai dengan fakta dan
kenyataanya. Misalnya, saja disuatu jalan kampung banyak terdapat anak-anak
maka di jalan tersebut dipasang rambu lalu lintas hati-hati banyak anak-anak.
Contoh lain misalnya jalan yang rawan kecelakaan, maka dipasang rambu hati-
hati rawan kecelakaan.

Argument

Argument adalah tanda yang berisi alasan tentang sesuatu hal. Misalnya tanda
larangan merokok di SPBU, hal tersebut dikarenakan SPBu merupakan tempat
yang mudah terbakar.

Semiotika Film
Sistem semiotika yang lebih penting dalam film yakni digunakannya tanda-tanda
ikonis yaitu untuk menggambarkan sesuatu yang dimaksud dalam penyampaian
pesan kepada khalayak. Tanda-tanda ikonis yang digunakan dalam film
mengisyaratkan pesan kepada penonton dan setiap isyarat yang diterima akan
berbeda namun apabila cerita yang diperankan memang sudah membentuk satu
pokok makna dalam hal ini makna cerita yang ditampilkan (Sobur, 2003:128).
Video Clip
Video klip merupakan penggabungan antara musik dan visual yang awalnya
digunakan sebagai media promosi para pelaku musik dunia. Video klip ini yang
digunakan oleh para produser untuk mempromosikan music nya kepada khalayak
lewat televisi dan toko-toko musik. Visual dalam sebuah video klip sangat
disadari betapa pentingnya oleh para produser untuk memperkenalkan artis nya
kepada khalayak. Tidak hanya visual, di dalam video klip juga terdapat alur cerita
layaknya film yang menjadikan khalayak lebih memahami dan merasakan apa
maksud dari lagu yang ingin musisi sampaikan. Tanpa disadari, video klip
membuat khalayak memutarnya secara berulang ulang dikarenakan mereka akan
lebih terhibur karena adanya gambar dan alur cerita dari musisi favoritnya. Maka
dari itu video klip diyakini sangat ampuh kegunanya untuk memperkenalkan artis
para produser secara audio dan visual, serta bisa menjadikan video klip sebagai
media baru untuk menyampaikan pesan yang ingin para pelaku music sampaikan
lewat lagunya.
Seiring berjalannya waktu, video klip bukan hanya menjadi alat promosi saja,
melainkan sebuah seni yang maju bersama para pelaku musik seluruh dunia.
Video klip ini banyak digunakan oleh para pelaku musik untuk memperkuat pesan
yang ingin mereka sampaikan lewat lagunya. Video klip telah menjadi media
berekspresi anatara pelaku musik dan sineas untuk menyampaikan pesan yang
dituliskan lewat lagu, dan ditampilkan secara visual.
Video Clip This is America

Video Clip ini berisikan pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh Donald Glover
atau Childish Gambino mengenai isu-isu yang ada dari era kolonial hingga
sekarang yaitu rasisme yang terus merebak di Amerika. Salah satunya pada tahun
1800an seorang tokoh yang bernama Thomas Dartmouth Rice dalam sebuah
panggung sandiwara memeragakan tokoh fiksi yang bernama Jim Crow yang
seorang budak Afrika-Amerika.

Penampilannya ini kemudian memancing tindakan rasialisme. Bahkan, di akhir


1800-an hingga 1960-an, Amerika Serikat menerapkan peraturan bernama Jim
Crow Law. Peraturan ini berisi anjuran praktek segregasi (pemisahan) fasilitas
publik untuk orang dengan ciri-ciri tertentu (orang berkulit hitam). Isu itu
kemudian menjadi dasar isu rasialisme yang meluas dengan memperlakukan
masyarakat Afrika-Amerika berbeda dengan masyarakat berkulit putih.

Video clip ini mengambil tempat sebuah gudang besar yang diisi berbagai
properti. Tak hanya itu, Hiro Murai selaku sutradara melibatkan sekitar 30-an
figuran. Video ini dibuka dengan adegan penembakan Glover terhadap gitaris tua
yang wajahnya ditutup kain putih. Sepanjang video, Anda disajikan adegan
Glover yang menari dengan sekelompok pelajar Afrika-Amerika, sementara di
belakang mereka terjadi berbagai kekacauan. Video ini kemudian ditutup dengan
Glover yang berlari menghindari kejaran sekelompok orang dengan baju berbeda-
beda. Komposisi adegan itu pun berhasil mendapat tanggapan positif dari Erykah
Badu, Janelle Monae, Trent Reznor, serta figur publik lain melalui akun Twitter
masing-masing.

Lewat adegan-adegan yang ditampilkan itu, Glover ingin penonton


menginterpretasikan sendiri pesan yang ingin ia sampaikan. Walau begitu,
beberapa media besar telah merangkum asumsi terbesar terkait makna setiap hal
yang disajikan Donald Glover di video musik “This Is America”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dalam pengertian penelitian teori
kritis menegaskan ontology yang didasarkan paada realisme historis, sebuah
epistemology yang bersifat transaksional daan sebuah metodelogi yang bersifat
dialogis dan dialektis. Uji keabsahan data dalam konteks penelitian kritis disebut
dengan keterpercayaan. Kriteria pertama untuk menentukan bahwa penelitian
kritis dapat dipercaya adalah dengan memerhatikan kredibilitas dari gambaran
realitas yang dikonstruksi. Di sini peneliti kritis menolak gagasan tentang
validitas internal. Kriteria kedua adalah menentukan apakah penelitian kritis itu
dapat dipercaya disebut dengan akomodasi antisipatif (anticipatory
accommodation). Di sini peneliti kritis menolak gagasan tentang validitas
eksternal (Kincheloe & McLaren, 2009:189-190).
Objek Penelitian dan Unit Analisis
Objek penelitian ini adalah video clip This is America oleh Childish Gambino.
Sedangkan unit analisis penelitiannya adalah potongan-potongan gambar atau
visual dan lirik lagu yang diyakini berisikan pesan-pesan kritik pada pemerintahan
Amerika tentang rasisme yang terjadi.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data terdiri dari:
a) Observasi adalah dengan melakukan pengamatan langsung dan bebas
terhadap objek penelitian dan unit analisis dengan cara menonton dan
mengamati dengan teliti potongan-potongan gambar serta adegan-adegan
dalam video clip “This is America” Kemudian mencatat, meneliti dan
menganalisa sesuai dengan model penelitian yang digunakan.
b) Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
video clip “This is America” melalui internet dan buku-buku yang ada
kaitannya dengan penelitian ini.

Teknik Analisis Data


Setelah data primer dan sekunder terkumpul, kemudian diklarifikasikn sesuai
dengan pertanyaan penelitian yang telah ditentukan. Setelah data terklarifikasi,
dilakukan analisis data dengan menggunakan teknik analisis semiotika Charles
Sanders Peirce dengan kategori-kategori tanda ikon, indeks dan simbol.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Profil Donald Glover
Donald McKinley Glover Jr. lahir pada 25 September 1983 adalah aktor,
komedian, penyanyi, penulis, produser, sutradara, rapper, penulis lagu, dan DJ
Amerika. Dia berkecimpung didunia musik dengan nama panggung Childish
Gambino dan sebagai DJ dengan nama mcDJ.
Setelah mendapat perhatian publik untuk karyanya Derrick, seorang mahasiswa
asal Universitas New York ini bekerja pada usia 23 sebagai penulis di NBC sitcom
30 Rock. Ia membintangi TV series drama-komedi Atlanta, yang ia buat dan
sesekali menjadi sutradara. Untuk karyanya di Atlanta, Glover memenangkan
berbagai penghargaan, termasuk Primetime Emmy Awards untuk Aktor Utama
Terkemuka dalam Seri Komedi dan Outstanding Directing untuk Seri Komedi,
dan Golden Globe Awards untuk Seri Televisi Terbaik - Musik atau Komedi dan
Aktor Terbaik - Serial Televisi Musikal atau Komedi. Dalam film tersebut, Glover
muncul dalam Mystery Team (2009), The Lazarus Effect, Magic Mike XXL, The
Mars (all 2015), Spider-Man: Homecoming (2017) sebagai Aaron Davis, dan
sebagai Lando Calrissian muda di Solo: A Star Wars Story (2018). Ia juga menjadi
pengisi suara Simba dewasa dalam pembuatan ulang film Disney The Lion King
(2019).
Setelah beberapa album dan mixtapes yang dirilis sendiri, Glover menandatangani
kontrak dengan Glassnote Records pada 2011. Dia merilis album pertamanya,
Camp, pada 15 November 2011, untuk ulasan yang umumnya positif. Album
studio keduanya, Because Internet, dirilis pada 10 Desember 2013. Album ketiga
Glover, "Awaken, My Love!", Dirilis pada 2 Desember 2016, menelurkan single
"Redbone", yang memuncak pada nomor 12 di Billboard Hot 100, dan akhirnya
membuatnya mendapatkan Grammy Award untuk Kinerja R & B Tradisional
Terbaik. Pada 2017, dan masuk ke daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia.
Pada tahun 2018, Glover merilis lagu dan video "This Is America", yang memulai
debutnya di nomor satu di Hot 100.
Tarian
“Dance is everything to us. No matter how much is going on , even if it’s the
middle of a war or poverty or hunger ,  one thing Africans share is we dance our
sorrows away. Not even professionally, it’s just a part of our culture.” 
~ Sherrie Silver
Di Afrika, kultur yang begitu dikenal dan dipegang kuat oleh para penduduk
negara-negara Afrika adalah tentang bagaimana mengekspresikan suasana hati
dengan menari.
Tidak peduli dengan apa yang dirasakan, orang-orang Afrika menganggap dengan
menari adalah cara berkomunikasi paling dasar, terutama untuk menunjukkan
emosi, kepercayaan, mood harian dan semua reaksi manusia.
Para penduduk negara-negara di Afrika selalu menari; Ada tarian hujan, tarian
matahari, tarian musim panas, tari-tari nikahan, dan jenis tarian lainnya. Beberapa
tarian Afrika memiliki makna tertentu; beberapa dinamakan berdasarkan ketukan
tarian, beberapa lagi hadir begitu saja. Ya, meskipun India dengan tariannya sudah
ada sejak 3000 tahun yang lalu, namun orang-orang Afrika adalah mereka yang
begitu merasa jika tarian adalah penting. Karenanya, semua orang di Afrika begitu
cinta menari. Ada tarian khusus untuk klan-klan tertentu, ada tarian khusus wanita
dan pria, atau tarian khusus untuk orang tua dan anak muda. Mereka selalu
menari, menyuarakan isi hati. Bergembira, sedih, baru gajian, sedang senang, baru
menangis atau.. menunjukkan protes.
Sherrie Silver diberikan tugas khusus oleh tim Donald Glover untuk membuat
tarian yang mengecoh para penonton video clip “This Is America”. Lahir di
Rwanda, Sherrie adalah seorang penari, creative director, aktris dan philantropist.
Donald Glover tertarik mengajak Sherrie setelah melihat salah satu video klip
tarian Sherrie.
Untuk memberikan hiburan sekaligus pengalih perhatian dari video klip lagu ini
yang begitu sarat muatan politiknya. Tugas Sherrie cukup mudah, meskipun tidak
gampang. Tentang bagaimana dia diminta untuk memberi sentuhan kebahagiaan
dan senyuman pada siapa pun yang menonton video ini, padahal ada arti yang
sungguh gelap dibaliknya.
“You know how kids are innocent and kind of unaware of what’s going on? We
were there to smile and bring joy to everyone watching it, because the
background is bringing so much darkness and reality.”
Dalam video klip ini Glover menggunakan beberapa jenis tarian sebagai cara
menggambarkan video klip ini berdiri dari berbagai lapisan-lapisan yang
menggambarkan psikologi manusia. Tercatat ada sekitar 10 tarian yang digunakan
oleh Sherrie Silver dalam video klip ini. Dari mulai tarian-tarian yang sempat
viral (that harlem shake, gangnam style, etc) terus ke Blocboy JB’s shoot dance,
terus lanjut ke tarian Gwara Gwara yang berasal dari Afrika Selatan.
Koreografi tarian ini berada tepat di tengah pandangan penonton dan posisinya di
depan, seakan menutupi kejadian-kejadian di belakangnya, yang menggambarkan
tentang apa yang terjadi di Amerika saat ini. Dunia disuapi dengan kultur
mainstream (Marvel, DC, Hollywood, Series, Porn, etc) US demi menutupi apa
yang terjadi sebenarnya di Amerika, terutama akan apa yang menimpa para Afro-
America. Perhatikan ekspresi wajah para penari, termasuk Gambino, yang terlihat
dibuat-buat, yang memang mengambil reference dari Jim Crow.

Jim Crow
Era Jim Crow atau akrab juga disebut sebagai Jim Crow laws adalah era di mana
di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, terjadi pemisahan segala macam
hal berdasarkan ras, dalam hal ini, kulit hitam adalah sasaran utamanya.
Didengungkan pertama kali pada akhir abad ke 19 setelah periode rekonstruksi,
hukum/peraturan ini dijalankan kembali hingga tahun 1965. Pemerintah
memberikan mandat pemisahan rasial ini untuk terjadi di berbagai sektor.
Pemisahan berdasarkan ras ini terjadi pada sektor seperti fasilitas dan pelayanan
publik, juga kesempatan untuk mendapatkan fasilitas negara seperti rumah,
kesehatan, pendidikan, peluang kerja dan lain sebagainya. Amerika Serikat
menutupi kejadian ini dari perhatian publik internasional dengan membawa dan
memberi doktrin “separate but equal”. Doktrin ini lahir karena kasus Plessy vs
Ferguson yang begitu terkenal.

Diceritakan dalam kasus ini, Homer Adolph Plessy, naik kereta East Lousiana,
dengan rute New Orleans ke Covington. Plessy, saat itu kemudian duduk di
bangku yang memang dikhususkan untuk orang berkulit putih dalam gerbong
kereta segregasi. Plessy kemudian dipermasalahkan karena menduduki kursi yang
dikhususkan untuk orang kulit putih. Diminta pindah, Plessy menolak, yang
membuat para kulit putih menjadi marah dan membawanya ke pengadilan. Di
pengadilan, Plessy melawan dengan mengatakan jika perlakuan yang diterimanya 
dan yang diterima oleh kulit hitam lainnya  berseberangan dengan amandemen ke
13 dan 14 , di mana amandemen ke 14 kurang lebih menjelaskan tentang larangan
bagi Amerika Serikat untuk membuat hukum yang memberikan salah satu
golongan penduduk untuk mendapatkan privileges dan kekebalan hukum, dan
memberikan kesempatan juga fasilitas yang sama untuk semua warga negara.
Amandemen 14 ini malah “dikulik” oleh pengadilan untuk memberikan sebuah
doktrin baru, bahwa menurut mereka, untuk benar-benar bisa memberikan
kesetaraan terhadap penduduk dengan ras yang berbeda, pemisahan itu memang
perlu, bukan untuk memperlihatkan inferioritas kulit putih, namun untuk menjaga
kerukunan antar ras. Dan dari sinilah kemudian hadir doktrin “separate but equal”
yang pada prakteknya, sama sekali tidak equal.
Sebagai contoh, di Angkatan Bersenjata Amerika Serikat sebelum tahun 1950,
unit tentara berkulit hitam ditempatkan berbeda dengan unit kulit putih, namun
tentara kulit hitam tetap dipimpin oleh petugas berkulit putih. Banyak tanda,
simbol dan plang digunakan untuk menunjukkan jika tentara berkulit hitam tidak
setara dengan kulit putih. Mereka — tentara berkulit hitam — tidak diperbolehkan
untuk berjalan, berbicara, minum, bahkan makan dan istirahat saat berada di kamp
tanpa seijin kulit putih. Dan hal ini kemudian menjalar ke fasilitas umum, seperti
sekolah khusus untuk kulit putih dan kuburan kulit putih only.
Dan akhirnya, dari doktrin “separate but equal” ini, hadirlah sosok fiksi dengan
stereotipe orang kulit hitam bernama Jim Crow.
Term “Jim Crow” mengambil reference dari karakter berkulit hitam dari sebuah
lagu lawas, dan menjadi nama dari tarian populer di tahun 1820 di Amerika
Serikat. Pada prakteknya, di tahun 1828, seorang penampil bernama Thomas
“Daddy” Rice membawa Jim Crow menjadi nyata dengan berpenampilan seperti
orang kulit hitam yang tua. Dia lalu menampilkan citra Jim Crow yang berwajah
hitam, bernyanyi dan menari dengan pakaian yang compang-camping.

Dan mulai tahun 1830, karakter yang dibuat Rice menjadi sangat terkenal, bahkan
menjadi “pop culture” pada saat itu, memberikan stereotipe negatif kepada cara
pandangan masyarakat terhadap Afro-America sebagai warga yang tidak
berpendidikan, tidak jujur dan mampu diperbudak.
Dan efeknya, ada dua. Yang pertama, bagi para warga Amerika berkulit hitam, ini
membawa rasa sakit yang mendalam, yang terjaga hingga saat ini, bahwa mereka
merasa jika ras mereka bukanlah ras yang diinginkan, dan begitu dibedakan
perlakuannya dibanding warga US berkulit putih. Beberapa menggambarkan
perasaannya dengan minder, beberapa lagi dengan sikap yang brutal. Sementara
para kulit hitam yang ingin gengsinya terangkat, selalu menunjukkan simbol jika
saat ini, kulit hitam mampu sejajar karena mereka bisa mendapatkan apa yang
kulit putih dapatkan. Itulah mengapa, dalam beberapa video klip rap, hip-hop dan
RnB terutama tahun 90an, kebanyakan artis menggunakan perhiasan blink-blink
untuk menunjukkan kesetaraan mereka.
Yang kedua, Para kulit putih, those Yankee, masih saja merasa jika kulit hitam
adalah budak. Jika kulit hitam adalah ras kedua yang tidak pantas untuk sejajar.
Itu kenapa, kasus rasial di Amerika Serikat masih saja tinggi hingga saat ini.
Bahkan tidak jarang terjadi baku tembak antar kedua ras tersebut.
PEMBAHASAN
Semiotika pada Lirik Lagu
Di bridge pertama pada lagu ini berbicara tentang bagaimana media hiburan
berfungsi sebagai selingan dari masalah yang lebih besar.
“Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah
Yeah, yeah, yeah, go, go away
Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah
Yeah, yeah, yeah, go, go away
Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah
Yeah, yeah, yeah, go, go away
Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah
Yeah, yeah, yeah, go, go away...”

Pada lirik ini merepresentasikan isi hati dari orang-orang Afrika-Amerika yang
menginginkan mereka (orang Amerika kulit putih) untuk pergi jauh dari
kehidupan nya dan tidak mengganggu.

“...We just wanna party


Party just for you
We just want the money
Money just for you...”

Pada lirik ini merepresentasikan kata “We” untuk menunjukkan orang-orang


Afrika-Amerika dan kata “You” untuk orang Amerika kulit putih.

“...Girl, you got me dancin'


(yeah, girl, you got me
dancin')
Dance and shake the frame...”

Girl disini merepresentasikan negara Amerika, dan kata “frame”


merepresentasikan kehidupan di dunia nyata dengan ketidakadilan yang terjadi,
“shake the frame” merepresentasikan mendistorsi dan mengaburkan apa yang
sebenarnya terjadi.

Chorus:
“.. This is America
Don't catch you slippin' up
Don't catch you slippin' up
Look what I'm whippin' up

This is America (woo)


Don't catch you slippin' up
Don't catch you slippin' up
Look what I'm whippin' up..”

Pada bagian Chorus/reff Childish Gambino selalu menekankan dengan kata ini
“Don't catch you slippin' up, Look what I'm whippin' up” yang dimana artinya
anda jangan sampai terkecoh dengan semua kebohongan, bahwa ada hal yang
menakutkan dibelakang ini, dan pada lirik “This is America” selalu ada penekanan
simbol bahwa inilah yang terjadi di Amerika.

Genre yang Menggambarkan Fenomena Sosial


“.. Ooh-ooh-ooh-ooh-ooh, tell
somebody
You go tell somebody
Grandma told me
Get your money, black man (get
your money)
Get your money, black man (get
your money)
Get your money, black man (get
your, black man)
Get your money, black man (get
your, black man)
Black man..”

Argumentasi laki-laki adalah penghasil uang Glover tulis dalam “Grandma told
me get yo money, Black Man” yang dinyanyikan dalam format suara paduan suara
tenor. Sedangkan argumentasi pria kulit hitam adalah pelaku kriminal tersirat dari
figuran yang sedang mengacau di belakang Glover yang sedang berdansa.
Gaya Hidup Orang-Orang Amerika Serikat

“..I'm so fitted (I'm so fitted, woo)


I'm on Gucci (I'm on Gucci)
I'm so pretty (yeah, yeah)
I'm gon' get it (ayy, I'm gon' get it)..”

Lagi-lagi dalam lirik ini gambino ingin memperlihatkan betapa tinggi sifat
konsumerisme yang terjadi di Amerika dengan menggunakan kata “Gucci” Gucci
adalah sebuah produk fashion terkenal dan bermerk, lirik “I’m so pretty, I'm gon'
get it” ini memiliki arti ketika kita menggunakan merek itu kita pasti akan terlihat
cantik. Namun yang terjadi di belakang nya adalah sebuah kekacauan yang sangat
besar dan tidak terlihat karena tertutup oleh hingar bingar Amerika yang begitu
glamour.

Sindiran Untuk Polisi Amerika Serikat


“...Watch me move (blaow)
This a celly (ha)
That's a tool (yeah)
On my Kodak (woo, Black)..”
Lirik “This a Celly / That’s a Tool” jadi penanda bagaimana Glover melihat kasus
Stephon Clark. Clark adalah remaja Sacramento, Amerika Serikat, yang ditembak
polisi karena membawa benda yang diduga senjata (tool). Faktanya, ia hanya
membawa sebuah iPhone di sakunya ketika ditembak. Glover menyanyikan
sepenggal lirik ini dalam sebuah adegan yang menampilkan figuran sesosok
remaja kulit hitam sedang memegang ponsel di menit 2:27.
Kejadian ini jadi pemancing isu rasialisme setelah kasus pembunuhan Trayvon
Martin pada 2012. Martin adalah remaja Afrika-Amerika yang dibunuh
tetangganya sendiri dengan alasan Martin terlihat mencurigakan. Sang pembunuh,
George Zimmermann, mengaku bahwa gerak-gerik Martin di depan rumahnya
tampak mencurigakan. Ia mengenakan sweter hoodie dengan tudung dikenakan di
kepala serta tangan dimasukkan saku. Zimmermann yang seorang kulit putih
melihat Martin seakan ingin melakukan kejahatan ke rumahnya. Padahal, Martin
hanya sedang melintas tanpa membawa senjata tajam maupun api. Saat di
pengadilan, Zimmermann mengaku melakukannya untuk melindungi diri yang
kemudian ia tidak dikenakan hukuman apa pun.

Scene Terakhir
“...You just a black man in this world
You just a barcode, ayy
You just a black man in this world
Drivin' expensive foreigns, ayy...”

Pada scene ini terdapat lirik “you just a barcode” sutradara merepresentasikannya
dengan mengambil set gelap dan terang layaknya barcode yang hitam dan putih.
"You just a black man in this world, You just a barcode" bisa juga diartikan
sebagai pria berkulit hitam menghibur orang kulit putih, begitu pria kulit hitam
berbicara, mereka akan mencoba membungkamnya (perbudakan / jim crow).
“...You just a big dawg, yeah
I kennelled him in the backyard
No proper life to a dog
For a big dog...”

Mungkin untuk kata “a big dog” di lirik ini direpresentasikan untuk orang-orang
Amerika kulit putih yang menjadi ras yang mayoritas dan berkuasa di Amerika,
dan “No proper life to a dog, For a big dog” maksud dari penggalan lirik ini
adalah orang-orang Afrika-Amerika mengutuk orang-orang Amerika kulit putih
dengan tidak ada kehidupan untuk orang Amerika kulit putih
VISUAL

Mengkritisi Kejahatan Menggunakan Senjata Api dan Peredarannya

Adegan yang menunjukkan senjata yang digunakan untuk membunuh dibungkus


dengan kain merah lalu diperlakukan dengan baik.

Dalam video ini, ada dua adegan penembakan yang dimunculkan di detik 0:52 dan
1:53. Uniknya, setelah menembak, senjata api yang digunakan kemudian
dibungkus dengan rapi dalam sebuah kain merah. CNN mengatakan, adegan itu
menunjukkan bagaimana senjata api masih diperlakukan dengan baik serta
dibiarkan berkeliaran tanpa peraturan ketat hingga akhirnya merenggut nyawa
banyak korban.

Untuk adegan di menit 1:53, Washington Post mengatakan bahwa adegan itu
Glover tujukan untuk mengingatkan kita pada kasus penembakan di Emanuel
African Methodist Episcopal Church, Charleston, Amerika Serikat, 2015 silam.
Seorang aktivis kulit putih, Dylann Roof, secara membabi uta menembak 10
orang jemaat, sembilan meninggal di tempat sementara satu luka berat.
Penembakan itu ia lakukan dengan harapan agar memicu perang ras. Tempat itu
dipilih karena gereja jadi tempat bersejarah perjuangan penegakan HAM warga
keturunan Afrika-Amerika.
Hingga kini, senjata api dijual secara bebas di Amerika Serikat. Bahkan, tidak
perlu syarat tertentu bagi calon pembeli untuk mendapatkan senjata yang mereka
inginkan kecuali sejumlah uang untuk menebusnya. LeBron James dan aktivis
lain telah menyuarakan kondisi yang menurut mereka gawat namun belum ada
tanggapan lebih lanjut dari pemerintah.

Pria bergitar

Adegan pertama terbuka pada seorang pria kulit hitam berjalan ke gitar di sebuah
gudang kosong, dia tampak seperti ayah Trayvon Martin, Trayvon Martin adalah
seorang siswa menengah Afrika-Amerika yang baru berusia 17 tahun pada saat itu
yang tewas terbunuh di Sanford, Florida, Amerika Serikat pada malam 26
Februari 2012, oleh George Zimmerman dengan fatal hingga mengakhiri
hidupnya. Zimmerman, pria campuran ras Hispanik berusia 28 tahun, adalah
koordinator pengamat lingkungan untuk komunitasnya yang terjaga keamanannya
di mana Martin mengunjungi kerabatnya pada saat penembakan. Zimmerman
menembak Martin, yang tidak bersenjata, selama pertengkaran fisik antara
keduanya. Zimmerman, terluka dalam pertemuan itu, mengklaim membela diri
dalam konfrontasi.
Dalam pengadilan yang dilaporkan secara luas, Zimmerman didakwa dengan
pembunuhan atas kematian Martin, tetapi dibebaskan di pengadilan dengan alasan
membela diri. Insiden ini ditinjau oleh Departemen Kehakiman untuk
kemungkinan pelanggaran hak-hak sipil, tetapi tidak ada tuntutan tambahan yang
diajukan, dengan alasan tidak cukup bukti.
Kalung Rantai Emas

Glover juga mengenakan dua rantai emas kecil, ini memiliki makna ganda untuk
ikatan fisik dan konsumerisme obsesif yang dimiliki oleh gaya hidup orang-orang
Amerika.
Memperagakan Sosok Jim Crow

Donald Glover mencoba meniru gerakan Thomas Darmouth Rice saat


memeragakan Jim Crow dalam adegan pembuka klip video "This Is America".
Pada adegan pembuka, Glover menggunakan senyum aneh dengan gerakan
berlebihan. Justin Simien, sutradara film “Dear White People” menyimpulkan
bahwa Glover sedang memperagakan tokoh fiksi Jim Crow. Tokoh ini diambil
dari karakter budak Afrika-Amerika pada 1800-an yang dimainkan Thomas
Dartmouth Rice dalam sebuah panggung sandiwara.
Penampilannya ini kemudian memancing tindakan rasialisme. Bahkan, di akhir
1800-an hingga 1960-an, Amerika Serikat menerapkan peraturan bernama Jim
Crow Law. Peraturan ini berisi anjuran praktek segregasi (pemisahan) fasilitas
publik untuk orang dengan ciri-ciri tertentu (orang berkulit hitam). Isu itu
kemudian menjadi dasar isu rasialisme yang meluas dengan memperlakukan
masyarakat Afrika-Amerika berbeda dengan masyarakat berkulit putih.
Celana yang dipakai Childish Gambino

Gambino tidak mengenakan apa-apa selain celana. Dan celana ini merupakan
bagian dari seragam prajurit Konfederasi US. Apa yang dilakukan oleh para
prajurit Konfederasi ini? Mereka “berjuang” demi mempertahankan gaya hidup
para kulit putih untuk menggunakan para kulit hitam sebagai budak di Selatan
Amerika, sementara malah Serikat berjuang untuk menghentikannya, dan menang 
 yang membuat Selatan bergabung dengan Utara.

Seseorang yang menari di atas sebuah mobil menembak seperti uang kertas
yang keluar dari pistol mainan.

Pada menit 01:33 gambar ini berupa komentar tentang Tamir Rice, bocah Afrika-
Amerika berusia 12 tahun yang ditembak oleh polisi Cleveland pada tahun 2014.
Glover juga bisa menarik hubungan antara kekerasan, hiburan, dan keuntungan
dalam kapitalisme.

Tarian Gwara-Gwara dari Amerika Serikat


Donald Glover berdansa hampir di seluruh video. Pada menit 1:35, setelah
terpisah dengan pedansa remaja di belakangnya, ia kemudian mendekat lagi. Kali
ini, mereka berdansa dengan gerakan seragam. Media gaya hidup Insider
menyebutkan bahwa tarian ini menggambarkan tarian Gwara-gwara, sebuah tarian
asli Afrika Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa isu rasialisme, atau yang disebut
apartheid, juga terjadi di negara paling selatan di Afrika itu.

Dansa Penyamar Kericuhan

Isaac Bailey dari CNN berpendapat bahwa dansa yang dilakukan itu sebagai
penggambaran bagaimana media mencoba memberi pengalihan di balik
penderitaan yang dirasakan warga Afrika-Amerika. Ia menambahkan bahwa hal
ini jadi hal yang mulai dimaklumi di Amerika Serikat, terbukti dengan adegan itu
yang dilakukan hampir di seluruh video.
“Semua yang berjuang di belakang seakan terperangkap pada keadaan yang ada.
Sementara kondisi mereka itu disamarkan dengan hiburan yang jadi fokus di
depan kamera. Melihat ke belakang justru akan mengurangi estetika hiburan,”
tulis Bailey di artikelnya terkait video ini. Opini ini juga disampaikan warganet
yang coba menganalisa topik ini. Uniknya, koreografer “This Is America”, Sherrie
Silver, mencuitkan kembali (retweet) cuitan itu walau tanpa menyertakan
penjelasan apa pun
Genre yang Menggambarkan Fenomena Sosial
Pada menit 01:41 hingga 01:55, Frank Guan, analis dari Vulture, mengambil sisi
dari jenis rap yang dipilih Glover. Di lagu ini, Glover menggunakan jenis rap
bernama trap. Dalam kultur hip-hop, trap rap adalah subgenre dalam seni
bernyanyi rap yang tumbuh di Atlanta, Amerika Serikat. “Atlanta” adalah serial
yang melambungkan nama Glover sebagai seorang aktor serta komedian.
“Glover ingin memberi penghormatan untuk dominasi budaya subgenre trap.
Musik ini juga punya refleksi menggelikan bagaimana fenomena sosial di daerah
Atlanta. Ia juga ingin memperlihatkan pemahaman sosial bahwa laki-laki itu
seorang penghasil uang serta laki-laki berkulit hitam identik dengan tindak
kriminal,” tulis Guan dalam artikelnya.
Argumentasi laki-laki adalah penghasil uang Glover tulis dalam “Grandma told
me get yo money, Black Man” yang dinyanyikan dalam format suara paduan suara
tenor. Sedangkan argumentasi pria kulit hitam adalah pelaku kriminal tersirat dari
figuran yang sedang mengacau di belakang Glover yang sedang berdansa.

Sindiran pada kejadian Charleston Church Shooting di 2015.

Pada menit 01:55 setelah berjoged ria, kemudian ditembaki oleh Gambino. Itu
adalah gambar yang tampaknya merujuk pada pembunuhan sembilan orang di
sebuah gereja yang didominasi orang Afrika-Amerika oleh Dylann Roof yang
supremasi kulit putih di Charleston, South Carolina, pada 2015.Penembakan
massal ini menciptakan kegundahan komunitas Afro-America di sana. Karena
bagi komunitas Afro-America, gereja adalah sebuah tempat yang sakral, tempat
pertemuan orang-orang dengan kepercayaan yang sama, dengan Tuhan yang sama
dan dengan doa yang sama, dan kemudian di 2015, gereja itu ditembaki, membuat
mereka berpikir kalo bahkan gereja aja sudah tidak menjadi tempat yang aman.

AK-47

Roof menggunakan pistol Glock dalam pembantaiannya, tetapi AK-47 yang


digunakan oleh Glover dalam video dan awalnya dibuat untuk membunuh massa
orang dalam perang, senjata inilah yang digunakan bagi penembak massal di
Amerika.

Seseorang yang bunuh diri

Pada menit 02:15 saat Glover dan anak-anak menari, seseorang melompat dari
pagar dan tampaknya bunuh diri. Gambar-gambar dari anak-anak kulit hitam yang
tersenyum dan menari mengangguk pada cara-cara produksi budaya hitam sering
dikomodifikasi dan disesuaikan oleh khalayak kulit putih.
Glover tampaknya mengatakan bahwa Amerika menggunakan hiburan yang
disediakan oleh selebritis hitamnya sebagai selingan dari kematian dan kekerasan
yang dipaksakan pada warga kulit hitamnya. Ini juga mengirim pesan tentang
cara-cara kehidupan orang Amerika kulit hitam sering didevaluasi dalam budaya
kita. Seperti yang ditulis oleh penulis Vibe, Bianca Salvant, "Adalah relevan untuk
bertanya mengapa tubuh mereka lebih berharga di lapangan atau pengadilan
daripada di jalanan Amerika."

Sindiran Untuk Polisi Amerika Serikat

Lirik “This a Celly / That’s a Tool” jadi penanda bagaimana Glover melihat kasus
Stephon Clark. Clark adalah remaja Sacramento, Amerika Serikat, yang ditembak
polisi karena membawa benda yang diduga senjata (tool). Faktanya, ia hanya
membawa sebuah iPhone di sakunya ketika ditembak. Glover menyanyikan
sepenggal lirik ini dalam sebuah adegan yang menampilkan figuran sesosok
remaja kulit hitam sedang memegang ponsel di menit 2:27.
Kejadian ini jadi pemancing isu rasialisme setelah kasus pembunuhan Trayvon
Martin pada 2012. Martin adalah remaja Afrika-Amerika yang dibunuh
tetangganya sendiri dengan alasan Martin terlihat mencurigakan. Sang pembunuh,
George Zimmermann, mengaku bahwa gerak-gerik Martin di depan rumahnya
tampak mencurigakan. Ia mengenakan sweter hoodie dengan tudung dikenakan di
kepala serta tangan dimasukkan saku. Zimmermann yang seorang kulit putih
melihat Martin seakan ingin melakukan kejahatan ke rumahnya. Padahal, Martin
hanya sedang melintas tanpa membawa senjata tajam maupun api. Saat di
pengadilan, Zimmermann mengaku melakukannya untuk melindungi diri yang
kemudian ia tidak dikenakan hukuman apa pun.

Kematian berpacu di atas kuda putih


Gambar itu tampaknya merujuk pada ayat 6: 8 dalam Kitab Wahyu, buku terakhir
dalam Perjanjian Baru. Dalam terjemahan King James, bunyinya seperti ini:
“Dan saya melihat, dan lihatlah seekor kuda pucat: dan namanya yang duduk di
atasnya adalah Kematian, dan Neraka mengikutinya. Dan kuasa diberikan
kepada mereka atas bagian keempat bumi, untuk membunuh dengan pedang, dan
dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan binatang buas di bumi.”
Sebuah mobil polisi mengikuti kematian di atas kuda, mungkin melambangkan
hubungan diam-diam antara kekerasan polisi dan kematian bagi orang kulit hitam
Amerika.

Penghormatan selama 17 Detik

Pada menit 02:44 hingga 03:00 setelah Glover berpose seakan ingin menembaki
para penari tapi ternyata tidak jadi karena dia tidak memegang senjata, musik
berhenti dan Glover menyalakan rokok. Ada sekitar 17 detik hening, di mana
menurut teori dari Reddit mengatakan kalau itu adalah moment of respect buat 17
korban dari penembakan di sebuah sekolah di Parkland, Florida pada Februari
2018 lalu.

Screen Corners?
Jika dilihat lebih dekat, akan terlihat bahwa ujung-ujung layar sudah mulai
melengkung dengan tepat ke titik di mana Glover menembak gitaris di layar. Ini
adalah isyarat visual, yang dimaksudkan untuk membangkitkan rasa klaustrofobia
dan kegelisahan.

Pintu Mobil

Pada menit 03:26 terlihat banyak pintu mobil yang sedang dalam keadaan terbuka,
ini mewakili bagaimana orang Afrika-Amerika sering dipaksa untuk menepi dan
melangkah keluar dari kendaraan mereka oleh petugas polisi. Pengemudi kulit
hitam diminta menepi dengan harga lebih tinggi daripada pengemudi kulit putih,
menurut penelitian dari Stanford University.

Mobil Tua

Seperti yang dicatat Adrienne Gibbs di Forbes, semua mobil dalam video adalah
model dari tahun 80-an dan 90-an. Tidak semua orang mampu membeli mobil
baru yang mencolok di sebagian besar video musik rap. Mungkin juga komentar
tentang obsesi Amerika dengan konsumsi kapitalis.

Michael Jackson
Menjelang di akhir video clip This is America, Glover menaiki sebuah mobil dan
memiliki kemiripan dengan video clip Black and White dari Michael Jackson.
Glover pernah bermain dengan Michael Jackson sebelumnya, terutama dalam
episode "Teddy Perkins" dari pertunjukan FX-nya "Atlanta.". Glover melihat
Michael Jackson sebagai pria kulit hitam yang dipersiapkan secara agresif untuk
bisnis pertunjukan, yang mungkin juga memiliki sisi dalam yang keras.

Scene Terakhir

Scene terakhir dari lagu ini memperlihatkan Gambino berlari dari kekacauan atau
kejaran polisi. Beberapa teori mengatakan scene ini adalah memperlihatkan
dimana Gambino berlari dari The Sunken Place dari film “Get Out”, sebuah
tempat metafisik di mana digambarkan di film, kesadaran si pria berkulit hitam
jatuh kedalam alam bawah sadar sementara di saat yang sama, badannya diambil
alih oleh orang-orang berkulit putih. Sementara asumsi lainnya adalah, ini
merupakan penggambaran Glover tentang para budak kulit hitam melarikan diri
ke dalam hutan, yang  masih memiliki makna sama dengan The Sunken Place dari
Get Out.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.thisisinsider.com/this-is-america-music-video-meaning-references-
childish-gambino-donald-glover-2018-5#all-of-the-cars-are-old-24
https://www.youtube.com/watch?v=VYOjWnS4cMY
https://www.youtube.com/watch?v=9_LIP7qguYw&t=215s
https://id.wikipedia.org/wiki/Rasisme_di_Amerika_Serikat
https://www.mainbasket.com/r/2596/pesan-tersembunyi-childish-gambino-di-
video-lagu-this-is-america
https://medium.com/bacaansebentar/ada-banyak-cerita-dalam-video-klip-
terbaru-childish-gambino-this-is-america-8faa7f086c54
https://pakarkomunikasi.com/teori-semiotika-charles-sanders-peirce
Ardianto, Elvinaro dan Rochajat Harun, 2011. Komunikasi Pembangunan dan
Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
Fiske, John. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers, 2012. Ed.
Ketiga
Hoed, Benny. H. 2014. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Cetakan ke-3.
Depok: Komunitas Bambu.
Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sudaryat, Yayat. 2011. Makna Dalam Wacana. Bandung: CV. Yrana Widya.
Widianto, Ricky. Warouw, Desie M.D. Senduk, Jonny J. 2015. Analisis Semiotika
Pada Film Senyap Karya Joshua Oppenheimer Volume IV. No.4.