0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
714 tayangan4 halaman

Kebudayaan dan Kehidupan Zaman Neolitikum

Zaman Neolitikum ditandai dengan berkembangnya pertanian dan peternakan, serta ditemukannya alat-alat batu seperti kapak persegi dan kapak lonjong. Masyarakat zaman ini mulai membuat gerabah, anyaman, pakaian, dan perahu sederhana. Mereka mempercayai keberadaan roh leluhur dan melakukan upacara penguburan yang melibatkan ritual.

Diunggah oleh

Uyiienk
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
714 tayangan4 halaman

Kebudayaan dan Kehidupan Zaman Neolitikum

Zaman Neolitikum ditandai dengan berkembangnya pertanian dan peternakan, serta ditemukannya alat-alat batu seperti kapak persegi dan kapak lonjong. Masyarakat zaman ini mulai membuat gerabah, anyaman, pakaian, dan perahu sederhana. Mereka mempercayai keberadaan roh leluhur dan melakukan upacara penguburan yang melibatkan ritual.

Diunggah oleh

Uyiienk
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Zaman Neolitikum (Peninggalan, Kebudayaan, Kapak Persegi dan Lonjong, Kepercayaan Zaman Batu Muda

Neolitikum

Neolitikum berasal dari kata Neo yang artinya baru dan Lithos yang artinya batu. Neolitikum berarti zaman
baru, hasil kebudayaan yang terkenal pada zaman Neolitikum ini adalah jenis kapak persegi dan kapak lonjong.
Nama kapak persegi diberikan oleh Van Heine Heldern atas dasar penampang lintangnya yang berbentuk
persegi panjang atau trapesium. Masa pleistosen berakhir berganti dengan masa holosen. Hal itu ditandai
dengan naiknya permukaan laut sehingga daratan menyempit dan iklim menjadi lebih panas (kering). Seiring
dengan pertambahan manusia purba di bumi, wilayah perburuannya pun bertambah sempit. Berburu sudah
tidak dapat lagi digunakan sebagai mata pencaharian pokok. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk
menghasilkan bahan makanan sendiri. Usahanya, yaitu dengan membudidayakan tanaman dan beternak. Pada
masa ini berarti manusia purba sudah mengalami peningkatan, yaitu dari pengumpul makanan (food gatherer)
menjadi penghasil makanan (food producer).
A. Peninggalan dan Corak Kehidupan Kebudayaan Masyarakat Zaman Neolitikum
Peninggalan zaman neolitikum
Peralatan yang digunakan pada masa neolitikum sudah diasah sampai halus, bahkan ada peralatan yang
bentuknya sangat indah. Peralatan yang diasah pada masa itu adalah kapak lonjong dan kapak persegi. Di Jawa
Timur dan Sulawesi Selatan ada yang telah membuat mata panah dan mata tombak yang digunakan untuk
berburu dan keperluan lainnya.Perkembangan penting pada zaman batu muda adalah banyak ditemukannya
kapak lonjong dan kapak persegi dengan daerah temuan yang berbeda. Kapak persegi banyak ditemukan di
wilayah Indonesia bagian Barat, seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Nusa Tenggara. Adapun kapak lonjong
banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian Timur, seperti Sulawesi, Halmahera, Maluku, dan Papua. Berikut
adalah gambar dari kapak lonjong dan kapak persegi:

Kapak persegi tersedia dalam berbagai ukuran, ada yang besar dan kecil. Ukuran besar lazim disebut dengan
beliung dan fungsinya sebagai cangkul. Adapun yang ukuran kecil disebut dengan Tarah atau Tatah dan
fungsinya sebagai alat pahat. Bahan untuk membuat kapak tersebut selain dari batu biasa, juga dibuat dari
batu api atau chalcedon. Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari calsedon hanya dipergunakan sebagai
alat upacara keagamaan, azimat, atau tanda kebesaran.
Perhatikan gambar di bawah untuk membantu memahami bentuk kapak persegi dari chalcedon.
Kapak persegi masuk ke Indonesia melalui jalur barat dan daerah penyebarannya di Indonesia adalah
Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Kapak persegi sebetulnya berasal dari
daratan Asia. Di Indonesia banyak ditemukan pabrik atau tempat pembuatan kapak tersebut yaitu di Lahat
Sumatra Selatan, Bogor, Sukabumi, Karawang, Tasikmalaya, Pacitan serta lereng selatan Gunung Ijen Jawa
Timur. Pada waktu yang hampir bersamaan dengan penyebaran kapak persegi, di Indonesia Timur juga
tersebar sejenis kapak yang penampang melintangnya berbentuk lonjong sehingga disebut kapak lonjong.
Ukuran yang dimiliki kapak lonjong yang besar lazim disebut dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut dengan
Kleinbeil, sedangkan fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi. Daerah penyebaran kapak lonjong
adalah Minahasa, Gerong, Seram, Leti, Tanimbar, dan Irian. Dari Irian kapak lonjong tersebar meluas sampai di
Kepulauan Melanesia sehingga para arkeolog menyebutkan istilah lain dari kapak lonjong dengan sebutan
Neolithikum Papua. Selain berkembang kapak persegi dan kapak lonjong, pada zaman Neolithikum juga
terdapat barang-barang yang lain seperti perhiasan, gerabah, dan pakaian. Perhiasan yang banyak ditemukan
umumnya terbuat dari batu, baik batu biasa maupun batu berwarna atau batu permata atau juga terbuat dari
kulit kerang. Adapun gerabah, baru dikenal pada zaman Neolitikum, dan teknik pembuatannya masih sangat
sederhana karena hanya menggunakan tangan tanpa bantuan roda pemutar seperti sekarang. Pakaian yang
dikenal oleh masyarakat pada zaman Neolithikum dapat diketahui melalui suatu kesimpulan penemuan alat
pemukul kayu di daerah Kalimantan dan Sulawesi Selatan. Hal ini berarti pakaian yang dikenal pada zaman
Neolithikum berasal dari kulit kayu. Dan, kesimpulan tersebut diperkuat dengan adanya pakaian suku Dayak
dan suku Toraja, yang terbuat dari kulit kayu.
Kebudayaan Zaman Neolitikum
Memasuki tahun 1500 SM Kepulauan Nusantara menerima kedatangan migrasi jenis manusia Malayan
mongoloid atau disebut juga Melayu austronesia yang berasal dari kawasan Yunan (Cina
Selatan). Mereka mendominasi wilayah bagian barat Indonesia, sedangkan Australomelanesid tergeser ke arah
timur. Kemudian terjadi pembauran antara kedua jenis manusia tersebut. Mereka
memasuki Indonesia melalui dua jalur, yaitu jalur selatan (Yunan–Thailand–Semenanjung Malaka/Malaysia–
Sumatra–Jawa–Bali–Lombok–Flores–Sulawesi Selatan) dan jalur timur (Yunan–Vietnam– Taiwan–Maluku–
Sulawesi Utara-Papua). Bangsa Melayu austronesia datang dengan membawa kepandaian bercocok tanam di
ladang. Tanamannya berupa keladi, labu air, ubi rambat, padi gaga, sukun, pisang, dan kelapa. Sebagai petani
dan peternak, mereka memerlukan kebersamaan yang tinggi untuk menebang hutan, membakar semak,
menabur/menanam benih, memetik hasil ladang, mendirikan rumah, dan menyelenggarakan upacara. Untuk
mengatur kehidupan bersama,
mulai terlihat peran para pemimpin (primus interpares/yang utama dari sesamanya), yaitu Ketua
Suku/Ratu/Datuk. Mereka sudah terampil membuat gerabah, anyaman, pakaian, dan bahkan perahu.
1. Gerabah
Gerabah dibuat dari bahan tanah liat dicampur pasir dengan teknik tangan dikombinasi teknik tatap
sehingga hasilnya masih kasar dan tebal. Hasil-hasil gerabahnya berupa periuk, cawan, piring, dan
pedupaan. Gerabah-gerabah ini berfungsi sebagai tempat makanan, minuman, dan untuk keperluan
upacara. Gerabah zaman ini banyak ditemukan di Kendenglembu, Banyuwangi (Jawa Timur), Kalumpang dan
Minanga, Sippaka (Sulawesi Tengah), Danau Poso (Sulawesi Tengah), serta Minahasa (Sulawesi Utara). Berikut
ini adalah gambar jenis gerabah yang berasal dari Gilimanuk:

2. Anyam-anyaman
Bahan untuk anyaman dibuat dari bambu, rumput, dan rotan. Teknologinya dengan teknik anyam dan pola
geometrik.
Fungsinya sebagai wadah barang-barang rumah tangga.
3. Pakaian
Berdasarkan temuan alat pemukul kulit kayu di Ampah, Kalimantan Selatan, dan di Kalumpang, Minanga,
Sippaka (Poso, Sulawesi Tengah) diduga sudah dikenal pakaian yang dibuat dari tenunan serat kulit kayu. Bahan
lain yang dibuat tenunan kain antara lain, serat abaka (sejenis pisang) dan rumput doyo.
4. Perahu/Teknik Membuat Perahu
Teknik pembuatan perahu masih sederhana. Pembuatan perahu menggunakan bahan sebatang pohon, yaitu
benda, meranti, lanang, dan kedondong. Pohon yang telah dipilih sebagai bahan pembuatan perahu
penebangannya harus didahului upacara.

Pembuatan perahu dimulai dari sisi luar. Sesudah terbentuk sisi luar, sisi dalam dikeruk dengan
memperhatikan ujung pasak yang dipakukan dari sisi luar agar ketebalan dinding perahu sama tebal. Agar
perahu tidak terbalik, pada sisi perahu dipasang cadik/ katik sebagai penyeimbang. Untuk menggerakkan
perahu dapat dipasang layar. Biasanya, jenis layar yang digunakan adalah layar sudu-sudu (sudu = suru dalam
bahasa Jawa). Pada saat itu sudah dikenal perdagangan dengan sistem barter atau tukar-menukar. Besar
kecilnya nilai barang pengganti ditentukan dan disepakati bersama. Kuat dugaan bahwa pada saat itu sudah
dikenal alat penukar berupa kulit kerang yang indah. Bahan-bahan yang ditukar antara lain ramuan hasil hutan;
hasil pertanian/peternakan; hasil kerajinan seperti gerabah, beliung, perhiasan, dan perahu; serta garam/ikan
laut.

B. Kepercayaan Zaman Neolitikum


Kepercayaan pada zaman neolitikum ditandai juga denga cara penguburan mayat. Bangsa Melayu
austronesia mengenal kepercayaan dan upacara pemujaan kepada arwah nenek moyang atau para leluhur.
Para leluhur yang meninggal dikuburkan dengan upacara penguburan.
Ada dua macam cara penguburan sebagai berikut.
1. Penguburan Langsung
Mayat hanya dikuburkan sekali, yaitu langsung dikubur di dalam tanah atau diletakkan dalam sebuah wadah
kemudian dikuburkan di dalam tanah dengan upacara. Cara meletakkan mayat ada dua cara, yaitu membujur
dan terlipat/meringkuk. Mayat selalu dibaringkan mengarah ke tempat roh atau
arwah para leluhur (misalkan di puncak gunung). Sebagai bekal dalam perjalanan ke dunia roh, disertakan bekal
kubur yang terdiri atas seekor anjing, unggas, dan manik-manik. Contoh penguburan seperti ini adalah
penguburan di Anyer (Jawa Barat) dan di Plawangan, Rembang (Jawa Tengah).
2. Penguburan Tidak Langsung
Penguburan tidak langsung biasa dilakukan di Melolo (Sumba), Gilimanuk (Bali), Lesung Batu (Sumatra
Selatan), dan Lomblen Flores (NTT). Cara penguburan tidak langsung, yaitu mula-mula mayat dikubur langsung
di dalam tanah tanpa upacara. Setelah diperkirakan sudah menjadi kerangka mayat digali lagi. Kerangka
tersebut dicuci, diberi hematit pada persendian kemudian diletakkan dalam tempayan atau sarkofagus. Ada
kepercayaan bahwa seseorang yang telah mati itu jiwanya berada di dunia roh dan setiap orang mempunyai
tempat yang berbeda. Perbedaan tempatnya berdasarkan pada perbuatan selama masih hidup dan besarnya
upacara kematian atau penguburan yang diselenggarakan. Puncak upacara ditandai dengan mendirikan
bangunan batu besar (megalith).
Itulah tadi bahasan mengenai zaman neolitikum atau zaman batu muda, semoga kita semakin paham tentang
sejarah, yuk baca juga zaman Paleolitikum dan Mesolitikum agar semakin menambah pengetahuan :)

Anda mungkin juga menyukai